Al-Qahir

Di antara al-Asma’ul Husna adalah al-Qahir ( الْقَاهِرُ ) dan al-Qahhar ( الْقَهّ) ).Nama Allah Subhanahu wata’ala al-Qahir tersebut dalam firman-Nya,

وَهُوَ الْقَاهِرُ فَوْقَ عِبَادِهِ ۚ وَهُوَ الْحَكِيمُ الْخَبِيرُ

“Dan Dialah yang berkuasa atas sekalian hamba-hamba-Nya. Dan Dialah Yang Mahabijaksana lagi Maha Mengetahui.” (al-An’am: 18)

وَهُوَ الْقَاهِرُ فَوْقَ عِبَادِهِ ۖ وَيُرْسِلُ عَلَيْكُمْ حَفَظَةً حَتَّىٰ إِذَا جَاءَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ تَوَفَّتْهُ رُسُلُنَا وَهُمْ لَا يُفَرِّطُونَ

“Dan Dialah yang mempunyai kekuasaan tertinggi di atas semua hamba- Nya, dan diutus-Nya kepadamu malaikatmalaikat penjaga, sehingga apabila datang kematian kepada salah seorang di antara kamu, ia diwafatkan oleh malaikatmalaikat Kami, dan malaikat-malaikat Kami itu tidak melalaikan kewajibannya.” (al-An’am: 61)

Adapun al-Qahhar disebutkan pada enam tempat di dalam al-Qur’anul Karim, di antaranya,

قُلْ مَن رَّبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ قُلِ اللَّهُ ۚ قُلْ أَفَاتَّخَذْتُم مِّن دُونِهِ أَوْلِيَاءَ لَا يَمْلِكُونَ لِأَنفُسِهِمْ نَفْعًا وَلَا ضَرًّا ۚ قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الْأَعْمَىٰ وَالْبَصِيرُ أَمْ هَلْ تَسْتَوِي الظُّلُمَاتُ وَالنُّورُ ۗ أَمْ جَعَلُوا لِلَّهِ شُرَكَاءَ خَلَقُوا كَخَلْقِهِ فَتَشَابَهَ الْخَلْقُ عَلَيْهِمْ ۚ قُلِ اللَّهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ وَهُوَ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ

Katakanlah, “Siapakah Rabb langit dan bumi?” Jawabnya, “Allah.” Katakanlah, “Maka patutkah kamu mengambil pelindung-pelindungmu dari selain Allah, padahal mereka tidak menguasai kemanfaatan dan tidak (pula) kemudaratan atas diri mereka sendiri?” Katakanlah, “Adakah sama orang buta dan yang dapat melihat, atau samakah gelap gulita dan terang benderang; apakah mereka menjadikan beberapa sekutu bagi Allah yang dapat menciptakan seperti ciptaan-Nya sehingga kedua ciptaan itu serupa menurut pandangan mereka?” Katakanlah, “Allah adalah Pencipta segala sesuatu dan Dia-lah Rabb Yang Maha Esa lagi Mahaperkasa.” (ar-Ra’d: 16)

Jadi, Allah Subhanahu wata’ala memiliki sifat al- Qahr yang berarti menundukkan, mengalahkan, dan punya makna mengazab dari atas. Ibnu Jarir rahimahullah mengatakan, “Hanyalah Allah Subhanahu wata’ala mengatakan dalam ayat ( فَوْقَ عِبَادِهِ ) ‘di atas hamba-hamba- Nya’ karena Allah Subhanahu wata’ala menyifati diri-Nya bahwa Ia menundukkan mereka. Di antara sifat sesuatu yang menundukkan yang lain adalah dia berada di atasnya. Karena itu, makna firman-Nya adalah ‘Dan Allah-lah yang mengalahkan hamba-hamba-Nya dan menundukkan mereka’.”

Adapun al – Qahhar adalah bentuk mubalaghah dari kata al-Qahir, bentuk kata yang memberi arti yang lebih dalam pada sifat tersebut. As-Sa’di t menjelaskan, “Al-mQahhar, Yang Maha Menundukkan seluruh alam semesta baik yang atas maupun yang bawah, yang menundukkan segala sesuatu, yang tunduk kepada- Nya seluruh makhluk. Hal itu karena keperkasaan-Nya dan kesempurnaan kemampuan-Nya. Tidaklah sesuatu terjadi, dan tidaklah msesuatu tergerak selain dengan seizin- Nya. Apa yang Dia kehendaki pasti terjadi dan yang tidak Dia kehendaki maka tidak terjadi. Semua makhluk membutuhkan-Nya. Semuanya lemah, tidak memiliki kekuasaan untuk memberi dirinya manfaat ataupun mudharat, kebaikan ataupun kejelekan.

