Al-Qawi

Al-Qawi, Yang Mahakuat, adalah salah satu nama Allah Yang Agung. Allah Subhanahu wata’ala menyebutkan nama ini dalam beberapa ayat-Nya.

إِنَّ رَبَّكَ هُوَ الْقَوِيُّ الْعَزِيزُ

“Sesungguhnya Rabbmu Dia-lah Yang Mahakuat lagi Mahaperkasa.” (Hud: 66)

اللَّهُ لَطِيفٌ بِعِبَادِهِ يَرْزُقُ مَن يَشَاءُ ۖ وَهُوَ الْقَوِيُّ الْعَزِيزُ

“Allah Mahalembut terhadap para hamba-Nya, Dia memberi reaeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Dialah Yang Mahakuat dan Mahaperkasa.” (asy-Syura: 19)

إِنَّهُ قَوِيٌّ شَدِيدُ الْعِقَابِ

“Sesungguhnya Dia Mahakuat lagi Mahakeras hukuman-Nya.” (Ghafir: 22)

Asy-Syaikh Muhammad Khalil al-Harras mengatakan, “Asma Allah al-Qawi bermakna yang memiliki kekuatan. Kekuatan Allah Subhanahu wata’ala tidak akan tertimpa oleh kelemahan, kejenuhan, dan kehilangan yang menimpa kekuatan para makhluk. Allah Subhanahu wata’ala tidak akan merasa lemah karena menciptakan sesuatu, keletihan juga tidak akan menimpa-Nya.”

Sementara itu, semua kekuatan makhluk pada hakikatnya adalah milik- Nya. Dialah yang menyimpan kekuatankekuatan pada makhluk-makhluk itu. Apabila Allah Subhanahu wata’ala berkehendak mencabutnya, tentu Dia mampu. Telah disebutkan dalam hadits bahwa kalimat berikut ini,

لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ؛ كَنْزٌ مِنْ كُنُوزِ الْجَنَّةِ

“Tiada kemampuan untuk mengubah suatu keadaan dan tiada pula kekuatan melainkan dengan pertolongan Allah l,” adalah salah satu simpanan dari simpanan-simpanan dalam surga. (Sahih, HR . al-Bukhari dan yang lain)

Dalam kisah pemilik dua kebun yang disebutkan dalam surat al-Kahfi, seseorang menasihati saudaranya,

وَلَوْلَا إِذْ دَخَلْتَ جَنَّتَكَ قُلْتَ مَا شَاءَ اللَّهُ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ ۚ إِن تَرَنِ أَنَا أَقَلَّ مِنكَ مَالًا وَوَلَدًا

“Mengapa kamu tidak mengucapkan tatkala kamu memasuki kebunmu, ‘Masya Allah, laa quwwata illa billah (Sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah).’ Sekiranya kamu anggap aku lebih sedikit darimu dalam hal harta dan keturunan. (al-Kahfi: 39)

Demikian pula dalam surat al- Baqarah,

وَلَوْ يَرَى الَّذِينَ ظَلَمُوا إِذْ يَرَوْنَ الْعَذَابَ أَنَّ الْقُوَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا وَأَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعَذَابِ

“Seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal).” (al-Baqarah: 165)

Buah Mengimani Nama Allah al-Qawi

Allah Subhanahu wata’ala sesembahan kita Mahakuat. Kekuatan kita berasal dari-Nya. Oleh karena itu, kita senantiasa memohon kekuatan dari-Nya dan mensyukuri pemberian-Nya. Tanpa bantuan-Nya, kita adalah makhluk yang sangat lemah. Kita juga harus menyadari bahwa selaku makhluk Allah Subhanahu wata’ala, kita tidak boleh merasa sombong dengan kekuatan yang dimiliki. Sebesar apa pun kekuatan kita, toh itu adalah pemberian Allah Subhanahu wata’ala. Suatu saat nanti, Allah Subhanahu wata’ala akan mencabutnya dari kita.

Lihatlah nasib raja-raja yang sombong di muka bumi ini, Fir’aun, Namrud, dan yang lainnya. Lihatlah nasib para diktator di muka bumi ini. Di manakah mereka sekarang? Menjadi apa mereka sekarang? Itulah kekuatan manusia. Oleh karena itu, janganlah seseorang semena-mena dengan kekuatan yang dia miliki lantas menindas orang-orang yang lemah dan menzalimi sesama manusia.

Hanya Allah Subhanahu wata’ala lah yang memiliki kekuatan yang mutlak, Dialah sembahan kita. Adapun sembahan selain Allah Subhanahu wata’ala, dia lemah, tidak memliki kekuatan yang hakiki. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ ضُرِبَ مَثَلٌ فَاسْتَمِعُوا لَهُ ۚ إِنَّ الَّذِينَ تَدْعُونَ مِن دُونِ اللَّهِ لَن يَخْلُقُوا ذُبَابًا وَلَوِ اجْتَمَعُوا لَهُ ۖ وَإِن يَسْلُبْهُمُ الذُّبَابُ شَيْئًا لَّا يَسْتَنقِذُوهُ مِنْهُ ۚ ضَعُفَ الطَّالِبُ وَالْمَطْلُوبُ () مَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ

“Hai manusia, telah dibuat perumpamaan, maka dengarkanlah olehmu perumpamaan itu. Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekalikali tidak dapat menciptakan seekor lalat pun, walaupun mereka bersatu untuk menciptakannya. Jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, tiadalah mereka dapat merebutnya kembali dari lalat itu.Amat lemahlah yang menyembah danamat lemah (pulalah) yang disembah. Mereka tidak mengenal Allah dengan sebenar-benarnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Mahakuat lagi Mahaperkasa.” (al-Hajj: 73—74)

Al-Ustadz Qomar Suaidi, Lc.

