Teroris di Balik Jeruji Takfir

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) disebutkan bahwa teror adalah usaha menciptakan ketakutan, kengerian, dan kekejaman oleh seseorang atau golongan. Pelakunya disebut teroris.

Menengok sejarahnya, teroris senantiasa meresahkan. Keberadaannya di tengah kehidupan mengoyak kedamaian. Aksinya mengguratkan trauma ketakutan, kengerian, dan kekejaman. Betapa tidak? Teroris haus darah. Teroris berdarah dingin. Pengeboman, pembunuhan senyap, dan berbagai aksi sadis lainnya senantiasa mengiringi derap langkahnya di muka bumi. Syahdan, ketenangan berubah menjadi kecemasan. Keamanan berubah menjadi keketakutan. Kehidupan pun hampa dari ketenteraman.

Dalam kacamata Islam, teroris bukan “viral” hari ini semata. Sejak paruh kedua dari pemerintahan al-Khulafa’ ar-Rasyidin, teroris telah mengguncang dunia. Peletak batu pertamanya adalah kaum Khawarij[1], kelompok sesat pertama dalam Islam yang amat radikal.

Prinsip keagamaannya jauh dari petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat yang mulia. Sejarah hitam mereka menunjukkan bahwa,

  • Merekalah yang mengepung rumah Khalifah Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu, hingga berhasil membunuh sang Khalifah. Pimpinan tertinggi mereka ketika itu adalah Abdullah bin Saba’ al-Himyari.
  • Merekalah yang membantai Gubernur Madain di masa pemerintahan Khalifah Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu, Abdullah bin Khabbab bin al-Art dan istrinya yang hamil saat melintasi perkampungan mereka. Bahkan, mereka merobek perut wanita tersebut dan mengeluarkan janin dari perutnya. Pimpinan utama mereka ketika itu adalah Abdullah bin Kawwa’ al-Yasykuri dan Syabats at-Tamimi.
  • Merekalah yang membunuh Khalifah Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu, saat beliau menuju masjid menunaikan shalat subuh. Sang Khalifah pun gugur bersimbah darah dengan seketika. Pelakunya adalah seorang teroris Khawarij yang bernama Abdurrahman bin Muljam al-Muradi.
  • Merekalah yang melakukan percobaan pembunuhan terhadap sahabat Mu’awiyah bin Abi Sufyan radhiallahu ‘anhu, Gubernur Syam (sekarang meliputi; Palestina, Suriah, Lebanon, dan Jordania, ). Operasi tak berhasil, karena beliau berhalangan mengimami shalat subuh di hari itu. Tak pelak, sebagai korbannya adalah imam shalat subuh yang menggantikan beliau ketika itu.
  • Merekalah yang melakukan upaya pembunuhan terhadap sahabat Amr bin al-Ash radhiallahu ‘anhu selaku Gubernur Mesir. Operasi tak berhasil, karena beliau udzur mengimami shalat subuh di hari itu. Tak pelak, sebagai korbannya adalah imam shalat subuh yang mewakili beliau ketika itu. Peristiwanya sama persis dengan yang menimpa sahabat Mu’awiyah bin Abi Sufyan radhiallahu ‘anhu. (Lihat Fathul Bari karya al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani 12/296—298, al-Bidayah wan Nihayah karya al-Hafizh Ibnu Katsir 7/281 dan Lamhatun ‘Anil Firaq adh-Dhallah karya asy-Syaikh Shalih al-Fauzan, 31—33)[2]

 

Akidah Takfir dalam Kehidupan Kaum Teroris

Demikianlah serangkaian aksi teror berskala internasional yang dilakukan oleh jaringan teroris Khawarij internasional kala itu. Tak kepalang tanggung, target operasi mereka adalah dua Khalifah mulia kaum muslimin Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu dan Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu, para menantu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang telah memetik janji surga. Berikutnya, dua tokoh sentral kaum muslimin di Negeri Syam dan Mesir yang keduanya tergolong sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia.

Tidaklah serangkaian operasi terkutuk itu dilaksanakan kecuali karena vonis kafir yang mereka sematkan kepada target operasi. Lebih dari itu, mereka meyakininya sebagai jihad di jalan Allah ‘azza wa jalla. “Takfir dan jihad” pun nyaris menjadi ikon kaum teroris untuk pembenaran operasi terornya, sejak zaman dahulu hingga hari ini.

Dalam aturan Islam, jihad yang syar’i tidak boleh dilakukan secara serampangan. Jihad mempunyai tahapan-tahapan. Setiap tahapan harus dipahami dengan baik dan benar. Bahkan, termasuk hal mendasar bahwa jihad harus dilakukan bersama penguasa dan tak bisa dilakukan oleh perseorangan atau kelompok tertentu.[3]

Demikian halnya takfir. Permasalahan besar yang mengharuskan kehati-hatian dan kejelian. Tak boleh gegabah dilakukan. Tak sembarang orang pula berkewenangan menjatuhkan vonisnya. Jauh-jauh hari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memperingatkan umatnya dalam permasalahan takfir ini.

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

        إِذَا قَالَ الرَّجُلُ لِصَاحِبِهِ: يَا كَافِرُ! فَإِنَّهَا تَجِبُ عَلَى أَحَدِهِمَا فَإِنْ كَانَ الَّذِي قِيْلَ لَهُ كَافِرًا فَهُوَ كَافِرٌ وَإِلاَّ رَجَعَ إِلَيْهِ مَا قَالَ

“Jika seorang lelaki berkata kepada kawannya, ‘Hai Kafir!’, sungguh perkataan itu mengenai salah satu dari keduanya. Bila yang divonis kafir itu memang kafir maka jatuhlah vonis kafir itu kepadanya. Namun bila tidak, vonis kafir itu kembali kepada yang mengatakannya.” ( HR. Ahmad dari sahabat Abdullah bin ‘Umar, dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh Ahmad Syakir dalam tahqiq Musnad al-Imam Ahmad no. 2035, 5077, 5259, 5824)

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-’Utsaimin rahimahullah berkata, “Menjatuhkan vonis kafir dan fasiq bukan urusan kita. Namun, permasalahan ini harus dikembalikan kepada Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya. Sebab, ia termasuk hukum syariah yang rujukannya adalah al-Quran dan as-Sunnah. Maka dari itu, wajib ekstra hati-hati dan teliti dalam masalah ini.

“Tidaklah seseorang dikafirkan dan dihukumi fasiq kecuali bila al-Qur’an dan as-Sunnah telah menunjukkan kekafiran dan kefasikannya. Mengingat hukum asal seseorang yang nampak nyata ciri-ciri keislamannya adalah sebagai muslim sampai benar-benar terbukti adanya sesuatu yang menghapusnya berdasarkan dalil syar’i. Tidak boleh bermudah-mudahan mengafirkan seorang muslim atau menghukuminya sebagai fasiq.” (al-Qawa’idul Mutsla fi Shifatillahi wa Asma-ihil Husna, hlm. 87—88)

Bencana takfir terus bergulir bak bola salju yang menggelinding. Semakin lama semakin besar. Tak luput pula, di era globalisasi modern ini. Melalui berbagai media yang ada baik cetak maupun elektronik, takfir berembus kian kencang. Betapa banyak pemuda dan pemudi yang terpengaruh doktrin takfir teroris melalui dunia maya. Bahkan, siap melakukan ‘amaliah’ (operasi teror) di lingkungan dan negaranya.

Di antara tokoh takfir yang buku-bukunya sarat dengan doktrin takfir teroris adalah Sayyid Quthb, salah seorang tokoh fenomenal kelompok radikal Ikhwanul Muslimin. Di antara buku karangannya ialah Ma’alim fith-Thariq, Fii Zhilalil Qur’an, al-‘Adalah al-Ijtima’iyah, dan al-Islam wa Musykilatul Hadharah.[4]

Hal ini sebagaimana kesaksian para tokoh Ikhwanul Muslimin sendiri.

  • Yusuf al-Qaradhawi berkata, “Pada fase ini telah muncul buku-buku karya tulis Sayyid Quthub sebagai pemikirannya yang terakhir, yaitu pengafiran masyarakat secara luas… Hal itu tampak jelas dalam kitab Tafsir Fii Zhilalil Qur’an cetakan ke-2, Ma’alim fith Thariq yang kebanyakannya diambil dari Fi Zhilalil Qur’an, dan al-Islam Wamusykilatul Hadharah, dan lain-lain.” (Aulawiyat al-Harakah al-Islamiyah, hlm. 110. Dinukil dari Adhwa’ Islamiyah, hlm. 102)
  • Farid Abdul Khaliq berkata, “Telah kami singgung dalam pernyataan sebelumnya bahwa pemikiran takfir (dewasa ini) bermula dari sebagian pemuda Ikhwanul Muslimin yang meringkuk di penjara al-Qanathir pada pengujung tahun 1950-an dan awal tahun 1960-an. Mereka terpengaruh oleh pemikiran Sayyid Quthub dan buku-buku karya tulisnya. Mereka mendapatkan doktrin dari karya-karya tulis tersebut bahwa masyarakat saat ini berada dalam kejahiliahan dan segenap pemerintah yang ada telah kafir karena tidak berhukum dengan hukum Allah ‘azza wa jalla. Demikian pula rakyatnya, karena kerelaan mereka terhadap selain hukum Allah ‘azza wa jalla” (al-Ikhwanul Muslimun fii Mizanil Haq, hlm. 115. Dinukil dari Adhwa’ Islamiyah, hlm. 103)

Dari sini diketahui bahwa peran Sayyid Quthb dalam menggulirkan doktrin takfir sangatlah nyata. Tak berlebihan bila dikatakan bahwa pemikiran takfir pada masa sekarang ini muaranya adalah Sayyid Quthb. Para teroris yang tergabung dalam berbagai kelompok “jihad” dewasa ini pun, mayoritasnya adalah buah buruk dari doktrin takfir Sayyid Quthb melalui buku-bukunya.

Maka dari itu, sudah seharusnya kaum muslimin menjauhkan diri dari buku-buku tersebut dan yang semisalnya, serta berusaha untuk menimba ilmu dari buku-buku para ulama salafiyyin Ahlus Sunnah wal Jamaah yang bersih dari berbagai syubhat dan pemikiran menyimpang.

Demikian pula toko-toko buku hendaknya tidak lagi menjual buku-buku tersebut, sebagaimana yang telah diserukan oleh asy-Syaikh Zaid bin Muhammad bin Hadi al-Madkhali di dalam kitabnya al-Irhab wa Atsaruhu ‘alal Afrad wal Umam, hlm. 128—142.

Berbeda halnya dengan asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab an-Najdi rahimahullah. Beliau sangat berhati-hati dalam permasalahan takfir ini. Tak seperti klaim buruk musuh-musuh dakwah salafiyah yang sangat tendensius menyudutkan beliau sebagai muara takfir pada masa sekarang ini. Jauh panggang dari api.

Simaklah perkataan beliau berikut ini,

“Ringkas kata, wajib bagi orang yang memerhatikan keselamatan dirinya agar tidak berbicara dalam permasalahan ini (takfir, pen.) kecuali dengan ilmu dan keterangan dari Allah ‘azza wa jalla. Hendaknya pula dia berhati-hati mengeluarkan seseorang dari Islam dengan sebatas pemahaman dan anggapan baik akalnya. Sebab, mengeluarkan seseorang dari Islam atau memasukkan seseorang ke dalamnya sungguh merupakan hal terbesar agama ini.” (ad-Durar as-Saniyyah 10/374)

 

Geliat Takfir Antarsesama Teroris

Sikap keagamaan kaum teroris tak bisa dipisahkan dari sikap bermudah-mudahan dalam mengafirkan (takfir) orang lain. Bahkan, takfir antarmereka pun kerap terjadi. Fanatisme kelompok, perbedaan visi dan misi pergerakan, menjadi salah satu pemicu utamanya.

Mengapa demikian?

Asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah berkata, “Sejauh yang aku pahami, sebabnya kembali kepada dua hal:

  • Dangkalnya ilmu dan kurangnya pemahaman tentang agama.
  • (Ini yang terpenting), memahami agama tidak dengan kaidah syar’i (tidak mengikuti Sabilul Mukminin, jalan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya -pen.).

Barang siapa menyimpang dari (jalan) jamaah yang dipuji oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam banyak sabdanya dan telah disebut oleh Allah ‘azza wa jalla (dalam al-Qur’an), ia telah menentang Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya. Yang saya maksud adalah firman- Nya,

وَمَن يُشَاقِقِ ٱلرَّسُولَ مِنۢ بَعۡدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ ٱلۡهُدَىٰ وَيَتَّبِعۡ غَيۡرَ سَبِيلِ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ نُوَلِّهِۦ مَا تَوَلَّىٰ وَنُصۡلِهِۦ جَهَنَّمَۖ وَسَآءَتۡ مَصِيرًا ١١٥

“Dan barang siapa menentang Rasul setelah jelas baginya kebenaran dan mengikuti selain jalannya orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa bergelimang dalam kesesatan dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (an-Nisa: 115)

Kemudian beliau berkata, “Dari sinilah banyak sekali kelompok-kelompok yang tersesat sejak dahulu hingga kini. Sebabnya adalah mereka tidak mengikuti jalan orang-orang mukmin dan semata-mata mengandalkan akal. Mereka justru mengikuti hawa nafsu di dalam menafsirkan al-Qur’an dan as-Sunnah, hingga kemudian membuahkan kesimpulan-kesimpulan yang sangat berbahaya, dan akhirnya menyimpang dari jalan as-Salafush Shalih.” (Fitnatut Takfir, hlm. 13)

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah menambahkan sebab ketiga, yaitu jeleknya pemahaman yang dibangun di atas jeleknya niat. (Fitnatut Takfir, hlm. 19)

Demikian pula asy-Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan menambahkan sebab yang lain, yaitu adanya kecemburuan  (ghairah) terhadap agama yang berlebihan atau semangat yang tidak pada tempatnya. (Zhahiratut Tabdi’ wat Tafsiq wat Takfir wa Dhawabithuha, hlm. 14)

Sebut saja al-Qaeda dan ISIS. Dua kelompok teroris yang terkenal dewasa ini. Mereka mudah mengafirkan orang lain. Bahkan, keduanya saling bermusuhan dan saling mengafirkan. Tak hanya itu, berbagai pertempuran sengit pun terjadi antarmereka.

Bisa jadi, di antara pembaca ada yang merasa aneh seraya bergumam, “Mengapa hal itu bisa terjadi padahal keduanya sama-sama mengusung nama “jihad”?!”

Untuk bisa memahaminya, simaklah keterangan berikut ini.

