Pengaruh Media Massa Terhadap Akidah Umat

Allah ‘azza wa jalla menciptakan manusia di atas fitrah. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

فَأَقِمۡ وَجۡهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفٗاۚ فِطۡرَتَ ٱللَّهِ ٱلَّتِي فَطَرَ ٱلنَّاسَ عَلَيۡهَاۚ لَا تَبۡدِيلَ لِخَلۡقِ ٱللَّهِۚ ذَٰلِكَ ٱلدِّينُ ٱلۡقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكۡثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعۡلَمُونَ ٣٠

        “Hadapkanlah wajahmu kepada agama yang lurus, (tetaplah di atas) fitrah dari Allah yang menfitrahkan manusia di atasnya, tiada yang akan bisa merubah ciptaan Allah. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan orang tidak mengetahuinya.” (ar-Rum: 30)

Asy-Syaikh Shalih al-Fauzan hafizahullah berkata, “Fitrah adalah agama Islam sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

.كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِه

“Setiap anak yang lahir, dilahirkan di atas fitrah, maka kedua orang tuanyalah yang akan menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” (HR. al-Bukhari dan Muslim) (Syarah Fadhlul Islam, hlm. 111)

 

Perusak Fitrah

Fitrah yang suci ini tentu harus dipupuk dengan ilmu, iman, dan dijaga dari berbagai hal yang akan merusaknya. Fitrah manusia yang suci ini dirusak oleh berbagai hal yang dilakukan setan baik dari kalangan jin maupun manusia.

Dalam hadits qudsi, Allah ‘azza wa jalla berfirman,

وَإِنِّي خَلَقْتُ عِبَادِي حُنَفَاءَ كُلَّهُمْ وَإِنَّهُمْ أَتَتْهُمُ الشَّيَاطِينُ فَاجْتَالَتْهُمْ عَنْ دِينِهِمْ

“Sungguh, Aku menciptakan hamba-Ku hunafa (lurus di atas tauhid) seluruhnya. Lalu setan mendatangi mereka dan menggelincirkan mereka dari agamanya.” (HR. Muslim no. 2865)

Setan ada dari kalangan jin dan manusia. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

ٱلَّذِي يُوَسۡوِسُ فِي صُدُورِ ٱلنَّاسِ ٥ مِنَ ٱلۡجِنَّةِ وَٱلنَّاسِ ٦

“Yang melontarkan bisikan-bisikan jelek kepada manusia.dari kalangan jin dan manusia.” (an-Nas: 5—6)

 

Tarbiyah Orang Tua Memiliki Andil Besar dalam Lurusnya Akidah Anak

Selain setan, tarbiyah orang tua juga memiliki andil besar dalam lurusnya akidah seorang anak. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِه

“Setiap anak yang lahir, dilahirkan di atas fitrah. Kedua orang tuanyalah yang akan menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Asy-Syaikh Shalih al-Fauzan menerangkan, “Ini menunjukkan, pada asalnya fitrah manusia adalah di atas Islam. Seandainya dia selamat dari tarbiyah yang jelek dan dua orang tua yang kafir, niscaya dia akan mengarah kepada agama Islam dan mengikuti para rasul. Akan tetapi, seseorang bisa sesat/menyimpang adalah karena dai-dai (yang menyeru) kepada kesesatan.” (Syarah Fadhlul Islam, hlm. 111)

Asy-Syaikh Shalih al-Fauzan hafidzhullah juga berkata, “Seandainya manusia selamat dari penyeru-penyeru kepada kesesatan, niscaya fitrah akan menerima al-haq dan mereka akan mengikuti para rasul….”

 

Media Massa Sebagai Sarana Perusak Akidah

Dari ucapan asy-Syaikh Shalih al-Fauzan di atas, kita mendapat kesimpulan bahwasanya di antara yang menyebabkan rusaknya fitrah, menyimpangnya seseorang dari tauhid dan akidah yang benar adalah bermunculannya dai-dai yang menyeru kepada kesesatan.

Kemajuan teknologi di zaman sekarang ini juga dimanfaatkan para penyeru kepada kesesatan untuk melakukan propaganda dan mempromosikan kesesatan mereka. Di antara sarana yang dimanfaatkan adalah media massa.

Kalau dahulu mereka menyebarkan kesesatan mereka di mimbar dan majelis, dalam jumlah pendengar yang terbatas, kini mereka tampil menyebarkannya di berbagai media kepada jumlah orang yang tak terbatas.

Media massa adalah sebuah istilah yang digunakan untuk mengistilahkan jenis media yang secara khusus didesain untuk menjangkau masyarakat yang sangat luas.

Media massa ada yang berupa media cetak, seperti koran, tabloid, majalah, buletin, dan lainnya. Media massa juga ada yang berupa media elektronik, seperti televisi dan radio. Media massa yang lain di zaman kita ini ialah media maya (online) yang terwujud dalam bentuk internet.

Ketahuilah, ketiga bentuk media massa di atas memiliki pengaruh besar dalam merusak fitrah seorang muslim.

 

Kemungkaran dalam Media Massa

Berbagai ragam kemungkaran yang ada dalam media massa sangatlah berpengaruh pada akidah seorang yang membaca dan melihatnya. Pengaruh tersebut selanjutnya akan menyebabkan rusaknya akidah.

Di antara kemungkaran yang ada dalam media massa yang merusak akidah umat adalah:

 

  1. Kesyirikan

Banyak media yang menyuguhkan tayangan syirik dan tulisan berbau syirik, bahkan ada majalah dan tabloid khusus “menjajakan” kesyirikan, ini sebagian bukti media massa dijadikan sarana menjajakan kesyirikan.

  1. Promosi Perdukunan

Perdukunan adalah satu praktik kesyirikan yang banyak digandrungi masyarakat. Di antara media yang mengandung kesyirikan adalah buku primbon dan buku mujarabat.

Dahulu dukun-dukun tidak ada yang berpromosi. Namun, kini mereka melakukan promosi di surat kabar, bahkan tanpa malu berpromosi di televisi. Para dukun yang dahulunya bersembunyi, kini tampil bak selebritis di televisi dan media lainnya. Tokoh-tokoh seperti Ki Joko Bodo, Mbah Maridjan, Mama Lauren dikenal layaknya selebritas. Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.

Dahulu seorang yang mau berdukun harus bersusah payah datang ke tempat si dukun, namun kini mereka bisa berdukun via SMS.

Bahkan, praktik perdukunan bisa meraup ratusan juta rupiah dari “program layanan perdukunan via SMS”. Tampil seorang dukun dalam satu tayangan dan berkata, “Jika Anda ingin tahu keberuntungan Anda di masa depan, ketik REG (spasi) xxxx kirim.”

Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.

Kaum muslimin seakan-akan sudah lupa tentang ancaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap orang yang mendatangi dukun, atau bertanya kepada mereka, memercayai mereka.

