Meraih Keberkahan Hidup dengan Tawakal

Di antara keistimewaan Nabi Isa adalah beliau dianugerahi keberkahan di mana pun berada. Hal ini disebutkan dalam surat Maryam ayat: 31,

وَجَعَلَنِي مُبَارَكًا أَيۡنَ مَا كُنتُ

“Dan Dia (Allah) menjadikan aku seorang yang diberkahi di mana saja aku berada.”

Lanjutkan membaca Meraih Keberkahan Hidup dengan Tawakal

Kemuliaan Akhlak Muslimah (2)

Mencurahkan Segala yang Ma’ruf

Yang dimaksud dengan al-ma’ruf adalah semua yang dianggap baik oleh syariat. (at-Ta’rifat hlm. 215, al-Jurjani)

Kata Fadhilatusy Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah, ma’ruf adalah urusan yang dikenali manusia sebagai kebaikan atau yang dikenali sebagai kebaikan menurut syariat. Apabila hal tersebut terkait dengan ibadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala, ma’ruf adalah urusan yang dikenali kebaikannya dalam syariat. Apabila terkait dengan muamalah bersama manusia, ma’ruf berarti urusan yang dikenali kebaikannya oleh manusia.” (Syarh Riyadhish Shalihin, 1/541) Lanjutkan membaca Kemuliaan Akhlak Muslimah (2)

Kemuliaan Akhlak Muslimah

Dalam sebuah hadits yang agung, tersebut sabda Khairul Anam shallallahu ‘alaihi wa salam,

إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الْأَخْلاَقِ

“Hanyalah aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR. al-Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad, dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, dinyatakan sahih dalam ash-Shahihah no. 45) Lanjutkan membaca Kemuliaan Akhlak Muslimah

Akhlak Seorang Dai

Mengajak manusia kepada agama Allah subhanahu wa ta’ala (berdakwah) adalah sebaik-baik amalan. Orang yang menjalankannya merupakan manusia pilihan. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَمَنۡ أَحۡسَنُ قَوۡلٗا مِّمَّن دَعَآ إِلَى ٱللَّهِ وَعَمِلَ صَٰلِحٗا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ ٱلۡمُسۡلِمِينَ ٣٣

Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata, “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri?” (Fushshilat: 33)

Lanjutkan membaca Akhlak Seorang Dai

Mengoreksi Perilaku Para Dai

Al-Imam al-Bukhari rahimahullah berkata,

عَنْ أَبيْ مَسْعُودٍ أَنَّ رَجُلًا قَالَ: وَا يَا رَسُولَ ا إِنِّي لَأَتَأَخَّرُ عَنْ صَلَاةِ الْغَدَاةِ مِنْ أَجْلِ فُلَانٍ مِمَّا يُطِيلُ بِنَا

فَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ ا فِي مَوْعِظَةٍ أَشَدَّ غَضَبًا مِنْهُ يَوْمَئِذٍ ثُمَّ قَالَ: إِنَّ مِنْكُمْ مُنَفِّرِينَ فَأَيُّكُمْ  مَا صَلَّى بِالنَّاسِ فَلْيَتَجَوَّزْ فَإِنَّ فِيهِمْ الضَّعِيفَ وَالْكَبِيرَ وَذَا الْحَاجَةِ

Dari Abu Mas’ud radhiallahu ‘anhu, seseorang datang mengadu, “Wahai Rasulullah, demi Allah, aku sengaja mengakhirkan shalat subuh karena perbuatan fulan. Ia memanjangkan (bacaan shalat) saat mengimami kami.”

Abu Mas’ud berkata, “Sungguh, aku belum pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat marah ketika menyampaikan peringatan melebihi kemarahan beliau pada hari tersebut.”

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh, di antara kalian ada ,lorang yang membuat manusia lari! Siapa pun di antara kalian mengimami manusia, ringankanlah! Sebab, di antara mereka ada orang yang lemah, tua renta, atau memiliki keperluan.”

  Lanjutkan membaca Mengoreksi Perilaku Para Dai

Hamba Senantiasa Membutuhkan Kesabaran

Seorang hamba tidak terlepas dari menjalankan perintah yang wajib dia laksanakan, larangan yang wajib untuk dia tinggalkan, takdir yang pasti terjadi, dan kenikmatan yang wajib dia syukuri kepada Pemberinya. Karena semua keadaan ini tidak mungkin lepas darinya, dia pun wajib bersabar sampai meninggal. Lanjutkan membaca Hamba Senantiasa Membutuhkan Kesabaran

Mari Perbagus Akhlak Kita

KHUTBAH PERTAMA

إِنَّ الْحَمْدَ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِۦ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسۡلِمُونَ ١٠٢

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ ٱتَّقُواْ رَبَّكُمُ ٱلَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفۡسٖ وَٰحِدَةٖ وَخَلَقَ مِنۡهَا زَوۡجَهَا وَبَثَّ مِنۡهُمَا رِجَالٗا كَثِيرٗا وَنِسَآءٗۚ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ ٱلَّذِي تَسَآءَلُونَ بِهِۦ وَٱلۡأَرۡحَامَۚ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلَيۡكُمۡ رَقِيبٗا ١

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَقُولُواْ قَوۡلٗا سَدِيدٗا ٧٠ يُصۡلِحۡ لَكُمۡ أَعۡمَٰلَكُمۡ وَيَغۡفِرۡ لَكُمۡ ذُنُوبَكُمۡۗ وَمَن يُطِعِ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ فَقَدۡ فَازَ فَوۡزًا عَظِيمًا ٧١

أَمَّا بَعْدُ: فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كَلَامُ اللهِ وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ وَشَرَّ اْلأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ. أَمَّا بَعْدُ؛

 

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Segala puji bagi Allah ‘azza wa jalla yang telah menciptakan manusia dan mengaruniai mereka akal. Saya bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak untuk diibadahi dengan benar selain Allah ‘azza wa jalla semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Saya bersaksi pula bahwa Nabi Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, tidak ada nabi setelahnya.

