Mut’ah, Pelaris Syiah

Al-Ustadz Abul Abbas Muhammad Ihsan

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ

“Ketahuilah bahwa dalam setiap tubuh itu terdapat segumpal daging. Apabila dia (segumpal daging itu) baik, maka akan menjadi baiklah seluruh tubuhnya. Apabila rusak, maka akan menjadi rusaklah seluruh tubuhnya. Ketauhilah bahwa dia (segumpal daging tadi) adalah kalbu (jantung).” (HR. al-Bukhari dan Muslim dari Abu Abdillah an-Numan bin Basyir radhiallahu ‘anhuma)

Al-Hafizh Ibnu Hajar menjelaskan, “Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan perkara ini secara khusus (dalam hadits ini), karena jantung adalah pemimpin bagi seluruh anggota badan. Dengan sebab baiknya pemimpin pula, masyarakat akan menjadi baik. Sebaliknya, dengan rusaknya pemimpin, masyarakat juga akan menjadi rusak.” (Fathul Bari, 1/3)

Jika kita perhatikan agama Syiah dengan menggunakan “kaca mata” hadits yang mulia ini, berbagai kerusakan, kezaliman, dan kekacauan yang dilakukan oleh Syiah itu terjadi dengan sebab keyakinan (akidah) rusak yang telah tertanam di dalam hati mereka.

Sebagai contoh dan sekaligus pelaris agama Syiah adalah nikah mut’ah (baca: kawin kontrak). Salah satu doktrin Syiah yang keji dalam hal ini terdapat di dalam kitab tafsir mereka, Minhajus Shadiqin, yang dikarang oleh Fathullah al-Kasyani. Disebutkan di dalamnya, “Barang siapa melakukan nikah mut’ah sekali, akan dibebaskan sepertiga tubuhnya dari api neraka. Barang siapa melakukan nikah mut’ah dua kali, akan dibebaskan dua pertiga tubuhnya dari api neraka. Barang siapa melakukan nikah mut’ah tiga kali, akan dibebaskan seluruh tubuhnya dari api neraka.”

Menurut klaim Syiah, Ja’far ash-Shadiq berkata, “Diperbolehkan bagi laki-laki melakukan nikah mut’ah sebanyak mungkin tanpa wali dan saksi.” (al-Wasil, juz 21/64)

 debu

Nikah Mut’ah

Nikah mut’ah adalah pernikahan seorang laki-laki dengan seorang perempuan dalam jangka waktu yang telah disepakati oleh mereka (satu hari, dua hari, bisa kurang atau lebih) dengan si laki-laki memberikan sesuatu kepada si perempuan; bisa berupa harta, makanan, pakaian, atau yang lain. Apabila masa yang telah disepakati telah habis, maka secara otomatis terjadi perpisahan di antara mereka berdua tanpa talak (perceraian) dan tidak saling mewarisi. (Jami’ Ahkam an-Nisa, 3/182)

Asy-Syaikh Abdullah bin Abdur Rahman al-Bassam rahimahullah berkata, “Mut’ah adalah pecahan dari kata tamattu’ (menikmati) sesuatu. Dinamakan nikah mut’ah karena tujuan pernikahan itu ialah seorang laki-laki bisa bersenang-senang dengan perempuan yang diikat dengan sebuah perjanjian sampai batas waktu tertentu.” (Taudhih al-Ahkam, 5/294)

 

Mut’ah Telah Merebak di Indonesia

Praktik nikah mut’ah (baca: kawin kontrak) tenyata sangat laris di dunia kampus yang teletak di kota-kota besar di Indonesia, seperti Bandung, Surabaya, Makassar, Yogyakarta, dan lainnya. Sebagai contoh adalah apa yang diungkapkan oleh seorang penulis skripsi yang berjudul “Perempuan dalam Nikah Mut’ah”. Hasil survei yang dilakukannya menunjukkan bahwa nikah mut’ah banyak dilakukan oleh kalangan civitas akademika, di antaranya adalah para mahasiswa yang tersebar hampir di seluruh kampus di Makassar. Salah satu alasan para perempuan ingin melakukan nikah mut’ah adalah karena merantau dan jauh dari orang tua/keluarga sehingga membutuhkan perlindungan dari mahramnya agar terhindar dari hal yang tidak diinginkan.