Mungkin masih terlintas di ingatan kita, bagaimana media massa mempopulerkan Ponari yang mereka anggap tahu yang gaib dan diberi julukan “dukun cilik”.

  1. Siaran Ritual Syirik

        Kesyirikan yang seharusnya diingkari dan dihilangkan justru menjadi satu ritual budaya yang disiarkan berbagai media. Akhirnya, tidak ada lagi kebencian kepada syirik sebagaimana yang diajarkan oleh agama. Generasi muda dan anak-anak tumbuh dalam keadaan demikian.

Media-media saat ini banyak mempertontonkan acara yang akan merusak akidah muslim: pocong, penampakan, sihir, dan semisalnya. Media mempertontonkan bahwa tokoh politik A sowan ke Mbah B, selebritis C sering datang ke penasihat spiritualnya, Eyang D, yang notabene adalah dukun dan tukang ramal.

Disiarkan dan ditayangkan pula praktik pengobatan alternatif yang mengandung kesyirikan, seperti memindahkan penyakit ke hewan dan lainnya.

Demikianlah berbagai praktik, acara, dan ritual syirik disuguhkan kepada masyarakat, yang bisa menjerumuskan mereka ke dalam kubang kesyirikan.

Hampir semua media cetak menampilkan zodiak; meramal rezeki seseorang, jodoh, dan peruntungan lainnya. Ini adalah satu perkara yang sangat batil karena sudah melanggar perkara iman kepada yang gaib. Masalah rezeki dan jodoh adalah urusan gaib, tidak boleh seseorang meramal atau mengaku-aku tahu urusannya.

  1. Promosi Paham Sesat

Banyak paham sesat yang tumbuh berkembang melalui media massa. Bahkan, hampir setiap kelompok sesat memiliki media untuk menyebarkan paham mereka baik dalam bentuk televisi, radio, atau minimalnya website. Mereka pun menerbitkan buku-buku untuk menyebarkan kesesatan mereka.

Media massa adalah sarana yang paling ideal bagi kaum liberal untuk menjajakan paham liberal. Kita telah mendengar bagaimana JIL (Jaringan Islam Liberal) dengan bebasnya memaparkan paham mereka di hadapan umat, dalam dialog, ceramah dan tulisan di surat kabar.

  1. Mengikis Prinsip al-Wala wal Bara

Prinsip al-wala wal-bara adalah satu prinsip yang agung dalam agama Islam. Namun, media massa telah banyak memberi andil dalam mengikis prinsip ini. Umat digiring untuk menerima propaganda bahwa semua agama itu sama.

Lebih-lebih saat ini, umat digiring untuk berbasa-basi dengan Nasrani, mengucapkan selamat kepada mereka, mengadiri acara Natal, bahkan membantu perayaan hari raya mereka. Padahal Allah ‘azza wa jalla berfirman, menjelaskan ciri-ciri hamba yang beriman,

وَٱلَّذِينَ لَا يَشۡهَدُونَ ٱلزُّورَ

        “Mereka adalah orang-orang yang tidak menghadiri zur.” (al-Furqan: 72)

Asy-Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah berkata bahwa maksudnya ialah tidak menghadiri hari raya mereka.

Para ulama pun telah menegaskan haramnya memberikan ucapan selamat kepada orang-orang kafir dalam perayaan hari besar mereka.

Demikianlah kenyataan yang ada di sekitar kita.

Oleh karena itu, kita harus terus bersemangat belajar tauhid dan bersemangat mendakwahi umat tentang pentingnya tauhid dan bahaya syirik. Kita harus tahu bahwa setan akan terus berusaha merusak akidah dengan menjajakan kesyirikan dan kesesatan di tengah-tengah umat.

Kita juga sangat berharap kepada instansi terkait agar melarang tayangan, acara, promo, dan tulisan yang mengandung kesyirikan dan penyimpangan.

Seorang muslim hendaknya berusaha kuat menjaga kesucian akidahnya. Di antara wujud penjagaan tersebut adalah selektif mencari bahan bacaan dan informasi yang masuk, serta menjauhi media massa yang menyuguhkan berbagai kesesatan yang akan merusak akidahnya.

Kata para ulama kita,

الْقُلُوبُ ضَعِيفَةٌ وَالشُّبُهَاتُ خَطَّافَةٌ

Kalbu itu lemah, sedangkat syubahat gampang menyambar (menyesatkan).

Mudah-mudahan Allah ‘azza wa jalla terus memberikan hidayah dan keistiqamahan kepada kita semua.

Amin ya Rabbal alamin.

 

Ditulis oleh Al-Ustadz Abdur Rahman Mubarak

Efek Negatif Media Massa

Disadari atau tidak, pola pikir dan perilaku masyarakat saat ini kebanyakan terpengaruh oleh kultur media massa. Bermunculannya media informasi yang sangat pesat bak jamur tumbuh di musim hujan disambut layaknya makanan lezat oleh orang yang lapar atau air yang sejuk oleh orang yang haus.

Mirisnya, kebanyakan media massa tersebut berada di genggaman musuh-musuh Islam. Melalui media-media tersebut, mereka tebarkan virus yang bisa membunuh agama seseorang. Media dijadikan alat propaganda untuk memberi gambaran buruk tentang Islam dan kaum muslimin. Islam diopinikan sebagai batu ganjalan tercapainya kemodernan. Di sisi lain, mereka mengemas kekafiran dan kemaksiatan sebagai sesuatu yang lumrah dan hak setiap individu.

Memang, sebagian media massa ada yang dimiliki oleh orang-orang Islam. Akan tetapi, kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik dan tidak paham tentang agama. Di samping itu, yang dikejar hanyalah profit. Bahkan, karena ketidakpahaman tentang agama, sebagian media massa yang bernapaskan keislaman terkadang menyuguhkan info dan menyajikan tayangan yang berbau syirik, bid’ah, dan khurafat. Sangat minim media massa-media massa yang mengusung risalah Islam yang sesungguhnya. Karena itu, mengetahui hakikat media massa menjadi sesuatu yang urgen agar seorang tidak salah menerima informasi.

 

Dampak Negatif Media Massa

Kajian-kajian tentang dampak buruk media massa akan terus menjadi topik yang menarik mengingat ketergantungan manusia saat ini kepada media informasi sangat besar.

Ketika mengemukakan dampak buruk media massa, tidak berarti kita menolak teknologi informasi yang mutakhir dan menutup mata dari pengaruh positifnya. Akan tetapi, kita semestinya mengambil langkah waspada akan dampak buruknya, karena kebanyakan pemilik media massa adalah orang-orang sekuler yang menghalalkan segala cara dan orang-orang fasik yang tujuannya hanya dunia. Sementara itu, dampak negatif media massa sangat jelas dirasakan. Berikut beberapa dampak negatif media massa secara umum.