Shalawat dan salam semoga senantiasa Allah ‘azza wa jalla curahkan kepada pemimpin para nabi, Nabi kita Muhammad, keluarganya, para sahabatnya, dan kaum muslimin yang senantiasa mengikuti petunjuknya.

 

Hadirin rahimakumullah,

Manusia telah mengenal agama ini, pengajarannya yang sempurna, dan seruannya menuju adab yang tinggi serta akhlak yang utama. Telah datang pula anjuran untuk berakhlak mulia dalam Kitabullah dan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam banyak hadits. Oleh karena itu, kita dapati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam—yang wajib kita teladani dan kita tiru amalannya— dalam kitab ash-Shahih dari Anas radhiallahu ‘anhu,

وَكَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآنَ

“Akhlak beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah al-Qur’an.”

Ketika ditanya tentang akhlak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Aisyah radhiallahu ‘anha berkata,

كَانَ النَّبِيُّ أَحْسَنَ النَّاسِ أَخْلَاقًا

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling baik akhlaknya.”

Karena itu pula, Anas radhiallahu ‘anhu berkata,

خَدَمْتُ رَسُولَ اللهِ عَشْرَ سِنِينَ، وَاللهِ مَا قَالَ لِي أُفًّا قَطُّ، وَلَا قَالَ لِي لِشَيْءٍ لِمَ فَعَلْتَ كَذَا، وَهَلَّا فَعَلْتَ كَذَا

“Aku melayani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam selama sepuluh tahun. Demi Allah, beliau tidak pernah sekali pun berkata kepadaku “Ah”. Tidak pula beliau berkata, “Mengapa engkau berbuat begini? Tidakkah engkau melakukan demikian?”

Ini menunjukkan kesempurnaan akhlak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika bergaul dengan para sahabat dan pembantu beliau.

Disebutkan dalam Shahih Muslim dari hadits an-Nawwas bin Sam’an radhiallahu ‘anhu, bahwa kata al-birr (kebajikan) ditafsirkan sebagai kebagusan akhlak.

Dari Abdullah bin Amr bin al-‘Ash radhiallahu ‘anhuma,

 لَمْ يَكُنْ رَسُولُ اللهِ فَاحِشًا وَلَا مُتَفَحِّشًا وَإِنَّهُ كَانَ يَقُولُ: إِنَّ خِيَارَكُمْ أَحَاسِنُكُمْ أَخْلَاقًا

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sama sekali bukan orang yang berkata keji atau menyengaja berkata keji. Beliau bersabda, “Yang terbaik di antara kalian ialah yang paling bagus akhlaknya.” (Muttafaqun alaih)

Akhlak yang baik termasuk sesuatu yang paling berat dalam timbangan pada hari kiamat ketika amalan-amalan ditimbang. Hal ini sebagaimana dalam hadits Abu ad-Darda radhiallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا شَيْءٌ أَثْقَلُ فِي مِيزَانِ الْمُؤْمِنِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ خُلُقٍ حَسَنٍ، وَإِنَّ اللهَ لَيُبْغِضُ الْفَاحِشَ الْبَذِيءَ

“Tidak ada sesuatupun yang lebih berat dalam timbangan seorang mukmin selain akhlak yang baik. Sungguh, Allah membenci orang yang berkata keji dan kotor.” (HR. at-Tirmidzi, dan beliau katakan, “Hadits hasan sahih.”)

 

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Akhlak yang baik termasuk amalan yang banyak menyebabkan orang masuk surga. Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu,

سُئِلَ رَسُولُ اللهِ عَنْ أَكْثَرِ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ الْجَنَّةَ فَقَالَ: تَقْوَى اللهِ وَحُسْنُ الْخُلُقِ. وَسُئِلَ عَنْ أَكْثَرِ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ النَّارَ فَقَالَ: الْفَمُ وَالْفَرْجُ

Rasulullah ditanya tentang sesuatu yang paling banyak memasukkan orang ke dalam surga. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Takwa kepada Allah dan akhlak yang bagus.” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga ditanya tentang sesuatu yang paling banyak memasukkan orang ke dalam neraka, beliau menjawab, “Mulut dan kemaluan.”

Maksudnya, kemaksiatan yang dilakukan dengan mulut—seperti ghibah, namimah, dan lainnya—serta kemaksiatan yang dilakukan dengan kemaluan.

88

Hadirin rahimakumullah,

Akhlak yang bagus akan menyempurnakan iman seseorang. Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا، وَخِيَارُكُمْ خِيَارُكُمْ لِنِسَائِهِمْ

“Mukmin yang paling sempurna imannya ialah yang paling bagus akhlaknya, dan yang terbaik di antara kalian ialah yang terbaik terhadap istrinya.” (HR. at-Tirmidzi)

Seorang mukmin, bisa jadi tidak termasuk orang yang sering berpuasa dan shalat malam. Akan tetapi, dengan akhlaknya yang bagus, dia digolongkan ke dalam derajat dan kedudukan mereka. Dari Aisyah radhiallahu ‘anha, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ الْمُؤْمِنَ لَيُدْرِكُ بِحُسْنِ خُلُقِهِ دَرَجَةَ الصَّائِم اِلْقَائِم

