Islam Nusantara dan Ahmadiyah

Ahmadiyah adalah aliran sesat yang ditolak oleh umat Islam dunia. Walau demikian, ia dapat tumbuh dan berkembang di Indonesia.

Aliran sesat ini lahir pada tahun 1889 di kota kecil Qadian, Punjab, Pakistan (dulu masuk wilayah India). Kemunculannya tak bisa dipisahkan dari kolonial Inggris yang sedang menjajah. Karena itu, tak berlebihan bila ada yang mengatakan bahwa ia bentukan kolonial Inggris. Targetnya, untuk memecah-belah kekuatan umat Islam India (baca: Pakistan) yang sedang berjuang melawan penjajah Inggris dan menginginkan kemerdekaan kala itu.

Ahmadiyah mempunyai kitab suci sendiri bernama Tadzkirah yang pada hakikatnya adalah bajakan dari ayat-ayat yang terdapat dalam Kitab Suci al-Qur’an.

Modusnya ialah dengan melakukan perubahan, penambahan, dan pengurangan, lalu dirangkaikan menjadi ayat-ayat. Setelah itu, diklaim sebagai wahyu suci (wahyu muqaddas) yang diwahyukan Allah subhanahu wa ta’ala kepada nabi palsu mereka, Mirza Ghulam Ahmad al-Qadiyani.

Ahmadiyah meyakini bahwa Mirza Ghulam Ahmad al-Qadiyani, pendiri aliran sesat tersebut, sebagai al-Masih dan al-Mahdi yang dijanjikan kemunculannya pada akhir zaman. Lebih dari itu, mereka meyakininya sebagai nabi yang memegang tongkat estafet kenabian setelah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Padahal hakikatnya adalah nabi palsu.

Dalam akidah Islam, keberadaan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai nabi terakhir adalah harga mati. Demikian pula agama Islam yang dibawa beliau, sebagai agama terakhir nan paripurna.

Barang siapa meyakini bahwa setelah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam masih ada nabi berikutnya, dan masih ada pula suatu agama yang menyempurnakan agama Islam yang dibawa beliau, dia telah kafir, keluar dari Islam. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

مَّا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَآ أَحَدٖ مِّن رِّجَالِكُمۡ وَلَٰكِن رَّسُولَ ٱللَّهِ وَخَاتَمَ ٱلنَّبِيِّ‍ۧنَۗ وَكَانَ ٱللَّهُ بِكُلِّ شَيۡءٍ عَلِيمٗا ٤٠

“Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kalian, tetapi Dia adalah Rasulullah dan penutup para nabi, dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (al-Ahzab: 40)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَإِنَّهُ سَيَكُونُ فِي أُمَّتِي ثَلَاثُونَ كَذَّابُونَ كُلُّهُمْ يَزْعُمُ أَنَّهُ نَبِيٌّ وَأَنَا خَاتَمُ النَّبِيِّينَ لَا نَبِيَّ بَعْدِي

“Sesungguhnya akan ada di tengah-tengah umatku tiga puluh orang pendusta, semuanya mengaku nabi. Aku adalah penutup para nabi, tidak ada lagi nabi setelahku.” (HR . at-Tirmidzi no. 2145, dari Tsauban radhiallahu ‘anhu, dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh al-Albani dalam Shahih wa Dhaif Sunan at-Tirmidzi no. 2219, al-Misykah no. 5406, dan ash-Shahihah no. 1683)

Atas nama Pemerintah Indonesia, Menteri Agama, Menteri Dalam Negeri, Jaksa Agung Indonesia, pada tanggal 9 Juni 2008 telah mengeluarkan Surat Keputusan bersama (SKB), yang memerintahkan penganut Ahmadiyah untuk menghentikan kegiatannya yang bertentangan dengan Islam itu.

Tahukah Anda, sikap para pegiat Islam Nusantara terhadap aliran sesat ini? Simak penuturan mereka berikut ini,

  • Gus Dur berkata,

“Selama saya masih hidup, saya akan mempertahankan gerakan Ahmadiyah.” (https://youtu.be/1uzROyY61gE)

  • Ulil Abshar Abdalla berkata,

“Ahmadiyah memang Islam. Syarat Islam kan bersyahadat, salat, puasa, zakat, haji. Mereka melakukan semuanya.” (m.republika.co.id 7/8/2015. Twitternya @ulil)

  • Said Aqil Siradj

“Ahmadiyah itu mau dibagaimanakan lagi? Itu kan saudara kita sebangsa setanah air.”

“Ini ukhuwah wathoniyah. Yang terpenting tidak melanggar undang-undang.” (m.okezone.com 14/11/2013)

Demikianlah sikap Islam Nusantara terhadap aliran sesat Ahmadiyah yang diwakili oleh tiga orang pegiat sejatinya.

Gus Dur akan terus mempertahankan Ahmadiyah, selama masih hidup. Allahul Musta’an.

Ulil Abshar Abdalla dengan entengnya mengatakan, “Ahmadiyah mmg Islam. Syarat Islam kan bersyahadat…..,” tanpa memperhitungkan sama sekali pembatal-pembatal keislaman. Seperti keyakinan adanya nabi baru setelah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan keyakinan adanya kitab suci baru setelah al-Qur’an.

Adapun Said Aqil Siradj, dengan pasrah berkata, “Ahmadiyah itu mau dibagaimanakan lagi?” Dalihnya, saudara sebangsa setanah air alias ukhuwah wathaniyah.

Yang cukup mengherankan, Jemaat Ahmadiyah Indonesia mendapat undangan istimewa dalam acara Silaturahmi dan Dialog Kultural Jaringan Lintas Iman Nusantara yang diadakan pada tanggal 1 Agustus 2015 di arena Muktamar NU ke-33, De-Nala Foodcourt, Jombang, Jawa Timur.

Apakah acara tersebut sebagai salah satu refleksi dari Islam Nusantara, yang kala itu dijadikan tema utama muktamar? Wallahu a’lam, yang jelas acara ini dipelopori dan dimoderatori oleh Aan Anshari, seorang aktivis muda NU Jombang sekaligus ketua Gusdurian Jawa Timur. Tema yang diangkat adalah “Meneguhkan Indonesia Sebagai Rumah Bersama.” (NU online/www.gusdurianmalang.net)

Pada acara itu hadir perwakilan dari lintas agama, termasuk utusan Ahmadiyah yang diwakili oleh Syaeful Uyun, didampingi Basuki Ahmad dan 12 anggota jemaat lainnya.

Uniknya, Syaeful Uyun menjadi salah satu narasumber pada acara tersebut. Orang-orang Ahmadiyah pun ramai mengeksposnya dalam beberapa media sosial mereka, antara lain wartaahmadiyah.org.

Bahkan, dengan bangga mereka unggah dalam akun twitter Ahmadiyah Indonesia @AhmadiyahID (4/8/2015), “Ahmadiyah menjadi pembicara dalam Silaturahmi dan Dialog Kultural Jaringan Lintas Iman Nusantara.”

Demikianlah sikap para pegiat Islam Nusantara terhadap Ahmadiyah yang jelas-jelas sesat. Betapa lemahnya sikap al-bara’ (berlepas diri) mereka terhadap aliran-aliran sesat. Wallahul Musta’an.

Ditulis oleh al-Ustadz Ruwaifi’ bin Sulaimi, Lc.