Islam Nusantara dan Rahmatan lil Alamin

Rahmatan lil alamin adalah sebuah istilah yang berasal dari al-Qur’an dan as-Sunnah. Secara lafadz, maknanya adalah kasih sayang (rahmat) bagi alam semesta. Rahmatan lil alamin adalah misi utama pengutusan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam di muka bumi ini. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَمَآ أَرۡسَلۡنَٰكَ إِلَّا رَحۡمَةٗ لِّلۡعَٰلَمِينَ ١٠٧

“Dan tiadalah Kami mengutus kamu (Muhammad), melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi alam semesta.” (al-Anbiya’: 107)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنِّي لَمْ أُبْعَثْ لَعَّانًا وَإِنَّمَا بُعِثْتُ رَحْمَةً

“Sesungguhnya aku tidaklah diutus sebagai tukang laknat, tetapi sebagai rahmat.” (HR. Muslim no. 4704)

Al-Imam ath-Thabari rahimahullah ketika menjelaskan kalimat rahmatan lil alamin menukilkan tafsir dari Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘anhuma sebagai berikut,

“Allah subhanahu wa ta’ala mengutus Nabi-Nya Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai rahmat bagi alam semesta, baik yang mukmin maupun yang kafir.

Adapun yang mukmin, rahmat-Nya dalam bentuk Allah subhanahu wa ta’ala memberinya hidayah melalui Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan memasukkannya ke dalam al-Jannah (surga) karena beriman kepadanya dan mengamalkan segala kewajiban yang datang dari Allah subhanahu wa ta’ala.

Adapun yang kafir, rahmat-Nya dalam bentuk Allah subhanahu wa ta’ala menunda penyegeraan azab kepadanya sebagaimana yang telah menimpa umat terdahulu para pendusta rasul. Semua itu, dengan sebab kerasulan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Tafsir ath-Thabari, 18/551)

Dari penjelasan di atas dapat diambil beberapa kesimpulan, antara lain;

  1. Pengutusan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam ke muka bumi ini sebagai rahmat bagi alam semesta, baik yang mukmin maupun yang kafir.
  2. Bentuk rahmatan lil alamin bagi orang mukmin adalah Allah subhanahu wa ta’ala memberinya hidayah melalui Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan memasukkannya ke dalam al-Jannah (surga) karena beriman kepadanya dan mengamalkan segala kewajiban yang datang dari Allah subhanahu wa ta’ala.
  3. Bentuk rahmatan lil alamin bagi orang kafir adalah Allah subhanahu wa ta’ala menahan penyegeraan azab kepadanya dengan sebab kerasulan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam

Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan makna rahmatan lil alamin dari dua dimensinya.

  1. Seluruh yang ada di alam semesta ini mendapatkan manfaat dengan kerasulan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.
  • Orang-orang yang mengikuti beliau, mendapatkan kemuliaan di dunia dan di akhirat.
  • Musuh-musuh beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam yang Allah subhanahu wa ta’ala segerakan tewas terbunuh, itu lebih baik bagi mereka daripada menjalani kehidupan. Sebab, semakin lama menjalani kehidupan, semakin dahsyat pula siksanya di akhirat. Mereka adalah orang-orang yang telah ditentukan kebinasaannya oleh Allah subhanahu wa ta’ala, sehingga kematian yang segera lebih baik bagi mereka daripada berkepanjangan di atas kekufuran.
  • Orang-orang kafir mu’ahad (yang terikat perjanjian damai dengan beliau), mereka dapat hidup aman di bawah naungan, perjanjian, dan jaminan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tentu kondisi ini lebih menguntungkan mereka daripada kondisi orang-orang kafir yang mengobarkan api peperangan terhadap beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.
  • Orang-orang munafik, dengan sebab menampakkan keimanan kepada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, terjagalah darah, harta, dan keluarga mereka. Masih dihormati dan diberlakukan hukum Islam terhadap mereka dalam hal pembagian warisan dan lainnya.
  • Adapun bangsa-bangsa yang jauh dari beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, Allah subhanahu wa ta’ala meniadakan bencana (azab) global bagi penduduk bumi dengan sebab kerasulan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jadi, semua yang ada di alam semesta ini mendapatkan manfaat dari kerasulan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.

 

  1. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri menjadi rahmat bagi siapa saja.

