Islam Nusantara Pro Syi’ah?

Para ulama yang mulia rahimahumullah, sejak dahulu sudah melakukan kajian yang panjang dan cermat tentang Syi’ah. Hasilnya, Syi’ah adalah kelompok sesat yang telah menyimpang dari kebenaran.

Mereka berambisi untuk menghancurkan Islam dengan cara menghujat al-Qur’an, menjatuhkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan mengafirkan para sahabat beliau yang mulia. Tiga pilar utama dalam agama Islam. Tanpa ketiganya, agama seseorang menjadi rapuh dan sekejap akan runtuh. Mereka beragama dengan perkataan dusta dan persaksian palsu (taqiyah). Simaklah keterangan para ulama berikut ini,

  1. Al-Imam Amir asy-Sya’bi rahimahullah berkata, “Aku tidak pernah melihat kaum yang lebih dungu dari Syi’ah.” (as-Sunnah karya Abdullah bin al-Imam Ahmad 2/549)
  2. Al-Imam Sufyan ats-Tsauri rahimahullah ketika ditanya tentang seseorang yang mencela Abu Bakr dan Umar (Syi’ah, pen.) berkata, “Ia telah kafir kepada Allah subhanahu wa ta’ala.”

Kemudian beliau ditanya, “Apakah kita menyalatinya (bila meninggal dunia)?”

Beliau berkata, “Tidak, tiada kehormatan (baginya)….” (Siyar A’lamin Nubala karya al-Imam adz-Dzahabi 7/253)

  1. Al-Imam Malik bin Anas rahimahullah berkata, “Mereka itu adalah suatu kaum yang berambisi untuk menjatuhkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, namun tidak mampu. Akhirnya mereka mencela para sahabatnya agar dikatakan bahwa beliau (Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam) seorang yang jahat. Sebab, kalau memang beliau orang saleh, niscaya para sahabatnya adalah orang-orang saleh.” (ash-Sharimul Maslul ‘ala Syatimirrasul karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, hlm. 580)
  2. Al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah berkata, “Aku belum pernah tahu ada yang melebihi Rafidhah (Syi’ah) dalam persaksian palsu.” (Mizanul I’tidal karya al-Imam adz-Dzahabi 2/27—28)
  3. Al-Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah berkata, “Aku tidak melihat dia (orang yang mencela Abu Bakr, Umar, dan Aisyah) sebagai orang Islam.” (as-Sunnah karya al-Khallal 1/493)
  4. Al-Imam al-Bukhari rahimahullah berkata, “Bagiku sama saja shalat di belakang Jahmi (seorang penganut akidah Jahmiyah) dan Rafidhi (Syi’ah) atau di belakang Yahudi dan Nasrani. Mereka tidak boleh diberi salam, tidak boleh pula dikunjungi ketika sakit, dinikahkan, dijadikan saksi, dan dimakan sembelihannya.” (Khalqu Af’alil ‘Ibad, hlm. 125)

Bisa jadi, Anda terheran terhadap kesimpulan para ulama terkemuka di atas. Sejauh itukah kesimpulan mereka? Apa yang melandasi berbagai kesimpulan itu? Mengapa Syi’ah bisa seperti itu? Dan berbagai pertanyaan lainnya yang menggelitik di hati Anda.

Jawaban ringkasnya, karena Syi’ah adalah sekte (baca: agama) tersendiri yang sangat bertolak belakang dengan Islam.

Bukankah mereka amat berambisi untuk merobohkan tiga pilar utama agama dalam Islam, yang tanpa ketiganya agama seseorang menjadi rapuh dan sekejap akan runtuh? Tiga pilar utama itu adalah al-Qur’an, Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan pemahaman para sahabat (salaful ummah).

Al-Qur’an yang merupakan Kitab Suci umat Islam tak lagi dianggap suci oleh mereka, bahkan tidak sah dan kurang dari yang aslinya.

Disebutkan dalam kitab al-Kafi (yang kedudukannya menurut Syiah Rafidhah seperti Shahih al-Bukhari bagi kaum muslimin) karya Abu Ja’far Muhammad bin Ya’qub al-Kulaini (2/634) dari Abu Abdillah (Ja’far ash-Shadiq), dia berkata, “Sesungguhnya al-Qur’an yang dibawa Jibril kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam itu (ada) 17.000 ayat.”

