ISIS dan Al-Qaeda Tidak Mewakili Islam

Penjelasan asy-Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Muhammad alu asy-Syaikh Mufti Umum Kerajaan Arab Saudi; Ketua Dewan Ulama Besar; Ketua Umum Komite Tetap untuk Pembahasan dan Fatwa

Segala pujian hanya milik Allah Rabb alam semesta. Semoga shalawat dan salam selalu terlimpah kepada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga, dan seluruh sahabat beliau.

Amma ba’du,

Saudara dan saudari sekalian, perkenankan saya memberi ucapan penghormatan dengan penghormatan Islam yang abadi, yang memiliki beragam kandungan mulia dan tujuan yang tinggi. Semoga keselamatan dari Allah atas kalian, demikian pula rahmat dan barakah-Nya. Saya wasiatkan kepada Anda semua—dan diri saya pribadi—untuk senantiasa bertakwa kepada Allah ‘azza wa jalla. Barang siapa menyibukkan diri dengan ketakwaan kepada Allah ‘azza wa jalla, Dia akan mencukupinya.

Kondisi yang umat Islam alami ini, banyak negeri mereka menjadi kacau. Berbagai pemahaman telah menyusup pula ke dalam tubuh umat Islam. Tidak diragukan lagi, pemikiran yang paling berbahaya ialah yang mengatasnamakan agama karena akan dianggap suci sehingga ringan bagi jiwa untuk menjalankannya. Ketika itulah, manusia beralih—kita memohon perlindungan kepada Allah ‘azza wa jalla—dari perpecahan yang agama mencegahnya, kepada perpecahan dalam hal agama itu sendiri. Inilah yang diperingatkan oleh Allah ‘azza wa jalla dalam firman-Nya,

إِنَّ ٱلَّذِينَ فَرَّقُواْ دِينَهُمۡ وَكَانُواْ شِيَعٗا لَّسۡتَ مِنۡهُمۡ فِي شَيۡءٍۚ إِنَّمَآ أَمۡرُهُمۡ إِلَى ٱللَّهِ ثُمَّ يُنَبِّئُهُم بِمَا كَانُواْ يَفۡعَلُونَ ١٥٩

“Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agamanya dan mereka (terpecah) menjadi beberapa golongan, tidak ada sedikit pun tanggung jawabmu terhadap mereka. Sesungguhnya urusan mereka hanyalah (terserah) kepada Allah, kemudian Allah akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka perbuat.” (al-An’am: 159)

Pada ayat di atas, Allah ‘azza wa jalla memperingatkan kaum muslimin agar tidak terjadi dalam agama mereka sebagaimana yang terjadai pada kaum musyrikin. Memecah belah dalam agama Islam adalah dengan memecah belah pokok agama mereka yang sebelumnya bersatu, yaitu setiap pemecahbelahan yang mengantarkan pemiliknya saling mengafirkan dan saling berperang dalam hal agama.

Dalam Islam, tidak ada tindak kejahatan yang lebih berat di sisi Allah ‘azza wa jalla dibandingkan kekafiran karena memecah belah jamaah. Jamaah yang membuat hati-hati manusia saling mengasihi dan menyatukan kalimat mereka, sebagaimana firman Allah ‘azza wa jalla,

وَٱعۡتَصِمُواْ بِحَبۡلِ ٱللَّهِ جَمِيعٗا وَلَا تَفَرَّقُواْۚ وَٱذۡكُرُواْ نِعۡمَتَ ٱللَّهِ عَلَيۡكُمۡ إِذۡ كُنتُمۡ أَعۡدَآءٗ فَأَلَّفَ بَيۡنَ قُلُوبِكُمۡ فَأَصۡبَحۡتُم بِنِعۡمَتِهِۦٓ إِخۡوَٰنٗا وَكُنتُمۡ عَلَىٰ شَفَا حُفۡرَةٖ مِّنَ ٱلنَّارِ فَأَنقَذَكُم مِّنۡهَاۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ ٱللَّهُ لَكُمۡ ءَايَٰتِهِۦ لَعَلَّكُمۡ تَهۡتَدُونَ ١٠٣

 

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliah) bermusuh musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.” (Ali ‘Imran: 103)

Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu mengatakan, “Hendaknya kalian taat dan bersatu (di bawah pemerintah kalian). Sebab, itulah tali Allah ‘azza wa jalla yang kita diperintahkan untuk berpegang dengannya. Apa yang kalian benci ketika berada di bawah pemerintah, itu lebih baik daripada apa yang kalian sukai ketika berpecah belah.”

