Bersyukur atas Cahaya yang Allah Turunkan

Al-Ustadz Abu Ismail Muhammad Rijal, Lc.

grassland-e1300853042245 

Alhamdulillahi rabbil ’alamin. Segala puji bagi Allah ‘azza wa jalla atas segala anugerah-Nya yang sangat mahal kepada kita berupa iman kepada-Nya, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya,  rasul-rasul-Nya, hari akhir, dan takdir.

Demi Dzat yang jiwa kita di Tangan Allah ‘azza wa jalla, kalau bukan hidayah dan keutamaan dari-Nya, niscaya kita termasuk hamba-hamba Allah ‘azza wa jalla yang sesat lagi merugi.

“Maka kalau tidak ada karunia Allah ‘azza wa jalla dan rahmat-Nya atasmu, niscaya kamu tergolong orang-orang yang rugi.” (al-Baqarah: 64)

Dalam sebuah hadits Qudsi, Allah ‘azza wa jalla berfirman,

يَا عِبَادِي، كُلُّكُمْ ضَالٌّ إِلاَّ مَنْ هَدَيْتُهُ فَاسْتَهْدُونِي أَهْدِكُمْ

“Wahai hamba-hamba-Ku, kalian semua sesat kecuali orang yang Aku beri hidayah, maka mintalah hidayah kepada-Ku niscaya aku beri kalian hidayah.” (HR. Muslim dari sahabat Abu Dzar al-Ghifari Jundub bin Junadah radhiallahu ‘anhu)

Dunia adalah negeri persinggahan. Ibarat seorang penunggang kuda yang berteduh di bawah sebuah pohon. Sejenak dia beristirahat lalu meninggalkan pohon tersebut untuk melanjutkan perjalanan.

Seperti itulah dunia. Manusia dan jin diciptakan tidak lain hanyalah untuk beribadah kepada-Nya, menunaikan ajal yang telah Allah ‘azza wa jalla tetapkan, kemudian melanjutkan perjalanan menuju negeri akhirat untuk menuai apa yang dahulu dia amalkan.

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (adz-Dzariyat: 56)

Di antara rahmat Allah ‘azza wa jalla, Dia mengutus para nabi dan rasul agar memberi peringatan dan kabar gembira kepada manusia. Allah ‘azza wa jalla juga menurunkan kitab-kitab-Nya bersama mereka sebagai petunjuk jalan bagi manusia di tengah gulita, dan lentera benderang di tengah kegelapan.

“Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang haq dan yang batil).” (al-Baqarah: 185)

“Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab Taurat di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi).” (al-Maidah: 44)

Manusia pun Allah ‘azza wa jalla perintahkan untuk beriman kepada cahaya yakni kitab yang Allah ‘azza wa jalla turunkan. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

“Maka berimanlah kamu kepada Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya dan kepada cahaya (al-Qur’an) yang telah Kami turunkan. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (at-Taghabun: 8)

Dan katakanlah, “Aku beriman kepada semua Kitab yang diturunkan Allah ‘azza wa jalla dan aku diperintahkan supaya berlaku adil di antara kalian.” (asy-Syura: 15)

Allah ‘azza wa jalla perintahkan pula agar manusia berpegang teguh dan menggenggam kuat kitab-kitab yang Allah ‘azza wa jalla turunkan.

Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari kamu dan Kami angkatkan gunung (Thursina) di atasmu (seraya Kami berfirman), “Peganglah teguh-teguh apa yang Kami berikan kepadamu dan ingatlah selalu apa yang ada di dalamnya, agar kamu bertakwa.” (al-Baqarah: 63)

Dalam sebuah hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

تَرَكْتُ فِيْكُمْ شَيْئَيْنِ لَنْ تَضِلُّوا بَعْدَهُمَا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا، كِتَابُ اللهِ وَسُنَّتِي

“Aku tinggalkan untuk kalian dua perkara, yang kalian tidak akan sesat jika berpegang teguh dengan keduanya, (yaitu) Kitabullah dan Sunnahku.” (HR. al-Hakim dan beliau nyatakan sahih)

Demi Allah, diutusnya para rasul dan diturunkannya kitab Allah ‘azza wa jalla bersama mereka adalah nikmat yang sangat besar.

Namun, sadarkah kita akan nikmat ini? Sadarkah manusia bahwasanya sebelum diutusnya nabi dan diturunkannya kitab, mereka dalam kesesatan yang nyata?

“Sungguh Allah ‘azza wa jalla telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah ‘azza wa jalla mengutus di antara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, serta mengajarkan kepada mereka al-Kitab dan al-Hikmah (al-Hadits). Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” (Ali ‘Imran: 164)

Ya Allah, jadikanlah kami hamba-hamba-Mu yang mengenal nikmat-Mu dan mensyukurinya. Jadikan pula kami hamba-hamba-Mu yang beriman kepada kitab-kitab-Mu. Amin, ya Mujibas Sailin.

 

Mengenal Kitab-Kitab yang Allah ‘azza wa jalla Turunkan

Kitab Allah ‘azza wa jalla adalah semua kitab yang Allah ‘azza wa jalla turunkan kepada rasul-Nya sebagai rahmat Allah ‘azza wa jalla atas umat manusia dan sebagai petunjuk atas mereka, agar meraih kebahagiaan di dunia dan di akhirat.[1]

Tidaklah ada satu umat pun melainkan Allah ‘azza wa jalla utus di tengah mereka rasul yang menyampaikan risalah Allah ‘azza wa jalla berupa al-Kitab, sebagai pegangan dan pedoman hidup mereka.

لَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلَنَا بِالْبَيِّنَاتِ وَأَنْزَلْنَا مَعَهُمُ الْكِتَابَ وَالْمِيزَانَ

“Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka al-Kitab dan neraca (keadilan).”

Kitab-kitab Allah ‘azza wa jalla ada yang Allah ‘azza wa jalla sebutkan namanya dan ada yang tidak,  sebagaimana para nabi dan rasul ada yang Allah ‘azza wa jalla sebutkan nama mereka dan banyak yang tidak Allah ‘azza wa jalla sebut.

Kitab yang disebutkan dalam al-Qur’an adalah: Taurat, Injil, Zabur, Shuhuf Ibrahim, Shuhuf Musa, dan al-Qur’an. At-Taurat, adalah kitab yang Allah ‘azza wa jalla turunkan kepada Nabi Musa ‘alaihissalam adapun al- Injil adalah kitab yang Allah ‘azza wa jalla turunkan kepada Nabi Isa ‘alaihissalam.

Tentang at-Taurat dan Injil, Allah ‘azza wa jalla berfirman,

“Dan Kami ikutkan atas jejak mereka dengan Nabi Isa bin Maryam yang membenarkan kitab yang turun sebelumnya seperti Taurat, dan Kami berikan dia Injil yang di dalamnya terdapat petunjuk dan cahaya, membenarkan kitab yang ada sebelumnya seperti Taurat dan sebagai petunjuk serta nasihat bagi orang bertakwa.” (al-Maidah: 46)

Kitab ketiga di antara kitab yang Allah ‘azza wa jalla sebut namanya adalah az-Zabur, sebuah kitab yang Allah ‘azza wa jalla turunkan kepada Nabi Dawud ‘alaihissalam. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

“Dan Kami turunkan untuk Nabi Dawud kitab yang bernama Zabur.” (an-Nisa: 163)

Kitab keempat dan kelima adalah Shuhuf Ibrahim dan Shuhuf Musa, Allah ‘azza wa jalla sebutkan dalam beberapa ayat dalam al-Qur’an di antaranya,

“Sesungguhnya yang demikian terdapat dalam shuhuf yang pertama yaitu shuhufnya (Nabi) Ibrahim dan (Nabi) Musa.” (al-A’la: 18—19)

Adapun al-Qur’an, kitab ini Allah ‘azza wa jalla turunkan sebagai kitab yang terakhir dan akan terus terjaga hingga akhir zaman. Setelah tangan-tangan manusia mengubah kitab-kitab Allah ‘azza wa jalla yang telah lalu, kembalilah mereka tersesat dalam lumpur jahiliah.

Di saat itulah, Allah ‘azza wa jalla mengutus kekasih-Nya, Muhammad bin Abdillah al-Hasyimi shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagai penutup para nabi dan rasul, serta menurunkan al-Qur’an al-Karim bersama beliau.

