Meneladani Pemimpin Umat

إِنَّ إِبۡرَٰهِيمَ كَانَ أُمَّةٗ قَانِتٗا لِّلَّهِ حَنِيفٗا وَلَمۡ يَكُ مِنَ ٱلۡمُشۡرِكِينَ ١٢٠

“Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam teladan yang patuh kepada Allah dan hanif. Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Allah).” (an-Nahl: 120)

 

Tafsir Ayat

إِنَّ إِبۡرَٰهِيمَ كَانَ أُمَّةٗ قَانِتٗا لِّلَّهِ حَنِيفٗا وَلَمۡ يَكُ مِنَ ٱلۡمُشۡرِكِينَ    

Sesungguhnya Ibrahim adalah umat yang tunduk kepada Allah di atas tauhid, dan bukan dari kalangan orang-orang musyrik.

Ayat ini merupakan pujian dari Allah ‘azza wa jalla kepada Rasul dan Khalil-Nya, Ibrahim ‘alaihissalam, bahwa beliau adalah imam orang-orang yang bertauhid sekaligus orang tua para nabi, yang senantiasa lurus di atas tauhid dan jauh dari kesyirikan, serta jauh dari keyakinan Yahudi dan Nasrani. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

مَا كَانَ إِبۡرَٰهِيمُ يَهُودِيّٗا وَلَا نَصۡرَانِيّٗا وَلَٰكِن كَانَ حَنِيفٗا مُّسۡلِمٗا وَمَا كَانَ مِنَ ٱلۡمُشۡرِكِينَ

“Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan seorang Nasrani, dia adalah seorang yang lurus lagi berserah diri (kepada Allah) dan sekali-kali bukanlah dia termasuk golongan orang-orang musyrik.” (Ali Imran: 67)

Adapun makna “ummah” di dalam ayat di atas adalah seorang imam yang dijadikan sebagai anutan, sebagaimana yang diterangkan oleh al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah. Hal ini dikuatkan pula oleh firman Allah ‘azza wa jalla,

وَإِذِ ٱبۡتَلَىٰٓ إِبۡرَٰهِ‍ۧمَ رَبُّهُۥ بِكَلِمَٰتٖ فَأَتَمَّهُنَّۖ قَالَ إِنِّي جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ إِمَامٗاۖ

Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji oleh Rabbnya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman, “Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia.” (al-Baqarah: 124)

Al-Qurthubi rahimahullah berkata bahwa “ummah” adalah seorang yang mengumpulkan kebaikan.

Diriwayatkan oleh al-Imam Malik rahimahullah bahwa Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhuma berkata, “ummah” adalah orang yang mengajari manusia agama mereka. Hal ini juga diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud, al-Farra’, dan Ibnu Qutaibah. (Zadul Masir, Ibnul Jauzi, 2/591)

Diriwayatkan dari Mujahid rahimahullah, bahwa (makna) “Ibrahim adalah umat” ialah mukmin seorang diri, dan seluruh manusia ketika itu dalam keadaan kafir. Hal ini juga diriwayatkan oleh adh-Dhahhak dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma.

Qatadah berkata bahwa beliau adalah imam petunjuk.

Diriwayatkan dari asy-Sya’bi rahimahullah, Farwah bin Naufal al-Asyja’i telah memberitakan kepadanya, Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu berkata, “Sesungguhnya Mu’adz radhiallahu ‘anhu adalah ummatan qanitan lillahi hanifan.”

Aku berkata pada diriku, “Abu Abdirrahman (yaitu Abdullah bin Mas’ud) telah keliru, karena Allah ‘azza wa jalla mengatakan, ‘Sesungguhnya Ibrahim adalah ummah’.”

Ibnu Mas’ud berkata, “Tahukah engkau, apa yang dimaksud umat dan yang dimaksud qanit?”

Aku menjawab, “Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya lebih mengetahui.”

