Membungkam Lolongan Para Thaghut Penyeru Pluralisme dan Inkluvisme

MEMBUNGKAM LOLONGAN PARA THAGHUT PENYERU PLURALISME DAN INKLUSIVISME[1]

Abu Hurairah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan hadits dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwasanya beliau bersabda,

وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ، لاَ يَسْمَعُ بِي أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الأُمَّةِ يَهُوْدِيٌّ وَلاَ نَصْرَانِيٌّ، ثُمَّ يَمُوْتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ إِلاَّ كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ

“Demi Dzat yang jiwa Muhammad di tangan-Nya! Tidaklah mendengar dariku seseorang dari umat ini[2] baik orang Yahudi maupun orang Nasrani, kemudian ia mati dalam keadaan ia tidak beriman dengan risalah yang aku bawa, kecuali ia menjadi penghuni neraka.”

Hadits yang mulia di atas diriwayatkan al-Imam Muslim rahimahullah dalam kitab Shahih-nya no. 153 dan diberi judul bab oleh al-Imam an-Nawawi rahimahullah “Wujubul Iman bi Risalatin Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ila Jami’in Nas wa Naskhul Milali bi Millatihi” (Wajibnya seluruh manusia beriman dengan risalah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan terhapusnya seluruh agama/keyakinan yang lain dengan agamanya).

Hadits ini menunjukkan terhapusnya seluruh agama dengan diutusnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Seluruh manusia (dan jin) yang menemui zaman pengutusan beliau sampai hari kiamat wajib untuk menaati beliau. Di sini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hanya menyebut Yahudi dan Nasrani karena mereka berdua memiliki kitab (yang diturunkan dari langit). Hal ini diinginkan sebagai peringatan bagi selain keduanya, sehingga lazimnya apabila mereka (Yahudi dan Nasrani) saja harus tunduk dan menaati beliau, maka selain keduanya yang tidak memiliki kitab lebih pantas lagi untuk tunduk. (Syarah Shahih Muslim lin Nawawi, 2/188, Darur Rayyan 1407 H)

Islam mengajarkan umatnya bahwa agama selainnya adalah kafir, sehingga dalam keyakinan Islam, agama lain tidak bisa dibenarkan keberadaannya. Hal ini telah dinyatakan oleh Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Salah satu tujuan diutusnya Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah menghapuskan agama selain Islam, sehingga yang ada hanyalah Islam, walaupun Islam masih memberikan batasan-batasan hukum kepada yang lainnya yang dikenal dengan hukum bagi ahludz dzimmah.

Islam sendiri membagi muamalah antara penganutnya dengan orang kafir menjadi empat: kafir harbi, kafir musta’man, kafir mu’ahad, dan kafir dzimmi, sehingga setiap golongan diperlakukan sesuai dengan golongannya. Inilah toleransi positif dan benar yang sesuai dengan ketetapan agama Allah subhanahu wa ta’ala serta tidak diragukan kebenarannya, sehingga batillah seruan para thaghut pluralis yang menyatakan bahwa toleransi seperti ini, tanpa ada dalil dari Kitabullah dan Sunnah, sebagai toleransi dalam penafsiran negatif sebagaimana tertera dalam buku mereka Pluralitas Agama: Kerukunan dalam Keberagaman, hlm. 13, Penerbit Buku Kompas, 2001. Sebagai konsekuensi toleransi ini, mereka harus menerima pengkafiran kaum muslimin terhadap agama lain dan penganutnya.

 

Agama Islam Menghapus Seluruh Ajaran Agama Sebelumnya

menghapus

Allah subhanahu wa ta’ala telah mengutus para nabi dan rasul untuk menegakkan hujah-Nya di muka bumi, sehingga tidak ada alasan bagi para hamba bila enggan beriman setelah itu. Tidak ada satu umat pun melainkan telah datang kepada mereka seorang pemberi peringatan dan pembawa kabar gembira, sejak rasul yang pertama, Nuh ‘alaihissalam, dan ditutup oleh nabi dan rasul yang terakhir Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam Seruan semua utusan Allah subhanahu wa ta’ala tersebut adalah satu, yaitu:

ٱعۡبُدُواْ ٱللَّهَ وَٱجۡتَنِبُواْ ٱلطَّٰغُوتَۖ

“Beribadahlah kalian kepada Allah dan jauhilah thaghut.” (an-Nahl: 36)

Agama para nabi dan rasul tersebut satu yaitu Islam, karena pengertian Islam secara umum adalah beribadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan apa yang Dia syariatkan sejak Allah subhanahu wa ta’ala mengutus para rasul sampai datangnya hari kiamat.

Sebagaimana Allah subhanahu wa ta’ala sebutkan hal ini dalam banyak ayat, yang semuanya menunjukkan bahwasanya syariat-syariat terdahulu (umat sebelum kita) seluruhnya adalah Islam (tunduk) kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Seperti firman Allah subhanahu wa ta’ala menyebutkan doa Nabi Ibrahim ‘alaihissalam,

رَبَّنَا وَٱجۡعَلۡنَا مُسۡلِمَيۡنِ لَكَ وَمِن ذُرِّيَّتِنَآ أُمَّةٗ مُّسۡلِمَةٗ لَّكَ

“Wahai Rabb kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk berserah diri kepadamu (muslim) dan jadikanlah anak turunan kami sebagai umat yang tunduk berserah diri (muslim) kepadamu.” (al-Baqarah: 128)

Adapun Islam dengan makna yang khusus adalah agama yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menghapuskan seluruh ajaran nabi dan rasul terdahulu, sehingga orang yang mengikuti beliau berarti telah berislam, sedangkan yang menolak beliau bukan orang Islam.