Jenis perjanjiannya pun bermacam-macam. Sebagian data yang didapatkan menunjukkan bahwa mereka yang melakukan nikah mut’ah ada yang memilih periode/jangka waktu selama si perempuan dalam masa studi. Jika si perempuan sudah lulus kuliah, nikah mut’ahnya pun turut selesai.

 

“Ketahuilah bahwa nikah mut’ah itu haram sejak sekarang ini sampai hari kiamat. Barang siapa (telah nikah mut’ah) dan memberi sesuatu (kepada seorang perempuan), dia tidak boleh mengambilnya.”

 

Dalil-Dalil yang Mengharamkan Nikah Mut’ah

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, “Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak yang mereka miliki; sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barang siapa mencari yang di balik itu, mereka itulah orang-orang yang melampaui batas.” (al-Mu’minun: 5-7)

Dari Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu,

نَهَى رَسُولُ اللهِ عَنْ مُتْعَةِ النِّسَاءِ وَعَنْ أَكْلِ الْحُمُرِ الْأَهْلِيَّةِ يَوْمَ خَيْبَر

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang nikah mut’ah terhadap para wanita dan memakan daging keledai piaraan pada perang Khaibar.” (Muttafaqun ‘alaih)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang nikah mut’ah di dalam hadits Rubayyi bin Sabrah, dari ayahnya,

أَلَا إِنَّهَا حَرَامٌ مِنْ يَوْمِكُمْ هَذَا إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ كَانَتْ أَعْطَى شَيْئًا فَلَا يَأْخُذْهُ

“Ketahuilah bahwa nikah mut’ah itu haram sejak sekarang ini sampai hari kiamat. Barang siapa (telah nikah mut’ah) dan memberi sesuatu (kepada seorang perempuan), dia tidak boleh mengambilnya.”

Abdullah bin Zubair berkata di dalam khutbahnya di Mekah, “Sungguh ada beberapa orang yang Allah butakan hati mereka sebagaimana Dia telah membutakan mata mereka. Mereka berfatwa bolehnya nikah mut’ah.” (HR. Muslim)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menjelaskan, “Riwayat-riwayat yang mutawatir menunjukkan makna yang sama, yaitu Allah subhanahu wa ta’ala telah mengharamkan nikah mut’ah yang sebelumnya dihalalkan. Pendapat yang benar, nikah mut’ah ini tidak akan menjadi halal setelah diharamkan; yaitu setelah diharamkan pada masa Fathu Makkah. Mut’ah tidak akan menjadi halal setelah itu.” (Nukilan Abdullah al-Bassam dalam Taudhih al-Ahkam, 5/295)

 

Pengkhianatan Syiah terhadap Imam Mereka

Salah satu ciri khas Syiah Rafidhah adalah berlebihan dalam mengultuskan Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu.

Dalam kitab mereka al-Kafi, diriwayatkan dari Muhammad bin al-Fadhl, dari Abul Hasan, dia berkata, “Perwalian Ali radhiallahu ‘anhu sudah tertulis pada seluruh kitab para nabi, terlebih lagi al-Qur’an. Tidaklah Allah subhanahu wa ta’ala mengutus seorang rasul kecuali dengan nubuwwah Muhammad dan dengan washiyat Ali.” (Kitab al-Hujjah dari al-Kafi, 1/437)

Meski demikian, dalam hal nikah mut’ah ini, mereka justru mengkhianati fatwa imam mereka, yaitu Ali radhiallahu ‘anhu, yang telah mengharamkannya. Alangkah besarnya kedustaan mereka!

 

Praktik Para Tokoh Syiah

  1. Ayatullah Khomeini

Sayyid Husain al-Musawi al-Husaini, salah seorang mantan murid Khomeini menceritakan bahwa dia pernah safar bersama Khomeini ke daerah al-‘Atifiah. Di daerah itu, tinggal seorang lelaki yang berasal dari Iran, Sayyid Shahib. Ia mempunyai hubungan yang dekat dengan Khomeini.