Perpecahan dan perselisihan tidaklah terjadi kecuali akibat kebodohan dan memperturuti hawa nafsu, sebagaimana persatuan dan rasa cinta tumbuh dari ilmu dan ketakwaan.

Kaum muslimin saat ini—sebagaimana diketahui oleh semuanya—sangat butuh mendalami ilmu dan mengenali agama yang sempurna ini, sebelum pihak lain. Tidak hanya dalam hal hukum (fikih), tetapi juga mengetahui tujuan yang agung dan luas, yang menjadi sebab pensyariatan dan diturunkannya. Allah ‘azza wa jalla tidaklah mengutus para rasul dan menurunkan syariat-syariat kecuali untuk menegakkan tata aturan (kehidupan) manusia, sebagaimana firman-Nya,

لَقَدۡ أَرۡسَلۡنَا رُسُلَنَا بِٱلۡبَيِّنَٰتِ وَأَنزَلۡنَا مَعَهُمُ ٱلۡكِتَٰبَ وَٱلۡمِيزَانَ لِيَقُومَ ٱلنَّاسُ بِٱلۡقِسۡطِۖ وَأَنزَلۡنَا ٱلۡحَدِيدَ فِيهِ بَأۡسٞ شَدِيدٞ وَمَنَٰفِعُ لِلنَّاسِ وَلِيَعۡلَمَ ٱللَّهُ مَن يَنصُرُهُۥ وَرُسُلَهُۥ بِٱلۡغَيۡبِۚ إِنَّ ٱللَّهَ قَوِيٌّ عَزِيزٞ ٢٥

“Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka al-Kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan.” (al-Hadid: 25)

Syariat Islam adalah syariat yang paling agung dan paling sempurna, sebagaimana ditunjukkan oleh firman Allah ‘azza wa jalla,

إِنَّ ٱلدِّينَ عِندَ ٱللَّهِ ٱلۡإِسۡلَٰمُۗ

“Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam.” (Ali ‘Imran: 19)

Sungguh, syariat Islam datang membawa kebaikan bagi manusia di dunia dan akhirat. Tujuan umum syariat Islam ialah memakmurkan bumi dan menjaga aturan kehidupan di bumi yang dengannya akan terwujud kebaikan bumi dan kebaikan para penduduknya.

Di antara asas al-Qur’an yang luas ialah hukum asal segala sesuatu adalah boleh,

هُوَ ٱلَّذِي خَلَقَ لَكُم مَّا فِي ٱلۡأَرۡضِ جَمِيعٗا

“Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu.” (al-Baqarah: 29)

dan hukum asal manusia adalah al-baraah (terlepas dari hukum syariat),

فِطۡرَتَ ٱللَّهِ ٱلَّتِي فَطَرَ ٱلنَّاسَ عَلَيۡهَاۚ

“(Tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu.” (ar-Rum: 30)

Dua kaidah di atas merupakan fondasi segala pensyariatan dan kebebasan. Setiap asas di atas tidak akan sempurna dan tegak berdiri kecuali dengan mengetahui bahwa toleransi adalah sifat utama syariat Islam dan tujuannya yang terbesar. Hal ini sebagaimana firman Allah ‘azza wa jalla,

يُرِيدُ ٱللَّهُ بِكُمُ ٱلۡيُسۡرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ ٱلۡعُسۡرَ

“Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.” (al-Baqarah: 185)

وَمَا جَعَلَ عَلَيۡكُمۡ فِي ٱلدِّينِ مِنۡ حَرَجٖۚ

“Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan.” (al-Hajj: 78)

رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذۡنَآ إِن نَّسِينَآ أَوۡ أَخۡطَأۡنَاۚ رَبَّنَا وَلَا تَحۡمِلۡ عَلَيۡنَآ إِصۡرٗا كَمَا حَمَلۡتَهُۥ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِنَاۚ رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلۡنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِۦۖ

“Ya Rabb kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Rabb kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang yang sebelum kami. Ya Rabb kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya.” (al-Baqarah: 286)

Dalam sebuah hadits dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

أَحَبُّ الدِيْنِ إِلَى اللهِ الْحَنِيْفِيَّةُ السَّمْحَةُ

“Agama yang paling dicintai oleh Allah ialah yang hanifiyah dan samhah.”

