Najiskah Tubuh Orang Kafir?

Bismillah. Apakah orang kafir dianggap najis?

 Dijawab oleh al-Ustadz Abu Abdillah Muhammad as-Sarbini

Masalah orang kafir najis secara fisik atau tidak, termasuk masalah khilafiah di antara alim ulama.

  1. Pendapat bahwa fisik orang kafir yang bernyawa dan mayatnya adalah najis dinyatakan oleh mazhab sebagian fuqaha Zahiriah, seperti Ibnu Hazm az-Zahiri dalam kitab al-Muhalla.

Dalilnya adalah firman Allah subhanahu wa ta’ala,

          يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِنَّمَا ٱلۡمُشۡرِكُونَ نَجَسٞ فَلَا يَقۡرَبُواْ ٱلۡمَسۡجِدَ ٱلۡحَرَامَ بَعۡدَ عَامِهِمۡ هَٰذَاۚ

“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya orang-orang yang musyrik itu najis. Oleh karena itu, janganlah mereka mendekati Masjidil Haram sesudah tahun ini.” (at-Taubah: 28)

Yang dimaksud adalah fisik orang kafir adalah najis sehingga tidak boleh mendekati Masjidil Haram, apalagi memasukinya.

 

  1. Ada pula yang berpendapat bahwa fisik orang kafir yang bernyawa adalah suci seperti kesucian fisik muslim.

Pendapat ini adalah mazhab jumhur (mayoritas) ulama, termasuk empat imam mazhab (Abu Hanifah, Malik, asy-Syafi’i, dan Ahmad).

Pendapat ini dirajihkan (dikuatkan) oleh an-Nawawi, Ibnu Qudamah, as-Sa’di, asy-Syaukani, dan al-‘Utsaimin.

Dalilnya adalah,

  1. Hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu,

بَعَثَ النَّبِيُّ خَيْلاً قِبَلَ نَجْدٍ، فَجَاءَتْ بِرَجُلٍ مِنْ بَنِي حَنِيفَةَ يُقَالُ لَهُ ثُمَامَةُ بْنُ أُثَالٍ، فَرَبَطُوهُ بِسَارِيَةٍ مِنْ سَوَارِي الْمَسْجِدِ، فَخَرَجَ إِلَيْهِ النَّبِيُّ فَقَالَ: أَطْلِقُوا ثُمَامَةَ !فَانْطَلَقَ إِلَى نَخْلٍ قَرِيبٍ مِنَ الْمَسْجِدِ، فَاغْتَسَلَ، ثُمَّ دَخَلَ الْمَسْجِدَ، فَقَالَ: أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengirim pasukan berkuda ke arah Najd. Kemudian pasukan tersebut kembali dengan membawa seorang tawanan dari Bani Hanifah yang bernama Tsumamah bin Utsal. Mereka lantas mengikatnya di salah satu tiang Masjid Nabawi. Saat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar menemuinya, beliau berkata, ‘Bebaskan Tsumamah!’ Lalu Tsumamah beranjak ke pohon kurma yang tidak jauh dari Masjid Nabawi, mandi, lalu masuk masjid, lantas berkata, ‘Aku bersaksi bahwa tidak ada sembahan yang benar selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah’.” (Muttafaq ‘alaih)

Di dalam hadits ini, para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengikat tubuh Tsumamah yang masih kafir di salah satu tiang masjid. Seandainya fisik orang kafir itu najis, tidak mungkin ia dimasukkan ke Masjid Nabawi yang suci.

 

  1. Allah subhanahu wa ta’ala membolehkan memakan sembelihan ahli kitab dan menikah dengan wanita mereka, sebagaimana pada surat al-Ma’idah ayat 5.

Tentu tidak bisa dimungkiri bahwa ahli kitab menjamah sembelihan mereka, dan muslim yang menikahi wanita ahli kitab akan menjamah tubuh istrinya, sementara tidak ada perintah untuk menyucikan diri dari najis akibat persentuhan itu.