Pengikut para rasul adalah muslimin di zaman rasul mereka. Yahudi adalah muslimin di zaman Nabi Musa ‘alaihissalam, dan Nasrani adalah muslimin di zaman Nabi ‘Isa ‘alaihissalam, jika mereka benar-benar mengikuti syariat rasul mereka. Adapun setelah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus, lalu mereka tidak mau beriman kepada beliau maka mereka bukan muslimin (baca: orang Islam). (Syarh Tsalatsatil Ushul, al-Imam asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, hlm. 20—21, Dar ats-Tsurayya, 1417 H)

Agama Islam inilah yang diterima oleh Allah subhanahu wa ta’ala dan Dia tidak menerima agama selainnya:

إِنَّ ٱلدِّينَ عِندَ ٱللَّهِ ٱلۡإِسۡلَٰمُۗ

“Sesungguhnya agama (yang diterima) di sisi Allah adalah agama Islam.” (Ali Imran: 19)

وَمَن يَبۡتَغِ غَيۡرَ ٱلۡإِسۡلَٰمِ دِينٗا فَلَن يُقۡبَلَ مِنۡهُ وَهُوَ فِي ٱلۡأٓخِرَةِ مِنَ ٱلۡخَٰسِرِينَ ٨٥

“Siapa yang mencari agama selain agama Islam maka tidak akan diterima agama itu darinya dan di akhirat dia termasuk orang-orang yang merugi.” (Ali ‘Imran: 85)

Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Allah subhanahu wa ta’ala mengabarkan bahwa tidak ada agama yang diterima di sisi-Nya selain Islam, dengan mengikuti para rasul dalam pengutusannya pada setiap masa, sampai ditutup oleh nabi dan rasul yang akhir Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian Allah subhanahu wa ta’ala menutup seluruh jalan kepada-Nya kecuali dari sisi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dengan begitu, siapa pun yang bertemu dengan Allah subhanahu wa ta’ala setelah diutusnya Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan beragama selain syariat yang beliau bawa dan ajarkan, maka tidak diterima agama tersebut darinya.” (Tafsir Ibnu Katsir, 2/19, Maktabah Taufiqiyah)

Agama Islam inilah yang Allah subhanahu wa ta’ala anugerahkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan umat beliau, dan Allah nyatakan sebagai agama yang diridhai-Nya,

          ٱلۡيَوۡمَ أَكۡمَلۡتُ لَكُمۡ دِينَكُمۡ وَأَتۡمَمۡتُ عَلَيۡكُمۡ نِعۡمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ ٱلۡإِسۡلَٰمَ دِينٗاۚ

“Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kalian agama kalian, dan Aku sempurnakan nikmat-Ku atas kalian dan Aku ridha Islam sebagai agama kalian.” (al-Maidah: 3)

Dalam ayat yang mulia di atas, Allah subhanahu wa ta’ala mengabarkan bahwa agama Islam yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada seluruh manusia adalah agama yang sempurna, mencakup seluruh perkara yang cocok diterapkan di setiap zaman, setiap tempat, dan setiap umat. Islam adalah agama yang sarat dengan ilmu, kemudahan, keadilan dan kebaikan. Islam adalah pedoman hidup yang jelas, sempurna dan lurus untuk seluruh bidang kehidupan. Islam adalah agama dan negara (daulah), di dalamnya terdapat manhaj yang haq dalam bidang hukum, pengadilan, politik, kemasyarakatan, dan perekonomian serta segala perkara yang dibutuhkan oleh manusia dalam kehidupan dunia mereka, dan dengan Islam nantinya mereka akan bahagia di kehidupan akhirat. (Dinul Haq, Abdurrahman bin Hammad Alu Muhammad, hlm. 35, diterbitkan oleh Wazaratusy Syu’unil Islamiyah al-Mamlakah al-’Arabiyyah as-Su’udiyyah, 1420 H)

Dengan demikian, wajib bagi setiap orang yang mengaku mengikuti agama para rasul, apakah itu Yahudi ataupun Nasrani, untuk beriman dan tunduk kepada agama Islam yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bila mereka enggan dan berpaling, berarti mereka adalah orang-orang kafir walaupun mereka mengaku beriman kepada Nabi Musa dan Nabi Isa ’alaihimassalam. Pada hakikatnya mereka tidak dipandang beriman kepada Nabi Musa dan Nabi ‘Isa ’alaihimassalam sampai mereka mau beriman kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. (Dinul Haq, hlm. 33)

 

Pemaksaan Para Thaghut Pluralisme-Inklusivisme agar Agama Lain Juga Diterima sebagai Suatu Kebenaran

Agama Islam adalah kebenaran mutlak, adapun selain Islam adalah kekufuran. Siapa pun yang enggan untuk beragama dengan Islam yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam maka ia kafir.

Namun kebenaran mutlak ini ditolak oleh para thaghut pluralis dan inklusif Paramadina, JIL dan yang lainnya dengan memaksakan agar Islam jangan merasa benar sendiri tapi perlu melihat kebenaran pada agama lain. Seperti tulisan Budhy Munawar Rahman, pengajar filsafat di Universitas Paramadina Jakarta, yang dimuat dalam situs www.Islamlib.com, 13 Januari 2002, berjudul Memudarnya Kerukunan Hidup Beragama, Agama-Agama Harus Berdialog, dan juga di harian Republika, 24 Juni 2000, berjudul Mengembalikan Kerukunan Umat Beragama.

Dalam tulisannya, ia memaksakan teologi pluralis dengan melihat agama-agama lain sebanding dengan agama Islam, dan juga terhadap ayat Allah subhanahu wa ta’ala yang menunjukkan agama yang Allah subhanahu wa ta’ala terima dan Allah subhanahu wa ta’ala ridhai hanyalah agama Islam (Ali Imran: 19 dan 85).

Diajaknya orang-orang untuk membaca ayat ini dengan semangat inklusif, semangat agama universal dengan memaknakan Islam sebagai agama yang penuh kepasrahan kepada Allah subhanahu wa ta’ala sehingga semua agama bisa dimasukkan ke dalamnya asalkan berpasrah diri kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Demikian juga Muhammad Ali, dosen IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta, yang membuat tulisan di harian Republika (14 Maret 2002) berjudul Hermeunetika dan Pluralisme Agama. Ia mengajak orang agar tidak memahami ayat Allah dalam surat Ali Imran ayat 19 dan 85 dalam bingkai teologi eksklusif yakni keyakinan bahwa jalan kebenaran dan jalan keselamatan bagi manusia hanyalah dapat dilalui melalui jalan Islam. Namun, ayat ini harus dipahami dengan teologi pluralis dan teologi inklusif.

