Mencurahkan Segala yang Ma’ruf

Yang dimaksud dengan al-ma’ruf adalah semua yang dianggap baik oleh syariat. (at-Ta’rifat hlm. 215, al-Jurjani)

Kata Fadhilatusy Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah, ma’ruf adalah urusan yang dikenali manusia sebagai kebaikan atau yang dikenali sebagai kebaikan menurut syariat. Apabila hal tersebut terkait dengan ibadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala, ma’ruf adalah urusan yang dikenali kebaikannya dalam syariat. Apabila terkait dengan muamalah bersama manusia, ma’ruf berarti urusan yang dikenali kebaikannya oleh manusia.” (Syarh Riyadhish Shalihin, 1/541)

Seorang muslimah yang berakhlak mulia tidaklah kikir untuk berbuat baik kepada manusia. Kebaikan yang disanggupinya, akan dia berikan kepada manusia.

Apabila memiliki harta, dia tidak segan-segan membelanjakannya di jalan kebaikan, dengan berinfak, bersedekah, mengeluarkan zakat, memberi makan orang yang lapar, memberi minum orang yang dahaga, menyambung silaturahim dengan memberi kepada karib kerabat, dan sebagainya.

Apabila memiliki ilmu, dia ajarkan ilmu tersebut kepada manusia. Tentu saja hal ini dilakukan setelah ia berupaya mengamalkannya. Sebab, ilmu dipelajari untuk diamalkan dan disedekahkan dengan diajarkan kepada sesama. Dia tidak kikir untuk memberikan faedah kepada orang lain apa yang diketahuinya. Dia tidak merasa tersaingi ketika orang yang diajarinya menjadi luas pengetahuannya dan menjadi lebih pandai darinya.

Apabila memiliki kedudukan, dia gunakan untuk membantu dan memudahkan manusia untuk beroleh hajat mereka dan mempermudah urusan mereka. Dia siap memberikan syafaat kepada manusia agar tersampaikan kebaikan kepada mereka dan tertolak bahaya dari mereka.

Andai pun dia tidak memiliki harta, tidak pula ilmu dan kedudukan, tidaklah tertutup jalan baginya untuk berbuat baik kepada manusia. Sebab,  jalan kebaikan itu banyak dan berbilang. Dia masih punya tenaga untuk bisa membantu manusia.

karung

Tahukah Anda, orang yang suka berbuat ma’ruf berarti dia banyak bersedekah? Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut ini sebagai buktinya,

كُلُّ مَعْرُوْفٍ صَدَقَةٌ

“Setiap yang ma’ruf adalah sedekah.” (HR. al-Bukhari dari Jabir bin Abdillah radhiallahu ‘anhu dan Muslim dari Hudzaifah radhiallahu ‘anhu )

Terkait dengan ibadah, seluruh amalan yang dilakukan seorang hamba terhitung sedekah. Demikian pula seluruh urusan yang dianggap sebagai kebaikan oleh manusia merupakan sedekah. Misalnya, berbuat baik kepada orang lain dengan harta yang kita miliki, atau dengan kedudukan yang ada pada kita.

Termasuk berbuat baik adalah berwajah cerah berseri ketika kita bertemu dengan saudara kita, bukan wajah masam cemberut; berucap yang lembut ketika berbicara dan memberikan kebahagiaan dan kegembiraan kepada orang lain.

Sampai-sampai apabila ada orang yang duduk di sebelah kita yang bercucuran keringat, lantas kita berikan kepadanya kipas tangan yang kita miliki, maka hal ini teranggap sedekah.

Demikian pula menyambut tamu dengan hangat, penuh senyuman, lalu menyegerakan hidangan atau jamuan untuk mereka, termasuk sedekah.

