Menu Click to open Menus
Home » Asy Syariah Edisi 049 » Pengaruh Contoh yang Baik dan Contoh yang Buruk

Pengaruh Contoh yang Baik dan Contoh yang Buruk

(302 Views) November 19, 2011 10:43 am | Published by | No comment

(ditulis oleh: Al-Ustadz Saifudin Zuhri, Lc.)

 

الْحَمْدُ لِلهِ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالْهُدَى وَدِيْنِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهِ وَكَفَى بِاللهِ شَهِيْدًا، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ إِقْرَارًا بِهِ وَتَوْحِيْدًا، وََأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا مَزِيْدًا؛

أَمَّا بَعْدُ:

أيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا اللهَ وَآمِنُوْا بِرَسُوْلِهِ وَلاَ تَتَّبِعُوْا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيْلِهِ

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Alhamdulillah, segala puji kita panjatkan kepada Allah l yang telah mengutus utusan-Nya dengan membawa syariat-Nya. Sehingga menjadi jelas dan nampaklah kebenaran serta menjadi hina dan hilanglah kebatilan. Aku bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak untuk diibadahi dengan benar selain Allah l yang tidak ada satu pun tandingan bagi-Nya dan aku bersaksi bahwasanya Nabi Muhammad n adalah hamba dan utusan-Nya. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada pemimpin kita dan nabi kita Muhammad n, keluarga, para sahabatnya, dan seluruh kaum muslimin yang berjalan di atas sunnahnya.

 

Jamaah jum’ah yang semoga dirahmati Allah l,

Marilah kita senantiasa bertakwa kepada Allah l dengan bersungguh-sungguh dalam mengikuti ajaran yang dibawa oleh Rasul-Nya n dan menjauhi seluruh ajaran yang menyelisihi petunjuknya n. Karena ajaran dan petunjuk yang dibawa oleh beliau n adalah satu-satunya jalan yang akan mengantarkan kita kepada keridhaan Allah l dan menyelisihi petunjuknya n akan menyeret kita pada kemarahan dan kemurkaan Allah l.

 

Hadirin rahimakumullah,

Mencontoh dan meniru orang lain, terutama kepada orang-orang yang dianggap memiliki kelebihan di atas dirinya merupakan tabiat yang Allah l tetapkan pada manusia. Kenyataan ini akan menjadi suatu hal yang sangat berbahaya manakala yang dijadikan sebagai contoh dan dianggap memiliki kelebihan adalah orang-orang yang menyimpang dari petunjuk Rasulullah n. Karena orang yang mengikutinya pun akan ikut menyimpang dari jalan yang benar. Oleh karena itu, Allah l telah memerintahkan kepada hamba-hamba-Nya untuk memilih dan mengikuti orang-orang yang baik serta melarang hamba-hamba-Nya untuk mengikuti dan mencontoh orang-orang yang jelek serta rusak agamanya.

 

Saudara-saudaraku seiman yang semoga dirahmati Allah l,

Orang yang terbaik yang telah ditetapkan oleh Allah l sebagai contoh bagi kita semua adalah Rasulullah n. Allah l berfirman:

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagi kalian (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (Al-Ahzab: 21)

Al-Imam Ibnu Kastir t mengatakan, “Ayat ini merupakan dalil yang agung dalam menjelaskan tentang disyariatkannya mengikuti Rasulullah n dalam ucapan-ucapan beliau, perbuatan-perbuatan beliau, dan keadaan-keadaan lainnya pada beliau n.”

Maka wajib bagi kita semua untuk menerima dan membenarkan seluruh berita yang datang dari beliau n. Sebagaimana wajib juga bagi kita untuk menjalankan perintah-perintahnya dan menjauhi larangan-larangannya serta tidak beribadah kepada Allah l kecuali dengan syariat yang dibawanya n dan mencontoh beliau n dalam menjalankannya.

 

Hadirin rahimakumullah,

Adapun manusia yang terbaik berikutnya setelah Rasulullah n yang disyariatkan bagi kita semua untuk menjadikannya sebagai contoh yang baik adalah para sahabatnya yang mulia. Allah l berfirman:

“Dan para pendahulu yang pertama (yang mendahului dalam beriman) dari golongan Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya, mereka kekal di dalamnya, itulah kemenangan yang besar.” (At-Taubah: 100)

