Kebebasan Berpendapat dalam Tinjauan Syariat

الْحَمْدُ ،ِلهلِ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى رَسُولِ اللهِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنِ اتَّبَعَ هُدَاهُ؛

Amma ba’du;

Terjadi banyak perbincangan tentang dialog antaragama, kebebasan berpendapat, dan kebebasan beragama di surat kabar, situs internet, ataupun di majelis-majelis umum dan khusus.

Apabila seorang muslim membahas tentang asal-muasal gagasan ini, dia tidak akan mendapatkannya melainkan dari musuh-musuh Islam, baik Yahudi, Nasrani, maupun kaum sekularis yang menanggalkan norma-norma agama dan akidah yang turun dari langit serta menanggalkan akhlak yang mulia.

Seorang muslim juga tidak akan menemukan adanya sandaran dari al-Qur’an dan as-Sunnah tentang kebebasan yang mereka inginkan. Para pengusung kebebasan ini hanya melakukan pengaburan. Mereka tidak mampu membedakan antara perkataan serta perbuatan yang Allah ‘azza wa jalla syariatkan dan yang Allah ‘azza wa jalla larang. Mereka juga tidak dapat membedakan antara kebenaran dan kebatilan, antara petunjuk dan kesesatan.

Saya di sini tidak sedang berbicara dengan musuh Islam, tetapi bicara dengan orang yang telah ridha Allah ‘azza wa jalla sebagai Rabb-Nya dan sebagai penetap syariat, ridha Islam sebagai agama, dan Muhammad sebagai Rasul—atau orang yang mengaku demikian.

Saya mengajak mereka untuk kokoh di atas Islam dan konsisten dengannya sebagai akidah, jalan hidup, dan syariatnya. Itulah jalan yang lurus. Itulah doa yang senantiasa dia mohon kepada Allah ‘azza wa jalla dalam shalatnya, agar Dia menunjukinya,

ٱهۡدِنَا ٱلصِّرَٰطَ ٱلۡمُسۡتَقِيمَ ٦

“Tunjukilah aku jalan yang lurus.” (al-Fatihah: 6)

Itu pula yang Allah ‘azza wa jalla perintahkan untuk diikuti oleh kaum mukminin,

وَأَنَّ هَٰذَا صِرَٰطِي مُسۡتَقِيمٗا فَٱتَّبِعُوهُۖ وَلَا تَتَّبِعُواْ ٱلسُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمۡ عَن سَبِيلِهِۦۚ

“Dan bahwa ini merupakan jalanku yang lurus maka ikutilah jalan itu, dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan yang lain sehingga mencerai-beraikan kalian dari jalan-Nya.” (al-Anam: 153)

 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menerangkan bahwa pada setiap jalan (yang menyimpang, –pent.) ada setan yang mengajak kepadanya, dan bahwa di sana ada para penyeru yang berada di atas Jahannam. Siapa saja yang menyambutnya, mereka akan melemparkannya ke dalamnya. Semoga Allah ‘azza wa jalla melindungi kita darinya.

 

Saya katakan bahwa kebebasan yang benar sesungguhnya ada dalam agama Allah ‘azza wa jalla yang benar.

Agama yang datang dengan tujuan mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya, dari kegelapan kebodohan, kekafiran, kesyirikan, dan akhlak yang rendah, menuju cahaya Islam yang mencakup tauhid, mengesakanAllah ‘azza wa jalla Sang Pencipta, Pemberi Rezeki, Yang Menghidupkan, Yang Mematikan yang memiliki sifat kesempurnaan dan sifat keagungan.

Agama yang mengesakan Allah ‘azza wa jalla satu-satu-Nya dalam hal ibadah dan hanya menghadap kepada-Nya dalam segala permohonan, berlindung kepada-Nya semata saat kesusahan.

Agama yang mengingkari thaghut (sembahan selain Allah ‘azza wa jalla) yang dijadikan oleh manusia yang sesat sebagai sembahan selain Allah ‘azza wa jalla, mengibadahinya, tunduk kepadanya, khusyuk kepadanya baik thaghut tersebut berbentuk manusia, batu, pohon, hewan-hewan, maupun makhluk lainnya, yang hidup maupun yang mati.

Inilah kebebasan yang benar. Ini pulalah pembebasan yang benar, yaitu seorang manusia yang dimuliakan oleh Allah ‘azza wa jalla dengan terbebas dari penghambaan terhadap selain-Nya ‘azza wa jalla.

 

Apakah para peletak asas kebebasan-kebebasan dan yang menyerukannya telah mengangkat manusia pada tingkat kebebasan tinggi ini yang pantas bagi kemuliaan manusia?

Jawabannya adalah tidak, dan tidak mungkin. Sesungguhnya mereka menginginkan manusia tetap terbelenggu dengan penghambaan yang hina sehingga setiap orang bisa menyembah apa saja yang dia maukan dan beragama dengan sesuai hawa nafsunya: agama-agama batil yang para nabi diutus dan diperintahkan untuk melenyapkannya, membersihkan bumi, membebaskan hamba-hamba akal-akal, keyakinan, dan akhlak darinya.

 

Manusia, baik rakyat maupun pemerintah, tidak akan merdeka kecuali dengan mengikuti agama dan syariat Allah ‘azza wa jalla yang adil dan hikmah yang:

  • menjaga agama manusia yang Allah ‘azza wa jalla syariatkan,
  • menjaga kemuliaan, kehormatan, darah, nasab, dan harta mereka,
  • menjamin bagi mereka keamanan yang hakiki dan kesejahteraan yang hakiki,
  • memberangus kekacauan perundangan dan akhlak rendahan yang serbaboleh.
  • menanamkan pada jiwa manusia akidah yang benar, ibadah yang benar dan politik yang adil,
  • menanamkan pada jiwa mereka akhlak yang suci, di antaranya sifat jujur, amanah, adil, penyantun, dermawan, kelelakian dan keberanian, serta amar makruf nahi mungkar.
  • mengajak ke jalan Allah ‘azza wa jalla dengan hikmah dan nasihat yang baik,
  • menanamkan kebencian terhadap kekafiran, kefasikan, kemaksiatan, dan kekejian, baik dalam tutur kata maupun dalam perbuatan.

 

Pada seruan kepada kebebasan ini, apakah engkau dapatkan sebagian syariat yang datang dari Rabb, yang mengandung kesucian dan kebersihan, serta sifat membangun?

