Mereka Memuluskan Kristenisasi

Tanpa disadari, ternyata misi Kristenisasi mendapat “dukungan” secara tidak langsung dari beberapa tokoh dan aktivis yang dikenal sebagai cendekiawan muslim. Hakikat mereka ini seperti yang telah disabdakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

دُعَاةٌ عَلَى أَبْوَابِ جَهَنَّمَ، مَنْ أَجَابَهُم إِلَيْهَا قَذَفُوهُ فِيهَا

“Para dai yang berada di pintu-pintu neraka Jahannam. Yang memenuhi panggilan mereka akan mereka lemparkan ke neraka.”

Ketika ditanya ditanya tentang ciri-ciri mereka, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,

هُمْ مِنْ جَلْدَتِنَا وَيَتَكَلَّمُونَ بِأَلسِنَتِنا

“Kulit mereka sama dengan kulit kita, mereka juga berbicara dengan bahasa kita.” (HR. al-Bukhari no. 7084 dan Muslim no. 1847 dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)

Telah benar sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

قَبْلَ السَّاعَةِ سِنُونَ خَدَّاعَةٌ يُكَذَّبُ فِيهَا الصَّادِقُ ويُصَدَّقُ فِيهَا الْكَاذِبُ، وَيُخَوَّنُ فِيهَا الْأَمِينُ وَيُؤْتَمَنُ فِيهَا الرُّوَيْبِضَةُ

“Sebelum hari kiamat akan ada tahun-tahun yang penuh penipuan. Orang jujur didustakan, orang dusta dibenarkan, orang yang amanah dikhianati dan ar-Ruwaibidhah pun ketika itu turut berbicara.” (HR. Ahmad dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)

Di dalam hadits lain disebutkan siapa itu Ruwaibidhah,

السَّفِيهُ يَتَكَلَّمُ فِي أَمْرِ الْعَامَّةِ

“Orang-orang dungu yang ikut berbicara dalam urusan umum.”

Jaringan Islam Liberal (JIL) memiliki andil yang sangat besar atas kemajuan Kristenisasi di Indonesia. Sebab, tokoh-tokohnya sangat gencar memperkenalkan paham pluralisme dengan slogan “Membangun Dunia Baru”.

no-jil

Salah satu tokohnya, Dr. Nurcholis Madjid (Cak Nur), menulis sebuah buku “Pluralisme Agama, Kerukunan dalam Keragaman”. Di dalam buku tersebut dia menjelaskan bahwa pengikut Isa al-Masih menyebut kitab Injil sebagai “Perjanjian Baru” berdampingan dengan kitab Taurat yang mereka sebut sebagai “Perjanjian Lama”. Kaum Yahudi tidak mengakui Isa al-Masih dengan Injilnya, karena kitab itu adalah Perjanjian Baru. Namun, al-Qur’an mengakui keabsahan keduanya sekaligus.

Pendapat Nurcholis Madjid ini adalah bentuk upaya perusakan akidah, selain menunjukkan kedangkalan ilmunya. Padahal para Hawariyyun, pengikut sejati Nabi Isa ‘alaihissalam, tidak pernah menyebut Injil sebagai Perjanjian Baru. Mereka meyakini bahwa Injil diturunkan kepada Nabi Isa ‘alaihissalam, sedangkan Perjanjian Baru ialah surat-surat Paulus yang kebanyakan isinya bertentangan dengan ajaran Nabi Isa ‘alaihissalam.

Yang hampir serupa dinyatakan oleh Prof. Dr. Said Agil Siradj. Gagasan pluralismenya tertuang dalam kata pengantar buku “Menuju Dialog Teologis Kristen-Islam”. Buku ini ditulis oleh seorang pendiri aliran “Kanisah Ortodoks Syiria” (KOS) di Indonesia, Bambang Noorsane. Dalam pengantarnya, Siradj berani mengatakan bahwa KOS tidak jauh beda atau tidak berbeda dengan Islam.