Al-Fattah

Allah Subhanahu wata’ala adalah al-Fattah. Allah Subhanahu wata’ala menyebutnya sebagai salah satu dari nama-Nya yang agung dalam ayat-Nya,

قُلْ يَجْمَعُ بَيْنَنَا رَبُّنَا ثُمَّ يَفْتَحُ بَيْنَنَا بِالْحَقِّ وَهُوَ الْفَتَّاحُ الْعَلِيمُ

Katakanlah, “Rabb kita akan mengumpulkan kita semua, kemudian Dia memberi keputusan antara kita dengan benar. Dan Dialah Maha Pemberi keputusan lagi Maha Mengetahui.” (Saba’: 26)

Sebenarnya dengan nama-Nya Al- Fattah, berarti Allah Subhanahu wata’ala memiliki sifat al-fath. Kata al-fath itu sendiri memiliki beberapa makna, di antaranya:

1. Membuka, lawan dari menutup, seperti dalam firman-Nya,

حَتَّىٰ إِذَا فَتَحْنَا عَلَيْهِم بَابًا ذَا عَذَابٍ شَدِيدٍ إِذَا هُمْ فِيهِ مُبْلِسُونَ

“Hingga apabila Kami bukakan untuk mereka suatu pintu yang ada azab yang amat sangat (di waktu itulah) tiba-tiba mereka menjadi putus asa.” (al-Mu’minun: 77)

2. Memutuskan, seperti dalam firman-Nya,

رَبَّنَا افْتَحْ بَيْنَنَا وَبَيْنَ قَوْمِنَا بِالْحَقِّ وَأَنتَ خَيْرُ الْفَاتِحِينَ

“Ya Rabb kami, berilah keputusan antara kami dan kaum kami dengan hak (adil), dan Engkaulah Pemberi keputusan yang sebaik-baiknya.” (al-A’raf: 89)

3. Mengirim, seperti dalam firman- Nya,

مَّا يَفْتَحِ اللَّهُ لِلنَّاسِ مِن رَّحْمَةٍ فَلَا مُمْسِكَ لَهَا ۖ وَمَا يُمْسِكْ فَلَا مُرْسِلَ لَهُ مِن بَعْدِهِ ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

“Apa saja yang Allah kirimkan kepada manusia berupa rahmat, tidak ada seorang pun yang dapat menahannya; dan apa saja yang ditahan oleh Allah maka tidak seorang pun yang sanggup untuk melepaskannya sesudah itu. Dan Dia-lah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” (Fathir: 2)

4. Memenangkan, seperti dalam firman-Nya,

وَأُخْرَىٰ تُحِبُّونَهَا ۖ نَصْرٌ مِّنَ اللَّهِ وَفَتْحٌ قَرِيبٌ ۗ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ

“Dan (ada lagi) karunia yang lain yang kamu sukai, (yaitu) pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat (waktunya). Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang beriman.” (ash-Shaf: 13)

Demikian pula firman-Nya,

إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ

“Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan.” (an-Nashr: 1) (Lihat Nuzhatul ‘Aun an-Nawadzir)

As-Sa’di dan al-Harras menjelaskan, Al-Fattah adalah yang menghukumi antara para hamba-Nya dengan hukum- Nya yang syar’i, hukum takdir-Nya, dan hukum pembalasan-Nya. Dengan kelembutan-Nya, Dia membuka penglihatan orang-orang yang jujur serta membuka kalbu mereka untuk mengenal-Nya, mencintai-Nya, dan kembali kepada-Nya. Ia membuka bagi hamba-Nya pintu-pintu rahmat, pintupintu rezeki yang bermacam-macam, serta menetapkan untuk mereka sebab yang mengantarkan mereka memperoleh kebaikan dunia dan akhirat. Pembukaan Allah Subhanahu wata’ala sendiri ada dua macam:

1. Pembukaan dengan hukum agama-Nya dan hukum balasan-Nya.

2. Pembukaan dengan hukum takdir-Nya.

Pembukaan dengan hukum agama- Nya adalah dengan hidayah-Nya kepada para hamba-Nya dan pemberian syariat kepada mereka melalui lisan para rasul- Nya dalam segala hal yang berkaitan dengan kebutuhan mereka, yang dengannya mereka dapat istiqamah di atas jalan-Nya yang lurus. Adapun pembukaan dengan hukum balasannya ialah keputusan-Nya dan pemenangan-Nya untuk para nabi- Nya dan pengikut mereka, dengan memuliakan dan menyelamatkan mereka, serta penghinaan dan hukuman yang ditimpakan atas musuh-musuh mereka. Termasuk dalam hal ini adalah keputusan- Nya di antara para hamba-Nya pada hari kiamat, saat setiap insan memperoleh balasan dari amalannya, baik berupa kebaikan maupun keburukan. Adapun pembukaan-Nya dengan hukum takdir-Nya adalah apa yang Ia takdirkan atas hamba-hamba-Nya, baik berupa kebaikan maupun keburukan, manfaat maupun mudarat, pemberian maupun penghalangan. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

مَّا يَفْتَحِ اللَّهُ لِلنَّاسِ مِن رَّحْمَةٍ فَلَا مُمْسِكَ لَهَا ۖ وَمَا يُمْسِكْ فَلَا مُرْسِلَ لَهُ مِن بَعْدِهِ ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

“Apa saja yang Allah kirimkan kepada manusia berupa rahmat, tidak ada seorang pun yang dapat menahannya; dan apa saja yang ditahan oleh Allah maka tidak seorang pun yang sanggup untuk melepaskannya sesudah itu. Dia-lah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” (Fathir: 2)

Maka dari itu, Allah-lah Al-Fattah. Dengan inayah-Nya, terbuka seluruh yang tertutup. Dengan hidayah-Nya, tersingkap seluruh yang musykil. Seluruh kunci urusan gaib dan rezeki berada di tangan-Nya. Dia pula yang membuka perbendaharaan kedermawanan-Nya untuk para hamba-Nya yang taat. Dia juga yang membuka hal yang sebaliknya untuk musuh-musuh-Nya, dengan keutamaan dan keadilan-Nya. (Lihat Tafsir Asma’illahil Husna dan Syarh Nuniyah)

Buah Mengimani Nama Allah al-Fattah

Dengan mengimani nama Allah Al-Fattah, kita semakin mengetahui kekuasaan Allah Subhanahu wata’ala dan kebesaran-Nya. Hanya di tangan-Nyalah kemenangan. Oleh karena itu, kepada-Nya juga kita berdoa untuk mendapatkan kemenangan. Hanya kepada-Nya juga kita bertawakal untuk memperoleh kemenangan, tidak pada hasil usaha kita, banyaknya jumlah kita, atau kecanggihan teknologi kita. Dalam urusan rezeki pun demikian, hanya kepada-Nya kita mengharap. Di tangan-Nyalah perbendaharaan langit dan bumi, dan Dialah yang mengaturnya; membuka atau menutupnya. Maka dari itu, jangan sekali-kali seseorang mencari pesugihan dari para makhluk, sebagaimana yang dilakukan oleh sebagian orang dengan mengunjungi tempattempat tertentu dan melakukan ritual khusus demi mendapatkan kekayaan. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