  1. Menjadi sarana musuh-musuh Islam untuk merealisasikan tujuan-tujuan mereka menguasai umat Islam dan melontarkan keraguan seputar syariat Islam.
  2. Melemahkan akidah umat dengan ditampilkannya syiar-syiar kekufuran dan gambar-gambar orang kafir. Karena sering ditampilkan, kaum muslimin akhirnya menganggap hal-hal semacam ini sebagai suatu yang lumrah. Hilanglah sikap bara’ah (berlepas diri) dari orang-orang kafir dan perbuatan mereka.
  3. Umat diajak untuk meniru orang-orang kafir dan fasik dalam hal akhlak, pemikiran, adat istiadat, gaya berpakaian, potongan rambut, dan semisalnya.
  4. Orang menjadi tidak menyukai kebaikan karena digambarkan sebagai kemunduran. Sebaliknya, media massa mendorong orang untuk melakukan kejelekan.
  5. Menjadikan orang terbiasa melihat dan mendengar kemungkaran tanpa ada pengingkaran.
  6. Penghakiman sepihak kepada suatu kelompok masyarakat tanpa ditelusuri lebih dalam pangkal masalahnya.

Adapun dampak buruk media massa secara khusus ialah sebagai berikut:

 

  1. Dampak negatif terhadap pribadi
  • Menelan mentah-mentah info-info miring seputar Islam dan kaum muslimin yang ditebarkan media-media kufur tanpa bisa menyaringnya.
  • Hal ini akan melemahkan keyakinannya terhadap agamanya. Satu dampak negatif ini saja sudah cukup untuk meruntuhkan masa depan seseorang.
  • Masuknya pemahaman-pemahaman yang menyimpang ke dalam hati seorang muslim karena tidak selektif dalam mencari informasi dari sumber yang tepercaya. Ia terpengaruh dengan pemahaman yang menyimpang tanpa disadari bahwa itu suatu penyimpangan.
  • Terjadinya tindak asusila karena seringnya menonton tayangan-tayangan yang membangkitkan nafsu seks yang diharamkan. Hal ini kerap terjadi, bahkan yang parah dilakukan oleh anak di bawah umur.
  • Teknologi informasi digunakan untuk melakukan tindak kejahatan, seperti penipuan dan pemerasan. Sebagai misal, seseorang memiliki gambar seseorang atau rekaman video yang bersifat pribadi, lalu gambar atau rekaman tersebut digunakan untuk memeras pemilik gambar itu jika tidak ingin disebarluaskan.
  • Kepekaan terhadap masyarakat dan lingkungan sekitar menjadi luntur karena asyik menggunakan teknologi informasi yang modern dan sibuk mengikuti program-program tayangan.
  • Banyak waktu yang terbuang secara sia-sia.
  • Penggunaan teknologi informasi yang berlebihan dan tidak pada tempatnya menjadi faktor terbengkalainya tugas, timbulnya kecelakaan lalu lintas, dan lelahnya tubuh yang bisa menyebabkan sakit.

 

  1. Dampak negatif terhadap kehidupan rumah tangga.
  • Banyaknya terjadi kasus perceraian, kekerasan dalam rumah tangga, dan pengabaian hak dari dua belah pihak.
  • Seorang suami lalai melaksanakan tugasnya untuk mencarikan nafkah bagi anak dan istrinya karena asyik mengikuti tayangan-tayangan yang melalaikan.
  • Menjalin pertemanan melalui media sosial dengan wanita lain yang mengarah kepada perselingkuhan.

Di sisi lain, seorang istri terkadang sibuk mengikuti acara-acara televisi sehingga tugasnya di rumah untuk mendidik anak dan melayani suami diabaikan. Seorang istri terkadang menjalin pertemanan dengan pria lain melalui media sosial hingga terjadi perselingkuhan.

  • Seorang istri gemar mengoleksi dan membaca majalah-majalah model untuk meniru gaya berpakaian dan potongan rambut wanita-wanita kafir dan fasik. Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَمِنْهُمْ

“Barang siapa menyerupai suatu kaum, dia termasuk golongan kaum tersebut.” ( HR. Ahmad dan Abu Dawud)

 

  1. Dampak negatif media massa antarelemen masyarakat
  • Di antaranya, terjadinya persaingan yang tidak sehat antartetangga dalam memiliki perangkat informasi dan saling memamerkan perangkat informasi yang mahal serta canggih untuk unjuk status sosial.
  • Selain itu, media massa juga dijadikan alat untuk menebarkan gosip, fitnah, dan provokasi, hingga timbul kebencian antarelemen masyarakat.

 

  1. Dampak negatif media massa dalam hubungan antara rakyat dan penguasa

Apabila ditelusuri, betapa banyak media massa yang suka membeberkan aib penguasa atau senantiasa menjelek-jelekkan pemerintah, sehingga muncul kebencian dari rakyat kepada penguasanya. Situs-situs jejaring sosial juga terkadang dimanfaatkan untuk menghasut masyarakat agar melakukan aksi demontrasi dan menolak program-program pemerintah yang baik.

Seharusnya, media massa memosisikan diri sebagai sarana penghubung dan pendukung agar pemerintah dihormati dan didukung program-programnya yang baik sehingga hak rakyat akan tertunaikan dengan baik. Hubungan antara rakyat dengan penguasanya juga terjalin dengan baik. Dengan demikian, setiap pihak mengetahui hak dan kewajibannya.

 

  1. Media massa bisa berperan sebagai perusak negara

Dalam beberapa tahun terakhir ini, dunia menyaksikan kekacauan di beberapa negara bagian utara benua Afrika dan Timur Tengah berupa penggulingan kekuasaan. Peran media massa dalam hal ini sangat besar. Media massa mampu menggiring opini publik yang umumnya mendukung aksi demonstrasi.

Situs-situs jejaring sosial digunakan oleh demonstran untuk menggalang kekuatan guna menumbangkan kekuasaan yang sah. Dalam kenyataannya, media massa menjadi alat yang mengerikan yang kadang sulit dilawan dengan senjata tempur sekalipun.

Sebagai contoh, belum lama ini tersebar isu yang santer tentang rencana pemerintah Arab Saudi untuk memindahkan jasad Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia ke kuburan Baqi. Sontak, kabar seperti ini menimbulkan komentar berupa kecaman terhadap pemerintah Arab Saudi dan para ulamanya. Isu tentang pemindahan kuburan Nabi itu bermula dari pemberitaan surat kabar Inggris The Independent.

Adalah wartawan The Independent, Andrew Johnson, yang menyebutkan bahwa pemberitaan bersumber dari seorang akademisi di Arab Saudi, Dr. Irfan al-‘Alawi. Dia seorang doktor dalam teologi dan tasawuf Islam, yang menjadi dosen terbang di London University di Inggris, California University di AS, dan Research Fellow di Leiden Belanda.

