Membangun Ka’bah bagian ke 2

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Muhammad Harits)

Nabi Ibrahim dan Isma’il e bahu-membahu menyempurnakan bangunan rumah suci itu. Hingga ketika sampai pada letak Hajar Aswad sekarang ini, beliau berkata kepada putranya, “Carikan batu, sebagaimana engkau diperintahkan oleh Allah.”
Isma’il segera mencari batu yang diinginkan ayahnya. Tak lama mencari, beliau kembali dan melihat ternyata ayahnya telah memasang sebuah batu. Isma’il melihat batu itu aneh, lalu dia bertanya, “Siapa yang memberikan batu ini kepada Ayah?”
“Yang tidak bergantung kepada pekerjaanmu dan pekerjaanku. Jibril yang membawanya dari langit.”
Dalam riwayat lain disebutkan batu itu adalah salah satu bebatuan surga, dibawa oleh Nabi Adam q ketika turun ke bumi. Batu tersebut menghitam karena dosa manusia.
Ada pula yang meriwayatkan bahwa Hajar Aswad adalah batu licin berwarna hitam kemerah-merahan. Sebetulnya, batu ini berasal dari bebatuan surga. Warnanya lebih putih dari susu, kemudian menjadi hitam karena dosa-dosa manusia.1
Dalam riwayat yang lain disebutkan pula bahwa Hajar Aswad adalah salah satu batu permata yang ada di surga, yang telah dihapus oleh Allah l cahayanya. Seandainya Allah l tidak menghapus cahayanya—demikian pula batu tempat berdiri Nabi Ibrahim q—cahaya tersebut akan terus berpendar menerangi timur dan barat bumi ini.2
Dahulu, batu mulia ini dibawa oleh Jibril ke bumi. Ketika terjadi banjir besar di masa Nabi Nuh q, batu itu diletakkan Jibril di puncak gunung Abi Qubais. Batu itu pun lepas dari tempatnya sampai masa Ibrahim.3
Batu itu saat ini berada di bagian luar sebelah selatan Ka’bah yang mulia, diselubungi perak. Letaknya sekitar satu setengah meter dari permukaan tanah dan dari situlah thawaf dimulai.
Ibnu Khuzaimah meriwayatkan (4/221) dari Ibnu ‘Abbas c dari Nabi n, beliau bersabda,
إِنَّ لِهَذَا الْحَجَرِ لِسَاناً وَشَفَتَيْنِ يَشْهَدُ لِمَنْ اِسْتَلَمَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِحَقٍّ
“Sungguh, Hajar Aswad ini mempunyai lisan dan dua bibir yang akan menjadi saksi bagi mereka yang menyentuhnya dengan benar pada hari kiamat.”
Sejak masa Nabi Ibrahim q hingga kini, Makkah senantiasa ramai. Beberapa kabilah Arab silih berganti menjadi penduduknya. Silih berganti pula peristiwa penting dialami oleh Ka’bah. Di antara kejadian penting yang diabadikan di dalam al-Qur’anul Karim adalah hancurnya tentara bergajah yang dipimpin oleh Abrahah. Pada tahun itu pula Rasulullah n lahir.
Kemudian, kala Rasulullah n dewasa, penduduk Makkah bermaksud merenovasi Ka’bah, karena sudah ada beberapa bagian yang rusak. Mereka mengeluarkan al-Hijr4 dari Baitullah karena kekurangan dana.
Pada masa Rasulullah n, belum ada dinding di sekitar Baitullah (Ka’bah), sehingga mereka shalat di sekitar Ka’bah. Kemudian ‘Umar mulai membuat dinding sebagai pagar, lalu dibangun kembali oleh ‘Abdullah bin az-Zubair.
Semakin lama jumlah kaum muslimin yang shalat semakin banyak, dan membutuhkan area yang lebih luas. Mulai masa pemerintahan ‘Umar sampai saat ini, perluasan itu terus berlanjut.