Abu Musa al-Asy’ariz, menyampaikan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ صَدَقَةٌ. قَالَ: أَرَأَيْتَ إِنْ لَمْ يَجِدْ؟ قَالَ: يَعْمَلُ بِيَدِهِ فَيَنْفَعُ نَفْسَهُ وَيَتَصَدَّقُ. قَالَ: أَرَأَيْتَ إِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ؟ قَالَ: يُعِيْنُ ذَا الْحَاجَةِ الْمَلْهُوْفِ. قَالَ: أَرَأَيتَ إِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ؟ قَالَ: يَأْمُرُ بِالْمَعرُوْفِ أَوِ الْخَيْرِ. قَالَ: أَرَأَيْتَ إِنْ لَمْ يَفْعَلْ؟ قَالَ: يُمْسِكُ عَنِ الشَّرِّ فَإِنَّهَا صَدَقَةٌ

“Wajib bagi setiap muslim untuk bersedekah.”

Abu Musa bertanya “Apa pendapat Anda apabila seseorang tidak mendapatkan sesuatu untuk bersedekah?”

Beliau menjawab, “Dia bekerja dengan tangannya (menghasilkan sesuatu dengan tangannya sendiri) hingga bisa memberikan manfaat kepada dirinya dan dia bisa bersedekah.”

Abu Musa bertanya, “Apa pendapat Anda apabila dia tidak mampu?”

“Dia menolong orang yang membutuhkan,” jawab beliau.

Abu Musa bertanya, “Apa pendapat Anda apabila dia tidak mampu?”

“Dia memerintahkan yang ma’ruf atau mengajak kepada kebaikan,” jawab beliau.

Abu Musa bertanya lagi, “Apa pendapat Anda apabila dia tidak bisa melakukannya?”

Beliau menjawab, “Dia menahan diri dari berbuat kejelekan, itu adalah sedekah. “ (Muttafaqun ‘alaihi)

Intinya, seorang muslimah yang berakhlak mulia tidaklah pernah terhalang untuk memberikan kebaikan kepada manus ia da lam bentuk apa pun, selama hal tersebut dalam kesanggupannya.

Tidak Mengganggu Orang Lain

Akhlak mulia tidak sekadar pengakuan atau klaim, “Si Fulanah, masya Allah, akhlaknya bagus”, tetapi harus ada bukti lahiriahnya.

Salah satu tandanya adalah tidak mengganggu dan menyakiti orang lain, baik dengan ucapan maupun perbuatan. Oleh karena itu, seorang muslimah yang berakhlak mulia selalu memerhatikan ucapannya ketika, jangan sampai kalimat-kalimatnya menyakitkan dan menyinggung perasaan orang lain.

Terkadang ada muslimah yang, masya Allah, lahiriahnya komitmen terhadap agama, rajin ibadah, dan sebagainya, tetapi ucapannya kasar kepada saudaranya. Kalimat-kalimat yang terasa tajam menghunjam kalbu, membentak, bersuara tinggi, sepertinya sudah biasa baginya. Akan tetapi, tentu tidak biasa bagi orang lain yang menerimanya. Sakit!

Nasihatnya pun terasa menyakitkan karena disampaikan di depan banyak orang, tidak dengan diam-diam. Padahal, cara seperti itu jelas mempermalukan orang yang dinasihati.

Ini hanyalah sedikit contoh kekasaran lisan dan perilaku. Orang yang seperti ini jelas tidak bisa dikatakan berakhlak mulia. Justru dia berakhlak buruk.

Seharusnya seorang muslimah berlaku lembut kepada saudaranya, mencintai untuk saudaranya apa yang dicintainya untuk dirinya, dan menasihatinya dengan cara yang baik, sebagai bentuk kasih sayang kepada sesama hamba yang beriman.

Mengganggu dan menyakiti orang yang dekat tentu lebih banyak dosanya daripada mengganggu dan menyakiti orang yang jauh. Mengganggu tetangga lebih besar dosanya daripada selain tetangga.

Maka dari itu, termasuk kemuliaan akhlak seorang muslimah ialah berbuat baik kepada tetangganya dengan tidak mengganggu mereka, baik dengan katakata yang merendahkan, mengumpat, mencaci, mencela, melaknat; maupun dengan perbuatan, seperti membuang sampah di halaman rumah mereka, menghalangi atau menyempitkan jalan tempat mereka lalu lalang, membuat keributan di rumah yang menimbulkan suara yang mengusik ketenangan tetangga, apalagi pada saat istirahat mereka, dan sebagainya.