“Sungguh, dengan kebagusan akhlaknya, seorang mukmin mencapai derajat orang yang puasa dan shalat malam.” (HR. Abu Dawud)

Bahkan, Allah ‘azza wa jalla menjanjikan sebuah rumah di surga yang tertinggi bagi orang yang bagus akhlaknya dan memperlakukan orang lain sebagaimana dia ingin diperlakukan oleh orang lain. Dari Abu Umamah al-Bahili radhiallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,

أَنَا زَعِيمٌ بِبَيْتٍ فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَإِنْ كَانَ مُحِقًّا، وَبِبَيْتٍ فِي وَسَطِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْكَذِبَ وَإِنْ كَانَ مَازِحًا، وَبِبَيْتٍ فِي أَعْلَى الْجَنَّةِ لِمَنْ حَسُنَ خُلُقُهُ

“Aku menjamin sebuah rumah di tepian surga bagi yang meninggalkan perdebatan meski dia di pihak yang benar, (aku menjamin) sebuah rumah di tengah surga bagi yang meninggalkan dusta meski dalam hal bercanda, dan (aku menjamin) di bagian surga yang tertinggi bagi yang bagus akhlaknya.” (HR. Abu Dawud)

Orang-orang yang bagus akhlaknya memiliki tempat duduk yang terdekat dan orang yang paling dicintai oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada hari kiamat. Dari Jabir radhiallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ مِنْ أَحَبِّكُمْ إِلَيَّ وَأَقْرَبِكُمْ مِنِّي مَجْلِسًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَحَاسِنَكُمْ أَخْلَاقًا وَإِنَّ أَبْغَضَكُمْ إِلَيَّ وَأَبْعَدَكُمْ مِنِّي مَجْلِسًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ الثَّرْثَارُونَ وَالْمُتَشَدِّقُونَ وَالْمُتَفَيْهِقُونَ. قَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ، قَدْ عَلِمْنَا الثَّرْثَارُونَ وَالْمُتَشَدِّقُونَ، فَمَا الْمُتَفَيْهِقُونَ؟ قَالَ: الْمُتَكَبِّرُونَ

“Di antara orang yang paling dekat tempat duduknya dariku nanti pada hari kiamat ialah orang yang terbagus akhlaknya di antara kalian, sedangkan yang terjauh tempat duduknya dariku ialah ats-tsartsarun, al-mutasyaddiqun, dan al-mutafaiqihun.”

Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, kami telah mengetahui atstsartsarun dan al-mutasyaddiqun. Lantas, apa itu al-mutafaiqihun?”

Beliau menjawab, “Orang-orang yang sombong.” (HR. at-Tirmidzi)

Makna ats-tsartsarun ialah orang yang banyak berbicara dengan memberat-berati diri.

Adapun al-mutasyaddiqun ialah orang yang panjang omongannya ketika berbicara dengan manusia.

Adapun al-mutafaiqihun, sebagaimana disebutkan dalam hadits, maknanya ialah orang yang sombong dan merasa lebih tinggi daripada orang lain.

Semua sifat ini berlawanan dengan akhlak yang bagus. Orang yang memiliki sifat di atas merupakan orang yang paling dibenci oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan paling jauh tempat duduknya dari beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.

 

Hadirin rahimakumullah,

Ayat-ayat dan hadits-hadits yang menganjurkan kita berhias dengan akhlak dan adab yang bagus sangatlah banyak. Kita memohon kepada Allah ‘azza wa jalla agar memperbagus akhlak kita dan mengangkat derajat kita.

أَقُولُ مَا تَسْمَعُونَ وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيمَ لِي وَلَكُمْ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

 

KHUTBAH KEDUA

الْحَمْدُ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُولِ اللهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنِ اتَّبَعَ هُدَاهُ،

أَمَّا بَعْدُ:

Hadirin rahimakumullah,

Setelah kita mengetahui pentingnya kebagusan akhlak dan adab yang utama, sangat baik apabila kita bawakan beberapa contohnya.

Di antara yang terdapat dalam hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah yang diriwayatkan oleh at-Tirmidzi rahimahullah, dari Abdullah bin Mubarak rahimahullah, tentang penafsiran akhlak yang bagus, “Wajah yang berseri-seri, menyajikan kebaikan, menahan diri sehingga tidak mengganggu (orang lain).”

Di antara bentuk kebagusan akhlak yang lain ialah menyebarkan salam, sebagaimana dalam hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

تَقْرَأُ السَّلَامَ عَلَى مَنْ عَرَفْتَ وَمَنْ لَمْ تَعْرِفْ

“Engkau ucapkan salam kepada yang engkau kenal dan yang tidak.” (HR. al-Bukhari)

Di antaranya pula ialah menunaikan hak-hak sesama muslim, sebagaimana disebutkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

حَقُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ خَمْسٌ: رَدُّ السَّلَامِ وَعِيَادَةُ الْمَرِيضِ وَاتِّبَاعُ الْجَنَائِزِ وَإِجَابَةُ الدَّعْوَةِ وَتَشْمِيتُ الْعَاطِسِ

“Hak muslim terhadap muslim lainnya ada lima: membalas salam, menjenguk yang sakit, mengikuti jenazah, memenuhi undangan, dan menjawab doa orang yang bersin.” (HR. al-Bukhari)

Al-Bara’ bin Azib radhiallahu ‘anhu mengatakan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintah kami untuk menjenguk orang yang sakit, mengikuti jenazah, mendoakan orang yang bersin, menerima sumpah, menolong orang yang terzalimi, memenuhi undangan, dan menyebarkan salam.”