 

  1. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membolehkan penggunaan bejana-bejana makan/minum bekas orang kafir tanpa harus dicuci.

Hal ini berdasarkan hadits Jabir radhiallahu ‘anhu,

كُنَّا نَغْزُو مَعَ رَسُولِ اللهِ فَنُصِيبُ مِنْ آنِيَةِ الْمُشْرِكِينَ وَأَسْقِيَتِهِمْ فَنَسْتَمْتِعُ بِهَا فَ يَعِيبُ ذَلِكَ عَلَيْهِمْ

“Adalah kami biasa berperang bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian kami berhasil merampas bejana-bejana dan wadah-wadah air dari kulit milik orang-orang musyrik. Lantas kami menggunakannya (untuk makan dan minum). Ternyata Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mencela mereka karena hal itu.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud, dinyatakan sahih oleh al-Albani dan al-Wadi’i)[1]

Dalam hadits ‘Imran bin Hushain radhiallahu ‘anhu yang panjang, di antara isinya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan sahabatnya berwudhu dari mazadah (kantong air yang terbuat dari kulit bangkai yang telah disamak) milik wanita musyrik. (Muttafaq ‘alaih)[2]

Namun, Abu Tsa’labah al-Khusyani radhiallahu ‘anhu pernah bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lantas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَمَّا مَا ذَكَرْتَ أَنَّكَ بِأَرْضِ قَوْمٍ أَهْلِ الْكِتَابِ تَأْكُلُ فِي آنِيَتِهِمْ، فَإِنْ وَجَدْتُمْ غَيْرَ آنِيَتِهِمْ فَلاَ تَأْكُلُوا فِيهَا، وَإِنْ لَمْ تَجِدُوا فَاغْسِلُوهَا، ثُمَّ كُلُوا فِيهَا

“Adapun yang kamu sebutkan bahwa kamu berada di daerah ahli kitab, yang kamu makan dari bejana-bejana mereka; Jika kamu bisa mendapatkan selain bejana-bejana mereka, jangan makan dari bejana-bejana mereka. Jika kamu tidak bisa mendapatkan selain dari bejana-bejana mereka, cucilah terlebih dahulu lalu makanlah darinya.” (Muttafaq ‘alaih)

Jawabannya, terdapat dua tafsir dalam memahami hadits ini.

  1. Larangan pada hadits ini bersifat makruh, tidak haram.
  2. Hadits ini tertuju kepada orang-orang kafir yang sering makan daging babi dan mereka menampakkan hal itu secara terang-terangan.

Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah mendukung tafsir yang kedua. Al-Albani rahimahullah juga memilih tafsir yang kedua berdasarkan riwayat lain dari hadits tersebut dengan lafadz, Abu Tsa’labah al-Khusyani radhiallahu ‘anhu berkata,

يَا نَبِيَّ اللهِ، إِنَّ أَرْضَنَا أَرْضُ أَهْلِ كِتَابٍ وَإِنَّهُمْ يَأْكُلُونَ لَحْمَ الْخِنْزِيرِ وَيَشْرَبُونَ الْخَمْرَ، فَكَيْفَ أَصْنَعُ بِآنِيَتِهِمْ وَقُدُورِهِمْ؟ قَالَ: إِنْ لَمْ تَجِدُوا غَيْرَهَا فَارْحَضُوهَا وَاطْبَخُوا فِيهَا وَاشْرَبُوا

“Wahai Nabi Allah, sesungguhnya daerah kami adalah daerah ahli kitab dan mereka makan daging babi dan minum khamr. Apa yang mesti saya lakukan dengan bejana-bejana dan panci-panci mereka?”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika kalian tidak mendapatkan selainnya, cucilah terlebih dahulu, memasaklah dengannya, dan minumlah darinya.” (HR. Ahmad. Dinyatakan sahih oleh al-Albani menurut syarat al-Bukhari & Muslim)[3]

