Amirul Mukminin Umar bin al-Khaththab (7) : Tindakan Pertama

Tindakan Pertama

Khalifah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ash- Shiddiq radhiallahu ‘anhu telah berangkat menyusul kekasihnya yang sangat dicintainya, Abul Qasim Muhammad bin ‘Abdullah bin ‘Abdul Muththalib shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tak lama setelah itu, ‘Umar bin al-Khaththab dibai’at sebagai pengganti beliau.

Nun di seberang sahara yang membara, di balik bukit-bukit cadas dan lembah berbatu, pasukan muslimin yang dipimpin Khalid bin al-Walid, Si Pedang Allah itu sedang menyabung nyawa menyebarkan dan membela agama Allah. Satu demi satu tanah Arab yang menjadi jajahan Romawi telah dibebaskan. Sampai akhirnya mereka berhasil dengan gemilang meluluhlantakkan pasukan salibis di Yarmuk.

Yarmuk, menjadi saksi bisu sejarah kepahlawanan orang-orang yang jujur dalam ber-Islam. Meskipun mereka baru saja meninggalkan kejahiliahan, ternyata tidak rela tertinggal menuju surga.

Salah seorang dari mereka berkata,

“Di dunia kita dikalahkan oleh mereka (yang terlebih dahulu masuk Islam, –ed.). Di akhirat kita berdesakan dengan mereka di surga.”

Allahu Akbar.

Dan itu, telah mereka buktikan. Inilah murid-murid sejati Muhammad bin ‘Abdullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Manusia Agung yang mengemban risalah Pencipta dan Penguasa langit dan bumi untuk seluruh manusia dan jin.

Hampir dua ratus ribu tentara salibis yang terkenal dengan keahlian mereka dalam berperang, bertubuh tegap dan lengkap dengan persenjataan serta perbekalannya, tanpa ampun harus merasakan sakitnya dicabik-cabik pedang-pedang tentara Allah subhanahu wa ta’ala. Kekalahan tragis itu hanya menyisakan dendam berkarat di dada anak cucu Nasrani, kecuali yang dirahmati Allah subhanahu wa ta’ala.

Tidak ada gunanya latihan militer yang mereka jalankan selama ini. Semua tumpul di hadapan hati-hati yang membaja dengan keimanan sempurna kepada Penguasa langit dan bumi.

Mari, kita kenang kembali, bagaimana pemuda Bani Makhzum yang belum lama masuk Islam. Dahulu, di masa remajanya, dia beranjak dewasa bahu membahu bersama bapaknya menjadi petaka bagi kaum muslimin. Penentang nomor satu dakwah yang disampaikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bahkan, bapaknya harus puas menerima gelar Fir’aun umat ini.

Betul, dia adalah ‘Ikrimah bin Abi Jahl ‘Amr bin Hisyam al-Makhzumi radhiallahu ‘anhu. Di tengah-tengah berkecamuknya pertempuran yang tidak sebanding jumlah kedua kubu yang berhadapan itu, ‘Ikrimah menarik kekang kudanya ke depan dan berseru, “Siapa yang mau berbai’at untuk mati syahid, hari ini?!!”

Dua ratus lebih prajurit muslim yang meyakini angin surga sedang bertiup di bumi Yarmuk menyambut tantangan satria tersebut.

Derap ratusan kuda yang dipimpin ‘Ikrimah menerjang ke tengah musuh yang berjumlah dua ratus ribuan orang itu. Pekik Allahu Akbar menggema diiringi ringkik kuda dan dentingan pedang yang beradu.

Satu demi satu mereka jatuh ke bumi, setelah membuat pasukan musuh benar-benar harus menelan pil pahit di hari itu.

Yarmouk

Nun, di kota suci, Khalifah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat setelah mengukuhkan ‘Umar sebagai penggantinya. ‘Umar tidak menunda-nunda menjalankan tugasnya. Setelah menjadi khalifah, yang pertama dikerjakan beliau adalah memberhentikan Khalid bin al-Walid radhiallahu ‘anhu dari jabatan panglima kaum muslimin dan mengangkat Abu ‘Ubaidah bin al-Jarrah radhiallahu ‘anhu sebagai penggantinya.

