asy-Syaikh Abdul Qadir bin Muhammad bin Abdur Rahman al-Junaid

Sebagian orang tua—semoga Allah meluruskan mereka—ketika melihat anak mereka bergaul dengan orang yang tampak baik dan istiqamah—apalagi melihat perubahan keadaan anaknya yang semula malas dan meremehkan urusan shalat, puasa, haji, umrah, sedekah, menghafal al-Qur’an, dan mengamalkan kebaikan—mereka pun lalai mengikuti dan memerhatikan anak mereka.

Orang tua tidak lagi menganggap penting untuk tahu:

  • buku apa yang dipelajari oleh anaknya, siapa guru yang mengajarinya buku tersebut,
  • kaset dan CD apa yang didengarnya,
  • apa yang dia dengar dan lihat kutipan suara melalui internet,
  • siapa dai dan penasihat yang dia dengarkan,
  • asupan apa yang didapat dari internet, dan situs mana yang diikuti oleh anak,
  • apa saja kicauan anak di Twitter, siapa saja yang menjadi followernya, dan siapa saja yang membalas kicauannya.

Anda dapat pula mengatakan seluruh hal di atas atau sebagiannya untuk anak perempuan.

Tidak diragukan lagi bahwa ini tindakan yang salah, menganggap enteng masalah, pembiaran, penyia-nyiaan, tidak menjaga dan merawat, serta lari dari tanggung jawab.

Hal ini akan menjadi jelas dengan mengetahui beberapa hal berikut, merenunginya secara mendalam, dengan melibatkan akal sehat dan rasa kasih sayang.

Ayah dan ibu—semoga Allah memberi keduanya keselamatan—adalah orang yang pertama kali terkena kewajiban dan keharusan mendidik anak lelaki dan perempuan, baik menurut syariat, akal, maupun kebiasaan masyarakat.

Tanggung jawab perhatian dan pendidikan orang tua ini tidak gugur, hilang, atau berkurang dengan adanya teman si anak atau murabbi (pendidik) yang istiqamah dan saleh.

Ketika mewajibkan seseorang menjaga keluarganya dari api neraka, Allah menujukan kewajiban tersebut kepada seorang mukmin terhadap dirinya sendiri dan keluarganya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ قُوٓاْ أَنفُسَكُمۡ وَأَهۡلِيكُمۡ نَارٗا وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلۡحِجَارَةُ عَلَيۡهَا مَلَٰٓئِكَةٌ غِلَاظٞ شِدَادٞ لَّا يَعۡصُونَ ٱللَّهَ مَآ أَمَرَهُمۡ وَيَفۡعَلُونَ مَا يُؤۡمَرُونَ ٦

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (at-Tahrim: 6)

Di samping itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga membebankan tanggung jawab terbesar dalam hal mendidik anak dan mewajibkannya kepada ayah dan ibu. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كُلُّكُمْ رَاعٍ فَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، فَالأَمِيرُ الَّذِي عَلَى النَّاسِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ، وَالمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتِ بَعْلِهَا وَوَلَدِهِ وَهِيَ مَسْئُولَةٌ عَنْهُمْ، وَالعَبْدُ رَاعٍ عَلَى مَالِ سَيِّدِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُ، أَلاَ فَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

“Setiap kalian adalah pemimpin dan akan ditanya tentang yang dipimpinnya. Pemerintah yang menguasai manusia adalah pemimpin dan akan ditanya tentang mereka. Seorang lelaki adalah pemimpin terhadap keluarganya dan akan ditanya tentang mereka. Seorang wanita adalah pemimpin terhadap rumah suaminya dan anak-anaknya, dan akan ditanya tentang mereka. Seorang budak adalah pemimpin terhadap harta tuannya dan akan ditanya tentangnya. Ingatlah, setiap kalian adalah pemimpin, dan masing-masing akan ditanya tentang yang dipimpinnya.” (HR. al-Bukhari no. 2554 dan Muslim no. 1829)

Orang yang dengan baik menjaga anak lelaki dan anak perempuannya, ketika mendapatkan pihak lain yang membantunya untuk memperbaiki anaknya, dia tetap bersungguh-sungguh, dan tidak lantas menyepelekan urusan anaknya. Dia justru akan tetap bersemangat, tidak bermalas-malasan. Dia akan mendukung dan saling membantu dengan pihak lain tersebut, tidak lantas diam. Dia akan terus mengikuti perkembangan anaknya, tidak lantas lalai.