Dr. Irfan telah membaca langsung makalah karya Dr. Ali bin Abdul Aziz asy-Syibl yang (konon) berisikan usulan pemindahan makam (kuburan) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ke Baqi. Tulisan itu baru merupakan dokumen konsultasi yang diajukan oleh Dr. Ali asy-Syibl. Dokumen itu sejatinya membahas tentang isolasi, pembatasan kuburan Nabi agar tidak menjadi tempat orang-orang berbuat syirik, bukan pemindahan kuburan beliau (Sumber Mi’raj News.Com).

Dr. Ali asy-Syibl sendiri membantah surat kabar tersebut dengan ucapannya bahwa isi berita tersebut mengandung hasutan, tidak benar, dan dusta. Pemerintah Arab Saudi juga membantah isu tersebut.

 

  1. Dampak negatif media massa untuk kaum muslimin

Di antaranya, masyarakat mudah berkomentar dan bersikap tanpa ilmu. Misalnya, ketika terjadi penangkapan terduga teroris oleh Densus 88, diberitakan oleh media bahwa sang teroris berjenggot dan istrinya memakai cadar. Titik tekan pemberitaan lebih pada ciri-ciri fisik sang teroris sehingga imagi yang akan muncul di tengah masyarakat bahwa ciri-ciri teroris itu berjenggot dan istrinya bercadar.

Pemberitaan yang seperti itu akan menyebabkan masyarakat awam menilai bahwa semua yang berjenggot dan yang istrinya bercadar adalah teroris. Di sini, disadari atau tidak, media massa menjadi sumber keretakan hubungan di tengah-tengah masyarakat dan penghakiman sepihak kepada personal tanpa landasan yang bisa dipertanggungjawabkan.

Media massa sekuler memang tak henti-hentinya menampilkan Islam dengan wajah yang menyeramkan. Media massa yang seharusnya menjadi sarana mencerdaskan masyarakat ternyata terkadang dijadikan sarana untuk menebarkan bibit-bibit permusuhan di tengah masyarakat. Hal ini tentu sebuah pengkhianatan dan pembodohan publik.

 

Peran Pemerintah dan Ulama

Setelah pemaparan tentang dampak buruk media massa terhadap individu dan masyarakat, bahkan terhadap negara, sudah semestinya pemerintah bergerak cepat memantau pemberitaan dan tayangan yang ada.

Tentu saja tidak hanya memantau, tetapi melakukan tindakan yang semestinya terhadap media massa yang menyuguhkan pemberitaan yang membahayakan urusan dunia atau agama. Hal ini sudah menjadi kewajiban pemerintah yang kelak akan dimintai pertanggungjawabannya di hadapan Allah ‘azza wa jalla.

Para ulama dan da’i juga berkewajiban memberi peringatan kepada masyarakat tentang dampak buruk media massa. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَامِنْ قَوْمٍ يٌعْمَلُ فِيْهِمْ بِالْمَعَاصِي هُمْ أَعَزُّ وَأَكْثَرُ مِمَّنْ يَعْمَلُهُ ثُمَّ لَمْ يُغَيِّرُوْهُ إِلَّا عَمَّهُمُ اللهُ مِنْهُ بِعِقَابٍ

“Tiada suatu kaum yang kemaksiatan dilakukan di tengah-tengah mereka, yang kaum tersebut lebih mulia dan lebih banyak daripada orang yang berbuat maksiat, tetapi mereka tidak mau mengubahnya, kecuali Allah ‘azza wa jalla akan ratakan azab kepada mereka.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, dan Ibnu Majah dari Jarir radhiallahu ‘anhu. Lihat Shahih al-Jami’ 5749)

Sesungguhnya pembangunan di segala bidang tidak akan banyak memberi manfaat apabila moralitas masyarakat rusak. Nilai-nilai kebaikan yang ditanamkan di rumah-rumah, masjid-masjid, dan sekolah-sekolah, akan sedikit artinya ketika kejahatan media dibiarkan merajalela.

Seandainya di sana ada seribu tukang bangunan bersatu padu membangun sebuah gedung yang tinggi nan kokoh, namun di belakang mereka ada satu orang yang siap meruntuhkannya, tentu bangunan itu terancam runtuh. Lantas bagaimana kiranya apabila yang membangun gedung tersebut hanya satu orang, sementara di belakang dia ada seribu orang yang siap meruntuhkannya?!

Wallahu a’lam bish-shawab.

 

Ditulis oleh Al-Ustadz Abdul Mu’thi Sutarman

Makar Orang Kafir Melalui Media Massa

Freedom of the Press. Ya, kebebasan pers. Bebas tanpa batas. Kalau pun ada batas, maka batas itu pun masih ditafsir bebas tiada berbatas.

Freedom of the Press. Deret kalimat ampuh untuk memayungi keberadaan media massa di tengah masyarakat dan di hadapan penguasa. Dengan slogan ‘Kebebasan Pers’ media massa bebas melakukan pemberitaan sesuai misinya. Ungkapan ‘Kebebasan Pers’ sendiri bila ditelisik bukan asli karya anak bangsa Indonesia. Ungkapan itu muncul bersumber dari Amandemen Pertama Konstitusi Amerika Serikat: “Congress shall make no law… abridging the freedom of speech, or of the press.” (Kongres dilarang membuat hukum… yang membatasi kebebasan berbicara atau pers).

Karena itu, tak aneh bila ‘Kebebasan Pers’ sangat kental beraroma Amerika. Lebih-lebih, lahirnya Undang-undang Pers No. 40/1999 di Indonesia tak lepas dari keterlibatan ahli hukum Article 19, Toby Mendel. Sisi lain, UU Pers No. 40/1999 melandasi dengan Pasal 19 UU HAM: “Setiap orang berhak atas kebebasan mempunyai dan mengeluarkan pendapat; dalam hal ini termasuk kebebasan mempunyai pendapat-pendapat dengan tidak mendapat gangguan, dan untuk mencari, menerima, dan menyampaikan keterangan-keterangan dan pendapat-pendapat dengan cara apa pun juga dengan tidak memandang batas-batas.” (Lihat Membincang Pers, Kepala Negara, dan Etika Media, Sirikat Syah, hlm. 3—4)

Lengkaplah sudah arti sebuah kebebasan. Bebas menerabas kultur masyarakat Indonesia yang banyak diwarnai norma agamis. Bebas tidak memandang batas-batas. Jadi, media massa pun bebas menyiarkan berita selama ada fakta. Tak memedulikan dampak berita itu di tengah masyarakat. Juga tak memedulikan asas kepatutan dan moral. Sebut saja, siaran televisi berisi talk show yang mengadu domba, sinetron yang menyesatkan dan membodohkan, atau sebuah acara yang menayangkan naluri dan perilaku rendah manusia digali dan diekspos (Lihat Membincang Pers, hlm.194), infotainment yang banyak membongkar aib, serta berita yang dikemas sesuai misi meraup dunia dan kekuasaan. Bahkan, tak sedikit yang terang-terangan menyajikan menu yang mengundang syahwat selera rendah.

