Jahiliah

Jahiliah terambil dari kata, al-jahl, yang berarti bodoh. Zaman jahiliah adalah zaman kebodohan. Dalam istilah syariat, zaman jahiliah adalah kebodohan yang ada pada manusia sebelum Islam datang, berupa kebodohan terhadap Allah ‘azza wa jalla, para rasul-Nya, dan syariat-Nya.

bodoh

Kebodohan yang dimaksud mencakup beberapa hal:

  1. Tidak tahu yang haq
  2. Meyakini lawan dari al-haq
  3. Mengatakan sesuatu yang tidak benar, baik dia mengetahui kebenaran maupun tidak.
  4. Semua hal yang menyelisihi apa yang dibawa oleh Rasul, termasuk Yahudi dan Nasrani.

Jahiliah ada dua macam:

Pertama, jahiliah ‘ammah atau muthlaqah yang sifatnya menyeluruh. Jahiliah ‘ammah terjadi pada zaman sebelum datangnya Islam. Dengan datangnya Islam maka jahiliah ‘ammah ini terhapus. Karena tidak mungkin di suatu waktu setelah datangnya Islam, manusia di seluruh belahan bumi ini dalam keadaan jahiliah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لاَ تَزَالُ طاَئِفَةٌ مِنْ أُمَّتِيْ ظاَهِرِيْنَ عَلَى الْحَقِّ لاَ يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ حَتَّى يَأْتِيَ أَمْرُ الله ِ وَهُمْ كَذَلِكَ

“Akan tetap ada sekelompok dari umatku yang tampak di atas yang haq  tidak memudaratkan mereka orang yang mengacuhkan mereka, sampai datang perintah Allah sedang mereka tetap dalam  keadaan demikian.” (Sahih, HR. Muslim dari Tsauban)

Kedua, jahiliah muqayyadah yang sifatnya terkait, baik terkait dengan tempat, seseorang, maupun sekelompok manusia. Jahiliah muqayyadah masih ada di sebagian umat ini. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَرْبَعٌ فِي أُمَّتِي مِنْ أَمْرِ الْجَاهِلِيَّةِ لاَ يَتْرُكُوْنَهُنَّ: الفَخْرُ فِي الْأَحْسَابِ، وَالطَّعْنُ فِي الْأَنْسَابِ، وَالْاِسْتِسْقاَءُ بِالنُّجُوْمِ، وَالنِّيَاحَةُ

“Ada empat perkara pada umatku yang termasuk karakter jahiliah, yang mereka tidak akan meninggalkannya: berbangga dengan nasab, mencela nasab, meminta hujan dengan bintang, dan meratapi mayat.” (Sahih, HR. Muslim dari Abu Malik al-Asy’ari radhiallahu ‘anhu)

Kesimpulan

Kita tidak boleh menyifati umat ini setelah datangnya Islam dengan sifat jahiliah yang mutlak. Misalnya dengan mengatakan bahwa zaman ini adalah zaman jahiliah atau abad ini adalah abad jahiliah.

Dibolehkan kita mensifati dengan sifat jahiliah yang terkait (muqayyadah), misalnya orang itu memiliki sifat jahiliah atau kampung ini adalah kampung jahiliah. Tentunya hal ini jika keadaan orang atau kampung tersebut memang demikian.

Ditulis oleh al-Ustadz Qomar Suaidi, Lc


Sumber bacaan:

  1. Iqtidha ash-Shirathil Mustaqim, 1/256—259
  2. Kitabut Tauhid, karya asy-Syaikh Shalih al-Fauzan, hlm. 21—22
  3. al-Qaulul Mufid, juz 1, “Bab Tabarruk”, karya asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin

20 thoughts on “Jahiliah”

Komentar ditutup.