Pada (1/239—240) disebutkan dari Abu Abdillah, dia berkata, “Sesungguhnya di sisi kami ada mushaf Fatimah ‘alaihas salam, mereka tidak tahu apa mushaf Fatimah itu.

Abu Bashir berkata, ‘Apa mushaf Fatimah itu?’

Dia (Abu Abdillah) berkata, ‘Mushaf yang isinya 3 kali lipat dari yang ada di mushaf kalian. Demi Allah, tidak ada padanya satu huruf pun dari al-Qur’an kalian’.” (Dinukil dari kitab asy-Syi’ah wal Qur’an karya Dr. Ihsan Ilahi Zhahir, hlm. 31—32)

Adapun Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka merobohkannya dengan berbagai cara. Di antaranya,

  1. Mengklaim bahwa para istri Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia adalah pelacur, agar timbul kesan bahwa beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang tidak baik, sehingga sunnahnya tak bisa diamalkan.

Disebutkan dalam kitab mereka Ikhtiyar Ma’rifatir Rijal karya ath-Thusi, hlm. 57—60, menukilkan (secara dusta) perkataan sahabat Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘anhu terhadap Ummul Mukminin Aisyah, “Kamu tidak lain adalah seorang pelacur dari sembilan pelacur yang ditinggalkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Dinukil dari kitab Daf’ul Kadzibil Mubin al-Muftara Minarrafidhati ‘ala Ummahatil Mukminin karya Dr. Abdul Qadir Muhammad ‘Atha, hlm. 11)

  1. Mengafirkan para sahabat kecuali beberapa orang saja dari mereka. Dengan pengafiran para sahabat, berarti gugur pula semua Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang diriwayatkan melalui mereka.[1]

Disebutkan dalam kitab mereka Rijalul Kisysyi (hlm. 12—13) dari Abu Ja’far Muhammad al-Baqir, dia berkata, “Manusia (para sahabat) sepeninggal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan murtad kecuali tiga orang.”

Aku (perawi) berkata, “Siapa tiga orang itu?”

Dia (Abu Ja’far) berkata, “Al-Miqdad bin al-Aswad, Abu Dzar al-Ghifari, dan Salman al-Farisi…” kemudian menyebutkan surah Ali Imran ayat 144. (Dinukil dari asy-Syi’ah al-Imamiyyah al-Itsna ‘Asyariyyah fi Mizanil Islam, hlm. 89)

Adapun sahabat Abu Bakr ash-Shiddiq radhiallahu ‘anhu dan Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu, dua manusia terbaik setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka cela dan laknat.[2] Bahkan, berlepas diri dari keduanya merupakan bagian dari prinsip agama mereka. Tak heran apabila didapati dalam kitab bimbingan doa mereka (seperti dalam Miftahul Jinan, hlm. 114), wirid laknat untuk keduanya,

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلىَ مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِ مُحَمَّدٍ، وَالْعَنْ صَنَمَيْ قُرَيْشٍ وَجِبْتَيْهِمَا وَطَاغُوْتَيْهِمَا وَابْنَتَيْهِمَا

“Ya Allah, semoga shalawat selalu tercurahkan kepada Muhammad dan keluarganya. Laknatlah kedua berhala Quraisy (Abu Bakr dan Umar), setan dan thaghut keduanya, serta kedua putri mereka…(yang dimaksud adalah Ummul Mukminin Aisyah dan Hafshah).(Dinukil dari kitab al-Khuthuth al-‘Aridhah karya as-Sayyid Muhibbuddin al-Khatib, hlm. 18)

Dengan robohnya pilar kepercayaan kepada para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, akan roboh pula pilar kepercayaan kepada al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebab, melalui merekalah keduanya sampai kepada kita.

