Asy Syaikh Ibnu Utsaimin Pelita Di Tengah Umat

Wafatnya Ulama,Musibah Bagi Umat

Diriwayatkan dari Salman radhiyallahu ‘anhu, “Manusia senantiasa dalam kebaikan selama generasi awal masih ada sehingga generasi berikutnya belajar darinya. Jika generasi pertama mati sebelum yang berikutnya belajar, manusia akan hancur.” (Riwayat ad-Darimi dalam Sunan-nya) Saat Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu meninggal, Ibnu Abbas c berkata, “Demikianlah hilangnya ilmu. Pada hari ini ilmu yang banyak telah dikubur.” (Riwayat al-Hakim dalam kitab al-Mustadrak) Abu ad-Darda’ radhiyallahu ‘anhu pernah berkata, “Pelajarilah ilmu oleh kalian sebelum ilmu itu dicabut. Dicabutnya itu dengan diwafatkannya para pemiliknya….” sampai beliau katakan, “Mengapa aku melihat kalian kenyang dengan makanan tetapi lapar dari ilmu?” (Jami Bayanil Ilmi wa Fadhlihi)

Al-Hasan rahimahullah mengatakan, “Wafatnya seorang ulama adalah celah dalam Islam yang tidak dapat ditutup oleh apa pun, selama malam dan siang silih berganti.” Ayyub as-Sikhtiani t mengatakan, “Sungguh, apabila sampai kepadaku berita kematian seorang Ahlus Sunnah, seolah-olah satu bagian tubuhku terlepas.” (Riwayat Abu Nu’aim dalam al-Hilyah) Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan, “Alam ini menjadi baik dengan adanya ulama. Apabila tidak ada mereka, tentu manusia ibarat hewan ternak, bahkan lebih jelek. Maka dari itu, kematian seorang ulama adalah musibah, tidak ada yang menambalnya melainkan ada penggantinya yang lain. Demikian pula para ulama, merekalah yang mengatur manusia, negeri-negeri, dan budakbudak. Jadi, kematian mereka berarti kerusakan tatanan alam.

Oleh karena itu, Allah Subhanahu wata’ala senantiasa menancapkan para ulama dalam agama ini, yang belakangan menggantikan yang terdahulu. Dengan mereka, Allah Subhanahu wata’ala menjaga agama-Nya, kitab-Nya, dan para hamba-Nya. Renungkanlah, jika di alam ini ada seseorang yang mengungguli yang lain di dunia ini dalam hal kecukupan (harta) dan kedermawanan. Sementara itu, orang-orang sangat membutuhkannya dan dia selalu memberikan apa yang dia mampu. Lantas dia mati dan bantuan kepada mereka berhenti. Musibah kematian seorang ulama jauh lebih besar daripada kematian orang semacam itu. Padahal kematian orang yang semacam ini saja akan menyebabkan kematian banyak orang.” (Miftah Daris Sa’adah, dikutip dari buku asy-Syaikh Ibnu Utsaimin minal Ulama ar-Rabbaniyyin)

 

 Nama dan Nasab Beliau

Beliau bernama Muhammad bin Shalih bin Sulaiman bin Abdurahman bin Utsman bin Abdullah bin Abdurrahman bin Ahmad bin Muqbil, dari keluarga besar al-Wahbah dari bani Tamim. Kakek beliau yang keempat, yaitu Utsman, biasa dipanggil dengan sebutan Utsaimin. Akhirnya, keluarga tersebut populer dengan sebutan al-Utsaimin. Jadi, Utsaimin terambil dari nama Utsman. Beliau sendiri lebih dikenal sebagai Ibnu Utsaimin, anak Utsaimin. Maksudnya, anak keturunan Utsaimin. Dalam adat Arab penasaban langsung kepada kakek dan melewati ayah adalah hal yang biasa. Kuniah beliau ialah Abu Abdillah.

 

Tumbuh Kembang & Masa Belajar

Beliau terlahir di kota Unaizah, sebuah kota setingkat kabupaten (muhafazhah) yang termasuk dalam wilayah manthiqah (setingkat provinsi) al-Qashim. Unaizah termasuk kota tertua di manthiqah al- Qashim, kota yang sangat bersejarah bagi Kerajaan Saudi Arabia. Letaknya juga memiliki posisi strategis, yakni di tengah-tengah wilayah Kerajaan Saudi Arabia, tepatnya di sebelah timur laut pegunungan Najed. Beliau lahir pada 27 Ramadhan 1247 H. Beliau tumbuh dalam keluarga yang sederhana. Ayahnya bekerja sebagai pedagang yang menjalankan bisnisnya antara Unaizah dan Riyadh, lalu pekerjaannya menetap di Unaizah. Sebelum wafatnya, ayah beliau bekerja di Darul Aitam di Unaizah. Pernah asy-Syaikh Ibnu Utsaimin ditanya, “Apakah Anda berdagang di samping kegiatan belajar Anda?” Beliau menjawab, “Tidak, karena ayah dalam keadaan ekonomi yang lancar di Riyadh.” Suatu saat, beliau menyebutkan kondisi ruang belajarnya, “Sebuah kamar yang terbangun dari tanah dan dapat melihat langsung ke kandang sapi.” Di samping itu, keluarga tersebut dikenal dengan keistiqamahan dan perhatian mereka terhadap urusan agama. Keluarga besar Utsaimin adalah bibi asy-Syaikh Abdurahman as-Sa’di rahimahullah. Kakek beliau dari pihak ibu, yaitu asy-Syaikh Abdurahman bin Sulaiman al-Damigh t, adalah seorang guru dan imam masjid al-Khazirah di kota Unaizah.

Oleh karena itu, ayah asy-Syaikh Ibnu Utsaimin memercayakan pendidikan anaknya kepada sang kakek. Jadi, beliau terhitung sebagai guru pertama asy- Syaikh Ibnu Utsaimin. Dari sang kakek ini, beliau belajar al-Qur’an sampai selesai menghafalnya dalam usia yang sangat muda, sebelum genap 14 tahun. Dari beliau pula, Ibnu Utsaimin kecil belajar beberapa bidang ilmu yang lain, seperti menulis, berhitung, dan dasar-dasar bahasa. Semua itu terjadi sebelum beliau melanjutkan thalabul ilmi (menuntut ilmu) di madrasah asy-Syaikh Ali bin Abdullah asy-Syuhaitan. Allah Subhanahu wata’ala mengaruniai beliau kecerdasan, kesucian fitrah, dan semangat yang tinggi untuk mendapatkan ilmu dari para ahlinya. Dengan itu, ayahnya pun mengarahkan beliau untuk konsentrasi belajar agama. Beliau pun belajar langsung dari seorang ulama besar di negeri itu, yakni asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di, penulis kitab Taisir al-Karimir-rahman fi Tafsiri Kalamil- Mannan dan berbagai karya lain yang agung lagi bermanfaat.