إِنَّمَا تَعْبُدُونَ مِن دُونِ اللَّهِ أَوْثَانًا وَتَخْلُقُونَ إِفْكًا ۚ إِنَّ الَّذِينَ تَعْبُدُونَ مِن دُونِ اللَّهِ لَا يَمْلِكُونَ لَكُمْ رِزْقًا فَابْتَغُوا عِندَ اللَّهِ الرِّزْقَ وَاعْبُدُوهُ وَاشْكُرُوا لَهُ ۖ إِلَيْهِ تُرْجَعُونَ

“Sesungguhnya apa yang kalian sembah selain Allah itu adalah berhala, dan kalian membuat dusta. Sesungguhnya yang kalian sembah selain Allah itu tidak mampu memberikan rezeki kepada kalian, maka mintalah rezeki itu di sisi Allah. Sembahlah Dia dan bersyukurlah kepada- Nya. Hanya kepada-Nya lah kalian akan dikembalikan.” (al-Ankabut: 17)

Dalam urusan nasib, mintalah hanya kepada Allah Subhanahu wata’ala akan kebaikan nasib kita di dunia dan akhirat, karena di tangan-Nyalah segala keputusan. Wallahu a’lam.

Ditulis oleh Al-Ustadz Qomar Suaidi, Lc.

Azh-Zhahir

Azh-Zhahir adalah salah satu nama Allah Subhanahu wata’ala. Nama tersebut termaktub dalam surat al-Hadid ayat yang ke-3,

هُوَالْاَوَّلُ وَالْاٰخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ ۚ وَهُوَ بِكُلِّ شَىْءٍ عَلِيمٌ۝

Dialah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Zhahir dan Yang Batin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.” (al-Hadid: 3)

Demikian pula dalam hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, saat beliau memuji Allah Subhanahu wata’ala, beliau mengatakan,

اللَّهُمَّ أَنْتَ الْأَوَّلُ فَلَيْسَ قَبْلَكَ شَيْءٌ ، وَأَنْتَ اخْآلِرُ فَلَيْسَ بَعْدَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الظَّاهِرُ فَلَيْسَ فَوْقَكَ شَيْء، وَأَنْتَ الْبَاطِنُ فَلَيْسَ دُونَكَ شَيْءٌ، اقْضِ عَنَّا الدَّيْنَ وَأَغْنِنَا مِنَ الْفَقْرِ

Ya Allah, Engkaulah al-Awwal, tiada sesuatu pun sebelummu. Engkaulah al-Akhir, tiada sesuatupun setelah-Mu. Engkau adalah azh-Zhahir, tiada sesuatu pun di atas-Mu, dan Engkau adalah al-Bathin, tiada sesuatu pun yang lebih dekat dari-Mu. Lunaskanlah utang kami dan cukupkanlah kami dari kefakiran.”

Faedah Mengimani Nama Allah azh-Zhahir

Dengan mengimaninya, kita mengetahui salah satu sifat yang Mahaagung, yaitu ketinggian Allah Subhanahu wata’ala di atas seluruh makhluk-Nya. Ini berarti:

1. Allah Subhanahu wata’ala tidak di mana-mana, sebagaimana anggapan sebagian orang, bahkan Allah Subhanahu wata’ala di atas makhluk-Nya.

 2. Allah Subhanahu wata’ala tidak menyatu dengan makhluk-Nya atau sebagian makhluk-Nya, bahkan Allah Subhanahu wata’ala terpisah dari mereka semuanya.

 3. Tidak benar apa yang dikatakan oleh sebagian firqah (kelompok sempalan) yang terpengaruh oleh ilmu kalam dan filsafat bahwa “Allah Subhanahu wata’ala di atas alam, tidak pula di bawahnya; tidak di sebelah kanan alam, tidak di sebelah kirinya; tidak di sebelah depan atau belakangnya; serta tidak bersatu dengan alam, tidak pula terpisah darinya.

Ahlus Sunnah wal Jamaah berkeyakinan bahwa Allah Subhanahu wata’ala ada di atas alam dan seluruh makhluk-Nya. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

ءَاَمِنْتُمْ مَنْ فِى السَّمَآءِ اَنْ يَحْسِفَ بِكُمُ الْاَرْضَ فَاِذَاهِيَ تَمُوْرُ۝ اَمْ اَمِنْتُمْ مَنْ فِى السَّمَآءِ اَنْ يُرْسِلَ عَلَيْكُمْ حَاسِبَا ۗ فَسَتَعْلَمُوْنَ كَيْفَ نَذِيْرِ۝

Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang di langit bahwa Dia akan menjungkir balikkan bumi bersama kamu, sehingga tiba-tiba bumi itu berguncang? Atau apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang di langit bahwa Dia akan mengirimkan badai yang berbatu? Kelak kamu akan mengetahui bagaimana (akibat mendustakan) peringatan-Ku.” (al-Mulk: 16-17)

Ditulis oleh  : Al-Ustadz Qomar Suaidi

Ath Thayyib

Ath-Thayyib adalah salah satu nama Allah subhanahu wa ta’ala. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menyebutkan nama Allah subhanahu wa ta’ala ini dalam salah satu haditsnya,

“Wahai manusia, sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala Mahabaik dan tidak menerima kecuali yang baik dan Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan kaum mukminin dengan apa yang Allah subhanahu wa ta’ala perintahkan dengannya para rasul.

Maka Allah subhanahu wa ta’ala berfirman (yang artinya), ‘Wahai para rasul, makanlah dari hal-hal yang baik dan lakukan yang baik, Aku mengetahui apa yang kalian lakukan,’ dan berkata (yang artinya), ‘Hai orang-orang yang beriman, makanlah dari hal-hal yang baik yang Kami telah rezekikan pada kalian.’