Sayyid Shahib sangat bergembira dengan kedatangan kami. Kami tiba di tempatnya waktu Zuhur. Beliau menyediakan makan siang yang istimewa untuk kami dan memaklumkan kepada kerabat dekatnya tentang kedatangan kami. Mereka hadir dan memenuhi rumah beliau untuk menyambut kedatangan kami dengan penuh penghormatan.

Sayyid Shahib meminta kepada kami supaya bermalam di rumahnya pada malam tersebut, Imam pun setuju. Ketika tiba waktu Isya’, dihidangkan disediakan makan malam untuk kami. Para hadirin mencium tangan Imam dan berbincang-bincang dengannya.

Ketika hampir tiba waktu tidur, para hadirin bubar kecuali penghuni rumah tersebut. Khomeini melihat anak-anak perempuan berumur empat atau lima tahun yang sangat cantik. Imam meminta dari ayahnya, Sayyid Shahib untuk melakukan nikah mut’ah dengan anaknya. Ayahnya pun setuju dengan perasaan gembira. (Lillahi Tsumma lit Tarikh)

 

  1. Sayyid Husain Shadr

Sayyid Husain Musawi bercerita pula, “Seorang perempuan datang kepadaku dan bercerita tentang peristiwa yang dialaminya. Dia menceritakan bahwa seorang tokoh Syiah, Sayid Husain Shadr, pernah melakukan nikah mut’ah dengannya dua puluh tahun lalu. Dia pun hamil dari hubungan itu. Setelah puas, dia menceraikannya.

Setelah berlalu beberapa waktu, perempuan itu dikaruniai seorang anak perempuan. Dia bersumpah bahwa dia hamil hasil hubungannya dengan Sayyid Husain Shadr, karena saat itu tidak ada yang melakukan nikah mut’ah dengannya selain Sayyid Shadr.

Setelah anak perempuannya dewasa, dia menjadi seorang gadis cantik dan siap menikah. Namun, sang ibu mendapati bahwa anaknya itu telah hamil. Ketika ditanyakan tentang kehamilannya, dia mengabarkan bahwa Sayyid Shadr telah melakukan nikah mut’ah dengannya dan menghamilinya.”

 

Peran Jalaludin Rakhmat Melariskan Mut’ah

Harian Fajar Makassar pernah memuat wawancara khusus dengan Jalaludin Rakhmat pada 25 Januari 2009 tentang nikah mut’ah.

Ketua Dewan Syura IJABI ini berkata, “Nikah mut’ah itu memang boleh saja dalam pandangan agama, karena masih dihalalkan oleh Nabi. Apa yang dihalalkan oleh Nabi berlaku sampai hari kiamat.”

 

Akibat Nikah Mut’ah

Tidak ada yang mengetahui jumlah dan macam kerusakan akibat perbuatan keji dan menjijikkan ini secara terperinci selain Allah.

Sebagian akibat yang bisa kita ketahui di antaranya:

 

  1. Dusta atas nama Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam

Tidaklah ada dosa dan kejahatan yang lebih berbahaya tehadap umat dibandingkan keyakinan bahwa nikah mut’ah dihalalkan oleh Allah dan Rasul-Nya.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, “Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang mengada-adakan dusta terhadap Allah sedang dia diajak kepada agama Islam? Dan Allah tiada memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (ash-Shaff: 7)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلَيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ

“Barang siapa berdusta atas namaku dengan sengaja, hendaknya dia mengambil tempat duduknya dari neraka.” (HR. Muslim)

Berapa banyak orang yang tertipu dengan sebab kedustaan mereka ini?

 

  1. Rusaknya nasab

Dengan sebab gonta-ganti pasangan ketika nikah mut’ah, maka tatkala seorang wanita hamil, dia tidak akan tahu, hasil dari hubungan dengan siapakah kehamilannya itu? Na’udzubillah min dzalik. Terlebih lagi dengan sangat sering dan cepatnya periode nikah mut’ah.

Menurut klaim Syiah, Ja’far ash-Shadiq, yang mereka anggap sebagai imam mereka, pernah ditanya, “Apa boleh seorang laki-laki melakukan nikah mut’ah untuk jangka waktu satu atau dua saat saja?”