Al-Qaeda (AQ) adalah kelompok ekstremis (baca: teroris) berbasis agama dengan jangkauan global (internasional). Kelompok ini didirikan oleh Usamah bin Laden di Afghanistan pada 1988.

Adapun ISIS, berawal dari kelompok “Jamaat al-Tawhid wal-Jihad” yang didirikan oleh Abu Mush’ab al-Zarqawi, seorang radikal asal Jordania, pada 1999 di Irak. Kemudian pada tahun 2004, kelompok ini menginduk kepada al-Qaeda dan berganti nama dengan “Tanzim Qa’idat al-Jihad fi Bilad al-Rafidayn” atau lebih dikenal dengan sebutan al-Qaeda di Irak (AQI).

Pada Januari 2006, AQI bergabung dengan sejumlah kelompok pemberontak Sunni Irak dan membentuk Dewan Syura Mujahidin (DSM). Abu Mush’ab al-Zarqawi ditunjuk sebagai pemimpin mereka. Seiring dengan berlangsungnya pertempuran antara mereka dan pasukan militer Irak yang didukung oleh Amerika ketika itu, al-Zarqawi dilaporkan tewas oleh pasukan khusus Amerika. Peristiwa itu terjadi pada Juni 2006. Kepemimpinan pun berpindah kepada Abu Umar al-Baghdadi.

Pada 13 Oktober 2006, Dewan Syura Mujahidin (DSM) memproklamasikan pembentukan Islamic State of Iraq (ISI) atau Negara Islam Irak. Namun kelompok tersebut tampak melemah dalam pertempuran dengan pasukan Amerika dan militer Irak. Pada 2010, Abu Umar al-Baghdadi dilaporkan tewas. Pada saat itulah, Ibrahim Awwad al-Badri as-Samarrai yang kemudian dikenal dengan sebutan Abu Bakar al-Baghdadi tampil menggantikannya.

Ketika konflik Suriah pecah pada Maret 2011, Islamic State of Iraq (ISI) di bawah pimpinan Abu Bakar al-Baghdadi mengirim pasukannya ke Suriah. Pengiriman pasukan terjadi pada Agustus 2011. Komandan yang ditunjuk adalah Usamah al-Absi al-Wahidi yang lebih dikenal dengan sebutan “Abu Muhammad al-Jaulani”. Dia adalah seorang petinggi pasukan ISI, berkewarganegaraan Suriah yang berdomisili di Irak sejak 2003 hingga 2011. Pasukan ini menamakan diri dengan “Jabhat an-Nusrah li-Ahli asy-Syam (Front al-Nusra).”

Dalam waktu yang tidak lama, Front al-Nusra berhasil menguasai daerah-daerah yang mayoritas dihuni warga Sunni di Provinsi ar-Raqqah, Idlib, Deir ez-Zor, dan Aleppo.

Pada 8 April 2013 setelah memperluas wilayahnya ke Suriah, Abu Bakar al-Baghdadi mengumumkan penyatuan ISI dengan Front al-Nusra dengan nama baru “Islamic State of Iraq and Syiria (ISIS)”, artinya Negara Islam Irak dan Suriah.

Namun, Abu Muhammad al-Jaulani selaku pemimpin Front al-Nusra yang selama ini memimpin gerakan di Suriah dan Ayman al-Zawahiri selaku pemimpin al-Qaeda menolak penyatuan tersebut.

Alhasil, perseteruan di antara mereka tak dapat dihindari. Semakin lama semakin meruncing. Pada 3 Februari 2014, ISIS mengumumkan berpisah dengan al-Qaeda. Demikian pula al-Qaeda, memutus semua hubungan dengan ISIS. Adapun Front al-Nusra, berjalan seiring dengan al-Qaeda. Sejak saat itu, tak ada lagi ikatan antara Front al-Nusra dengan ISIS.

Di tengah konflik internal yang sedang memanas tersebut, pada 29 Juni 2014 Abu Bakar al-Baghdadi mendeklarasikan kekhilafahan dunia. Dia menobatkan diri sebagai khalifah dan mengharuskan semua kelompok “jihad” (baca: teroris) untuk berbaiat kepadanya. Dia pun mengganti penamaan ISIS dengan Islamic State (IS) atau Negara Islam, sebagai pertanda bahwa kekhilafahannya bersifat global, tak sebatas Irak dan Suriah saja.[5]

Hal ini semakin membuat berang pemimpin al-Qaeda dan Front al-Nusra. Tak pelak, aksi saling hujat pun terjadi di antara mereka.

Ayman al-Zawahiri selaku pemimpin al-Qaeda menyampaikan bahwa ISIS lebih jahat daripada Khawarij. ISIS mengafirkan kelompok-kelompok “jihad” lainnya yang berseberangan dengannya tanpa bukti, termasuk al-Qaeda. Dia pun mengkritisi bahwa di antara orang dekat Abu Bakar al-Baghdadi adalah mantan orang-orang Saddam Husein (yang berakidah Ba’ts), terkhusus dari kalangan intelejennya. (https://youtu.be/BZ19gMp2lqA)

Dalam kesempatan lain Ayman al-Zawahiri mengatakan, “Aku berjumpa dengan asy-Syaikh Abu Muhammad al-Maqdisi (salah seorang tokoh teroris asal Yordania, pen.) di Peshawar. Aku sampaikan kepadanya bahwa ada sebuah kelompok yang mengafirkanku, karena aku tidak mengafirkan para mujahidin Afghanistan! Dia pun tertawa, kemudian bergumam, ‘Anda tidak tahu, sesungguhnya mereka juga mengafirkanku karena aku tidak mengafirkan Anda!’.” (https://youtu.be/YnHVJpbyyfQ)

Atas dasar itu, pada 11 September 2015 bertepatan dengan 14 tahun peringatan serangan 11 September 2001 terhadap WTC, Ayman al-Zawahiri menyatakan perang terhadap ISIS.[6]

Adapun ISIS, melalui juru bicara resminya, Abu Muhammad al-Adnani, menegaskan bahwa al-Qaeda hari ini telah melenceng dari jalan kebenaran. Agamanya bengkok dan manhajnya menyimpang. Al-Qaeda tidak lagi menjadi pangkalan jihad. Pangkalan jihad, bukanlah yang disanjung oleh orang-orang rendahan, didekati oleh para thaghut, dan dininabobokan oleh orang-orang yang menyimpang lagi sesat. Sungguh, al-Qaeda telah menyimpang, berubah, dan bergeser.

Abu Muhammad al-Adnani juga mengklaim bahwa al-Qaeda menghalalkan darah orang-orang ISIS dan membunuhi mereka. Jika dibiarkan, akan terus menghabisi ISIS. Namun, jika dibalas, mereka merengek-rengek di media massa dan menjuluki ISIS dengan Khawarij. (https://youtu.be/3YCh60YWerU)

Secara khusus, Abu Muhammad al-Adnani mengeluarkan hujatan keras terhadap Ayman al-Zawahiri, dalam sebuah audio visual dengan judul “Udzran Ya Amiral Qa’idah.” (https://youtu.be/HUOEWsBEojQ)

Adapun Abu Mush’ab at-Tunisi, salah seorang anggota Dewan Syariah ISIS di Suriah, secara terang-terangan telah mengafirkan Ayman al-Zawahiri. (https://youtu.be/EeCXxZNdXTw)

Hal serupa dilakukan oleh ISIS terhadap Front al-Nusra. Abu Muhammad al-Jaulani selaku pemimpin Front al-Nusra, dalam wawancaranya dengan channel al-Jazirah, menyatakan bahwa ISIS mengafirkan Front al-Nusra, membunuhi banyak anggota dan komandannya. ISIS menyalib, memenggal kepala-kepala anggota al-Nusra, dan melemparkan mayat mereka di jalan-jalan. (https://youtu.be/oossAtDYbrs)

Tak mengherankan apabila kemudian Abu Muhammad al-Jaulani memerintah pasukannya untuk bertempur melawan ISIS.[7]

Berbagai pertempuran sengit antara keduanya pun terjadi. Sebut saja pertempuran di Jadid Aqidat pada 7 Mei 2014[8] dan di Deir ez-Zor pada 2 Juni 2014. Dua pertempuran sengit tersebut menelan banyak korban jiwa dari kedua belah pihak.[9]

 

Keterkaitan ISIS dan al-Qaeda dengan Syiah Rafidhah Iran

Bisa jadi, di antara pembaca ada yang bertanya, “Apakah ISIS dan al-Qaeda yang notabene mudah mengafirkan dan menghalalkan darah seorang muslim memiliki hubungan dengan Syi’ah Rafidhah Iran yang mengafirkan mayoritas sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Ahlus Sunnah?”

Terkait hal ini, asy-Syaikh Prof. Dr. Rabi’ bin Hadi al-Madkhali hafizhahullah mengatakan, “Tidak menutup kemungkinan bahwa ISIS kepanjangan tangan dari Iran Persia yang senantiasa mengafirkan Ahlus Sunnah, berupaya dengan serius menghabisi Ahlus Sunnah, dan menjadikan yang tersisa dari mereka sebagai Syiah Rafidhah.

“Mereka mengafirkan para sahabat Nabi radhiallahu ‘anhum dan menuduh Ummul Mukminin Aisyah radhiallahu ‘anha berbuat zina. Mereka menuhankan ahlul bait, padahal ahlul bait berlepas diri dari mereka dan akidah mereka yang kufur.

“Di antara bukti bahwa ISIS adalah kepanjangan tangan Iran, tak sedikit pun mereka menyentuh (baca: memerangi) Iran. Sama dengan induk semangnya (al-Qaeda) yang didirikan tidak lain untuk memerangi Ahlus Sunnah, mengafirkan mereka, dan merusak para pemudanya. Al-Qaeda tak sedikit pun menyentuh (baca: memerangi) Iran. Iran justru menjadi tempat berlindung (suaka) bagi al-Qaeda dan para pemimpinnya.

“Maka dari itu, ISIS, Hizb Syaithan (maksudnya Hizbullah, pen.) di Lebanon, dan Houthi di Yaman adalah mesin penghancur yang digerakkan oleh Iran, baik dengan materi maupun nonmateri. Teramat besar permusuhan mereka terhadap Kerajaan Saudi Arabia. Semoga Allah ‘azza wa jalla menjaga Kerajaan Saudi Arabia dari tipu daya dan kekejian mereka.”

(https://www.sahab.net/forums/index.php?showtopic=152634)

 

Akhir kata, betapa bahaya prinsip keagamaan kaum teroris. Betapa mengerikan operasi-operasi yang mereka lakukan. Pengeboman, pembunuhan senyap, dan aksi teror lainnya. Semua berawal dari sikap bermudahan-mudahan mengafirkan. Karena itu, tak berlebihan, apabila dikatakan bahwa kaum teroris berada di balik jeruji takfir.

Wallahu a’lam.

Ditulis oleh al-Ustadz Ruwaifi’ bin Sulaimi

[1] Dan Syiah (-ed.)

[2] Silakan membaca Asy-Syariah edisi 004, rubrik “Manhaji” dengan judul “Khawarij Kelompok Sesat Pertama dalam Islam”.

[3] Silakan membaca Asy-Syariah edisi 013, rubrik “Manhaji” dengan judul “Jihad Bersama Penguasa”.

[4] Lihat bantahannya dalam kitab Adhwa’ Islamiyyah ‘Ala Aqidati Sayyid Quthub wa Fikrihi, karya asy-Syaikh Prof. Dr. Rabi’ bin Hadi al-Madkhali, hlm. 71—107.

[5] https://id.m.wikipedia.org/wiki/Negara_Islam_Irak_dan_Syam/,

https://m.republika.co.id/berita/internasional/timur-tengah/15/12/31/o06vvx377-ini-awal-mula-pembentukan-isis, dan

https://www.alarabia.net/ar/mob/arab-and-word/syiria/2014/02/06/ .

Diakses pada bulan Desember 2016.

[6] https://m.tempo.co/amphtml/read/news/2015/09/11/115699685/pemimpin-al-qaeda-nyatakan-perang-denganisis-ini-alasannya/

Diakses pada bulan Maret 2017.

[7] https://youtu.be/A05AW59YVrw/ Diakses pada bulan Desember 2016.

[8] https://youtu.be/90777Cee_CY/ Diakses pada bulan Desember 2016.

[9] https://youtu.be/dHjlg9y0oSc/ Diakses pada bulan Desember 2016.

Surat Pembaca Edisi 117

Sampul Sering Melengkung

Assalamu’alaikum. Sampul Asy Syariah kok seringnya melengkung ya? Sekadar usul, mungkin bisa diperbaiki kualitasnya.

Kemudian untuk Asy Syariah edisi 116 pada “Rubrik Akidah” seharusnya bersambung ke hlm. 57, tetapi ternyata sambungannya ada di hlm. 64.

Begitu juga pada “Rubrik Problema Anda” seharusnya bersambung ke hlm 78, tetapi ternyata sambungan ada di hlm. 76. Barakallahu fikum.

085647xxxxxx

——————————————————————————————————————————————-

Halaman Sambungan Keliru

Afwan, saya membaca Asy Syariah edisi 116 hlm. 5 pada kata “materi kaji pun”, seharusnya mungkin “materi kajian pun”.

Kemudian pada “Rubrik Tanya Jawab Ringkas”, jawaban pertanyaan Doa Selesai Baca Al-Qu’ran mungkin maksudnya “tidak ada sunnahnya”.

Kemudian hlm. 42 sambungannya tertulis hlm. 57, padahal sambungannya pada hlm. 64. Mohon diteliti kembali sehingga pembaca tidak bingung.

Jazakumullah khairan.

082324xxxxxx

 Jawaban Redaksi:

Wa’alaikumus salam warahmatullah. Tentang kualitas sampul, kami ucapkan jazakumullah khairan atas saran dan perhatian Anda. Semoga Allah memudahkan kami mewujudkannya.

 Tentang halaman bersambung yang tidak sesuai dan kesalahan cetak, Redaksi memohon maaf yang sebesar-besarnya atas kekeliruan dan keteledoran kami. Semoga Allah memberikan taufik kepada kami sehingga bisa lebih teliti.

 ——————————————————————————————————————————————-

Tulisan Tidak Sinkron?

Pada Asy Syariah edisi 116 tentang Calon Markas Pasukan Dajjal, hlm. 25 tertulis “selama hampir 9 abad… (alinea 4). Kemudian Raja ash-Shafawi pada tahun 906 H menguasai Iran dan memaksakan akidah Itsna ‘Asyariah (alinea 5).

Kedua alinea ini tidak sinkron/menguatkan. Kapan Islam/Ahlussunnah mulai menguasai Persia dan kapan ash-Shafawi mulai hidupkan kembali Itsna Asyariah? Apa rentangnya sembilan abad???