Pada masa pemerintahan ‘Abdullah bin az-Zubair, al-Hijr dimasukkannya ke dalam Baitullah. Ibnu az-Zubair kembali mendirikan Ka’bah sebagaimana yang dibangun oleh Nabi Ibrahim dan Isma’il e. Akan tetapi, setelah dia gugur di tangan al-Hajjaj bin Yusuf, bangunan Ka’bah diruntuhkan dan dikembalikan sebagaimana dibangun oleh Quraisy atas perintah ‘Abdul Malik bin Marwan. Hal itu mungkin karena ‘Abdul Malik tidak mengetahui apa yang dimaukan oleh Nabi Muhammad n terkait dengan Ka’bah ini. Demikianlah keadaan Ka’bah sampai saat ini, tetap sebagaimana yang dibangun oleh Quraisy.
Ada lagi sebuah kejadian memilukan dan menyulut kemarahan kaum muslimin. Disebutkan, bahwa saat itu, Hajar Aswad hanya tinggal potongan-potongan kecil berjumlah delapan buah, paling besar seukuran satu buah kurma. Batu mulia ini pernah dilepas dari tempatnya oleh sekte Qaramithah dari kalangan Syi’ah. Kemudian mereka menyembunyikannya selama 22 tahun, baru dikembalikan pada 339 H.
Asy-Syaikh Muqbil menukil dari riwayat yang dibawakan oleh al-Hafizh Ibnu Katsir t tentang kejadian tahun 317 H dalam kitab beliau Ilhad Khumaini fi Biladil Haramain (Kejahatan Khomeini di Dua Tanah Suci) sebagian kejahatan kaum Qaramithah ini.
Pada tahun itu, dari Irak bertolak rombongan haji bersama amir mereka Manshur ad-Dailami. Mereka tiba di Makkah dalam keadaan aman, bersamaan dengan rombongan lain dari berbagai penjuru. Tanpa mereka sadari, Qirmithi dengan para pengikutnya juga sudah mendekati Makkah.
Tanggal 8 Dzulhijjah, pada hari tarwiyah, kaum Qaramithah mulai menimbulkan kekacauan, merampok, dan membunuh. Akhirnya, terjadi pembantaian besar-besaran terhadap jamaah haji di pelataran Ka’bah, sementara pemimpin mereka, Abu Thahir—semoga Allah l melaknatnya—berdiri di pintu Ka’bah. Tak peduli dengan mayat-mayat jamaah haji berserakan di depan matanya. Setelah itu, mayat-mayat tersebut dibenamkan ke dalam sumur Zamzam.
Di antara jamaah haji itu ada yang berusaha mencari perlindungan dengan bergelantungan di kelambu Ka’bah, namun tidak ada gunanya. Kaum Qaramithah membantai siapa saja yang mereka lihat, yang sedang thawaf, yang ada di Multazam, semua tak lepas dari kekejaman mereka.
Abu Thahir dengan pongah berkata, “Akulah—demi Allah—, akulah yang menciptakan makhluk dan akulah yang membinasakan mereka.”
Kemudian dia memerintahkan salah seorang pengikutnya menghinakan Ka’bah. Di antara mereka ada yang memanjat Ka’bah tetapi terjatuh lalu mati.
Salah seorang dari mereka menghantam Hajar Aswad, untuk melepasnya. Dengan sombong dia berkata, “Mana burung yang berbondong-bondong itu? Mana batu dari neraka Sijjil?”
Setelah itu, mereka membawa Hajar Aswad itu ke negeri mereka dan menyembunyikannya selama 22 tahun.
Asy-Syaikh Muqbil melanjutkan bahwa tidak ada yang mendorong mereka berbuat demikian selain kezindikan yang ada pada mereka. Lihatlah Abrahah dengan tentara bergajahnya. Mereka beragama Kristen, tetapi tidak sampai melakukan perbuatan seperti yang dilakukan oleh orang-orang Qaramithah. Sungguh, orang-orang Qaramithah ini lebih jahat daripada Yahudi dan Kristen, bahkan dari kaum Majusi dan para penyembah berhala.