Berdasarkan dalil-dalil di atas, tampak jelas bahwa fisik orang kafir tidak najis. Tampak pula bahwa yang dimaksud oleh firman Allah subhanahu wa ta’ala,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِنَّمَا ٱلۡمُشۡرِكُونَ نَجَسٞ فَلَا يَقۡرَبُواْ ٱلۡمَسۡجِدَ ٱلۡحَرَامَ بَعۡدَ عَامِهِمۡ هَٰذَاۚ

“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya orang-orang yang musyrik itu najis. Oleh karena itu, janganlah mereka mendekati Masjidil Haram sesudah tahun ini.” (at-Taubah: 28)

Najis dalam ayat di atas adalah najis maknawi (akidah dan amalan mereka). Artinya, mereka najis dengan kekufuran dan kesyirikan mereka sehingga tidak pantas dan tidak boleh mendekati Masjidil Haram, apalagi memasukinya. Inilah pendapat yang rajih dalam masalah ini.

Adapun mayatnya, jumhur berbeda pendapat. Ada yang mengatakan suci dan ada yang mengatakan najis.

Di kalangan fuqaha mazhab Hanbali dan Syafi’i, terdapat dua pendapat tersebut. Akan tetapi, yang dianggap benar dan menjadi pegangan mazhab Hanbali dan Syafi’i adalah pendapat yang mengatakan suci.

Ulama yang berpendapat najis berdalil dengan ayat di atas dan berhujah bahwa mayat orang kafir tidak disyariatkan dimandikan. Hal itu menunjukkan kenajisannya, karena sesuatu yang substansinya najis, tidak ada gunanya dicuci/dimandikan.

Yang berpendapat suci menjawab bahwa yang dimaksud dengan najis pada ayat itu adalah najis maknawi sebagaimana telah diulas di atas.

Adapun bahwa mayat kafir tidak dimandikan, itu bukan karena kenajisannya. Illat (faktor) hukum mayat muslim dimandikan adalah untuk memuliakannya, sedangkan orang kafir tidak pantas dan tidak berhak dimuliakan sehingga mayatnya tidak dimandikan.

An-Nawawi, Ibnu Qudamah, as-Sa’di, dan Ibnu ‘Utsaimin merajihkan pendapat bahwa mayat orang kafir adalah suci.

Wallahu a’lam.[4]



SYARAT TOBAT

Jika seorang muslim mencabut diri dari dosa-dosa yang dahulu dia lakukan, apa saja syarat yang harus dipenuhi terkait orang yang bertobat dari sebuah dosa? Apa nasihat Anda untuk orang yang melakukan kemaksiatan agar dia bisa bertobat sebelum datang ajalnya—sehingga dia merugi dan menyesal?

 Jawab:

  1. Dia harus memenuhi syarat-syarat taubat sebagai berikut:
    • Seseorang bertobat dengan tobat yang jujur dan tulus,
    • menyesali dosa yang telah dilakukan,
    • bertekad kuat untuk tidak mengulanginya,
    • jika dosanya terkait dengan sesuatu yang bisa dikembalikan seperti harta, dia kembalikan kepada pemiliknya; jika tidak terkait dengan sesuatu yang bisa dikembalikan, dia meminta kemurahan dan maaf dari pihak-pihak yang dizalimi, disertai doa kebaikan untuk mereka dan pujian terhadap kebaikan mereka yang dia ketahui.
  1. Kami nasihatkan agar dia:
    • membaca al-Qur’an dan hadits-hadits tentang targhib (anjuran berbuat kebaikan) dan tarhib (ancaman atas perbuatan dosa),
    • mengingat negeri akhirat dan berbagai keadaannya yang menakutkan,
    • bergaul dengan orang-orang yang baik dan menjauhi orang-orang yang buruk.