Media massa telah menjadi alat untuk menyuarakan kebebasan yang tiada kendali. Walau dengan kebebasan itu bakal menimbulkan berbagai kerusakan di tengah masyarakat. Media massa semakin jauh dari kesantunan. Media massa menjadi pupuk penyubur para kapitalis tak berhati lurus.

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

إِنَّ ٱلَّذِينَ يُحِبُّونَ أَن تَشِيعَ ٱلۡفَٰحِشَةُ فِي ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَهُمۡ عَذَابٌ أَلِيمٞ فِي ٱلدُّنۡيَا وَٱلۡأٓخِرَةِۚ وَٱللَّهُ يَعۡلَمُ وَأَنتُمۡ لَا تَعۡلَمُونَ ١٩

“Sesungguhnya orang-orang yang menginginkan agar (berita) perbuatan yang keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan akhirat. Dan Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (an-Nur: 19)

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah memberi penjelasan terkait ayat di atas bahwa yang dimaksud “menyukai penyebaran perbuatan keji (al-fahisyah) di kalangan orang-orang beriman” meliputi dua makna:

  1. Menyukai al-fahisyah tersebar di tengah kaum muslimin.

Terkait hal ini, menyebarkan beragam film cabul dan surat kabar (atau media lainnya –red.) yang jelek, jahat dan porno. Media-media semacam ini, tak diragukan lagi, merupakan media yang menyukai penyebaran al-fahisyah di tengah masyarakat muslimin. Mereka menghendaki timbulnya kerusakan agama pada diri seorang muslim. Tentunya, kerusakan itu timbul melalui sebab perbuatan mereka (yang menyebarkan al-fahisyah) melalui beragam majalah, surat kabar, dan media lainnya. Barang siapa menyukai al-fahisyah itu tersebar di tengah kaum muslimin, dia berhak untuk mendapatkan azab nan pedih di dunia dan akhirat.

  1. Menyukai al-fahisyah tersebar pada kalangan tertentu, bukan lingkup masyarakat Islam secara menyeluruh.

Balasan bagi yang berbuat demikian ialah diazab di dunia dan akhirat. (Syarhu Riyadhi ash-Shalihin, I/598)

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin menyebutkan pula bahwa musuh-musuh Islam dari kalangan Yahudi, Nasrani, musyrikin, komunis, dan para kaki tangannya sangat bersemangat menebarkan godaan wanita di tengah kaum muslimin. Mereka menyerukan tabarruj, mendedahkan aurat wanita, menghasung ikhtilat, mengajak pada kerusakan akhlak. Mereka dengan gencar menyuarakan semua itu melalui media yang mereka miliki, baik secara lisan maupun tulisan. Mereka mengetahui, ini merupakan godaan terbesar yang akan menjadikan manusia lupa kepada Rabb dan agamanya. Semua itu bisa terjadi melalui pintu godaan wanita. (Syarhu Riyadhi ash-Shalihin, 1/48)

Membincang fitnah wanita, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengingatkan perihal itu, sebagaimana diungkap hadits Usamah bin Zaid radhiallahu ‘anhu,

مَا تَرَكْتُ بَعْدِي فِتْنَةً هِيَ أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ

Tiada fitnah sepeninggalku kelak yang lebih membahayakan (selain godaan) wanita terhadap laki-laki.” ( HR. al-Bukhari no. 5096, Muslim, no. 97)

Apa yang terjadi kini? Makar orang kafir untuk menghancurkan kaum muslimin di antaranya dengan memperalat kaum wanita. Lebih memprihatinkan lagi, banyak kaum muslimah tidak menyadari bahwa dirinya diperalat untuk kepentingan busuk orang-orang kafir. Hingga kaum muslimah berbondongbondong menjajakan diri, memamerkan kecantikan dan kemolekannya, guna dipasarkan oleh kaum kafir melalui media mereka. Nas’alullaha as-salaamah.

“Hendaknya, kita jangan tertipu oleh seruan orang-orang yang berbuat kejelekan dan kerusakan dari kalangan yang membebek orang-orang kafir. Mereka mengajak untuk berikhtilath (membaurkan antara wanita dan laki-laki). Sebab, sungguh itu ajakan setan. Wal ‘iyadzu billah,” demikian penjelasan asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al- ’Utsaimin rahimahullah.

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memerintahkan kaum wanita untuk menghadiri Shalat ‘Id di lapangan. Namun, tidak menyatukan (membaurkan) antara kaum wanita dan laki-laki. Para wanita dikumpulkan secara khusus di satu tempat yang terpisah dari kaum laki-laki,” kata beliau rahimahullah lebih jelas. (Syarhu Riyadhi ash-Shalihin, 1/674—675)

 

Propaganda ala Yahudi

Dalam lintasan sejarah terpatri nama Abdullah bin Saba. Sosok pria keturunan Yahudi kelahiran Kota Shan’a, Yaman. Hidupnya menampakkan seorang muslim, namun yang terpendam dalam hatinya; permusuhan dan kebencian nan sengit kepada Islam dan kaum muslimin. Hidupnya nomaden, selalu berpindah dari satu wilayah ke wilayah lainnya. Di setiap wilayah yang disinggahinya senantiasa menebarkan pemahaman sesatnya.

Abdullah bin Saba memompa masyarakat dengan propaganda licik. Menyemai permusuhan dalam tubuh umat agar membenci penguasa muslim, yaitu Khalifah Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu. Upaya menghasut kaum muslimin yang dilakukan Yahudi satu ini, digalang di beberapa daerah. Bashrah, Kufah, Syam, Hijaz, dan Mesir adalah lahan garap untuk menumbuhsuburkan kebencian umat kepada pemerintahan kaum muslimin.

Saat pergerakannya tidak menampakkan hasil yang memuaskan, sang Yahudi ini beralih menuju Mesir. Di tempat ini ia melancarkan makarnya. Penduduk Mesir dihasut. Ia tebar beragam informasi menyesatkan. Dalam tempo yang dirasa tepat, penduduk Mesir itu pun digerakkan menuju Kota Madinah.

Aksi provokasi Yahudi telah memerdaya umat. Kebencian, permusuhan, dan kemarahan telah menyelimuti. Mereka tiada segan untuk menekan dan melawan Amirul mukminin, sahabat mulia, menantu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang merupakan khalifah, Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu. Mata hati mereka telah terkunci. Hawa nafsu mencengkram kukuh, menggelapkan pandangan akal mereka. Terjadilah apa yang terjadi. Para demonstran mengepung kediaman Khalifah Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu. Suplai makanan dan minuman dihentikan. Khalifah beserta keluarga dikungkung.

