Islam Nusantara dan Kultur Budaya

Indonesia tergolong negara yang besar. Wilayahnya terbentang lebar dari Sabang sampai Merauke. Lautannya amat luas, sepadan dengan kepulauannya yang amat banyak berjajar. Itu artinya, betapa banyak jumlah penduduknya dan betapa banyak pula kultur budaya yang dimilikinya. Kemajemukan masyarakat dan kultur budaya inilah salah satu keunikan Indonesia.

Dalam pandangan Islam, kultur budaya tak bisa dipisahkan dari kehidupan seorang muslim. Di mana pun seorang muslim hidup, pasti bersentuhan dengan kultur budaya setempat. Islam amat bijak. Islam tidak memberangus budaya secara total, sebagaimana pula tidak melestarikannya secara total.

Islam datang memilah dan memilih budaya. Yang sesuai dengan norma-norma syariat, dijaga dan dihormati. Sedangkan yang tidak sesuai dengan norma-norma syariat, ditinggalkan dan tidak digandholi (bhs jawa: dipegangi).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam momentum Hajjatul Wada’,

أَلَا كُلُّ شَيْءٍ مِنْ أَمْرِ الْجَاهِلِيَّةِ تَحْتَ قَدَمَيَّ مَوْضُوعٌ

“Ingatlah, segala sesuatu dari perilaku jahiliah terhinakan di bawah kedua telapak kakiku ini.” (HR. Muslim no. 2137, dari Jabir bin Abdillah radhiallahu ‘anhuma)

Itulah islamisasi, bukan asimilasi. Itulah akurasi, bukan akulturasi.

Bagaimanakah halnya dengan Islam Nusantara? Islam Nusantara amat memerhatikan kultur budaya atau kearifan lokal. Bahkan, sisi inilah yang menjadi salah satu ikonnya yang paling terkenal. Walaupun kalau ditarik ke belakang, sesungguhnya tak beda jauh dengan jargon kaum liberaris: Human Right, Freedom, and Local Wisdom (HAM, Kebebasan, dan Kearifan Lokal).

Said Aqil Siradj, seorang pegiat sejati Islam Nusantara berkata, “Islam Nusantara adalah gabungan nilai Islam teologis dengan nilai-nilai tradisi lokal, budaya, dan adat istiadat di Tanah Air. Ini bukan barang baru di Indonesia.” (m.republika.co.id. Selasa 9/3/2015)

Dalam kesempatan lain dia berkata, “Islam Nusantara adalah Islam dengan cara pendekatan budaya, tidak menggunakan doktrin yang kaku dan keras. Islam Nusantara ini didakwahkan merangkul budaya, melestarikan budaya, menghormati budaya, tidak malah memberangus budaya. Berbeda dengan Islam Arab yang selalu konflik dengan sesama Islam dan perang saudara.”

(http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2015/06/150614_indonesia_islam-nusantara)

Para pembaca yang semoga diberkahi Allah tabaraka wa ta’ala. Sejauh manakah aplikasi dari perkataan Said Aqil Siradj, “…merangkul budaya, melestarikan budaya, menghormati budaya, tidak malah memberangus budaya?” Berikut ini penjelasannya.

Menurut Said Aqil Siradj, pada zaman Wali Songo, perpaduan tradisi lokal dengan ajaran Islam mulai dikembangkan. Salah satu contohnya adalah tradisi sesajen yang dulu dianut oleh nenek moyang Indonesia dari ajaran Hindu-Budha.

Akan tetapi, oleh para Wali Songo, sesajen ditransformasikan menjadi tradisi selametan. Bila sesajen awalnya diniatkan mempersembahkan makanan kepada roh-roh gaib, namun dalam tradisi selametan, makanan justru diberikan kepada seluruh umat Islam untuk kemudian diminta mendoakan pihak yang mengadakan selametan.