Adakah padanya kebebasan dari kesyirikan kepada Allah ‘azza wa jalla serta peribadatan kepada selain-Nya yang tidak memiliki untuk diri mereka sendiri mudarat, manfaat, kematian, kehidupan, dan kehidupan setelah kematian?

Adakah padanya kebebasan dari akhlak yang rendahan dan ucapan yang batil?

Adakah padanya kebebasan dari kekacauan dan jiwa kehewanan dalam

hal agama dan akhlak?

Hal-hal yang disyariatkan dan diakui oleh berbagai seruan kepada kebebasan beragama, kebebasan berpendapat, dan persaudaraan antaragama.

 

Wahai kaum muslimin, ambillah agama kalian dengan serius dan sekuatkuatnya. Gigitlah dengan gigi geraham. Tolaklah ajakan-ajakan kebebasan batil ini, yang dibuat oleh para musuh Allah ‘azza wa jalla dari kalangan setan berwujud manusia.

Tidak ada tujuan dan sasaran mereka selain kehancuran Islam berikut keyakinan-keyakinan yang agung, akhlak, dan ibadah suci yang ada di dalam Islam.

Seruan-seruan itu justru mengeluarkan manusia dari penghambaan kepada Allah ‘azza wa jalla, pengagungan terhadap syariat-Nya, dan terhadap para rasul-Nya, menuju peribadatan kepada setan, hawa nafsu, pepohonan, bebatuan, arca-arca, makhluk-makhluk lainnya, serta mengikuti hawa nafsu dan menjerumuskan dalam kubangan kerendahan.

Maka dari itu, berpegangteguhlah kalian semua dengan tali Allah ‘azza wa jalla,  jangan berpecah-belah. Jadilah kalian hamba-hamba Allah ‘azza wa jalla yang bersaudara dan saling menolong di atas kebenaran, serta antikebatilan.

 

Kaum muslimin semuanya wajib mengingat dan meyakini pada diri mereka bahwa Allah ‘azza wa jalla tidaklah menciptakan mereka dengan sia-sia, tidak diberi perintah dan tidak pula diberi larangan, hingga setiap manusia boleh memilih apa yang dia inginkan.

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

أَيَحۡسَبُ ٱلۡإِنسَٰنُ أَن يُتۡرَكَ سُدًى ٣٦

“Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa ada perntah dan larangan)?” (al-Qiyamah: 36)

 

أَفَحَسِبۡتُمۡ أَنَّمَا خَلَقۡنَٰكُمۡ عَبَثٗا وَأَنَّكُمۡ إِلَيۡنَا لَا تُرۡجَعُونَ ١١٥

“Maka apakah kamu mengira bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?” (al-Mukminun: 115)

 

وَمَا خَلَقۡنَا ٱلسَّمَآءَ وَٱلۡأَرۡضَ وَمَا بَيۡنَهُمَا بَٰطِلٗاۚ ذَٰلِكَ ظَنُّ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْۚ فَوَيۡلٞ لِّلَّذِينَ كَفَرُواْ مِنَ ٱلنَّارِ ٢٧

“Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya tanpa hikmah. Yang demikian itu adalah anggapan orang-orang kafir, maka celakalah orang-orang kafir itu karena mereka akan masuk neraka.” (Shad: 27)

 

Janganlah berburuk sangka kepada Allah ‘azza wa jalla semacam ini, dengan menyangka bahwa Allah ‘azza wa jalla menciptakan manusia sia-sia, Allah ‘azza wa jalla menciptakan langit dan bumi serta apa yang di antara keduanya tanpa hikmah dan tanpa tujuan.

Berbeda halnya dengan orang kafir yang tidak mengikuti para rasul, tidak membenarkan berita, janji, ancaman-ancaman-Nya, tidak menghormati syariat-Nya, tidak tunduk kepada perintah-Nya, tidak meninggalkan larangan-Nya, serta tidak mengharamkan apa yang Allah ‘azza wa jalla haramkan.

 

Tidak ada yang berburuk sangka dan membangkang terhadap Allah ‘azza wa jalla semacam itu kecuali orang-orang kafir. Orang-orang yang Allah ‘azza wa jalla telah janjikan neraka bagi mereka, kekal di dalamnya dan itulah seburuk-buruk tempat tinggal.

Apakah orang-orang yang mengikuti mereka dan mengajak untuk menelusuri jalan mereka—bahkan berbangga dengannya—mengambil pelajaran, memahami, dan memerhatikan akibatnya?

Mereka adalah para penyeru menuju neraka Jahannam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sang penasihat yang amanah, telah memperingatkan dari mereka. Maka dari itu, para ulama muslimin wajib memperingatkan umat dari seruan menuju kebebasan ini dan memperingatkan dari para penyerunya. Para ulama wajib menyingkap kejelekan dan kedok mereka dengan hujah dan bukti-bukti nyata.

 

Semua manusia wajib meyakini bahwa hak penetapan syariat adalah milik Allah ‘azza wa jalla semata. Tidak seorang pun memilikinya selain-Nya.

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

إِنِ ٱلۡحُكۡمُ إِلَّا لِلَّهِ أَمَرَ أَلَّا تَعۡبُدُوٓاْ إِلَّآ إِيَّاهُۚ

“Keputusan itu hanyalah kepunyaan Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia.” (Yusuf: 40)

 

وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعۡبُدُوٓاْ إِلَّآ إِيَّاهُ

“Dan Rabbmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia.” (al-Isra: 23)

 

وَمَا ٱخۡتَلَفۡتُمۡ فِيهِ مِن شَيۡءٖ فَحُكۡمُهُۥٓ إِلَى ٱللَّهِۚ

“Tentang sesuatu apa pun kamu berselisih, maka putusannya (terserah) kepada Allah.” (asy-Syura: 10)

 

أَمۡ لَهُمۡ شُرَكَٰٓؤُاْ شَرَعُواْ لَهُم مِّنَ ٱلدِّينِ مَا لَمۡ يَأۡذَنۢ بِهِ ٱللَّهُۚ

“Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yangmensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah?” (asy-Syura: 21)

 

