Mengakikahi Anak yang Sudah Meninggal

Allah ‘azza wa jalla memberi saya rezeki berupa tiga anak perempuan. Hanya saja, mereka meninggal dunia dalam keadaan masih kecil, sementara saya belum sempat mengakikahi mereka. Padahal saya pernah mendengar bahwa syafaat anak-anak kecil[1] dikaitkan dengan akikah[2]. Maka dari itu, apakah sah saya mengakikahi mereka setelah meninggalnya? Apakah saya gabungkan akikah mereka dalam satu sembelihan atau masing-masing disembelihkan sembelihan tersendiri?

 

Jawab:

Berikut ini jawaban Fadhilatusy Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah.

Akikah untuk anak yang baru lahir hukumnya sunnah muakkadah (sunnah yang ditekankan), menurut pendapat jumhur (mayoritas) ahlul ilmi (ulama). Akan tetapi, hukum ini berlaku untuk anak-anak yang masih hidup, tanpa ada keraguan di dalamnya, karena hal ini adalah sunnah yang pasti dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Adapun akikah untuk anak-anak yang sudah meninggal (yang belum diakikahi saat hidupnya), tidak tampak disyariatkan bagi Anda. Sebab, akikah itu disembelih hanya sebagai tebusan bagi anak yang lahir, untuk tafaul (berharap/optimis) akan keselamatannya, dan untuk mengusir setan dari si anak, sebagaimana hal ini ditetapkan oleh al-Allamah Ibnul Qayyim rahimahullah dalam kitabnya, Tuhfah al-Maudud fi Ahkam al-Maulud. Tujuan-tujuan ini tidak ada pada anak-anak yang sudah meninggal.

Adapun hal yang diisyaratkan oleh penanya bahwa akikah masuk dalam (syarat) syafaat anak yang lahir bagi ayahnya apabila ayah mengakikahinya, hal ini tidaklah benar dan telah didhaifkan (dilemahkan) oleh Ibnul Qayyim rahimahullah. Beliau menyebutkan bahwa rahasia dalam akikah itu adalah:

  1. Akikah menghidupkan sunnah Nabi Ibrahim ‘alaihissalam tatkala beliau menebus putranya, Ismail ‘alaihissalam.
  2. Akikah bertujuan untuk mengusir setan dari anak yang lahir, sementara makna hadits,

كُل غُلاَمٍ رَهيْنَةٌ بعَقيْقَتِهِ

“Setiap anak tergadai dengan akikahnya.” (HR Ahmad (5/12), Abu Dawud no. 2837, at-Tirmidzi no. 1522, dll.; dinyatakan sahih dalam Shahih al-Jami’ no. 4541.)

Maknanya, si anak tergadai pembebasannya dari setan dengan akikahnya.

Apabila si anak tidak diakikahi, niscaya dia tetap sebagai tawanan bagi setan. Jika diakikahi dengan akikah yang syar’i, dengan izin Allah ‘azza wa jalla hal itu akan menjadi sebab terbebasnya dia dari tawanan setan. Demikian makna yang dihikayatkan oleh Ibnul Qayyim rahimahullah.

Bagaimana pun, apabila si penanya ingin mengakikahi anak-anak perempuannya yang sudah meninggal dan menganggap baik hal tersebut, silakan dia lakukan. Akan tetapi, yang rajih/kuat menurut saya, hal tersebut tidaklah disyariatkan.

Kapan waktu yang afdal/lebih utama untuk mengakikahi anak yang lahir dan hidup?

Yang afdal adalah hari ketujuhnya. Inilah waktu yang paling utama. Sebagaimana disebutkan dalam nash/dalil. Namun, seandainya ditunda dari hari ke tujuh, tidaklah apa-apa. Tidak ada batasan untuk akhir waktunya. Hanya saja sebagian ahlul ilmi memandang apabila anak telah dewasa, berarti waktu akikah telah gugur. Oleh karena itu, mereka berpendapat bahwa tidak ada akikah untuk orang yang sudah dewasa. Sementara itu, jumhur ulama berpandangan tidak ada larangan untuk hal tersebut meskipun yang diakikahi sudah dewasa.”

(Majmu’ Fatawa Fadhilatusy Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan, 2/573—574)


[1] Anak-anak kecil yang meninggal sebelum baligh, bisa memberikan syafaat kepada kedua orang tuanya dengan izin Allah ‘azza wa jalla.

[2] Bisa memberi syafaat kepada orang tuanya asalkan si anak sudah diakikahi.

Tanya Jawab Ringkas Edisi 104

Berikut ini kami muat beberapa jawaban dari al-Ustadz Muhammad Afifuddin.

Tanya Jawab Ringkas

Bolehkah Akikah Sekaligus Kurban?

Apakah boleh jika seekor kambing yang diniatkan untuk akikah anak perempuan sekaligus diniatkan menjadi hewan kurban?

  • Jawaban:

Kurban adalah ibadah tersendiri, sedangkan akikah juga amalan tersendiri dengan sebab yang berbeda. Keduanya tidak bisa digabungkan.

 

Berkurban dengan Sapi Betina

Apakah boleh berkurban dengan sapi betina? Sebab, dana kami tidak cukup untuk membeli sapi jantan.

  • Jawaban:

Yang afdal dengan sapi jantan. Akan tetapi, sah pula dengan jenis betina, baik kambing maupun sapi.

 

Uang Pembelian Kurban dari Istri

Jika suami tidak mampu untuk berkurban,sedangkan istrinya mampu dan ingin berkurban, apakah kurban tersebut atas nama istri? Jika atas nama istri, apakah suami terkena kewajiban tidak mencukur dan memotong kuku ataukah istri yang terkena kewajiban tersebut dengan alasan uang pembelian hewan kurban dari istri)?

  • Jawaban:

Jika atas nama istri, dialah yang terkena larangan memotong kuku dan sebagainya. Apabila istri memberi uang kepada suami untuk berkurban, bisa atas nama suami dan segenap keluarga. Pada kondisi tersebut, yang terkena larangan adalah suami saja. Dalam Islam diperbolehkan memberi uang kepada seseorang untuk berkurban. Dia mendapat pahala atas sedekah uang, sedangkan yang berkurban mendapat pahala atas kurbannya.

 

Mahar Terpakai untuk Beli Kambing Akikah

Jika mahar nikah digunakan untuk membeli kambing akikah anak, apakah sang suami wajib mengganti mahar tersebut?

  • Jawaban:

Ya, karena mahar merupakan hak istri.

 

Lima Orang Berkurban Seekor Sapi

Apakah boleh seekor sapi digunakan oleh lima orang untuk berkurban?

  • Jawaban:

Boleh, bahkan seekor sapi untuk satu orang lebih afdal. Batas maksimal dalam syariat adalah seekor sapi digunakan berkurban oleh tujuh orang.

 

Kurban bagi Ibu yang Sudah Meninggal

Ibu saya sudah meninggal. Apa boleh jika membelikan kambing untuk berkurban atas nama beliau?

  • Jawaban:

Jika kurban untuk orang yang masih hidup, tidak masalah. Hukum asalnya tidak ada kurban bagi orang yang sudah mati, kecuali:

  1. Jika dia pernah bernazar untuk kurban, ahli waris harus menunaikannya.
  2. Jika dia berwasiat, dilaksanakan pula selama harga hewan kurban tidak lebih dari sepertiga harta peninggalan.
  3. Dia diikutkan dengan orang yang berkurban yang masih hidup. Misalkan ada orang yang berkurban dengan seekor kambing dengan niat untuk dirinya dan seluruh keluarganya, baik yang masih hidup atau yang sudah meninggal.

 

Kupon Sembako dari Bank Konvensional

Apakah boleh mendapatkan sembako dari kupon yang diberikan oleh bank konvensional?

  • Jawaban:

Kupon dari bank ribawi sebaiknya tidak diambil. Bisa jadi, Anda termasuk nasabah sehingga kupon tersebut adalah bentuk riba dari uang yang Anda tabung. Bisa jadi pula, Anda bukan nasabah sehingga termasuk syubhat, karena berasal dari lembaga riba. Bentuk sikap wara’ kita adalah sebaiknya tidak diambil.

 

Undian Produk

Kita biasa menggunakan produk tertentu dalam keseharian. Suatu ketika, produsen mengadakan program undian dengan cara pembeli mengirimkan bungkus produk. Bagaimana hukumnya baik tentang pelaksanaan undian dan hadiahnya?

  • Jawaban:

Undian tersebut tidak boleh diikuti jika:

  1. Harga produk dinaikkan dari harga biasanya, sebab termasuk perjudian. Ini yang umum terjadi.
  2. Harga tidak naik, tetapi kita membeli di luar batas kebutuhan biasanya. Itu berarti kita membeli karena hadiah, bukan karena kebutuhan.

 

Kaos Kaki/Tangan Menyerupai Warna Kulit

Bolehkah wanita memakai kaos kaki atau kaos tangan yang menyerupai warna kulit?

  • Jawaban:

Jika tidak tampak, tidak masalah. Namun, jika terlihat oleh lelaki nonmahram, ini tidak boleh; sebab warna kaos sama dengan kulit atau bahkan bisa lebih indah.

 

Larangan Memotong Kuku dan Rambut bagi yang Akan Berkurban

Dalam rubrik Tanya Jawab Ringkas vol. IX no. 102/1435H/2014 disebutkan bahwa jika telah niat berkurban, seseorang tidak boleh memotong kuku atau rambut. Bagaimana halnya dengan orang yang menabung dengan niat akan berkurban jika uangnya sudah terkumpul dan cukup untuk membeli hewan kurban; apakah orang tersebut juga terkena larangan memotong kuku dan rambut?

  • Jawaban:

Larangan memotong kuku, kulit, dan rambut berlaku sejak 1 Dzulhijjah hingga hewan tersebut disembelih, bukan semenjak dia niat berkurban dan menabung.

 

Meremehkan Ulama

Saya mau tanya, kalau seseorang meremehkan ulama, apakah termasuk penyimpangan manhaj dan prinsip Ahlus Sunnah wal Jamaah (salafi)?

  • Jawaban:

Apabila yang dimaksud adalah ulama suu’, meremehkan dan merendahkannya adalah prinsip utama Ahlus Sunnah. Akan tetapi, apabila yang diremehkan adalah ulama Sunnah, ini adalah ciri khas ahli bid’ah. Pada zaman ini, yang sangat getol merendahkan ulama terutama yang dikenal tegas terhadap hizbiyyin adalah Sururiyyun dan Halabiyyun, ahli tamyi’.

 

Darah Haid Tersendat karena KB

Seorang wanita melakukan KB suntik tiga bulan sekali. Dia sudah disuntik selama sepuluh bulan dan tidak pernah haid. Didapati hari ini keluar darah merah segar tanpa bau dan tanpa rasa sakit. Darah yang keluar tersendat-sendat sejak pagi sampai sore. Bagaimana hukum puasa wanita tersebut?

  • Jawaban:

Ada dua cara yang bisa ditempuh.

  1. Lihat sifat darahnya. Jika sifatnya seperti darah haid, dihukumi haid. Jika tidak, dianggap darah biasa dan suci. Dari sifat yang disebutkan, itu bukan darah haid.
  2. Kebiasaan (jadwal) haid. Jika dia tahu kebiasaan haidnya selama ini dan darah tersebut keluar pada waktu normal, itu dihukumi sebagai haid. Jika dia tidak mengetahui kebiasaannya atau tahu tetapi darah tersebut keluar bukan pada waktu kebiasaan, tidak dihukumi haid.

Wallahul muwaffiq.

 

Transfer Dahulu, Barang Baru Dikirm

Apakah diperbolehkan secara syariat, transfer uang terlebih dahulu, kemudian barang baru dikirim?

  • Jawaban:

Transfer uang dahulu baru barang dikirim, diperbolehkan pada sistem jual beli salam, yaitu harga dibayar di muka untuk membayar barang tertentu yang telah disepakati sifatnya, ukurannya, takarannya, timbangannya, dan waktu pelaksanaannya.

 

Berikut ini adalah beberapa jawaban dari al-Ustadz Qomar Suaidi.

 

Menikah dengan Sayyid/Syarifah

  1. Apakah benar sayyid dan syarifah itu keturunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam?
  2. Apakah boleh orang lain menikahi syarifah?
  3. Kalau tidak boleh, jika sudah menikah dan memiliki anak, bagaimana yang bisa dilakukan?
  • Jawaban:
  1. Orang yang mengaku sayyid dan syarifah, maka dilihat nasabnya.
  2. Diperbolehkan menikahi syarifah.

 

Catatan Amalan Diserahkan pada Hari Jumat

Apa benar ketika hari Jumat buku catatan amalan kita diserahkan kepada Allah subhanahu wa ta’ala? Apabila amalan kita jelek, orang tua kita yang sudah wafat akan mendapat dosa dan sebaliknya?

  • Jawaban:

Sepengetahuan kami, hal itu tidak benar. Yang benar, amalan kita dihadapkan kepada Allah subhanahu wa ta’ala pada hari Senin dan Kamis. Adapun orang tua tidak menanggung dosa anak.

 

Menghadiri Akikah pada Selapanan

Bolehkah kita menghadiri undangan akikah pada hari selapanannya?

  • Jawaban:

Boleh menghadiri undangan akikah walaupun setelah hari ke-7, selama tidak ada unsur kebid’ahan dan kemungkaran dalam acara tersebut.

 

Silaturahmi Saat Idul Fitri

Apakah bukan termasuk bid’ah pada hari raya Idul Fitri dengan kita berkunjung/silaturahmi ke tempat karib kerabat yang sudah menjadi tradisi masyarakat?

  • Jawaban:

Silaturahmi saat Idul Fitri diperbolehkan, sebagaimana fatwa para ulama.

 

Doa Minta Khusnul Khatimah

Apakah ada doa khusus agar kita diberi khusnul khatimah dan dilindungi dari su’ul khatimah?

  • Jawaban:

Setahu kami, tidak ada doa khusus. Namun, boleh bagi kita untuk meminta langsung hal tersebut kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

 

Usaha Pemancingan Ikan

Seseorang memiliki usaha pemancingan ikan. Ikan di dalam kolam dijual dengan cara pembeli membayar sejumlah uang kepada pemilik dan memancing ikan di dalam kolam. Jika ikan yang didapat banyak, pemancing untung; begitu pula sebaliknya. Apakah hal ini termasuk judi?

  • Jawaban:

Ya, yang seperti itu termasuk judi.

 

Bidan Memberikan Pelayanan KB

Apa hukum memberikan pelayanan kontrasepsi (KB) pada pasien yang ingin tidak memiliki anak, atau hanya mengatur jarak kehamilan lebih dari dua tahun?

  • Jawaban:

Jika tujuannya tidak memiliki anak lagi, dilihat sebabnya. Jika alasannya ialah hamil akan membahayakan ibu atau janinnya berdasarkan keterangan dokter ahli yang amanah, kita boleh membantunya. Jika tidak demikian keadaannya, kita tidak boleh membantunya. Adapun untuk mengatur jarak kehamilan selama dua atau tiga tahun, insya Allah diperbolehkan.

 

Doa Dimudahkan Mendapat Jodoh

Adakah doa khusus agar dimudahkan atau didekatkan dengan jodoh?

  • Jawaban:

Setahu kami tidak ada doa khusus untuk hal tersebut. Ada doa yang umum seperti, “Rabbana hab lana min azwajina wa dzurriyyatina …dst.” Selain itu, boleh pula kita berdoa dengan bahasa yang kita bisa dan sesuai dengan keinginan kita.

41

Kirim SMS/WA Pertanyaan ke Redaksi 081328078414 atau via email ke tanyajawabringkas@gmail.com

Jika pertanyaan Anda cukup dijawab secara ringkas, akan kami muat di rubrik ini. Namun, jika membutuhkan jawaban yang panjang lebar, akan kami muat di rubrik Problema Anda, insya Allah.

Seluruh materi rubrik Tanya Jawab Ringkas (Asy-Syariah) dapat di akses di www.tanyajawab.asysyariah.com

 

Tanya Jawab Ringkas Edisi 100

Pada rubrik Tanya Jawab Ringkas edisi ini, kami muat beberapa jawaban dari al-Ustadz Muhammad Afifuddin.

Potong Rambut Model Pemain Bola

Saya mencari nafkah dengan jasa potong rambut. Apa hukumnya jika diminta untuk memotong model rambut seperti pemain bola orang-orang kafir?

085262XXXXXX

 

Jawaban:

Tidak boleh bagi Anda memotong rambut dengan gaya orang kafir, karena termasuk ta’awun di atas dosa. Kaum muslimin tidak boleh bertasyabuh (menyerupai) dengan orang kafir.

 

Menerima Hadiah dari Pekerja Bank

Bagaimana sebaiknya apabila kita diberi hadiah dari orang yang bekerja di bank?

02470XXXXXX

 

Jawaban:

Jika diketahui bahwa penghasilan dia murni dari yang haram, sikap wara’ kita ialah tidak menerima hadiahnya.