Dia menjawab, “Bukan hanya satu atau dua saat saja, bahkan sehari atau dua hari juga boleh.” (al-Kafi, 5/459)

 

  1. Pelecehan terhadap kaum wanita

Disebutkan dalam kitab mereka, al-Kafi (5/452), “Nikah mut’ah-lah dengan mereka, walau sampai 1000 orang wanita. Sebab, wanita itu bagaikan barang sewaan.”

Pelecehan ini menjadi lebih parah ketika kita tengok realita bahwa dalam nikah mut’ah, seorang wanita tidak memiliki hak mendapatkan sandang, pangan, maupun papan.

 

  1. Tersebarnya berbagai penyakit kelamin

Berdasarkan sebuah penelitian, Irak merupakan negara dengan jumlah penderita aids terbesar kedua se-Eropa dan Arab, setelah Iran. Melalui sejumlah penelitian, diperoleh kesimpulan bahwa virus HIV di Irak menyebar melalui hubungan dengan lawan jenis secara intensif melebihi yang biasa dilakukan oleh seorang pelacur.

Inilah sekilas tentang nikah mutah kaum Syiah berikut tinjauan syariat dan bahaya yang menyertainya.

Mudah-mudahan Allah subhanahu wa ta’ala senantiasa memberi petunjuk kepada kita sehingga selamat dari berbagai kesesatan. Kita berharap agar Allah subhanahu wa ta’ala memberi kita keistiqamahan di atas jalan-Nya sampai kita bertemu dengan-Nya, dalam keadaan mendapat keridhaan dan ampunan-Nya yang merupakan sebab kita dimasukkan ke dalam jannah-Nya. Amin.

Kedustaan di Balik Kedok Cinta

Al-Ustadz Abu Ismail Muhammad Rijal, Lc

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: سُئِلَ النَّبِيُّ عَنِ الْكَلِمَاتِ الَّتِي تَلَقَّاهَا آدَمُ مِنْ رَبِّهِ فَتَابَ عَلَيْهِ، قَالَ:

سَأَلَهُ بِحَقِّ مُحَمَّدٍ وَعَلِيٍّ وَفَاطِمَةَ وَالْحَسَنِ وَالْحُسَيْنِ فَتَابَ عَلَيْهِ وَغُفِرَ لَهُ

Dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang kalimat-kalimat yang diterima Adam dari Rabbnya sehingga Allah mengampuninya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘(Kalimat-kalimat itu adalah), ‘Adam memohon kepada Allah dengan hak Muhammad, Ali, Fathimah, Hasan, dan Husain, lalu Allah mengampuni Adam’.”

 hadits-palsu

Derajat Hadits

Hadits ini maudhu’ (palsu), hasil kedustaan Syiah Rafidhah atas nama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Abul Faraj Ibnul Jauzi menyebutkan hadits di atas dalam al-Maudhu’at (1/316) melalui jalan ad-Daruquthni, beliau berkata,

تَفَرَّدَ بِهِ حُسِيْنٌ الْاَشْقَرُ رَوَى الْمَوْضُوعَاتِ عَنِ الْأَثْبَاتِ، عَنْ عَمْرِو بْنِ ثَابِتٍ وَلَيْسَ بِثِقَةٍ وَلَا مَأْمُون

“Husain al-Asyqar bersendiri dari ‘Amr bin Tsabit. Husain biasa meriwayatkan hadits-hadits palsu dari orang-orang tsiqah, sementara ‘Amr tidak tsiqah dan tidak tepercaya.”

Yahya bin Ma’in berkata, “Amr bin Tsabit bukan orang yang bisa dipercaya.”

Ibnu Hibban al-Busti berkata, “Dia memalsukan hadits-hadits dari perawi-perawi yang tsiqah.”

Ibnu Katsir rahimahullah, ketika menafsirkan surat asy-Syura ayat 23 mengatakan tentang ‘Amr bin Tsabit, “Dia seorang Syi’ah pendusta.”

