يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَٱبۡتَغُوٓاْ إِلَيۡهِ ٱلۡوَسِيلَةَ وَجَٰهِدُواْ فِي سَبِيلِهِۦ لَعَلَّكُمۡ تُفۡلِحُونَ ٣٥

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan.(al-Maidah: 35)

 


Tafsir Ayat

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّه

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah….”

Ini merupakan perintah dari Allah ‘azza wa jalla kepada seluruh kaum mukminin untuk senantiasa bertakwa kepada-Nya, dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

وَٱبۡتَغُوٓاْ إِلَيۡهِ ٱلۡوَسِيلَةَ

“Hendaknya kalian mencari wasilah menuju kepada-Nya.”

Para ulama tafsir menyebutkan dua makna tentang makna wasilah di dalam ayat ini.

 

  1. Pendekatan diri (qurbah), yaitu bentuk pendekatan diri (kepada Allah subhanahu wa ta’ala) yang sepantasnya bagi seseorang untuk mencarinya.

Qatadah rahimahullah berkata, “Dekatkanlah diri kalian kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan taat kepada-Nya dan beramal dengan sesuatu yang mendatangkan ridha-Nya.”

Yang semakna dengan ini juga dijelaskan oleh Abu Wail, Hasan al-Bashri, Mujahid, Qatadah, Atha’, as-Suddi, Ibnu Zaid, dan Abdullah bin Katsir.

Semisal dengan ayat ini yang disebutkan Allah ‘azza wa jalla dalam firman-Nya,

قُلِ ٱدۡعُواْ ٱلَّذِينَ زَعَمۡتُم مِّن دُونِهِۦ فَلَا يَمۡلِكُونَ كَشۡفَ ٱلضُّرِّ عَنكُمۡ وَلَا تَحۡوِيلًا ٥٦ أُوْلَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ يَدۡعُونَ يَبۡتَغُونَ إِلَىٰ رَبِّهِمُ ٱلۡوَسِيلَةَ أَيُّهُمۡ أَقۡرَبُ وَيَرۡجُونَ رَحۡمَتَهُۥ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُۥٓۚ إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ كَانَ مَحۡذُورٗا ٥٧

Katakanlah, “Panggillah mereka yang kamu anggap (tuhan) selain Allah, maka mereka tidak akan mempunyai kekuasaan untuk menghilangkan bahaya dari padamu dan tidak pula memindahkannya.”

Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Rabb mereka siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah) dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya; sesungguhnya azab Rabbmu adalah suatu yang (harus) ditakuti. (al-Isra: 56—57)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Al-Wasilah yang diperintahkan oleh Allah ‘azza wa jalla untuk engkau berusaha mencarinya. Allah memberitakan pula tentang para malaikat dan para nabi-Nya bahwa mereka senantiasa mencarinya, adalah sesuatu yang dijadikan sebagai pendekatan diri kepada-Nya berupa amalan yang wajib atau yang mustahab (sunnah).

Wasilah inilah yang diperintahkan oleh Allah ‘azza wa jalla kepada kaum mukminin untuk senantiasa mencarinya, yang mencakup hal yang wajib dan mustahab.

Adapun yang bukan hal wajib dan bukan mustahab, tidak termasuk ke dalamnya, seperti hal yang haram, makruh, atau mubah.

Yang wajib dan mustahab adalah yang disyariatkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan perintahnya yang mencakup perintah wajib dan mustahab. Inti dari semua itu adalah beriman dengan apa yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Inti dari wasilah yang diperintahkan oleh Allah ‘azza wa jalla kepada makhluk-Nya untuk mencarinya adalah menjadikan wasilah menuju kepada-Nya dengan mengikuti apa yang diajarkan oleh Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tidak ada wasilah yang akan menyampaikan seseorang kepada Allah ‘azza wa jalla kecuali hal tersebut.” (Qa’idah Jalilah fit Tawassul wal Wasilah, hlm. 79, tahqiq al-Allamah Rabi’ bin Hadi)

 tali-terikat

  1. Wasilah bermakna “buktikanlah kecintaanmu kepada Allah”, sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Zaid. (Zadul Masir, karya Ibnul Jauzi)

