Problema Anda edisi 45

Hukum Ta’ziyah (Melayat) kepada Kerabat yang Kafir

 

Pertanyaan:

Bolehkah seorang muslim berta’ziyah (melayat jenazah) orang kafir, bila jenazah itu adalah bapak atau ibunya, atau salah satu kerabatnya? Bila tidak berta’ziyah dan mengunjungi mereka, dia khawatir akan mendapatkan gangguan dari mereka, atau menjadi sebab menjauhnya mereka dari Islam.

Jawab:

Bila tujuan ta’ziyah tersebut adalah agar mereka tertarik kepada Islam, maka ini diperbolehkan. Ini termasuk maqashid syari’ah (tujuan syariat). Demikian pula bila dengan berta’ziyah itu dapat menghindarkan dirinya atau kaum muslimin dari gangguan mereka. Karena maslahat umum yang Islami menggugurkan sebagian mudarat yang ada pada perkara tersebut.

Wabillahit taufiq, washallalahu ‘ala nabiyyina Muhammad, wa alihi wa shahbihi wa sallam.

Al-Lajnah Ad-Da`imah lil Buhuts Al-’Ilmiyyah wal Ifta`

Ketua : Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz

Wakil : Abdurrazzaq Afifi

Anggota: Abdullah bin Ghudayyan, Abdullah bin Qu’ud

(Fatawa Al-Lajnah, 9/132, Pertanyaan kelima dari fatwa no. 1988)

 

 

Syarat-syarat Taubat

 

Pertanyaan:

Bila seorang muslim ingin terlepas dari dosa yang pernah dia lakukan, apa saja syarat yang wajib ditempuh terkait dengan orang yang bertaubat dari dosanya? Apa pula nasihat Anda bagi orang yang melakukan perbuatan maksiat, agar dia mau bertaubat sebelum ajal menjemputnya, sehingga dia akan rugi dan menyesal?

 

Jawab:

Pertama, dia bertaubat dengan taubat yang jujur dan murni, dan menyesali dosa yang telah dia lakukan, lalu bertekad untuk tidak mengulanginya lagi, dan mengembalikan kezaliman (yang pernah dia ambil) kepada yang berhak. Yang terakhir ini terkait dengan hal-hal yang bisa dikembalikan, seperti harta. Kemudian dia meminta kerelaan dan maaf dalam hal-hal yang tidak bisa dikembalikan, sembari mendoakan kebaikan bagi yang dia zalimi dan memuji mereka atas kebaikan mereka yang dia ketahui.

Kedua, kami menasihati dia untuk membaca Al-Qur’an dan hadits-hadits tentang targhib wa tarhib (anjuran untuk melakukan kebaikan dan ancaman dari melakukan keburukan). Juga agar dia mengingat akhirat beserta kengeriannya. Juga agar dia bergaul dengan orang-orang yang baik sekaligus menjauhi orang-orang yang jelek. Semoga dia bisa bertaubat dari dosa-dosanya, memohon ampun kepada Rabbnya, dan mencerca dirinya sendiri atas maksiat yang dia lakukan.

Wabillahit taufiq, washallalahu ‘ala nabiyyina Muhammad, wa alihi wa shahbihi wa sallam.

Al-Lajnah Ad-Da`imah lil Buhuts Al-’Ilmiyyah wal Ifta`

Ketua : Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz

Wakil : Abdurrazzaq Afifi

Anggota: Abdullah bin Ghudayyan, Abdullah bin Qu’ud

(Fatawa Al-Lajnah, 24/297-298, Pertanyaan keenam dari fatwa no. 3866)

 

 

Memberi Makan kepada Orang Kafir

yang Membutuhkan

 

Pertanyaan:

Bila seorang muslim sedang dalam perjalanan, dan menjumpai seorang kafir dalam keadaan yang sangat mengenaskan karena kelaparan dan kehausan, bolehkah menyelamatkannya? Apakah dia akan mendapatkan pahala karenanya?

 

Jawab:

Ya. Dia boleh menolongnya, bahkan itu yang seharusnya dia lakukan. Dan dia bisa mengharapkan pahala dari Allah l atas perbuatannya itu, berdasarkan kemuman sabda Nabi n:

فِي كُلِّ كَابِدٍ رَطَبَةٍ أَجْرًا

“Pada setiap hati yang basah ada pahala.” (Muttafaqun alaih)

Juga karena dalam setiap perbuatan baik yang seperti ini seringkali membuahkan dampak yang baik. Mungkin orang kafir tersebut akan mendapat hidayah dengan sebab perbuatan itu, karena dia mengetahui bahwa dien ini memerintahkan berbuat baik secara umum.