Lalu beliau menyebutkan seseorang yang menempuh perjalanan panjang, kusut, berdebu, membentangkan tangannya ke langit, ‘Ya Rabb! Ya Rabb!’, sedangkan makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan diberi gizi yang haram, lalu bagaimana mau dikabulkan karena itu?” (Sahih, HR. Muslim dari sahabat Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)

Makna ath-Thayyib

Al-Qadhi rahimahullah mengatakan, “Ath-Thayyib dalam sifat Allah subhanahu wa ta’ala bermakna yang suci dari segala kekurangan dan itu bermakna al-Quddus, yang Mahasuci. Asal makna kata ath-Thayyib adalah bersih suci dan bebas dari yang kotor.” (Syarah Shahih Muslim karya an-Nawawi)

Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan, “Ath-Thayyib di sini bermakna ath-Thahir, artinya suci dari segala kekurangan dan aib seluruhnya.” (Jami’ al-’Ulum wal Hikam)

Buah Mengimani Nama Allah ath-Thayyib

Buahnya adalah mengetahui kesucian Allah subhanahu wa ta’ala, keagungan-Nya, dan ketinggian-Nya, tiada sesembahan yang seperti-Nya, tidak memiliki kekurangan dan cacat sama sekali dari segala sisi-Nya.

Di samping itu, di antara buahnya sebenarnya telah diterangkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits di atas, yaitu bahwa Allah Yang Mahabaik tidak menerima selain yang baik.

Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Allah subhanahu wa ta’ala mencintai sifat-sifat-Nya, seperti disabdakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun dan mencintai pengampunan’, sabdanya yang lain, ‘Sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala indah dan mencintai keindahan’, dan sabda beliau, ‘Sesungguhnya Allah Mahabaik dan tidak menerima melainkan yang baik’.” (ash-Shawa’iqul Mursalah 4/ 1458, dinukil dari kitab Shifatullah al-Waridah hlm. 170)

Jadi, sebuah ucapan tidak akan diterima di sisi-Nya kecuali yang baik, amal perbuatan tidak akan diterima di sisi-Nya selain yang baik, dan keyakinan pun tidak diterima di sisi-Nya melainkan yang baik. Tidak ada seorang pun yang masuk surga selain yang sudah jelas baiknya.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,
Dan orang-orang yang bertakwa kepada Allah dibawa ke dalam jannah (surga) berombong-rombongan (pula). Sehingga apabila mereka sampai ke surga itu sedangkan pintu-pintunya telah terbuka dan berkatalah kepada mereka penjaga-penjaganya, “Kesejahteraan (dilimpahkan) atas kalian. Kalian telah baik! Maka masukilah surga ini, sedangkan kamu kekal di dalamnya.” (az-Zumar: 73)

Maksudnya, baik kalbu kalian dengan mengenal Allah subhanahu wa ta’ala, mencintai-Nya, maupun takut kepada-Nya, baik lisan kalian dengan berzikir kepada-Nya maupun anggota badan kalian dengan taat kepada-Nya. Dengan sebab kebaikan kalian, “Masuklah kalian ke dalam jannah kekal di dalamnya,” karena surga adalah negeri yang baik tidak pantas masuk ke dalamnya selain mereka yang baik. (Tafsir as-Sa’di)

Dengan ini, dalam hal makanan pun hendaknya selalu menjaga yang baik yakni terutama halal, karena makanan akan berpengaruh pada amalan. Lihatlah bagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bercerita di akhir hadits tersebut tentang seorang yang sudah berbuat baik dengan berdoa, bahkan dalam sebuah perjalanan yang panjang, dalam kondisi sangat butuh kepada Allah subhanahu wa ta’ala, kusut, berdebu, membentangkan tangannya ke langit, lagi meminta-minta kepada Allah subhanahu wa ta’ala sembari merengek dengan menyebut-nyebut nama-Nya. Ini adalah keadaan yang sangat mendukung terkabulnya doa. Namun, Allah subhanahu wa ta’ala tidak menerimanya dan menolak doanya. Mengapa? Karena makanannya haram, dia tidak baik, kotor tubuhnya, tidak suci dari yang haram.

Oleh karena itu, jangankan kita, para rasul pun diperintah untuk memakan dari yang thayyib, baik, halal, seperti dalam hadits tersebut.

Ditulis oleh: Al-Ustadz Qomar Suaidi, Lc

 

Menentang Hukum Ilahi Merongrong Aqidah

Allah subhanahu wa ta’ala memiliki nama-nama yang indah dan mulia serta sifat-sifat yang tinggi dan agung. Tentang keindahan nama-nama dan ketinggian sifat-Nya, tidak ada seorang makhluk pun yang akan mengingkarinya karena mereka secara fitrah mengakui hal tersebut. Saat rusak fitrahnya, di sinilah penentangan, pengingkaran, penyimpangan, dan penyelewengan manusia terjadi.

Orang-orang yang beriman akan mengimani dan meyakininya, setelah itu mengaplikasikan segala konsekuensinya dalam kehidupan sehari-hari. Sebab, tidak cukup hanya sekadar mengilmui bahwa Allah subhanahu wa ta’ala memiliki nama-nama yang indah serta sifat-sifat yang tinggi dan mulia lalu tidak mewujudkannya dalam amal nyata.

Kenyataan hidup yang mereka lakoni dan segala bukti yang mereka lihat adalah wujud konkret keindahan nama-nama Allah subhanahu wa ta’ala dan ketinggian sifat-sifat-Nya. Ketika kita melihat keindahan alam ini dan mengetahui berbagai jenis makhluk yang ada, kita menyimpulkan dan mengatakan, tidak mungkin semua ini terjadi dengan sendirinya tanpa ada yang menciptakannya. Keindahannya yang sangat menakjubkan ini tentu ada Yang Mahaindah yang menciptakannya.

Itulah Allah subhanahu wa ta’ala al-Jamiil dan Dialah al-Mudabbir, yang mengatur segala urusan hidup makhluk-Nya yang menghuni alam yang indah ini. Tidak ada satu pun makhluk kecuali berada dalam aturan-Nya. Segala yang telah terjadi, yang sedang terjadi, dan yang akan terjadi ada dalam pengaturan Allah, Yang Maha Mengatur semua urusan. Allah subhanahu wa ta’ala mengatur mereka sesuai dengan maslahat hidup setiap makhluk. Kemaslahatan mereka ada bersama aturan itu. Allah subhanahu wa ta’ala mengatur mereka di atas ilmu dan kebijaksanaan-Nya.

