Orang yang Bangkrut

Ketika mendengar kata bangkrut, benak kita membayangkan seorang yang hancur usahanya atau orang yang tidak lagi punya harta atau uang. Orang yang bangkrut sebelumnya memiliki sesuatu untuk menyambung hidupnya. Kini, semua itu sirna sehingga kondisinya mengenaskan dan berhak mendapatkan uluran tangan dari saudaranya.

Apa yang kita sebutkan di atas adalah kebangkrutan dalam hal harta benda yang seseorang masih mungkin untuk bangkit kembali. Atau setidaknya ada orang yang masih punya hati sehingga membantu meringankan bebannya.

Akan tetapi, hal ini akan berbeda dengan kebangkrutan pada hari kiamat nanti, hari yang tiada berguna lagi harta dan anak.

Hakikat orang yang bangkrut pada hari kiamat adalah orang yang membawa segudang amal kebaikan, tetapi dia membawa beragam kezaliman terhadap manusia, baik dalam bentuk merampas harta, melukai kehormatan, mencederai tubuh orang, atau melenyapkan nyawa orang tanpa alasan syar’i. Inilah yang dijelaskan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam haditsnya,

 

        أَتَدْرُونَ مَنِ الْمُفْلِسُ؟ قَالُوا: الْمُفْلِسُ فِينَا مَنْ دِرْهَمَ لَهُ وَلاَ مَتَاعَ. قَالَ: إِنَّ الْمَفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي مَنْ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَ ةَالٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ وَيَأْتِي وَقَدْ شَتَمَ هَذَا، وَقَذَفَ هَذَا، وَأَكَلَ مَالَ هَذَا، وَسَفَكَ دَمَ هَذَا، وَضَرَبَ هَذَا، فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ، فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَي مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ طَرِحَ فِي النَّارِ

“Tahukah kalian siapa orang yang bangkrut itu?”

Para sahabat menjawab, “Orang yang bangkrut di tengah-tengah kita adalah orang yang tidak punya dirham (uang perak) dan tidak punya harta.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Orang yang bangkrut dari umatku adalah yang datang pada hari kiamat nanti dengan membawa (amal) shalat, puasa, dan zakat, (namun) ia telah mencerca ini (seseorang), menuduh orang (berzina), memakan harta orang, menumpahkan darah orang, dan memukul orang. (Orang) ini diberi (amal) kebaikannya dan yang ini diberi dari kebaikannya. Apabila amal kebaikannya habis sebelum terbayar (semua) tanggungannya, dosa-dosa mereka (yang dizalimi) diambil lalu ditimpakan kepadanya, kemudian dia dilemparkan ke dalam neraka.” (HR. Muslim)

 

Hukuman yang Mengerikan

Orang yang menzalimi orang lain sebenarnya sedang menghancurkan dirinya sendiri, seperti dikatakan, “Barang siapa menggali lubang untuk (mencelakakan) saudaranya, ia terjatuh sendiri ke dalam lubang itu.”

Bisa dibayangkan betapa rugi dan menyesalnya orang tersebut nanti. Saat ia mengharapkan amal kebaikannya akan menolongnya dari kedahsyatan kiamat, kebaikannya justru lenyap diambil orang lain, bahkan dia dicampakkan ke dalam neraka.

Kalau orang zalim yang masih punya amal kebaikan saja seperti ini nasibnya, lantas bagaimana halnya bila dia tidak punya kebaikan sama sekali, bahkan kitab catatan amalnya semuanya berisi kejelekan?

 

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

إِنَّآ أَعۡتَدۡنَا لِلظَّٰلِمِينَ نَارًا أَحَاطَ بِهِمۡ سُرَادِقُهَاۚ وَإِن يَسۡتَغِيثُواْ يُغَاثُواْ بِمَآءٖ كَٱلۡمُهۡلِ يَشۡوِي ٱلۡوُجُوهَۚ بِئۡسَ ٱلشَّرَابُ وَسَآءَتۡ مُرۡتَفَقًا ٢٩

        “Sesungguhnya telah Kami sediakan bagi orang orang zalim itu neraka, yang gejolaknya mengepung mereka. Jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek.” (al-Kahfi: 29)

 

Tiada yang ditunggu oleh orang yang zalim kecuali kehancuran. Kekuasaan akan lenyap, keperkasaan akan sirna.

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

فَتِلۡكَ بُيُوتُهُمۡ خَاوِيَةَۢ بِمَا ظَلَمُوٓاْۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَأٓيَةٗ لِّقَوۡمٖ يَعۡلَمُونَ ٥٢

        “Maka itulah rumah-rumah mereka dalam keadaan runtuh disebabkan kezaliman mereka. Sesungguhnya pada yang demikian itu (terdapat) pelajaran bagi kaum yang mengetahui.” (an-Naml: 52)

Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma berkata, “Seandainya suatu gunung berbuat zalim terhadap gunung yang lain, maka yang zalim akan dihancurkan.” (al-Adabul Mufrad no. 601)

Kalau gunung yang materialnya batu-batu yang keras dan besar saja akan diluluhlantahkan apabila berbuat zalim, bagaimana kiranya dengan manusia yang hanya berupa daging, darah, dan tulang yang lemah?

 

Kezaliman Itu Beragam

Kezaliman itu bermacam-macam. Ada yang berkaitan dengan hak Allah ‘azza wa jalla dan ada yang berhubungan dengan hak-hak manusia.

Yang berkaitan dengan hak Allah ‘azza wa jalla adalah dengan menerjang larangan-larangan Allah ‘azza wa jalla, meninggalkan perintah-Nya, dan mendustakan berita-Nya. Kezaliman paling besar adalah menyekutukan Allah ‘azza wa jalla (syirik). Apabila orang yang menyekutukan Allah ‘azza wa jalla mati dalam keadaan belum bertobat dari kesyirikannya, dia tidak akan diampuni.

Adapun dosa setelah syirik adalah dosa-dosa besar yang pelakunya diancam dengan hukuman di dunia, azab di akhirat, atau kutukan dan kemurkaan Allah ‘azza wa jalla. Setelah itu, ada dosa-dosa kecil.

Dosa selain menyekutukan Allah ‘azza wa jalla masih ada harapan untuk diampuni.

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَغۡفِرُ أَن يُشۡرَكَ بِهِۦ وَيَغۡفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَن يَشَآءُۚ

        “Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan dia mengampuni dosa yang selain syirik bagi siapa yang dikehendaki-Nya.” (an-Nisa: 116)

 

Adapun kezaliman yang berkaitan dengan hak-hak manusia, urusannya lebih rumit. Seseorang yang menzalimi hak-hak orang lain hendaknya segera mengembalikannya atau meminta kehalalannya. Jika tidak demikian, ancaman di akhirat sangat mengerikan, seperti yang telah disebutkan dalam hadits di atas.

 

Kehormatan Seorang Muslim

Ketika menunaikan haji wada’ (perpisahan) yang dihadiri oleh puluhan ribu sahabat, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan pesan-pesan akhirnya menjelang wafat. Di antara pesan beliau adalah menjaga darah, harta, dan kehormatan seorang muslim.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ دِمَاءَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ حَرَامٌ عَلَيْكُمْ، كَحُرْمَةِ يَوْمِكُمْ هَذَا، فِي شَهْرِكُمْ هَذَا، فِي بَلَدِكُمْ هَذَا

“Sesungguhnya darah dan harta kalian (kaum muslimin) itu haram (untuk dirampas) seperti sucinya hari ini, di bulan ini (haji ini), dan di negeri kalian ini (Makkah).” ( HR . Muslim, Abu Dawud, dan an-Nasai dari sahabat Jabir radhiallahu ‘anhu)

 

Bahkan, lenyapnya dunia lebih ringan daripada melenyapkan nyawa seorang muslim tanpa hak. Demi terjaganya kehormatan dan kepemilikan seorang muslim serta terwujudnya stabilitas keamanan di tengah masyarakat, Islam memberikan ancaman hukuman fisik (had) bagi yang mencabik-cabik hak seorang muslim.

Sebagai contoh, hukuman bagi perampok adalah dipotong tangan dan kakinya secara bersilang atau hukuman lain yang telah ditetapkan oleh agama. Orang yang membunuh seorang muslim dengan sengaja, tanpa ada kesalahan yang berhak untuk dibunuh, pelakunya terancam hukuman qishash (nyawa dibalas nyawa).

Tanpa ada ancaman dan hukuman yang setimpal, orang yang melakukan kejahatan akan menganggap enteng ketika melanggar hak-hak orang lain.

 

Muslim yang Baik

Seorang muslim yang hakiki memiliki ketulusan sikap dalam beragama dan mempunyai kepribadian yang bagus.

Apabila datang perintah agama, muslim yang baik akan siap menjalankannya dengan sepenuh ketulusan apapun kondisinya.

Berikutnya, larangan agama disikapi dengan meninggalkan apa yang dilarang agama meskipun hawa nafsu ini ingin melakukannya. Dia menjauhkan dirinya dari hal-hal yang bisa memudaratkan orang lain, baik sengaja maupun tidak.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ

        “Seorang muslim (yang hakiki) adalah orang yang kaum muslimin terhindar dari (kejahatan) lisan dan tangannya.” (Muttafaqun ‘alaih)

 

Asy-Syaikh as-Sa’di menerangkan, “Hal itu karena Islam yang hakiki adalah berserah diri kepada Allah ‘azza wa jalla, menyempurnakan peribadatan kepada-Nya, menunaikan hak-hak-Nya, dan hak-hak kaum muslimin. Keislaman (seseorang) tidak dikatakan sempurna sampai ia mencintai untuk kaum muslimin apa yang ia cintai bagi dirinya. Hal ini tidak akan terwujud kecuali dengan terhindarnya mereka dari kejahatan lisan dan tangannya.

Hal ini merupakan pokok kewajiban yang harus ia berikan kepada muslimin. Barang siapa yang kaum muslimin tidak terhindar dari (kejelekan) lisan dan tangannya, bagaimana mungkin ia akan menunaikan kewajibannya terhadap saudaranya kaum muslimin?!” (Bahjatul Qulub, hlm. 14)

Kemudian, ketahuilah bahwa ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seorang muslim (yang baik) adalah muslim lain terhindar dari (kejahatan) lisan dan tangannya.” tidak berarti kita boleh menzalimi orang kafir dengan merampas haknya. Sebab, orang kafir pun bermacam-macam.

Ada kafir dzimmi, yaitu orang kafir yang tinggal di negeri muslimin dan membayar jizyah kepada pemerintah muslimin. Ada pula orang kafir yang masuk ke negara muslimin dan mendapatkan jaminan keamanan (suaka politik) dari pemerintah muslimin. Ada lagi orang kafir yang mengikat perjanjian damai dengan kaum muslimin.

Tiga jenis orang kafir tersebut tidak boleh dirampas hartanya atau dilukai tubuhnya tanpa alasan yang dibenarkan oleh agama. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

اتَّقُوا دَعْوَةَ الْمَظْلُومِ وَإِنْ كَانَ كَافِرًا فَإِنَّهُ لَيْسَ دُونَهَا حِجَابٌ.

“Berhati-hatilah dari doa orang yang dizalimi meskipun ia kafir, karena tidak ada penghalang bagi doanya.” (HR . Ahmad. Lihat Shahih al-Jami’ no. 119)

 

Adapun jenis kafir yang keempat adalah kafir harbi, yaitu orang kafir yang memerangi muslimin dan angkat senjata terhadap muslimin. Orang kafir seperti ini halal darah dan hartanya.

 

Orang yang Merugi Amalnya

Tidak semua orang yang beramal kebaikan itu diterima di sisi Allah ‘azza wa jalla. Ada syarat dan ketentuan untuk diterimanya sebuah amal. Semata-mata niat yang tulus dalam beramal tidak berguna apabila amalan tersebut tidak ada perintahnya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ عَمِلَ عَمَ لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ.

        “Barang siapa melakukan suatu amalan yang tidak ada dalam agama kami, amalan itu tertolak.” (HR . Muslim dari ‘Aisyah radhiallahu ‘anha)

Contohnya sangat banyak. Misalnya adalah bentuk perjuangan/jihad menegakkan agama yang dilakukan oleh orang yang berpemahaman Khawarij semacam ISIS dan al-Qaeda.

Sebagian mereka melakukan pembunuhan kepada pihak-pihak yang dituduh kafir dengan cara di luar batasan agama. Mereka juga melakukan bom bunuh diri, yang sejatinya dalam Islam adalah dosa besar. Akan tetapi, mereka menjuluki pelaku bom bunuh diri sebagai syahid. Mereka menghancurkan fasilitas-fasilitas umum. Tidak sedikit yang menjadi korbannya justru kaum muslimin.

Jihad yang sejatinya adalah amalan mulia untuk menegakkan agama Allah ‘azza wa jalla, mereka rusak dengan aksi-aksi yang konyol. Karena ulah bodoh mereka, orang kafir enggan masuk Islam. Orang kafir justru fobia terhadap Islam dan sinis terhadap muslimin.

Tidak sedikit kaum muslimin yang diintimidasi setiap ada aksi teror kelompok ini di belahan bumi lainnya.

Padahal ketika ditanya tentang siapa orang yang dikatakan berperang di jalan Allah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ قَاتَلَ لِتَكُونَ كَلِمَةُ اللهِ هِيَ الْعُلْيَا فَهُوَ فِي سَبِيلِ اللهِ.

