Prinsip Agung Antiliberalisme

Berikut ini beberapa prinsip agung dalam agama ini. Kami sebutkan dengan ringkas guna membentengi muslimin dari pengaruh paham liberalisme.

 

  1. Kebenaran Berasal dari Allah ‘azza wa jalla

Salah satu prinsip yang sangat agung adalah bahwa kebenaran itu datang dari Allah ‘azza wa jalla . Allah ‘azza wa jalla berfirman,

ٱلۡحَقُّ مِن رَّبِّكَ فَلَا تَكُونَنَّ مِنَ ٱلۡمُمۡتَرِينَ ١٤٧

“Kebenaran itu adalah dari Rabbmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu.” (al-Baqarah: 147)

وَقُلِ ٱلۡحَقُّ مِن رَّبِّكُمۡۖ

Dan katakanlah, “Kebenaran itu datangnya dari Rabbmu.” (al-Kahfi: 29)

 

Ibnu Katsir rahimahullah menerangkan bahwa Allah ‘azza wa jalla berfirman kepada Rasul-Nya, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Dan katakan, wahai Muhammad, kepada manusia,‘Inilah yang aku bawa dari Rabb kalian, itulah yang benar yaitu yang tiada keraguan padanya…’.” ( Tafsir al-Qur’anil al-Azhim, 3/86)

Salah satu asmaul husna adalah al-Haq (Yang Mahabenar), maka ucapannya benar, perbuatan-Nya benar, perjumpaan dengan-Nya benar, para rasul-Nya benar, kitab-kitab-Nya benar, agama-Nyalah yang benar, ibadah kepada-Nya satu-satu-Nya tiada sekutu bagi-Nya itulah yang benar, dan segala sesuatu yang dinisbatkan kepada-Nya itu benar.” (Tafsir as-Sa’di hlm. 949 bagian “Ushul wa Kulliyat”)

Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Sesungguhnya, Allah Mahabenar, Kajian ucapan-Nya benar, agama-Nya benar, kebenaran adalah sifat-Nya, kebenaran dari-Nya dan untuk-Nya.” (Madarijus Salikin 2/333)

 

Jadi, dari Allah ‘azza wa jalla-lah kebenaran. Kebenaran bukan sesuatu yang nisbi atau relatif hingga setiap orang bisa mengklaimnya, seperti yang dikatakan oleh JIL dan para pengagumnya.

Kebenaran bukan pula diambil dari kitab ‘tidak suci’ atau ajaran-ajaran selain Islam yang Allah ‘azza wa jalla turunkan.

Bukan pula Islam sebagai “nilai generis” yang bisa ada di Kristen, Hindu, Konghucu, Yahudi, Taoisme, agama dan kepercayaan lokal, bahkan bisa ada dalam filsafat Marxisme, seperti kata Cak Nur dan orang sejenisnya, seperti Ulil Abshar Abdalla.

 

  1. Jalan Kebenaran Hanya Satu

Jalan kebenaran yang akan menyampaikan kepada Allah ‘azza wa jalla hakikatnya hanya satu. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

وَأَنَّ هَٰذَا صِرَٰطِي مُسۡتَقِيمٗا فَٱتَّبِعُوهُۖ وَلَا تَتَّبِعُواْ ٱلسُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمۡ عَن سَبِيلِهِۦۚ ذَٰلِكُمۡ وَصَّىٰكُم بِهِۦ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُونَ ١٥٣

        “Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia. Janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah ‘azza wa jalla kepadamu agar kamu bertakwa.” (al-An’am: 153)

 

Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Allah ‘azza wa jalla menyebutkan kata sabil (jalan-Nya) dengan bentuk tunggal karena kebenaran hanya satu. Oleh karena itu, Allah ‘azza wa jalla menyebut jalan lain dengan bentuk jamak (jalan-jalan) karena bercabang-cabang dan berpencar-pencar.”