Hanifiyah adalah lawan dari syirik, sedangkan samhah adalah lawan dari kesempitan dan memberat-berati diri.

Dalam hadits yang lain dari beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam,

إِنَّ الدِّينَ يُسْرٌ، وَلَنْ يُشَادَّ هَذَا الدِّيْنَ أَحَدٌ إِلاَّ غَلَبَهُ

“Sesungguhnya agama ini mudah, dan tidak ada seorang pun yang memberatberati diri dalam agama ini kecuali agama ini akan mengalahkannya.”

Penelitian terhadap syariat ini menunjukkan bahwa toleransi dan kemudahan merupakan salah satu tujuan agama ini. Menampakkan toleransi berpengaruh besar terhadap tersebarnya agama ini dan keberlangsungannya. Akan diketahui bahwa kemudahan merupakan bagian dari fitrah, karena fitrah manusia menyenangi kelemahlembutan.

Hakikat toleransi adalah sikap pertengahan antara dua kutub: sikap berlebih-lebihan dan sikap meremehkan. Sikap pertengahan dengan makna ini adalah sumber berbagai kesempurnaan. Allah ‘azza wa jalla telah berfirman tentang sifat umat ini,

وَكَذَٰلِكَ جَعَلۡنَٰكُمۡ أُمَّةٗ وَسَطٗا

“Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam) sebagai umat yang adil.” (al-Baqarah: 143)

Di bawah cahaya tujuan yang agung ini akan tampak hakikat sikap pertengahan dan kelurusan. Akan tampak pula bahwa sikap pertengahan merupakan kesempurnaan dan keindahan Islam ini. Akan jelas pula bahwa pemikiran ekstrem, kekerasan, dan terorisme yang membuat kerusakan di muka bumi, menghancurkan lahan pertanian dan keturunan, sama sekali bukan dari Islam. Justru pemikiran inilah yang pertama kali menjadi musuh Islam. Kaum musliminlah yang pertama kali menjadi korban.

no_isis

Sebagaimana hal ini disaksikan berupa kejahatan kelompok yang disebut ISIS dan al-Qaeda, serta berbagai kelompok pecahannya. Sangat tepat ditujukan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut,

سَيَخْرُجُ فِي آخِرِ الزَّمَانِ قَوْمٌ أَحْدَاثُ الْأَسْنَانِ، سُفَهَاءُ الْأَحْلَامِ، يَقُولُونَ مِنْ خَيْرِ قَوْلِ الْبَرِيَّةِ، يَقْرَؤُوْنَ الْقُرْآنَ لَا يُجَاوِزُ حَنَاجِرَهُمْ، يَمْرُقُونَ مِنَ الدِّينِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ، فَإِذَا لَقِيتُمُوهُمْ فَاقْتُلُوهُمْ فَإِنَّ فِي قَتْلِهِمْ أَجْراً لِمَنْ قَتَلَهُمْ عِنْدَ اللهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Akan keluar di akhir zaman nanti, sekelompok orang yang masih muda umurnya dan berpemikiran bodoh. Mereka mengatakan ucapan makhluk yang terbaik. Mereka membaca al-Qur’an, tetapi tidak melewati tenggorokan mereka. Mereka melesat keluar dari agama ini sebagaimana halnya melesatnya anak panah dari binatang buruannya. Apabila kalian mendapati mereka, bunuhlah mereka. Sebab, orang yang membunuh mereka akan mendapatkan pahala di sisi Allah pada hari kiamat.”

Kelompok-kelompok Khawarij ini tidak boleh dinisbatkan kepada Islam dan para pemeluknya yang memegang teguh petunjuk Islam. Mereka adalah wujud lain dari Khawarij, kelompok sempalan yang pertama kali melesat keluar dari agama karena mengafirkan kaum muslimin dengan sebab dosa besar sehingga menghalalkan darah dan harta kaum muslimin.