“Barang siapa berperang agar kalimat (agama) Allah itu mulia, itulah yang jihad fi sabilillah.” (Muttafaqun ‘alaih)

Dengan aksi mereka, apakah orang kafir jadi masuk Islam? Apakah Islam dimuliakan oleh kaum muslimin sendiri—jangan Anda tanya bagaimana reaksi nonmuslim? Apakah agama Allah ‘azza wa jalla menjadi mulia dengan itu?

Jawabannya, hasilnya bertolak belakang. Kalau sudah seperti ini, apakah masih dikatakan jihad syar’i? Hendaknya mereka merujuk kepada bimbingan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat agar tidak sia-sia amalannya.

 

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

قُلۡ هَلۡ نُنَبِّئُكُم بِٱلۡأَخۡسَرِينَ أَعۡمَٰلًا ١٠٣ ٱلَّذِينَ ضَلَّ سَعۡيُهُمۡ فِي ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَا وَهُمۡ يَحۡسَبُونَ أَنَّهُمۡ يُحۡسِنُونَ صُنۡعًا ١٠٤

        “Apakah akan kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya? Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.” (al-Kahfi: 103—104)

Pada sebagian aksi teror mereka, ada korban dari pihak muslimin. Lalu mana pertanggungjawaban mereka terhadap keluarga korban? Mana penyesalan mereka?

Nabi Musa ‘alaihissalam saja saat dahulu memukul orang Qibthi yang kafir sampai mati ketika orang Qibthi ini berkelahi dengan seorang Bani Isra’il dari kaumnya, beliau ‘alaihissalam menyesali hal tersebut dan bertobat, padahal yang ia pukul seorang Qibthi kafir.

Namun, karena Nabi Musa ‘alaihissalam tidak diperintah untuk membunuhnya, beliau ‘alaihissalam menyesali perbuatannya yang keliru. Bahkan, penyesalan tersebut terus beliau bawa hingga hari kiamat di Padang Mahsyar sebagaimana dalam hadits syafaat.

Akan tetapi, anehnya para teroris justru bangga dengan aksi terornya yang merenggut nyawa orang yang seharusnya tidak berhak untuk dicederai. Mereka menyatakan bertanggung jawab atas aksi tersebut.

Mengapa mereka tidak menyesalinya?

Karena mereka beranggapan bahwa aksinya adalah ibadah, meskipun sejatinya bertentangan dengan praktik Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan generasi awal umat ini.

Syarat sahnya amal berikutnya adalah harus ikhlas, semata-mata hanya mencari wajah Allah ‘azza wa jalla.

Ada hal penting yang harus diperhatikan, yaitu amal kebaikan bisa lenyap atau minimalnya menjadi berkurang karena perbuatan dosa. Sebagaimana amal saleh bisa melenyapkan dosa, dosa juga bisa melenyapkan amal saleh.

Di antara dosa yang bisa melenyapkan amal saleh adalah menzalimi orang lain. Bahkan, pelakunya akan disegerakan azabnya di dunia ini sebelum azab pada hari kiamat.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا مِنْ ذَنْبٍ أَجْدَرُ أَنْ يُعَجِّلَ اللهُ تَعَالَى لِصَاحِبِهِ الْعُقُوبَةَ فِي الدُّنْيَا مَعَ مَا يَدَّخِرُهُ لَهُ فِي الْآخِرَة مِنَ الْبَغْي وَقَطِيعَةِ الرَّحِم

Tidak ada suatu dosa yang lebih pantas Allah akan segerakan azab bagi pelakunya di dunia—di samping azab yang Allah simpan baginya di akhirat—melebihi (dosa) kezaliman dan memutuskan hubungan kekerabatan.” (HR . Ahmad, al-Bukhari dalam al-Adab, dan lain-lain dari sahabat Abu Bakrah radhiallahu ‘anhu. Lihat Shahih al-Jami’ no. 5704)

Wallahul Muwaffiq.

Ditulis oleh al-Ustadz Abdul Mu’thi Sutarman, Lc.

Takwa & Tawakal Cara Menghadapi Makar Musuh

Berbagai tuduhan, tudingan, dan hujatan dicurahkan kepada para dai tauhid dan sunnah. Demikian pula kepada negara tauhid dan sunnah, Kerajaan Arab Saudi, bahwa mereka adalah wahabi dan kerajaan yang menebarkan ajaran/doktrin wahabiyah.

Bahkan, tuduhan tersebut tidak sampai pada tahapan itu saja. Mereka menyatakan bahwa radikalisme dan terorisme di dunia ini sumbernya adalah wahabi, salafi, dan para tokohnya, seperti Ibnu Taimiyah, Muhammad bin Abdul Wahhab, dll.

Kalau kita perhatikan dengan saksama, tuduhan-tuduhan yang disebarkan oleh Sufi, Syiah, kaum liberal, komunis, dan paham menyimpang lainnya melalui berbagai media ternyata memiliki tujuan yang sama, yaitu menanamkan kebencian dan permusuhan terhadap para dai tauhid yang berjalan di atas Kitabullah dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Demikian pula Kerajaan Arab Saudi yang berjalan membelanya.

Berikut ini beberapa penjelasan tentang hakikat makar mereka dan cara menghadapinya. Mudah-mudahan Allah subhanahu wa ta’ala senantiasa memberikan hidayah dan taufik untuk memahami dan berjalan di atasnya.

 

Pergulatan Antara Kebenaran dan Kebatilan

Pergulatan antara orang-orang yang mengikuti kebenaran (ahlul haq) dan orang-orang yang mengikuti kebatilan (ahlul batil) merupakan sunnatullah (ketetapan dari Allah subhanahu wa ta’ala) yang pasti terjadi. Hal itu tidak bisa dihindari. Ia merupakan ujian dan cobaan dari Allah subhanahu wa ta’ala terhadap para hamba-Nya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

          وَلَوۡ يَشَآءُ ٱللَّهُ لَٱنتَصَرَ مِنۡهُمۡ وَلَٰكِن لِّيَبۡلُوَاْ بَعۡضَكُم بِبَعۡضٖۗ

        “Demikianlah, apabila Allah menghendaki, niscaya Allah akan membinasakan mereka. Akan tetapi, Allah hendak menguji sebagian kamu dengan sebagian yang lain.” (Muhammad: 4)

Asy-Syaikh Abdur Rahman As-Sa’di rahimahullah menafsirkan ayat di atas,

“Hukum-hukum yang disebutkan terkait dengan diujinya orang beriman dengan orang kafir, silih bergantinya kemenangan di antara mereka, dan tertolongnya sebagian mereka menghadapi sebagian lainnya; jika Allah subhanahu wa ta’ala berkehendak, sungguh Dia akan menolong orang-orang yang beriman.

Sebab, Dia adalah Dzat yang Mahakuasa melakukan segala sesuatu. Dia Mahakuasa untuk tidak menakdirkan kemenangan bagi orang-orang kafir di satu tempat pun selama-lamanya sehingga orang-orang beriman berhasil membinasakan kebun-kebun mereka.

Akan tetapi, sungguh Allah subhanahu wa ta’ala akan menguji sebagian kalian dengan yang lainnya agar terjadi jihad fi sabilillah. Dengan ujian itu, tampak jelas keadaan para hamba-Nya, mana yang jujur dan mana yang dusta.

Dengan demikian, orang yang beriman bisa beriman dengan yang benar berlandaskan bashirah (ilmu dan keyakinan), bukan iman yang dibangun karena mengikuti kelompok yang menang. Sebab, iman yang seperti itu lemah sekali. Iman yang seperti itu tidak akan bertahan saat pemiliknya menghadapi ujian dan cobaan.” (Taisir al-Karim ar-Rahman, hlm. 785)

Para nabi dan rasul r adalah golongan hamba-Nya yang paling mulia. Mereka juga dibenturkan dengan para musuhnya. Demikian berita Allah subhanahu wa ta’ala dalam kitab-Nya,

وَكَذَٰلِكَ جَعَلۡنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوّٗا شَيَٰطِينَ ٱلۡإِنسِ وَٱلۡجِنِّ يُوحِي بَعۡضُهُمۡ إِلَىٰ بَعۡضٖ زُخۡرُفَ ٱلۡقَوۡلِ غُرُورٗاۚ وَلَوۡ شَآءَ رَبُّكَ مَا فَعَلُوهُۖ فَذَرۡهُمۡ وَمَا يَفۡتَرُونَ ١١٢ وَلِتَصۡغَىٰٓ إِلَيۡهِ أَفۡ‍ِٔدَةُ ٱلَّذِينَ لَا يُؤۡمِنُونَ بِٱلۡأٓخِرَةِ وَلِيَرۡضَوۡهُ وَلِيَقۡتَرِفُواْ مَا هُم مُّقۡتَرِفُونَ ١١٣

        “Dan demikianlah, Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). Jika Rabbmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan.

Dan (juga) agar hati kecil orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat cenderung kepada bisikan itu, mereka merasa senang kepadanya dan supaya mereka mengerjakan apa yang mereka (setan) kerjakan.” (al-An’am: 112—113)

Asy-Syaikh Abdur Rahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah berkata menafsirkan ayat di atas,

“Allah subhanahu wa ta’ala menghibur Rasul-Nya, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan menyatakan bahwa sebagaimana Kami menjadikan bagimu musuh-musuh yang menolak dakwahmu, memerangimu, dan dengki terhadapmu—ini adalah sunnah (ketentuan)-Ku—demikian pula Aku menjadikan musuh bagi setiap nabi yang Aku utus kepada makhluk. Musuh-musuh mereka adalah setan-setan dari golongan jin dan manusia. Mereka menghadang dan menentang dakwah para rasul.

Sebagian mereka menghias-hiasi perkara batil yang mereka serukan kepada yang lain. Mereka kemas dengan ungkapan yang menarik hingga menampilkannya dalam bentuk yang terbaik. Tujuannya adalah menipu orang-orang bodoh. Orang dungu yang tidak memahami hakikatnya dan makna sebenarnya akan menerimanya. Slogan yang dikemas dan dihias tersebut membuat takjub orang yang bodoh. Mereka pun meyakini bahwa yang benar adalah batil, sedangkan yang batil dianggap sebagai kebenaran.

Oleh karena itulah, Allah subhanahu wa ta’ala menjelaskan bahwa hati orang yang tidak beriman terhadap akhirat akan condong terhadap slogan/ucapan kosong itu. Sebab, ketiadaan iman terhadap hari akhir dan ketiadaan akal yang bermanfaat di hati mereka, telah mendorong mereka (untuk condong terhadapnya).

 

Penyebaran Opini Dusta, Makar Mereka

Di antara makar-makar ahlul batil dalam rangka menanamkan kebencian dan permusuhan terhadap ahlul haq dan para dai yang mengajak kepada kebenaran adalah menyebarkan opini-opini yang buruk terhadap seluruh umat manusia melalui seluruh media massa. Bahkan, opini itu mereka sebarkan melalui kajian, pelajaran di sekolah, dan sebagainya.

Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.

Makar mereka ini bukanlah hal yang baru. Ini sudah dilakukan oleh pendahulu mereka terhadap para nabi dan para rasul r. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

          كَذَٰلِكَ مَآ أَتَى ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِهِم مِّن رَّسُولٍ إِلَّا قَالُواْ سَاحِرٌ أَوۡ مَجۡنُونٌ ٥٢  أَتَوَاصَوۡاْ بِهِۦۚ بَلۡ هُمۡ قَوۡمٞ طَاغُونَ ٥٣

        Demikianlah, tidak seorang rasul pun yang datang kepada orang-orang yang sebelum mereka, melainkan mereka mengatakan, “Ia adalah seorang tukang sihir atau orang gila.”

Apakah mereka saling berpesan tentang apa yang dikatakan itu? Sebenarnya mereka adalah kaum yang melampaui batas. (adz-Dzariyat: 52—53)

Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan bahwa Allah subhanahu wa ta’ala menghibur Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Apa yang dikatakan orang musyrik kepadamu, wahai Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, dahulu juga diucapkan kepada para rasul ‘alaihimussalam. Seperti itulah. Tidaklah datang seorang rasul pun kepada mereka (para pendusta) kecuali mereka akan berkata terhadap rasul itu sebagai tukang sihir atau orang gila. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, ‘Apakah mereka saling mewasiatkan ucapan itu? Bahkan, mereka adalah kaum yang melampaui batas (zalim).’

Maknanya, mereka adalah kaum yang melampaui batas. Hati mereka serupa sehingga apa yang diucapkan oleh generasi belakangan sama dengan yang dikatakan oleh para pendahulunya. Maka dari itu, wahai Muhammad, berpalinglah dari mereka. Kami tidaklah mencelamu dengan sikapmu tersebut.” (Tafsir al- Qur’an al-‘Azhim, 4/201)

Bahkan, Fir’aun la’natullah ‘alaihi mengelabui kaumnya dengan opini dusta kepada kaumnya tentang Nabi Musa ‘alaihissalam dan dakwahnya. Allah subhanahu wa ta’ala mengabarkan dalam kitab-Nya,

          وَقَالَ فِرۡعَوۡنُ ذَرُونِيٓ أَقۡتُلۡ مُوسَىٰ وَلۡيَدۡعُ رَبَّهُۥٓۖ إِنِّيٓ أَخَافُ أَن يُبَدِّلَ دِينَكُمۡ أَوۡ أَن يُظۡهِرَ فِي ٱلۡأَرۡضِ ٱلۡفَسَادَ ٢٦

        Dan berkata Firaun (kepada pembesar-pembesarnya), “Biarkanlah aku membunuh Musa dan hendaklah ia memohon kepada Rabbnya, karena sesungguhnya aku khawatir dia akan menukar agamamu atau menimbulkan kerusakan di muka bumi.” (Ghafir: 26)

Asy-Syaikh Abdur Rahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah menjelaskan bahwa ucapan Fir’aun ini adalah kalimat yang paling mengherankan. Orang yang paling jahat menasihati rakyatnya supaya tidak mengikuti orang terbaik (Musa ‘alaihissalam). Itu adalah penipuan dan pemutarbalikan fakta.