Ada yang berpendapat bahwa langkah ini sangat tepat. Alasan mereka, ‘Umar dan Khalid sama-sama memiliki sifat keras dan tegas, sedangkan Abu ‘Ubaidah berwatak lembut dan mudah. Karena itu, ‘Umar melihat, watak kerasnya harus ada yang mengimbangi dan menahannya. Beliau melihat Abu ‘Ubaidah radhiallahu ‘anhu adalah yang tepat untuk itu.

Ada pula yang menceritakan bahwa pemecatan Khalid dari kedudukannya sebagai panglima adalah upaya Amirul Mukmin memangkas akar-akar fanatisme jahiliah di hati kaum muslimin. Beliau khawatir, kaum muslimin terfitnah karena mereka selalu berhasil mengalahkan musuh jika dipimpin oleh Khalid. Oleh karena itu, demi menjaga keutuhan tauhid dan tawakal mereka kepada Allah, Amirul Mukminin memecat Khalid untuk menanamkan keyakinan kepada kaum muslimin, bahwa Allah subhanahu wa ta’ala lah yang memberi kemenangan itu, sama sekali bukan karena kelihaian dan kejeniusan Khalid dalam menjalankan taktik perang.

Diriwayatkan bahwa Amirul Mukminin menegaskan, “Aku memecat Khalid bukan karena dia lemah atau khianat, melainkan karena khawatir kaum muslimin terfitnah. Karena itu, aku ingin mereka menyadari bahwa semua (kemenangan) ini adalah Allah yang mengaturnya.”

Ada beberapa versi yang menerangkan peristiwa tersebut. Sebagian ahli sejarah menyebutkan bahwa kurir dari Madinah menyerahkan surat Amirul Mukminin langsung kepada Abu ‘Ubaidah, tetapi oleh Abu ‘Ubaidah dia disuruh diam dan menunggu sampai keadaan tenang. Setelah keadaan agak tenang, pasukan beristirahat, Abu ‘Ubaidah menemui kurir tersebut dan membaca surat yang dibawanya.

Abu ‘Ubaidah meminta kepada kurir itu agar tidak menceritakan isi surat tersebut kepada siapapun sampai keadaan benar-benar tenang, agar pencopotan Khalid tidak membuat goyah semangat tempur kaum muslimin.

Yang lain berpendapat bahwa surat itu sampai ke tangan Khalid, kemudian beliau mendoakan kebaikan untuk Amirul Mukminin. Kata Khalid, “Aku tidak berperang karena ‘Umar, tetapi karena Allah.” Kemudian, dia menemui Abu ‘Ubaidah untuk menyerahkan surat tersebut.

Begitu bertemu, beliau langsung memberi salam penghormatan sebagai prajurit biasa kepada panglima. Abu ‘Ubaidah tentu saja kaget menerima penghormatan itu, kemudian dia membaca surat yang diserahkan oleh Khalid.

Keadaan tetap tenang, seakan-akan tidak ada kejadian apapun dalam barisan kaum muslimin.

Khalid tetap bertempur dengan penuh semangat untuk mencari syahid. Dia merasa yakin, apapun kedudukannya, di manapun posisinya dia adalah tentara Allah. Sebelum itu, dia sebagai panglima, tetapi juga prajurit, bertempur sengit menerjang musuh untuk meraih syahid. Adapun sekarang, dia adalah prajurit biasa tetapi juga panglima.

Ya, dia panglima meskipun statusnya adalah prajurit biasa, karena dia tetap memimpin pasukan muslimin dengan memberikan saran dan arahan serta taktik yang jitu kepada panglima baru. Bahkan, diriwayatkan bahwa beliau berkata, “Segala puji milik Allah yang menetapkan aku mencintai Amirul Mukminin.”

Ketika dalam keadaan terbaring menjemput maut, Khalid ditanya, “Siapa yang engkau wasiatkan mengurusi anak-anakmu?”

“Amirul Mukminin ‘Umar bin al- Khathathab,” jawab beliau. Wallahu a’lam.

(insya Allah bersambung)

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Muhammad Harits

Amirul Mukminin Umar bin al-Khaththab (6)

Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu mengatakan, “Islamnya ‘Umar adalah pembukaan, hijrahnya adalah kemenangan, dan kepemimpinannya adalah rahmat.” Pada edisi yang lalu telah dinukil sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mengisyaratkan bahwa ‘Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu tidaklah meninggal dunia kecuali setelah dia meletakkan segala sesuatunya pada tempatnya. Pada edisi ini, kita akan menelusuri sebagian liku-liku kehidupan beliau yang sarat dengan keteladanan, terkhusus bagi para penguasa sepeninggal beliau.