Jadi tradisi sesajen, diganti dengan selametan. Sesajen kan untuk usir roh jahat. Kalau selametan, masyarakat diajak makan bersama, untuk kemudian minta mendoakan agar yang mengadakan selametan ini selamat dunia akhirat. (m.republika.co.id 9/3/2015)

Kalau kita perhatikan penjelasan Said Aqil Siradj di atas, sungguh mirip dengan penjelasan salah satu pegiat liberalisme di Tanah Air ini, Abdul Moqsith Ghazali. Berikut ini pernyataannya tentang sesajen dan nadran.

“Tradisi sesajen yang sudah

berlangsung lama dibiarkan berjalan untuk selanjutnya diberi makna baru. Sesajen dimaknai sebagai bentuk kepedulian kepada sesama bukan sebagai pemberian terhadap dewa. Begitu juga tradisi nadran dengan mengalirkan satu kerbau ke pantai Jawa tak dihancurkan, melainkan diubahnya hanya dengan membuang kepala kerbau atau kepala sapi ke laut.” (Dakwah Islam Nusantara, islamlib.com)

Ini semakin menguatkan adanya benang merah antara Islam Liberal dengan Islam Nusantara, sebagaimana telah dibahas pada artikel Kajian Utama sebelumnya. Peleburan (asimilasi) antara agama dengan budaya merupakan salah satu noktah tebal yang mempertemukan ide, visi, dan misi mereka.

Dahulu, pada tahun 1980-an peleburan (asimilasi) antara agama dengan budaya pernah muncul dengan istilah “Pribumisasi Islam” oleh Gus Dur. Disusul dengan istilah “Menyegarkan Kembali Pemahaman Islam” oleh Ulil Abshar Abdalla. Kini dengan istilah “Islam Nusantara” oleh Said Aqil Siradj dan kawan-kawan.

Tampaknya istilah Islam Nusantara ini lebih menarik untuk dijadikan gerbong bersama. Mungkin karena lebih familiar dan lebih mengikat emosional elemen anak bangsa. Tiga kekuatan inilah yang paling berambisi meneguhkan Islam Nusantara; Gusdurian, para pengikut Said Aqil Siradj (sebagai catatan, tidak sedikit para tokoh NU yang mengingkarinya), dan Jaringan Islam Liberal (JIL) atau orang-orang berpaham liberal yang bukan dari JIL.

Para pembaca yang semoga dirahmati Allah ‘azza wa jalla… Merupakan satu kata sepakat bahwa Indonesia dahulu tidak mengenal Islam. Masyarakatnya hidup dalam kultur budaya animisme[1] dan dinamisme.[2] Keyakinan Hindu-Budha cukup dominan dalam kehidupan beragama mereka. Peninggalan-peninggalan kuno seperti candi dan prasasti merupakan salah satu bukti terkuatnya. Lebih dari itu, sejarah telah mencatatnya. Demikianlah kira-kira gambaran global tentang kultur budaya masyarakat Indonesia tempo dulu.

Kemudian datanglah Islam ke bumi persada, dibawa oleh para da’i (pendakwah) yang berasal dari bangsa Arab. Melalui jalur Gujarat dan Champa mereka datang. Berawal dari interaksi dagang berlanjut pada perkawinan, mereka dapat berdakwah dan membaur di tengah-tengah masyarakat.

Berkat kemudahan dari Allah subhanahu wa ta’ala kemudian keluhuran budi pekerti mereka, dakwah Islam dapat diterima oleh individu-individu masyarakat. Tak ketinggalan pula para keluarga kerajaan yang notabene Hindu-Budha. Proses dakwah secara damai dan alami berjalan dengan lancar, hingga akhirnya dapat mengislamkan mayoritas penduduk negeri.

Hal penting yang patut dicatat, bahwa proses islamisasi manusia Hindu-Budha oleh para da’i (pendakwah) pelopor penyebaran Islam di Indonesia hingga menjadi insan muslim dalam jumlah yang besar, merupakan nikmat Allah subhanahu wa ta’ala yang patut disyukuri.