Inilah kitab yang membenarkan apa yang sudah dijelaskan pada kitab-kitab sebelumnya, memperbarui serta mengoreksi ajaran-ajaran sebelumnya yang telah diubah dan dirusak oleh kaumnya. Al-Qur’an adalah mukjizat paling agung yang Allah ‘azza wa jalla berikan kepada Nabi-Nya.[2]

Semua kitab Allah ‘azza wa jalla, baik yang disebutkan maupun yang tidak disebutkan, wajib kita imani sebagai kalam Allah ‘azza wa jalla yang wajib dipegang teguh oleh masing-masing nabi dan kaumnya, hingga datang syariat al-Qur’an yang wajib dipegang oleh seluruh manusia kapan pun dan di mana pun. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

Katakanlah (hai orang-orang mukmin), “Kami beriman kepada Allah ‘azza wa jalla dan apa yang diturunkan kepada kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishak, Ya’qub, dan anak cucunya, dan apa yang diberikan kepada Musa dan Isa serta apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Rabbnya. Kami tidak membeda-bedakan seorang pun di antara mereka dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya.” (al-Baqarah: 136)


[1] Rasail fil ‘Aqidah, asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin.

[2] Lihat kembali pembahasan rubrik “Kajian Utama” Al-Qur’an, Bukti Abadi Kenabian edisi 93 (hlm. 35) yang bertema Mukjizat dan Karamah di Tengah Penyimpangan Akidah.

Di Balik Keagungan Kitab Suci Al-Qur’an

Al-Ustadz Ruwaifi bin Sulaimi

langit

Al-Qur’an adalah wahyu ilahi, bukan produk budaya.[1] Keberadaannya sebagai kalamullah (firman Allah ‘azza wa jalla) memosisikannya sebagai kitab suci yang mulia. Ia bukan makhluk, bukan perkataan Malaikat Jibril ‘alaihissallam, bukan perkataan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, bukan pula perkataan makhluk manapun. Allah ‘azza wa jalla telah menulisnya secara sempurna dalam Lauh Mahfuzh sejak langit dan bumi belum tercipta.

Demikianlah yang diriwayatkan dari sahabat Abdullah bin Abbas c dan selain beliau dari as-Salaf (pendahulu umat ini) yang mulia.[2] Allah ‘azza wa jalla berfirman,

“Haa Miim. Demi kitab (al-Qur’an) yang menerangkan. Sesungguhnya Kami menjadikan al-Qur’an dalam bahasa arab supaya kalian memahami(nya). Dan sesungguhnya al-Qur’an itu dalam induk al-Kitab (Lauh Mahfuzh) di sisi Kami, adalah benar-benar tinggi (nilainya) dan amat banyak mengandung hikmah.”  (az-Zukhruf: 1—4)

“Bahkan, yang didustakan mereka itu ialah al-Qur’an yang mulia, yang (tersimpan) dalam Lauh Mahfuzh.” (al-Buruj: 21—22)

“Sesungguhnya al-Quran ini adalah bacaan yang sangat mulia, pada kitab yang terpelihara (Lauh Mahfuzh), tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan, diturunkan dari Rabbil ‘alamin.” (al-Waqi’ah: 77—80)

Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Al-Qur’an telah ditulis oleh Allah ‘azza wa jalla dalam Lauh Mahfuzh sebelum penciptaan langit dan bumi.” (Syifa’ul ‘Alil, hlm. 41)

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah menegaskan bahwa ini adalah perkataan as-Salaf dan Ahlus Sunnah tentang al-Qur’an. (Syarh al-Arba’in an-Nawawiyah, hlm. 225 dan Syarh al-Aqidah as-Safariniyah 1/215, catatan kaki no. 1)

Kemudian Allah ‘azza wa jalla menurunkannya ke Baitul ‘Izzah di langit dunia secara sekaligus pada malam Lailatul Qadar yang penuh berkah di Bulan Suci Ramadhan. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (al-Qur’an) pada malam Lailatul Qadr.” (al-Qadr: 1)

“Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan.” (ad-Dukhan: 3)

“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasanpenjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang haq dan yang batil).” (al-Baqarah: 185)

Kemudian Allah ‘azza wa jalla menurunkannya ke dunia kepada Nabi Besar Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam melalui Malaikat Jibril ‘alaihissallam selama 23 tahun secara berangsur-angsur. Dengan sebuah hikmah, agar lebih mudah dalam proses penyampaian dan pengajarannya kepada umat, dan lebih mengokohkan jiwa beliau dalam menghadapi berbagai ujian dan tantangan yang ada. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

“Dan sesungguhnya al-Qur’an ini benar-benar diturunkan oleh Rabb semesta alam. Dia dibawa turun oleh ar-Ruh al-Amin (Jibril), ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan.” (asy-Syu’ara’: 192—194)

“Dan al-Qur’an itu telah Kami turunkan secara berangsur-angsur agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan Kami menurunkannya bagian demi bagian.” (al-Isra’: 106)

“Berkatalah orang-orang yang kafir, ‘Mengapa al-Qur’an itu tidak diturunkan kepadanya secara sekaligus saja?’; demikianlah supaya Kami mengokohkan jiwamu dengannya dan Kami membacanya secara tartil (teratur dan benar).” (al-Furqan: 32)

Abdullah bin Abbas c berkata, “Allah ‘azza wa jalla menurunkan al-Qur’an secara sekaligus dari Lauh Mahfuzh ke Baitul Izzah di langit dunia, kemudian menurunkannya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam secara terperinci selama 23 tahun, sesuai dengan kasus dan peristiwa yang ada.” (Tafsir Ibnu Katsir 8/441)

Dalam kurun waktu 23 tahun itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membacakan ayat-ayat al-Qur’an kepada para sahabatnya,mengajarkan tafsir (rincian makna)-nya, dan mencontohkan berbagai bentuk pengamalannya dalam kehidupan sebagai pembelajaran dan keteladanan terbaik untuk mereka. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

“Sungguh Allah telah memberi anugerah kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus di antara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka al-Kitab dan al-Hikmah, dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” (Ali Imran: 164)

Asy-Syaikh Shalih Alusy Syaikh menjelaskan bahwa al-Qur’an mempunyai dua keadaan; tertulis (maktub) dan didengar (masmu’). Adapun yang tertulis (maktub) maka ada pada tiga hal:

1) Lauh Mahfuzh, ditulis padanya al-Qur’an secara sempurna dari awal hingga akhir.

2) Baitul Izzah di langit dunia. Allah ‘azza wa jalla menurunkan al-Qur’an (dari Lauh Mahfuzh) secara sekaligus dalam bentuk tulisan dan menempatkannya di Baitul Izzah.

3) Mushaf al-Qur’an yang ada di tangan kaum muslimin.

Dalam tiga hal ini, tidak ada peran dari Malaikat Jibril sama sekali. Berikutnya, al-Qur’an yang tertulis di Lauh Mahfuzh, Baitul Izzah, dan Mushaf al-Qur’an semuanya adalah kalamullah (firman Allah ‘azza wa jalla) bukan makhluk. Adapun yang didengar (masmu’) maka terjadi saat al-Qur’an diturunkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah ‘azza wa jalla menyampaikannya kepada Malaikat Jibril ‘alaihissallam dengan huruf (lafadz) dan maknanya yang didengar, kemudian Malaikat Jibril ‘alaihissallam menyampaikannya secara langsung apa yang didengarnya dari Allah ‘azza wa jalla tersebut kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tidaklah al-Qur’an diturunkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melainkan dengan cara seperti itu. (Syarh al-Aqidah ath-Thahawiyah hlm. 382 dan Syarh al-Aqidah al-Wasithiyah 1/363)

 

Kedudukan Al-Qur’an dalam Kehidupan Umat Manusia

Al-Qur’an merupakan pedoman dan lentera kehidupan bagi umat manusia. Kedudukannya sangat tinggi dan hikmah yang dikandungnya pun sangat berharga. Di dalamnya terdapat lautan ilmu, petunjuk kepada jalan yang lurus, cahaya kebenaran, rahmat, dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri kepada-Nya. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