 

Hadirin sidang Jumat rahimakumullah

Di antara bentuk akhlak yang bagus ialah sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ وَيَكْرَهُ لَهُ مَا يَكْرَهُ لِنَفْسِهِ

“Tidak beriman salah seorang di antara kalian hingga dia mencintai untuk saudaranya apa yag dia cintai untuk dirinya sendiri, dan membenci bagi saudaranya sesuatu yang juga dia benci bagi dirinya sendiri.”

Di antara bentuk akhlak yang bagus ialah al-hilm (tenang, santun), lemah lembut, dan tidak tergesa-gesa (dalam hal berbicara/bertindak).

Dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada al-Asyaj bin Abdil Qais,

إِنَّ فِيكَ خَصْلَتَيْنِ يُحِبُّهُمَا اللهُ: الْحِلْمُ وَالْأَنَاةُ

“Sungguh, pada dirimu ada dua sifat yang dicintai oleh Allah: santun dan tidak tergesa-gesa.” (HR. Muslim)

Dari Aisyah radhiallahu ‘anha, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اللهَ رَفِيقٌ يُحِبُّ الرِّفْقَ وَيُعْطِي عَلَى الرِّفْقِ مَا لَا يُعْطِي عَلَى الْعُنْفِ وَمَا لَا يُعْطِي عَلَى مَا سِوَاهُ

“Sungguh, Allah itu Mahalembut dan mencintai kelemahlembutan. Allah memberi kepada kelemahlembutan apa yang tidak Dia berikan kepada sikap kaku/kasar, dan apa yang tidak Dia beri kepada selainnya.” (HR. Muslim)

Masih banyak bentuk akhlak utama lainnya yang disebutkan oleh Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Oleh karena itu, saya wasiatkan kepada diri saya sendiri dan saudara-saudara saya para penuntut ilmu, para dai, serta semua orang secara umum, untuk menghiasi diri dengan akhlak yang bagus dan pergaulan yang baik dengan orang lain, bersikap rendah hati dan berlemah lembut terhadap orang lain. Dari sinilah, dakwah akan menghasilkan buahnya. Manusia pun akan menyambut dakwah Anda.

Adapun sikap keras, hal itu terpuji pada beberapa keadaan, sesuai dengan tempatnya.

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

فَبِمَا رَحۡمَةٖ مِّنَ ٱللَّهِ لِنتَ لَهُمۡۖ وَلَوۡ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ ٱلۡقَلۡبِ لَٱنفَضُّواْ مِنۡ حَوۡلِكَۖ فَٱعۡفُ عَنۡهُمۡ وَٱسۡتَغۡفِرۡ لَهُمۡ وَشَاوِرۡهُمۡ فِي ٱلۡأَمۡرِۖ فَإِذَا عَزَمۡتَ فَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱللَّهِۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلۡمُتَوَكِّلِينَ ١٥٩

“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.” (Ali Imran: 159)

وَٱخۡفِضۡ جَنَاحَكَ لِمَنِ ٱتَّبَعَكَ مِنَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ٢١٥

“Dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang beriman.” (asy-Syu’ara: 215)

Ya Allah, kami memohon kepada-Mu agar diberi anugerah akhlak yang bagus. Ya Allah, kami berlindung dari akhlak yang buruk.

اللَّهُمَّ ا غْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَ ا لْمُسْلِمَاتِ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ،

 رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ، وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ

Tiga Hal yang Menyelamatkan

Ketika Iblis dikutuk oleh Allah ‘azza wa jalla dan dikeluarkan dari jannah (surga) karena membangkang terhadap perintah-Nya, ia bersumpah di hadapan Allah ‘azza wa jalla untuk menyesatkan bani Adam dari jalan Allah ‘azza wa jalla. Tujuannya agar mereka menjadi teman-temannya dalam api neraka.

Ancaman Iblis ini tidak hanya isapan jempol, tetapi ia buktikan dengan mengirim bala tentaranya ke seluruh penjuru bumi. Disesatkannya bani Adam dengan beragam bujuk rayu dan janji-janji yang menipu. Tiada yang selamat dari kejahatan Iblis beserta kroni-kroninya kecuali orang yang mendapat perlindungan dari Allah ‘azza wa jalla.

Akan tetapi, Allah Maha Pengasih terhadap hamba-Nya. Tidak dibiarkan para hamba menjadi santapan empuk makhluk jahat tersebut. Melalui lisan Rasul-Nya, Allah ‘azza wa jalla telah menjelaskan jalan-jalan keselamatan dari kejelekan Iblis, bahkan kejelekan dunia dan akhirat.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ثَلَاثٌ مُنْجِيَاتٌ : خَشْيَةُ اللهِ تَعَالَى فِي السِّرِّوَالْعَلَانِيَّةِ، وَالْعَدْلُ فِي الرِّضَا وَالْغَضَبِ، وَالْقَصْدُ فِي الْفَقْرِ وَالْغِنَى

“Tiga hal yang menyelamatkan: takut kepada Allah ‘azza wa jalla saat sendirian dan di hadapan orang,bersikap adil saat senang dan marah dan bersikap pertengahan di saat fakir dan kaya.” (HR. Abu asy-Syaikh dalam at-Taubikh dan ath-Thabarani dalam al-Ausath dari Anas radhiallahu ‘anhu. Asy-Syaikh al-Albani menyatakan hasan dengan banyaknya jalan periwayatan. Lihat ash-Shahihah no. 1082)

Al-Hasan al-Bashri rahimahullah berkata, “Empat perkara yang siapa memilikinya akan dijaga oleh Allah ‘azza wa jalla dari setan dan dicegah dari api neraka, yaitu mampu mengendalikan dirinya di saat senang, pada saat takut, saat dorongan syahwat, dan saat marah.” (al-Wafi fi Syarhil Arba’in hlm. 103)

 Tiga-Jari

Takut kepada Allah

Seperti telah disebutkan di atas bahwa manusia menjadi target setan untuk disesatkan dari jalan Allah ‘azza wa jalla. Apabila seseorang tidak memiliki perisai yang tangguh, akan sangat mudah bagi setan untuk mencelakakannya.