Demikian pula Nurcholish Madjid, tokoh mereka yang sangat rajin mengumbar teologi sesatnya, ia menganggap banyak agama yang benar, tidak hanya Islam (Teologi Inklusif Cak Nur karya Sukidi, Kompas, 2001).

Saat memberi kata pengantar buku Pluralitas Agama Kerukunan dalam Keragaman, hlm. 6 (Penerbit Buku Kompas, 2001), Nurcholish mengucapkan kalimat yang seolah itu benar namun sebenarnya batil: “Kendatipun cara, metode, atau jalan keberagamaan menuju Tuhan berbeda-beda, namun Tuhan yang hendak kita tuju adalah Tuhan yang sama, Allah Yang Maha Esa.”

Kalimat ini menunjukkan ia mengakui keberadaan semua agama dan menyejajarkannya satu sama lain sehingga Islam sama dengan Nasrani, Hindu, Buddha, Majusi, Shinto, dan Konghuchu!! Karena semua agama itu menuju Tuhan walau jalan yang ditempuh berbeda (Ulil Abshar Abdalla; Menyegarkan Kembali Pemahaman Islam, Kompas, 18 Nov 2002 dan situs islamlib.com). Wal’iyadzu billah.

Orang-orang ini enggan untuk mengibarkan bendera permusuhan dengan kaum kafirin dari kalangan Yahudi dan Nasrani, dan enggan pula menganggap salah agama selain Islam. Di antara sebabnya, ketika mereka berhadapan dengan ayat Allah subhanahu wa ta’ala,

        وَلَن تَرۡضَىٰ عَنكَ ٱلۡيَهُودُ وَلَا ٱلنَّصَٰرَىٰ حَتَّىٰ تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمۡۗ

“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan ridha kepadamu sampai engkau mau mengikuti agama mereka.” (al-Baqarah: 120)

Disimpulkan oleh Quraisy Shihab bahwa ayat di atas dikhususkan kepada orang-orang Yahudi dan umat Nasrani tertentu yang hidup pada zaman Nabi, dan bukan kepada umat Nasrani dan Yahudi secara keseluruhan (Pluralitas Agama Kerukunan dalam Keragaman, hlm. 26). Sementara diijinkannya memerangi orang kafir bukan diperuntukkan terhadap umat Nasrani dan yang semacamnya yang termasuk Ahli Kitab.

 simpul-hidup

Buku Fikih Lintas Agama Ingin Memberangus Islam

Para thaghut ini sangat menentang syariat Islam karena menurut mereka akan mendiskreditkan penganut agama lain dan juga mereka beranggapan hukum Islam itu menzalimi kaum wanita, bertentangan dengan HAM, tidak manusiawi seperti hukum rajam, dibolehkannya perbudakan dan masalah waris (Islam Liberal Paradigma Baru Wacana dan Aksi Islam Indonesia, Zuly Qodir, hlm. 187—192, Pustaka Pelajar, 2003, dan tulisan-tulisan di www.islamlib.com).

Kerja sesat mereka tidak sampai di situ. Dengan beraninya mereka membatalkan hukum Islam dengan logika mereka yang dangkal, kemudian lahirlah buku buhul-buhul setan karya mereka seperti Fiqih Lintas Agama (FLA) yang diterbitkan Yayasan Wakaf Paramadina bekerjasama dengan yayasan kafirin The Asia Foundation yang berpusat di Amerika. Dalam buku yang sangat jauh dari ilmiah ini, mereka menggugat hukum Islam yang kata mereka terkesan eksklusif dan merasa benar sendiri. Mereka permainkan ayat-ayat al-Qur’an (hlm. 20—21, 49, 214, 249), menolak haditshadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang tidak sesuai dengan semangat pluralisme inklusivisme mereka (hlm. 70—71), mencaci maki Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang membawakan hadits tersebut (hlm. 70), mengecam para imam salaf seperti al-Imam Syafi’i (hlm. 5, 167—168), dan memanipulasi ucapan ulama seperti Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dan ditarik-tarik agar menyepakati kemauan mereka (seperti pada hlm. 55).

Bahkan mereka mengusung hak kafirin untuk menghadang syariat Islam dan membela orang kafir mati-matian, sehingga mereka pun menyatakan boleh mengucapkan salam kepada nonmuslim (hlm. 66—78), boleh mengucapkan selamat Natal dan selamat hari raya agama lain (hlm. 78—85), boleh menghadiri perayaan hari-hari besar agama lain (hlm. 85—88), bolehnya doa bersama antar pemeluk agama yang berbeda (hlm. 89—107), bolehnya wanita muslimah menikah dengan lakilaki kafir (hlm. 153—165), bolehnya orang kafir mewarisi harta seorang muslim (waris beda agama) (hlm. 165—167), serta sejumlah kesesatan dan kekufuran berpikir lainnya.

Betapa para thaghut penulis buku yang sesat ini memperjuangkan mati-matian teologi pluralisme, ajaran mempersamakan semua agama, seolah teologi ini tak dapat ditawar, sehingga syariat Islam yang tidak toleran dengan teologi ini berusaha mereka kebiri.

Betapa tidak tolerannya buku sesat ini terhadap akidah islamiah yang menetapkan kebenaran hanya pada agama Islam, sementara di luar Islam adalah agama kekafiran. Betapa tidak tolerannya buku buhul-buhul setan ini terhadap ketetapan syariat Islam, bahkan berupaya memberangus dan membumihanguskan syariat Islam yang diturunkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Sebaliknya buku ini sangat toleran kepada musuh-musuh Islam!!!

