Indonesia adalah sebuah negara yang berpotensi besar. Negeri yang subur, kaya dengan sumber daya alam, memiliki wilayah darat yang sangat luas membentang dari timur ke barat. Indonesia juga memiliki wilayah perairan yang lebih luas dari daratan dengan kekayaan bahari yang luar biasa. Walhamdulillah.

Lebih istimewa dari itu semua, Indonesia adalah negara dengan sumber daya manusia yang sangat besar dengan mayoritas penduduknya kaum muslimin.

Dengan kekayaan yang demikian besar, tidak mengherankan kalau dahulu Belanda menjajah negeri ini selama kurang lebih 350 tahun. Jepang tidak pula ketinggalan menginginkan kekuasaan di negeri ini.

Setelah Proklamasi Kemerdekaan, upaya-upaya untuk menumbangkan negeri kita tidak berhenti. Muncul berbagai pemberontakan seperti pemberontakan G30S/PKI dan gerakan-gerakan separatis yang berusaha merusak stabilitas dan keamanan negeri. Kasus Timor Leste, pemberontakan RMS di Maluku, adalah sekian dari upaya orang kafir untuk mengobrak-abrik negeri yang mayoritas penduduknya muslim.

Kita tidak boleh merasa aman, dipastikan Yahudi terus berupaya menggoyangkan stabilitas NKRI dalam menghancurkan kaum muslimin atau negeri Islam. Syiah Rafidhah telah berhasil memanaskan suhu politik Timur Tengah, yang mana berhasil melemahkan negeri-negeri Islam di Tanah Arab.

Yahudi sepertinya—bahkan dipastikan, dengan senantiasa melihat sejarah masa lalu—berupaya menancapkan kekuasaan Syiah Rafidhah di Republik Indonesia.

Syiah Rafidhah di negeri kita ini ternyata terus bekerja, berupaya keras menyusup di tengah kaum muslimin demi menebarkan kesesatan mereka seperti yang dilakukan kakek mereka, Abdullah bin Saba’ al-Yahudi.

Tokoh Syiah Rafidhah Indonesia sekaligus ketua IJABI, Jalaludin Rahmat pernah berkata, “… Kita adalah sebuah kelompok keagamaan yang mendunia, jadi berbeda dengan kelompok Ahmadiyah yang menyambut pukulan yang mematikan itu dengan senyuman. Orang-orang Syiah pada suatu saat tidak akan membiarkan tindakan kekerasan itu terus-menerus terjadi. Karena buat mereka, mengorbankan darah dan mengalirkannya bersama darah Imam Husein adalah satu mimpi yang diinginkan oleh orang Syiah. Saya tidak bermaksud mengancam ya, tapi apakah kita harus memindahkan konflik Sunnah-Syiah dari Irak ke Indonesia?”

Kita harus menyadari rekam jejak yang buruk dari kaum Rafidhah, kebusukan makar mereka sudah semestinya menjadikan kita berhati-hati. Kita juga harus menyadari bahwa, saat ini Rafidhah telah memiliki daulah yang cukup kuat dengan persenjataan lengkap, Republik Iran.

Dalam Perang Yaman, Iran punya andil besar dalam memasok senjata untuk kaum Rafidhah Houthi dalam memerangi Ahlus Sunnah. Hingga saat ini perang masih terus berkecamuk.

Kita juga harus menyadari bahwa mereka benar-benar bekerjasama dengan Yahudi (Amerika) dalam meluluskan misinya, walaupun di media massa ditampakkan seolah-olah mereka anti-Amerika, termasuk bualan Khomeini di masa revolusinya. Namun semua itu dusta dan skenario Yahudi.

Dalam kurun terakhir ini, kita saksikan perkembangan Syiah di negeri ini cukup pesat. Banyak bentuk makar Rafidhah di negeri ini. Di antara upaya yang mereka lakukan adalah sebagai berikut.

 

Pengiriman Pelajar ke Iran

Pengiriman ini telah mereka lakukan cukup lama. Banyak mahasiswa Indonesia yang sedang dan telah belajar di Iran. Pada 20 Mei 2014, situs Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia menayangkan berita tentang wisuda sejumlah mahasiswi Indonesia di Iran. Disebutkan bahwa mahasiswi Indonesia yang tengah kuliah di beberapa universitas di Iran berjumlah 200 orang yang terdiri dari 148 orang di kota Qom, 10 orang di Tehran, 8 orang di Esfahan, 7 orang di Gorgan, 14 orang di Mashhad, dan 13 orang di Qeshm.[1]

Sumber lain menyebutkan bahwa pada 2007, ada ribuan pemuda Indonesia yang belajar Syiah langsung di Iran. Beberapa tahun lagi mereka akan kembali. Sekembalinya dari Iran, banyak kader mereka menjadi pegiat dakwah Syiah di negeri ini dengan berbagai lembaga pendidikan atau yayasan yang mereka bina dan kelola.