قُلۡ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ ٱلۡفَوَٰحِشَ مَا ظَهَرَ مِنۡهَا وَمَا بَطَنَ وَٱلۡإِثۡمَ وَٱلۡبَغۡيَ بِغَيۡرِ ٱلۡحَقِّ وَأَن تُشۡرِكُواْ بِٱللَّهِ مَا لَمۡ يُنَزِّلۡ بِهِۦ سُلۡطَٰنٗا وَأَن تَقُولُواْ عَلَى ٱللَّهِ مَا لَا تَعۡلَمُونَ ٣٣

Katakanlah, “Rabbku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang tampak maupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujah untuk itu dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui.” (al-A’raf: 33)

 

          ٱلَّذِينَ يَتَّبِعُونَ ٱلرَّسُولَ ٱلنَّبِيَّ ٱلۡأُمِّيَّ ٱلَّذِي يَجِدُونَهُۥ مَكۡتُوبًا عِندَهُمۡ فِي ٱلتَّوۡرَىٰةِ وَٱلۡإِنجِيلِ يَأۡمُرُهُم بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَيَنۡهَىٰهُمۡ عَنِ ٱلۡمُنكَرِ وَيُحِلُّ لَهُمُ ٱلطَّيِّبَٰتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيۡهِمُ ٱلۡخَبَٰٓئِثَ وَيَضَعُ عَنۡهُمۡ إِصۡرَهُمۡ وَٱلۡأَغۡلَٰلَ ٱلَّتِي كَانَتۡ عَلَيۡهِمۡۚ فَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ بِهِۦ وَعَزَّرُوهُ وَنَصَرُوهُ وَٱتَّبَعُواْ ٱلنُّورَ ٱلَّذِيٓ أُنزِلَ مَعَهُۥٓ أُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ ١٥٧

“(Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang umi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang makruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (al-Qur’an), mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (al-A’raf: 157)

 

Demokrasi dan yang terlahir darinya—di antaranya kebebasan beragama, kebebasan berpendapat, kebebasan mengungkapkan—artinya membolehkan selain Allah ‘azza wa jalla untuk menetapkan syariat, membolehkan syirik kepada Allah ‘azza wa jalla dan kafir terhadap-Nya, membolehkan perbuatan keji yang tampak dan yang tersembunyi. Selain itu, demokrasi membolehkan perbuatan dosa dan melampaui batas tanpa batas, membolehkan bicara atas nama Allah ‘azza wa jalla tanpa ilmu, dan membolehkan perdebatan dengan cara yang batil.

Pendahulu mereka mengatakan sebagaimana firman Allah ‘azza wa jalla,

          كَذَّبَتۡ قَبۡلَهُمۡ قَوۡمُ نُوحٖ وَٱلۡأَحۡزَابُ مِنۢ بَعۡدِهِمۡۖ وَهَمَّتۡ كُلُّ أُمَّةِۢ بِرَسُولِهِمۡ لِيَأۡخُذُوهُۖ وَجَٰدَلُواْ بِٱلۡبَٰطِلِ لِيُدۡحِضُواْ بِهِ ٱلۡحَقَّ فَأَخَذۡتُهُمۡۖ فَكَيۡفَ كَانَ عِقَابِ ٥

        “Sebelum mereka, kaum Nuh dan golongan-golongan yang bersekutu sesudah mereka telah mendustakan (rasul) dan tiap-tiap umat telah merencanakan makar terhadap rasul mereka untuk menawannya dan mereka membantah dengan (alasan) yang batil untuk melenyapkan kebenaran dengan yang batil itu; karena itu Aku azab mereka. Maka betapa (pedihnya) azab-Ku?” (Ghafir: 5)

 

Kaum muslimin semuanya wajib meyakini bahwa Allah ‘azza wa jalla tidaklah mensyariatkan untuk mereka kecuali yang bermanfaat bagi mereka, memperbaiki kalbu, keadaan, dan kehidupan mereka, serta membahagiakan mereka di dunia dan akhirat.

Kaum muslimin wajib meyakini bahwa Allah ‘azza wa jalla tidaklah mengharamkan bagi mereka perkataan, perbuatan, akhlak, makanan, minuman, dan pernikahan, kecuali yang bermudarat, merusak kalbu, akhlak, dan kehidupan mereka.

Jadi, tidak ada suatu kebaikan dan kesempurnaan kecuali telah Allah ‘azza wa jalla syariatkan bagi umat ini. Tidak pula ada keburukan, mudarat, kesesatan, kezaliman, dan sikap melampaui batas, melainkan telah Allah ‘azza wa jalla haramkan.

 

          مَّا فَرَّطۡنَا فِي ٱلۡكِتَٰبِ مِن شَيۡءٖۚ

“Tiadalah Kami alpakan sesuatu pun di dalam al-Kitab.” (al-An’am: 38)

 

          ٱلۡيَوۡمَ أَكۡمَلۡتُ لَكُمۡ دِينَكُمۡ وَأَتۡمَمۡتُ عَلَيۡكُمۡ نِعۡمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ ٱلۡإِسۡلَٰمَ دِينٗاۚ

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” (al-Maidah: 3)

 

Jadi, apa sesungguhnya yang dikehendaki oleh orang yang mengaku Islam tetapi mengikuti musuh Islam, dengan menuntut untuk berdemokrasi, menyerukan kebebasan berpendapat, kebebasan beragama, penyatuan agama, dan persamaan derajat agama?

Keadaan mereka seolah-olah berkata, sesungguhnya yang paling sempurna adalah selain Islam, yaitu yang ada pada musuh Islam. Itulah kemodernan yang tinggi, fondasi hidup yang mulia, yang umat Islam wajib mengambil cahaya darinya, berporos padanya, dan diikuti sesuai alurnya.

Padahal, merekalah yang terkecoh dan mengecoh. Tidaklah diambil dari kemodernan ini kecuali yang justru bermudarat dan menjadi sebab kehancuran. Sesuatu yang tidak menambah mereka dan pengikutnya selain kerugian, kehancuran, dan kemunduran.

 

Di antara kehinaan terbesar dan kerendahan serta penyelewengan dari jalur Islam, akidah, dan jalannya, adalah kita bertaklid kepada musuh-musuh Allah ‘azza wa jalla, Rasul-Nya, dan agama-Nya, dalam hal undang-undang dan aturan mereka.

(Kehinaan terbesar) saat kaidah dan akhlak mereka menggantikan sikap berpegang teguh dengan agama Islam, merasa mulia dengan keyakinan yang sahih, syariat yang penuh hikmah, manhaj (jalan hidup), dan akhlak luhur yang ada pada Islam.