Kegiatan belajar mengajar asy-Syaikh Abdurahman as-Sa’di dilakukan di masjid al-Jami’ al-Kabir di kota Unaizah dan perpustakaan. Beliau memercayakan pengajaran anak-anak kepada dua orang muridnya: asy-Syaikh Ali ash-Shalihi dan asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Aziz al-Muthawwa’. Dari keduanya, asy-Syaikh Utsaimin belajar kitab Mukhtashar al-Aqidah al-Wasithiyyah dan Minhajus Salikin— keduanya karya as-Sa’di—, kitab al- Ajurrumiyah dan al-Alfiyah dalam bidang nahwu, serta ilmu sharaf. Setelah itu, beliau mulai duduk di majelis asy-Syaikh Abdurrahman as- Sa’di dan belajar dari beliau beberapa bidang ilmu, di antaranya: tafsir, hadits, tauhid, fikih, ushul fiqih, sirah nabawiah, faraidh (ilmu waris), dan nahwu.

Beliau pun menghafal matan-matan dalam bidang-bidang ilmu tersebut. As-Sa’di dianggap sebagai syaikh besar pertama yang berpengaruh pada manhaj (metode) beliau dalam hal mengikuti dalil dan tata cara mengajar. Beliau juga sempat belajar dari asy-Syaikh Abdurrahman bin Ali bin ‘Udan dalam bidang faraidh, yaitu saat asy-Syaikh Abdurrahman bin Ali bin ‘Udan menjabat sebagai qadhi (hakim) di Unaizah. Selain itu, beliau juga pernah menimba ilmu nahwu dan balaghah dari asy-Syaikh Abdurrazzaq Afifi—kelak menjadi wakil mufti di masa asy-Syaikh bin Bazyaitu saat asy-Syaikh Abdurrazzaq berada di kota Unaizah sebagai guru. Ketika dibuka al-ma’hadul ilmi— jenjang setara SMA—di kota Riyadh, beliau melanjutkan thalabul ilmi di sana pada 1372 H, tentu setelah mendapat izin dari sang guru, asy-Syaikh Abdurahman as-Sa’di. Beliau berkisah, “Aku masuk ke al-ma’had al-ilmi langsung di kelas dua. Aku melanjutkan belajar di sana setelah bermusyawarah dengan asy- Syaikh Ali ash-Shalihi dan setelah memohon izin dari guruku, asy-Syaikh Abdurahman as-Sa’di rahimahullah. Saat itu, al-ma’had al-ilmi dibagi menjadi dua, bagian umum dan bagian khusus. Aku saat itu berada di bagian khusus. Saat itu juga, bagi siapa yang ingin melompat (ke jenjang berikutnya), dipersilakan. Artinya, dia diperbolehkan mempelajari kurikulum tahun berikutnya pada saat liburan, lalu mengikuti ujian pada awal tahun berikutnya. Apabila lulus, dia bisa mengikuti kelas berikutnya lagi.

Dengan demikian, aku mempersingkat waktu. Setelah itu, aku melanjutkan di jurusan syariah di Riyadh dengan sistem intisab, sampai lulus.” Dengan demikian, beliau belajar di kelas dua, lalu pada liburan musim panas mempelajari kurikulum kelas tiga, kemudian diuji pada awal tahun, dan beliau lulus. Kemudian pada tahun ajaran baru, beliau sudah masuk ke kelas empat. Keberadaan beliau di al-ma’had al-ilmi memberikan kesempatan bagi beliau untuk menimba ilmu dari sebagian ulama terkemuka yang mengajar di sana, di antaranya asy-Syaikh Muhammad al-Amin asy-Syinqithi, penulis kitab tafsir Adhwa’ul Bayan. Beliau mengisahkan perjumpaan awalnya dengan asy – Syaikh Muhammad al-Amin asy-Syinqithi yang berpenampilan tidak meyakinkan. Ibnu Utsaimin bergumam, “Aku tinggalkan guruku, as-Sa’di, lalu aku duduk di depan Arab badui ini?” Akan tetapi, ketika beliau memulai pelajaran, bertaburanlah mutiara-mutiara faedah ilmiah dari lautan ilmunya yang dalam. Saat itulah kami tahu, kami sedang berada di hadapan salah seorang dari ulama besar dan jantan. Kami pun dapat mengambil manfaat dari ilmu, penampilan, akhlak, kezuhudan, dan sifat wara’ beliau.”

Beliau pun bisa belajar kepada asy- Syaikh Abdul Aziz bin Nashir ar-Rasyid, penulis at-Tanbihat as-Saniyyah Syarah al-Aqidah al-Washitiyyah, yang juga seorang qadhi, dan seorang syaikh ahli hadits, Abdurrahman al-Ifriqi. Di saat itu pula beliau berkesempatan menjalin hubungan dengan asy-Syaikh bin Baz sehingga beliau berkesempatan besar menimba ilmu dari beliau di masjid. Beliau pun belajar dari asy-Syaikh bin Baz tentang kitab Shahih al-Bukhari, bukubuku karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, kitab-kitab hadits dan pendapat-pendapat para ahli fikih serta perbandingan mazhab. Karena begitu besarnya pengaruh asy-Syaikh bin Baz terhadap diri beliau, asy-Syaikh bin Baz dianggap sebagai syaikh besar kedua yang berpengaruh terhadap beliau dalam bidang ilmu agama dan manhaj. Beliau membenarkan hal itu, “Sungguh, aku sangat terpengaruh oleh asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz hafizhahullah dalam hal perhatian terhadap hadits, akhlak, dan kelapangan dadanya terhadap orang lain.” Setelah itu, beliau pulang ke Unaizah dan kembali berguru dengan syaikh beliau, asy-Syaikh Abdurahman as- Sa’di. Di saat yang sama dibuka al- Ma’hadul Ilmi di Unaizah pada 1373 H. Beliau ikut mengajar di ma’had tersebut. Di saat yang sama pula beliau melanjutkan belajar di jurusan syariah di Fakultas Syariah di Riyadh—kelak menjadi bagian dari Universitas Islam al-Imam Muhammad bin Suud—dengan sistem intisab, semacam sistem kejar paket, yakni hanya mengikuti ujian saat diadakannya ujian, sampai beliau lulus dan mendapatkan ijazah aliyah.