Di antara perisai yang kuat adalah sikap takut kepada Allah ‘azza wa jalla dalam segala keadaan. Ketika seorang memiliki sikap takut kepada Allah ‘azza wa jalla dan merasa selalu diawasi oleh-Nya, dia akan menjalankan perintah-perintah agama dan menjauhi larangan-larangannya. Dengan demikian, dia akan selamat dan sukses dunia serta akhiratnya.

Akan tetapi, rasa takut kepada Allah ‘azza wa jalla tidak akan muncul kecuali dari orang yang mengenal keagungan Allah ‘azza wa jalla, kerasnya siksa dan kemampuan-Nya untuk membalas perbuatan hamba- Nya. Tanpa mengenal Allah ‘azza wa jalla dengan sebenar-benar pengenalan, maka rasa takut kepada Allah ‘azza wa jalla mustahil akan muncul, sebagaimana dikatakan, “Tak kenal maka tak sayang.”

Allah ‘azza wa jalla berfirman.

        إِنَّمَا يَخۡشَى ٱللَّهَ مِنۡ عِبَادِهِ ٱلۡعُلَمَٰٓؤُاْۗ إِنَّ ٱللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ ٢٨

“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama.” (Fathir: 28)

Karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling kenal dengan Allah ‘azza wa jalla, maka beliau adalah orang yang paling takut kepada-Nya. Orang yang membaca sirah/perjalanan hidup Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akan menemukan buktinya. Apabila dalam shalat beliau membaca ayat yang berkaitan dengan azab, beliau memohon perlindungan kepada Allah ‘azza wa jalla dari azab. Bahkan, beliau terkadang menangis dalam shalatnya.

Orang yang mengenal Allah ‘azza wa jalla dengan sepenuh pengenalan akan merasa ucapan dan perbuatannya selalu dipantau, baik ketika sendirian maupun di hadapan orang. Inilah rasa takut yang benar, bukan seperti umumnya orang yang menampakkan seolah-olah takut dan taat kepada Allah ‘azza wa jalla ketika di hadapan banyak orang, namun saat sendiri berani bermaksiat kapada Allah ‘azza wa jalla.

Allah ‘azza wa jalla memuji orang yang takut kepada-Nya saat sendirian, sebagaimana firman-Nya,

إِنَّ ٱلَّذِينَ يَخۡشَوۡنَ رَبَّهُم بِٱلۡغَيۡبِ لَهُم مَّغۡفِرَةٞ وَأَجۡرٞ كَبِيرٞ ١٢

“Sesungguhnya orang-orang yang takut kepada Rabbnya yang tidak tampak oleh mereka, mereka akan memperoleh ampunan dan pahala yang besar.” (al-Mulk: 12)

Rasa takut kepada Allah ‘azza wa jalla merupakan faktor pendorong yang kuat untuk meninggalkan larangan Allah ‘azza wa jalla.

Sebagian salaf berkata, “Orang yang takut bukan (hanya) yang menangis dan menitikan air mata. Orang yang takut (sesungguhnya) ialah orang yang meninggalkan apa yang perkara haram yang ia sukai padahal dia mampu untuk menjalankannya.”

Dari penjelasan ini, kita mengetahui sangat besar pula pahala orang yang melakukan ketaatan kepada Allah ‘azza wa jalla dengan sembunyi-sembunyi, hanya antara ia dan Allah ‘azza wa jalla. Demikian pula orang yang meninggalkan yang haram dalam kondisi sunyi padahal ia mampu melakukannya. Hal ini sebagaimana tersebut dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim tentang tujuh golongan yang dinaungi dengan naungan Allah ‘azza wa jalla pada hari yang tiada naungan selainnaungan-Nya.

Di antara mereka ialah seorang yang berzikir mengingat Allah ‘azza wa jalla saat sendirian lalu meneteskan air matanya, dan seseorang yang bersedekah dengan sembunyi-sembunyi hingga tangan kirinya tidak tahu apa yang disedekahkan oleh tangan kanannya. Dalam hadits tersebut juga disebutkan tentang seorang lelaki yang diajak berbuat zina oleh seorang wanita yang cantik dan bangsawan lantas ia berkata, “Aku takut kepada Allah ‘azza wa jalla, Rabb alam semesta.”

 

Bersikap Adil Saat Senang dan Marah

Hal ini tidak mudah tentunya, karena umumnya manusia menjadi buta dan tuli apabila mencintai sesuatu. Maksudnya, ia tidak memandang kejelekan yang ada pada yang dicintainya sebagai suatu kejelekan, sebagaimana ia tuli dan tidak bisa mendengarkan nasihat tentangbahayanya apa yang ia cintai. Berbeda halnya dengan seseorang yang membenci sesuatu (walaupun menurut timbangan syariat bukan sesuatu yang harus dibenci), ia akan mencari-cari kelemahan yang dibencinya.