Orang-orang yang beriman mau menerima rahmat ini dan dapat merasakan kemanfaatannya di dunia dan di akhirat. Adapun orang-orang kafir menolaknya, dan ini tidak mengeluarkan beliau sebagai rahmat bagi mereka, hanya saja mereka tidak mau menerimanya. (Jala’ul Afham, hlm. 98—99)

Dari penjelasan di atas dapat diambil beberapa kesimpulan, antara lain;

  1. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan syariat Islam yang dibawa oleh beliau adalah rahmat bagi alam semesta.
  2. Semua yang ada di alam semesta ini mendapatkan kemanfaatan (baca: rahmat) dari kerasulan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hanya saja jenis dan tingkat kemanfaatan yang dirasakan setiap pihak berbeda-beda.
  3. Rahmatan lil alamin tidak bertentangan dengan pengklasifikasian manusia menjadi mukmin, kafir, dan munafik.
  4. Rahmatan lil alamin tidak menafikan ajakan kepada kebenaran, peringatan dari kebatilan, dan pengingkaran terhadap kemungkaran.
  5. Rahmatan lil alamin tidak menafikan permusuhan, bahkan pertempuran dengan orang-orang kafir saat dibutuhkan.

Karena itu, ada istilah kafir mu’ahad (kafir yang terikat perjanjian damai dengan umat Islam), kafir dzimmi (kafir yang hidup di tengah-tengah umat Islam dan mendapatkan jaminan keamanan), dan kafir harbi atau muharib (kafir yang mengobarkan peperangan dengan umat Islam).

  1. Bentuk rahmat bagi orang mukmin yang mengikuti Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan syariat beliau adalah mendapatkan kemuliaan di dunia dan di akhirat.
  2. Bentuk rahmat bagi orang kafir yang tewas terbunuh saat menghadapi pasukan Islam adalah tidak berkepanjangan hidup di atas kekufuran yang berkonsekuensi kedahsyatan siksa baginya.
  3. Bentuk rahmat bagi orang kafir mu’ahad (yang terikat perjanjian damai dengan umat Islam) adalah dapat hidup aman di bawah naungan, perjanjian, dan jaminan umat Islam.
  4. Bentuk rahmat bagi orang munafik adalah terjaganya darah, harta, dan keluarga serta pemberlakuan hak-hak muslim kepadanya.
  5. Bentuk rahmat bagi bangsa-bangsa yang tak bersentuhan langsung dengan umat Islam adalah tidak adanya bencana (azab) yang bersifat global bagi penduduk bumi ini.

Dengan demikian, rahmatan lil alamin, tidak berarti menafikan ajakan kepada kebenaran, peringatan dari kebatilan, dan pengingkaran terhadap kemungkaran. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَمَآ أَرۡسَلۡنَٰكَ إِلَّا كَآفَّةٗ لِّلنَّاسِ بَشِيرٗا وَنَذِيرٗا وَلَٰكِنَّ أَكۡثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعۡلَمُونَ ٢٨

“Dan Kami tidak mengutusmu (Muhammad) melainkan kepada seluruh umat manusia sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui.”  (Saba’: 28)

Rahmatan lil alamin tidak berarti pula liberal, bebas tanpa batas, toleran tanpa aturan, damai tanpa dalil, dan semisalnya. Rahmatan lil alamin itu terkadang dengan memboikot, terkadang dengan memberi peringatan keras. Bahkan, terkadang dengan perang.

Semua diletakkan pada situasi dan kondisinya yang tepat. Tidak serampangan dan asal-asalan. Sudah barang tentu, yang dikedepankan adalah kasih sayang dan kelemahlembutan. Demikianlah yang terpancar dari kehidupan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sang teladan terbaik umat manusia.

Disebutkan dalam Shahih Muslim no. 1435, Jabir bin Abdillah radhiallahu ‘anhu berkata, “Apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkhutbah, kedua matanya memerah, suaranya lantang, dan semangatnya berkobar-kobar bagaikan panglima perang yang sedang memberikan peringatan kepada bala tentaranya. Beliau bersabda, ‘Hendaknya kalian selalu waspada di waktu pagi dan petang. Aku diutus, sementara antara aku dan hari kiamat seperti dua jari inibeliau merekatkan antara jari telunjuk dan jari tengahnya.

Beliau melanjutkan sabdanya, ‘Amma ba’du. Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah, sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, seburuk-buruk urusan adalah yang diada-adakan dalam agama, dan setiap yang bid’ah itu sesat’.”

