Penyatuan Agama Dakwah kepada Kekafiran

Berbagai aliran sesat mengancam akidah umat. Sebagian paham sesat tersebut tampak jelas di kalangan umat Islam, seperti al-Qiyadah al-Islamiyah, Gafatar, Ahmadiyah, dan lainnya.

Di sisi lain, tidak sedikit dari paham sesat tersebut yang tidak kentara namun menipu dan memakan banyak korban. Lebih-lebih apabila kesesatan tersebut diserukan oleh orang-orang yang dianggap sebagai kaum intelektual dan cendekiawan, padahal jauh dari ilmu agama.

Ini adalah satu bukti ucapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

إِنَّهَا سَتَأْتِي عَلَى النَّاسِ سِنُونَ خَدَّاعَةٌ يُصَدَّقُ فِيهَا الْكَاذِبُ وَيُكَذَّبُ فِيهَا الصَّادِقُ وَيُؤْتَمَنُ فِيهَا الْخَائِنُ وَيُخَوَّنُ فِيهَا الْأَمِينُ وَيَنْطِقُ فِيهَا الرُّوَيْبِضَةُ. قِيلَ: وَمَا الرُّوَيْبِضَةُ؟ قَالَ: السَّفِيهُ يَتَكَلَّمُ فِي أَمْرِ الْعَامَّةِ

“Akan datang kepada kalian tahun-tahun yang menipu. Ketika itu seorang pendusta akan dianggap benar dan seorang yang jujur akan didustakan, pengkhianat akan diberi amanat, seorang yang amanah dianggap khianat, dan akan berbicara ketika itu Ruwaibidhah.”

Para sahabat bertanya, “Siapa Ruwaibidhah?”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Seseorang yang rendah dan kurang akal, berbicara tentang urusan orang banyak.” (HR. Ahmad dan dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh al-Albani dalam Shahihul Jami’)

 

Di antara paham sesat yang terus bergulir di masyarakat kita dan menipu sebagian muslimin adalah pluralisme agama. Padahal pada 28 Juli 2005, Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah menerbitkan fatwa yang melarang paham pluralisme dalam agama Islam.

Dalam fatwa tersebut, Pluralisme didefinisikan sebagai “suatu paham yang mengajarkan bahwa semua agama adalah sama dan karenanya kebenaran setiap agama adalah relatif. Oleh sebab itu, setiap pemeluk agama tidak boleh mengklaim hanya agamanya saja yang benar….” (Keputusan Fatwa MUI Nomor 7/Munas VII/MUI/II/2005 tentang pluralisme, liberalisme, dan sekulerisme)

Paham ini meruntuhkan fondasi agama kita yang paling utama, yakni al-wala’ wal bara’. Para pengusung paham ini menyerukan seruan sesat “persamaan agama” atau “penyatuan agama”.

Di Indonesia, pendukung dan corong pluralisme ini adalah Jaringan Islam Liberal (JIL). Di halaman utama situs mereka tertulis slogan mereka, “Dengan nama Allah, Tuhan Pengasih, Tuhan Penyayang, Tuhan Segala Agama”.

 

Maka dari itu, sangatlah penting bagi kita untuk terus menggali ilmu agama dalam rangka menjaga akidah kita dan mengingat kembali prinsip-prinsip agama kita: akidah Islam. Dengan mengetahui akidah dan prinsip Islam, kita akan tahu kesesatan dan kekafiran paham pluralisme tersebut.

Berikut adalah ringkasan beberapa poin dari fatwa para ulama Ahlus Sunnah yang tergabung dalam al-Lajnah ad-Daimah. Poin-poin ini menerangkan prinsip-prinsip mendasar dalam Islam.

 

  1. Di antara pokok akidah Islam yang pasti diketahui setiap muslim dan kaum muslimin telah berijma’ tentangnya adalah bahwa agama yang benar di muka bumi ini hanyalah Islam, Islam adalah penutup agama yang telah ada dan menghapus semua agama dan syariat yang telah ada.

Beribadah kepada Allah ‘azza wa jalla sekarang ini hanyalah dengan Islam, tidak boleh dengan agama lainnya. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

          إِنَّ ٱلدِّينَ عِندَ ٱللَّهِ ٱلۡإِسۡلَٰمُۗ

“Sesungguhnya agama yang benar di sisi Allah hanyalah Islam.” (Ali Imran: 19)

 

Dalam ayat yang lain,

          ٱلۡيَوۡمَ أَكۡمَلۡتُ لَكُمۡ دِينَكُمۡ وَأَتۡمَمۡتُ عَلَيۡكُمۡ نِعۡمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ ٱلۡإِسۡلَٰمَ دِينٗاۚ

        “Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kalian agama kalian, telah Aku sempurnakan nikmat-Ku kepada kalian, dan aku ridhai Islam sebagai agama kalian.” (al-Maidah: 3)

 

Dalam ayat yang lain,

وَمَن يَبۡتَغِ غَيۡرَ ٱلۡإِسۡلَٰمِ دِينٗا فَلَن يُقۡبَلَ مِنۡهُ وَهُوَ فِي ٱلۡأٓخِرَةِ مِنَ ٱلۡخَٰسِرِينَ ٨٥

        “Barang siapa menginginkan agama selain Islam, tidak akan diterima darinya, dan di akhirat nanti dia termasuk seorang yang merugi.” (Ali Imran: 85)

 

  1. Di antara prinsip pokok akidah Islam; Kitabullah al-Qur’anul Karim adalah kitab yang terakhir diturunkan, memansukh (menghapus) kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya: Taurat, Zabur, Injil, dan lainnya.

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

          وَأَنزَلۡنَآ إِلَيۡكَ ٱلۡكِتَٰبَ بِٱلۡحَقِّ مُصَدِّقٗا لِّمَا بَيۡنَ يَدَيۡهِ مِنَ ٱلۡكِتَٰبِ وَمُهَيۡمِنًا عَلَيۡهِۖ

        “Kami turunkan kepadamu kitab (al-Qur’an) dengan haq sebagai pembenar kitab-kitab yang sebelumnya dan menghapus kitab-kitab sebelumnya….” (al-Maidah: 48)

 

  1. Di antara pokok akidah Islam: Taurat dan Injil telah dimansukh (dihapus) oleh al-Qur’an; keduanya telah mengalami penyelewengan dan perubahan, yaitu ditambah dan dikurangi.

Hal ini dijelaskan dalam beberapa ayat,

        فَبِمَا نَقۡضِهِم مِّيثَٰقَهُمۡ لَعَنَّٰهُمۡ وَجَعَلۡنَا قُلُوبَهُمۡ قَٰسِيَةٗۖ يُحَرِّفُونَ ٱلۡكَلِمَ عَن مَّوَاضِعِهِۦ وَنَسُواْ حَظّٗا مِّمَّا ذُكِّرُواْ بِهِۦ

“(Tetapi) karena mereka melanggar janjinya, Kami laknat mereka, dan Kami jadikan hati mereka keras membatu. Mereka suka menyelewangkan firman-firman Allah dari makna yang sebenarnya dan mereka lupa bagian yang telah diingatkan kepada mereka….” (al-Maidah: 13)

 

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

          فَوَيۡلٞ لِّلَّذِينَ يَكۡتُبُونَ ٱلۡكِتَٰبَ بِأَيۡدِيهِمۡ ثُمَّ يَقُولُونَ هَٰذَا مِنۡ عِندِ ٱللَّهِ لِيَشۡتَرُواْ بِهِۦ ثَمَنٗا قَلِيلٗاۖ فَوَيۡلٞ لَّهُم مِّمَّا كَتَبَتۡ أَيۡدِيهِمۡ وَوَيۡلٞ لَّهُم مِّمَّا يَكۡسِبُونَ ٧٩

        Maka kebinasaan bagi orang-orang yang menulis al-Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya, “Ini dari Allah”, (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Kebinasaan bagi mereka akibat apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kebinasaan bagi mereka akibat apa yang mereka kerjakan.” (al-Baqarah: 79)

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

وَإِنَّ مِنۡهُمۡ لَفَرِيقٗا يَلۡوُۥنَ أَلۡسِنَتَهُم بِٱلۡكِتَٰبِ لِتَحۡسَبُوهُ مِنَ ٱلۡكِتَٰبِ وَمَا هُوَ مِنَ ٱلۡكِتَٰبِ وَيَقُولُونَ هُوَ مِنۡ عِندِ ٱللَّهِ وَمَا هُوَ مِنۡ عِندِ ٱللَّهِ وَيَقُولُونَ عَلَى ٱللَّهِ ٱلۡكَذِبَ وَهُمۡ يَعۡلَمُونَ ٧٨

        “Sesungguhnya di antara mereka ada segolongan yang memutar-mutar lidahnya membaca al-Kitab, supaya kamu menyangka yang dibacanya itu sebagian dari al-Kitab, padahal ia bukan dari al-Kitab dan mereka mengatakan, ‘Ia (yang dibaca itu datang) dari sisi Allah’, Padahal ia bukan dari sisi Allah. Mereka berkata dusta terhadap Allah sedang mereka mengetahui.” (Ali Imran: 78)

 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata ketika melihat Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu memegang secarik kertas Taurat,

“Apakah engkau ragu, wahai Ibnul Khaththab? Seandainya saudaraku Musa masih hidup, niscaya tidak ada pilihan untuknya kecuali harus mengikutiku.”

 

  1. Di antara pokok akidah Islam: Nabi kita dan Rasul kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah penutup nabi dan rasul, sebagaimana firman Allah ‘azza wa jalla,

          مَّا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَآ أَحَدٖ مِّن رِّجَالِكُمۡ وَلَٰكِن رَّسُولَ ٱللَّهِ وَخَاتَمَ ٱلنَّبِيِّ‍ۧنَۗ وَكَانَ ٱللَّهُ بِكُلِّ شَيۡءٍ عَلِيمٗا ٤٠

        “Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kalian, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (al-Ahzab: 40)

Tidak ada lagi nabi selain beliau yang wajib diikuti. Seandainya ada nabi yang masih hidup, tidak ada kelapangan baginya kecuali mengikuti Nabi kita, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Termasuk prinsip yang pokok dalam Islam adalah meyakini bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus kepada seluruh umat manusia. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

          وَمَآ أَرۡسَلۡنَٰكَ إِلَّا كَآفَّةٗ لِّلنَّاسِ بَشِيرٗا وَنَذِيرٗا وَلَٰكِنَّ أَكۡثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعۡلَمُونَ ٢٨

        “Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada seluruh umat manusia, sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui.” (Saba: 28)

Dalam ayat yang lain,

          قُلۡ يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِنِّي رَسُولُ ٱللَّهِ إِلَيۡكُمۡ جَمِيعًا

        Katakanlah, “Hai manusia, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepada kalian semua….” (al-A’raf: 158)

 

  1. Di antara pokok prinsip Islamyang penting adalah kewajiban meyakini kafirnya orang-orang yang tidak masuk Islam, baik orang Yahudi, Nasrani, dan selain mereka.

Mereka adalah orang kafir, musuh Allah ‘azza wa jalla dan rasul-Nya, dan mereka adalah penghuni neraka. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

          لَمۡ يَكُنِ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ مِنۡ أَهۡلِ ٱلۡكِتَٰبِ وَٱلۡمُشۡرِكِينَ مُنفَكِّينَ حَتَّىٰ تَأۡتِيَهُمُ ٱلۡبَيِّنَةُ ١

        “Orang-orang kafir yakni ahli kitab dan orang-orang musyrik tidak akan meninggalkan (agamanya) sebelum datang kepada mereka bukti yang nyata.” (al-Bayyinah: 1)

 

Dalam ayat lain,

          إِنَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ مِنۡ أَهۡلِ ٱلۡكِتَٰبِ وَٱلۡمُشۡرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَٰلِدِينَ فِيهَآۚ أُوْلَٰٓئِكَ هُمۡ شَرُّ ٱلۡبَرِيَّةِ ٦

        “Sesungguhnya orang-orang yang kafir yakni ahli kitab dan orang-orang yang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk.” (al-Bayyinah: 6)

 

Dalam riwayat al-Imam Muslim rahimahullah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,

وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ ل يَسْمَعُ بِي أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الْأُمَّةِ يَهُودِيٌّ وَ نَصْرَانِيٌّ ثُمَّ يَمُوتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ إِ كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ

“Demi Dzat yang jiwa Muhammad di tangan-Nya, tidak ada seorang pun dari umat ini, baik Yahudi maupun Nasrani, yang mendengar tentang aku (dakwah Islam) kemudian mati dalam keadaan tidak beriman kepada (syariat) yang aku bawa, kecuali dia adalah penghuni neraka.” (HR . Muslim no. 153)

 

Apa yang disebutkan di atas adalah ringkasan dari sebagian fatwa al-Lajnah ad-Daimah (12/275 no. fatwa 19402).

