Sunnatullah yang Tak Berubah

Hari demi hari, dakwah yang penuh berkah ini semakin bersinar. Bertambah banyak kaum muslimin yang mulai menyadari hakikat agama yang seharusnya mereka yakini dan mereka anut.

Demikian pula semakin banyak orang-orang yang masih sehat akal dan masih bersih fitrahnya di antara orang-orang yang kafir (musyrik dan ahli kitab) kembali kepada fitrahnya, yaitu Islam.

Melihat hal tersebut, semakin besar kebencian dan dendam musuh-musuh dakwah ini. Berbagai gelar buruk disematkan kepada dakwah ini dan semua yang terlibat di dalam menyebarkan dan membelanya. Tidak perlu heran, karena sejak awal Islam ini didakwahkan ke tengah-tengah manusia, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang membawanya pertama kali, tidak luput dari berbagai gelar yang buruk yang dilemparkan masyarakat yang telah mengenal beliau sejak kecil.

Bahkan, sejak awal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menerima wahyu, lalu beliau menemui istrinya, Khadijah, dalam keadaan khawatir sesuatu menimpa diri beliau, kemudian dibawa oleh Khadijah kepada Waraqah bin Naufal, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah mendengar keterangan Waraqah bahwa tidak ada seorang pun yang membawa ajaran seperti yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melainkan pasti disakiti; diusir atau dibunuh.

Sejak rasul pertama diutus oleh Allah subhanahu wa ta’ala ke tengah-tengah masyarakat manusia, yaitu Nuh ‘alaihissalam, orang-orang yang didatangi Sang Utusan yang mulia ini menuduhnya dengan ungkapan yang buruk. Nabi Nuh ‘alaihissalam dianggap ingin meraih keutamaan melebihi masyarakatnya, atau dikatakan gila dan dusta. Begitu pula para nabi dan rasul shalawatullahi wa salamuhu ‘alaihim sesudah beliau, sampai Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

فَإِن كَذَّبُوكَ فَقَدۡ كُذِّبَ رُسُلٞ مِّن قَبۡلِكَ جَآءُو بِٱلۡبَيِّنَٰتِ وَٱلزُّبُرِ وَٱلۡكِتَٰبِ ٱلۡمُنِيرِ ١٨٤

“Jika mereka mendustakan kamu, sesungguhnya rasul-rasul sebelum kamu pun telah didustakan (pula), mereka membawa mukjizat-mukjizat yang nyata, Zabur dan kitab yang memberi penjelasan yang sempurna.” (Ali ‘Imran: 184)

Allah subhanahu wa ta’ala juga berfirman,

مَّا يُقَالُ لَكَ إِلَّا مَا قَدۡ قِيلَ لِلرُّسُلِ مِن قَبۡلِكَۚ إِنَّ رَبَّكَ لَذُو مَغۡفِرَةٖ وَذُو عِقَابٍ أَلِيمٖ ٤٣

        “Tidaklah ada yang dikatakan (oleh orang-orang kafir) kepadamu itu selain apa yang sesungguhnya telah dikatakan kepada rasul-rasul sebelum kamu. Sesungguhnya Rabb kamu benar-benar mempunyai ampunan dan hukuman yang pedih.” (Fushshilat: 43)

Apa yang dikatakan oleh orang-orang yang kafir itu? Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

كَذَٰلِكَ مَآ أَتَى ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِهِم مِّن رَّسُولٍ إِلَّا قَالُواْ سَاحِرٌ أَوۡ مَجۡنُونٌ ٥٢

        Demikianlah, tidak seorang rasul pun yang datang kepada orang-orang yang sebelum mereka, melainkan mereka mengatakan, “Ia adalah seorang tukang sihir atau orang gila.” (adz-Dzariyat: 52)

Orang-orang kafir di kalangan Quraisy menuduh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam merusak persatuan dan hubungan keluarga. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dituduh meretakkan kerukunan masyarakat Hijaz, khususnya penduduk Makkah.

Tuduhan ini pun sudah dialamatkan kepada nabi-nabi yang terdahulu. Fir’aun menuduh Nabi Musa ‘alaihissalam datang membawa kerusakan, ingin mengubah tatanan hidup masyarakat yang—menurut kebodohan dan kesombongan Fir’aun—mulia.