 

Mengambil Keuntungan dari Akikah

Bolehkah mengambil keuntungan dari acara akikah? Misalnya, saya diberi sejumlah uang untuk membeli domba, kemudian memasak dan membagikannya. Keuntungan saya dapat dari uang yang diberikan dengan biaya pembuatan.

085793XXXXXX

 

Jawaban:

Jika profesi Anda adalah penjual kambing, boleh mengambil untung. Jika hanya ditunjuk sebagai wakil, hukum asalnya tidak boleh mengambil keuntungan kecuali apabila ada kesepakatan sebelumnya atau ada komisi dari orang yang menyuruh Anda.

 

Melamar Pekerjaan

Apakah melamar pekerjaan masuk dalam kategori meminta-minta?

085649XXXXXX

 

Jawaban:

Tidak termasuk meminta-minta selama pekerjaan tersebut halal dan dia ahli dalam bidangnya. Lebih-lebih lagi jika murni urusan duniawi.

 

Mengucapkan Hamdalah saat Shalat

Bagaimana ketika kita shalat kemudian bersin dan mengucapkan, “Alhamdulillah,” apakah yang mendengar harus menjawabnya?

081281XXXXXX

 

Jawaban:

Pendapat sebagian ulama boleh dengan dasar hadits tentang kisah Muawiyah bin Hakam as-Sulami. Akan tetapi, yang mendengar tidak (boleh) mendoakan yang bersin.

 

Cara Masuk Islam

Apabila si fulan mengajak temannya untuk masuk Islam kemudian ia mau masuk Islam, apakah cukup baginya untuk bersyahadat di hadapan fulan saja atau ada ketentuan dan syarat lain?

08960XXXXXXX

 

Jawaban:

Seseorang yang hendak masuk Islam harus mengucapkan syahadatain di hadapan banyak muslimin dan lebih afdal di depan instansi pemerintah terkait, seperti KUA, agar keislamannya diketahui khalayak ramai.

 

Jas Hujan yang Isbal

Haruskah jas hujan dipotong agar tidak isbal?

085810XXXXXX

 

Jawaban:

Jika kita sebagai penjual jas hujan, tidak perlu memotongnya karena tinggi badan konsumen bervariasi. Jika kita adalah pembeli dan ukurannya terlalu panjang, dipotong agar tidak isbal.

 

Antara Akikah & Qurban

Mana yang didahulukan, akikah atau kurban jika waktunya bersamaan?

081386XXXXXX

 

Jawaban:

Jika akikahnya pada hari ke-7, dahulukan akikah karena waktunya terbatas. Namun, jika di luar hari ke-7, dahulukan kurban.

 

Tata Cara Takbir Idul Adha

Bagaimana tata cara takbiran yang benar menurut syariat?

08237XXXXXXX

 

Jawaban:

Takbir Idul Adha boleh dilakukan setelah selesai shalat dengan dibaca sendirian, tidak boleh dipimpin oleh imam.

 

Dana Haji di Bank Konvensional

Bolehkah berhaji dengan biaya dikelola oleh pemerintah melalui bank konvensional?

081392XXXXXX

 

Jawaban:

Diperbolehkan berhaji dengan cara tersebut karena kondisi yang tidak mungkin dihindari.

 

Kredit Motor

Bolehkah kredit sepeda motor di showroom seperti yang dilakukan kebanyakan masyarakat?

081360XXXXXX

 

Jawaban:

Kredit motor yang dilakukan kebanyakan masyarakat sekarang melalui dealer/sistem leasing adalah hal yang dilarang karena mengandung unsur riba.

 

Konsekuensi Bersyariat

Apakah setiap orang yang berusaha menempuh, menjalani, menegakkan syariat agama ini dalam kehidupannya mesti akan menghadapi hal yang tidak mengenakkan dan merisaukan hati dari orang-orang di sekitarnya?

08574XXXXXXX

 

Jawaban:

Ya, itu sebuah kepastian sebagai ujian keimanan dan keistiqamahan. Semakin tebal dan tinggi iman dan takwa seseorang, semakin berat dan banyak ujiannya.

 

Puasa 10 Hari Awal Muharram

Apakah boleh puasa pada bulan Muharram dari tanggal 1 sampai dengan 10?

08233XXXXXXX

 

Jawaban:

Tidak ada dalil khusus puasa tanggal 1—10 Muharram. Yang ada adalah puasa Muharram secara umum dan tanggal 9—10 secara khusus.

Komisi Tambahan bagi Pekerja

Saya bekerja di pabrik (bagian produksi) dan diberi tugas tambahan. Jika ada mobil bahan baku datang, saya bertugas untuk mengeceknya. Jika sudah selesai dicek, saya mendapatkan uang dari sopir. Apakah uang tersebut halal untuk saya ambil?

08777XXXXXXX

 

Jawaban:

Komisi seperti itu hukum asalnya kembali kepada kebijakan perusahaan. Jika ada aturan yang membolehkan diambil oleh karyawan, diperbolehkan.

 

Wasiat Warisan

Apa boleh wasiat dalam bentuk harta/tanah diberikan kepada salah satu ahli waris saja (dalam kasus ini diberikan kepada cucu)?

081386XXXXXX

 

Jawaban:

Jika yang diberi termasuk ahli waris yang mendapat warisan, wasiat tersebut tidak sah. Sebab, tidak boleh berwasiat untuk ahli waris. Begitu pula jika wasiatnya lebih dari 1/3 harta waris, tidak sah walau yang diberi bukan ahli waris.

 

Amalan untuk Orang Tua yang Telah Meninggal

Amalan apa saja yang pahalanya bisa kita niatkan untuk kedua orang tua yang telah meninggal?

087737XXXXXX

 

Jawaban:

Amalan yang pahalanya bisa sampai kepada orang tua yang telah wafat di antaranya, doa kebaikan untuk mereka, ini yang paling dianjurkan; sedekah dan sejenisnya; qadha puasa wajib yang ditanggung oleh orang tua; haji badal; dan amal saleh secara umum. Sebab, anak adalah hasil usaha orang tua.

 

Mandi dengan Air Sisa Mandi Wanita

Bolehkah kita mandi dari sisa air yang dipakai mandi oleh seorang wanita (mahram ataupun bukan)?

085256XXXXXX

 

Jawaban:

Justru haditsnya menegaskan bahwa airnya tidak menjadi najis. Silakan lihat di Bulughul Maram pada Kitab Thaharah.

 

Upah yang Belum Ditentukan

Saya ditugaskan untuk menjaga gedung sarang walet dan tidak ada kejelasan berapa upahnya dan kapan akan digaji. Apakah perbuatan orang tersebut termasuk menzalimi saya?

085658XXXXXX

 

Jawaban:

Jika sifatnya ta’awun (menolong), tidak ada gaji. Jika sifatnya kerja, harus digaji. Jika tidak ada kesepakatan sebelumnya, nilai gaji disamakan dengan gaji keumuman penjaga walet atau semisalnya. Jika orang tersebut tidak menggaji, dia berbuat zalim.

 

Rindu Orang Tua yang Telah Wafat

Apakah boleh kita merindukan orang tua kita yang sudah lama meninggal?

08564XXXXXXX

 

Jawaban:

Boleh saja dan itu menunjukkan adanya hubungan baik dengan orang tua walau sudah wafat. Namun, jangan sampai terjatuh kepad hal yang haram. Kita gunakan untuk mendoakan kebaikan orang tua dan hal syar’i lainnya.

 

Jual-Beli pada Acara Bid’ah

Bolehkah jual-beli pada acara bid’ah (malam suro, maulid) di pasar malamnya?

083830XXXXXX

 

Jawaban:

Jika sebagai pedagang dadakan, tidak boleh. Sebab, hal itu termasuk ta’awun di atas dosa.

 

Qunut Nazilah

Apakah disyariatkan kita qunut nazilah saat ini (November 2012) mengingat agresi Israel (baca: Yahudi) kepada kaum muslimin?

081234XXXXXX

 

Jawaban:

Qunut nazilah adalah wewenang penguasa berdasarkan fatwa para ulama. Tidak boleh bagi masyarakat melakukan qunut nazilah tanpa izin pemerintah.

 

Pebisnis Hewan Kurban, Wajib Kurban?

Apakah penjual hewan kurban yang jelas berniat untuk berbisnis memiliki kewajiban untuk berkurban?

081386XXXXXX

 

Jawaban:

Pendapat yang rajih, berkurban tidak wajib, tetapi sunnah muakkadah. Walaupun dia juragan kambing atau pebisnis kambing.

 

Wasiat

Sahkah pemberian kakek berupa sawah (senilai sepuluh juta rupiah) khusus bagi semua cucu pertama?

081386XXXXXX

 

Jawaban:

Jika kakek masih hidup, pemberian tersebut bukan waris, melainkan hibah. Beliau berhak menghibahkan hartanya kepada siapa pun. Namun, jika diberikan kepada anak-anaknya, syaratnya wajib rata. Jika kakek sudah wafat dan mempunyai anak laki-laki, cucu-cucunya bukan ahli waris sehingga mereka bisa menerima hibah (istilah yang tepat adalah wasiat) dengan syarat tidak lebih dari 1/3 harta peninggalan.

 

Utang Uang Dihargai Emas

Suatu hari adik saya meminjam uang sebesar dua juta rupiah kepada saya. Dia nilai uang tersebut dengan emas seberat 10 gram. Lalu sekarang dia mengembalikannya sebesar lima juta rupiah, karena harga emas seberat 10 gram senilai uang tersebut. Apakah selisih 3 juta rupiah termasuk riba yang diharamkan?

082190XXXXXX

 

Jawaban:

Termasuk riba fadhl. Yang benar, utang uang dibayar uang dan utang emas dibayar emas sesuai dengan nominal dan beratnya walaupun nilainya berbeda seiring dengan berjalannya waktu.

 

Ayah Tiri Bercerai dengan Ibu, Mahram?

Mantan ayah tiri (sudah bercerai dengan ibu) apakah masih mahram?

085227XXXXXX

 

Jawaban:

Apabila ayah tiri sudah ‘berkumpul’ dengan ibunda Saudari, Anda adalah mahramnya untuk selamanya walaupun beliau sudah cerai dengan ibunda. Ini yang disebut mahram muabbad (selamanya).

 

Kesalahan terhadap Orang Lain

Kita pernah berbuat salah terhadap orang lain, sedangkan orang tersebut tidak mengetahuinya. Apakah kita boleh memberi tahu dia, padahal kejadiannya sudah berlalu? Mohon penjelasannya.

085336XXXXXX

 

Jawaban:

Kalau kesalahan kita terkait dengan kehormatan dia, tidak perlu disampaikn karena dia tidak akan mendapat manfaat. Dia justru mendapat hal yang tidak menyenangkan, karena dahulu dia tidak tahu, sekarang menjadi tahu. Cukup Anda ganti dengan menyebut kebaikan-kebaikannya di tempat yang dahulu Anda menjelekkannya. Berbeda halnya kalau kesalahan kita terkait dengan harta, harus diberitahukan dan dikembalikan karena dia mendapat faedah, dahulu hartanya hilang, sekarang kembali. Ini penjelasan Ibnul Qayyim dalam Madarij as-Salikin.

 

Akikah dengan Kambing Betina

Apakah sah akikah dengan menggunakan kambing betina?

082177XXXXXX

 

Jawaban:

Akikah menggunakan kambing betina hukumnya sah. Tidak ada dalil yang melarang; sebagaimana kurban dengan kambing betina juga sah, walaupun yang afdal adalah dengan kambing jantan.

 

Kehalalan Larva Lebah

Apakah larva lebah halal dimakan? Apakah sahih hadits yang melarang untuk membunuh lebah? Jika sahih, apakah larangan tersebut mencakup larva lebah?

085237XXXXXX

 

Jawaban:

Hadits yang melarang membunuh lebah adalah sahih. Jumhur fuqaha berpendapat bahwa hewan yang dilarang untuk dibunuh, haram dimakan. Larva lebih baik tidak dimakan karena termasuk lebah.

 

Syariat Ibadah Kurban

Apakah ibadah kurban hanya disyariatkan untuk laki-laki? Apakah orang tua yang sudah pikun masih dianjurkan untuk berkurban?

085XXXXXXX

 

Jawaban:

Kurban tidak khusus bagi laki-laki. Wanita, anak-anak, ataupun lansia juga bisa melakukannya. Yang penting memiliki kemampuan, karena ibadah ini terkait dengan kemampuan finansial.

 

Menyantuni Anak Yatim

Apakah ada dalil menyantuni anak yatim yang dikhususkan pada tanggal 10 Muharam dan keutamaan mengusap rambut anak yatim?

085624XXXXXX

 

Jawaban:

Tidak ada dalil khusus memuliakan dan mengusap kepala anak yatim pada 10 Muharam. Memuliakan anak yatim dan menyayangi mereka adalah tindakan mulia, tetapi tidak ada waktu khusus untuk melakukannya.

 

Menyingkat Salam

Bolehkah menyingkat ucapan salam misal menjadi “ass.wr.wb” dalam surat atau sms?

085747XXXXXX

Jawaban:

Pendapat yang rajih bahwa ucapan seperti salam, shalawat, dan semisal harus ditulis lengkap dan tidak cukup dengan simbol. Kita cari keberkahannya walau panjang tulisannya.

 

Meminta Hajat ke Kuburan

Bagaimana dengan orang yang sering ke kuburan untuk meminta hajat? Apa itu merupakan kesyirikan?

081241XXXXXX

 

Jawaban:

Menjadikan makhluk yang sudah mati sebagai wasilah dalam berdoa adalah syirik akbar. Itulah bentuk kesyirikan orang kafir Quraisy yang diperangi oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat g.

 

Mendatangi Pilihan Lurah

Bagaimana sebaiknya sikap kami untuk memenuhi undangan pilihan lurah, apakah jika kami datang termasuk bermaksiat kepada Allah ‘azza wa jalla? Sebagian ikhwan ada yang datang dengan alasan menutup fitnah dan takut dipersulit dalam birokrasi.

085227XXXXXX

 

Jawaban:

Yang pertama dilakukan adalah memberi penjelasan kepada lurah tentang prinsip yang benar dalam masalah ini. Semoga mereka paham sehingga Anda tidak datang tanpa ada fitnah. Jika mereka tidak diterima dan akan timbul fitnah besar, kita datang tetapi dalam rangka meredam mafsadah. Berikan pula penjelasan sampai mereka maklum.

 

Berzikir dalam Hati di Kamar Mandi

Bolehkah berzikir dalam hati di dalam kamar mandi? Bolehkah berzikir dalam keadaan junub?

085327XXXXXX

 

Jawaban:

Tidak diperbolehkan zikir atau menyebut nama Allah ‘azza wa jalla di tempat yang kotor atau WC. Jika harus berbuat, di dalam hati dan tidak boleh dilafalkan. Pendapat yang rajih, orang junub boleh berzikir dan membaca al-Qur’an. Namun, yang afdal adalah mandi janabah dahulu (zikir dalam keadaan suci).

 

Waktu Shalat Sunnah Qabliyah

Apakah shalat sunnah qabliyah dilakukan setelah azan dan sebelum iqamah? Bagaimana jika shalatnya sendirian di rumah, apakah juga berlaku seperti shalat sunnah qabliyah yang dilaksanakan di masjid?

087719XXXXXX

 

Jawaban:

Shalat sunnah qabliyah dilakukan setelah azan sebagai tanda telah masuk waktu dan sebelum iqamah. Sebab, shalat sunnah apapun harus dibatalkan apabila iqamat sudah dikumandangkan. Jika shalatnya munfarid (sendirian) karena sakit, ketiduran, atau uzur lain, as-Sunnah mencontohkan tetap melakukan shalat sunnah qabliyah dan ba’diyah seperti biasa. Jadi, shalat sunnahnya tidak terikat dengan iqamah masjid setempat.

 

 

Kirim SMS Pertanyaan ke Redaksi 081328078414 atau via email ke tanyajawabringkas@gmail.com
Jika pertanyaan Anda cukup dijawab secara ringkas, akan kami muat di rubrik ini. Namun, jika membutuhkan jawaban yang panjang lebar, akan kami muat di rubrik Problema Anda, insya Allah.
Seluruh materi rubrik Tanya Jawab Ringkas (Asy-Syariah) dapat di akses di www.tanyajawab.asysyariah.com

Tanya Jawab Ringkas Edisi 97 (1)

Pada rubrik Tanya Jawab Ringkas edisi ini, kami muat beberapa jawaban dari al-Ustadz Muhammad Afifuddin.

 Daging Akikah untuk Orang Kafir

Apakah kita boleh memberikan daging akikah kepada saudara kita yang bukan muslim?

08522xxxxxxx

  • Jawaban:

Boleh, dengan niat untuk hadiah atau melembutkan hati mereka. Begitu pula daging hewan kurban. Jadi, akikah dan hewan kurban sebagian menjadi sedekah untuk fakir miskin, sebagian menjadi hadiah untuk orang kaya, termasuk di dalamnya orang yang kafir.