Terjun Berdakwah

Sang guru, asy-Syaikh Abdurrahman as-Sa’di rahimahullah, menangkap kecerdasan beliau dan perolehan yang besar dalam mencari ilmu, sehingga beliau memotivasi sang murid, Ibnu Utsaimin, untuk mulai mengajar. Beliau pun mulai mengajar di masjid al-Jami’ al-Kabir di Unaizah pada 1370 H, walaupun beliau masih berstatus sebagai murid as-Sa’di, di masjid yang sama. Setelah beliau lulus dari al-Ma’hadul Ilmi Riyadh, beliau ditunjuk menjadi pengajar di al-Ma’hadul Ilmi di Unaizah pada 1374 H. Pekerjaan ini terus berlangsung sampai 1398 H. Saat itulah beliau pindah mengajar di Fakultas Syariah dan Ushuluddin di kota al-Qashim, cabang Universitas Islam Muhammad bin Su’ud. Beliau menjadi dosen di universitas tersebut sampai wafat. Pada 1376 H, sang guru besar, asy-Syaikh Abdurrahman as-Sa’di rahimahullah, meninggal. Setelah itu, beberapa syaikh dicalonkan untuk menggantikan asy- Syaikh as-Sa’di mengimami masjid. Namun, hal itu berjalan sangat singkat. Akhirnya, ditunjuklah beliau sebagai pengganti asy-Syaikh di masjid tersebut, sebagai imam dan khatibnya. Selain itu, beliau juga menggantikan posisi as-Sa’di sebagai pengajar di perpustakaan al-Wathaniyah yang secara struktural masuk ke dalam kepengurusan masjid. Perpustakaan tersebut didirikan oleh asy-Syaikh as-Sa’di pada 1359 H. Ketika para penuntut ilmu semakin banyak, perpustakaan tidak lagi menampung mereka. Beliau memindahkan pelajarannya di masjid sehingga terkumpullah banyak penuntut ilmu. Jumlah mereka semakin banyak dengan datangnya para penuntut ilmu dari dalam Kerajaan Saudi Arabia dan mancanegara. Duduklah ratusan orang di majelis ilmu tersebut.

Pelajarannya berlangsung pada waktu pagi, setelah asar, dan setelah maghrib. Pelajaran setelah maghrib terus berlangsung dan tidak pernah berhenti sepanjang tahun, kecuali saat beliau safar. Keistimewaan dari pelajaran beliau adalah pembekalan ilmu yang serius, bukan sekadar mendengar uraian mauizhah. Asy-Syaikh al-Abbad mengatakan, “Total masa mengajar beliau di masjid al-Jami’ al-Kabir ialah 45 tahun. Adapun total masa mengajar beliau di al-ma’hadul ilmi dan universitas ialah 47 tahun.” Di sela-sela kegiatan beliau, ketika datang bulan Ramadhan, beliau menyempatkan diri untuk menghabiskan mayoritas waktu Ramadhan di Makkah, yaitu mengajar di Masjidil Haram. Asy-Syaikh Abdul Muhsin al-Abbad berkisah, “Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin sering pergi ke Makkah pada beberapa kesempatan yang berbeda dan mengajar di Masjidil Haram, lebih-lebih pada bulan Ramadhan. Di antara kebiasaan beliau setelah berlalu sebagian dari bulan Ramadhan, beliau pergi ke Makkah dan mengajar di sana. Beliau banyak dikerumuni oleh para penuntut ilmu yang bersemangat mengambil ilmu beliau secara langsung. Apabila datang ke Madinah untuk memberikan ceramah atau keperluan yang lain, beliau juga mengajar di Masjid Nabawi. Para penuntut ilmu pun senang dengan kehadiran beliau di Madinah. Mereka menghadiri pelajaran dan mengambil faedah dari ilmu beliau. Saya sendiri adalah salah seorang pengajar di Masjid Nabawi, maka para penuntut ilmu meminta saya untuk meliburkan pelajaran saya supaya mereka bisa mengikuti pelajaran beliau.

Saya pun meliburkan pelajaran saya agar para pelajar dapat mengambil faedah dari beliau. Saya sendiri terkadang ikut menghadiri pelajaran beliau bersama para penuntut ilmu tersebut.” Beliau mulai mengajar di al-Masjidil Haram dalam kesempatan-kesempatan tersebut sejak 1402 H sampai meninggal, yaitu bulan Ramadhan yang Syawwalnya beliau meninggal dunia. Saat itu kaum muslimin hanya mendengar suaranya karena beliau dalam keadaan sakit dan berceramah dalam ruangan tertutup. Penulis pun mengetahui hal itu hanya dari suaranya. Saat penulis mengikuti pelajaranpelajaran beliau—alhamdulillah—baik di Madinah maupun di Masjidil Haram, ada ciri khas yang jarang penulis dapati pada ulama yang lain:

1. Majelis yang sangat hidup

Pelajaran beliau tidak terlepas dari pertanyaan-pertanyaan beliau kepada pada pendengar di sela-sela pelajaran. Hal ini tentu menggugah konsentrasi para penunut ilmu terhadap pelajaran yang beliau sampaikan dan membuat mereka bersiap menjadi sasaran pertanyaan.

2. Membahas sebagian ayat yang dibaca oleh imam dalam shalat.

Sebagaimana diketahui, di Masjidil Haram beliau memberikan pelajaran usai shalat tarawih dan usai shalat subuh. Bacaan surat imam menjadi bahan pembahasan. Biasanya beliau memulai pelajaran setelah pembukaan dengan mengatakan, “Qara’a imamuna….” (Imam kita membaca…) lalu beliau membahasnya. Hal ini tentu menunjukkan beberapa hal. Paling tidak, konsentrasi dalam shalat terhadap bacaan imam dan keluasan ilmu beliau, karena beliau bisa menjabarkan ayat-ayat secara langsung tanpa persiapan. Hal ini karena ilmu sudah berada di dada beliau sehingga tinggal menyampaikan. Di samping kegiatan dakwah tersebut, beliau juga memberikan ceramahceramah di beberapa kota dan beberapa negara Eropa dan AS melalui telepon. Di antara lahan dakwah yang beliau terjuni—sebagaimana diungkapkan oleh asy-Syaikh Abdul Muhsin al-Abbad, “Ikut serta dalam muktamar-muktamar di Saudi Arabia dalam tau’iyatul (bimbingan) para jamaah haji.

