Islam Nusantara, Disintegrasi Kehidupan Beragama

Tak bisa dimungkiri bahwa Islam merupakan agama yang paling banyak penganutnya di gugusan kepulauan Nusantara ini. Para penganutnya berasal dari banyak suku, ras atau etnis. Masing-masing mempunyai budaya dan adat-istiadat yang berbedabeda. Dari Sabang sampai Merauke, komunitas muslim berjajar seiring dengan berjajarnya pulau-pulau. Sambung-menyambung menjadi satu oleh ikatan persaudaraan Islam (ukhuwah islamiyah).

Di belahan bumi lainnya pun demikian adanya. Sejak berabad-abad lamanya mereka saling terikat dengan ikatan persaudaraan Islam (ukhuwah islamiyah). Sekalipun berasal dari suku bangsa yang berbeda, namun semuanya terayomi dengan Islam dan syariatnya yang rahmatan lil alamin.

Itulah Islam. Ia bukan milik orang Arab, orang Barat, orang Indonesia, orang Pakistan, orang Afrika, dan yang lainnya. Islam milik semuanya. Islam tak dikotak-kotak oleh ras, suku, etnis, atau wilayah teritorial tertentu. Justru, Islam yang menyatukan segala perbedaan ras, suku, etnis atau wilayah teritorial itu.

Semakin kuat umat Islam dalam berpegang-teguh dengan norma-norma Islam, semakin kuat pula persatuan dan persaudaraan di antara mereka. Semakin taat menjalankan segala tuntunannya, maka semakin mulia pula di sisi Allah subhanahu wa ta’ala.

Tidak seperti yang dikatakan oleh salah seorang pegiat Islam Nusantara, Luthfi Asysyaukanie dalam akun facebooknya, “Engkau ingin jadi orang jahat yang mudah membunuh dan memprovokasi? Beragamalah. Agama mempermudah jalanmu untuk menjadi penjahat tanpa engkau merasa sebagai penjahat. Agama yang merasa paling benar lebih pas lagi untukmu menjadi penjahat. Engkau akan dilatih menghasut dan membenci orang lain, setiap hari. Beragamalah jika engkau ingin jadi penjahat.”

Subhanallah… semakin beragama semakin jahat?! Mudah membunuh dan memprovokasi?! Akan dilatih menghasut dan membenci orang lain, setiap hari?! Sungguh, ini merupakan kebohongan yang nyata!

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

إِنَّ أَكۡرَمَكُمۡ عِندَ ٱللَّهِ أَتۡقَىٰكُمۡۚ

“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kalian.” (al-Hujurat: 13)

مَنۡ عَمِلَ صَٰلِحٗا مِّن ذَكَرٍ أَوۡ أُنثَىٰ وَهُوَ مُؤۡمِنٞ فَلَنُحۡيِيَنَّهُۥ حَيَوٰةٗ طَيِّبَةٗۖ وَلَنَجۡزِيَنَّهُمۡ أَجۡرَهُم بِأَحۡسَنِ مَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ ٩٧

“Barang siapa mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (an-Nahl: 97)

Nilai-nilai persatuan dan persaudaraan sangat diperhatikan oleh Islam, terkhusus dalam kehidupan beragama. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَٱعۡتَصِمُواْ بِحَبۡلِ ٱللَّهِ جَمِيعٗا وَلَا تَفَرَّقُواْۚ

“Dan berpeganglah kalian semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kalian bercerai berai.” (Ali Imran: 103)

وَلَا تَكُونُواْ مِنَ ٱلۡمُشۡرِكِينَ ٣١ مِنَ ٱلَّذِينَ فَرَّقُواْ دِينَهُمۡ وَكَانُواْ شِيَعٗاۖ كُلُّ حِزۡبِۢ بِمَا لَدَيۡهِمۡ فَرِحُونَ ٣٢

“Janganlah kalian termasuk orangorang yang mempersekutukan Allah. Yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka[1] dan mereka menjadi beberapa golongan, tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.” (ar-Rum: 31—32)

Demikianlah Islam yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Universal dan rahmatan lil alamin. Mengayomi tidak mengebiri. Lantas, bagaimanakah halnya dengan Islam Nusantara?