Wabillahit taufiq, washallalahu ‘ala nabiyyina Muhammad, wa alihi wa shahbihi wa sallam.

Al-Lajnah Ad-Da`imah lil Buhuts Al-’Ilmiyyah wal Ifta`

Ketua : Muhammad bin Ibrahim Alusy-Syaikh

Wakil : Abdurrazzaq Afifi

Anggota : Abdullah bin Mani’

(Fatawa Al-Lajnah, 25/380, Pertanyaan keenam dari fatwa no. 264)

Mengucapkan Salam sambil Mengangkat Tangan

 

Pertanyaan:

Allah l telah memudahkan sarana transportasi, di antaranya mobil. Sering terjadi, ketika saya di mobil, saya berpapasan dan melewati orang-orang. Saya pun memulai mengucapkan salam. Namun sebagian orang tidak membenarkan saya memberikan salam kepadanya kecuali dengan mengangkat tangan sambil mengucapkan (salam). Apakah saya berdosa bila mengangkat tangan, karena saya mengetahui adanya larangan dalam hal ini?

Jawab:

Tidak mengapa Anda memberikan isyarat dengan mengangkat tangan ketika mengucapkan salam dalam keadaan seperti yang Anda sebutkan. Telah diriwayatkan dari Nabi n bahwa beliau mengucapkan salam kepada para wanita sembari memberi isyarat dengan tangan beliau kepada mereka. Tujuannya, wallahu a’lam, untuk memberikan pemahaman kepada mereka bahwa beliau n mengucapkan salam kepada mereka1. Hanya saja, tidak boleh menggunakan isyarat saja sebagai pengganti salam.

Wabillahit taufiq, washallalahu ‘ala nabiyyina Muhammad, wa alihi wa shahbihi wa sallam.

Al-Lajnah Ad-Da’imah lil Buhuts Al-’Ilmiyyah wal Ifta`

Ketua : Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz

Wakil : Abdurrazzaq Afifi

Anggota: Abdullah bin Ghudayyan, Abdullah bin Qu’ud

(Fatawa Al-Lajnah, 24/123-124, Pertanyaan kelima dari fatwa no. 3932)

 

 

Mengucapkan Salam kepada Ahli Kitab

 

 

Pertanyaan:

Hadits “Janganlah kalian memulai mengucapkan salam kepada Yahudi dan Nasrani, dan desaklah mereka ke bagian jalan yang paling sempit”, bagaimana penjelasannya? Bagaimana seorang muslim mengumpulkan hadits ini dengan perlakuan baik Rasulullah n kepada orang kafir, berupa menengok orang yang sakit di antara mereka, menerima hadiah dari mereka, juga memberikan gamis beliau kepada Abdullah bin Abdullah bin Ubai bin Salul, agar dia mengafani bapaknya dengan gamis itu?

Jawab:

Teks hadits sebagaimana dalam Shahih Muslim adalah sebagai berikut:

لاَ تَبْدَأُوا الْيَهُودَ وَلاَ النَّصَارَى بِالسَّلاَمِ، فَإِذَا لَقِيْتُمْ أَحَدَهُمْ فِي طِرِيْقٍ فَاضْطَرُّوهُمْ عَلَى أَضْيَقِهِ

“Janganlah kalian memulai mengucapkan salam kepada Yahudi dan Nasrani. Dan bila kalian bertemu dengan salah seorang mereka di jalan, desaklah mereka ke bagian yang paling sempit.”

Dalam sebuah riwayat Al-Imam Muslim:

إِذَا لَقِيْتُمُ الْيَهُودَ

“Bila kalian bertemu dengan seorang Yahudi…”

Dalam riwayat yang lain:

إِذَا لَقِيتُمْ أَهْلَ الْكِتَابِ

“Bila kalian bertemu dengan ahli kitab…”

Dalam riwayat yang lain lagi:

إِذَا لَقِيتُمُوهُمْ

“Bila kalian bertemu mereka…”

Dan tidak disebutkan tentang orang musyrik sedikitpun.

Makna hadits di atas adalah, tidak boleh memulai mengucapkan salam kepada orang kafir, karena larangan di sini berkonsekuensi pengharaman hal itu. Nabi n telah melarang memulai mengucapkan salam kepada mereka, berdasarkan sabda beliau n:

لاَ تَبْدَأُوا الْيَهُودَ وَلاَ النَّصَارَى بِالسَّلاَمِ

“Janganlah kalian memulai mengucapkan salam kepada Yahudi dan Nasrani.”