Jelas sekali, pandangan seperti ini merupakan bentuk penghancuran akidah. Apakah kita akan melupakan dengan ayat-ayat al-Qur’an yang dengan tegas menunjukkan kekafiran kaum Nasrani dari sekte apa pun?!

إِنَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ مِنۡ أَهۡلِ ٱلۡكِتَٰبِ وَٱلۡمُشۡرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَٰلِدِينَ فِيهَآۚ أُوْلَٰٓئِكَ هُمۡ شَرُّ ٱلۡبَرِيَّةِ ٦

“Sesungguhnya orang-orang kafir dari ahli kitab dan kaum musyrik berada di Jahannam dalam keadaan kekal di dalamnya. Mereka itu adalah sejelek-jeleknya manusia.” (al-Bayyinah: 6)

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

وَمَن يَبۡتَغِ غَيۡرَ ٱلۡإِسۡلَٰمِ دِينٗا فَلَن يُقۡبَلَ مِنۡهُ وَهُوَ فِي ٱلۡأٓخِرَةِ مِنَ ٱلۡخَٰسِرِينَ ٨٥

“Dan barang siapa memilih selain Islam sebagai agamanya, tidaklah akan diterima; dan di akhirat dia akan merugi.” (Ali ‘Imran: 85)

Perbedaan antara Kristen berikut segenap sektenya dan Islam adalah perbedaan antara kafir dan iman. Di samping tentu saja perbedaan dari sisi akidah, ibadah, akhlak, muamalah, dan urusan agama lainnya. Seorang muslim tidak boleh menutup mata dari perbedaan-perbedaan ini, apalagi sampai mendakwahkan bahwa “tidak ada perbedaan” antara Islam dan Kristen.

Selain dua liberalis di atas, tokoh-tokoh pluralisme yang harus diwaspadai adalah Alwi Shihab, Komarudin Hidayat, Budhy Munawar Rahman, Luthfi Asy Syaukanie (ketiganya dosen Universitas Paramadina), Azyumardi Azra, Muhammad Ali, Nasaruddin Umar (ketiganya dosen UIN Syarif Hidayatullah), dan sederet nama lain yang berkontribusi terhadap JIL.

Adapun di luar negeri, yang patut dicatat namanya masa ini adalah Muhammad al-Arifi, yang dianggap ulama oleh sebagian pihak. Dia bisa berpelukan dengan seorang pendeta Nasrani. Bahkan, dia berfatwa bolehnya menerimanya pemberian/hadiah yang terkait dengan perayaan hari Natal, bahkan boleh membalas memberi hadiah kepada mereka.

Melalui pluralisme yang didakwahkan oleh JIL ini, umat Islam diseret untuk melepaskan akidahnya, tidak lagi meyakini yang benar hanya agamanya. Setelah itu, umat diajak untuk mengakui bahwa Kristen juga benar. Kesimpulannya, Teologi Pluralisme sebenarnya adalah pembuka jalan bagi misionaris.

Kehadiran tokoh Islam di gereja atau acara keagamaan Kristen merupakan kebanggaan tersendiri bagi mereka. Oleh karena itu, tidak segan-segan mereka mengundang sang tokoh atau istrinya, sebagaimana yang terjadi di Gunung Kidul (DIY), mantan istri seorang kiai tersohor hadir dalam acara baptis di gereja.

Patut dicatat pula kehadiran Gus Nuril dalam perayaan Natal di Gereja Bethany Indonesia, Tayu, Pati, Jawa Tengah pada bulan Desember 2013. Hanya kepada Allah ‘azza wa jalla kita mengadu.

Yang tidak kalah dahsyat, Din Syamsuddin, Ketua Umum PP Muhammadiyah, menghadiri—bahkan berpidato—dalam Sidang Raya Dewan Gereja sedunia ke-10 di Busan, Korea Selatan, yang dihadiri oleh sekitar 3.000 tokoh gereja sedunia pada 5 November 2013.