“Dan Kami turunkan kepadamu al-Kitab (al-Qur’an) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.” (an-Nahl: 89)

“Hai Ahli Kitab, telah datang kepada kalian Rasul kami, menjelaskan kepada kalian banyak dari al-Kitab yang kalian sembunyikan dan banyak pula yang dibiarkannya. Sesungguhnya telah datang kepada kalian cahaya dari Allah dan kitab yang menerangkan (al-Qur’an). Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya kepada jalan keselamatan. Dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari kegelapan menuju cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus.” (al-Maidah: 15—16)

Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Kitabullah (al-Qur’an) adalah yang paling berhak untuk dicurahkan kepadanya perhatian dan kesungguhan, yang paling agung untuk dikerahkan kepadanya pemikiran dan ditorehkan dengannya pena, karena ia sumber segala ilmu dan hikmah, tempat semua petunjuk dan rahmat. Al-Qur’an merupakan bekal termulia bagi ahli ibadah dan pegangan terkuat bagi orang-orang yang berpegang teguh (istiqamah). Barang siapa berpegang teguh dengannya maka sungguh telah berpegang dengan tali yang kuat. Barang siapa yang berjalan di atasnya maka sungguh telah berjalan di atas jalan yang lurus dan terbimbing menuju ash-shirathal mustaqim.” (Al-Fawaid al-Musyawwiq ila Ulumil Qur’an wa Ilmil Bayan, hlm. 6—7)

Tak heran, apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menghasung umatnya supaya mempelajari al-Qur’an dan mengajarkannya. Dengannya, predikat terbaik akan diraih dan dengannya pula berbagai kebaikan akan selalu mengiringi perjalanan hidup mereka. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ القُرْآنَ وَعَلَّمَهُ

“Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari al-Qur’an dan mengajarkannya.” ( HR. al-Bukhari no. 5027, dari sahabat Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu)

 

Al-Qur’an, Kitab Suci yang Sangat Terpelihara

Al-Qur’an kitab suci yang sangat terpelihara. Tidak akan datang kepadanya kebatilan baik dari depan maupun dari belakangnya. Karena yang menurunkannya ialah Allah ‘azza wa jalla Dzat yang Mahabijaksana lagi Maha Terpuji. Dia ‘azza wa jalla telah berjanji memeliharanya untuk selama-lamanya. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

“Yang tidak datang kepadanya (Al-Qur’an) kebatilan baik dari depan maupun dari belakangnya, yang diturunkan dari Rabb yang Mahabijaksana lagi Maha Terpuji.” (Fushshilat: 42)

“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan al-Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” (al-Hijr: 9)

Lebih dari itu, al-Qur’an berkedudukan sebagai tolok ukur kebenaran terhadap kandungan kitab-kitab sebelumnya. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

“Dan Kami telah menurunkan kepadamu al-Qur’an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan tolok ukur kebenaran terhadap kitab-kitab yang lain itu.” (al-Maidah: 48)

Demikian agung dan terpeliharanya Kitab Suci al-Qur’an. Namun, di mata kaum Syi’ah yang sesat ternyata tidak demikian adanya. Al-Qur’an yang merupakan kitab suci umat Islam tak lagi dianggap suci oleh mereka, bahkan tidak sah dan kurang dari yang aslinya.

Disebutkan dalam kitab al-Kafi (yang kedudukannya di sisi mereka seperti Shahih al-Bukhari di sisi kaum muslimin) karya Abu Ja’far Muhammad bin Ya’qub al-Kulaini 2/634 dari Abu Abdillah (Ja’far ash-Shadiq), dia berkata, “Sesungguhnya al-Qur’an yang dibawa Jibril kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam itu (ada) 17.000 ayat.”

Pada 1/239—240 disebutkan dari Abu Abdillah, dia berkata, “Sesungguhnya di sisi kami ada Mushaf Fatimah ‘alaihas salam, mereka tidak tahu apa Mushaf Fatimah itu. Abu Bashir berkata, ‘Apa mushaf Fatimah itu?’ Dia (Abu Abdillah) berkata, ‘Mushaf yang isinya 3 kali lipat dari yang ada di mushaf kalian. Demi Allah, tidak ada padanya satu huruf pun dari al-Qur’an kalian’.” (Dinukil dari kitab asy-Syi’ah wal Qur’an karya Dr. Ihsan Ilahi Zhahir, hlm. 31—32)

“Alangkah buruknya kata-kata yang keluar dari mulut mereka; mereka tidak mengatakan (sesuatu) kecuali dusta.” (al-Kahfi: 5)

“Katakanlah, ‘Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa dengan Al-Qur’an ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengannya, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain’.” (al-Isra’: 88)

 

Al-Qur’an Kalamullah, Bukan Makhluk

Di antara prinsip Ahlus Sunnah wal Jamaah yang paling mendasar adalah keyakinan bahwa al-Qur’an adalah kalamullah (firman Allah ‘azza wa jalla), bukan makhluk. Allah ‘azza wa jalla berfirman dengannya secara hakiki, dengan huruf (lafadz) dan maknanya.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Termasuk dari keimanan kepada Allah ‘azza wa jalla dan kitab-kitab-Nya adalah beriman bahwa al-Qur’an adalah kalamullah (firman Allah ‘azza wa jalla) yang diturunkan dari Allah ‘azza wa jalla, bukan makhluk. Dari Allah ‘azza wa jalla al-Qur’an itu berasal dan kepada-Nya pula ia akan kembali. Allah ‘azza wa jalla berfirman (berkata) dengannya secara hakiki. Al-Qur’an yang Allah ‘azza wa jalla turunkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam ini adalah kalamullah (firman Allah ‘azza wa jalla) secara hakiki, bukan perkataan selain-Nya. Tidak boleh menyatakan bahwa al-Qur’an hikayat tentang kalamullah (firman Allah ‘azza wa jalla) atau ungkapan tentang kalamullah (firman Allah ‘azza wa jalla). Bahkan, jika al-Qur’an itu dibaca oleh manusia atau ditulis dalam mushaf-mushaf, tidaklah mengeluarkan dia dari kedudukannya sebagai kalamullah (firman Allah ‘azza wa jalla) yang sebenarnya. Sebab, sebuah perkataan disandarkan hanya kepada yang pertama kali mengatakannya, tidak kepada pihak (kedua, -pen.) yang berstatus sebagai penyampainya. Al-Qur’an adalah kalamullah (firman Allah ‘azza wa jalla), huruf (lafadz) dan maknanya. Kalamullah (firman Allah ‘azza wa jalla) itu bukanlah huruf (lafadz) semata tanpa makna, dan bukan pula makna semata tanpa huruf (lafadz).” (al-Aqidah al-Wasithiyah)

Prinsip Ahlus Sunnah tersebut sungguh berbeda dengan prinsip kelompok sesat Mu’tazilah[3] dan Jahmiyah[4] yang menyatakan bahwa al-Qur’an adalah makhluk. Berawal dari niatan ingin menyucikan Allah ‘azza wa jalla dari sifat-sifat makhluk-Nya—dengan mengandalkan akal tanpa bimbingan ilmu—akhirnya terjatuh dalam sikap yang lebih ekstrem, yaitu ta’thil (meniadakan) sifat-sifat Allah ‘azza wa jalla secara total, termasuk sifat kalam (berbicara) bagi Allah ‘azza wa jalla. Dengan itu, mereka menetapkan bahwa Allah ‘azza wa jalla tidak mempunyai sifat berbicara alias bisu. Mahasuci Allah ‘azza wa jalla dari pernyataan keji mereka itu. Karenanya, para ulama Ahlus Sunnah menyatakan, “Barang siapa mengatakan bahwa al-Qur’an adalah makhluk maka dia kafir.”