Al-Imam Abu Zur’ah ar-Razi rahimahullah berkata, “Jika Anda melihat orang yang mencela salah seorang sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ketahuilah bahwa ia zindiq (seorang yang menampakkan keislaman dan menyembunyikan kekafiran). Sebab, bagi kita, Rasul adalah haq dan al-Qur’an adalah haq. Sesungguhnya yang menyampaikan al-Qur’an dan as-Sunnah adalah para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka (kaum Syi’ah pen.) mencela para saksi kita (para sahabat) dengan tujuan untuk meniadakan al-Qur’an dan as-Sunnah. Mereka lebih pantas untuk dicela dan mereka adalah zanadiqah.” (al-Kifayah karya al-Khathib al-Baghdadi, hlm. 49)

Satu hal penting yang tak boleh dilupakan, Syi’ah kerap kali melakukan pengkhianatan terhadap umat Islam. Mereka telah berkhianat terhadap Khalifah Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu, Khalifah Hasan bin Ali radhiallahu ‘anhu, dan Husain bin Ali radhiallahu ‘anhu.[3] Sejarah pun mencatat bahwa runtuhnya Daulah Abbasiyah (tahun 656 H) yang mengendalikan kepemimpinan umat Islam dalam skala internasional, adalah karena pengkhianatan sang Perdana Menteri, Muhammad Ibnul Alqami yang beragama Syi’ah.

Akibatnya, Khalifah Abdullah bin Manshur yang bergelar al-Musta’shim Billah dan para pejabat pentingnya tewas mengenaskan dibantai oleh pasukan Tartar yang dipimpin oleh Hulaghu Khan. Kota Baghdad (ibu kota Daulah Abbasiyah) porak-poranda. Kebakaran terjadi di mana-mana. Umat Islam yang tinggal di Kota Baghdad dibantai secara massal; tua, muda, anak-anak, laki-laki, perempuan, orang awam, dan ulama.

Selama 40 hari pembantaian terus-menerus terjadi. Kota Baghdad bersimbah darah. Tumpukan mayat umat Islam berserakan di mana-mana. Bau mayat yang sudah membusuk, semakin menambah duka nestapa. Nyaris sungai Tigris menjadi merah karena simbahan darah umat Islam, sementara sungai Dajlah nyaris menjadi hitam karena lunturan tinta kitab-kitab berharga umat Islam yang mereka buang ke dalamnya.[4] Wallahul Musta’an.

Bagaimanakah sikap Islam Nusantara terhadap Syiah? Apakah mereka berada satu barisan dengan para ulama terkemuka semisal al-Imam asy-Syafi’i, al-Imam Malik, al-Imam al-Bukhari, dan yang lainnya tersebut? Simaklah penuturan mereka berikut ini.

 Ulil Abshar Abdalla

Dalam akun twitternya @ulil, 26/6/2015 berkata, “Ciri Islam Nusantara: tidak memusuhi Syi’ah. Dan menganggap mereka bagian sah dari umat Islam. Beda dengan Islam Wahabi atau simpatisannya.”

  • Perkataan Ulil Abshar Abdalla, “Ciri Islam Nusantara: tidak memusuhi Syi’ah.

Tanggapan:

  1. Ini menunjukkan bahwa Jaringan Islam Liberal (JIL), Islam Nusantara, dan Syi’ah adalah satu kesatuan yang tak terpisahkan. Karena itu, mereka tidak saling memusuhi.
  2. Fakta di lapangan membuktikan kebenaran perkataan Ulil tersebut. Tak heran apabila mereka saling mendukung dan membela.
  3. Hal ini semakin memperjelas betapa buruknya wajah Islam Nusantara.
  • Perkataan Ulil Abshar Abdalla, “Dan menganggap mereka bagian sah dari umat Islam.”

Tanggapan:

  1. Ini merupakan legitimasi dan rekomendasi bahwa Syi’ah bukan aliran sesat.
  2. Betapa nekatnya Ulil menabrak fatwa sesat Syi’ah yang dikeluarkan oleh ulama terkemuka umat Islam; al-Imam asy-Sya’bi, al-Imam Sufyan ats-Tsauri, al-Imam Malik, al-Imam asy-Syafi’i, al-Imam Ahmad bin Hanbal, al-Imam al-Bukhari, dan yang lainnya rahimahumullah. Tidakkah Ulil mengerti kapasitas dirinya?!
  3. Faktor penyebab kenekatan Ulil di atas, bisa jadi karena mengekor hawa nafsu, bisa jadi pula karena kebodohannya. Kedua-duanya tercela. Namun, lebih tercela lagi apabila penyebabnya adalah keduanya, yaitu mengekor hawa nafsu ditambah kebodohan.
  4. Jika fatwa ulama terkemuka di atas tidak dia hiraukan, sudah barang tentu fatwa orang yang di bawah mereka pun akan dicampakkan. Wallahul Musta’an.
  • Perkataan Ulil Abshar Abdalla, “Beda dengan Islam Wahabi atau