Poin-poin di atas penting untuk kita pahami. Ketika seorang muslim memahaminya, niscaya dia akan yakin tentang sesatnya para penyeru persatuan agama. Bahkan, al-Lajnah ad-Daimah dalam fatwa yang penulis isyaratkan di atas dengan tegas menyatakan,

Dakwah pada penyatuan agama, kalau muncul dari seorang muslim, itu teranggap sebagai bentuk kemurtadan yang jelas….

Pada poin keenam dalam fatwa tersebut, al-Lajnah ad-Daimah menegaskan,

“Seruan penyatuan agama adalah dakwah yang busuk dan penuh makar. Tujuannya adalah mencampuradukkan al-haq dengan kebatilan, merobohkan dan meruntuhkan tonggak-tonggak Islam, serta menyeret umat Islam kepada kemurtadan. Ini adalah bukti firman Allah,

          وَلَا يَزَالُونَ يُقَٰتِلُونَكُمۡ حَتَّىٰ يَرُدُّوكُمۡ عَن دِينِكُمۡ

        “Mereka akan terus memerangi kalian hingga memurtadkan kalian dari agama kalian.” (al-Baqarah: 217)

 

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

وَدُّواْ لَوۡ تَكۡفُرُونَ كَمَا كَفَرُواْ فَتَكُونُونَ سَوَآءٗۖ

“Mereka menginginkan kalian kafir sebagaimana mereka telah kafir, hingga kalian pun sama.” (an-Nisa: 89)

 

Pernyataan Ulama tentang Para Penyeru Persamaan dan Penyatuan Agama

Ulama Ahlus Sunnah sangat keras mengingkari paham sesat ini. Ketika muncul paham sesat ini, ulama Ahlus Sunnah tampil mengingkari dan menjelaskan kesesatannya kepada umat.

Berikut ini adalah nukilan ucapan sebagian ulama kita; ulama Ahlus Sunnah yang hidup di zaman kita ini.

Asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi berkata, “Seruan penyatuan agama, persaudaraan agama, persamaan agama adalah dakwah yang bertentangan dengan Islam; bertentangan dengan al-Qur’an, sunnah, dan dakwah seluruh rasul.” (Bantahan terhadap Adnan ‘Ar’ur)

 

Di antara bukti yang menunjukkan batilnya seruan penyatuan agama:

Al-Imam Ahmad dan lainnya meriwayatkan hadits dari Jabir bin Abdillah radhiallahu ‘anhu,

أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ أَتَى النَّبِيَّ بِكِتَابٍ أَصَابَهُ مِنْ بَعْضِ أَهْلِ الْكُتُبِ فَقَرَأَهُ النَّبِيُّ فَغَضِبَ فَقَالَ: أَمُتَهَوِّكُونَ فِيهَا يَا ابْنَ الْخَطَّابِ، وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لَقَدْ جِئْتُكُمْ بِهَا بَيْضَاءَ نَقِيَّةً، تَسْأَلُوهُمْ عَنْ شَيْءٍ فَيُخْبِرُوكُمْ بِحَقٍّ فَتُكَذِّبُوا بِهِ أَوْ بِبَاطِلٍ فَتُصَدِّقُوا بِهِ، وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لَوْ أَنَّ مُوسَى كَانَ حَيًّا مَا وَسِعَهُ إِ أَنْ يَتَّبِعَنِي

Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membawa kitab yang beliau dapat dari ahlul kitab. Beliau membacakannya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun marah dan berkata, “Apakah engkau ragu, wahai Ibnul Khaththab? Demi Yang jiwaku di tangan-Nya, aku telah membawa (syariat ini) untuk kalian dalam keadaan putih bersih. Jangan kalian bertanya tentang sesuatu kepada Ahlul Kitab, sehingga mereka mengabarkan yang benar lantas kalian (bisa jadi) mendustakannya, atau mengabarkan yang dusta lantas kalian membenarkannya.

Demi Yang jiwaku di tangan-Nya, seandainya Musa masih hidup, tidak ada kelapangan baginya selain mengikutiku.” (Dinyatakan hasan oleh asy-Syaikh al-Albani dalam ta’liq kitab as-Sunnah Ibnu Abi Ashim [50] dan dalam ta’liq Misykah no. 177)

 

Al-Qur’an telah menegaskan tahrif[1] yang mereka lakukan.

Sahabat yang mulia Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma berkata, “Bagaimana bisa kalian (sudi) bertanya kepada ahlul kitab padahal kitab kalian yang diturunkan Allah ‘azza wa jalla kepada Rasul-Nya lebih baru? Kalian membacanya masih murni, belum tercampur yang lain. Al-Qur’an telah memberitakan bahwa ahlul kitab telah mengganti Kitabullah dan mengubahnya. Mereka menulis kitab dengan tangan-tangan mereka kemudian berkata, ‘Ini dari Allah’ untuk menukarnya dengan harga yang murah.

Ketahuilah, ilmu yang telah datang kepada kalian telah melarang kalian bertanya kepada mereka. Demi Allah, kami tidak pernah melihat seorang pun dari mereka (ada yang mau) bertanya kepada kalian tentang (kitab) yang diturunkan kepada kalian.”

Al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah berkata tentang ahlul kitab, “Allah ‘azza wa jalla telah mengabarkan kepada kita bahwa mereka telah mengganti kitab Allah dan menulis kitab dengan tangan mereka kemudian berkata, ‘Ini dari Allah ‘azza wa jalla’ untuk mendapatkan sesuatu yang berharga murah.” (as-Sunan al-Kubra karya al-Baihaqi)

 

Kaum mukminin diperintahkan untuk berjihad menghadapi seluruh agama

kafir baik Yahudi, Nasrani, Hindu, dan Majusi sampai mereka mau bersyahadat; bersaksi tidak ada sesembahan yang haq selain Allah ‘azza wa jalla dan Muhammad adalah utusan Allah ‘azza wa jalla.

Kaum mukminin diperintahkan untuk mendakwahi mereka kepada Islam, bukan bersatu dengan mereka. (dinukil dari bantahan asy-Syaikh Rabi’ kepada Adnan ‘Ar‘ur)

 

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin berkata, Kesimpulan jawaban: Barang siapa meyakini bolehnya seorang memilih agama yang dia inginkan, bebas memilih agama yang dia mau; orang yang memiliki keyakinan seperti telah kafir kepada Allah ‘azza wa jalla. Sebab, Allah ‘azza wa jalla berfirman,

وَمَن يَبۡتَغِ غَيۡرَ ٱلۡإِسۡلَٰمِ دِينٗا فَلَن يُقۡبَلَ مِنۡهُ

        “Barang siapa menginginkan agama selain Islam, tidak akan diterima darinya.” (Ali Imran: 85)

 

إِنَّ ٱلدِّينَ عِندَ ٱللَّهِ ٱلۡإِسۡلَٰمُۗ

“Sesungguhnya agama yang benar di sisi Allah hanyalah Islam.” (Ali Imran: 19)

Seorang tidak boleh berkeyakinan ada agama selain Islam yang boleh digunakan untuk beribadah kepada Allah ‘azza wa jalla. Barang siapa memiliki keyakinan demikian, para ulama telah menegaskan bahwa dia telah kafir keluar dari Islam. (Majmu’ Fatawa no. 459 3/99)

 

Asy-Syaikh Ahmad an-Najmi menerangkan, Barang siapa menyatakan Islam sama dengan agama lainnya yang telah mansukh dan diubah-ubah, dia telah kafir. Demikian juga seorang yang menyatakan ada kelapangan untuk keluar dari agama Islam dan memeluk agama yang lain, dia pun telah kafir.

 

Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab berkata tentang pembatal-pembatal keislaman. Barang siapa meyakini adanya keluasan bagi sebagian orang untuk keluar dari syariat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam berdasarkan firman Allah ‘azza wa jalla,

وَمَن يَبۡتَغِ غَيۡرَ ٱلۡإِسۡلَٰمِ دِينٗا فَلَن يُقۡبَلَ مِنۡهُ وَهُوَ فِي ٱلۡأٓخِرَةِ مِنَ ٱلۡخَٰسِرِينَ ٨٥

Barang siapa menginginkan agama selain Islam, tidak akan diterima darinya dan di akhirat nanti termasuk orang merugi.” (Ali Imran: 85) (Fatawa Jaliyah Anil Manahij ad-Da’awiyah 2/91—92)

 

Maka dari itu, kita harus berbuat untuk menjaga akidah kita, akidah anak-anak dan karib kerabat kita, bahkan akidah kaum muslimin secara umum.

Sampaikan dan terangkanlah ucapan-ucapan ulama kita, penjelasan bahwa seruan pluralisme agama adalah dakwah kepada kesesatan yang harus dijauhi kaum muslimin.

Mari banyak berdoa agar Allah ‘azza wa jalla memberikan keistiqamahan kepada kita di atas Islam dan memberi bimbingan kepada para penguasa (pemerintah) kaum muslimin.

 

Ditulis oleh al-Ustadz Abdur Rahman Mubarak

[1] Tahrif adalah memalingkan makna lafadz al-Qur’an kepada makna yang batil, baik dengan mengubah bentuk lafadznya maupun tidak. (–pen.)

Hanya Islam Agama yang Benar

Islam adalah nikmat terbesar bagi hamba Allah subhanahu wa ta’ala, karena:

 

  1. Islam Satu-Satunya Agama yang Haq di Sisi Allah subhanahu wa ta’ala

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

إِنَّ ٱلدِّينَ عِندَ ٱللَّهِ ٱلۡإِسۡلَٰمُۗ

“Sesungguhnya agama yang haq disisi Allah hanyalah Islam.” (Ali Imran: 19)

وَمَن يَبۡتَغِ غَيۡرَ ٱلۡإِسۡلَٰمِ دِينٗا فَلَن يُقۡبَلَ مِنۡهُ وَهُوَ فِي ٱلۡأٓخِرَةِ مِنَ ٱلۡخَٰسِرِينَ ٨٥

“Barang siapa mengharapkan selain Islam, tidak akan diterima darinya, di akhirat nanti dia termasuk orang-orang merugi.” (Ali Imran: 85)

Asy-Syaikh Shalih al-Fauzan menerangkan bahwa dalam dua ayat di atas ada bantahan terhadap orang-orang di zaman ini yang menyatakan bahwa tiga agama ini; Yahudi, Nasrani, dan Islam, semuanya benar dan akan mengantarkan pemeluknya kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Apa yang mereka ucapkan ini adalah dusta dan mengada-ada. Tidak ada agama yang haq setelah datangnya agama ini selain Islam.

Setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus dan Islam datang, dihapuslah agama Yahudi dan Nasrani. Semua agama yang selain Islam telah ditahrif (diubah-ubah) dan diganti, atau telah mansukh, telah berakhir masanya, tidak ada lagi yang Allah subhanahu wa ta’ala ridhai selain Islam (yang dibawa oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam).