Allah ‘azza wa jalla telah menetapkan sifat kalam (berbicara) untuk diri-Nya yang  Mahamulia sebagaimana yang terdapat dalam banyak ayat dari al-Qur’an, demikian pula Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam banyak haditsnya. Tentunya, sifat kalam (berbicara) bagi Allah ‘azza wa jalla tersebut sesuai dengan keagungan dan kebesaran-Nya, tidak serupa sama sekali dengan sifat makhluk-Nya. Adapun al-Qur’an, dengan tegas Allah ‘azza wa jalla menyatakan bahwa ia adalah kalamullah (firman Allah ‘azza wa jalla) sebagaimana dalam firman-Nya,

“Dan jika seorang di antara orang-orang musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia supaya sempat mendengar kalamullah (Al-Qur’an), kemudian antarkanlah ia ke tempat yang aman baginya. Demikian itu disebabkan mereka kaum yang tidak mengetahui.” (at-Taubah: 6)

Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah berkata, “Padanya terdapat hujah (argumen) yang gamblang bagi mazhab Ahlus Sunnah wal Jama’ah yang menyatakan bahwa al-Qur’an kalamullah bukan makhluk, karena Dia ‘azza wa jalla yang berfirman dengannya (al-Qur’an). Allah ‘azza wa jalla menyandarkan (mengidhafahkan) al-Qur’an kepada diri-Nya sebagai bentuk penyandaran sifat kepada Dzat yang disifati (yakni Allah ‘azza wa jalla). Padanya pula terdapat bukti kebatilan mazhab Mu’tazilah dan yang mengikuti mereka yang mengatakan bahwa al-Qur’an adalah makhluk. Betapa banyak dalil yang menunjukkan batilnya pernyataan tersebut, namun bukan di sini tempat untuk membahasnya.” (Taisir al-Karimirrahman 1/329)

Kitab-kitab para ulama Ahlus Sunnah yang membantah syubhat-syubhat Mu’tazilah dan Jahmiyah cukup banyak, terkhusus dalam permasalahan al-Qur’an. Di antaranya; ar-Rad ‘ala az-Zanadiqah wal Jahmiyah karya al- Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah, ar-Rad ‘ala al-Jahmiyah karya al-Imam Muhammad bin Ishaq bin Mandah rahimahullah, ar-Rad ‘ala al-Jahmiyah karya al-Imam ‘Utsman bin Sa’id ad-Darimi rahimahullah, al-Haidah wa al-I’tidzar firraddi ‘ala Man Qala Bikhalqi al-Qur’an karya al-Imam Abdul Aziz bin Yahya al-Kinani rahimahullah, dan yang lainnya.

Prinsip Ahlus Sunnah tersebut juga sangat berbeda dengan prinsip kelompok sesat Kullabiyah[5] yang menyatakan bahwa al-Qur’an adalah hikayat tentang kalamullah (firman Allah ‘azza wa jalla), atau kelompok sesat Asya’irah[6] yang menyatakan bahwa al-Qur’an adalah ungkapan tentang kalamullah (firman Allah ‘azza wa jalla).[7]

Dasar mereka adalah bahwa sifat kalam (berbicara) bagi Allah ‘azza wa jalla adalah qadim (azali), sama dengan sifat ilmu (mengetahui) bagi Allah ‘azza wa jalla, sehingga tidak berbilang karena adanya suatu kehendak atau kejadian. Maka dari itu, al-Qur’an adalah kalam nafsi bagi Allah ‘azza wa jalla bukan kalam hakiki. Maksudnya, Allah ‘azza wa jalla berbicara dalam jiwanya (tidak terdengar), lantas menjadikan Malaikat Jibril ‘alaihissallam paham tentangnya, kemudian Malaikat Jibrillah yang mengungkapkannya dalam bentuk firman yang mempunyai huruf dan lafadz (suara). Jadi, maknanya berasal dari Allah ‘azza wa jalla sedangkan lafadznya dari Malaikat Jibril ‘alaihissallam. (Ajwibah Mufidah ‘an As’ilah ‘Adidah, asy-Syaikh Abdul Aziz ar-Rajihi hlm. 26 dan Syarh al- Aqidah ath-Thahawiyah karya asy-Syaikh Shalih Alusy Syaikh hlm. 113)

Menurut asy-Syaikh Abdul Aziz ar-Rajihi hafizhahullah, prinsip Asya’irah tentang al-Qur’an ini sama dengan prinsip orang Kristen tentang Isa al-Masih. Menurut orang Kristen, Isa al-Masih merupakan gabungan dari Dzat Allah ‘azza wa jalla dan Maryam (makhluk). Demikian pula menurut Asya’irah, al-Qur’an merupakan gabungan dari Dzat Allah ‘azza wa jalla dan makhluk. Yakni maknanya dari Allah ‘azza wa jalla (kalam nafsi), sedangkan huruf dan lafadznya dari Malaikat Jibril ‘alaihissallam atau Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. (Lihat Syarh al-Aqidah ath-Thahawiyah hlm. 98)

Para ulama Ahlus Sunnah dalam kitab-kitab mereka menjelaskan bahwa sifat kalam (berbicara) bagi Allah ‘azza wa jallaqadimun nau’ wa haditsul ahad”. Qadimun nau’ maksudnya, sifat kalam (berbicara) bagi Allah ‘azza wa jalla itu qadim (azali), selalu ada dan melekat pada Dzat Allah ‘azza wa jalla. Haditsul ahad maksudnya, Allah ‘azza wa jalla Maha Berbicara kapan saja Dia ‘azza wa jalla berkendak untuk berbicara, sesuai dengan kemuliaan dan kebesaran-Nya. Dalil-dalil dari al-Qur’an dan as-Sunnah menunjukkan bahwa Allah ‘azza wa jalla berbicara secara hakiki, dengan huruf (lafadz) dan maknanya. Tidak dengan huruf (lafadz)-nya semata tanpa maknanya sebagaimana klaim Mu’tazilah dan Jahmiyah, dan tidak pula dengan maknanya semata tanpa huruf (lafadz) sebagaimana klaim Kullabiyah dan Asya’irah. Dengan itulah, pemahaman tentang sifat kalam (berbicara) bagi Allah ‘azza wa jalla menjadi benar, dan dengan itu pula pemahaman tentang hakikat al-Qur’an menjadi lurus.[8]

Kitab-kitab para ulama Ahlus Sunnah yang membantah secara detail kelompok sesat Asya’irah dan yang semisalnya cukup banyak, di antaranya Majmu’ Fatawa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (di beberapa tempat darinya), kitab at-Tis’iniyah karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah yang disebutkan padanya sembilan puluh sisi bantahan terhadap syubhat-syubhat mereka, karena itu disebut dengan at-Tis’iniyah, karya-karya al-Imam Ibnul Qayyim terutama kitab Mukhtashar ash-Shawaiq al-Mursalah, dan selainnya dari kitab-kitab para ulama Ahlus Sunnah yang mulia.

Demikianlah yang dijelaskan oleh asy-Syaikh Abdul Aziz ar-Rajihi hafizhahullah dalam Syarh al-Aqidah ath-Thahawiyah (hlm. 113), dan asy-Syaikh Shalih Alusy Syaikh hafizhahullah dalam Syarh al-Aqidah ath-Thahawiyah (hlm. 119) dan Syarh al-Aqidah al- Wasithiyah (1/354).

Ya Allah, jadikanlah al-Qur’an itu sebagai penyejuk hati kami, cahaya jiwa kami, pelipur lara kesedihan kami, dan penyirna kegundahan kami.


[1] Belakangan ini muncul statemen sesat bahwa al-Qur’an adalah produk budaya, dalam hal ini budaya masyarakat Arab yang al-Qur’an turun di tengah-tengah mereka. Statemen ini datang dari antek-antek para orientalis barat, semisal Nasr Hamid Abu Zaid asal Mesir. Ujungnya, al-Qur’an bukan kitab suci yang sakral sehingga layak dikritisi secara teks apalagi maknanya karena ia hanyalah produk budaya. Betapa bahayanya statemen tersebut. Fakta membuktikan bahwa al-Qur’an adalah wahyu ilahi yang justru banyak membongkar berbagai kesesatan budaya Arab ketika itu, bahkan memaparkan jalan-jalan kebenaran yang sebelumnya tidak mereka ketahui. Lebih dari itu, al-Qur’an meluruskan makna kosa kata Arab yang lekat dengan budaya mereka kepada makna yang islami. Misalnya kosa kata ikhwah, dalam budaya Arab ketika itu berkonotasi pada kekuatan dan fanatik kesukuan, lantas diubah maknanya dengan memperkenalkan gagasan persaudaraan yang dibangun di atas dasar iman, yang lebih tinggi dari sebatas hubungan darah dan kesukuan.