Pada zaman sekarang ini, kaum Sufi, demikian pula Syiah, kaum liberalis, sosialis, komunis, dan lainnya, melalui berbagai media menyematkan julukan “wahabi”, “salafi wahabi” kepada orang yang berpegang teguh dengan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka menyebarkan opini tersebut dalam rangka menjauhkan kaum muslimin dari para dai sunnah.

Asy-Syaikh Muqbil rahimahullah mengatakan, “Julukan tersebut bertujuan menanamkan kebencian dan menjauhkan umat dari sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Oleh karena itu, kalian wajib teliti dalam urusan tersebut dan memerhatikan maknanya.

Penamaan ‘wahabi’ adalah penisbatan kepada seorang alim ulama, bukan penisbatan kepada Marx atau Lenin, bukan kepada Amerika atau Rusia, bukan pula kepada salah seorang pemimpin yang memusuhi Islam. Meski demikian, kita tidak boleh menisbatkan diri kecuali kepada Islam dan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (al-Mushara’ah, hlm. 294—295)

Asy-Syaikh Muqbil rahimahullah juga berkata, “Apabila engkau mendengar seseorang berkata, ‘Orang ini wahabi,’ ketahuilah bahwa orang tersebut memiliki dua kemungkinan:

  1. Orang jelek yang berbuat kejelekan,
  2. Orang bodoh yang tidak bisa membedakan.

Semua ini adalah kedustaan besar yang dituduhkan kepada seorang dai yang mengajak umat untuk mentauhidkan Allah subhanahu wa ta’ala.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

          إِنَّ ٱلَّذِينَ يُحِبُّونَ أَن تَشِيعَ ٱلۡفَٰحِشَةُ فِي ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَهُمۡ عَذَابٌ أَلِيمٞ فِي ٱلدُّنۡيَا وَٱلۡأٓخِرَةِۚ وَٱللَّهُ يَعۡلَمُ وَأَنتُمۡ لَا تَعۡلَمُونَ ١٩

        “Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat. Dan Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (an-Nur: 19)

Saudara-saudaraku di jalan Allah subhanahu wa ta’ala, Allah subhanahu wa ta’ala menamai kita muslimin. Kita adalah umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kita tidak rela Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam diganti oleh yang lain. Kita tidak rela dinisbatkan kepada al-Imam asy-Syafi’i, Zaidi, Wahabi, atau yang lainnya.

Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah adalah seorang alim yang mulia. Dengan menisbatkan seseorang kepada beliau, mereka menganggap bisa berbuat buruk (menjauhkan umat darinya).

Aku nasihatkan kepada saudaraku di jalan Allah subhanahu wa ta’ala untuk membaca Kitab at-Tauhid. Niscaya akan kalian lihat di dalamnya ayat al-Qur’an dan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Itu adalah sebuah kitab yang mulia. Walaupun ada beberapa hadits dhaif di dalamnya, tetapi tidak berbahaya. Sungguh, aku telah menjelaskannya di dalam kitabku an-Nahju Sadid. Bacalah!

Janganlah engkau menjadi pembebek kejelekan dengan menyatakan, ‘Apabila orang-orang berbuat baik kepadaku, aku akan berbuat baik kepadanya. Apabila mereka berbuat buruk, akupun akan berbuat buruk kepada mereka.’

(Jangan seperti itu,) perhatikan diri-diri kalian. Apabila orang-orang berbuat baik kepadamu, berbuat baiklah kepada mereka. Apabila mereka berbuat buruk, janganlah engkau menzalimi mereka. Wallahu a’lam.” (al-Mushara’ah, hlm. 398)

 

Intimidasi dan Provokasi

Musuh-musuh dakwah ini, seperti kaum Sufi, Syiah, liberalis, sosialis, komunis, dll., tidak segan melakukan intimidasi dan provokasi terhadap para dai yang mengajak kepada tauhid dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Modus ini pun bukan makar yang baru.

Allah subhanahu wa ta’ala memberitakan intimidasi yang dilakukan oleh orang-orang munafik terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat beliau radhiallahu ‘anhum,

ٱلَّذِينَ قَالَ لَهُمُ ٱلنَّاسُ إِنَّ ٱلنَّاسَ قَدۡ جَمَعُواْ لَكُمۡ فَٱخۡشَوۡهُمۡ فَزَادَهُمۡ إِيمَٰنٗا وَقَالُواْ حَسۡبُنَا ٱللَّهُ وَنِعۡمَ ٱلۡوَكِيلُ ١٧٣

فَٱنقَلَبُواْ بِنِعۡمَةٖ مِّنَ ٱللَّهِ وَفَضۡلٖ لَّمۡ يَمۡسَسۡهُمۡ سُوٓءٞ وَٱتَّبَعُواْ رِضۡوَٰنَ ٱللَّهِۗ وَٱللَّهُ ذُو فَضۡلٍ عَظِيمٍ ١٧٤

إِنَّمَا ذَٰلِكُمُ ٱلشَّيۡطَٰنُ يُخَوِّفُ أَوۡلِيَآءَهُۥ فَلَا تَخَافُوهُمۡ وَخَافُونِ إِن كُنتُم مُّؤۡمِنِينَ ١٧٥

(Yaitu) orang-orang (yang menaati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan, “Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka.”

Perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab, “Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung.”

Maka mereka kembali dengan nikmat dan karunia (yang besar) dari Allah, mereka tidak mendapat bencana apa-apa, mereka mengikuti keridaan Allah. Dan Allah mempunyai karunia yang besar.

Sesungguhnya mereka itu tidak lain hanyalah setan yang menakut-nakuti (kamu) dengan kawan-kawannya (orang-orang musyrik Quraisy), karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku, jika kamu benar-benar orang yang beriman. (Ali Imran: 173—175)

Asy-Syaikh Abdur Rahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah menjelaskan, intimidasi yang dilakukan oleh salah seorang musyrikin dengan ucapannya, “Sesungguhnya mereka (musuh-musuh kalian) telah bersatu untuk melibas kalian,” sebenarnya dia adalah salah seorang dai setan yang menakut-nakuti (mengintimidasi) para walinya yang tidak beriman dan orang yang imannya lemah.

“Oleh karena itu, janganlah kalian (wahai orang yang beriman) takut terhadap mereka. Namun, takutlah kalian kepada-Ku. Jika kalian adalah orang-orang yang beriman.”

Maksudnya, kata as-Sa’di rahimahullah, “Janganlah kalian takut terhadap kaum musyrikin yang menjadi wali setan, karena ubun-ubun mereka di tangan Allah subhanahu wa ta’ala. Mereka tidak akan mampu berbuat apa pun kecuali dengan takdir-Nya. Akan tetapi, takutlah kalian kepada Allah subhanahu wa ta’ala yang akan menolong para wali-Nya yang takut kepada-Nya dan yang menyambut seruan-Nya.”

Ketika mereka tidak memiliki hujah dan kalah dalam berargumentasi, mereka melakukan provokasi terhadap massa untuk membendung dan memberangus dakwah tauhid dan sunnah ini. Allah subhanahu wa ta’ala mengabarkan niat jahat mereka dalam firman-Nya,

          يُرِيدُونَ لِيُطۡفِ‍ُٔواْ نُورَ ٱللَّهِ بِأَفۡوَٰهِهِمۡ وَٱللَّهُ مُتِمُّ نُورِهِۦ وَلَوۡ كَرِهَ ٱلۡكَٰفِرُونَ ٨

        “Mereka ingin hendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir benci.” (ash-Shaf: 8)

Makar jahat ini juga bukan sesuatu yang baru. Ia hanyalah warisan dari para pendahulu mereka yang menentang dakwah para nabi dan rasul r.

Perhatikanlah provokasi Fir’aun untuk menghalangi dakwah Nabi Musa ‘alaihissalam,

          وَقَالَ فِرۡعَوۡنُ ذَرُونِيٓ أَقۡتُلۡ مُوسَىٰ وَلۡيَدۡعُ رَبَّهُۥٓۖ إِنِّيٓ أَخَافُ أَن يُبَدِّلَ دِينَكُمۡ أَوۡ أَن يُظۡهِرَ فِي ٱلۡأَرۡضِ ٱلۡفَسَادَ ٢٦

وَقَالَ مُوسَىٰٓ إِنِّي عُذۡتُ بِرَبِّي وَرَبِّكُم مِّن كُلِّ مُتَكَبِّرٖ لَّا يُؤۡمِنُ بِيَوۡمِ ٱلۡحِسَابِ ٢٧

وَقَالَ رَجُلٞ مُّؤۡمِنٞ مِّنۡ ءَالِ فِرۡعَوۡنَ يَكۡتُمُ إِيمَٰنَهُۥٓ أَتَقۡتُلُونَ رَجُلًا أَن يَقُولَ رَبِّيَ ٱللَّهُ وَقَدۡ جَآءَكُم بِٱلۡبَيِّنَٰتِ مِن رَّبِّكُمۡۖ وَإِن يَكُ كَٰذِبٗا فَعَلَيۡهِ كَذِبُهُۥۖ وَإِن يَكُ صَادِقٗا يُصِبۡكُم بَعۡضُ ٱلَّذِي يَعِدُكُمۡۖ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَهۡدِي مَنۡ هُوَ مُسۡرِفٞ كَذَّابٞ ٢٨

Dan berkata Firaun (kepada pembesar-pembesarnya), “Biarkanlah aku membunuh Musa dan hendaklah ia memohon kepada Rabbnya, karena sesungguhnya aku khawatir dia akan menukar agamamu atau menimbulkan kerusakan di muka bumi.”

Musa berkata, “Sesungguhnya aku berlindung kepada Rabbku dan Rabbmu dari setiap orang yang menyombongkan diri yang tidak beriman kepada hari berhisab.”

Seorang laki-laki yang beriman di antara pengikut-pengikut Firaun yang menyembunyikan imannya berkata, “Apakah kamu akan membunuh seorang laki-laki karena dia menyatakan, ‘Rabbku ialah Allah,’ padahal dia telah datang kepadamu dengan membawa keterangan-keterangan dari Rabbmu. Jika ia seorang pendusta, dialah yang menanggung (dosa) dustanya itu; dan jika ia seorang yang benar, niscaya sebagian (bencana) yang diancamkannya kepadamu akan menimpamu.” Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang melampaui batas lagi pendusta. (Ghafir: 26—28)

 

Demikian pula sikap mereka terhadap Nabi Ibrahim ‘alaihissalam setelah kalah hujah. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

قَالُواْ حَرِّقُوهُ وَٱنصُرُوٓاْ ءَالِهَتَكُمۡ إِن كُنتُمۡ فَٰعِلِينَ ٦٨ قُلۡنَا يَٰنَارُ كُونِي بَرۡدٗا وَسَلَٰمًا عَلَىٰٓ إِبۡرَٰهِيمَ ٦٩ وَأَرَادُواْ بِهِۦ كَيۡدٗا فَجَعَلۡنَٰهُمُ ٱلۡأَخۡسَرِينَ ٧٠

        Mereka berkata, “Bakarlah dia dan bantulah tuhan-tuhan kamu, jika kamu benar-benar hendak bertindak.”

Kami berfirman, “Hai api, jadilah dingin, dan jadilah keselamatan bagi Ibrahim.”

Mereka hendak berbuat makar terhadap Ibrahim, maka Kami menjadikan mereka itu orang-orang yang paling merugi. (al-Anbiya: 68—70)

 

Asy-Syaikh Abdur Rahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah menjelaskan bahwa orang-orang musyrikin berkata, “Bunuhlah dia dengan cara yang paling jahat (dibakar),” karena mereka marah terhadap Ibrahim ‘alaihissalam dalam rangka membela sesembahan mereka.

Orang-orang musyrikin itu betul-betul celaka. Mereka beribadah kepada sesembahan yang mereka akui sendiri bahwa ia membutuhkan pertolongan mereka, tetapi justru mereka jadikan sesembahan. Allah subhanahu wa ta’ala menolong kekasih-Nya ketika para musuh melemparkannya ke dalam api.

 

Kemenangan Bagi yang Bertakwa dan Bertawakal kepada Allah subhanahu wa ta’ala

Berbagai makar mereka lakukan terhadap para dai yang mengajak untuk beribadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala semata dengan tuntunan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun, makar itu akan kembali kepada diri mereka dengan kekuasaan Allah subhanahu wa ta’ala.