 

Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu berkata,

خَطَّ رَسُولُ اللهِ خَطًّا بِيَدِهِ ثُمَّ قَالَ: هَذَا سَبِيلُ اللهِ مُسْتَقِيمًا. قَالَ: ثُمَّ خَطَّ خُطُوطًا عَنْ يَمِينِهِ وَشِمَالِهِ ثُمَّ قَالَ: هَذِهِ السُّبُلُ لَيْسَ مِنْهَا سَبِيلٌ إِلاَّ عَلَيْهِ شَيْطَانٌ يَدْعُو إِلَيْهِ؛ ثُمَّ قَرَأَ:

وَأَنَّ هَٰذَا صِرَٰطِي مُسۡتَقِيمٗا فَٱتَّبِعُوهُۖ وَلَا تَتَّبِعُواْ ٱلسُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمۡ عَن سَبِيلِهِۦۚ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menggariskan sebuah garis untuk kami lalu mengatakan, ‘Ini adalah jalan Allah ‘azza wa jalla.’

Beliau membuat garis-garis di kanan-kirinya kemudian berkata, ‘Ini adalah jalan-jalan (lain) yang disetiap jalan ada setan yang menyeru kepadanya.’ Lalu beliau membaca ayat, ‘Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain).’ (al-An’am: 153).” (Sahih, HR. Ahmad dan yang lain, dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh al-Albani dalam kitab Zhilalul Jannah no.16 & 17 hlm. 13)

 

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Sebab, jalan yang menyampaikan kepada Allah ‘azza wa jalla hanya satu,yaitu ajaran yang Allah ‘azza wa jalla utus dengannya para Rasul-Nya dan Allah ‘azza wa jalla turunkan dengan-Nya kitab-kitab-Nya. Maka dari itu, tidak ada seorang pun akan sampai kepada-Nya kecuali melalui jalan ini.

Seandainya semua manusia datang dari segala jalan dan minta dibukakan pada setiap pintu, semua jalan itu tertutup dan semua pintu itu terkunci kecuali jalan ini. Sesungguhnya jalan itu berhubungan dengan Allah ‘azza wa jalla dan akan menyampaikan kepada-Nya.”(at-Tafsirul Qayyim hlm. 14—15 dinukil dari Sittu Durar hlm. 53)

 

Allah ‘azza wa jalla juga berfirman,

فَذَٰلِكُمُ ٱللَّهُ رَبُّكُمُ ٱلۡحَقُّۖ فَمَاذَا بَعۡدَ ٱلۡحَقِّ إِلَّا ٱلضَّلَٰلُۖ فَأَنَّىٰ تُصۡرَفُونَ ٣٢

“Maka (Dzat yang demikian) itulah Allah Rabbmu Yang Benar. Tidak ada sesudah kebenaran itu kecuali kesesatan. Maka bagaimanakah kamu dipalingkan (dari kebenaran)?” (Yunus: 32)

 

Al-Qurthubi rahimahullah berkata, “Ulama kami berkata, ‘Ayat ini menghukumi bahwa antara kebenaran dan kebatilan tidak ada pilihan ketiga dalam masalah ini, yaitu masalah tauhid. Demikian pula dalam masalah-masalah yang serupa yaitu masalah prinsip yang kebenaran itu hanya ada pada satu pihak.” (al-Jami’ li Ahkamil Qur’an 8/336)

 

Dengan demikian, prinsip ini membabat habis teologi pluralis dan gagasan bahwa kebenaran itu nisbi, seperti yang dikatakan JIL dan para pengikutnya. Sebab, konsekuensi dari pendapat mereka, al-haq/kebenaran bukan hanya satu, dan bahwa perpecahan tidak salah atau tercela, bahkan benar dan terpuji. Ini artinya menggugurkan prinsip amar ma’ruf dan nahi mungkar.

Sungguh, pendapat ini menyelisihi kesepakatan orang-orang yang berakal waras/sehat, lebih-lebih orang yang berilmu. Selain itu, pendapat ini juga menyelisihi dalil.

 

  1. Agama Islam Telah Sempurna

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

        ٱلۡيَوۡمَ أَكۡمَلۡتُ لَكُمۡ دِينَكُمۡ وَأَتۡمَمۡتُ عَلَيۡكُمۡ نِعۡمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ ٱلۡإِسۡلَٰمَ دِينٗاۚ

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Kuridhai Islam itu jadi agama bagimu.” (al-Maidah: 3)

 

Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Ini adalah nikmat Allah ‘azza wa jalla yang terbesar terhadap umat ini yang Allah ‘azza wa jalla menyempurnakan agama mereka. Dengan demikian, mereka tidak membutuhkan agama dan nabi selain Nabi mereka shallallahu ‘alaihi wa sallam. Oleh karena itu, Allah ‘azza wa jalla menjadikan beliau sebagai penutup para nabi. Allah ‘azza wa jalla mengutusnya kepada jin dan manusia.