Adapun bila mereka mengucapkan salam terlebih dahulu maka dijawab salam mereka dengan ucapan:

وَعَلَيْكُمْ

“Dan atas kalian juga.”

dengan dalil hadits yang diriwayatkan Al-Imam Muslim dalam Shahih-nya:

إِذَا سَلَّمَ عَلَيْكُمْ أَهْلُ الْكِتَابِ فَقُولُوا: وَعَلَيْكُمْ

“Bila ahli kitab mengucapkan salam kepada kalian, katakanlah: ‘Wa’alaikum’.”

An-Nawawi t telah menjelaskan sabda beliau n:

فَإِذَا لَقِيْتُمْ أَحَدَهُمْ فِي طِرِيْقٍ فَاضْطَرُّوهُمْ عَلَى أَضْيَقِهِ

“Dan bila kalian bertemu dengan salah seorang mereka di jalan, desaklah mereka ke bagian yang paling sempit.”

Beliau berkata: “Pengikut mazhab kami (ulama mazhab Syafi’iyah) mengatakan: ‘Bagian jalan yang lapang tidak disisakan untuk seorang kafir dzimmi. Bahkan dia didesak ke bagian yang paling sempit, bila kaum muslimin sedang melewati jalan itu. Bila jalan itu tidak ramai, maka tidak mengapa.’ Mereka juga mengatakan: ‘Hendaknya desakan itu tidak membuatnya jatuh ke jurang, atau membuatnya menabrak tembok, dan semacamnya’.”

Tidak ada pertentangan antara hadits ini dengan muamalah beliau n yang baik terhadap orang-orang kafir, berupa menengok orang yang sakit di antara mereka, menerima hadiah-hadiah dari mereka, juga memberikan gamis beliau untuk mengafani Abdullah bin Ubai bin Salul (seorang munafik, ed.). Karena muamalah yang baik ini bertujuan melunakkan hati mereka, mengajak dan mendorong mereka kepada Islam.

Garis besarnya, hal-hal yang termasuk dalam bab berbuat baik dan membalas perbuatan baik dengan perbuatan baik pula, kita lakukan terhadap mereka, untuk melunakkan hati mereka. Hendaklah tangan kaum muslimin berada di atas.

Adapun hal-hal yang termasuk dalam bab menampakkan pemuliaan, pengagungan, peninggian derajat, maka kita tidak bermuamalah dengan mereka dalam hal-hal tersebut. Seperti memulai mengucapkan salam untuk menghormati mereka, memberikan bagian jalan yang lapang kepada mereka untuk memuliakan mereka. Mereka tidak berhak menerimanya disebabkan kekafiran mereka. Bilamana dikhawatirkan timbul kesamaran dalam pembicaraan, maka jawablah dengan ucapan yang global, tanpa kekakuan dan kekejian. Seperti, menjawab salam mereka dengan kalimat ‘Wa alaikum’.

Dengan ini, terkumpullah (pengamalan) dua hadits tersebut.

Wabillahit taufiq, washallalahu ‘ala nabiyyina Muhammad, wa alihi wa shahbihi wa sallam.

Al-Lajnah Ad-Da`imah lil Buhuts Al-’Ilmiyyah wal Ifta’

Ketua: Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz

Wakil: Abdurrazzaq Afifi

Anggota: Abdullah bin Ghudayyan, Abdullah bin Qu’ud

(Fatawa Al-Lajnah, 24/137-138, Pertanyaan keenam dari fatwa no. 5313)

 

Perkara-perkara yang tidak termasuk Ghibah

 

Pertanyaan:

Pada keadaan seperti apa diperbolehkan menyebutkan kejelekan saudara sesama muslim tidak di hadapannya, namun tidak termasuk ghibah?

 

Jawab:

Ghibah adalah seorang muslim menyebutkan tentang sesuatu yang tidak disukai saudaranya, berupa cela, aib, dan semacamnya. Namun ada beberapa keadaan yang disebutkan oleh ulama di mana seorang muslim dibolehkan membicarakan kejelekan saudaranya, berdasarkan maslahat.

Di antaranya adalah ketika meminta keadilan dari suatu kezaliman. Dia berkata kepada qadhi atau hakim misalnya: “Fulan menzalimi aku dengan berbuat demikian.”

Di antaranya juga adalah ketika meminta fatwa. Seorang yang meminta fatwa berkata kepada mufti: “Fulan berbuat demikian terhadapku. Apakah dia berhak berbuat seperti itu atau tidak?”

Di antaranya pula adalah memperingatkan kaum muslimin dari orang-orang yang jelek dan diragukan. Seperti men-jarh (mencacat) para perawi hadits ataupun saksi-saksi yang pantas di-jarh.