Sifat qahr pada-Nya menunjukkan bahwa Allah Subhanahu wata’ala memiliki sifat hidup, perkasa, dan mampu. Tidak sempurna penundukan-Nya terhadap semua makhluk, kecuali dengan kesempurnaan sifat hidup-Nya, keperkasaan-Nya, dan kemampuan-Nya.” Nama Allah Subhanahu wata’ala al-Qahhar yang terdapat dalam al-Qur’an selalu beriringan dengan nama Allah al-Wahid, Yang Maha Esa. As-Sa’di rahimahullah menjelaskan mhikmahnya, “Sesungguhnya tidak terdapat keesaan bersama dengan sifat menundukkan kecuali hanya milik Allah Subhanahu wata’ala satu-satu-Nya. Sebab, setiap makhluk pasti di atasnya ada makhluk lain yang menundukkannya. Di atas makhluk yang menundukkan itu ada makhluk lain lagi yang menundukkannya dan lebih tinggi darinya.

Penundukan itu berakhir pada Yang Maha Esa lagi Maha Menundukkan. Maha Menundukkan dan Maha Esa adalah dua sifat yang saling terkait dan mesti ada pada Allah Subhanahu wata’ala satu-satu-Nya. Jelaslah dengan dalil aqli bahwa semua yang disembah selain Allah Subhanahu wata’ala tidak punya kemampuan untuk menciptakan makhluk sedikit pun. Karena itu, tidak benar dia diibadahi. (Tafsir Surat ar-Ra’d: 16)

Ibnul Qayyim t juga mengatakan, Al-Qahhar tidak mungkin melainkan hanya satu. Sebab, apabila Dia memiliki tandingan yang sepadan lantas tidak mampu menundukkannya, dia tidak disebut Qahhar (yang menundukkan) secara mutlak. Apabila Dia bisa menundukkannya, tidak ada yang sepadan dengan-Nya, berarti al-Qahhar tidak lain kecuali hanya satu.” (ash-Shawa’iq al-Mursalah, 3/1032 dinukil dari Fiqh al-Asma’ul Husna)

Buah Mengimani Nama al-Qahir dan al-Qahhar

Di antara buahnya adalah ketundukan kita kepada Allah Subhanahu wata’ala. Kita harus menyadari kelemahan kita di hadapan- Nya. Hilangkan kesombongan, sifat congkak, dan takabbur, yang akan membuahkan penentangan terhadap syariat Allah Subhanahu wata’ala dan menolak aturan agama-Nya. Sadari kekurangan dan keterbatasan kemampuan kita, lalu tundukkan diri kita di hadapan-Nya dengan mematuhi segala aturan-Nya. Haturkan penghambaan diri kita kepada-Nya penuh ketundukan dengan menjalankan syariat-Nya. Sifat ini juga menunjukkan bahwa segala sembahan selain Allah Subhanahu wata’ala tidak berhak diibadahi. Sebab, semuanya tunduk di hadapan Allah Yang Mahaperkasa, Yang Mahamulia, dan Yang Maha Menundukkan. Mahatinggi Allah, al- Qahhar.

Ditulis oleh Al-Ustadz Qomar Suaidi, Lc

Al-Fattah

Allah Subhanahu wata’ala adalah al-Fattah. Allah Subhanahu wata’ala menyebutnya sebagai salah satu dari nama-Nya yang agung dalam ayat-Nya,

قُلْ يَجْمَعُ بَيْنَنَا رَبُّنَا ثُمَّ يَفْتَحُ بَيْنَنَا بِالْحَقِّ وَهُوَ الْفَتَّاحُ الْعَلِيمُ

Katakanlah, “Rabb kita akan mengumpulkan kita semua, kemudian Dia memberi keputusan antara kita dengan benar. Dan Dialah Maha Pemberi keputusan lagi Maha Mengetahui.” (Saba’: 26)

Sebenarnya dengan nama-Nya Al- Fattah, berarti Allah Subhanahu wata’ala memiliki sifat al-fath. Kata al-fath itu sendiri memiliki beberapa makna, di antaranya:

1. Membuka, lawan dari menutup, seperti dalam firman-Nya,

حَتَّىٰ إِذَا فَتَحْنَا عَلَيْهِم بَابًا ذَا عَذَابٍ شَدِيدٍ إِذَا هُمْ فِيهِ مُبْلِسُونَ

“Hingga apabila Kami bukakan untuk mereka suatu pintu yang ada azab yang amat sangat (di waktu itulah) tiba-tiba mereka menjadi putus asa.” (al-Mu’minun: 77)

2. Memutuskan, seperti dalam firman-Nya,

رَبَّنَا افْتَحْ بَيْنَنَا وَبَيْنَ قَوْمِنَا بِالْحَقِّ وَأَنتَ خَيْرُ الْفَاتِحِينَ

“Ya Rabb kami, berilah keputusan antara kami dan kaum kami dengan hak (adil), dan Engkaulah Pemberi keputusan yang sebaik-baiknya.” (al-A’raf: 89)

3. Mengirim, seperti dalam firman- Nya,

مَّا يَفْتَحِ اللَّهُ لِلنَّاسِ مِن رَّحْمَةٍ فَلَا مُمْسِكَ لَهَا ۖ وَمَا يُمْسِكْ فَلَا مُرْسِلَ لَهُ مِن بَعْدِهِ ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