[2] Lihat Tafsir Ibnu Abbas (2/135), Majmu’ Fatawa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (15/223—224), Fatawa wa Rasail Samahatusy Syaikh Muhammad bin Ibrahim Alusy Syaikh (1/225), dan Adhwa’ul Bayan karya asy-Syaikh Muhammad al-Amin asy-Syinqithi, tafsir QS. Fushshilat: 2 dan QS. al-Qadr: 1

[3] Pengikut Abu Hudzaifah Washil bin Atha’ al-Ghazzal al-Bashri, mantan murid al-Imam Hasan al-Bashri yang

menyimpang dari kebenaran.

[4] Pengikut Jahm bin Shafwan at-Tirmidzi yang merupakan murid dari Ja’ad bin Dirham. Ja’ad bin Dirham sendiri tergolong orang pertama dari umat ini yang meniadakan sifat-sifat Allah ‘azza wa jalla dan mengatakan bahwa al-Qur’an adalah makhluk.

[5] Pengikut Abu Muhammad Abdullah bin Sa’id bin Kullab al-Bashri.

[6] Pengikut Abul Hasan Ali bin Ismail al-Asy’ari yang berpegang dengan prinsip-prinsip beliau pada fase ketika bersama Kullabiyah. Adapun beliau sendiri, telah menyatakan rujuk dari berbagai penyimpangan tersebut dan berupaya berpijak di atas prinsip Ahlus Sunnah (fase ketiga), walaupun masih ada beberapa hal yang terluput dari beliau. Lihat Majalah asy-Syari’ah edisi Mengupas Paham Asy’ariyah.

[7] Lihat Majmu’ Fatawa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (12/160—161).

[8] Lihat at-Ta’liqat al-Mukhtasharah ‘ala Matni al-Aqidah ath-Thahawiyah karya asy-Syaikh Shalih al-Fauzan (hlm. 66—71), Syarh al-Aqidah al-Wasithiyah karya asy-Syaikh Muhammad Khalil al-Harras (hlm. 181—187), Syarh Lum’atul I’tiqad karya asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin (hlm. 19—20), dll.

Al Quran Petunjuk Ke Jalan Yang Benar

إِنَّ هَٰذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ

“Sesungguhnya al-Qur’anini memberikan petunjuk kepada yang lebih lurus.” (al-Isra’: 9)

Penjelasan Mufradat Ayat

يَهْدِ

“memberikan petunjuk….”
Menurut al-Alusi rahimahumullah, yaitu memberikan petunjuk bagi manusia semuanya, bukan hanya kelompok tertentu.

لِلَّتِي

“kepada yang….”

Kata ini berkedudukan sebagai sifat/na’at terhadap suatu kata yang tersembunyi, yang bila ditunjukkan berarti jalan, sehingga maknanya: “kepada (jalan) yang….” Sebagian ahli bahasa berpendapat, ia berkedudukan sebagai hal (menerangkan keadaan). Artinya,“kepada keadaan yang lebih lurus”, yaitu mentauhidkan Allah Subhanahuwata’ala dan beriman kepada para rasul-Nya.

أَقْوَمُ

“Lebih lurus.”
Maknanya, yang lebih benar dan lebih adil, yaitu Islam dan kalimat syahadat. Banyak ulama tafsir memaknainya dengan mengesakan Allah Subhanahuwata’ala, beriman kepada- Nya dan kepada para rasul-Nya, serta beramal dengan menaati-Nya.

Tafsir Ayat

Asy-Syaikh as-Sa’di rahimahumullah dalam tafsirnya menyatakan, pada ayat ini Allah Subhanahuwata’ala memberitakan tentang kemuliaan dan keagungan al-Qur’an, yaitu ia memberikan petunjuk kepada jalan yang lebih lurus. Maksudnya, yang lebih adil dan lebih tinggi (mulia), berupa keyakinan, amal kebaikan, dan akhlak (yang mulia). Barang siapa memperoleh petunjuk dengan perkara yang diseru oleh al-Qur’an, tentu ia akan menjadi manusia yang paling sempurna, paling lurus, dan paling benar pada seluruh urusannya.

Ibnu Katsir rahimahumullah menjelaskan dalam tafsirnya, Allah Subhanahuwata’ala memuji kitab-Nya yang mulia, yang Ia turunkan kepada Rasul-Nya, Muhammad, yaitu al-Qur’an. Ia (al-Qur’an) memberi petunjuk kepada jalan yang lebih lurus dan lebih jelas/terang. Diterangkan oleh Ibnu Jarir ath- Thabari t dalam tafsirnya, Allah l menyebutkan dalam ayat ini, al Qur’an yang telah Dia turunkan kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan bimbingan dan petunjuk bagi orang mukmin kepada jalan yang lebih lurus, yaitu jalan yang lebih lurus daripada jalan lainnya. Itulah agama Allah Subhanahuwata’ala, agama yang Allah Subhanahuwata’ala mengutus dengannya para nabi-Nya, yaitu agama Islam.

Beliau juga menyebutkan sebuah riwayat dari jalan Yunus, dari Ibnu Wahb, dari Ibnu Zaid—seputar tafsir ayat ini— beliau berkata, “Maksudnya, al-Qur’an memberikan petunjuk kepada jalan yang lebih benar. Ia (al-Qur’an) itu yang benar dan yang haq, lawannya adalah yang batil/salah. Lalu beliau membaca,

“Di dalamnya terdapat (isi) kitabkitab yang lurus.”

Artinya, berisikan kebenaran dan tidak ada kebengkokan di dalamnya, sebagaimana halnya firman Allah Subhanahuwata’ala ,

وَلَمْ يَجْعَل لَّهُ عِوَجًا ۜ  قَيِّمًا

“Dia tidak mengadakan kebengkokan didalamnya; sebagai bimbingan yang lurus.” (al-Kahfi: 1)

Asy-Syaukani rahimahumullah dalam tafsirnya, Fathul Qadir, menyebutkan sebuah riwayat yang dikeluarkan oleh al-Hakim t, dari Ibnu Mas’ud z, bahwasanya beliau sering membaca ayat ini. Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim t dalam tafsirnya dari Qatadah t yang berkata, “Maknanya, al-Qur’an memberikan petunjuk kepada kalian tentang penyakit dan obatnya. Penyakit yang dimaksud adalah dosa-dosa dan kesalahan. Adapun obatnya adalah dengan istighfar (memohon ampun kepada-Nya).”

Al-Qur’an, Petunjuk ke Jalan yang Benar.

Asy-Syinqithi rahimahumullah menerangkan dalam tafsirnya, pada ayat ini Allah Subhanahuwata’ala menyebutkan bahwa al-Qur’an adalah kitab yang paling agung dibandingkan dengan kitab-kitab samawi yang lain. Terkumpul padanya seluruh ilmu. Ia adalah kitab terakhir yang turun. Ia memberikan petunjuk kepada jalan yang lebih lurus, yaitu jalan yang lebih adil, benar, dan mulia.

Pada ayat ini pula, Allah Subhanahuwata’ala mengumpulkan dan menyebutkan secara umum (tidak terperinci) semua yang ada pada al-Qur’an, yaitu petunjuk kepada jalan yang paling baik, adil, dan benar. Seandainya kita menyelidiki rincian ayat ini dalam bentuk yang sempurna, pasti kita akan mendapatkan semua itu pada al-Qur’an yang agung ini.