Jika ada yang menanyakan mengapa kaum Qaramithah tidak menerima hukuman seperti yang dialami Abrahah dan pasukannya? Padahal sekte sesat ini jelas-jelas menodai kesucian Makkah dan Ka’bah?
Jawabnya, bahwa pasukan bergajah saat itu menerima hukuman setimpal karena mencampakkan kemuliaan Ka’bah. Selain itu, peristiwa tersebut adalah salah satu upaya memuliakan dan mengagungkan Makkah dengan mengutus seorang nabi yang mulia di negeri tempat Baitul Haram.
Oleh karena itu, ketika Abrahah dan pasukannya hendak menghinakan daerah ini, padahal seharusnya dimuliakan karena akan diutusnya seorang rasul dari negeri itu juga, Allah l menghancurkan mereka dengan segera. Seandainya mereka sempat memasuki Makkah, tentu manusia akan ragu tentang kemuliaan Ka’bah. Bahkan syariat pun tidak dapat menunjukkan keutamaan dan kemuliaan Ka’bah ini.
Adapun sekte sesat Qaramithah ini, masuk ke Masjidil Haram dan melakukan pembantaian di pelatarannya, sesudah datangnya syariat Islam yang menegaskan kemuliaan Ka’bah dan Makkah. Bahkan, setiap mukmin pun tahu bahwa sekte ini telah melakukan kejahatan luar biasa di Tanah Suci. Orang-orang yang beriman mengetahui pula bahwa sekte ini adalah sekte yang paling nyata kekafirannya sebagaimana telah jelas berdasarkan keterangan Kitab Allah l dan sunnah Rasul-Nya.
Oleh sebab itulah, wallahu a’lam, belum diperlukan menimpakan hukuman setimpal saat itu juga terhadap mereka. Allah l telah menyiapkan buat mereka hukuman-Nya. Dia memberi waktu kepada orang-orang yang zalim, bukan membiarkan mereka begitu saja.
Dari kenyataan sejarah ini, apakah masih ada gunanya mengadakan dialog antara Sunnah dan Syi’ah? Apakah ada yang ingin menyatukan antara air dan api? Ulama kita sudah menerangkan tentang Syi’ah (Rafidhah), bahwa andaikata mereka dari bangsa ternak, mereka adalah sejenis keledai. Kalau dari jenis unggas, mereka adalah burung bangkai. Demikianlah yang pernah dikatakan oleh asy-Sya’bi t.
Ambillah pelajaran, wahai orang-orang yang berakal!

Manasik Haji Pertama
Setelah bangunan itu sempurna dan lengkap sebagai peninggalan yang besar dari Khalil Allah (Nabi Ibrahim q), Allah l memerintahkan beliau untuk mengajak manusia agar mengerjakan ibadah haji di Baitullah ini. Maka mulailah mereka menyeru manusia yang kemudian berdatangan menuju tempat tersebut dari segala penjuru yang jauh, agar mereka menyaksikan berbagai manfaat di dunia dan akhirat sehingga berbahagia dan hilang segala kesengsaraan mereka.
Kemudian Allah l berfirman,
“Wahai Rabb kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau, (jadikanlah) di antara anak cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau, tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadah haji kami, serta terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” (al-Baqarah: 128)
Sesudah memohon kepada Allah l agar memperlihatkan cara-cara dan tempat ibadah haji, Jibril q datang menemui Nabi Ibrahim q lalu membawa beliau ke bukit Shafa dan berkata, “Ini adalah sebagian syiar-syiar Allah.” Setelah itu Jibril membawa beliau ke bukit Marwah, dan mengucapkan hal yang sama, “Ini adalah sebagian syiar-syiar Allah.”