 

Seharusnya, mereka mengajak pada ketinggian yang digariskan Islam dan pemeluknya yang telah memahami Islam, berpegang teguh dengannya, serta menerapkannya pada puncak ketinggian.

Banyak kaum muslimin terjun menuju kerendahan, kebodohan, dan kesesatan mereka. Banyak kaum muslimin bergantung pada demokrasi, berhukum dengannya, dan dengan segala peraturan jahiliah yang tumbuh darinya, dalam urusan terbesar dalam Islam.

Mereka menuntut penyamaan antara Islam dan agama kafir, serta menuntut Rasul yang mulia untuk bersikap adil berdalihkan dengan demokrasi yang dicanangkan oleh Yahudi, Nasrani, dan para pengingkar tuhan; yang bermaksud menghinakan kaum muslimin dan menghabisi syariat Rabb sekalian alam.

 

Wahai kaum muslimin yang sedang terpesona, bagaimana cara kalian menghukumi? Di mana pikiran kalian?

Mengapa kalian tidak mendengar jeritan ulama dan orang-orang bijak kalian yang berpandangan jauh di tengah kalian?

Sesungguhnya masalah ini benar-benar berbahaya, apabila Allah ‘azza wa jalla tidak menyelamatkan umat ini, kemudian para ulama dan orang bijak tidak melipatgandakan upaya dan kesungguhan mereka untuk menghalau arus yang kuat ini. Arus ini memiliki segala sarana jahat dan menghancurkan. Tujuannya adalah melenyapkan masyarakat muslimin, memberangus Islam, serta melemparkan mereka jauh dari agamanya.

 

Kaum muslimin wajib berbangga dengan agama mereka yang agung. Agama yang mensyariatkan mereka untuk mengatur ucapan dan perbuatan dalam segala urusan mereka, baik yang terkait dengan agama maupun dunia. Syariat agama mereka bermaksud menjauhkan mereka dari kehinaan, kehancuran, kezaliman, sikap melampaui batas, dan permusuhan. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

إِنَّ ٱللَّهَ يَأۡمُرُ بِٱلۡعَدۡلِ وَٱلۡإِحۡسَٰنِ وَإِيتَآيِٕ ذِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَيَنۡهَىٰ عَنِ ٱلۡفَحۡشَآءِ وَٱلۡمُنكَرِ

“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji dan kemungkaran….” (an-Nahl: 90)

 

Maksudnya, dalam perkataan dan perbuatan. Apakah terdapat seperti syariat ini dalam kemajuan Barat dan demokrasinya?

Tidak, demi Allah ‘azza wa jalla, tidak ada keadilan, kebaikan, dan kesucian pada kemajuan dan demokrasi Barat. Yang ada hanyalah kezaliman dan melampaui batas. Tidak ada larangan dari perbuatan keji dan mungkar, tetapi justru dianjurkan, dan dilindungi dengan dalih hak kebebasan.

 

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱجۡتَنِبُواْ كَثِيرٗا مِّنَ ٱلظَّنِّ إِنَّ بَعۡضَ ٱلظَّنِّ إِثۡمٞۖ وَ لَا تَجَسَّسُواْ وَلَا يَغۡتَب بَّعۡضُكُم بَعۡضًاۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمۡ أَن يَأۡكُلَ لَحۡمَ أَخِيهِ مَيۡتٗا فَكَرِهۡتُمُوهُۚ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَۚ إِنَّ ٱللَّهَ تَوَّابٞ رَّحِيمٞ ١٢

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang.” (al-Hujurat: 12)

 

Lihatlah, bagaimana Allah ‘azza wa jalla melindungi harga diri dari pengolok-olokan serta penyematan berbagai julukan yang tidak baik.

Lihatlah, bagaimana Allah ‘azza wa jalla mencela perbuatan tersebut. Lihat pula, bagaimana Allah ‘azza wa jalla melindungi (manusia) dari ghibah. Allah ‘azza wa jalla menyerupakan pelakunya dengan seorang yang memakan daging orang lain yang telah mati. Allah ‘azza wa jalla menyebut demikian dalam rangka menampakkan kejelekan dan menjauhkan manusia dari perbuatan tersebut.

Apakah yang semacam ini ada pada kemodernan Barat, demokrasi dan segala aturan yang muncul darinya?

Sekali-kali tidak, demi Allah. Yang semacam ini tidak ada dalam demokrasi, yang membolehkan segala hal yang haram, termasuk zina, homoseksual, miras, dan riba. Demokrasi juga membolehkan keluar dari akhlak yang mulia, bahkan yang lebih parah dari itu.

Demokrasi juga memerangi agama Allah ‘azza wa jalla yang benar, bahkan kafir terhadapnya. Demokrasi berusaha dengan sungguh-sungguh untuk memberangus agama Allah ‘azza wa jalla di tengah negeri muslimin.

 

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

ذَٰلِكَۖ وَمَن يُعَظِّمۡ حُرُمَٰتِ ٱللَّهِ فَهُوَ خَيۡرٞ لَّهُۥ عِندَ رَبِّهِۦۗ وَأُحِلَّتۡ لَكُمُ ٱلۡأَنۡعَٰمُ إِلَّا مَا يُتۡلَىٰ عَلَيۡكُمۡۖ فَٱجۡتَنِبُواْ ٱلرِّجۡسَ مِنَ ٱلۡأَوۡثَٰنِ وَٱجۡتَنِبُواْ قَوۡلَ ٱلزُّورِ ٣٠ حُنَفَآءَ لِلَّهِ غَيۡرَ مُشۡرِكِينَ بِهِۦۚ وَمَن يُشۡرِكۡ بِٱللَّهِ فَكَأَنَّمَا خَرَّ مِنَ ٱلسَّمَآءِ فَتَخۡطَفُهُ ٱلطَّيۡرُ أَوۡ تَهۡوِي بِهِ ٱلرِّيحُ فِي مَكَانٖ سَحِيقٖ ٣١  ذَٰلِكَۖ وَمَن يُعَظِّمۡ شَعَٰٓئِرَ ٱللَّهِ فَإِنَّهَا مِن تَقۡوَى ٱلۡقُلُوبِ ٣٢

“Demikianlah (perintah Allah). Dan barang siapa mengagungkan apa-apa yang terhormat di sisi Allah maka itu adalah lebih baik baginya di sisi Rabbnya. Dan telah dihalalkan bagi kamu semua binatang ternak, terkecuali yang diterangkan kepadamu keharamannya, maka jauhilah olehmu berhala-berhala yang najis itu dan jauhilah perkataan-perkataan dusta.