Dialah al-’Alim, Yang Maha Mengetahui segala apa yang terjadi di muka bumi ini. Tidak ada sesuatu pun yang luput dari pengetahuan Allah subhanahu wa ta’ala, yang rahasia atau yang bukan, yang tampak atau yang tidak tampak. Dialah al-Hakim, Yang Mahabijaksana, yang meletakkan segala sesuatu pada tempatnya. Dia menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dia memberi siapa yang dikehendaki-Nya dan tidak memberi orang yang dikehendaki-Nya. Dia menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya karena dosanya dan mengampuni siapa yang diinginkan-Nya. Karena kebijaksanaan-Nya, tidak ada satu pun makhluk yang merasa terzalimi.

Dialah al-Qadir, Yang Mahakuasa, di alam ciptaan-Nya ini. Tidak ada satu pun makhluk-Nya yang sanggup melakukan seperti yang diperbuat oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Dialah yang berkuasa atas mereka tanpa ada yang menyaingi kekuasaan-Nya. Dialah yang berkuasa dan tidak membutuhkan sekutu, pembantu, atau ajudan.

Dialah al-Bashir, Yang Maha Melihat. Ia melihat segala yang diperbuat oleh makhluk-Nya, tidak ada sesuatu pun yang tidak terlihat oleh-Nya.
Dialah ash-Shamad, Dzat tempat bergantung setiap hamba-Nya. Artinya, Dialah yang dituju dalam segala hajat mereka. Dialah ar-Rahman dan ar-Rahim, Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, tiada satu makhluk pun melainkan mendapatkan kasih sayang Allah subhanahu wa ta’ala.

Dialah ar-Razzaq, Yang Maha memberi rezeki, yang tidak ada satu pun makhluk yang melata di muka bumi ini melainkan tertuangkan padanya rezeki dari-Nya.
Dialah al-Mannan, Yang Maha Memberi, tidak ada satu makhluk pun kecuali mendapatkan karunia Allah subhanahu wa ta’ala.

وَأَنَّ ٱلَّذِينَ لَا يُؤۡمِنُونَ بِٱلۡأٓخِرَةِ أَعۡتَدۡنَا لَهُمۡ عَذَابًا أَلِيمٗا ١٠

“Katakanlah, ‘Berdoalah kalian kepada Allah atau kepada ar-Rahman dengan (nama) mana saja kamu menyeru-Nya maka Dia memiliki nama yang baik’.” (al-Isra’: 110)

وَلِلَّهِ ٱلۡأَسۡمَآءُ ٱلۡحُسۡنَىٰ فَٱدۡعُوهُ بِهَاۖ وَذَرُواْ ٱلَّذِينَ يُلۡحِدُونَ فِيٓ أَسۡمَٰٓئِهِۦۚ سَيُجۡزَوۡنَ مَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ ١٨٠

“Dan bagi Allah nama-nama yang baik maka berdoalah kepada-Nya dengan itu.” (al-A’raf: 180)

Seluruh nama di atas adalah penghubung dan jembatan untuk menyampaikan seseorang kepada pengabdian yang mendalam, penuh ketulusan dan keikhlasan kepada Allah subhanahu wa ta’ala semata. Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya.

Manusia dan Anugerah Allah subhanahu wa ta’ala

Sikap manusia terhadap anugerah Allah subhanahu wa ta’ala berbeda-beda, ada yang terpuji dan ada pula yang tercela. Yang terpuji adalah mereka yang bersyukur kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan mengetahui bahwa nikmat tersebut bersumber dari Allah subhanahu wa ta’ala. Golongan yang tercela adalah yang kufur terhadap anugerah tersebut.

Golongan yang bersyukur akan menggunakannya dalam ketaatan kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan menjadikannya sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan surga-Nya. Mereka mengetahui bahwa anugerah tersebut hanya sebuah titipan dari Allah subhanahu wa ta’ala yang di belakangnya ada pertanggungjawaban. Dengan demikian, tidak ada pintu kewajiban yang terkait dengannya melainkan dia memasuki pintu tersebut untuk melaksanakan kewajiban-kewajibannya. Golongan inilah yang dalam hidupnya menyandang banyak pujian dan sanjungan, seperti firman Allah subhanahu wa ta’ala,

وَمَا مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٞ قَدۡ خَلَتۡ مِن قَبۡلِهِ ٱلرُّسُلُۚ أَفَإِيْن مَّاتَ أَوۡ قُتِلَ ٱنقَلَبۡتُمۡ عَلَىٰٓ أَعۡقَٰبِكُمۡۚ وَمَن يَنقَلِبۡ عَلَىٰ عَقِبَيۡهِ فَلَن يَضُرَّ ٱللَّهَ شَيۡ‍ٔٗاۗ وَسَيَجۡزِي ٱللَّهُ ٱلشَّٰكِرِينَ ١٤٤

“Tiadalah Muhammad itu melainkan seorang rasul. Telah berlalu para rasul sebelumnya, dan jika dia wafat atau terbunuh apakah kalian akan kembali menjadi kafir? Barang siapa kembali menjadi kafir setelah itu, niscaya tidak akan membahayakan Allah sedikit pun dan Allah akan membalas orang-orang yang bersyukur.” (ali ‘Imran: 144)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Sungguh menakjubkan urusan setiap mukmin, semua urusannya itu adalah baik dan hal itu tidak dimiliki selain oleh seorang mukmin. Jika dia mendapatkan kesenangan dia bersyukur, itu adalah kebaikan baginya, dan apabila ditimpa kemalangan dia bersabar, itu kebaikan pula baginya.” (HR. Muslim no. 5318 dari sahabat Shuhaib bin Sinan radhiallahu ‘anhu)

As-Sa’di rahimahullah berkata, “Jadilah engkau orang yang bersyukur kepada Allah subhanahu wa ta’ala atas segala taufik-Nya, sebagaimana engkau bersyukur atas nikmat-nikmat duniawi, seperti sehatnya jasmani, di saat mendapatkan rezeki dan sebagainya. Selain itu, engkau harus bersyukur pula atas nikmat-nikmat yang bersifat agama, seperti taufik untuk menjadi orang yang ikhlas, orang yang bertakwa.

