Membaca Kitab Bantahan Mengeraskan Hati

Ada orang yang menganggap bahwa sering membaca kitab yang berkaitan dengan bantahan terhadap orang yang menyelisihi manhaj salaf dapat mengeraskan hati dan menyebabkan seseorang merasa imannya semakin melemah. Sebab, rudud (bantah-membantah) membahas tentang kelompok, orang yang menyimpang, dan semisalnya. Sebaliknya, dia menganjurkan untuk lebih memperbanyak kitab yang membahas masalah zuhud dan semisalnya.

Para pembaca yang mulia, perlu diketahui bahwa membahas tentang kelompok sempalan yang menyimpang atau orang tertentu yang menyelisihi al-haq adalah kewajiban syar’i yang diperintahkan oleh Allah ‘azza wa jalla dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebab, hal ini termasuk bagian dari amar ma’ruf nahi mungkar.

amar-ma'ruf-nahi-munkar

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

وَلۡتَكُن مِّنكُمۡ أُمَّةٞ يَدۡعُونَ إِلَى ٱلۡخَيۡرِ وَيَأۡمُرُونَ بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَيَنۡهَوۡنَ عَنِ ٱلۡمُنكَرِۚ وَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ ١٠٤

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” (Ali Imran: 104)

Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَتَأْمُرُنَّ بِالمَعْرُوفِ وَلَتَنْهَوُنَّ عَنِ الْمُنْكَرِ أَوْ لَيُوشِكَنَّ اللهُ أَنْ يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عِقَابًا مِنْهُ ثُمَّ تَدْعُونَهُ فَلاَ يُسْتَجَابُ لَكُمْ

“Demi Allah yang jiwaku berada di tangan-Nya, hendaknya kalian memerintahkan yang ma’ruf, dan hendaknya kalian mencegah dari kemungkaran, atau Allah ‘azza wa jalla akan menurunkan kepada kalian siksaan dari-Nya lalu kalian berdoa kepadanya lalu doa tersebut tidak dikabulkan.” ( HR. Ahmad dan at-Tirmidzi dari Hudzaifah radhiallahu ‘anhu, dinyatakan hasan oleh al-Albani dalam Shahih al-Jami’)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menjelaskan, “Seperti para tokoh bid’ahama yang memiliki ucapan yang menyelisihi al-Kitab dan as-Sunnah atau berbagai ibadah yang menyelisihi al-Kitab dan as-Sunnah; sesungguhnya menjelaskan keadaan mereka dan memperingatkan umat dari mereka adalah hal yang wajib berdasarkan kesepakatan kaum muslimin.

Ketika dikatakan kepada al-Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah, ‘Seseorang berpuasa, shalat, dan beri’tikaf; apakah itu lebih engkau sukai daripada berbicara tentang ahli bid’ah?’

Beliau menjawab, ‘Apabila dia tegak mengerjakan shalat dan beri’tikaf, kebaikannya hanya untuk dirinya sendiri. Apabila dia berbicara tentang ahli bid’ah, itu untuk kebaikan kaum muslimin. Tentu ini lebih afdal’.’ (Majmu’ al-Fatawa, 28/231)

Ibnul Jauzi rahimahullah berkata, “Aku diberitakan dari Abu Bakr al-Khallal, dari al-Marwazi, dari Muhammad bin Sahl al-Bukhari berkata, ‘Suatu ketika kami berada di sisi al-Qurbani. Beliau menyebut ahli bid’ah. Lalu ada seseorang berkata, ‘Seandainya engkau beritakan hadits kepada kami, itu lebih kami sukai. ’Beliau marah lalu berkata, ‘Ucapanku terhadap ahli bid’ah lebih aku sukai daripada beribadah selama enam puluh tahun’.” (Talbis Iblis, hlm. 16)

Satu hal yang juga penting untuk diketahui bahwa kitab rudud terdapat banyak faedah yang berkaitan dengan berbagai cabang ilmu; baik ilmu tauhid, ilmu fikih, ilmu ushul, musthalah hadits, bahasa Arab, nasihat, zuhud, peringatan terhadap bahaya dunia, mengingatkan terhadap akhirat, biografi tokoh Islam dari kalangan ulama salaf, maupun faedah lain yang sangat erat kaitannya dengan sikap berpegang teguh kepada Kitabullah dan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lantas bagaimana bisa dikatakan bahwa kitab rudud membuat hati menjadi keras? Justru sebaliknya, kitab rudud akan semakin membuka hati seseorang untuk memahami dengan baik makna yang terdapat di dalam Kitabullah dan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Al-Allamah Rabi’ bin Hadi al- Madkhali hafizhahullah berkata, “Tuntutlah ilmu, dan bersungguh-sungguhlah dalam menuntut ilmu. Singsingkan lenganmu dengan penuh kesungguhan dalam menuntut ilmu. Termasuk hal yang membantu kalian untuk mendapatkan ilmu yang sahih adalah kitab rudud.