Barang siapa ingin masuk surga, berpegang teguhlah dengan Islam ini. Barang siapa menginginkan agama yang lain, tidak ada bagian untuknya selain neraka. (Syarah Fadhlul Islam)

 

  1. Islam Agama yang Sempurna

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

ٱلۡيَوۡمَ أَكۡمَلۡتُ لَكُمۡ دِينَكُمۡ وَأَتۡمَمۡتُ عَلَيۡكُمۡ نِعۡمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ ٱلۡإِسۡلَٰمَ دِينٗاۚ

“Pada hari ini telah Aku sempurnakan bagi kalian agama kalian, Aku telah sempurnakan nikmat-ku untuk kalian, dan Aku ridhai Islam menjadi agama kalian.” (al-Maidah: 3)

Asy-Syaikh Shalih al-Fauzan menjelaskan, ayat ini membantah setiap orang yang melecehkan Islam dan mengatakan bahwa Islam tidak cocok untuk setiap tempat dan waktu. Seperti seruan orang-orang di masa ini yang menyatakan bahwa Islam itu untuk generasi telah lewat, untuk masa yang telah lewat, tidak cocok untuk akhir zaman. Padahal Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

ٱلۡيَوۡمَ أَكۡمَلۡتُ لَكُمۡ دِينَكُمۡ وَأَتۡمَمۡتُ عَلَيۡكُمۡ نِعۡمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ ٱلۡإِسۡلَٰمَ دِينٗاۚ

“Pada hari ini telah Aku sempurnakan bagi kalian agama kalian, Aku telah sempurnakan nikmat-ku untuk kalian, dan Aku ridhai Islam menjadi agama kalian.” (al-Maidah: 3)

Ayat ini menunjukkan bahwa Islam cocok untuk segala zaman dan situasi…. (Syarah Fadhlul Islam hlm. 10)

Islam adalah satu-satunya agama yang haq. Barang siapa menyatakan boleh memilih agama selain Islam atau boleh mengikuti selain syariat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, dia terjatuh dalam kekafiran.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, telah diketahui dengan pasti dalam agama dan disepakati oleh kaum muslimin bahwa barang siapa menyatakan seseorang boleh memilih selain Islam atau boleh mengikuti selain syariat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, dia kafir seperti kafirnya orang yang beriman kepada sebagian kitab dan mengingkari sebagiannya. (Majmu’ Fatawa)

Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab berkata dalam Nawaqidhul Islam, “Pembatal keislaman yang kesembilan: Barang siapa meyakini bolehnya sebagian orang keluar dari syariat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana keluarnya Khidhir dari syariat Nabi Musa ‘alaihissalam, berarti dia telah kafir.”

Asy-Syaikh Shalih al-Fauzan menerangkan, yang menyatakan bolehnya seseorang keluar dari syariat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana halnya Nabi Khidhir keluar dari syariat Nabi Musa adalah kaum Sufi ekstrem. Mereka menyatakan, kalau seorang Sufi telah sampai tingkatan ma’rifah, dia tidak lagi membutuhkan rasul. Rasul hanya diutus kepada orang awam. Adapun mereka adalah orang-orang khusus yang telah sampai kepada Allah subhanahu wa ta’ala sehingga tidak membutuhkan rasul.

Bahkan, mereka menyatakan bahwa beban syariat telah gugur dari mereka. Mereka tidak shalat dan beribadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Menurut mereka, ibadah hanya untuk orang awam.

Demikian juga, tidak ada lagi yang haram bagi mereka. Halal dan haram hanya untuk yang masih awam, tidak berlaku bagi mereka. Mereka melakukan perzinaan, melakukan liwath (hubungan sesama jenis), dan perbuatan haram lainnya.

Asy-Syaikh Shalih al-Fauzan menyebutkan, termasuk dalam ucapan asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab rahimahullah beberapa golongan manusia:

  1. Kaum sekuler

Mereka hendak memilah antara agama dan politik negara. Menurut mereka, agama dan ibadah hanya di masjid, sedangkan muamalah dan hukum-hukumnya, serta hukum-hukum politik tidaklah termasuk dalam agama.

  1. Ahlul kalam dan filsafat

Mereka termasuk dalam ucapan asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab karena tidak mau mengambil akidah dari al-Qur’an dan as-Sunnah. Mereka membangun akidah mereka di atas dasar ilmu kalam, perdebatan, dan ilmu mantiq. Ini adalah bentuk keluar dari syariat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam urusan yang paling penting, yakni akidah.

Asy-Syaikh al-Fauzan menerangkan, termasuk pula dalam makna ucapan asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab ialah orang yang menyatakan bahwa syariat Islam hanya untuk masa lampau; adapun zaman sekarang, syariat Islam sudah tidak cocok lagi karena ada muamalah yang tidak tercakup oleh syariat Islam.

Ucapan mereka bermakna bahwa syariat Islam masih kurang dan bukan tidak berasal dari Dzat Yang Mahabijaksana dan Maha Terpuji.

Asy-Syaikh Shalih al-Fauzan berkata bahwa orang yang berkata demikian tidak diragukan lagi kafirnya. Demikian pula orang yang menyangka bolehnya keluar dari syariat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. (Dinukil secara makna dari Syarah Nawaqidhul Islam hlm. 179—182)

Islam adalah agama yang haq dan universal. Segala budaya atau adat kebiasaan setiap bangsa, harus tunduk mengikuti syariat Islam. Islam yang haq adalah agama yang diturunkan kepada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu beliau ajarkan kepada para sahabatnya, dan terus demikian sampai kepada kita. Tidak ada Islam Jawa, tidak ada Islam Sunda, tidak ada pula Islam Nusantara.

Islam yang haq hanya satu, yaitu yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Islam yang beliau sampaikan kepada para sahabatnya hingga sampai kepada kita. Islam yang bersumber dari al-Qur’an dan as-Sunnah.

Islam yang haq yang beliau bawa adalah untuk seluruh umat manusia, bahkan jin. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,

وَكَانَ النَّبِيُّ يُبْعَثُ إِلَى قَوْمِهِ خَاصَّةً وَبُعِثْتُإِلَى النَّاسِ كَافَّةً

“Nabi sebelum aku diutus kepada kaumnya secara khusus, sedangkan aku diutus kepada segenap manusia.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Islam adalah satu-satunya agama yang haq. Barang siapa tidak mau menerima Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, dia telah kafir dan di akhirat nanti akan menjadi penduduk neraka.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,

وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَا يَسْمَعُ بِي أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الْأُمَّةِ يَهُودِيٌّ وَلَا نَصْرَانِيٌّ ثُمَّ يَمُوتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ إِلَّا كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ

“Demi Dzat yang jiwa Muhammad di Tangan-Nya, tidak ada orang dari umat ini, Yahudi atau Nasrani, yang mendengar tentang aku, kemudian mati dalam keadaan tidak beriman kepada risalah yang aku bawa, kecuali dia termasuk penduduk neraka.” (HR. Muslim)

Yahudi dan Nasrani adalah orang-orang kafir. Seorang muslim tidak boleh ragu tentang kekafiran Yahudi, Nasrani, dan lainnya, apalagi membenarkan jalan mereka.

Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab menyebutkan pembatal keislaman yang ketiga, “Orang yang tidak mengafirkan orang kafir, atau ragu akan kekafiran mereka atau membenarkan mazhab mereka.”

Syaikh Shalih al-Fauzan menjelaskan, “Sebab, seorang muslim wajib mengafirkan orang-orang yang telah dikafirkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya. Allah subhanahu wa ta’ala telah mengkafirkan musyrikin para penyembah berhala dan selain mereka yang menyembah selain Allah subhanahu wa ta’ala. Allah subhanahu wa ta’ala mengkafirkan orang-orang yang tidak beriman kepada para rasul atau sebagian mereka, sebagaimana disebutkan dalam al-Qur’an dan Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah subhanahu wa ta’ala telah mengkafirkan Yahudi, Nasrani, dan penyembah berhala.

Maka dari itu, seorang muslim wajib meyakini dengan kalbunya tentang kafirnya mereka, karena Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya telah mengkafirkan mereka. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

لَّقَدۡ كَفَرَ ٱلَّذِينَ قَالُوٓاْ إِنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلۡمَسِيحُ ٱبۡنُ مَرۡيَمَۚ

“Sungguh, telah kafir orang yang menyatakan Allah adalah al-Masih ibnu Maryam.” (al-Maidah: 17)

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَقَالَتِ ٱلۡيَهُودُ يَدُ ٱللَّهِ مَغۡلُولَةٌۚ غُلَّتۡ أَيۡدِيهِمۡ وَلُعِنُواْ بِمَا قَالُواْۘ

Orang Yahudi berkata, “Tangan Allah terbelenggu.” (Justru) tangan merekalah yang terbelenggu, mereka dilaknat karena apa yang mereka ucapkan. (al-Maidah: 64)

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

          لَّقَدۡ سَمِعَ ٱللَّهُ قَوۡلَ ٱلَّذِينَ قَالُوٓاْ إِنَّ ٱللَّهَ فَقِيرٞ وَنَحۡنُ أَغۡنِيَآءُۘ سَنَكۡتُبُ مَا قَالُواْ وَقَتۡلَهُمُ ٱلۡأَنۢبِيَآءَ بِغَيۡرِ حَقّٖ وَنَقُولُ ذُوقُواْ عَذَابَ ٱلۡحَرِيقِ ١٨١

“Sungguh, Allah mendengar orang-orang (Yahudi) yang mengatakan Allah itu faqir.” (Ali Imran: 181)

Demikian pula ucapan-ucapan lain dari Ahlul Kitab, yang Allah subhanahu wa ta’ala hikayatkan dari mereka.

Cukuplah untuk mengafirkan mereka (yakni Yahudi dan Nasrani –pen.), kekafiran mereka kepada Nabi Muhammad yang telah Allah subhanahu wa ta’ala utus kepada seluruh manusia dan telah mereka temukan dalam kitab mereka, Taurat dan Injil….” (Syarah Nawaqidhul Islam hlm. 78)

Seorang muslim harus tunduk kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya, mengkafirkan orang yang dikafirkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya. Dia tidak boleh ragu tentang kekafiran mereka, apalagi membenarkan keyakinan mereka.

 

Makar Melemahkan Akidah Umat

Di antara yang mengancam akidah umat adalah munculnya orang-orang yang terus melancarkan propaganda untuk menolerir dan membenarkan Yahudi serta Nasrani. Di antara bentuk makar mereka ialah:

  1. Menyuarakan persatuan agama Seruan mereka berkonsekuensi bahwa Islam, Yahudi, dan Nasrani adalah agama samawi yang benar. Bahkan, mereka mengadakan forum untuk memulibkasikan seruan sesat mereka ini dalam berbagai bentuk kemasan.
  2. Seruan toleransi antaragama dengan meyakini kebenaran semuaagama.
  3. Menyuarakan bahwa agama yang tiga semuanya menyampaikan pemeluknya kepada Allah subhanahu wa ta’ala
  4. Melakukan pembelaan dengan berdebat guna membela Yahudi dan Nasrani, dengan menyatakan, “Jangan sebut mereka sebagai orang kafir.”
  5. Mendoakan limpahan rahmat ketika ada berita kematian seorang pemuka agama Nasrani (uskup, paus, dll.).

(Lihat Syarah Nawaqidhul Islam karya asy-Syaikh Ubaid al-Jabiri hlm. 43)

Demikianlah makar Yahudi dan Nasrani serta para pembelanya. Mereka tak pernah bosan untuk mejerumuskan kaum muslimin ke dalam kesesatan. Ini adalah bukti kebenaran firman Allah subhanahu wa ta’ala,

وَلَن تَرۡضَىٰ عَنكَ ٱلۡيَهُودُ وَلَا ٱلنَّصَٰرَىٰ حَتَّىٰ تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمۡۗ

“Orang Yahudi dan Nasrani tidak akan ridha kepadamu sampai engkau mengikuti agama mereka.” (al-Baqarah: 120)

Maka dari itu, marilah kita bersemangat memperdalam ilmu agama, terkhusus ilmu akidah, agar bisa selamat dari makar dan tipu daya orang kafir. Bersemangatlah menyebarkan ilmu akidah kepada umat secara umum, mudah-mudahan menjadi sebab mereka terjaga dari berbagai penyimpangan dan kesesatan.

Wallahul Muwaffiq.