 

Kuas Sisir

Semir Rambut Hitam Kecoklatan

Bolehkah menyemir rambut dengan warna coklat kehitaman karena rambut sudah mulai memutih? Ini atas permintaan suami agar terlihat lebih muda.

081327xxxxxx

  • Jawaban:

Dalam Islam rambut yang memutih karena uban disunnahkan untuk disemir, tetapi dilarang memakai warna hitam. Selama bukan warna hitam, diperbolehkan baik untuk laki-laki maupun perempuan.

 

Sandal Wanita

Wanita Shalat Memakai Sendal

Apakah shalat memakai sendal hukumnya sunnah? Jika wanita sesekali tidak memakai sendal, apakah bisa dihukumi seperti Yahudi?

08539xxxxxxx

  • Jawaban:

Tidak, karena hukumnya sunnah. Yang tidak melakukannya tidak mendapatkan dosa, apalagi dihukumi seperti Yahudi. Yang dinasihatkan ketika hendak shalat menggunakan sendal adalah mempertimbangkan maslahat dan muadarat dalam pandangan masyarakat umum.

 

Derajat Hadits Tentang Talak

Bagaimana kedudukan hadits, “Perkara halal yang paling dibenci oleh Allah adalah talak”?

08781xxxxxxx

  • Jawaban:

Hadits ini mursal, termasuk riwayat mursal Muharib bin Ditsar. Mursal termasuk golongan hadits dhaif.

 

Berlepas Diri dari Hizbiyah

Apakah beribadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan mengikhlaskan agama untuk-Nya berkonsekuensi bahwa saya juga harus berlepas diri dari mereka yang berdakwah tentang agama, namun dalam wadah atau kelompok baru yang tidak ada contohnya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?

Abu Abdillah—Lampung

08574xxxxxxx

  • Jawaban:

Benar, itu temasuk konsekuensi tauhid kita. Kita harus berlepas diri dari kaum musyrikin dan kesyirikan serta dari kebid’ahan dan ahli bid’ah.

koko-batik-biru

Shalat Memakai Pakaian Bermotif

Bagaimana hukumnya memakai pakaian, seperti sarung, songkok, jubah, gamis yang bermotif/tidak polos dalam shalat?

08524xxxxxxx

  • Jawaban:

Selama motifnya tidak ramai dan tidak mengganggu orang yang shalat, tidak mengapa. Afdalnya memakai yang polos sehingga tidak menganggu pandangan orang yang shalat.

 

Partai Politik = Ashabiyah?

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya), “Bukan dari golongan kami, orang yang menyeru kepada ashabiyah (fanatisme golongan).” (HR. Abu Dawud)

Apakah orang-orang yang masuk ke partai politik tertentu dan mengampanyekan partainya termasuk dalam hadits ini?

08524xxxxxxx

  • Jawaban:

Ya. Semua riwayat yang melarang kita dari ashabiyah maka termasuk di antaranya adalah partai-partai politik yang ada ini.

kaus-kaki-pria

Kaos Kaki Tinggi = Musbil?

Jika seseorang memakai celana sampai setengah betis kemudian memakai kaos kaki tinggi, apakah termasuk musbil?

08154xxxxxxx

  • Jawaban:

Tidak, karena menggunakan kaos kaki diperbolehkan. Selain itu, diperbolehkan pula menggunakan khuf (sepatu yang menutupi mata kaki). Yang dilarang adalah yang dari atas, baik itu celana, sarung, jubah, maupun gamis.

 

Antara Umrah & Membantu Orang Miskin

Saya pelanggan Majalah Asy Syariah ingin bertanya. Sekarang ada fenomena adanya ibadah umrah. Yang saya tanyakan, lebih penting mana antara menjalankan ibadah umrah sementara di sekitar kita, bahkan mungkin saudara di sekitar kita, masih banyak yang hidup miskin?

08564xxxxxxx

  • Jawaban:

Dikerjakan dua-duanya. Kita sisihkan uang untuk membantu orang lain yang membutuhkan, di sisi lain kita juga melakukan umrah. Ringkasnya, ibadah umrah sangat besar keutamaannya dan tidak bertentangan dengan ibadah sedekah.

 

Perempuan Mendakwahi Lelaki

Bolehkah seorang perempuan mendakwahi laki-laki? Sebab, wanita tersebut lebih berilmu dan tidak tahan dengan kemungkaran yang dilakukan oleh si lelaki.

08967xxxxxxx

  • Jawaban:

Boleh, dengan syarat aman dari fitnah (godaan) dan dengan cara yang hikmah.

 

Orang Tua Ingin Anak Belajar ke Luar Negeri

Orang tua saya menyuruh saya untuk belajar di Yaman bersama para ulama. Namun, saya merasa belum pantas untuk pergi ke sana karena ilmu saya yang masih sedikit dan umur saya masih 17 tahun. Saya masih merasa takut apabila pergi terlalu jauh. Apa nasihat ustadz, sikap terbaik yang harus saya lakukan?

08237xxxxxxx

  • Jawaban:

Jika menunda keberangkatan dalam rangka memperdalam ilmu yang dirasa penting sehingga lebih mudah ketika belajar di Yaman, itu alasan yang tepat. Akan tetapi, jika ketidaksiapan tersebut karena takut, alasan itu kurang tepat. Sebab, keberangkatan biasanya bersama teman-teman dari Indonesia.

Di Yaman juga sudah ada teman-teman dari Indonesia yang akan membagikan pengalaman kepada kita. Kuatkan hati, azamkan tekad, ambil kesempatan ini sebelum hilang.

 

Wanita Memakai Sendal Lelaki

Wanita memakai sendal seperti laki-laki, apakah itu termasuk tasyabuh?

08579xxxxxxx

  • Jawaban:

Jika sendal tersebut khusus laki-laki, tidak boleh. Jika bukan sendal khusus laki-laki, boleh. Tasyabuh tidak hanya terjadi dalam hal pakaian, tetapi dalam hal yang lain pula.

 

Suami Merantau, Istri Menyuruh Pulang

Apakah seorang istri berdosa menyuruh suaminya pulang apabila suami tersebut tidak bekerja di rantau. Suami masih menunggu mendapatkan pekerjaan.

08575xxxxxxx

  • Jawaban:

Hal ini kembali terserah kerelaan istri. Jika istri meridhai suami tidak pulang, tidak masalah berada di rantauan. Jika tidak rela, hal itu tidak boleh. Sebab, istri punya hak terhadap suaminya. Jika dalam kondisi yang demikian istri meminta suami pulang, suami harus pulang. Demikian juga ketika suami menimba ilmu agama dan istri memintanya pulang, suami harus pulang. Sebab, itu adalah hak istri.

 

Menasihati Murid di Depan Umum

Apakah boleh seorang pengajar menasihati murid di hadapan orang banyak, seperti di majlis taklim umum? Padahal murid itu tidak senang dengan yang seperti itu, walaupun memang dia bersalah.

08236xxxxxxx

  • Jawaban:

Hukum asal menasihati seseorang adalah secara sembunyi-sembunyi, bukan di forum umum karena akan menimbulkan banyak mudarat, timbul kesan mencerca, melecehkan, dan menghina. Akan tetapi, dikecualikan (dibolehkan) jika nasihat tersebut menggunakan bahasa yang umum (tidak menunjuk orang tertentu) sehingga bermanfaat bagi semua pihak. Demikian pula ketika menasihati di depan umum memiliki maslahat yang besar.

 

Makanan Orang Kafir

Tiap daerah ada makanan khasnya, gudeg khasnya Yogya; empek-empek khasnya Palembang; rujak cingur khasnya Surabaya, dst. Demikian pula di negara kafir Eropa dan Amerika ada makanan khas masing-masing, spaghetti, makaroni, dan pizza khas Italia; hotdog, hamburger, dan fried chicken khas USA, dst. Demikian halnya di negara kafir Asia punya kekhasan, misalnya sukiyaki dan tenpura hana adalah khas Jepang.

Pertanyaan:

  1. Apakah memasak, membeli, dan mengonsumsi makanan khas negeri kafir tersebut adalah bentuk tasyabuh dan mendukung syiar mereka?
  2. Bagaimana dengan makan di restoran Pizza Hut, McDonald, KFC, dan semacamnya?

0815xxxxxxx

  • Jawaban:

Hukum asal makanan adalah halal kecuali ada dalil yang menunjukkan keharamannya. Selagi makanan itu halal maka boleh dikonsumsi, baik itu makanan yang dibuat oleh kaum muslimin maupun yang dibuat oleh orang kafir. Demikian pula makan di Pizza Hut dan yang semisalnya; jika makanan yang dimakan adalah makanan halal, tidak ada hal-hal yang negatif, diperbolehkan.

 

Mengaji di Tempat Kematian

Kami pelanggan Asy Syariah mau tanya, mengaji di tempat orang meninggal itu boleh atau tidak? Katanya untuk “sangu” orang yang meninggal. Apa pula hukumnya peringatan 7 hari sampai 1000 harinya orang yang meninggal.

08783xxxxxxx

  • Jawaban:

Semua yang disebutkan dalam pertanyaan Anda tidak ada contohnya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

 

Zikir Khusus Setelah Witir

Apakah ada zikir khusus setelah shalat sunnah witir?

08232xxxxxxx

  • Jawaban:

Tidak ada zikir tertentu setelah shalat sunnah. Yang ada zikir khusus adalah setelah shalat fardhu.

 

Makna Hadits Roh Ibarat Pasukan

Apa maksud hadits, “Roh-roh ibarat sebuah pasukan kokoh. Jika saling kenal, akan bertemu. Jika tidak mengenal, akan berpisah”? (HR. al-Bukhari)

08525xxxxxxx

  • Jawaban:

Maksudnya, Allah subhanahu wa ta’ala menjadikan kecocokan hati kepada setiap roh. Roh orang baik akan mencari orang baik yang semisalnya. Roh orang yang jelek juga akan mencari yang jelek semisalnya. Ini adalah introspeksi bagi diri kita, siapa yang kita cintai? Jika kita mencintai orang saleh, patut disyukuri. Akan tetapi, kalau kita mencintai orang yang tidak baik, tandanya roh kita juga tidak baik; perlu segera diperbaiki.

 

Menabung Untuk Kurban

Bolehkah menabung untuk kurban? Bagaimana jika ada orang yang berkata, “Daripada menabung untuk kurban, lebih baik menabung untuk thalabul ilmi.”

08570xxxxxxx

  • Jawaban:

Keduanya boleh. Boleh menabung untuk kurban karena hukumnya sunnah muakkadah; dan boleh menabung untuk thalabul ilmi. Jadi, dua amalan tersebut tidak bertentangan. Kita bisa melakukan kedua-duanya.

 

Suara Manusia Menyerupai Musik

Tidak diragukan lagi bahwa alat musik hukumnya haram. Bagaimana hukumnya suara manusia yang menyerupai suara alat musik (misal acapella atau beatbox)?

08574xxxxxxx

  • Jawaban:

Sebaiknya ditinggalkan, karena suaranya adalah suara musik.

 

Masbuk Satu Rakaat

Bagaimana cara shalat makmum yang masbuk satu rakaat saat shalat Isya?

08526xxxxxxx

  • Jawaban:

Jika maksudnya tertinggal satu rakaat, ketika imam salam dia bangkit menyelesaikan rakaat keempat sampai salam. Jika maksudnya tertinggal tiga rakaat, dia bangkit untuk rakaat kedua dan tasyahud awal, lalu melanjutkan rakaat ketiga dan keempat hingga salam.

 

Tobat Pemelihara Tuyul

Apa dosa seseorang yang memelihara tuyul masih bisa diampuni?

08773xxxxxxx

  • Jawaban:

Semua dosa masih bisa bertobat darinya, asal bertobat dengan taubatan nasuha. Di antara cara tobat memelihara tuyul, dia melepaskan semua tuyul itu dan tidak ada lagi keterkaitan dengan tuyul-tuyul tersebut. Tinggalkan semua klenik yang selama ini dilakukan. Tinggalkan semua bentuk kesyirikan dan khurafat. Kembalilah kepada agama yang benar, bertauhid kepada Allah subhanahu wa ta’ala, dan banyak beramal saleh.

 

Cara Berjamaah Dua Orang

Bagaimana tatacara shalat berjamaah dengan dua orang? Saya pernah membaca buku tuntunan shalat, jika berjamaah hanya dua orang, imam dan makmum berdiri berjajar. Akan tetapi, yang ada di masyarakat luas sekarang, imam berdiri di depan, makmum di belakangnya. Kalau seperti itu shalatnya mendapat pahala jamaah atau tidak?

08771xxxxxxx

  • Jawaban:

Yang sesuai dengan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, imam berdiri sejajar dengan makmum. Adapun imam di depan dan makmum di belakang, hal itu menyelisihi sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

 

Definisi Ahlul Bait

Apa makna ahlul bait? Apa saja ketentuan-ketentuan ahlul bait? Apa yang harus dilakukan jika dia diberi suatu barang atau makanan?

08525xxxxxxx

  • Jawaban:

Ahlul bait adalah keluarga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka adalah keluarga Ali bin Abi Thalib, Ja’far bin Abi Thalib, Aqil bin Abi Thalib, dan Harits bin Abi Thalib. Ahlul bait yang mengikuti sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dimuliakan karena dua alasan:

(1) di atas sunnah, dan

(2) keluarga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jika mereka termasuk ahli bid’ah, tidak dimuliakan. Ahlul bait tidak boleh memakan barang sedekah, tetapi boleh menerima dan memakan hadiah.

 

Tata Cara Azan

Apakah gugur syariat menengok ke arah kanan dan kiri ketika muazin mengucapkan, “Hayya ‘ala….” karena sekarang menggunakan pengeras suara?

08572xxxxxxx

  • Jawaban:

Tidak, sebab itu adalah sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sehingga tetap dikerjakan. Hikmahnya memang untuk mengeraskan suara.

 

Lafadz Azan Subuh

Apakah azan subuh hanya 1 kali, menggunakan lafadz ash-shalatu khairun min an-naum?

08125xxxxxxx

  • Jawaban:

Terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama. Ada yang mengatakan, lafadz tersebut pada azan pertama, ada pula yang mengatakan pada azan kedua ketika masuk waktu subuh. Pendapat tersebut sama-sama kuat sehingga perlu dikaji. Pendapat yang dianggap kuat diamalkan, dengan tetap toleransi terhadap pendapat yang lain.

 

Antara Infak dan Sedekah

Mohon penjelasan antara infak dan sedekah, manakah yang lebih utama?

08xxxxxxxxx

  • Jawaban:

Infak ada yang sunnah dan wajib. Infak yang wajib contohnya menafkahi keluarga yang kita tanggung. Infak yang sunnah contohnya infak kepada fakir miskin. Sedekah ada yang wajib (zakat fitrah dan zakat mal) dan sedekah sunnah (sedekah kepada fakir miskin). Jadi, yang lebih afdal adalah yang wajib, kemudian yang sunnah setelahnya.

 

Tobat dari Dusta

Ustadz, bagaimana cara bertobat dari dosa dusta?

08586xxxxxxx

  • Jawaban:

Tinggalkan sifat dan akhlak berdusta, jangan lagi berdusta di kemudian hari. Gantilah dengan kejujuran.

 

Meminjam Uang di Bank

Apa hukum meminjam uang di bank untuk modal usaha?

08536xxxxxxx

  • Jawaban:

Meminjam uang di bank adalah riba, baik untuk usaha, menikah, atau apa pun; baik dalam bentuk rupiah, dolar, maupun mata uang lainnya.

 

Jam Warna Kuning

Apa boleh laki-laki memakai jam berwarna kuning tanpa mengandung emas?

08575xxxxxxx

  • Jawaban:

Selama bukan emas, diperbolehkan.

 

Syahwat Terhadap Wanita

Bagaimana cara menjaga diri dari syahwat terhadap wanita?

08xxxxxxxxx

  • Jawaban:
  1. Tundukkan pandangan.
  2. Cepat-cepat menikah, karena hal itu lebih menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan.

Melaksanakan Akikah

Akikah secara bahasa berasal dari kata yang berarti memotong. Adapun secara istilah agama, akikah adalah binatang yang disembelih karena lahirnya anak, baik laki-laki maupun perempuan. (asy-Syarhul Mumti’ 7/317 cet. al-Maktabah at-Taufiqiyyah)

Akikah punya sebutan lain, yaitu nasikah atau dzabihah yang berarti sembelihan. Tiga sebutan ini ditetapkan oleh syariat sehingga tidak pantas hanya dimasyhurkan (memakai) salah satunya dan yang lain ditinggalkan. (Tuhfatul Maudud hlm. 37)

Hukum Mengakikahi Bayi

Berdasarkan dalil-dalil yang kuat, akikah disyariatkan. Hanya saja telah terjadi perbedaan pendapat di antara ulama tentang wajib dan tidaknya.

