Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu dan Zaid bin Khalid al-Juhani radhiallahu ‘anhu, mereka berkata,

إِنَّ رَجُلًا مِنْ الْأَعْرَابِ أَتَى رَسُولَ اللهِ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، أَنْشُدُكَ اللهَ إِلَّا قَضَيْتَ لِي بِكِتَابِ اللهِ. فَقَالَ الْخَصْمُ الْآخَرُ وَهُوَ أَفْقَهُ مِنْهُ: نَعَمْ فَاقْضِ بَيْنَنَا بِكِتَابِ اللهِ وَأْذَنْ لِي. فَقَالَ رَسُولُ اللهِ: قُلْ. قَالَ: إِنَّ ابْنِي كَانَ عَسِيفًا عَلَى هَذَا فَزَنَى بِامْرَأَتِهِ وَإِنِّي أُخْبِرْتُ أَنَّ عَلَى ابْنِي الرَّجْمَ فَافْتَدَيْتُ مِنْهُ بِمِائَةِ شَاةٍ وَوَلِيدَةٍ، فَسَأَلْتُ أَهْلَ الْعِلْمِ فَأَخْبَرُونِي أَنَّمَا عَلَى ابْنِي جَلْدُ مِائَةٍ وَتَغْرِيبُ عَامٍ وَأَنَّ عَلَى امْرَأَةِ هَذَا الرَّجْمَ. فَقَالَ رَسُولُ اللهِ :وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ  لَأَقْضِيَنَّ بَيْنَكُمَا بِكِتَابِ اللهِ، الْوَلِيدَةُ وَالْغَنَمُ رَدٌّ وَعَلَى ابْنِكَ جَلْدُ مِائَةٍ وَتَغْرِيبُ عَامٍ، وَاغْدُ يَا أُنَيْسُ إِلَى امْرَأَةِ هَذَا، فَإِنِ اعْتَرَفَتْ فَارْجُمْهَا. قَالَ: فَغَدَا عَلَيْهَا فَاعْتَرَفَتْ فَأَمَرَ بِهَا رَسُولُ فَرُجِمَتْ

Seorang Arab badui datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata, “Wahai Rasulullah, aku minta kepadamu dengan nama Allah untuk memutuskan perkaraku (dengan saudaraku ini –pen.) sesuai dengan Kitab Allah.”

Lawannya, yang lebih pandai, berkata, “Ya, putuskanlah perkara kami dengan Kitab Allah, dan izinkanlah aku bicara!”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bicaralah!”

Dia pun bertutur, “Sesungguhnya anakku bekerja sebagai pekerja upahan pada orang ini, lalu berzina dengan istrinya. Kemudian aku mendapatkan kabar bahwa anakku harus dirajam. Aku pun menebus anakku dengan seratus ekor kambing dan seorang budak perempuan. Kemudian aku menanyakan masalah ini kepada orang-orang yang berilmu. Ternyata mereka menjawab bahwa hukuman untuk anakku sebenarnya adalah dera seratus kali dan diasingkan selama setahun, sedangkan istri orang inilah yang seharusnya dirajam.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Demi Dzat Yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh aku akan memutuskan perkara kalian dengan Kitab Allah! Budak perempuan dan kambing harus dikembalikan, dan anakmu harus didera seratus kali serta diasingkan selama setahun. Sekarang temui istri orang ini, wahai Unais. Jika ia mengaku, rajamlah ia.”

Unais pergi menemui wanita tersebut. Ternyata ia mengakui perbuatannya. Wanita itu pun dirajam.

 Takhrij Hadits

Hadits ini sahih, muttafaqun ‘alaihi. Al-Bukhari rahimahullah meriwayatkan hadits ini di beberapa tempat dalam Shahihnya melalui jalan guru-guru beliau; Qutaibah bin Sa’id, Ismail, Ali bin Abdillah, Abdullah bin Yusuf, dan Muhammad bin Yusuf. Semua melalui jalan az-Zuhri dari Ubaidullah bin Abdullah bin Utbah bin Mas’ud dari Abu Hurairah dan Zaid bin Khalid al-Juhani.

