Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

سَيَأْتِي عَلَى النَّاسِ سَنَوَاتٌ خَدَّاعَاتٌ؛ يُصَدَّقُ فِيهَا الْكَاذِبُ وَيُكَذَّبُ فِيهَا الصَّادِقُ وَيُؤْتَمَنُ فِيهَا الْخَائِنُ وَيُخَوَّنُ فِيهَا الْأَمِينُ وَيَنْطِقُ فِيهَا الرُّوَيْبِضَةُ.

قِيلَ: وَمَا الرُّوَيْبِضَةُ؟ قَالَ: الرَّجُلُ التَّافِهُ يَتَكَلَّمُ فِي أَمْرِ الْعَامَّةِ

“Sungguh, akan datang kepada manusia tahun-tahun yang sangat menipu. Para pendusta pada zaman itu dianggap sebagai orang yang jujur, sementara orang yang jujur dianggap pendusta. Para pengkhianat pada zaman itu dipercaya, sementara orang-orang yang amanah dianggap pengkhianat. Pada zaman itu pula Ruwaibidhah banyak berbicara.”

Rasulullah pun ditanya, “Siapa Ruwaibidhah, wahai Rasulullah?”

Beliau kemudian menjawab, “Orang dungu yang membicarakan urusan manusia.”

 

Tahkrij Hadits

Hadits dengan lafadz di atas diriwayatkan oleh al-Imam Ibnu Majah dalam as-Sunan no. 4042. Diriwayatkan pula oleh Abu Abdillah al-Hakim dalam al-Mustadrak (4/465, 512), Ahmad bin Hanbal dalam al-Musnad (2/291).

Semuanya melalui jalan Abdul Malik bin Qudamah, dari Ishaq bin Abil Furat, dari al-Maqburi, dari sahabat Abu Hurairah, Abdur Rahman bin Shakhr ad-Dausi radhiallahu ‘anhu.

Sanad ini dha’if (lemah) karena di dalamnya ada Abdul Malik bin Qudamah, seorang yang dha’if (lemah). Demikian adz-Dzahabi dalam Mizanul I’tidal menukilkan perkataan sejumlah ulama yang mendha’ifkannya.

Dalam sanad ini ada illat (cacat) lain, yaitu Ishaq bin Bakr. Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani berkata tentangnya, “Majhul (tidak dikenal).”

 

Meskipun demikian, hadits ini bisa dikuatkan karena diriwayatkan melalui jalan lain.

Al-Imam Ahmad dalam al-Musnad (2/338) meriwayatkan hadits ini melalui jalan dua guru beliau, Yunus dan Suraih. Keduanya meriwayatkan dari Fulaih bin Sa’id, dari Ubaidillah bin Sabbaq, dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

قَبْلَ السَّاعَةِ سِنُونَ خَدَّاعَةٌ يُكَذَّبُ فِيهَا الصَّادِقُ وَيُصَدَّقُ فِيهَا الْكَاذِبُ وَيُخَوَّنُ فِيهَا الْأَمِينُ وَيُؤْتَمَنُ فِيهَا الْخَائِنُ وَيَنْطِقُ فِيهَا الرُّوَيْبِضَةُ

“Sebelum tegak kiamat, akan datang tahun-tahun yang sangat menipu. Pada zaman itu, orang yang jujur didustakan, orang yang pendusta dibenarkan, orang yang tepercaya dianggap berkhianat, dan orang yang berkhianat diberi kepercayaan. Pada masa itu, Ruwaibidhah berbicara.”

Semua perawi dalam sanad ini tsiqat, kecuali Fulaih. Dia adalah Fulaih bin Sulaiman al-Khuza’i, ada pembicaraan tentangnya dari sisi hafalannya. Al- Hafizh Ibnu Hajr berkata, “Shaduq yukhti’u katsiran.”

 

Hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu diperkuat pula oleh adanya syahid (penguat) dari hadits Anas bin Malik yang diriwayatkan al-Imam Ahmad dalam al-Musnad (3/220), Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ أَمَامَ الدَّجَّالِ سِنِينَ خَدَّاعَةً يُكَذَّبُ فِيهَا الصَّادِقُ وَيُصَدَّقُ فِيهَا الْكَاذِبُ وَيُخَوَّنُ فِيهَا الْأَمِينُ وَيُؤْتَمَنُ فِيهَا الْخَائِنُ وَيَتَكَلَّمُ فِيهَا الرُّوَيْبِضَةُ. قِيلَ: وَمَا الرُّوَيْبِضَةُ؟ قَالَ: الْفُوَيْسِقُ يَتَكَلَّمُ فِي أَمْرِ الْعَامَّةِ

“Sesungguhnya menjelang keluarnya Dajjal, ada tahun-tahun yang menipu. Di zaman itu orang yang jujur didustakan, para pendusta dianggap benar, para pengkhianat dipercaya, sementara orang-orang yang amanah dianggap pengkhianat. Pada zaman itu pula Ruwaibidhah banyak berbicara.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya, “Apa itu Ruwaibidhah, wahai Rasulullah?”