          وَمَكَرُواْ وَمَكَرَ ٱللَّهُۖ وَٱللَّهُ خَيۡرُ ٱلۡمَٰكِرِينَ ٥٤

        “Orang-orang kafir itu membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya.” (Ali Imran: 54)

Kemenangan itu pasti akan berakhir bagi hamba yang bertakwa dan bertawakal kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

          تِلۡكَ ٱلدَّارُ ٱلۡأٓخِرَةُ نَجۡعَلُهَا لِلَّذِينَ لَا يُرِيدُونَ عُلُوّٗا فِي ٱلۡأَرۡضِ وَلَا فَسَادٗاۚ وَٱلۡعَٰقِبَةُ لِلۡمُتَّقِينَ ٨٣

        “Negeri akhirat itu, Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di (muka) bumi. Dan kesudahan  (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang bertakwa.” (al-Qashash: 83)

Asy-Syaikh Muqbil rahimahullah berkata, “Wahai sekalian kaum muslimin, kita semua wajib bertakwa kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Kita wajib kembali kepada kitab Allah dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, menggantungkan serta menyandarkan diri kita kepada Allah subhanahu wa ta’ala semata.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَمَن يَتَّقِ ٱللَّهَ يَجۡعَل لَّهُۥ مَخۡرَجٗا ٢

“Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan berikan baginya jalan keluar.” (ath-Thalaq: 2)

Allah subhanahu wa ta’ala juga berfirman,

          وَمَن يَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱللَّهِ فَهُوَ حَسۡبُهُۥ

“Dan barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (ath-Thalaq: 3)

Dialah yang akan memberi kecukupan, Dia pula sebaik-baik pelindung dan penolong.

Engkau bersandar kepada Allah subhanahu wa ta’ala dalam seluruh urusanmu. Makna tawakal tidaklah sebagaimana yang dipahami oleh orang Sufi yang menyimpang, yaitu tidak mau menjalani sebab atau tidak mau berusaha.

Akan tetapi, makna tawakal yang dijelaskan oleh para ulama adalah ‘bersandar kepada sebab adalah syirik, sedangkan tidak mau menjalani sebab adalah mencela syariat’ (Maknanya, lakukan sebab/usaha diiringi dengan doa dalam keadaan engkau menyerahkan hasilnya kepada Allah subhanahu wa ta’ala semata). (al-Mushara’ah, hlm. 12)

Tentang firman Allah subhanahu wa ta’ala pada surah ath-Thalaq ayat 3 di atas, asy-Syaikh as-Sa’di rahimahullah menerangkan, “Barang siapa bertawakal kepada Allah subhanahu wa ta’ala dalam urusan agama dan dunianya, dengan menyandarkan diri kepada Allah subhanahu wa ta’ala ketika ingin mendapatkan kemanfaatan dan menolak madarat, dengan yakin kepada Allah subhanahu wa ta’ala untuk mendapatkan kemudahan dari-Nya, Allah subhanahu wa ta’ala akan memberinya kecukupan.

Apabila suatu urasan itu berada dalam jaminan Dzat yang Mahakaya, Mahakuasa, Mahaperkasa, dan Maha Penyayang, urusan itu adalah yang paling dekat dengannya. Akan tetapi, terkadang hikmah Allah subhanahu wa ta’ala menuntut urusan tersebut ditunda sampai waktu yang tepat bagi si hamba.”

Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi rahimahullah berkata, “Sikap orang mukmin adalah menyerahkan seluruh urusannya kepada Allah subhanahu wa ta’ala semata. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

          قُل لَّن يُصِيبَنَآ إِلَّا مَا كَتَبَ ٱللَّهُ لَنَا هُوَ مَوۡلَىٰنَاۚ وَعَلَى ٱللَّهِ فَلۡيَتَوَكَّلِ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ ٥١

        Katakanlah, “Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi kami. Dialah Pelindung kami, dan hanyalah kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal.” (at-Taubah: 51)

Apabila tawakalmu benar/lurus kepada Allah subhanahu wa ta’ala, engkau tidak usah memedulikan orang yang menyelisihi petunjuk Allah subhanahu wa ta’ala, tidak usah memedulikan orang yang menyelisihi Kitabullah dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Beliau rahimahullah katakan pula, “Apabila hati seorang muslim dipenuhi dengan kekhawatiran karena bid’ah dan khurafat, atau hatinya dipenuhi keraguan, dia akan terus-menerus goncang. Seperti keadaan orang munafik, akan memikirkan setiap komentar terhadap mereka.” (al-Mushara’ah, hlm. 11)

Mudah-mudahan Allah subhanahu wa ta’ala senantiasa mengokohkan hati kaum muslimin, terkhusus para dai dan ulama yang berada di atas tauhid dan sunnah, dalam menghadapi berbagai ujian dan cobaan.

Amin.

Ditulis oleh al-Ustadz Abul Abbas Muhammad Ihsan

Akhlak Pengusung Islam Nusantara

Tiada hentinya umat Islam diterpa beragam ujian dan fitnah yang bisa menggerogoti keimanan mereka. Isu-isu murahan sengaja diembuskan oleh orang-orang kafir, para munafik, dan yang tertipu dengan mereka.

Di antara yang mereka opinikan bahwa ajaran Islam sudah tidak selaras dengan perkembangan zaman dan tidak cocok dipraktikkan di Indonesia. Menurut mereka, berkomitmen dengan ajaran Islam akan menghambat kemajuan, bahkan bisa memicu tindak terorisme. Seabrek jurus mereka munculkan agar umat ini takut menampakkan identitas keislamannya, bahkan muncul keraguan terhadap kebenaran Islam.

Apabila kita cermati, propaganda-propaganda tersebut bukanlah sesuatu yang baru. Sebelum cahaya Islam datang, bumi dipenuhi oleh gelapnya kekafiran dan kebodohan. Ketika Islam datang, muncul beragam perlawanan untuk meredupkan cahaya ini. Seorang muslim yang mencium sedikit saja aroma harumnya Islam akan bisa mengetahui murahnya propaganda tersebut.

Namun, tentu tidak boleh kita lalaikan bahwa pukulan lawan yang bertubi-tubi tentu memberikan pesan. Di antaranya:

  1. Akan diketahui siapa yang tulus keimanannya dan yang berdusta dan gampang terseret ombak fitnah.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَلَقَدۡ فَتَنَّا ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِهِمۡۖ فَلَيَعۡلَمَنَّ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ صَدَقُواْ وَلَيَعۡلَمَنَّ ٱلۡكَٰذِبِينَ ٣

“Sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sungguh Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sungguh Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (al-‘Ankabut: 3)

  1. Menggugah seorang muslim untuk mempersenjatai diri dengan ilmu yang memadai dan amal saleh yang membentengi diri.
  2. Seorang muslim hendaknya semakin mantap berpegang dengan agamanya.

Dia semakin tahu bahwa timbangan kebenaran adalah firman Allah dan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sesuai dengan yang dipahami dan dipraktikkan oleh generasi awal umat ini.

 Keharusan Tunduk pada Syariat Allah subhanahu wa ta’ala

Sesungguhnya, Allah subhanahu wa ta’ala yang mencipta alam semesta dan mengatur jagat raya. Dialah yang berhak untuk menentukan syariat-Nya dan memilih hamba-Nya yang akan memikul amanat risalah-Nya.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَرَبُّكَ يَخۡلُقُ مَا يَشَآءُ وَيَخۡتَارُۗ

“Dan Rabbmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya.” (al-Qashash: 68)

Oleh karena itu, kita harus menerima ketentuan yang Allah subhanahu wa ta’ala tetapkan dengan sepenuh penerimaan. Tidak ada penolakan dan penentangan, karena Allah lebih tahu maslahat hamba-Nya.

Al-Imam az-Zuhri rahimahullah mengatakan bahwa risalah itu datang dari Allah subhanahu wa ta’ala, dan tugas rasul hanya menyampaikan. Kewajiban kita hanyalah menerima. (Siyar A’lam an-Nubala, 5/346)

 Kesempurnaan Islam

Tidaklah Allah subhanahu wa ta’ala mewafatkan Nabi-Nya kecuali Islam telah sempurna, tidak memerlukan penambahan ataupun pengurangan. Sungguh, sempurnanya Islam merupakan nikmat bagi umat ini yang menjadikan orang-orang kafir iri.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

ٱلۡيَوۡمَ أَكۡمَلۡتُ لَكُمۡ دِينَكُمۡ وَأَتۡمَمۡتُ عَلَيۡكُمۡ نِعۡمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ ٱلۡإِسۡلَٰمَ دِينٗاۚ

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Kuridhai Islam menjadi agama bagimu.” (al-Maidah: 3)

Disebutkan dalam Shahih al-Bukhari bahwa orang-orang Yahudi berkata kepada Khalifah Umar radhiallahu ‘anhu, “Sesungguhnya kalian membaca suatu ayat yang seandainya ayat itu turun kepada kami, niscaya akan kami jadikan sebagai perayaan.” (Shahih al-Bukhari, no 4606)

Yang mereka maksud adalah ayat ketiga surat al-Maidah.

Apabila orang-orang Yahudi tahu besarnya arti kesempurnaan Islam, mengapa sebagian kaum mulimin tidak mengerti kemuliaan agama ini, justru terkadang minder dengan agamanya?!

Sungguh, kemerosotan yang dialami oleh kaum muslimin dalam berbagai bidang terjadi karena mereka meninggalkan sumber kemuliaannya, yaitu ajaran Islam.

Apabila ingin mengetahui indahnya Islam dipraktikkan di alam nyata, kita perlu membuka lembaran sejarah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, para sahabat, dan generasi awal umat ini. Mereka telah memenuhi bumi dengan keadilan, kedamaian, kemakmuran, dan kemajuan di berbagai bidang dan disiplin ilmu.

Kalau kita mencari perwujudan keindahan Islam di tengah-tengah masyarakat muslimin dewasa ini, barangkali kita sulit menemukannya dari sebagian muslimin. Sebab, kaum muslimin sekarang telah jauh dari pengajaran dan pengamalan terhadap Islam.

Islam Nusantara dalam Sorotan

Luka yang dirasakan oleh umat akibat serangan-serangan orang kafir berupa penistaan terhadap Islam belumlah pulih. Tiba-tiba umat Islam dikejutkan oleh munculnya gagasan Islam Nusantara. Terlepas dari motif digulirkannya isu ini, sungguh gagasan ini telah menjadi tugas tersendiri yang menyibukkan.

Apabila dicermati, gagasan ini sangat membahayakan keutuhan agama Islam, mengotak-ngotak muslimin, dan rentan memunculkan konflik di tengah–tengah umat. Terlebih lagi, beberapa pengusungnya adalah para penganut paham liberalis yang sering menyudutkan Islam dan muslimin. Jelas, pemahaman seperti ini merupakan bentuk mengada-adakan perkara baru dalam agama.

Munculnya pemahaman yang menyimpang dari Islam disebabkan oleh dua faktor utama.

  1. Ketidaktahuan tentang keindahan Islam.

Faktor ini menjadi sebab dilahapnya pemikiran-pemikiran sesat yang indah menawan secara lahiriah, padahal kenyataannya sangat menghancurkan.

  1. Mengikuti hawa nafsu.

Hal ini lebih parah. Sebab, tidak mustahil para pengusung pemahaman tersebut tahu bobroknya pemahaman ini. Akan tetapi, mereka getol menyebarkannya karena dengki dengan kelompok tertentu, ras tertentu, tekanan dari pihak tertentu, atau bahkan membalas budi pihak tertentu.

 Akhlak Pengusung Islam Nusantara

Serapat-rapat bangkai disembunyikan, akhirnya tercium juga. Dalam pepatah Arab disebutkan,

كُلُّ إِنَاءٍ بِمَا فِيْهِ يَنْضَحُ

“Setiap bejana (wadah air) akan menumpahkan apa yang menjadi isinya.”

Hari-hari ini, sebagian pengusung Islam Nusantara mempertontonkan dangkalnya pemahaman keislaman mereka dan ketidakhormatannya terhadap kemuliaan Islam.

Di antara kebobrokan mereka adalah:

  1. Lancang berbicara tentang hal yang gaib, padahal hanya Allah subhanahu wa ta’ala yang tahu perkara yang gaib.

Misalnya, seorang tokoh utama Islam Nusantara mengatakan bahwa Malaikat Munkar dan Nakir masih antri untuk menanyai Gus Dur di kuburannya, karena kuburannya selalu ramai dengan para pengunjung.

Pantaskah ucapan seperti ini keluar dari seorang kiai haji?!

 

  1. Mencaci maki

Seorang muslim yang sejati tidak suka mencela dan mencaci maki. Lebih-lebih apabila cacian tidak pada tempatnya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

سِبَابُ الْمُسْلِم فُسُوْقٌ وَقِتَالُهُ كُفْرٌ

“Mencerca seorang muslim adalah tindak kefasikan dan memeranginya adalah kekufuran.” (Muttafaqun ‘alaih dari Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu)

Repotnya, mereka lontarkan celaan terhadap pihak yang menjalankan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Misalnya, salah seorang tokoh mereka mencela orang yang berjenggot. Dia menghukumi orang yang berjenggot sebagai orang yang goblok. Padahal itu adalah sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahkan beliau memerintahkan untuk memelihara jenggot.

Di sisi lain, mereka mengagungkan orang yang mengerok jenggotnya. Dia menilai bahwa orang yang pintar itu tidak memiliki jenggot. Padahal kepintaran yang bermanfaat adalah yang menjadikan pemiliknya tunduk dan menghormati syariat, tidak menyelisihinya. Sungguh, vonis goblok lebih tepat diberikan kepada orang yang merendahkan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Tentang perintah memelihara jenggot, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَعْفُوا اللِّحَى وَجُزُّوا الشَّوَارِبَ وَغَيِّرُوا شَيْبَكُمْ وَلَا تَشَبَّهُوا بِالْيَهُودِ وَالنَّصَارَى

“Biarkan (pelihara) jenggot, pangkaslah kumis, dan ubahlah uban kalian. Janganlah kalian menyerupai orang Yahudi dan Nasrani.” (HR. Ahmad dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh al-Albani rahimahullah dalam Shahih al-Jami’ no. 1067)

Kata al-Munawi, membiarkan jenggot ialah memperbanyaknya dan menguranginya. (Faidhul Qadir, 4/417)

Jadi, memelihara jenggot adalah sunnah Nabi yang diperintahkan, bukan tradisi Arab. Ia adalah upaya tampil berbeda dengan Yahudi dan Nasrani. Sebab, di antara tuntutan menelusuri jalan yang lurus adalah dia harus menyelisihi cara dan jalan orang kafir.