Disebutkan pula dalam Shahih al-Bukhari no. 4066 dan Shahih Muslim no. 4973, kisah pemboikotan tiga orang sahabat yang tidak ikut dalam Perang Tabuk, oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di antara mereka adalah sahabat Ka’b bin Malik al-Anshari radhiallahu ‘anhu.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengucapkan salam kepada mereka dan tidak pula menjawab salam mereka. Beliau memerintahkan seluruh sahabat agar menjauhi mereka bertiga. Bahkan, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan agar berpisah dengan istri-istri mereka untuk sementara waktu.

Peristiwa itu berlangsung selama 50 hari hingga Allah subhanahu wa ta’ala menurunkan QS. at-Taubah: 118 yang menjelaskan ampunan Allah subhanahu wa ta’ala untuk ketiganya.

Adapun perang di medan laga melawan orang-orang kafir, baik dari kalangan musyrikin Quraisy dan sekutunya, Yahudi, Nasrani, maupun Majusi, semuanya pernah terjadi dan dicatat rapi dalam sejarah. Melawan musyrikin Quraisy dan sekutunya, Yahudi, serta Nasrani telah terjadi di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Adapun melawan Majusi terjadi pada masa kekhalifahan Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu.

Itulah makna rahmatan lil alamin yang sebenarnya. Mengandung dua sisi yang tak bisa ditinggalkan salah satu dari keduanya; kelembutan dan ketegasan. Masing-masing diterapkan sesuai dengan situasi dan kondisinya yang tepat.

 Rahmatan lil Alamin Ala Islam Nusantara

Tak bisa dimungkiri bahwa istilah rahmatan lil alamin pun ramai dipakai oleh pegiat Islam Nusantara. Bagaimana hakikatnya dalam perspektif mereka? Berikut ini penuturan para pegiatnya.

  • Dr. Said Aqil Siradj berkata, “Islam Nusantara adalah Islam dengan cara pendekatan budaya, tidak menggunakan doktrin yang kaku dan keras. Islam Nusantara ini didakwahkan merangkul budaya, melestarikan budaya, menghormati budaya, tidak malah memberangus budaya. Berbeda dengan Islam Arab yang selalu konflik dengan sesama Islam dan perang saudara.” (http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2015/06/150614_indonesia_islam-nusantara)
  • Ali Masykur Musa berkata, “Hal inilah yang menjadikan pesantren sebagai pelopor Islam yang rahmatan lil alamin sebagai wajah Islam Nusantara yang cinta kedamaian dan menolak kekerasan.”

“Tidak boleh lagi ada nyawa yang hilang sebagai korban perjuangan beragama. Islam yang santun dan moderat itulah substasi Islam Nusantara sebagai wajah Islam dunia ke depan yang penuh kebajikan dan kedamaian.” (http://m.republika.co.id/berita/koran/opinikoran/15/07/09/nr7nka17-etikasosial-islam-nusantara)

  • Zainul Milal Bizawie berkata, “Pesan rahmatan lil alamin menjiwai karakteristik Islam Nusantara, sebuah wajah Islam yang moderat, toleran, cinta damai, dan menghargai keberagaman. Islam yang merangkul bukan memukul, Islam yang membina bukan menghina, Islam yang memakai hati bukan memakimaki, Islam yang mengajak taubat bukan menghujat, dan Islam yang memberi pemahaman bukan memaksakan.” (muktamar.nu.or.id)

Dari perkataan tiga pegiat Islam Nusantara di atas dapat diambil kesimpulan bahwa makna rahmatan lil alamin adalah sebagai berikut.

  1. Toleran, tidak menggunakan doktrin yang kaku dan keras, cinta kedamaian, menolak kekerasan, moderat, santun, dan menghargai keberagaman.
  2. Merangkul bukan memukul, membina bukan menghina, memakai hati bukan memaki-maki, mengajak taubat bukan menghujat, dan memberi pemahaman bukan memaksakan.
  3. Merangkul budaya, melestarikan budaya, menghormati budaya, tidak malah memberangus budaya.
  4. Berbeda dengan Islam Arab yang selalu konflik dengan sesama Islam dan perang saudara.
  5. Tidak boleh ada nyawa yang hilang sebagai korban perjuangan beragama.