Beliau kemudian menjawab,

الْفُوَيْسِقُ يَتَكَلَّمُ فِي أَمْرِ الْعَامَّةِ

“Orang yang sangat fasik (lagi hina), membicarakan perkara publik (masyarakat umum).”

Hadits Anas ini diriwayatkan Ahmad melalui jalan Muhammad bin Ishaq dari Muhammad bin al-Munkadir. Para perawinya tsiqat, hanya saja dalam sanad ini ada ‘an’anah Ibnu Ishaq, dan ia seorang mudallis.

 

Makna Hadits

Dalam hadits ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan akan datangnya tahun-tahun yang disifati beliau dengan (سَنَوَاتٌ خَدَّاعَاتٌ), tahun-tahun yang sangat menipu.

Masa itu disifati demikian karena kondisinya benar-benar terbalik, sebagaimana ditafsirkan oleh beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Saat itu, yang benar tampak batil/salah, sebaliknya kebatilan tampak sebagai kebenaran. Beliau bersabda,

“… Para pendusta di zaman itu dianggap sebagai orang yang jujur, orang yang jujur dianggap pendusta. Para pengkhianat di zaman itu dipercaya, orang-orang yang amanah dianggap pengkhianat….”

 

Inilah empat hal yang akan terjadi pada zaman tersebut. Beliau juga menyebutkan yang kelima,

وَيَنْطِقُ فِيهَا الرُّوَيْبِضَةُ

“… pada zaman itu Ruwaibidhah banyak berbicara….”

Para sahabat lalu menanyakan tentang siapa Ruwaibidhah. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,

الرَّجُلُ التَّافِهُ يَتَكَلَّمُ فِي أَمْرِ الْعَامَّةِ

“… Orang dungu yang membicarakan urusan manusia.”

Pada sebagian riwayat hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan tentang siapa

mereka.

الْفُوَيْسِقُ يَتَكَلَّمُ فِي أَمْرِ الْعَامَّةِ

“Orang yang sangat fasik (lagi hina), membicarakan urusan publik (umum).”

 

Menjelaskan makna Ruwaibidhah, al-Imam al-Baghawi berkata dalam Syarhus Sunnah (1/12), “Ruwaibidhah secara bahasa adalah bentuk tashghir (pengecilan/perendahan) dari kata ar-Rabidhah. Maknanya adalah penggembala kambing. Rabidh sendiri bermakna kambing/domba.”

 

Tanda Kenabian

Dalam hadits ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan kepada kita berita gaib, yaitu beberapa hal yang akan terjadi di akhir zaman. Kabar beliau ternyata benar-benar terjadi.

Berita-berita seperti ini termasuk tanda dan bukti kenabian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan betapa banyak yang serupa.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memang tidak mengerti perkara gaib. Itulah keyakinan Ahlus Sunnah. Kita meyakini hanya Allah ‘azza wa jalla lah yang mengetahui perkara gaib. Akan tetapi, Allah ‘azza wa jalla mewahyukan sebagian perkara gaib kepada para nabi dan rasul-Nya. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

          عَٰلِمُ ٱلۡغَيۡبِ فَلَا يُظۡهِرُ عَلَىٰ غَيۡبِهِۦٓ أَحَدًا ٢٦ إِلَّا مَنِ ٱرۡتَضَىٰ مِن رَّسُولٖ فَإِنَّهُۥ يَسۡلُكُ مِنۢ بَيۡنِ يَدَيۡهِ وَمِنۡ خَلۡفِهِۦ رَصَدٗا ٢٧

        “(Dia adalah) Yang Mengetahui yang gaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorang pun tentang yang gaib itu. Kecuali kepada rasul yang diridhai-Nya, maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya.” (al-Jin: 26—27)

 

Perhatikan fenomena di zaman kita. Betapa sesuainya keadaan zaman ini dengan berita Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Betapa banyak orang jujur lagi mulia yang didustakan. Banyak pula para pendusta yang ucapannya dianggap kebenaran. Sebagaimana sabda beliau,

يُصَدَّقُ فِيهَا الْكَاذِبُ وَيُكَذَّبُ فِيهَا الصَّادِقُ

“… para pendusta di zaman itu dianggap sebagai orang yang jujur, sementara orang yang jujur dianggap pendusta….”