Ucapan dan pernyataan siapapun, apabila bertentangan dengan bimbingan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidak dianggap dan tidak ada nilainya.

“Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam banyak rambut jenggotnya.” ( HR. Muslim dari Jabir bin Samurah radhiallahu ‘anhu)

 

  1. Merendahkan Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

Ini tentu kejahatan yang luar biasa terhadap syariat. Sopan santun terhadap orang lain menjadi tidak ada nilainya, apabila disertai sikap melecehkan syariat. Setinggi apapun kedudukan seseorang di mata manusia, ia tetap menjadi orang rendahan apabila mengolok-olok sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Al-Imam al-Barbahari rahimahullah berkata, “Apabila engkau mendengar seseorang mencela hadits, menolak hadits, atau menginginkan (dalil) selain hadits, ragukan keislamannya. Tidak diragukan bahwa dia adalah pengikut hawa nafsu dan ahli bid’ah.” (Syarhus Sunnah)

Di antara yang mereka perolok-olokan adalah merapatkan barisan shalat (shaf) dan pakaian cingkrang, yakni seorang memakai pakaian di atas mata kaki. Padahal telah jelas hadits dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

مَا أَسْفَلَ الْكَعْبَيْنِ مِنَ الْإِزَارِ فَفِي النَّارِ

“Kain yang menjulur sampai bawah mata kaki tempatnya di neraka.” (HR. al-Bukhari dan an-Nasai dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)

Mengangkat kain di atas mata kaki, di samping bentuk ketundukan kepada bimbingan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam juga lebih menunjukkan ketakwaan seorang kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan menjadikan pakaian tidak cepat kotor dan rusak.

 

  1. Tidak ilmiah

Misalnya, mereka menyatakan bahwa cadar (hijab) adalah budaya Arab, dan kita tidak perlu meniru orang Arab. Padahal budaya wanita bangsa Arab sebelum Islam datang ialah tidak menutup aurat.

Perintah bagi wanita untuk menutupi wajahnya juga bukan di awal-awal Islam. Jadi, dari sisi mana memakai cadar bisa disebut budaya Arab?!

Saat mereka mengomentari wanita pemakai cadar yang menutup auratnya, mereka tutup mulut dari para wanita yang membuka auratnya. Mereka tak ubahnya seperti kaum Khawarij yang membunuhi kaum muslimin, namun membiarkan para penyembah berhala.

 

  1. Tidak menghargai keragaman

Para pengusung Islam Nusantara kurang suka yang berbau kearab-araban, dalam hal berpakaian, penamaan, bahkan masalah isi hati seseorang. Misalnya, mereka menyatakan bahwa orang yang berjubah tidak boleh merasa lebih baik daripada yang tidak berjubah. Padahal, kapan orang-orang yang berjubah pernah menyatakan demikian?!

Kalau seseorang ingin meniru pakaian seperti pakaian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam—meskipun katakanlah itu adat orang Arab—apakah patut dicela?

Di sisi lain, yang memakai jins, dasi, dan rok mini yang merupakan budaya pakaian Barat sama sekali tidak disindir? Ada apa di balik ini?

Menurut Islam, tidak mengapa seseorang memakai pakaian yang biasa dipakai oleh penduduk negerinya, selama memenuhi kriteria pakaian yang tidak melanggar aturan syariat.

 

  1. Mereka anggap bahwa Islam yang santun adalah yang menghargai kearifan lokal dan membiarkan budaya masyarakat untuk dilestarikan.

Padahal, masalah ini perlu dirinci. Sebab, ada budaya yang berbenturan dengan ajaran Islam yang mulia dan harus ditinggalkan. Ada juga budaya yang tidak bertentangan dengan nilai-nilai agama sehingga boleh dilestarikan.

Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus, bangsa Arab memiliki sekian budaya, seperti menyembah berhala, yang kuat mencaplok yang lemah, membunuh bayi perempuan, dan seabreg budaya lain. Apakah karena ingin menjaga budaya itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak melarang hal-hal tersebut?!

Tentu saja Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberantasnya dan menggantinya dengan yang lebih baik.

 

  1. Sombong

Konsep Islam Nusantara dianggap oleh para pengusungnya sebagai konsep yang terbaik. Mereka membanggakannya dan menganggap bahwa konsep inilah yang akan mendunia serta bisa menjadi contoh bagi negara lain.

Alih-alih negara lain akan mencontohnya, masyarakat di negeri ini saja banyak yang menentang karena bertentangan dengan konsep Islam rahmatan lil ’alamin!

Sungguh, para pengusung konsep Islam Nusantara adalah orang-orang yang sok pintar; padahal bodoh, sok ilmiah, dan sok rasional di hadapan orang awam.

Di hadapan para ulama, mereka orang yang serampangan. Mereka menafsirkan agama semaunya, meremehkan syariat, para pengagung syariat, serta menistai agama; tetapi mereka tidak merasa.

Wallahu a’lam.

 Ditulis oleh al-Ustadz Abdul Mu’thi Sutarman, Lc

Manusia Terbaik dan Terburuk

Dari Abu Musa radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَثَلُ الَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَالْأُتْرُجَّةِ طَعْمُهَا طَيِّبٌ وَرِيحُهَا طَيِّبٌ وَالَّذِي ل يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَالتَّمْرَةِ طَعْمُهَا طَيِّبٌ وَلَا رِيحَ لَهَا

“Permisalan seorang mukmin yang membaca (mempelajari) al-Qur’an seperti buah limau, enak rasanya, dan harum baunya. Permisalan seorang mukmin yang tidak membaca al-Qur’an seperti buah kurma, enak rasanya tetapi tidak ada baunya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

 

Dua jenis manusia ini adalah golongan manusia yang terbaik. Sebab, manusia terbagi menjadi empat jenis:

1. Manusia yang memiliki kebaikan untuk dirinya sendiri dan orang lain.

Inilah jenis manusia yang terbaik, yaitu seorang mukmin yang membaca al-Qur’an dan mempelajari ilmu agama sehingga dapat bermanfaat untuk dirinya sendiri dan orang lain. Ia diberkahi di mana pun berada. Hal ini sebagaimana firman Allah  Subhanahu wata’ala tentang Nabi Isa ‘Alaihissalam,

وَجَعَلَنِي مُبَارَكًا أَيْنَ مَا كُنتُ وَأَوْصَانِي بِالصَّلَاةِ وَالزَّكَاةِ مَا دُمْتُ حَيًّا

“Dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkahi di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) shalat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup.” (Maryam: 31)

2. Manusia yang memiliki kebaikan pada dirinya sendiri.

Dia adalah seorang mukmin yang tidak memiliki ilmu agama yang dapat diajarkan kepada orang lain. Dua jenis manusia ini adalah manusia yang terbaik. Sumber kebaikan yang ada pada keduanya terletak pada keimanan mereka, baik keimanan tersebut bermanfaat bagi diri mereka sendiri maupun orang lain. Hal ini sesuai dengan keadaan setiap mukmin.

3. Manusia yang tidak memiliki kebaikan, tetapi kejelekannya tidak  berpengaruh kepada orang lain.

4. Manusia yang memiliki kejelekan dan berpengaruh kepada orang lain.

Inilah jenis manusia yang terburuk. Allah  Subhanahu wata’ala berfirman,

الَّذِينَ كَفَرُوا وَصَدُّوا عَن سَبِيلِ اللَّهِ زِدْنَاهُمْ عَذَابًا فَوْقَ الْعَذَابِ بِمَا كَانُوا يُفْسِدُونَ

“Orang-orang yang kafir dan menghalangi (manusia) dari jalan Allah, Kami tambahkan kepada mereka siksaan di atas siksaan karena mereka selalu berbuat kerusakan.” (an-Nahl: 88)

Jadi, seluruh kebaikan bersumber dari keimanan pada diri seseorang dan yang menyertai keimanan tersebut. Adapun seluruh kejelekan bersumber dari ketiadaan iman pada diri seseorang dan adanya sifat-sifat yang bertentangan dengan keimanan dalam dirinya. Wallahul muwaffiq. Ini semakna dengan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam,

الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ

“Seorang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah  Subhanahu wata’ala dari mukmin yang lemah, dan semua (mukmin) memiliki kebaikan.” (HR. Muslim no. 2664 dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)

Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam membagi orang mukmin menjadi dua golongan:

1. Golongan mukmin yang kuat beramal, kuat keimanannya, kuat memberikan manfaat kepada orang lain, dan

2. Golongan mukmin yang lemah dalam hal tersebut.

Meski demikian, beliau menjelaskan bahwa kedua golongan mukmin tersebut tetap memiliki kebaikan. Sebab, keimanan dan buah-buahnya, semuanya adalah kebaikan, walaupun setiap mukmin berbeda tingkatannya dalam kebaikan tersebut. Ini pun semisal dengan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam,

الْمُؤْمِنُ الَّذِي يُخَالِطُ النَّاسَ وَيَصْبِرُ عَلَى أَذَاهُمْ خَيْرٌ مِنْ الْمُؤْمِنِ الَّذِي ل يُخَالِطُ النَّاسَ وَلَا يَصْبِرُ عَلَى أَذَاهُمْ

“Seorang mukmin yang berkumpul dengan manusia dan bersabar atas gangguan mereka, lebih baik daripada seorang mukmin yang tidak berkumpul dengan manusia dan tidak bersabar atas gangguan mereka.” (HR. Ibnu Majah, dinyatakan sahih oleh al-Albani dalam Shahihul Jami’)

Dipahami dari hadits sahih di atas, seseorang yang tidak memiliki keimanan berarti tidak ada sedikit pun kebaikan pada dirinya. Sebab, orang yang tidak memiliki keimanan bisa jadi keadaannya selalu jelek, membahayakan dirinya sendiri dan masyarakatnya dalam segala sisi. Bisa jadi pula, dia memiliki sedikit kebaikan yang larut dalam kejelekannya. Kejelekannya akan mengalahkan kebaikannya karena ketika kebaikan terlarut dan tenggelam dalam kerusakan, ia akan menjadi kejelekan.

Kebaikan yang ada padanya akan diimbangi oleh kejelekan yang semisal. Akhirnya, gugurlah kebaikan dan kejelekan tersebut. Yang tersisa hanyalah kejelekan yang tiada lagi kebaikan untuk mengimbanginya. Siapa pun yang memerhatikan kenyataan yang ada pada manusia akan mendapati keadaan mereka sesuai dengan apa yang dikabarkan oleh Nabi n. (Diambil dari at-Taudhih wal Bayan li Syajaratil Iman hlm. 60—62, karya asy-Syaikh as-Sa’di rahimahullah)

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Muhammad Abdul Jabbar

Sikap Muslimin Terhadap Film Yang Menghina Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam

Dari Abdul Aziz bin Abdillah bin Muhammad Alusy Syaikh, kepada segenap kaum muslimin yang membacanya, semoga Allah menyelamatkan mereka. Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Amma ba’du; Kita memuji Allah Subhanahu wata’ala yang telah melimpahkan nikmat kepada kita dengan menjadikan kita sebagai umat terbaik yang dikeluarkan untuk manusia, yang memerintahkan yang ma’ruf dan mencegah yang mungkar, serta beriman kepada-Nya. Allah Subhanahu wata’ala juga telah menganugerahkan nikmat dan keutamaan dengan menurunkan kitab-Nya yang termulia, al-Qur’an, al- Furqan, kepada kita. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

إِنَّ هَٰذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ وَيُبَشِّرُ الْمُؤْمِنِينَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْرًا كَبِيرًا

“Sesungguhnya al-Qur’an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi kabar gembira kepada orang-orang mukmin yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar.” (al-Isra: 9)

Allah Subhanahu wata’ala juga berfirman,

تَبَارَكَ الَّذِي نَزَّلَ الْفُرْقَانَ عَلَىٰ عَبْدِهِ لِيَكُونَ لِلْعَالَمِينَ نَذِيرًا

“Mahasuci Allah yang telah menurunkan al-Furqan (al-Qur’an) kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam.” (al-Furqan:1)

Allah Subhanahu wata’ala juga memberi anugerah kepada kita—dan Dia adalah Dzat Pemilik keutamaan dan anugerah—dengan mengutus Rasul-Nya yang termulia, penutup para nabi-Nya, Muhammad bin Abdillah Shallallahu ‘alaihi wasallam, seorang nabi dari keturunan Bani Hasyim, dari suku Quraisy. Menjadi teranglah cahaya kenabian atas beliau. Allah Subhanahu wata’ala memuliakan beliau dengan menjadikan beliau sebagai rasul dan mengutusnya kepada makhluk-Nya. Allah Subhanahu wata’ala pun mengistimewakan beliau dengan berbagai karamah, sekaligus menjadi perantara (penyampai risalah) yang tepercaya antara Dia dan para hamba-Nya. Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, menyucikan dan mengajari mereka al-Kitab dan hikmah, sebagaimana firman Allah Subhanahu wata’ala,