Di Jami’ah Islamiyyah (Universitas Islam Madinah) sendiri telah dilangsungkan tiga muktamar: dua muktamar dengan tema bimbingan dakwah dan persiapan para dai; satu muktamar lagi dengan tema memerangi narkoba. Beliau menghadirinya dan memberi banyak faedah dengan pembahasanpembahasan dan diskusinya. Di antara lahan dakwahnya juga adalah keikutsertaan beliau dalam tau’iyatul haj di musim haji dengan berfatwa, memberikan kajian, dan ceramah-cermah. Terkadang beliau memimpin para dai dalam kegiatan tau’iyatul haj di beberapa tahun yang asy-Syaikh Ibnu Utsaimin termasuk di dalam kepanitiaannya. Aku sendiri saat itu juga masuk dalam kepanitiaan itu. Para anggota berkumpul untuk mempelajari permasalahan-permasalahan seputar urusan haji sehingga syaikh memberikan faedah dengan pandangan-pandangan beliau dan ilmunya. Di antara lahan dakwah beliau adalah memberikan faedah kepada kaum muslimin berupa fatwa terhadap pertanyaan-pertanyaan yang sampai kepada beliau, baik dari dalam maupun dari luar Saudi Arabia, baik dengan suratmenyurat, bertemu langsung, maupun melalui telepon. Beliau memberikan waktu khusus untuk berfatwa lewat telepon dan disiplin dengan jadwal tersebut untuk memberikan fatwa sedangkan beliau berada di kotanya, Unaizah.

Apabila beliau keluar kota, beliau meninggalkan pesan pada pesawat teleponnya untuk menyambungkan ke nomer telepon di kota tempat beliau berada. Di antara lahan dakwahnya juga adalah keikutsertaannya yang banyak dan bermanfaat dalam acara radio (Idza’atul Qur’an al-Karim), yaitu dalam acara “Nurun’Ala Darb” (yang berisi jawaban atas pertanyaan pendengar melalui surat), “Su’al ala Hatif” (Tanya Jawab Interaktif), dan “Min Ahkamil Qur’anil Karim” (Tafsir al-Qur’an). Beliau juga memiliki jadwal acara yang tidak tetap di radio dalam beragam tema. Acara “Min Ahkamil Qur’an” sendiri sangat penting dan berfaedah besar. Acara tersebut sangat menitikberatkan pada kandungankandungan al-Qur’an dan mengungkap berbagai hikmah dan hukumnya. Ini menunjukkan kekokohan pemahaman beliau pemahaman terhadap agama. (Untuk acara ini) beliau telah sampai pada akhir juz ke-3 dari al-Qur’anil Karim. (Lihat asy-Syaikh Ibnu Utsaimin minal Ulama ar-Rabbaniyyin)

Jasa dan Jabatan

Selama kiprahnya dalam berkhidmah kepada Islam dan muslimin, beliau sempat menduduki beberapa jabatan penting:

1. Anggota Hai’ah Kibar Ulama (badan ulama ulama besar) di Kerajaan Arab Saudi di Saudi Arabia sejak 1407 H sampai wafatnya.

2. Anggota al-Majlisul Ilmi di Universitas Islam al-Imam Muhammad bin Su’ud selama dua tahun akademik, 1398—1400 H.

3. Anggota Majlis Fakultas Syariah dan Ushuluddin, Universitas Islam Muhammad bin Su’ud cabang al-Qashim, sekaligus sebagai Dekan Fakultas Akidah.

3. Di akhir masa mengajar di alma’hadul ilmi, beliau ikut menjadi anggota panitia penyusunan kurikulum al-Ma’had al-Ilmi dan sempat menulis beberapa buku paket.

4. Anggota panitia tau’iyatul haj pada tahun 1392 H sampai wafatnya.

5. Pimpinan Jum’iyyah (organisasi) Tahfidzul Qur’an al-Khairiyyah di kota Unaizah sejak didirikannya pada 1405 H sampai wafatnya.

Kedudukan Ilmiah

Satu hal yang tidak diragukan adalah kedudukan ilmiah beliau. Para ulama abad ini, baik yang lebih tinggi dari beliau, sepadan, ataupun yang di bawah beliau, sangat mengakui keilmuan beliau. Asy-Syaikh al-Albani dalam salah satu majelisnya menyebut beliau sebagai salah seorang faqih yang langka pada abad ini. Beliau mengatakan, “Bumi kosong dari ulama sehingga aku tidak tahu dari ulama tersebut kecuali beberapa orang yang sedikit jumlahnya. Aku sebut secara khusus di antara mereka adalah al-Allamah Abdul Aziz bin Baz dan al-Allamah Muhammad bin Shalih al-Utsaimin.” (Fatawa Ulama al-Akabir hlm. 6) Bahkan Mufti Umum Kerajaan Arab Saudi, asy-Syaikh Muhammad bin Ibrahim t, berulang kali meminta beliau untuk menjabat sebagai qadhi (hakim), namun beliau menolaknya. Bahkan, sempat terbit surat keputusan yang menetapkan beliau sebagai pimpinan mahkamah di wilayah al-Ahsa’. Namun, beliau momohon agar surat keputusan tersebut dibatalkan. Setelah melalui beberapa proses, akhirnya permohonan beliau dikabulkan. Ini menujukkan sikap wara’ yang tinggi pada beliau. Di kemudian hari, beliau memperoleh kehormatan dengan diberikan kepada beliau Jaizah Malik Faishal al-Alamiyah (Penghargaan Internasional Raja Faishal) untuk khidmat terhadap Islam pada 1414 H. Disebutkan padanya prestasi-prestasi sebagai berikut.

1. Berhias dengan akhlak ulama yang mulia, yang paling menonjol adalah sifat wara’, kelapangan dada, menyuarakan kebenaran, bekerja demi maslahat kaum muslimin, dan keinginan baiknya terhadap orang-orang khususnya serta muslimin pada umumnya.

2. Banyakmya orang yang mengambil manfaat dari ilmunya, baik dari pelajaran yang disampaikan, fatwa atau buku yang ditulis.

3. Penyampaian ceramah-ceramah umum yang bermanfaat di berbagai wilayah Saudi Arabia.

4. Keikutsertaan beliau yang sangat bermanfaat dalam banyak muktamar Islami.

5. Memiliki ciri yang khas dalam metode berdakwah menuju jalan Allah l dengan hikmah dan mauizhah alhasanah, serta mempersembahkan teladan hidup bagi manhaj as-salafus shalih, dalam bentuk pemikiran dan perilaku. Asy-Syaikh Abdul Muhsin al-Abbad pernah menyampaikan sebuah ceramah di Universitas Islam Madinah yang kemudian dibukukan dengan judul asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin minal Ulama ar-Rabbaniyyin. Di antara yang beliau sampaikan, “Beliau adalah seorang ulama besar dan seorang ahli fikih yang mapan, seorang yang dihormati oleh para penguasa dan para ulama serta para penuntut ilmu. Di antara penghormatan para penguasa di negeri ini kepada beliau, ketika melakukan kunjungan ke kota al-Qashim, mereka mengunjungi beliau di rumahnya. Raja Khalid dahulu pernah mengunjunginya, demikian pula Raja Fahd, Putra Mahkota Pangeran Abdullah, dan Pangeran Sulthan. Beliau sendiri memang pantas untuk dihormati dan dihargai. Namun, beliau orang yang sangat tawadhu’, mencintai kebaikan dan manfaat untuk manusia, serta orang yang penuh kasih sayang kepada para penuntut ilmu, bersemangat memberi mereka faedah, ilmu, serta menggabungkan antara ilmu dan amal.”

