Pengaruh Liberalisme dalam Akhlak

Liberalisme tidak tumbuh dengan bimbingan agama, tetapi tumbuh untuk menentang dan bebas dari keterikatan agama. Sudah tentu pemahaman ini berkembang menuju kebebasan berekspresi.

Termasuk pula dampak terhadap akhlak manusia, pemahaman liberal tidak mau terikat dengan ikatan-ikatan dalam berperilaku. Pemahaman ini tidak menilai baik-buruknya sebuah perilaku dengan standar umum, apalagi dengan standar agama.

Prinsip kebebasan akan membuatnya lepas dari semua ikatan tersebut. Individualisme akan menumbuhkan sikap egoisme dan menang sendiri, lebih mementingkan kepentingan sendiri, dan memunculkan sikap pelit. Dari individualisme pula akan muncul sikap kurang peduli terhadap kaum duafa di sekitarnya, membuahkan sistem kapitalis, hanya berpikir untuk keuntungan pribadi dengan segala cara seperti riba.

Itu semua karena ia merasa bebas dalam menggunakan cara apapun. Tak ayal akan bermunculan kezaliman, mengikuti hawa nafsu, sombong, dan berbagai akhlak buruk yang lain.

Lihat keterpurukan akidah (keyakinan) dan akhlak liberalis. Ulil Abshar membela kaum LGBT dengan mengatakan, “Lihat saja apakah ada azab untuk negeri2 yg menolerir LGBT? Mereka malah pada makmur semua.”

Di antara mereka ada yang mendukung perkawinan sejenis dan menulis buku berjudul Indahnya Kawin Sesama Jenis.

Ulil Abshar pun membela Syiah dalam cuitannya (27/6/2015), “Ciri Islam Nusantara: tidak memusuhi Syiah. Dan menganggap mereka bagian sah dari umat Islam. Beda dengan Islam Wahabi atau simpatisannya.”

Ulil Abshar juga membela Ahmadiyah melalui cuitannya (14/10/2014), “Jawaban saya atas tuduhan ngawur Dubes Malaysia itu: Saya bukan orang Ahmadiyah. Tetapi saya membela hak Ahmadiyah ada di Indonesia.”

Mereka juga merendahkan orang yang mengikuti sunnah dalam berpakaian muslimah. Melalui akun twitternya (3/8/2014), Ulil mengomentari sebuah foto seorang ibu dan putri muslimah bercadar beserta dua kantong plastik besar berwarna hitam berisi sampah, “Take care of your trashes. Cleanliness is part of faith. Wait, which one is the trash?

Artinya, “Urus sampahmu. Kebersihan sebagian dari iman. Tunggu, yang mana sampahnya?”

Kita berlindung kepada Allah dari segala kesesatan.

Ditulis oleh al-Ustadz Qomar Suaidi, Lc