08111xxxxxx

 Jawaban Redaksi:

Jika kita hitung sejak kaum muslimin menaklukkan Persia pada masa Khalifah Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu (sekitar tahun 16 H), hingga Ismail ash-Shafawi menguasai wilayah Iran pada tahun 906 H, terdapat rentang waktu kira-kira 890 tahun, hampir sembilan abad.

Jadi, yang tertulis pada halaman tersebut sudah benar, insya Allah. Barakallahu fikum.

 —————————————————————————————————————————————

Tangan Allah ‘azza wa jalla

Pada Asy Syariah edisi 112 hlm. 71, terjemahan hadits riwayat Muslim tertulis, “… kemudian Dia melipat bumi dengan kiri-Nya….” Bukankah seharusnya dengan kanan-Nya? Mohon diperhatikan!

085696xxxxxx

 Jawaban Redaksi:

Jazakallah khairan. Penjelasan tentang apa yang Anda tanyakan bisa dibaca pada Rubrik “Problema Anda” edisi ini. Barakallahu fikum.

Menepis Bayang-Bayang Isis

 السلام عليكم ورحمة الله و بركاته

ISIS memang lagi eksis. Setiap ada aksi radikalisme sedikit-sedikit langsung dihubungkan dengan ISIS. Kalau dahulu, sedikit-sedikit al-Qaeda atau Jamaah Islamiyah, sekarang “kiblat” itu beralih ke ISIS.

Sejatinya ISIS atau al-Qaeda, atau gerakan radikal yang lain, tetaplah 11-12. Sebagai organisasi menyimpang, yang pijakan akidah dan prinsip syar’inya rapuh, mereka juga gontok-gontokan, dan main kafir-kafiran juga. Geli sekaligus miris.

Gerakan radikal, apa dan di mana pun, dipastikan berakar dari paham Khawarij di masa lalu, yang merupakan kelompok sempalan pertama dalam Islam. Walaupun di sisi lain, sejarah juga mencatat, betapa gerakan radikal juga selalu ditumpangi oleh kepentingan musuh-musuh Islam.

Sebutlah peristiwa pembunuhan Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu, yang diotaki oleh “Mossad” kala itu, yaitu Abdullah bin Saba’. Paham Khawarij yang waktu itu tumbuh subur di Irak dan Mesir, seperti gayung bersambut bagi tokoh Yahudi asal Yaman ini. Terjadilah apa yang terjadi, seorang manusia terbaik setelah para nabi dan rasul meninggal akibat provokasi si Yahudi.

Demikian juga dengan pembunuhan atas Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu. Lagi-lagi paham Khawarij menjadi motor penggerak peristiwa ini. Benarlah apa yang disabdakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang Khawarij, kelompok ini membiarkan para penyembah berhala, namun membunuhi kaum muslimin, termasuk orang-orang terbaiknya. Na’udzubillah.

ISIS menjadi fenomenal karena banyaknya rekaman kekejamannya yang beredar di internet. Walaupun masih jadi pertanyaan apakah segala perilaku kejamnya benar-benar dilakukan ISIS atau sekadar stigmatisasi, memang muncul beberapa anomali. ISIS belum pernah berkonfrontasi dengan Syiah, yang notabene musuh ideologis ISIS. ISIS juga belum pernah terlibat pertempuran dengan Israel yang seharusnya juga menjadi musuh nyata ISIS.

Tak mengherankan, jika ada analisis intelijen yang menyebutkan bahwa pemimpin ISIS, Abu Bakar al-Baghdadi, sesungguhnya adalah agen Mossad. Serangan koalisi Rusia dan AS, dkk, yang berburu ISIS dikhawatirkan juga tidak pernah menyasar ke tempat-tempat yang terduga markas ISIS, tetapi justru kaum muslimin.

Jadi, ISIS seperti sebuah entitas yang sengaja diciptakan untuk menjadi magnet kalangan Islam radikal. Dengan menjadikan ISIS sebagai magnet, musuh-musuh Islam akan menjadi lebih mudah kala memetakan afiliasi gerakan Islam radikal di negara-negara lain. Lebih diharapkan lagi, ada yang mau berdatangan ke wilayah ISIS, kemudian ditumpas dengan sekali pukul.

ISIS sebagai boneka atau benar-benar sebuah gerakan murni dari kelompok militan, akhirnya menjadi pembenar pihak Barat untuk membantai umat Islam. Jadi, Barat (nonmuslim) dengan sekali dayung bisa melampaui lebih dari dua pulau, bahkan lebih. Islam kian dikesankan sebagai agama yang horor, Barat pun bisa dengan leluasa memilih sasaran serangan yang tak ada hubungannya dengan ISIS. Belum lagi keuntungan ekonomi yang didapat sebagai konsesi atas peran militer mereka.

Maka dari, kita perlu lebih cerdas bersikap. Apa yang tampak di atas panggung, tidak melulu sama dengan skenarionya. Semangat keislaman tak lantas membuat kita melontarkan puja-puji setinggi langit terhadap ISIS. Di lain pihak, kita pun tak perlu berkata nyinyir, menuduh setiap paham yang berbeda dengan ormas yang dia anut secara fanatik, sebagai Islam radikal, lantas dengan membabi buta dan asal pukul rata, menghubung-hubungkannya dengan ISIS.

Kita anti-ISIS tetapi kita juga perlu kritis.

 

والسلام عليكم ورحمة الله و بركاته

Contoh Rendah Hati di Kalangan Salaf

  • Dari Muhammad bin Ishaq, dia mengatakan,

Seorang Arab badui menemui al-Qasim bin Muhammad dan bertanya, “Engkau lebih berilmu ataukah Salim?”

Al-Qasim bin Muhammad menjawab, “Itu rumah Salim.”

Beliau tidak menambahi jawaban tersebut hingga si Arab badui pergi. Beliau tidak suka mengatakan bahwa Salim lebih berilmu dari beliau sehingga jatuh dalam kedustaan. Beliau tidak suka pula mengatakan bahwa beliau lebih berilmu dari Salim sehingga memberi rekomendasi untuk diri sendiri.

  • Dari Sufyan,

Sekelompok orang berkumpul di kediaman al-Qasim bin Muhammad yang hendak membagi-bagikan sedekah. Beliau saat itu sedang shalat, mereka lalu berbincang-bincang.

Putra beliau berkata, “Kalian berkumpul di hadapan seseorang yang—demi Allah—tidak mengambil sedekah meski satu dirham atau satu daniq (seperenam dirham).”

Al-Qasim kemudian memperingkas shalat dan berkata, “Wahai anakku, katakanlah, ‘Sebatas yang aku ketahui’.”

Putra beliau berkata jujur, tetapi beliau ingin menjaga dan mendidiknya dalam hal berucap.

(Shifatush Shafwah hlm. 322)

 

 

Memohon Kesucian Jiwa

اللَّهُمَّ آتِ نَفْسِي تَقْوَاهَا وَزَكِّهَا

أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا، أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا

 “Ya Allah, berilah ketakwaan kepada jiwaku, sucikanlah jiwaku. Engkaulah sebaik-baik Dzat yang dapat menyucikannya. Engkaulah yang menguasai dan yang menjaganya.”

(HR. Muslim no. 6844 dari sahabat Zaid bin Arqam radhiallahu ‘anhu)

 

An-Nawawi rahimahullah berkata,

“Makna ‘sucikanlah jiwaku’ adalah ‘bersihkanlah’. Adapun lafadz ‘Engkaulah sebaik-baik Dzat yang dapat menyucikannya’ maksudnya bukanlah untuk membandingkan (bahwa ada yang dapat menyucikan jiwa selain Allah). Akan tetapi, maknanya adalah ‘tidak ada yang dapat menyucikan jiwa kecuali Engkau’.”

(al-Minhaj Syarh Shahih Muslim bin al-Hajjaj, 17/44, cetakan Darul Ma’rifah Beirut)

Menyembah Allah Tanpa Keteguhan

Beriman kepada Allah subhanahu wa ta’ala merupakan nikmat agung yang dianugerahkan-Nya kepada seorang hamba. Bagaimana tidak, sementara keimanan yang membuahkan amal saleh itu adalah sumber kebahagiaan di dunia, lebih-lebih lagi di akhirat kelak.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

          مَنۡ عَمِلَ صَٰلِحٗا مِّن ذَكَرٍ أَوۡ أُنثَىٰ وَهُوَ مُؤۡمِنٞ فَلَنُحۡيِيَنَّهُۥ حَيَوٰةٗ طَيِّبَةٗۖ وَلَنَجۡزِيَنَّهُمۡ أَجۡرَهُم بِأَحۡسَنِ مَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ ٩٧

“Siapa yang mengerjakan amalsaleh, baik laki-laki maupun perempuan, dalam keadaan dia beriman, maka sungguh-sungguh Kami akan hidupkan dia dengan kehidupan yang baik dan sungguh-sungguh Kami akan beri balasan berupa pahala yang lebih baik daripada apa yang mereka kerjakan.” (an-Nahl: 97)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang calon penghuni negeri kenikmatan nan abadi,

لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ إِلاَّ مُؤْمِنٌ

“Tidak akan masuk surga kecuali orang yang beriman.” (HR. al-Bukhari dan Muslim dalam Shahih keduanya)

Keimanan menuntut seorang hamba untuk beribadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan mengikhlaskan agama hanya untuk-Nya. Hanya saja, di antara manusia yang mengaku beriman ada yang menyembah Allah subhanahu wa ta’ala di pinggir saja.

Bagaimanakah itu? Perhatikanlah firman Allah subhanahu wa ta’ala berikut ini.

          وَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن يَعۡبُدُ ٱللَّهَ عَلَىٰ حَرۡفٖۖ فَإِنۡ أَصَابَهُۥ خَيۡرٌ ٱطۡمَأَنَّ بِهِۦۖ وَإِنۡ أَصَابَتۡهُ فِتۡنَةٌ ٱنقَلَبَ عَلَىٰ وَجۡهِهِۦ خَسِرَ ٱلدُّنۡيَا وَٱلۡأٓخِرَةَۚ ذَٰلِكَ هُوَ ٱلۡخُسۡرَانُ ٱلۡمُبِينُ ١١

        “Dan di antara manusia ada yang menyembah Allah di tepi. Jika dia mendapatkan kebaikan, tetaplah dia dalam keadaan itu. Namun, jika menimpanya suatu ujian/bencana, berbaliklah dia telungkup ke belakang. Dia menderita kerugian di dunia dan di akhirat. Itu adalah kerugian yang nyata.” (al-Hajj: 11)

Mujahid, Qatadah, dan pakar tafsir selain keduanya menjelaskan, “Orang tersebut menyembah Allah subhanahu wa ta’ala dalam keraguan (tidak di atas keyakinan).”

Adapula yang menafsirkan bahwa orang tersebut menyembah Allah subhanahu wa ta’ala ibarat berada di tepi gunung. Orang yang berdiri di situ tentu tidak aman, dikhawatirkan dia akan jatuh. Dia masuk ke dalam agama ini pada pinggirnya saja, enggan masuk lebih dalam.

Orang tersebut dinyatakan dengan permisalan seperti ini karena orang tersebut bimbang dan goncang dalam agamanya, tidak mantap dan tenang. Dia tidak yakin akan janji dan ancaman Allah subhanahu wa ta’ala.

Jika dia mendapatkan apa yang disenanginya, dia pun tetap pada posisinya. Bila tidak, dia segera mundur meninggalkan apa yang semula dia ada padanya. Orang seperti ini adalah seorang munafik.

Jika dalam Islam dia melihat ada kelapangan dan ketenangan, dia pun girang dan mangatakan kepada orang-orang beriman, “Aku bagian dari kalian. Aku bersama kalian.”

Namun, jika dia melihat dalam Islam ada kesempitan atau musibah, dia tidak bisa bersabar. Dia kembali kafir dan meninggalkan keadaannya yang semula.

Berbeda halnya dengan seorang mukmin yang hakiki. Dia beribadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala di atas keyakinan dan bashirah/ilmu. Apapun yang diperoleh, dia tetap tenang, istiqamah di atas Islam, dan kokoh beribadah. (Mahasin at-Ta’wil, 6/294, Tafsir Ibni Katsir, 5/295, Fathu al-Qadir, 3/548—549, karya al-Imam asy-Syaukani, dan Tafsir al-Qur’an al-Aziz, 3/73—74, karya al-Imam Ibnu Abi Zamanin)

Orang yang memiliki sifat yang tersebut dalam ayat di atas tidaklah kokoh di dalam agama ini. Layaknya seseorang yang berada di pinggir pasukan yang sedang berlaga.

Dia merasa cukup berada di bagian paling belakang, bagian yang paling jauh dari musuh. Dia enggan maju ke tengah, apalagi ke depan. Jika dia merasa kemenangan akan diraih dan ghanimah akan berada dalam genggaman, dia pun tetap di posisinya. Sebaliknya, jika dia melihat pasukan akan kalah, dia pun kabur. Dia berbalik ke belakang, melarikan diri tanpa menoleh ke kanan dan kiri.

Kebaikan yang disebutkan dalam ayat di atas adalah kebaikan duniawi seperti kelapangan hidup, kesehatan, beroleh keturunan, dan semua yang diidamkan di kehidupan dunia. (Rauhul Ma’ani, 9/564, karya al-Imam al-Alusi al-Baghdadi)

Al-‘Allamah as-Sa’di rahimahullah berkata tentang ayat di atas bahwa di antara manusia yang berislam ada yang lemah imannya. Iman belum masuk menyentuh kalbunya. Karena itu, ketika datang ujian, dia tidak bisa kokoh di atas iman. Bilamana dia mendapat kebaikan, berupa rezeki yang lancar dan tidak ditimpa sesuatu yang dibencinya, dia merasa tenang dengan kebaikan atau kesenangan tersebut, bukan tenang karena iman. Sebaliknya, apabila ditimpa ujian berupa keburukan atau kehilangan apa yang disenanginya, dia pun murtad dari agamanya. (Taisir al-Karimir Rahman, hlm. 534)

Al-Imam al-Bukhari rahimahullah menyebutkan dalam Shahihnya dengan sanad yang sampai kepada Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma terkait ayat di atas. Ibnu Abbas berkata, “Dahulu ada seseorang datang ke Madinah. Saat istrinya melahirkan anak lelaki dan kudanya beranak, dia berkata, ‘Ini agama yang baik’. Namun, saat istrinya tidak juga melahirkan keturunan yang dinantikan dan kudanya tidak kunjung beranak, dia berkata, ‘Ini agama yang buruk’.” (Shahih al-Bukhari no. 4742)

Ibnu Abi Hatim rahimahullah membawakan riwayat yang sampai sanadnya kepada Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma yang berkisah, “Dahulu ada orang-orang dari kalangan Arab Badui mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu masuk Islam. Saat kembali ke negeri mereka dan mendapati tahun turunnya hujan, tahun kesuburan, dan tahun bagusnya perkembangbiakan (hewan), mereka mengatakan, ‘Sungguh, agama kita ini adalah agama yang bagus’. Mereka pun tetap berpegang dengan agama Islam.