“Apa saja yang Allah kirimkan kepada manusia berupa rahmat, tidak ada seorang pun yang dapat menahannya; dan apa saja yang ditahan oleh Allah maka tidak seorang pun yang sanggup untuk melepaskannya sesudah itu. Dan Dia-lah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” (Fathir: 2)

4. Memenangkan, seperti dalam firman-Nya,

وَأُخْرَىٰ تُحِبُّونَهَا ۖ نَصْرٌ مِّنَ اللَّهِ وَفَتْحٌ قَرِيبٌ ۗ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ

“Dan (ada lagi) karunia yang lain yang kamu sukai, (yaitu) pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat (waktunya). Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang beriman.” (ash-Shaf: 13)

Demikian pula firman-Nya,

إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ

“Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan.” (an-Nashr: 1) (Lihat Nuzhatul ‘Aun an-Nawadzir)

As-Sa’di dan al-Harras menjelaskan, Al-Fattah adalah yang menghukumi antara para hamba-Nya dengan hukum- Nya yang syar’i, hukum takdir-Nya, dan hukum pembalasan-Nya. Dengan kelembutan-Nya, Dia membuka penglihatan orang-orang yang jujur serta membuka kalbu mereka untuk mengenal-Nya, mencintai-Nya, dan kembali kepada-Nya. Ia membuka bagi hamba-Nya pintu-pintu rahmat, pintupintu rezeki yang bermacam-macam, serta menetapkan untuk mereka sebab yang mengantarkan mereka memperoleh kebaikan dunia dan akhirat. Pembukaan Allah Subhanahu wata’ala sendiri ada dua macam:

1. Pembukaan dengan hukum agama-Nya dan hukum balasan-Nya.

2. Pembukaan dengan hukum takdir-Nya.

Pembukaan dengan hukum agama- Nya adalah dengan hidayah-Nya kepada para hamba-Nya dan pemberian syariat kepada mereka melalui lisan para rasul- Nya dalam segala hal yang berkaitan dengan kebutuhan mereka, yang dengannya mereka dapat istiqamah di atas jalan-Nya yang lurus. Adapun pembukaan dengan hukum balasannya ialah keputusan-Nya dan pemenangan-Nya untuk para nabi- Nya dan pengikut mereka, dengan memuliakan dan menyelamatkan mereka, serta penghinaan dan hukuman yang ditimpakan atas musuh-musuh mereka. Termasuk dalam hal ini adalah keputusan- Nya di antara para hamba-Nya pada hari kiamat, saat setiap insan memperoleh balasan dari amalannya, baik berupa kebaikan maupun keburukan. Adapun pembukaan-Nya dengan hukum takdir-Nya adalah apa yang Ia takdirkan atas hamba-hamba-Nya, baik berupa kebaikan maupun keburukan, manfaat maupun mudarat, pemberian maupun penghalangan. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

مَّا يَفْتَحِ اللَّهُ لِلنَّاسِ مِن رَّحْمَةٍ فَلَا مُمْسِكَ لَهَا ۖ وَمَا يُمْسِكْ فَلَا مُرْسِلَ لَهُ مِن بَعْدِهِ ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

“Apa saja yang Allah kirimkan kepada manusia berupa rahmat, tidak ada seorang pun yang dapat menahannya; dan apa saja yang ditahan oleh Allah maka tidak seorang pun yang sanggup untuk melepaskannya sesudah itu. Dia-lah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” (Fathir: 2)

Maka dari itu, Allah-lah Al-Fattah. Dengan inayah-Nya, terbuka seluruh yang tertutup. Dengan hidayah-Nya, tersingkap seluruh yang musykil. Seluruh kunci urusan gaib dan rezeki berada di tangan-Nya. Dia pula yang membuka perbendaharaan kedermawanan-Nya untuk para hamba-Nya yang taat. Dia juga yang membuka hal yang sebaliknya untuk musuh-musuh-Nya, dengan keutamaan dan keadilan-Nya. (Lihat Tafsir Asma’illahil Husna dan Syarh Nuniyah)

Buah Mengimani Nama Allah al-Fattah

Dengan mengimani nama Allah Al-Fattah, kita semakin mengetahui kekuasaan Allah Subhanahu wata’ala dan kebesaran-Nya. Hanya di tangan-Nyalah kemenangan. Oleh karena itu, kepada-Nya juga kita berdoa untuk mendapatkan kemenangan. Hanya kepada-Nya juga kita bertawakal untuk memperoleh kemenangan, tidak pada hasil usaha kita, banyaknya jumlah kita, atau kecanggihan teknologi kita. Dalam urusan rezeki pun demikian, hanya kepada-Nya kita mengharap. Di tangan-Nyalah perbendaharaan langit dan bumi, dan Dialah yang mengaturnya; membuka atau menutupnya. Maka dari itu, jangan sekali-kali seseorang mencari pesugihan dari para makhluk, sebagaimana yang dilakukan oleh sebagian orang dengan mengunjungi tempattempat tertentu dan melakukan ritual khusus demi mendapatkan kekayaan. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