Hadits Ibnu Abbas disebutkan pula oleh Ibnu ‘Araq al-Kinani dalam kitabnya, Tanzih asy-Syari’ah (1/413), dan beliau sandarkan riwayatnya kepada ad-Daruquthni.

As-Suyuthi membawakan hadits ini dalam kitabnya ad-Dur al-Mantsur  (1/147), hanya saja beliau mendiamkan hadits dan tidak memberikan komentar. Beliau menyebutkan pula hadits ini dalam kitabnya, al-La’ali’ al-Mashnu’ah (1/44) dan menghukuminya sebagai hadits maudhu’ (palsu).

Al-Kinani menyebutkan jalan lain untuk hadits ini dalam Tanzih asy-Syariah (1/395) melalui jalan Muhammad bin ‘Ali bin Khalaf al-‘Aththar, dari Husain al-Asyqar. Beliau nisbatkan jalan ini kepada Ibnu an-Najjar. Sayang, jalan ini tidak berfaedah. Sebab, Ibnu Adi menyatakan tentang Muhammad bin Ali bin Khalaf al-Aththar, “Dia muttaham bil kadzib (Tertuduh berdusta atas nama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam).”

Walhasil, hadits di atas maudhu’, dipalsukan oleh orang-orang Syiah.

 

Makna Hadits

Di balik hadits-hadits palsu berisi pujian kepada Ahlul Bait inilah, Rafidhah menyembunyikan kesesatan dan kekufuran mereka. Hadits ini juga mengandung kemungkaran dan penyelisihan terhadap al-Qur’an dan as-Sunnah.

Lahiriah hadits ini berisi pujian kepada Ali, Fathimah, al-Hasan, dan al-Husain. Rafidhah memalsukannya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Hadits ini menunjukkan bahwa Adam telah mengenal Ali, Fathimah, Hasan, dan Husain, bahkan beliau bertawasul dengan hak mereka untuk mendapatkan ampunan Allah subhanahu wa ta’ala.

Sungguh, tidak ada satu hadits sahih pun mengajarkan kita bertawasul dengan orang-orang saleh ketika berdoa kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Hadits di atas, di samping palsu juga mengantarkan kepada kesyirikan. Sebab, doa ini berisi tawasul dengan orang-orang yang gaib (tidak ada); Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Ali, Hasan, Husain, dan Fathimah belum Allah subhanahu wa ta’ala ciptakan.

Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi rahimahullah berkata, “Hadits ini dan yang semisalnya adalah hadits palsu yang dipakai oleh tukang khurafat untuk dijadikan landasan dalam membolehkan berdoa kepada orang-orang yang telah mati.” (ath-Thali’ah, hlm. 230)

Di antara perkara yang menunjukkan kedustaan hadits ini, al-Qur’an telah menafsirkan kalimat-kalimat yang Allah subhanahu wa ta’ala wahyukan kepada Adam, yang dengannya beliau berdoa dan Allah subhanahu wa ta’ala ampuni dosa beliau.

Allah subhanahu wa ta’ala mengisahkan Adam dalam al-Qur’an bagaimana beliau berdosa kemudian Allah subhanahu wa ta’ala mengajarinya kalimat yang dengannya Allah subhanahu wa ta’ala mengampuni beliau. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman dalam surat al-Baqarah,

Lalu keduanya digelincirkan oleh setan dari surga itu dan dikeluarkan dari keadaan semula dan Kami berfirman, “Turunlah kamu, sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain, dan bagi kamu ada tempat kediaman di bumi, dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan.” Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Rabbnya, maka Allah menerima tobatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang. (al-Baqarah: 36—37)

Menurut hadits Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma di atas, kalimat yang Adam terima adalah tawassul kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan ahli bait Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam yang belum Allah subhanahu wa ta’ala ciptakan! Hal ini menyelisihi al-Qur’an.