Ketika mereka mendapati tahun kekeringan, tahun buruknya perkembangbiakan, dan tahun paceklik, mereka berkata, ‘Tidak ada kebaikan pada agama kita ini’. Maka dari itu, Allah subhanahu wa ta’ala menurunkan ayat di atas.

Zaid bin Aslam mengatakan bahwa orang tersebut adalah seorang munafik yang jika penghidupan dunianya bagus, dia tegak di atas ibadah (tetap melakukannya). Namun, jika rusak dunianya (mendapat kesusahan), dia pun berubah, tidak seperti keadaan semula. Dia tidaklah mengerjakan ibadah terkecuali bila baik dunianya. Jika dia ditimpa fitnah, kesulitan, ujian, dan kesempitan, dia meninggalkan agamanya dan kembal i kepada kekafiran. (Tafsir Ibni Katsir, 5/296)

Orang yang seperti ini dalam hal beriman akan menuai kerugian. Dia rugi di dunia karena tidak berhasil mendapatkan hal yang diangankan. Padahal dia sudah menukar agamanya dengan kemurtadan, namun ternyata dia tidak mendapatkan dunia kecuali sekadar apa yang sudah ditetapkan sebagai bagiannya.

Adapun kerugian di akhirat berupa terhalang dari surga yang seluas langit dan bumi karena tempat tinggalnya telah diganti dengan neraka. Sungguh, orang ini berada pada puncak kesengsaraan dan kehinaan. Karena itulah, Allah subhanahu wa ta’ala menyatakan, “Yang demikian itu adalah kerugian besar yang nyata.” (Tafsir Ibni Katsir, 5/296 dan Taisir al-Karimir Rahman hlm. 593)

Kata Fadhilatusy Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah, orang yang memiliki sifat seperti tersebut dalam ayat tidaklah memiliki keyakinan. Sebab, keyakinan adalah tsabat (keteguhan) dan keimanan yang tidak ada keraguan sama sekali. Seakan-akan dia melihat hal yang gaib hadir di depan matanya.

Keyakinan seperti ini akan membuahkan tawakal kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Dengan yakin dan tawakal, seseorang dapat mencapai tujuannya di dunia dan akhirat. Dia merasa tenteram dan hidup dengan tenang lagi bahagia karena yakin dengan seluruh berita Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya, bertawakal hanya kepada-Nya subhanahu wa ta’ala.

Sebagai ibrah, lihatlah keadaan para sahabat radhiallahu ‘anhum tatkala ditimpa kesulitan yang besar karena dikepung pasukan sekutu dalam Perang Ahzab. Sekitar 10 ribu orang kafir Quraisy dan selain mereka mengepung Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat beliau radhiallahu ‘anhum yang bertahan dalam kota Madinah. Sungguh, musibah dan goncangan yang sangat besar bagi orang-orang beriman kala itu.

Allah subhanahu wa ta’ala menggambarkannya dalam ayat,

هُنَالِكَ ٱبۡتُلِيَ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ وَزُلۡزِلُواْ زِلۡزَالٗا شَدِيدٗا ١١

        “Di situlah diuji orang-orang yang beriman dan digoncangkan mereka dengan goncangan yang sangat.” (al-Ahzab: 11)

Keadaan yang mencekam dan ketakutan sangat terasa sebagaimana digambarkan dalam ayat,

إِذۡ جَآءُوكُم مِّن فَوۡقِكُمۡ وَمِنۡ أَسۡفَلَ مِنكُمۡ وَإِذۡ زَاغَتِ ٱلۡأَبۡصَٰرُ وَبَلَغَتِ ٱلۡقُلُوبُ ٱلۡحَنَاجِرَ وَتَظُنُّونَ بِٱللَّهِ ٱلظُّنُونَا۠ ١٠

        “(Yaitu) tatkala mereka (musuh-musuh) datang kepada kalian dari atas dan dari bawah kalian, dan ketika tidak tetap lagi penglihatan kalian dan kalbu kalian naik menyesak sampai ke tenggorokan dan kalian menyangka terhadap Allah dengan bermacam-macam persangkaan.” (al-Ahzab: 10)

Bagaimanakah keadaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat beliau radhiallahu ‘anhum? Mereka tidak mundur, ragu, dan meninggalkan keimanan. Mereka justru semakin mantap dalam iman sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala,

          وَلَمَّا رَءَا ٱلۡمُؤۡمِنُونَ ٱلۡأَحۡزَابَ قَالُواْ هَٰذَا مَا وَعَدَنَا ٱللَّهُ وَرَسُولُهُۥ وَصَدَقَ ٱللَّهُ وَرَسُولُهُۥۚ وَمَا زَادَهُمۡ إِلَّآ إِيمَٰنٗا وَتَسۡلِيمٗا ٢٢

Dan tatkala orang-orang yang beriman melihat golongan-golongan yang bersekutu itu, mereka berkata, “Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita. Dan benarlah Allah dan Rasul-Nya.” Hal itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali keimanan dan ketundukan. (al-Ahzab: 22)

Bedakan dengan keadaan kaum munafik yang berpura-pura menampakkan keimanan sementara kalbu mereka menyimpan kekafiran. Bedakan pula dengan keadaan orang-orang yang beriman namun di hati mereka ada penyakit dan kurang keyakinannya kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Mereka ini, Allah subhanahu wa ta’ala katakan,

          وَإِذۡ يَقُولُ ٱلۡمُنَٰفِقُونَ وَٱلَّذِينَ فِي قُلُوبِهِم مَّرَضٞ مَّا وَعَدَنَا ٱللَّهُ وَرَسُولُهُۥٓ إِلَّا غُرُورٗا ١٢

        Dan ingatlah ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya berkata, “Allah dan Rasul-Nya tidak menjanjikan kepada kami melainkan tipu daya.” (al-Ahzab: 12)

Seakan-akan mereka meragukan janji Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa umat beliau akan menjadikan Kisra (penguasa Persia), Kaisar (penguasa Romawi) dan penguasa Yaman bertekuk lutut. Batin mereka membisikkan, “Bagaimana bisa semua itu akan terwujud, sementara kita sekarang dikepung dan terkurung oleh musuh yang sebanyak ini?”

Saat datang ujian, orang yang kuat imannya tidak akan mundur dari keimanan. Imannya justru bertambah kuat. Hal ini sebagaimana yang Allah subhanahu wa ta’ala kisahkan tentang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat beliau radhiallahu ‘anhum?.

Sepulang mereka dari Perang Uhud, ada kabar bahwa orang-orang musyrikin Quraisy akan menyerang Madinah dengan pasukan yang besar untuk menghabisi penduduknya yang beriman. Sementara itu, kepenatan safar dan kepayahan perang belum hilang dari diri mereka, luka-luka belum pula sembuh. Apakah kemudian mereka gentar dan ragu?

Allah subhanahu wa ta’ala mengabarkan keadaan mereka,

ٱلَّذِينَ ٱسۡتَجَابُواْ لِلَّهِ وَٱلرَّسُولِ مِنۢ بَعۡدِ مَآ أَصَابَهُمُ ٱلۡقَرۡحُۚ لِلَّذِينَ أَحۡسَنُواْ مِنۡهُمۡ وَٱتَّقَوۡاْ أَجۡرٌ عَظِيمٌ ١٧٢

ٱلَّذِينَ قَالَ لَهُمُ ٱلنَّاسُ إِنَّ ٱلنَّاسَ قَدۡ جَمَعُواْ لَكُمۡ فَٱخۡشَوۡهُمۡ فَزَادَهُمۡ إِيمَٰنٗا وَقَالُواْ حَسۡبُنَا ٱللَّهُ وَنِعۡمَ ٱلۡوَكِيلُ ١٧٣

        (Yaitu) orang-orang yang mentaati perintah Allah dan Rasul-Nya setelah mereka mendapatkan luka (dalam perang Uhud). Untuk orang-orang yang berbuat kebaikan di antara mereka dan yang bertakwa ada pahala yang besar.

(Yaitu) orang-orang (yang mentaati Allah dan Rasul-Nya) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengabarkan, “Sesungguhnya manusia (orang-orang kafir Quraisy) telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kalian, maka takutlah kepada mereka,” maka perkataan itu justru menambah keimanan mereka dan mereka menjawab, “Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung.” (Ali Imran: 172—173)

Demikianlah keadaan seorang mukmin yang benar imannya. Semakin besar ujian menerpa, imannya kepada Allah subhanahu wa ta’ala semakin menebal. Sebab, dia percaya bahwa pertolongan Allah subhanahu wa ta’ala itu datang bersama kesabaran; kelapangan itu ada bersama musibah; dan bersama kesulitan itu ada kemudahan yang pasti menyusul. (Syarhu Riyadhish Shalihin, 1/371—372)

Lantas, bagaimana halnya dengan diri kita? Di mana posisi kita dalam beribadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala?

Wallahul musta’an.

Ditulis oleh al-Ustadzah Ummu Ishaq al-Atsariyah

Penampilan Seorang Muslim

Kami melihat beberapa orang yang berpegang dengan agama tidak memerhatikan kebersihan dan kerapian penampilan mereka. Jika ditanya tentang hal tersebut, mereka menjawab dengan hadits,

إِنَّ الْبَذَاذَةَ مِنَ الْإِيمَانِ

“Sesungguhnya bersahajanya penampilan itu termasuk keimanan.”[1]

Kami berharap penjelasan Fadhilatusy Syaikh, sejauh mana kebenaran pendalilan mereka tersebut. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala membalas Anda dengan kebaikan.

 

Fadhilatusy Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah menjawab:

Sepantasnya pakaian dan penampilan seorang (muslim) terlihat indah sesuai dengan kemampuannya. Sebab, tatkala Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan hadits kepada para sahabat tentang sifat sombong, para sahabat berkata,

يَا رَسُوْلَ اللهِ، إِنَّ الرَّجُلَ يُحِبَّ أَنْ يَكُوْنَ نَعْلُهُ حَسَنًا وَثَوْبُهُ حَسَنًا

“Wahai Rasulullah, sungguh ada orang yang senang memakai sandal yang bagus dan pakaian yang bagus (apakah hal tesebut termasuk sifat sombong?).”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda menafikan sifat senang berpenampilan indah sebagai pertanda kesombongan,

إِنَّ اللهَ جَمِيْلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ

“Sungguh, Allah itu Mahaindah dan mencintai keindahan[2].”

Maksudnya, Allah subhanahu wa ta’ala menyukai tajammul (berhias/berpenampilan indah). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengingkari kesenangan mereka mengenakan pakaian dan sandal yang bagus.

Berdasarkan hal ini, kami katakan bahwa yang dimaksud dengan hadits adalah agar seseorang tidak memberat-beratkan diri dalam segala sesuatu. Semuanya apa adanya.

Jadi, jika hadits ini dikompromikan dengan hadits tentang tajammul, maknanya adalah tajammul termasuk hal yang dicintai oleh Allah subhanahu wa ta’ala, tetapi dengan syarat tajammul tersebut tidak dilakukan dengan berlebih-lebihan atau melampaui tingkatan yang tidak sepantasnya dilakukan oleh seorang lelaki.”

(Fatawa Ulama al-Balad al-Haram, hlm. 1730—1731)

 

Pakaian Wanita di Hadapan Wanita dan Mahram

Bagaimana batasan pakaian yang dikenakan oleh wanita di hadapan sesama wanita dan di hadapan lelaki mahramnya (selain suami)?

Jawab:

Al-Lajnah ad-Daimah lil Buhuts al-Ilmiyah wa al-Ifta’ dalam keterangan (No. 21032, tanggal 21/1/1421 H) menyatakan,

“Wanita-wanita orang beriman di awal Islam benar-benar mencapai puncak kesucian, iffah (menjaga kehormatan diri), dan rasa malu dengan berkah iman kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta mengikuti al-Qur’an dan as-Sunnah.

Para wanita pada zaman tersebut biasa mengenakan pakaian yang menutupi tubuh mereka. Tidak dikenal di kalangan mereka kebiasaan membuka bagian-bagian tubuh saat berkumpul sesama mereka atau di hadapan lelaki mahram mereka.

Di atas kebiasaan yang lurus inilah perilaku para wanita umat ini, alhamdulillah, dari generasi ke generasi. Sampai akhirnya pada masa yang tidak terlalu jauh (dari sekarang), masuklah kerusakan pada kebanyakan kaum wanita dalam hal pakaian dan akhlak[3] karena banyak faktor. Namun, bukan di sini tempat menjelaskannya.

Mempertimbangkan banyaknya permintaan fatwa yang tertuju kepada al-Lajnah tentang sejauh mana batasan bolehnya seorang wanita memandang wanita lain dan pakaian seperti apa yang harus dikenakan wanita (di hadapan sesama wanita atau di hadapan mahramnya), Lajnah menerangkan bahwa kaum wanita wajib terikat dengan akhlak malu. Sebuah akhlak yang dijadikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai bagian keimanan dan salah satu cabangnya.

Termasuk malu yang diperintahkan secara syariat dan menjadi adat kebiasaan (‘urf) adalah wanita harus berpakaian tertutup (tasattur, tidak ‘buka-bukaan’). Wanita harus memiliki rasa malu yang besar. Selain itu, dia pun harus berperangai dengan akhlak yang dapat menjauhkan dirinya dari tempat-tempat buruk dan keraguan (yang membuat orang menyangsikan kesucian dirinya dan meragukan dirinya sebagai perempuan baik-baik).

Al-Qur’an menyebutkan bahwa seorang wanita tidak boleh menampakkan tubuhnya kecuali yang biasa ditampakkan di hadapan mahram-mahramnya dengan batasan yang biasa tampak.