Semoga Rabbnya akan menerima tobatnya dari dosa dan mengampuninya, dan dia bisa menolak bisikan nafsunya yang mengajak kepada maksiat.

Wa billahit taufiq, wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa alihi wa shahbihi wa sallam.

Ketua: Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz; Wakil Ketua: Abdur Razzaq Afifi;

Anggota: Abdullah bin Ghudayyan, Abdullah bin Qu’ud

(Fatawa al-Lajnah 24/297—298, pertanyaan ke-6 dari fatwa no. 3866)


APAKAH SHALAT ADALAH SYARAT TOBAT?

Saya telah kembali kepada Allah dan bertobat dari segala dosa—saya memohon ampunan kepada Allah. Saya mendengar bahwa orang yang bertobat harus melakukan shalat dua rakaat tanpa ada waswas padanya, lalu dia bertobat setelah atau saat sedang melakukan shalat tersebut.

Saya telah bertanya kepada salah seorang saudara di jalan Allah, dia menjawab, “Tobat dilakukan tanpa harus shalat. Kapanpun waktunya, engkau bisa bertobat. Engkau tidak perlu shalat (untuk bertobat).

Apa yang seharusnya saya lakukan? Berilah bimbingan kepada saya. Semoga Allah membalasi Anda dengan kebaikan.

Jawab:

Shalat dua rakaat tidak menjadi syarat sahnya tobat.

Yang dipersyaratkan adalah mencabut diri dari dosa, bertekad kuat untuk tidak mengulangi, menyesali apa yang telah luput, dan membebaskan diri dari hak-hak para makhluk. Allah akan menerima tobat kami dan Anda.

Akan tetapi, barang siapa bersuci dan shalat dua rakaat kemudian bertobat kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan menyesali dosa yang telah berlalu, mencabut diri darinya, bertekad dengan jujur tidak mengulanginya, tentu ini lebih sempurna dan lebih mendekatkan kemungkinan tobatnya diterima.

Ini berdasarkan hadits dari Abu Bakr ash-Shiddiq radhiallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا مِنْ رَجُلٍ يُذْنِبُ ذَنْبًا فَيَتَوَضَّأُ فَيُحْسِنُ الْوُضُوءَ ثُمَّ يُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ فَيَسْتَغْفِرُ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ إِلَّا غَفَرَ لَهُ

“Tidak ada seseorang yang berbuat dosa lalu berwudhu dan memperbagusnya, kemudian shalat dua rakaat dan memohon ampunan kepada Allah subhanahu wa ta’ala, kecuali Dia subhanahu wa ta’ala akan mengampuninya.” (HR. Ahmad dalam al-Musnad)[5]

Wa billahit taufiq, wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa alihi wa shahbihi wa sallam.

Ketua: Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz;

Wakil Ketua: Abdul Aziz bin Abdillah Alu Syaikh;

Anggota: Shalih bin Fauzan al-Fauzan

(Fatawa al-Lajnah, 24/309—310, pertanyaan kedua dari fatwa no. 19045)

 


TOBAT, TETAPI BERBUAT DOSA LAGI

Apa hukum orang yang bertobat dari sebuah dosa kemudian jatuh lagi pada dosa yang sama?

 Jawab:

Apabila dahulu dia telah bertobat dari dosa tersebut dengan ikhlas, niat yang jujur, mencabut diri dari dosa tersebut, dan menyesalinya, kemudian setan membisikinya dan dia dikalahkan oleh hawa nafsunya yang memerintahkan kepada kejelekan hingga terjatuh lagi dalam dosa yang sama untuk kedua kali, ketiga kali, dan seterusnya; tidak akan kembali dosa yang dahulu dia telah bertobat darinya dengan jujur.

Hendaknya dia kembali bertobat setelah melakukan dosa tersebut yang kedua kali atau ketiga kali. Selain itu, hendaknya ia juga menempuh sebab yang menjauhkan dirinya dari perbuatan dosa tersebut.