Di antara makna al-wasilah adalah sebuah kedudukan yang paling mulia di dalam surga yang telah dipersiapkan Allah ‘azza wa jalla untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Hal ini diriwayatkan oleh al-Imam Bukhari rahimahullah dari Jabir bin Abdullah radhiallahu ‘anhuma, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa mengucapkan tatkala mendengarkan panggilan azan,

اللَّهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدِّعْوَةِ التَّامَّةِ، وَالصَّلَاةِ الْقَائِمَةِ، آتِ مُحَمَّدًا الْوَسِيلَةَ وَالْفَضِيلَةَ، وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُودًا الَّذِي وَعَدْتَهُ

‘Ya Allah, Rabb seruan yang sempurna ini, dan shalat yang ditegakkan, berikanlah kepada Muhammad al-Wasilah dan keutamaan, dan bangkitkanlah dia pada sebuah kedudukan yang terpuji yang telah Engkau janjikan.’ halal baginya syafaatku pada hari kiamat.” (HR. al-Bukhari)

Al-Wasilah yang disebutkan dalam hadits ini dijelaskan dalam riwayat lainnya dalam Shahih Muslim dari Abdullah bin Amr bin al-Ash radhiallahu ‘anhuma. Ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا سَمِعْتُمُ الْمُؤَذِّنَ، فَقُولُوا مِثْلَ مَا يَقُولُ ثُمَّ صَلُّوا عَلَيَّ، فَإِنَّهُ مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلَاةً صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا، ثُمَّ سَلُوا اللهَ لِيَ الْوَسِيلَةَ، فَإِنَّهَا مَنْزِلَةٌ فِي الْجَنَّةِ، لَا تَنْبَغِي إِلَّا لِعَبْدٍ مِنْ عِبَادِ اللهِ، وَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ أَنَا هُوَ، فَمَنْ سَأَلَ لِي الْوَسِيلَةَ حَلَّتْ لَهُ الشَّفَاعَةُ

“Jika kalian mendengarkan muadzin, ucapkanlah seperti yang diucapkan oleh muadzin kemudian bershalawatlah untukku. Sebab, sesungguhnya siapa yang bershalawat kepadaku sekali, Allah ‘azza wa jalla bershalawat kepadanya sepuluh kali.

Lalu mintalah untukku al-wasilah, karena sesungguhnya ia adalah sebuah kedudukan dalam surga yang tidak sepantasnya diberikan kecuali kepada salah seorang hamba Allah ‘azza wa jalla. Aku berharap akulah yang akan mendapatkannya. Barang siapa memohon untukku al-wasilah, halal baginya syafaatku.” (HR. Muslim)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Wasilah ini merupakan kekhususan bagi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau telah memerintah kita untuk memohon kepada Allah ‘azza wa jalla agar wasilah ini diberikan kepada beliau. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan bahwa kedudukan itu tidak diberikan kecuali kepada seseorang dari hamba Allah ‘azza wa jalla dan berharap agar dialah hamba yang akan meraihnya.

Wasilah inilah yang diperintahkan kepada kita untuk memintanya kepada Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau memberitakan kepada kita bahwa siapa yang memintakan wasilah untuknya, sungguh telah halal syafaat baginya pada hari kiamat. Sebab, balasan itu sesuai dengan jenis amalan yang dikerjakan.