 

Mungkin contoh nyata yang bisa kita saksikan adalah perlakuan ahlul bid’ah kepada ulama-ulama Ahlus Sunnah. Sosok al-Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah, imam Ahlus Sunnah wal Jamaah, murid terkemuka al-Imam asy Syafi’i rahimahullah, diperlakukan demikian kasar. Beliau disiksa, dipenjara, bahkan hendak dibunuh.

Apa sebab beliau disiksa? Ternyata karena beliau sedemikian gigih mempertahankan kebenaran, mempertahankan akidah Ahlus Sunnah. Beliau mempertahankan keyakinan bahwa al-Qur’an adalah kalamullah (firman Allah ‘azza wa jalla), bukan makhluk.

 

Al-Qur’an adalah kalamullah, sebagaimana ditunjukkan oleh al-Kitab, as-Sunnah, dan ijma’. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

          وَإِنۡ أَحَدٞ مِّنَ ٱلۡمُشۡرِكِينَ ٱسۡتَجَارَكَ فَأَجِرۡهُ حَتَّىٰ يَسۡمَعَ كَلَٰمَ ٱللَّهِ ثُمَّ أَبۡلِغۡهُ مَأۡمَنَهُۥۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمۡ قَوۡمٞ لَّا يَعۡلَمُونَ ٦

        “Dan jika seorang di antara orang-orang musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar kalam Allah, kemudian antarkanlah ia ke tempat yang aman baginya. Demikian itu disebabkan mereka kaum yang tidak mengetahui.” (at-Taubah: 6)

Kebenaran mana yang melebihi kebenaran al-Qur’an? Kejujuran mana yang melebihi sabda-sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam? Namun, pada zaman al-Imam Ahmad rahimahullah kebenaran ini didustakan dan ditolak.

 

Demikian pula keadaan ulama Ahlus Sunnah di zaman ini, semisal asy-Syaikh al-Albani, asy-Syaikh Rabi’ al-Madkhali, dan masyayikh Ahlus Sunnah lainnya. Ucapan-ucapan mereka yang penuh hikmah didustakan. Nasihat-nasihat mereka memperingatkan umat dari kesyirikan dan penyerunya, kebid’ahan dan pengusungnya dianggap sebagai kedunguan, ghibah, dan memecah belah umat. Padahal maksud mereka adalah memberi nasihat yang tulus bagi umat.

Mereka, ulama Ahlus Sunnah yang penuh kejujuran dan semangat justru dicela dan dipojokkan dengan tuduhan-tuduhan yang jauh dari kenyataan. Mereka penuh kejujuran, namun didustakan oleh penyeru kesyirikan, pengusung kebid’ahan dan kesesatan.

 

Sebaliknya, banyak para pendusta, tokoh-tokoh penyesat, pembawa panji-panji kesyirikan, kebid’ahan dan pemikiran-pemikiran sesat, ucapan mereka justru dibenarkan.

Melalui berbagai media cetak dan elektronik, tokoh-tokoh pendusta diorbitkan. Dengan seenaknya mereka melecehkan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, mengolok-olok agama Islam. Ucapan mereka yang sedemikian keji dianggap sebagai sebuah kebenaran hanya karena dia menyandang gelar profesor doktor. Sejatinya, dia hanyalah pendusta, dajjal yang penuh dengan kehinaan.

Ucapan mereka seakan-akan kebenaran. Sesungguhnya mereka memutarbalikkan fakta. Tersebarlah kedustaan di tengah umat ini dan dianggap sebagai sebuah kebenaran yang harus diterima secara mutlak.

 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Sosok Penyayang

Siapa pun yang merenungi hadits ini akan melihat betapa sayang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada umatnya. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

          لَقَدۡ جَآءَكُمۡ رَسُولٞ مِّنۡ أَنفُسِكُمۡ عَزِيزٌ عَلَيۡهِ مَا عَنِتُّمۡ حَرِيصٌ عَلَيۡكُم بِٱلۡمُؤۡمِنِينَ رَءُوفٞ رَّحِيمٞ ١٢٨

“Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.” (at-Taubah: 128)

 

Bukti kasih sayang beliau sangat banyak. Demi Allah, semua perjalanan hidup Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah bukti kasih sayang beliau.

Mungkin Anda masih ingat, suatu saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat. Sedianya beliau ingin memperlama bacaan, tiba-tiba terdengar tangisan anak kecil. Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menyegerakan shalatnya. Beliau mengurungkan niat untuk memperlama bacaan sebagaimana kebiasaan beliau.