Ketika anaknya berubah ke arah yang lebih utama dan lebih bagus, sesuai dengan naluri dan kasih sayang seorang ayah, dia ingin agar anaknya meraih kedudukan yang tertinggi, keadaan yang terbaik, dan orientasi yang paling selamat.

Dia tidak ingin dirinya bertindak berlebih-lebihan yang justru akan mengantarkan dirinya bertindak melampaui batas dan zalim terhadap keluarganya, sehingga dia mencelakakan mereka dan dirinya sendiri. Atau sebaliknya; bersikap meremehkan yang akan melemahkan dirinya (dalam hal mendidik anak) seiring dengan berlalunya waktu, sehingga anaknya kembali ke keadaan semula atau lebih jelek dari itu.

Beberapa orang yang penampilan lahiriahnya seperti orang yang baik dan istiqamah ternyata bukanlah orang saleh dan istiqamah pada urusan tertentu.

Bisa jadi, dia terlumuri kesyirikan tertentu, kebid’ahan, atau kesesatan dalam keadaan manusia tidak mengetahui dan menyadarinya. Bisa jadi pula, dia terpengaruh pemikiran yang bertentangan dengan Islam, seperti pengkafiran tanpa hak.

Hal-hal tersebut akan dia tularkan kepada anak Anda, dan disusupkan ke dalam rumah Anda. Kemudian saudara lelaki atau saudara perempuannya akan terpengaruh dengan pemikiran yang sama. Bisa jadi pula orang tersebut ternyata bersimpati terhadap kelompok yang menyimpang, yang lantas mengajak anak Anda bergabung dengannya dalam organisasi tersebut, atau bahkan dia sudah menjadi anggota, bahkan tokoh dan dai kelompok menyimpang tersebut.

  • Bukankah kita telah melihat ada anak-anak yang terpengaruh pemikiran takfir, pengikutnya, dan dainya?

Selanjutnya, mereka berbuat jahat terhadap diri mereka sendiri dan kaum muslimin (dengan aksi bom bunuh diri -red.), di masjid-masjid muslimin, tempat perdagangan muslimin,bangunan, kantor, dan tempat kerja kaum muslimin.

Mereka melakukan kejahatan terhadap para pegawai negara, pekerja, orang yang sedang melintas, para wanita, dan anak-anak. Mereka melakukan kejahatan pula terhadap orang kafir musta’man[1] dan mu’ahad[2], di negeri yang orang kafir itu masuk dengan perjanjian dan jaminan (pemerintah kaum muslimin).

Mereka menyangka bahwa apa yang mereka lakukan adalah jihad. Mereka saling memberi kabar gembira sesama mereka dengan surga, bersenang-senang dengan berbagai kenikmatannya dan bidadarinya.

Sungguh, demi Allah, kita telah melihat, mengetahui, dan mendengar hal seperti itu. Sejarah dan realita kita penuh oleh bukti-bukti hal tersebut.

  • Bukankah kita juga melihat beberapa orang yang penampilan lahiriahnya seperti orang saleh dan istiqamah ternyata biasa melakukan kesyirikan?

Kita melihat dan mendengar dia berdoa dan beristighatsah kepada para wali dan orang saleh. Dia meminta pertolongan dan dilepaskan dari kesulitan kepada mereka. Dia katakan, “Beri kami jalan keluar, wahai Rasulullah,”

“Lepaskanlah kami dari kesusahan, wahai (Abdul Qadir) al-Jailani,”

“Tolonglah kami, wahai Badawi.”

Sungguh, demi Allah, kita melihat, mengetahui dan mendengarnya. Sejarah dan realita kita penuh oleh bukti-bukti akan hal tersebut.

  • Bukankah kita melihat orang yang lahiriahnya saleh dan istiqamah ternyata tidak beriman terhadap ajaran yang ada dalam al-Qur’an dan Sunnah yang sahih, yang salafush shalih dari kalangan generasi terdahulu telah bersepakat atasnya, bahwa Allah k ber-istiwa’ di atas Arsy-Nya di atas langit; lantas ia berkata bahwa Allah subhanahu wa ta’ala ada di mana-mana atau ada di hati para hamba yang beriman?

Sungguh, demi Allah, kita melihat, mengetahui dan mendengarnya. Sejarah dan realita kita penuh oleh bukti-bukti akan hal tersebut.

  • Bukankah kita melihat orang yang lahiriahnya seperti orang saleh dan istiqamah, ternyata biasa melakukan bid’ah dan kesesatan, saat hari raya, kelahiran, pemakaman, di kuburan, dalam wirid, shalat, haji, dan selainnya?