Di antaranya adalah meminta pertimbangan ketika hendak melakukan pernikahan, berkongsi (dagang) atau bertetangga dengan seseorang.

Di antaranya adalah menyebutkan perbuatan fasik yang dilakukan seseorang dengan terang-terangan.

Di antaranya juga adalah untuk mengenalkan seseorang, tanpa bermaksud merendahkannya. Misalnya dia sudah terkenal dengan julukan tertentu, seperti Al-A’masy (yang penglihatannya kabur dan keluar air matanya), Al-A’raj (yang pincang kakinya), Al-Asham (yang bisu) dan semacamnya.

Wabillahit taufiq, washallalahu ‘ala nabiyyina Muhammad, wa alihi wa shahbihi wa sallam.

Al-Lajnah Ad-Da’imah lil Buhuts Al-’Ilmiyyah wal Ifta’

Ketua: Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz

Wakil: Abdurrazzaq Afifi

Anggota: Abdullah bin Ghudayyan

(Fatawa Al-Lajnah, 26/10, Pertanyaan kedua dari fatwa no. 10912)

 

Pertanyaan:

Bila Anda melihat pada saudara Anda sesuatu atau tindakan yang tidak terpuji, dan berbuat jelek kepada Anda, dan Anda tidak ingin membalasnya dengan perbuatan itu, lalu Anda mengeluhkan kepada orang lain dan menyebutkan aib-aib saudara Anda itu, agar orang itu bisa menasihatinya, sehingga saudara Anda itu tidak berbuat buruk lagi terhadap Anda. Apakah pembicaraan tentang dirinya ini, tanpa kehadirannya, teranggap ghibah?

 

Jawab:

Bila perkaranya seperti yang Anda sebutkan, maka tidak termasuk ghibah.

Wabillahit taufiq, washallalahu ‘ala nabiyyina Muhammad, wa alihi wa shahbihi wa sallam.

Al-Lajnah Ad-Da’imah lil Buhuts Al-’Ilmiyyah wal Ifta’

Ketua: Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz

Wakil: Abdurrazzaq Afifi

Anggota: Abdullah bin Ghudayyan

(Fatawa Al-Lajnah, 26/14, Pertanyaan keempat dari fatwa no. 5313)

 

 

Pertanyaan:

Bolehkah mengucapkan semisal: “Orang ini sombong,” bila memang orang itu sombong?

 

Jawab:

Celaan Anda terhadap seseorang dengan mengatakan bahwa dia sombong, bila Anda jujur maka ini termasuk ghibah yang dilarang. Namun bila Anda berdusta dalam ucapan Anda itu, maka ini termasuk kedustaan dan kebohongan. Ini berdasarkan hadits Abu Hurairah z:

أَنَّ رَسُولَ اللهِ n قَالَ: أَتَدْرُونَ مَا الْغِيْبَةُ؟ قَالُوا: اللهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ. قَالَ: ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ. قِيْلَ: أَفَرَأَيْتَ إِنْ كَانَ فِي أَخِي مَا أَقُولُ؟ قَالَ: إِنْ كَانَ فِيْهَ مَا تَقُولُ فَقَدِ اغْتَبْتَهُ، وَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِيهِ مَا تَقُولُ فَقَدْ بَهَتَّهُ

Bahwasanya Rasulullah n bersabda: “Tahukah kalian apakah ghibah itu?” Para sahabat menjawab: “Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.” Beliau n bersabda lagi: “Engkau menyebutkan tentang saudaramu, sesuatu yang tidak dia sukai.” Ditanyakan kepada beliau n: “Bagaimana pendapatmu bila memang yang aku katakan itu ada pada diri saudaraku?” Beliau n menjawab: “Bila apa yang engkau katakan itu memang ada pada dirinya, maka engkau telah berbuat ghibah terhadapnya. Dan bila apa yang engkau katakan itu tidak ada pada dirinya, berarti engkau telah melakukan kedustaan terhadapnya.”

Wabillahit taufiq, washallalahu ‘ala nabiyyina Muhammad, wa alihi wa shahbihi wa sallam.

Al-Lajnah Ad-Da’imah lil Buhuts Al-’Ilmiyyah wal Ifta’

Ketua: Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz

Wakil: Abdurrazzaq Afifi

Anggota: Abdullah bin Ghudayyan

(Fatawa Al-Lajnah, 26/16, Fatwa no. 11824)

Memperingatkan Manusia dari Orang yang Berbuat Fasik terang-terangan

 

Pertanyaan:

Apakah tahdzir (memperingatkan manusia) dari seseorang yang menampakkan perbuatan fasik terang-terangan dan terkenal dengan kefasikannya, termasuk ghibah yang seseorang akan ditanya tentangnya pada hari kiamat?