Beliau sangat khawatir ibu sang bocah ikut shalat bersama beliau, sehingga kegelisahan menimpanya di tengah shalat. Beliau tidak ingin kegelisahan menimpa ibu dan sang bocah.

 

Di antara bentuk kasih sayang beliau adalah semangat beliau memperingatkan umat dari segala kejelekan yang beliau ketahui, seperti hadits yang sedang kita telaah.

Beliau mengabarkan keadaan zaman sepeninggal beliau. Beliau menyebutkan suatu zaman yang demikian besar fitnahnya. Semua itu adalah kasih sayang beliau agar umat bersiap menghadapi kejelekan.

 

Hikmah Peringatan Kejelekan Akhir Zaman

Hadits ini bukan satu-satunya hadits yang berbicara tentang kejelekan di akhir zaman.

Alhamdulillah, semua hadits yang dibutuhkan umat untuk mengenal kejelekan akhir zaman terjaga dalam kitab-kitab ahlul hadits, kitab-kitab shahih, sunan, musnad, dan kitab hadits lainnya yang semestinya kita buka dan telaah.

Peringatan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari berbagai kejelekan di akhir zaman memiliki faedah-faedah besar, di antaranya:

  1. Menambah keimanan.

Orang yang membaca berita Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang fitnah akhir zaman, kemudian mendapatkan kebenaran sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tentu kebenaran berita tersebut akan menambah keimanannya.

  1. Seorang mukmin akan lebih waspada dari berbagai kejelekan, kemudian segera menyiapkan berbagai upaya untuk menghadapi kejelekan tersebut sesuai bimbingan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
  2. Seorang mukmin semakin meyakini akan datangnya Hari Kiamat ketika menyaksikan tanda-tandanya bermunculan sebagaimana dikabarkan.
  3. Tanda-tanda hari kiamat akan mengingatkan orang-orang yang lalai untuk bersegera menuju ampunan Allah ‘azza wa jalla dan keridhaan-Nya.

 

Petaka Ruwaibidhah

Ruwaibidhah adalah orang yang fasik lagi hina, pendosa, dan jahil. Namun, dengan lancang mereka memosisikan diri untuk membicarakan masalah umat.

Allahu Akbar! Apa yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kabarkan dalam hadits ini benar-benar terjadi. Ruwaibidhah bermunculan berbicara tentang urusan umat.

Betapa banyak manusia dungu dan jahil dalam urusan agama dengan lancang berbicara dan berfatwa di tengah halayak. Bisa dibayangkan betapa besar kerusakan yang menimpa umat manusia ketika orang seperti mereka membicarakan urusan yang bukan kapasitasnya.

 

Dengan entengnya Ruwaibidhah berbicara tentang agama tanpa ilmu, Dengan seenaknya mereka bicara urusan darah kaum muslimin. Dengan serampangan mereka berbicara jihad. Muncullah berbagai kerusakan yang kita saksikan saat ini seperti fenomena: takfirul hukkam wal muslimin (pengkafiran terhadap penguasa dan kaum muslimin) dan pemikiran lainnya.

Dengan fatwa-fatwa yang tidak bertanggung jawab, Ruwaibidhah mengafirkan para penguasa dan masyarakatnya. Dengan dalih jihad mereka membunuh orang kafir yang tidak boleh dibunuh, bahkan orang muslim pun tidak luput menjadi korban kejahatan mereka.

 

Jangan menengok terlalu jauh, saksikanlah apa yang terjadi di negeri ini. Saat kampanye reformasi digelar. Kekacauan terjadi di seluruh penjuru negeri.

Tokoh-tokoh pengusung reformasi bukanlah ulama, bukan pula orang-orang yang mengerti maslahat dan mafsadah sebagaimana diajarkan dalam agama ini. Mereka tidak lain adalah para pendusta, politikus, dan orang-orang yang gila kekuasaan. Bukan agama yang diperjuangkan, melainkan dunia. Mereka adalah Ruwaibidhah.

Akibatnya, kejelekan terbuka sedemikian lebar. Saat ini, semua kesesatan bisa berkembang bebas meracuni anak-anak bangsa: liberalisme, komunisme, radikalisme, dan terorisme. Pemberontakan, hujatan kepada penguasa, sesuatu yang sudah sangat akrab di telinga kita. Demikian tragis nasib negeri ini, ketika Ruwaibidhah berbicara.