  1. Jumhur (mayoritas) ulama berpendapat bahwa akikah hukumnya sunnah.

Di antara dalil mereka adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Barangsiapa suka / ingin menasikahi/mengakikahi anaknya, hendaklah menasikahinya. Untuk anak laki-laki dua kambing yang sepadan dan untuk anak perempuan satu kambing.” (Hasan, HR. Abu Dawud, an-Nasai, dan selain keduanya)

Segi pendalilan dari hadits ini, masalah mengakikahi bayi diserahkan kepada keinginan orang tuanya sehingga menunjukkan bahwa hal itu tidak wajib. Mereka juga berdalil dengan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mengatakan kepada Fatimah radhiallahu ‘anha ketika melahirkan al-Hasan radhiallahu ‘anhu,

“Jangan kamu mengakikahinya, tetapi gundullah rambut kepalanya….” (Hasan, HR. Ibnu Abi Syaibah, Ahmad 6/390—392, al-Baihaqi dalam al- Kubra 9/299, dan ath-Thabarani dalam al-Kabir)

  1. Ulama yang lain mengatakan bahwa akikah itu wajib. Di antara mereka adalah Buraidah al-Aslami, al-Hasan al-Bashri, al-Laits bin Sa’d, Dawud azh- Zhahiri, dan Ibnu Hazm rahimahumullah. Landasan pendapat ini adalah perintah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mengakikahi anak, dan perintah pada dasarnya menunjukkan wajib.

Di antara dalil pendapat ini adalah:

  1. Hadits ‘Aisyah radhiallahu ‘anha bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintah mereka untuk (mengakikahi) anak laki-laki dengan dua kambing yang sepadan dan untuk anak perempuan satu kambing. (Shahih Sunan at-Tirmidzi no. 1513)
  2. Hadits Salman bin ‘Amr adh- Dhabbi bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Bersama anak laki-laki ada akikahnya, maka alirkanlah darah (sembelihan binatang) baginya dan singkirkanlah darinya kotoran (yakni dengan menggundul rambut kepala bayi).” (Shahih Sunan at-Tirmidzi no. 1515 dan Shahih Ibnu Majah no. 3164)

Para ulama yang mengatakan wajib telah menjawab argumentasi para ulama yang mengatakan sunnah. Di antara sanggahan mereka:

  1. Hadits yang menyebutkan,

“Barang siapa ingin/suka menasikahi/ mengakikahi anaknya….” bukanlah dalil yang memalingkan hukum wajibnya akikah menjadi sunnah. Sebab, lafadz ini serupa dengan firman Allah ‘azza wa jalla,

“(Yaitu) bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus.” (at-Takwir: 28)

Apakah mencari jalan yang lurus (istiqamah) hukumnya hanya sunnah? Tentu tidak demikian, hukumnya wajib sebagaimana diketahui dari dalil-dalil yang lain.

  1. Adapun hadits Fathimah radhiallahu ‘anha

yang menyebutkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang Fathimah radhiallahu ‘anha mengakikahi anaknya, sebabnya ialah karena anaknya telah diakikahi oleh beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana telah disebutkan oleh hadits yang lain, sehingga tidak perlu diakikahi lagi.

Ibnu Hazm rahimahullah berkata, “Perintah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mengakikahi (bayi) adalah wajib, seperti telah kami sebutkan. Tidak halal bagi seorang untuk menafsirkan suatu perintah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa hal itu boleh ditinggalkan, kecuali dengan adanya nash (dalil) yang lain tentang hal itu….” (al-Muhalla 7/526)

Argumentasi kedua pendapat di atas masih banyak dan tidak mungkin ditampilkan secara panjang lebar di ruang yang terbatas ini. Pembaca kami persilakan melihat kitab Tuhfatul Maudud karya Ibnul Qayyim dan Ahkamul Maulud fis-Sunnah al-Muthahharah karya Salim asy-Syibli dan Muhammad ar-Rabah.

Pendapat yang mengatakan akikah hukumnya wajib itu lebih kuat. Oleh karena itu, seorang muslim—meskipun mengikuti pendapat yang mengatakan sunnah—tidak pantas meninggalkan perintah akikah ini selagi ia mampu. Hal ini demi mewujudkan sikap ittiba’ (mengikut) kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang merupakan kunci kesuksesan hidup di dunia dan akhirat.

Namun, apabila seseorang tidak mampu mengakikahi anaknya karena keterbatasan dana misalnya, tidak mengapa dia tidak mengakikahi anaknya. Hal ini berlandaskan firman Allah ‘azza wa jalla,

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (al-Baqarah: 286)

Ketentuan Binatang yang Disembelih Untuk Nasikah

Akikah tidak sah kecuali dengan kambing, baik kambing domba atau kambing kacang. Hal ini berlandaskan beberapa riwayat, di antaranya hadits,

“Bagi anak laki-laki (akikah) dua kambing yang sepadan dan bagi anak perempuan satu kambing.” (HR. at- Tirmidzi, Ahmad, dan lainnya dari ‘Aisyah radhiallahu ‘anha)

Maksud “yang sepadan” adalah sepadan dari sisi umur dan bagusnya. (Faidhul Qadir dan Nailul Authar 5/158)

Terdapat atsar bahwa ketika lahir anak laki-laki Abdurrahman bin Abi Bakr ash-Shiddiq maka dikatakan kepada ‘Aisyah radhiallahu ‘anha, ummul mukminin, “Akikahilah ia dengan (menyembelih) unta!” Aisyah berkata, “Aku berlindung kepada Allah ‘azza wa jalla. Akan tetapi, (seperti) apa yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sabdakan (yaitu) dua kambing yang sepadan.” (HR. ath- Thahawi dan al-Baihaqi. Asy-Syaikhal-Albani berkata dalam al-Irwa’ bahwa sanadnya hasan 4/390)

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata,

“Menurut saya, tidak sah akikah selain dengan kambing.” (Fathul Bari 9/593)

Adapun atsar yang datang dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu bahwa ia mengakikahi anaknya dengan unta, atsar ini memang sahih, diriwayatkan Ibnu Abi Syaibah dalam al-Mushannaf dan ath-Thabarani dalam al-Kabir. Akan tetapi, sahabat Anas radhiallahu ‘anhu di sini tidak menyebutkan apakah itu adalah perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan ucapannya atau bukan. Jika demikian, kita mengambil yang jelas dari ucapan dan perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu akikah dengan menyembelih kambing.

Adapun hadits riwayat ath- Thabarani (yang artinya), “Barang siapa dianugerahi anak laki-laki hendaklah ia mengakikahinya dengan unta, sapi, dan kambing.” (al-Mu’jam ash-Shaghir: 45) dinyatakan maudhu’ (palsu) oleh ulama. Hadits di atas mengandung banyak cacat pada sanadnya, dan yang paling menonjol adalah adanya rawi bernama Mas’ud bin al-Yasa. Al-Hafizh al-Haitsami rahimahullah berkata, “Dia pendusta.” (lihat Irwa’ul Ghalil 4/393—394)

Menurut sebagian ulama, kambing untuk akikah memiliki kriteria seperti kambing yang sah untuk kurban, yaitu telah berumur setahun, tidak buta, tidak kurus kering, tidak pincang, tidak sakit, tidak boleh dijual sedikit pun dari daging dan kulitnya, serta boleh (namun makruh) dipatahkan tulangnya. Orang yang mengakikahi boleh makan darinya dan menyedekahkannya. (Tuhfatul Maudud hlm. 53)

Jumlah Kambing yang Disembelih

Seperti telah disebutkan bahwa untuk anak laki-laki dua kambing dan untuk anak perempuan satu kambing. Tidak ada masalah, apakah kambing yang disembelih itu jantan atau betina sebagaimana telah disebutkan yang demikian dari sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. (Lihat Shahih Sunan at-Tirmidzi 2/164—165 no. 1517)

Apabila seseorang hanya mampu mengakikahi anak laki-lakinya dengan seekor kambing, sebagian ulama mengatakan itu telah sah dan tujuan akikah telah tercapai. Akan tetapi, apabila suatu saat nanti Allah ‘azza wa jalla memberi kecukupan kepadanya, hendaknya ia menyembelih seekor kambing lagi sehingga menjadi dua kambing. Ini yang utama. (asy-Syarhul Mumti’, asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin 7/318)

Waktu Akikah

Waktu penyembelihannya adalah pada hari ketujuh dihitung dari hari kelahirannya. Ini berlandaskan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Setiap anak tergadaikan dengan akikahnya, disembelih baginya pada hari ketujuhnya.” ( HR. Abu Dawud no. 2838 dari Samurah bin Jundub radhiallahu ‘anhu. Lihat Shahih Sunan at-Tirmidzi no. 1522)

Berlandaskan hadits ini dan selainnya, waktu penyembelihannya adalah pada hari ketujuh dan tidak boleh dilakukan sebelum hari ketujuh. Apabila tidak mampu menyembelih pada hari ketujuh, dia menyembelih kapan saja ia mampu sebagai sesuatu yang wajib. (al-Muhalla 7/523)

Apabila dia baru mampu menyembelih setelah hari ketujuh, ia melakukannya kapan saja ia mampu tanpa menentukan hari tertentu. Adapun yang diriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda (yang artinya), “Disembelih pada hari ketujuh, hari keempat belas, dan hari kedua puluh satu,” hadits ini lemah sehingga tidak bisa menjadi landasan hukum. Hadits ini diriwayatkan oleh al-Baihaqi dalam as-Sunan (9/303) dan ath-Thabarani dalam Mu’jam ash-Shaghir dari hadits Buraidah radhiallahu ‘anhu. Dalam sanadnya ada rawi bernama Ismail bin Muslim al-Makki, ia dhaif (lemah). (lihat Irwaul Ghalil 4/395)

Apabila Bayi Meninggal Sebelum Hari Ketujuh, Apakah Diakikahi?

Sebagian ulama berpendapat bahwa akikah tidaklah gugur. Alasannya, dalil-dalil syariat yang ada hanyalah menunjukkan waktu penyembelihannya (yaitu hari ketujuh). Jadi, akikah tidak gugur apabila bayi itu mati sebelum hari ketujuh. Sebab, dalil-dalil tersebut secara garis besarnya menunjukkan bahwa akikah disyariatkan dengan sebab kelahiran anak dan akikah disembelih pada hari ketujuh. (lihat Fatawa al- Lajnah ad-Daimah 11/445)

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah merinci tentang bayi yang (disyariatkan untuk) diakikahi, apakah disyaratkan ia lahir dalam keadaan hidup? Apakah disyaratkan juga terhadap janin yang gugur sesudah ditiup padanya ruh?

Beliau menyebutkan empat tingkatan:

  1. Janin yang gugur sebelum ditiup ruh atasnya tidak diakikahi.
  2. Janin yang keluar sudah mati dalam keadaan telah ditiup ruh atasnya, maka ada dua pendapat ulama.
  3. Janin yang lahir dalam keadaan hidup dan meninggal sebelum hari ketujuh. Dalam hal ini juga ada dua pendapat ulama. Namun, pendapat yang menyatakan diakikahi lebih kuat daripada pendapat yang mengatakan diakikahi pada tingkatan kedua.
  4. Ia lahir hidup sampai hari ketujuh dan meninggal di hari kedelapan (sebelum diakikahi), tetap diakikahi. (asy-Syarhul Mumti’ 7/320)

Siapa yang Mengakikahi Anak?

Asalnya, yang dibebani melakukan akikah adalah ayah sang bayi. Akan tetapi, apabila ayahnya sudah meninggal, sang ibu menggantikan kedudukannya. (asy-Syarhul Mumti’ 7/318)

Boleh pula bayi tersebut diakikahi oleh selain ayah dan ibunya, sebagaimana halnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengakikahi al-Hasan dan al-Husain radhiallahu ‘anhuma. (Sunan Abu Dawud no. 2841)

Boleh Mengakikahi Diri Sendiri

Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu menyebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengakikahi dirinya sendiri setelah diutus menjadi nabi. Jalan periwayatan hadits ini dari Anas radhiallahu ‘anhu ada dua.

Jalur pertama: Dari Abdullah bin al-Muharrar, dari Qatadah, dari Anas radhiallahu ‘anhu.

Melalui jalan inilah Abdurrazzaq meriwayatkannya dalam al-Mushannaf (4/329/7960), al-Bazzar dalam Musnad-nya (2/74/1237), dan yang lainnya.

Al-Bazzar berkata, “Abdullah bin al- Muharrar menyendiri dalam meriwayatkan hadits ini dan dia dhaif jiddan (lemah sekali)….”

Jalan kedua: Dari al-Haitsam bin Jamil, ia berkata, “Abdullah bin al-Mutsanna bin Anas telah bercerita kepada kami dari Tsumamah bin Anas, dari Anas.”

Melalui jalan inilah ath-Thahawi rahimahullah meriwayatkan dalam Musykilul Atsar (1/471), ath-Thabarani dalam al- Mu’jam al-Ausath, dan lainnya. Sanad hadits ini dinyatakan hasan (bagus) oleh asy-Syaikh al-Albani dan dinyatakan kuat oleh al-Imam al-Isybili rahimahullah dalam al-Ahkam.

Sebagian salaf berpendapat bahwa hadits ini diamalkan. Di antara mereka adalah Ibnu Sirin rahimahullah. Ia berkata, “Jika aku tahu bahwa aku belum diakikahi, aku akan mengakikahi diriku sendiri.”

Al-Hasan al-Bashri rahimahullah berkata,

“Jika engkau belum diakikahi, akikahilah dirimu, meskipun engkau sudah menjadi seorang lelaki (dewasa).”

Kedua atsar di atas dinyatakan kuat oleh asy-Syaikh al-Albani (lihat as- Silsilah ash-Shahihah 6/502—506).

Membagikan Daging Akikah

Daging akikah diberikan kepada para tetangga dan orang-orang miskin. Orang yang mengakikahi dan keluarganya diperbolehkan memakan sebagian daging tersebut. Daging akikah boleh dibagikan dalam keadaan masih mentah atau sudah matang. Bahkan, boleh juga dimasak dengan dicampur sesuatu selain daging akikah. Hanya saja, dibagikan dalam keadaan matang tentu lebih baik karena tidak merepotkan para tetangga dan orang-orang miskin untuk memasaknya. Dengan demikian, diharapkan mereka lebih senang karena tidak perlu repot memasaknya. (lihat Tuhfatul Maudud hlm. 50 dan 55 cet. al-Mu’ayyad)

Dibolehkan juga dia mengundang orang untuk memakan daging akikah. Hal ini berlandaskan atsar Mu’awiyah bin Qurrah, ia berkata, “Ketika lahir anakku, Iyas, aku mengundang beberapa orang sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian aku memberi mereka makan….” (Shahih al-Adab al-Mufrad no. 950)

Disebutkan dalam fatwa al-Lajnah ad-Daimah (Komite Fatwa Ulama Arab Saudi), “Orang yang mengakikahi boleh membagikan dagingnya dalam keadaan masih mentah atau sudah dimasak. (Daging itu diberikan) kepada orangorang fakir, tetangga, kerabat, dan rekan-rekan. Dia dan keluarganya boleh memakan sebagiannya. Boleh pula dia mengundang manusia, yang fakir dan yang kaya, lalu memberi mereka makanan dari daging akikah, di rumahnya atau yang semisalnya.” (Fatawa al-Lajnah, 11/443—444)

Hikmah Akikah

Akikah adalah ibadah yang sarat makna dan hikmah, di antaranya:

  1. Menghidupkan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang beliau lakukan dan beliau perintahkan umatnya untuk melakukannya.
  2. Bentuk berkurban bagi anak untuk mendekatkan diri kepada Allah ‘azza wa jalla di saat awal ia terlahir di dunia.
  3. Akikah akan melepaskan anak dari statusnya yang tergadaikan sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Semua anak tergadaikan dengan akikahnya.” (Sahih, HR. Abu Dawud, at-Tirmidzi, an-Nasai, dan Ibnu Majah)

Ulama berbeda pendapat tentang maksud “tergadaikan” pada hadits di atas. Ada yang mengatakan bahwa anak tidak bisa memberi syafaat orang tuanya apabila tidak diakikahi. Ini adalah pendapat ‘Atha rahimahullah dan diikuti oleh al-Imam Ahmad rahimahullah. Akan tetapi, al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah tidak sependapat dengan penafsiran ini dengan beberapa alasan. Di antaranya, syafaat di hari kiamat tidak terjadi kecuali apabila yang memberi syafaat diberi izin oleh Allah ‘azza wa jalla dan yang diberi syafaat adalah orang yang diridhai oleh Allah ‘azza wa jalla karena tauhid dan ikhlasnya. Selain itu, lafadz hadits di atas tidak menunjukkan kepada penafsiran ‘Atha rahimahullah. Ibnul Qayyim rahimahullah lebih cenderung kepada pendapat yang menyatakan bahwa yang dimaksud tergadaikan adalah terhalangi dari hal yang sedang ia usahakan untuk mendapatkannya.

Dengan diakikahi, Allah ‘azza wa jalla melepaskan anak itu dari kekangan setan yang selalu menempel pada bayi sejak lahir di dunia ini dan menusuk pinggang bayi. (Tuhfatul Maudud bi Ahkamil Maulud hlm. 46—49)

Wallahu a’lam.