Al-Imam Muslim rahimahullah mengeluarkan hadits ini dalam Shahih-nya melalui jalan Qutaibah bin Sa’id dan Muhammad bin Rumh, keduanya dari al-Laits bin Sa’d dari Ibnu Syihab dari Ubaidullah bin Abdullah bin Utbah bin Mas’ud.

Hadits ini diriwayatkan pula oleh Abu Dawud, at-Tirmidzi, an-Nasai, dan Ibnu Majah.

 Makna Hadits

Hadits di atas menjelaskan salah satu pokok agung dalam agama ini, yaitu kewajiban beramal sesuai dengan bimbingan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dalam berakidah, umat wajib berkeyakinan seperti keyakinan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dalam beribadah, manusia juga wajib beribadah sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam beribadah. Termasuk dalam seorang membuat perdamaian shulh dengan saudaranya pun tidak boleh menyelisihi al-Kitab dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Perhatikan sabda ar-Rasul dalam kisah ini, “Budak perempuan dan kambing dikembalikan padamu.” Sabda ini adalah contoh bahwa shulh (perdamaian) yang dibangun di atas kebatilan dan di atas penyelisihan terhadap al-Kitab dan as-Sunnah, maka perdamaian tersebut batal, tidak berlaku, dan harus disesuaikan dengan syariat. Oleh karena itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan agar seratus kambing dan seorang budak yang telah diserahkan sebagai bentuk perdamaian dikembalikan.

Kisah ini, mengingatkan kita kepada sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari Ibunda kaum mukminin, Ummu Abdillah ‘Aisyah binti Abu Bakr ash-Shiddiq radhiallahu ‘anhu, beliau berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

“Barang siapa mengada-adakan sesuatu (amalan) dalam urusan (agama) kami yang bukan dari kami, (amalan) itu tertolak.( HR. al-Bukhari dan Muslim)

Dalam riwayat Muslim,

مَنْ عَمِلَ عَمَ لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

“Barang siapa melakukan suatu amalan yang tidak ada perintahnya dari kami, maka itu tertolak.

Hadits ini menunjukkan kewajiban kita untuk gigih meneladani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Selain itu, hadits ini juga mengingatkan kita agar berupaya sekuat tenaga menjaga syariat dari segala kebid’ahan dan bentuk penyelisihan.

 Menjaga Kemurnian Islam

Di antara pelajaran penting dari hadits Abu Hurairah dan Zaid bin Khalid al-Juhani, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah sosok mulia yang setiap kali melihat kemungkaran, beliau segera meluruskan dan mengembalikan manusia kepada sunnah beliau dengan penuh hikmah.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah membiarkan manusia tersesat. Segala penyimpangan segera diluruskan, dalam hal akidah, ibadah, muamalah, atau penyimpangan lain.

Dalam hadits ini beliau meluruskan shulh (perdamaian) yang dibangun di atas kezaliman dan penyelisihan terhadap syariat Allah subhanahu wa ta’ala.

Sangat banyak contoh semangat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjaga syariat dari penyimpangan. Diriwayatkan bahwa ketika melihat seseorang menjadikan gelang sebagai sebab datangnya manfaat dan tertolaknya mudarat, beliau segera mengingkari kesyirikan tersebut. Dari ‘Imran bin Hushain radhiallahu ‘anhu,

أَنَّ النَّبِيَّ رَأَى رَجُلًا فِي يَدِهِ حِلْقَةً مِنْ صُفْرٍ، فَقَالَ: مَا هَذِهِ؟ قَالَ: مِنَ الْوَاهِنَةِ. فَقَالَ:انْزِعْهَا، فَإِنَّهَا لاَ تُزِيدُكَ إِ وَهْنًا، فَإِنَّكَ لَوْ مُتَّ وَهِيَ عَلَيْكَ، مَا أَفْلَحْتَ أَبَدًا

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat seorang pria memakai gelang dari tembaga di tangannya. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, “Apa ini?”