Seperti itu kecaman bahkan ejekan serta tuduhan yang diterima Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika mendakwahkan agama yang lurus ini pertama kali. Seperti itu pula yang akan diterima oleh orang-orang yang telah mewakafkan dirinya untuk menyebarkan dakwah yang penuh berkah ini, sebagaimana yang dilakukan oleh Baginda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, kapan dan di mana saja.

Seolah-olah, generasi kafir dan orang-orang yang durhaka yang datang belakangan ini mewarisi ungkapan-ungkapan buruk ini dari orang-orang yang kafir dan durhaka sebelum mereka.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman dalam ayat berikutnya,

أَتَوَاصَوۡاْ بِهِۦۚ بَلۡ هُمۡ قَوۡمٞ طَاغُونَ ٥٣

        “Apakah mereka saling berpesan tentang apa yang dikatakan itu? Sebenarnya mereka adalah kaum yang melampaui batas.” (adz-Dzariyat: 53)

Tidak hanya melemparkan tuduhanburuk terhadap para pembawa dakwah yang penuh berkah ini, tetapi juga mengaburkan dan membuat manusia lari bahkan membenci dakwah ini sendiri. Berbagai ungkapan yang mengaburkan kebenaran dakwah ini disebarkan melalui tulisan dan lisan.

Dakwah ini dianggap sebagai ajaran sesat, mazhab baru yang tidak ada dasarnya dalam Islam. Atau, dikatakan bukan dakwah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahkan diidentikkan sebagai ajaran kekerasan yang mengajak manusia menumpahkan darah satu sama lain.

Subhanallahi, hadza buhtanun ‘azhim. (Mahasuci Allah, ini adalah kedustaan yang sangat besar).

Semua kecaman terhadap para dainya, ataupun terhadap dakwah yang diajarkan dan disebarkan ini, tidak lain karena kejahilan orang-orang yang menyuarakan tuduhan-tuduhan tersebut. Seperti kata al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah, “Siapa yang tidak tahu (jahil) tentang sesuatu, dia tentu memusuhinya.”

Kalau tidak demikian, apa yang mendorong mereka membenci dan menutup diri terhadap dakwah yang sumbernya ada juga di hadapan mereka, yaitu al-Qur’an dan as-Sunnah dengan pemahaman salaful ummah (para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik)?

Mereka begitu berang ketika banyak pemuda, bahkan sebagian tokoh mereka keluar dari barisan mereka, kembali kepada fitrahnya yang suci, jauh dari syubhat ilmu kalam dan filsafat serta bersih dari sikap taklid buta kepada tuan guru ataupun imamnya.

Mengapa mereka harus marah? Apakah karena mereka tidak tahu? Maka memang benarlah apa yang dikatakan al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah. Kalau tidak? Tentu, kalau bukan karena kejahilan, sudah pasti ada alasan lain yang mendorong mereka membenci dakwah yang penuh berkah ini. Wallahul musta’an.

Akan tetapi, sunnatullah yang tidak akan berubah di alam ini, kemenangan dan akhir yang baik (menyenangkan) adalah milik al-haq (kebenaran) beserta para pembelanya. Adapun yang batil, semua kesesatan—apa pun bentuknya—dan seluruh kejelekan, pasti lenyap, cepat atau lambat.

Demikianlah yang diterangkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala dalam Kitab-Nya yang mulia,

أَنزَلَ مِنَ ٱلسَّمَآءِ مَآءٗ فَسَالَتۡ أَوۡدِيَةُۢ بِقَدَرِهَا فَٱحۡتَمَلَ ٱلسَّيۡلُ زَبَدٗا رَّابِيٗاۖ وَمِمَّا يُوقِدُونَ عَلَيۡهِ فِي ٱلنَّارِ ٱبۡتِغَآءَ حِلۡيَةٍ أَوۡ مَتَٰعٖ زَبَدٞ مِّثۡلُهُۥۚ كَذَٰلِكَ يَضۡرِبُ ٱللَّهُ ٱلۡحَقَّ وَٱلۡبَٰطِلَۚ فَأَمَّا ٱلزَّبَدُ فَيَذۡهَبُ جُفَآءٗۖ وَأَمَّا مَا يَنفَعُ ٱلنَّاسَ فَيَمۡكُثُ فِي ٱلۡأَرۡضِۚ كَذَٰلِكَ يَضۡرِبُ ٱللَّهُ ٱلۡأَمۡثَالَ ١٧