Sebab, seluruh urusan terkandung pada ayat ini. Ayat ini mengandung petunjuk kepada kebaikan dunia dan akhirat. Berikut akan kami sebutkan beberapa masalah yang penting dan diingkari oleh orang-orang kafir. Mereka mencela Islam karenanya, akibat ketidak mampuan mereka memahami hikmah yang sangat mulia dalam al-Qur’an. Inilah jalan yang lurus yang ditunjukkan oleh al-Qur’an, di antaranya:

1. Tauhidullah (keesaan Allah Subhanahuwata’ala ) Al-Qur’an telah memberikan petunjuk kepada jalan yang lebih lurus dan adil, yaitu keesaan-Nya dalam hal rububiyah-Nya, peribadahan kepada- Nya, nama-nama, dan sifat-sifat-Nya. Berdasarkan hasil penelitian/kajian terhadap al-Qur’an bahwa tauhidullah terbagi menjadi tiga macam:

a. Tauhidullah dalam hal rububiyah- mengatur segala urusan, menghidupkan, mematikan, dan sebagainya. Di antara ayat yang menunjukkan hal ini adalah:

وَلَئِن سَأَلْتَهُم مَّنْ خَلَقَهُمْ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ

Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka,”Siapakah yang menciptakan mereka?” Niscaya mereka menjawab,“Allah.” (az-Zukhruf: 87)

Jenis tauhid ini telah terbentuk dan diakui oleh fitrah orang-orang yang berakal. Namun, pengakuan ini tidak bermanfaat kecuali dengan mengikhlaskan (memurnikan) ibadah hanya untuk Allah Subhanahuwata’la .

b. Tauhidullah dalam hal peribadahan Kaidahnya adalah perwujudan makna kalimat La ilaha illallah. Kalimat ini tersusun dari dua makna: peniadaan dan penetapan.
Makna peniadaan adalah melepaskan segala jenis yang diibadahi selain Allah Subhanahuwata’la, apa pun dan siapa pun dia, pada semua jenis peribadahan. Adapun makna penetapan adalah mengesakan Allah Subhanahuwata’la semata pada seluruh jenis ibadah dengan ikhlas dalam bentuk yang sesuai dengan ajaran Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kebanyakan ayat yang ada pada al-Qur’an menerangkan masalah ini. Misalnya firman Allah Subhanahuwata’la,

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنبِكَ

“Maka ketahuilah bahwa sesungguhnya tidak ada sesembahan (yang hak untuk diibadahi) selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu.” (Muhammad: 19)

c. Tauhidullah dalam nama-nama dan sifat-sifat-Nya. Ada dua prinsip yang mendasari masalah ini: Pertama, menyucikan-Nya dari penyerupaan dengan sifat-sifat para makhluk, sebagaimana firman Allah Subhanahuwata’la,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيْه [حديث حسن رواه الترمذي وغيره هكذا]

“Tidakadasesuatupunyangserupa dengan Dia.” (asy-Syura: 11)

Kedua, mengimani sifat-sifat- Nya yang disebutkan oleh Allah Subhanahuwata’la atau yang disebutkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam bentuk yang sesuai dengan kesempurnaan dan kemuliaan-Nya, seperti firman Allah Subhanahuwata’la,

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

“Tidak ada sesuatu pun yangserupa dengan Dia, dan Dialah YangMaha Mengetahui lagi Maha Melihat.” (asy- Syura: 11)

2. Allah Subhanahuwata’la menjadikan talak (menceraikan istri) berada ditangan laki-laki (para suami) Firman Allah Subhanahuwata’la,

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ إِذَا طَلَّقْتُمُ النِّسَاءَ

“Hai Nabi, apabila kamu menceraikan istri-istrimu….” (ath-Thalaq: 1)

Sebab, wanita (para istri) diperumpamakan seperti sawah ladang (tempat bercocok tanam), ditaburkan padanya air laki-laki, sebagaimana ditaburkannya benih/biji-bijian pada bumi (sawah ladang). Allah Subhanahuwata’la berfirman,

نِسَاؤُكُمْ حَرْثٌ لَّكُمْ

“Istri-istrimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanam.” (al- Baqarah: 223)

Seorang petani tidak akan memaksa diri untuk menabur benih pada ladang yang tidak ia sukai untuk tempat bercocok tanam. Bisa jadi, menurutnya, tempat itu tidak layak baginya. Adapun bukti pasti yang dapat dinalar bahwa suami itu ibarat petani dan istri ibarat sawah ladang; alat bertanam ada pada suami. Kalau sang istri berkehendak untuk berhubungan dengan suami, dalam keadaan sang suami tidak berkenan dan tidak menyukai, sang istri tidak akan mampu berbuat apa-apa. Sebaliknya, jika sang suami berkenan dan memaksa sang istri, dalam keadaan ia (istri) tidak menyukai, akan terjadi kehamilan dan kelahiran.

Maka dari itu, tabiat dan fitrah menunjukkan bahwa suami itu sebagai pelaku (subjek) dan istri sebagai objek. Dengan demikian, orang-orang berakal sepakat bahwa penisbahan anak itu kepada suami, bukan kepada istri. Disamakannya wanita (istri) dan laki laki (suami) dalam hal ini diingkari oleh nalar, dan masalahnya cukup jelas.

3. Dibolehkan bagi laki-laki untuk berpoligami

Di antara bentuk al-Qur’an memberikan petunjuk kepada jalan yang benar adalah dibolehkannya seorang laki-laki menikahi wanita lebih dari satu (sampai memiliki empat istri). Jika seorang khawatir tidak dapat berbuat adil, cukup baginya seorang istri atau budak yang ia miliki.

وَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تُقْسِطُوا فِي الْيَتَامَىٰ فَانكِحُوا مَا طَابَ لَكُم مِّنَ النِّسَاءِ مَثْنَىٰ وَثُلَاثَ وَرُبَاعَ ۖ فَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تَعْدِلُوا فَوَاحِدَةً أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ

“Jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bila mana kamu mengawininya), kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga, atau empat.Kemudian jika kamu taku tidak akan berlaku adil,(kawinilah) seorang saja atau budak-budak yang kamu miliki.” (an-Nisa: 3)

4. Dalam warisan, bagian laki laki lebih banyak daripadawanita

Di antara bukti yang menunjukkan bahwa al-Qur’an memberikan petunjuk kepada jalan yang lurus, laki-laki mendapatkan bagian yang lebih besar daripada wanita. Allah l berfirman,

وَإِن كَانُوا إِخْوَةً رِّجَالًا وَنِسَاءً فَلِلذَّكَرِ مِثْلُ حَظِّ الْأُنثَيَيْنِ ۗ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ أَن تَضِلُّوا ۗ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

“Dan jika mereka (ahli waris itu terdiri dari) saudara-saudara laki dan perempuan, maka bagian seorang saudara laki-laki sebanyak bagian dua orang saudara perempuan. Allah menerangkan hukum ini kepadamu, supaya kamu tidak sesat dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (an-Nisa: 176)

Di antara alasannya, laki-laki memiliki keutamaan dari sisi penciptaan (tabiat asal), kekuatan, kemuliaan, dan keelokan. Sebaliknya, wanita diciptakan Allah Subhanahuwata’la dalam kondisi kurang akal, lemah. Wanita yang pertama kali ada diciptakan oleh Allah Subhanahuwata’la dari bagian tubuh laki-laki (tulang rusuk). Allah Subhanahuwata’la berfirman,

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ

“Kaum laki-laki tu adalah pemimpin bagi kaum wanita, karena Allah telah Melebihkan sebagian mereka(laki-laki) atas sebagian yang lain (wanita).” (an- Nisa: 34)

وَلِلرِّجَالِ عَلَيْهِنَّ دَرَجَةٌ

“Akan tetapi, para suami mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada istrinya.” (al-Baqarah: 228)

Dengan demikian, laki-laki tidak sama dengan wanita. Allah Subhanahuwata’la berfirman,

وَلَيْسَ الذَّكَرُ كَالْأُنثَىٰ

“Dan anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan.” (AliImran: 36)

Barang siapa mengatakan perempuan sama dengan laki-laki, ia telah merelakan dirinya untuk menjadi manusia yang terlaknat. Dalam sebuah hadits disebutkan,

لَعَنَ رَسُولُ اللهِ الْمُتَشَبِّهَاتِ بِالرِّجَالِ مِنْ  النِّسَاءِ وَالْمُتَشَبِّهِينَ بِالنِّسَاءِ مِنَ الرِّجَالِ

“Rasulullah n melaknat wanita yang menyerupai laki-laki dan laki-laki yang menyerupai wanita.” (HR. at- Tirmidzi, beliau menyatakan hadits ini hasan sahih)

5. Mengamalkan sunnah Di antara bukti bahwa al-Qur’an memberikan petunjuk kepada jalan yang benar ialah iamemerintahkan manusia untuk memahami serta mengamalkan isi dan kandungannya dengan mengamalkan sunnah Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah Subhanahuwata’ala berfirman,

وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانتَهُو

“Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia! Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah!” (al Hasyr: 7)
Wallahuta’ala a’lam bish-shawab.