إِنَّمَا تَعْبُدُونَ مِن دُونِ اللَّهِ أَوْثَانًا وَتَخْلُقُونَ إِفْكًا ۚ إِنَّ الَّذِينَ تَعْبُدُونَ مِن دُونِ اللَّهِ لَا يَمْلِكُونَ لَكُمْ رِزْقًا فَابْتَغُوا عِندَ اللَّهِ الرِّزْقَ وَاعْبُدُوهُ وَاشْكُرُوا لَهُ ۖ إِلَيْهِ تُرْجَعُونَ

“Sesungguhnya apa yang kalian sembah selain Allah itu adalah berhala, dan kalian membuat dusta. Sesungguhnya yang kalian sembah selain Allah itu tidak mampu memberikan rezeki kepada kalian, maka mintalah rezeki itu di sisi Allah. Sembahlah Dia dan bersyukurlah kepada- Nya. Hanya kepada-Nya lah kalian akan dikembalikan.” (al-Ankabut: 17)

Dalam urusan nasib, mintalah hanya kepada Allah Subhanahu wata’ala akan kebaikan nasib kita di dunia dan akhirat, karena di tangan-Nyalah segala keputusan. Wallahu a’lam.

Ditulis oleh Al-Ustadz Qomar Suaidi, Lc.

Al-Ghani

Al-Ghani adalah salah satu dari al-Asma’ul Husna. Sebuah nama yang menunjukkan kesempurnaan-Nya dan keagungan- Nya. Dialah al-Ghani, Yang Mahakaya, Maha cukup, dan tidak membutuhkan siapa pun dan apa pun. Nama ini tercantum dalam beberapa ayat al-Qur’an dan hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ ۖ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ {} إِن يَشَأْ يُذْهِبْكُمْ وَيَأْتِ بِخَلْقٍ جَدِيدٍ {} وَمَا ذَٰلِكَ عَلَى اللَّهِ بِعَزِيزٍ

“Hai manusia, kamulah yang membutuhkan kepada Allah dan Allah Dialah Yang Mahakaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji. Jika Dia menghendaki, niscaya Dia memusnahkan kamu dan mendatangkan makhluk yang baru (untuk menggantikan kamu). Dan yang demikian itu sekali-kali tidak sulit bagi Allah.” (Fathir: 15—17)

لَّهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۗ وَإِنَّ اللَّهَ لَهُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ

“Kepunyaan Allah-lah segala yang ada di langit dan segala yang ada di bumi. Dan sesungguhnya Allah benar benar Mahakaya lagi Maha Terpuji.” (al-Hajj: 64)

قَالُوا اتَّخَذَ اللَّهُ وَلَدًا ۗ سُبْحَانَهُ ۖ هُوَ الْغَنِيُّ ۖ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ

Mereka (orang-orang Yahudi dan Nasrani) berkata, “Allah mempuyai anak.” Mahasuci Allah. Dia-lah Yang Mahakaya; kepunyaan-Nya apa yang ada di langit dan apa yang di bumi. (Yunus: 68)

Di antara doa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dalam istisqa’ (meminta hujan) adalah,

اللَّهُمَّ أَنْتَ اللهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ الْغَنِيُّ وَنَحْنُ الْفُقَرَاءُ، أَنْزِلْ عَلَيْنَا الْغَيْثَ

“Ya Allah, Engkaulah Allah, tiada sesembahan yang benar selain Engkau, Engkaulah yang Mahakaya sedangkan kami orang-orang miskin yang membutuhkan. Turunkanlah kepada kami hujan….” (HR. Abu Dawud dan Ibnu Hibban)

Asy-Syaikh Muhammad Khalil Harras menerangkan, “Di antara nama-nama Allah Subhanahu wata’ala adalah al-Ghani. Maknanya, Allah Subhanahu wata’ala memiliki kecukupan yang sempurna dan mutlak dari segala

sisinya. Kecukupan-Nya sama sekali tidak ternodai oleh sifat miskin dan membutuhkan. Sifat kecukupan dan kekayaan-Nya tidak mungkin lepas dari- Nya, karena sifat ini adalah konsekuensi dari Dzat-Nya, dan sifat yang terkait dengan Dzat-Nya tidak mungkin hilang.