Karena itu, sikap yang adil dan berucap yang benar menjadi sesuatu yang sangat langka kita jumpai di tengahtengah masyarakat. Bagaimana tidak?! Tidak jarang kita dapati di tengah-tengah masyarakat, orang yang berlaku zalim terhadap orang lain karena cintanya terhadap orang tersebut. Segala kritikan membangun yang diarahkan kepada orang yang dicintainya akan dia tolak mentah-mentah. Terkadang dia justru melakukan perlawanan secara fisik demi membela orang yang dicintainya, meskipun ia salah secara timbangan agama. Inilah yang dinamakan fanatik buta.

Misal yang sangat nyata adalah para pengagum Sayid Quthub. Mereka membela Sayid Quthub mati-matian, seolah-olah ia seorang nabi yang maksum. Namun, di sisi lain mereka menjelek-jelekkan para ulama, semisal asy-Syaikh Rabi’, yang membeberkan kekeliruan Sayid Quthub dalam kitab-kitabnya, terutama kitab tafsir Fi Zhilalil Qur’an, yang lebih memiliki corak tafsir secara sastra. Asy-Syaikh Rabi’ melakukan kritikan terhadap kesalahan-kesalahan Sayid Quthub seperti ini sebagai wujud membentengi umat dari kebatilan dan agar kesalahan-kesalahan Sayid Quthub tidak diikuti.

Demikian pula, kadang ada orang tua yang melebihkan pemberian kepada anak yang dicintainya daripada anak-anaknya yang lain hingga timbul keretakan di tengah-tengah keluarga. Ini sebabnya karena tidak mengikuti bimbingan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan memperturuti nafsu yang sesat.

Seperti itu pula halnya, sulit bagi seseorang untuk bersikap adil di kala ia marah. Sebab, saat marah, biasanya orang lebih suka memperturuti hawa nafsunya dan sulit mengendalikan dirinya. Orang yang marah fisiknya goncang dan benaknya kacau. Oleh karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang seorang hakim memutuskan perkara dalam keadaan marah, sebagaimana hadits riwayat Muslim, at-Tirmidzi, dan an-Nasai dari Abu Bakrah radhiallahu ‘anhu.

Sikap adil dan ucapan yang benar hendaknya selalu dipegang erat oleh seorang muslim, baik terhadap kawan maupun lawan, sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah ‘azza wa jalla. Hal ini tentu menjadi salah satu di antara sekian banyak keindahan agama Islam ini. Sejarah menjadi saksi tentang indahnya Islam yang bisa dirasakan oleh kaum muslimin, bahkan oleh orang kafir sekalipun.

Disebutkan dalam hadits sahih riwayat al-Bukhari dan Muslim bahwa dahulu ada seorang wanita dari kabilah Makhzum mencuri dan akan dipotong tangannya. Keluarga wanita tersebut tidak ingin tangan wanita itu dipotong. Mereka pun mencari seorang sahabat agar menyampaikan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam supaya wanita itu tidak dipotong tangannya. Mereka menemukan sahabat yangdicintai oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu Usamah bin Zaid radhiallahu ‘anhuma, dan meminta kepadanya untuk menyampaikan pesan mereka kepadaNabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Usamah menyampaikan pesan mereka. Nabi pun menegurnya seraya mengatakan, “Seandainya Fathimah binti Muhammad mencuri, niscaya akan aku potong tangannya.”

Di kala seorang marah, sulit baginya untuk mengontrol ucapan dan perbuatannya. Karena itu, dahulu dikatakan, “Kemarahan awal timbulnya seperti kegilaan, dan ujungnya hanyalah penyesalan.”

Allah ‘azza wa jalla memuji orang yang menahan amarahnya dan mempersiapkan bagi mereka surga yang penuh kenikmatan. Firman Allah ‘azza wa jalla,

وَسَارِعُوٓاْ إِلَىٰ مَغۡفِرَةٖ مِّن رَّبِّكُمۡ وَجَنَّةٍ عَرۡضُهَا ٱلسَّمَٰوَٰتُ وَٱلۡأَرۡضُ أُعِدَّتۡ لِلۡمُتَّقِينَ ١٣٣

ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ فِي ٱلسَّرَّآءِ وَٱلضَّرَّآءِ وَٱلۡكَٰظِمِينَ ٱلۡغَيۡظَ وَٱلۡعَافِينَ عَنِ ٱلنَّاسِۗ وَٱللَّهُ يُحِبُّ ٱلۡمُحۡسِنِينَ ١٣٤

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Rabbmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, serta orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (Ali Imran: 133—134)

Syariat memandang bahwa orang yang memperturuti nafsu amarahnya dan tidak mampu mengendalikan dirinya adalah orang lemah yang telah dikuasai oleh kejelekan.

Apabila dirunut, marah itu timbulnya dari setan. Maka dari itu, ketika marah seseorang dianjurkan berta’awudz (berlindung) kepada Allah ‘azza wa jalla dari setan.

Al-Imam al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan bahwa dahulu ada dua orang sahabat bertengkar di sisi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Salah satunya mencela temannya dalam kondisi marah dan wajahnya memerah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya aku tahu suatu kalimat yang apabila ia ucapkan niscaya akan hilang darinya apa yang ia alami. Seandainya ia membaca,

أَعُوذُ باِللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

“Aku berlindung kepada Allah ‘azza wa jalla dari setan yang terkutuk.”