Pria tersebut menjawab, “(Aku memakainya) karena (tertimpa) penyakit wahinah.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Lepaskanlah! Sesungguhnya (jimat) itu tidak akan menambahkanmu selain penyakit. Jika engkau mati dan jimat itu masih berada pada dirimu, engkau tidak akan bahagia selamanya!”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak hanya mengingkari kemungkaran yang sedang atau telah terjadi. Kemungkaran yang masih berbentuk keinginan juga beliau ingkari, sebagaimana yang dikisahkan Abu Umamah radhiallahu ‘anhu,

إِنَّ فَتًى شَابًّا أَتَى النَّبِيَّ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، ائْذَنْ لِي بِالزِّنَا فَأَقْبَلَ الْقَوْمُ عَلَيْهِ فَزَجَرُوهُ. قَالُوا: مَهْ مَهْ. فَقَالَ: ادْنُهْ. فَدَنَا مِنْهُ قَرِيبًا، قَالَ: فَجَلَسَ. قَالَ: أَتُحِبُّهُ لِأُمِّكَ؟ قَالَ: لَا وَاللهِ، جَعَلَنِيَ اللهُ فِدَاءَكَ. قَالَ: وَلَا النَّاسُ يُحِبُّونَهُ لِأُمَّهَاتِهِمْ. قَالَ: أَفَتُحِبُّهُ لِابْنَتِكَ؟ قَالَ: لَا وَاللهِ، يَا رَسُولَ اللهِ، جَعَلَنِيَ اللهُ فِدَاءَكَ. قَالَ: وَلَا النَّاسُ يُحِبُّونَهُ لِبَنَاتِهِمْ. قَالَ: أَفَتُحِبُّهُ لِأُخْتِكَ؟ قَالَ: لَا وَاللهِ جَعَلَنِيَ اللهُ فِدَاءَكَ. قَالَ: وَلَا النَّاسُ يُحِبُّونَهُ لِأَخَوَاتِهِمْ؟ قَالَ: أَفَتُحِبُّهُ لِعَمَّتِكَ؟ قَالَ: لَا وَاللهِ جَعَلَنِيَ اللهُ فِدَاءَكَ. قَالَ: وَلَا النَّاسُ يُحِبُّونَهُ لِعَمَّاتِهِمْ. قَالَ: أَفَتُحِبُّهُ لِخَالَتِكَ؟ قَالَ: لَا وَاللهِ جَعَلَنِيَ اللهُ فِدَاءَكَ. قَالَ: وَلَا النَّاسُ يُحِبُّونَهُ لِخَالَاتِهِمْ. قَالَ: فَوَضَعَ يَدَهُ عَلَيْهِ وَقَالَ: اللَّهُمَّ اغْفِرْ ذَنْبَهُ وَطَهِّرْ قَلْبَهُ وَحَصِّنْ فَرْجَهُ. فَلَمْ يَكُنْ بَعْدُ ذَلِكَ الْفَتَى يَلْتَفِتُ إِلَى شَيْءٍ.

Suatu hari seorang pemuda yang mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah, izinkan aku berzina!”

Orang-orang pun bergegas mendatanginya dan menghardiknya, “Diam kamu! Diam kamu!”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Mendekatlah.”

Pemuda itu pun mendekat lalu duduk. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, “Relakah engkau jika ibumu dizinai orang lain?”

“Tidak, demi Allah, wahai Rasul!sahut pemuda itu.

“Begitu pula orang lain, tidak rela kalau ibu mereka dizinai.

Lanjut Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Relakah engkau jika putrimu dizinai orang?”

“Tidak, demi Allah, wahai Rasul!” jawab pemuda itu kembali.

“Begitu pula orang lain, tidak rela jika putri mereka dizinai.”

“Relakah engkau jika saudari kandungmu dizinai?”

“Tidak, demi Allah, wahai Rasul!”

“Begitu pula orang lain, tidak rela jika saudara perempuan mereka dizinai.”

“Relakah engkau jika bibimu—dari jalur bapak—dizinai?”

“Tidak, demi Allah, wahai Rasul!”

“Begitu pula orang lain, tidak rela jika bibi mereka dizinai.”

“Relakah engkau jika bibi—dari jalur ibumu—dizinai?”

“Tidak, demi Allah, wahai Rasul!”

“Begitu pula orang lain, tidak rela jika bibi mereka dizinai.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meletakkan tangannya di dada pemuda tersebut sembari berkata, “Ya Allah, ampunilah kekhilafannya, sucikanlah hatinya, dan jagalah kemaluannya.”

Demikian sebagian perjalanan hidup Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang dihiasi oleh amar ma’ruf nahi munkar hingga beliau wafat dan Allah telah menyempurnakan agama ini.

