Manfaat Tahdzir

Berikut ini adalah beberapa manfaat pensyariatan tahdzir.

  1. Memelihara agama agar senantiasa terjaga dari berbagai perubahan

Dengan adanya tahdzir yang senantiasa ditegakkan oleh para nabi, rasul, dan para ulama yang menjadi pewaris para nabi; agama Allah subhanahu wa ta’ala senantiasa terjaga dan terpelihara dari berbagai perubahan yang hendak disusupkan oleh orang yang hatinya berpenyakit.

 Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَتَرَىٰ كَثِيرٗا مِّنۡهُمۡ يُسَٰرِعُونَ فِي ٱلۡإِثۡمِ وَٱلۡعُدۡوَٰنِ وَأَكۡلِهِمُ ٱلسُّحۡتَۚ لَبِئۡسَ مَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ ٦٢ لَوۡلَا يَنۡهَىٰهُمُ ٱلرَّبَّٰنِيُّونَ وَٱلۡأَحۡبَارُ عَن قَوۡلِهِمُ ٱلۡإِثۡمَ وَأَكۡلِهِمُ ٱلسُّحۡتَۚ لَبِئۡسَ مَا كَانُواْ يَصۡنَعُونَ ٦٣

“Dan kamu akan melihat kebanyakan dari mereka (orang-orang Yahudi) bersegera membuat dosa, permusuhan dan memakan yang haram. Sesungguhnya amat buruk apa yang mereka telah kerjakan itu. Mengapa orang-orang alim mereka, pendeta-pendeta mereka tidak melarang mereka mengucapkan perkataan bohong dan memakan yang haram? Sesungguhnya amat buruk apa yang telah mereka kerjakan itu.” (Al-Maidah: 62—63)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يَرِثُ هَذَا الْعِلْمَ مِنْ كُلِّ خَلَفٍ عُدُولُهُ، يَنْفَوْنَ عَنْهُ تَأْوِيلَ الْجَاهِلِينَ وَانْتِحَالَ الْمُبْطِلِينَ وَتَحْرِيفَ الْغَالِّينَ

“Yang mewarisi ilmu ini dari setiap generasi adalah kaum yang adil dan  terpercaya; yang menafikan penakwilan orang-orang jahil, anggapan ahlul batil, dan pengubahan yang dilakukan oleh orang-orang yang melampaui batas.” (HR. al-Baihaqi dari Ibrahim bin Abdirrahman al-Udzri; dinyatakan sahih oleh al-Albani dalam Misykatul Mashabih, 248)

 

  1. Menampakkan sikap al-wala wa al-bara dalam menegakkan prinsip-prinsip Islam

Islam mengajari kita bahwa rasa cinta dan benci harus dibangun karena Allah subhanahu wa ta’ala. Mencintai semua orang adalah hal yang tidak mungkin dalam syariat. Demikian pula membenci semua orang.

Di antara wujud rasa cinta kita karena Allah subhanahu wa ta’ala adalah bersikap loyal kepada mereka. Adapun bentuk kebencian kita karena Allah subhanahu wa ta’ala adalah berlepas diri dan memberi peringatan kepada kaum muslimin dari penyimpangan tersebut.

Hal ini merupakan tali keimanan yang sangat kokoh. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَوْثَقُ عُرَى الْإِيْمَانِ الْحُبُّ فِي اللهِ وَالْبُغْضُ فِي اللهِ

“Tali keimanan yang paling kokoh adalah cinta karena Allah subhanahu wa ta’ala dan benci karena Allah subhanahu wa ta’ala.” (HR. Ath-Thabarani dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma, dinyatakan sahih oleh al-Albani dalam ash-Shahihah, no. 998)

مَنْ أَحَبَّ وَأَبْغَضَ وَأَعْطَى وَمَنَعَ فَقَدِ اسْتَكْمَلَ الْإِيمَانَ

“Barang siapa mencintai karena Allah subhanahu wa ta’ala, membenci karena Allah subhanahu wa ta’ala, memberi karena Allah subhanahu wa ta’ala, dan mencegah karena Allah subhanahu wa ta’ala, sungguh dia telah menyempurnakan keimanan.” (HR. Abu Dawud dari Abu Umamah radhiallahu ‘anhu, dinyatakan sahih oleh al-Albani dalam ash-Shahihah, 380)

 

  1. Memberi peringatan kepada kaum muslimin dari berbagai penyimpangan

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “… Membantah ahli bid’ah dari kalangan Rafidhah dan yang lainnya, jika tidak bertujuan untuk menjelaskan kebenaran, memberi bimbingan kepada manusia, dan menyayangi mereka, serta berbuat baik kepada mereka, maka itu bukanlah amalan saleh.” (Minhajus Sunnah, 5/239)

tanda-seru-biru

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Menyingkap penyimpangan mereka, menerangkan tentang kebobrokan mereka, dan rusaknya kaidah mereka termasuk jihad fi sabilillah yang paling utama.” (ash-Shawa’iqul Mursalah, 1/301—302)

 

  1. Menunaikan amanat dengan menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar

Kewajiban para ulama ialah menyampaikan kebenaran dan tidak menyembunyikan ilmu, dengan senantiasa menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar, yang merupakan salah satu perintahAllah subhanahu wa ta’ala. Firman-Nya,

وَلۡتَكُن مِّنكُمۡ أُمَّةٞ يَدۡعُونَ إِلَى ٱلۡخَيۡرِ وَيَأۡمُرُونَ بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَيَنۡهَوۡنَ عَنِ ٱلۡمُنكَرِۚ وَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ ١٠٤

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” (Ali Imran: 104)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ

“Barang siapa di antara kalian yang melihat kemungkaran, hendaknya ia ubah dengan tangannya. Jika dia tidak mampu, dengan lisannya. Jika dia tidak mampu, dengan hatinya; dan itu adalah selemah-lemah iman.” (HR. Muslim dari Abu Said al-Khudri radhiallahu ‘anhu)

 

  1. Menyebarkan ilmu syar’i

Menyebarkan ilmu dan tidak menyembunyikannya adalah kewajiban para ahli ilmu. Sebab, mereka bertanggung jawab di hadapan Allah subhanahu wa ta’ala terhadap ilmu yang dimiliki. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَإِذۡ أَخَذَ ٱللَّهُ مِيثَٰقَ ٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡكِتَٰبَ لَتُبَيِّنُنَّهُۥ لِلنَّاسِ وَلَا تَكۡتُمُونَهُۥ فَنَبَذُوهُ وَرَآءَ ظُهُورِهِمۡ وَٱشۡتَرَوۡاْ بِهِۦ ثَمَنٗا قَلِيلٗاۖ فَبِئۡسَ مَا يَشۡتَرُونَ ١٨٧

Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil janji dari orang-orang yang telah diberi kitab (yaitu), “Hendaklah kamu menerangkan isi kitab itu kepada manusia, dan jangan kamu menyembunyikannya.” Lalu mereka melemparkan janji itu ke belakang punggung mereka dan mereka menukarnya dengan harga yang sedikit. Amatlah buruk tukaran yang mereka terima. (Ali Imran: 187)

Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah berkata dalam tafsirnya, “Ayat ini merupakan peringatan bagi para ulama agar tidak mengikuti jalan ahli kitab yang dapat menyebabkan mereka tertimpa musibah seperti yang menimpa ahli kitab tersebut.

 Para ulama wajib menyampaikan ilmu yang bermanfaat yang mereka miliki yang mengantarkan kepada amalan saleh. Mereka tidak boleh menyembunyikan sesuatu pun darinya.” (Tafsir Ibnu Katsir)

Demikian pula firman Allah subhanahu wa ta’ala,

إِنَّ ٱلَّذِينَ يَكۡتُمُونَ مَآ أَنزَلۡنَا مِنَ ٱلۡبَيِّنَٰتِ وَٱلۡهُدَىٰ مِنۢ بَعۡدِ مَا بَيَّنَّٰهُ لِلنَّاسِ فِي ٱلۡكِتَٰبِ أُوْلَٰٓئِكَ يَلۡعَنُهُمُ ٱللَّهُ وَيَلۡعَنُهُمُ ٱللَّٰعِنُونَ ١٥٩

“Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami terangkan kepada manusia dalam al-Kitab, mereka itu dilaknati Allah dan dilaknati (pula) oleh semua (makhluk) yang dapat melaknati.” (al-Baqarah:159)

Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Ini adalah ancaman yang keras bagi orang yang menyembunyikan apa yang dibawa oleh para rasul, yaitu petunjuk yang benar, yang mengarahkan kepada tujuan yang benar dan hidayah yang memberi manfaat kepada hati manusia setelah Allah subhanahu wa ta’ala menjelaskan kepada hamba-Nya melalui kitab yang diturunkan oleh para rasul-Nya.”

lampu-sirene

Oleh karena itu, para ulama senantiasa tegak menjelaskan kebenaran serta memperingatkan dari kebatilan dan penyimpangan.

Al-Imam ad-Darimi rahimahullah berkata dalam kitabnya yang membantah kaum Jahmiyah, “… Tatkala kami melihat hal ini dari mereka, memahami mazhab dan kekufuran serta penolakan mereka terhadap kitab dan para rasul yang mereka inginkan, serta penafian mereka sifat al-kalam, ilmu, dan segala ketetapan dari Allah subhanahu wa ta’ala kami memandang baik untuk menjelaskan ciri-ciri mazhab mereka berdasarkan al-Kitab, as-Sunnah, dan perkataan para ulama; yang dapat dijadikan pedoman bagi orang yang tidak menyadari keburukan mazhab mereka.

Dengan demikian, mereka dapat berhati-hati dengan menjaga diri dan keluarga mereka, serta bersungguh-sungguh membantah mereka, dengan mengharap ridha Allah subhanahu wa ta’ala, membela agama Allah subhanahu wa ta’ala, dan mengharapkan apa yang ada di sisi Allah subhanahu wa ta’ala.” (ar-Raddu alal Jahmiyah, 18—19)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menyebutkan, “Yang dimaksud ialah bahwa di antara umat ini—walhamdulillah—senantiasa ada orang yang memahami kebatilan ucapan orang yang batil lantas membantahnya. Mereka, dengan hidayah yang Allah subhanahu wa ta’ala berikan kepadanya, bersepakat menerima kebenaran dan membantah kebatilan, baik menyangkut sebuah pemikiran maupun riwayat, tanpa ada pernyataan kesepakatan bersama di antara mereka.” (Majmu’ Fatawa, 9/233)

 

  1. Menyelamatkan diri dari berbagai fitnah (keburukan)

Tatkala para ulama bangkit menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar, kaum muslimin senantiasa waspada sehingga tidak terjatuh ke dalam berbagai penyimpangan dan kesesatan tersebut.

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Sungguh keras pengingkaran ulama salaf dan para tokohnya terhadap bid’ah. Para ulama berteriak keras terhadap para pelakunya yang ada di berbagai belahan dunia dan memperingatkan fitnah mereka dengan sangat keras.

Bahkan, mereka mengingkarinya melebihi pengingkarannya terhadap perbuatan keji, kezaliman, dan permusuhan sebab kemudaratan yang dapat meruntuhkan agama dan melenyapkannya itu lebih

besar.” (Madarijus Salikin, 1/372)

 

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Muawiyah Askari bin Jamal