Sungguh, apabila dikenang sikap tegas dalam memegang kebenaran, ‘Umar pasti disebut-sebut. Jika diingat keadilan dalam memutuskan dan bersikap, nama ‘Umar pasti diingat. Setiap kali kita menyebut kasih sayang kepada orangorang yang lemah dan miskin, beliaulah contoh nyata dalam tindakan. Kalau kita bangga dengan berbagai penaklukan dan pembebasan, beliaulah pahlawan.

Semua kebaikan ada padanya. Pria yang tidak pernah duduk di madrasah atau kursus ilmu-ilmu sosial, politik, dan pemerintahan ini, ternyata mampu menjadi penguasa sepertiga belahan dunia. Sepuluh tahun memegang kendali urusan kaum muslimin, baik bangsa Arab maupun ajamnya, tidak menyisakan celah untuk menjadi sasaran cemoohan dan kritikan.

Jenius yang sangat berhati-hati memegang amanah yang dipikulkan di pundaknya. Sampai-sampai sebagian sahabat besar berkata, “Demi Allah, hai Amirul Mukminin, Anda memberi beban berat kepada khalifah sepeninggal Anda.”

Benar. Mereka yang melihat kesungguhan ‘Umar mengurusi kepentingan kaum muslimin secara khusus atau rakyat secara umum, akan merasa takut dan enggan untuk memikul amanah ini. Betapa tidak, hampir tidak ada dalam benak beliau mengambil keuntungan dunia ketika menjalankan pemerintahannya, mengurusi kepentingan rakyat, khususnya kaum muslimin. Bahkan, beliau tidak rela keluarga beliau menanggung beban seperti yang dirasakannya. Cukup satu ‘Umar memikulnya. Pernah suatu ketika, beliau terlihat mengantuk. Sebagian sahabatnya menegur beliau agar menjaga istirahat yang cukup. Apa jawab pria jenius berhati lembut ini?

“Kalau malam hari aku tidur, pasti aku kehilangan bagianku dari Rabbku. Dan kalau aku tidur di siang hari, pasti aku tidak bisa menjalankan tugasku mengurusi kepentingan orang banyak.”

Subhanallah. Adakah penguasa atau pemimpin yang memikirkan ucapan ini? Semoga Allah memberi hidayah dan taufik kepada mereka yang mengurusi kepentingan kaum muslimin serta memperbaiki kekeliruan mereka.

Wallahul Muwaffiq.

Kekuasaan yang Membawa Rahmat

Setelah selesai dibai’at, ‘Umar duduk di mimbar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di Masjid Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kaum muslimin duduk rapi di hadapan beliau. Beliaupun berdiri, membuka dengan pujian dan sanjungan kepada Allah ‘azza wa jalla, shalawat dan salam untuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu bertasyahud (mengucapkan syahadat).

Ternyata, yang pertama diucapkan oleh beliau adalah doa, “Ya Allah, sesungguhnya aku orang yang keras, maka lembutkanlah aku. Aku lemah, maka kuatkanlah aku. Aku kikir, maka jadikanlah aku dermawan.”1[1]

Melalui jalur asy-Sya’bi, disebutkan bahwa setelah dibai’at sebagai khalifah, ‘Umar naik mimbar, lalu berkata, “Jangan sampai Allah melihatku merasa pantas menempati posisi Abu Bakr.” Lalu dia turun satu tingkat dari tempat yang biasa diduduki oleh Abu Bakr.

Setelah memuji Allah dan menyanjung-Nya, beliau berpidato,

“Bacalah al-Quran, niscaya kalian dikenal dengannya. Amalkanlah al-Qur’an, niscaya kalian menjadi ahlinya. Timbanglah diri-diri kalian sebelum kalian ditimbang. Berhiaslah menghadapi hari

‘ardhul akbar (kiamat), ketika kalian dihadapkan kepada Allah, tidak ada satupun yang tersembunyi dari kalian sedikit pun. Sungguh, tidak akan sampai hak orang-orang yang mempunyai hak, untuk ditaati dalam bermaksiat kepada Allah. Ketahuilah, sesungguhnya aku menempatkan diriku dalam urusan harta Allah ini seperti wali anak yatim. Kalau aku merasa cukup, aku menahan diri, dan kalau aku mempunyai keperluan, aku memakannya dengan cara yang baik.”2[2]

Pernyataan sederhana tetapi tegas, dan beliau telah menepati kata-katanya, hingga akhir hayatnya. Semoga Allahmeridhai beliau.