لَقَدْ مَنَّ اللَّهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولًا مِّنْ أَنفُسِهِمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِن كَانُوا مِن قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُّبِينٍ

“Sungguh, Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus di antara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka al-Kitab dan al-Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” (Ali Imran: 164)

Dengan mengutus Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam, Allah Subhanahu wata’ala mewujudkan tauhid yang dengannya Dia menghapus kesyirikan. Allah Subhanahu wata’ala pun menjadikan cahaya yang beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam bawa sebagai penerang kehidupan. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

أَوَمَن كَانَ مَيْتًا فَأَحْيَيْنَاهُ وَجَعَلْنَا لَهُ نُورًا يَمْشِي بِهِ فِي النَّاسِ كَمَن مَّثَلُهُ فِي الظُّلُمَاتِ لَيْسَ بِخَارِجٍ مِّنْهَا ۚ كَذَٰلِكَ زُيِّنَ لِلْكَافِرِينَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar darinya? Demikianlah Kami jadikan orang yang kafir itu memandang baik apa yang telah mereka kerjakan.” (al-An’am: 122)

Allah Subhanahu wata’ala berfirman pula,

وَكَذَٰلِكَ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ رُوحًا مِّنْ أَمْرِنَا ۚ مَا كُنتَ تَدْرِي مَا الْكِتَابُ وَلَا الْإِيمَانُ وَلَٰكِن جَعَلْنَاهُ نُورًا نَّهْدِي بِهِ مَن نَّشَاءُ مِنْ عِبَادِنَا ۚ وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَىٰ صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ

“Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (al-Qur’an) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah al-Kitab (al-Qur’an) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan al-Qur’an itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” (asy-Syura: 52)

Diutusnya beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam  adalah rahmat bagi alam semesta ini, sebagaimana firman-Nya,

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ

“Dan tiadalah Kami mengutusmu melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (al-Anbiya: 107)

Dengan pengutusan beliau, terwujudlah rahmat yang sempurna yang memperbaiki kehidupan mereka di dunia dan keadaan mereka di hari kiamat,

لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِّنْ أَنفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُم بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ

“Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.” (at- Taubah: 128)

Di samping memerintahkan pengagungan terhadap perintah Allah, syariat Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad juga membawa kasih sayang bagi seluruh hamba-Nya. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

فَأَمَّا مَنْ أَعْطَىٰ وَاتَّقَىٰ () وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَىٰ ()  فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْيُسْرَىٰ

“Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah.” (al-Lail: 5—7)

Para ulama mengatakan bahwa dua pokok ini—mengagungkan perintah Allah dan membawa kasih sayang bagi para hamba-Nya—adalah sifat umum agama ini. Seiring dengan kesempurnaan agama Islam yang agung ini, yang dasar tujuannya sesuai dengan fitrah yang lurus, penuh toleransi dan kemudahan dalam hal pensyariatan, penuh keadilan dan keseimbangan dalam memenuhi hak, penuh kebaikan dalam hal bantuan dan pemberian; sungguh urusan dan keadaannya telah mencapai apa yang diliputi oleh malam dan siang. Manusia pun masuk ke dalam agama Islam secara berbondong-bondong. Dengan hikmah-Nya, Allah Subhanahu wata’ala menentukan terjadinya pertarungan antara kebenaran dan kebatilan. Di antara ketentuan- Nya tersebut adalah adanya orang-orang yang benci dan tidak menyukai para nabi dan rasul serta kebenaran yang jelas yang mereka ajarkan. Hal ini disebabkan buruknya hati mereka dan rusaknya fitrah mereka. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِينَ الْإِنسِ وَالْجِنِّ يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَىٰ بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُورًا ۚ وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ مَا فَعَلُوهُ ۖ فَذَرْهُمْ وَمَا يَفْتَرُونَ

“Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). Jika Rabbmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan.” (al-An’am: 112)

Allah Subhanahu wata’ala juga berfirman,

وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا مِّنَ الْمُجْرِمِينَ ۗ وَكَفَىٰ بِرَبِّكَ هَادِيًا وَنَصِيرًا

“Dan seperti itulah, telah Kami adakan bagi tiap-tiap nabi, musuh dari orang orang yang berdosa. Dan cukuplah Rabbmu menjadi Pemberi petunjuk dan Penolong.” (al-Furqan: 31)

Yang mereka inginkan adalah,

يُرِيدُونَ لِيُطْفِئُوا نُورَ اللَّهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَاللَّهُ مُتِمُّ نُورِهِ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ

“Mereka ingin hendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir benci.” (ash-Shaf: 8)

Jadi, di antara para setan itu adalah setan dari kalangan manusia dan jin.  Sejarah mengungkapkan berbagai tipu daya, metode, ucapan, dan perbuatan yang merupakan makar dan muslihat yang mereka usahakan dalam rangka mencela hamba dan Rasul-Nya, Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam. Allah Subhanahu wata’ala telah melindungi beliau dari makar mereka dan mengembalikannya ke leher mereka. Demikianlah. Di antara upaya sesat dan putus asa mereka yang terakhir adalah apa yang menjadi berita pada hari-hari ini, yaitu penyebaran sebuah film yang berupaya menghina Nabi n. Kami ikuti pula perkembangan penolakan lembagalembaga Islam dan Negara terhadap upaya kotor yang tidak direstui oleh akal sehat dan agama tersebut. Oleh karena itu, kami ingin menjelaskan beberapa poin penting berikut kepada segenap pihak.

1. Tindakan kriminal yang buruk ini, yaitu penyebaran film yang jelek tersebut, sama sekali tidak memadaratkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam  yang mulia dan agama Islam. Sebab, Allah Subhanahu wata’ala  telah mengangkat kedudukan Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam sekaligus menjadikan kerendahan dan kehinaan bagi orang yang menyelisihi perintah beliau. Allah telah menganugerahi beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam kemenangan yang nyata. Allah Subhanahu wata’ala juga melindungi beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam dari seluruh manusia dan memberi kecukupan kepada beliau dari orang-orang yang mengolok-olok beliau. Selain itu, Allah Subhanahu wata’ala menganugerahkan al-Kautsar kepada beliau dan menjadikan orang yang membenci beliau sebagai orang yang terputus (kebaikannya). Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

أَلَمْ نَشْرَحْ لَكَ صَدْرَكَ () وَوَضَعْنَا عَنكَ وِزْرَكَ () الَّذِي أَنقَضَ ظَهْرَكَ () وَرَفَعْنَا لَكَ ذِكْرَكَ

“Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu? Dan Kami telah menghilangkan dari padamu bebanmu, yang memberatkan punggungmu? Dan Kami tinggikan bagimu sebutan (nama) mu?” (al-Insyirah: 1—4)

Allah Subhanahu wata’ala juga berfirman,

إِنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُّبِينًا () لِّيَغْفِرَ لَكَ اللَّهُ مَا تَقَدَّمَ مِن ذَنبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ وَيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكَ وَيَهْدِيَكَ صِرَاطًا مُّسْتَقِيمًا () وَيَنصُرَكَ اللَّهُ نَصْرًا عَزِيزًا

“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata, supaya Allah memberi ampunan kepadamu terhadap dosamu yang telah lalu dan yang akan datang serta menyempurnakan nikmat-Nya atasmu dan memimpin kamu kepada jalan yang lurus, dan supaya Allah menolongmu dengan pertolongan yang kuat (banyak).” (al-Fath: 1—3)

Allah Subhanahu wata’ala berfirman pula,

وَاللَّهُ يَعْصِمُكَ مِنَ النَّاسِ

“Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia.” (al-Maidah: 67)

Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

أَلَيْسَ اللَّهُ بِكَافٍ عَبْدَهُ

“Bukankah Allah cukup untuk melindungi hamba-hamba-Nya?” (az-Zumar: 36)

Firman Allah Subhanahu wata’ala,

إِنَّا كَفَيْنَاكَ الْمُسْتَهْزِئِينَ

“Sesungguhnya Kami memelihara kamu daripada (kejahatan) orang-orang yang memperolok-olokkan (kamu).” (al-Hijr: 95)

Firman-Nya yang lain,

إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ () فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ () إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ

“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Rabbmu dan berkorbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu, dialah yang terputus.” (al-Kautsar: 1—3)

Semakin besar upaya jelek orang-orang jahat tersebut, akan semakin tersebar pula keutamaan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dan ketinggian agama Islam. Ini adalah bukti atas kebenaran ayat ayat mulia di atas.

2. Seorang muslim diperintah dan dituntut—dalam setiap hal yang dilakukannya atau ditinggalkannya—untuk selalu mengikuti petunjuk dan sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, sebagai pengamalan terhadap firman Allah Subhanahu wata’ala,

لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (al-Ahzab: 21)

Dengan demikian, pengingkaran seorang muslim terhadap tindakan kriminal ini juga wajib disesuaikan dengan apa yang disyariatkan oleh Allah Subhanahu wata’ala dalam Kitab- Nya dan oleh Rasulullah dalam sunnah beliau. Kemurkaan dan kemarahan mereka hendaknya tidak melampaui syariat hingga menyebabkannya melakukan hal yang dilarang. Sebab, jika demikian, berarti kaum muslimin tanpa sadar benar-benar telah masuk perangkap yang menjadi tujuan film yang jelek tersebut. Haram hukumnya melibatkan orang yang tidak bersalah ke dalam kejahatan seorang kriminal dan pendosa. Haram pula hukumnya melampaui batas terhadap orang orang yang dilindungi darah dan hartanya, atau memprovokasi massa untuk membakar dan menghancurkan (bangunan).

Tindakan tindakan tersebut justru memperburuk citra agama Islam. Tidak diridhai oleh Allah Subhanahu wata’ala dan sama sekali tidak termasuk sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Allah telah mencela orang-orang yang membakar rumah mereka dengan tangan mereka sendiri, dan kita harus mengambil pelajaran dari keadaan mereka tersebut. Pada kesempatan ini, hendaknya kita juga mengingat bahwa tidaklah Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam— yang berhak kita tebus dengan diri dan keluarga kita—diolok-olok kecuali semakin menekuni akhlak yang utama dan perangai yang mulia, sebagai pengamalan terhadap firman Allah Subhanahu wata’ala,

وَلَقَدْ نَعْلَمُ أَنَّكَ يَضِيقُ صَدْرُكَ بِمَا يَقُولُونَ () فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَكُن مِّنَ السَّاجِدِينَ () وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ

“Dan Kami sungguh-sungguh mengetahui, dadamu menjadi sempit disebabkan apa yang mereka ucapkan, maka bertasbihlah dengan memuji Rabbmu dan jadilah kamu di antara orang-orang yang bersujud (shalat), dan sembahlah Rabbmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal).” (al-Hijr: 97—99)

Sungguh, Allah Subhanahu wata’alatelah menyebutkan sifat beliau dalam firman-Nya,

وَإِنَّ لَكَ لَأَجْرًا غَيْرَ مَمْنُونٍ

“Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (al-Qalam: 4)

Dalam Shahih al-Bukhari dan lainnya, dari hadits Abdullah bin Amr radhiyallahu ‘anhuma, dia ditanya, “Ceritakanlah kepada kami tentang sifat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang disebutkan di dalam Taurat.” Abdullah bin Amr  menjawab, “Sungguh, sifat beliau yang disebutkan dalam Taurat adalah seperti yang disebutkan dalam al-Qur’an, ‘Wahai Nabi, Kami mengutusmu sebagai saksi, pemberi kabar gembira, pemberi peringatan, dan pelindung kaum yang ummi. Engkau adalah hamba dan utusan-Ku. Aku namai engkau al-Mutawakkil. Engkau bukan orang yang kasar tutur katanya, keras perangainya, dan suka berteriak di pasar. Engkau juga tidak membalas kejelekan dengan kejelekan, tetapi dengan kebaikan. Engkau justru memaafkan dan mengampuni. Aku tidak akan mewafatkannya hingga Aku tegakkan agama yang telah bengkok itu. Melalui dia, Aku buka mata-mata yang buta, telingatelinga yang tuli, dan hati-hati yang lalai, dengan mereka mengucapkan La ilaha illallah’.”

Apabila pengingkaran yang luas di dunia Islam tidak menimbulkan tindakantindakan positif dan konstruktif, tentu hal itu tidak akan bertahan lama dan segera berakhir pengaruhnya, seakan-akan tidak terjadi apa pun sebelumnya. Oleh karena itu, bentuk pembelaan terbesar terhadap Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah meneladani petunjuk beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam, mengikuti sunnah beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam, menyebarkan keutamaan-keutamaan beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam, mempelajari sejarah kehidupan beliau, dan menyebarkan kebenaran Islam serta ajaran-ajarannya.

3. Kaum muslimin harus sadar sepenuhnya bahwa perbuatan dosa dan kriminal tersebut tidaklah ditujukan untuk menghina Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, karena mereka (yang melakukannya) tahu bahwa mereka sama sekali tidak bisa memberi madarat kepada beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam. Akan tetapi, yang kami ketahui dengan pasti—bukan hanya sangkaan—

dengan membaca sejarah hingga saat ini, musuh-musuh (agama) yang menyalakan gejolak ini atau provokasi lainnya, menyelipkan banyak tujuan. Di antara ambisi mereka adalah memalingkan kaum muslimin dari pekerjaan besar yang sedang mereka lakukan: membangun negara, mewujudkan persatuan, dan menggapai kemodernan serta kemajuan. Karena itu, bantahan yang gamblang terhadap penghinaan tersebut adalah kaum muslimin hendaknya terus melaju, giat, dan bertekad kuat untuk membangun dan mengembangkan negeri mereka, hingga mereka mampu menunaikan tanggung jawab dan amanah sebagai umat terbaik yang dikeluarkan untuk manusia.