Bahkan, nikmat agama adalah nikmat yang hakiki. Ketika seseorang mengkaji dan mendalami sebuah anugerah lantas mensyukurinya, tentu hal itu akan menyelamatkannya dari bahaya sikap ujub yang telah menghinggapi kebanyakan orang karena kejahilan mereka. Apabila setiap hamba mengerti segala kondisi, niscaya dia tidak akan bersikap ujub atas nikmat, justru yang pantas baginya adalah menambah rasa syukur.” (Lihat Tafsir as-Sa’di hlm. 729)

Adapun golongan yang kufur terhadap nikmat Allah subhanahu wa ta’ala juga beragam. Di antara bentuk kufur nikmat adalah,

  1. Menyandarkan nikmat tersebut kepada selain Allah subhanahu wa ta’ala,

Maka apabila manusia ditimpa bahaya ia menyeru Kami, kemudian apabila Kami berikan kepadanya nikmat dari Kami, ia berkata, “Sesungguhnya aku diberi nikmat itu hanyalah karena kepintaranku.” Sebenarnya itu adalah ujian, tetapi kebanyakan mereka itu tidak mengetahui. (az-Zumar: 49)

Qarun berkata, “Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu karena ilmu yang ada padaku.” (al-Qashash: 78)

  1. Menggunakan nikmat tersebut pada jalan yang tidak diridhai oleh Allah subhanahu wa ta’ala, baik dalam bentuk tidak melaksanakan kewajiban maupun melanggar larangan-larangan Allah subhanahu wa ta’ala.

Hukum Allah subhanahu wa ta’ala dalam Keluasan Anugerah-Nya

Dari sinilah kita mengetahui luasnya ilmu Allah subhanahu wa ta’ala dan ketinggian hikmah-Nya. Allah subhanahu wa ta’ala telah mempersiapkan segala yang dibutuhkan oleh makhluk dalam hidup mereka. Allah subhanahu wa ta’ala juga telah menggariskan sebuah ketentuan yang harus dijalani oleh setiap hamba-Nya. Dialah yang telah menentukan halal dan haram dalam hidup mereka.

Kita juga menemukan bahwa halal dan haram itu sejalan dan seiring dengan kemaslahatan hidup manusia. Ketika terjadi pelanggaran terhadap ketentuan tersebut, terjadilah kehancuran dan malapetaka besar dalam hidup mereka. Orang yang paling berbahagia dengan ketentuan ini adalah orang-orang yang beriman kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

 Allah subhanahu wa ta’ala telah menceritakan tentang mereka,

وَمَا كَانَ لِمُؤۡمِنٖ وَلَا مُؤۡمِنَةٍ إِذَا قَضَى ٱللَّهُ وَرَسُولُهُۥٓ أَمۡرًا أَن يَكُونَ لَهُمُ ٱلۡخِيَرَةُ مِنۡ أَمۡرِهِمۡۗ وَمَن يَعۡصِ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ فَقَدۡ ضَلَّ ضَلَٰلٗا مُّبِينٗا ٣٦

Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak pula bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Barang siapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguh dia telah sesat, sesat yang nyata.” (al-Ahzab: 36)

Ulama Sunnah dan Hukum Ilahi

Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘anhuma berkata, “Aku khawatir akan turun batu dari langit. Aku berkata, ‘Rasulullah bersabda demikian,’ namun kalian mengatakan, ‘Abu Bakr dan Umar berkata demikian’.”

Al-Imam Malik rahimahullah berkata, “Tidak ada seorang pun dari kita yang ucapannya bisa diterima dan bisa ditolak, selain pemilik kuburan ini (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka harus diterima).”

Al-Imam Ahmad rahimahullah berkata, “Aku heran melihat suatu kaum yang telah mengetahui kesahihan sebuah sanad, namun dia berpendapat dengan pendapat Sufyan (ats-Tsauri rahimahullah,-red). Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

لَّا تَجۡعَلُواْ دُعَآءَ ٱلرَّسُولِ بَيۡنَكُمۡ كَدُعَآءِ بَعۡضِكُم بَعۡضٗاۚ قَدۡ يَعۡلَمُ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ يَتَسَلَّلُونَ مِنكُمۡ لِوَاذٗاۚ فَلۡيَحۡذَرِ ٱلَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنۡ أَمۡرِهِۦٓ أَن تُصِيبَهُمۡ فِتۡنَةٌ أَوۡ يُصِيبَهُمۡ عَذَابٌ أَلِيمٌ ٦٣

‘Maka hendaklah takut orang-orang menyelisihi perintahnya (Rasulullah) untuk ditimpakan kepada mereka fitnah dan menimpa mereka azab yang pedih.’ (an-Nur: 63)

Tahukah kalian apa yang dimaksud dengan fitnah? Fitnah itu adalah kesyirikan, dan akan terjadi jika dia menolak suatu perkataan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, akan terjadi penyimpangan dalam hatinya, lalu dia binasa.”

Abu Hanifah rahimahullah berkata, “Apabila datang sebuah hadits dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam maka harus diterima, bila datang dari sahabat maka harus diterima, dan bila datang dari tabi’in maka kita laki-laki mereka laki-laki.”

Al-Imam Syafi’i rahimahullah berkata, “Telah sepakat para ulama bahwa barang siapa yang sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah jelas baginya, maka tidak boleh baginya untuk meninggalkannya karena ucapan seseorang.”

Masih banyak lagi ucapan-ucapan ulama sunnah dalam masalah sikap menerima aturan-aturan Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya. (Lihat Fathul Majid hlm. 463, Jami’ Bayan Ilmu wa Fadhlih 2/132, dan ‘Ilamuwaqqi’in 2/171)

Itulah sikap ulama kaum mukminin dalam menerima segala keputusan dan ketentuan serta aturan Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sikap tegas dan tanggap mereka merupakan jalan yang lurus yang diridhai Allah subhanahu wa ta’ala.