Maksudnya, yang dianggap biasa terbuka di dalam rumah dan saat si wanita bekerja dalam rumahnya. Hal ini sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala (tentang pihak-pihak yang diperkenankan melihat perhiasan wanita yang biasa tampak dalam kesehariannya),

وَلَا يُبۡدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوۡ ءَابَآئِهِنَّ أَوۡ ءَابَآءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوۡ أَبۡنَآئِهِنَّ أَوۡ أَبۡنَآءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوۡ إِخۡوَٰنِهِنَّ أَوۡ بَنِيٓ إِخۡوَٰنِهِنَّ أَوۡ بَنِيٓ أَخَوَٰتِهِنَّ أَوۡ نِسَآئِهِنَّ

“Dan janganlah mereka (para muslimah) menampakkan perhiasan mereka, kecuali kepada suami-suami mereka, atau ayah-ayah mereka, atau ayah mertua mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka atau putra-putra dari saudara laki-laki mereka (keponakan), atau putra-putra dari saudari perempuan mereka, atau perempuan-perempuan mereka….” (an-Nur: 31)

Ayat di atas adalah nash al-Qur’an. Demikian pula yang berlangsung dari amalan istri-istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, istri-istri para sahabat radhiallahu ‘anhum, dan para wanita yang mengikuti mereka dengan kebaikan hingga masa kita ini.

Bagian tubuh yang biasa tampak dari wanita di hadapan sesamanya dan di hadapan lelaki kalangan mahramnya—sebagaimana yang tersebut dalam ayat yang mulia di atas—adalah bagian yang secara umum biasa terlihat dari si wanita saat berada dalam rumahnya dan saat dia beraktivitas (di dalam rumah) yang akan memberatkan si wanita untuk menutupnya[4]. Misalnya, kepala yang terbuka (tidak memakai kerudung), dua tangan, leher, dan dua telapak kaki.

Adapun dalam menampakkan bagian tubuh (melebihi apa yang telah disebutkan), tidak ada dalil yang menunjukkan kebolehannya dalam al-Qur’an ataupun as-Sunnah. Di samping itu, hal tersebut menjadi jalan munculnya fitnah (keburukan dan musibah) terhadap wanita dan tergodanya sebagian wanita dengan sebagian yang lain sebagaimana yang terjadi di antara mereka[5].

Selain itu, perbuatan tersebut menjadi contoh yang buruk bagi wanita lain (mereka akan meniru, ikut-ikutan membuka bagian tubuhnya yang semestinya tertutup di hadapan sesama atau di hadapan mahramnya[6]).

Ditambah lagi, ada unsur tasyabbuh dengan wanita-wanita kafir dan wanita-wanita “nakal” dalam hal (cara) berpakaian. Sementara itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

“Siapa yang menyerupai suatu kaum, dia termasuk golongan mereka.” (HR. al-Imam Ahmad dan Abu Dawud)[7]

Disebutkan dalam Shahih Muslim dari Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhuma bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melihatnya memakai dua pakaian yang dicelup dengan ushfur. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu bersabda,

إِنَّ هَذِهِ مِنْ ثِيَابِ الْكُفَّارِ فَلاَ تَلْبَسْهَا

        “Pakaian ini termasuk pakaian orang-orang kafir maka jangan kamu pakai.”[8]

Dalam Shahih Muslim juga, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا: قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ يَضْرِبُوْنَ بِهَا النَّاسَ، وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيْلاَتٌ مَائِلاَتٌ، رُؤُوْسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلةِ، لاَ يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلاَ يَجِدْنَ رِيْحَهَا وَإِنَّ رِيْحَهَا لَيُوْجَدُ مِنْ مَسِيْرَةِ كَذا وَكَذا

“Ada dua golongan dari penduduk neraka yang aku belum melihat mereka. (1) Suatu kaum yang bersama mereka ada cemeti seperti ekor-ekor sapi yang dengannya mereka memukul manusia, dan (2) wanita-wanita yang berpakaian tetapi telanjang, yang berjalan berlenggak-lenggok. Kepala-kepala mereka miring seperti punuk unta yang miring. Mereka tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium wangi surga, padahal wanginya dapat tercium dari jarak perjalanan sekian dan sekian.”[9]

Makna كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ adalah wanita yang mengenakan pakaian namun tidak menutupi tubuhnya. Jadi, dia berpakaian, namun hakikatnya telanjang. Misalnya, wanita mengenakan pakaian yang tipis/transparan hingga membayang tubuh di baliknya, mengenakan pakaian ketat yang membentuk lekuk-lekuk tubuhnya, atau pakaian pendek yang tidak menutupi sebagian tubuhnya.

Wanita kaum muslimin semestinya meneladani contoh yang ditunjukkan oleh ummahatul mukminin, para wanita kalangan sahabat—semoga Allah meridhai mereka—dan para wanita umat ini yang mengikuti mereka dengan kebaikan.

Selain itu, hendaknya para muslimah tidak ‘enggan-engganan’ untuk menutup tubuhnya dan selalu berpegang dengan rasa malu. Hal ini tentu lebih menjauhkannya dari sebab-sebab godaan dan menjauhkannya dari hal-hal yang dapat membangkitkan hawa nafsu dan menjatuhkan pelakunya ke dalam perbuatan keji.

Wanita kaum muslimin juga wajib berhati-hati, menjaga diri agar tidak jatuh ke dalam hal yang Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya haramkan, yaitu berupa berpakaian dengan busana yang menyerupai wanita kafir dan wanita pelacur. Semuanya dilaksanakan dalam rangka menaati Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya, mengharapkan pahala Allah subhanahu wa ta’ala dan takut akan siksa-Nya.

Setiap muslim juga wajib bertakwa kepada Allah subhanahu wa ta’ala dalam hal mengurusi para wanita yang berada di bawah perwaliannya. Jangan biarkan mereka mengenakan pakaian yang diharamkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya, yakni pakaian yang mengumbar aurat dan menyebabkan godaan. Hendaklah seorang muslim mengetahui bahwa dia adalah pemimpin (bagi keluarganya) dan akan dimintai pertanggungjawaban tentang apa yang dipimpinnya pada hari kiamat.

Kita mohon kepada Allah subhanahu wa ta’ala agar Dia memperbaiki keadaan kaum muslimin dan memberi petunjuk kepada kita semua kepada jalan yang lurus.

Sungguh, Allah Maha Mendengar lagi Mahadekat. Shalawat dan salam semoga selalu terlimpah untuk Nabi kita Muhammad, keluarga beliau, dan sahabat-sahabat beliau.

(Dinukil dalam Fatawa Ulama al-Balad al-Haram, hlm. 1178—1181)

 

 

[1] Catatan kaki dari penerjemah:

 إِنَّ الْبَذَاذَةَ مِنَ الْإِيمَانِ

  1. Abu Dawud, kitab at-Tarajjul, hadits no. 4161, dari sahabat Abu Umamah al-Haritsi radhiallahu ‘anhu.

[2] Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian menerangkan bahwa sombong adalah,

بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ

“Menolak kebenaran dan merendahkan manusia.” (HR. Muslim dalam Shahihnya, “Kitab al-Iman” no. 91)

[3] Mulailah terjadi pergeseran dari kebiasaan yang lurus; wanita mulai berpakaian terbuka.

[4] Apabila bagian tubuh tersebut harus ditutup saat berada di dalam rumah dan saat beraktivitas melakukan pekerjaan-pekerjaan rumah tangga, niscaya akan menyulitkan dan memberatkan si wanita. Sementara itu, tidak ada seorang pun lelaki ajnabi di rumah tersebut yang akan melihat auratnya.

[5] Walaupun sama-sama wanita, bisa jadi ada yang tergoda dan tergerak syahwatnya ketika melihat aurat wanita lain terbuka di hadapannya.

[6] Kecuali di hadapan suami karena tidak ada batasan aurat antara suami dan istri.

[7] HR. Abu Dawud no. 4031 dan Ahmad no. 5093, 5094, 5634.

[8] HR. Muslim dalam “Kitab al-Libas” no. 2077

[9] HR. Muslim dalam “Kitab al-Libas” no. 2127

Cadar Menurut Ulama Mazhab Syafi’i

Awal era 90-an, apalagi sebelum 1990, muslimah yang bercadar di nusantara sangat jarang dijumpai. Di mata masyarakat, muslimah yang bercadar tersebut dianggap sangat aneh. Dia menjadi tontonan saat keluar rumah, bahkan sering menjadi bahan cercaan, makian, olokan, dan ejekan.

Tidak jarang pula yang merasa ketakutan. Seakan-akan yang dilihat tersebut bukan manusia, melainkan hantu yang gentayangan. Apalagi anak-anak kecil, lebih seru lagi reaksinya.

Itu era 90-an… Bagaimana hari-hari sekarang setelah berlalu hitungan lebih dari seperempat abad?

Di beberapa daerah, pakaian cadar berlanjut keterasingannya dan masih saja dianggap aneh. Namun, alhamdulillah, di banyak daerah masyarakat sudah “terbiasa” melihat pemandangan muslimah yang menutup wajahnya dengan cadar. Jumlah pemakainya pun sangat banyak.

Akan tetapi, sangatlah disayangkan masih tersebar anggapan bahwa cadar adalah simbol bahwa pemakainya pengikut aliran sesat, bagian dari kelompok radikal dan golongan ekstrem. Memang didapati di antara istri para pelaku bom teror di negeri ini ternyata mengenakan cadar. Jadilah cap bahwa muslimah bercadar adalah bagian dari para teroris, wallahul musta’an.

Belum lama, istri seorang pimpinan teroris di Poso yang tertembak mati oleh pasukan keamanan dalam Operasi Tinombala, tertangkap setelah pelariannya selama 5 hari, dalam keadaan mengenakan penutup wajah. Nah, bertambah lagi fitnah bagi muslimah yang bercadar.

Ada juga orang-orang yang tidak memberikan cap buruk kepada cadar. Namun, mereka beranggapan bahwa cadar adalah budaya Arab yang ditiru oleh muslimah di negeri ini. Jadi, menurut mereka, sebenarnya cadar tidak cocok dengan budaya Indonesia.

Karena itulah, ada yang sinis ketika melihat muslimah bercadar, “Tuh yang cadaran merasa berada di negeri Arab. Kok nggak sekalian naik unta aja ke mana-mana.”

Ada juga yang berkata, “Wanita Arab aja banyak yang lepas cadar, kok perempuan Indonesia malah bergaya cadaran.”

Atau kalimat-kalimat cemoohan lain yang intinya menunjukkan ketidaksukaan mereka terhadap muslimah bercadar.

Yang lebih parah, ada yang menganggap bahwa cadar itu bid’ah, perkara yang dibuat-buat dan yang tidak dikenal dalam Islam. Kalaupun ada cadar, itu hanya zaman dahulu, khusus untuk istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Bagaimanakah duduk permasalahan yang sebenarnya? Bagaimana hukum

cadar dalam Islam? Apa kata ulama Islam yang terkenal tentang cadar?

Benarkah pemakai cadar dipastikan pengikut aliran sesat, kelompok teroris, membebek budaya Arab, dan mengikuti bid’ah?

Betul bahwa ada di antara kelompok aliran sesat yang wanitanya bercadar. Kelompok teroris juga demikian, ada yang wanitanya bercadar. Akan tetapi, cadar bukanlah ciri khas mereka. Artinya, kalau ada wanita yang bercadar belum tentu dia pengikut aliran sesat, belum tentu dia wanita teroris.

Intinya, jangan mudah memvonis dan menuduh tanpa mengerti hukum dan duduk perkara yang sebenarnya. Jangan pula menyamaratakan. Semua perlu kejelasan dan kepastian.

Yang kita inginkan adalah ilmu yang benar terkait masalah cadar ini agar tidak ada lagi tuduhan dan kecurigaan kepada pemakainya. Tidak pula muncul sikap memukul rata bahwa mereka semua dari aliran atau kelompok yang sama.

Karena di Indonesia banyak kaum muslimin yang mengikuti mazhab al-Imam Muhammad bin Idris asy-Syafi’i rahimahullah, kami hanya akan membawakan ucapan beberapa ulama terkenal dari mazhab Syafi’i. Kami berharap kaum muslimin di negeri ini memiliki ilmu tentang masalah cadar dari mazhab yang mereka percayai dan mereka peluk.

Semoga tulisan ini membuka mata dan hati kaum muslimin di negeri tercinta ini agar tidak salah menilai dan berbuat. Wallahul musta’an.

 

Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah

Siapa yang tidak kenal dengan al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah[1], seorang tokoh terdepan dalam mazhab Syafi’i.

Ketika membahas boleh tidaknya seorang wanita melihat ke lelaki ajnabi (bukan mahram), beliau rahimahullah menyatakan,

“Yang menguatkan pendapat ‘boleh’ adalah kaum wanita terus diperkenankan untuk keluar ke masjid, ke pasar, dan melakukan safar (bersama mahramnya –pen.) dalam keadaan mereka berniqab (bercadar) agar para lelaki tidak melihat (wajah) mereka.

Sementara itu, para lelaki sama sekali tidak diperintah untuk memakai niqab agar tidak terlihat oleh kaum wanita. Ini menunjukkan perbedaan hukum antara kedua golongan (laki-laki dan wanita).”

Dengan alasan ini pula al-Ghazali berargumen membolehkan wanita melihat lelaki ajnabi. Dia mengatakan,

“Tidaklah kita mengatakan bahwa wajah lelaki adalah aurat yang tidak boleh dilihat oleh wanita, sebagaimana wajah wanita adalah aurat yang tidak boleh dilihat oleh lelaki.

Wajah wanita itu seperti wajah amrad (anak lelaki yang belum tumbuh jenggotnya sehingga wajahnya tampak manis seperti perempuan –pen.) pada lelaki sehingga diharamkan memandang si amrad. Hanya saja, pengharaman (memandang amrad) ini ketika dikhawatirkan adanya godaan. Apabila tidak timbul fitnah[2], tidak haram.

(Bukti bahwa wajah lelaki bukan aurat, tidak seperti wajah wanita) adalah kaum lelaki sepanjang masa senantiasa terbuka wajahnya (tidak dicadari). Adapun kaum wanita, apabila keluar rumah mereka mengenakan niqab.

Seandainya lelaki dan wanita itu sama dalam hal ini, niscaya kaum lelaki akan diperintah untuk berniqab atau kaum wanita dilarang keluar rumah (agar tidak melihat wajah lelaki yang terbuka).” (Fathul Bari, 9/337)

Ketika menyebutkan ucapan Aisyah radhiallahu ‘anhuma,

        يَرْحَمُ اللهُ نِسَاءَ الْمُهَاجِرَاتِ الْأُوَلِ، لَمَّا أَنْزَلَ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى} وَلۡيَضۡرِبۡنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَىٰ جُيُوبِهِنَّۖ { شَقَقْنَ مُرُوْطَهُنَّ فَاخْتَمَرْنَ بِهَا.

Semoga Allah subhanahu wa ta’ala merahmati kaum wanita Muhajirat (yang berhijrah meninggalkan negerinya menuju Madinah –pen.). Tatkala Allah subhanahu wa ta’ala menurunkan ayat (artinya), “Hendaklah mereka mengulurkan kerudung-kerudung mereka di atas dada-dada mereka,”[3] mereka memotong-motong muruth, lalu ikhtimar dengannya.