Kemudian, Jibril membawa Nabi Ibrahim q ke arah Mina. Begitu sampai di ‘Aqabah (tempat melempar jumrah), ternyata Iblis telah berdiri di dekat sebatang pohon. Jibril pun berkata kepada Nabi Ibrahim q, “Bertakbirlah dan lemparlah dia!” Nabi Ibrahim pun q bertakbir dan melempar Iblis tersebut.
Iblis melarikan diri dan berdiri di (tempat) jumratul wustha. Setelah Jibril sampai di tempat itu bersama Nabi Ibrahim q, Jibril berkata, “Bertakbirlah dan lemparlah Iblis itu!” Nabi Ibrahim q pun bertakbir dan melemparnya. Akhirnya, Iblis melarikan diri. Makhluk yang jahat ini ingin memasukkan sesuatu ke dalam amalan haji ini, tetapi dia tidak mampu.
Setelah itu, Jibril membimbing tangan Nabi Ibrahim q menuju Masy’aril Haram, dan berkata, “Inilah Masy’aril Haram,” kemudian membawa beliau menuju ‘Arafah. Jibril pun berkata tiga kali, “Apakah Anda sudah mengenal apa yang saya perlihatkan kepada Anda?”
“Ya,” jawab Nabi Ibrahim q. Dalam riwayat lain, diterangkan bahwa Nabi Ibrahim q melempar Iblis dengan kerikil (seukuran ujung jari kelingking), di Jumratul ‘Aqabah, Jumratul Wustha, dan Jumratul Qushwa. Kemudian, Jibril berkata kepada Nabi Ibrahim q, “Inilah Masy’ar.” Lalu membawa beliau ke ‘Arafah dan berkata, “Inilah ‘Arafah. Apakah Anda sudah tahu?”5
Allah l berfirman,
“Berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh. Supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan atas rezeki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak. Maka makanlah sebagian darinya dan (sebagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara dan fakir. Kemudian, hendaklah mereka menghilangkan kotoran yang ada pada badan mereka, hendaklah mereka menyempurnakan nazar-nazar mereka dan hendaklah mereka melakukan thawaf sekeliling rumah yang tua itu (Baitullah).” (al-Hajj: 27—29)
Dalam ayat ini, Allah l memerintah Khalil-Nya mengumumkan kepada seluruh manusia dan mengajak mereka agar berhaji, serta menyampaikan kepada yang dekat dan yang jauh, kewajiban dan keutamaan haji tersebut.
Ketika hendak melaksanakan perintah ini, Nabi Ibrahim q berkata, “Wahai Rabbku, bagaimana aku menyampaikannya kepada manusia, sedangkan suaraku tidak mungkin sampai kepada mereka?” lalu dikatakan, “Serukanlah, dan Kamilah yang akan membuatnya sampai.”
Beliau q pun berdiri di atas sebuah batu—ada yang mengatakannya di bukit Shafa, atau di gunung Abu Qubais—dan berkata, “Wahai seluruh manusia, sesungguhnya Rabb (Pencipta, Pemelihara, Pengatur, dan Penguasa) kalian sudah membuat sebuah rumah, maka berhajilah kepadanya.”
Disebutkan, bahwa gunung-gunung yang tinggi merunduk, sehingga suara Nabi Ibrahim q mencapai seluruh penjuru bumi, bahkan terdengar oleh semua yang ada di dalam rahim dan tulang-tulang sulbi. Seruan itu disambut oleh semua yang mendengarnya, baik batu, bata, maupun pepohonan, serta setiap orang yang ditetapkan oleh Allah l akan berhaji, sampai hari kiamat, seluruhnya mengatakan, “Labbaika Allahumma, labbaik (Aku sambut panggilanmu, ya Allah, aku sambut panggilanmu).”
Inilah kandungan dari berita yang diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas, Mujahid, ‘Ikrimah, Sa’id bin Jubair, dan tidak hanya satu ulama salaf. Wallahu a’lam.6

Beberapa Hikmah
Dari kisah hijrahnya Nabi Ibrahim q membawa Isma’il dan Hajar, dapat dipetik beberapa faedah, di antaranya sebagai berikut.