Sebagian ahli sejarah menerangkan bahwa perbedaan isi khutbah beliau adalah karena beberapa kemungkinan, di antaranya adalah perbedaan dalam penyampaian dari sebagian orang yang meriwayatkannya, sesuai dengan yang diingat oleh mereka.

Wallahu a’lam.

Ada pula yang menyebutkan bahwa banyak kaum muslimin merasa khawatir dengan ketegasan dan kekerasan watak ‘Umar, sebagaimana yang diungkapkan oleh Thalhah bin ‘Ubaidillah kepada Khalifah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, jika riwayat itu sahih. Ketika sampai berita ini kepada ‘Umar, beliau segera berpidato menyampaikan keadaan dirinya, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Abu Bakr radhiallahu ‘anhu meninggalkan dunia dalam keadaan ridha kepadanya.

Kemudian beliau mengatakan, “Sikap tegas dan keras itu hanya tertuju kepada mereka yang zalim dan melanggar hak orang lain. Aku tidak akan membiarkan siapapun menzalimi orang lain, atau melanggar haknya sampai aku letakkan pipinya di tanah dan menginjaknya sampai dia tunduk kepada yang hak. Dengan kekerasanku itu, aku akan menyerahkan pipiku kepada mereka yang menjaga kehormatan dan menahan dirinya. Kalian semua punya hak yang harus aku tunaikan; pertama, aku tidak akan menyembunyikan hak kalian sedikitpun, begitu pula rampasan perang yang diberikan oleh Allah untuk kalian, tidak aku tahan. Aku akan mengeluarkannya dengan cara yang benar, dan andaikata jatuh ke tanganku, niscaya aku salurkan pada haknya. Aku juga akan menambah jatah pemberian untuk kalian insya Allah dan menutupi kebutuhan kalian. Hak kalian yang harus aku tunaikan juga ialah bahwa aku tidak akan menggiring kalian kepada kebinasaan.

Kalau kalian tidak ada di tempat, akulah yang menjaga keluarga kalian sampai kalian kembali kepada mereka. Maka dari itu, bertakwalah wahai hambahamba Allah, dan bantulah aku menahan diri kalian terhadapku. Bantulah aku menghadapi diriku dengan amar ma’ruf nahi mungkar, memberikan nasihat dalam urusan yang Allah tugaskan aku mengatur urusan kalian.

Aku ucapkan perkataan ini dan aku mohon ampunan kepada Allah untukku dan untuk kamu sekalian.”

Melalui khutbah ini, beliau menyadarkan kita bahwa kekuasaan yang diberikan kepadanya adalah amanat yang berat dan beliau merasa yakin pasti akan dimintai pertanggungjawabannya. Beliau merasa yakin pula bahwa ini semua adalah ujian, bukan sebuah kehormatan dan kemuliaan.

Kerendahan hati beliau terlihat dengan merelakan diri melayani dan memuliakan orang-orang yang menahan diri dan memelihara kehormatan mereka. Akan tetapi, terhadap orang-orang yang zalim dan melanggar hak orang lain, beliau tidak akan memberikan apapun selain hukuman.

Melalui khutbah ini pula beliau mengisyaratkan dan memperingatkan para pejabatnya bahwa dia akan selalu mengawasi mereka dalam menjalankan tugas, meskipun jauh dari pandangan mata beliau. Dalam khutbah ini pula beliau menuntut kepada rakyatnya, agar tidak segan-segan menyampaikan nasihat dan meluruskan beliau jika terlihat menyimpang dari tugasnya. Beliau juga menuntut mereka agar menahan diri dari kekurangan yang mungkin muncul dari beliau, dengan tetap mendengar dan taat kepada beliau.

(insya Allah bersambung)

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Muhammad Harits


[1] Al-Muhib ath-Thabari dalam Riyadhun Nadhrah (1/190).

[2] Al-Muhib ath-Thabari dalam Riyadhun Nadhrah (1/190).