Kesudahan Orang-Orang yang Mencela Sahabat Nabi

Para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memiliki kedudukan demikian tinggi di sisi Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun, sungguh mengherankan, ada orang-orang yang berani melecehkan mereka dan senantiasa berusaha mencari kelemahan mereka. Orang-orang yang berani merendahkan para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam benar-benar tidak tahu diri, tidak tahu kapasitas dirinya.

Di antara tanda-tanda keselamatan seseorang di dunia dan di akhirat, adalah kepekaannya untuk melihat dan mengintrospeksi diri sebelum melihat dan mengoreksi orang lain.

Dia akan sangat mengerti tentang kapasitas dirinya sebelum mengerti kapasitas orang lain, sehingga ketika mendengar sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

لاَ تَسُبُّوا أَصْحَابِيْ، لاَ تَسُبُّوا أَصْحَابِيْ، فَوَالَّذِيْ نَفْسِيْ بِيَدِهِ، لَوْ أَنْفَقَ أَحَدُكُمْ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا أَدْرَكَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلاَ نَصِيْفَهُ

“Janganlah mencela para sahabatku, janganlah mencela para sahabatku! Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya (Allah), kalaulah salah seorang dari kalian berinfak emas sebesar Gunung Uhud, niscaya tidak akan menyamai infak salah seorang dari mereka (para sahabat) yang hanya sebesar cakupan dua telapak tangan atau setengahnya.” (HR. al-Bukhari no. 3673 dan Muslim no. 2540, dari sahabat Abu Sa’id al-Khudri radhiallahu ‘anhu)

Dia akan berupaya menahan hatinya agar tidak berburuk sangka kepada para sahabat dan menahan lisannya dari mencela mereka. Dia sadar, bukan kapasitasnya untuk membicarakan, menilai, dan mengkritik orang-orang yang telah mendapatkan rekomendasi dari Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam itu.

Di sisi lain, kita tak pernah lupa akan sejarah orang-orang yang tak tahu diri. Orang-orang kerdil yang ingin menggapai bintang di angkasa sambil melolong dengan lolongan-lolongan keji, berkedok kebebasan dan sikap kritis.

Lolongan kaum orientalis kafir yang kemudian dikemas dengan sok ilmiah oleh antek-antek mereka dari anakanak kaum muslimin untuk mengkritik para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Ini bukanlah hal yang baru dalam peradaban umat manusia. Lolongan tersebut sesungguhnya merupakan kelanjutan dari lolongan kaum Syi’ah Rafidhah yang senantiasa berambisi menghancurkan citra Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan ajaran agama Islam yang dibawanya.

Al-Imam Malik bin Anas rahimahullah berkata, “Mereka itu adalah suatu kaum yang berambisi untuk menghabisi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, namun tidak mampu. Mereka pun akhirnya mencela para sahabat beliau, agar kemudian dikatakan bahwa beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang jahat. Sebab, jika beliau itu orang baik, niscaya para sahabatnya adalah orang-orang yang baik pula.” (ash-Sharimul Maslul ‘ala Syatimir Rasul, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah, hlm. 580)

Al-Imam Abu Zur’ah ar-Razi rahimahullah berkata, “Siapa saja yang mencela seorang sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ketahuilah bahwa ia seorang zindiq. Sebab, keyakinan kami bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah haq, al-Qur’an itu haq dan sesungguhnya yang menyampaikan al-Qur’an dan as-Sunnah adalah para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Tujuan mereka mencela para saksi kami (para sahabat) tidak lain adalah menghancurkan al-Qur’an dan as-Sunnah. Sesungguhnya merekalah yang lebih pantas dicela. Mereka adalah orang-orang zindiq[1].” (al-Kifayah, hlm. 49)

Seluruh sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang-orang baik dan adil, yang telah mendapatkan rekomendasi dari Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya.

Al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah berkata, “Allah subhanahu wa ta’ala telah memuji para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam al-Qur’an, Taurat, dan Injil. Keutamaan itu pun telah terukir melalui lisan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Ini adalah suatu keutamaan yang belum pernah diraih oleh seorang pun setelah mereka. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala menyayangi mereka dan menganugerahkan untuk mereka kedudukan tertinggi di kalangan shiddiqin, syuhada, dan orang-orang saleh.