Di dalam ayat ini Allah l memberitakan kepada kita bahwasanya Allah l telah ridha kepada orang-orang yang pertama-tama masuk Islam dari kalangan Muhajirin dan Anshar, dan Allah l telah menyiapkan surga bagi mereka. Adapun orang-orang yang datang berikutnya, termasuk di dalamnya kita semua dan orang-orang yang datang setelah kita sampai hari kiamat nanti, maka tidak ada kepastian untuk mendapatkan ridha-Nya serta dimasukkan ke dalam surga-Nya kecuali dengan memenuhi syarat, yaitu mengikuti mereka (para sahabat) dengan baik. Maka jelaslah, bahwasanya Allah l telah menjadikan mereka para sahabat sebagai suri tauladan yang baik bagi kita. Oleh karena itu, kewajiban kita semua adalah mencintai mereka dan mengikuti pemahaman mereka dalam menjalankan agama yang mulia ini. Janganlah kita terjatuh pada ajaran yang diikuti oleh orang-orang Syiah atau Rafidhah dan kelompok sesat yang semisalnya. Karena justru di antara keyakinan atau ajaran kelompok sesat tersebut adalah mencela sebagian besar sahabat, bahkan mengafirkan mereka. Keyakinan ini jelas merupakan kesalahan yang besar dan menyelisihi prinsip-prinsip Ahlus Sunnah yang terkait dengan kewajiban yang harus ditunaikan kepada para sahabat. Prinsip Ahlus Sunnah dalam permasalahan ini di antaranya adalah selamatnya lisan dan hati mereka (Ahlus Sunnah) dari mencela para sahabat.

 

Hadirin rahimakumullah,

Disamping itu, dalam ayat tersebut kita juga memahami bahwa orang-orang yang mengikuti jalan para sahabat adalah orang-orang yang mulia. Sehingga kita juga disyariatkan untuk menjadikan para ulama yang hidup pada masa generasi terbaik setelah masa Rasulullah n dan para ulama yang datang berikutnya yang mengikuti jalan mereka, sebagai suri tauladan yang baik bagi kita semua. Adapun orang-orang yang mengajak kepada amalan ibadah yang tidak sesuai dengan ajaran Rasulullah n, maka mereka bukanlah suri tauladan yang baik. Meskipun mereka dianggap sebagai ulama, da’i, tokoh Islam, atau yang semisalnya. Bahkan kewajiban kita justru berhati-hati agar kita dan keluarga serta anak-anak kita tidak terpengaruh dari penyimpangan mereka dalam memahami agama ini. Karena mereka lebih berbahaya dari penyakit apapun yang mengenai tubuh seseorang. Yaitu penyakit mengikuti hawa nafsu dalam beragama, dengan melakukan amal ibadah yang tidak disyariatkan dan mengajak orang untuk mengikutinya.

 

Jama’ah jum’ah rahimakumullah,

Termasuk bentuk mencontoh yang bisa memengaruhi akidah, ibadah, dan akhlak seseorang adalah yang berkaitan dengan teman bergaulnya. Apabila teman bergaulnya baik agamanya, maka orang yang berteman dengannya pun akan terpengaruh dengan kebaikan orang tersebut. Namun sebaliknya, apabila teman bergaulnya rusak akidah, ibadah, dan akhlaknya, maka orang yang berteman dengannya akan mengikuti kerusakannya. Oleh karena itu kita harus berhati-hati dalam memilih teman bergaul untuk diri kita maupun teman bergaul anak-anak kita. Karena seseorang akan terpengaruh teman-teman dekatnya dan dia akan menyesal apabila teman-teman dekatnya adalah orang-orang yang tidak baik. Allah l berfirman:

“Dan (ingatlah) hari (ketika) orang yang telah berbuat zalim menggigit dua tangannya (karena menyesali perbuatannya), seraya berkata: “Ya seandainya aku dahulu mengikuti jalannya Rasulullah. Sungguh celakalah aku, seandainya aku dahulu tidak menjadikan si fulan itu teman dekatku. Sungguh dia telah menyesatkan aku dari mengikuti Al-Qur’an ketika Al-Qur’an itu telah datang kepadaku, maka setan itu tidak akan mau menolong manusia.” (Al-Furqan: 27-29)

Akhirnya, mudah-mudahan Allah l memudahkan kita untuk bisa mencontoh dan mengikuti Rasulullah serta menjadikan para sahabatnya dan para ulama yang mengikuti jejaknya sebagai suri tauladan bagi kita. Dan mudah-mudahan Allah l senantiasa menjaga kita dari mengikuti dan mencontoh orang-orang yang jelek dan rusak agamanya.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ مَا تَسْمَعُوْنَ وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ اْلغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

 

 