Tanggapan:

  1. Ini merupakan agresi verbal yang dilancarkan oleh Ulil terhadap pihak yang tak sependapat dengannya. Itu kerap kali terjadi, baik di akun twitternya maupun yang lainnya.
  2. Begitulah “orang-orang” Islam Nusantara. Mereka kerap kali mengangkat tentang etika sosial, keramahan-tamahan, sikap santun, antiradikalisme, cinta damai, dan lain-lain, namun kenyataannya justru merekalah yang kerap berkonfrontasi, mencerca, menghina, dan “menyerang” pihak yang tak disukai melalui media-media yang ada. Justru mereka mendukung kelompok radikal, yaitu Syiah. Fakta dan data di lapangan cukup menjadi bukti.
  3. Islam Wahabi atau simpatisannya memang meyakini bahwa Syi’ah itu sesat, berbeda dengan Islam Nusantara. Lantas, apa yang dipermasalahkan? Bukankah dengan itu berarti Islam Wahabi atau simpatisannya sejalan dengan fatwa para ulama terkemuka di atas? Sungguh, ini suatu kemuliaan, bukan kehinaan.
  4. Islam Wahabi (baca: Dakwah Salafiyah), selalu buruk di mata pegiat-pegiat Islam Nusantara dan konco-konconya. Mereka menjadikan dakwah Salafiyah yang dibawa asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah sebagai musuh bersama. Bahkan, sering kali dijadikan tumbal untuk meraih berbagai kepentingan. Itulah salah satu dari fenomena sosial keberagamaan di Tanah Air kita.

Apabila seseorang mengetahui Islam Wahabi (baca: Dakwah Salafiyah) yang sebenarnya, sungguh tak akan sanggup lisan dan pena mengumpatnya. Untuk mengetahui lebih lanjut, silakan membaca Majalah Asy-Syari’ah, edisi 22, “Konspirasi Meruntuhkan Dakwah Islam”.

  1. Bagi Ulil Abshar, mengkritisi Kitab Suci al-Qur’an saja enteng, apalagi mengkritisi Islam Wahabi!

Simaklah perkataannya berikut ini, “Alkitab memiliki kekuatan yang tak saya temukan di Qur’an, yaitu narasi atau kisah. Di Qur’an, kita jumpai banyak qasas atau kisah. Tetapi kisah-kisah di Qur’an diceritakan tidak secara urut, lengkap, dengan ‘drama’ yang memikat pembaca. Di Alkitab, kisah-kisah tentang bangsa Israel diceritakan dengan cara yang sangat menarik. Saya bisa menyebut bahwa Alkitab mungkin adalah salah satu kitab suci yang terbaik dari segi ‘story telling’.” (Pengalaman Saya Dengan Alkitab-islamlib.com 31/10/2015)

 Said Aqil Siradj

Dalam sambutannya pada peringatan hari Asyura yang diunggah di Youtube, https://youtu.be/bW-S9ch8Slk, pada 14 Desember 2013, dia berkata,

“Nah, kita yang mencintai Ali, kita yang mencintai Rasulillah shallallahu ‘alaihi wa sallam, mari kita pertahankan ini, keyakinan yang benar ini. Mari kita pertahankan baqiyyah min baqaya al-a’mal ash-shalihah. Sedikit saja amal saleh mari kita pertahankan, yaitu ihya’i Asyura’, ihya’il Arba’in, ihya’i syuhada’i Karbala.

Mari kita hidupkan tragedi Karbala dengan pertemuan seperti ini, syukur-syukur lebih dari ini, syukur-syukur lebih besar lagi.