Al-Ustadz Abu Ubaidah Syafruddin

Mengumpulkan Al-Qur’an

Kisah Abu Bakr Ash-Shiddiq radhiyallahu anhu

Di Masa Nubuwah

Sejak al-Qur’anul Karim turun, Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah membiasakan para sahabat mengumpulkan al-Qur’an, menuliskannya, bahkan memerintahkannya dan mendiktekannya. Tidak hanya itu, beliau  shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengajari para sahabat radhiyallahu anhuma cara membacanya secara tepat dan menerangkan pula makna-maknanya serta memberi contoh penerapannya. Setelah 23 tahun mengajarkan al- Qur’an, beliau pun meninggalkan dunia yang fana ini dalam keadaan al-Qur’anul Karim ini sudah dihafal oleh sebagian besar sahabatnya dan dipahami makna maknanya oleh mereka.

Semoga Allah Subhanahuwata’ala melimpahkan shalawat dan salam- Nya untuk beliau. Al-Qur’an tidak dikumpulkan dalam satu mushaf pada masa Nabi  shallallahu ‘alaihi wa sallam karena masih menunggu kemungkinan adanya nasikh (yang menghapus [hukum atau bacaan] ayat sebelumnya). Setelah berhenti masa turunnya al-Qur’an dengan wafatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Allah Subhanahuwata’ala mengilhamkan kepada para al-Khulafa ar-Rasyidin untuk mengumpulkannya. Allah Subhanahuwata’ala memenuhi janji-Nya yang pasti dan benar—bahkan Dia tidak pernah menyalahi janji—bahwa Dia menjamin akan memelihara Kitab-Nya untuk umat ini, sebagaimana firman-Nya,

“Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan al-Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” (al- Hijr: 19)

Inilah janji Allah Subhanahuwata’ala, bahwa Dia akan memelihara Kitab Suci yang mulia ini, baik di saat turunnya maupun setelahnya. Pada saat turunnya, Allah Subhanahuwata’ala memeliharanya dari setan yang ingin mencurinya, sedangkan setelah turunnya, Allah Subhanahuwata’ala meletakkannya di dada Rasul- Nya  shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian di dada umatnya. Termasuk di sini, Allah Subhanahuwata’ala memeliharanya dari perubahan terhadap lafadznya, apakah dengan penambahan ataukah pengurangan.

 Allah Subhanahuwata’ala memelihara pula makna-maknanya, maka tidak ada seorang pun yang berusaha menyelewengkan maknanya melainkan Allah Subhanahuwata’ala membangkitkan sebagian hamba-Nya yang akan menjelaskan mana yang haq. Segala puji dan syukur hanya milik Allah Subhanahuwata’ala.

Badruddinaz –Zarkasyi rahimahumullah menukilkan bahwa penulisan al-Qur’an bukanlah perkara muhdats (bid’ah dalam masalah agama). Sebab, semasa hidupnya, Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu memerintahkan agar para sahabat menuliskannya. Bahkan, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mempunyai beberapa orang penulis wahyu di antara para sahabat radhiyallahu anhuma.

Akan tetapi, penulisan tersebut masih terserak-serak di beberapa tempat. Ada yang ditulis di pelepah pelepah kurma, lempengan-lempengan batu, lembaranlembaran kulit, tulang-tulang binatang ternak kalau sudah kering, dan kayu kayu tempat duduk yang diletakkan di punggung-punggung unta.

Pengumpulan al-Qur’an sendiri bisa bermakna menghafalnya dan membacanya tanpa melihat tulisannya. Bisa juga bermakna penulisannya, baik huruf, kata, maupun surat-suratnya. Jadi, yang pertama adalah pengumpulan di dalam dada, sedangkan yang kedua adalah pengumpulan di lembaran-lembaran kertas atau mushaf.

Pengumpulan al-Qur’anul Karim dalam bentuk penulisan terjadi tiga kali pada masa generasi pertama. Yang pertama pada masa Rasulullah n, yang kedua pada masa Abu Bakr ash-Shiddiq radhiyallahu anhu, dan yang ketiga terjadi pada masa ‘Utsman bin ‘Affan radhiyallahu anhu. Pada masa Khalifah ‘Utsman inilah dibuat beberapa mushaf lalu dikirim ke seluruh penjuru di mana kaum muslimin berada. Pada masa inilah muncul berbagai penilaian yang membuat kabur persoalan ini bagi sebagian besar kaum muslimin.

Masa Khalifah Abu Bakr

Dalam Perang Yamamah—yang diceritakan dalam edisi lalu—banyak sahabat yang menghafal al-Qur’an gugur sebagai syuhada. Melihat keadaan ini, ‘Umar al-Faruq radhiyallahu anhu segera menemui Khalifah dan berkata, “Sebagaimana Anda ketahui, dalam Perang Yamamah ini telah gugur banyak para penghafal al-Qur’an. Saya khawatir, kalau terjadi peristiwa seperti ini, banyak al-Qur’an yang akan hilang. Menurut saya, sebaiknya Anda segera memberi perintah agar kaum muslimin mengumpulkan al-Qur’an.”

Abu Bakr ash-Shiddiq segera menjawab, “Bagaimana mungkin aku mengerjakan sesuatu yang tidak pernah dikerjakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?” ‘Umar z mengajukan beberapa alasan hingga memantapkan hati Abu Bakr menerima sarannya. Setelah hati Abu Bakr dilapangkan oleh Allah Subhanahuwata’ala untuk menerima kebenaran yang disampaikan ‘Umar, keduanya berangkat mencari Zaid bin Tsabit radhiyallahu anhu. Setelah itu, Khalifah Abu Bakr berkata kepada Zaid, “Tadi ‘Umar menemuiku dan mengatakan bahwa para penghafal al-Qur’an dalam Perang Yamamah banyak yang gugur dan ia khawatir kalau terjadi peperangan di beberapa tempat lagi akan menjadi sebab banyaknya al-Qur’an yang hilang, lalu ia menyarankan agar aku memerintahkan agar al-Qur’an dikumpulkan. Saya katakan kepadanya bahwa bagaimana mungkin kita mengerjakan sesuatu yang tidak pernah dikerjakan oleh Rasulullah adalah baik.

Dia pun menerangkan beberapa alasan sampai Allah Subhanahuwata’ala melapangkan hatiku menerimanya.” Kemudian Abu Bakr melanjutkan, “Dan engkau, Zaid, adalah seorang pemuda yang cerdas, kami tidak mencurigaimu. Apalagi engkau pernah menulis wahyu untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Carilah ayat-ayat al-Qur’an yang terserak-serak itu dan kumpulkanlah.”

Mendengar penuturan Khalifah ini, Zaid berkata, “Demi Allah, seandainya Anda berdua menugaskan saya memindahkan sebuah gunung, itu lebih mudah daripada mengerjakan apa yang Anda berdua perintahkan kepada saya.” “Bagaimana mungkin saya mengerjakan sesuatu yang tidak pernah dikerjakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?” lanjut Zaid.

Khalifah dan sahabatnya, al-Faruq, tidak henti-hentinya menerangkan kepada Zaid kebaikan dan maslahat yang besar dari pekerjaan tersebut. Akhirnya, Allah Subhanahuwata’ala membukakan hati Zaid untuk menerima penjelasan mereka berdua, lalu ia pun mengerjakannya.

Ketika itu, Zaid bin Tsabit berusia 22 tahun. Beliau pernah ditugaskan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mempelajari bahasa Ibrani (bahasa ibu orang-orang Yahudi). Mulailah Zaid mengumpulkan al- Qur’an. Zaid sendiri adalah seorang penghafal al-Qur’an, bahkan beliau menyimpan catatan al-Qur’an itu untuk dirinya, namun beliau tidak mengandalkan apa yang beliau hafal dan beliau tulis.

Hal itu karena pekerjaan beliau ini bukan sekadar mengumpulkan al-Qur’an, melainkan juga meneliti dan memastikan kevalidan apa yang ditulisnya pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Khalifah sendiri menugaskan ‘Umar dan Zaid radhiyallahu anhu agar duduk di pintu masjid, kemudian kalau ada yang membawakan dua saksi tentang Kitab Allah, tulislah.