 

Jawab:

Bila keadaan sebenarnya adalah sebagaimana yang disebutkan, dan tujuan penyebutan keadaannya adalah untuk memperingatkan manusia dari kejelekannya sehingga orang yang tidak tahu tidak terpedaya olehnya, maka hal ini boleh. Adapun bila penyebutannya sekadar untuk duduk ngobrol dan hiburan atau semacamnya, maka tidak boleh.

Wabillahit taufiq, washallalahu ‘ala nabiyyina Muhammad, wa alihi wa shahbihi wa sallam.

Al-Lajnah Ad-Da’imah lil Buhuts Al-’Ilmiyyah wal Ifta’

Ketua: Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz

Wakil: Abdurrazzaq Afifi

Anggota: Abdullah bin Ghudayyan

(Fatawa Al-Lajnah, 26/8, Pertanyaan keenam dari fatwa no. 9895)

 

Bel yang Terlarang

 

Pertanyaan:

Apakah bel yang terlarang itu? Perlu diketahui, ada bel listrik yang berbunyi seperti suara burung, juga bel jam yang membedakan satu waktu dengan yang lain, dan jenis-jenis lainnya.

 

Jawab:

Bel yang digunakan di rumah, sekolah, atau semacamnya hukumnya diperbolehkan selama tidak mengandung hal-hal yang haram, seperti kemiripan dengan lonceng kaum Nasrani, atau mengeluarkan suara yang seperti musik. Bila demikian, maka menjadi haram karena adanya hal-hal tersebut.

Wabillahit taufiq, washallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad, wa alihi washahbihi wasallam.

Al-Lajnah Ad-Da’imah lil Buhuts Al-‘Ilmiyyah wal Ifta’

Ketua: Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz

Wakil : Abdul Aziz Alu Asy-Syaikh

Anggota: Shalih bin Fauzan Al-Fauzan, Bakr bin Abdullah Abu Zaid

(Fatawa Al-Lajnah, 26/284, Pertanyaan keempat dari fatwa no. 18952)

 

 

Hukum Memasukkan Anak-anak ke Masjid

 

Pertanyaan:

Apa hukum memasukkan anak-anak dan orang gila ke dalam masjid?

 

Jawab:

Wali dari orang yang gila hendaknya melarang/mencegah orang gila itu agar tidak memasuki masjid, agar dia tidak mengganggu masjid dan orang-orang yang shalat. Si wali hendaknya juga berusaha untuk mengobatinya.

Adapun anak-anak, hendaknya tidak dilarang untuk masuk masjid bersama dengan wali mereka. Boleh juga masuk ke masjid sendirian (tanpa walinya, ed.), bila mereka sudah mumayyiz, berumur tujuh tahun atau lebih, agar mereka bisa menunaikan shalat bersama kaum muslimin.

Wabillahit taufiq, washallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad, wa alihi washahbihi wasallam.

Al-Lajnah Ad-Da`imah lil Buhuts Al-‘Ilmiyyah wal Ifta’

Ketua: Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz

Wakil: Abdurrazzaq Afifi

Anggota: Abdullah bin Qu’ud, Abdullah bin Ghudayyan

(Fatawa Al-Lajnah, 6/278, Pertanyaan keempat dari fatwa no. 6278)

 

Berbicara Masalah Duniawi dalam Masjid

 

Pertanyaan:

Bolehkah berbicara masalah duniawi di dalam masjid, di luar waktu shalat?

 

Jawab:

Tidak diperbolehkan menjadikan masjid sebagai tempat jual beli dan urusan dagang, serta perkara duniawi yang sejenis, yang di dalamnya mengandung mengeraskan suara. Karena masjid hanyalah dibangun untuk dzikrullah, membaca Al-Qur’an, dan shalat. Namun dibolehkan pembicaraan yang ringan dalam permasalahan duniawi, tanpa mengganggu orang-orang yang sedang membaca Al-Qur’an dan shalat di sekitar mereka berdua.

Wabillahit taufiq, washallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad, wa alihi washahbihi wasallam.

Al-Lajnah Ad-Da’imah lil Buhuts Al-‘Ilmiyyah wal Ifta’

Ketua: Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz

Wakil: Abdurrazzaq Afifi

Anggota: Abdullah bin Qu’ud, Abdullah bin Ghudayyan

(Fatawa Al-Lajnah, 6/283, Pertanyaan kesembilan dari fatwa no. 8898)