Sesungguhnya kitab tersebut adalah bagian yang penting dari menuntut ilmu. Orang yang tidak mengenal kitab rudud meskipun menghafal berbagai ilmu—semoga Allah ‘azza wa jalla memberi berkah kepadamu—, dia berada dalam sikap yang goncang!!”

Beliau juga berkata, “Kitab rudud penuh dengan ilmu. Engkau tidak mendapati ilmu yang hidup berdenyut, yang membedakan antara yang haq dan batil, kecuali dalam kitab rudud. Demi Allah subhanahu wa ta’ala, al-Qur’an membantah para pengusung kekufuran dan kesesatan, membantah orang-orang munafik, serta membantah Yahudi dan Nasrani; tidak dibiarkan satu kesesatan pun kecuali al-Qur’an membantah, melumat, dan menjelaskan kesesatannya.

As-Sunnah demikian pula. Manhaj salaf penuh dengan hal ini. Kitab akidah dan kitab al-jarh wat-ta’dil penuh dengan kritikan dan bantahan terhadap pengusung kebatilan. Sebab, al-haq dan al-batil tidak dapat dibedakan kecuali dengan kritikan dan bantahan.” (Kaset Asbabul Inhiraf wa Washaya fi al-Manhaj)

Beliau juga berkata, “Memerangi bantahan Ahlus Sunnah pada masa kini dimulai oleh Ikhwanul Muslimin yang sebelumnya telah menyebarkan ucapan batil, keyakinan yang rusak, kitab yang menyesatkan, dan berbagai celaan yang zalim terhadap Ahlus Sunnah.

Tatkala sebagian Ahlus Sunnah bangkit membantah kebatilan, fitnah, dan tipu daya mereka, mereka menanamkan ke dalam pemikiran manusia celaan terhadap orang yang membantah dan kitab bantahan.

Satu hal yang sangat disayangkan tatkala kita melihat ada sebagian Ahlus Sunnah yang sering mendengungkan apa yang telah ditanamkan oleh Ikhwanul Muslimin tersebut, yaitu celaan terhadap kitab rudud dan mengingkari sikap membantah kepada ahli bid’ah, penyebar fitnah, dan kesesatan.” (Bayan Ma fi Nashihati Ibrahim ar-Ruhaili minal Khalal wal Ikhlal)

bantahan-syaikh-rabi-atas-ibrahim-arruhaili
kitab-bayan

Al-Allamah Shalih al-Fauzan hafizhahullah ditanya, “Semoga Allah ‘azza wa jalla memberi kebaikan kepada Anda. Ada sebagian orang yang berkata bahwa membantah para pengikut hawa nafsu dan bid’ah, menyia-nyiakan waktu dan tidak memberi manfaat kepada orang awam. Apakah ini benar?”

Beliau menjawab, “Ini yang membuat orang telantar! Orang yang mengucapkan perkataan ini justru yang telantar. Adapun menjelaskan kebenaran berarti mengembalikan kepada al-haq serta menyatukan umat di atas al-haq dan kebenaran tersebut.” (Ceramah as-Salafiyah Haqiqatuha wa Simatuha)

Beliau juga ditanya, “Apa pendapat Anda tentang orang yang berkata bahwa kitab rudud mengeraskan hati?”

Beliau hafizhahullah menjawab, “Tidak, justru meninggalkan bantahan itulah yang mengeraskan hati. Sebab, manusia hidup di atas kesalahan dan kesesatan yang menyebabkan kerasnya hati mereka. Jadi, ketika kebenaran dijelaskan dan kebatilan dibantah, ini termasuk yang melembutkan hati. Tidak ada keraguan dalam hal ini.” (http:// majles.alukah.net/t7712/)

Jelaslah bagi kita bahwa membaca kitab rudud tidak mengeraskan hati seseorang. Membaca kitab rudud justru memberi penerangan kepada seorang muslim untuk mengenal kebenaran dan kebatilan secara rinci sehingga dia mudah meninggalkan kebatilan tersebut dan kokoh di atas al-haq.

Yang menyebabkan kerasnya hati adalah ketika seseorang menyimpang dari kebenaran dalam keadaan hujah telah ditegakkan kepadanya, namun dia menunda waktu untuk segera kembali kepada jalan Allah ‘azza wa jalla. Lama-kelamaan hati mereka mengeras dan sulit untuk menerima al-haq.

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

أَلَمۡ يَأۡنِ لِلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ أَن تَخۡشَعَ قُلُوبُهُمۡ لِذِكۡرِ ٱللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ ٱلۡحَقِّ وَلَا يَكُونُواْ كَٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡكِتَٰبَ مِن قَبۡلُ فَطَالَ عَلَيۡهِمُ ٱلۡأَمَدُ فَقَسَتۡ قُلُوبُهُمۡۖ وَكَثِيرٞ مِّنۡهُمۡ فَٰسِقُونَ ١٦

“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan al-Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.(Al-Hadid: 16)

 

Ditulis oleh al-Ustadz Abu Muawiyah Askari bin Jamal