Loudspeaker

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,

وَاللهِ لاَ يُؤْمِنُ، وَاللهِ لاَ يُؤْمِنُ، وَاللهِ لاَ يُؤْمِنُ. قِيْلَ: مَنْ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ: الَّذِي لاَ يَأْمَنُ جَارُهُ بَوَائِقَهُ

“Demi Allah tidak beriman! Demi Allah tidak beriman! Demi Allah tidak beriman!”

Beliau ditanya, “Siapa orang yang dimaksud, wahai Rasulullah?”

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Orang yang tetangganya tidak merasa aman dari gangguan dan kejelekannya.” (Muttafaqun ‘alaihi dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)

Dalam sebuah riwayat Muslim,

لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ لاَ يَأْمَنُ جَارُهُ بَوَائِقَهُ

“Tidak akan masuk surga, orang yang tetangganya tidak merasa aman dari gangguan dan kejelekannya.”

Bayangkan! Sampai Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam meniadakan keimanan bagi seorang pengganggu yang menyakiti tetangga dan memvonis ‘tidak masuk surga’. Apakah bisa dikatakan dosanya ringan? Apakah bisa dikatakan pelakunya berakhlak baik?

Hendaknya hal ini menjadi perhatian seorang muslimah. Jangan pernah Anda menyakiti orang lain! Lapangkan hati Anda untuk selalu meminta maaf dan mengakui kesalahan apabila suatu ketika anda khilaf menyakiti manusia.

Tahukah Anda, orang Islam yang seperti apa yang dipuji keislamannya?

Jawabannya ada pada sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut ini,

الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُوْنَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ

“Seorang muslim adalah orang yang kaum muslimin (lainnya) selamat dari lisan dan tangannya.” (HR. Muslim)

Dengan demikian, tidak menyakiti orang lain dengan ucapan dan perbuatan adalah tanda baiknya keislaman seseorang, sekaligus bukti kemuliaan akhlaknya.

Di antara bentuk gangguan kepada manusia yang harus dihindari ialah mengganggu penciuman mereka dengan aroma tidak sedap yang keluar dari diri kita, baik dari tubuh maupun bau mulut kita secara khusus.

Seorang muslimah selalu memerhatikan kebersihan mulut, tubuh, dan pakaiannya agar tidak menebarkan aroma tidak sedap yang dapat mengganggu orang-orang di sekitarnya. Tidak boleh muslimah berdalih, ‘Bagaimana mau harum, sementara kita tidak boleh keluar rumah memakai minyak wangi?!’

Yang menjadi masalah bukan karena tidak boleh pakai minyak wangi. Sebab, hal ini adalah aturan Allah subhanahu wa ta’ala yang tidak boleh digugat. Masalahnya terletak pada ketidakpedulian menjaga kebersihan diri dan pakaian.

botol-parfum

Terkadang pakaian ‘hijab’ yang dipakai keluar rumah, tidak dicuci berhari-hari lamanya, padahal sudah dipakai berkali-kali. Tentu saja ini menciptakan bau yang tidak sedap. Yang seperti ini akan mengganggu orang lain yang berdekatan dengan si muslimah.

Yang naif lagi apabila orang awam sampai mengecap ‘orang yang berhijab itu jorok dan bau’. Padahal itu hanyalah ulah segelintir muslimah yang tidak paham bahwa termasuk kemuliaan akhlak dan kebagusan Islam seseorang adalah tidak memberikan gangguan kepada manusia.

Wajah Berseri-seri

Berwajah cerah ketika bertemu saudara adalah bentuk kemuliaan akhlak seseorang. Tidak menghadap kepada manusia terkecuali dengan wajah yang manis penuh senyuman adalah perangai yang disenangi oleh setiap orang yang berjumpa dengannya.

Nah, seorang muslimah yang memerhatikan kebagusan akhlaknya tentu tidak merasa berat untuk berwajah manis kepada manusia. Sebenarnya, ini adalah amalan yang ringan bagi orang yang Allah subhanahu wa ta’ala mudahkan. Tidak butuh biaya dan tidak butuh berpayah-payah.