Selain itu, menurut hemat kami, para da’i (pendakwah) pelopor penyebaran Islam di Indonesia, pada awal masa dakwahnya tak bisa menghindar total dari gesekan-gesekan budaya jahiliah masyarakat dominan Hindu-Budha kala itu, sehingga perubahan pun dilakukan dengan perlahan dan bertahap. Mereka menempuh strategi akulturasi budaya, dengan maksud agar masyarakat Indonesia yang awalnya memang beragama Hindu-Budha dapat lebih mudah menerima ajaran Islam. Namun, strategi dakwah tersebut, tentu tidak berhenti sampai di situ. Masih diperlukan proses penyempurnaan (baca: pemurnian) sebagai kelanjutan dari proses dakwah yang telah dilakukan kala itu.

Alhamdulillah, kini mayoritas penduduk negeri ini telah beragama Islam. Sudah lepas dari “kungkungan” tradisi Hindu-Budha. Untuk menghindar dari gesekan-gesekan budaya jahiliah ala mereka pun tak serumit dulu. Terlebih berbagai fasilitas modern di zaman ini sangat mendukung untuk berkemajuan mendalami agama Islam dan menjalaninya semaksimal kemampuan.

Lantas, mengapa kita harus mundur ke belakang, mempertahankan kisi-kisi lama sejarah yang masih membutuhkan penyempurnaan atau pemurnian itu, sebagaimana yang digagas Islam Nusantara?! Bukankah lebih baik bagi kita menata kembali kehidupan beragama yang lebih sempurna (baca: murni) dan terlepas dari ikatan buhul-buhul budaya Hindu-Budha?!

Tentu, dengan cara berpijak di atas al-Qur’an dan as-Sunnah dengan pemahaman Salaful Ummah.

Para pembaca yang semoga diridhai Allah ‘azza wa jalla… Apabila kita mengkaji sirah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat yang mulia, akan terasa segar pemahaman Islam kita. Semua aspek kehidupan akan cerah dan terang. Termasuk dalam aspek kultur budaya atau kearifan lokal ini.

Mengingat, kondisi masyarakat Indonesia pasca kedatangan Islam pada pertama kalinya, tak jauh berbeda dengan kondisi masyarakat Makkah pasca kedatangan Islam yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Di masa jahiliah, masyarakat Makkah amat mengagungkan berhala-berhala mereka, bahkan menyembahnya. Memberikan sesajen kepada berhala, merupakan acara adat dan tradisi sakral yang diwarisi turun-temurun dari nenek moyang mereka. Saat terjadi penaklukan Kota Makkah (Fathu Makkah) pada 8 H, masyarakat Makkah masuk ke dalam Islam berbondong-bondong.

Dari sini muncul pertanyaan, “Apakah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membiarkan berhala-berhala itu dengan alasan karena mereka baru masuk Islam, atau mentransformasikan menjadi monumen-monumen?”

Tidak. Ternyata Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak membiarkan berhala-berhala itu dan tidak pula mentransformasikan menjadi monumen-monumen.

Justru Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menghancurkan berhala-berhala yang mengelilingi Ka’bah dengan tangan beliau yang mulia. Jumlahnya 360 berhala, bukan main banyaknya. Lebih dari itu, beliau memerintah tiga orang sahabat untuk menghancurkan tiga berhala terkemuka di kalangan kaum musyrikin.

Ali bin Thalib radhiallahu ‘anhu diperintah untuk menghancurkan berhala Manat yang berada di daerah Qudaid (antara Makkah dan Madinah). Khalid bin al-Walid radhiallahu ‘anhu diperintah untuk menghancurkan berhala Uzza yang berada di daerah Nakhlah (antara Makkah dan Thaif). Berikutnya, al-Mughirah bin Syu’bah radhiallahu ‘anhu diperintah untuk menghancurkan berhala Laata yang berada di daerah Thaif. (ar-Rahiq al-Makhtum, hlm. 383 dan Fathul Majid, hlm. 155—157)

Pertanyaan berikutnya, “Apakah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mentransformasikan sesajen yang merupakan acara adat dan tradisi sakral yang diwarisi turun-temurun dari nenek moyang kaum musyrikin tersebut menjadi selametan?”