Wafat Beliau

Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ

“Tiap-tiap jiwa pasti merasakan kematian.” (Ali Imran: 185)

Apabila saatnya ajal datang, Allah Subhanahu wata’alal pun menyiapkan sebab-sebabnya. “Sakit kronis menimpa beliau sehingga beliau pergi ke AS untuk berobat selama beberapa hari saja. Itulah satu-satunya safar beliau ke luar Saudi Arabia. Beliau pun memanfatkan keberadaannya di AS untuk berdakwah ke jalan Allah Subhanahu wata’ala. Beliau menyampaikan khutbah jumat di sana. Sesampainya di kerajaan Saudi Arabia, beliau langsung menjalani perawatan di Rumah Sakit Khusus di Riyadh. Namun, sakit beliau semakin parah. Setelah lewat beberapa hari di bulan Ramadhan, beliau ingin pergi ke Makkah untuk kembali mengajar di Masjidil Haram, sebagaimana kebiasaan beliau sebelumnya. Dipersiapkanlah ruang khusus di masjid untuk beliau. Beliau pun menyampaikan pelajaran dengan berbaring di atas kasurnya menggunakan pengeras suara. Orang-orang pun mendengar suaranya yang tampak berubah karena sakit tanpa melihat beliau. Usai Ramadhan, beliau dipindahkan ke sebuah rumah sakit di Jeddah dan meninggal di sana, saat senja hari Rabu, 25 Syawwal 1421 H. Beliau dishalatkan pada hari Kamis selepas shalat ashar, lalu dimakamkan di permakaman al-Adl, Makkah. Telah menyalatkan dan mengiringi jenazah beliau—semoga Allah Subhanahu wata’ala merahmatinya— sejumlah besar manusia. Saya termasuk orang yang berkesempatan ikut menyalati dan mengiringi jenazah beliau. Saya melihat banyak orang saat menyalatinya dan saat di permakaman. Sungguh, banyak orang merasa sedih dengan wafat beliau karena tingginya kedudukan dan besarnya manfaat ilmu beliau bagi muslimin,” demikian tutur asy-Syaikh Abdul Muhsin al-Abbad. Beliau meninggalkan seorang istri, 5 anak laki-laki, dan 3 anak perempuan. Kelima anak laki-lakinya adalah Abdullah, Abdurrahman, Ibrahim, Abdul Aziz, dan Abdurrahim.

Karya Ilmiah

Beliau meninggalkan karya ilmiah yang cukup banyak, baik dalam bentuk buku kecil maupun karya besar yang berjilid-jilid, baik dalam bidang akidah, hukum fikih, tafsir, musthalah hadits, akhlak, dakwah, maupun lainnya. Karyakarya beliau sangat bermanfaat karena beliau sampaikan dengan bahasa yang mudah dipahami dan sangat jelas, mudah dinalar, di samping bobot ilmiah yang sangat kuat dan menggabungkan antara manqul dan ma’qul. Secara garis besar, karya beliau ada dua macam: hasil tulisan beliau sendiri dan hasil transkrip dari pelajaran-pelajaran beliau yang terekam. Di antaranya adalah:

1. Fathu Rabbil Bariyyah ringkasan dari kitab al-Hamawiyyah, dan ini adalah karya pertama beliau.

2. Asy-Syarhul Mumti’ syarah Zadul Mustaqni’, terdiri dari beberapa jilid.

3. Al-Qaulul Mufid syarh Kitab at-Tauhid.

4. Syarh al-Aqidah al-Wasithiyah.

5. Al-Ushul min Ilmil Ushul. Masih banyak lagi karya beliau. Dalam kitab yang berjudul Ibnu Utsaimin, al-Imam az-Zahid disebutkan sampai 56 karya. Sementara itu, dalam situs Maktabah asy-Syamilah disebutkan mencapai angka 78.

Ditulis oleh Al-Ustadz Qomar Suaidi, Lc.

Akidah Salafiah Ahlus Sunnah wal Jamaah

Asy-Syaikh Utsaimin adalah seorang ulama yang punya perhatian besar terhadap akidah. Karya, ceramah, dan syarah (penjelasan) beliau terhadap matan-matan akidah sangatlah banyak, menyangkut akidah dalam bidang uluhiyah, rububiyah, dan asma wa shifat, atau akidah secara umum. Tentu, akidah yang beliau yakini dan dakwahkan adalah akidah salafiah Ahlus Sunnah wal Jamaah, mengikuti para sahabat nabi. Dalam salah satu karyanya yang berjudul Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah, beliau berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam meninggalkan umatnya di atas jalan lurus yang sangat terang malamnya bagaikan siangnya.

Tidaklah tergelincir darinya melainkan orang yang binasa. Umatnya yang menyambut seruan Allah dan Rasul-Nya berjalan di atas jalan tersebut. Mereka adalah makhluk pilihan Allah Subhanahu wata’ala dari kalangan para sahabat dan tabi’in, serta yang mengikuti mereka dengan baik. Mereka menegakkan syariatnya dan berpegang dengan ajarannya serta menggigitnya dengan gigi geraham, dalam hal akidah, ibadah, akhlak, dan adab, sehingga mereka menjadi kelompok yang selalu unggul di atas kebenaran. Tidak mencelakakan mereka orang yang mengacuhkan mereka atau menyelisihi mereka, sampai datang ketetapan Allah Subhanahu wata’ala dan mereka tetap di atasnya. Kami—segala puji bagi Allah— berjalan di atas jejak mereka. Kami mencontoh perilaku mereka yang didukung oleh al-Qur’an dan sunnah. Kami katakan hal itu sebagai bentuk menyebutkan nikmat Allah Subhanahu wata’ala dan menerangkan terhadap kewajiban yang semestinya di atasnya seorang mukmin.”

Demikian jelas jalan yang beliau tempuh. Karya-karya beliau menjadi bukti tentang akidah yang beliau anut. Karya yang lain dalam bab akidah sangat banyak, kecil maupun besar, dalam bentuk syarah (penjelasan) buku-buku akidah, Kitabut Tauhid, al-Aqidah al-Wasithiyah, dan Lum’atul I’tiqad; atau dalam bentuk ringkasan buku akidah, semacam Fathu Rabbil Bariyah ringkasan Hamawiyah, Taqrib Tadmuriyah ringkasan kitab Tadmuriyah; atau buku-buku yang khusus beliau tulis dalam bab akidah, seperti Syarh Ushulil Iman, al-Iman bil Qadar, dan al-Qawaid al-Mutsla. Ciri khas yang sangat tampak pada tulisan-tulisan beliau adalah sangat sistematis, sederhana, jelas, dan selalu didukung dengan dalil aqli dan naqli.