Dengan ikhlas kepada Allah, tidak mempersekutukan sesuatu dengan Dia. Barang siapa mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka adalah ia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh. Demikianlah (perintah Allah).

Dan barang siapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati.” (al-Hajj: 30—32)

 

Dalam kemajuan Barat dan demokrasinya, apakah Anda mendapati pengagungan terhadap hukum-hukum Allah ‘azza wa jalla dan syiar-syiarnya?

Apakah ada padanya peraturan yang tegas untuk menjauhi berhala dan menjauhi ucapan palsu?

Apakah terdapat padanya peringatan—sedikit saja—dari perbuatan syirik terhadap Allah ‘azza wa jalla dan keterangan tentang bahayanya?

Sekali-kali tidak! Tidak ada padanya kecuali ajakan kepada kekafiran dan kesyirikan, serta perlindungan kepada berhala-berhala. Tidak ada padanya selain pembolehan ucapan dusta, kekafiran, dan kekejian, dengan dalih kebebasan beragama, kesucian agama-agama, serta kebebasan berpendapat.

 

Siapa saja yang menghormati Islam mestinya malu mengajak kepada demokrasi, berhukum padanya, atas nama kebebasan beragama dan kesucian agama-agama yang para rasul justru diutus untuk menghancurkan agamaagama batil tersebut.

Maksud dari semua ini, hanya dalam Islam terdapat keadilan dalam hal ucapan, perbuatan, dan keyakinan. Hanya dalam Islamlah terdapat bimbingan yang mengatur ucapan, keyakinan, dan perbuatan hamba.

Dalam kemajuan Barat dan demokrasinya terdapat kekacauan agama dan akhlak, dengan dalih kebebasan dan persamaan—yang dusta—antara yang hak dan yang batil. Kemajuan Barat justru mengunggulkan yang batil daripada kebenaran, mengunggulkan kekafiran dan kesyirikan daripada tauhid dan iman. Bahkan, mereka berusaha serius untuk menghabisi tauhid dan iman serta yang mengikuti keduanya.

 

Di antara ajaran Islam yang mengatur ucapan adalah firman Allah ‘azza wa jalla,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَقُولُواْ قَوۡلٗا سَدِيدٗا ٧٠ يُصۡلِحۡ لَكُمۡ أَعۡمَٰلَكُمۡ وَيَغۡفِرۡ لَكُمۡ ذُنُوبَكُمۡۗ وَمَن يُطِعِ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ فَقَدۡ فَازَ فَوۡزًا عَظِيمًا ٧١

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalanamalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. barang siapa menaati Allah dan Rasul-Nya, sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.” (al-Ahzab: 70—71)

 

Perhatikan firman Allah ‘azza wa jalla (yang artinya), “Dan ucapkanlah ucapan yang tepat.” Perhatikan pula dalam ayat di atas perintah yang mengatur ucapan. Ini bertolak belakang dengan kekacaubalauan yang ada dalam kancah demokrasi. Orang diperbolehkan mengucapkan dan melakukan semaunya dengan alasan kebebasan berpendapat, walaupun itu adalah celaan dan cemoohan terhadap para nabi.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

        مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

”Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka berkatalah yang baik atau diamlah.” (HR. Muslim no. 47)

 

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda pula,

إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مَا يَتَبَيَّنُ مَا فِيهَا يَهْوِي بِهَا فِي النَّارِ أَبْعَدَ مَا بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ

”Sungguh, seorang hamba mengatakan sebuah kalimat yang tidak begitu dia pahami konsekuensinya, ternyata menyebabkan dia terjun ke neraka lebih jauh daripada jarak antara timur dan barat.” (HR. Muslim no. 2988)

 

Makna sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Seorang hamba mengatakan sebuah ucapan yang tidak begitu dia pahami konsekuensinya,” adalah ia tidak memahami benar ucapannya serta tidak memikirkan keburukannya dan tidak takut akibatnya. Misalnya, ucapan di hadapan penguasa dan para pemimpin lainnya. Demikian pula tuduhan.

Atau maknanya adalah kalimat yang mencelakakan seorang muslim atau yang semacam itu. Ini semuanya terkandung padanya demi menjaga ucapan. Nabi juga melarang qila wa qala (mudah menerima dan menukil berita), serta banyak bertanya. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga memerintahkan agar lisan dijaga dan ditahan.

 

Sahabat Muadz bin Jabal radhiallahu ‘anhu bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Apakah kami akan dihukum karena apa yang kami ucapkan?”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,

ثَكِلَتْكَ أُمُّكَ! وَهَلْ يَكُبُّ النَّاسَ فِي النَّارِ عَلَى وُجُوهِهِمْ أَوْ عَلَى مَنَاخِرِهِمْ إِلاَّ حَصَائِدُ أَلْسِنَتِهِمْ؟

“Ibumu kehilangan kamu. Tidakkah manusia ditelungkupkan di neraka di atas wajah atau hidung mereka kecuali buah lisan mereka?!” (HR. at-Tirmidzi no 2616, dan beliau katakan, “Hadits hasan shahih.”)

 

Dari Anas radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا كَانَ الْفُحْشُ فِي شَيْءٍ إِلاَّ شَانَهُ، وَمَا كَانَ الْحَيَاءُ فِي شَيْءٍ إِلاَّ زَانَهُ

“Tidaklah kekejian ada pada sesuatu melainkan akan membuatnya jelek. Dan tidaklah rasa malu ada pada sesuatu melainkan akan menghiasinya.” (HR. at-Tirmidzi no. 1974)

 

Dari Abu Darda radhiallahu ‘anhu, Rasululah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا شَيْءٌ أَثْقَلُ فِي مِيزَانِ الْمُؤْمِنِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ خُلُقٍ حَسَنٍ، وَإِنَّ اللهَ لَيُبْغِضُ الْفَاحِشَ الْبَذِيءَ

“Tidak ada sesuatu yang lebih berat timbangannya bagi seorang mukmin pada hari kiamat daripada akhlak yang baik, dan sungguh Allah membenci orang yang keji ucapannya.” (HR. at-Tirmidzi no. 2002)

 

Ayat dan hadits dalam masalah ini banyak. Di dalamnya terdapat adab-adab yang mulia dan pendidikan yang tinggi di atas keluhuran akhlak. Adab yang menyucikan jiwa, menjaga akidah, dan menjaga kehormatan dari penghinaan.