Ditulis oleh Al-Ustadz Abdul Mu’thi Sutarman, Lc.

Mencukur Rambut Bayi

Pada hari ketujuh diperintahkan untuk menggundul rambut bayi. Hal ini berlandaskan beberapa hadits di antaranya,

“Setiap anak tergadaikan dengan akikahnya, akikah disembelih untuknya pada hari ketujuh, digundul kepalanya, dan diberi nama.” (Sahih, HR. Ahmad dan Ahlus Sunan yang empat dari Samurah radhiallahu ‘anhu).

Demikian pula hadits Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengakikahi al-Hasan dengan kambing dan beliau bersabda, “Wahai Fathimah, gundullah kepalanya!” (Shahih Sunan at-Tirmidzi no. 1519)

Yang dimaksud menggundul kepala bayi adalah mencukur seluruh rambut kepalanya, bukan sebagiannya. Sebab, menggundul sebagian rambut kepala dan membiarkan sebagian lainnya telah dilarang oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. (Shahih al-Bukhari dari hadits Ibnu Umar no. 5921)

Akan tetapi, apabila ada kebutuhan mendesak untuk menggundul sebagian kepala, seperti untuk pengobatan, hal ini tidak mengapa. (Fathul Bari 10/360)

 

Apakah Perintah Menggundul Rambut Bayi Hanya Untuk Bayi Laki-Laki?

Dalam hal ini ada dua pendapat ulama.

1 . Ada yang mengatakan dimakruhkan untuk bayi perempuan, dan ini adalah pendapat al-Mawardi.

  1. Ada juga ulama yang mengatakan sama seperti bayi laki-laki. Ini adalah pendapat sebagian ulama Hanbali. (lihat Fathul Bari 9/595)

Pendapat yang mengatakan digundul lebih kuat berlandaskan hadits,

“Hanyalah wanita itu sama seperti laki-laki.” (HR. Ahmad, Abu Daud, dan at-Tirmidzi dari hadits ‘Aisyah radhiallahu ‘anha. Asy-Syaikh al-Albani menyatakan sahih dalam Shahih al-Jami’ no. 333)

Dengan demikian, tidak dibedakan antara laki-laki dan perempuan kecuali jika memang ada dalil yang membedakannya. Misalnya, untuk tahallul (keluar) dari amalan haji dan umrah serta beberapa kondisi yang lain, wanita tidak boleh menggundul kepalanya berdasarkan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Wanita tidak ada keharusan menggundul, hanyalah bagi mereka memendekkan (rambut).” ( HR. Abu Dawud dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma, dinyatakan sahih oleh al-Albani dalam Shahih al- Jami’)

 

Hikmah Menggundul Rambut

Perintah agama pasti mengandung hikmah dan maslahat yang mendalam. Apa yang kita ketahui baru sekelumit dari mendalamnya hikmah Allah ‘azza wa jalla di balik perintah ini.

Ibnul Qayyim rahimahullah menerangkan,

“Menggundul adalah untuk menghilangkan (rambut) yang kotor dari kepala bayi. Menggundul juga berarti membuang rambut yang lemah agar diganti dengan yang lebih kuat dan lebih kokoh. Selain itu, menggundul bisa meringankan (beban) bayi dan membuka pori-pori kepala agar uap keluar dengan mudah. Hal ini akan menguatkan penglihatan, penciuman, dan pendengarannya.” (Tuhfatul Maudud hlm. 48)

 

Bersedekah dengan Perak Seberat Rambut Bayi

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintah putrinya, Fatimah radhiallahu ‘anha, untuk menyedekahkan perak atas nama anaknya seberat rambut bayi yang digundul. Ini disebutkan oleh hadits Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu. Ia mengatakan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengakikahi al-Hasan radhiallahu ‘anhu dengan seekor kambing, lalu bersabda, “Wahai Fatimah, gundullah kepalanya dan bersedekahlah seberat rambutnya berupa perak.”

Ali radhiallahu ‘anhu berkata, “Kami menimbang (rambut)nya. Beratnya satu dirham atau beberapa dirham.” (Shahih Sunan at- Tirmidzi no. 1519)

Maka dari itu, menjadi keharusan bagi yang memiliki keluasan untuk menyedekahkan perak seberat rambutnya. Jika tidak mampu, Allah ‘azza wa jalla tidak membebani suatu jiwa lebih dari kemampuannya.

Hal lain yang perlu diperhatikan, sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Hajar rahimahullah dalam at-Talkhis (4/148), seluruh riwayat sepakat menyebutkan (sedekah dengan) perak. Tidak ada satu riwayat pun yang menyebutkan emas.

Bersedekah dengan perak ini dilakukan pada hari ketujuh, sebagaimana yang dipahami dari hadits. Ini adalah pendapat al-Imam Ahmad rahimahullah. (Ahkamul Maulud fis-Sunnah al-Muthahharah 79—80)

Sebagian ulama berpendapat, jika pada hari ketujuh tidak ada tukang cukur yang bisa menggundul kepalanya, berat perak yang disedekahkan bisa ditentukan dengan perkiraan. (asy-Syarhul Mumti’ 7/321)

Ditulis oleh Al-Ustadz Abdul Mu’thi Sutarman, Lc

Tanya Jawab Ringkas Edisi 095

Pada rubrik Tanya Jawab Ringkas edisi ini, kami muat beberapa jawaban dari al-Ustadz Abu Abdillah Muhammad as-Sarbini.

Wali Setelah Ayah

Siapakah yang lebih berhak menjadi wali bagi wanita yang ayahnya telah meninggal, kakak atau paman? 0857XXXXXXXX

Kakak sekandung atau seayah lebih berhak daripada paman.


Pembatal Wudhu

Apakah memegang kemaluan anak kita yang masih berumur dua tahun membatalkan wudhu 0878XXXXXXXX

Memegang kemaluan anak tidak membatalkan wudhu.


Potong Kuku Saat Haid

Apakah boleh memotong kuku dan rambut saat waktu haid? 0852XXXXXXXX

Boleh potong rambut dan kuku saat haid, tidak ada larangannya.


Menyimpan Foto di HP/Komputer

Apakah hukum menyimpan foto di dalam HP/komputer? 085710XXXXXX

Menyimpan foto makhluk bernyawa dalam HP atau komputer tanpa hajat hukumnya haram.


Nasihat bagi Bibi yang Sudah Tua

Bibi saya sudah tua dan hanya di tempat tidur saja. Apa nasihat bagi beliau? Adakah zikir yang mudah dihafal bagi beliau? 08523XXXXXXX

Nasihati agar shalat sesuai dengan kemampuannya dengan cara berbaring. Sebab, orang yang meninggalkan shalat sama sekali adalah kafir menurut salah satu pendapat ulama, dan pendapat itu kuat.


Daging Akikah

Apakah daging akikah harus habis pada waktu itu juga? 0856XXXXXXXX

Tidak harus habis hari itu juga. Boleh disimpan sesuai hajat, seperti halnya daging kurban.


Kewajiban Menafkahi Anak bagi Suami yang Dikhulu’ Istri

Apabila seorang istri meminta khulu’ kepada suami, apakah suami masih memiliki kewajiban memberi nafkah kepada anak-anak yang masih kecil? 0888XXXXXXX

Ya, wajib bagi suami memberi nafkah anak-anaknya yang masih kecil dari istri yang dikhulu’.


Madzi Membatalkan Puasa

Jika madzi keluar, apakah puasa batal? 0831XXXXXXXX

Keluarnya madzi bukan pembatal puasa.


Puasa Awal Rajab

Apakah ada perintah melaksanakan puasa pada awal bulan Rajab? 081973XXXXXX

Tidak ada anjuran khusus untuk puasa Rajab. Ibnu Hajar al-‘Asqalani rahimahumallah menegaskan dalam kitab Tabyin al-‘Ajab bi Ma Warada fi Fadhli Rajab bahwa tidak ada hadits sahih yang bisa dijadikan hujah mengenai keutamaan bulan Rajab dan keutamaan puasa Rajab serta ibadah lainnya di bulan itu. Abu Dawud rahimahumallah meriwayatkan dari Sa’id bin Jubair rahimahumallah yang bertanya kepada Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu tentang puasa Rajab.

Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu menjawab, “Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam berpuasa sampai-sampai kami berkata, ‘Beliau tidak berbuka,’ dan beliau berbuka sampai-sampai kami berkata, ‘Beliau tidak berpuasa’.” (Dinyatakan sahih oleh al-Albani)

Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu memberi jawaban yang bersifat umum, karena tidak ada sunnah Rasul secara khusus untuk puasa Rajab. Urusan puasa di bulan Rajab sama seperti di bulan-bulan lainnya yang tidak memiliki keutamaan khusus. Akan tetapi, ada sunnah puasa tiga hari setiap bulan dan puasa Senin-Kamis. Kecuali bulan tertentu yang dianjurkan berpuasa padanya, seperti Muharam dan Sya’ban.


Akhwat Mengurus KTP

Bagaimana solusinya jika seorang akhwat yang diharuskan membuat KTP, sedangkan petugasnya ada yang laki-laki? 0877XXXXXXX

Cari waktu saat kantor sepi dan minta pengertian agar yang menangani adalah petugas wanita disertai akhwat lain yang menutupi arah pandangan petugas lelaki dengan kain.


Makan Daging Ular

Apa hukum seseorang yang makan daging ular? 0823XXXXXXXX

Makan ular adalah perbuatan haram, karena ular termasuk binatang yang haram dimakan, karena diperintahkan dibunuh dan merupakan predator.


Memandikan Mayat yang Hancur

Jika mayat yang organ tubuhnya hancur, apakah perlu dicuci/dimandikan? 085228XXXXXX

Cukup ditayammumkan.


Mengubur Jenazah dengan Peti

Bolehkah menguburkan jenazah tanpa menyentuh tanah? Jenazah yang dimasukkan peti kebanyakan dikuburkan tanpa dikeluarkan jenazahnya. 0858XXXXXXXX

Penguburan dengan peti hukumnya makruh dan tasyabuh dengan orang kafir, kecuali dalam keadaan darurat.


Ganti Nama, Akikah Ulang?

Kalau anak sudah diakikahi, tetapi nama anak tersebut diganti/ditambah namanya, apakah anak tersebut harus diulang lagi akikahnya? 08572XXXXXXX

Tidak disyariatkan akikah lagi untuk penggantian nama.


Mahar Hafalan Al-Qur’an

Bolehkah memberi mahar hafalan al-Qur’an sedangkan pengantin perempuan sudah hafal al-Qur’an? 08573XXXXXXX

Mahar mengajarkan surat tertentu dari al-Qur’an, artinya harga pengajaran yang menguras pikiran, tenaga, dan waktu untuk mengajari sang istri sampai hafal surat itu menjadi nilai berharga yang bisa dijadikan mahar. Jadi, bukan sekadar membacakan al-Qur’an kepadanya dan itu dianggap mahar.

Membaca al-Qur’an adalah ibadah, tidak boleh mengambil harga atasnya. Berbeda halnya dengan mengajari al- Qur’an hingga bisa. Hal itu mempunyai nilai yang boleh dihargai dan dijadikan sebagi mahar. Jadi, kalau calon istri sudah hafal al-Qur’an, tidak butuh diajari lagi. Beri mahar yang lain.


Status Istri Saat Proses Khulu’

Seorang istri mengajukan khulu’. Proses pengadilan belum selesai, istri sudah tidak tinggal serumah dengan suami. Bagaimana status istri? Berapa masa iddahnya dan terhitung mulai kapan?

Hak asuh anak ada di tangan siapa? 0838XXXXXXXX

Jika suami sudah mengabulkan khulu’-nya dan melepasnya dengan pembayaran tebusan yang disepakati atau hakim telah menjatuhkan putusan, berarti sudah bukan istrinya lagi. Masalah surat-surat hanya kelengkapan saja. Tidak ada hak lagi untuk tinggal di rumah suaminya. Masa iddahnya hanya sekali haid, karena khulu’ adalah fasakh.

Namun, jika terjadi persengketaan yang belum diputuskan oleh hakim, berarti masih suami istri. Dia (istri) tidak boleh meninggalkan rumah tanpa izin suami. Hak asuh anak yang masih kecil (belum mumayyiz) pada asalnya diutamakan ibu selama belum menikah dengan lelaki lain.


Gigi Palsu & Pen Pada Mayat

Bagaimana seharusnya jika gigi palsu permanen dan pen (alat penopang tulang yang dipasang di dalam tubuh) masih terpasang pada jenazah muslim? 08157XXXXXX

Gigi palsu dan pen itu dibiarkan saja tanpa dicabut.


Shalat Tahiyatul Masjid

Bagaimana jika shalat tahiyatul masjid dikerjakan pada waktu terlarang seperti menjelang azan shalat zuhur dan magrib? 08218XXXXXXX

Shalat tahiyatul masjid dan shalat sunnah yang ada sebabnya tetap dilaksanakan meskipun pada waktuwaktu terlarang, menurut pendapat yang rajih.


Pendarahan Mengganggu Shalat

Seorang wanita mengalami pendarahan karena keguguran dengan usia janin sekitar dua bulan. Ketika dia sedang shalat, ada darah keluar. Apakah sah shalatnya? 08529XXXXXXX

Pendarahan karena keguguran usia janin dua bulan bukan nifas, menurut pendapat yang difatwakan oleh al- Lajnah ad-Da’imah dan Ibnu ‘Utsaimin. Hukumnya adalah darah fasad seperti hukum darah istihadah.


Zakat Sawit

Bagaimana zakat sawit dan berapa nishabnya? 08526XXXXXXX

Sawit tidak ada zakatnya menurut pendapat yang benar.


Sumpah Disambar Petir

Bolehkah bersumpah, “Aku rela mati disambar petir kalau aku yang melakukannya”? 0853XXXXXXXX

Tidak boleh bersumpah semacam itu. Bersumpah yang syar’i adalah bersumpah dengan bersandar pada salah satu nama atau sifat Allah, seperti Demi Allah, Demi Rabbku, Demi Rabb Penguasa Alam Semesta, Demi Dzat yang Jiwaku di Tangan-Nya, atau semisalnya.


Donor Organ Tubuh

Bolehkah seseorang mendonorkan salah satu organ tubuhnya untuk membantu orang lain, dan proses pengambilan organ dilakukan pada saat pendonor sudah meninggal? 0838XXXXXXXX

Boleh, tanpa mengambil bayaran.


Jual Beli Dua Harga

Bolehkah membeli barang dengan dua harga (secara kredit dan kontan)? 08521XXXXXXX

Seseorang boleh membelinya secara kredit dengan syarat kreditnya tidak mengandung riba, yaitu denda apabila menunggak. Hal itu bukan dua harga yang terlarang, karena bersifat pilihan sebelum akad. Saat akad hanya satu harga yang disepakati.


Perbudakan

Apabila seorang budak memiliki anak dengan tuannya, apakah anak tersebut menjadi anak tuannya atau anak budaknya dan apakah punya hak waris? 03418XXXXXX

Budak wanita yang digauli oleh tuannya dan memiliki anak, anak itu berstatus merdeka (bukan budak) sebagai anak tuannya dengan budak wanitanya. Berarti, anak itu mewarisi dari ayahnya tersebut dan sebaliknya. Namun, pada masa kita sekarang ini tidak ada perbudakan yang syar’i.


Puasa Ulang Tahun

Bolehkah seseorang berpuasa saat bertambahnya usia setiap satu tahunnya? 08529XXXXXXX

Berpuasa ulang tahun adalah bid’ah. Tidak ada dalil untuk berpuasa khusus di hari ulang tahun. Istilah ulang tahun sendiri dan perayaannya adalah tasyabbuh (meniru-niru) kebiasaan khas orang kafir yang tercela.


Zakat Penjualan Sapi

Saya mempunyai empat ekor sapi. Apabila 1 atau 2 ekor di antaranya dijual, apakah wajib dikeluarkan zakat mal? 08218XXXXXXX

Tidak, kecuali jika uang hasil penjualan sapi itu mencapai nisab zakat uang senilai harga 595 gram perak dan tersimpan selama setahun (hitungan tahun hijriah) tanpa berkurang dari nishab tersebut, wajib dikeluarkan zakatnya 2,5%.


Makanan Peringatan Kematian

Bolehkah menerima/memakan makanan yang diberikan tetangga karena peringatan meninggal anggota keluarganya? 08139XXXXXXX

Tidak boleh demi mengingkari kemungkaran peringatan kematian yang merupakan bid’ah.


Ikan yang Diberi Pakan Bangkai

Bolehkah kita memakan ikan yang diberi pakan bangkai? 08569XXXXXXX

Boleh, kecuali jika bangkainya berefek pada dagingnya berupa warna, bau, atau rasa.


Puasa Setiap Hari

Apakah kita boleh berpuasa setiap hari tanpa ada alasan, maksudnya tidak membayar hutang puasa atau mengerjakan puasa sunah? 08535XXXXXXX

Berpuasa setiap hari haram menurut pendapat yang rajih.


