Meluruskan Peranan Akal Dalam Menafsirkan Al-Qur’an

Akal adalah salah satu pemberian Allah subhanahu wa ta’ala yang sangat bermanfaat bagi kemaslahatan hidup manusia di dunia dan akhirat. Dengan akal, manusia dapat memahami wahyu yang diturunkan Allah subhanahu wa ta’ala sehingga mampu mengenal kebenaran dan membedakannya dari kebatilan, tentu selama manusia tersebut memanfaatkan fungsi akal dengan sebaik-baiknya.

Namun, ketika seseorang menelantarkan pemanfaatan akal, tidak menggunakannya sebagaimana yang dikehendaki Allah subhanahu wa ta’ala dan diridhai-Nya, niscaya orang itu pun menjadi manusia yang rendah. Bahkan, lebih rendah dari hewan ternak. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَلَقَدۡ ذَرَأۡنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرٗا مِّنَ ٱلۡجِنِّ وَٱلۡإِنسِۖ لَهُمۡ قُلُوبٞ لَّا يَفۡقَهُونَ بِهَا وَلَهُمۡ أَعۡيُنٞ لَّا يُبۡصِرُونَ بِهَا وَلَهُمۡ ءَاذَانٞ لَّا يَسۡمَعُونَ بِهَآۚ أُوْلَٰٓئِكَ كَٱلۡأَنۡعَٰمِ بَلۡ هُمۡ أَضَلُّۚ أُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡغَٰفِلُونَ ١٧٩

“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia. Mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah). Mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu bagai binatang ternak bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.” (al-A’raf: 179)

Dan firman-Nya:

أَمۡ تَحۡسَبُ أَنَّ أَكۡثَرَهُمۡ يَسۡمَعُونَ أَوۡ يَعۡقِلُونَۚ إِنۡ هُمۡ إِلَّا كَٱلۡأَنۡعَٰمِ بَلۡ هُمۡ أَضَلُّ سَبِيلًا ٤٤

“Atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami? Mereka itu tidak lain hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu).” (al-Furqan: 44)

Jadi, akal diciptakan oleh Allah subhanahu wa ta’ala bukan untuk menentang al-haq. Akal diciptakan untuk memberi kemudahan dalam memahami hakikat jalan kebenaran tersebut. Karena itu, selama akal itu terjaga dari berbagai kotoran syubhat dan syahwat, dia akan selalu menyesuaikan dengan kebenaran yang datang dari Allah subhanahu wa ta’ala.

Maka dari itu, akal memiliki peran yang sangat kuat dalam memahami wahyu Allah subhanahu wa ta’ala, dengan mempelajari ilmu-ilmu dasar yang erat kaitannya dengan prinsip-prinsip dalam menafsirkan Al-Qur’an. Mulai dari kaidah bahasa Arab, sampai kaidah-kaidah (ushul) tafsir yang terdapat dalam Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dalam menafsirkan Al-Qur’an, dikenal dua cara penafsiran.

Pertama: tafsir bil ma’tsur atau disebut juga tafsir manqul

Yaitu menafsirkan Al-Qur’an Al-Karim dengan riwayat dan nash-nash, baik datangnya dari Allah subhanahu wa ta’ala seperti menafsirkan satu ayat dalam Al-Qur’an dengan ayat Al-Qur’an lainnya, menafsirkan ayat dengan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maupun menafsirkan ayat dengan apa yang diriwayatkan dari para sahabat radhiallahu ‘anhum. Termasuk di antaranya adalah menafsirkan sebagian ayat dengan apa yang diriwayatkan dari kalangan tabi’in, menurut pendapat yang lebih kuat.

Kedua: tafsir bir ra’yi atau disebut juga tafsir ma’qul

Yaitu menafsirkan Al-Qur’an berdasarkan ijtihad dengan keilmuan yang dimiliki oleh ahli tafsir tersebut dan pengetahuannya terhadap bahasa Arab serta kandungan-kandungannya, mengenal syair-syair arab, asbabun nuzul (sebab turunnya ayat), mengenal nasikh (ayat yang menghapus suatu hukum) dan mansukh (ayat yang dihapus hukumnya), serta hal lainnya yang dibutuhkan oleh seorang mujtahid dalam menafsirkan Al-Qur’an Al-Karim. (lihat kitab Syarah Muqaddamah Ushul at-Tafsir, Muhammad bin Umar Bazmul hlm. 25, at-Tafsir wal Mufassirun, Dr. Muhammad Husain adz-Dzahabi 4/41, Maktabah Syamilah)

Yang akan menjadi bahasan kita kali ini adalah bagian kedua, yaitu tafsir bir ra’yi.