Ibnu Hajar rahimahullah menjelaskan, “Ucapan Aisyah radhiallahu ‘anha مُرُوْطَهُنَّ , muruth adalah jamak dari murth, maknanya izar/sarung/kain.... Ucapan Aisyah radhiallahu ‘anha فَاخْتَمَرْنَ maksudnya mereka menutupi wajah mereka (dengan potongan muruth).” (Fathul Bari, 8/490)

Alangkah bagusnya ucapan Ibnu Hajar rahimahullah, “Termasuk hal yang dimaklumi, seorang lelaki yang berakal tentu merasa keberatan apabila lelaki ajnabi melihat wajah istrinya, putrinya, dan semisalnya.” (Fathul Bari, 12/240)

 

Jalaluddin al-Muhalli rahimahullah

Saat menafsirkan firman Allah subhanahu wa ta’ala,

          يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّبِيُّ قُل لِّأَزۡوَٰجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَآءِ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ يُدۡنِينَ عَلَيۡهِنَّ مِن جَلَٰبِيبِهِنَّۚ ذَٰلِكَ أَدۡنَىٰٓ أَن يُعۡرَفۡنَ فَلَا يُؤۡذَيۡنَۗ وَكَانَ ٱللَّهُ غَفُورٗا رَّحِيمٗا ٥٩

        “Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, putri-putrimu, dan wanitanya orang-orang beriman agar mereka mengulurkan jalabib (jilbab-jilbab) mereka di atas tubuh mereka. Hal itu lebih pantas untuk mereka dikenali sehingga mereka tidak diganggu. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (al-Ahzab: 59)

 

seorang tokoh ulama mazhab Syafi’i yang terkemuka, Jalaluddin al-Muhalli rahimahullah[4] mengatakan, “Jalabib adalah bentuk jamak dari jilbab, yaitu mala’ah (pakaian panjang) yang menutupi seluruh tubuh wanita.

Ayat di atas memerintahkan agar mereka mengulurkan sebagian jilbab tersebut menutupi wajah, saat mereka keluar rumah untuk memenuhi kebutuhan mereka (tidak ada yang terlihat dari mereka) kecuali satu mata.

Firman-Nya,ذَٰلِكَ أَدۡنَىٰٓ  “hal itu” lebih pantas untuk أَن يُعۡرَفۡنَ “mereka dikenali” bahwa mereka adalah wanita merdeka (bukan budak), فَلَا يُؤۡذَيۡنَۗ “sehingga mereka tidak diganggu”, dengan dihadang (digoda) di jalan.

Berbeda halnya dengan wanita yang berstatus budak, mereka tidak menutupi wajah sehingga orang-orang munafik menghadang mereka (di jalan).

Firman-Nya, وَكَانَ ٱللَّهُ غَفُورٗا“dan adalah Allah Maha Pengampun” terhadap perbuatan mereka tidak berhijab pada masa yang lalu (sebelum turunnya perintah); dan رَّحِيمٗا “Allah Maha Penyayang”, terhadap mereka saat mereka berhijab.” (Tafsir al-Jalalain, hlm. 559, cetakan Darul Hadits)

 

Al-Hafizh Jalaluddin as-Suyuthi[5] rahimahullah

Nama beliau sering kita dengar. Orang-orang yang menisbatkan diri pada mazhab Syafi’i sudah tentu mengenalnya. Sebab, as-Suyuthi rahimahullah termasuk tokoh besar dalam mazhab Syafi’i . Apa gerangan pendapat beliau tentang cadar atau penutup wajah bagi wanita?

Saat menafsirkan firman Allah subhanahu wa ta’ala surat al-Ahzab ayat 59 di atas, beliau berkata, “Ayat di atas adalah ayat hijab yang berlaku untuk seluruh wanita. Di dalamnya ada kewajiban menghijabi kepala dan wajah. Ini tidaklah diwajibkan kepada para budak perempuan.”

Ibnu Abi Hatim rahimahullah mengeluarkan riwayat dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma terkait dengan ayat di atas. Kata Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma, “Allah subhanahu wa ta’ala memerintah para wanita mukminah apabila keluar rumah untuk suatu kebutuhan, hendaknya menutupkan jilbab dari atas kepala mereka (hingga menutupi seluruh tubuh mereka –pen.) dan mereka menampakkan (hanya) satu mata (untuk kebutuhan melihat jalan –pent.).” (al-Iklil fi Istimbath at-Tanzil, hlm. 214, karya as-Suyuthi)

 

Ibnu Hajar al-Haitami rahimahullah

Pernah ada yang bertanya kepada Ibnu Hajar al-Haitami[6] rahimahullah kurang lebih sebagai berikut,

“Di zaman ini banyak kaum wanita keluar rumah menuju ke pasar (untuk berbelanja –pen.) dan masjid untuk mendengar nasihat, mengerjakan thawaf, dan keperluan selainnya di masjid Makkah (Masjidil Haram –pen.).

Namun, para wanita ini keluar dengan penampilan yang aneh (yang tidak dikenal dalam Islam karena Islam tidak mengajar demikian –pen.). Penampilan tersebut secara pasti dapat menggoda kaum lelaki.

Mereka keluar dalam keadaan berhias semaksimal yang mereka sanggupi, dengan berbagai dandanan, bermacam perhiasan dan pakaian, seperti gelang kaki, gelang tangan, dan perhiasan emas yang terlihat pada lengan-lengan mereka, ditambah lagi aroma bukhur (dupa yang semerbak) dan parfum.

Bersamaan dengan itu, mereka menampakkan banyak bagian tubuh mereka, seperti wajah, tangan, dan selainnya. Mereka berjalan berlenggak-lenggok/gemulai yang jelas terlihat bagi orang yang sengaja melihat ke arah mereka ataupun tidak.

Apabila penampilannya demikian, apakah pemimpin negeri dan kalangan yang memiliki kekuasaan serta kemampuan wajib melarang para wanita tersebut keluar rumah? Bahkan, melarang mereka datang ke masjid, sampaipun itu Masjid al-Haram?”[7]

Beliau rahimahullah memberikan jawaban yang panjang. Intinya, beliau menyatakan haramnya pelanggaran syariat yang disebutkan. Beliau juga menetapkan, wajib melarang wanita keluar rumah dalam keadaan yang disebutkan karena dapat menjerumuskan ke dalam godaan.

Di antara ucapan beliau rahimahullah, “Dalam Mansak Ibnu Jama’ah al-Kabir disebutkan, termasuk kemungkaran terbesar yang dilakukan oleh orang-orang awam yang jahil saat thawaf adalah para lelaki berdesak-desakan dengan istri-istri mereka yang dalam keadaan membuka wajah (tidak menutup wajah)….” (al-Fatawa al-Fiqhiyah al-Kubra, 1/201—202)

Demikianlah ucapan alim ulama mazhab Syafi’i. Mereka berbicara didasari oleh ilmu dan ketakwaan, bukan hawa nafsu.

Karena terbatasnya tempat kami hanya bawakan pandangan empat orang di antara mereka sebagai perwakilan. Ini baru ulama mazhab Syafi’i, belum ucapan ulama mazhab yang lain: mazhab Hanafi yang mengikuti pendapat Abu Hanifah rahimahullah, mazhab Maliki yang mengikuti al-Imam Malik rahimahullah, ataupun mazhab Hambali yang mengikuti pendapat al-Imam Ahmad ibnu Hambal rahimahullah.

Sungguh, tidak ada satu pun dari mereka yang mengatakan cadar itu haram, bid’ah, atau tidak dikenal dalam Islam.

Kalaupun ada di antara mereka yang berpendapat hukum cadar tidak wajib, hanya afdhaliyah atau sunnah, tidak ada seorang dari mereka yang mengatakan ‘terlarang bagi muslimah mengenakan cadar’ atau ‘cadar harus ditanggalkan’.

Nah, apabila demikian pendapat para ulama, sekarang apa yang kita permasalahkan saat melihat seorang muslimah bercadar?

Bukankah dia hanya ingin menjalankan perintah agama yang diyakininya? Bukankah dia ingin menjaga kehormatan dirinya dengan menutup tubuhnya secara sempurna?

Bukankah dia ingin menjaga dirinya dari godaan dan mencegah agar dirinya tidak menggoda orang lain?

Apa salahnya seorang muslimah yang bercadar? Bukankah tidak ada dosa yang dilakukannya terkait pakaiannya?

Namun, tentu saja si muslimah harus belajar cara berhijab yang syar’i, cadar yang sesuai syariat, sehingga tidak asal-asalan dalam berhijab.

Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

 

 

 

[1] Beliau adalah al-Imam al-Hafizh Syihabuddin Abu al-Fadhl Ahmad bin Ali bin Hajar al-Asqalani. Beliau lahir dan tumbuh di negeri Mesir, tepatnya di bulan Sya’ban tahun 773 H. Ayah ibu beliau telah wafat saat beliau masik kanak-kanak, sehingga tumbuhlah Ahmad kecil dalam keadaan yatim.

Al-Qur’anul Karim telah selesai beliau hafalkan ketika berusia 9 tahun. Setelah itu rihlah/perjalanan menuntut ilmu agama dimulai. Beliau menuju ke banyak negeri. Dalam banyak bidang ilmu, Ibnu Hajar mencapai kekokohan (mutqin). Mengajar dan menyampaikan khutbah di al-Jami’ al-Azhar termasuk rutinitas beliau.

Karya-karya tulis yang besar manfaatnya banyak beliau hasilkan. Di antara karya monumental beliau adalah kitab Fathul Bari Syarhu Shahih al-Bukhari. Ibnu Hajar wafat di Mesir pada 8 Dzulhijjah 852 H.

[2] Fitnah yang dimaksud, misalnya, ketika seorang lelaki remaja/dewasa memandang wajah anak lelaki yang manis yang belum tumbuh jenggotnya, tergerak syahwatnya sebagaimana tergerak saat memandang wanita.

Apabila terjadi yang seperti ini, si lelaki diharamkan memandang wajah amrad.

[3] an-Nur: 31

[4] Beliau adalah Muhammad bin Ahmad bin Muhammad bin Ibrahim al-Muhalli asy-Syafi’i, termasuk tokoh ulama ahli ushul, alim dalam bidang tafsir dan fikih.

Karya-karya beliau memberikan manfaat kepada orang banyak. Di antara karyanya adalah Tafsir al-Jalalain yang disempurnakan oleh Jalaluddin as-Suyuthi dan kitab Kanzu ar-Raghibin fi Syarh al-Minhaj.

Beliau lahir di Kairo pada 791 H dan wafat pada 864 H.

 

[5] Julukan beliau ialah Jalaluddin, nama beliau adalah Abdur Rahman bin Abi Bakr bin Muhammad bin Sabiquddin al-Khudhairi as-Suyuthi asy-Syafi`i. Beliau lahir di Kairo pada 849 H.

Beliau mengkhatamkan al-Qur’an pada usia 8 tahun. Menuntut ilmu ke banyak negeri, beliau tempuh. Dalam rihlah ilmiah tersebut beliau mempelajari ilmu nahwu, bahasa, fikih, hadits, dan ilmu-ilmu syar`i lainnya.

Saat mencapai usia 40 tahun, beliau fokus beribadah dan menyusun karya tulis. Murid-murid Jami’ al-Azhar berguru kepada beliau. Karya-karya beliau menjadi pegangan di Jami’ tersebut.

Di antara karya beliau adalah al-Itqan fi ‘Ulumil Qur’an, ad-Durr al-Mantsur fit Tafsir bil Ma’tsur, ad-Dibaj ‘ala Shahih Muslim ibnul Hajjaj, dll.

Beliau wafat di Kairo pada 911 H.

 

[6] Beliau digelari Syihabuddin. Nama beliau Ahmad bin Muhammad al-Haitami. Lahir pada 909 H di sebuah daerah di negeri Mesir.

Beliau seorang yang faqih, muhaddits, dan mencapai imamah, yakni ketokohan, keteladanan, dan panutan dalam mazhab al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah.

Beliau memiliki banyak karya tulis, di antaranya Mablagh al-Arabi fi Fadhail ‘Arab, Tuhfah al-Muhtaj li Syarh al-Minhaj.

Beliau wafat pada 974 H.

[7] Pertanyaan di atas terkait dengan masa 500 tahun yang lalu. Tergambar dalam pertanyaan tersebut kondisi wanita sudah sedemikian parah.

Mendidik Anak dan Pemuda

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,

سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ ظِلَّ إِلاَّ ظِلُّهُ: إِمَامٌ عَادِلٌ، وَشَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ اللهِ

“Ada tujuh golongan yang Allah subhanahu wa ta’ala naungi mereka dalam naungan-Nya pada hari tidak ada naungan kecuali naungan-Nya, yaitu pemimpin yang adil, pemuda yang tumbuh dalam beribadah kepada Allah….” (HR. Muslim)

 

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah pula memberikan nasihat khusus kepada para pemuda dengan menyerukan,

يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ، مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ

“Wahai sekalian pemuda, siapa di antara kalian yang telah memiliki kesanggupan hendaknya dia menikah. Siapa yang tidak mampu, hendaknya dia berpuasa karena puasa itu tameng baginya.” (HR. al-Bukhari)

 

Pada kesempatan lain, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat tangan Amr ibnu Abi Salamah radhiallahu ‘anhuma, anak istri beliau yang dalam asuhan beliau, ke sana ke mari saat santap bersama. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya,

يَا غُلَامُ، سَمِّ اللهَ، وَكُلْ بِيَمِينِكَ، وَكُلْ مِمَّا يَلِيكَ

“Wahai bocah, ucapkanlah bismillah, makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah makanan yang ada di dekatmu!” (HR. Muslim)

 

Kepada saudara sepupu yang saat itu masih kecil, yaitu Abdullah ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan nasihat,

يَا غُلَامُ، إِنِّي أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ، احْفَظِ اللهَ يَحْفَظْكَ، احْفَظِ اللهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ، إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللهَ، إِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللهِ

“Wahai bocah, aku akan ajarkan kepadamu beberapa kalimat; Jagalah Allah subhanahu wa ta’ala maka Allah subhanahu wa ta’ala akan menjagamu, jagalah Allah maka engkau akan dapati Dia dihadapanmu, jika engkau meminta, mintalah kepada Allah, dan jika engkau minta tolong, minta tolonglah kepada Allah!” (HR. at-Tirmidzi, dinyatakan sahih dalam Shahih Sunan at-Tirmidzi)

Hadits-hadits di atas menunjukkan perhatian dan bimbingan Islam kepada anak, baik yang masih kecil maupun yang remaja. Hal ini menjadi tugas utama orang tua, ayah dibantu oleh ibu, selaku pihak yang akan dimintai pertanggungjawaban perihal anak-anak tersebut di hadapan Allah subhanahu wa ta’ala.