Mari kita pertahankan shautul haq ini, suara kebenaran, mari kita pertahankan. Nggak apa-apa lah sekarang orang sedikit, insya Allah yang penting harus ada tidak dilupakan, insya Allah lama-kelamaan akan dipahami oleh orang banyak.

Di kalangan NU sendiri masih banyak yang belum paham. Nggak apa-apa maklum belum ngerti, Allahummahdihim fainnahum laa ya’lamuun. Berilah kepengertian kepada orang-orang yang belum paham dengan peringatan Asyura’, peringatan Arba’in.

Ya Allah berilah petunjuk kepada umat Islam warga Nahdhiyyin, pesantren-pesantren yang belum mengerti apa itu yaumu Asyura, apa itu yaumul Arba’in. Maafkan mereka ya Pak, ya. Karena mereka fainnahum laa ya’lamuun karena belum mengerti.

Kata Imam Ali Zainal Abidin, “Alhamdulillah alladzi ja’ala a’da-ana humaqo’.” Alhamdulillah…musuh-musuh saya itu goblok-goblok semua, kira-kira itu gitu. Orang yang dungu-dungu, ahmaq-ahmaq.”

  • Perkataan Said Aqil Siradj, “Nah, kita yang mencintai Ali, kita yang mencintai Rasulillah shallallahu ‘alaihi wa sallam, mari kita pertahankan ini, keyakinan yang benar ini. Mari kita pertahankan baqiyyah min baqaya al-a’mal ash-shalihah. Sedikit saja amal saleh mari kita pertahankan, yaitu ihya’i Asyura’, ihya’il Arba’in, ihya’i syuhada’i Karbala. Mari kita hidupkan tragedi Karbala dengan pertemuan seperti ini, syukur-syukur lebih dari ini, syukur-syukur lebih besar lagi. Mari kita pertahankan shautul haq ini, suara kebenaran, mari kita pertahankan. Nggak apa-apa lah sekarang orang sedikit, insya Allah yang penting harus ada tidak dilupakan, insya Allah lama-kelamaan akan dipahami oleh orang banyak.”

Tanggapan:

  1. Said Aqil Siradj secara terang-terang membela kegiatan keagamaan Syi’ah, dalam hal ini peringatan hari Asyura untuk mengenang tragedi terbunuhnya Husain bin Ali radhiallahu ‘anhuma di Karbala dan hari Arbain untuk mengenang 40 hari setelah kematian beliau.

Peringatan batil ini berisi ratapan tangis, bahkan adakalanya (di luar Indonesia) sambil melukai diri dengan senjata tajam: pedang, pisau, rantai, dan yang semisalnya. Ini dilakukan oleh laki-laki, wanita, bahkan anak-anak.

Tak seorang pun dari as-Salaf ash-Shalih yang membenarkannya, apalagi melakukannya. Mereka memvonis Syi’ah itu sesat, sebagaimana imam-imam terkemuka di atas, maka bagaimana mungkin mereka melakukan kegiatan keagamaan Syi’ah yang sesat itu?!

  1. Said Aqil Siradj melegitimasi dan merekomendasi kegiatan keagamaan Syi’ah yang batil tersebut dengan beberapa pernyatannya, “keyakinan yang benar”, “baqiyyah min baqaya al-a’mal ash-shalihah”, “shautul haq, suara kebenaran.”

Padahal kegiatan tersebut mungkar, suara kebatilan, dan bukan baqiyyah min baqaya al-a’mal ash-shalihah.

  1. Said Aqil Siradj mengasung kaum Syi’ah agar peringatan hari Asyura, mengenang tragedi terbunuhnya Husain bin Ali radhiallahu ‘anhuma di Karbala dan hari Arbain dipertahankan, tidak dilupakan, dan supaya terus dihidupkan. Bahkan, membesarkan hati mereka manakala orang yang hadir pada kegiatan batil itu berjumlah sedikit.

Tampak sekali kesan bahwa dia ikut memiliki kegiatan keagamaan Syi’ah tersebut. Bukankah ini pertanda kuat bahwa Said Aqil Siradj hatinya dekat dengan kaum Syi’ah?!