Menerima Hadiah dari Bank

Bolehkah kita menerima hadiah dari bank? 08783XXXXXXX

Jangan menerima hadiah dari bank. Sebab, hadiahnya mengandung unsur bujukan untuk bermuamalah dengan bank seperti menabung yang mengandung riba. Lagi pula, hadiah itu bersumber dari riba yang tidak pantas diterima oleh orang yang bersifat wara’.


Mencium Mayat yang Sudah Dimandikan

Bagaimanakah hukum mencium mayat yang sudah dimandikan? 08156XXXXXXX

Mencium jenazah yang sudah dimandikan diperbolehkan. Ada fatwa al-Lajnah ad-Daimah dalam masalah ini.


Menjual Alat Pancing

Bolehkah berjualan alat pancing? 08529XXXXXXX

Berjualan alat pancing halal.


Menikahi Wanita Hamil Karena Zina

Bagaimana hukumnya menikahi wanita yang sedang mengandung anak hasil perbuatan zina oleh pria tersebut? 081330XXXXXX

Hukumnya haram dan tidak sah. Secara lengkap bersama dalilnya dapat dilihat pada rubrik Problema Anda “Status Anak Zina” edisi 39.


Jamak-Qashar bagi Musafir

Apa boleh orang yang sedang safar (tidak dalam perjalanan) dan tidak tahu kapan dia kembali ke tempat asal menjamak-qashar shalat lima waktunya? 081336XXXXXX

Jika Anda musafir dalam perjalanan tanpa ada kepastian kapan pulang, boleh jamak-qashar sampai pulang. Namun, jika Anda telah turun menginap di suatu pemukiman kaum muslimin, wajib ikut shalat berjamaah di masjid setiap waktu shalat tanpa jamak dan qashar.

Kecuali jika ada teman musafir lainnya, boleh jamak qashar bersama. Afdalnya, shalat berjamaah di masjid dengan kaum muslimin.


Rujuk Setelah Dua Kali Talak

Apabila seorang suami telah menjatuhkan talak dua, apakah masih bisa rujuk dengan cara akad lagi? 082269XXXXXX

Jika suami telah menjatuhkan talak dua, boleh rujuk dalam masa ‘iddah dengan ucapan rujuk (kembali) atau jima’ yang diniatkan rujuk. Jika masa ‘iddah telah habis, boleh menikah kembali dengan akad baru.


Larangan Waktu Nikah

Apakah ada larangan waktu nikah secara syar’i? Misal: calon pengantin wanita yang masih haid, larangan nikah saat tanggal di atas 14 pada bulanbulan Hijriah. 085340XXXXXX

1. Boleh akad nikah meskipun pengantin wanita haid, tetapi sebaiknya ditunda sampai suci untuk maslahat malam pertama.

2. Tidak ada larangan menikah pada tanggal 1—14 Hijriah dan tanggal lainnya. Jika kebiasaan tersebut karena menganggap pernikahan pada tanggal tersebut adalah faktor kesialan rumah tangga, hal itu tergolong thiyarah; yaitu meninggalkan sesuatu khawatir bernasib sial karena bersandar kepada suatu faktor yang hakikatnya tidak demikian. Ini merupakan syirik kecil.


Hukum Nazar

Bagaimana hukum bernazar untuk sesuatu yang diinginkan?085349XXXXXX

Nazar tidak dianjurkan, bahkan hukumnya makruh. Nazar tidak bisa jadi faktor tercapainya harapan yang diinginkan, tidak berefek pada suatu takdir yang Allah kehendaki. Hal itu sebagaimana ditegaskan oleh Nabi dan beliau melarang bernazar (Hadits Ibnu ‘Umar, muttafaq ‘alaih). Rasul n sendiri dan tokoh-tokoh sahabat tidak bernazar.


Satpam Bank

Apa hukumnya kerja sebagai satpam di bank? 085255XXXXXX

Haram, karena termasuk kerjasama dalam perkara yang haram, yaitu kestabilan dan kemakmuran perbankan yang muamalahnya riba yang terlaknat.


Bacaan Shalat Sendirian

Apabila shalat sendirian di rumah karena terlambat tidak ikut berjamaah di masjid pada shalat magrib, isya’, atau shubuh, bagaimana bacaannya (al-Fatihah dan surat pendek) pada rakaat 1 dan 2? 081917XXXXXX

Dijahrkan (dikeraskan).


Puasa Untuk Diet

Bolehkah kita berpuasa berturutturut selama tiga minggu untuk menurunkan berat badan? 087829XXXXXX

Puasa adalah ibadah. Ibadah harus sesuai dengan dalil dalam 6 hal: jenis ibadah, sebabnya, kadarnya, sifatnya, waktunya, dan tempatnya. Tidak ada dalil yang menganjurkan puasa tiga minggu berturut-turut agar berat badan turun. Namun, berpuasalah dengan puasa sunnah yang diajarkan Nabi n. Bersama dengan itu, Anda akan merasakan manfaat yang banyak termasuk dalam hal kesehatan, insya Allah.


Puasa Agar Anak Lulus Ujian

Apa hukumnya berpuasa agar anak lulus ujian? 087712XXXXXX

Hal itu tidak disyariatkan.


Pengantin Baru Tunda Kehamilan

Bolehkah pengantin baru menunda kehamilan? 081938XXXXXX

Tidak mengapa jika ada kebutuhan yang menuntut hal itu, misalnya karena fisiknya sakit dan lemah yang akan bertambah parah jika hamil. Adapun jika karena khawatir tidak bisa memberi nafkah, hal itu tidak boleh.


Hukuman Pelaku Zina

Apa hukuman yang diterima kedua orang yang berzina pada masa mudanya dan sekarang telah menikah? 082330XXXXXX

Cukup bagi keduanya bertobat dengan benar dan merahasiakan aibnya di antara mereka berdua. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun dan Penerima tobat.


Zakat Harta Curian

Apakah harta hasil dari korupsi/ mencuri juga wajib dizakati bila telah mencapai nishab dan haulnya? +62XXXXXXXXX

Harta hasil curian/korupsi tidak terkena zakat, karena harta itu bukan milik koruptor/pencurinya. Kewajibannya adalah mengembalikan harta itu kepada pemiliknya yang berhak.


Hadits Keutamaan Bulan Rajab dan Sya’ban

“Allahumma bariklana fii Rajab wa Sya’ban wa balighna Ramadhan.”

“Ya Allah, Berkahi kami di bulan Rajab dan Sya’ban dan sampaikanlah kami ke dalam bulan Ramadhan.” Apakah hadits tersebut sahih? 0896XXXXXX

Hadits ini dikeluarkan oleh Abu Bakr al-Bazzar dalam Musnad-nya dengan kelemahan yang keras sebagaimana diterangkan oleh Ibnu Hajar al-‘Asqalani dalam kitab Tabyin al-‘Ajab bi Ma Warada fi Syahri Rajab. Dikeluarkan pula oleh al-Baihaqi dan Ibnu ‘Asakir, dinyatakan dha’if (lemah) oleh al-Albani dalam kitab Dha’if al-Jami’ no. 4395. Alhasil, tidak ada hadits yang tsabit (benar) dalam hal keutaman bulan Rajab dan keutamaan ibadah secara umum di bulan Rajab, termasuk shalat dan puasa.


Shalat bagi Orang Sakit

Bolehkah shalat orang sakit diqashar atau dijamak-qashar? 085720XXXXXX

Dijamak boleh, tetapi diqashar tidak boleh. Karena qashar hanya untuk musafir.


Istri Nusyuz

Seorang istri berbuat nusyuz dan lari ke rumah orang tuanya dengan dalih istri ingin bekerja di luar rumah untuk membantu orang tuanya. Suami sudah melarangnya dengan hikmah dan istri tetap nekat. Apa yang harus suami lakukan? Apa suami mempunyai kewajiban untuk menafkahi dan membayarkan zakat fitrah istri dan anaknya? 085272XXXXXX

Nasihati dengan cara memutuskan nafkahnya dan tidak membayarkan zakat fitrahnya. Adapun anak yang dibawanya, suami tetap berkewajiban memberi nafkah dan membayarkan zakat fitrahnya (jika berpendapat bahwa zakat fitrah adalah kewajiban orang yang menanggung nafkah). Jika perlu, ancam akan dicerai jika tidak berhenti dari nusyuznya. Jika tidak ada hasilnya, tidak mengapa diceraikan untuk maslahat suami.


Qadha bagi Wanita yang Baru Melahirkan

Bagaimana jika seorang wanita mempunyai utang puasa hampir satu bulan penuh di bulan Ramadhan karena melahirkan? Kapan batas waktu mengqadhanya? 08572XXXXXX

Tidak boleh menunda qadha puasa hingga Ramadhan berikutnya tanpa uzur. Jika hal itu terjadi karena uzur, tidak berdosa. Jika terjadi tanpa uzur, berdosa. Pada kedua keadaan tersebut tetap wajib mengqadha setelah Ramadhan itu berlalu sampai selesai.


Nazar Baca Al-Qur’an 30 Juz Dalam Semalam

Seorang siswa bernazar kalau lulus sekolah, dia akan membaca al-Qur’an 30 juz dalam satu malam, kemudian dia mngatakan tidak sanggup, apa yang harus dia lakukan? 087898XXXXXX

Nazar itu akibat kebodohan mengenai syariat dari dua sisi:

1. Menyangka bahwa nazar ketaatan dapat menjadi faktor tercapainya suatu keinginan, padahal tidak demikian. Nabi telah melarang untuk bernazar dan menegaskan bahwa nazar tidak punya pengaruh secara hukum takdir Allah Subhanahu wata’ala untuk tercapainya suatu keinginan. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri dan sahabat tidak pernah bernazar.

2. Bernazar akan membaca al- Qur’an (30 juz) semalam suntuk, padahal Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam telah melarang ‘Abdullah bin ‘Amr melakukan hal itu. Padahal Ibnu ‘Amr mampu melakukannya (HR. al- Bukhari).

Jadi siswa itu telah bernazar dengan nazar yang tidak dianjurkan dalam syariat, apalagi Anda tidak mampu. Alhasil hendaklah Anda membayar kafarat nazar (sumpah), yaitu memberi makan yang layak kepada 10 orang fakir miskin atau pakaian. Jika tidak mampu, berpuasalah 3 hari berturut-turut.


Wali Nikah Janda

Jika seorang janda menikah, siapakah walinya? 085222XXXXXX

Harus ada walinya. Wali yang paling berhak adalah ayah, kemudian saudara lelaki sekandung, dst. Tidak boleh dinikahkan oleh siapa saja dalam arti meskipun bukan wali.


Cairan Keputihan

Jika keputihan membatalkan wudhu, apakah kita harus mengganti celana yang terkena cairan keputihan itu dulu sebelum wudhu lagi? 085743XXXXXX

Masalah mengganti celana tergantung najis tidaknya keputihan. Keputihan diperselisihkan kenajisannya. Yang menyatakan suci berdalil dengan hukum asal sesuatu suci selama tidak ada dalil yang menyatakan najis. Apalagi jika keputihan keluarnya dari rahim, semakin jauh untuk diqiyaskan dengan air kencing.


Cara Mengetahui Hitungan Talak

Bagaimana kita mengetahui bahwa seorang suami sudah menjatuhkan talak 1, 2, atau 3 kepada istrinya? 08526XXXXXXX

Jika dia mengucapkan talak kepada istrinya pertama kali, berarti jatuh talak satu. Lalu dia rujuk pada masa ‘iddah atau menikahinya kembali (dengan akad nikah yang baru). Setelah masa ‘iddah habis, kemudian mengucapkan talak lagi, berarti jatuh talak dua. Kemudian dia rujuk di masa ‘iddah atau menikahinya kembali setelah masa ‘iddah habis, lalu mengucapkan talak lagi, berarti jatuh talak tiga. Dengan itu, keduanya bukan lagi suami-istri, tidak boleh rujuk dan menikahinya kembali, kecuali sudah dinikahi lelaki lain dan digauli olehnya kemudian berpisah dengannya, setelah itu bisa menikahinya kembali. Lihat Asy Syari’ah edisi 72 “Halal Haram Perceraian”.


Talak Orang Depresi

Apakah sah talak yang dilakukan oleh laki-laki yang depresi/stress dan menyakiti dirinya sendiri? 081520XXXXXX

Talak orang stress/depresi tidak jatuh, karena kesadarannya hilang. Hukumnya seperti orang yang terkena was-was setan yang bertindak dan berucap di luar kesadaran.


Istihadhah Boleh Digauli?

Jika istri istihadhah, apakah boleh suami menggaulinya/berjima’? 081911XXXXXX

Boleh.


Talak Via Handphone

Bila ada seorang istri mengaku telah berzina kepada suami. Kemudian suami menjatuhkan talak lewat handphone, apakah sah talaknya? 081311XXXXXX

Jika dipastikan bahwa itu benar suaminya (bukan orang yang mengaku), talak itu sah. Wallahu a’lam.

Akikah dengan Selain Kambing

Apakah akikah dapat digantikan dengan hewan lain selain kambing? Jika bisa, apakah ada dasarnya? Syukran.Abu Hafidh s*******@ymail.com

Akikah dengan selain kambing tidak boleh, karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam menganjurkan dengan kambing. Ini yang dipahami oleh Aisyah radhiyallahu ‘anha sebagaimana dalam riwayat berikut ini.

عَنْ عَطَاءٍ قَالَ: قَالَتِ امْرَأَةٌ عِنْدَ عَائِشَةَ: لَوْ وَلَدَتِ امْرَأَةُ فَلَانٍ نَحْرَنَا عَنْهُ جَزُورًا. قَالَتْ عَائِشَةُ: لاَ، وَلَكِنَّ السُّنَّةَ عَنِ الْغُلَامِ شَاتَانِ وَعَنِ الْجَارِيَةِ شَاةٌ وَاحِدَةٌ

Dari ‘Atha, seseorang berkata di hadapan Aisyah, “Seandainya istri fulan melahirkan, kami akan menyembelihkan seekor unta untuknya.” Aisyah berkata, “Tidak, sunnahnya untuk anak laki-laki dua ekor kambing, sedangkan untuk anak wanita satu ekor.”

Asy-Syaikh al-Albani mengatakan, “Ucapan Aisyah, ‘Tidak,’ adalah penegasan bahwa akikah tidak boleh dengan selain kambing.” (ash-Shahihah, no. 2720)

Dalam riwayat lain, dari jalan Ibnu Abi Mulaikah, ia mengatakan,

نُفِسَ لِعَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي بَكْرٍ غُلَامٍ،فَقِيلَ لِعَائِشَةَ: يَا أُمَّ الْمُؤْمِنِينَ، عِقِي  عَنْهُ جَزُورًا. فَقَالَتْ: مَعَاذَ اللهِ، وَلَكِنْ مَا قَالَ  رَسُولُ اللهِ شَاتَانِ مُكَافِئَتَانِ.

Anak Abdurrahman bin Abi Bakr lahir. Dikatakan kepada Aisyah, “Wahai Ummul Mukminin, akikahilah dengan seekor unta.” Aisyah berkata, “Aku berlindung kepada Allah, tetapi (bukankah) Rasulullah mengatakan, ‘Dua kambing yang seimbang?’.”

Ada pendapat lain yang mengatakan bolehnya akikah dengan unta atau sapi. Pendapat ini diriwayatkan dari Anas bin Malik dan sahabat Abu Bakrah lalu dipegangi oleh mayoritas para ulama. Diriwayatkan bahwa Anas dan Abu Bakrah mengakikahi anaknya dengan unta. Dasar pendapat ini—menurut Ibnul Mundzir—bisa jadi karena Nabi bersabda,

…فَأَهْرِيقُوا عَنْهُ دَمًا …

“Maka tumpahkanlah darah untuknya.”

Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam tidak menyebutkan darah hewan tertentu. Hewan apapun yang disembelih untuk akikah anak itu maka mencukupi. Dasar yang kedua, hadits,

مَنْ وُلِدَ لَهُ غُلَامٌ فَلْيَعُقَّ عَنْهُ مِنَ الْإِبِلِ أَوْ الْبَقَرِ أَوِ الْغَنَمِ

“Barang siapa yang dilahirkan seorang anak laki-laki baginya, akikahilah dia dengan unta, sapi, atau kambing.”

Jawaban atas dalil tersebut adalah sebagai berikut.

Adapun yang pertama, sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam tersebut masih global. Sementara itu, riwayat yang menyebutkan kambing telah menerangkan maksud darah tersebut, yaitu darah kambing. Tentu saja dalil yang menjelaskan dan memperinci lebih utama dipakai.