Maka dari itu, tidak mungkin bagi Allah Subhanahu wata’ala kecuali sebagai Dzat Yang Mahacukup dan Mahakaya. Demikian pula, tidak mungkin bagi-Nya kecuali bersifat Dermawan, Pengasih, Baik, Penyayang, dan Pemurah. Sebagaimana kekayaan Allah Subhanahu wata’ala itu tidak terlepas dari Dzat-Nya, tidak mungkin pula menimpa-Nya sesuatu yang berlawanan dengannya baik kehinaan maupun rasa membutuhkan. Demikian pula kebutuhan para makhluk kepada-Nya, itu adalah kebutuhan yang bersifat dzati yang tidak mungkin sifat kebutuhannya hilang darinya walaupun sesaat saja. Makhluk senantiasa butuh kepada-Nya dalam hal keberadaan dan

eksistensinya, juga dalam segala hal kebutuhannya. Di antara luasnya kekayaan-Nya, bahwa perbendaharaan langit dan bumi semuanya berada di tangan-Nya, Allah Subhanahu wata’ala salurkan darinya sekehendak-Nya dan bahwa pemberian nikmat-Nya senantiasa berkesinambungan terus mengalir, tidak terputus walau sesaat sebagaimana tersebut dalam sebuah hadits,

يَمِينُ اللهِ مَلْأَى لاَ يَغِيضُهَا نَفَقَةٌ سَحَّاءُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ، أَرَأَيْتُمْ مَا أَنْفَقَ مُنْذُ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ فَإِنَّهُ لَمْ يَنْقُصْ مَا فِي يَمِينِهِ

“Sesungguhnya tangan kanan Allah Subhanahu wata’ala penuh, selalu memberi, malam dan siang, tidak menguranginya pemberian apa pun. Tidakkah engkau mengetahui apa yang Allah Subhanahu wata’ala berikan sejak Dia ciptakan langit-langit dan bumi? Sungguh, itu tidak mengurangi sedikit pun apa yang ada di tangan-Nya.” (Sahih, HR. al-Bukhari dan Muslim)

Di antara kesempurnaan kekayaan dan kemurahan-Nya, Allah Subhanahu wata’ala bentangkan tangan-Nya untuk mengijabahi doadoa bagi mereka yang berdoa, Allah Subhanahu wata’ala penuhi kebutuhannya, Allah Subhanahu wata’ala angkat kesulitannya, tidak pernah kesal dengan rengekan makhluk-makhluk yang meminta. Bahkan, Allah Subhanahu wata’ala murka kepada siapa yang tidak meminta kepada- Nya. Dia berikan kepada hamba-Nya apa yang mereka minta dan yang tidak mereka minta. Dalam hadits qudsi, Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

يَا عِبَادِي لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ قَامُوا فِي صَعِيدٍ وَاحِدٍ فَسَأَلُونِي فَأَعْطَيْتُ كُلَّ إِنْسَانٍ مَسْأَلَتَهُ مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِمَّا عِنْدِي إِلاَّ كَمَا يَنْقُصُ الْمِخْيَطُ إِذَا أُدْخِلَ الْبَحْرَ

“Wahai hamba-Ku, andai yang pertama hingga yang terakhir di antara kalian, bangsa manusia dan bangsa jin dari kalian, mereka berdiri pada satu hamparan lalu semuanya berdoa dan meminta kepada-Ku lalu Ku-kabulkan permintaan masing-masing, hal itu tidak mengurangi dari apa yang di sisi-Ku kecuali seperti jarum yang dicelupkan ke dalam lautan.” (Sahih, HR. Muslim)

Di antara kecukupan-Nya sehingga tidak membutuhkan kepada makhluk-Nya, bahwa Allah Subhanahu wata’ala tidak menjadikan bagi diri-Nya istri ataupun anak. Tiada serikat bagi-Nya dalam kerajaan-Nya, tidak pula memerlukan penolong karena terhina, karena Dia Mahakaya, Mahacukup, Maha Tidak Membutuhkan, yang telah sempurna segala sifat-sifat-Nya. Bahkan Dia pula yang mencukupi segala makhluk-Nya. (Syarah Nuniyyah) Di antara kesempurnaan kekayaan- Nya, serta keluasan pemberian-Nya adalah apa yang Ia hamparkan untuk penghuni rumah kemuliaan-Nya (surga), berupa kenikmatan, kelezatan yang terus-menerus, kebaikan yang berkesinambungan, serta nikmat-nikmat yang tidak pernah terlihat oleh mata, tak pernah terdengar oleh telinga, dan tidak pernah tebersit dalam kalbu seseorang. (as-Sa’di, Tafsir Aasma’illah Al-Husna)

Al-Halimi rahimahullah juga menjelaskan, “Dialah Yang Mahasempurna dengan apa yang dimiliki-Nya dan yang ada pada-Nya, dengan itu ia tidak butuh kepada yang lain. Allah Rabb kita yang Mahaagung pujian-Nya dengan sifat-Nya yang seperti ini, karena sifat ‘memerlukan’ merupakan suatu kekurangan, dan sesuatu yang membutuhkan berarti lemah disebabkan apa yang dia butuhkan sampai ia mendapatkan apa yang dibutuhkan. Sementara itu, sesuatu yang dibutuhkan memiliki jasa baginya dengan adanya sesuatu yang tidak dimiliki oleh yang membutuhkan. Kekurangan semacam ini tidak ada pada-Nya Yang Maha Terdahulu dalam keadaan bagaimana pun, kelemahan juga tidak mungkin ada pada-Nya.