 

Pendirian Islamic Cultural Center (ICC)

Di Indonesia, Iran memiliki lembaga pusat kebudayaan Republik Iran disebut ICC (Islamic Cultural Center). Lembaga ini berdiri sejak 2003 di bilangan Pejaten, Jakarta Selatan. Dari ICC itulah kemudian didirikan Iranian Corner di beberapa tempat di UIN dan Universitas Muhammadiyah.

Di antara tokoh-tokoh yang mengajar di ICC itu adalah kakak beradik: Umar Shihab (salah seorang Ketua MUI—Majelis Ulama Indonesia Pusat) dan Prof. Quraish Shihab (mantan Menteri Agama), Dr. Jalaluddin Rakhmat, Haidar Bagir, dan O. Hashem. Begitu juga sejumlah keturunan alawiyin atau habaib, seperti Agus Abu Bakar al-Habsyi dan Hasan Daliel al-Idrus.

 

Pendirian Iranian Corner di Perguruan Tinggi

Di antara upaya menyebarkan agama Syiah yang menyasar kalangan mahasiswa dan akademisi, Rafidhah membuka Iranian Corner. Perkembangan Iranian Corner di Indonesia khususnya perguruan tinggi cukup marak. Pada tahun 2015 saja sudah didirikan 12 Iranian Corner di berbagai perguruan tinggi. Yang sangat menyedihkan, Iranian Corner ditempatkan di universitas-universitas bernuansa Islam, IAIN, UIN, dan Universitas Muhammadiyah.

Di Jakarta, Iranian Corner ada di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ). Di Yogyakarta, kota sejarah dan kota pelajar, bahkan ditempatkan tiga Iranian corner, yaitu Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta, dan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Di Malang, Universitas Muhammadiyah Malang tidak ketinggalan menempatkan Iranian Corner di universitasnya. Demikian pula di UIN Bandung dan UIN Riau. Allahul Musta’an.

Melalui Iranian Corner, terbuka lebar pintu pertukaran budaya dan transfer ideologi Syiah Rafidhah, pemutaran film, seminar-seminar tentang Khomeini dan revolusinya. Demikian pula hibah gratis buku-buku budaya, beasiswa gratis di negeri Iran bagi kader-kader yang diharapkan menjadi ujung tombak perjuangan Rafidhah di Indonesia pada masa depan.

 

Kampanye Persaudaraan Sunni Syiah

Di antara makar Syiah Rafidhah adalah upaya menyerukan bahwa Syiah Rafidhah sama dengan Ahlus Sunnah. Tidak ada perbedaan prinsip yang mendasar antara Sunni dan Syiah Rafidhah. Hebatnya, kampanye ini juga dilakukan dengan meminjam tangan orang-orang yang ditokohkan di negeri ini.

Sebuah pernyataan aneh diungkapkan Grand Syekh Al-Azhar Prof. Dr. Syekh Ahmad Muhammad Ahmad ath-Thayyeb saat dimintai pandangannya oleh Dirjen Bimas Islam terkait permasalahan Sunni dan Syiah di Kantor Majelis Ulama Indonesia (MUI), Jakarta, Senin (22/02/2016).

Dia mengatakan bahwa Ahlus Sunnah bersaudara dengan Syiah, tidak ada masalah prinsip yang menyebabkan kaum Syiah keluar dari Islam. Bahkan, ajaran Syiah dekat dengan Ahlus Sunnah. Perbedaan antara Sunni dan Syiah hanya pada masalah imamiah. Syiah mengatakan imamiah bagian dari ushuluddin, adapun kita mengatakan sebagai masalah furu’.

Ini di antara kampanye besar-besaran di Indonesia untuk memasukkan agama Syiah Rafidhah di negeri ini. Di Indonesia, benar-benar ada upaya menebarkan opini di tengah masyarakat bahwa Syiah dan Sunni bedanya sedikit, hanya masalah furu’ (cabang) dan tidak menyentuh masalah ushul. Banyak masyarakat awam menilai bahwa Syiah (Rafidhah) adalah “mazhab kelima” dalam Islam. Penilaian ini semakin kuat dengan ucapan para penyeru kesesatan yang menyatakan tidak ada beda antara Sunni dan Syiah.

Mengapa ucapan ini dibesar-besarkan di negeri Indonesia, saat mata manusia menyaksikan kekejian Syiah Rafidhah terhadap Sunni di Irak, Suriah, Lebanon, dan Yaman?

Seakan-akan mereka mengatakan, “Tenanglah kalian, wahai muslimin Indonesia, Syiah Rafidhah di Indonesia tidak sama dengan Syiah Rafidhah yang ada di negara-negara konflik. Tetap tidurlah kalian dan tetaplah nyaman di negeri kalian.”