1. Orang yang beriman itu akan selalu siap menjalankan perintah Allah l, lebih mengutamakan ketaatan dan kecintaan kepada Allah l dari apa pun juga, walaupun itu adalah istri yang salehah dan anak satu-satunya. Lihatlah bagaimana Nabi Ibrahim q meninggalkan Hajar dan Isma’il di lembah yang tidak ada seorang manusia pun, tidak pula ada tanaman.
2. Wanita yang salehah itu siap pula menyambut perintah Allah l, menaati suaminya dengan kesabaran dan keimanan kepada Allah l. Itulah yang dikatakan oleh Ummu Isma’il, ketika mendengar jawaban suaminya, Nabi Ibrahim q, bahwa Allah l yang memerintahkan meninggalkannya bersama Isma’il di tempat yang sepi dan tandus tersebut. Hajar mengatakan, “Kalau begitu, Allah tidak akan menyia-nyiakan kami.”
3. Nabi Ibrahim q mengajari kita bahwa tawakal kepada Allah l bukan berarti tidak menjalankan sebab. Tidak ada yang meragukan ketawakalan beliau sedikit pun. Akan tetapi, dengan ketawakalan yang sesempurna itu, beliau tetap meninggalkan keluarganya dengan bekal secukupnya.
4. Allah l memilih keluarga Nabi Ibrahim q dan menjadikan anak cucu beliau sebagai nabi dan rasul. Oleh karena itu, sudah tentu Allah l tidak ridha bila Isma’il anak kekasih-Nya memiliki istri yang hidupnya hanya memikirkan kebutuhan makan dan minum. Sikap ini akhirnya, menumbuhkan perilaku yang tidak baik, meremehkan tamunya, yang ternyata adalah mertuanya, mengufuri nikmat yang dilimpahkan Allah l kepadanya, mengeluhkan kesusahan hidup kepada orang asing, walaupun ternyata mertuanya sendiri. Oleh karena itu, adalah wajar bila Nabi Ibrahim q memerintahkan putranya menceraikan wanita tersebut.
5. Istri kedua Nabi Isma’il adalah wanita yang salehah, pandai memuliakan tamu dan mensyukuri nikmat Allah l. Oleh sebab itulah, Nabi Ibrahim q menyuruh Isma’il mempertahankannya sebagai istri.
6. Janji Allah l benar dan pasti. Allah tidak akan menyia-nyiakan orang yang senantiasa bertakwa kepada-Nya. Akhirnya, Makkah menjadi tujuan setiap bangsa Arab bahkan seluruh bangsa yang ada di dunia, yang mengakui Allah l adalah Rabb mereka. Siapa pun, baik yang sudah pernah melihat Ka’bah maupun yang belum, selalu diselimuti kerinduan untuk bertemu dengan Ka’bah.
7. Karunia Allah l yang demikian besar bagi kaum muslimin, dengan memancarkan air Zamzam yang penuh berkah dan dimanfaatkan seluruh manusia.
8. Kesulitan yang dialami oleh seorang mukmin, pada umumnya tidak lepas dari kenikmatan, ketenangan, dan keberkahan. Demikianlah Allah l, Dia menjadikan anugerah itu dalam bingkai ujian, sebagai rahmat Allah l, taufik dan kemudahan-Nya. Oleh sebab itu, benarlah pula sabda Nabi n:
عَجَبًا لأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَه
“Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin. Semua urusannya adalah baik dan tidaklah yang demikian itu kecuali bagi seorang yang mukmin. Apabila dia ditimpa kesenangan, dia bersyukur, itu adalah kebaikan baginya. Apabila dia ditimpa kesulitan, dia bersabar, itu juga adalah kebaikan baginya.”7
Allah l juga berfirman,
“Barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (ath-Thalaq: 2—3)
Keistimewaan Baitullah al-Haram (Ka’bah) dan Masjidil Haram
Sebetulnya, keutamaan yang disebutkan oleh Allah l dalam Kitab Suci-Nya, al-Qur’anul Karim sudah cukup. Akan tetapi, tidak ada salahnya kami tambahkan beberapa keterangan lain tentang keistimewaan Ka’bah dan Masjidil Haram ini.