Tidak mungkin juga bagi siapa pun akan memiliki jasa terhadap-Nya, karena semua selain-Nya adalah makhluk-Nya, ciptaan yang Ia ciptakan, tidak memiliki urusan Allah rahimahullah sedikit pun. Bahkan, makhluk-Nyalah yang tercipta seperti kehendak-Nya. Dia yang mengaturnya. Dengan demikian, tidak terbayang bahwa makhluk-Nya akan memiliki jasa terhadap-Nya.” (al-Baihaqi, dalam kitab al-Asma’ was Shifat)

Buah Mengimani Nama Allah al-Ghani

Betapa bahagianya kita, saat Allah Subhanahu wata’ala memberikan kepada kita taufik-Nya untuk hanya beribadah kepada-Nya, karena sesembahan kita Mahakaya, takkan merugi seseorang yang Tuhannya Maha kaya. Hal ini membuat kita sebagai hamba-Nya tidak berputus asa dalam meminta dan berdoa. Allah Subhanahu wata’ala bahkan memerintahkan kita untuk meminta-Nya dan menjanjikan untuk mengijabahinya, baik permintaan duniawi maupun ukhrawi. Saat kita bersalah lalu meminta ampunan-Nya, dengan kemurahan-Nya, Dia akan memberikan maaf-Nya. Saat kita terdesak kebutuhan, Dialah tujuan kita dalam meminta, niscaya Dia akan berikan. Dia tidak meminta sesuatu kepada kita berupa imbalan apa pun, hanya saja merupakan kewajiban kita untuk menunaikan hak-Nya, dengan beribadah hanya kepada-Nya. Namun, perlu diingat, tentu tidak semua doa akan dikabulkan oleh Allah Subhanahu wata’ala. Hanya doa-doa yang baik dan terpenuhi syaratnya serta selamat dari segala penghalang terkabulnya. Terkadang Allah Subhanahu wata’ala mengabulkannya nanti di akhirat, atau dengan menghindarkan kejelekan yang senilai dengan apa yang dia minta. Dengan mengimani nama ini, kita juga menyadari kelemahan sesembahansesembahan selain Allah Subhanahu wata’ala yang tidak memiliki apa pun. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

يُولِجُ اللَّيْلَ فِي النَّهَارِ وَيُولِجُ النَّهَارَ فِي اللَّيْلِ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ كُلٌّ يَجْرِي لِأَجَلٍ مُّسَمًّى ۚ ذَٰلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمْ لَهُ الْمُلْكُ ۚ وَالَّذِينَ تَدْعُونَ مِن دُونِهِ مَا يَمْلِكُونَ مِن قِطْمِيرٍ {} إِن تَدْعُوهُمْ لَا يَسْمَعُوا دُعَاءَكُمْ وَلَوْ سَمِعُوا مَا اسْتَجَابُوا لَكُمْ ۖ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يَكْفُرُونَ بِشِرْكِكُمْ ۚ وَلَا يُنَبِّئُكَ مِثْلُ خَبِيرٍ {} يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ ۖ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ

“Yang (berbuat) demikian itulah Allah Rabbmu, kepunyaan-Nyalah kerajaan. Dan orang-orang yang kamu seru (sembah) selain Allah tiada mempunyai apa-apa walaupun setipis kulit ari pada biji kurma. Jika kamu menyeru mereka, mereka tiada mendengar seruanmu; dan kalau mereka mendengar, mereka tidak dapat memperkenankan permintaanmu. Dan di hari kiamat mereka akan mengingkari kesyirikanmu dan tidak ada yang dapat memberi keterangan kepadamu sebagai yang diberikan oleh Yang Maha Mengetahui. Hai manusia, kamulah yang butuh kepada Allah; dan Allah Dialah Yang Mahakaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji.” (Fathir: 13—15)

Jika demikian keadaan sesembahan selain Allah Subhanahu wata’ala, lantas atas dasar apa mereka diibadahi? Ia tidak memiliki apaapa, maka tidak berhak diibadahi sama sekali. Sungguh merugi seseorang yang tuhannya semacam ini. Ya, rugi dunia akhirat dan itulah kerugian yang nyata.

Ditulis oleh Al-Ustadz Qomar Suaidi

Al-Aliim

Al-‘Alim الْعَلِيمُadalah salah satu al-Asmaul Husna. Nama yang mulia ini tersebut dalam banyak ayat dan hadits, di antaranya adalah firman Allah Subhanahu wata’ala,

ذَٰلِكَ لِتَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَأَنَّ اللَّهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

“(Allah menjadikan hal) itu agar kamu tahu, sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi, dan sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (al-Maidah: 97)

إِذْ قَالَتِ امْرَأَتُ عِمْرَانَ رَبِّ إِنِّي نَذَرْتُ لَكَ مَا فِي بَطْنِي مُحَرَّرًا فَتَقَبَّلْ مِنِّي ۖ إِنَّكَ أَنتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