Untuk menggiring kaum muslimin agar menerima agama di luar Islam serta tidak memandang Yahudi dan Nasrani sebagai musuh, mereka mengatakan, “Segi persamaan yang sangat asasi antara semua kitab suci adalah ajaran Ketuhanan Yang Maha Esa. Hal ini berbeda dengan persoalan kaum musyrik yang pada zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tinggal di kota Makkah. Kepada mereka inilah dialamatkan firman Allah subhanahu wa ta’ala, “Katakan (Muhammad), ‘Aku tidak menyembah yang kamu sembah dan kamu pun tidak menyembah yang aku sembah’…” Ayat yang sangat menegaskan perbedaan konsep “sesembahan” ini ditujukan kepada kaum musyrik Quraisy dan bukan kepada ahli kitab.” (FLA, hlm. 55—56)

Demikianlah lolongan para thaghut tersebut, yang pada intinya ingin menyatakan bahwa kebenaran tidak hanya pada Islam saja sehingga jangan merasa benar sendiri. Lolongan ini sebetulnya hanya mengikuti dan melanjutkan pendahulunya, Harun Nasution, yang telah lebih dahulu menyatakan dengan lolongannya,“Mencoba melihat kebenaran yang ada di agama lain.” (Harun Nasution, Islam Rasional Gagasan dan Pemikiran, hlm.275, Mizan, 1998)

Perlu dan wajib bagi kita untuk membungkam lolongan mulut kotor para thaghut pluralis ini yang sudah memakan banyak korban akibat mendengarkan lolongan mereka, dengan kita mendatangkan kebenaran dari Islam berupa nash-nash yang di dalamnya mengandung kebenaran dan hujah.

 

Yahudi dan Nasrani Kafir Selama-lamanya

Adapun Yahudi dan Nasrani tidak kita sangsikan bahwa mereka adalah orang-orang kafir sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala,

لَقَدۡ كَفَرَ ٱلَّذِينَ قَالُوٓاْ إِنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلۡمَسِيحُ ٱبۡنُ مَرۡيَمَۖ وَقَالَ ٱلۡمَسِيحُ يَٰبَنِيٓ إِسۡرَٰٓءِيلَ ٱعۡبُدُواْ ٱللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمۡۖ إِنَّهُۥ مَن يُشۡرِكۡ بِٱللَّهِ فَقَدۡ حَرَّمَ ٱللَّهُ عَلَيۡهِ ٱلۡجَنَّةَ وَمَأۡوَىٰهُ ٱلنَّارُۖ وَمَا لِلظَّٰلِمِينَ مِنۡ أَنصَارٖ ٧٢

“Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata, ‘Sesungguhnya Allah ialah al-Masih putra Maryam,’ padahal al-Masih sendiri berkata, ‘Wahai bani Israil, beribadahlah kalian kepada Tuhanku dan Tuhan kalian. Sesungguhnya orang yang mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka pasti Allah mengharamkan surga kepadanya dan tempatnya ialah neraka. Dan tidak ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolong pun’.” (al-Maidah: 72)

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman tentang Yahudi,

وَقَالُواْ قُلُوبُنَا غُلۡفُۢۚ بَل لَّعَنَهُمُ ٱللَّهُ بِكُفۡرِهِمۡ فَقَلِيلٗا مَّا يُؤۡمِنُونَ ٨٨ وَلَمَّا جَآءَهُمۡ كِتَٰبٞ مِّنۡ عِندِ ٱللَّهِ مُصَدِّقٞ لِّمَا مَعَهُمۡ وَكَانُواْ مِن قَبۡلُ يَسۡتَفۡتِحُونَ عَلَى ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ فَلَمَّا جَآءَهُم مَّا عَرَفُواْ كَفَرُواْ بِهِۦۚ فَلَعۡنَةُ ٱللَّهِ عَلَى ٱلۡكَٰفِرِينَ ٨٩ بِئۡسَمَا ٱشۡتَرَوۡاْ بِهِۦٓ أَنفُسَهُمۡ أَن يَكۡفُرُواْ بِمَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ بَغۡيًا أَن يُنَزِّلَ ٱللَّهُ مِن فَضۡلِهِۦ عَلَىٰ مَن يَشَآءُ مِنۡ عِبَادِهِۦۖ فَبَآءُو بِغَضَبٍ عَلَىٰ غَضَبٖۚ وَلِلۡكَٰفِرِينَ عَذَابٞ مُّهِينٞ ٩٠ وَإِذَا قِيلَ لَهُمۡ ءَامِنُواْ بِمَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ قَالُواْ نُؤۡمِنُ بِمَآ أُنزِلَ عَلَيۡنَا وَيَكۡفُرُونَ بِمَا وَرَآءَهُۥ وَهُوَ ٱلۡحَقُّ مُصَدِّقٗا لِّمَا مَعَهُمۡۗ قُلۡ فَلِمَ تَقۡتُلُونَ أَنۢبِيَآءَ ٱللَّهِ مِن قَبۡلُ إِن كُنتُم مُّؤۡمِنِينَ ٩١

“Dan orang-orang Yahudi berkata, ‘Hati kami tertutup.’ Tetapi sebenarnya Allah telah mengutuk mereka karena keingkaran mereka, maka sedikit sekali mereka yang mau beriman.

Dan setelah datang kepada mereka al-Qur’an dari Allah yang membenarkan apa yang ada pada mereka (yaitu berita dari Taurat akan datangnya rasul terakhir beserta ciri-cirinya), padahal sebelumnya mereka biasa memohon kedatangan Nabi untuk mendapat kemenangan atas orang-orang kafir, maka setelah datang kepada mereka apa yang mereka ketahui, mereka lalu ingkar kepadanya. Maka laknat Allah lah atas orang-orang yang ingkar tersebut.

Alangkah buruknya perbuatan mereka yang menjual diri mereka sendiri dengan mereka mengkafiri apa yang telah diturunkan Allah karena dengki bahwa Allah menurunkan karunia-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya. Karena itu mereka mendapat murka di atas kemurkaan yang telah mereka dapatkan. Dan untuk orang-orang kafir siksaan yang menghinakan.