Malik bin Dinar berkata, “Sejak aku mengenal orang, aku tidak memedulikan pujian mereka dan tidak pula celaan mereka. Sebab, aku tidak melihat kecuali orang yang berlebih-lebihan ketika memuji atau mencela.” (Syarh Hadits “Allahumma bi’ilmikal ghaib” karya Ibnu Rajab hlm. 47)

 

Bersikap Sederhana Saat Miskin dan Kaya

Sikap seperti ini juga tidak semudah yang dibayangkan. Saat miskin, terkadang seorang berbuat sesuatu yang melanggar aturan agama, misalnya mencari penghasilan dengan cara-cara yang dilarang. Demikian pula terkadang ia menjadi kikir untuk beramal dan berinfak karena takut hartanya habis. Sebaliknya ketika seorang kondisinya kaya, ia cenderung berfoya-foya dan melampaui batas, bahkan menggunakan nikmat untuk bermaksiat.

Seorang muslim dibimbing untuk bersikap lurus dalam dua keadaan tersebut. Dia memandang bahwa nikmat adalah ujian, sebagaimana penyakit dan kefakiran adalah cobaan.

Seorang mukmin sejati akan selalu meniru kehidupan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang terkumpul padanya sikap syukur dan sabar. Apabila punya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak kikir barang sedikit pun. Bahkan, orang yang meminta kepadanya tidak akan pulang dengan tangan hampa. Di kala punya, beliau memberi dengan pemberian orang yang tidak takut fakir karena percaya kepada Allah ‘azza wa jalla. Ketika haji wada’ beliau berkurban dengan seratus ekor unta.

Sikap yang pertengahan seperti ini pula yang beliau contohkan. Di saat sulit dan sempit beliau bersabar dan tidak mengeluh. Beliau tinggal beserta keluarganya sekian hari lamanya tanpa ada yang dimakan selain kurma dan yang diminum hanya air biasa. Ketika beliau mendatangi sebagian istrinya pada suatu hari dan menanyakan adakah makanan pada mereka, lalu dijawab bahwa tidak ada, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Kalau begitu, aku berpuasa.”

Ibnu Rajab rahimahullah berkata, “Apabila seseorang itu fakir, (hendaknya) ia tidak kikir karena takut hartanya habis, namun juga tidak boros sehingga terbebani dengan sesuatu yang sulit baginya.”

Hal ini sebagaimana bimbingan Allah ‘azza wa jalla kepada Nabi-Nya dalam firman-Nya,

وَلَا تَجۡعَلۡ يَدَكَ مَغۡلُولَةً إِلَىٰ عُنُقِكَ وَلَا تَبۡسُطۡهَا كُلَّ ٱلۡبَسۡطِ فَتَقۡعُدَ مَلُومٗا مَّحۡسُورًا ٢٩

“Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu (kikir) dan janganlah kamu terlalu mengulurkannya (berlebihan dalam membelanjakan) karena itu kamu menjadi tercela dan menyesal.” (al-Isra’: 29)

Apabila seorang itu kaya, janganlah kekayaannya mendorongnya bersikap boros dan melampaui batas. Hendaknya ia tetap bersikap pertengahan. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

وَٱلَّذِينَ إِذَآ أَنفَقُواْ لَمۡ يُسۡرِفُواْ وَلَمۡ يَقۡتُرُواْ وَكَانَ بَيۡنَ ذَٰلِكَ قَوَامٗا ٦٧

“Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.” (al-Furqan: 67)

Meskipun saat kaya seorang muslim melebihkan pembelanjaan hartanya dibandingkan ketika fakir, tetapi ia sederhana dan tidak berlebih-lebihan. Tidak seperti kebanyakan orang kaya yang kekayaannya menyeretnya kepada sikap melampaui batas…

Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu pernah ditegur oleh (orang) pada masa kekhalifahannya karena berpakaian sederhana. Ali radhiallahu ‘anhu menjawab bahwa hal ini lebih jauh dari sikap sombong dan lebih tepat agar beliau dicontoh oleh muslim yang lain.

Demikian pula Umar bin Abdul Aziz rahimahullah pernah ditegur di masa kepemimpinannya tentang sikap membatasi (nafkah) atas dirinya (sederhana). Beliau berkata, “Sungguh, kesederhanaan yang paling utama adalah ketika seorang itu kaya, dan pemberian maaf yang paling utama adalah ketika seorang mampu membalas.” (Syarh hadits Allahumma bi’ilmika al-ghaib hlm. 46—47)

Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

 

Ditulis Oleh: Al-Ustadz Abdul Mu’thi Sutarman, Lc.

Kejujuran

Al-Ustadz Abu Muhammad Abdul Jabbar

daunkl1daunkering

Dalam syariat Islam yang penuh keindahan ini, kejujuran adalah akhlak mulia yang sangat dijunjung tinggi, sedangkan kedustaan adalah dosa besar yang sangat dicela. Sebaliknya, dalam agama Syiah Rafidhah, taqiyyah (baca: dusta) adalah salah satu kewajiban bahkan rukun agama. Oleh karena itu, kaum Rafidah begitu dikenal sebagai kaum yang paling pendusta. Dusta adalah ciri khas bagi kaum Rafidhah.

Wajib bagi seorang muslim, seorang yang berakidah dengan akidah Ahlus Sunnah wal Jamaah untuk berhias dengan kejujuran dan meninggalkan dusta sejauh-jauhnya. Lebih-lebih lagi jika Anda adalah seorang da’i yangmenyeru ke jalan Allah ‘azza wa jalla. Sebab, kedustaan dapat merusak pemahaman Anda dan pemahaman orang-orang yang Anda dakwahi.