Sungguh, demi Allah, kita melihat, mengetahui dan mendengarnya. Sejarah dan realita kita penuh oleh bukti-bukti akan hal tersebut.

  • Bukankah kita melihat ada orang yang sifat dan penampilannya seperti orang saleh dan istiqamah, ternyata bersimpati kepada partai, kelompok sempalan, organisasi, dan lembaga yang menisbatkan dirinya kepada agama dan Islam?

Padahal telah diketahui para pemimpin, pembesar, dai, dan tokohtokohnya, dikenal pula buku, pemikiran, jalan, metode, dan pengajaran mereka yang menyelisihi al-Qur’an dan Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, akidah, amalan, jalan, dan metode salafush shalih.

Sungguh, demi Allah, kita melihat, mengetahui dan mendengarnya. Sejarah dan realita kita penuh oleh bukti-bukti akan hal tersebut.

Apabila anak-anak lelaki dan perempuan ditimpa kejelekan yang bersumber dari berbagai jenis orang, organisasi, lembaga, pusat dakwah,  kelompok sempalan, partai, dan mazhab tersebut, lantas mereka:

  • melakukan hal yang dilarang,
  • menggabungkan diri kepada sesuatu yang tidak halal,
  • meyakini akidah yang menyelisihi kebenaran,
  • bersikap ghuluw dan keras,
  • memisahkan diri dari tauhid menuju kesyirikan,
  • memisahkan diri dari sunnah menuju bid’ah,
  • memisahkan diri dari persatuan menuju perpecahan dan kesendirian, dari keluarga menuju orang-orang yang serupa dan kolega;

yang pertama kali dan palingberhak dicela dan dikoreksi, dituduh bersikap meremehkan, menganggap enteng urusan, menggampangkan masalah, ditimpa rasa sempit dada, risau, duka, dan sedih, menderita, sakit, serta menyesal, ialah kedua orang tua. Sebab, keduanyalah yang diperintah untuk menjaga dan merawat mereka, bukan orang lain.

Semoga Allah merahmati seorang imam yang mengadakan perbaikan dan tulus memberi nasihat, yakni Ibnu Qayyim al-Jauziyah rahimahullah saat berkata dalam kitabnya, Tuhfatul Maudud bi Ahkamil Maulud (hlm. 337, dan 351—352) ,

“Barang siapa tidak mengajari anaknya, dia tidak akan mendapat manfaat dari anak tersebut. Siapa yang membiarkan anaknya (tidak diajari dan dididik), sungguh telah berbuat hal yang terburuk terhadap anaknya. Kerusakan mayoritas anak disebabkan oleh orang tua dan kelalaian mereka terhadap anak. Mereka tidak mengajari urusan agama yang wajib dan yang sunnah.”

“Mereka menyia-nyiakan anak semasa kecilnya. Anak pun tidak bermanfaat bagi diri sendiri dan tidak bermanfaat bagi orang tuanya ketika lanjut usia. Ketika sebagian mereka mencela anaknya karena durhaka, anaknya akan menjawab, ‘Wahai ayahku, engkau telah mendurhakaiku semasa aku kecil. Sekarang aku mendurhakaimu ketika engkau lanjut usia. Engkau menyia-nyiakanku sewaktu anak-anak, sekarang aku menyianyiakanmu saat engkau tua renta’.”

“Betapa banyak orang yang mencelakakan anaknya, belahan jiwanya, di dunia dan di akhirat, karena tidak memberi anak pendidikan adab. Ia justru membantu anak mewujudkan segala keinginan syahwatnya. “

“Dia menyangka bahwa dengan demikian berarti dia telah memuliakan si anak, padahal justru menghinakannya. Dia sangka bahwa dia telah memberi kasih sayang kepada anak, padahal justru menzaliminya. Akibatnya, dia pun tidak bisa mengambil manfaat dari keberadaan anak. Dia pun menyebabkan sang anak tidak mendapat bagian di dunia dan di akhirat.”

“Apabila engkau memerhatikan kerusakan yang terjadi pada anak-anak, engkau akan melihat bahwa mayoritas penyebabnya berasal dari orang tua.”

“Tidak ada sesuatu yang lebih merusak diri anak daripada kelalaian orang tua, pembiaran mereka, dan anggapan enteng mereka terhadap jahatnya api di antara pakaian.”

 

(diterjemahkan dari http://www.sahab.net/forums/index.php?showtopic=146943 dengan beberapa penyesuaian)


[1] Orang kafir yang meminta perlindungan kepada kaum muslimin.

[2] Orang kafir yang memiliki perjanjian keamanan dengan pihak muslimin.