Mewaspadai Upaya Merusak Islam

Islam telah disempurnakan oleh Allah subhanahu wa ta’ala dan akan terus tegak hingga akhir zaman. Akan tetapi, di akhir zaman, fitnah (keburukan dan musibah) sangat besar. Berbagai penyimpangan bermunculan hendak mencerai-beraikan umat.

Keadaan ini sesungguhnya telah dikabarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau juga telah memberikan jalan keluar dari fitnah tersebut, yaitu dengan kembali kepada sunnah Rasul dan al-Khulafa ar-Rasyidin. Beliau bersabda,

“Barang siapa di antara kalian yang panjang umur, niscaya akan melihat banyak perpecahan (penyimpangan agama). Berpeganglah dengan sunnahku dan sunnah al-Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk dan hidayah (sesudahku). Gigitlah kuat-kuat dengan gigi geraham kalian. Tinggalkanlah urusan-urusan yang muhdats (baru) dalam agama, sesungguhnya setiap kebid’ahan adalah kesesatan.” (HR. at-Tirmidzi)

Di antara fenomena menyedihkan yang sedang kita alami adalah disebarkannya berbagai seruan dan propaganda untuk mengubah atau menolak sunnah (ajaran) Rasul. Upaya-upaya perusakan Islam amat terasa. Makar mereka guna menjauhkan umat dari sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga sangat nyata.

Wanita-wanita yang berhijab dicela dengan ucapan, “Budaya Arab jangan dibawa ke Indonesia.” Muslimat dilecehkan hanya karena mereka menutup auratnya dengan pakaian syar’i semata-mata mengharap ridha Allah subhanahu wa ta’ala. Sementara itu, wanita-wanita telanjang disanjung dan dipuja.

Tidak kalah lancangnya, sebagian mereka menghina sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam seperti jenggot, memakai pakaian “cungklang” di atas mata kaki, atau sunnah lainnya.

Di antara mereka ada yang dengan keji berkata, “Orang yang berjenggot adalah orang yang dungu, semakin panjang jenggot semakin goblok.”

Saudaraku, sungguh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berjenggot sangat lebat. Kita yakin, seorang muslim yang baik tidak akan rela mengatakan kalimat sekotor dan sebusuk itu. Ya Allah, Rasul-Mu memelihara jenggot. Rasul-Mu memerintah kami memelihara jenggot, kami pun memeliharanya. Cintailah kami dan kumpulkanlah kami bersama Nabi-Mu.

Sebagian lagi menyeru agar Islam disesuaikan dengan budaya lokal dan adat istiadat yang berlaku. Islam Nusantara dianggap bentuk Islam yang cocok bagi bangsa Indonesia. Akal kotor mereka berkata bahwa Indonesia sebagai negara yang memiliki adat dan budaya yang sangat beragam memiliki kesempatan untuk mewarnai Islam dengan meleburkan budaya Nusantara kepada syariat Islam.

Sebelumnya, Jaringan Islam Liberal (JIL) dengan terang – terangan mengampanyekan berbagai penyimpangan, bahkan kekufuran, dari ajaran Islam. Penghinaan dan pelecehan syariat sangat kental dalam kehidupan pengikut JIL.

Ucapan-ucapan mereka sangat banyak, tetapi intinya satu, yaitu kebencian terhadap ajaran yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan keengganan untuk berpegang dengan sunnah.

Islam Bukan Budaya Arab, Islam untuk Seluruh Umat Manusia

Yahudi pada zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam enggan beriman kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hanya karena beliau dari bangsa Arab, bukan Bani Israil. Dengan entengnya, Yahudi menolak Islam dengan ucapan mereka, “Kami meyakini bahwa Muhammad adalah Rasul Allah, tetapi risalahnya khusus untuk orang Arab.”

Jaringan Islam Nusantara enggan melaksanakan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebelum dimodifikasi dengan budaya Nusantara. Sadar atau tidak sadar, mereka sesungguhnya sedang mengikuti langkah Yahudi yang menolak ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Sebagian mereka meremehkan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya berkata dengan nada sinis, “Itu kan budaya Arab.”

Ada pula yang berkata, “Kita hidup di Indonesia, bukan di tanah Arab.”