Ditulis oleh al-Ustadz Abdurrahman Mubarak

Mewaspadai Makar Setan

Di antara masalah ilmu yang harus kita yakini ialah semua perkara yang dinisbatkan kepada jahiliah itu tercela. Betapa banyak dalil yang menunjukkan hal ini. Di antara dalil tersebut adalah firman Allah Subhanahu wata’ala,

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَىٰ

Tinggallah di rumah-rumah kalian. Dan janganlah kalian bertabarruj seperti tabarruj orang jahiliah dahulu.” (al- Ahzab: 33)

Demikian pula hadits yang diriwayatkan oleh al-Imam al-Bukhari dan al-Imam Muslim rahimahumallah bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam mendengar pertikaian seorang Anshar dan seorang Muhajirin dalam satu peperangan. Orang Anshar berkata, “Wahai orang-orang Anshar (minta bantuan mereka)!” Orang Muhajirin pun berkata, “Wahai orang-orang Muhajirin (minta bantuan kepada mereka)!”

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pun berkata, “Apakah seruan jahiliah kalian lakukan, padahalaku ada di antara kalian? Tinggalkanlah seruan-seruan jahiliah karena itu adalah buruk.”

Asy-Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah berkata, “Kesimpulannya: semua perkara jahiliah adalah tercela dan kita dilarang meniru perilaku jahiliah dalam segala hal.” (Syarah Masail Jahiliah)

 

Menghidupkan Jejak Para Nabi dan Orang-Orang Saleh adalah Amalan Jahiliah

Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab rahimahumallah berkata, “(Di antara perilaku jahiliah) adalah menjadikan jejak tempat para nabi sebagai tempat ibadah.” Beliau juga berkata, “(Di antara perilaku jahiliah adalah) mencari berkah jejak peninggalan orang–orang besar mereka, seperti darun nadwah.”

Dan berbangga-bangganya orang yang memiliki peninggalan orang besar. Seperti dikatakan kepada Hakim bin Hizam, “Kamu menjual kemuliaan Quraisy.”

Beliau menjawab, “Telah hilang semua (sebab) kemuliaan kecuali ketakwaan.” (Masail Jahiliah; masalah no. 81, 86, dan 87)

Tiga perbuatan jahiliah inilah yang sering dilakukan sekarang ini; menghidupkan dan mengenang jejak para nabi dan orang saleh serta mencari berkah dengannya. Akhirnya, orang-orang kafir berani memberikan dana yang banyak untuk melakukan proyek “jahiliah” ini. Sebab, mereka tahu ini adalah salah satu sarana menjauhkan muslimin dari agamanya. Yang dimaksud jejak di sini adalah tempat yang pernah didatangi oleh seorang nabi, orang saleh, tempat shalat, atau tempat-tempat persinggahan mereka.

Sekarang ini sering dilakukan pencarian jejak (situs) para nabi dan orang saleh kemudian dijadikan tempat kunjungan dengan niat beribadah kepada Allah Subhanahu wata’ala di tempat-tempat tersebut. Mereka beranggapan, shalat di tempat tersebut adalah satu keutamaan. Bahkan, akhirnya sebagian orang mencari-cari dan mendatangi tempat yang pernah didatangi oleh tokoh-tokoh dari negara tertentu; melakukan napak tilas untuk mencari berkah dengan kunjungan tersebut. Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.

 

Contoh Tempat yang Dianggap Berkah

Di antara sekian tempat yang dijadikan tempat kunjungan dengan niat tabaruk adalah Gua Tsur dan Gua Hira. Asy-Syaikh Shalih al-Fauzan berkata, “… sekarang ini seperti yang pergi ke Gua Hira dengan alasan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam beribadah di situ sebelum diangkat jadi nabi. Mereka pergi ke sana untuk shalat dan berdoa di sana, padahal nabi saja tidak mengunjungi gua tersebut setelah diangkat menjadi nabi, juga tak ada seorang sahabat pun yang pernah ke Gua Hira karena mereka tahu hal tersebut tidak disyariatkan. Demikian pula mereka pergi ke Gua Tsur, dengan alasan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersembunyi di sana sebelum hijrah.” Namun orang-orang sekarang ini pergi ke Gua Tsur untuk shalat di sana, meletakkan wewangian di sana, dan kadang melemparkan uang ke sana. Ini semua adalah perbuatan jahiliah, jahiliahlah yang telah mengagungagungkan jejak nabi mereka. (Syarah Masail Jahiliah)

Tatkala di zaman Khalifah Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu ada orang-orang yang berbolak-balik mengunjungi pohon tempat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam membaiat para sahabat Anshar.

Ketika Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu mengetahuinya beliau pun memerintahkan untuk menebang pohon tersebut. Dan beliau berkata, “Dengan amalan seperti inilah agama hancur.” Di antara tempat yang dijadikan tempat cari berkah adalah Jabal Rahmah. Sebagian rombongan umrah dari Indonesia bahkan dianjurkan oleh pembimbing mereka untuk berdoa di Jabal Rahmah, minta jodoh atau poligami.__Mudah – mudahan Allah lmemberikan taufik kepada kita dan kepada para pembimbing jamaah haji dan umrah, agar senantiasa beramal sesuai dengan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.

 

Apakah Semua Tempat yang Pernah Didatangi Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam Disyariatkan untuk Didatangi?

Di antara perkara yang perlu diketahui, tempat yang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam datang untuk menunjukkan bahwa shalat di tempat tersebut disyariatkan bagi umatnya berbeda dengan tempat yang beliau singgahi dan shalat di sana secara kebetulan. Tempat pertama yang beliau datangi sebagai syariat di antaranya Masjidil Haram, Masjid Nabawi, Masjid Aqsha, Ka’bah, dan Masjid Quba. Disyariatkan bagi umatnya untuk mengunjungi tempat tersebut dan mengamalkan amalan yang dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam di setiap tempat tersebut.

Adapun tempat yang beliau singgahi secara kebetulan, tidak disyariatkan bagi umat mengikutinya. Misalnya, Gua Tsur dan tempat lainnya yang dilalui oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam ketika hijrah ke Madinah. Haruslah dibedakan antara satu tempat yang didatangi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai syariat bagi umatnya dan tempat lain yang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam datangi secara kebetulan atau karena ada kebutuhan. Tempat-tempat yang dikunjungi Rasulullah n sebagai syariat bagi umatnya, disyariatkan bagi umat ini mendatanginya dengan niat ibadah, dengan catatan ibadah yang sesuai dengan yang dituntunkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Adapun tempat yang didatangi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam secara kebetulan, tidak boleh dikunjungi dengan niat ibadah. Itu adalah kebid’ahan, jalan orangorang jahiliah. Gua Hira misalnya. Tidak boleh seseorang berniat ibadah dengan mengunjungi Gua Hira. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam saja tidak mengunjunginya setelah menjadi nabi. Demikian juga para sahabatnya, tidak pernah mengunjungi Gua Hira. (Syarah Masail Jahiliah, asy-Syaikh al-Fauzan)

 

Menghidupkan Peninggalan Orang- Orang Besar, Sarana Menuju Kesyirikan

Di antara sebab kesyirikan yang saat ini gencar dilakukan adalah mencari-cari dan menghidupkan kembali peninggalanpeninggalan orang dahulu, walaupun peninggalan orang-orang kafir. Penelitian-penelitian dilakukan untuk menemukan peninggalan “bersejarah”, yang tentunya kebanyakannya adalah peninggalan orang-orang kafir, musyirikin, dan animisme. Bahkan, mereka mencaricari dan membesar-besarkan peninggalan Fira’un. Innalillahi wainnailaihi raji’un.

Tidaklah kaum Nuh ‘Alaihissalam terjatuh kecuali melalui pintu ini. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَقَالُوا لَا تَذَرُنَّ آلِهَتَكُمْ وَلَا تَذَرُنَّ وَدًّا وَلَا سُوَاعًا وَلَا يَغُوثَ وَيَعُوقَ وَنَسْرًا

Mereka berkata, Janganlah kalian meninggalkan sesembahan-sesembahan kalian; Wad, Suwa’, Yaghuts, Ya’uq, dan Nasr.” (an-Nuh: 23)

Al-Imam Bukhari rahimahumallah membawakan ucapan Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, “Ini adalah nama-nama orang saleh di kaum Nuh, ketika mereka meninggal maka setan pun memberikan wangsit kepada kaumnya, hendaknya kalian membuat gambargambar dan patung di majelis-majelis yang mereka bermajelis di sana dan berilah nama-nama mereka. Maka mereka pun membuatnya namun tidak menyembahnya. Hingga ketika mereka mati dan ilmu telah dilupakan, akhirnya gambar dan patung tersebut disembah.”

Ibnul Qayyim rahimahumallah berkata, “Berkata salaf: ketika orang-orang saleh tersebut meninggal maka kaum mereka beritikaf dikubur-kubur mereka kemudian membuat patung-patung mereka, hingga setelah berlangsung lama, patung-patung tadi pun kemudian disembah.” Demikian juga kesyirikan di bangsa Arab adalah ketika setan memberikan wangsit kepada Amr bin Luhai untuk menggali dan membawa berhala-berhala tersebut ke Jazirah Arab.

Faedah Kisah Kaum Nuh ‘Alaihissalam Kisah kaum Nuh ‘Alaihissalam di atas mengandung banyak faedah berharga. Di antaranya:

1. Tidak boleh melakukan kebid’ahan walaupun tampaknya kebid’ahan tersebut bagus.

2. Peringatan akan bahayanya gambar makhluk bernyawa. Gambar seperti ini mengandung dua kerusakan: sarana yang mengantarkan kepada kesyirikan dan bentuk menyerupai ciptaan Allah Subhanahu wata’ala.

3. Menggantungkan gambar di tembok dan memancang patung di majelis dan lapangan adalah perkara yang akan

mengantarkan umat kepada kesyirikan.

4 . Semangat setan untuk menyesatkan bani Adam. Terkadang ia datang kepada bani Adam dengan memanfaatkan perasaan.

5. Setan tidaklah menyesatkan umat yang ada sekarang, tetapi generasi yang akan datang.

6. Tidak boleh bermudah-mudah terhadap sarana kejelekan bahkan wajib memutus dan menutupnya.

Ibnul Qayyim rahimahumallah berkata, “Berkatansalaf: ketika orangorang saleh tersebut meninggal maka kaum mereka beritikaf di kuburkubur mereka kemudian membuat patung-patung mereka, hingga setelah berlangsung lama, patung-patung tadi pun kemudian disembah.”

7. Keutamaan ulama yang mengamalkan ilmunya. (Bayan Hakikat Tauhid hlm. 10— 11 dan I’anatul Mustafid)

Mudah-mudahan tulisan yang singkat ini bisa menjadi tambahan ilmu dan amal kita semua.

Walhamdulillahi Rabbil ‘Alamin.

Ditulis oleh Al-Ustadz Abdurrahman Mubarak

Shalat, Antara Diterima Dan Tidak

Tidak ada jalan menuju kebahagiaan setiap hamba, baik di dunia maupun di akhirat melainkan Allah Subhanahu wata’ala telah membentangkan jalan untuk mencapainya dan membimbing ke arah jalan tersebut. Sebaliknya, tidak ada sesuatu yang membahayakan dan memudaratkan mereka, melainkan Allah Subhanahu wata’ala telah menurunkan wahyu-Nya serta mengutus utusan-Nya untuk menjelaskan dan memperingatkan darinya. Salah satu jalan kebaikan yang sangat besar dan bernilai tinggi dalam hidup mereka adalah ketaatan dalam bentuk penghambaan dan penghinaan diri yang tinggi, serta bentuk kedekatan hamba yang paling dekat dengan Allah Subhanahu wata’ala yaitu shalat lima waktu sehari semalam. Ini semua sebagai bukti bahwa Allah Subhanahu wata’ala memuliakan setiap hamba dan tidak menciptakan mereka secara sia-sia, tanpa arti.