Apabila dikatakan kepada mereka, ‘Berimanlah kepada al-Qur’an yang diturunkan Allah.’ Mereka berkata, ‘Kami hanya beriman kepada apa yang diturunkan kepada kami.’ Dan mereka kafir kepada al-Qur’an yang diturunkan sesudahnya, sedang al-Qur’an adalah kitab yang haq, yang membenarkan apa yang ada pada mereka. Katakanlah, ‘Mengapa kalian dahulu membunuh nabi-nabi Allah jika benar kalian itu orang-orang yang beriman?’.” (al-Baqarah: 88—91)

Demikian pula pernyataan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana hadits yang telah disebutkan di atas beserta penjelasannya. Yahudi dan Nasrani memiliki kitab yang diturunkan dari langit (kitab samawi), Taurat, dan Injil, sehingga mereka digelari ahlul kitab. Akan tetapi, karena mereka enggan beriman kepada al-Qur’an dan enggan tunduk kepada syariat yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam maka mereka kafir. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

لَمۡ يَكُنِ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ مِنۡ أَهۡلِ ٱلۡكِتَٰبِ وَٱلۡمُشۡرِكِينَ مُنفَكِّينَ حَتَّىٰ تَأۡتِيَهُمُ ٱلۡبَيِّنَةُ ١

“Orang-orang kafir dari ahlul kitab dan musyrikin mengatakan bahwa mereka tidak akan meninggalkan agama mereka sebelum datang kepada mereka bukti yang nyata.” (al-Bayyinah: 1)

Allah subhanahu wa ta’ala menegaskan kembali tentang kekafiran ahlul kitab dan bahwa mereka itu adalah penghuni jahannam,

إِنَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ مِنۡ أَهۡلِ ٱلۡكِتَٰبِ وَٱلۡمُشۡرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَٰلِدِينَ فِيهَآۚ أُوْلَٰٓئِكَ هُمۡ شَرُّ ٱلۡبَرِيَّةِ ٦

“Sesungguhnya orang-orang kafir dari ahlul kitab dan musyrikin tempat mereka adalah di dalam neraka jahannam, mereka kekal di dalamnya. Mereka adalah seburuk-buruk makhluk.” (al-Bayyinah: 6)

tato-kafir

Adapun kitab mereka sendiri telah diubah melalui tangan-tangan mereka[3] dan hal ini menambah kekufuran mereka. Karena itu, bagaimana mereka akan dapat beriman dengan keimanan yang benar terhadap kitab yang diturunkan kepada mereka? Allah subhanahu wa ta’ala menyatakan,

فَوَيۡلٞ لِّلَّذِينَ يَكۡتُبُونَ ٱلۡكِتَٰبَ بِأَيۡدِيهِمۡ ثُمَّ يَقُولُونَ هَٰذَا مِنۡ عِندِ ٱللَّهِ لِيَشۡتَرُواْ بِهِۦ ثَمَنٗا قَلِيلٗاۖ فَوَيۡلٞ لَّهُم مِّمَّا كَتَبَتۡ أَيۡدِيهِمۡ وَوَيۡلٞ لَّهُم مِّمَّا يَكۡسِبُونَ ٧٩

“Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis al-Kitab dengan tangan mereka sendiri (karangan mereka) lalu mereka katakan: Ini dari Allah, dengan maksud untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan besarlah bagi mereka, akibat dari apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat dari apa yang mereka kerjakan.” (al-Baqarah: 79)

 

Yahudi dan Nasrani adalah Orang-orang yang Dimurkai Allah dan Disesatkan

Orang-orang Yahudi dinyatakan oleh Allah subhanahu wa ta’ala sebagai al-maghdhubu ‘alaihim (yang dimurkai Allah) dan Nasrani sebagai adh-dhallun (yang tersesat), sebagaimana dinyatakan dalam ayat terakhir surat al-Fatihah,

ٱهۡدِنَا ٱلصِّرَٰطَ ٱلۡمُسۡتَقِيمَ ٦ صِرَٰطَ ٱلَّذِينَ أَنۡعَمۡتَ عَلَيۡهِمۡ غَيۡرِ ٱلۡمَغۡضُوبِ عَلَيۡهِمۡ وَلَا ٱلضَّآلِّينَ ٧

“Tunjukkanlah kami kepada jalan yang lurus, yaitu jalannya orang-orang yang Engkau beri nikmat kepada mereka, bukan jalannya orang-orang yang dimurkai dan bukan pula jalannya orang-orang yang sesat.” (al-Fatihah: 6—7)

Diterangkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana diriwayatkan dari sahabat ‘Adi ibnu Hatim[4] radhiallahu ‘anhu di dalam hadits yang panjang, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

        فَإِنَّ الْيَهُودَ مَغْضُوبٌ عَلَيْهِمْ وَإِنَّ النَّصَارَى ضَلَّالٌ

“Sesungguhnya Yahudi itu adalah yang dimurkai dan Nasrani adalah orang-orang yang disesatkan.”

Imam ahli tafsir dan ahli hadits, Ibnu Abi Hatim rahimahullah, berkata, “Saya tidak mendapatkan perselisihan di antara ahli tafsir bahwasanya al-maghdhub ‘alaihim (di dalam ayat itu) adalah Yahudi dan adh-dhallun adalah Nasrani, dan yang mempersaksikan perkataan para imam tersebut adalah hadits ‘Adi bin Hatim.” (Tafsir Ibnu Katsir, 1/40)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata, “Kekafiran Yahudi pada prinsipnya karena mereka tidak mengamalkan ilmu mereka. Mereka mengetahui kebenaran namun tidak mengikutinya, baik dalam ucapan atau perbuatan, ataupun sekaligus dalam ucapan dan perbuatan. Sementara kekafiran Nasrani dari sisi amalan mereka yang tidak didasari ilmu, sehingga mereka bersungguh-sungguh melaksanakan berbagai macam ibadah tanpa didasari syariat dari Allah subhanahu wa ta’ala, serta berbicara tentang Allah subhanahu wa ta’ala tanpa didasari ilmu.” (Iqtidha ash-Shirathil Mustaqim, hlm. 23, Darul Anshar 1423 H)

Lihat pula keterangan dan pendalilan beliau yang lebih panjang mengenai dimurkainya Yahudi dan disesatkannya Nasrani dalam kitab tersebut (hlm. 22—24).