Tatkala mereka berdoa untuk Nabi-Nya, mereka pun berhak mendapatkan balasan dari Rasul, yaitu doa beliau untuk mereka. Sebab, syafaat merupakan salah satu jenis dari doa, seperti sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Barang siapa bershalawat untukku sekali, Allah ‘azza wa jalla akan bershalawat untuknya sepuluh kali’.” (Qa’idatun Jalilah fit Tawassul wal-Wasilah, 84)

 

Makna Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam Sebagai Wasilah untuk Mendekatkan Diri kepada Allah ‘azza wa jalla

Dalam bertawassul kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ada dua makna yang sahih dan dibenarkan dalam syariat berdasarkan kesepakatan kaum muslimin, yaitu:

  1. Bertawassul dengan beriman kepada beliau sebagai seorang rasul dan taat kepadanya.

Ini merupakan prinsip iman dan agama Islam. Tidak sempurna keimanan seseorang kecuali dengannya, dan tidak seorang pun dari kaum muslimin yang mengingkarinya.

  1. Bertawassul dengan doa beliau dan syafaatnya.

Kedua hal ini diperbolehkan berdasarkan kesepakatan kaum muslimin.

Rantai

Di antara dalil yang menunjukkan bolehnya hal ini adalah hadits yang diriwayatkan oleh al-Imam al-Bukhari dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu bahwa saat mereka tertimpa musim paceklik, Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu meminta hujan melalui perantara Abbas bin Abdul Muththalib radhiallahu ‘anhu.

Beliau berkata, “Ya Allah, sesungguhnya kami dahulu bertawassul kepada-Mu dengan perantaraan Nabi kami, lalu Engkau turunkan hujan kepada kami. Sesungguhnya, kami bertawassul kepada-Mu melalui paman Nabi kami, maka turunkanlah hujan kepada kami.”

Hujan pun diturunkan kepada mereka. (HR. al-Bukhari no. 1010)

Yang dimaksud dalam hadits ini adalah bertawassul dengan doa dan syafaat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggal, mereka pun bertawassul dengan doa yang dilakukan oleh paman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu Abbas bin Abdul Muththalib radhiallahu ‘anhu.

Jadi, yang dimaksud dalam hadits ini bukan berdoa meminta hujan dengan bertawassul menyebut diri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, seperti yang dipahami oleh sebagian orang yang keliru dalam memahami makna hadits ini. Sebab, kalau yang dimaksud dalam hadits ini berdoa meminta hujan dengan bertawassul dalam doa tersebut menyebutkan diri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tentu mereka tidak akan berpaling dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada pamannya, Abbas radhiallahu ‘anhu, setelah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggal.

Tatkala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah wafat, mereka beralih kepada Abbas radhiallahu ‘anhu. Jelas hal ini menunjukkan bahwa yang dimaksud adalah bertawassul dengan doa Abbas radhiallahu ‘anhu untuk meminta hujan kepada Allah ‘azza wa jalla.

Hal yang seperti ini sering dilakukan oleh para sahabat radhiallahu ‘anhum. Di antara yang menunjukkan hal tersebut adalah hadits yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu. Tatkala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang berkhutbah di masjid pada hari Jumat, seorang lelaki masuk ke masjid lalu berkata, “Wahai Rasulullah, hewan-hewan ternak binasa, perjalanan terputus (disebabkan khawatir binasanya kendaraan mereka, atau melemahnya karena kurangnya makanan –pen.). Berdoalah kepada Allah subhanahu wa ta’ala agar menurunkan hujan kepada kami.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengangkat kedua tangannya, lalu berdoa, “Ya Allah, turunkan kepada kami hujan, ya Allah, turunkan kepada kami hujan, ya Allah, turunkan kepada kami hujan.” (Muttafaq alaihi)

Tawassul inilah yang dimaksud dalam hadits Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu di atas, yaitu meminta kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam semasa hidupnya agar berdoa meminta turunnya hujan. Setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggal, mereka pun beralih kepada Abbas radhiallahu ‘anhu agar beliau berdoa meminta hujan untuk kaum muslimin.