Akhir dari konspirasi jahat ini, terbunuhlah Khalifah Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu. Tikaman pedang mengoyak tubuh sahabat mulia ini. Tetesan darah seorang syahid membasahi mushaf al-Qur’an. Tindak angkara murka telah menodai sejarah umat Islam. Melalui beragam media yang dikuasai, Abdullah bin Saba’ berhasil merekrut para pengikutnya untuk berbuat anarkis. Sebuah tindak zalim menjijikkan. Persekongkolan jahat telah membuahkan malapetaka. Kekacauan melingkupi umat. Semua tercatat dalam lembaran hitam kelam sejarah umat. Ingat, Yahudi di balik semua peristiwa bersimbah darah ini. (Lihat Mukhtashar Sirah ar-Rasul, asy-Syaikh Muhammad bin Abdilwahhab, hlm. 218)

Begitulah watak Yahudi. Lihai melakukan beragam hilah (tipu muslihat). Dahulu, kaum Yahudi melakukan hilah sebagai upaya menolak kebenaran. Mereka tak segan melakukan tipu muslihat dalam rangka menjaga kekufuran dan kesesatan yang diyakininya. Mereka lakukan tipu muslihat lantaran tak mampu secara kesatria dan terang-terangan menunjukkan hujahnya. Karena itu, seringkali mereka berbuat makar secara sembunyi-sembunyi.

Ketika Perang Badr usai, manusia berbondong-bondong memeluk Islam. Orang-orang Yahudi pun tak kuasa menghalanginya. Lalu, orang-orang Yahudi di Madinah membuat makar. Mereka ucapkan, “Masuklah Islam saat awal siang. Jika telah akhir siang, murtadlah kalian dari Islam. Katakan, ‘Kami tak memperoleh kebaikan dalam agama Muhammad.’ Niscaya orang akan mengikuti jejak kalian karena kalian ahli kitab.”

Makar Yahudi ini dibongkar Allah ‘azza wa jalla dalam firman-Nya,

وَقَالَت طَّآئِفَةٞ مِّنۡ أَهۡلِ ٱلۡكِتَٰبِ ءَامِنُواْ بِٱلَّذِيٓ أُنزِلَ عَلَى ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَجۡهَ ٱلنَّهَارِ وَٱكۡفُرُوٓاْ ءَاخِرَهُۥ لَعَلَّهُمۡ يَرۡجِعُونَ ٧٢

“Sekelompok ahli kitab (kepada sesamanya) berkata, ‘Perlihatkanlah (seolah-olah) kalian beriman pada apa yang diturunkan kepada orang-orang yang beriman (sahabat-sahabat Rasul) pada permulaan siang dan ingkarilah ia pada akhirnya, supaya mereka (orang-orang mukmin) kembali (kepada kekafiran).” (Ali Imran: 72)

 

Makar Yahudi Kini

Yahudi kerap kali memanfaatkan media guna menyusupkan pemahamannya. Melalui media, disusupkanlah pemahaman-pemahaman yang mengagungkan kaum kafir. Diopinikan, seakan persenjataan dan kelengkapan militer orang-orang kafir itu canggih dan tak ada yang mampu menandinginya.

Propaganda melalui tayangan telivisi, misalnya, bisa berakibat menumbuhkan jiwa inferior (minder, merasa kecil dan tak berdaya) pada sebagian kaum muslimin di hadapan kaum kafir. Seakan-akan orang-orang kafir itu hebat, sedangkan kaum muslimin lemah. Seakan-akan kaum kafir itu unggul, sedangkan kaum muslimin tersisih.

Secara perlahan namun pasti, nilai-nilai itu tertanam dalam benak sebagian kaum muslimin. Mereka mengelu-elukan kehidupan orang-orang kafir, bahkan meniru gaya hidup mereka dan membuang ajaran Islam. Begitu dahsyat pengaruh media massa.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ لَوْ دَخُلُوا حُجْرَ ضَبٍّ لَدَخَلْتُمُوهُ. قَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ، الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى؟ قَالَ: فَمَنْ؟

Sungguh kalian akan mengikuti jejak orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta. Andai mereka masuk ke lubang dhab (binatang sejenis reptil), niscaya kalian akan mengikutinya. Ditanyakan, ‘Wahai Rasulullah, Yahudi dan Nasranikah?’ Jawabnya, ‘Siapa lagi?’” ( HR. al-Bukhari dan Muslim dari Abi Sa’id al-Khudri radhiallahu ‘anhu)

Dunia film, sinetron, drama dengan segala bentuk aktingnya menjadi daya tarik. Sebagian kaum muslimin bahkan tergiur dengan pertunjukan akting tersebut. Lebih tragis, ada sekelompok aktivis dakwah yang melabelkan diri dengan sebutan “salaf” pun turut berakting. Melalui sarana televisi yang dikelolanya, mereka tayangkan bentuk-bentuk drama berdurasi pendek. Setapak demi setapak program siaran televisi yang dikelolanya telah membuka celah untuk mengikuti jejak Yahudi dan Nasrani.

Melalui tayangan televisi yang dikelola mereka terkuak pintu petaka. Di antara pemirsa yang sebagiannya para ibu, mulai tergoda. Para ibu muda belia yang masih bersuami ini mulai berceloteh tentang sang ustadz, tentang baju yang dikenakan sang ustadz, tentang sesuatu yang membangkitkan daya tarik.

Siapa yang bisa menjamin hati bisa tetap selamat? Siapa pula yang bisa menjamin bulir-bulir syahwat tak akan bersemi di lubuk hati terdalam?

Kala pintu fitnah itu dikuak semakin terbuka, saat itu rindu dan cinta membara. Syahwat pun menggelora. Nafsu bergejolak. Telah tiadakah kecemburuan di relung hati sang suami kala celoteh sang istri berucap tentang pria lain? Melalui televisi yang dikelolanya, mereka tengah menabur badai. Nas’alullaha as-salamah.

 

Propaganda ala Munafikin

Peristiwa itu terjadi setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pulang dari peperangan Bani Musthaliq. Adapun Bani Musthaliq itu sendiri merupakan salah satu nama kabilah dari rumpun kabilah Khuza’ah. Bani Musthaliq menetap di wilayah Qudaid, berdekatan dengan mata air al-Muraisi.

Setelah kaum muslimin berhasil menaklukan pasukan Bani Musthaliq, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam beserta pasukan kaum muslimin pulang ke Madinah. Saat tiba di satu daerah dekat Madinah, beliau beserta pasukannya beristirahat. Turut dalam rombongan pasukan istri beliau, Aisyah radhiallahu ‘anha. Kala malam tiba, beliau dan pasukannya bergerak meninggalkan tempat itu menuju Madinah.

Namun, saat pasukan itu bergerak. Aisyah radhiallahu ‘anha tidak bersama mereka. Aisyah radhiallahu ‘anha tertinggal. Itu terjadi tatkala Aisyah radhiallahu ‘anha telah menunaikan keperluannya, lalu terasa kalungnya terjatuh. Maka, ia pun segera kembali ke tempat tadi untuk mencari kalungnya. Akhirnya, setelah dicari, kalung itu pun ditemukannya. Ia pun bergegas kembali ke rombongan pasukan. Namun, ternyata rombongan pasukan telah berangkat menuju Madinah. Aisyah radhiallahu ‘anha tertinggal.