Dalam kesempatan ini, kami menyeru untuk menyatukan dan menyusun kesungguhan dalam hal pendidikan, taklim, dakwah, dan pengembangan dalam rangka menguatkan sikap pertengahan dan keadilan, yang bersumber dari syariat Islam kita yang berkilau; dengan menanamkan garis yang sempurna, disertai tujuan-tujuan yang jelas, yang diperkuat oleh instruksi pelaksanaan guna mewujudkan dan mengejawantahkan tujuan-tujuan tersebut.

Demikianlah… Sesungguhnya dunia berguncang di sekitar kita. Karena itu, kita di Kerajaan Arab Saudi yang telah diberi anugerah oleh Allah ‘azza wa jalla berupa persatuan kalimat dan barisan di bawah para pemimpin kita, yang terepresentasikan dalam diri Pelayan Dua Tanah Suci, Raja Abdullah bin Abdul Aziz alu Su’ud, Putra Mahkota al-Amin, dan penerusnya—semoga Allah ‘azza wa jalla menjaga mereka semua—hendaknya menjaga keadaan yang stabil ini, di mana sebagiannya menguatkan sebagian yang lain. Hendaknya kita juga tidak menjadikan perselisihan di luar garis perbatasan sebagai sebab timbulnya perselisihan di antara kita.

Setiap kita di Kerajaan Arab Saudi—segala puji hanya bagi Allah—orang yang bertauhid dan orang Islam. Kita jaga persatuan di bawah pemerintah kita, kita senantiasa taat (kepada pemerintah) dalam hal yang baik. Kita mengemban amanah ilmu, pemikiran, pendapat, dan pena. Kita berloyalitas secara umum sesama kita. Kita memaafkan sesama kita ketika tidak sengaja jatuh dalam kesalahan, baik di antara ulama, ustadz, penulis, kaum intelektual, maupun seluruh warga negara.

Kita mengarahkan dialog kita seputar pembahasan yang penting bagi kita, terkait agama dan negara, dengan bahasa yang santun, tanpa menuduh berkhianat atau tuduhan lain. Kita semua di negara ini sama, masing-masing memiliki hak dan kewajiban.

Kami memohon kepada Allah ‘azza wa jalla agar mengabadikan berbagai nikmat-Nya, yang lahir dan yang batin, atas diri kita. Kita juga memohon agar Allah ‘azza wa jalla menjaga negeri kita dan negeri-negeri kaum muslimin dari segala keburukan.

Semoga Allah menjaga kita dan kaum muslimin lainnya dari berbagai ujian dan cobaan, yang lahir dan yang batin, serta memperbaiki keadaan kaum muslimin. Sesungguhnya, Allah ‘azza wa jalla lah yang Mahamampu atas hal tersebut.

Siapakah ath-Thaifah al-Manshurah?

Al-Ustadz Abu Nasim Mukhtar

 desert-rain

Al-Imam al-Bukhari rahimahullah (no. 7311) meriwayatkan sebuah hadits dari al-Mughirah bin Syu’bah radhiallahu ‘anhu, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,

لا يَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي ظَاهِرِينَ، حَتَّى يَأْتِيَهُمْ أَمْرُ ا وَهُمْ ظَاهِرُونَ

“Pasti akan selalu ada sekelompok orang dari umatku yang senantiasa meraih kemenangan, sampai ketetapan dari Allah ‘azza wa jalla datang menghampiri mereka. Dan mereka pun tetap di atas kemenangannya.”

 

Hadits di atas juga diriwayatkan oleh al-Imam Muslim rahimahullah (no. 1921) dengan lafadz yang sedikit berbeda. Sebagian ulama hadits (Fathul Bari hadits no. 7311) menilai riwayat di atas termasuk tsulatsiyat (hanya dipisahkan oleh tiga perawi sampai kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) di dalam Shahih al-Imam al-Bukhari. Mengapa dinilai tsulatsiyat, sementara jumlah perawi antara al-Bukhari dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ada empat?