        “Allah telah menurunkan air (hujan) dari langit, maka mengalirlah air di lembah-lembah menurut ukurannya. Arus itu membawa buih yang mengambang. Dan dari apa (logam) yang mereka lebur dalam api untuk membuat perhiasan atau alat-alat, ada (pula) buihnya seperti buih arus itu. Demikianlah Allah membuat perumpamaan (bagi) yang benar dan yang batil. Adapun buih itu, akan hilang sebagai sesuatu yang tak ada harganya; sedangkan yang memberi manfaat kepada manusia, maka ia tetap di bumi. Demikianlah Allah membuat perumpamaan-perumpamaan.” (ar-Ra’du: 17)

 

Makna al-Haq dan al-Bathil

Al-haq dalam bahasa Arab artinya adalah yang tetap dan tidak akan hilang atau tidak menyusut (semakin kecil).

Al-bathil secara bahasa artinya ialah fasada wa saqatha hukmuhu (rusak dan gugur/tidak berlaku hukumnya). Dalam al-Mufradat, ar-Raghib menerangkan makna al-bathil sebagai lawan dari al-haq, yaitu semua yang tidak ada kekuatannya ketika dicermati dan diteliti.

Secara istilah, para ulama berpedoman kepada maknanya secara bahasa. Jadi, mereka menyebut al-haq dalam setiap uraian mereka sebagai segala sesuatu yang tetap dan wajib menurut ketentuan syariat. Al-bathil ialah semua yang tidak sah, tidak pula ada akibat hukumnya, sebagaimana halnya pada yang haq, yaitu tetap dan sah menurut syariat.

Al-bathil adalah lawan dari al-haq, yaitu semua yang tidak ada kekuatannya, tidak diakui dan tidak disifati sebagai sesuatu yang sah, dan harus ditinggalkan serta tidak berhak untuk tetap ada. Semua itu sudah tentu dengan ketetapan syariat.

Dari uraian ini, al-haq meliputi semua yang Allah subhanahu wa ta’ala perintahkan, sedangkan yang batil adalah semua yang dilarang oleh Allah subhanahu wa ta’ala.

Pertarungan antara yang haq dan yang batil berikut para pengusung dan pembela masing-masing adalah sebuah kemestian hidup. Sebab, keduanya bertolak belakang, tidak mungkin berkumpul satu sama lain melainkan saling berusaha mengenyahkan yang lain. Berpegang kepada salah satunya, mesti akan meninggalkan yang lain, dan itu kepastian. Paling tidak, akan melemahkan yang ditinggalkan atau ditolak.

Seandainya terlihat ‘kerukunan’ antara yang haq dan yang batil tanpa ada perseteruan dan pertikaian di antara para pembela dan pengusungnya, boleh jadi karena ada sebab tertentu. Di antaranya ialah karena kelemahan para pengusung dan pembela masing-masing (al-haq dan al-bathil) ini, atau ketidaktahuan para pengikut masing-masing tentang hakikat dari kebenaran atau kebatilan yang mereka perjuangkan, berikut konsekuensinya, sehingga melemahkan pengaruh kebatilan dan kebenaran itu pada pihak yang membela dan mengusungnya.

Boleh jadi pula, yang dimaksud dengan al-haq ialah pengertiannya secara umum, yaitu semua bentuk ketaatan kepada Allah subhanahu wa ta’ala, sedangkan al-bathil adalah semua bentuk ketaatan kepada setan. Oleh karena itu, keduanya tidak mungkin bersatu selama-lamanya.

Wallahu a’lam.

 

Kebatilan Pasti Lenyap

Firman Allah subhanahu wa ta’ala di atas (dalam surat ar-Ra’du) dalam bentuk permisalan atau tamsil ini, dengan tegas menggambarkan bahwa kebenaran itu pasti kokoh, tetap eksis meskipun tertutupi oleh kebatilan. Dan kebatilan itu, betapapun banyaknya serta menarik perhatian manusia, pasti lenyap, cepat atau lambat.

Perumpamaan-perumpamaan di dalam al-Qur’anul Karim tidak akan dapat dipahami melainkan oleh orangorang yang berilmu. Karena itu, kami akan memaparkan sebagian keterangan ahli ilmu tentang perumpamaan-perumpamaan tersebut. Wallahul Muwaffiq.