Maka dari itu, tidak ada yang halal kecuali yang Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam halalkan, tidak ada yang haram kecuali yang Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam haramkan, tidak ada agama kecuali yang Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam syariatkan; segala sesuatu yang beliau kabarkan adalah benar dan jujur, tiada mengandung kedustaan dan penyelewengan….”

Ibnu Katsir lalu menyebutkan riwayat dari Ali bin Abu Thalhah dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma bahwa beliau menafsiri ayat ini, katanya, “Yaitu Islam. Allah ‘azza wa jalla mengabarkan kepada Nabi-Nya dan kaum mukminin bahwa Dia ‘azza wa jalla telah melengkapi Islam untuk mereka sehingga mereka tidak butuh tambahan selama-lamanya.

Allah ‘azza wa jalla juga telah menyempurnakannya maka Dia ‘azza wa jalla tidak akan menguranginya selama-lamanya. Allah ‘azza wa jalla juga telah meridhainya sehingga tidak akan marah kepadanya selama-lamanya.” (Tafsir al-Qur’anul ‘Azhim 2/14)

 

Jadi, agama Islam ini telah sempurna, tidak membutuhkan tambahan, pengurangan, atau perubahan dari siapapun. Barang siapa menganggapnya perlu ditambah, berarti ia menganggapnya belum sempurna. Barang siapa menganggapnya perlu dikurangi, itu adalah upaya meruntuhkan kesempurnaan Islam. Barang siapa ingin mengubahnya, itu adalah bentuk ketidakpercayaan terhadap Islam.

Betapa berbahaya upaya orang-orang JIL dan ahli bid’ah seluruhnya ketika mengurangi sekian banyak hukum Islam. Di sisi lain, mereka menambah dengan yang baru dan mengubah-ubah hukum Islam. Allah ‘azza wa jalla sajalah tempat mengadu.

 

  1. Halal Adalah Apa yang Dihalalkan Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya; Haram Adalah yang Diharamkan Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

          وَلَا تَقُولُواْ لِمَا تَصِفُ أَلۡسِنَتُكُمُ ٱلۡكَذِبَ هَٰذَا حَلَٰلٞ وَهَٰذَا حَرَامٞ لِّتَفۡتَرُواْ عَلَى ٱللَّهِ ٱلۡكَذِبَۚ إِنَّ ٱلَّذِينَ يَفۡتَرُونَ عَلَى ٱللَّهِ ٱلۡكَذِبَ لَا يُفۡلِحُونَ ١١٦

        Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta, “Ini halal dan ini haram,” untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah ‘azza wa jalla. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah ‘azza wa jalla tiadalah beruntung. (an-Nahl: 116)

 

Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Allah ‘azza wa jalla melarang untuk mengikuti jejak orang musyrikin yang menghalalkan dan mengharamkan sekadar dengan keputusan mereka berdasarkan rasio mereka…

Termasuk dalam ayat ini adalah setiap orang yang membuat bid’ah yang tidak ada sandaran syariatnya, atau menghalalkan sesuatu yang Allah ‘azza wa jalla haramkan dan mengharamkan sesuatu yang Allah ‘azza wa jalla halalkan sekadar dengan pendapat akal dan hawa nafsunya.” (Tafsir al-Qur’an al-Azhim: 2/611)

 

Penentuan hukum halal dan haram sedemikian berat. Berdasarkan hal itu, kita mengetahui betapa jauhnya kesesatan siapa pun yang berani menghukumi ini dan itu halal atau haram tanpa ilmu, seperti orang-orang JIL. Di antara mereka ada yang menghalalkan nikah dan waris beda agama, menganggap vodka bisa jadi halal di Rusia, menggagas untuk mengubah aturan haji, dan berbagai kelancangan lainnya.

Mereka yang mengharamkan apa yang Allah ‘azza wa jalla halalkan dan sebaliknya, dalam keadaan tahu bahwa dengan begitu ia menyelisihi hukum Allah ‘azza wa jalla, berarti telah menempatkan dirinya pada posisi Rabb yang memiliki hak membuat syariat. Tentu saja, ini adalah kesyirikan.