Merekalah yang menyampaikan ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada kita. Mereka menyaksikan turunnya wahyu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sehingga benar-benar mengetahui apa yang dimaukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berupa perkara-perkara yang sifatnya umum dan khusus, keharusan dan bimbingan. Mereka mengerti Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, baik yang kita ketahui maupun yang tidak kita ketahui.

Mereka di atas kita dalam hal ilmu, ijtihad, wara’, ketajaman berpikir, dan memahami suatu urusan (berdasarkan ilmu). Pendapat mereka lebih baik dan lebih utama bagi diri kita daripada pendapat kita sendiri.” (Manaqib al-Imam asy-Syafi’i, al-Baihaqi, 1/441)

An-Nawawi rahimahullah berkata, “Para sahabat semuanya ‘adil, baik yang terlibat dalam fitnah (pertempuran di antara mereka -pen.) atau yang tidak terlibat di dalamnya, menurut ijma’ ulama yang diperhitungkan kata-katanya.” (at-Taqrib ma’a Tadribir Rawi, 2/190)

Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Menurut Ahlus Sunnah wal Jamaah, semua sahabat itu ‘adil, karena adanya pujian dari Allah subhanahu wa ta’ala di dalam al-Qur’an dan (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) di dalam Sunnahnya terhadap segala akhlak dan perbuatan mereka, serta terhadap apa yang mereka korbankan berupa harta dan nyawa bersama Rasulullah, dengan semata-mata mengharap pahala dan balasan yang mulia di sisi Allah subhanahu wa ta’ala.” (al-Ba’its al-Hatsits hlm.154)

Al-Imam Ibnul Mulaqqin rahimahullah berkata, “Seluruh sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mempunyai kekhususan, yaitu tidak perlu ditanyakan tentang keadilannya. Sebab, mereka telah mendapatkan rekomendasi dalam al-Qur’an dan as-Sunnah, serta ijma’ ulama yang diperhitungkan ucapannya.” (al-Muqni’ fi Ulumil Hadits, 2/492, dinukil dari al-Inthishar lish Shahbi wal Aal, hlm. 218)

Al-Imam Ibnul Atsir rahimahullah berkata, “Para sahabat seperti para perawi lainnya dalam semua hal itu, kecuali dalam hal al-jarh wat ta’dil (pujian dan kritikan). Mereka semua adalah orang-orang yang ‘adil dan tidak boleh dikritik. Sebab, Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya telah merekomendasi dan memuji mereka….” (Usdul Ghabah 1/10, dinukil dari al-Inthishar, hlm. 222)

Al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalani rahimahullah berkata, “Ahlus Sunnah sepakat bahwa seluruh sahabat adalah orang-orang yang ‘adil. Tidak ada yang menyelisihi kesepakatan ini selain orang-orang yang nyeleneh dari kalangan ahlul

bid’ah.” (al-Ishabah, 1/1011)

Asy-Syaikh Mahmud Muhammad Syakir rahimahullah berkata, “Jika demikian agungnya keutamaan bersahabat dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, seorang muslim manakah yang mampu setelah ini untuk menjulurkan lisannya mencela salah seorang dari sahabat Muhammad Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ?!

Dengan lisan manakah dia meminta alasan ketika saling beragumentasi di hadapan Rabb mereka (di hari kiamat)?!

Apa yang hendak dia katakan saat telah tegak baginya hujah dari al-Qur’an dan Sunnah Nabi-Nya ?! Hendak lari kemanakah dia dari azab Allah subhanahu wa ta’ala pada hari (kiamat) itu?!” (Majallah al-Muslimun, edisi 3 th. 1371 H, dinukil dari kitab Matha’in Sayyid Quthub fi Ash-habi Rasulillah shallallahu ‘alaihi wa sallam, hlm. 11)

Maka dari itu, orang-orang yang sok menilai, mengkritik, dan mencela para sahabat, tak lain ibarat seekor kambing kerdil yang berambisi (dengan tanduknya) menghancurkan batu besar yang sangat kokoh. Batu itu pun tetap utuh tak bergeming, sedangkan si kambing kerdil menuai petaka.