Dalam ayat yang mulia ini (ar-Ra’du: 17) Allah subhanahu wa ta’ala memberikan perumpamaan tentang al-haq dengan dua hal terkait dengan kekekalan dan kekokohannya; juga tentang kebatilan, terkait dengan kefanaan dan keadaannya yang pasti semakin berkurang (menyusut) lalu lenyap.

Pernahkah kita memerhatikan air hujan saat turun dari langit? Ia membasahi bumi dan mengangkut semua sampah dan membawa buih-buih air di permukaannya. Buih-buih itu begitu banyak, menyelimuti permukaan air yang bening dan mengalir. Gelembung-gelembung udara dalam buih itu membuatnya terlihat besar, ikut bersama aliran dan genangan air.

Akan tetapi, pernahkah kita perhatikan bahwa buih-buih kecil yang tadinya menari-nari di atas permukaan air itu akhirnya pecah dan hilang? Ya, kita sering melihatnya, tetapi kita melewatkannya begitu saja tanpa mengambil pelajaran yang tersirat di dalamnya. Wallahul Musta’an.

Coba kita lihat pula para pengrajin emas, ketika mereka melebur biji-biji emas yang mereka dapatkan dari tambang emas, atau saat proses pendulangan. Lihatlah pada wadah yang menampung emas-emas cair yang mendidih itu. Ada buih yang sangat banyak, terapung di atas cairan emas murni di bawahnya.

Ke mana akhirnya buih-buih peleburan emas, atau logam-logam dan mineral lain yang diambil manusia dari pertambangan? Hilang dan terbuang menjadi sesuatu yang tidak bernilai.

Kita cermati lagi buih-buih atau gelembung air yang menari-nari di atas permukaan air atau logam-logam mulia yang sedang dilebur itu. Begitu ringan, menyelimuti permukaan air atau cairan emas dan logam mulia lainnya. Mereka begitu angkuhnya bermain-main di atas permukaan air itu, padahal gelembung buih itu kosong, hampa, dan tiada harganya.

Air dan cairan logam mulia yang diharapkan dan diperlukan manusia dalam tungku peleburan, tetap tenang. Dia percaya diri bahwa dia lebih berguna dan pasti dimanfaatkan manusia. Itulah sebagian dari kekuasaan Allah Yang Mahaperkasa. Dia menetapkan buih-buih itu mengambang, merasa besar dengan ukuran, bentuk, dan gelembung udaranya. Dia juga merasa lebih tinggi dari air yang ada di bawahnya.

Seperti itulah gambaran kebatilan, apa pun bentuknya. Bagaikan buih dan gelembung kecil yang terapung di atas aliran air, menjadi ujian bagi sebagian orang, mencuri hati dan perhatian mereka, lalu mereka pun tunduk dan merendahkan diri kepadanya, demi mengharapkan kemuliaan atau kesuksesan bersamanya dan menginginkan kedudukan yang tinggi. Atau laksana busa atau buih yang mengambang di atas sejumlah barang tambang, ketika dipanaskan untuk mengeluarkan emas dan logam mulia darinya. Buih-buih itu akan menyusut dan lenyap, hilang tiada bekas atau terbuang tanpa ada harganya.

Adapun kebenaran, itulah yang bermanfaat bagi manusia, dia seperti air yang tetap tinggal dan tergenang di tanah. Atau seperti cairan emas dan logam mulia lainnya yang sudah dibersihkan dari kotorannya.

Demikianlah Allah subhanahu wa ta’ala membuat perumpamaan. Demikianlah al-Qur’an menjadikan peristiwa alam sebagai dalil tentang hakikat syariat, agar orang-orang yang berakal memahaminya lalu selamat dan berbahagia. Juga, mereka yang binasa karena bukti yang jelas dan hiduplah mereka yang hidup karena bukti yang jelas pula.

Dari perumpamaan di atas, jelaslah bahwa betapapun banyaknya dan menariknya keadaan kebatilan, dia pasti lenyap. Itu semua adalah sunnatullah yang tidak mungkin berubah. Berbagai syubhat dan kerancuan berpikir, seindah apa pun menghiasi sebuah kebatilan, pasti akan tersingkap kepalsuannya.