 

Fikih Ibadah dan Ittiba’

Sekilas, jika seseorang melihat beliau, mungkin akan menganggap beliau sebagai ulama Hanbali. Sebab, beliau tumbuh di lingkungan yang sarat dengan mazhab Hanbali dan perhatian besar terhadap buku-buku ulama Hanbali. Namun, apabila seseorang menyelami karya-karya beliau dan mendengar pelajaran-pelajaran fikih beliau, dia pasti mengetahui bahwa beliau adalah seorang yang sangat terikat dengan dalil dan selalu ittiba’ dengannya, serta sangat memerangi takllid buta dan fanatik golongan. Taklid hanya dibolehkan pada kondisi tertentu. Untuk melihat hal itu secara nyata, bisa kita baca kitab asy-Syarhul Mumti’. Betapa sering beliau menyatakan lemahnya pendapat penulis Zadul Mustaqni’. Beliau mengatakan, “Di antara hak Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam atas kita, yang hal itu di atas hak kedua orang tua kita, adalah kita memurnikan ittiba’ kepadanya. Artinya, kita tidak boleh mendahuluinya. Jadi, kita tidak boleh mensyariatkan dalam agamanya sesuatu yang tidak beliau syariatkan dan tidak melampaui apa yang beliau syariatkan, atau menyepelekan syariatnya. Firman Allah Subhanahu wata’ala,

قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

Katakanlah, Jika kalian (benarbenar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosa kalian.’ Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Ali Imran: 31).”

Tentang taklid, beliau katakan, “Dalam atsar ini terdapat peringatan dari taklid buta dan fanatik mazhab yang tidak terbangun di atas dasar yang selamat. Sebagian orang melakukan kesalahan yang parah, saat dikatakan kepadanya, “Rasulullah bersabda…,” ia menjawab, “Tetapi, dalam kitab fulan begini dan begini….” Hendaklah ia bertakwa kepada Allah l yang berfirman dalam kitab-Nya,

وَيَوْمَ يُنَادِيهِمْ فَيَقُولُ مَاذَا أَجَبْتُمُ الْمُرْسَلِينَ

Dan (ingatlah) hari (di waktu) Allah menyeru mereka, seraya berkata, “Apakah jawaban kalian kepada para rasul?” (al-Qashash: 65)

Allah Subhanahu wata’ala tidak mengatakan, apa jawaban kalian terhadap fulan dan fulan.” “Jika suatu hukum tidak tampak bagi seseorang, dia wajib bertawaqquf. Ketika itulah taklid baru diperbolehkan dalam kondisi darurat. Ini berdasarkan firman Allah Subhanahu wata’ala,

فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِن كُنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“Bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.” (an Nahl: 43 dan al-Anbiya: 7)

Salah satu contoh praktik beliau dalam mengikuti dalil adalah dalam hal batas berhentinya darah di masa haid jika kurang dari satu hari, apakah menjadi tanda suci atau tidak. Beliau mengatakan, “Yang masyhur dalam mazhab Hanbali bahwa ‘darah berarti haid dan bersih berarti suci,’ kecuali apabila penggabungan antara keduanya melebihi masa kebiasaan haid, berarti darah yang lewat dari masa tersebut adalah darah istihadhah. Tetapi, dalam kitab al-Mughni disebutkan, masa suci yang kurang dari satu hari tidak perlu dianggap. Pendapat itulah yang benar, insya Allah. Sebab, darah itu terkadang mengalir dan terkadang berhenti, dan mewajibkan mandi atas orang yang suci sesaat demi sesaat adalah hal yang memberatkan. Ini adalah sebuah keberatan yang mestinya ditiadakan berdasarkan firman Allah Subhanahu wata’ala,

وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ ۚ

“Dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kalian suatu kesempitan dalam agama.” (al-Hajj: 78)

Jadi, atas dasar ini terhentinya darah yang kurang dari satu hari bukan berarti suci, kecuali engkau melihat hal yang menunjukkan kesuciannya. Misalnya, apabila kesuciannya itu di akhir kebiasaan masa haidnya atau engkau melihat cairan lendir putih.” (Risalah Fi Dima ath-Thabi’iyyah)

Ditulis oleh Al-Ustadz Qomar Suaidi, Lc.

Mereka Menuduh Ibnu Utsaimin

Di salah satu blog musuh dakwah tauhid disebutkan sebuat artikel dengan judul “Fatwa Sadis Imam Wahhabi Salafi Ibn Utsaimin!!” Artikel ini diposting pada 20 November 2012 oleh abusalafy. Berikut ini petikannya.

Kedangkalan Akidah Tauhid Wahhabi Salafi

Seperti biasanya, kaum Wahhâbi Salafi yang cupet cara berpikirnya, gemar mengumbar fatwa pengkafiran kepada siapa saja yang tidak meyakini penyimpangan akidah seperti yang mereka yakini. Kini giliran vonis kafir atas siapa saja yang tidak mengimani bahwa Allah “bertempat di langit”….. Demikian dijatuhkan vonis itu oleh Ibnu Utsaimin, salah seorang imam gede kaum Wahhâbi Salafi setelah kematian Bin Bâz…. Perhatikan vonis itu dalam kitab “Majmû’ Fatâwa Ibnu Utsaimin”, 1132- 1—133 pertanyaan: 55. Buku kumpulan fatwa itu disusun oleh Fahd bin Nâshir bin Ibrahim al-Salman. Cet. Dâr al Wathan. ..

Terjemahan Fatwa Bin Utsaimin: Beliau ditanya tentang ucapan sebagian orang jika ditanya, “Di mana Allah?” Lalu ia menjawab, “Allah ada di setiap tempat” atau “Allah ada Maha Ada” apakah jawaban ini benar? Maka beliau menjawab, Jawaban ini palsu/batil/keliru, tetapi tidak secara total dan tidak juga ketika diikat. Jika ia ditanya, “Di mana Allah?” hendaknya ia berkata, “Allah di langit.” Seperti wanita yang ditanya oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, “Di mana Allah?” lalu ia menjawab, “Di langit.” Adapun orang yang mengatakan bahwa “Allah Maha Ada” hanya itu jawabannya, maka sesungguhnya ia lari dari jawaban dan berkelit. Adapun orang yang berkata Allah Subhanahu wata’ala ada di setiap tempat dengan maksud Dzat-Nya maka ia adalah kafir. Sebab ia mendustakan nash-nash, bahkan dalil-dalil naqliyah dan aqliyah serta dalil fitrah bahwa Allah berada di atas segala sesuatu. Dan Dia (Allah) berada di atas mlangit, bersemayam di atas Asry-Nya.