Di antara hadits yang juga menunjukkan kewajiban orang tua mengajari dan mendidik anak-anak mereka adalah sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

مُرُوْا أَوْ دَالَكُمْ باِلصَّلاَةِ لِسَبْعٍ، وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا لِعَشْرٍ، وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِي الْمَضَاجِعِ

“Perintahlah anak-anak kalian untuk mengerjakan shalat ketika mereka berusia 7 tahun. Pukullah mereka bila tidak mau mengerjakan shalat pada usia 10 tahun, dan pisahkan tempat tidur mereka.” (HR. Abu Dawud)

Hadits di atas menyebutkan ibadah shalat, namun tidak berarti pendidikan anak hanya sebatas pengajaran shalat.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan shalat di dalam hadits tersebut karena ia adalah ibadah yang terpenting. Siapa yang menjaga shalatnya, niscaya ibadah yang selain shalat pun akan dia jaga. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

          إِنَّ ٱلصَّلَوٰةَ تَنۡهَىٰ عَنِ ٱلۡفَحۡشَآءِ وَٱلۡمُنكَرِۗ

“Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.” (al-Ankabut: 45)

Berilah anak-anak kalian arahan yang lurus. Didiklah mereka dengan baik. Jadikan diri kalian sebagai teladan yang baik bagi diri kalian sehingga mereka dapat meneladani kalian.

Bersihkan rumah-rumah kalian dari hal-hal yang tidak pantas. Hilangkan sarana yang mengantarkan kepada api kejelekan di dalam rumah sehingga menjadi “steril”. Artinya, hal-hal yang menjadi perantara menyimpangnya anak-anak kalian tidak boleh masuk ke dalamnya.

Para ayah menanggung amanat terkait urusan anak-anak mereka. Apabila orang tua dapat menunaikan kewajiban yang Allah subhanahu wa ta’ala bebankan kepada mereka, niscaya Allah subhanahu wa ta’ala akan memberikan pahala kepada mereka.

Orang tua hendaknya menjadi sebab kebaikan bagi anak-anak mereka sehingga anak-anak bisa menjadi qurratu a’yun bagi mereka di dunia dan di akhirat. Kelak di dalam surga, jika anak-anak itu saleh karena usaha ayah mereka—dengan izin Allah—ketika hidup di dunia, Allah subhanahu wa ta’ala akan mengumpulkan mereka di tempat yang sama di dalam surga.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

          وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَٱتَّبَعَتۡهُمۡ ذُرِّيَّتُهُم بِإِيمَٰنٍ أَلۡحَقۡنَا بِهِمۡ ذُرِّيَّتَهُمۡ وَمَآ أَلَتۡنَٰهُم مِّنۡ عَمَلِهِم مِّن شَيۡءٖۚ

        “Orang-orang yang beriman dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, maka Kami gabungkan anak keturunan mereka dengan mereka dan Kami tiada mengurangi sedikit pun dari pahala amal mereka.” (ath-Thur: 21)

Mendidik anak membutuhkan kesabaran dan kemauan menanggung kesulitan dari para orang tua. Ia membutuhkan kesungguhan total dari para orang tua. Terkhusus pada zaman ini, saat gelombang keburukan bergejolak dari segala arah. Gelombang keburukan tersebut mengakibatkan para pemuda menjadi seperti kambing-kambing di daerah yang dipenuhi hewan buas yang berbahaya.

Karena itu, para ayah harus mengupayakan agar anak-anak mereka tumbuh di atas ketaatan kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Para pendahulu terbaik umat ini, assalafus shalih, memberikan perhatian yang besar terhadap anak-anak mereka. Mereka membimbing anak-anak mereka untuk menghafal Kitabullah dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka serahkan anak-anak mereka kepada para guru dan pendidik yang saleh. Mereka rela mengorbankan harta dan waktu yang tidak sedikit untuk kepentingan pengarahan dan pengajaran anak-anak mereka. Semuanya demi buah yang baik di masa depan yang mereka harapkan akan dipetik.

Mereka tidak meninggalkan anak-anak mereka. Waktu luang, materi, dan masa muda anak-anak tersebut, tidaklah diabaikan (namun digunakan sebaik-baiknya). Sebab, semua itu berbahaya bagi anak-anak tersebut.

Seorang penyair mengatakan,

إِنَّ الشَّبَابَ وَالْفَرَاغَ وَالْجِدَةَ

مُفْسِدَةٌ لِلْمَرْءِ أَيَّ مَفْسَدَةٍ

“Sungguh masa muda, waktu luang, dan kekayaan, merusak seseorang dengan kuatnya.”

Apabila mereka memiliki waktu luang, kemudaan dan kekuatan, didukung kekayaan, semua ini merupakan sebab yang dapat merusak.

Karena itu, hati-hatilah dari hal tersebut. Sibukkan waktu mereka dengan perkara yang bermanfaat. Jagalah waktu mereka agar tidak berlalu sia-sia. Jangan memberikan harta yang banyak kepada mereka. Berilah mereka sesuai kebutuhan dan kecukupan mereka yang harus dipenuhi.

Wahai kaum muslimin, ketahuilah, orang-orang kafir menyusun makar untuk anak-anak kalian. Mereka membuat rencana untuk merusak para pemuda muslimin. Sebab, mereka tahu bahwa masyarakat muslimin tegak dengan para pemuda mereka.

Di antara para pemuda itu akan ada yang menjadi pemimpin, ada yang menjadi hakim, ada yang menjadi dai yang mengajak kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan menjadi mujahid fi sabilillah, apabila para pemuda tersebut saleh dan tetap istiqamah.

Orang-orang kafir menyadari pentingnya keberadaan pemuda muslimin tersebut. Karena itu, mereka mengarahkan sarana-sarana perusak dan penghancur kepada para pemuda.

Mereka berupaya mengubah metode pembelajaran di sekolah-sekolah, dari metode Islam menjadi metode kufur, metode di luar Islam. Mereka ingin memalingkan para pemuda muslimin dari jalan yang benar.

Mereka menguasai media massa: siaran radio, televisi, dan surat kabar, untuk dijadikan sarana penyebaran kerusakan yang dapat mengubah akidah atau keyakinan para pemuda muslimin.

Orang-orang kafir memasukkan candu-candu dan minuman yang memabukkan kepada para pemuda, untuk melemahkan tubuh dan akal mereka. Jadilah para pemuda ini sebagai alat perusak dan penghancur di tengah masyarakat atau menjadi beban hidup bagi orang lain.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

          مَّا يَوَدُّ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ مِنۡ أَهۡلِ ٱلۡكِتَٰبِ وَلَا ٱلۡمُشۡرِكِينَ أَن يُنَزَّلَ عَلَيۡكُم مِّنۡ خَيۡرٖ مِّن رَّبِّكُمۡۚ

        “Orang-orang kafir dari kalangan ahlul kitab dan orang-orang musyrik tidaklah menginginkan diturunkannya sesuatu kebaikan kepada kalian dari Rabb kalian.” (al-Baqarah: 105)

          وَدُّواْ لَوۡ تَكۡفُرُونَ كَمَا كَفَرُواْ فَتَكُونُونَ سَوَآءٗۖ

        “Mereka ingin supaya kalian menjadi kafir sebagaimana mereka kafir, sehingga samalah kalian dengan mereka.” (an-Nisa’: 89)

Allah subhanahu wa ta’ala telah memperingatkan kalian dari musuh-musuh kalian,

          إِنَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ يُنفِقُونَ أَمۡوَٰلَهُمۡ لِيَصُدُّواْ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِۚ فَسَيُنفِقُونَهَا ثُمَّ تَكُونُ عَلَيۡهِمۡ حَسۡرَةٗ ثُمَّ يُغۡلَبُونَۗ

        “Sesungguhnya orang-orang kafir itu membelanjakan harta mereka untuk menghalangi manusia dari jalan Allah. Mereka akan membelanjakan harta tersebut, kemudian akan menjadi penyesalan bagi mereka dan mereka akan dikalahkan.” (al-Anfal: 36)

Orang-orang kafir itu akan menyesal dan akan kalah menurut ayat di atas. Akan tetapi, kapankah hal tersebut terjadi?

Itu akan terjadi saat kaum muslimin bangkit menghadapi mereka dengan berjihad yang diwajibkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala, menentang kebatilan mereka, dan mewaspadai bahaya mereka.

Apabila kaum muslimin tunduk terhadap musuh-musuh tersebut, mengikuti dan berloyalitas kepada mereka, niscaya mereka akan mengawal kaum muslimin menuju neraka guna menemani mereka di sana.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

          إِنَّ ٱلشَّيۡطَٰنَ لَكُمۡ عَدُوّٞ فَٱتَّخِذُوهُ عَدُوًّاۚ إِنَّمَا يَدۡعُواْ حِزۡبَهُۥ لِيَكُونُواْ مِنۡ أَصۡحَٰبِ ٱلسَّعِيرِ ٦

        “Sesungguhnya setan-setan itu hanyalah mengajak golongannya agar mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.” (Fathir: 6)

Hendaknya kita menyadari bahwa anak-anak kaum muslimin kelak akan menjadi tiang penyangga dan kekuatan masa depan dengan izin Allah subhanahu wa ta’ala, apabila mereka tumbuh sebagai pribadi yang saleh. Mereka akan menjadi pengganti kalian sepeninggal kalian untuk mengurusi harta dan peninggalan kalian, termasuk mengurusi adik-adiknya yang masih kecil.

Jika bertakwa, tentu mereka akan dapat menunaikan tugas tersebut dengan baik dan menjadi penerus kehidupan ayah mereka. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا مَاتَ ابْنُ آدَمَ، انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَ ثَالٍ؛ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحِ يَدْعُو لَهُ

        “Jika anak Adam meninggal, terputuslah amalannya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak saleh yang mendoakannya.” (HR. Muslim)

Sebagai penutup, kita tekankan kepada para orang tua agar bertakwa kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan meneladani assalafus salih dalam mendidik anak-anak mereka. Dahulu, para salaf sangat perhatian terhadap urusan anak-anak mereka. Mereka mendidik anak-anak mereka dengan tarbiyah yang baik dan arahan yang lurus.

Satu contoh seperti yang diberitakan oleh al-Imam Ibrahim an-Nakha’i rahimahullah, “Mereka (para orang tua dan pendidik dari kalangan salaf) memukul (sebagai pukulan pendidikan) kami apabila bermudah-mudah memberikan persaksian dan berjanji, padahal kami masih kecil.”

Jika mereka mendengar anak kecil bersumpah, mereka memukulnya agar si anak terdidik untuk mengagungkan urusan sumpah dengan nama Allah subhanahu wa ta’ala dan menjauhi sifat dusta (bersumpah palsu).

Apabila anak kecil bermudah-mudah bersaksi tanpa dimintai persaksiannya, mereka memukulnya, agar si anak mendapat peringatan dan jera dari bersaksi palsu dan dusta.

Mereka tidak beralasan, “Anak ini masih kecil, biarkan. Jangan disalahkan, jangan dimarahi!”, atau kalimat semisalnya.

Sebab, anak kecil itu akan tumbuh di atas kebiasaan yang dia lakukan. Si anak akan tumbuh bersama akhlak yang dibiasakan atasnya, akhlak yang baik ataupun yang buruk.

Janganlah kalian menganggap enteng urusan anak-anak kalian dengan beralasan bahwa mereka masih kecil.

Bukankah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintah kalian untuk menyuruh anak-anak kalian shalat pada saat mereka masih berusia 7 tahun? Padahal mereka belum baligh. Mereka masih kecil, belum diwajibkan shalat.

Akan tetapi, mereka diperintah shalat dengan tujuan menumbuhkan mereka di atas ibadah dan membiasakannya. Dengan begitu,mereka tahu pentingnya ibadah shalat. Diharapkan saat baligh nanti mereka merasa mudah mengerjakannya, karena sudah terbiasa dan dibiasakan sejak kecil.

Kesungguhan salaf dari kalangan sahabat, tabi’in, dan atba’ut tabi’in, semoga Allah subhanahu wa ta’ala merahmati mereka semua, tampak sekali dari buah yang dihasilkan dan yang mereka petik dari anak-anak tersebut.

Kisah mereka terukir dengan tinta emas sejarah yang bisa terus dibaca sampai hari ini.

Di antara anak-anak generasi salaf tersebut ada yang tumbuh menjadi panglima yang membuka negeri-negeri di penjuru barat dan timur bumi, seperti Khalid ibnul Walid, al-Mutsanna ibnul Haritsah, Usamah ibnu Zaid, Muhammad ats-Tsaqafi, dan selain mereka.

Mereka semua memimpin pasukan dalam keadaan usia mereka masih belia. Mereka berhasil menaklukkan negeri-negeri kafir untuk tunduk di bawah kekuasaan Islam yang rahmatan lil ‘alamin.

Mengapa bisa demikian? Karena mereka diarahkan dengan bimbingan yang lurus dan tumbuh dengan saleh berkat taufik dari Allah subhanahu wa ta’ala. Terkumpul pada diri anak-anak muda tersebut kekuatan pemuda dan kekuatan iman.

Di antara generasi muda salaf ada yang menjadi fuqaha besar, yang tidak pernah didapati yang semisal mereka di kalangan umat.

Di antara mereka ada yang menjadi hakim yang menjadi permisalan atau teladan yang agung dalam hal keadilan saat memberi keputusan dan hukum di antara manusia.

Ada pula di antara mereka yang menjadi dai ke jalan Allah subhanahu wa ta’ala. Melalui tangan mereka, banyak penduduk di berbagai belahan bumi, baik dari kalangan Arab maupun non-Arab, yang mendapatkan hidayah.

Semua itu tercapai dengan pertolongan Allah subhanahu wa ta’ala, kemudian berkat kesungguhan para pemuda yang saleh, yang tercetak dari tarbiyah yang saleh.

Allah subhanahu wa ta’ala memberi kekuatan fisik, kekuatan berpikir dan menalar kepada mereka. Dengan izin Allah subhanahu wa ta’ala, mereka akan menjelma menjadi kekuatan yang tidak tertandingi di tangan kaum muslimin.

Namun, sayang seribu sayang….

Di antara anak-anak muda tersebut dipermainkan oleh syahwat, candu, minuman yang memabukkan, dan serbaboleh (tidak peduli aturan agama).

Mereka duduk tekun di depan televisi, bioskop, teater, bermain game, dan terus terikat dengan sarana-sarana penghancur mereka. Jika sudah telanjur demikian, apa gerangan yang bisa diharapkan dari mereka?