أَيَحْسَبُ الْإِنسَانُ أَن يُتْرَكَ سُدًى

“Apakah manusia mengira bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggungjawaban)?” (al-Qiyamah: 36)

Ketaatan dengan Pertolongan Allah Subhanahu wata’ala

Setiap hamba semestinya mengetahui dengan diperintahkannya mereka untuk melaksanakan sesuatu atau dilarangnya mereka dari sesuatu semata-mata untuk hamba itu sendiri dan tidak ada kepentingannya bagi Allah Subhanahu wata’ala sedikit pun. Hamba itu pun harus mengetahui bahwa kemampuan dia untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya serta kemampuan dia untuk menjauh dari segala larangan, sesungguhnya itu merupakan bantuan dari Allah Subhanahu wata’ala semata. Tanpa hal itu, manusia tidak akan sanggup untuk melaksanakannya karena,

Pertama: Adanya hawa nafsu yang sangat berlawanan dengan niatan niatan baik setiap manusia serta selalu mendorong untuk menyelisihi segala perintah dan larangan Allah Subhanahu wata’ala. Dia akan mengundang siapa pun untuk menjadi orang yang berani meninggalkan perintah dan menjadi orang yang tidak punya malu melanggar larangan. Jika perintah dan larangan itu diserahkan pelaksanaannya semata mata pada kemampuan manusia dan tidak ada bantuan dari Allah Subhanahu wata’ala, niscaya semuanya akan menjadi tersesat. Tentu saja Allah Subhanahu wata’ala menolong hamba-hamba yang dikehendaki-Nya karena karunia- Nya, dan tidak menolong yang lain karena keadilan.

وَلَوِ اتَّبَعَ الْحَقُّ أَهْوَاءَهُمْ لَفَسَدَتِ السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ وَمَن فِيهِنَّ ۚ بَلْ أَتَيْنَاهُم بِذِكْرِهِمْ فَهُمْ عَن ذِكْرِهِم مُّعْرِضُونَ

“Andaikata kebenaran itu menuruti hawa nafsu mereka, pasti binasalah langit dan bumi ini, dan semua yang ada di dalamnya. Sebenarnya Kami telah mendatangkan kepada mereka peringatan (al-Qur’an) tetapi mereka berpaling darinya.” (al-Mu’minun: 71)

فَإِن لَّمْ يَسْتَجِيبُوا لَكَ فَاعْلَمْ أَنَّمَا يَتَّبِعُونَ أَهْوَاءَهُمْ ۚ وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنِ اتَّبَعَ هَوَاهُ بِغَيْرِ هُدًى مِّنَ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

“Maka jika mereka tidak memenuhi seruanmu, ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka hanyalah mengikuti hawa nafsu mereka (belaka). Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Allah sedikit pun. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orangorang yang zalim.” (al-Qashash: 50)

Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata, “Hawa nafsu menghalangi dari kebenaran.” (al- Ibanah ash-Shugra hlm. 122)

Al-Hasan rahimahullah mengatakan, “Tidak ada sebuah penyakit yang lebih dahsyat daripada penyakit hawa nafsu yang mengenai hati.” (al-Ibanah ash-Shugra hlm. 124)

Abdullah bin ‘Aun al-Bashri rahimahullah berkata, “Bila hawa nafsu telah berkuasa di dalam hati, niscaya dia akan menganggap baik segala apa yang dahulunya dipandang jelek.” (al-Ibanah as-Shugra 131) (Lihat kitab Sallus Suyuf wal Asinnah secara ringkas hlm. 24—26)

Kedua: Setan dari luar manusia yang setiap saat mengintai mereka untuk kemudian menyerunya menuju penyelisihan terhadap perintah Allah Subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya. Setan telah menjadikan diri sebagai lawan atas siapa saja yang menaati Allah Subhanahu wata’ala, serta kawan bagi siapa yang melanggar perintah dan larangan Allah Subhanahu wata’ala. Dialah yang mengatakan di hadapan Allah Subhanahu wata’ala sebagaimana firman-Nya,

قَالَ فَبِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ () ثُمَّ لَآتِيَنَّهُم مِّن بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَن شَمَائِلِهِمْ ۖ وَلَا تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ

Iblis menjawab, “Karena Engkau telah menghukum aku tersesat, aku benar benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus. Kemudian aku akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka, dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat).” (al-A’raf: 16—17)

Firman-Nya pula,

قَالَ رَبِّ بِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأُزَيِّنَنَّ لَهُمْ فِي الْأَرْضِ وَلَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ

Iblis berkata, “Ya Rabbku, karena Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya.” (al- Hijr: 39)

Dengan semuanya ini, sudah sepantasnya bagi seorang hamba bila dia menemukan dirinya menjadi orang yang mendapatkan kemudahan untuk melaksanakan ketaatan dan ringan dalam menjauhi larangan agar selalu bersyukur kepada Allah Subhanahu wata’ala, karena semuanya dengan bantuan-Nya. Bila seorang hamba menemukan dirinya sangat mudah untuk melanggar ketentuan Allah Subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya, hendaklah dia mencela dirinya sendiri. Setelah itu, dia harus berjuang untuk menundukkan hawa nafsunya di atas syariat Allah Subhanahu wata’ala dan melawan setan sebagai teman yang mengajak dia bermaksiat.

Setiap hamba semestinya mengetahui bahwa jalan kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat adalah dalam ketaatan kepada Allah Subhanahu wata’ala dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam serta menjalankan segala aturan Allah Subhanahu wata’ala di dalam wahyu-Nya. Karena tanpa itu semua, jangan bermimpi akan menang dalam setiap perjuangan, jangan berkhayal kejayaan, kemuliaan, kewibawaan Islam dan kaum muslimin akan kembali, serta jangan berharap akan meraih kebahagiaan dan kesenangan yang hakiki. Yang ada adalah kegagalan, kekalahan, kerendahan dan kehinaan, serta kehancuran dan kebinasaan. Cukuplah berita ilahi di dalam al-Qur’an dan as-Sunnah yang sahih sebagai berita yang akurat yang tidak ada kedustaan di dalamnya.

Jalan-Jalan Ketaatan dan Keikhlasan

Pintu-pintu kebaikan yang begitu banyak sungguh telah dijelaskan secara rinci dalam syariat Allah Subhanahu wata’ala dan tidak ada sesuatu yang masih tersisa. Kesempurnaan syariat-Nya juga membuktikan bahwa Allah Subhanahu wata’ala menginginkan kemuliaan atas setiap hamba-Nya. Sebuah kebajikan yang besar tentunya untuk meraih nilai yang besar pula di sisi Allah Subhanahu wata’ala. Nilai nilai yang besar tersebut tidak akan didapatkan melainkan pelaksanaannya harus berada di atas koridor agama.

Dengan kata lain, harus berada di atas syarat-syarat diterimanya amal. Di antara ketentuan yang harus ada dalam pengabdian setiap hamba kepada Allah Subhanahu wata’ala adalah dua hal yaitu ikhlas dan mutaba’ah (mengikuti Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam). Barang siapa yang tidak ada pada amalnya kedua syarat tersebut atau salah satu di antaranya, maka jelas ditolak dan masuk dalam firman Allah Subhanahu wata’ala,

وَقَدِمْنَا إِلَىٰ مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاءً مَّنثُورًا

“Dan Kami sodorkan segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang beterbangan.” (al-Furqan: 23)

Kedua sifat tersebut, ikhlas dan mutaba’ah (mencontoh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam) telah dihimpun oleh Allah Subhanahu wata’ala di dalam firman-Nya,

وَمَنْ أَحْسَنُ دِينًا مِّمَّنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ وَاتَّبَعَ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا ۗ وَاتَّخَذَ اللَّهُ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلًا

“Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedangkan dia pun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus? Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kekasih-Nya.” (an-Nisa: 125)

بَلَىٰ مَنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَلَهُ أَجْرُهُ عِندَ رَبِّهِ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

“(Tidak demikian) bahkan barang siapa yang menyerahkan diri kepada Allah, sedangkan ia berbuat kebajikan, maka baginya pahala pada sisi Rabbnya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (al-Baqarah: 112) (Lihat kitab Bahjatu Qulubul Abrar hlm. 14 karya al-Imam as-Sa’di rahimahullah)

Shalat, Amalan Besar yang Butuh Keikhlasan dan Mutaba’ah

Di antara sederetan kewajiban yang besar serta bernilai agung dan tinggi adalah shalat lima waktu sehari semalam. Amal besar yang tidak ada seorang muslim pun meragukannya karena dalil yang menjelaskannya sangat terang layaknya matahari di siang bolong. Oleh karena itu, jika ada orang yang mengaku muslim mengingkari dan tidak mengerjakan shalat berarti dia telah menanggalkan pakaian keislamannya, dia sadari atau tidak. Sebab, dia telah menentang hujah yang sangat terang dan jelas. Contoh perintahnya,

وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَارْكَعُوا مَعَ الرَّاكِعِينَ

“Dan dirikanlah shalat, tunaikan zakat, dan rukuklah bersama orangorang yang rukuk.” (al-Baqarah: 43)

Adakah dari kaum muslimin yang memahami perintah shalat di dalam ayat ini dengan makna bukan sebenarnya yaitu shalat yang telah dituntunkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam? Jika ada, berarti jelas bahwa dia adalah orang yang sesat dan jika dia tidak melaksanakannya akan bisa menjadikan dia kafir, keluar dari Islam. Karena shalat adalah amal ibadah besar kepada Allah Subhanahu wata’ala, seharusnya tidak dicari di baliknya selain wajah Allah Subhanahu wata’ala dan ridha-Nya. Itulah keikhlasan, sebab:

1. Jika melaksanakannya dan ingin semata-mata pujian dari manusia, ingin terpandang, atau ingin memiliki kedudukan di hati banyak orang, ini adalah sebuah kesyirikan, walaupun dia mengerjakannya dengan penuh ketaatan. Allah Subhanahu wata’ala bercerita tentang ibadah shalat orang-orang munafik yaitu nifak akbar (besar),

إِنَّ الْمُنَافِقِينَ يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ وَإِذَا قَامُوا إِلَى الصَّلَاةِ قَامُوا كُسَالَىٰ يُرَاءُونَ النَّاسَ وَلَا يَذْكُرُونَ اللَّهَ إِلَّا قَلِيلًا

“Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah dan Allah akan membalas tipuan mereka. Apabila mereka berdiri untuk shalat, mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia, dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.” (an-Nisa: 142)

2. Jika melaksanakannya karena Allah Subhanahu wata’ala dan ingin mendapatkan sanjungan dari manusia, ini adalah bentuk kesyirikan kepada Allah Subhanahu wata’ala. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, (Allah Subhanahu wata’ala berfirman,)

أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ، مَنْ عَمِلَ عَمَلًا أَشْرَكَ فِيهِ مَعِي غَيْرِي تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ

“Aku tidak butuh kepada sekutu sekutu dalam kesyirikan. Barang siapa yang melakukan amalan dan dia menyekutukan Aku dengan selain-Ku, niscaya Aku akan biarkan dia bersama sekutunya.” (HR. Muslim) Dari Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu secara marfu’, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِمَا هُوَ أَخْوَفُ عَلَيْكُمْ عِنْدِي مِنَ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ؟ قَالُوا : بَلَى. قَالَ: الشِّرْكُ الْخَفِيُّ، يَقُومُ الرَّجُلُ فَيُصَلِّي فَيَزِينُ صَلَاتَهُ لَمَّا يَرَى مِنْ نَظَرِ رَجُلٍ

“Maukah aku beri tahukan kepada kalian sesuatu yang lebih aku khawatirkan daripada fitnah Dajjal?” Mereka berkata, “Ya.” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Syirik tersembunyi, yaitu seseorang melaksanakan shalat dan memperindahnya karena ada yang melihatnya.” (HR. Ahmad)

Keikhlasan adalah dia tidak mengharapkan dalam segala jenis ibadahnya, termasuk shalat, selain ridha dan wajah Allah Subhanahu wata’ala semata. Jika seseorang telah mengerjakannya dengan landasan keikhlasan, Allah Subhanahu wata’ala akan mengganjarnya di dunia sebelum di akhirat, mengangkat namanya, berkedudukan di hadapan manusia tanpa dia mencari dan mengejarnya. Itulah ganjaran setiap kebaikan di dunia sebelum akhirat. Dari penjelasan di atas, jelaslah bahwa tidak akan merugi, baik dunia maupun akhirat, seseorang yang melaksanakan ketaatan kepada Allah Subhanahu wata’ala dengan landasan keikhlasan.