Khutbah Kedua

الْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ، أَمَرَنَا بِالْاِقْتِدَاءِ بِأَهْلِ الْخَيْرِ وَالرَّشَادِ وَنَهَانَا عَنِ الْاِقْتِدَاءِ بِأَهْلِ الشَّرِّ وَالْفَسَادِ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ شَهَادةً تَنْفَعُ قَائِلَهَا يَوْمَ الْمَعَادِ، وََأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَخِيْرَتُهُ مِنْ سَائِرِ العِبَادِ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنِ اهْتَدَى بِهُدَاه، أَمَّا بَعْدُ:

 

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Rasulullah n telah menyebutkan dalam sabdanya:

مَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلاَم سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُوْرِهِم شَيْءٌ وَمَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلاَمِ سُنَّةً سَيِّئَةً كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْءٌ

“Barangsiapa menjadi contoh yang baik dalam menjalankan syariat Islam (dengan menghidupkan Sunnah Nabi n), maka dia mendapat pahala dari perbuatan baiknya dan pahala dari orang yang mencontohnya setelahnya tanpa terkurangi sedikitpun dari pahala orang-orang yang mencontohnya tersebut. Dan barangsiapa membuat contoh yang jelek dalam menjalankan agama Islam (dengan melakukan amalan yang tidak disyariatkan) maka dia akan mendapatkan dosa dari perbuatannya dan menanggung dosa orang yang mencontohnya setelahnya tanpa terkurangi sedikitpun dari dosa orang-orang yang mencontohnya tersebut.” (HR. Muslim)

Hadits tersebut memberikan dorongan kepada seseorang untuk menjadi contoh yang baik  sekaligus memperingatkan kepada seseorang untuk tidak menjadi contoh yang jelek bagi orang lain.

 

Hadirin rahimakumullah,

Oleh karena itu, di antara perkara yang penting yang harus diperhatikan dalam masalah ini adalah agar para orangtua menjadi teladan yang baik bagi anak-anaknya. Allah l telah memberitakan betapa besar karunia dan keutamaan-Nya kepada hamba-hamba-Nya yang menjadi contoh yang baik bagi anak keturunannya di dalam firman-Nya:

“Dan orang-orang yang beriman dan yang keturunan mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami kumpulkan keturunan mereka dengan mereka di dalam surga dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka.” (Ath-Thur: 21)

Namun sebaliknya, apabila orangtua menjadi contoh yang tidak baik bagi anak keturunannya, maka sangat besar kemungkinannya, anak keturunannya pun akan mengikutinya dan menolak untuk menerima kebenaran. Hal ini sebagaimana dinyatakan dalam firman Allah l:

“Dan apabila dikatakan kepada mereka: ‘Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah.’ Mereka menjawab: ‘(Tidak), bahkan kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami.’ (Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?” (Al-Baqarah: 170)

Oleh karena itu sudah seharusnya bagi orang-orang yang menginginkan memiliki anak keturunan yang baik untuk memulai dengan memperbaiki dirinya sehingga bisa menjadi contoh yang baik bagi mereka. Karena bagaimana mungkin seseorang akan mendapatkan anak keturunannya menjadi orang-orang yang benar akidahnya, sementara orangtuanya adalah orang-orang yang masih percaya dengan para dukun dan meminta pertolongan dengan beribadah kepada jin serta perbuatan syirik lainnya?

Bagaimana pula seseorang mengharapkan anak keturunannya menjadi orang-orang yang baik agamanya, sementara orangtuanya adalah orang-orang yang tidak mau pergi ke masjid untuk shalat berjamaah? Bagaimana pula seseorang menginginkan para pemuda untuk menjadi orang-orang yang berakhlak mulia sementara mereka dididik dengan acara-acara sinetron dan tayangan-tayangan lainnya di depan televisi? Tentunya anak keturunan yang baik yang diinginkan oleh orangtua yang demikian keadaannya tidak akan datang kecuali anak-anak yang diberi rahmat oleh Allah l sehingga dia tidak terpengaruh oleh kejelekan orangtuanya. Maka, marilah kita semua bertakwa kepada Allah l dan berusaha untuk senantiasa memperbaiki diri sehingga menjadi contoh yang baik bagi anak keturunan kita.

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ، اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ، اللَّهُمَّ أَصْلِحْ أَحْوَالَ الْمُسْلِمِينَ فِي كُلِّ مَكاَنٍ، اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّهُ سَمِيْعٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ، سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ العِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ وَالْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Categorised in:

No comment for Pengaruh Contoh yang Baik dan Contoh yang Buruk

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>