Menentang Hukum Ilahi Merongrong Keyakinan

Peletakan hukum syariat yang dijalani oleh setiap hamba dalam hal ibadah, muamalah, bahkan setiap sendi kehidupan mereka, yang akan memutuskan segala bentuk perselisihan yang mungkin terjadi dan yang akan mengakhirkan segala perselisihan itu adalah semata-mata hak Allah subhanahu wa ta’ala sebagai Rabb manusia dan pencipta mereka. Allah subhanahu wa ta’ala berfiman,

إِنَّ رَبَّكُمُ ٱللَّهُ ٱلَّذِي خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٖ ثُمَّ ٱسۡتَوَىٰ عَلَى ٱلۡعَرۡشِۖ يُغۡشِي ٱلَّيۡلَ ٱلنَّهَارَ يَطۡلُبُهُۥ حَثِيثٗا وَٱلشَّمۡسَ وَٱلۡقَمَرَ وَٱلنُّجُومَ مُسَخَّرَٰتِۢ بِأَمۡرِهِۦٓۗ أَلَا لَهُ ٱلۡخَلۡقُ وَٱلۡأَمۡرُۗ تَبَارَكَ ٱللَّهُ رَبُّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ٥٤

“Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah.” (al-A’raf: 54)

Dialah yang mengetahui segala maslahat bagi hamba-Nya sehingga meletakkan syariat yang sesuai dengan kemaslahatan mereka. Seluruh hukum yang telah ditetapkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala bagi mereka adalah demi kemaslahatan mereka juga, sebagaimana firman-Nya,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ أَطِيعُواْ ٱللَّهَ وَأَطِيعُواْ ٱلرَّسُولَ وَأُوْلِي ٱلۡأَمۡرِ مِنكُمۡۖ فَإِن تَنَٰزَعۡتُمۡ فِي شَيۡءٖ فَرُدُّوهُ إِلَى ٱللَّهِ وَٱلرَّسُولِ إِن كُنتُمۡ تُؤۡمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِۚ ذَٰلِكَ خَيۡرٞ وَأَحۡسَنُ تَأۡوِيلًا ٥٩

“Dan jika kalian berselisih dalam satu permasalahan, maka kembalikanlah urusannya kepada Allah dan Rasulullah jika kalian beriman kepada Allah dan hari akhir. Itu lebih baik dan lebih bagus akibatnya.” (an-Nisa: 59)

Allah subhanahu wa ta’ala juga telah mengingkari perbuatan hamba-hamba-Nya yang menjadikan selain Allah subhanahu wa ta’ala sebagai pembuat syariat,

فَفَرَرۡتُ مِنكُمۡ لَمَّا خِفۡتُكُمۡ فَوَهَبَ لِي رَبِّي حُكۡمٗا وَجَعَلَنِي مِنَ ٱلۡمُرۡسَلِينَ ٢١

“Apakah mereka memiliki sekutu yang akan membuat syariat untuk mereka yang tidak ada izin dari Allah?” (asy-Syura: 21)

Maka dari itu, barang siapa menerima syariat yang datangnya bukan dari Allah subhanahu wa ta’ala berarti dia telah melakukan kesyirikan kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Selain itu, segala aturan yang tidak disyariatkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hal ibadah maka itu adalah perbuatan bid’ah, dan kita mengetahui bahwa segala bentuk kebid’ahan adalah sesat.

Bahkan, segala hukum yang tidak disyariatkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala dalam segala aspek kehidupan, baik dalam bidang politik maupun hubungan antar manusia, berarti termasuk hukum thagut dan hukum jahiliah.

“Apakah hukum jahiliah yang mereka cari, dan siapakah yang paling baik hukumnya daripada (hukum) Allah bagi orang yang yakin?” (al-Maidah: 50)

Demikian juga halnya dalam masalah halal dan haram, keduanya adalah hak mutlak bagi Allah subhanahu wa ta’ala dan tidak boleh ada seorang pun yang menandingi-Nya dalam masalah ini,

وَلَا تَأۡكُلُواْ مِمَّا لَمۡ يُذۡكَرِ ٱسۡمُ ٱللَّهِ عَلَيۡهِ وَإِنَّهُۥ لَفِسۡقٞۗ وَإِنَّ ٱلشَّيَٰطِينَ لَيُوحُونَ إِلَىٰٓ أَوۡلِيَآئِهِمۡ لِيُجَٰدِلُوكُمۡۖ وَإِنۡ أَطَعۡتُمُوهُمۡ إِنَّكُمۡ لَمُشۡرِكُونَ ١٢١

“Dan jangan kamu memakan binatang yang tidak disebut nama Allah ketika menyembelihnya. Sesungguhnya perbuatan semacam itu adalah suatu kefasikan. Sesungguhnya setan itu membisikkan kepada kawan-kawannya agar mereka membantah kamu dan jika kamu menuruti mereka, tentulah kamu menjadi orang-orang musyrik.” (al-An’am: 121)

Dalam ayat di atas, Allah subhanahu wa ta’ala menjadikan ketaatan kepada setan dan wali-walinya dalam hal penghalalan apa yang diharamkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala sebagai bentuk kesyirikan.

Demikian pula, barang siapa yang menaati ulama dan para pemimpin dalam hal pengharaman yang dihalalkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala atau menghalalkan apa yang diharamkan-Nya berarti telah menjadikan mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah subhanahu wa ta’ala.

 Hal ini berdasarkan firman Allah subhanahu wa ta’ala,

ٱتَّخَذُوٓاْ أَحۡبَارَهُمۡ وَرُهۡبَٰنَهُمۡ أَرۡبَابٗا مِّن دُونِ ٱللَّهِ وَٱلۡمَسِيحَ ٱبۡنَ مَرۡيَمَ وَمَآ أُمِرُوٓاْ إِلَّا لِيَعۡبُدُوٓاْ إِلَٰهٗا وَٰحِدٗاۖ لَّآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَۚ سُبۡحَٰنَهُۥ عَمَّا يُشۡرِكُونَ ٣١

“Dan mereka menjadikan ulama dan pendeta-pendeta mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah dan mereka juga mempertuhankan al-Masih putra Maryam padahal mereka hanya disuruh menyembah Ilah yang satu dan tidak ada sesembahan yang berhak selain Dia. Mahasuci Allah dari apa yang mereka persekutukan.” (at-Taubah: 31)

Dalam sebuah hadits sahih yang dikeluarkan oleh al-Imam at-Tirmidzi, Ibnu Jarir, dan selain keduanya, disebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membacakan ayat ini di hadapan Adi bin Hatim ath-Tha’i radhiallahu ‘anhu. Ia berkata, “Ya Rasulullah, kami tidak menyembah mereka.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Bukankah mereka menghalalkan apa yang diharamkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala lalu kalian menghalalkannya? Bukankah mereka telah mengharamkan apa yang dihalalkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala lalu kalian mengharamkannya?”

Dia menjawab, “Ya.”

Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Itulah bentuk penyembahan kepada mereka.”