Terjadi perbedaan pendapat di kalangan ulama tentang hukum menafsirkan Al-Qur’an dengan ra’yu (akal). Sebagian mengatakan, tidak diperbolehkan sama sekali menafsirkan Al-Qur’an dengan ra’yu. Namun, sebagian ulama membolehkannya. Dari penelitian, berijtihad dan ber-istinbath (menyimpulkan hukum) dalam menafsirkan Al-Qur’an diperbolehkan, berdasarkan beberapa alasan berikut.

  1. Adanya ayat-ayat yang menganjurkan mentadabburi (memerhatikan) ayat-ayat Allah subhanahu wa ta’ala.

Seperti firman-Nya:

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ ٱلۡقُرۡءَانَ أَمۡ عَلَىٰ قُلُوبٍ أَقۡفَالُهَآ ٢٤

“Maka apakah mereka tidak memerhatikan Al-Qur’an ataukah hati mereka terkunci?” (Muhammad: 24)

Juga firman-Nya:

كِتَٰبٌ أَنزَلۡنَٰهُ إِلَيۡكَ مُبَٰرَكٞ لِّيَدَّبَّرُوٓاْ ءَايَٰتِهِۦ وَلِيَتَذَكَّرَ أُوْلُواْ ٱلۡأَلۡبَٰبِ ٢٩

“Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memerhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran.” (Shad: 29)

وَإِذَا جَآءَهُمۡ أَمۡرٞ مِّنَ ٱلۡأَمۡنِ أَوِ ٱلۡخَوۡفِ أَذَاعُواْ بِهِۦۖ وَلَوۡ رَدُّوهُ إِلَى ٱلرَّسُولِ وَإِلَىٰٓ أُوْلِي ٱلۡأَمۡرِ مِنۡهُمۡ لَعَلِمَهُ ٱلَّذِينَ يَسۡتَنۢبِطُونَهُۥ مِنۡهُمۡۗ وَلَوۡلَا فَضۡلُ ٱللَّهِ عَلَيۡكُمۡ وَرَحۡمَتُهُۥ لَٱتَّبَعۡتُمُ ٱلشَّيۡطَٰنَ إِلَّا قَلِيلٗا ٨٣

“Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. Dan jika saja mereka menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan Ulil Amri). Kalau tidaklah karena karunia dan rahmat Allah atasmu, tentulah kamu mengikut setan, kecuali sebagian kecil saja (di antaramu).” (an-Nisa’: 83)

Sisi pendalilan ayat ini bahwa Allah subhanahu wa ta’ala menganjurkan untuk mentadabburi Al-Qur’an dan mengambil pelajaran dari ayat-ayatnya dengan ijtihad seorang alim, serta mengeluarkan istinbath berupa faedah-faedah hukum yang dapat diambil dari ayat-ayat tersebut.

  1. Doa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma:

اللَّهُمَّ فَقِّهْهُ فِى الدِّينِ وَعَلِّمْهُ التَّأْوِيلَ

“Ya Allah, faqihkan dia dalam agama dan ajarkan dia tafsir (Al-Qur’an).” (HR. Ahmad)

Kalaulah penafsiran itu hanya terbatas penukilan riwayat saja maka tidak ada keutamaan Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma dengan doa ini.

Oleh karena itu, Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma berkata, “Penafsiran itu ada empat sisi: satu sisi diketahui oleh bangsa Arab dari bahasanya, (yang kedua) tafsir yang tidak ada alasan bagi siapa pun yang jahil tentangnya, (yang ketiga) tafsir yang diketahui oleh para ulama, dan (yang keempat) tafsir yang tidak seorang pun yang mengetahui kecuali Allah subhanahu wa ta’ala.” (Muqaddamah fi Ushul at- Tafsir, Syaikhul Islam, hlm. 150, dengan Syarah Ibnu Utsaimin)

Sebagian ulama menyebutkan bahwa hakikatnya tidak terjadi perselisihan secara hakiki antara pendapat tersebut. Mereka yang melarang menafsirkan Al-Qur’an dengan ra’yu, yang dimaksud adalah menafsirkan Al-Qur’an tanpa ilmu dan (penafsirnya) tidak memenuhi standar sebagai orang yang mampu menafsirkan Al-Qur’an Al-Karim. (Lihat Fushul fi Ushul at-Tafsir, Musa’id bin Sulaiman ath-Thayyar hlm. 47 dan kitab at-Tafsir wal Mufassirun, 4/47)

Adapun hadits yang berbunyi:

وَمَنْ قَالَ فِى الْقُرْآنِ بِرَأْيِهِ فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ

“Barangsiapa berkata tentang Al-Qur’an dengan ra’yunya maka persiapkanlah tempat duduknya dalam neraka.” (HR. Ahmad dan at-Tirmidzi dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma)

Hadits ini adalah hadits yang lemah sebagaimana yang telah dijelaskan al-Albani dalam Silsilah adh-Dha’ifah (jilid 4 no. 1783).