Hadits ini didengar oleh al-Bukhari dari guru beliau yang bernama Ubaidullah bin Musa al-‘Absi al-Kufi rahimahullah. Ternyata beliau terhitung sebagai guru al-Bukhari yang telah berusia lanjut dan termasuk dalam generasi tabi’ut tabi’in.

Ubaidullah bin Musa mendengar hadits di atas dari seorang ulama tabi’in yang bernama Ismail bin Abi Khalid rahimahullah. Guru Ismail pun seorang kibar tabi’in bernama Qais bin Abi Hazim. Qais sendiri dinyatakan oleh ulama hadits sebagai seorang mukhadram, karena pernah merasakan masa jahiliah. Ketika beliau berangkat ke Madinah untuk berbaiat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, di tengah perjalanan beliau mendengar berita wafatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Al-Mughirah bin Syu’bah radhiallahu ‘anhu, sahabat yang meriwayatkan hadits ini, adalah salah seorang guru Qais bin Abi Hazim. Karena faktor kedekatan sanad inilah, sebagian ulama hadits menilai riwayat ini sebanding dan sejajar dengan riwayat tingkat tsulatsiyat.

Uniknya, seluruh perawi di dalam sanad al-Bukhari seluruhnya berasal dari kota Kufah. Wallahu a’lam.

 

Kedudukan Hadits

Hadits Thaifah di atas tidak hanya diriwayatkan oleh al-Mughirah radhiallahu ‘anhu dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Selain beliau, sejumlah sahabat juga meriwayatkannya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Asy-Syaikh al-Muhaddits al-Albani rahimahullah (as-Silsilah ash-Shahihah nomer 270) menyebutkannya secara ringkas,

  1. Imran bin Hushain radhiallahu ‘anhu (ar-Ramahurmuzi dalam al-Muhaddits al-Fashil 1/6)
  2. Muawiyah bin Abi Sufyan radhiallahu ‘anhuma (al-Bukhari, Muslim, dan Ahmad)
  3. Tsauban radhiallahu ‘anhu Maula Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (Muslim, Tirmidzi, Ahmad, Ibnu Majah, Abu Dawud, dan al-Hakim)
  4. Uqbah bin ‘Amir radhiallahu ‘anhu (Muslim)
  5. Qurrah al-Muzani radhiallahu ‘anhu (Ahmad)
  6. Abu Umamah radhiallahu ‘anhu (Ahmad)
  7. Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu (al-Hakim)

Walaupun ditemukan beberapa perbedaan lafadz, hadits di atas tetaplah mempunyai satu makna. Beberapa tambahan lafadz juga sangat membantu untuk memahami hadits tersebut secara lebih sempurna. Mudah-mudahan dengan memadukan seluruh lafadz dan beberapa hadits yang terkait, kita akan memperoleh gambaran nyata, siapakah yang layak disebut sebagai Thaifah Manshurah?

 

Makna Hadits

Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas adalah jaminan, kabar gembira, sekaligus hiburan. Kata-kata beliau adalah jaminan pasti bahwa siapa pun orangnya yang bertekad, bercita-cita, dan memiliki kesungguhan untuk memperjuangkan agama Allah ‘azza wa jalla, pertolongan-Nya akan selalu menyertai.

Hal ini sekaligus kabar gembira dan hiburan bagi mereka yang terkadang merasa terasing, dianggap aneh, bahkan merasa “sedikit” dalam jumlah, bahwa pengikut kebenaran memanglah demikian. Mereka pun selalu optimis, sebagai ath-Thaifah al-Manshurah (kelompok yang ditolong Allah ‘azza wa jalla) sekaligus al-Firqatun Najiyah (kelompok yang selamat).

Ya, ath-Thaifah al-Manshurah memang hanya segelintir orang, komunitasnya sedikit, dan sangat kecil apabila dibandingkan dengan jumlah kaum muslimin secara keseluruhan. Namun, kenyataan ini tentu tidak perlu membuat mereka bersedih, apalagi putus asa. Ingat-ingatlah selalu, janji Allah ‘azza wa jalla adalah benar. Dia akan selalu menolong dan membela. Lebih-lebih lagi, ath-Thaifah al-Manshurah akan tetap eksis sampai hari kiamat!