 Tanggapan

  1. Poin ke-1 dan ke-2, sesungguhnya bukan ciri khas rahmatan lil alamin ala Islam Nusantara saja.

Pihak di luar Islam Nusantara pun tidak sedikit yang mempunyai konsep seperti itu, bahkan jauh lebih bagus dari sisi teori maupun aplikasi. Mengingat dalam beberapa hal, Islam Nusantara manis di teori, tetapi sepah pada penerapannya. Termasuk dalam mengaplikasikan makna rahmatan lil alamin.

Sebut saja Said Aqil Siradj, pegiat sejati Islam Nusantara. Lihat ucapannya tentang jenggot yang senyatanya syariat Islam yang mulia, tentang tahlilan, dan merapatkan shaf dalam shalat yang merupakan tuntunan syariat yang mulia, sebagaimana bisa dibaca pada hlm. 15 edisi ini.

Para pembaca yang mulia, apabila perkataan-perkataan di atas dicermati secara saksama, teori rahmatan lil alamin Islam Nusantara hanyalah tinggal teori. Tak berakar sama sekali.

Mengapa demikian? Sebab, perkataan-perkataan di atas hakikatnya memukul bukan merangkul, menghina bukan membina, memaki-maki bukan memakai hati, menghujat bukan mengajak taubat, dan memaksakan bukan memberi pemahaman!

Contoh yang lain adalah Ulil Abshar Abdalla. Pada hari Ahad (3/8/2014) melalui akun twitternya, dia mengomentari sebuah foto di mana ada seorang ibu dan putri muslimah bercadar beserta dua kantong plastik besar berwarna hitam berisi sampah,

Take care of your trashes. Cleanliness is part of faith. Wait, which one is the trash?”

Artinya, “Urus sampahmu. Kebersihan sebagian dari iman. Tunggu, yang mana sampahnya?

(http://2.bp.blogspot.com/-9Y8DWqMJVIQ/U95-zid_al/AAAAAAAAAKI/QRAidd2UcYg/s1600/tweet+ulil+abshar+abdalla.jpg)

Para pembaca yang mulia, perhatikanlah perkataan Ulil, “Tunggu, yang mana sampahnya?

Bukankah itu memukul bukan merangkul, menghina bukan membina, memaki-maki bukan memakai hati, menghujat bukan mengajak tobat, dan memaksakan bukan memberi pemahaman?

Apakah itu aplikasi dari sikap toleran, tidak menggunakan doktrin yang kaku dan keras, cinta kedamaian, menolak kekerasan, moderat, santun, dan menghargai keberagaman?!

Jauh panggang dari api. Tak mengherankan apabila muktamar ke-33 salah satu ormas besar di Tanah Air ini yang bertemakan “Meneguhkan Islam Nusantara untuk Peradaban Indonesia dan Dunia” diwarnai kericuhan. Sejak awal muktamar, saat registrasi, ketegangan dan aksi saling dorong sudah terjadi. Pada pertengahan acara, nyaris muncul muktamar tandingan. Bahkan, seusai muktamar sekalipun berbagai konflik internal masih sempat terjadi.

Sekiranya untuk internal ormas yang ketika itu dihadiri oleh para kader pilihan, ulama, dan cerdik cendekia saja, Islam Nusantara tak mampu menciptakan rahmatan lil alamin sebagaimana yang dipromosikan, lantas bagaimanakah untuk peradaban Indonesia dan dunia?!

  1. Poin ke-3 menyebutkan bahwa di antara bentuk rahmatan lil alamin ala Islam Nusantara adalah merangkul budaya, melestarikan budaya, menghormati budaya, tidak malah memberangus budaya.

Di mana pun hidup, seseorang tak bisa lepas dari budaya atau kearifan lokal setempat. Namun, sebagai muslim, sudah sepatutnya selalu berpijak di atas rambu-rambu agama Islam saat menjalani kehidupan sosial kemasyarakatan.

Islam datang memilah dan memilih budaya. Yang sesuai dengan norma-norma syariat, dijaga dan dihormati. Adapun yang tidak sesuai dengan normanorma syariat, ditinggalkan dan tidak digandholi (Jawa: dipegangi).

Lebih dari itu, budaya atau kearifan lokal di Tanah Air kita ini amat banyak. Adat-istiadat dan tradisi masyarakatnya pun amat beragam. Budaya atau kearifan lokal manakah yang dijadikan standar oleh Islam Nusantara? Bukankah di negeri ini masih ada suku yang mengenakan koteka dan mempunyai budaya atau kearifan lokal juga?!