“Kami tahu ini sabda Rasulullah, tetapi Islam harus disesuaikan dengan perkembangan zaman, Islam harus disesuaikan dengan budaya Nusantara.”

Sungguh, sebuah fenomena yang sangat menyedihkan. Benarkah Islam diturunkan khusus untuk bangsa Arab? Benarkah Islam adalah budaya Arab? Benarkah Islam tidak sesuai untuk penduduk di bumi Nusantara sehingga harus dinusantarakan?

Ketahuilah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak hanya diutus untuk bangsa Arab, tidak pula diutus hanya kepada manusia di masa beliau. Yang wajib kita yakini, beliau diutus untuk seluruh manusia sepanjang masa hingga hari kiamat. Bukan hanya untuk orang Arab, beliau pun diutus untuk orang non-Arab. Bukan hanya untuk manusia beliau diutus. Bahkan, Allah mengutus beliau untuk kalangan jin. Al-Bukhari rahimahullah meriwayatkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَكَانَ النَّبِيُّ يُبْعَثُ إِلَى قَوْمِهِ خَاصَّةً، وَبُعِثْتُ إِلَى النَّاسِ عَامَّةً

Setiap nabi hanya diutus kepada umatnya saja, sedangkan aku diutus kepada seluruh umat manusia.

Ayat-ayat al-Qur’an menunjukkan bahwa syariat beliau bersifat universal, berlaku untuk seluruh alam hingga hari kiamat. Di antaranya firman Allah subhanahu wa ta’ala,

تَبَارَكَ ٱلَّذِي نَزَّلَ ٱلۡفُرۡقَانَ عَلَىٰ عَبۡدِهِۦ لِيَكُونَ لِلۡعَٰلَمِينَ نَذِيرًا ١

“Mahasuci Allah yang telah menurunkan al-Furqan (al-Qur’an) kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam.” (al-Furqan: 1)

وَمَآ أَرۡسَلۡنَٰكَ إِلَّا رَحۡمَةٗ لِّلۡعَٰلَمِينَ ١٠٧

“Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (al-Anbiya’:107 )

وَمَآ أَرۡسَلۡنَٰكَ إِلَّا كَآفَّةٗ لِّلنَّاسِ بَشِيرٗا وَنَذِيرٗا وَلَٰكِنَّ أَكۡثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعۡلَمُونَ ٢٨

“Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui.” (Saba’: 28)

Siapa yang melihat sejarah akan menyaksikan dengan penuh keyakinan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdakwah untuk seluruh manusia. Beliau mengajak Raja Romawi untuk masuk Islam. Beliau juga mengirim utusan untuk Raja Persia agar beriman. Beliau juga mendakwahi Raja Habasyah dan seluruh manusia. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

قُلۡ يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِنِّي رَسُولُ ٱللَّهِ إِلَيۡكُمۡ جَمِيعًا

“Hai manusia, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua.” (al-A’raf : 158)

Bahkan, seandainya para nabi masih hidup, niscaya mereka akan mengikuti syariat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sahabat yang mulia, Jabir bin Abdillah radhiallahu ‘anhu, berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لَوْ أَنَّ مُوسَى حَيًّا الْيَوْمَ مَا وَسِعَهُ إِ أَنْ يَتَّبِعَنِي

“Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, seandainya Musa masih hidup, adalah keharusan baginya mengikutiku.”[1]

Kembali kepada Agama, Menuju Kejayaan Umat

Perpecahan, penyimpangan, dan berbagai kebid’ahan, serta jauhnya umat dari ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah sebab berbagai kejelekan yang menimpa.

Karena itulah, Allah subhanahu wa ta’ala memerintah kita untuk segera kembali kepada sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan istiqamah dalam memegang tali Allah subhanahu wa ta’ala. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَٱعۡتَصِمُواْ بِحَبۡلِ ٱللَّهِ جَمِيعٗا وَلَا تَفَرَّقُواْۚ

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai.” (Ali Imran: 103)

Hanya dengan kembali kepada agama yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan meninggalkan segala kebid’ahan dan penyimpangan, umat ini akan meraih kejayaan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا تَبَايَعْتُمْ بِالْعِينَةِ، وَأَخَذْتُمْ أَذْنَابَ الْبَقَرِ وَرَضِيْتُمْ بِالزَّرْعِ وَتَرَكْتُمُ الْجِهَادَ سَلَّطَ اللهُ عَلَيْكُمْ ذُلاًّ لاَ يَنْزِعُهُ حَتَّى تَرْجِعُوا إِلَى دِيْنِكُمْ

“Jika kalian berjual beli dengan cara ‘inah, dan kalian mengambil ekor-ekor sapi (beternak) serta kalian senang dengan bercocok tanam dan kalian meninggalkan jihad[2], Allah akan mencampakkan kehinaan pada diri kalian.