 

Tidak diragukan—wallahu a’lam—bahwa Ruwaibidhah termasuk golongan ashaghir yang disebutkan dalam hadits Abu Umayyah al-Jumahi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ أَنْ يُلْتَمَسَ الْعِلْمُ عِنْدَ الْأَصَاغِرِ

“Sesungguhnya di antara tanda-tanda hari kiamat adalah diambilnya ilmu dari ashaghir (orang-orang kecil/muda).” (HR. ath-Thabarani, dinyatakan sahih dalam Shahih al-Jami’)

Para ulama menerangkan, di antara makna ashagir adalah ahlul bid’ah. Ya, ahlul bid’ah, dijadikan sebagai rujukan ilmu.

Jika urusan umat dipegang oleh para ulama, orang-orang yang mumpuni dalam ilmu dan berumur, harapkanlah kebaikan. Sebaliknya, jika yang berbicara dan dijadikan rujukan adalah orang-orang fasik lagi jahil, kejelekan akan menimpa umat ini.

 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اللهَ تَعَالَى لاَ يَقبِضُ الْعِلمَ انتِزَاعًا يَنتَزِعُهُ مِنَ الْعِبَادِ، وَلَكِنْ يَقبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ، حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُؤَسَاءَ جُهَّالاً، فَسُئِلُوا فَأَفتَوْا بِغَيرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا

“Sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla tidak akan mencabut ilmu dari umat manusia dengan sekali cabut. Akan tetapi, Dia akan mencabut dengan mematikan para ulama (ahlinya). Sampai apabila Dia tidak menyisakan seorang alim, umat manusia akan menjadikan orang-orang yang bodoh sebagai pimpinan-pimpinan mereka. Mereka ditanya (oleh umatnya) lantas menjawab tanpa ilmu, sehingga mereka sesat dan menyesatkan.” (Muttafaqun ‘alaih)

 

Ibnu Qutaibah rahimahullah berkata, “Manusia senantiasa dalam kebaikan, selama yang menjadi ulama (panutan) mereka adalah masyayikh (orang-orang yang tua, baik dalam hal ilmu maupun usia), bukan orang-orang yang masih muda. Sebab, orang yang telah berumur, telah hilang darinya sifat kekasaran, main-main, dan ketergesa-gesaan (yang biasa ada) pada anak muda.

Orang yang tua juga penuh dengan pengalaman dalam urusannya. Karena itu, ilmunya tidak tercampur dengan kerancuan (syubhat), tidak pula hawa nafsu menyimpangkannya, tidak pula mudah dijerumuskan setan.

Adapun kaum muda, seringkali hal-hal tersebut menimpanya—yang kaum tua selamat darinya. Apabila hal itu terjadi, kemudian ia berfatwa, sungguh dia akan binasa dan membinasakan.”

 

Dahulu, salaf kita bersedih ketika melihat orang jahil berbicara memberi fatwa. Lantas apa pendapat Anda jika mereka menyaksikan rusaknya zaman kita ini? Semua orang bebas berbicara, bahkan berfatwa. Sebebas-bebasnya, tanpa batas.

Ibnu Abdil Barr al-Andalusi rahimahullah meriwayatkan dalam Jami Bayani Ilmi fa Fadhluhi melalui jalan Abdullah bin Wahb, dari al-Imam Malik, beliau berkata,

Seorang mengabarkan kepadaku: Suatu saat aku masuk menemui Rabi’ah bin Abdur Rahman. Ketika itu beliau sedang menangis. Aku pun bertanya, “Apa yang membuatmu menangis?”

Rabi’ah bertambah tangisnya. Aku bertanya kembali, “Apakah ada musibah yang menimpamu?”

Rabi’ah menjawab, “Tidak, (bukan karena itu aku menangis). Akan tetapi, saat ini orang yang tidak berilmu dimintai fatwa, dan muncullah perkara besar dalam Islam. Sungguh, sebagian dari mereka yang berfatwa (tanpa ilmu itu) lebih pantas untuk dipenjara daripada para pencuri!”

 

Saudaraku, mari kita kuatkan semangat mendidik diri kita dan generasi kita dengan ilmu al-Kitab dan as-Sunnah. Tuntutlah ilmu al-Kitab dan as-Sunnah sebelum ilmu dicabut dengan wafatnya para ulama.

Bekali generasi kita untuk menghadapi tahun-tahun yang memilukan dengan al-Kitab dan as-Sunnah dengan pemahaman salaf umat ini. Tidak ada benteng yang kokoh kecuali dengan berpegang teguh dengan keduanya.

Allahul musta’an.

Ditulis oleh al-Ustadz Muhammad Rijal, Lc