Sebelumnya (pertengahan Juni 2011), dia hadir dan tampil pada seminar Forum Komunikasi Kristiani di Jakarta yang diikuti oleh 160 peserta Protestan dan Katolik. Banyak pernyataan Din Syamsuddin yang memojokkan kaum muslimin, dan di sisi lain justru mendukung program pluralisme.

“Kecuali masjid, semua fasilitas PP Muhammadiyah bisa dipinjam dan digunakan untuk keperluan Natal oleh kaum Nasrani. Ini perintah dan instruksi Ketua Umum PP Muhammadiyah kepada seluruh pengurus Muhammadiyah,” kata Din Syamsuddin ketika menggelar pertemuan dengan tokoh-tokoh lintas agama di Gedung PP Muhammadiyah, Rabu, 21 Desember 2005, empat hari menjelang Natal.

Prof. M. Quraish Shihab menyatakan bahwa masalah memberikan ucapan selamat Natal diduga keras hanya terjadi di Indonesia. Lebih jauh, dia menyebutkan bahwa Yusuf al-Qaradhawi memberi pengantar terhadap sebuah buku yang di dalamnya memuat fatwa bolehnya hal tersebut. (www.tribunnews.com). Di samping itu, Quraish Shihab pun menyatakan cenderung membolehkan hal ini dalam sebuah bukunya.

Patut disayangkan pula, ucapan Yenny Wahid, Direktur Wahid Institute, yang mengatakan bahwa pemberian ucapan Natal kepada masyarakat Nasrani tidak akan melunturkan keyakinan yang dimiliki seseorang. (www.tempo.co, 20/12/2014)

Kabar memilukan kita dengar pula tentang KH Abdul Muhaimin (pengasuh PP Nurul Ummahat, Kotagede) yang berceramah dalam perayaan Natal di di Gereja Kristen Jawa (GKJ) Samirono Baru, Condongcatur, Sleman, pada Kamis, 25/12/2014. (www.kompas.com)

Sering juga kita jumpai sebagian ormas Islam yang mengutus tim keamanan untuk mengamankan kegiatan-kegiatan Kristen di gereja. Padahal di antara sifat-sifat orang munafik yang Allah ‘azza wa jalla sebutkan dalam al-Qur’an ialah,

ٱلَّذِينَ يَتَّخِذُونَ ٱلۡكَٰفِرِينَ أَوۡلِيَآءَ مِن دُونِ ٱلۡمُؤۡمِنِينَۚ أَيَبۡتَغُونَ عِندَهُمُ ٱلۡعِزَّةَ فَإِنَّ ٱلۡعِزَّةَ لِلَّهِ جَمِيعٗا ١٣٩

“(Yaitu) orang-orang yang mengambil orang-orang kafir sebagai pembela-pembela selain kaum mukminin. Apakah mereka ingin mencari kekuatan, padahal kekuatan semuanya hanya milik Allah.” (an-Nisa: 139)

مُّذَبۡذَبِينَ بَيۡنَ ذَٰلِكَ لَآ إِلَىٰ هَٰٓؤُلَآءِ وَلَآ إِلَىٰ هَٰٓؤُلَآءِۚ وَمَن يُضۡلِلِ ٱللَّهُ فَلَن تَجِدَ لَهُۥ سَبِيلٗا ١٤٣

“Barang siapa disesatkan oleh Allah, engkau tidak akan mendapatkan jalan petunjuk baginya.” (an-Nisa: 143)

Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah menerangkan, “Maknanya, mereka pada hakikatnya bersama orang-orang kafir tersebut, saling berloyalitas. Mereka menyembunyikan rasa cinta mereka kepada orang kafir di hadapan kaum mukminin. Saat bersama orang-orang kafir, mereka berkata, ‘Sebenarnya kami bersama kalian. Kami hanya mempermainkan orang-orang yang beriman’.” (Tafsir Ibnu Katsir, 2/264 cet. Maktabah as-Shafa)

Kita berlindung kepada Allah ‘azza wa jalla dari segala kesesatan, yang lahir dan yang batin.