Tak dapat disangkal, kemunculan Islam Nusantara di Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) ini cukup “meresahkan”. Terbukti, kemunculannya menuai banyak kritikan, baik dari kalangan atas maupun bawah. Kasusnya mulai ramai disoroti sejak adanya pembacaan ayat suci al-Qur’an dengan langgam jawa.

Penamaan Islam Nusantara itu sendiri kontradiktif dengan keuniversalan Islam yang tidak dibatasi oleh masa, suku bangsa, dan tempat tertentu. Terlepas maksud dan tujuan para penggagasnya yang mungkin tak bermaksud membatasi keuniversalan Islam, namun nama Islam Nusantara sudah menunjukkan adanya pembatasan, disadari maupun tidak.

Lebih dari itu, istilah Islam Nusantara membuka penilaian bahwa ada eksklusivitas dan kotak-kotak pada Islam. Apabila pintu ini dibuka, bahkan ditawarkan kepada dunia sebagaimana cita-cita para pegiatnya, tidak mustahil akan bermunculan nama-nama yang lainnya. Ada Islam Malaysia, Islam Singapura, Islam India, Islam Arab Saudi, Islam Pakistan, Islam Amerika, Islam Inggris, dan lain-lain. Padahal Islam hanya satu, yaitu yang dibawa oleh Nabi Besar Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Islam Nusantara tak ubahnya tunggangan baru bagi Jaringan Islam Liberal (JIL) atau orang-orang berpaham liberal yang telah lama ditinggalkan umat. Mengingat, para tokoh liberal mempunyai peran besar dalam mempromosikan Islam Nusantara tersebut, semisal Ulil Abshar Abdalla, Azyumardi Azra, Luthfi Asysyaukanie, dan Zuhairi Misrawi.

Melalui klaim pendekatan psikologi kenusantaraan dan ortodoksi kalam Asy’ari, fikih mazhab Syafi’i, dan tasawuf Ghazali yang tidak asing bagi masyarakat muslim Indonesia, mereka bergerak. Bisa jadi, itulah strategi yang dianggap jitu untuk menyukseskan program mereka, sekaligus dapat meredam berbagai gejolak yang diperkirakan muncul. Akan tetapi, kenyataannya, mereka kerap kali melakukan pelanggaran.

Terlepas apakah ia sebuah paham, ajaran, mazhab, atau bukan; yang jelas, nama Islam Nusantara terus menggelinding di tengah publik. Semakin besar gaungnya, manakala salah satu ormas besar menjadikannya sebagai tema utama dalam Muktamar ke-33 bulan Agustus lalu.

Kesan rasisme atau kedaerahan pun tampak pada penamaan IslamNusantara. Seakan-akan mengebiri cakupan Islam yang bersifat universal untuk seluruh umat manusia. Walaupun ditampik oleh para pegiatnya, tetapi setidaknya doktrin-doktrin rasisme atau kedaerahan itu terselip dalam berbagai kesempatan ceramah atau tulisan para pegiatnya.

Cobalah perhatikan dengan seksama doktrin-doktrin berikut ini,

“Islam bukan Arab dan Arab bukanIslam.”

“Ambil Islamnya, buang Arabnya.”

“Islam Nusantara lebih sesuai dengan masyarakat Indonesia, bukan Islam Arab.”

“Berbeda halnya dengan Islam arab yang kaku, penuh teror, dan kekerasan.”

Bukankah tampak nuansa anti-Arab? Ada apa Islam Nusantara dengan Arab?! Memang benar, Islam bukan Arab, karena Islam adalah agama, sedangkan Arab adalah etnis. Arab pun belum tentu Islam, karena ada orang Arab yang nonmuslim. Akan tetapi, diakui ataupun tidak, Islam tak bisa dipisahkan dengan Arab. Sebab, Islam muncul di negeri Arab. Al-Qur’annya berbahasa arab. Haditsnya berbahasa Arab. Nabinya dari bangsa Arab dan berbahasa Arab. Para sahabat Nabi, baik dari kalangan Muhajirin maupun Anshar, mayoritasnya dari bangsa Arab. Kitab-kitab ternama dalam khazanah keilmuan Islam pun mayoritasnya berbahasa Arab.