Ada pertanyaan yang terselip ketika membahas hadits ini. Beberapa riwayat sahih menyebutkan bahwa hari kiamat tidak akan terjadi sampai kondisi orang-orang yang tersisa adalah orang-orang yang jahat. Bahkan, sebuah riwayat mengatakan pada saat itu, tidak ada lagi orang yang menyebut-sebut nama Allah ‘azza wa jalla. Padahal di dalam hadits ini, ath-Thaifah al-Manshurah keberadaannya akan tetap bertahan sampai hari kiamat. Bagaimana ini?

Para ulama hadits, di antaranya adalah al-Imam an-Nawawi rahimahullah dalam Syarah Shahih Muslim, mencoba memadukan riwayat-riwayat tersebut. Hasilnya?

Ath-Thaifah al-Manshurah sebagai sekelompok orang yang memperjuangkan kebenaran akan terus eksis di setiap masa. Namun, mendekati kebangkitan kiamat, Allah ‘azza wa jalla akan mengirimkan angin lembut yang bertiup melewati ketiak setiap orang. Angin itu akan mencabut ruh mukmin dan mukminah sehingga tidak ada lagi yang tersisa hidup kecuali orang-orang jahat. Ringkasnya, keberadaan ath-Thaifah al-Manshurah yang disebut sampai hari kiamat berbangkit maksudnya adalah sampai menjelang datangnya kiamat.

Keterangan ini didukung oleh sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam riwayat Muslim (no. 2937) dari sahabat an-Nawwas bin Sam’an radhiallahu ‘anhu. Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

فَبَيْنَمَا هُمْ كَذَلِكَ إِذْ بَعَثَ اللهُ رِيحًا طَيِّبَةً، فَتَأْخُذُهُمْ تَحْتَ آبَاطِهِمْ، فَتَقْبِضُ رُوحَ كُلِّ مُؤْمِنٍ وَكُلِّ مُسْلِمٍ، وَيَبْقَى شِرَارُ النَّاسِ، يَتَهَارَجُونَ فِيهَا تَهَارُجَ الْحُمُرِ، فَعَلَيْهِمْ تَقُومُ السَّاعَةُ.

“Ketika manusia dalam kondisi semacam itu, Allah ‘azza wa jalla mengirimkan angin lembut yang bertiup di bawah ketiak mereka. Lalu angin tersebut mencabut ruh setiap mukmin dan mukminah. Kemudian yang tersisa hidup hanyalah orang-orang jahat. Mereka melakukan hubungan badan di hadapan orang lain, persis yang dilakukan keledai. Kepada orang-orang semacam itulah, hari kiamat akan dibangkitkan.”

 

Ath-Thaifah Al-Manshurah adalah Ahlul Hadits

Siapakah yang lebih mengerti dan memahami hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam? Jawabannya secara pasti dan tegas adalah para ulama hadits. Bukankah merekalah yang meriwayatkannya untuk kita? Bukankah merekalah yang menjadi mata rantai antara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai kepada kita? Apakah kita akan menyerahkan kepada orang-orang yang tidak berkompeten dan berwenang sama sekali, untuk memahami hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam?

Marilah kita membaca dan merenungkan pernyataan para ulama besar di bawah ini tentang siapakah ath-Thaifah al-Manshurah itu.

Al-Imam al-Khatib al-Baghdadi rahimahullah menyebutkan beberapa keterangan ulama tentang mereka di dalam kitab beliau, Syaraf Ashabil Hadits (hlm. 59—62).

Al-Imam al-Bukhari rahimahullah menjelaskan, “Mereka adalah para ulama!”

Di lain kesempatan beliau menyatakan, “Mereka adalah Ashabul Hadits.”

Al-Imam Yazid bin Harun, Abdullah bin al-Mubarak, Ali bin Abdillah al-Madini, Ahmad bin Sinan, dan sejumlah ulama lainnya rahimahumullah mengatakan, “Mereka adalah Ashabul Hadits.”

Bahkan, secara tegas al-Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah mengatakan, “Seandainya yang dimaksud dengan ath-Thaifah al-Manshurah bukan Ashabul Hadits, aku tidak tahu lagi, siapakah mereka sesungguhnya?”

Kemudian, siapakah Ashabul Hadits itu?