Dalam banyak ayat-Nya, Allah subhanahu wa ta’ala berjanji bahwa Dia pasti menampakkan hakikat kebenaran (al-haq),

سَنُرِيهِمۡ ءَايَٰتِنَا فِي ٱلۡأٓفَاقِ وَفِيٓ أَنفُسِهِمۡ حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَهُمۡ أَنَّهُ ٱلۡحَقُّۗ أَوَ لَمۡ يَكۡفِ بِرَبِّكَ أَنَّهُۥ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ شَهِيدٌ ٥٣

        “Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa al-Qur’an itu adalah benar. Dan apakah Rabbmu tidak cukup (bagi kamu) bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu?” (Fushshilat: 53)

Dalam ayat yang lain, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَقُلۡ جَآءَ ٱلۡحَقُّ وَزَهَقَ ٱلۡبَٰطِلُۚ إِنَّ ٱلۡبَٰطِلَ كَانَ زَهُوقٗا ٨١

        Dan katakanlah, “Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap.” Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap. (al-Isra’: 81)

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

بَلۡ نَقۡذِفُ بِٱلۡحَقِّ عَلَى ٱلۡبَٰطِلِ فَيَدۡمَغُهُۥ فَإِذَا هُوَ زَاهِقٞۚ وَلَكُمُ ٱلۡوَيۡلُ مِمَّا تَصِفُونَ ١٨

        “Sebenarnya Kami melontarkan yang haq kepada yang batil lalu yang haq itu menghancurkannya, maka dengan serta-merta yang batil itu lenyap. Dan kecelakaanlah bagimu disebabkan kamu menyifati (Allah subhanahu wa ta’ala dengan sifat-sifat yang tidak layak bagi-Nya).” (al-Anbiya’: 18)

قُلۡ إِنَّ رَبِّي يَقۡذِفُ بِٱلۡحَقِّ عَلَّٰمُ ٱلۡغُيُوبِ ٤٨  قُلۡ جَآءَ ٱلۡحَقُّ وَمَا يُبۡدِئُ ٱلۡبَٰطِلُ وَمَا يُعِيدُ ٤٩

        Katakanlah, “Sesungguhnya Rabbku mewahyukan kebenaran. Dia Maha Mengetahui segala yang gaib.” Katakanlah, “Kebenaran telah datang dan yang batil itu tidak akan memulai dan tidak (pula) akan mengulangi.” (Saba’: 48—49)

Bahkan, semakin keras tekanan kebatilan dan usahanya menutup-nutupi cahaya kebenaran, sinar kebenaran itu pasti menyeruak dari sela-sela kebatilan itu. Allah subhanahu wa ta’ala tidak rela kecuali menampakkan cahaya kebenaran ini, walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai.

Lantas, apa yang membuat kaum muslimin minder dan rendah diri serta kecil hati melihat musuh-musuh Islam seolah-olah menguasai semua lini kehidupan, saat ini? Apakah karena sedikitnya jumlah orang-orang yang mengusung dan membela kebenaran? Ataukah karena kurangnya fasilitas dan sarana jika dia berpegang dengan kebenaran?

 

Beberapa Faedah dan Hikmah

  1. Pertarungan antara yang haq dan yang batil adalah sebuah sunnatullah yang tidak berubah. Kadang kebatilan yang menang, tetapi tetap saja pada akhirnya kebenaranlah yang berkuasa.

Oleh karena itu, bagaimanapun bangga dan bahagianya orang-orang yang memperjuangkan kesesatan, melihat banyaknya perlengkapan dan pengikut mereka, sesungguhnya itu hanya sementara. Seperti buih dan sampah yang hanya sementara berada di permukaan air ketika hujan turun, kemudian hilang dan tersingkir.

 

  1. Ayat yang mulia (ar-Ra’du: 17) ini boleh dikatakan sebagai hiburan bagi orang-orang yang beriman. Janji Allah subhanahu wa ta’ala adalah pasti, dan Dia tidak pernah menyelisihi janji.

 

  1. Kebenaran itu tidak diukur dari jumlah orang-orang yang membela dan memperjuangkannya, tetapi dari hakikat kebenaran itu sendiri; sesuai dengan pengertiannya secara bahasa, bahwa dia pasti eksis selamanya.

 

  1. Karena kejahilan kita, sering kita ditipu oleh pandangan mata kita sendiri. Kita hanya melihat buih-buih yang ada di atas air ketika hujan turun. Air yang ada di bawahnya tidak menjadi perhatian kita. Bahkan, kita tertarik melihat buih dan gelembung air yang menari-nari di atas permukaan air tersebut.

Wallahul Muwaffiq.

Ditulis oleh al-Ustadz Abu Muhammad Harits