Beliau radhiallahu ‘anhu berkata, “Ummah adalah yang mengajarkan kebaikan kepada manusia, dan qanit adalah yang taat kepada Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya. Dan demikianlah keadaan Mu’adz radhiallahu ‘anhu, dia mengajarkan kebaikan dan senantiasa taat kepada Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya.” (Tafsir Ibnu Katsir, 4/611)

Selain bermakna imam yang dijadikan sebagai panutan, kata “ummah” juga memiliki makna yang lain, seperti firman Allah ‘azza wa jalla,

وَإِنَّ هَٰذِهِۦٓ أُمَّتُكُمۡ أُمَّةٗ وَٰحِدَةٗ وَأَنَا۠ رَبُّكُمۡ فَٱتَّقُونِ ٥٢

“Sesungguhnya (agama tauhid) ini, adalah agama kamu semua, agama yang satu dan Aku adalah Rabb kalian, maka bertakwalah kepada-Ku.” (al-Mukminun: 52)

Yang dimaksud ummah di sini adalah agama. Qatadah rahimahullah berkata menafsirkan ayat ini, “Maksudnya, agama kalian adalah agama yang satu, dan Rabb kalian adalah Rabb yang satu.”

Terkadang, kata ummah bermakna ajaran atau metode dalam beragama, sebagaimana firman Allah ‘azza wa jalla,

وَكَذَٰلِكَ مَآ أَرۡسَلۡنَا مِن قَبۡلِكَ فِي قَرۡيَةٖ مِّن نَّذِيرٍ إِلَّا قَالَ مُتۡرَفُوهَآ إِنَّا وَجَدۡنَآ ءَابَآءَنَا عَلَىٰٓ أُمَّةٖ وَإِنَّا عَلَىٰٓ ءَاثَٰرِهِم مُّقۡتَدُونَ ٢٣

Dan demikianlah, Kami tidak mengutus sebelummu seorang pemberi peringatan pun dalam suatu negeri, melainkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu berkata, “Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama, dan sesungguhnya kami adalah pengikut jejak-jejak mereka.” (az-Zukhruf: 23)

Terkadang, “ummah” bermakna zaman dan waktu, seperti firman Allah ‘azza wa jalla,

وَقَالَ ٱلَّذِي نَجَا مِنۡهُمَا وَٱدَّكَرَ بَعۡدَ أُمَّةٍ أَنَا۠ أُنَبِّئُكُم بِتَأۡوِيلِهِۦ فَأَرۡسِلُونِ ٤٥

Dan berkatalah orang yang selamat di antara mereka berdua dan teringat (kepada Yusuf) sesudah beberapa waktu lamanya, “Aku akan memberitakan kepadamu tentang (orang yang pandai) menakbirkan mimpi itu, maka utuslah aku (kepadanya).” (Yusuf: 45)

Adapun makna قاَنِتًا ialah orang yang senantiasa taat kepada Allah ‘azza wa jalla.

Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu bahwa beliau berkata, “Al-Qanit adalah yang taat kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya.”

Az-Zajjaj rahimahullah berkata, “Al-Qanit adalah yang senantiasa menegakkan seluruh perintah Allah ‘azza wa jalla.” (Maanil Quran, az-Zajjaj, 3/222)

Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata, “Al-Qunut adalah ketaatan yang berkesinambungan dan terus berlanjut dalam kondisi apa pun. Dia (Ibrahim ‘alaihissalam) senantiasa taat kepada Allah ‘azza wa jalla, kokoh di atas ketaatan kepada-Nya, istiqamah menegakkannya dalam setiap keadaan. Hal ini sebagaimana anak keturunannya yang bernama Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam berzikir kepada Allah ‘azza wa jalla dalam setiap keadaannya. Jika ia berdiri, dia berzikir kepada Allah ‘azza wa jalla dan jika duduk, dia juga berzikir. Di saat tidur, makan, atau menunaikan keperluannya, dia senantiasa berzikir kepada Allah ‘azza wa jalla. Jadi, dia adalah orang yang tunduk baik di waktu malam maupun siang hari.” (al-Qaulul Mufid, 1/93)