Tidak. Ternyata beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak melakukannya.

Apakah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengeluarkan kebijakan agar unta-unta sesajen yang awalnya dipersembahkan kepada berhala, disembelih dan dibagi-bagikan kepada masyarakat pada acara selametan, untuk kemudian diminta mendoakan agar pihak yang mengadakan selametan itu selamat dunia akhirat?

Ternyata beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak melakukannya. Demikian pula para sahabat beliau yang mulia. Padahal tradisi sejajen itu sudah mendarah daging dan menjadi bagian dari kehidupan mereka. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

مَا جَعَلَ ٱللَّهُ مِنۢ بَحِيرَةٖ وَلَا سَآئِبَةٖ وَلَا وَصِيلَةٖ وَلَا حَامٖ وَلَٰكِنَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ يَفۡتَرُونَ عَلَى ٱللَّهِ ٱلۡكَذِبَۖ وَأَكۡثَرُهُمۡ لَا يَعۡقِلُونَ ١٠٣ وَإِذَا قِيلَ لَهُمۡ تَعَالَوۡاْ إِلَىٰ مَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ وَإِلَى ٱلرَّسُولِ قَالُواْ حَسۡبُنَا مَا وَجَدۡنَا عَلَيۡهِ ءَابَآءَنَآۚ أَوَلَوۡ كَانَ ءَابَآؤُهُمۡ لَا يَعۡلَمُونَ شَيۡ‍ٔٗا وَلَا يَهۡتَدُونَ ١٠٤

“Allah sekali-kali tidak pernah mensyariatkan adanya bahirah, saibah, washilah, dan ham. Akan tetapi orang-orang kafir membuat-buat kedustaan terhadap Allah, dan kebanyakan mereka tidak mengerti.

Apabila dikatakan kepada mereka, ‘Marilah mengikuti apa yang diturunkan Allah dan mengikuti Rasul.’ Mereka menjawab, ‘Cukuplah bagi kami apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya.’ Dan, apakah mereka itu akan mengikuti nenek-moyang mereka walaupun nenek-moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak (pula) mendapat petunjuk?!” (al-Maidah: 103—104)

Disebutkan dalam Shahih al-Bukhari (no. 4257),

  • Bahirah ialah unta betina yang air susunya tidak boleh diperah oleh seorang pun karena dikhususkan untuk sesajen berhala-berhala mereka saja.
  • Saibah ialah unta betina yang dibiarkan bebas pergi ke mana saja demi berhala-berhala mereka, tidak boleh seorang pun mempekerjakannya serta memberinya muatan apa pun.
  • Washilah ialah unta betina yang dilahirkan oleh induknya sebagai anak pertama, kemudian anak keduanya betina pula, jika antara anak yang pertama dan yang kedua tidak diselingi dengan unta jenis jantan. Mereka menjadikannya sebagai unta saibah, dibiarkan bebas untuk berhala-berhala mereka.
  • Ham ialah unta pejantan yang berhasil membuntingi beberapa ekor unta betina dalam jumlah tertentu. Apabila telah mencapai bilangan yang ditargetkan, mereka membiarkannya hidup bebas dan membebaskannya dari semua pekerjaan, tidak lagi dibebani apa pun, dan mereka menamakannya al-hami.

Apakah dengan itu, bisa dikatakan bahwa beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat yang mulia memberangus budaya? Jawabannya, “Tentu tidak bisa.”

Apakah dengan itu, bisa dikatakan bahwa beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat yang mulia sangat tekstual dan tidak kontekstual? Jawabannya, “Tentu tidak bisa. Bahkan, itulah contoh kontekstual yang tepat.”