  1. Apabila ditarik mundur, ternyata kedekatan Said Aqil Siradj dengan kaum Syi’ah sudah terjalin lama. Terkhusus dengan Negara Iran yang merupakan markas Syi’ah terbesar di dunia saat ini. Setidaknya sejak tahun 2005 (10 tahun yang lalu), ketika dia menjadi Ketua Biro Urusan Kerjasama Beasiswa PBNU untuk Timur Tengah.

Di masa jabatannya itu, untuk pertama kalinya pendaftaran beasiswa program S2 di Iran dibuka. Jurusan yang dapat diambil adalah filsafat dan agama. Adapun universitas tujuan ada beberapa, seperti Universitas Qum. Sebagaimana pula ada model pendidikan ala pesantren yang dipromosikan lebih bagus kualitasnya. (m.nu.or.id, 15/4/2005)

  • Perkataan Said Aqil Siradj, “Di kalangan NU sendiri masih banyak yang belum paham. Nggak apa-apa maklum belum ngerti, Allahummahdihim fainnahum laa ya’lamuun. Berilah kepengertian kepada orang-orang yang belum paham dengan peringatan Asyura’, peringatan Arba’in.

Ya Allah berilah petunjuk kepada umat Islam warga Nahdhiyyin, pesantren-pesantren yang belum mengerti apa itu yaumu Asyura, apa itu yaumul Arba’in. Maafkan mereka ya Pak, ya..karena mereka fainnahum laa ya’lamuun karena belum mengerti.

Kata Imam Ali Zainal Abidin, “Alhamdulillah alladzi ja’ala a’da-ana humaqo’.” Alhamdulillah… musuh-musuh saya itu goblok-goblok semua, kira-kira itu gitu. Orang yang dungu-dungu, ahmaq-ahmaq.”

Tanggapan:

  1. Said Aqil Siradj berkesimpulan bahwa umat Islam, terkhusus warga Nahdhiyyin dan pesantren-pesantren yang tidak mengikuti atau menolak kegiatan keagamaan kaum Syi’ah yaumu Asyura dan yaumul Arba’in, sebagai orang-orang yang belum mengerti, goblok-goblok, dungu-dungu, dan ahmaq-ahmaq. Maka dari itu, perlu didoakan, Allahummahdihim fainnahum laa ya’lamuun. Ya Allah berilah petunjuk kepada Umat Islam, maklum mereka belum mengerti.

Silakan pembaca yang menilai, apakah itu merangkul atau memukul? Membina atau menghina? Memakai hati atau memaki-maki?

  1. Jika Said Aqil Siradj menyebutkan perkataan Imam Ali Zainal Abidin yang mendiskreditkan kaum Sunni, maka Imam Ali Zainal Abidin juga pernah berkata tentang Syi’ah sebagai berikut, “Mereka (Syi’ah) bukan dari kami, dan kami pun bukan dari mereka.” (Lihat Rijalul Kisysyi, hlm. 111, dinukil dari asy-Syi’ah Wa Ahlul Bait karya Dr. Ihsan Ilahi Zhahir, hlm. 303)
  2. Jika Said Aqil Siradj menyebutkan perkataan al-Imam Ali Zainal Abidin bahwa musuh-musuhnya (baca: Sunni) humaqa’ yaitu goblok-goblok, dungu-dungu, dan ahmaq-ahmaq, al-Imam Muhammad al-Baqir yang juga diklaim sebagai imam oleh Syi’ah berkata, “Seandainya semua manusia ini Syi’ah, niscaya tiga perempatnya adalah orang-orang yang ragu dengan kami, dan seperempatnya adalah orang-orang dungu.” (Lihat Rijalul Kisysyi, hlm. 179, dinukil dari asy-Syi’ah Wa Ahlul Bait karya Dr. Ihsan Ilahi Zhahir, hlm. 303)

Dari sini, dapat diambil kesimpulan bahwa Islam Nusantara tak bisa dipisahkan dari Syi’ah, sebagaimana tak bisa dipisahkan dari Islam Liberal. Mereka adalah satu kesatuan yang sulit dipisahkan: Jaringan Islam Liberal-Islam Nusantara-Syi’ah (JIS).