Adapun kata حَنِيفًا , asal maknanya adalah yang condong kepada sesuatu dan tidak bergeser darinya selamalamanya. Ibrahim ‘alaihissalam senantiasa condong kepada Islam dan tidak bergeser darinya selama-lamanya. (Maanil Quran, az-Zajjaj, 3/222)

Al-Allamah as-Sa’di rahimahullah berkata bahwa makna “hanif” adalah menghadap kepada Allah ‘azza wa jalla dengan rasa cinta, kembali kepada-Nya, menghambakan diri, dan berpaling dari selain-Nya. (Taisir al-Karim ar-Rahman)

Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata bahwa makna hanif ialah menjauhi kesyirikan dan segala hal yang menyelisihi ketaatan. (al-Qaulul Mufid, 1/93)

Asy-Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab rahimahullah menjelaskan ayat ini, “Sesungguhnya, Ibrahim ‘alaihissalam adalah seorang imam yang sendirian. Hal ini agar seseorang yang menempuh jalan (kebenaran) ini tidak merasa takut hanya karena sedikitnya orang-orang yang berjalan di atasnya. Dia tunduk hanya kepada Allah subhanahu wa ta’ala, bukan kepada para penguasa atau para pedagang yang kaya raya. Dia condong kepada tauhid, tidak condong ke kiri dan ke kanan seperti perbuatan para ulama yang terfitnah. Dia bukan dari kalangan orang-orang musyrik, menyelisihi orang yang mementingkan banyak pengikut/Dia pun mengaku bahwa dirinya bagian dari kaum muslimin.” (Taisir al-Aziz al-Hamid, hlm. 75)

Ayat ini menunjukkan keutamaan yang besar dan kedudukan yang tinggi yang disandang oleh Nabi Ibrahim ‘alaihissalam di dunia dan di akhirat. Telah diriwayatkan oleh al-Imam Muslim rahimahullah dalam Shahih-nya, dari hadits Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu bahwa seorang lelaki datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata, “Wahai makhluk yang terbaik.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Itu adalah Ibrahim ‘alaihissalam.” (HR. Muslim, no. 2369)

Terlepas dari penjelasan para ulama bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan sabda beliau ini sebagai bentuk tawadhu, yang jelas hal ini menunjukkan tingginya kedudukan yang dimiliki oleh Ibrahim ‘alaihissalam, imam orang-orang yang hanif.

Di antara kemuliaan yang Allah ‘azza wa jalla berikan kepada Nabi Ibrahim Khalilullah ‘alaihissalam ialah menjadikan beliau sebagai manusia pertama yang akan diberi pakaian untuk dikenakan pada hari kiamat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّكُمْ تُحْشَرُونَ إِلَى اللهِ حُفَاةً عُرَاةً غُرْلًا، }كَمَا بَدَأْنَا أَوَّلَ خَلْقٍ نُعِيدُهُ وَعْدًا عَلَيْنَا إِنَّا كُنَّا فَاعِلِينَ{أَلَا وَإِنَّ أَوَّلَ الْخَلَائِقِ يُكْسَى، يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِبْرَاهِيمُ

Wahai sekalian manusia, sesungguhnya kalian akan dikumpulkan kepada Allah subhanahu wa ta’ala dalam keadaan tanpa alas kaki, telanjang, dan tanpa dikhitan. (Allah berfirman,) ‘Sebagaimana Kami menciptakan pertama kali, demikian pula Kami akan mengembalikannya. (Itu merupakan) janji atas Kami, sesungguhnya Kami pasti akan melakukannya.(al-Anbiya: 104). Ketahuilah, sesungguhnya makhluk yang pertama kali diberi pakaian pada hari kiamat adalah Ibrahim ‘alaihissalam. (HR. Muslim, no. 2860)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling mirip dengan Ibrahim ‘alaihissalam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَرَأَيْتُ إِبْرَاهِيمَ صَلَوَاتُ اللهِ عَلَيْهِ، فَإِذَا أَقْرَبُ مَنْ رَأَيْتُ بِهِ شَبَهًا صَاحِبُكُمْ-يَعْنِي نَفْسَهُ- وَرَأَيْتُ جِبْرِيلَ،  فَإِذَا أَقْرَبُ مَنْ رَأَيْتُ بِهِ شَبَهًا دِحْيَةُ