Yang pertama, syariat membolehkan bagi kita sengaja melakukan perjalanan jauh (safar) dan berniat menziarahi Baitullah dan Masjidil Haram. Demikianlah yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dari Abu Hurairah z, bahwa Rasulullah n bersabda,
لَا تُشَدُّ الرِّحَالُ إِلَّا إِلَى ثَلَاثَةِ مَسَاجِدَ: الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ، وَمَسْجِدِ الرَّسُولِ، وَمَسْجِدِ الْأَقْصَى
“Tidak boleh dikencangkan (tali) kendaraan (untuk safar) kecuali menuju tiga masjid; Masjidil Haram, Masjid Rasul, dan Masjidil Aqsha.”8
Yang kedua, satu kali shalat di Masjidil Haram sama dengan seratus ribu kali shalat. Oleh sebab itu, pujilah Allah l atas kenikmatan yang diberikan-Nya ini. Janganlah Anda menghalangi diri sendiri dari pahala yang sangat mulia dan besar ini.
Rasulullah n bersabda,
صَلَاةٌ فِي مَسْجِدِي هَذَا أَفْضَلُ مِنْ أَلْفِ صَلَاةٍ فِيمَا سِوَاهُ إِلَّا اَلْمَسْجِدَ اَلْحَرَامَ، وَصَلَاةٌ فِي اَلْمَسْجِدِ اَلْحَرَامِ أَفْضَلُ مِنْ صَلَاةٍ فِي مَسْجِدِي بِمِائَةِ صَلَاةٍ
“Shalat di masjidku ini seribu kali lebih utama daripada shalat di masjid lain, selain Masjidil Haram. Dan shalat di Masjidil Haram, seratus kali lebih utama daripada shalat di masjidku.”9
Yang ketiga, siapa memasukinya, amanlah dia. Allah l berfirman,
“Barang siapa memasukinya (Baitullah itu) menjadi amanlah dia; mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah. Yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barang siapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Mahakaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.” (Ali ‘Imran: 97)
Kaum musyrikin di masa jahiliah pun mengakui keamanan ini. Bahkan, ketika salah seorang dari mereka melihat pembunuh ayahnya berjalan seorang diri di Makkah, mereka tidak menyentuh atau menyakitinya sama sekali. Bandingkanlah dengan perbuatan kaum Qaramithah dari kalangan Syi’ah sebagaimana disebutkan di atas.
Wallahul musta’an.

Catatan Kaki:

1 HR. at-Tirmidzi dan dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh al-Albani (no. 877).
2 HR. Muslim, Ahmad (no. 21596), Ibnu Majah (no. 753), dan an-Nasa’i (no. 698).
3 Lihat I’anat Thalibin (hlm. 5).
4 Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin mengungkapkan bahwa istilah Hijir Isma’il yang biasa diucapkan sekarang adalah penyebutan yang keliru. Hijir di sini bukanlah hijir Ismail. Ismail tidak pernah mengetahui bentuk yang seperti itu, tidak pula dimakamkan di situ. Asalnya, ketika Quraisy ingin merenovasi Ka’bah, mereka kekurangan dana sehingga mereka berkehendak untuk mengeluarkan sebagian wilayah Ka’bah dari renovasi tersebut. Hijr sendiri artinya yang dibatasi. (al-Liqa’ asy-Syahri, -ed.)
5 Lihat Tafsir Ibnu Katsir ketika menafsirkan ayat tersebut. Wallahu a’lam.
6 Tafsir Ibnu Katsir.
7 HR. Muslim (7692).
8 HR. al-Bukhari (1197) dan Muslim (2/975).
9 HR. Ahmad (4/5) dan Ibnu Hibban (1620).