Cukup dengan menarik wajah Anda membentuk sebuah senyuman, hal tersebut sudah menggembirakan saudara Anda. Lanjutkanlah dengan tutur kata yang manis, semanis senyuman yang tersungging di wajah Anda.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ تَحْقِرَنَّ مِنَ الْمَعْرُوْفِ شَيْئًا وَلَوْ أَنْ تَلْقَى أَخَاكَ بِوَجْهٍ طَلِقٍ

“Jangan sekali-kali engkau meremehkan suatu kebaikan walaupun (hanya dalam bentuk) engkau menemui saudaramu dengan wajah cerah berseri.” (HR. Muslim dari Abu Dzar radhiallahu ‘anhu)

Orang Beriman yang Berakhlak Mulia Akan Masuk Surga

Kita tentu senang sekali jika ada yang mau membangun sebuah istana untuk kita di dunia. Bagaimana lagi senangnya, bahkan bahagia yang tak bisa diungkapkan dengan kata, jika istana itu dibangun untuk kita di surga? Plus, letaknya di surga paling atas? Luar biasa!

Amalan apakah gerangan yang harus kita lakukan agar mendapat sebuah rumah (baca: istana) di surga? Hadits berikut ini jawabannya.

Abu Umamah al-Bahili radhiallahu ‘anhu berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَناَ زَعِيْمُ بَيْتٍ فِي رَبْضِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَإِنْ كَانَ مُحِقًّا، وَبَيْتٍ فِي وَسَطِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْكَذِبَ وَإِنْ كَانَ مَازِحًا، وَبَيْتٍ فِي أَعْلَى الْجَنَّةِ لِمَنْ حَسُنَ خُلُقُهُ

“Aku menjamin sebuah rumah di bagian bawah surga bagi orang yang meninggalkan perdebatan walaupun dia benar. Aku menjamin sebuah rumah di bagian tengah surga bagi orang yang meninggalkan dusta walaupun sekadar main-main/bergurau. Aku menjamin sebuah rumah di bagian paling atas surga bagi orang yang bagus akhlaknya.” (HR. Abu Dawud, dinyatakan sahih dalam ash-Shahihah no. 273)

Penyebab terbanyak orang meraih surga adalah kemuliaan akhlak, setelah bertakwa kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Memerhatikan kemuliaan akhlak adalah satu bentuk perealisasian takwa kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Sebab, bukankah Dia Yang Mahasuci yang memerintahkan agar hamba-hamba-Nya berakhlak mulia?

Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu menyampaikan,

سُئِلَ رَسُوْلُ اللهِ عَنْ أَكْثَرِ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ الْجَنَّةَ؟ قَالَ: تَقْوَى اللهِ وَحُسْنُ الْخُلُقِ. وَسُئِلَ عَنْ أَكْثَرِ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ النَّارَ فَقَالَ: الْفَمُ وَالْفَرْجُ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya tentang amalan yang paling banyak memasukkan orang ke dalam surga.

Beliau bersabda, “Takwa kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan akhlak yang baik.”

Ketika ditanya tentang sebab terbanyak yang memasukkan orang ke dalam neraka, beliau menjawab, “Mulut dan kemaluan.” (HR. al-Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad, dinyatakan hasan dalam Shahih at-Targhib no. 2642)

Hadits di atas sangat sesuai dengan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut ini.

اتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تْمحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ

“Bertakwalah engkau kepada Allah subhanahu wa ta’ala di mana saja engkau berada. Susullah keburukan dengan kebaikan, niscaya kebaikan itu akan menghapus keburukan tersebut. Dan pergaulilah manusia dengan akhlak yang bagus.” (HR. at-Tirmidzi, dinyatakan hasan dalam Shahih Sunan at-Tirmdizi dan al-Misykat no. 5083)

Bertakwa kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan berakhlak mulia kepada para hamba adalah dua amalan besar yang akan membahagiakan hidup Anda di akhirat kelak.

Berhiaslah dengannya, wahai muslimah! Semoga Allah subhanahu wa ta’ala memberi taufik kepada kita semua.

Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

Ditulis oleh al-Ustadzah Ummu Ishaq al-Atsariyah