Mengapa kalimat ini diucapkan di Indonesia, bahkan di Kantor MUI Jakarta? Padahal ulama Ahlus Sunnah bersepakat tentang kesesatan Rafidhah. Bahkan, MUI sendiri telah menerbitkan buku tentang kesesatan Syiah?

 

Upaya Merusak Akhlak dan Moral Kaum Muslimin

Termasuk daya tarik (baca: kebejatan moral) dari agama sesat adalah ajaran kawin kontrak (mut’ah) yang sesungguhnya adalah zina, mengatasnamakan agama. Di satu sisi ajaran kotor ini akan merekrut banyak pengikut. Di sisi lain, ajaran ini akan merusak moral bangsa dan melemahkan negara.

Praktik nikah mut’ah (baca: kawin kontrak) tenyata sangat laris di dunia kampus di kota-kota besar di Indonesia, seperti Bandung, Surabaya, Makassar, dan Yogyakarta.

Seorang penulis skripsi yang berjudul “Perempuan dalam Nikah Mut’ah” memaparkan hasil survei yang dilakukannya bahwa nikah mut’ah banyak dilakukan oleh kalangan civitas akademika. Jenis perjanjiannya pun bermacam-macam. Sebagian data yang didapat menunjukkan bahwa di antara mereka ada yang memilih periode/jangka waktu selama si perempuan dalam masa studi. Jika si perempuan sudah lulus kuliah, nikah mut’ahnya pun turut selesai.

Kawin kontrak dalam agama Syiah Rafidhah adalah ibadah. Bahkan, Khomeini melakukan kawin kontrak dengan bocah perempuan berumur lima tahun. Sebuah kebejatan moral yang tidak pernah terbayangkan.

Salah satu doktrin Syiah yang keji dalam hal ini disebutkan dalam kitab tafsir mereka, Minhajus Shadiqin, yang dikarang oleh Fathullah al-Kasyani. Disebutkan di dalamnya, “Barang siapa melakukan nikah mut’ah sekali, akan dibebaskan sepertiga tubuhnya dari api neraka. Barang siapa melakukan nikah mut’ah dua kali, akan dibebaskan dua pertiga tubuhnya dari api neraka. Barang siapa melakukan nikah mut’ah tiga kali, akan dibebaskan seluruh tubuhnya dari api neraka.”

 

Menebarkan Kebencian Terhadap Islam

Ini makar lain dari musuh-musuh Islam. Mereka memahami bahwa kemuliaan Islam akan diperoleh dengan kembali kepada ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang murni. Sungguh, apabila kaum muslimin bersemangat menempuh jalan untuk mempelajari Islam, mengerti tentang ilmu al-Kitab dan as-Sunnah, niscaya jalan menuju kemuliaan benar-benar terbuka lebar. Allah subhanahu wa ta’ala akan memudahkan jalan menuju jannah.

Agar kaum muslimin berpaling dari ajaran Islam, musuh-musuh Islam berupaya mencoreng Islam dengan menyematkan label terorisme dan radikalisme kepada Ahlus Sunnah wal Jamaah. Intinya ialah agar umat Islam jauh dari agama yang lurus.

Sungguh, makar Rafidhah di negeri ini sangat banyak. Dengan taqiyah, penganut Syiah membaur di tengah masyarakat awam dan menampakkan diri sebagai pecinta dan pembela ahlul bait. Di lingkungan putih mereka berwarna putih, di lingkungan hitam mereka berwarna hitam, sembari menebarkan racun-racun kesesatannya.

Yayasan-yayasan Syiah dan lembaga pendidikan mereka dirikan. Buku-buku Syiah mereka terbitkan dan tebarkan. Mereka terus bekerja mengusahakan kebinasaan Islam—menurut anggapan mereka—padahal merekalah yang akan binasa.

يُخَٰدِعُونَ ٱللَّهَ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَمَا يَخۡدَعُونَ إِلَّآ أَنفُسَهُمۡ وَمَا يَشۡعُرُونَ ٩

“Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, pada hal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar.” (al-Baqarah: 9)

Sesungguhnya berbagai usaha mereka di atas semakin menunjukkan adanya gerakan mensyiahkan negeri ini. Dipastikan, mereka memiliki program yang sistematis.

Apa yang disebutkan tidak bermaksud melemahkan semangat Ahlus Sunnah. Kita yakin, makar mereka pasti akan dikalahkan. Akan tetapi, sebagai hamba Allah subhanahu wa ta’ala yang mencintai Islam, sudah seharusnya kita menempuh jalan guna memberikan andil bagi kemenangan Islam.

Ditulis oleh al-Ustadz Abu Ismail Muhammad Rijal, Lc

[1] http://www.kemlu.go.id/tehran/id/berita-agenda/berita-perwakilan/Pages/UNIVERSITAS-TEHRAN-WISUDAMAHASISWA-INDONESIA.aspx