4. Pada kesempatan ini, kami mendorong dan menuntut agar negara-negara serta organisasi multilateral di dunia bergerak mengajukan tuntutan pidana terhadap tindakan penghinaan kepada para nabi dan rasul, seperti Ibrahim, Musa, Isa, dan Muhammad, Alaihissalam, yang dihormati, diagungkan dan dimuliakan oleh nurani kemanusiaan. Sungguh, negeri dua tanah suci, Kerajaan Arab Saudi, memiliki tuntutan yang lebih dalam hal ini. Kami memohon kepada Allah Subhanahu wata’ala agar meliputi seluruh penjuru dunia ini dengan kebaikan, memberi taufik kepada kaum muslimin agar menyatukan langkah mereka, dan memperbaiki keadaan mereka. Sesungguhnya Dia Mahakuasa untuk mewujudkannya. Semoga shalawat dan salam selalu terlimpah kepada Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam, keluarga, dan para sahabat beliau seluruhnya.

Mufti Umum Kerajaan Arab Saudi, Ketua Dewan Ulama Besar & Komite Penelitian Ilmiah dan Fatwa

(Sumber http://www.sahab.net/ home/?p=975)

Tunaikan Kewajibanmu, Engkau akan Dapatkan Hakmu

Allah Subhanahu wata’ala adalah satu-satunya sesembahan kita yang berhak menerima berbagai peribadahan. Dia Subhanahu wata’ala adalah Zat yang memiliki nama-nama dan sifat-sifat yang sempurna, sehingga semua perbuatan-Nya senantiasa mengandung hikmah dan keadilan.

Di antara bukti yang menunjukkannya, Allah Subhanahu wata’ala menjadikan dunia yang fana ini sebagai medan ujian dan cobaan bagi seluruh hamba-Nya. Siapa di antara mereka yang taat dan siapa yang bermaksiat; siapa di antara mereka yang berhak mendapatkan rahmat-Nya dan siapa yang berhak mendapatkan kemurkaan-Nya. Allah Subhanahu wata’ala mengabarkan hal itu di dalam firman-Nya,

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا

“Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya.” (al-Mulk: 2)

Allah Subhanahu wata’ala menjadikan sebagian kita sebagai ujian dan cobaan bagi sebagian yang lainnya, sebagaimana firman-Nya,

وَجَعَلْنَا بَعْضَكُمْ لِبَعْضٍ فِتْنَةً أَتَصْبِرُونَ ۗ وَكَانَ رَبُّكَ بَصِيرًا

“Dan Kami jadikan sebagiankamu sebagai cobaan bagi sebagian yang lain. Maukah kamu bersabar? Dan adalah Rabbmu Maha Melihat.” (al-Furqan: 20)

Termasuk ujian dan cobaan dari Allah Subhanahu wata’ala yang diberitakan dalam ayat ini adalah para penguasa bagi rakyatnya. Tujuannya, menurut Ibnu Katsir rahimahullah dalam Tafsir-nya, adalah “maukah kalian bersabar, sehingga kalian menegakkan kewajiban-kewajiban, yang dengan sebab itu Allah Subhanahu wata’ala akan memberi pahala, ataukah kalian justru tidak mau bersabar hingga mengakibatkan kalian mendapat siksa?”

Di antara kewajiban kaum muslimin terhadap para penguasanya berdasarkan syariat Allah Subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya adalah sebagai berikut.

Mencintai Mereka Karena Allah Subhanahu wata’ala

Allah Subhanahu wata’ala dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan kita untuk mencintai mereka karena-Nya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam juga menjelaskan bahwa di antara sifat pemimpin yang baik adalah dicintai oleh rakyatnya, sebagaimana sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam,

>خِيَارُ أَئِمَّتِكُمْ الَّذِينَ تُحِبُّونَهُمْ وَيُحِبُّونَكُمْ وَ يُصَلُّونَ عَلَيْكُمْ وَتُصَلُّونَ عَلَيْهِمْ وَ شِرَا رُ أَ ئِمَّتِكُمْ الَّذِ يْنَ تُبْغِضُو نَهُمْ وَ يُبْغِضُو نَكُمْ وَتَلْعَنُونَهُمْ وَيَلْعَنُونَكُمْ. قِيلَ: يَا رَسُولَ اللهِ، أَفَ نُنَابِذُهُمْ بِالسَّيْفِ؟ فَقَالَ : لَا ، مَا أَقَامُوا فِيكُمُ الصَّلَاةَ

“Sebaik-baik pemimpin kalian adalah para pemimpin yang kalian cintai dan yang mencintai kalian, mereka mendoakan kebaikan bagi kalian dan kalian mendoakan kebaikan bagi mereka. Seburuk-buruk pemimpin kalian adalah para pemimpin yang kalian benci dan yang membenci kalian, kalian melaknati (mendoakan keburukan) bagi mereka dan mereka melaknati kalian.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, bolehkah kami memerangi mereka?” Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab,“Tidak, selama mereka menegakkan shalat di antara kalian.” (HR. Muslim dari Auf bin Malik radhiyallahu ‘anhu)

>Oleh karena itu, hendaknya kaum muslimin secara umum dan para dai secara khusus menebarkan dan menguatkan kecintaan mereka terhadap para penguasa karena Allah Subhanahu wata’ala, seperti kata al-‘Allamah Ibnu Jama’ah al-Kinani rahimahullah, “Di antara sepuluh hak penguasa adalah kembalinya hati yang sempat membencinya dan terkumpulnya kecintaan rakyat kepadanya. Sebab, kedua hal ini mengandung kemaslahatan dan kebaikan bagi umat, serta akan menjadikan teraturnya urusan agama.” (Mu’amalatul Hukkam, hlm. 55)

Kecintaan kaum muslimin terhadap para penguasa karena Allah Subhanahu wata’ala akan terealisasi dengan :

  • Membantu mereka dalam rangkamenegakkankewajiban mereka karena Allah Subhanahu wata’ala.

Al-‘Allamah Ibnu Jama’ah rahimahullah berkata, “Di antara hak-hak penguasa atas rakyatnya adalah memikul tanggung jawabnya terhadap umat dan menolongnya sesuai dengan kemampuannya. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

تَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ

“Dan tolong-menolonglah dalam kebaikan dan ketakwaan, janganlah tolong-menolong dalam dosa dan pelanggaran.” (al-Maidah: 2)

Yang paling berhak untuk dibantu dalam urusan tersebut adalah para penguasa. (Mu’amalatul Hukkam, hlm. 55)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Seluruh anak Adam, kepentingan-kepentingan mereka, baik yang berkaitan dengan dunia maupun akhirat, tidak akan menjadi sempurna kecuali dengan bersatu, saling membantu, dan juga saling menolong. Mereka saling membantu dalam upaya meraih hal yang bermanfaat bagi mereka dan saling menolong dalam upaya menepis berbagai macam perkara yang akan membahayakan mereka. Oleh karena itulah, dikatakan bahwa manusia memiliki tabiat-tabiat yang berdekatan (antara satu dengan lainnya).

Apabila mereka berkumpul, pasti mereka memiliki kepentingan bersama yang harus mereka tunaikan untuk meraih hal yang bermanfaat bagi mereka dan juga memiliki urusan yang harus mereka hindari, karena perkara itu merugikan mereka sehingga mereka harus menaati pemimpinnya agar tercapai tujuannya.” (al-Hisbah, hlm. 2)

  • Bermuamalah bersama mereka dengan adab mulia, baik dalam perkataan maupun perbuatan.

Allah Subhanahu wata’ala memerintahkan kedua nabi-Nya, Musa dan Harun ‘alaihimas salam untuk mendakwahi Fir’aun la’natullah dalam firman-Nya,

اذْهَبْ أَنتَ وَأَخُوكَ بِآيَاتِي وَلَا تَنِيَا فِي ذِكْرِي () اذْهَبَا إِلَىٰ فِرْعَوْنَ إِنَّهُ طَغَىٰ () فَقُولَا لَهُ قَوْلًا لَّيِّنًا لَّعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَىٰ

“Pergilah kamu beserta saudaramu dengan membawa ayat-ayat-Ku, dan janganlah kamu berdua lalai dalam mengingat-Ku. Pergilah kalian berdua kepada Fir’aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas; maka berbicaralah kalian berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut.” (Thaha: 42-44)

Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata di dalam Tafsir-nya, “Ayat ini mengandung pelajaran yang agung. Fir’aun la’natullah berada pada puncak kezaliman dan kesombongan, sedangkan Musa ‘alaihis sallam adalah pilihan Allah Subhanahu wata’ala di antara para hamba-Nya. Meskipun demikian, Allah Subhanahu wata’ala memerintah Nabi-Nya untuk tidak berbicara dengan Fir’aun kecuali dengan lemah lembut sebagaimana yang dikatakan oleh Yazid ar-Raqasyi tatkala menjelaskan ayat tersebut.

Asy-Syaikh Abdussalam bin Barjas rahimahullah mengatakan, terdapat larangan mencela para penguasa secara khusus karena akan menyulut api fitnah dan membuka pintu kerusakan terhadap umat.

Sahl bin Abdullah at-Tustari rahimahullah berkata, “Senantiasa umat manusia berada dalam kebaikan selama  mereka memuliakan sulthan (pemimpinnya) dan para ulama. Karena apabila mereka memuliakan keduanya, niscaya Allah Subhanahu wata’ala akan memperbaiki urusan dunia dan akhiratnya. Apabila mereka melecehkan keduanya, niscaya mereka akan mendatangkan kerusakan urusan dunia dan akhiratnya.” (Tafsir al-Qurthubi, 5/260)

  • Menasihati mereka dalam urusan agama dan dunia dengan cara yang baik.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

الدِّينُ النَّصِيحَةُ. قُلْنَا: لِمَنْ؟ قَالَ: لِلهِ وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُولِهِ وَلِأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ وَعَامَّتِهِمْ

“Agama itu nasihat.” Kami bertanya, “Untuk siapa?” Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Untuk Allah Subhanahu wata’ala, kitab-Nya, Rasul-Nya, para pemimpin kaum muslimin, dan kaum muslimin seluruhnya.” (HR. Muslim dari Tamim ad-Dari)

Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah berkata, “Perbuatan menyebarkan kekurangan/aib para penguasa dan menyebutkannya melalui mimbar tidak termasuk manhaj salaf. Sebab, hal itu akan menimbulkan kekacauan, ketidaktaatan masyarakat dalam urusan yang baik serta pembicaraan yang membahayakan dan tidak ada manfaatnya (bagi mereka).”

Akan tetapi, cara yang tepat menurut salaf adalah menasihatinya dengan sembunyi-sembunyi (rahasia), dengan surat, atau dengan menghubungi para ulama yang akan mengarahkan mereka kepada kebaikan. Mengingkari kemungkaran seperti mengingkari zina, minum khamr, atau riba tanpa menyebutkan pelakunya. Cukup mengingkari macam-macam kemaksiatan dan memperingatkan umat darinya tanpa menyebutkan pelakunya, baik pelakunya dari kalangan penguasa atau selainnya.

Setelah mereka (ahlul fitnah) berhasil membuka pintu kejelekan itu pada zaman ‘Utsman dan mereka mengingkari ‘Utsman dengan terang-terangan. Lengkaplah fitnah, peperangan, dan kerusakan yang tidak akan berhenti karena dampak jelek yang ditimbulkannya sampai hari ini, sehingga muncullah fitnah antara Ali dan Mu’awiyah radhiyallahu ‘anhuma, terbunuhnya ‘Utsman dan ‘Ali radhiyallahu ‘anhuma karenanya, serta terbunuhnya sekian banyak para sahabat radhiyallahu ‘anhum dengan sebab mengingkari kemungkaran dan membeberkan kekurangan dengan terangterangan.