Dia (Allah) tidak akan mencabut kehinaan itu sampai kalian kembali kepada agama kalian.”[3]

Tidak ada jalan bagi umat Islam untuk meraih kemuliaan kecuali dengan bersegera mempelajari dan mangamalkan al-Kitab dan as-Sunnah dengan pemahaman yang lurus, pemahaman salaf umat ini, para sahabat, tabi’in, atbaut tabi’in, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik; dan bahu-membahu memerangi segala upaya setan untuk menjauhkan syariat Islam dari manusia.

Nasihat bagi Para Pendusta Sunnah Rasul

Di akhir tulisan ini, kepada orang-orang yang membenci sebagian ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, atau para pendusta ajaran Rasul dan yang gemar melecehkan sunnah Rasul, kita ingatkan bahwa di hadapan kalian benar-benar ada kehinaan dan azab yang pedih.

Bertakwalah kalian kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Tidaklah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus kecuali untuk dicintai dan ditaati. Jangan kalian benci ajaran Rasul, jangan pula kalian hina sunnah Rasul. Jangan sampai kalian ditimpa apa yang telah menimpa semua penentang Rasul.

Allah subhanahu wa ta’ala shallallahu ‘alaihi wa sallam berfirman,

إِنَّآ أَرۡسَلۡنَآ إِلَيۡكُمۡ رَسُولٗا شَٰهِدًا عَلَيۡكُمۡ كَمَآ أَرۡسَلۡنَآ إِلَىٰ فِرۡعَوۡنَ رَسُولٗا ١٥ فَعَصَىٰ فِرۡعَوۡنُ ٱلرَّسُولَ فَأَخَذۡنَٰهُ أَخۡذٗا وَبِيلٗا ١٦

“Sesungguhnya Kami telah mengutus kepada kamu (hai orang kafir Makkah) seorang Rasul, yang menjadi saksi terhadapmu, sebagaimana Kami telah mengutus (dahulu) seorang Rasul kepada Firaun. Firaun mendurhakai Rasul itu, lalu Kami siksa dia dengan siksaan yang berat.(al-Muzzammil: 15—16)

Sejarah hidup Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hendaknya selalu kita baca dan renungkan. Semua penentang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memetik buah kejelekannyanya di dunia, seperti janji Allah subhanahu wa ta’ala dalam firman-Nya,

إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ ٱلۡأَبۡتَرُ ٣

“Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu, dialah yang terputus.” (al-Kautsar: 3)

Dalam Perang Badar, Allah subhanahu wa ta’ala memenangkan kaum mukminin dan membinasakan musuh-musuh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mayat-mayat najis dari barisan kufar Quraisy bergelimpangan. Dedengkot-dedengkot Quraisy pun diseret ke Sumur Badar dengan penuh kehinaan….

Ditulis oleh al-Ustadz Abu Ismail Muhammad Rijal, Lc.

[1] HR. Ahmad dalam Musnad-nya 3/387, ad-Darimi dalam mukadimah kitab Sunan-nya no. 436, Ibnu Abi ‘Ashim asy-Syaibani dalam kitabnya, as-Sunnah no. 50. Hadits ini dinyatakan hasan oleh imam ahlul hadits pada zaman ini, asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah dalam Zhilalul Jannah fi Takhrij as-Sunnah dan Irwa’ul Ghalil no. 1589.

[2] Jihad yang dimaksud adalah jihad di jalan Allah, yaitu jihad yang syar’i, bukan jihad di bawah bendera Syi’ah, khurafat, atau jihad yang muhdats semisal jihad kaum Khawarij.

[3] HR. Abu Dawud dalam Sunan-nya 3/740, dari Ibnu Umar dan lainnya, dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh al-Albani dalam ash-Shahihah no. 11.