Setelah penjelasan ini, para pembaca tentu tidak tidak kesulitan lagi menjawab pertanyaan pada judul artikel ini, “Islam Nusantara Pro Syi’ah?”

Sebagai penutup, simaklah kembali mutiara kata Al-Imam Abu Zur’ah ar-Razi rahimahullah berikut ini, semoga menjadi pelengkap jawaban untuk pertanyaan di atas.

“Jika Anda melihat orang yang mencela salah seorang sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ketahuilah bahwa ia zindiq (seorang yang menampakkan keislaman dan menyembunyikan kekafiran). Sebab, bagi kita Rasul adalah haq dan al-Qur’an adalah haq. Sesungguhnya yang menyampaikan al-Qur’an dan as-Sunnah adalah para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka (kaum Syi’ah, -pen.) mencela para saksi kita (para sahabat) dengan tujuan untuk meniadakan al-Qur’an dan as-Sunnah. Mereka lebih pantas untuk dicela dan mereka adalah zanadiqah.” (al-Kifayah karya al-Khathib al-Baghdadi, hlm. 49)

Ditulis oleh al-Ustadz Ruwaifi’ bin Sulaimi, Lc.

[1] Untuk mengetahui kemulian sahabat dan pembelaan terhadap mereka, silakan membaca Majalah Asy-Syari’ah Vol. II/No. 17 “Membela Kemuliaan Sahabat Nabi” dan Majalah Asy-Syari’ah Vol. VII/No. 78 “Sahabat Nabi Dihujat, Pembelaan Terhadap Mu’awiyah.”

[2] Lebih dari itu, mereka menjadikan Abu Lu’lu’ al-Majusi, si pembunuh Khalifah Umar bin al-Khaththab, sebagai pahlawan yang bergelar “Baba Syuja’uddin” (seorang pemberani dalam membela agama). Bahkan, hari kematian Umar dijadikan sebagai hari “Idul Akbar”, hari kebanggaan, hari kemuliaan dan kesucian, hari berkah, serta hari suka ria. (al-Khuthuth al-‘Aridhah, hlm. 18)

[3] – Khalifah Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu berdoa, “Ya Allah, aku telah bosan dengan mereka (Syi’ah) dan mereka pun telah bosan denganku. Gantikanlah untukku orang-orang yang lebih baik dari mereka, dan gantikan untuk mereka seorang yang lebih jelek dariku mereka seorang yang lebih jelek dariku….” (Nahjul Balaghah, hlm. 66—67, dinukil dari asy-Syi’ah wa Ahlul Bait karya Dr. Ihsan Ilahi Zhahir, hlm. 300)

– Sahabat Hasan bin Ali radhiallahu ‘anhu berkata, “Demi Allah! Menurutku Mu’awiyah lebih baik daripada orang-orang yang mengaku sebagai Syi’ah-ku. Mereka berupaya membunuhku dan mengambil hartaku.” (al-Ihtijaj, karya ath-Thabrisi hlm. 148, dinukil dari asy-Syi’ah wa Ahlul Bait karya Dr. Ihsan Ilahi Zhahir, hlm. 300)

– Sahabat Husain bin Ali radhiallahu ‘anhu berdoa, “Ya Allah, jika Engkau memberi mereka (Syi’ah) kehidupan hingga saat ini, porak-porandakan mereka dan jadikan mereka berkeping-keping. Janganlah Engkau jadikan para pemimpin (yang ada) ridha kepada mereka (Syi’ah) selama-lamanya. Sebab, kami diminta membantu mereka, namun akhirnya mereka justru memusuhi kami dan menjadi sebab kami terbunuh.” (al-Irsyad, karya al-Mufid hlm. 341, dinukil dari asy-Syi’ah wa Ahlul Bait karya Dr. Ihsan Ilahi Zhahir, hlm. 302)

[4] Untuk lebih rinci, silakan membaca al-Bidayah wan Nihayah karya al-Imam Ibnu Katsir, 13/200—211, Tarikhul Islam wa Wafayatul Masyahir wal A’lam karya al-Imam adz-Dzahabi 48/33—40, dan Tarikhul Khulafa’ karya al-Imam as-Suyuthi, hlm. 325—335