Namun, tidak ada yang mengetahui kemuliaannya kecuali orang-orang yang mulia, cerdas, para pemillik akal yang cendekia.

Apakah ada aturan semacam ini yang menjaga agama yang benar, akhlak yang luhur, dan kehormatan yang mulia, dalam kemajuan Barat, demokrasi, dan aturannya?!

 

Wahai kaum muslimin, sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla mengutus para rasul membawa ayat-ayat yang nyata untuk membedakan antara iman dan kufur, tauhid dan syirik, al-haq dan al-bathil.

Allah ‘azza wa jalla menamai al-Qur’an yang diturunkan kepada penutup para rasul sebagai al-Furqan atau pembeda.

          تَبَارَكَ ٱلَّذِي نَزَّلَ ٱلۡفُرۡقَانَ عَلَىٰ عَبۡدِهِۦ لِيَكُونَ لِلۡعَٰلَمِينَ نَذِيرًا ١

“Mahasuci Allah yang telah menurunkan al-Furqan (al-Qur’an) kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam. (al-Furqan: 1)

 

Dalam hadits disebutkan,

وَمُحَمَّدٌ فَرْقٌ بَيْنَ النَّاسِ

“Muhammad adalah pembeda di antara manusia.”

 

Allah ‘azza wa jalla juga menamai Perang Badar dengan furqan. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

وَٱعۡلَمُوٓاْ أَنَّمَا غَنِمۡتُم مِّن شَيۡءٖ فَأَنَّ لِلَّهِ خُمُسَهُۥ وَلِلرَّسُولِ وَلِذِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَٱلۡيَتَٰمَىٰ وَٱلۡمَسَٰكِينِ وَٱبۡنِ ٱلسَّبِيلِ إِن كُنتُمۡ ءَامَنتُم بِٱللَّهِ وَمَآ أَنزَلۡنَا عَلَىٰ عَبۡدِنَا يَوۡمَ ٱلۡفُرۡقَانِ يَوۡمَ ٱلۡتَقَى ٱلۡجَمۡعَانِۗ وَٱللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ قَدِيرٌ ٤١

“Ketahuilah, sesungguhnya apa saja yang dapat kamu peroleh sebagai rampasan perang, maka sesungguhnya seperlima untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan ibnusabil, jika kamu beriman kepada Allah dan kepada apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad) di hari Furqan, yaitu di hari bertemunya dua pasukan. Dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.” (al-Anfal: 41)

 

Maksudnya, hari Perang Badar yang dengannya Allah ‘azza wa jalla memuliakan kaum

muslimin, agama Islam dan menolong pemeluknya, menjadikan mereka unggul di atas kekafiran dan orang-orang kafir. Allah ‘azza wa jalla berfirman tentang hari dan perang ini yang memisahkan antara kebenaran dan kebatilan.

 

وَإِذۡ يَعِدُكُمُ ٱللَّهُ إِحۡدَى ٱلطَّآئِفَتَيۡنِ أَنَّهَا لَكُمۡ وَتَوَدُّونَ أَنَّ غَيۡرَ ذَاتِ ٱلشَّوۡكَةِ تَكُونُ لَكُمۡ وَيُرِيدُ ٱللَّهُ أَن يُحِقَّ ٱلۡحَقَّ بِكَلِمَٰتِهِۦ وَيَقۡطَعَ دَابِرَ ٱلۡكَٰفِرِينَ ٧ لِيُحِقَّ ٱلۡحَقَّ وَيُبۡطِلَ ٱلۡبَٰطِلَ وَلَوۡ كَرِهَ ٱلۡمُجۡرِمُونَ ٨

“Dan (ingatlah), ketika Allah menjanjikan kepadamu bahwa salah satu dari dua golongan (yang kamu hadapi) adalah untukmu, sedang kamu menginginkan bahwa yang tidak mempunyai kekuatan senjatalah yang untukmu, dan Allah menghendaki untuk membenarkan yang benar dengan ayat-ayat-Nya dan memusnahkan orang-orang kafir, agar Allah menetapkan yang hak (Islam) dan membatalkan yang batil (syirik) walaupun orang-orang yang berdosa (musyrik) itu tidak menyukainya.” (al-Anfal: 7—8)

 

Membenarkan yang benar serta menyalahkan yang salah disyariatkan

oleh Allah ‘azza wa jalla. Allah ‘azza wa jalla menghendakinya sebagai syariat di tiap waktu dan tempat.

Sementara itu, musuh-musuh Allah menginginkan selain yang diinginkan oleh Allah ‘azza wa jalla, para nabi-Nya, para Rasul-Nya, kaum mukminin yang jujur dan ikhlas, para pemilik ilmu dan akal yang cemerlang, yang tidak tertipu oleh tipu daya musuh Islam yang jahat.

Di antara makar mereka yang paling berbahaya adalah pencampuradukan antara Islam, Yahudi, Nasrani, dan Majusi, bahkan komunis. Mereka memerangi pemilahan ini. Padahal Allah ‘azza wa jalla mensyariatkannya untuk membenarkan yang benar dan menyalahkan yang salah walaupun orang-orang jahat membencinya.

Maka dari itu, kokohlah di ataskebenaran ini. Kokohlah di atas pemilahan ini, perbedaan antara muslim dan kafir.