“… Dan aku melihat Ibrahim shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ternyata orang yang paling mirip dengannya di antara orang yang pernah aku lihat adalah sahabat kalian ini— maksudnya ialah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri. Dan aku melihat Jibril ‘alaihissalam, ternyata orang yang paling mirip dengannya dari orang yang pernah aku lihat adalah Dihyah (bin Khalifah).” (HR. Muslim, no. 167)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga meniru amalan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam yang mendoakan kedua anaknya, Ismail dan Ishaq agar Allah ‘azza wa jalla memberi perlindungan kepadanya. Diriwayatkan oleh Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendoakan perlindungan diri (kepada Allah ‘azza wa jalla) untuk al-Hasan dan al-Husain radhiallahu ‘anhuma.

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya ayah kalian (Ibrahim ‘alaihissalam) mengucapkan perlindungan diri dengannya untuk Ismail dan Ishaq,

أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّةِ، مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَامَّةٍ، وَمِنْ كُلِّ عَيْنٍ لاَمَّةٍ

‘Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah subhanahu wa ta’ala yang sempurna, dari setiap setan, dan setiap yang beracun, dan setiap ‘ain yang menimpa dengan keburukan’.” (HR. al-Bukhari, no. 3371)

pelita-sentir 

Ciri-Ciri Seorang Imam dalam Agama

Dalam kandungan ayat ini, kita dapat mengetahui ciri-ciri seorang yang menjadi pemimpin umat yang mengarahkan mereka kepada kebaikan. Di antara ciri-ciri tersebut adalah:

  1. Menyeru kepada tauhid

Ini adalah ciri yang paling tampak dari dakwah Nabiyullah Ibrahim ‘alaihissalam, yaitu tegak di atas tauhid dan jauh dari perbuatan syirik.

Karena itu, Allah ‘azza wa jalla menjelaskan bahwa sikap Ibrahim ‘alaihissalam dan yang bersama beliau adalah sikap yang patut dijadikan teladan oleh kaum muslimin. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

قَدۡ كَانَتۡ لَكُمۡ أُسۡوَةٌ حَسَنَةٞ فِيٓ إِبۡرَٰهِيمَ وَٱلَّذِينَ مَعَهُۥٓ إِذۡ قَالُواْ لِقَوۡمِهِمۡ إِنَّا بُرَءَٰٓؤُاْ مِنكُمۡ وَمِمَّا تَعۡبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ كَفَرۡنَا بِكُمۡ وَبَدَا بَيۡنَنَا وَبَيۡنَكُمُ ٱلۡعَدَٰوَةُ وَٱلۡبَغۡضَآءُ أَبَدًا حَتَّىٰ تُؤۡمِنُواْ بِٱللَّهِ وَحۡدَهُۥٓ إِلَّا قَوۡلَ إِبۡرَٰهِيمَ لِأَبِيهِ لَأَسۡتَغۡفِرَنَّ لَكَ وَمَآ أَمۡلِكُ لَكَ مِنَ ٱللَّهِ مِن شَيۡءٖۖ رَّبَّنَا عَلَيۡكَ تَوَكَّلۡنَا وَإِلَيۡكَ أَنَبۡنَا وَإِلَيۡكَ ٱلۡمَصِيرُ ٤

Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengannya ketika mereka berkata kepada kaum mereka, “Sesungguhnya kami berlepas diri dari kalian dan dari apa yang kalian sembah selain Allah. Kami ingkari (kekafiran) kalian dan telah nyata antara kami dan kalian permusuhan dan kebencian untuk selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja.” Kecuali perkataan Ibrahim kepada bapaknya, “Sesungguhnya aku akan memohonkan ampunan bagimu dan aku tiada dapat menolak sesuatu pun darimu (siksaan) Allah.” (Ibrahim berkata), “Ya Rabb kami, hanya kepada Engkaulah kami bertawakal, hanya kepada Engkaulah kami bertobat, dan hanya kepada Engkaulah kami kembali.” (al-Mumtahanah: 4)

Dari ayat di atas, tampak beberapa sikap Ibrahim ‘alaihissalam yang patut dijadikan suri teladan oleh kaum muslimin:

  • Inti dakwah beliau kepada manusia adalah urusan mentauhidkan Allah ‘azza wa jalla dan memperingatkan manusia dari bahaya kesyirikan.
  • Sikap al-wala wal-bara’ yang dibangun di atas tauhid dan iman.

Beliau ‘alaihissalam secara terang-terangan menampakkan sikap benci dan berlepas diri dari orang-orang yang menyekutukan Allah ‘azza wa jalla dan apa yang disembah oleh kaumnya selain Allah ‘azza wa jalla.

  • Senantiasa menyandarkan diri hanya kepada Allah ‘azza wa jalla dan selalu mengembalikan segala urusan kepada-Nya.
  • Sikap inabah (senantiasa kembali kepada ketaatan) kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan melakukan hal-hal yang mendatangkan ridha Allah ‘azza wa jalla, dengan kesungguhan ibadah hanya kepada-Nya.
  • Mengakui diri sebagai hamba yang melakukan kekurangan dan kesalahan, serta meyakini bahwa ia memiliki Allah Yang Maha Pengampun atas dosa-dosa hamba-Nya apabila hamba tersebut memohon ampun kepada-Nya.

Maka dari itu, Allah ‘azza wa jalla memerintahkan para hamba-Nya untuk mengikuti millah Ibrahim ‘alaihissalam. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

فَٱتَّبِعُواْ مِلَّةَ إِبۡرَٰهِيمَ حَنِيفٗاۖ وَمَا كَانَ مِنَ ٱلۡمُشۡرِكِينَ ٩٥

“Maka ikutilah agama Ibrahim yang lurus, dan dia tidaklah termasuk orang-orang yang musyrik.” (Ali Imran: 95)

ثُمَّ أَوۡحَيۡنَآ إِلَيۡكَ أَنِ ٱتَّبِعۡ مِلَّةَ إِبۡرَٰهِيمَ حَنِيفٗاۖ وَمَا كَانَ مِنَ ٱلۡمُشۡرِكِينَ ١٢٣

Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad), “Ikutilah agama Ibrahim seorang yang hanif.” Dia tidaklah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah. (an-Nahl: 123)

قُلۡ إِنَّنِي هَدَىٰنِي رَبِّيٓ إِلَىٰ صِرَٰطٖ مُّسۡتَقِيمٖ دِينٗا قِيَمٗا مِّلَّةَ إِبۡرَٰهِيمَ حَنِيفٗاۚ وَمَا كَانَ مِنَ ٱلۡمُشۡرِكِينَ ١٦١

Katakanlah, “Sesungguhnya aku telah ditunjuki oleh Rabbku kepada jalan yang lurus, (yaitu) agama yang benar; agama Ibrahim yang hanif; dan Ibrahim itu tidaklah termasuk orang-orang yang musyrik.” (al-An’am: 161)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Beribadah kepada Allah ‘azza wa jalla semata, mencintai-Nya, dan mengagungkan-Nya, adalah kesempurnaan jiwa yang teragung dan kebahagiaan yang terbesar. Kebahagiaan tidak mungkin hanya dengan pengetahuan yang kosong dari rasa cinta, pengabdian, dan penghambaan diri.” (ash-Shafadiyah, karya Ibnu Taimiyah hlm. 234)