 

  1. Seluruh Syariat Allah ‘azza wa jalla Mengandung Keadilan, Maslahat, dan Hikmah

Sebab, Allah Mahahakim. Salah satu asmaul husna adalah الْحَكِيمُ al- Hakim. Artinya, Dzat Yang memiliki hikmah yang tinggi dalam penciptaan-Nya dan perintah-perintah-Nya, Yang memperbagus seluruh makhluk-Nya,

أَفَحُكۡمَ ٱلۡجَٰهِلِيَّةِ يَبۡغُونَۚ وَمَنۡ أَحۡسَنُ مِنَ ٱللَّهِ حُكۡمٗا لِّقَوۡمٖ يُوقِنُونَ ٥٠

“Dan siapakah yang lebih baik hukumnya daripada Allah ‘azza wa jalla bagi kaum yang yakin?” (al-Maidah: 50)

 

Allah ‘azza wa jalla tidak menciptakan sesuatu yang sia-sia. Dia ‘azza wa jalla juga tidak akan mensyariatkan sesuatu yang tiada manfaatnya.

Di antara hikmah syariat Islam— di samping sebagai maslahat terbesar bagi hati, akhlak, amal, serta istiqamah dalam jalan yang lurus—adalah juga maslahat terbesar bagi (urusan) dunia. Urusan dunia tidak akan menjadi baik secara hakiki kecuali dengan agama yang haq, yang dibawa oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Ini bisa dirasakan dan disaksikan oleh setiap orang yang berakal. Sesungguhnya, ketika umat Muhammad menegakkan agama ini, pokok dan cabangnya, seluruh petunjuk dan bimbingannya, keadaan mereka akan sangat baik dan mapan.

Namun, ketika mereka melenceng darinya, sering meninggalkan petunjuknya, dan tidak mengikuti bimbingannya yang luhur, urusan dunia mereka kacau sebagaimana kacaunya agama mereka.”(diringkas dari penjelasan ahli tafsir, asy-Syaikh as-Sa’di)

 

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

          وَتَمَّتۡ كَلِمَتُ رَبِّكَ صِدۡقٗا وَعَدۡلٗاۚ لَّا مُبَدِّلَ لِكَلِمَٰتِهِۦۚ وَهُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلۡعَلِيمُ ١١٥

“Telah sempurnalah kalimat Rabbmu (al-Qur’an), sebagai kalimat yang benar dan adil. Tidak ada yang dapat mengubah-ubah kalimat-kalimat-Nya, dan Dia-lah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (al-An’am: 115)

 

Qatadah rahimahullah berkata, “(Yakni) benar dan jujur pada apa yang Dia katakan, adil pada hukum-Nya. Dia katakan dengan jujur dan benar pada berita-berita-Nya, adil dalam tuntutan/perintah-Nya.

Jadi, semua berita-Nya pasti benar, tiada keraguan padanya. Setiap perintah-Nya pasti adil, tiada keadilan selainnya. Setiap larangan-Nya pasti batil karena tidaklah Ia melarang kecuali karena mafsadatnya.” (Tafsir Ibnu Katsir 2/173, lihat pula Tafsir as-Sa’di hlm. 270 dan Zubdatut Tafsir hlm. 181)

 

Barang siapa mengubah sebagian syariat Allah ‘azza wa jalla, seperti yang dilakukan oleh JIL, dengan alasan apapun—walaupun alasan maslahat—sungguh, sebenarnya ia sedang mengarah dan mengarahkan manusia kepada kerusakan dan bahaya.

Sungguh, si pelaku sebenarnya tidak tahu alias jahil terhadap hikmah Allah ‘azza wa jalla dalam syariat-Nya. Akan tetapi, dirinya merasa lebih mengerti daripada Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya. Bagaikan katak dalam tempurung.

Tidak benar pula bila dikatakan bahwa sebagian syariat Islam perlu dikaji ulang atau direvisi, bahkan diamandemen, dengan alasan tidak lagi relevan dengan abad ini atau dengan perkembangan zaman.

Ditulis oleh al-Ustadz Qomar Suaidi, Lc