Banyak amal kecil dan ringan karena niatnya yang baik menjadi amalan yang bernilai besar dan berat. Amalan yang besar menjadi ringan bahkan nihil dari nilai, karena niatnya. Sungguh ini adalah kerugian yang nyata dan kesia-siaan yang besar. Perlu diketahui pula bahwa kebenaran niat seseorang dalam sebuah ibadahnya tidak menjamin amalnya tersebut diterima. Hal ini karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam telah menjelaskan hal ini dalam sebuah sabda beliau,

مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

“Barang siapa melakukan amalan dan tidak ada perintahnya dari kami, niscaya amal tersebut tertolak.”

Manthuq (makna lahiriah) hadits ini adalah setiap perkara bid’ah yang dibuat-buat dalam urusan agama yang tidak memiliki landasan di dalam al- Qur’an dan as-Sunnah—baik bid’ah ucapan dan keyakinan, seperti bid’ah Jahmiyah, Rafidhah, Mu’tazilah, serta selainnya, maupun bid’ah perbuatan, seperti beribadah kepada Allah Subhanahu wata’ala dengan ibadah-ibadah yang tidak ada syariatnya dari Allah Subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya— maka semua amalan tersebut tertolak. Pelakunya tercela dan ketercelaannya sesuai dengan tingkat kebid’ahan dan jauhnya dia dari agama.

Barang siapa memberitakan tidak seperti berita Allah Subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya atau dia beribadah dengan sesuatu yang tidak ada izin dari Allah Subhanahu wata’ala dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam maka dia adalah seorang mubtadi’. Barang siapa mengharamkan perkara-perkara yang dibolehkan atau beribadah tanpa ada syariatnya, maka dia juga seorang mubtadi’. Mafhum hadits ini, barang siapa melaksanakan sebuah amalan yang diperintahkan oleh Allah Subhanahu wata’ala dan Rasul- Nya, yaitu beribadah kepada Allah Subhanahu wata’ala dengan keyakinan yang benar dan amal saleh, baik yang bersifat wajib maupun mustahab (sunnah), maka segala pengabdiannya diterima dan usahanya patut disyukuri.

Hadits ini menjelaskan pula bahwa setiap ibadah yang dikerjakan dalam bentuk yang dilarang maka ibadah tersebut menjadi rusak karena tidak ada perintah dari Allah Subhanahu wata’ala dan adanya larangan tersebut. Konsekuensinya adalah rusak, dan setiap bentuk muamalah yang syariat melarangnya adalah ibadah yang sia-sia dan tidak tergolong dalam kategori ibadah. (Lihat Bahjatul Qulubul Abrar hlm. 17)

Mereguk Nilai di Balik Keikhlasan

Tidak ada satu bentuk pengorbanan dalam sebuah peribadahan kepada Allah Subhanahu wata’ala melainkan telah dipersiapkan ganjaran yang lebih besar dari apa yang telah dia korbankan. Itulah janji Allah Subhanahu wata’ala di dalam al-Qur’an dan melalui lisan Rasul-Nya di dalam as-Sunnah. Bahkan, Allah Subhanahu wata’ala telah menetapkan secara umum jaminan nilai yang akan didapatkan pada semua bentuk peribadahan kepada Allah Subhanahu wata’ala seperti dalam firman-Nya,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Hai manusia, sembahlah Rabbmu yang telah menciptakanmu dan orang orang yang sebelummu, agar kalian bertakwa.” (al-Baqarah: 21)

Dari sinilah, orang yang beriman mengetahui bahwa siapa saja mengharapkan urusannya yang sulit segera terselesaikan, problem hidupnya yang berat diringankan, dimudahkan urusan rezekinya, mulia dan bahagia, hendaklah dia mencarinya melalui jalur ibadah. Adapun tentang ibadah shalat, Allah Subhanahu wata’ala telah menyebutkan nilai khusus padanya yaitu di samping akan menjadikan seseorang bertakwa kepada Allah Subhanahu wata’ala, juga akan menjadi benteng dari bermaksiat kepada Allah Subhanahu wata’ala dan dari perbuatan-perbuatan yang keji. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ ۗ

“Sesungguhnya shalat dapat mencegah dari kejelekan dan kemungkaran.” (al-‘Ankabut: 45)

As-Sa’di rahimahullah menjelaskan, “Shalat itu tidak cukup bila mendatanginya hanya dalam bentuk pelaksanaan lahiriah semata. Namun, shalat itu adalah menegakkannya baik secara lahiriah dengan menyempurnakan rukun-rukunnya, wajib-wajibnya, dan menegakkan syarat-syarat-Nya. Menegakkan secara batin artinya menegakkan ruhnya, yaitu hadirnya hati di dalam shalat tersebut, memahami apa yang diucapkan dan dilakukannya. Inilah shalat yang dimaksudkan oleh Allah Subhanahu wata’ala di dalam firman-Nya,

إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ ۗ

“Sesungguhnya shalat dapat mencegah dari kejelekan dan kemungkaran.” (al-‘Ankabut: 45) (Tafsir as-Sa’di hlm. 24)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah mengatakan, “Sesungguhnya, apabila dikerjakan sesuai dengan perintah, niscaya shalat akan mencegah dari kejelekan dan kemungkaran. Jika shalat tersebut tidak mencegah dia dari kejelekan dan kemungkaran, ini pertanda bahwa dia telah menyia-nyiakan hak-hak shalat itu kendatipun dia dalam kondisi taat.”

Beliau rahimahullah juga menjelaskan, “Sesungguhnya shalat itu akan menolak adanya perkara yang dibenci yaitu kejelekan dan kemungkaran, dan sekaligus karenanya, juga akan meraih kecintaan yaitu zikrullah; dan terwujudnya kecintaan melalui (shalat) itu lebih besar dibandingkan dengan tertolaknya kejelekan. Hal ini karena zikir kepada Allah Subhanahu wata’ala adalah ibadah, dan ibadah hati sebagai tujuan dari semua bentuk peribadatan tersebut. Adapun tertahannya dia dari kejelekan sebagai tujuan yang lain.”

Beliau rahimahullah berkata, “Yang benar, makna ayat itu adalah shalat memiliki dua tujuan dan satu tujuan dari keduanya itu lebih besar daripada yang lain. Sesungguhnya shalat dapat mencegah dari kejelekan dan kemungkaran. Shalat itu sendiri mengandung makna zikir, dan shalat berikut zikir-zikirnya itu lebih besar dibandingkan keberadaannya yang dapat mencegah dari kekejian dan kemungkaran.

Ibnu Abi Dunia rahimahullah telah menyebutkan dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma bahwa beliau ditanya tentang amalan yang paling utama. Beliau rahimahullah berkata, ‘Berzikir kepada Allah Subhanahu wata’ala.’ Di dalam as-Sunan dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam berkata,

‘Dan dijadikannya thawaf di baitullah, sa’i antara Shafa’ dan Marwa, serta melempar jumrah, semuanya untuk mengingat Allah Subhanahu wata’ala’.” (HR. Abu Dawud dan at-Tirmidzi, dan beliau berkata bahwa hadits ini hasan dan sahih). (Lihat Majmu’ Fatawa 10/188)

Adapun hadits yang mengatakan,

كُلُّ صَلَاةٍ لَمْ تَنْهَ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ لَمْ يَزْدَدْ صَاحِبُهَا مِنَ اللهِ إلَّا بُعْدًا

“Setiap shalat yang tidak mencegah pelakunya dari perbuatan keji dan mungkar, tidak akan menambah bagi pelakunya selain kejauhan dari Allah Subhanahu wata’ala.”

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah menjelaskan, “Hadits ini tidak sahih dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.” Lihat penjelasan tentang kelemahan haditsnya di dalam kitab Silsilah Ahadits adh-Dha’ifah wal Maudhu’ah jilid 1 hadits ke-2. Wallahu a’lam.

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Usamah Abdurrahman

Di Bawah Naungan Keindahan & Kesempurnaan Syariat Allah Subhanahu wata’ala

Kemaslahatan Hidup dalam Syariat yang Bijaksana

Allah Subhanahu wata’ala telah menciptakan manusia dalam bentuk sebaik-sebaik makhluk di dunia ini. Segala yang terkait dengan hidupnya telah Dia persiapkan. Tidak ada sekecil apa pun yang mereka butuhkan dalam hidup, kecuali telah dipenuhi oleh Allah Subhanahu wata’ala.

Tidak ada seorang dari mereka yang dizalimi oleh Allah Subhanahu wata’ala. Namun, berapa dari manusia yang mengetahui bahwa hal itu adalah pemberian ilahi untuk disyukuri? Yang terjadi, kebanyakan mereka justru kufur terhadapnya.

Sebelum Allah Subhanahu wata’ala menciptakan mereka, bahkan sebelum Allah Subhanahu wata’ala menciptakan langit dan bumi dengan jarak lima puluh ribu tahun, Allah Subhanahu wata’ala telah mencatat dan menulis ketentuan hidup mereka. Apa yang akan mereka kerjakan, apa yang akan mereka dapatkan, semuanya ada dalam catatan dan tidak ada yang luput darinya.

كَتَبَ اللهُ مَقَادِيرَ الْخَ ئَالِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ

“Allah Subhanahu wata’ala telah menulis takdir-takdir makhluk sebelum Allah Subhanahu wata’ala menciptakan langit dan bumi 50.000 tahun.” (HR. Muslim no. 4797 dari Abdullah bin Amr bin al-Ash radhiyallahu ‘anhuma)

Dialah yang berbuat, Dialah yang berkehendak dan Dialah yang Mahabijaksana dalam segala-galanya.

إِنَّ رَبَّكَ فَعَّالٌ لِّمَا يُرِيدُ

Sesungguhnya Rabbmu Maha Berbuat apa yang Dia inginkan.” (Hud: 107)

وَمَا اللَّهُ يُرِيدُ ظُلْمًا لِّلْعَالَمِينَ

“Dan Allah tidak menginginkan kezaliman sedikit pun terhadap alam ini.” (Ali Imran: 108)

Keindahan dan kebijaksanaan Allah Subhanahu wata’ala yang terhampar di alam ini yang disaksikan secara kasatmata, yang bisa dirasa dan diraba oleh pancaindra, yang diakui oleh fitrah dan diyakini oleh hati, benar-benar membuktikan bahwa Dialah Zat yang satu yang telah mengaturnya serta Dialah Zat Yang Mahabijaksana yang telah menentukan dan menciptakannya.

Keadilan dan kebijaksanaan-Nya dalam pengaturan dan pencatatan takdir setiap makhluk-Nya menunjukkan keadilan dan kebijaksanaan Allah Subhanahu wata’ala dalam menentukan aturan hidup di dalam syariat-Nya.

Segala hal yang terkait dengan hidup ini ada aturannya di dalam syariat Allah Subhanahu wata’ala yang bila dikaji dengan dasar iman dan ilmu yang lurus, niscaya kita akan menemukan bentuk keadilan yang tiada tara. Kesempurnaan aturan di dalam syariat ini sangatlah sesuai dengan kemaslahatan hamba-hamba-Nya.