Ada satu hal mendasar yang patut diperhatikan bersama, bahwa teladan kita semua dalam seluruh aspek kehidupan beragama baik akidah, ibadah, akhlak, muamalah, dan dakwah adalah Nabi Besar Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Siapapun selain beliau dari kalangan umat ini harus tunduk kepada bimbingan dan keteladanan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

لَّقَدۡ كَانَ لَكُمۡ فِي رَسُولِ ٱللَّهِ أُسۡوَةٌ حَسَنَةٞ لِّمَن كَانَ يَرۡجُواْ ٱللَّهَ وَٱلۡيَوۡمَ ٱلۡأٓخِرَ وَذَكَرَ ٱللَّهَ كَثِيرٗا ٢١

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagi kalian (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (al-Ahzab: 21)

Para pembaca yang semoga dimuliakan Allah ‘azza wa jalla

Keteladanan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam menyikapi berbagai budaya jahiliah benar-benar mewarnai para sahabat beliau yang mulia.

Disebutkan dalam Shahih al-Bukhari (no. 4136), Ashim bin Sulaiman berkata, “Aku bertanya kepada Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu tentang Shafa dan Marwah (sa’i padanya, -pen.). Beliau menjawab, ‘Dahulu kami berpendapat bahwa sa’i pada keduanya termasuk perilaku jahiliah, sehingga tatkala Islam datang kami pun tidak melakukan keduanya.

Allah subhanahu wa ta’ala pun menurunkan firman-Nya,

  ۞إِنَّ ٱلصَّفَا وَٱلۡمَرۡوَةَ مِن شَعَآئِرِ ٱللَّهِۖ فَمَنۡ حَجَّ ٱلۡبَيۡتَ أَوِ ٱعۡتَمَرَ فَلَا جُنَاحَ عَلَيۡهِ أَن يَطَّوَّفَ بِهِمَاۚ

“Sesungguhnya Shafa dan Marwah adalah termasuk dari syi’ar Allah. Maka barang siapa yang beribadah haji ke Baitullah atau berumrah, maka tidak ada dosa baginya mengerjakan sa’i antara keduanya.(al-Baqarah: 185)

Di dalam Sunan Abu Dawud no. 2881 dari sahabat Tsabit bin adh-Dhahhak radhiallahu ‘anhu, berkata, “Seorang lelaki bernazar di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyembelih seekor unta di daerah Buwanah. Dia pun mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya mengatakan, ‘Sesungguhnya aku bernazar untuk menyembelih seekor unta di daerah Buwanah.’

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apakah dahulu di tempat itu ada berhala dari berhala-berhala jahiliah yang disembah?’

Para sahabat menjawab, ‘Tidak ada.’

Beliau lanjut bertanya, ‘Apakah dahulu di tempat itu ada perayaan dari perayaan jahiliah?’

Para sahabat menjawab, ‘Tidak ada.’

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Penuhilah nazarmu, sesungguhnya tidak ada pemenuhan nazar dalam hal kemaksiatan kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan dalam hal yang di luar batas kemampuan anak cucu Adam’.” (Dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh al-Albani dalam Shahih wa Dhaif Sunan Abi Dawud no. 3313 dan al-Misykah no. 3437)

Yang menarik dicermati dari riwayat di atas adalah kehati-hatian dan ketegasan para sahabat dalam menyikapi sesuatu yang diyakini atau diduga termasuk perilaku jahiliah. Mereka siap menahan diri darinya hingga syariat membolehkannya atau mendapatkan kejelasan fatwa dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Tak mengherankan apabila mereka dijuluki oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai generasi terbaik umat ini. Melalui merekalah Islam yang murni sampai kepada umat manusia di penjuru dunia.

Sebagai kilas balik terhadap penyikapan budaya jahiliah Hindu-Budha ala Islam Nusantara dalam kasus sesajen, nadran, dan yang lainnya, marilah kita perhatikan realitas yang ada di tengah-tengah masyarakat sebagai berikut.

Gunung Kemukus yang terletak di Desa Pendem, Kecamatan Sumberlawang, Sragen, Jawa Tengah merupakan tempat yang kerap kali dilakukan acara sinkretisme antara Islam dan budaya jahiliah Hindu-Budha.

Pada malam Jum’at Pon, manusia berdatangan dalam menjalani laku tirakat ngalap berkah di makam yang ada di tempat itu. Makam di perbukitan yang berada di tengah waduk Kedungombo ini, konon merupakan makam Pangeran Samodera dan Nyai Ontrowulan.