Keduanya segera menjalankan tugas, dan ‘Umar pun berkata, “Siapa yang pernah menerima dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagian al-Qur’an hendaklah dia menemui kami membawa al-Qur’an tersebut.” Demikian pula Zaid yang ditugaskan oleh Khalifah. Zaid segera mendatangi para sahabat untuk menanyai mereka ayat yang ada pada mereka.

Akhirnya, beliau pun mendapatkan al-Qur’an itu dari pelepah-pelepah kurma, lempenganlempengan batu, dan hafalan para sahabat, sampai beliau menerima ayat terakhir surat at-Taubah (128 sampai selesai) dari Khuzaimah bin Tsabit .

Jadi, tujuan mereka sebetulnya ialah tidak menuliskan sesuatu dari al-Qur’an selain apa yang pernah mereka tulis di hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bukan sekadar hafalan. Pekerjaan Zaid bin Tsabit ini berlangsung hampir lima belas bulan, sejak Pertempuran Yamamah hingga akhir tahun 11 H atau awal 12 H, dan selesai sebelum wafatnya Abu Bakr ash-Shiddiq adhiyallahu anhu, pada malam Selasa, 17 Jumadi Tsani 13 H.

Mengapa Khalifah dan al-Faruq memilih Zaid yang masih belia, bukan sahabat yang lainnya? Sebagian sejarawan menyebutkan beberapa alasan, berdasarkan perkataan Khalifah ash-Shiddiq Radhiyallahu anhu, sebagaimana diriwayatkan oleh al-Imam al-Bukhari t dalam Shahihnya, yaitu sebagai berikut.

1. Zaid adalah salah seorang sahabat yang hafal al-Qur’an sejak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam masih hidup.

2. Zaid menyaksikan pembacaan terakhir al-Qur’anul Karim ini lalu Al-Qur’an tidak dikumpulkan dalam satu mushaf pada masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam karena masih menunggu kemungkinan adanya nasikh (yang menghapus [hukum atau bacaan] ayat sebelumnya).membacakannya kepada kaum muslimin sampai beliau wafat. Sebab itulah, Khalifah dan ‘Umar menjadikannya sebagai acuan.

3. Zaid termasuk salah seorang penulis wahyu yang diakui oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahkan yang paling terkenal dan paling sering.

4. Zaid mempunyai kecerdasan dan sikap wara’ yang tinggi, demikian pula akhlaknya yang mulia, agamanya yang kokoh, dan bisa menjaga amanat.

5. Usianya yang masih muda, sehingga lebih semangat dan rajin serta lebih giat menjalan tugasnya. Bisa dipertimbangkan juga, selain hal-hal di atas, tulisannya yang bagus dan jelas, karena ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam masih hidup, ia yang sering diminta menulis wahyu atau risalah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Setelah selesai mengumpulkan al- Qur’an di dalam lembaran-lembaran kertas, Khalifah Abu Bakr meminta pendapat sebagian sahabat tentang namanya. Ada yang berpendapat namanya adalah sifr, ada pula yang menamakannya mushaf. Yang terakhir inilah yang dipilih oleh Khalifah ash- Shiddiq dan berlaku sampai sekarang.

Inilah salah satu kebaikan dan jasa Abu Bakr ash-Shiddiq Radhiyallahu anhu, sampai ‘Ali bin Abi Thalib z mengatakan, “Semoga Allah Subhanahiwata’ala merahmati Abu Bakr, beliaulah yang pertama kali mengumpulkan al- Qur’an dalam lembaran mushaf.” Dengan pernyataan tegas ‘Ali Radhiyallahu anhu ini masih ada segolongan orang yang menyatakan bahwa yang pertama mengumpulkan al-Qur’an adalah ‘Ali Radhiyallahu anhu. Sekiranya ada yang sahih riwayat tentang beliau  dalam masalah ini, kemungkinan maknanya adalah pengumpulan dalam bentuk hafalan, atau beliau mengumpulkannya dengan cara lain dan tujuan lain.

 Bahkan, sebagian mufasir dari kalangan Syi’ah menyatakan bahwa ‘Ali Radhiyallahu anhu mengumpulkannya berdasarkan waktu turunnya, nama orang-orang yang turun al-Qur’an itu tentang mereka, takwil ayat-ayat mustasyabih, penentuan nasikhmansukhnya, manayangumum dan khususnya, serta menjelaskan ilmuilmu yang terkait dengan ayat tersebut dan cara membacanya.

Seandainya pendapat ini sahih dan tampaknya yang benar adalah sebaliknya tidak juga menunjukkan bahwa beliau adalah orang yang pertama mengumpulkan al-Qur’an. Mengapa tidak? Karena Ibnu Sirin pernah bertanya kepada ‘Ikrimah, salah seorang murid Ibnu ‘Abbas, “Apakah para sahabat mengumpulkannya sebagaimana turunnya, yang pertama, kemudian yang berikutnya?” Kata ‘Ikrimah, “Seandainya jin dan manusia bersatu melakukannya, mereka tetap tidak mampu.”

Akhirnya, sejak itu mushaf tersebut berada di tangan Khalifah hingga beliau wafat. Kemudian, berada di tangan ‘Umar selama hidupnya dan setelah itu di tangan Hafshah bintu ‘Umar. Mushaf tersebut tetap di tangan Ummul Mukminin Hafshah sampai diminta oleh Khalifah ‘Utsman untuk disalin dan dibuat beberapa kopiannya lalu disebarkan ke beberapa penjuru wilayah Islam.

Setelah itu, mushaf tersebut disimpan ‘Abdullah bin ‘Umar Radhiyallahu anhu, tetapi kemudian diminta oleh Marwan bin al-Hakam ketika pulang menguburkan jenazah Ummul Mukminin Hafshah Radhiyallahu anhu, lalu merobeknya karena khawatir ada sesuatu yang berbeda dengan salinan mushaf yang dibuat oleh ‘Utsman bin ‘Affan Radhiyallahu anhu. Wallahu a’lam. (insyaAllah bersambung)

Al-Ustadz Abu Muhammad Harits

Al-Qur’an Berbicara Tentang Al-Jarh dan At-Ta’dil

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِن جَآءَكُمۡ فَاسِقُۢ بِنَبَإٖ فَتَبَيَّنُوٓاْ أَن تُصِيبُواْ قَوۡمَۢا بِجَهَٰلَةٖ فَتُصۡبِحُواْ عَلَىٰ مَا فَعَلۡتُمۡ نَٰدِمِينَ

“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal dengan perbuatannya itu.” (al-Hujurat: 6)

  Lanjutkan membaca Al-Qur’an Berbicara Tentang Al-Jarh dan At-Ta’dil

Al-Jarh wa At-Ta’dil dalam Al-Qur’an

Sebagai sebuah prinsip yang agung, al-jarh wat-ta’dil tentu tidak dibangun di atas hasil pemikiran seseorang atau bahkan anggapan baik seseorang. Namun ia dibangun di atas fondasi yang kuat, yang tidak mungkin dirobohkan oleh siapa pun. Allah subhanahu wa ta’ala sendiri yang telah meletakkan fondasi tersebut di dalam Al-Qur’an, menjelaskan kepada manusia tentang prinsip memuji dan mencela ini, demi sebuah kemaslahatan yang besar yaitu selamatnya umat manusia di dunia dan akhirat.

Lanjutkan membaca Al-Jarh wa At-Ta’dil dalam Al-Qur’an

Al-Qur’an Penyejuk Kalbu

Al-Qur’an mengandung obat segala penyakit kalbu. Allah ‘azza wa jalla berfirman:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ قَدۡ جَآءَتۡكُم مَّوۡعِظَةٞ مِّن رَّبِّكُمۡ وَشِفَآءٞ لِّمَا فِي ٱلصُّدُورِ

“Wahai manusia, telah datang kepada kalian pelajaran (mau’izhah) dari Rabb kalian dan penyembuh apa yang ada dalam hati.” (Yunus: 57)

وَنُنَزِّلُ مِنَ ٱلۡقُرۡءَانِ مَا هُوَ شِفَآءٞ وَرَحۡمَةٞ لِّلۡمُؤۡمِنِينَ

“Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an ini sesuatu yang merupakan penyembuh dan rahmat buat kaum mukminin.” (al-Isra’: 82)

Lanjutkan membaca Al-Qur’an Penyejuk Kalbu