Berikut ini komentar Abu Salafy.

Demikianlah dengan mudahnya Syeikh Mufti Andalan kaum Wahhâbi Salafi menjatuhkan vonis kafir atas sesiapa yang tidak meyakini bahwa “Allah bertempat di langit… bersemayam… duduk di atas Arsy-Nya”… apa dasarnya? Sederhana… sebuah hadis yang redaksinya masih diperselisihkan di antara para ulama Islam… dan kami telah beber panjang lebar dalam seri Ternyata Tuhan Tidak Di Langit!

Dan inilah akidah tajsîm yang diyakini oleh kaum Mujassimah dan kemudian dipromosikan Ibnu Taimiyah dan setelahnya dijadikan akidah resmi kaum Wahhâbi/salafy….

Kami tidak menghiraukan penyimpangan mereka jika ia hanya mereka yakini sendiri. Akan tetapi ketika mereka meneror kaum muslimin dengan vonis kafir, maka kesesatan itu harus segera dibongkar….

Dalam kesempatan ini kami tidak bermaksud membuktikan kepalsuan akidah kaum Yahudi yang kemudian kental kita temukan dalam akidah yang diyakini kaum Wahhâbi itu… telah banyak artikel kami tentang masalah ini… namum di sini kami hanya membuktikan kepada Anda betapa mazhab Wahhâbi Salafi itu ditegakkan di atas pengkafiran kaum muslimin dengan sebab dan alasan yang sama sekali tidak dapat dibenarkan agama... di samping jelas bagi Anda betapa dangkal pemahaman agama kaum Wahhâbi Salafi!.

 

Tanggapan Penulis

Bismillah. Apa yang disampaikan oleh Ibnu Utsaimin bahwa orang yang berkata Allah Ada di setiap tempat dengan maksud Dzat-Nya maka ia adalah kafir

adalah pernyataan yang benar. Adapun yang disebutkan oleh Abu Salafy1: “Kedangkalan Akidah Tauhid Wahhabi Salafi” dan “fatwa sadis” justru menunjukkan kedangkalan ilmunya dalam memahami masalah ini. Dengan sederhananya, dia mengomentari fatwa Ibnu Utsaimin dalam hal itu bahwa alasan beliau: Sederhana… sebuah hadis yang redaksinya masih diperselisihkan di antara para ulama Islam. Justru inilah kedangkalan. Bukankah Ibnu Utsaimin dalam fatwa yang dinukilkan sendiri oleh Abu Salafy mengatakan bahwa “Adapun orang yang berkata Allah ada di setiap tempat dengan maksud Dzat-Nya maka ia adalah kafir. Sebab ia mendustakan nash-nash, bahkan dalil-dalil naqliyah dan aqliyah serta dalil fitrah bahwa berada di atas segala sesuatu. Dan Dia (Allah) berada di atas langit, bersemayam di atas Arsy-Nya.

Sadarkah Anda saat menerjemahkan kutipan ini? Atau orang lain yang menerjemahkan dan Anda hanya main copy-paste saja? Coba Pembaca perhatikan, apa dasar yang disampaikan oleh Ibnu Utsaimin dalam pernyataan tersebut?

1. Dalil-dalil aqli

2. Dalil-dalil naqli

3. Dalil-dalil fitrah

Tiga macam dalil yang apabila dijabarkan akan mencapai jumlah yang banyak. Bagaimana bisa dia katakan bahwa alasan Ibnu Utsaimin “Sederhana… sebuah hadis yang redaksinya masih diperselisihkan di antara para ulama Islam.” Maaf, kemana akal Anda saat membantah asy-Syaikh Utsaimin? Di sini, sedikit saya jabarkan dalildalil yang diisyaratkan oleh Ibnu Utsaimin, agar Abu Salafy—dan yang sejenisnya— tidak sesembrono itu menuduh syaikh dengan tuduhan yang sangat tidak pantas dan tidak sopan. Di antara dalil naqli adalah firman Allah Subhanahu wata’ala,

أَأَمِنتُم مَّن فِي السَّمَاءِ أَن يَخْسِفَ بِكُمُ الْأَرْضَ فَإِذَا هِيَ تَمُورُ

“Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang di langit bahwa Dia akan menjungkir balikkan bumi bersama kamu, sehingga dengan tiba-tiba bumi itu berguncang?” (al-Mulk: 16)

إِذْ قَالَ اللَّهُ يَا عِيسَىٰ إِنِّي مُتَوَفِّيكَ وَرَافِعُكَ إِلَيَّ وَمُطَهِّرُكَ مِنَ الَّذِينَ كَفَرُوا

“Hai Isa, sesungguhnya Aku akan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu dan mengangkat kamu kepada-Ku serta membersihkan kamu dari orangorang yang kafir.” (Ali Imran: 55)

إِلَيْهِ يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيِّبُ وَالْعَمَلُ الصَّالِحُ يَرْفَعُهُ ۚ

“Kepada-Nya lah naik perkataanperkataan yang baik dan amal yang saleh dinaikkan-Nya.” (Fathir: 10)

إِنَّ رَبَّكُمُ اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَىٰ عَلَى الْعَرْشِ يُغْشِي اللَّيْلَ النَّهَارَ يَطْلُبُهُ حَثِيثًا وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ وَالنُّجُومَ مُسَخَّرَاتٍ بِأَمْرِهِ ۗ أَلَا لَهُ الْخَلْقُ وَالْأَمْرُ ۗ تَبَارَكَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ

“Sesungguhnya Rabb kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia naik di atas Arsy. Dia menutupkan malam pada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang, (masingmasing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Mahasuci Allah, Rabb semesta alam.” (al-A’raf: 54)

الرَّحْمَٰنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَىٰ

“Tuhan Yang Maha Pemurah, Yang naik dan tinggi di atas ‘Arsy.” (Thaha: 5 )

Masih banyak lagi. Ini baru dari ayat. Belum lagi dari hadits. Di antaranya adalah dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu,

 فَكَانَتْ زَيْنَبُ تَفْخَرُ عَلَى أَزْوَاجِ النَّبِىِّ تَقُولُ زَوَّجَكُنَّ أَهَالِيكُنَّ، وَزَوَّجَنِى اللهُ تَعَالَى مِنْ فَوْقِ سَبْعِ سَمَوَاتٍ

“Zainab bintu Jahsy dahulu berbangga terhadap para istri nabi yang lain, ‘Yang menikahkan kalian adalah keluarga kalian sendiri, sedangkan yang menikahkan aku adalah Allah dari atas tujuh langit.” Dalam riwayat lain, “Sesungguhnya Allah Subhanahu wata’ala menikahkan aku di langit. Dalam lafadz yang lain, ia berkata kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, “Allah menikahkan aku denganmu dari atas Arsy-Nya.” (HR. al-Bukhari)

Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

 أَلاَ تَأْمَنُونِي وَأَنَا أَمِينُ مَنْ فِي السَّمَاءِ، يَأْتِينِي خَبَرُ السَّمَاءِ صَبَاحًا وَمَسَاءً

“Tidakkah kalian percaya kepadaku padahal aku adalah orang yang dipercaya oleh Dzat yang di atas langit? Datang kepadaku berita langit, pagi dan petang hari.” __________(Muttafaqun alaihi)

Dua hadits saja yang kami keluarkan. Di kantong Ahlus Sunnah masih banyak lagi hadits tentangnya. Adapun hadits yang dia katakan “… sebuah hadis yang redaksinya masih diperselisihkan di antara para ulama Islam” hanyalah salah satu dari sekian banyak hadits yang mendasari pernyataan beliau ini, yang itu adalah keyakinan aswaja dengan pengertian Ahlus Sunnah wal Jamaah yang asli. Hadits tersebut diriwayatkan oleh Muslim dan dikenal sebagai hadits Jariyah. Siapa yang mempermasalahkan redaksinya? Sekelas al-Imam Muslim kah dia sehingga mengkritik redaksi Shahih Muslim? Sebagai tambahan, hadits itu tidak hanya diriwayatkan oleh Muslim rahimahullah, tetapi juga Abu Dawud, Ibnu Abi Syaibah, Ibnu Abi Ashim, dan yang lain rahimahumullah juga meriwayatkannya.

Adanya lafadz-lafadz lain dari hadits ini tidak berarti hadits ini lemah. Yang menganggap lemah hanya orang semacam al-Kautsari, pembawa bendera Jahmiyah abad ini. Adapun dalil secara aqli, beliau terangkan, “Adapun dalil secara akal, dikatakan: tanpa diragukan bahwa sifat ketinggian adalah sifat kesempurnaan dan lawannya adalah sifat kekurangan. Telah pasti bahwa Allah Subhanahu wata’ala memiliki sifat kesempurnaan, maka wajib ditetapkan bagi-Nya sifat ketinggian. Dengan penetapan sifat ketinggian itu Tidak ada konsekuensi sisi negatif atau kekurangan. Adapun dalil secara fitrah yang menunjukkan ketinggian Allah Subhanahu wata’ala dengan Dzat-Nya, sesungguhnya tiap orang yang berdoa kepada Allah Subhanahu wata’ala, baik dengan doa ibadah maupun doa permintaan, kalbunya saat itu tidak tertuju kecuali ke langit. Oleh karena itu, engkau dapati dia mengangakat kedua tangannya ke langit dengan perintah fitrahnya.

Sebagaimana yang dikatakan oleh seorang dari Hamadzan kepada Abul Ma’ali al-Juwaini, “Tidaklah seorang yang tidak berpengetahuan sama sekali mengatakan, ‘Ya Rabb,’ melainkan dia dapatkan dalam kalbunya keharusan untuk mencari arah atas.’ Al-Juwaini (yang saat itu mengingkari sifat ketinggian Allah Subhanahu wata’ala) lantas menepuk kepalanya dan mengatakan, “Orang Hamadzan ini telah membuatku bingung. Orang Hamadzan ini telah membuatku bingung.’ Demikian kisah ini dinukil darinya. Sahih atau tidak kisah itu, sesungguhnya tiap orang mendapati seperti apa yang dia katakan. Dalam Shahih Muslim disebutkan dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam menyebutkan seseorang yang menjulurkan dua tangannya ke langit dan menyeru, “Wahai Rabbku, wahai Rabbku,” sampai akhir hadits. Kemudian engkau dapati juga orang yang shalat dan kalbunya menuju ke langit, lebih-lebih saat sujud dan berkata, “Subhana rabbiyal a’la, (Mahasuci Rabbku yang Mahatinggi” karena dia tahu bahwa sesembahannya di langit.

Mahasuci Allah. Dengan demikian, nyatalah kebenaran ucapan Ibnu Utsaimin bahwa Allah di atas langit dan yang mengatakan Dzat Allah berada di tiap tempat adalah kafir. Sebab, dia telah mengingkari semua ayat dan hadits yang menunjukkan hal ini, yang sulit dihitung jumlahnya. Justru yang aneh adalah yang tidak mengafirkan orang semacam ini, jika dia mengetahui ayat-ayat dan hadits34 hadits tersebut lantas menentangnya. Berbeda halnya dengan orang yang belum memahami hal ini dan tidak mengetahui dalil, bisa jadi masih ada uzur baginya. Yang aneh adalah yang tidak meyakini bahwa Allah Subhanahu wata’ala di atas langit, semacam Abu Salafy dalam artikelnya “Ternyata tuhan tidak di langit.” Lantas di mana menurutnya? Di mana-mana? Atau tidak dimana-mana? Sempat terbayang dalam pikiran penulis, bagaimana perasaan Abu Salafy saat berdoa? Bisa jadi, ia berdoa sambil kalbunya meraba-raba dan mencari di mana tuhannya, entah ketemu atau tidak. Seorang yang mengatakan demikian, bisa jadi ia meyakini bahwa Allah Subhanahu wata’ala di mana-mana dengan Dzatnya, yang konsekuensinya Allah berada di tempattempat kotor dan najis. Na’udzubillah,

Mahasuci Allah dari hal itu. Orang yang fitrahnya sehat tidak akan menerima hal itu. Dia saja tidak mau bertempat di tempat yang kotor dan najis, lantas bagaimana dia bisa menempatkan tuhannya di tempat yang seperti itu? Itu kan kurang ajar terhadap tuhannya. Allah Subhanahu wata’ala sembahan kami tidak begitu. Bisa jadi pula, ia meyakini bahwa Allah Subhanahu wata’ala tidak bertempat di mana-mana; tidak di atas, tidak di bawah, tidak di kanan, tidak di kiri, tidak di depan, tidak di belakang, tidak di dalam alam, dan tidak pula di luarnya. Jika keyakinannya demikian, seperti yang dikatakan oleh Mahmud bin Sabaktakin, “Tolong, sebutkan perbedaan antara Rabb yang kamu sebut itu dengan sesuatu yang tidak ada!” Apa yang mereka sebutkan adalah definisi paling bagus terhadap sesuatu yang tidak ada. Inilah ta’thil (penolakan terhadap sifat-sifat Allah) yang mutlak. Maka dari itu, dahulu ulama mengatakan, “Sekte Jahmiyyah menyembah sesuatu yang tidak ada wujudnya.” Anda dari golongan mana, wahai Abu Salafy? Hanya kepada Allah Subhanahu wata’ala kami mohon pertolongan.

Ditulis oleh Al-Ustadz Qomar Suaidi, Lc.