Pada akhirnya, orang yang paling mereka benci adalah pemimpin mereka dan pada puncaknya mereka membunuh pemimpin itu. (Huququ ar-Ra’i wa ar-Ra’iyah karya Ibnu‘Utsaimin, hlm. 27-28)

Mendengar dan Taat dalam Perkara yang Bukan Maksiat

Mendengar dan taat terhadap para penguasa kaum muslimin dalam perkara yang bukan maksiat adalah perkara yang telah disepakati kewajibannya menurut Ahlus Sunnah wal Jamaah. Ini adalah salah satu prinsip yang membedakan mereka dengan ahlul bid’ah. Hampir tidak ada sebuah tulisan dalam permasalahan akidah Ahlus Sunnah kecuali di dalamnya dibahas dengan jelas tentang wajibnya mendengar dan taat kepada penguasa, walaupun mereka sewenang-wenang, zalim, fasik, dan jahat. (Mu’amalatul Hukkam, hlm. 59)

Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنكُمْ ۖ

“Wahai orang-orang yangberiman, taatilah Allah, rasul, dan pemimpin kalian.” (an-Nisa’: 59)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

عَلَى الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ السَّمْعُ وَالطَّاعَةُ فِيمَا أَحَبَّ وَكَرِهَ إِلَّا أَنْ يُؤْمَرَ بِمَعْصِيَةٍ، فَإِنْ أُمِرَ بِمَعْصِيَةٍ فَلَا سَمْعَ وَلَا طَاعَةَ

“Wajib bagi setiap muslim untuk mendengar dan taat (kepada pemimpinnya) baik pada perkara yang disenangi maupun yang dibenci, kecuali kalau dia diperintah untuk berbuat maksiat.  Apabila dia diperintah untuk berbuat maksiat, tidak boleh mendengar dan taat (pada perkara itu).” (Muttafaqun alaih dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma)

Dari ‘Alqamah bin Wa’il al-Hadhrami, dari ayahnya, beliau berkata, “Salamah bin Yazid al-Ju’fi radhiyallahu ‘anhu bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, ‘Wahai Nabi Allah! Apa pendapatmu apabila yang memimpin kami adalah para penguasa yang meminta kami memenuhi hak mereka, tetapi mereka menghalangi hak kami. Apa yang engkau perintahkan kepada kami?’ Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam berpaling darinya, kemudian berulang dua atau tiga kali, sehingga al-Asy’ats bin Qais radhiyallahu ‘anhu menariknya dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam berkata,‘Dengar dan taatilah, hanyalah dibebankan kepada mereka segala sesuatu yang wajib mereka tunaikan dan kepada kalian segala sesuatu yang wajib kalian tunaikan’.” (HR. Muslim)

Maknanya, Allah Subhanahu wata’ala telah membebankan dan mewajibkan para penguasa untuk berbuat adil terhadap rakyatnya. Apabila mereka tidak melaksanakannya, maka mereka berdosa. Demikian pula Allah ‘azza wa jalla telah mewajibkan kepada rakyat untuk mendengar dan taat kepada mereka. Apabila mereka telah menunaikan kewajiban itu, maka mereka akan mendapatkan pahala. Kalau tidak melaksanakannya, maka mereka berdosa. (Mu’amalatul Hukkam, hlm. 66)

Adapun perkataan beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam, “Tidak boleh mendengar dan taat” bermakna pada perkara yang diperintahkan dan perbuatan maksiat saja. Apabila dia memerintahkan untuk menjalankan perekonomian dengan cara riba, agar membunuh seorang muslim tanpa alasan yang benar, atau semisalnya, maka harus mendurhakai perintah tersebut dan tidak boleh melaksanakannya.

Tidak boleh pula hadits itu dipahami bahwa jika seorang pemimpin memerintahkan perbuatan maksiat berarti tidak boleh ditaati secara mutlak pada seluruh perintahnya, tetap wajib untuk didengar dan ditaati, selain dalam urusan maksiat, maka tidak boleh mendengar dan taat. (Tahdzibur Riyasah, hlm. 113-114)

Al-Hasan al-Bashri rahimahullah berkata, “Para penguasa, walaupun binatang tunggangan itu bisa menari-nari dengan mereka dan rakyat berjalan di belakang mereka karena kemaksiatan itu dianggap ringan di dalam hati mereka, syariat tetap mengharuskan kita untuk menaatinya dan melarang kita untuk memberontaknya. Kita diperintahkan untuk menepis kejahatan mereka dengan tobat dan doa. Barang siapa yang menginginkan kebaikan, maka harus berpegang teguh dengan kebenaran dan mengamalkannya serta tidak menyelisihinya.” (Adab alhasanal-Bashri li Ibnil Jauzi, hlm. 121)

Sabar Menghadapi Kesewenangwenangan Mereka

Allah Subhanahu wata’ala dengan keadilan yang sempurna telah menakdirkan bahwa kemaksiatan dan kedurhakaan terhadap Allah Subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya adalah sumber kerusakan dan kehancuran di dunia serta kerugian dan kecelakaan di akhirat. Allah  Subhanahu wata’ala berfirman,

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (ar-Rum: 41)

Dengan ayat ini kita yakin bahwa berbagai kezaliman dan kesewenangwenangan yang dilakukan oleh sebagian para penguasa itu semuanya terjadi dengan sebab dosa dan kesalahan kita.

Sungguh, al-Hasan al-Bashri menceritakan bahwa Malik bin Dinar memberitakan bahwa al-Hajjaj berkata, “Ketahuilah, tatkala kalian melakukan suatu dosa yang baru, Allah Subhanahu wata’ala akan mengadakan perkara yang baru pula pada penguasa sebagai balasan.” Sungguh telah sampai berita kepadaku bahwa ada seorang yang berkata kepada al-Hajjaj, ‘Sungguh engkau telah melakukan perbuatan demikian dan demikian kepada umat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam,’ lantas dia menjawab, ‘Tentu, hanya saja aku adalah balasan bagi penduduk Irak tatkala mereka mengada-adakan perkara yang baru dalam agama mereka dan meninggalkan sebagian syariat yang dibawa oleh Nabi mereka Shallallahu ‘alaihi wasallam.’

Beliau rahimahullah juga berkata, ‘Sungguh telah sampai kepadaku berita bahwa ada seorang yang menulis surat kepada sebagian orang-orang saleh mengadukan tentang kesewenang-wenangan yang dilakukan oleh aparat negara.’ Kemudian dia menjawab, ‘Wahai saudaraku, telah sampai suratmu kepadaku yang kamu sebutkan tentang kesewenang-wenangan yang menimpamu dan sebagian aparat negara. Sudah sepantasnya orang yang telah melakukan suatu perbuatan maksiat kemudian mengingkari balasan/hukumannya dan tidaklah aku meyakini tentang perkara yang menimpamu itu kecuali kejelekan yang ditimbulkan oleh dosa-dosa. Wassalam’.”(Adab al-Hasan al-Bashri li Ibnil Jauzi, hlm. 119—120)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Kesewenang-wenangan dan kezaliman yang dilakukan oleh para penguasa, yang bersumber dari takwil -yang dibolehkan ataupun yang tidak- tidak boleh (menjadi alasan) untuk mengadakan kudeta, karena sikap ini termasuk kezaliman dan kesewenangwenangan.

Seperti kebiasaan yang dilakukan oleh mayoritas jiwa -berusaha menghilangkan keburukan dengan cara yang lebih buruk dan berusaha menghilangkan permusuhan dengan cara permusuhan yang lebih buruk- memberontak kepada penguasa akan menimbulkan kezaliman dan kerusakan yang lebih besar daripada kezaliman yang mereka lakukan.

Sikapilah dengan sabar, sebagaimana harus sabar tatkala memerintahkan perkara yang ma’ruf dan melarang yang mungkar atas kezaliman yang dilakukan oleh orang diperintah dan dilarang pada banyak tempat, seperti pada ayat al-Qur’an. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

يَا بُنَيَّ أَقِمِ الصَّلَاةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنكَرِ وَاصْبِرْ عَلَىٰ مَا أَصَابَكَ ۖ إِنَّ ذَٰلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ

Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpakamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).” (Luqman: 17)

Perintahkan yang ma’ruf dan laranglah yang mungkar, sabarlah atas segala sesuatu yang menimpamu. (Majmu’ Fatawa, 28/179)

Allah Subhanahu wata’ala mengabarkan nikmat yang dilimpahkan kepada bani Israil dengan sebab kesabaran mereka menghadapi Fir’aun dan tentaranya dengan bimbingan Nabi Musa ‘alaihis sallam,

وَأَوْرَثْنَا الْقَوْمَ الَّذِينَ كَانُوا يُسْتَضْعَفُونَ مَشَارِقَ الْأَرْضِ وَمَغَارِبَهَا الَّتِي بَارَكْنَا فِيهَا ۖ وَتَمَّتْ كَلِمَتُ رَبِّكَ الْحُسْنَىٰ عَلَىٰ بَنِي إِسْرَائِيلَ بِمَا صَبَرُوا ۖ وَدَمَّرْنَا مَا كَانَ يَصْنَعُ فِرْعَوْنُ وَقَوْمُهُ وَمَا كَانُوا يَعْرِشُونَ

“Dan Kami pusakakan kepada kaum yang telah ditindas itu, negeri-negeri bagian timur bumi dan bagian baratnya yang telah Kami beri berkah padanya. Dan telah sempurnalah perkataan Rabbmu yang baik (sebagai janji) untuk Bani Israil disebabkan kesabaran mereka. Dan Kami hancurkan apa yang telah dibuat Fir’aun dan kaumnya dan apa yang telah dibangun mereka.” (al-Araf: 137)

Mudah-mudahan Allah Subhanahu wata’ala senantiasa melimpahkan hidayah taufik-Nya kepada kaum muslimin semuanya, sehingga termasuk orang-orang yang sabar. Amin.

Doa yang Mulia bagi Penguasa

Kebaikan dan keadilan para penguasa adalah harapan setiap muslim yang cemburu terhadap agamanya. Sebab, kebaikan dan keadilan mereka berarti kebaikan bagi para hamba dan negerinegerinya. Hal ini sebagaimana yang dikatakan oleh Amirul Mukminin ‘Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu tatkala menjelang meninggalnya beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam, “Ketahuilah, bahwa umat manusia itu akan senantiasa berada dalam kebaikan selama para penguasa dan para pemberi petunjuknya (ulama) istiqamah memerhatikan mereka.”

Atsar di atas diriwayatkan oleh al-Baihaqi di dalam Sunan-nya kitab Ahlul Baqi pada bab “Fadhlul Imamul ‘Adil” dengan sanad yang sahih.

Di dalam Sunan itu pula, ada atsar dari al-Qasim bin Mukhaimirah radhiyallahu ‘anhu berkata, “Kebaikan dan kerusakan zaman kalian tergantung pada penguasa kalian. Apabila penguasa kalian baik, akan baik zaman kalian. Apabila penguasa kalian rusak, rusak pula zaman kalian.”

Kebaikan para penguasa itu kembali kepada Allah Subhanahu wata’ala semata. Allah Subhanahu wata’ala yang memberi petunjuk kepada siapa saja yang Dia kehendaki ke jalan yang lurus. Maka dari itu, setiap mukmin yang beriman kepada Allah Subhanahu wata’ala dan hari akhir wajib mendoakan kebaikan bagi para penguasa agar mendapatkan hidayah, taat kepada Allah Subhanahu wata’ala, dan berjalan di jalan yang diridhai, karena manfaatnya akan kembali kepada seluruh orang yang beriman di dunia dan di akhirat. (Mu’amalatul Hukkam, hlm. 131)

Beliau rahimahullah juga berkata, “Sesungguhnya saya mendoakan kebaikan bagi pemimpin itu agar senantiasa lurus, mendapatkan hidayah, taufik, dan pertolongan pada waktu malam dan siang. Aku berkeyakinan hal itu wajib bagiku.” (as-Sunnah lil Khallal, 14)

Al-Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah berkata, “Kalau saja aku memiliki satu doa yang mustajab, maka aku tidak akan panjatkan kecuali untuk kebaikan imam (pemimpin).”

Beliau rahimahullah ditanya, “Bagaimana hal itu, wahai Abu Ali?” Beliau rahimahullah menjawab, “Apabila aku panjatkan doa itu untuk diriku, kebaikannya hanya untukku. Namun, apabila aku panjatkan doa itu untuk kebaikan imam, kebaikan imam akan mengakibatkan kebaikan hamba dan negara.” (Hilyatul Auliya’, 8/91)

Setelah meriwayatkan hadits Tamim ad-Dari radhiyallahu ‘anhu yang marfu’, “Agama itu nasihat,” Abu ‘Utsman Sa’id bin Ismail rahimahullah berkata, “Nasihatilah penguasa, perbanyaklah doa kebaikan, dan bimbingan dalam ucapan, perbuatan, dan keputusan hukum baginya. Sebab, apabila mereka baik, menjadi baiklah hamba-hamba dengan sebab kebaikan mereka. Takutlah kamu untuk mendoakan kejelekan bagi mereka dengan laknat.  Itu hanya akan menambah kejelekan dan musibah bagi kaum muslimin. Akan tetapi, doakan kebaikan bagi mereka, agar bertobat sehingga mereka akan meninggalkan keburukan. Akhirnya, terangkatlah musibah itu dari kaum muslimin.” (Riwayat al-Baihaqi di dalam Syu’abul Iman, 13/99)

Perhatian ulama terhadap masalah ini terbukti dengan :

1. Memasukkan anjuran doa kebaikan bagi para penguasa dalam kitab-kitab akidah salaf yang ringkas, seorang muslim dituntut untuk meyakininya. Sebab, hal itu dibangun di atas hujah-hujah yang syar’i dari al-Kitab, as-Sunnah, dan ijma’ para imam muslimin.

2. Sebagian ulama menulis dalam kitab khusus membahas hal itu, seperti al-Imam al-‘Allamah Yahya bin Manshur al-Harrani al-Hanbali, yang terkenal dengan sebutan Ibnul Hubasyi rahimahullah, mengarang kitab yang berjudul “Da’aimul Islam fi Wujubi ad-Du’ailil Imam”.

3. Sebagian ulama ahli tahqiq menjadikan doa kebaikan bagi para penguasa sebagai salah satu ciri seorang sunni salafi. Sebaliknya, mendoakan keburukan atas nama para penguasa menjadi salah satu ciri ahlul bid’ah yang sesat.

Al-Imam al-Barbahari rahimahullah di dalam kitab SyarhusSunnah berkata,“Apabila engkau melihat seseorang mendoakan kejelekan bagi penguasa, ketahuilah bahwa dia pengekor hawa nafsu. Apabila engkau melihat seseorang mendoakan kebaikan bagi penguasa, ketahuilah bahwa dia pengikut sunnah, insya Allah.” Wallahu a’lam.

Oleh : al Ustadz Abul Abbas Muhammad Ihsan