Demikian pula hadits yang berbunyi:

        مَنْ قَالَ فِي الْقُرْآنِ بِرَأْيِهِ فَأَصَابَ فَقَدْ أَخْطَأَ

“Barangsiapa berkata tentang Al-Qur’an dengan ra’yunya lalu dia benar, maka sungguh dia telah salah.” (HR. at-Tirmidzi dari Jundub bin Abdullah radhiallahu ‘anhuma) juga merupakan hadits yang lemah, al-Albani melemahkannya dalam Dha’if at-Tirmidzi.

Namun yang perlu diketahui bahwa kebolehan menafsirkan Al-Qur’an dengan ra’yu bukan kemudian hal ini dijadikan senjata bagi para pengekor hawa nafsu untuk seenaknya menafsirkan Al-Qur’an demi membenarkan keyakinan batil yang diyakininya. Namun tetap harus memerhatikan syarat-syarat berikut:

  1. Tidak saling bertentangan (kontradiktif) dengan tafsir bil ma’tsur.
  2. Sejalan dengan konteks ayat baik sebelum maupun sesudahnya.
  3. Tidak bertentangan dengan kandungan lafadznya dari sisi bahasa.
  4. Tidak bertentangan dengan prinsip syariat.
  5. Tidak menguatkan keyakinan ahli bid’ah dan pengekor hawa nafsu yang tercela. (Lihat Syarah Muqaddamah Ushul at-Tafsir, hlm. 13)

Sebagai contoh tafsir yang tidak memenuhi syarat tersebut adalah penafsiran kaum Syi’ah terhadap firman Allah subhanahu wa ta’ala:

          إِنَّ ٱللَّهَ يَأۡمُرُكُمۡ أَن تَذۡبَحُواْ بَقَرَةٗۖ

“Sesungguhnya Allah memerintahkan kalian untuk menyembelih sapi.” (al- Baqarah: 67)

Mereka berkata bahwa yang dimaksud sapi di sini adalah Aisyah radhiallahu ‘anha. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala menghinakan kaum Syi’ah!

Demikian pula tafsir mereka terhadap firman Allah subhanahu wa ta’ala:

فَقَٰتِلُوٓاْ أَئِمَّةَ ٱلۡكُفۡرِ

“Maka perangilah pemimpin-pemimpin orang-orang kafir itu.” (at- Taubah: 12)

Mereka berkata, “Yang dimaksud imam-imam kekufuran adalah Thalhah dan Zubair (radhiallahu ‘anhuma).” (Lihat Syarah Muqaddamah Ushul at-Tafsir, Ibnu Utsaimin, hlm. 112)

Demikian pula, tidak diperbolehkan seseorang menafsirkan Al-Qur’an dengan ra’yu kecuali setelah menguasai beberapa ilmu berikut.

  1. Mengenal akidah salaf, seperti mengetahui tiga jenis tauhid: rububiyyah, uluhiyyah, dan asma’ dan sifat, serta mengimaninya dengan cara yang benar, meyakini bahwa Al-Qur’an itu kalamullah dan bukan makhluk, meyakini bahwa Allah subhanahu wa ta’ala di atas langit, dan keyakinan lainnya yang telah menjadi prinsip ulama salaf, agar seseorang tidak terjerumus dalam penafsiran yang menyelisihi prinsip-prinsip Islam.
  2. Dia menghafal dan mengerti ayat-ayat Al-Qur’an, sehingga dia mampu menafsirkan Al-Qur’an dengan Al-Qur’an atau mengembalikan ayat yang mutasyabih (samar maknanya) kepada yang muhkam (jelas maknanya). Lebih sempurna lagi jika dibarengi dengan memahami ilmu qira’ah.
  3. Mengerti tentang sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sehingga dia dapat menafsirkan Al-Qur’an berdasarkan penjelasan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berijtihad dengannya.
  4. Dia harus mengerti perkataan para sahabat radhiallahu ‘anhum sehingga ketika dia menafsirkan, tidak menyelisihi penafsiran para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebab, segala bentuk penafsiran yang menyelisihi tafsir para sahabat adalah penafsiran yang batil. Seperti firman Allah subhanahu wa ta’ala:

فَلَمَّآ ءَاتَىٰهُمَا صَٰلِحٗا جَعَلَا لَهُۥ شُرَكَآءَ فِيمَآ ءَاتَىٰهُمَاۚ

“Tatkala Allah memberi kepada keduanya seorang anak yang sempurna, maka keduanya menjadikan sekutu bagi Allah terhadap anak yang telah dianugerahkan-Nya kepada keduanya itu.” (al-A’raf: 190)