Lantas Aisyah radhiallahu ‘anha berdiam diri di tempatnya semula. Harapannya, rombongan pasukan yang bersamanya mengetahui kalau dirinya tertinggal lalu kembali ke tempat itu. Saat menunggu, Aisyah radhiallahu ‘anha tertidur.

Dalam waktu bersamaan, ada juga seorang sahabat bernama Shafwan bin al-Mu’aththal as-Sulami radhiallahu ‘anhu tertinggal dari pasukannya. Ia tertinggal lantaran tertidur dan tidak diketahui oleh anggota pasukan lainnya. Maka, ketika ia bergerak mengejar rombongan pasukan, Shafwan radhiallahu ‘anhu melihat sesuatu. Ia dekati. Ternyata, yang ada di hadapannya adalah Aisyah radhiallahu ‘anha.

Saat itu perintah berhijab belum turun sehingga Shafwan radhiallahu ‘anhu mengenali bahwa itu adalah Aisyah radhiallahu ‘anha. “Inna lillaahi wa inna ilaihi raji’uun, seorang istri Rasulullah?” Kata-kata itu terucap olehnya.

Aisyah radhiallahu ‘anha pun terbangun lalu menutupkan jilbab ke wajahnya.

Shafwan pun mendekatkan untanya. Setelah Shafwan dudukkan binatang tunggangannya, Aisyah radhiallahu ‘anha pun menaikinya. Shafwan berjalan di depan binatang tunggangannya seraya memegang tali kendali. Ia berjalan cepat tanpa berkata sepatah kata pun. Hingga kemudian dirinya berhasil mengejar rombongan pasukan di satu daerah bernama Nahru azh-Zhahirah.

Abdullah bin Ubay, sang munafik, melihat hal itu. Akal busuknya langsung bergerak. Kebenciannya nan memuncak mendapat angin untuk dimuntahkan. Ia langsung mencari informasi. Menampung beragam berita. Menyebarkannya. Dengan gencar provokasi dilancarkan. Tuduhan keji pun dilontarkan. Aisyah radhiallahu ‘anha dituduh melakukan maksiat. Masyarakat pun goncang. Bara telah menyala.

Keadaan runyam di tengah kaum muslimin tentu menyenangkan orang-orang munafik di Madinah. Kesempatan untuk menggunjing rumah tangga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertambah menguat. Fitnah berkecamuk.

Namun, makar orang-orang munafik itu hancur berserak setelah wahyu turun. Aisyah radhiallahu ‘anha dinyatakan suci bersih. Tuduhan keji tiada terbukti. Bahkan, Allah ‘azza wa jalla mengancam para penyebar berita dusta nan keji dengan ancaman mengerikan. Firman-Nya,

إِنَّ ٱلَّذِينَ جَآءُو بِٱلۡإِفۡكِ عُصۡبَةٞ مِّنكُمۡۚ لَا تَحۡسَبُوهُ شَرّٗا لَّكُمۖ بَلۡ هُوَ خَيۡرٞ لَّكُمۡۚ لِكُلِّ ٱمۡرِيٕٖ مِّنۡهُم مَّا ٱكۡتَسَبَ مِنَ ٱلۡإِثۡمِۚ وَٱلَّذِي تَوَلَّىٰ كِبۡرَهُۥ مِنۡهُمۡ لَهُۥ عَذَابٌ عَظِيمٞ ١١

“Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kalian juga. Janganlah kalian kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kalian, bahkan itu ada baiknya (hikmahnya) bagi kalian. Tiap-tiap seorang dari mereka mendapatkan balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bagian terbesar dalam menyiarkan berita bohong itu, maka baginya siksa yang besar.” (an-Nur: 11)

 

Upaya Menghancurkan Agama Allah ‘azza wa jalla

Orang-orang kafir dan munafik tiada henti untuk menghancurkan agama Allah ‘azza wa jalla. Semenjak dahulu hingga sekarang makar itu terus berlangsung. Mereka hendak memadamkan cahaya Islam melalui beragam media yang dimilikinya. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

يُرِيدُونَ لِيُطۡفِ‍ُٔواْ نُورَ ٱللَّهِ بِأَفۡوَٰهِهِمۡ وَٱللَّهُ مُتِمُّ نُورِهِۦ وَلَوۡ كَرِهَ ٱلۡكَٰفِرُونَ ٨

“Mereka hendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut-mulut (ucapan-ucapan) mereka, tetapi Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir membencinya.” (ash-Shaf: 8)

Untuk menghancurkan akhlak kaum muslimin, orang-orang kafir, dan munafik merancang strategi dengan menerbitkan majalah, tabloid, surat kabar, dan media audio-visual, seperti televisi, yang menyuguhkan kisah-kisah berselera rendah. Menampilkan gambar-gambar seronok. Menyajikan informasi yang membangkitkan birahi.

Sementara itu, dalam dunia sosial politik ditebar beragam berita yang merendahkan penguasa, bahkan mencela dan mencacatnya. Walau pun mereka membungkusnya dengan kemasan kata “mengkritisi” atau dengan bahasa “pers sebagai alat kontrol sosial”.

Dampak dari media semacam ini, masyarakat terdidik untuk suka mencela pemerintah. Padahal tindakan demikian bertentangan dengan nilai-nilai Islam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,

مَنْ أَهَانَ سُلْطَانَ اللهِ فِي الْأَرْضِ أَهَانَهُ اللهُ

Barang siapa yang merendahkan (menghina, mencela) penguasa Allah ‘azza wa jalla di muka bumi, Allah ‘azza wa jalla akan merendahkan (menghinakan)nya.” (HR. at-Tirmidzi, no. 2224, dinyatakan hasan oleh asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani dalam ash-Shahihah, no. 2296)

Demikian pula sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam,

مَنْ أَرَادَ أَنْ يَنْصَحُ لِسُلْطَانٍ بِأَمْرٍ فَلاَ يُبْدِ لَهُ عَلَانِيَةً وَلَكِنْ لِيَأْخُذْ بِيَدِهِ فَيَخْلُوَ بِهِ، فَإِنْ قُبِلَ مِنْهُ فَذَاكَ وَإِلاَّ كَانَ قَدْ أَدَّى الَّذِي عَلَيْهِ

Barang siapa ingin menasihati penguasa karena satu perkara, hendaknya jangan melakukannya di hadapan publik (secara terbuka). Akan tetapi, lakukanlah dengan cara mengambil tangannya lantas (menasihatinya) di tempat tersembunyi bersamanya (tidak dipublikasikan). Jika ia menerima (nasihat)nya, itulah (yang diharap). Jika tidak menerima nasihatnya, sungguh nasihat itu telah sampai kepadanya.” (HR. Ahmad dari Syuraih bin Ubaid radhiallahu ‘anhu)

Adapun untuk menebar kerancuan memahami Islam, sejumlah media telah getol menyuguhkannya. Pemahaman Islam Liberal, Syiah, Mu’tazilah dijajakan dalam beragam bentuk, baik secara terang-terangan maupun melalui cara halus tersembunyi. Bahkan, ada sebuah terbitan yang menyediakan halaman khusus.