Inti dari kesuksesan dalam kehidupan dunia dan akhirat adalah dengan mentauhidkan Allah ‘azza wa jalla. Dan inilah inti dakwah seluruh nabi dan rasul. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

وَلَقَدۡ بَعَثۡنَا فِي كُلِّ أُمَّةٖ رَّسُولًا أَنِ ٱعۡبُدُواْ ٱللَّهَ وَٱجۡتَنِبُواْ ٱلطَّٰغُوتَۖ

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan), “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu.” (an-Nahl: 36)

وَمَآ أَرۡسَلۡنَا مِن قَبۡلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلَّا نُوحِيٓ إِلَيۡهِ أَنَّهُۥ لَآ إِلَٰهَ إِلَّآ أَنَا۠ فَٱعۡبُدُونِ ٢٥

Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelummu, melainkan Kami wahyukan kepadanya bahwasanya tidak ada Ilah (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku oleh kalian.” (al-Anbiya:25)

 

  1. Ketundukan kepada Allah ‘azza wa jalla

Di antara sifat yang disebutkan oleh Allah ‘azza wa jalla dalam ayat di atas adalah ketundukan dan berserah diri Ibrahim ‘alaihissalam kepada Allah ‘azza wa jalla.

Ini adalah sifat seorang hamba yang senantiasa diridhai dan dicintai oleh Allah ‘azza wa jalla. Allah ‘azza wa jalla telah memuji hamba-hamba-Nya yang senantiasa tunduk dan berserah diri hanya kepada-Nya dalam firman-Nya ‘azza wa jalla ((yang artinya),

“Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (al-Ahzab: 35)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah hamba yang senantiasa berserah diri kepada Allah ‘azza wa jalla. Kedudukan yang mulia dan ketinggian derajat beliau di sisi Allah ‘azza wa jalla tidak menghalangi beliau untuk semakin giat beribadah kepada-Nya. Justru sebaliknya, kemuliaan tersebut menjadi penggerak semangat beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk senantiasa bersyukur atas segala nikmat yang diberikan kepadanya.

Diriwayatkan dari Aisyah radhiallahu ‘anha, Apabila mengerjakan shalat, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri hingga membengkak kedua kakinya. Aisyah radhiallahu ‘anha berkata, “Mengapa engkau melakukan ini, padahal telah diampuni segala dosa-dosamu yang terdahulu dan yang akan datang?”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Wahai Aisyah, tidakkah pantas aku menjadi seorang hamba yang senantiasa bersyukur?” (Muttafaqun alaih)

 

  1. Sabar

Sabar adalah salah satu kunci keberhasilan hidup di dunia dan akhirat. Selain itu, sabar menjadi kunci untuk meraih kepemimpinan dalam agama ini.

Apabila melihat kisah perjalanan dakwah Nabi Ibrahim ‘alaihissalam, kita mengetahui bahwa beliau mengalami cobaan yang sangat berat di tengahtengah masyarakatnya.

Lebih berat lagi ketika beliau ‘alaihissalam harus berhadapan dengan keluarganya sendiri—dalam hal ini ayahnya—yang dikenal sebagai pembuat patung berhala tersebut.

Akan tetapi, Ibrahim ‘alaihissalam tetap berusaha mendakwahi ayahnya dengan lemah lembut. Allah ‘azza wa jalla menjelaskan ajakan Ibrahim ‘alaihissalam kepada ayahnya (yang artinya),

Ingatlah ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya, “Wahai bapakku, mengapa engkau menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat, dan tidak dapat menolongmu sedikit pun?

Wahai bapakku, sesungguhnya telah datang kepadaku sebagian ilmu pengetahuan yang tidak datang kepadamu, maka ikutilah aku, niscaya aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang lurus.