Ritual ngalap berkah di Gunung Kemukus di awali dengan prosesi penyucian di Sendang Ontrowulan. Setelah itu, dipandu juru kunci, para peziarah dibimbing guna melakukan ritual sajen. Yaitu, menyerahkan uborampe (perlengkapan sajen) dalam bentuk sebungkus kembang telon, dupa ratus atau kemenyan, dan uang wajib. Dengan uborampe inilah juru kunci akan memohon kepada yang mbaurekso (penguasa) di Gunung Kemukus. (Majalah Asy-Syari’ah, Edisi Antara Tradisi & Sendi Tauhid Vol. VI/No. 67/1432 H/2010)

Di Yogyakarta, ada upacara Labuhan. Ia adalah sesaji ritual bertujuan melestarikan hubungan yang telah lama terjalin antara beberapa pihak dan penguasa laut selatan, Kanjeng Ratu Kidul. Sesaji untuk penguasa laut selatan diadakan di Parangkusumo.

Sesaji diletakkan pada satu tempat yang disebut petilasan, yaitu tempat terjadinya pertemuan antara Panembahan Senopati dan Kanjeng Ratu Kidul yang memiliki patih bernama Nyai Rara Kidul. Antara Panembahan Senopati dan Kanjeng Ratu Kidul terjalin perjanjian bahwa Kanjeng Ratu Kidul akan melindungi Panembahan Senopati beserta seluruh keturunannya.

Pelaksanaan doa dilakukan di tempat tersebut dan sesaji pun ditaruh di tempat itu. Juru kunci Parangkusumo mengucapkan, “Perkenankanlah saya, Kanjeng Ratu Kidul untuk menyampaikan sesaji Labuhan kepada Paduka,… untuk keselamatan hidup, kehormatan, kerajaan, dan keselamatan rakyat serta negeri Ngayogyakarta Hadiningrat.”

Setelah mengucapkan mantra, sesaji itu pun dibawa ke laut. Beberapa sesaji diempaskan ombak kembali ke pantai dan diperebutkan oleh masyarakat. Mereka berkeyakinan bahwa sesaji tersebut memiliki daya untuk memberikan keselamatan, kesehatan, dan kehidupan yang lebih baik bagi mereka yang mendapatkannya.

Ritual labuhan lainnya dilaksanakan setiap tanggal 30 Rejeb (penanggalan Jawa). Upacara ritual ini banyak dikunjungi oleh orang guna ngalap berkah. Sesaji ditujukan kepada Eyang Kanjeng Pangeran Sapujagat, Pangeran Anom Suryangalam, Eyang Kyai Udononggo, Nyai Udononggo, dan Kyai Jurutaman. Tempat tinggal mereka ada di beberapa tempat di Merapi, seperti di Turgo, Plawangan, dan Wukir Rinenggo di dekat Selo.

Upacara doa dilakukan di Kinahrejo dipimpin oleh abdi dalem Keraton, Mas Ngabehi Suraksohargo alias Mbah Maridjan. Sesaji diletakkan di satu tempat bernama Kendit, letaknya di lereng selatan Gunung Merapi. Uborampe (perlengkapan sesaji) terdiri dari kain, setagen, minyak wangi, kemenyan, dan lain-lain.

Ritual Labuhan lainnya dilakukan di desa Nano, letaknya di lereng Gunung Lawu. Sesaji dikirim di desa tersebut lalu dibawa oleh delapan orang penduduk asli daerah tersebut. Dipilihnya delapan orang dari penduduk asli daerah itu karena mereka memiliki hubungan spiritual dengan yang mbaurekso (penguasa) Gunung Lawu. (Majalah Asy-Syari’ah, Edisi Antara Tradisi & Sendi Tauhid Vol. VI/No. 67/1432 H/2010)

Itulah empat dari sekian banyak contoh sinkretisme antara Islam dan budaya jahiliah Hindu-Budha yang masih mengakar di tengah-tengah masyarakat kita. Empat contoh di atas merupakan potret sebagian masyarakat Nusantara di Pulau Jawa, Yogyakarta, dan sekitarnya, yang notabene dekat dengan ilmu, pondok pesantren, dan pusat informasi publik lainnya.