Selain itu, media pun kerapkali menggiring masyarakat untuk membenci dan tak menyukai orang-orang yang menampakkan syiar-syiar keislaman. Peristiwa terorisme dijadikan kuda tunggangan untuk menghantam orang-orang yang berpegang teguh kepada Islam yang benar. Tak sedikit media yang tak mampu membedakan siapa teroris dan siapa yang benar-benar mengamalkan Islam secara baik dan benar. Satu contoh, tuduhan Wahabi identik terorisme seringkali dilontarkan media. Padahal, bila ditelisik, pengelola media itu sendiri tidak memahami sejatinya apa dan bagaimana Wahabi itu. Tragis!

Kini, tampak di hadapan kita betapa banyak anggota masyarakat yang tak mengindahkan bimbingan Islam yang mulia ini. Senyatanya, inilah yang dikehendaki orang-orang kafir dan munafik. Mereka menghendaki agar ajaran Islam ditinggalkan oleh umatnya. Dengan begitu Islam tiada menyinari kehidupan manusia. Begitulah makar orang-orang kafir dan munafik. Wal ‘iyadzu billah.

Namun, yang menjaga Islam adalah Allah ‘azza wa jalla. Kesucian dan keberadaannya dipelihara Allah ‘azza wa jalla. Betapa pun busuk makar orang-orang kafir dan munafik, Allah ‘azza wa jalla tetap akan menampakkan yang benar itu benar dan yang salah itu salah. Kebenaran akan tetap tampak walau orang-orang kafir, munafik, musyrik membencinya.

هُوَ ٱلَّذِيٓ أَرۡسَلَ رَسُولَهُۥ بِٱلۡهُدَىٰ وَدِينِ ٱلۡحَقِّ لِيُظۡهِرَهُۥ عَلَى ٱلدِّينِ كُلِّهِۦ وَلَوۡ كَرِهَ ٱلۡمُشۡرِكُونَ ٩

“Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar, untuk memenangkannya di atas segala agama meskipun orang-orang musyrik membencinya.” (ash-Shaf: 9)

Hati-hati memilih media. Sebab, hal ini menyangkut keselamatan agama yang ada pada kita.

Allahu a’lam.

Ditulis oleh Al-Ustadz Abul Faruq Ayip Syafruddin

Media: Pisau Bermata Dua

السلام عليكم ورحمة الله و بركاته

Media memang pisau bermata dua. Di satu sisi ia bisa multiguna, di sisi lain, juga bisa membawa petaka.

Sisi manfaat media memang tak terhitung. Banyak hal-hal keduniawian bahkan akhirat yang bisa ditunjang dengan media. Usaha, berita terkini, hingga dakwah, bisa demikian berkembang dengan adanya media, biidznillah.

Sisi lain, dampak negatif yang ditimbulkan media juga tak terbendung. Media sering dijadikan alat propaganda, dari soal politik hingga soal agama. Banyak kesesatan yang tumbuh subur dan dengan cepat dianut masyarakat karena dilariskan media. Banyak kemaksiatan yang mudah diakses hanya dengan memainkan jari-jemari kita di rumah.

Lebih-lebih dengan menjamurnya media sosial di dunia maya. Ruang-ruang pribadi yang tercipta membuat manusia lupa. Perselingkuhan pun menjadi muaranya. Sebaliknya, media sosial juga menciptakan ruang publik yang seluas-luasnya. Di sini, manusia pun lupa. Pamer kekayaan dan kesuksesan dipertontonkan. Masalah pribadi dan rumah tangga diumbar. Foto-foto narsis bahkan yang memamerkan aurat dipajang seakan media sosial adalah kamar pribadinya.

Tak cukup sampai di sini sisi negatif media yang kita tuai. Islam sebagai agama yang haq, sering menjadi bulan-bulanan media. Pengusaha media yang mayoritas orang-orang non-Islam atau muslim tetapi tidak paham Islam, menjadikan media sebagai alat untuk menyudutkan Islam dan kaum muslimin. Dari yang halus, yakni mencitrakan kemaksiatan sebagai sesuatu yang lumrah, hingga yang sudah “menabuh genderang perang” yakni menghina Islam secara terang-terangan.

Opini demi opini terus diciptakan demi mengesankan bahwa Islam adalah agama yang kolot dan horor. Ajaran Islam yang demikian melindungi wanita dianggap sudah tak relevan. Adapun terorisme dan anarkisme terkesan dilakukan oleh muslim yang “lahiriahnya” taat. Sekian juta umat pun termakan. Opini media mampu membolak-balik penilaian seseorang.

Masyarakat juga latah mengekor media yang menjelma menjadi hakim. Kasus apa saja, karena sudah menjadi konsumsi media, dengan mudahnya masyarakat memutuskan siapa yang benar dan siapa yang salah. Hanya dengan bermodal baca koran atau menonton berita televisi, masyarakat dengan strata apa pun telah demikian “pintar” menghakimi. Kebenaran menjadi demikian sempit, sebatas apa yang dibaca, apa yang ditonton, dan apa yang (mau) disimpulkan.

Padahal, disadari atau tidak, media massa lebih sering mengajarkan buruk sangka, utamanya jika sasarannya adalah pemerintah. Di mata media, pemerintah berkuasa seakan tidak pernah ada benarnya, kebijakannya seakan 100% cacat dan cela. Seakan-akan jika kita duduk di pemerintahan, kita mampu mengemban amanat yang demikian besar dengan mudahnya. Kita bahkan lupa bahwa kita sendiri juga manusia biasa.

Menjadi amat aneh, jika media sekarang mengaku tidak memihak, objektif, dan independen. Berita kecelakaan yang nyaris tanpa tendensi saja, bisa berbeda versi antara satu dengan yang lainnya. Bagaimana jadinya jika berita itu sudah masuk ranah politik? Bukankah orang-orang di balik media juga memiliki keberpihakan? Jika satu media mendukung dan satunya menentang lantas mana yang benar? Mana yang harus kita ikuti?

Namun layaknya senjata, media akan kembali pada siapa yang memegangnya. Senjata bisa mencelakai diri bahkan orang lain, namun bisa memberi manfaat jika digunakan sebagaimana mestinya.

Maka dari itu, dengan keadaan diri kita yang banyak dosa, yang mudah terjerumus ke dalamnya, kita juga hidup di tengah masyarakat yang lebih banyak maksiat daripada yang taat, sudah semestinya kita menjauhi media-media yang lebih banyak mudaratnya ketimbang manfaatnya.

Wallahu a’lam.

والسلام عليكم ورحمة الله و بركاته