Wahai bapakku, janganlah engkau menyembah setan. Sesungguhnya setan itu durhaka kepada Dzat Yang Maha Pemurah. Wahai bapakku, sesungguhnya aku khawatir bahwa engkau akan ditimpa azab dari Dzat Yang Maha Pemurah, maka engkau menjadi kawan bagi setan.” (Maryam: 42—45)

Di antara yang menunjukkan kesabaran beliau ‘alaihissalam adalah tatkala Allah ‘azza wa jalla menguji beliau dengan memperlihatkan dalam mimpi bahwa beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam diperintah untuk menyembelih anaknya.

Keadaan yang sulit ini pun tetap dijalani oleh Ibrahim ‘alaihissalam meskipun berkonsekuensi kehilangan salah seorang anak saleh yang sangat dicintainya. Allah ‘azza wa jalla kemudian mengganti anaknya dengan seekor kibas. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman (yang artinya),

Tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersamasama Ibrahim, Ibrahim berkata, “Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah, apa pendapatmu!”

Ia menjawab, “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.”

Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis (nya), (nyatalah kesabaran keduanya). Dan Kami panggillah dia, “Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu.”

Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.

Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orangorang yang datang kemudian, (yaitu) “Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim.” (ash-Shaffat: 102—109)

        Allah ‘azza wa jalla masih memberikan berbagai ujian kepada beliau ‘alaihissalam. Semua itu beliau hadapi dengan dengan penuh kesabaran, hingga akhirnya meraih kesuksesan hidup di dunia dan akhirat.

Oleh karena itu, Allah ‘azza wa jalla memerintah para hamba-Nya untuk bersabar seperti sabarnya Ulul Azmi dari kalangan para rasul. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

فَٱصۡبِرۡ كَمَا صَبَرَ أُوْلُواْ ٱلۡعَزۡمِ مِنَ ٱلرُّسُلِ وَلَا تَسۡتَعۡجِل لَّهُمۡۚ

“Maka bersabarlah kamu seperti bersabarnya para rasul orang-orang yang mempunyai keteguhan hati dari rasul-rasul, dan janganlah kamu meminta disegerakan (azab) bagi mereka.” (al-Ahqaf: 35)

 

  1. Yakin

Nabi Ibrahim ‘alaihissalam menegakkan dakwah tauhid dengan penuh keyakinan bahwa jalan tauhid adalah jalan keselamatan, sedangkan kesyirikan adalah jalan yang akan membinasakan para pelakunya.

Beliau ‘alaihissalam senantiasa istiqamah di atas jalan ini hingga bertemu Allah ‘azza wa jalla dengan hati yang senantiasa berserah diri kepada-Nya. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

وَإِنَّ مِن شِيعَتِهِۦ لَإِبۡرَٰهِيمَ ٨٣  إِذۡ جَآءَ رَبَّهُۥ بِقَلۡبٖ سَلِيمٍ ٨٤

“Dan sesungguhnya Ibrahim benar-benar termasuk golongannya (Nuh). (Ingatlah) ketika ia datang kepada Rabbnya dengan hati yang suci.” (ash- Shaffat: 83—84)

Dengan kesabaran menghadapi berbagai cobaan, disertai keyakinan akan kemuliaan dan kebahagiaan kekal yang dijanjikan oleh Allah ‘azza wa jalla yang pasti akan diraih oleh para hamba-Nya, seseorang akan meraih kepemimpinan dan ketinggian derajat di dunia dan akhirat. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

وَجَعَلۡنَا مِنۡهُمۡ أَئِمَّةٗ يَهۡدُونَ بِأَمۡرِنَا لَمَّا صَبَرُواْۖ وَكَانُواْ بِ‍َٔايَٰتِنَا يُوقِنُونَ ٢٤

“Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami.” (as-Sajadah: 24)

Semoga Allah ‘azza wa jalla menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang meraih kemuliaan dunia dan akhirat.

Ditulis oleh al-Ustadz Abu Muawiyah Askari