Ketaatan kepada mereka dalam hal menghalalkan apa yang diharamkan dan mengharamkan apa yang dihalalkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala adalah wujud peribadahan kepada mereka. Ini termasuk syirik besar yang membatalkan ketauhidan yang dituntut oleh kalimat syahadat La ilaha illallah. Padahal, salah satu makna yang terkandung dalam kalimat syahadat tersebut adalah bahwa penghalalan dan pengharaman hanyalah hak Allah subhanahu wa ta’ala.

Demikianlah hukum orang yang menaati ulama dan ahli ibadah dalam masalah halal dan haram yang menyelisihi syariat dalam keadaan dia mengetahui bentuk penyelisihan tersebut. (Lihat Aqidah at-Tauhid karya asy-Syaikh Shalih Fauzan, hlm. 149—152)

Ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Usamah Abdurrahman

 

As-Salam

Di antara al-Asma’ul Husna adalah as-Salam (السَّلامُ). Nama Allah subhanahu wa ta’ala ini tersebut dalam firman-Nya:

”Dia-lah Allah yang tiada Ilah (yang berhak disembah) selain Dia, Raja, Yang Mahasuci, Yang Mahasejahtera, Yang Mengaruniakan keamanan, Yang Maha Memelihara, Yang Mahaperkasa, Yang Mahakuasa, Yang Memiliki segala keagungan. Mahasuci Allah dari apa yang mereka persekutukan.” (al-Hasyr: 23)

Nama ini juga tersebut dalam sebuah hadits Nabi  shallallahu ‘alaihi wa sallam dari sahabat Tsauban radhiallahu ‘anhu:

Dahulu Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam jika selesai dari shalatnya beristighfar tiga kali dan mengucapkan, “Ya Allah, Engkau-lah as-Salam dan dari-Mu-lah keselamatan. Mahabesar Engkau, wahai Dzat yang memiliki keagungan dan kemuliaan!”

Al-Walid (salah satu perawi hadits ini) bertanya kepada al-Auza’i (gurunya), “Bagaimanakah cara beristighfar?” Ia berkata, “Engkau mengucapkan, ‘Astaghfirullah, astaghfirullah! (Aku mohon ampun kepada Allah subhanahu wa ta’ala, aku mohon ampun kepada Allah subhanahu wa ta’ala!)’.” (Sahih, HR. Muslim)

 

Makna as-Salam

Ibnu Qutaibah rahimahullah mengatakan, “Dia menamai Diri-Nya dengan as-Salam karena Dia selamat dan bebas dari aib, kekurangan, kehancuran, serta kematian yang mengenai makhluk-Nya.” (Gharibul Qur’an)

Al-Khaththabi rahimahullah mengatakan, “As-Salam adalah sifat Allah subhanahu wa ta’ala, yaitu yang selamat dari segala aib, serta bebas dari segala kejelekan dan kekurangan yang dapat menimpa makhluk.” (Sya’nud Du’a)

Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan ketika menjelaskan ayat di atas, “As-Salam yakni yang selamat dari segala cacat dan kekurangan karena kesempurnaan-Nya dalam Dzat, sifat, dan perbuatan-Nya.”

As-Sa’di rahimahullah mengatakan, “Al-Quddus, as-Salam yakni yang diagungkan, yang suci dari seluruh kekurangan dan keserupaan makhluk terhadap-Nya, serta yang suci dari siapa pun yang akan mendekati atau menyamainya pada salah satu sisi kesempurnaan-Nya.”

Jadi, nama Allah al-Quddus dan as-Salam berarti kesucian Allah subhanahu wa ta’ala dari kekurangan pada segala sisi. Keduanya mengandung kesempurnaan yang paripurna dari segala sisi karena jika kekurangan itu tidak ada, berarti tetaplah kesempurnaan seluruhnya. Dengan demikian, Dialah yang Mahasuci, Mahabesar, yang suci dari segala kejelekan serta yang terbebas dari penyerupaan dengan makhluk, kekurangan, dan segala yang bertolak belakang dengan kesempurnaan-Nya. Inilah patokan tentang apa yang Allah subhanahu wa ta’ala suci darinya. Ia suci dari segala kekurangan dari sisi mana pun. Ia suci dan agung dari adanya penyerupaan, tandingan, atau lawan bagi-Nya. Ia suci pula dari kekurangan dalam hal sifat-sifat-Nya yang merupakan sifat yang paling sempurna, paling agung, dan paling luas.

Di antara kesempurnaan penyucian-Nya adalah penetapan sifat kesombongan dan keagungan bagi-Nya karena penyucian tersebut dimaksudkan untuk hal yang lain. Penetapan sifat kesombongan dan keagungan bagi Allah subhanahu wa ta’ala dimaksudkan untuk menjaga kesempurnaan-Nya dari berbagai sangkaan yang jelek, semacam sangkaan jahiliah yang mengalamatkan kepada diri-Nya sangkaan-sangkaan jelek yang tidak pantas bagi kebesaran-Nya. Jika seorang hamba mengucapkan pujian kepada Allah subhanahu wa ta’ala, “Subhanallah” (Mahasuci Allah), “Taqaddasallah” (Mahasuci Allah), atau “Ta’alallah” (Mahatinggi Allah) berarti dia sedang memuji-Nya dengan kesucian-Nya dari segala kekurangan, dengan segala kesempurnaan. (Tafsir Asma’illah)

 

Buah Mengimani Nama Allah as-Salam
Dengan mengimani nama Allah as-Salam, kita mengetahui kebesaran Allah subhanahu wa ta’ala dan kesucian-Nya. Allah subhanahu wa ta’ala suci dari segala kekurangan dan cacat, sebagaimana halnya Ia suci dari serikat dan tandingan. Keyakinan ini membuat kita semakin mantap dalam beribadah kepada-Nya karena Rabb yang kita ibadahi adalah Rabb Yang Mahasempurna, tiada kekurangan-Nya sedikit pun.

Dengan demikian, segala pinta dan harapan kita dalam tawakal dan doa tidak akan sia-sia. Dia pasti memenuhi janji-Nya dan Mahakuasa untuk memenuhinya karena Dia Mahakaya dan Mahamampu. Maka dari itu, ibadahilah Dia satu-satu-Nya, tentu ibadah kita takkan sia-sia. Tinggalkan semua sesembahan selain-Nya, karena selain-Nya tidak ada yang memiliki kesempurnaan seperti yang dimiliki-Nya, yang ada justru berbagai kekurangan.

ditulis oleh: Al-Ustadz Qomar Suaidi, Lc)