Al-Imam an-Nawawi rahimahullah (Syarah Shahih Muslim) menerangkan bahwa mereka memiliki latar belakang yang berbeda-beda. Ada yang gagah berani berperang, kaum fuqaha, orang-orang yang menekuni bidang hadits, ahli-ahli zuhud, penegak amar ma’ruf nahi munkar, atau pelaku-pelaku kebaikan lainnya. Bisa saja mereka berada di dalam satu wilayah atau menyebar di berbagai penjuru bumi.

Barangkali kita bisa menyimpulkannya dengan mengutip ucapan al-Qadhi ‘Iyadh rahimahullah, “Yang dimaksud oleh al-Imam Ahmad rahimahullah di atas, ath-Thaifah al-Manshurah adalah Ahlus Sunnah wal Jamaah serta orang-orang yang berakidah dengan akidah ahlul hadits.”

Dengan demikian, apakah bisa diterima, jika orang yang mengejek dan menghina para ulama yang menekuni bidang hadits, mengaku sebagai bagian dari ath-Thaifah al-Manshurah? Apakah pantas seseorang mengaku sebagai ath-Thaifah al-Manshurah sementara ia menyebut ulama Ahlus Sunnah dengan “ulama buatan pemerintah”, “ulama haid dan nifas”, “ilama yang tidak mengerti fiqhul waqi (fikih kekinian)”, “ulama yang kerjaannya hanya di masjid dengan haddatsana (telah menyampaikan kepada kami) dan akhbarana (telah mengabarkan kepada kami)”, dan “ulama yang tidak menghargai dan tidak peduli dengan darah kaum muslimin”?

Apakah pantas orang yang mencela ulama seperti ini untuk disebut sebagai ath-Thaifah al-Manshurah, kelompok yang ditolong Allah ‘azza wa jalla?

 

Ath-Thaifah Al-Manshurah dan Jihad Fi Sabilillah

Hadits-hadits ath-Thaifah al-Manshurah diangkat sebagai isu panas oleh kaum jihadiyin takfiriyin (sejumlah orang yang melakukan aksi kekerasan, anarki, brutal, dan membabi buta dengan mengatasnamakan jihad fi sabilillah) untuk melegitimasi dan membenarkan aksi-aksi “jihad”. Mereka menukil hadits-hadits tentang ath-Thaifah al-Manshurah.

Namun, apakah mereka benar-benar mengamalkan hadits-hadits tersebut secara kaffah? Ataukah hanya sepenggalsepenggal saja?

Memang benar! Beberapa lafadz dan riwayat hadits menyebutkan bahwa salah satu ciri ath-Thaifah al-Manshurah adalah berperang dan berjihad di jalan Allah ‘azza wa jalla. Hal ini memang benar. Salah satunya adalah hadits Jabir bin Abdillah radhiallahu ‘anhu riwayat Muslim (no. 156). Akan tetapi, kita perlu secara tenang, cermat, dan jujur, mengajukan beberapa pertanyaan sederhana berikut ini.

Salah satu ciri ath-Thaifah al-Manshurah adalah berperang dan berjihad. Namun, jihad dengan pemahaman siapa? Jihad di bawah bendera siapa? Di setiap saat ataukah pada kondisi-kondisi tertentu? Siapakah yang menjadi objek atau sasaran perang dan jihad? Di setiap tempat ataukah di lokasi-lokasi tertentu saja? Masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan yang mesti terjawab sebelum berteriak-teriak “jihad”.

Jihad fi sabilillah adalah ibadah suci. Maka dari itu, pantas saja jika ciri ini disematkan untuk ath-Thaifah al-Manshurah. Namun, ingatlah kembali arahan dan bimbingan para ulama. Jihad fi sabilillah pun mesti dilandasi dengan ilmu, berdasarkan pemahaman Ahlus Sunnah dan Ahlul Hadits. Lihat saja sejarah Ahlul Hadits! Mereka pun tercatat sebagai kaum mujahidin. Mereka mengalirkan tinta dan darah demi agama Islam.