Demikian sesungguhnya keadaan Yahudi dan Nasrani, sehingga setiap kali shalat kaum muslimin meminta perlindungan dari mengikuti jalan keduanya (jalannya Yahudi dan Nasrani) ketika mereka membaca ayat di dalam surat al-Fatihah tersebut.

 

Yahudi dan Nasrani adalah Kaum yang Terlaknat

Yahudi dan Nasrani telah dikafirkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Demikian juga Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya melaknat mereka. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

لُعِنَ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ مِنۢ بَنِيٓ إِسۡرَٰٓءِيلَ

        “Allah telah melaknat orang-orang kafir dari kalangan Bani Israil.” (al-Maidah: 78)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

        لَعْنَةُ اللهِ عَلَى الْيَهُودِ وَالنَّصَارَى

“Laknat Allah subhanahu wa ta’ala atas kaum Yahudi dan Nasrani.” (HR . al-Bukhari no. 435 dan Muslim no. 531)

Dengan penjelasan di atas, bahwa Yahudi dan Nasrani adalah kaum yang kafir, dimurkai dan terlaknat, dapatkah agama Islam disamakan dengan agama Yahudi dan Nasrani, lebih-lebih lagi dengan agama selain keduanya yang tidak memiliki kitab samawi (kitab dari langit)? Jelas, bahwa agama Islam tidak boleh dibangun di atas teologi inklusif, bahkan harus dibangun di atas keyakinan eksklusif bahwa hanya Islam agama yang benar, adapun selainnya adalah salah!

 

Surat Al-Kafirun Tidak Ditujukan kepada Musyrikin Arab Semata

Mereka mengatakan bahwa isi surat al-Kafirun hanya ditujukan kepada orang-orang musyrik, bukan kepada ahlul kitab. Demikianlah yang mereka inginkan agar bisa mengeluarkan ahlul kitab dari vonis kafir, sementara ulama dari kalangan ahli tafsir tidak ada yang mengatakan seperti ucapan mereka. Lalu dari mana mereka mendapatkan dalil dengan ucapan mereka tersebut?

al-kafirun

Surat al-Kafirun tidak membatasi bahwa kekufuran hanya ditujukan kepada musyrikin Arab. Bahkan al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Firman Allah subhanahu wa ta’ala, ‘Katakanlah (Ya Muhammad) wahai orang-orang kafir….’, ini mencakup seluruh orang kafir di muka bumi, walaupun sasaran pembicaraan dalam ayat ini adalah orang-orang kafir Quraisy.” (Tafsir Ibnu Katsir, 8/397)

Al-Imam al-Bukhari rahimahullah mengatakan di dalam kitab Shahih beliau mengatakan ayat lakum dinukum adalah kekufuran dan ayat waliya din adalah Islam (Shahih al-Bukhari bersama penjelasannya Fathul Bari, 8/902, Darul Hadits, 1419 H).

Al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah mengatakan, “Kekufuran itu agama yang satu.” (Tafsir Ibnu Katsir, 8/398).

Demikian pula pandangan al-Imam Ahmad, Abu Hanifah, dan Dawud. (al-Jami’ li Ahkamil Qur’an, lil Imam al-Qurthubi, 2/65, Darul Kutubil ‘Ilmiyah, 1413 H)

 

Yahudi dan Nasrani Selamanya Tidak akan Ridha kepada Islam

Demikianlah makna zahir yang ada pada ayat 120 surat al-Baqarah. Yahudi dan Nasrani tidak akan ridha selama-lamanya terhadap Islam. Inilah yang Allah subhanahu wa ta’ala katakan tentang mereka tanpa ada perkecualian.

Al-Imam ath-Thabari rahimahullah berkata ketika menafsirkan ayat tersebut, “Wahai Muhammad, orang Yahudi dan Nasrani tidak akan ridha kepadamu selamalamanya, karena itu tinggalkanlah upaya untuk mencari keridhaan dan kesepakatan mereka. Sebaliknya hadapkanlah dirimu sepenuhnya untuk mencari keridhaan Allah subhanahu wa ta’ala di dalam mendakwahi mereka kepada kebenaran yang engkau diutus karenanya. Sesungguhnya apa yang engkau dakwahkan tersebut, sungguh merupakan jalan menuju persatuan (ijtima’) denganmu di atas kedekatan hati dan agama yang lurus. Tidak ada jalan bagimu untuk mencari keridhaan mereka dengan mengikuti agama mereka, karena agama Yahudi bertentangan dengan agama Nasrani, demikian pula sebaliknya, dan tidak mungkin kedua agama ini bisa bersatu dalam individu manusia pada satu keadaan.

Yahudi dan Nasrani tidak mungkin bersatu untuk meridhaimu kecuali bila engkau bisa menjadi seorang Yahudi sekaligus Nasrani, akan tetapi tidak mungkin hal ini terjadi padamu selama-lamanya, karena engkau adalah individu yang satu dan tidak mungkin terkumpul padamu dua agama yang saling berlawanan dalam satu keadaan.

Dengan demikian, bila tidak ada jalan yang memungkinkan untuk mengumpulkan kedua agama itu padamu dalam satu waktu, maka tidak ada jalan bagimu untuk mencari keridhaan kedua golongan tersebut. Bila demikian keadaannya, maka berpeganglah engkau dengan petiunjuk Allah subhanahu wa ta’ala yang dengannya ada jalan untuk menyatukan manusia.” (Jamiul Bayan ‘an Ta’wil Ayi al-Qur’an, lil Imam ath-Thabari, hlm. 1/517, Darul Fikr, 1405 H)

Adapun penyimpulan bahwa ini adalah pengkhususan bagi Yahudi dan Nasrani pada masa Rasulullah, perlu mendatangkan dalil khusus dari Kitabullah dan as-Sunnah yang menyatakan hal itu. Sementara kita ketahui, Yahudi dan Nasrani pada zaman sekarang jauh lebih jelek daripada Yahudi dan Nasrani pada zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena penyimpangan mereka pada masa itu lebih sedikit dibandingkan pada hari ini, mereka semakin jauh dan semakin menyimpang dari agama mereka. Lihat perubahan dan penyimpangan yang mereka lakukan terhadap kitab mereka yang menjadi sebab jauhnya mereka dari kebenaran dalam Mukhtashar Kitab Idzharul Haq, oleh al-Imam Syaikh Rahmatullah ibn Khalilir Rahman al-Hindi yang diringkas oleh Dr. Muhammad al-Malkawi, diterbitkan oleh Wazaratus Syu’unil Islamiyyah al-Mamlakah al-‘Arabiyyah as-Su’udiyyah, 1416 H .