Hanya Allah subhanahu wa ta’ala tempat mengadu dan Dia satu-satu-Nya yang dimintai pertolongan.

(Lihat al-Khuthab al-Mimbariyah fi al-Munasabat al-Ashriyah, 5/177—183, oleh Fadhilatusy Syaikh Shalih bin Fauzan hafizhahullah, dialihbahasakan Ummu Ishaq al-Atsariyah dengan beberapa perubahan)

Peran Ibu dalam Tarbiyah Anak

Sebelum ini sudah panjang kita berbicara tentang peran wanita dalam kehidupan berumah tangga yang dimainkannya dalam istananya. Tersisa satu peran yang belum kita sebutkan, sementara ia amatlah penting, yaitu peran dalam mendidik anak-anak.

Mengapa dikatakan peran yang penting? Karena tarbiyah diarahkan kepada anak-anak, sementara mereka adalah umat masa depan. Bagaimana kondisi anak-anak tersebut dan pendidikannya pada hari ini, demikianlah gambaran umat pada masa mendatang.

Apabila mereka terdidik dengan baik, berarti disiapkan sebuah umat yang baik di masa mendatang. Sebaliknya, apabila pendidikan mereka disia-siakan, niscaya pada masa depan nanti yang muncul adalah umat yang buruk. Wallahul musta’an.

Sebenarnya, pendidikan anak bukan hanya tugas seorang ibu, melainkan tanggung jawab bersama dengan ayah.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْؤُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ فِي بَيْتِهِ وَمَسْؤُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ فِي بَيْتِ زَوْجِهَا وَمَسْؤُوْلَةٌ عَنْ رَعِيَّتِهَا

“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan ditanya tentang yang dipimpinnya. Suami adalah pemimpin dalam rumah tangganya dan dia akan ditanya tentang yang dipimpinnya. Istri adalah pemimpin dalam rumah suaminya dan dia akan ditanya tentang yang dipimpinnya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Dalam lembaran al-Qur’an yang mulia termaktub ayat Allah subhanahu wa ta’ala,

          يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ قُوٓاْ أَنفُسَكُمۡ وَأَهۡلِيكُمۡ نَارٗا وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلۡحِجَارَةُ

“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah diri-diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu….” (at-Tahrim: 6)

 

Tanggung jawab mendidik anak berada pada pundak ayah dan ibu. Hanya saja, bila melihat praktik kesehariannya, kita dapati waktu seorang ayah bersama anak-anaknya di rumah tidak sebanyak waktu yang dihabiskan seorang ibu bersama anak-anaknya. Sebab, ayah harus keluar rumah untuk bekerja guna menanggung biaya kehidupan istri dan anak-anaknya atau untuk tugas-tugas lain yang lazim dipikul oleh seorang lelaki.

Memang ada saatnya seorang ayah berada seharian di rumahnya karena hari libur kerja atau tidak ada aktivitas di luar rumah. Namun, biasanya lelaki ingin memanfaatkannya untuk beristirahat dari kelelahan di hari-hari kerja.

Oleh karena itulah, seorang ibu mengambil porsi yang lebih besar dalam hal tarbiyah anak-anaknya daripada ayah, tanpa menampik kenyataan bahwa mendidik anak adalah tanggung jawab bersama.

Satu pelajaran dapat kita petik dari hadits Jabir bin Abdilah radhiallahu ‘anhuma berikut ini. Beliau radhiallahu ‘anhuma memberitakan tentang keadaannya,

هَلَكَ أَبِي وَتَرَكَ سَبْعَ بَنَاتٍ أَوْ تِسْعَ بَنَاتٍ، : فَتَزَوَّجْتُ امْرَأَةً ثَيِّبًا. فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ تَزَوَّجْتَ يَا جَابِرُ؟ فَقُلْتُ: نَعَمْ. فَقَالَ: بِكْرًا أَمْ ثَيِّبًا؟ قُلْتُ: بَلْ ثَيِّبًا. قَالَ: فَهَلَّا جَارِيَةً تُلاَعِبُهَا وَتُلاَعِبُكَ وَتُضَاحِكُهَا وَتُضَاحِكُكَ. قَالَ: قُلْتُ لَهُ: إِنَّ عَبْدَ اللهِ هَلَكَ وَتَرَكَ بَنَاتٍ وَإِنِّي كَرِهْتُ أَنْ أُجِيْئَهُنَّ بِمِثْلِهِنَّ، فَتَزَوَّجْتُ امْرَأَةً تَقُوْمُ عَلَيْهِنَّ وَتُصْلِحُهُنَّ. فَقَالَ: بَارَكَ اللهُ لَكَ-أَوْ قَالَ: خَيْرًا

Ayahku meninggal dunia dan beliau meninggalkan tujuh atau sembilan putri. Aku pun menikahi seorang janda.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepadaku, “Apakah engkau sudah menikah, wahai Jabir?”

“Ya,” jawabku.

Beliau bertanya lagi, “Dengan gadis atau janda?”

Aku jawab, “Dengan janda.”

“Mengapa engkau tidak menikah dengan gadis saja sehingga engkau bisa mula’abah dengannya dan dia bisa mula’abah denganmu? Engkau bisa bercanda dengannya dan dia bisa bercanda denganmu?” tanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lagi.

Aku menerangkan kepada beliau, “Sungguh, ayahku, Abdullah, meninggal dunia dan meninggalkan banyak anak perempuan. Aku tidak suka mendatangkan di tengah-tengah mereka perempuan yang semisal mereka (masih muda/belum dewasa). Aku pun menikahi seorang perempuan (janda/sudah dewasa) yang bisa mengurusi mereka dan merawat mereka.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendoakan Jabir, “Semoga Allah memberkahimu.” Atau beliau berkata, “Bagus (apabila demikian).” (HR. al-Bukhari)

Hadits di atas menunjukkan bahwa seorang istri turut berperan mendampingi suaminya dalam mentarbiyah anak-anaknya, sekalipun anak-anak tersebut tidak terlahir dari rahimnya.

Al-Imam al-Bukhari rahimahullah memberi judul hadits di atas dalam kitab Shahihnya, bab ‘Aunul Mar’ah Zaujaha fi Waladihi, artinya Istri membantu suaminya dalam mengurus anak suami.

Seorang ibu tidak boleh asal-asalan atau sekenanya menjalankan peran yang penting ini. Karena itu, ibu harus membekali dirinya dengan pengetahuan yang memadai terkait dengan tugas mengasuh, merawat, dan mendidik anak.

Ada beberapa sisi yang perlu diperhatikan oleh seorang ibu agar tarbiyah bisa berjalan dengan baik, di antaranya adalah sisi kesehatan anak.

Mengapa demikian?

Anak yang sakit dan tumbuh dalam keadaan tidak sehat tentu tidak akan bisa menjadi pribadi yang sempurna yang bisa bermanfaat bagi umat. Karena itulah, seorang ibu harus memerhatikan bagaimana anaknya tumbuh dengan sehat. Seorang ibu perlu membekali dirinya dengan pengetahuan tentang hal ini.

Sisi lain yang perlu diperhatikan adalah memberikan tarbiyah akhlak kepada anak, menumbuhkannya di atas akhlak tersebut, dan menanamkan kebiasaan-kebiasaan yang baik kepadanya, serta menjauhkannya dari kebiasaan yang buruk. Diharapkan kelak dia tumbuh menjadi anak yang saleh sebagai penyejuk mata bagi kedua orang tuanya.

Tabiat Khusus Setiap Jenjang Usia

Seorang ibu harus memahami bahwa setiap jenjang usia dari kehidupan anak memiliki tabiat yang khusus dan cara khusus yang sesuai untuk mendidiknya. Ibu harus mengenali berbagai kekhususan anak agar bisa mendidiknya di atas manhaj tarbiyah yang lurus.

Di antara kekhususan tersebut:

  1. Qabiliyah, siap menerima.

Anak yang masih kecil ibarat lembaran putih yang belum tertulis apapun. Dia siap menerima arahan yang dimaukan oleh pendidiknya. Semisal ranting yang lunak, ia mengikuti tekukan ke arah mana pun yang diinginkan oleh orang membentuknya.

Oleh karena itu, seorang ibu harus bersiap mengisi lembaran putih tersebut dengan kebaikan.

 

  1. Madiyah fit Tafkir

Anak kecil belum bisa memahami dengan baik karena akalnya belum sempurna.

Oleh karena itu, seorang ibu tidak boleh merasa galau ketika anaknya tidak memahami beberapa hal. Sebab, anak menyerap apa yang ada di hadapannya dengan pikirannya yang belum sempurna.

Andai ibu mengatakan kepada anaknya, “Tiga ditambah tiga berapa?”

Bisa jadi, si anak tidak paham. Akan tetapi, apabila si ibu meletakkan tiga pena dan menambahkan tiga pena lagi, barulah si anak bisa menjawab, “Enam.”

Karena pikirannya belum sempurna, anak tidak dibebani syariat kecuali setelah baligh. Mendidik anak di atas sifat-sifat yang terpuji haruslah dikaitkan dengan amaliah (amal nyata) yang bisa disaksikannya.

Misalnya, ibu hendak mendidik anak agar memiliki sifat suka memberi. Dalam hal ini, ibu memberi contoh di hadapan anak dengan menyedekahkan uang, makanan, atau pakaian kepada fakir miskin.

 

  1. Al-Fardiyah wal Ananiyah, egois mau menang sendiri.

Ibu harus mengetahui bahwa sifat seperti ini ada pada anak-anak. Dengan demikian, ibu berusaha mengarahkannya dengan sabar hingga si anak akhirnya bisa menghormati orang lain.

 

  1. Anak punya kebutuhan-kebutuhan

Apabila kebutuhan ini tidak terpenuhi, pertumbuhannya akan terganggu atau akan muncul perangai yang buruk pada dirinya.

Di antara kebutuhan anak adalah:

  • Mendapatkan kasih sayang dari kedua orang tuanya
  • Memperoleh rasa aman, tidak ada kekhawatiran atau ketakutan yang terus menghantuinya.
  • Ingin dihargai dan diberikan kepercayaan. Apabila merasa tidak dihargai dan tidak diberikan kepercayaan, niscaya anak akan tumbuh menjadi pribadi yang kurang percaya diri.
  • Ingin memiliki teman. Dalam hal ini, ibu perlu mencarikan teman yang baik untuknya. Teman yang bisa mendukungnya menjadi pribadi yang baik agar tidak bertentangan dengan tarbiyah yang ditanamkan kepadanya.

Cara Mentarbiyah Anak

Ketahuilah, seluruh cara yang kita lakukan dan upayakan kembali kepada salah satu dari beberapa jalan berikut ini.

 

  1. Sekadar mendiktekan perintah dan larangan

Misalnya dengan mengatakan kepada anak, “Tidak boleh begini, tidak boleh begitu”, “Lakukan ini dan itu.”

Sangatlah disayangkan, cara seperti ini sering dilakukan oleh banyak orang tua, padahal pengaruhnya kurang terasa.

 

  1. Menyampaikan perintah dan larangan disertai cara lain, seperti memberikan nasihat, atau memberikan targhib (memberikan harapan kepada kebaikan) dan tarhib (menakut-nakuti dengan hukuman).

Cara seperti ini lebih berhasil daripada yang pertama.

 

  1. Mencontohkan dan memberikan teladan.

Seorang ibu harus memerhatikan dan memperbaiki adab dan akhlaknya agar bisa menjadi teladan yang baik bagi anak-anak yang dididiknya.

Dia tidak boleh memerintahkan sesuatu, sementara dia sendiri tidak mengerjakannya. Jangan pula dia melarang sesuatu, tetapi dia sendiri mengerjakannya.

Misalnya, ibu menyuruh anaknya membaca al-Qur’an, sementara dia sendiri tidak pernah terlihat membuka lembaran mushaf apalagi membacanya.

Ibu mengajari anaknya untuk bersifat jujur dan melarang berdusta, tetapi ibu sendiri berdusta di hadapan anak-anaknya.

Ada pula beberapa hal penting yang perlu diketahui terkait pendidikan anak, di antaranya:

  • Kapan diperkenankan untuk memukul anak?

Pukulan memang termasuk sarana pendidikan. Akan tetapi, seorang ibu yang baik tentu tidak asal memukul anaknya.

 

  • Menakut-nakuti anak dengan sesuatu dan pengaruhnya bagi kejiwaan anak.

Untuk mendiamkan atau menenangkan anak, orang tua biasa menakut-nakutinya dengan sesuatu. Dalam hal ini orang tua harus mempelajari, sejauh mana hal tersebut berpengaruh pada kejiwaan anak.

  • Menjauhkan anak dari pergaulan dengan anak-anak yang tidak terdidik dengan baik dan teman-teman buruk yang dapat menyeretnya jatuh dalam kejelekan.

 

  • Mengikuti perkembangan belajar anak, apa yang sudah dipelajarinya, sejauh mana pemahamannya terhadap ilmu yang telah disampaikan kepadanya.

  • Mendidik anak perempuan agar memiliki rasa malu.

Di antaranya dengan menyuruh dan membiasakannya memakai kerudung sejak kecil.

  • Tidak bolehnya menampakkan pertentangan antara ayah dan ibu saat memberikan arahan kepada anak.

Misalnya, ayah memerintah anak untuk berbuat sesuatu, sementara ibu melarangnya. Hal ini akan menimbulkan kebingungan pada anak, siapa yang harus diikuti.

  • Ucapan dan perbuatan tidak boleh bertentangan.

Jangan sampai ibu berkata kepada anaknya, ‘Nak, kamu jangan menunda-nunda shalat!’ sementara anak melihat ibunya kerap menunda-nunda shalat.

 

  • Senantiasa mendoakan kebaikan untuk anak dan menjaga lisan dari mendoakan keburukan untuk anak, apapun yang diperbuat anak yang membuat orang tuanya marah.

Hal-hal di atas perlu dipelajari lebih lanjut oleh seorang ibu yang ingin sukses mendidik anak-anaknya.

Apa yang kami tuangkan dalam ulasan di atas bukanlah dari pikiran kami sendiri, melainkan bimbingan seorang alim besar zaman ini, seorang murabbi (pendidik/pengajar) umat; Fadhilatusy Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah.

Beliau menyampaikan bimbingan di atas pada sebuah ceramah yang berjudul Daur al Mar’ah fi Tarbiyah al-Usrah (Peran Wanita dalam Mendidik Keluarga).

Semoga Allah subhanahu wa ta’ala membalas beliau dengan limpahan kebaikan.

Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

Ditulis oleh al-Ustadzah Ummu Ishaq al-Atsariyah