Al-Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah berkata, “Barang siapa melakukannya (mencela sahabat -pen.), ia wajib diberi pelajaran dan dihukum, tidak diberi ampun, bahkan terus dihukum hingga bertobat. Jika bertobat, dia diampuni. Namun, jika tetap bersikukuh, ia terus dihukum dan dipenjara sampai mati atau rujuk (kembali kepada kebenaran -red.).” (ash-Sharimul Maslul, hlm. 568)

Al-Imam Malik bin Anas rahimahullah berkata, “Barang siapa mencaci Nabi (shallallahu ‘alaihi wa sallam), (hukumannya) dibunuh. Dan barang siapa mencela para sahabat, ia diberi pelajaran.” (ash-Sharimul Maslul, hlm. 569)

Al-Imam Ishaq bin Rahawaih rahimahullah berkata, “Barang siapa mencela para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia harus dihukum dan dipenjara.” (ash-Sharimul Maslul, hlm. 568)

Dengan demikian, apakah para pencela sahabat itu dikafirkan? Berdasarkan keterangan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam kitabnya ash-Sharimul Maslul (hlm. 586587), dapat disarikan sebagai berikut:

  1. Mencela sahabat, dengan diiringi pernyataan bahwa ‘Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu adalah Tuhan, atau dialah yang sebenarnya sebagai nabi dan Malaikat Jibril telah keliru menyampaikan wahyu kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, atau menganggap bahwa al-Qur’an kurang sekian ayat dan ada yang disembunyikan dan lain sebagainya, maka tidak diragukan lagi kekafirannya. Bahkan, tidak diragukan pula kekafiran orang yang ragu akan kekafiran mereka.
  1. Mencela sahabat namun tidak menjatuhkan keadilan dan agama mereka. Misalnya, menyifati sebagian sahabat dengan kikir, pengecut, ilmunya sedikit, kurang zuhud, dan sebagainya. Orang yang seperti ini berhak diberi pelajaran/ dihukum dan tidak dikafirkan.
  1. Melaknat dan menjelek-jelekkan mereka dengan lafadz yang umum. Yang seperti, masih diragukan apakah dikafirkan atau tidak. Sebab, ada kemungkinan laknatnya karena kemarahan atau karena keyakinannya.
  1. Mencela sahabat sampai pada tingkatan meyakini bahwa mereka telah murtad sepeninggal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kecuali hanya beberapa orang dari mereka saja, atau semua telah melakukan kefasikan (sepeninggal beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam).

Yang seperti ini tidak diragukan tentang kekafirannya. Demikianlah kesudahan buruk bagi orang-orang yang mencela sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Semoga Allah subhanahu wa ta’ala menjauhkan kita dari akhlak tercela ini. Tiada yang dapat kita ucapkan kecuali sebuah harapan dari Allah subhanahu wa ta’ala yang terukir dalam lantunan doa,

رَبَّنَا ٱغۡفِرۡ لَنَا وَلِإِخۡوَٰنِنَا ٱلَّذِينَ سَبَقُونَا بِٱلۡإِيمَٰنِ وَلَا تَجۡعَلۡ فِي قُلُوبِنَا غِلّٗا لِّلَّذِينَ ءَامَنُواْ رَبَّنَآ إِنَّكَ رَءُوفٞ رَّحِيمٌ ١٠

Wahai Rabb kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau biarkan kedengkian terhadap orang-orang beriman bercokol pada hati kami. Wahai Rabb kami, sungguh Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.” (al-Hasyr: 10)

        Amin ya Rabbal ‘Alamin.

Ditulis oleh  al-Ustadz Ruwaifi’ bin Sulaimi, Lc.


[1] Zindiq adalah orang yang menyembunyikan kekafiran dan menampakkan keislaman. Asal-usul mereka adalah orang-orang yang mengingkari hari kebangkitan dan meyakini reinkarnasi serta memiliki keyakinan sebagaimana halnya orang-orang Majusi.