Wa billahit taufiq, wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa alihi wa shahbihi wa sallam.

Ketua: Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz;

Wakil Ketua: Abdur Razzaq Afifi

(Fatawa al-Lajnah, 24/318—319, pertanyaan ketiga dari fatwa no. 3025)

 


Seseorang berbuat dosa lalu beristighfar, kemudian berbuat dosa lagi dan beristighfar lagi, begitu seterusnya. Selama beberapa waktu dia berhenti berbuat dosa, tetapi kemudian melakukannya lagi. Bagaimana hukumnya?

 Jawab:

Apabila dia beristighfar (memohon ampunan) kepada Allah subhanahu wa ta’ala, bertobat dengan tobat nasuha, dan mencabut diri dari dosa tersebut, Allah subhanahu wa ta’ala menerima tobatnya dan mengampuninya.

Apabila ia kembali melakukan dosa tersebut lalu memohon ampunan (kepada Allah), bertobat dengan tobat nasuha, dan mencabut diri dari dosa tersebut, Allah akan menerima tobatnya dan mengampuninya. Demikian seterusnya.

Dosa yang terdahulu tidaklah kembali setelah dia melakukan tobat yang jujur. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَإِنِّي لَغَفَّارٞ لِّمَن تَابَ وَءَامَنَ وَعَمِلَ صَٰلِحٗا ثُمَّ ٱهۡتَدَىٰ ٨٢

“Dan sesungguhnya Aku Maha Pengampun bagi orang yang bertobat, beriman, beramal saleh, kemudian tetap di jalan yang benar.” (Thaha: 82)

إِنَّ رَبَّكَ وَٰسِعُ ٱلۡمَغۡفِرَةِۚ

        “Sesungguhnya Rabbmu Mahaluas ampunan-Nya.” (an-Najm: 32)

Wa billahit taufiq, wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa alihi wa shahbihi wa sallam.

Ketua: Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz;

Wakil Ketua: Abdur Razzaq Afifi;

Anggota: Abdullah bin Ghudayyan, Abdullah bin Qu’ud

(Fatawa al-Lajnah 24/319, pertanyaan ke-2 dari fatwa no. 7825)

[1] al-Irwa’ (1/76) dan al-Jami’ ash-Shahih (1/429).

[2] Kitab Bulughul Maram (Bab “al-Aniyah” no. 22 ), al-Irwa’ (1/no. 36), dan ats-Tsamar al-Mustathab (1/8).

[3] ats-Tsamar al-Mustathab (1/8)

[4] al-Muhalla (1/no.134), al-Mughni (1/63), al-Inshaf (1/337—338), Manhajus Salikin li as-Sa’di, al-Majmu’ (2/579—581), al-Minhaj Syarhu Shahih Muslim (4/Kitab al-Haidh, Bab “ad-Dalil ‘ala Anna al-Muslima La Yanjusu”), Fathul Bari (1/Kitab al-Ghusli, Bab “Araq al-Junubwa Anna al-Muslima La Yanjus”, 3/Kitab al-Jana’iz, Bab “Ghusli al-Mayyit wa Wudhu’ihi”), Majmu’ al-Fatawa (21/67), Nailul Authar (1/Kitab ath-Thaharah, Bab “Thaharah al-Ma’i al-Mutawadhdhai bihi”, syarah hadits Hudzaifah radhiallahu ‘anhu), as-Sail al-Jarrar (1/38—39), Fathul Qadir (tafsir at-Taubah ayat ke-28), Tafsir Ibni Katsir (tafsir at-Taubah ayat ke-28), dan asy-Syarh al-Mumti’ (1/447—448).

[5] HR. Ahmad (1/2) Abu Dawud (2/180 no. 1521), at-Tirmidzi (2/258, 5/228 no. 406 & 3006), dan lainnya.