 

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

          يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِن تَتَّقُواْ ٱللَّهَ يَجۡعَل لَّكُمۡ فُرۡقَانٗا وَيُكَفِّرۡ عَنكُمۡ سَيِّ‍َٔاتِكُمۡ وَيَغۡفِرۡ لَكُمۡۗ وَٱللَّهُ ذُو ٱلۡفَضۡلِ ٱلۡعَظِيمِ ٢٩

“Hai orang-orang yang beriman, jika kamu bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan kepadamu furqan dan menghapuskan segala kesalahan-kesalahanmu dan mengampuni (dosadosa) mu. Dan Allah mempunyai karunia yang besar.” (al-Anfal: 29)

 

          وَمَن يَتَّقِ ٱللَّهَ يَجۡعَل لَّهُۥ مَخۡرَجٗا ٢

        “Barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar.” (ath-Thalaq: 2)

 

          يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِن تَنصُرُواْ ٱللَّهَ يَنصُرۡكُمۡ وَيُثَبِّتۡ أَقۡدَامَكُمۡ ٧

“Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (Muhammad: 7)

 

          وَٱللَّهُ يُرِيدُ أَن يَتُوبَ عَلَيۡكُمۡ وَيُرِيدُ ٱلَّذِينَ يَتَّبِعُونَ ٱلشَّهَوَٰتِ أَن تَمِيلُواْ مَيۡلًا عَظِيمٗا ٢٧

        “Dan Allah hendak menerima tobatmu, sedang orang-orang yang mengikuti hawa nafsunya bermaksud supaya kamu berpaling sejauh-jauhnya (dari kebenaran).” (an-Nisa’: 27)

 

Yang lebih bahaya dan lebih parah daripada mereka adalah para penyeru penyatuan agama-agama, persaudaraan antaragama, kebebasan beragama, dan persamaan antaragama. Ingatlah firman Allah ‘azza wa jalla kepada Nabinya,

          وَلَوۡلَآ أَن ثَبَّتۡنَٰكَ لَقَدۡ كِدتَّ تَرۡكَنُ إِلَيۡهِمۡ شَيۡ‍ٔٗا قَلِيلًا ٧٤ إِذٗا لَّأَذَقۡنَٰكَ ضِعۡفَ ٱلۡحَيَوٰةِ وَضِعۡفَ ٱلۡمَمَاتِ ثُمَّ لَا تَجِدُ لَكَ عَلَيۡنَا نَصِيرٗا ٧٥

        ”Dan kalau Kami tidak memperkuat (hati) mu, niscaya kamu hampir-hampir condong sedikit kepada mereka.

Kalau terjadi demikian, benar-benarlah Kami akan rasakan kepadamu (siksaan) berlipat ganda di dunia ini dan begitu (pula siksaan) berlipat ganda sesudah mati, dan kamu tidak akan mendapat seorang penolongpun terhadap Kami. (al-Isra: 74—75)

 

Apa yang akan didapati oleh orang yang sangat condong kepada mereka, sementara Allah ‘azza wa jalla berfirman,

          قُل لَّا يَسۡتَوِي ٱلۡخَبِيثُ وَٱلطَّيِّبُ وَلَوۡ أَعۡجَبَكَ كَثۡرَةُ ٱلۡخَبِيثِۚ فَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ يَٰٓأُوْلِي ٱلۡأَلۡبَٰبِ لَعَلَّكُمۡ تُفۡلِحُونَ ١٠٠

        Katakanlah, “Tidak sama yang buruk dengan yang baik, meskipun banyaknya yang buruk itu menarik hatimu, maka bertakwalah kepada Allah hai orang-orang berakal, agar kamu mendapat keberuntungan.” (al-Maidah: 100)

 

Orang Barat tetap tidak akan berdialog dengan kalian pada posisi yang sebanding antara kalian dan mereka. Mereka akan berdiskusi dengan kalian layaknya posisi seorang tuan yang agung terhadap budaknya yang hina, dengan cara dialog orang yang memaksakan kehendak.

Allah ‘azza wa jalla telah memberikan dua permisalan yang membedakan antara tauhid dan syirik.

          أَلَمۡ تَرَ كَيۡفَ ضَرَبَ ٱللَّهُ مَثَلٗا كَلِمَةٗ طَيِّبَةٗ كَشَجَرَةٖ طَيِّبَةٍ أَصۡلُهَا ثَابِتٞ وَفَرۡعُهَا فِي ٱلسَّمَآءِ ٢٤ تُؤۡتِيٓ أُكُلَهَا كُلَّ حِينِۢ بِإِذۡنِ رَبِّهَاۗ وَيَضۡرِبُ ٱللَّهُ ٱلۡأَمۡثَالَ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمۡ يَتَذَكَّرُونَ ٢٥

        “Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit.

Pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Rabbnya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat.” (Ibrahim: 24—25)

 

Yang dimaksud pohon yang bagus adalah pohon kurma yang memberikan buahkan setiap waktu. Allah ‘azza wa jalla menjadikannya sebagai perumpamaan kalimat yang baik La ilaha illallah berikut akidah, amal saleh, dan akhlak mulia yang tegak di atasnya.

Lalu Allah ‘azza wa jalla berfirman,

          وَمَثَلُ كَلِمَةٍ خَبِيثَةٖ كَشَجَرَةٍ خَبِيثَةٍ ٱجۡتُثَّتۡ مِن فَوۡقِ ٱلۡأَرۡضِ مَا لَهَا مِن قَرَارٖ ٢٦

        “Dan perumpamaan kalimat yang buruk seperti pohon yang buruk, yang telah dicabut dengan akar-akarnya dari permukaan bumi; tidak dapat tetap (tegak) sedikit pun.” (Ibrahim: 26)

 

Para ahli tafsir menerangkan, “Sesungguhnya, pohon yang buruk tersebut adalah handzalah. Ia tidak punya batang dan tidak kokoh. Allah ‘azza wa jalla menjadikannya sebagai perumpamaan bagi kesyirikan dan kekafiran yang telah dibuat oleh setan. Yang menyambutnya adalah para pemeluk agama-agama sesat yang dihinakan oleh Allah ‘azza wa jalla. Seandainya mereka beramal seberapapun amalnya, Allah ‘azza wa jalla tidak akan menerimanya.”

Hal ini seperti firman Allah ‘azza wa jalla,

          وَقَدِمۡنَآ إِلَىٰ مَا عَمِلُواْ مِنۡ عَمَلٖ فَجَعَلۡنَٰهُ هَبَآءٗ مَّنثُورًا ٢٣

        “Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan.” (al-Furqan: 23)

 

Akhirnya mereka masuk ke neraka. Itulah seburuk-buruk tempat tinggal.

Akan tetapi, meski telah nyata pembedaan dari Allah ‘azza wa jalla antara Islam berikut muslimin dan kekafiran serta pemeluknya, masih saja ada orang yang mengaku Islam dan mengajak untuk mencampur dan menyamakan antara Islam dan agama agama kafir.