Adapun dalil kedua adalah hadits yang batil karena dalam sanadnya ada rawi bernama Mas’adah, dia adalah rawi yang kadzdzab (pendusta) sebagaimana dikatakan oleh al-Haitsami. (ash-Shahihah, no. 2720, Tuhfatul Maudud dan sumber lainnya)

 

PASIEN MEMINTA DIAKHIRI HIDUP NYA (EUTA NASIA )

Saya meminta fatwa kepada Anda—dengan izin Allah—tentang sebuah pembahasan yang saya dengar dari sebuah program siaran kesehatan yang saya dengarkan. Apakah boleh orang yang mengidap penyakit yang secara medis tidak ada harapan sembuh untuk meminta dipercepat kematiannya? Apakah boleh permintaannya itu dikabulkan dalam rangka meringankan rasa sakit yang dideritanya? Narasumber waktu itu mengatakan bahwa penderita kanker—misalnya—yang tidak memiliki harapan sembuh lebih baik dia mati. olehkah permintaan si sakit dikabulkan dan kita membunuhnya untuk meringankan sakit dan derita yang berkepanjangan? Narasumber membicarakan tentang sebuah buku yang berjudul “Hak-Hak Asasi”. Dia mengatakan bahwa di antara hak asasi manusia adalah menentukan sendiri kapan hidupnya berhenti—apabila kehidupannya menyiksa dan menjadi derita bagi dirinya serta orang lain. Bagaimana pandangan agama tentang masalah ini? Jazakumullah khairan.

Al-Lajnah ad-Daimah menjawab: Orang yang sakit diharamkan mempercepat kematiannya baik dengan cara bunuh diri maupun menggunakan obat-obatan yang menyebabkan kematian. Haram pula hukumnya bagi dokter atau petugas medis lainnya untuk mengabulkan permintaannya, meski penyakitnya tidak memiliki harapan sembuh. Siapa yang menolongnya melakukan perbuatan tersebut, sungguh telah berserikat menanggung dosanya. Sebab, dia telah sengaja dan tanpa hak menjadi sebab terbunuhnya jiwa yang tidak boleh dibunuh.

Dalil-dalil dengan tegas menunjukkan diharamkannya perbuatan membunuh jiwa tanpa hak. Allah Subhanahu wata’ala  berfirman,

وَلَا تَقْتُلُوا النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ ۚ

“Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar.” (al-An’am: 151)

وَلَا تَقْتُلُوا أَنفُسَكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا () وَمَن يَفْعَلْ ذَٰلِكَ عُدْوَانًا وَظُلْمًا فَسَوْفَ نُصْلِيهِ نَارًا ۚ وَكَانَ ذَٰلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرًا

“Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu. Dan barang siapa berbuat demikian dengan melanggar hak dan aniaya, maka Kami kelak akan memasukkannya ke dalam neraka. Yangmdemikian itu adalah mudah bagi Allah.” (an-Nisa: 29—30)

Dalam sebuah hadits sahih dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ قَتَلَ نَفْسَهُ بِحَدِيدَةٍ فَحَدِيدَتُهُ فِي يَدِهِ يَجْأَبُهَا بِهَا فِي بَطْنِهِ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدًا مُخَلَّدًا فِيهَا أَبَدًا وَمَنْ شَرِبَ سُمًّا فَقَتَلَ نَفْسَهُ فَهُوَ يَتَحَسَّاهُ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدًا مُخَلَّدًا فِيهَا أَبَدًا وَمَنْ تَرَدَّى مِنْ جَبَلٍ فَقَتَلَ نَفْسَهُ فَهُوَ يَتَرَدَّى فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدًا مُخَلَّدًا فِيهَا أَبَدًا

“Barang siapa membunuh dirinya dengan sebuah benda tajam, benda itu akan berada di tangannya membelah perutnya di neraka Jahannam dalam waktu yang sangat lama. Barang siapa membunuh dirinya dengan meminum racun, dia senantiasa meminumnya di neraka Jahannam dalam jangka waktu yang sangat lama. Barang siapa membunuh dirinya yang menjatuhkan diri dari puncak gunung, dia akan senantiasa menjatuhkan dirinya di neraka Jahannam dalam waktu yang sangat lama.” (Muttafaqun ‘alaih)

Diriwayatkan dari Abu Qilabah, dari Tsabit bin adh-Dhahhak radhiyallahu ‘anhu, ia mengatakan, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ قَتَلَ نَفْسَهُ بِشَيْءٍ عُذِّبَ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Barang siapa membunuh dirinya dengan sesuatu, ia akan diazab dengan benda itu pada hari kiamat.” (HR. al- Jamaah)

Jundub bin Abdillah al-Bajali radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

كَانَ فِيمَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ رَجُلٌ بِهِ جُرْحٌ فَجَزِعَ فَأَخَذَ سِكِّينًا فَحَزَّ بِهَا يَدَهُ فَمَا رَقَأَ الدَّمُ حَتَّى مَاتَ قَالَ اللهُ تَعَالَى: بَادَرَنِي عَبْدِي بِنَفْسِهِ حَرَّمْتُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ

“Pada umat sebelum kalian ada seorang lelaki yang terluka. Dia merasa putus asa lantas mengambil pisau untuk memotong tangannya. Darah pun terus mengalir hingga ia mati. Allah Subhanahu wata’ala berfirman, ‘Hamba-Ku telah lancang mendahului-Ku dalam hal jiwanya. Aku haramkan surga atasnya’.” (Muttafaqun ‘alaih, dan ini lafadz al-Bukhari)

Oleh karena itu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam melarang seseorang menginginkan kematian disebabkan musibah yang menimpanya dalam hadits Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu. Ia mengatakan, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

لاَ يَتَمَنَّيَنَّ أَحَدُكُمُ الْمَوْتَ مِنْ ضُرٍّ أَصَابَهُ، فَإِنْ كَانَ ل بُدَّ فَاعِلًا، فَلْيَقُلْ: اللَّهُمَّ أَحْيِنِي مَا كَانَتِ الْحَيَاةُ خَيْرًا لِي، وَتَوَفَّنِي إِذَا كَانَت الْوَفَاةُ خَيْرًا لِي

ِ

“Janganlah salah seorang dari kalian menginginkan kematian karena musibah yang menimpanya. Apabila memang dia harus melakukannya, katakanlah, ‘Ya Allah, hidupkanlah aku apabila hidup memang lebih baik bagiku, dan wafatkanlah aku apabila kematian lebih baik bagiku’.” ( HR. al-Bukhari dan Muslim, ini lafadz al-Bukhari)

Al-Bukhari juga mengeluarkan sebuah riwayat dengan lafadz yang berbeda dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia mengatakan, “Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

وَ يَتَمَنَّيَنَّ أَحَدُكُمْ الْمَوْتَ إِمَّا مُحْسِنًا فَلَعَلَّهُ أَنْ يَزْدَادَ خَيْرًا وَإِمَّا مُسِيئًا فَلَعَلَّهُ أَنْ يَسْتَعْتِبَ

“Janganlah salah seorang dari kalian menginginkan kematian. Bisa jadi, dia telah berbuat baik (selama ini) sehingga akan bertambah kebaikannya (dengan tetap hidup); bisa jadi pula, dia selama ini berbuat buruk sehingga (dengan tetap hidup) akan bisa memperbaiki diri.”

Apabila sekadar menginginkan kematian dan memintanya kepada Allah Subhanahu wata’ala itu dilarang, terlebih lagi seseorang sengaja mengajukan diri agar dirinya dibunuh atau ikut serta dalam proses pembunuhan itu. Hal ini tentu melanggar batasan Allah dan merusak kehormatan- Nya. Sebab, melakukan perbuatan ini berarti tidak sabar dan menentang terhadap ketentuan dan takdir-Nya. Selain itu, perbuatan ini juga mengandung makna lancang dan mendahului hikmah Allah ketika memberi musibah berupa kebaikan dan keburukan dalam rangka menguji hamba-Nya. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَنَبْلُوكُم بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً

“Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya).” (al-Anbiya: 35)

Allah l telah menguji sebagian hamba-Nya dengan sakit—dan Dia Maha Memiliki hikmah dalam segala perbuatan- Nya, Mahatahu apa yang terbaik bagi hamba—yang justru hal itu lebih baik bagi hamba, menambah perbuatan baiknya dan kekuatan imannya, lebih mendekatkan dirinya kepada AllahS ubhanahu wata’ala dengan rasa tenang, tunduk, merendahkan diri di hadapan-Nya, tawakal dan berdoa hanya kepada-Nya.

Karena itu, apabila seseorang ditimpa musibah berupa penyakit, seyogianya dia (1) mengharap pahala dan (2) bersabar terhadap musibah yang menimpanya— karena di antara jenis-jenis kesabaran adalah sabar terhadap musibah yang menimpa. Dengan demikian, dirinya akan diridhai oleh Allah Subhanahu wata’ala, ditambah bagi amalan baiknya, diangkat derajatnya di akhirat. Semua ini ditunjukkan oleh riwayat Shuhaib z, ia mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

عَجِبْتُ مِنْ أَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَ الْمُؤْمِنِ كُلَّهُ لَهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَلِكَ لِأَحَدٍ إِ لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ كَانَ ذَلِكَ لَهُ خَيْرًا وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ فَصَبَرَ كَانَ ذَلِكَ لَهُ خَيْرًا

“Aku kagum dengan keadaan seorang mukmin. Sungguh, urusan seorang mukmin itu baik seluruhnya, dan hal ini tidak didapatkan oleh seorang pun selain seorang mukmin. Apabila mendapat kesenangan, ia bersyukur; hal ini baik baginya. Apabila ditimpa musibah, dia bersabar; ini pun baik baginya.” (HR. Muslim dalam Shahih-nya, Ahmad dalam al-Musnad, dan ini lafadz al- Imam Ahmad)

Hal ini juga ditunjukkan oleh firman Allah Subhanahu wata’ala,

وَالصَّابِرِينَ عَلَىٰ مَا أَصَابَهُمْ

“Orang-orang yang sabar terhadap apa yang menimpa mereka.” (al-Hajj: 35)

وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ () الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُم مُّصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ

“Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.” (al- Baqarah: 155—156)

وَالصَّابِرِينَ وَالصَّابِرَاتِ

“Laki-laki dan perempuan yang sabar.” (al-Ahzab: 35)

Demikian pula ditunjukkan oleh hadits Anas, ia mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَم الْبَلَاءِ وَإِنَّ اللهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلَاهُمْ فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَطُ

“Sesungguhnya besarnya pahala itu sesuai dengan besarnya cobaan. Sungguh, apabila Allah Subhanahu wata’ala mencintai suatu kaum, Dia akan menguji mereka. Barang siapa ridha (terhadap ujian itu), dia akan mendapatkan ridha (Allah) juga. Barang siapa marah (terhadap ujian itu), dia pun mendapatkan kemarahan (Allah).” (HR. at-Tirmidzi dalam Jami’-nya, beliau mengatakan, “Hasan gharib dari jalur ini.”)

Demikian pula hadits Mush’ab bin Sa’d dari ayahnya radhiyallahu ‘anhu, ia mengatakan,

قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، أَيُّ النَّاسِ أَشَدُّ بَلَاءً؟ قَالَ: الْأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الْأَمْثَلُ فَالْأَمْثَلُ، فَيُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ، فَإِنْ كَانَ دِينُهُ صُلْبًا اشْتَدَّ بَلَاؤُهُ وَإِنْ كَانَ فِي دِينِهِ رِقَّةٌ ابْتُلِيَ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَمَا يَبْرَحُ الْبَلَاءُ بِالْعَبْدِ حَتَّى يَتْرُكَهُ يَمْشِي عَلَى الْأَرْضِ مَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ

Aku berkata, “Wahai Rasulullah, manusia manakah yang paling keras cobaannya?” Beliau menjawab, “Para nabi, kemudian yang semisalnya, kemudian yang semisalnya. Seseorang diuji sesuai dengan kekuatan agamanya. Apabila agamanya kuat, ujian yang menimpanya pun keras. Apabila agamanya ada kelemahan, dia diuji sesuai dengan keadaan agamanya. Senantiasa cobaan menimpa seorang hamba hingga menjadikannya berjalan di muka bumi tanpa ada satu (dosa) kesalahan pun pada dirinya.” (HR. at-Tirmidzi, beliau katakan, “Ini hadits hasan sahih.”)

Demikian pula yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَا يَزَالُ الْبَلَاءُ بِالْمُؤْمِنِ وَالْمُؤْمِنَةِ فِي نَفْسِهِ وَوَلَدِهِ وَمَالِهِ حَتَّى يَلْقَى اللهَ وَمَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ

“Senantiasa cobaan menimpa seorang mukmin dan mukminah, pada dirinya, anaknya, dan hartanya; hingga ia bertemu Allah tanpa membawa satu  kesalahan pun.” (HR. at-Tirmidzi)

Oleh karena itu, seseorang yang tertimpa musibah penyakit diharamkan berusaha membunuh dirinya. Sebab, kehidupan dirinya bukanlah miliknya. Kehidupannya itu milik Allah yang telah menentukan berbagai takdir dan jangka waktu. Selain itu, jika telah mati, seorang hamba tidak lagi bisa beramal. Dari kehidupan yang dijalaninya, seorang mukmin diharapkan mendapatkan yang lebih baik. Bisa jadi, ia akan bertobat kepada Allah Subhanahu wata’ala dari dosa-dosanya yang telah lalu, kemudiaan mempersiapkan bekal amal saleh: shalat, puasa, zakat, haji, zikir, berdoa kepada Allah, dan membaca al-Qur’an. Dengan demikian, dia akan mencapai derajat tertinggi di sisi Allah.

Di samping itu pula, seorang yang sakit akan dituliskan baginya pahala amalan yang biasa ia lakukan semasa sehatnya. Hal ini disebutkan oleh haditshadits yang sahih. Adapun dokter dan tenaga medis yang mau menerima permintaan si sakit untuk membunuh dirinya dan menolongnya melakukannya, mereka berdosa.

Pandangan mereka sangat pendek, ini menunjukkan kebodohan mereka. Sebab, mereka hanya memandang kehidupan manusia dan kelanjutannya dari sisi kelayakan dan kekuatan hidup secara fisik, memiliki kemampuan, bisa bersenang-senang, dan berlaku sombong.

Mereka tidak memandang kehidupannya akan berlanjut hingga bertemu Rabbnya dengan membawa bekal amal saleh, kalbu yang lembut luluh, tunduk, tenang, dan merendahkan diri di hadapan-Nya. Keadaan hamba yang seperti ini lebih disukai dan lebih dekat kepada Allah daripada seseorang yang sombong, melampaui batas, dan menggunakan kekuatan fisiknya dalam hal yang dimurkai oleh Allah. Allah Subhanahu wata’ala pun Mahamampu untuk menyembuhkannya. Apa yang sekarang mustahil menurut pandangan manusia, bisa jadi mudah pengobatannya pada masa yang akan datang, dengan takdir Allah, Dzat yang tidak ada sesuatu pun di langit dan di bumi yang mampu melemahkan-Nya. Wabillahi at-taufiq, wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad, wa alihi shahbihi wa sallam.

Ketua: Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz; Wakil: Abdul Aziz Alu asy-Syaikh;

Anggota: Abdullah bin Ghudayyan, Shalih al-Fauzan, Bakr Abu Zaid. (Fatawa al-  Lajnah 25/85—91, fatwa no. 19165)

 

BEDAH MAYAT & OTOPSI JENAZAH

Kami mengharapkan jawaban tentang hukum Islam terhadap mahasiswa kedokteran yang ketika masa kuliahnya melakukan praktikum bedah mayat. Selain itu mereka harus menyingkap aurat wanita atau sebagiannya. Mereka mengatakan bahwa hal tersebut dalam rangka mempelajari kedokteran dan harus dilakukan agar mereka tidak menjadi dokter yang bodoh (tentang anatomi) dan tidak bisa mengobati penyakit yang diderita wanita. Apabila ini terjadi, tentulah para wanita muslimah akan ditangani oleh dokter-dokter Nasrani atau yang lain.

Al-Lajnah ad-Daimah menjawab: Pertama; tentang operasi bedah mayat, telah keluar ketetapan dari Haiah Kibarul Ulama (Dewan Ulama Besar) Kerajaan Arab Saudi yang garis besarnya sebagai berikut. Masalah ini terbagi tampak memiliki tiga keadaan:

a. Bedah mayat (otopsi) untuk meneliti sebuah kasus kriminalitas.

b. Otopsi untuk meneliti sebuah penyakit yang mewabah dalam rangka menemukan prosedur perlindungan (masyarakat) dari penyakit tersebut.

c. Bedah mayat untuk kepentingan ilmu pengetahuan, yakni kegiatan belajar dan mengajar. Setelah komisi yang terkait bertukar pikiran, beradu argumentasi, dan mempelajari masalah di atas, forum  mengeluarkan ketetapan sebagai berikut. Tentang dua keadaan yang pertama (yakni poin a dan b), forum memandang bahwa pembolehannya bisa mewujudkan banyak maslahat dalam bidang keamanan dan pengadilan, serta perlindungan masyarakat dari penyakit yang mewabah. Efek negatif tindakan otopsi tersebut akan tertutup oleh sekian banyak maslahat yang nyata dan berdampak luas.