Syaikhul Islam berkata, “Adapun kalimat-kalimat (yang diucapkan Adam) telah disebutkan penafsirannya dalam al-Qur’an, yaitu firman Allah subhanahu wa ta’ala,

Keduanya berkata, “Wahai Rabb kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi.” (al-A’raf: 23)

Dimaklumi bahwa orang yang lebih rendah dari Adam (kedudukannya), baik dari kalangan orang kafir maupun fasik, jika bertobat kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan tobat nashuha, Allah subhanahu wa ta’ala akan menerima tobatnya tanpa harus bertawassul kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan siapa pun. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kita tidak pernah memerintah seorang pun bertobat dengan semisal doa ini.” (al-Muntaqa, hlm. 459)

Menjadi teranglah, di samping hadits di atas terdapat rawi pendusta dari orang Rafidhah, juga menyelisihi al-Qur’an dan petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam berdoa.

 

Ahlus Sunnah berlepas diri dari jalan Rafidhah yang membangun agama mereka di atas kedustaan. Mereka mengangkat sebagian ahlul bai setinggi-tingginya melebihi derajat para nabi dan rasul, sementara sebagian ahli bait Rasulullah n, mereka hinakan dan kafirkan.

 

Syiah dan Pemalsuan Hadits

Sekte sesat dan aliran sempalan dalam Islam tidak sekadar menawarkan dagangannya begitu saja.

Untuk menjual kesesatan dan melariskannya, mereka hiasi semua kebatilan dengan ayat al-Qur’an atau hadits sahih yang mereka simpangkan pemahamannya. Bahkan, dengan lancang mereka berani berdusta atas nama Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tidak ketinggalan Syiah Rafidhah. Mereka termasuk kelompok yang terdepan dalam hal memalsukan sabda-sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Pemalsuan hadits yang dilakukan oleh Rafidhah merupakan perkara yang disepakati ahlul hadits, sebagaimana tampak dalam beberapa ucapan ulama berikut.

Abdullah ibnul Mubarak al-Marwazi berkata bahwa Abu ‘Ishmah pernah bertanya kepada Abu Hanifah, “Dari siapakah engkau izinkan aku mendengar (mengambil) hadits?”

Beliau berkata, “Dari semua orang yang adil dalam hawa nafsunya, kecuali Syi’ah, karena prinsip mereka adalah menganggap sesat semua sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (al-Kifayah, hlm. 203)

Dari Yunus bin Abdul A’la berkata, dari Asyhab, al-Imam Malik ditanya tentang Rafidhah, maka beliau berkata, “Jangan kamu ajak bicara, jangan pula kamu riwayatkan dari mereka karena mereka selalu melakukan kedustaan.” (al-Muntaqa, hlm. 21)

Dari Harmalah bin Yahya, al-Imam asy-Syafi’i berkata, “Aku tidak pernah melihat seorang pun dari pengikut hawa nafsu yang lebih dusta dalam persaksian selain Rafidhah.” (al-Kifayah, hlm. 202)

Yazid bin Harun berkata, “Semua mubtadi’, selama tidak menyerukan kebid’ahannya, masih boleh ditulis haditsnya, kecuali Rafidhah, karena mereka sungguh selalu berdusta.” (al-Muntaqa, hlm. 22)

Demikianlah di antara upaya Syiah Rafidhah menghancurkan Islam. Mereka menebarkan pemikiran kufur dan sesat serta memalsukan hadits dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai dalil atas kesesatan mereka.

Akan tetapi, alhamdulillah, rahmat Allah subhanahu wa ta’ala senantiasa meliputi kaum mukminin. Allah subhanahu wa ta’ala membangkitkan para ulama Ahlus Sunnah yang sangat mendalam ilmunya. Mereka pun berjihad dengan menerangkan kepada umat tentang hadits yang didustakan atas nama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

 

Benarkah Rafidhah Mencintai Ahlul Bait?

Dusta! Pengakuan Rafidhah mencintai ahlul bait hanyalah kedustaan. Menurut versi mereka, yang termasuk ahlul bait adalah Ali, Fatimah, Hasan, Husain, dan keturunannya. Sebatas itu saja ahlul bait.

Adapun istri-istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang pada hakikatnya termasuk ahlu bait Rasul, istri-istri Rasul di dunia dan di surga, mereka keluarkan dari barisan ahlul bait. Mereka mencela para istri Rasul, bahkan mereka kafirkan. Terlebih lagi Aisyah dan Hafshah, putri dua sahabat yang paling mereka benci: Abu Bakr dan Umar.