Hal ini lebih dikuatkan oleh riwayat dari Aisyah radhiallahu ‘anha. Disebutkan dalam riwayat itu, manusia mengeluh kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang tertahannya hujan. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas memerintahkan agar mimbar dikeluarkan dan diletakkan di tanah lapang. Beliau menjanjikan hari tertentu kepada manusia untuk mereka keluar.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar saat dhuha lalu duduk di atas mimbar, bertakbir, memuji Allah ‘azza wa jalla, dan berkata, “Sesungguhnya kalian mengeluhkan kekeringan yang menimpa daerah kalian, dan lambatnya hujan turun kepada kalian, dan sungguh Allah memerintah kalian untuk berdoa kepada-Nya, dan menjanjikan kepada kalian untuk mengabulkannya.” Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa kepada Allah ‘azza wa jalla dan shalat memimpin manusia. Allah ‘azza wa jalla kemudian menurunkan hujan kepada mereka hingga air mengalir. (HR. Abu Dawud, dinyatakan sahih oleh al-Albani dalam kitabnya, at-Tawassul, hlm. 54)

Adapun bertawassul dengan diri/bagian tubuh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam atau berdoa dengan mengucapkan, “Aku memohon kepada-Mu, ya Allah, melalui hak Nabi-Mu, atau melalui kemuliaan Nabi-Mu,” dan yang semisalnya, hal ini sama sekali tidak disyariatkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tidak diamalkan oleh para sahabat radhiallahu ‘anhum.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Tawassul dengan bersumpah kepada Allah ‘azza wa jalla dengan berwasilah kepada bagian tubuh Nabi dan meminta dengan berwasilah kepada bagian tubuh beliau tidak pernah dilakukan oleh para sahabat radhiallahu ‘anhum, baik dalam meminta hujan maupun yang semisalnya.

Para sahabat tidak melakukan ini pada masa hidup beliau atau setelah meninggalnya. Tidak di sisi kuburannya dan tidak pula di selain kuburannya. Tidak diketahui hal ini dalam doa-doa yang masyhur di antara mereka.

Yang ada hanyalah penukilan tentang hal tersebut dalam hadits-hadits lemah yang marfu’ dan yang mauquf, atau penukilan dari orang yang ucapannya bukan merupakan hujah.” (Qa’idah Jalilah, hlm. 86)

وَجَٰهِدُواْ فِي سَبِيلِهِۦ لَعَلَّكُمۡ تُفۡلِحُونَ ٣٥

“Berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan.

Di antara sekian banyak ibadah yang mendekatkan hamba kepada-Nya, Allah ‘azza wa jalla mengkhususkan jihad di jalan-Nya.

Berjihad ialah mengerahkan kemampuan untuk memerangi orangorang kafir, dengan harta, jiwa, pikiran dan lisan; serta beramal untuk menolong agama Allah ‘azza wa jalla dengan segala yang mampu dilakukan oleh hamba.

(Allah mengkhususkan jihad) karena ibadah ini termasuk ketaatan yang paling agung dan pendekatan diri yang paling utama. Orang yang mampu menegakkan amalan ini tentu lebih mampu menegakkan amalan lainnya.

لَعَلَّكُمۡ تُفۡلِحُونَ ٣٥

“Semoga kalian meraih keberuntungan,”

Jika kalian bertakwa kepada Allah ‘azza wa jalla dengan meninggalkan maksiat, lalu mencari wasilah menuju Allah ‘azza wa jalla dengan mengamalkan ketaatan dan berjihad di jalan-Nya dengan mengharapkan keridhaan-Nya.

Al-Falah (keberuntungan) adalah kemenangan dan keberhasilan dalam segala yang dicari dan yang diinginkan. Adapun an-najah adalah selamat dari hal-hal yang ditakuti. Hakikatnya adalah kebahagiaan abadi dan kenikmatan yang tidak akan sirna.” (Taisir al-Karim ar-Rahman, al-Allamah as-Sa’di rahimahullah)

Ditulis oleh al-Ustadz Abu Muawiyah Askari