Allah Subhanahu wata’ala telah menentukan syariat yang khusus bagi kaum pria, tidak untuk kaum wanita, begitu juga sebaliknya. Namun, keumuman syariat-Nya diperuntukkan bagi keduanya, pria atau wanita. Di dalam penentuan kekhususan itu benar-benar Allah Maha Bijaksana sehingga tidak ada satu makhluk pun yang dizalimi oleh satu aturan pun. Dia juga telah menentukan kodrat yang berbeda antara kaum pria dan wanita dengan kebijaksanaan-Nya. Maka dari itu, saat wanita atau kaum pria mencoba untuk melakukan perubahan kodrat pria ke wanita atau sebaliknya, kita menemukan adanya kecaman dari Zat yang Maha Bijaksana dan dari Rasul-Nya. Di antaranya,

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam melaknat kaum pria yang menyerupai kaum wanita dan kaum wanita yang menyerupai kaum pria.” (HR. al-Bukhari no. 5435 dan Ibnu Majah no. 1894 dari sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma)

Allah Subhanahu wata’ala juga mengecam saat kaum wanita mencoba mengambil alih posisi yang itu dipikul oleh kaum pria menurut pandangan syariat-Nya, seperti sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam,

“Tidak akan beruntung suatu kaum jika mereka menyerahkan urusannya kepada kaum wanita.” (HR. al-Bukhari no. 4073 dan 6570 dari sahabat Abu Bakrah radhiyallahu ‘anhu)

Meluruskan Paham, Menyatukan Tujuan

Keadilan Allah Subhanahu wata’ala dalam takdir dan syariat-Nya mendapat protes dari sebagian hamba-Nya, jika tidak dikatakan mayoritas mereka. Hal ini terbukti dengan kelangkaan orang yang benar-benar lurus dalam memahami Islam dan mengamalkannya, serta langkanya orang yang berakidah yang benar.

Karena itu, saat mendapatkan ujian berupa musibah, sebagian orang enggan untuk mengembalikannya kepada Allah Subhanahu wata’ala. Ironisnya, mereka mengangkat tandingan-tandingan bagi Allah Subhanahu wata’ala, seperti paranormal alias dukun, kuburan, atau tempat yang dikeramatkan. Bukankah ini bentuk kezaliman terhadap Zat Yang Maha Adil? Bukankah ini bentuk protes terhadap syariat-Nya yang telah melarang berbuat syirik?

Usaha yang dilakukan oleh hamba-Nya dalam menambah dan mengurangi keabsahan, kesempurnaan, dan keindahan syariat-Nya dengan menghidupkan berbagai bid’ah, juga merupakan bentuk protes mereka terhadap syariat Allah Subhanahu wata’ala yang adil dan sempurna ini.

Demikian juga mengubah kodrat dari wanita ke pria dan sebaliknya, juga merupakan bentuk protes mereka terhadap takdir Allah Subhanahu wata’ala Kapan manusia tidak lagi menuntut?  Tentu saat mereka masuk ke liang lahad dan mengerti tempat yang akan dihuninya, surga atau neraka.

Allah Subhanahu wata’ala telah memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk berbuat adil dan melarang mereka untuk berbuat zalim. Adil dalam bermuamalah dengan Allah Subhanahu wata’ala, dengan dirinya, dan di saat bermuamalah dengan orang lain. Sebagaimana yang telah ditegaskan oleh Allah Subhanahu wata’ala di dalam firman-Nya,

وَأَقْسِطُوا ۖ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ

“Dan hendaklah kamu berlaku adil! Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil.” (al-Hujurat: 9)

Bentuk keadilan dalam bermuamalah dengan Allah Subhanahu wata’ala adalah Anda mengetahui bahwa Allah Subhanahu wata’ala telah memberi Anda banyak nikmat, lalu Anda mensyukurinya. Allah Subhanahu wata’ala telah menjelaskan kepada

Anda kebenaran dan jalan-jalan yang akan menyampaikan kepada diri-Nya dan surga-Nya, lalu Anda menerima dan melaksanakannya. Bentuk keadilan Anda terhadap orang lain adalah Anda bermuamalah bersama mereka dengan jalan yang Anda suka jika mereka bermuamalah dengan Anda.

Perintah dari Allah Subhanahu wata’ala untuk berbuat adil diselewengkan kalimatnya dengan bahasa yang indah namun berlintah, yaitu istilah “kesetaraan”. Penyelewengan ini telah menelan banyak korban kaum muslimin tanpa disadari. Sebab, istilah ini termasuk slogan orang-orang kafir untuk menghancurkan Islam. Kaum komunis telah berusaha dengan slogan ini menjerat orang-orang Islam agar meninggalkan keadilan agamanya dan meluluhlantakkan mereka.

Dengan slogan “persamaan hak”, mereka menafikan adanya jurang pemisah antara hak pria dan wanita. Artinya, menurut mereka, pria dan wanita memiliki hak yang sama; hak pemerintah dengan rakyat juga sama sehingga tidak ada kekuasaan pemerintah atas rakyatnya; hak ayah atas anaknya sehingga ayah tidak memiliki kekuasaan untuk mengatur, memerintah, dan melarang anaknya.

Sungguh, slogan ini telah diadopsi oleh orang Islam dan mereka mengumandangkannya untuk menggugat, memprotes keadilan Allah Subhanahu wata’ala, di dalam syariat-Nya. (lihat faedah ringkas dengan ringkas SyarahAqidah Wasithiyyah asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin hlm. 189)

Tidak Puas dengan Syariat-Nya, Sebuah Malapetaka

Menyibak berkah di dalam syariat Allah Yang Mahabijaksana sangat erat hubungannya dengan sikap keistiqamahan menjalankan syariat Allah Subhanahu wata’ala secara kaffah (menyeluruh), menerima semua yang datang dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Sungguh, generasi pertama umat inilah yang pertama kali mengantongi banyak berkah dalam kehidupan. Mereka adalah generasi yang aslam (paling selamat), ahkam (paling kokoh), dan a’lam (yang paling mumpuni ilmunya) tentang agama Allah Subhanahu wata’ala, sekaligus generasi yang paling tinggi tingkat pengamalannya terhadap Islam.

Adapun generasi kita adalah generasi yang sangat alot dan manja. Alot dari menerima kebenaran yang datang dari Allah Subhanahu wata’ala, manja karena tidak mau menerima risiko apabila berada di atas kebenaran. Akibatnya, generasi ini berada dalam keadaan yang menyedihkan dan memilukan. Banyak syariat yang ditolak dan ditentangnya tanpa rasa takut sedikit pun.

Tidakkah cukup bagi Anda jika syariat yang Anda tolak itu datang dari Allah Yang Mahabijaksana, atau Anda masih menyangka ada syariat al-hakim yang perlu direvisi?

Bagaimana pendapat Anda tentang haramnya kesyirikan dengan segala macamnya? Bagaimana pendapat Anda bahwa Allah Subhanahu wata’ala telah mengharamkan segala bentuk kebid’ahan dalam agama dengan segala bentuknya? Bagaimana pendapat Anda tentang haramnya khamr, judi, dan mengundi nasib? Bagaimana pendapat Anda tentang haramnya riba? Bagaimana pendapat Anda tentang haramnya ikhtilath (campur baur) pria dan wanita? Bagaimana pendapat Anda tentang haramnya zina? Bagaimana pendapat Anda tentang syariat Allah Subhanahu wata’ala agar wanita itu tinggal di rumah-rumah mereka? Bagaimana pendapat Anda tentang kewajiban mencari nafkah itu ada di pundak kaum pria? Bagaimana pendapat Anda tentang syariat wanita berpergian jauh/safar harus bersama mahramnya? Bagaimana pendapat Anda jika agama telah mengharamkan berjabat tangan antara pria dan wanita yang bukan mahram? Bagaimana pendapat Anda tentang syariat talak (perceraian) ada di tangan suami? Apa komentar Anda jika Allah Subhanahu wata’ala telah membolehkan bagi kaum pria untuk beristri lebih dari satu?

Apa dan bagaimana komentar Anda terhadap syariat-syariat-Nya yang lain? Masih adakah syariat Allah Subhanahu wata’ala yang perlu direvisi menurut Anda yang mungkin tidak sesuai dengan hikmah penciptaan manusia ini? Atau masih adakah aturan agama yang mengatur kehidupan kaum wanita dan mengatur batas-batas pergaulan mereka yang mengandung ketidakadilan?

Atau, Anda akan mengatakan, “Kami mendengar dan patuh, semuanya untuk kemaslahatan kami”?

فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَن تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

“Hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah beliau takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih.” (an-Nur : 63)

Ibnu Katsir rahimahullah di dalam tafsirnya mengatakan, “Hendaklah takut orangorang yang menyalahi perintahnya. Artinya, perintah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, jalan, manhaj, sunnah, dan syariat beliau. Jadi, semua ucapan dan perbuatan diukur dengan ucapan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan perbuatannya. Apabila sesuai, akan diterima. Jika tidak, tentu ditolak, siapa pun yang mengucapkan dan melakukannya, sebagaimana dalam riwayat sahih dalam kitab Shahihain dan selain keduanya, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa melakukan sesuatu yang tidak ada bimbingannya dariku, amalnya ditolak.”

Hendaklah takut orang-orang yang menyelisihi perintah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, baik penyelisihan batiniah maupun lahiriah, apabila hati mereka ditimpa fitnah yang berupa kekafiran, kefasikan, dan kebid’ahan, atau mereka ditimpa oleh azab yang pedih di dunia dalam bentuk pembunuhan, dihukum had, dipenjarakan,dan sebagainya.(Lihat TafsirIbnu Katsir 4/89)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

وَجُعِلَ الذِّلَّةُ وَالصَّغَارُ عَلَى مَنْ خَالَفَ أَمْرِي

“Dijadikan rendah dan hina orang yang menyelisihi perintahku.” (HR. Ahmad no. 4868 dari sahabat Abdullah ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma)

Bingung, Akhir Ilmu Filsafat

Sungguh telah berlalu orang-orang yang telah mencoba memperlihatkan ketidakpuasan mereka dengan syariat agama yang lurus dan manhaj Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang ma’shum (terpelihara dari kesalahan dan kekeliruan) lalu mengambil jalur yang lain sehingga menjadi orang yang merana dalam kebimbangan dan kebingungan.

Inilah Abu Hasan al-Asy’ari rahimahullah. Beliau tumbuh di tengah aliran Mu’tazilah selama empat puluh tahun dan mendebat (siapa pun) di atas aliran tersebut, lalu berlepas diri darinya dan tampil menjelaskan kesesatan Mu’tazilah serta membantahnya dengan keras.

Inilah Abu Hamid al-Ghazali rahimahullah. Bersama dengan kecerdasannya yang sangat, keahliannya dan kepintarannya dalam masalah ilmu kalam dan filsafat, kezuhudan, melatih diri (kontemplasi), tasawuf, ternyata semua masalah ini berakhir pada sikap tawaqquf (terbungkam) dan bingung. Di akhir hayatnya, dia memberi arahan ke jalan ahli kasyaf, walaupun setelah itu dia kembali ke jalan ahli hadits dan menulis Iljamul ‘Awam ‘an ‘Ilmil Kalam.

Lain halnya dengan Abu Abdillah Muhammad bin Umar ar-Razi rahimahullah. Dia berkata di dalam kitabnya, Aqsamul Ladzdzat, “Sungguh saya telah mendalami ilmu kalam dan jalan ilmu filsafat. Saya tidak menemukan sesuatu yang bisa menyembuhkan sakit dan menghilangkan dahaga. Saya justru menemukan jalan yang benar adalah jalan al-Qur’an. Saya membaca dalam hal itsbat (menetapkan nama dan sifat Allah Subhanahu wata’ala),

الرَّحْمَٰنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَىٰ

“Ar-Rahman (Allah Yang Maha Pemurah), yang beristiwa’ di atas ‘Arsy.” (Thaha: 5)

إِلَيْهِ يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيِّبُ وَالْعَمَلُ الصَّالِحُ يَرْفَعُهُ ۚ

“Kepada-Nyalah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yang saleh diangkat.” (Fathir: 10)

Dan saya membaca tentang nafi (meniadakan sifat-sifat yang tidak patut bagi Allah Subhanahu wata’ala),

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ

“Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia.” (asy-Syura: 11)

وَلَا يُحِيطُونَ بِهِ عِلْمًا

“Sedangkan ilmu mereka tidak dapat meliputi ilmu-Nya.” (Thaha: 110)

هَلْ تَعْلَمُ لَهُ سَمِيًّا

“Apakah kamu mengetahui ada seorang yang sama dengan dia (yang patut disembah)?” (Maryam: 65)

Lalu dia berkata, “Barang siapa mencoba seperti percobaanku, dia akan tahu seperti apa yang aku tahu.”