Jihad fi sabilillah tidak dilakukan dengan sembarangan, serampangan, asal-asalan, emosional, dan ngawur. Jihad fi sabilillah memiliki syarat-syarat yang harus dipenuhi. Wallahi wa billahi wa tallahi, seandainya jihad syar’i ditegakkan, engkau wahai para pencela Salafiyyin, akan menyaksikan betapa kecil dan kerdilnya dirimu. Engkau akan melihat singa-singa Allah ‘azza wa jalla berada di barisan terdepan. Engkau baru akan tersadar, ternyata dirimu tak bisa dibandingkan sedikit pun dengan Salafiyyin. Sebab, mereka tegak berdiri di atas ilmu. (Tentang jihad fi sabilillah, silahkan Anda membaca kembali Asy-Syari’ah pada edisi-edisi sebelumnya)

 

Pembuktian, Bukan Pengakuan!

Pasukan Panji Hitam, kelompok al-Jihad, organisasi al-Qaeda, atau apa pun namanya, bisa saja mereka menganggap dirinya sebagai bagian dari ath-Thaifah al-Manshurah. Untuk urusan mengaku-aku, siapa pun bisa melakukannya. Klaim dan mengklaim juga dapat dilakukan oleh setiap orang. Akan tetapi, apakah cukup sampai di situ saja?

Tidak! Semuanya menuntut pembuktian!

Kaum Yahudi dan Nasrani juga mengklaim bahwa merekalah penduduk surga. Benarkah demikian? Allah ‘azza wa jalla berfirman,

Dan mereka (Yahudi dan Nasrani) berkata, “Sekali-kali tidak akan masuk surga kecuali orang-orang (yang beragama) Yahudi dan Nasrani.” Demikian itu (hanya) angan-angan mereka yang kosong belaka. Katakanlah, “Tunjukkan kebenaranmu jika kamu adalah orang-orang yang benar.” (al-Baqarah: 111)

Al-Imam an-Nawawi rahimahullah ketika menjelaskan hadits Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma riwayat al-Bukhari dan Muslim, “Seandainya setiap orang diiyakan sesuai dengan pengakuannya, tentu setiap orang akan mengklaim darah dan harta orang lain. Akan tetapi, sumpah merupakan hak orang yang diklaim.”

“Hadits ini adalah kaidah besar di dalam kaidah-kaidah hukum syar’i. Kaidah ini menyebutkan bahwa klaim seseorang tidak bisa diterima begitu saja. Akan tetapi, butuh pembuktian atau pembenaran dari pihak yang diklaim.”

Bagi siapa saja yang mengaku dirinya sebagai bagian dari ath-Thaifah al-Manshurah, marilah mengukur dan menakar dirinya dengan sebuah jawaban dari asy-Syaikh Shalih al-Fauzan berikut ini (Irsyadul Bariyyah hlm. 34—35), “As-Salafiyyah adalah al-Firqatun Najiyah. Mereka adalah Ahlus Sunnah wal Jamaah. Mereka bukanlah hizb seperti yang sekarang ini terjadi dan disebut dengan hizb. Mereka adalah jamaah. Bersama-sama di atas as-Sunnah dan agama. Mereka adalah Ahlus Sunnah wal Jamaah.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Pasti akan selalu ada, sekelompok orang dari umatku yang senantiasa meraih kemenangan di atas kebenaran. Tidak akan bermudarat atas mereka setiap usaha dari orang-orang yang menghina dan menyelisihi mereka.’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, ‘Umat ini akan terpecah menjadi 73 kelompok. Semuanya di dalam neraka kecuali satu.’ Para sahabat bertanya, ‘Siapakah mereka, wahai Rasulullah?’ Beliau menjawab, ‘Orang-orang yang mengikuti aku dan para sahabatku seperti saat ini’.”

Asy-Syaikh al-Fauzan melanjutkan, “As-Salafiyyah adalah sejumlah orang yang berada di atas mazhab Salaf, sebagaimana ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat. Jadi, as-Salafiyyah bukanlah hizb seperti hizb-hizb zaman ini. As-Salafiyyah adalah jamaah yang telah ada sejak zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, turun-temurun dan akan selalu hidup. Mereka akan terus berada di atas alhaq, meraih kemenangan sampai hari kiamat sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Benarkah Anda telah mencontoh dan meneladani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam beserta para sahabat beliau dalam segala hal? Buktikanlah!

Wallahul Muwaffiq.