Di sisi lain, tidak sedikit dari nilai-nilai Islam yang luntur manakala bertaut dengan budaya. Sebut saja jilbab, diartikan oleh salah seorang pegiat Islam Nusantara dengan “pakaian yang pantas”. Maka dari itu, pakaian wanita apa saja (tidak harus berbentuk jilbab) yang dipandang pantas oleh suatu masyarakat, itulah jilbab.

Jenggot pun demikian, diklaim dapat mengurangi kecerdasan, sehingga semakin panjang jenggot seseorang maka semakin goblok. Masih banyak yang lainnya.

Sampai-sampai salah satu KBIH asal Pati, Jawa Tengah menerapkan untuk jamaahnya agar mengenakan blangkon (tutup kepala ala Jawa) saat berada di Tanah Suci dalam setiap kegiatan yang dilakukan kecuali saat ihram. Alasannya, karena terinspirasi dari Islam Nusantara. (m.nu.or.id 30/8/2015, kabarseputarmuria.com)

  1. Poin ke-4 menyebutkan bahwa rahmatan lil alamin ala Islam Nusantara berbeda dengan Islam Arab yang selalu konflik dengan sesama Islam dan perang saudara.

Penilaian tentang Islam Arab di atas, tak didukung data statistik yang valid. Apa dan siapa yang dimaksud dengan Islam Arab itu? Arab Saudi, Yaman, Kuwait, Uni Emirat Arab, Bahrain, Qatar, Irak, atau yang mana?

Dari sejumlah negara-negara Arab, berapa persenkah yang selalu konflik dengan sesama Islam dan perang saudara? Bukankah Arab Saudi, Kuwait, Emirat, Qatar, Bahrain, dan yang semisalnya termasuk dari negara-negara maju dunia baik dari sisi sosial ekonomi maupun stabilitas keamanannya?

Mereka adalah ladang-ladang minyak dunia yang tidak pelit menggelontorkan bantuan dana kemanusiaan untuk masyarakat internasional, termasuk Indonesia. Sebut saja Arab Saudi, menggelontorkan dana 806,6 miliar rupiah untuk bantuan korban tsunami Aceh. (m.antaranews.com 22/4/2014) Belum lagi bantuan dana dari individu warga Arab Saudi untuk pembangunan masjid, pondok pesantren, sarana pendidikan, dan lain-lain, di banyak pelosok negeri ini.

Bisa jadi, yang dimaksud Islam Arab yang selalu konflik dengan sesama Islam dan perang saudara itu adalah Yaman, Irak, Syria, Palestina, dan yang semisalnya. Jika demikian, tidaklah tepat untuk dimutlakkan sebagai Islam Arab, karena tak semua negara Arab seperti itu.

Lebih dari itu, konflik yang terjadi itu tak lepas dari intervensi negara-negara kafir Yahudi Israel dan Amerika Serikat. Tak luput pula campur tangan dari Negara Syi’ah, Iran. Timur Tengah sedang menjadi bidikan mereka semua. Kondisi darurat alias tidak stabil ini tentu tak bisa dijadikan barometer keislaman.

Mari koreksi ke dalam. Bukankah sebelum Indonesia merdeka kondisi kita benar-benar darurat alias tidak stabil? Hal itu tidak lain karena intervensi penjajah yang sangat kuat terhadap negeri ini. Di antara strategi jitu penjajah adalah mengadu-domba antar kelompok masyarakat, sehingga terjadilah perang saudara. Bahkan, setelah Indonesia merdeka sekalipun, terjadi beberapa pemberontakan yang alhamdulillah dapat dipadamkan.

Maaf saja, bukankah dalam muktamar yang mengusung tema utama Islam Nusantara itu juga terjadi konflik dengan sesama Islam dan “perang saudara”?!

  1. Poin ke-5, menyebutkan bahwa rahmatan lil alamin ala Islam Nusantara adalah tidak boleh ada nyawa yang hilang sebagai korban perjuangan beragama.

Perlu diketahui, hidup ini adalah perjuangan. Perjuangan menggapai ridha Allah subhanahu wa ta’ala. Secara sunnatullah, perjuangan selalu beriringan dengan pengorbanan. Di antara perjuangan yang paling mulia adalah jihad fi sabilillah (berperang di jalan Allah subhanahu wa ta’ala).