“(Ingatlah), ketika istri ‘Imran berkata, “Ya Rabbku, sesungguhnya aku menazarkan kepada Engkau anak dalam kandunganku menjadi hamba yang saleh dan berkhidmat (di BaitulMaqdis). Oleh karena itu, terimalah (nazar) itu dariku. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Ali Imran: 35)

Adapun dalam hadits, di antaranya dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata,

كَانَ النَّبِىُّ صل الله عليه وسلم يَقُولُ عِنْدَ الْكَرْبِ: لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ الْعَلِيمُ الْحَلِيمُ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَرَبُّ الْأَرْضِ رَبُّ الْعَرْشِ الْكَرِيم

“Di saat kesusahan, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam mengucapkan (yang artinya),“Tiada sesembahan yang benar selain Allah Yang Maha Berilmu, Yang Maha Penyabar, tiada sesembahan yang benar selain Allah, Rabb Arsy yang agung, tiada sesembahan yang benar selain Allah, Rabb langit-langit, Rabb bumi, dan Rabb Arsy yang mulia.” (Sahih, HR. al-Bukhari)

Ibnul Qayyim t berkata,

Dialah Yang Maha Berilmu, ilmu-Nya meliputi segala yang berada di alam baik yang tersembunyi maupun yang tampak

Dalam segala sesuatu ada ilmu-Nya, Yang Maha suci

Dialah yang meliputi segala sesuatu dan tidak memiliki sifat lupa

Dan Dia mengetahui apa yang akan terjadi besok, dan apa yang telah terjadi

Serta yang sedang terjadi pada waktu ini.

Juga, Ia mengetahui urusan yang belum terjadi

Seandainya terjadi, bagaimana terjadinya sesuatu yang mungkin tersebut.

Asy-Syaikh Muhammad Khalil Harras menerangkan ucapan Ibnul Qayyim di atas, “Ini adalah penjelasan yang paling bagus dan paling lengkap tentang asma Allah al-‘Alim. Beliau menyebutkan cakupan ilmu Allah Subhanahu wata’ala atas segala hal yang dapat diketahui, baik yang wajib (harus ada), yang mumtani’ (tidak mungkin ada/terjadi), atau yang mumkinat (mungkin ada).

Adapun yang wajib ada, sesungguhnya Ia mengetahui diri Dzat-Nya yang mulia, sifat-sifat-Nya yang suci, yang menurutakal tidak mungkin tidak ada pada Zat Allah Subhanahu wata’ala, bahkan wajib ada dan tetap pada-Nya.

Adapun yang mumtani’ (tidak mungkin ada/terjadi), maka Allah Subhanahu wata’ala Maha Mengetahui saat tidak terjadinya. Allah Subhanahu wa ta’ala juga mengetahui akibat dari adanya atau terjadinya seandainya hal itu terjadi. Contohnya, Allah Subhanahuwata’ala mengabarkan akibat dari adanya tuhan-tuhan yang lain bersama-Nya dalam firman-Nya,

لَوْ كَانَ فِيهِمَا آلِهَةٌ إِلَّا اللَّهُ لَفَسَدَتَا ۚ فَسُبْحَانَ اللَّهِ رَبِّ الْعَرْشِ عَمَّا يَصِفُونَ

“Sekiranya ada di langit dan di bumi sesembahan-sesembahan selain Alah, tentulah keduanya itu telah rusak binasa. Maka Maha suci Allah yang mempunyai ‘Arsy dari apa yang mereka sifatkan.” (al-Anbiya: 22)

Ini adalah kerusakan yang tidak terjadi. Sebab, hal itu adalah akibat dari sesuatu yang mustahil, yaitu adanya sesembahan lain bersama Allah Subhanahu wata’ala. Apabila hal yang mustahil ini terjadi, akan terjadi pula kerusakan tersebut, seperti firman Allah Subhanahu wata’ala yang lain,

مَا اتَّخَذَ اللَّهُ مِن وَلَدٍ وَمَا كَانَ مَعَهُ مِنْ إِلَٰهٍ ۚ إِذًا لَّذَهَبَ كُلُّ إِلَٰهٍ بِمَا خَلَقَ وَلَعَلَا بَعْضُهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ ۚ سُبْحَانَ اللَّهِ عَمَّا يَصِفُونَ

“Allah sekali-kali tidak mempunyai anak, dan sekali-kali tidak ada tuhan (yang lain) beserta-Nya, kalau ada tuhan beserta-Nya, setiap tuhan itu akan membawa makhluk yang diciptakannya, dan sebagian dari tuhan-tuhan itu akan mengalahkan sebagian yang lain. Maha suci Allah dari apa yang mereka sifatkan itu.” (al-Mu’minun: 91)

Perginya setiap tuhan dengan ciptaannya dan sebagian tuhan-tuhan itu akan mengalahkan yang lain adalah akibat adanya sesembahan yang lain bersama Allah Subhanahu wata’ala. Dan ini adalah sebuah hal yang mustahil. Apabila hal ini terjadi, tentu akibatnya juga akan terjadi.