Beliau sering melantunkan syair berikut,

Akhir dari mendahulukan akal adalah kebingungan

Dan kebanyakan usaha manusia ini sesat

Ruh-ruh kita berada dalam kengerian jasad

Dan hasil dari dunia kita adalah menyakitkan dan sia-sia

Kami tidak menemukan dalam pencarian sepanjang umur

Melainkan hanya mengumpulkan kata Fulan dan kata Allan

Inilah Abul Ma’ali al-Juwaini. Ia meninggalkan apa yang dahulu dianut dan didalaminya, lalu memilih jalan salaf. Dia berkata, “Wahai para murid kami, jangan kalian menyibukkan diri dengan ilmu kalam. Jika saya mengetahui bahwa ilmu kalam akan menyampaikan saya kepada kondisi ini, niscaya saya tidak akan menyibukkan diri dengannya.”

Dia juga berkata saat meninggal, “Sungguh, saya telah menyelami lautan samudra. Saya meninggalkan orang-orang Islam dan ilmu mereka, dan saya masuk ke dalam apa yang mereka larang. Sekarang, jika Allah Subhanahu wata’ala tidak menyelamatkanku dengan rahmat-Nya, celakalah Ibnu Juwaini. Inilah saya, meninggal di atas akidah ibuku, (atau dia berkata) di atas akidah orang-orang tua Naisabur.”

Demikian pula yang diucapkan oleh Abu Abdillah Muhammad bin Abdul Karim asy-Syahrastani rahimahullah. Beliau memberitakan bahwa dirinya tidak menemukan di sisi ahli filsafat dan ahli kalam selain kebingungan dan penyesalan.

Terkadang, beliau melantunkan, “Sungguh saya berkeliling di beberapa madrasah dan saya arahkan pandangan kepada orang-orang pintarnya. Saya tidak melihat kecuali mereka meletakkan telapak tangan di bawah dagunya dalam kebingungan atau menggeletukkan giginya karena menyesal.” (Majmu’ Fatawa, 4/72)

Keberanian & Kesabaran Menjalankan Syariat

Sikap menerima dan patuh dalam menjalankan syariat adalah sikap dan perilaku orang-orang yang beriman kepada Allah Subhanahu wata’ala. Mereka menyambut dengan cepat segala apa yang dimaukan oleh Allah Subhanahu wata’ala di dalam hidupnya, bahkan dia melakukan perlombaan untuk meraih dan mendapatkan yang lebih baik dan bernilai di hadapan Allah Subhanahu wata’ala. Suri teladan mereka adalah para rasul Allah Subhanahu wata’ala,

إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا ۖ وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ

“Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas, dan mereka adalah orang-orang yang khusyuk kepada Kami.” (al-Anbiya: 90)

Hidupnya dipersembahkan untuk Allah Subhanahu wata’ala karena dia mengetahui bahwa dia pasti akan kembali kepada-Nya dan akan disodorkan kepadanya dua pertanyaan: Apa yang dahulunya kalian sembah? Dan bagaimana tanggapanmu terhadap rasul yang diutus?

Al-Imam Qatadah dan Abu ‘Aliyah berkata, “Dua kalimat yang akan ditanya umat terdahulu dan belakangan, “Apa yang dahulunya kalian sembah? Dan bagaimana tanggapan kamu kepada para rasul?”

فَوَرَبِّكَ لَنَسْأَلَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ () عَمَّا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Maka demi Rabbmu, Kami pasti akan menanyai mereka semua. Tentang apa yang telah mereka kerjakan dahulu.’ (al-Hijr : 92-93)

فَلَنَسْأَلَنَّ الَّذِينَ أُرْسِلَ إِلَيْهِمْ وَلَنَسْأَلَنَّ الْمُرْسَلِينَ

“Sesungguhnya Kami akan menanyai umat-umat yang telah diutus rasul-rasul kepada mereka dan sesungguhnya Kami akan menanyai (pula) rasul-rasul (Kami).” (al-A’raf: 6)

لِّيَسْأَلَ الصَّادِقِينَ عَن صِدْقِهِمْ ۚ وَأَعَدَّ لِلْكَافِرِينَ عَذَابًا أَلِيمًا

“Agar Dia menanyakan kepada orang-orang yang jujur tentang kejujuran mereka.” (al-Ahzab: 8)

Pertanyaan pertama tentang keikhlasan dan yang kedua tentang mutaba’ah (lihat Ighatsatul Lahafan 1/83, Madarijus Salikin 1/341).

Dia meyakini dunia yang ditempatinya ini akan berakhir, tidak ada kekekalan kecuali di sisi Allah Subhanahu wata’ala dan tidak ada keabadian kecuali kelak di akhirat. Bila dia menemukan di alam hidupnya ada satu bagian dari syariat belum dikerjakannya maka dia menengadahkan tangannya meminta kepada Allah Subhanahu wata’ala kekuatan untuk bisa melaksanakan syariat tersebut. Dia mengetahui bahwa di dalam syariat itu terdapat kemaslahatan bagi manusia secara menyeluruh, terkhusus bagi orangorang yang beriman kepadanya. Apakah sikap beriman jika menerima satu syariat dan menolak yang lain? Apakah sikap orang yang beriman dengan sempurna jika ada satu syariat masih mengganjal di hati alias tidak menerima?

Orang yang beriman menyadari bahwa Allah Subhanahu wata’ala mensyariatkan di atas ilmu dan kebijaksanaan-Nya. Allah Subhanahu wata’ala Maha Mengetahui segala aturan yang mendatangkan maslahat dan yang akan menyebabkan adanya mudarat.

Saudaraku, lapangkan dada Anda untuk menerima segala ketentuan Allah Subhanahu wata’ala di dalam syariatnya. Apabila Anda menemukan ada tuntunan yang berat untuk Anda kerjakan, koreksilah iman Anda, koreksi hati dan jiwa Anda. Mengapa?

قَدْ أَفْلَحَ مَن زَكَّاهَا () وَقَدْ خَابَ مَن دَسَّاهَا

“Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” (asy-Syams: 9-10)

Ikhlaskan hati, dan khusyukkan jiwa untuk meminta kepada Allah Subhanahu wata’ala agar mendapatkan keberkahan hidup, bantuan dan pertolongan-Nya untuk menjalankan syariat-Nya.

Jangan mencela, jangan membenci, dan jangan melecehkan! Kitalah yang pantas untuk dicela.

Oleh : al Ustadz Abu Usamah Abdurrahman

Al-Barr

Salah satu Asma`ul Husna adalah Al-Barr الْبَرُّ berdasarkan firman Allah subhanahu wa ta’ala:

إِنَّهُ هُوَ الْبَرُّ الرَّحِيمُ

“Dialah Al-Barr, Maha Penyayang.” (ath-Thur: 28)

Adapun maknanya adalah:

Al-Lathif bi ‘Ibadihi: Yang menyampaikan kepada hamba-Nya maslahat mereka dengan lembut dan baik, dari jalan di mana mereka tidak merasakannya (Shifatullah, hal. 223). Demikian ditafsirkan oleh Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma (Tafsir Al-Qurthubi, 17/70) dan Ibnu Jarir Ath-Thabari rahimahullah dalam tafsirnya.

Al-’Uthuf ‘ala ‘Ibadihi: Yang belas kasih terhadap hamba-Nya dengan kebaikan dan kelembutan-Nya. Demikian ditafsirkan oleh Ibnul Atsir rahimahullah dalam Jami’ul Ushul. (Shifatullah, hal. 223)

Yang banyak kebaikan dan karunia-Nya. Demikian ditafsirkan oleh Ibnul Qayyim rahimahullah dalam Nuniyyah.

Al-Muhsin: Yang berbuat kebaikan. Demikian tafsiran Al-Alusi rahimahullah.(Ruhul Ma’ani, 19/449)

Yang jujur dalam janji-janji-Nya kepada para hamba-Nya. Demikian ditafsirkan Ibnu ‘Abbas dan Ibnu Juraij. (Tafsir Al-Qurthubi, 17/70)

Asy-Syaikh As-Sa’di rahimahullah mengatakan: “Di antara nama-nama Allah subhanahu wa ta’ala adalah Al-Barr, Al-Wahhab, Al-Karim, yang meliputi seluruh alam semesta dengan kebaikan-Nya, pemberian-Nya, dan kemurahan-Nya. Dialah yang memiliki keindahan dan selalu memberi kebaikan, Maha Luas pemberian-Nya. (Di antara) sifat-Nya adalah kebaikan, dan buah dari sifat ini adalah seluruh nikmat yang lahir maupun yang batin, sehingga tidak satu makhluk pun lepas dari kebaikan-Nya walau sekejap mata. Dan nama-nama ini menunjukkan keluasan rahmat-Nya dan pemberian-Nya yang menyeluruh pada segala yang ada, sesuai dengan hikmah Allah subhanahu wa ta’ala. Dan kebaikan Allah subhanahu wa ta’ala terbagi menjadi dua, yang bersifat umum dan yang bersifat khusus.

Yang umum tertera dalam firman-Nya:

رَبَّنَا وَسِعْتَ كُلَّ شَيْءٍ رَحْمَةً وَعِلْماً

“Ya Rabb kami, rahmat dan ilmu Engkau meliputi segala sesuatu.” (Ghafir: 7)

وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ

“Dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu.” (al-A’raf: 156)

وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللهِ

“Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya).” (an-Nahl: 53)

Semua kebaikan ini, sama-sama didapatkan oleh orang yang baik maupun yang jahat, penduduk langit maupun penduduk bumi, makhluk yang terbebani hukum ataupun tidak.

Adapun yang khusus, adalah rahmat dan nikmat-Nya untuk orang-orang yang bertakwa, di mana Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

فَسَأَكْتُبُهَا لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَالَّذِينَ هُمْ بِآياتِنَا يُؤْمِنُونَ

“Maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku untuk orang-orang yang bertakwa, yang menunaikan zakat dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami.” (al-A’raf: 156)

إِنَّ رَحْمَتَ اللهِ قَرِيبٌ مِنَ الْـمُحْسِنِينَ

“Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.” (al-A’raf: 56)

Juga dalam doa Nabi Sulaiman ‘alaihissalam:

وَأَدْخِلْنِي بِرَحْمَتِكَ فِي عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ

“Dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang shalih.” (an-Naml: 19)

Dan rahmat Allah subhanahu wa ta’ala yang bersifat khusus inilah yang diminta oleh para nabi serta para pengikut mereka, yang membuahkan taufiq-Nya untuk beriman dan beramal shalih serta kebaikan dalam seluruh keadaan, kebahagiaan yang abadi serta keberuntungan dan kesuksesan. Dan itulah tujuan terbesar bagi para makhluk yang khusus.” (Tafsir Asma`illahi Al-Husna)

 

Buah Mengimani Nama Allah Al-Barr

Di antara buahnya adalah bahwa ketika kita mengimaninya dengan segala maknanya, semestinya hal itu menumbuhkan rasa syukur kepada Allah subhanahu wa ta’ala yang telah memberikan kepada kita berbagai macam karunia. Bahkan sebagiannya tanpa kita sadari dan tanpa kita ketahui dari mana datangnya. Itu semua Allah subhanahu wa ta’ala berikan walau hamba dalam keadaan yang tidak diridhai Allah subhanahu wa ta’ala. Semestinya hal ini menggugah si hamba untuk kemudian segera kembali kepada agamanya dan ketaatan kepada-Nya. Apalagi karunia-Nya kepada para hamba-Nya yang senantiasa taat kepada-Nya tentu begitu besar. Bahkan kenikmatan-Nya tidak lagi dapat dihitung oleh hamba-hamba-Nya.

Ditulis oleh: Al-Ustadz Qomar, ZA

 

Sumber Bacaan:

-Syarh An-Nuniyyah karya Muhammad Al-Harras

-Syarh Asma`ullah Al-Husna karya Sa’id Al-Qahthani, hal. 64, 223

-Tafsir Al-Qurthubi, 17/70

-Tafsir Ruhul Ma’ani karya Al-Alusi, 19/449

-Tafsir Asma`illahi Al-Husna, karya As-Sa’di