Allah ‘azza wa jalla telah mengingatkan kaum mukminin agar tidak berloyalitas dengan orang-orang kafir. Dia ‘azza wa jalla berfirman,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تَتَّخِذُواْ ٱلۡكَٰفِرِينَ أَوۡلِيَآءَ مِن دُونِ ٱلۡمُؤۡمِنِينَۚ أَتُرِيدُونَ أَن تَجۡعَلُواْ لِلَّهِ عَلَيۡكُمۡ سُلۡطَٰنٗا مُّبِينًا ١٤٤

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian menjadikan orang-orang kafir sebagai teman selain dari orang yang beriman. Apakah kalian ingin Allah memiliki alasan yang jelas untuk menyiksa kalian?” (an-Nisa: 144)

Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Allah ‘azza wa jalla melarang hamba-hamba-Nya yang beriman menjadikan orang-orang kafir sebagai wali selain kaum mukminin, yaitu saling bersahabat dan berteman dengan mereka.” (Tafsir Ibnu Katsir, 2/268 cet. Maktabah as-Shafa)

Ini satu kutub yang patut dicermati dan diwaspadai. Ada pula kutub berlawanan yang tidak kalah penting untuk diwaspadai, yaitu menghadapi gerakan Kristenisasi dengan cara-cara anarkis.

Salah satu contoh sikap yang salah ketika menghadapi gerakan Kristenisasi ialah apa yang dilakukan oleh Ja’far Umar Thalib (Pengasuh PP Ihya’us Sunnah, Yogyakarta).

Di satu sisi, dia menolak pluralisme dengan mengadakan tablig akbar aksi antipluralisme yang disertai ajakan untuk bersikap anarkis.

Akan tetapi, di sisi lain dia menjallin persahabatan yang akrab dengan seorang tokoh Kristen, bahkan rela menghadiri acara penganugerahan gelar doktor honoris causa bagi tokoh tersebut, serta menghadiri acara peringatan ulang tahun pernikahannya. Kita berlindung kepada Allah ‘azza wa jalla.

Beberapa tahun yang lalu, ketika berdialog dengan seorang tokoh Islam liberal, Ja’far Umar Thalib menunjukkan penolakan apabila Indonesia dipimpin oleh nonmuslim. Akan tetapi, beberapa bulan yang lalu dia memberi sebuah pernyataan rekomendasi untuk sahabatnya yang beragama Kristen tersebut menjadi calon presiden dari sebuah partai politik.

Sudah sepantasnya kita mewaspadai para dai seperti mereka, lebih-lebih lagi di zaman yang penuh dengan keburukan seperti sekarang ini. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

وَٱتَّقُواْ فِتۡنَةٗ لَّا تُصِيبَنَّ ٱلَّذِينَ ظَلَمُواْ مِنكُمۡ خَآصَّةٗۖ

“Dan takutlah dari fitnah yang tidak hanya menimpa orang-orang yang zalim saja.” (al-Anfal: 25)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

بَادِرُوا بِالْأعْمَالِ فِتَناً كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِناً وَيُمْسِي كَافِراً وَيُمْسِي مُؤْمِناً وَيُصْبِحُ كَافِراً، يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنَ الدٌّنْيَا

“Segeralah untuk beramal sebelum datangnya fitnah yang seperti potongan malam yang gelap gulita. Pagi hari seorang beriman, sore hari berubah menjadi kafir; atau sore hari beriman, pagi harinya kafir; Dia menggadaikan agamanya demi sejumput dunia.” (HR. Muslim no. 118 dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)

Wallahu waliyyut taufiq.

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Ishaq Abdullah Nahar