Simaklah peringatan al-Allamah Ibnul Qayyim rahimahullah akan bahaya dusta dalam kitab beliau, al-Fawaid, “Berhati-hatilah dari dusta! Sebab, perbuatan dusta akan merusak pemahaman Anda terhadap suatu perkara sehingga Anda tidak bisa memahaminya sebagaimana hakikatnya. Selanjutnya, dusta akan membuat Anda tidak bisa menggambarkan perkara tersebut dan menjelaskannya kepada manusia sesuai dengan keadaan sebenarnya. Sebab, seseorang yang berdusta menggambarkan sesuatu yang tidak ada menjadi ada dan sesuatu yang ada menjadi tidak ada. Dusta juga menggambarkan suatu kebenaranmenjadi kebatilan dan suatu kebatilan menjadi suatu kebenaran. Dusta dapat pula menggambarkan kebaikan sebagai suatu kejelekan dan kejelekan menjadi suatu kebaikan.

Sebagai hukuman atas perbuatan dusta tersebut, pemahaman dan ilmu seorang pendusta akan rusak. Kemudian dia akan menyampaikan pemahaman dan ilmu yang rusak kepada si pendengar yang telah teperdaya dan condong kepadanya, hingga pemahaman dan ilmu si pendengar itu juga ikut rusak. Jiwa seorang pendusta selalu berpaling dari hakikat yang ada, cenderung kepada hal yang tidak hakiki dan mengedepankan kebatilan.

Apabila pemahaman dan ilmu—yang merupakan sumber segala perbuatan—telah rusak, akan rusak pula amal perbuatannya. Sifat dusta akan menjangkiti amalan-amalannya. Munculnya amalan-amalan dari dirinya bagaikan munculnya dusta dari lisannya sehingga dia tidak mendapat manfaat dari amalan dan lisannya. Oleh karena itu, kedustaan merupakan asas perbuatan dosa, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

إِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الْفُجُورِ وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِي إِلَى النَّارِ

“Sesungguhnya dusta mengantarkan kepada perbuatan dosa, dan sesungguhnya perbuatan dosa akan mengantarkan kepada neraka.”

Awalnya, kedustaan akan menjalar dari jiwa menuju lisan kemudian merusaknya. Setelah itu, ia menjalar menuju anggota badan dan merusak amalan anggota badannya sebagaimana dusta membuat rusak ucapan-ucapan yang keluar dari lisannya. Akhirnya, kedustaan akan meliputi ucapan, amalan, dan segala kondisinya, yang akan mengantarkan pada kerusakan.

Penyakitnya ini akan melemparkannya kepada kebinasaan jika Allah ‘azza wa jalla tidak menyelamatkannya dengan obat berupa kejujuran yang akan mencabut penyakit itu hingga akarnya.

Oleh karena itu, sumber segala amalan hati adalah kejujuran, sedangkan lawannya, seperti riya’, ujub, sombong, bangga diri, angkuh, semena-mena, lemah, malas, pengecut, rendahan, dan lainnya, bersumber dari kedustaan. Setiap amalan saleh yang tampak maupun tidak tampak bersumber dari kejujuran, sedangkan setiap amalan jelek yang tampak maupun tidak tampak bersumber dari kedustaan.

Allah ‘azza wa jalla menghukum pendusta dengan membuatnya malas dan lamban dari hal-hal yang bermanfaat dan bermaslahat untuknya. Allah ‘azza wa jalla memberi ganjaran bagi orang yang jujur dengan memberinya taufik untuk mengerjakan hal yang bermanfaat untuk agama dan dunianya.

Tidak ada suatu perangai yang bisa mendatangkan kebaikan dunia dan akhirat semisal kejujuran. Tidak ada suatu perangai yang bisa mendatangkan kerusakan dunia dan akhirat semisal kedustaan. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaknya kalian bersama dengan orang-orang yang jujur.” (at-Taubah: 119)

“Ini (hari pembalasan) adalah hari yang kejujuran orang-orang jujur akan bermanfaat bagi mereka.” (al-Maidah: 119)

“Apabila telah tetap sebuah perintah, kalau seandainya mereka jujur kepada Allah (dalam melaksanakannya), maka itu akan lebih baik bagi mereka.” (Muhammad: 21)

“Dan datang (kepada Nabi) orang-orang yang mengemukakan uzur, yaitu orang-orang Arab Badui agar diberi izin bagi mereka (untuk tidak pergi berjihad), sedang orang-orang yang mendustakan Allah dan Rasul-Nya, duduk berdiam diri saja. Kelak orang-orang yang kafir di antara mereka itu akan ditimpa azab yang pedih.” (at-Taubah: 90) (al-Fawaid, hlm. 166)

Demikian peringatan keras beliau akan bahaya dusta dan akibat-akibatnya. Betapa berbahayanya sifat dusta bagi seorang muslim, lebih-lebih lagi seorang da’i. Sungguh, setiap dari kita adalah da’i bagi keluarganya.

Semoga Allah ‘azza wa jalla mengaruniakan kejujuran dalam setiap ucapan dan amal perbuatan kita semua. Wallahu a’lam.

Menjaga Kesucian Fitrah Manusia

Akhir perjalanan hidup manusia tidak ada yang bisa mengetahuinya meski saat dilahirkan diciptakan dalam keadaan memiliki fitrah yang sama. Berbagai faktor bisa menjadi penyebab seseorang keluar dari fitrahnya yang suci. Perubahan itu bisa terjadi secara perlahan-lahan bisa pula secara cepat. Salah satu faktor yang kini makin banyak membawa manusia tergelincir ke lembah kehancuran adalah harta. Untuk urusan satu ini, mayoritas manusia kini telah “menunjukkan” watak asli mereka: tidak akan pernah puas, berapa pun harta yang telah dimiliki. Sehingga untuk menghentikan nafsu mereka ini, hanya kematian yang bisa melakukannya.

Lanjutkan membaca Menjaga Kesucian Fitrah Manusia