Telah dinukil dari para sahabat dan tabi’in bahwa dhamir (kata ganti) “keduanya” dalam ayat ini yang dimaksud adalah Adam dan Hawa. Sementara dinukilkan dari al-Hasan rahimahullah bahwa beliau berkata, “Yang dimaksud adalah Yahudi dan Nasrani.” Ibnu Jarir ath-Thabari rahimahullah berkata, “Pendapat pertama lebih benar, karena kesepakatan hujjah para ahli tafsir terhadap pendapat tersebut.”

  1. Mengerti tentang keadaan dan kondisi bangsa Arab di masa itu, agar kemudian dia tidak menempatkan ayat-ayat tersebut bukan pada tempat yang sebenarnya.
  2. Menguasai ilmu bahasa Arab, meliputi ilmu nahwu, sharaf, balaghah dengan tiga jenisnya: ilmu ma’ani, badi’, dan bayan. Dengan bekal ini, ia dapat menafsirkan ayat dengan penafsiran yang tidak bertentangan dengan bahasa Arab.

Tidak seperti kaum Asy’ariyah yang salah menafsirkan makna istawa ‘ala yang dalam bahasa Arab bermakna tinggi dan naik, namun mereka tafsirkan dengan makna istaula yang artinya menguasai. Ini adalah penafsiran yang menyelisihi Al-Qur’an, as-Sunnah, kesepakatan ulama salaf, dan bahasa Arab.

Demikian pula dengan mengenal ilmu balaghah, seseorang dapat mengenal berbagai rahasia dan hikmah yang tersimpan dalam kalimat-kalimat yang indah susunan dan maknanya dari wahyu Allah subhanahu wa ta’ala.

لَّا يَأۡتِيهِ ٱلۡبَٰطِلُ مِنۢ بَيۡنِ يَدَيۡهِ وَلَا مِنۡ خَلۡفِهِۦۖ تَنزِيلٞ مِّنۡ حَكِيمٍ حَمِيدٖ ٤٢

“Yang tidak datang kepadanya (Al-Qur’an) kebatilan baik dari depan maupun dari belakangnya, yang diturunkan dari Rabb Yang Mahabijaksana lagi Maha Terpuji.” (Fushshilat: 42) [Qismut Tafsir, Shalih Alusy Syaikh, Manahij al-Mufassirin, 3/15—16, Maktabah Syamilah]

Paparan di atas menjelaskan kepada kita bahwa menafsirkan Al-Qur’an dengan ra’yu bukanlah perkara yang mudah dan bisa dilakukan dengan serampangan. Namun dibutuhkan penguasaan ilmu alat yang mumpuni dalam hal tersebut, disertai dengan sikap wara’ dan penuh rasa takut kepada Allah subhanahu wa ta’ala, sehingga dia tidak mengada-ada dalam menafsirkan firman Allah subhanahu wa ta’ala. Firman-Nya:

          قُلۡ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ ٱلۡفَوَٰحِشَ مَا ظَهَرَ مِنۡهَا وَمَا بَطَنَ وَٱلۡإِثۡمَ وَٱلۡبَغۡيَ بِغَيۡرِ ٱلۡحَقِّ وَأَن تُشۡرِكُواْ بِٱللَّهِ مَا لَمۡ يُنَزِّلۡ بِهِۦ سُلۡطَٰنٗا وَأَن تَقُولُواْ عَلَى ٱللَّهِ مَا لَا تَعۡلَمُونَ ٣٣

Katakanlah, “Rabbku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang tampak maupun yang tersembunyi, perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu, dan (mengharamkan) mengadaadakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui.” (al-A’raf: 33)

Ubaidullah bin Umar berkata, “Sungguh aku telah mendapati para ahli fikih di Madinah, mereka sangat keras terhadap orang yang bermudah-mudah dalam menafsirkan. Di antara mereka adalah Salim bin Abdullah, Qasim bin Muhammad, Sa’id bin Musayyib, dan Nafi’.” (Tafsir ath-Thabari, 1/37)

Dari pemaparan ini, jelas bagi kita bahwa tidak ada celah bagi para pengekor hawa nafsu, ahli bid’ah, serta mereka yang terpengaruh berbagai pemikiran sesat seperti filsafat, ilmu kalam, liberalisme, rasionalisme, dan yang semisalnya. Sebab mereka tidak termasuk orang-orang yang memenuhi persyaratan dalam menafsirkan Al-Qur’an.

Wallahul muwaffiq.

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Karimah Askari bin Jamal