Mereka meminta kepada PBB serta badan-badan internasional untuk mengeluarkan keputusan penyamaan antara agama-agama. Bagi mereka, tidak ada penghalang jika Islam diletakkan paling belakang.

 

Kami berlindung kepada Allah ‘azza wa jalla dari sikap hina semacam ini. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

          يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِن تُطِيعُواْ فَرِيقٗا مِّنَ ٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡكِتَٰبَ يَرُدُّوكُم بَعۡدَ إِيمَٰنِكُمۡ كَٰفِرِينَ ١٠٠ وَكَيۡفَ تَكۡفُرُونَ وَأَنتُمۡ تُتۡلَىٰ عَلَيۡكُمۡ ءَايَٰتُ ٱللَّهِ وَفِيكُمۡ رَسُولُهُۥۗ وَمَن يَعۡتَصِم بِٱللَّهِ فَقَدۡ هُدِيَ إِلَىٰ صِرَٰطٖ مُّسۡتَقِيمٖ ١٠١

        “Hai orang-orang yang beriman, jika kamu mengikuti sebahagian dari orang-orang yang diberi al-Kitab, niscaya mereka akan mengembalikan kamu menjadi orang kafir sesudah kamu beriman.

Bagaimanakah kamu (sampai) menjadi kafir, padahal ayat-ayat Allah dibacakan kepada kamu, dan Rasul-Nya pun berada di tengah-tengah kamu? Barang siapa berpegang teguh kepada (agama) Allah maka sesungguhnya ia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” (Ali Imran: 100—101)

 

          يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِن تُطِيعُواْ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ يَرُدُّوكُمۡ عَلَىٰٓ أَعۡقَٰبِكُمۡ فَتَنقَلِبُواْ خَٰسِرِينَ ١٤٩  بَلِ ٱللَّهُ مَوۡلَىٰكُمۡۖ وَهُوَ خَيۡرُ ٱلنَّٰصِرِينَ ١٥٠

        “Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menaati orang-orang yang kafir itu, niscaya mereka mengembalikan kamu ke belakang (kepada kekafiran), lalu jadilah kamu orang-orang yang rugi.

Tetapi (ikutilah Allah), Allahlah Pelindungmu, dan Dia-lah sebaik-baik Penolong.” (Ali Imran: 149—150)

 

Mereka yang terkecoh dengan masalah dialog antaragama, kebebasan berpendapat, kebebasan beragama, hendaknya memahami bahwa kaum imperialis Barat hanya ingin memaksakan pemikiran mereka. Mereka menolak dialog selain dengan diri mereka sendiri atau dengan pihak yang berjalan di atas jalur mereka.

Bacalah apa yang dikatakan oleh seorang ahli filsafat Barat sekaligus penulis berkebangsaan Prancis, Jules Regis Debray, saat memberi catatan atas karikatur yang menghina Rasulullah, “Jalan pemikiran orang Eropa masih bersifat menjajah.”

Dalam sebuah wawancara dengan surat kabar mingguan, dia meminta Prancis sebagai bagian Eropa untuk tidak berusaha memaksakan pemikiran mereka kepada orang yang berilmu dan agama berperan besar pada dirinya.

Dia mengatakan juga, “Kita telah melepas topi besi, tetapi pemikiran kita masih tetap pemikiran penjajah.”

Dia mengatakan sebagai penjelasan (maksudnya), “Kami menginginkan agar dunia ini seluruhnya seperti kami. Kalau tidak, kami akan menilainya sebagai negara terbelakang dan anarkis.”

Dia tambahkan, “Sesungguhnya, cacat sejarah yang ada pada para pengacau dan yang membolehkan segala cara di negeri kita, menetes murni dari hati penjajah.”

Dia mengatakan pula, “Orang Barat berbangga dengan aturan ….. Akan tetapi, dia menolak berdialog kecuali dengan sesamanya, atau dengan orang Timur yang berwawasan Barat. Kami serahi mereka tugas untuk mengabari kami sesuatu yang menyenangkan kami.”

Bukti yang sangat nyata atas apa yang dia katakan—dan telah dipahami sebelumnya oleh orang cendekia dan sadar—sudah sejak sekitar 30 tahun lalu para petinggi Nasrani mengajak untuk berdialog antaragama. Diadakanlah seminar-seminar antaragama. Ternyata, mereka tidak bergerak menuju Islam walau selangkah. Justru pihak yang mereka ajak dialog bergerak menuju mereka dan jalan mereka.

Seandainya mereka dihadapkan pada hakikat yang ada pada Islam, tentu dialog akan berhenti. Orang-orang gereja akan lari sebagaimana larinya kelinci dari singa.

Orang yang berwawasan Barat dan bersemangat untuk dialog seperti ini wajib diwaspadai dan diketahui tujuan mereka, sebagaimana telah disadari oleh filosof Prancis ini yang kemudian menjelaskan hakikat mereka.

Akhirnya, saya mengajak kaum muslimin, baik pemerintah maupun rakyat, untuk secara serius berpegang teguh dengan agama Islam ini, berbangga dengannya.

Para penguasa hendaknya mendidik putra-putra mereka, rakyat,dan pasukan perang dengan nilai-nilai Islam, akidah, manhaj, hukum-hukum, dan siasatnya, melalui madrasah, universitas, surat kabar, majalah serta website-website.

Hendaknya pemerintah mengatur dan mengarahkan berbagai sarana ini dengan baik. Bahkan, penguasa hendaknya mengharuskan berbagai lembaga dan sarana tersebut menyebarkan akidah Islam, manhaj, dan akhlaknya.

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

          ٱلَّذِينَ إِن مَّكَّنَّٰهُمۡ فِي ٱلۡأَرۡضِ أَقَامُواْ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتَوُاْ ٱلزَّكَوٰةَ وَأَمَرُواْ بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَنَهَوۡاْ عَنِ ٱلۡمُنكَرِۗ وَلِلَّهِ عَٰقِبَةُ ٱلۡأُمُورِ ٤١

        “Orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, niscaya mereka mendirikan shalat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat yang makruf dan mencegah perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan.” (al-Hajj: 41)

Semoga Allah ‘azza wa jalla melimpahkan shalawat-Nya kepada Nabi-Nya, keluarga, dan para sahabat beliau, serta memberinya salam yang banyak.

Buah karya Asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi al-Madkhali hafizhahullah