Ini adalah pemberitaan dari-Nya -dalam bentuk pengandaian- tentang sesuatu yang muncul akibat dari adanya sesembahan-sesembahan selain Allah Subhanahu wata’ala, seandainya hal itu terjadi.

Adapun hal-hal yang mungkin terjadi (mumkinat), yaitu yang mungkin menurut akal terjadinya atau tidak terjadinya, Allah Subhanahu wata’ala mengetahui apa yang ada dan apa yang tidak ada, yang terjadi dan yang tidak, dari hal-hal yang hikmah Allah Subhanahu wata’ala menuntut tidak terjadinya. Ilmu-Nya mencakup seluruh alam semesta, yang atas dan yang bawah. Tiada suatu tempat atau waktu pun yang lepas dari ilmu Allah Subhanahu wata’ala. Ia mengetahui yang gaib dan yang tampak, yang lahir dan yang batin, serta yang jelas dan yang tersembunyi.

Ilmu-Nya tidak ditimpa oleh kelalaian atau kelupaan, sebagaimana firman-Nya yang menceritakan ucapan Musa ‘alaihis salam,

قَالَ عِلْمُهَا عِندَ رَبِّي فِي كِتَابٍ ۖ لَّا يَضِلُّ رَبِّي وَلَا يَنسَى

“Musa menjawab, “Pengetahuan tentang itu ada di sisi Rabbku, di dalam sebuah kitab, Rabb kami tidak akan salah dan tidak (pula) lupa.” (Thaha: 52)

Demikian pula, ilmu-Nya meliputi seluruh alam semesta yang atas dan yang bawahnya berikut segala makhluk yang ada beserta zatnya, sifatnya, perbuatannya, serta seluruh urusannya. Allah Subhanahu wata’ala juga tahu apa yang telah terjadi dan apa yang akan terjadi, yang tiada ujungnya. Allah Subhanahu wata’ala mengetahui apa yang tidak terjadi, pun seandainya terjadi -yakni apabila hal itu ditakdirkan terjadi- Ia tahu bagaimana cara terjadinya.

Allah Subhanahu wata’ala juga tahu keadaan para mukallaf sejak Dia menciptakan mereka, setelah mewafatkan mereka, dan setelah menghidupkan mereka kembali. Ilmu-Nya telah mencakup perbuatan mereka seluruhnya, yang baik dan yang buruk, serta balasan atas amal-amal tersebut beserta perincian hal tersebut di negeri kekal abadi.

Adapun dalil aqli atas ilmu Allah Subhanahu wata’ala ada beberapa hal.

1. Adalah mustahil untuk mengadakan/menciptakan sesuatu tanpa ilmu. Sebab, Allah Subhanahu wata’ala menciptakan sesuatu dengan kehendak-Nya, dan kehendak-Nya terhadap sesuatu mengandung pengetahuan terhadap apa yang dikehendaki-Nya, seperti firman Allah Subhanahu wata’ala,

أَلَا يَعْلَمُ مَنْ خَلَقَ وَهُوَ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ

 “Apakah Allah yang menciptakan itu tidak mengetahui; dan Dia Maha halus lagi Maha Mengetahui?” (al-Mulk: 14)

2. Kekokohan, kedetailan, keajaiban ciptaan, dan kecermatan dalam penciptaan yang ada pada makhluk-makhluk, ini menjadi bukti bahwa Penciptanya sangat berilmu, karena secara kebiasaan tidak mungkin itu semua terjadi dari selain Dzat yang tidak berilmu.

3. Di antara makhluk ada yang berilmu, dan ilmu adalah sifat kesempurnaan. Seandainya Allah Subhanahu wata’ala tidak berilmu, berarti ada di antara makhluk ada yang lebih sempurna dari-Nya.

4. Ilmu yang ada pada makhluk sesungguhnya berasal dari Penciptanya. Dengan demikian, Pemberi kesempurnaan itu lebih berhak menyandang kesempurnaan tersebut, karena sesuatu yang tidak memiliki tidak mungkin bisa memberi. (Syarah Nuniyyah, 2/73-75)

Buah Mengimani Nama Allah al-Aliim

Di antara buahnya adalah mengetahui keagungan Allah Subhanahu wata’ala, Dia mengetahui  segala sesuatu sampai hal-hal yang terkecil, baik yang di dasar lautan maupun yang di dalam bumi, juga yang ada dalam lubuk hati. Bagaimanapun amal dan ucapan kita, Allah Maha Mengetahuinya. Tentu hal ini menuntut kita semua untuk takut kepada-Nya dalam segala keadaan dan di setiap tempat. Walaupun kita melakukannya di malam hari, di tempat yang gelap dan sepi, Allah Subhanahu wata’ala sangat mengetahuinya.

Ingatlah bahwa balasan Allah Subhanahu wata’ala sudah menanti. Rahmat Allah Subhanahu wata’ala dan taufik-Nya selalu kita harapkan agar Dia selalu membimbing kita ke jalan yang lurus. Wallahul muwaffiq.

Oleh : al Ustadz Qomar Suadi, Lc.