Bagaimanakah halnya dengan masyarakat Nusantara yang berdomisili di luar Pulau Jawa, lebih-lebih di daerah-daerah pelosok dan terpencil yang notabene jauh dengan ilmu, pondok pesantren, dan pusat informasi publik lainnya?!

Kalau mau jujur, problem semacam ini ternyata telah lama mengganjal bagi warga Nahdhiyyin, sehingga dibahas dalam Muktamar Nahdhatul Ulama (NU) ke-5 di Pekalongan, pada tanggal 13 Rabiul Tsani 1349 H/ September 1930 M.

Pertanyaan: Bagaimana hukumnya mengadakan pesta dan perayaan guna memperingati jin penjaga desa (Jawa: Mbaureksa) untuk mengharapkan kebahagiaan dan keselamatan dan kadang terdapat hal-hal yang mungkar? Perayaan tersebut dinamakan “Sedekah Bumi” yang biasa dikerjakan penduduk desa (kampung) karena telah menjadi adat kebiasaan sejak dulu kala.

Jawab: Adat kebiasaan sedemikian itu haram.

Dari sini, menurut hemat kami, konsep Islam Nusantara tentang sesajen, nadran, dan semacamnya yang ditransformasikan menjadi ini dan itu, hanyalah teori belaka. Fakta di lapangan, amat sulit untuk lepas dari ikatan buhul-buhul jahiliah Hindu-Budha, disadari atau tidak.

Kondisi mayoritas masyarakat yang notabene awam dari nilai-nilai ketauhidan, tidak mendukung untuk “berselancar” di atas riak-riak budaya yang seperti itu. Tak mengherankan apabila keputusan fatwa Muktamar NU ke-5 di Pekalongan tidak merekomendasi transformasi. Dengan tegas dikatakan, “Haram.”

Di sisi lain, bukankah tidak sedikit dari nilai-nilai Islam yang luntur manakala bertaut dengan budaya? Sebut saja jilbab, diartikan dengan pakaian yang pantas, sehingga pakaian wanita apa saja (tidak harus berbentuk jilbab) yang dipandang pantas oleh suatu masyarakat maka itulah jilbab. Jenggot pun demikian, diklaim dapat mengurangi kecerdasan, sehingga semakin panjang jenggot seseorang maka semakin goblok; dan masih banyak yang lainnya.

Lebih dari itu, budaya atau kearifan lokal di Tanah Air kita ini amat banyak. Adat-istiadat dan tradisi masyarakatnya pun amat beragam. Budaya atau kearifan lokal manakah yang dijadikan standar oleh Islam Nusantara? Bukankah di negeri ini masih ada suku yang mengenakan koteka dan mempunyai budaya atau kearifan lokal?!

Dari sini dapat disimpulkan bahwa tanpa panduan yang jelas, ilmu yang memadai, batasan dan aturan yang tepat, niscaya amat sulit menggabungkan nilai Islam teologis dengan nilai-nilai tradisi lokal, budaya, dan adat istiadat sebagaimana yang digagas Islam Nusantara. Kasus sesajen dan nadran yang terjadi di masyarakat, sebagai salah satu buktinya. Praktik haram pun sulit dihindarkan.

Oleh karena itu, tak bisa disalahkan apabila ada yang mengatakan, “Islam Nusantara hanyalah sebuah wacana yang diusung oleh pihak tertentu, dengan tujuan tertentu, dan cepat atau lambat akan berlalu.”

Wallahul Musta’an

Ditulis oleh al-Ustadz Ruwaifi’ bin Sulaimi, Lc.

[1] Kepercayaan kepada roh yang mendiami benda.

[2] Kepercayaan bahwa segala sesuatu mempunyai tenaga atau kekuatan yang dapat memengaruhi keberhasilan atau kegagalan usaha manusia dalam mempertahankan hidup.