Oleh karena itu, forum sepakat menetapkan bolehnya pembedahan mayat untuk dua tujuan ini, baik mayat tersebut terlindungi (oleh hukum syariat, –pent.) maupun tidak. Adapun terkait dengan jenis bedah mayat yang ketiga, yaitu untuk kepentingan ilmiah, dengan mempertimbangkan bahwa:

• syariat Islam membawa terwujudnya maslahat dan memperbanyaknya,

• syariat Islam mencegah mafsadat dan mempersedikitnya,

• bolehnya dilakukan sebuah tindakan yang lebih kecil kerusakannya untuk menghilangkan hal yang kerusakannya lebih besar,

• apabila dua hal yang bermaslahat ternyata kontradiktif, dipilih yang lebih banyak efek positifnya,

• pembedahan terhadap hewan tidak bisa menggantikan pembedahan mayat,

• operasi bedah mayat berefek positif terhadap kemajuan berbagai bidang ilmu kedokteran; maka forum memandang bolehnya operasi bedah mayat manusia secara global. Di sisi lain, forum mempertimbangkan:

• perhatian syariat Islam terhadap kemuliaan seorang muslim yang telah meninggal sebagaimana saat hidupnya; sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh al-Imam Ahmad, Abu Dawud, dan Ibnu Majah, dari Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

كَسْرُ عَظْم الْمَيِّتِ كَكَسْرِهِ حَيًّا

“Mematahkan tulang mayat (hukumnya) seperti mematahkannya saat ia hidup.”

• pembedahan mayat mengandung perendahan terhadap kemuliaan seorang muslim,

• kebutuhan operasi bedah mayat muslim bisa diganti dengan mayat yang tidak dilindungi (oleh syariat); maka forum memandang hendaknya dicukupkan dengan operasi bedah terhadap mayat yang semacam ini dan tidak melakukannya terhadap mayat yang dilindungi (oleh syariat), dalam keadaan yang telah disebutkan.

Wallahul muwaffiq, wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shahbihi wa sallam. Haiah Kibarul Ulama

Kedua; tentang menyingkap aurat wanita, apabila ada wanita lain yang bisa melakukannya, seorang lelaki tidak boleh melakukannya. Apabila tidak ada wanita yang bisa melakukannya—sementara ada faktor yang mengharuskan aurat si wanita disingkap—seorang lelaki muslim boleh melakukannya sekadarnya, dalam rangka mengetahui penyakit si wanita. Apabila mayatnya adalah wanita nonmuslim atau yang tidak dilindungi (oleh syariat), tidak ada halangan auratnya disingkap dalam rangka kegiatan belajar mengajar dan mengetahui penyakit-penyakit yang diderita wanita sekaligus cara penyembuhannya, berdasarkan ketetapan Haiah Kibarul Ulama yang disebutkan di atas.

Wabillahi at-taufiq, wa shallallahu ala nabiyyina Muhammad wa alihi wa shahbihi wa sallam. Al-Lajnah ad-Daimah lil Buhuts al-‘Ilmiyyah wal Ifta (Komite Tetap untuk Pembahasan Ilmiah dan Fatwa)

Ketua: Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz Wakil: Abdur Razzaq Afifi

Anggota: Abdullah bin Ghudayyan, Abdullah bin Qu’ud (Fatawa al-Lajnah 25/93—95,

pertanyaan ke-4 dari fatwa no. 3685)

Dijawab oleh al-Ustadz Qomar Suaidi, Lc

Persoalan-Persoalan Seputar Akikah

Banyak pertanyaan diajukan kepada Redaksi seputar mengakikahi diri sendiri dan mengakikahi setelah hari ke-7 kelahiran. Juga bila baru punya satu kambing untuk akikah anak laki-laki bolehkah dengan satu kambing dahulu, dan yang lain menyusul? Demikian juga apakah bayi yang meninggal diakikahi?

  1. Mengakikahi diri sendiri.

Dalam hal ini terdapat beberapa pendapat, yang terkuat dari pendapat yang ada adalah boleh. Berdasarkan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menerangkan bahwa beliau mengakikahi dirinya sendiri setelah menjadi nabi.

Hadits ini sahih menurut pendapat yang paling kuat (rajih). Sebagian ulama melemahkannya, namun pendapat mereka keliru. Oleh karena itu, kami akan sedikit menyampaikan pembahasan hadits ini.

Sebenarnya hadits ini telah panjang lebar dibahas oleh asy-Syaikh al-Albani dalam kitab beliau Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah no. 2726. Di sini saya hanya akan meringkas apa yang dijabarkan oleh beliau dan sedikit menambahkan yang perlu. Adapun bunyi hadits itu. Anas berkata,

عَقَّ عَنْ نَفْسِهِ بَعْدَمَا بُعِثَ نَبِيًّا

“Nabi mengakikahi dirinya setelah diutus menjadi nabi.”

Hadits ini disampaikan oleh sahabat Anas radhiyallahu ‘anhu. Ada tiga rantai sanad yang sampai kepada sahabat Anas radhiyallahu ‘anhu.

  1. Al-Haitsam bin Jamil dari Abdullah bin al-Mutsanna, dari Tsumamah bin Anas, dari Anas bin Malik z. Jalur ini diriwayatkan oleh ath-Thahawi, ath-Thabarani, Ibnu Hazm, adh-Dhiya’ al-Maqdisi, Abu asy-Syaikh, dan Ibn A’yan.
  2. Isma’il bin Muslim, dari Qatadah, dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu.
    Jalur ini diriwayatkan oleh Abu asy-Syaikh.
  3. Abdullah bin al-Muharrar, dari Qatadah, dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu.
    Jalur ini diriwayatkan oleh Abdurrazzaq, Ibnu Hibban, al-Bazzar, dan Ibnu Adi.

Untuk rantai sanad yang pertama, asy-Syaikh al-Albani mengatakan, “Ini adalah sanad yang hasan, para rawinya adalah orang-orang yang yang telah dijadikan hujah (para periwayat tepercaya) dalam Shahih al-Bukhari, selain al-Haitsam bin Jamil. Beliau (al-Haitsam bin Jamil) sendiri adalah seorang yang tsiqah (tepercaya) dan hafizh (penghafal hadits), salah seorang guru al-Imam Ahmad rahimahullah.

Selanjutnya, Abdullah bin al-Mutsanna, beliau adalah salah seorang periwayat dalam Shahih al-Bukhari, artinya al-Bukhari rahimahullah menganggap bahwa Abdullah bin al-Mutsanna termasuk tepercaya. Namun, ternyata ada ulama lain yang membicarakan Abdullah bin al-Mutsanna ini. Karena itu, al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah mendudukkan perselisihan ini dengan kesimpulan bahwa al-Bukhari rahimahullah hanya memercayai sepenuhnya Abdullah bin al-Mutsanna apabila dia meriwayatkan dari pamannya. Jika tidak, al-Bukhari tidak bertumpu pada riwayatnya. Alhamdulillah, ternyata hadits yang kita bahas ini beliau riwayatkan dari pamannya, Tsumamah bin Anas, sehingga sesuai dengan syarat al-Bukhari dalam hal ini.

  1. a) Mengenai rantai sanad yang kedua, terkhusus adanya perawi yang bernama Ismail bin Muslim, maka asy-Syaikh al-Albani mengatakan, “Semacam sanad tersebut bisa dijadikan pendukung sehingga hadits semakin kuat dengannya.”
    Tentang Ismail bin Muslim ini, Abu Hatim—beliau termasuk ulama yang keras dalam mencacat para rawi—mengatakan, “Ismail bin Muslim tidak ditinggalkan, haditsnya dapat ditulis,” yakni untuk dukungan.

Ibnu Sa’d rahimahullah mengatakan, “Dia adalah orang yang diperhitungkan pendapat dan fatwanya, memiliki pandangan dan hafalan terhadap hadits. Karena itu, aku dahulu menulis hadits darinya karena kecerdasannya.”
Adapun Qatadah, maka jelas seorang ulama yang terkenal dan yang tepercaya.

  1. b) Mengenai rantai sanad yang ketiga, para ulama melemahkannya karena kelemahan perawinya, yaitu Abdullah bin al-Muharrar.

Dari pemaparan singkat tentang hadits ini, tampak bahwa hadits ini sahih atau hasan. Di antara ulama yang menganggap kuatnya hadits ini dari ulama terdahulu adalah adalah adh-Dhiya’ al-Maqdisi rahimahullah dalam kitabnya al-Mukhtarah, Abdul Haq al-Isybili dalam kitabnya al-Ahkam, dan Abu Zur’ah al-Iraqi dalam kitabnya Tharhu Tatsrib.

Menurut asy-Syaikh al-Albani, bisa juga dikatakan bahwa Ibnu Hazm dan ath-Thahawi termasuk yang menerima hadits ini karena mereka menyebutkan sanadnya tanpa mengkritiknya.

Adapun para ulama yang menganggap lemah hadits ini, di antaranya al-Imam Ahmad dan al-Baihaqi yang mengatakan hadits ini mungkar, juga an-Nawawi yang mengatakan batil, sesungguhnya mereka melemahkan hadits ini dari jalur rantai sanad yang ketiga. Dengan demikian, pendapat yang membolehkan mengakikahi diri sendiri adalah pendapat yang rajih (kuat).

Ini adalah pendapat Atha’, al-Hasan al-Bashri, Ibnu Sirin, asy-Syafi’i, dan salah satu riwayat dari al-Imam Ahmad, dan asy-Syaukani menggantungkan pendapat ini dengan kesahihan hadits. Alhamdulillah, hadits ini sahih. (lihat al-Mufashshal fi Ahkamil Aqiqah hlm. 96)

Al-Hasan rahimahullah mengatakan, “Apabila kamu belum diakikahi, akikahilah dirimu walaupun kamu lelaki.” Kata beliau, ‘walaupun kamu lelaki’ karena ada yang mengkhususkan hukum ini bagi wanita.

Muhammad bin Sirrin rahimahullah mengatakan, “Seandainya aku tahu bahwa aku belum diakikahi, tentu aku akan mengakikahi diriku.” (ash-Shahihah 6/506 qism 1)
Pendapat yang kedua, yang melarang, adalah pendapat Malikiah. Al-Imam Malik sendiri ada beberapa riwayat yang berbeda dalam hal ini. (at-Tamhid , 4/312)\

Sebagian ulama yang cenderung kepada pendapat ini mengatakan bahwa seandainya hadits ini sahih, bisa jadi ini adalah kekhususan bagi beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun, sanggahan seperti ini lemah karena kekhususan itu harus berdasarkan dalil, sementara itu di sini tidak ada dalil yang mengkhususkan hal ini untuk beliau.

  1. Mengakikahi selain hari ketujuh.

Dalam hal ini ada tiga pendapat sebagaimana disebutkan oleh Abu Zurah al-Iraqi dalam kitab Tharhu at-Tatsrib. Namun, dengan mengetahui persoalan pertama, yaitu bolehnya seseorang mengakikahi dirinya, tampak jelas bahwa diperbolehkan mengakikahi setelah hari ketujuh. Walaupun tentu sangat ditekankan untuk melakukannya pada hari ketujuh saat ada kemampuan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كُلُّ غُلاَمٍ رَهِينَةٌ بِعَقِيقَتِهِ تُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ السَّابِعِ

“Tiap anak itu tergadai dengan akikahnya yang disembelih pada hari ketujuh.” (Sahih, HR. Abu Dawud dan yang lain, dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh al-Albani)

Di antara yang berpendapat bolehnya setelah hari ke-7 adalah Ibnu Sirin, asy-Syafi’i, Ibnu Hazm, dan yang lain.

Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Yang tampak, pengaitan akikah dengan hari ketujuh adalah sunnah. Jadi, sah saja apabila menyembelih pada hari ke-4, ke-8, ke-10, atau setelahnya. Penentuan waktu ini adalah untuk penyembelihannya, bukan untuk memasak atau memakannya.” (Tuhfatul Maudud hlm. 76)

Adapun Ibnu Hazm rahimahullah tidak membolehkan sebelum hari ketujuh.
Apakah penyembelihan itu pada hari kapan saja ataukah tiap kelipatan ketujuh?
Tampaknya, kapan saja boleh karena riwayat yang menyebutkan kelipatan ketujuh adalah lemah, sebagaimana telah diterangkan oleh asy-Syaikh al-Albani rahimahullah dalam kitab al-Irwa’ (4/395).

  1. Hanya memiliki satu ekor kambing untuk akikah anak lelaki.

Dalam hal ini hendaknya ia menunggu sampai memiliki dua ekor kambing, dan tidak menyembelih terlebih dahulu kambing yang dia miliki. Hal ini berdasarkan sabda Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam,

عَنِ الْغُلاَمِ شَاتَانِ مُكَافِئَتَانِ

“Untuk anak lelaki dua ekor kambing yang mukafi’ataan.” (Sahih, HR. Abu Dawud dan yang lain, dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh al-Albani rahimahullah)
Mukafi’atan dalam hadits ini ditafsirkan dengan beberapa penafsiran, di antaranya adalah mutaqaribatan, yakni seimbang.

Ada pula yang menafsirkan, ‘disembelih bersamaan’. Dawud bin Qais pernah bertanya kepada Zaid bin Aslam, ia mengatakan, “Aku bertanya kepada Zaid bin Aslam tentang makna mukafi’atan.” Beliau menjawab, “Dua kambing yang mirip, yang disembelih bersama-sama.” (Musykilul Atsar karya ath-Thahawi)

Fatwa al-Lajnah ad-Daimah tentang Akikah Janin yang Gugur dan Bayi yang Meninggal

Pertanyaan :
Janin yang gugur dari kandungan yang telah jelas bahwa dia laki-laki atau perempuan, apakah diakikahi atau tidak? Demikian juga bayi yang terlahir apabila meninggal beberapa hari setelah kelahiran sementara belum diakikahi saat dia hidup, apakah diakikahi setelah kematiannya atau tidak? Apabila telah lewat satu bulan, dua bulan, setengah tahun, satu tahun, atau bahkan lebih dari saat lahirnya bayi dan ia belum diakikahi, apakah diakikahi atau tidak?

Jawab:
Mayoritas para ulama berpendapat bahwa akikah adalah sunnah, berdasarkan apa yang diriwayatkan oleh Ahmad, al-Bukhari, dan Ashhabus Sunan dari Salman bin Amir, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia berkata,

مَعَ الْغُ مَالِ عَقِيْقَةٌ فَأُهْرِيقُوا عَنْهُ دَمًا، وَأَمِيطُوا عَنْهُ الْأَذَى

“Bersama seorang anak itu akikahnya, maka tumpahkan darah untuk (akikahnya) dan hilangkan rambut (kepalanya).”

Demikian pula hadits yang diriwayatkan oleh al-Hasan dari Samurah radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كُلُّ غُ مَالٍ رَهِيْنَةٌ بِعَقِيقَتِهِ تُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ سَابِعِهِ، وَيُحْلَقُ، وَيُسَمَّى

“Tiap anak itu tergadai dengan akikahnya yang disembelih pada hari ketujuh, digundul, dan diberi nama.” (HR. Ahmad dan Ashhabussunan, dan dinyatakan sahih oleh at-Tirmidzi)

Demikian pula hadits itu yang diriwayatkan oleh ‘Amr bin Syuaib dari ayahnya, dari kakeknya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَحَبَّ مِنْكُمْ أَنْ يُنْسِكَ عَنْ وَلَدِهِ فَلْيَفْعَلْ، عَنِ الْغُ مَالِ شَاتَانِ مُكَافِئَتَانِ، وَعَنِ الْجَارِيَةِ شَاةٌ

“Barang siapa di antara kalian ingin mengakikahi anaknya, lakukanlah. Untuk anak laki-lakinya dua ekor kambing yang seimbang dan untuk anak perempuannya satu ekor kambing.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, an-Nasa’i, dengan sanad yang hasan)

Tidak ada akikah untuk janin yang gugur walaupun telah jelas apakah itu laki-laki atau perempuan, apabila gugur sebelum ditiupkan ruh padanya, karena dia tidak disebut anak atau bayi. Adapun akikah disembelih pada hari ketujuh dari kelahiran, apabila janin dilahirkan dalam keadaan hidup, lalu mati sebelum hari ketujuh, maka disunnahkan untuk diakikahi pada hari ketujuh dan diberi nama. Apabila lewat hari yang ketujuh dan belum diakikahi, Sebagian fuqaha berpendapat bahwa tidak disunnahkan untuk diakikahi setelahnya, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menetapkan waktunya pada hari ketujuh.

Sementara itu, ulama mazhab Hanbali dan sekelompok ahli fikih berpendapat bahwa disunnahkan untuk diakikahi walaupun telah lewat satu bulan, satu tahun, atau lebih, dari kelahirannya, berdasarkan keumuman hadits-hadits dan berdasarkan apa yang diriwayatkan al-Baihaqi dari Anas radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengakikahi dirinya setelah kenabian, dan ini pendapat yang lebih hati-hati.

Allah subhanahu wa ta’alalah yang memberi taufik. Semoga shalawat dan salam tercurah kepada nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam n, keluarga, dan para sahabatnya.

Komisi Tetap untuk Kajian Ilmiah dan Fatwa

Ketua: Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz; Wakil: Abdurrazzaq Afifi; Anggota: Abdullah Ghudayyan.

Dijawab oleh al Ustadz Qomar Suaidi