Doktrin anti Arab ini sangat mengkhawatirkan, minimalnya dari dua sisi:

  1. Menjadi sebab kebencian kepada Islam.

Sebab, Islam tak bisa dipisahkan dengan Arab. Strategi inilah yang pernah digunakan oleh Mustafa Kemal Pasha Atta Turk untuk mengubur nilai-nilai keislaman di Turki, sampai-sampai azan pun menggunakan bahasa Turki.

  1. Kekhawatiran adanya pengaruh dari Barat (baca: Yahudi dan Nasrani) dan Syi’ah Rafidhah (baca: Iran) yang notabene anti-Arab.

Akan tetapi, mudah-mudahan tidak! mengingat di antara para pegiat Islam Nusantara adalah jebolan universitas-universitas barat dan hubungan pun masih terajut rapi. Sebagian yang lain dekat dengan Syi’ah Rafidhah (baca: Iran) dan berupaya membawa gerbong ormasnya ke sana, walaupun banyak ditentang oleh anggotanya.

Anehnya, yang jebolan barat pun menjadikan kedekatan dengan Syi’ah sebagai ciri Islam Nusantara. Sebut saja Ulil Abshar Abdalla, dalam akun twitternya (27/6/2015) berkicau, “Ciri Islam Nusantara: tidak memusuhi Syiah. Dan menganggap mereka bagian sah dari umat Islam. Beda dengan Islam Wahabi dan simpatisannya.”

Dari sini diketahui bahwa Islam Nusantara mempunyai rasa sentimen terhadap Arab dan segala hal yang berbau Arab. Tidak sadarkah mereka bahwa Islam datang dari negeri Arab? Tidak sadarkah bahwa tak sedikit tokoh, dai, kiai, dan ustadz di negeri ini yang beretnis Arab?

Kalau boleh tersinggung, merekalah orang yang pertama kali tersinggung terhadap doktrin-doktrin anti-Arab ala Islam Nusantara tersebut. Disintegrasi kehidupan beragama, berbangsa, dan bernegara pun terjadi.

Seiring dengan perjalanan waktu, Islam Nusantara semakin menciptakan suasana tak nyaman dalam kehidupan beragama. Simaklah pernyataan pegiat sejati Islam Nusantara Said Aqil Siradj berikut ini, “Pokoknya yang tahlilan, mantap sekali Pancasilanya. Kalau anti-tahlilan maka kita ragukan Pancasila-nya.” (Pancasila Rumah Kita: Perbedaan adalah Rahmat, Rabu 26/08/2015)

“Orang berjenggot itu mengurangi kecerdasan, jadi syaraf yang sebenarnya untuk mendukung kecerdasan otak, ketarik oleh, untuk memanjangkan jenggot…. Tapi kalau berjenggot, emosinya saja yang meledak-ledak, geger otaknya. Karena syaraf untuk mensupport otak supaya cerdas, ketarik oleh jenggot itu. Semakin panjang, semakin goblok! (https://youtu.be/MrXNQGGX1Ew)

“Kakinya harus ketemu satu sama lain, nggak boleh ada ruang antar kaki, kenapa? Nanti iblis di situ katanya tempatnya. Kalau saya Alhamdulillah, iblis bisa ikut shalat.” (https://youtu.be/ILwY4Eeeynw)

Ketiga pernyataan Said Aqil Siradj di atas, di samping banyak komentarnya yang lain, sangat kontroversial. Tak mengherankan, apabila dia menuai banyak kritikan, bantahan, dan peringatan. Tak terlewat, dari para kiai yang Said Aqil Siradj sendiri menjadi pimpinan ormasnya.

Jangan salahkan apabila ada yang mengatakan, “Suasana kondusif dalam kehidupan beragama di negeri ini akhir-akhir terganggu oleh para pegiat Islam Nusantara. Bahkan, kemunculan Islam Nusantara yang menimbulkan pro dan kontra merupakan bagian dari disintegrasi kehidupan beragama.”

Wallahu a’lam.

Ditulis oleh al-Ustadz Ruwaifi’ bin Sulaimi, Lc.

[1] Maksudnya, meninggalkan agama tauhid dan menganut pelbagai kepercayaan menurut hawa nafsu mereka.