Allah subhanahu wa ta’ala memerintah Rasul-Nya yang mulia dan orang-orang yang beriman untuk berjihad di jalan-Nya dengan mempertaruhkan harta dan jiwa. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّبِيُّ جَٰهِدِ ٱلۡكُفَّارَ وَٱلۡمُنَٰفِقِينَ وَٱغۡلُظۡ عَلَيۡهِمۡۚ وَمَأۡوَىٰهُمۡ جَهَنَّمُۖ وَبِئۡسَ ٱلۡمَصِيرُ ٧٣

“Hai Nabi, perangilah orang-orang kafir dan orang-orang munafik dan bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat mereka adalah Jahannam dan itu adalah seburuk-buruk tempat kembali.” (at-Taubah: 73)

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ هَلۡ أَدُلُّكُمۡ عَلَىٰ تِجَٰرَةٖ تُنجِيكُم مِّنۡ عَذَابٍ أَلِيمٖ ١٠ تُؤۡمِنُونَ بِٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ وَتُجَٰهِدُونَ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ بِأَمۡوَٰلِكُمۡ وَأَنفُسِكُمۡۚ ذَٰلِكُمۡ خَيۡرٞ لَّكُمۡ إِن كُنتُمۡ تَعۡلَمُونَ ١١

“Hai orang-orang yang beriman, sukakah kalian Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih? (Yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya serta berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwa kalian. Itulah yang lebih baik bagi kalian, jika kalian mengetahui.” (ash-Shaf: 10—11)

Sejarah Islam dipenuhi oleh kisah-kisah perjuangan yang heroik membela agama Allah subhanahu wa ta’ala melawan orang-orang kafir. Sejak masa Baginda Rasul yang mulia, al-Khulafa’ ar-Rasyidin, dan masa setelah mereka. Perjalanan Islam tak bisa dipisahkan dari itu semua.

Pertempuran demi pertempuran, yang tak jarang didahului oleh perang tanding. Sudah barang tentu, akan ada korban yang berjatuhan. Hal itu satu kemuliaan, bukan kerugian. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

۞إِنَّ ٱللَّهَ ٱشۡتَرَىٰ مِنَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ أَنفُسَهُمۡ وَأَمۡوَٰلَهُم بِأَنَّ لَهُمُ ٱلۡجَنَّةَۚ يُقَٰتِلُونَ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ فَيَقۡتُلُونَ وَيُقۡتَلُونَۖ وَعۡدًا عَلَيۡهِ حَقّٗا فِي ٱلتَّوۡرَىٰةِ وَٱلۡإِنجِيلِ وَٱلۡقُرۡءَانِۚ وَمَنۡ أَوۡفَىٰ بِعَهۡدِهِۦ مِنَ ٱللَّهِۚ فَٱسۡتَبۡشِرُواْ بِبَيۡعِكُمُ ٱلَّذِي بَايَعۡتُم بِهِۦۚ وَذَٰلِكَ هُوَ ٱلۡفَوۡزُ ٱلۡعَظِيمُ ١١١

“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang di jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan al-Qur’an. dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual-beli yang telah kalian lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.” (at-Taubah: 111)

Dari sini, jelaslah kebatilan perkataan Ali Masykur Musa, “Tidak boleh ada lagi nyawa yang hilang sebagai korban perjuangan beragama.”

Akan tetapi, perlu diingat bahwa jihad bukan terorisme dan terorisme bukan jihad. Jihad membutuhkan ilmu dan tidak dilakukan serampangan. Sikap mudah mengafirkan bukan prinsip Ahlus Sunnah wal Jamaah yang dibawa oleh Rasulullah. Gerakan teror dengan bom atau selainnya, bukan dari Islam. Al-Qaeda, ISIS, dan kelompok radikal semisal, baik dari unsur Islam, Kristen, Hindu, maupun selainnya adalah teroris.

Umat Islam harus waspada terhadap semua itu. Jangan sampai radikalisme dibendung dengan liberalisme, apapun namanya. Jangan pula liberalisme dibendung dengan radikalisme, apapun namanya.

Wallahu a’lam.

Ditulis oleh al-Ustadz Ruwaifi’ bin Sulaimi, Lc.