Di samping itu, anggapan bahwa Yahudi dan Nasrani tidak diperangi karena mereka ahlul kitab dan yang diperangi adalah agama kekufuran yang lain adalah jelas anggapan yang salah dan batil. Allah subhanahu wa ta’ala dengan jelas menyatakan,

قَٰتِلُواْ ٱلَّذِينَ لَا يُؤۡمِنُونَ بِٱللَّهِ وَلَا بِٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِ وَلَا يُحَرِّمُونَ مَا حَرَّمَ ٱللَّهُ وَرَسُولُهُۥ وَلَا يَدِينُونَ دِينَ ٱلۡحَقِّ مِنَ ٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡكِتَٰبَ

“Perangilah orang-orang yang tidak mau beriman kepada Allah dan hari akhir dan tidak mengharamkan apa yang telah diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya serta tidak beragama dengan agama yang benar, dari kalangan ahlul kitab (Yahudi dan Nasrani).” (at-Taubah: 29)

 

Hilangnya al-Wala wal Bara

Dianutnya teologi pluralis inklusif oleh sebagian orang disebabkan tidak adanya al-wala dan al-bara pada diri mereka. al-wala adalah memberikan loyalitas, kecintaan dan persahabatan, sedangkan al-bara adalah lawannya yaitu menjauhi, menyelisihi, membenci dan memusuhi.

frayed-rope

Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan (seorang ulama besar terkemuka, anggota Majlis Kibarul ‘Ulama, juga Komite Tetap Kajian Ilmiah dan Pemberian Fatwa Kerajaan Saudi Arabia) berkata, “Termasuk pokok akidah islamiah yang wajib bagi setiap muslim untuk menganutnya adalah berwala dengan sesama muslim dan bara (memusuhi) musuh-musuh Islam. Ia mencintai dan berloyalitas dengan orang yang bertauhid dan mengikhlaskan agama untuk Allah subhanahu wa ta’ala dan sebaliknya membenci dan memusuhi orang yang berbuat syirik.

Yang demikian ini merupakan millahnya (jalan) Nabi Ibrahim ‘alaihissalam dan orang-orang yang mengikuti beliau, sementara kita diperintah untuk mencontoh Nabi Ibrahim ‘alaihissalam sebagaimana Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

قَدۡ كَانَتۡ لَكُمۡ أُسۡوَةٌ حَسَنَةٞ فِيٓ إِبۡرَٰهِيمَ وَٱلَّذِينَ مَعَهُۥٓ إِذۡ قَالُواْ لِقَوۡمِهِمۡ إِنَّا بُرَءَٰٓؤُاْ مِنكُمۡ وَمِمَّا تَعۡبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ كَفَرۡنَا بِكُمۡ وَبَدَا بَيۡنَنَا وَبَيۡنَكُمُ ٱلۡعَدَٰوَةُ وَٱلۡبَغۡضَآءُ أَبَدًا حَتَّىٰ تُؤۡمِنُواْ بِٱللَّهِ وَحۡدَهُۥٓ

“Sungguh telah ada bagi kalian contoh teladan yang baik pada diri Ibrahim dan orang-orang yang bersamanya kerika mereka mengatakan kepada kaum mereka (yang kafir musyrik): Sesungguhnya kami berlepas diri dari kalian dan dari apa yang kalian sembah selain Allah. Kami mengingkari kalian dan telah tampak permusuhan dan kebencian antara kami dan kalian selama-lamanya sampai kalian mau beriman kepada Allah saja.” (al-Mumtahanah: 4)

Memiliki sikap al-wala dan al-bara merupakan agama Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تَتَّخِذُواْ ٱلۡيَهُودَ وَٱلنَّصَٰرَىٰٓ أَوۡلِيَآءَۘ بَعۡضُهُمۡ أَوۡلِيَآءُ بَعۡضٖۚ وَمَن يَتَوَلَّهُم مِّنكُمۡ فَإِنَّهُۥ مِنۡهُمۡۗ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَهۡدِي ٱلۡقَوۡمَ ٱلظَّٰلِمِينَ ٥١

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian menjadikan Yahudi dan Nasrani sebagai kekasih-kekasih (teman dekat), karena sebagian mereka adalah kekasih bagi sebagian yang lainnya. Dan siapa di antara kalian yang berwala dengan mereka maka ia termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (al-Maidah: 51)

Ayat di atas menyebutkan keharaman untuk berwala dengan ahlul kitab secara khusus, sementara keharaman berwala dengan orang kafir secara umum, Allah subhanahu wa ta’ala nyatakan dalam firman-Nya,

          يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تَتَّخِذُواْ عَدُوِّي وَعَدُوَّكُمۡ أَوۡلِيَآءَ

“Wahai orang-orang yang beriman janganlah kalian menjadikan musuh-musuh-Ku dan musuh kalian sebagai kekasih, penolong dan teman dekat.” (al-Mumtahanah: 1)

Bahkan Allah subhanahu wa ta’ala mengharamkan seorang mukmin untuk berwala dengan orang-orang kafir walaupun orang kafir itu adalah kerabatnya yang paling dekat. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تَتَّخِذُوٓاْ ءَابَآءَكُمۡ وَإِخۡوَٰنَكُمۡ أَوۡلِيَآءَ إِنِ ٱسۡتَحَبُّواْ ٱلۡكُفۡرَ عَلَى ٱلۡإِيمَٰنِۚ وَمَن يَتَوَلَّهُم مِّنكُمۡ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلظَّٰلِمُونَ ٢٣

“Wahai orang-orang yang beriman janganlah kalian menjadikan bapak-bapak kalian dan saudara-saudara kalian sebagai kekasih apabila mereka lebih mencintai kekufuran daripada keimanan, dan siapa di antara kalian yang berwala kepada mereka maka mereka itu adalah orang-orang zalim.” (at-Taubah: 23)

        لَّا تَجِدُ قَوۡمٗا يُؤۡمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِ يُوَآدُّونَ مَنۡ حَآدَّ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ وَلَوۡ كَانُوٓاْ ءَابَآءَهُمۡ أَوۡ أَبۡنَآءَهُمۡ أَوۡ إِخۡوَٰنَهُمۡ أَوۡ عَشِيرَتَهُمۡۚ

“Engkau (wahai Nabi) tidak akan mendapati orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir saling berkasih sayang dengan orang-orang yang memusuhi Allah dan Rasul-Nya walaupun orang tersebut adalah bapak-bapak mereka atau anak-anak mereka atau saudara-saudara mereka atau karib kerabat mereka.” (al-Mujadalah: 22)

Beliau melanjutkan, “Sungguh (kita dapati pada hari ini) kebanyakan manusia jahil/bodoh terhadap pokok yang agung ini, sampai-sampai aku mendengar dari sebagian orang yang dikatakan berilmu dan melakukan dakwah dalam satu siaran berbahasa Arab, ia berkata tentang Nasrani bahwa mereka adalah saudara kita. Sungguh betapa jelek dan bahayanya kalimat ini!”

Sebagaimana Allah subhanahu wa ta’ala mengharamkan berwala dengan orang-orang kafir musuh akidah islamiah, sebaliknya Allah subhanahu wa ta’ala mewajibkan kita untuk berwala dan mencintai kaum mukminin. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

إِنَّمَا وَلِيُّكُمُ ٱللَّهُ وَرَسُولُهُۥ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱلَّذِينَ يُقِيمُونَ ٱلصَّلَوٰةَ وَيُؤۡتُونَ ٱلزَّكَوٰةَ وَهُمۡ رَٰكِعُونَ ٥٥ وَمَن يَتَوَلَّ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ فَإِنَّ حِزۡبَ ٱللَّهِ هُمُ ٱلۡغَٰلِبُونَ ٥٦

“Hanyalah wali (kekasih/penolong) kalian adalah Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman yang mereka menegakkan shalat, menunaikan zakat, dan mereka rukuk kepada Allah. Barang siapa yang berwala kepada Allah, rasul- Nya dan orang-orang beriman maka sesungguhnya tentara Allah itulah yang menang.” (al-Maidah: 55-56)

مُّحَمَّدٞ رَّسُولُ ٱللَّهِۚ وَٱلَّذِينَ مَعَهُۥٓ أَشِدَّآءُ عَلَى ٱلۡكُفَّارِ رُحَمَآءُ بَيۡنَهُمۡۖ

“Muhammad adalah Rasulullah dan orang-orang yang bersama beliau amat keras terhadap orang-orang kafir dan saling berkasih sayang di antara sesama mereka.” (al-Fath: 29)

“Hanyalah orang-orang mukmin itu bersaudara.” (al-Wala wal Bara fil Islam, hlm. 3—6, Darul Wathan, 1411 H)

Karena tidak adanya sikap al-wala dan al-bara yang tepat, mereka bergaul bebas dengan kaum kafirin, para orientalis misionaris Barat bahkan mereka bangga ketika mereka dapat menimba ilmu di negeri Barat yang notabene kafir! (Asyiknya Belajar Islam di Barat, wawancara bersama Luthfi Assyaukanie, www.islamlib.com, 8/3/2004)

Semoga Allah subhanahu wa ta’ala melindungi kita dan kaum muslimin secara umum dari makar yang dilakukan oleh para thaghut kaki tangan iblis ini. Wallahul musta’an.

Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

 

Ditulis oleh al-Ustadz Abu Ishaq Muslim al-Atsari


[1] Yayasan Wakaf Paramadina dengan bukunya Fiqih Lintas Agama, Jaringan Islam Liberal dan seluruh penyeru pluralitas agama yang tergabung dalam organisasi, LSM, atau individu, mereka adalah para Thaghut Pluralis dan Inklusif antek-antek Zionis Salibis.

Thaghut adalah segala sesuatu yang diikuti, ditaati ataupun dibadahi secara berlebihan dan melampaui batas. (al-Ushuluts Tsalatsah, hlm. 15, Darul Wathan 1414 H)

Pluralisme adalah pemahaman yang memandang semua agama sama meskipun dengan jalan yang berbeda namun menuju satu tujuan: Yang Absolut, Yang terakhir, Yang Riil.

Inklusivisme adalah pemahaman yang mengakui bahwa dalam agama-agama lain terdapat juga suatu tingkat kebenaran (demikian keterangan mereka dalam Fiqih Lintas Agama, hlm. 65, Paramadina, Juni 2004).

[2] Umat yang ada di zaman beliau dan setelah zaman beliau sampai hari kiamat (Syarah Shahih Muslim lin Nawawi, 2/188)

[3] Lihat beberapa bentuk perubahan dan penyimpangan yang mereka lakukan dalam Mukhtashar Kitab Idzharul Haq oleh al-Imam asy-Syaikh Rahmatullah ibn Khalilir Rahman al-Hindi yang diringkas oleh Dr. Muhammad al-Malkawi, Wazaratus Syu’unil Islamiyyah Mamlakah Al-‘Arabiyyah Su’udiyyah, 1416 H.

[4] Diriwayatkan oleh al-Imam at-Tirmidzi dalam Sunan-nya no. 4029 dan dinyatakan sahih oleh al-Imam al-Albani dalam Shahihul Jami’ no. 8202 dan dalam komentar beliau terhadap Syarah al-‘Aqidah ath-Thahawiyah no. 811.