Ruqayyah dan Ummu Kultsum, dua putri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang beliau nikahkan dengan Utsman pun dikeluarkan dari ahlul bait lantaran menjadi istri Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu—yang sangat mereka benci dan kafirkan. Di antara merekaada yang berkata bahwa Ruqayyah dan Ummu Kultsum bukan anak Khadijah dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, namun dari suami sebelumnya.

Inilah kedustaan pertama mereka dalam hal pengakuan kecintaan kepada ahlul bait. Mereka membenci bahkan mengafirkan sebagian ahlul bait, namun mencintai sebagian yang lain. Adapun Ahlus Sunnah wal Jamaah adalah kaum yang mencintai seluruh ahli bait Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Kedustaan kedua, Rafidhah telah melampaui batas dalam hal menyanjung ahlul bait. Mereka agungkan ahlul bait setinggi-tingginya, bahkan hingga mengangkat derajat ahlul bait melebihi derajat para nabi dan rasul. Mereka sekutukan Allah subhanahu wa ta’ala dengan ahlul bait versi mereka. Hal ini sebagaimana mereka melampaui batas terhadap imam mereka.

Semua kebatilan mereka didasari kedustaan. Mereka berdalil hadits dha’if, bahkan maudhu’ (palsu). Demikianlah Syi’ah Rafidhah, pengikut Abdullah bin Saba’ al-Yahudi, mengaku-aku cinta kepada ahlul bait Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun, semua itu hanyalah topeng untuk menutupi kebusukan mereka.

Mereka berani berdusta atas nama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam karena memang syiar agama Rafidhah adalah kedustaan yang dilapisi dengan kemunafikan.[1]

 

Hadits-Hadits Palsu Tentang Ahlul Bait

Banyak sendi Islam mereka robohkan dalam kehidupan.

Hampir seluruh sahabat Rasul mereka kafirkan. Abu Bakr dan Umar mereka sebut dua berhala Quraisy. Demikian pula sahabat-sahabat lain, mereka hina dan caci maki[2]. Padahal hanya melalui jalan para sahabat, Islam disampaikan kepada umat.

Apa artinya? Artinya, semua riwayat sahabat tertolak karena mereka orang kafir.

Al-Qur’an mereka nyatakan telah dikhianati oleh para sahabat. Al-Qur’an yang ada saat ini, yang berada di tangan-tangan kaum muslimin, mereka anggap bukan lagi firman Allah subhanahu wa ta’ala yang diturunkan kepada manusia.

Untuk menutup kebusukan makar mereka terhadap Islam, Rafidhah bersembunyi di balik topeng kecintaan kepada ahlul bait. Mereka menyanjung dan memuji ahlul bait. Mereka bangun opini bahwa merekalah pembela Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan keluarganya, merekalah pemegang estafet agama Rasul. Padahal yang ada adalah kekafiran dan jauhnya mereka dari Islam.

Hadits Ibnu Abbas di atas adalah contoh pertama dari hadits-hadits yang dibuat Rafidhah demi kepentingan mereka. Berikut ini kami tampilkan beberapa hadits palsu buatan agama Syiah Rafidhah yang sering mereka munculkan. Semoga apa yang kami paparkan dapat menjadi bekal bagi kaum muslimin untuk lebih berhati-hati dari makar Rafidhah.

 

Hadits Kedua

أَنَا مَدِينَةُ الْعِلْم،ِ وَعَلِيٌّ بَابُهَا، فَمَنْ أَرَادَ الْعِلْمَ فَلْيَأْتِهِ مِنْ بَابِهِ

“Aku adalah kota ilmu, sedangkan ‘Ali adalah pintunya. Barang siapa menginginkan ilmu, hendaknya dia mendatangi dari pintunya.”

Ini adalah hadits yang batil, karena tidak bersumber dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, baik sanad maupun matannya. Para imam ahli hadits menolak hadits tersebut. Di antara mereka ialah al-Imam al-Bukhari, Abu Zur’ah, at-Tirmidzi, al-Uqaili, Ibnu Hibban, ad-Daruquthni, Ibnul Adi, Ibnul Jauzi, al-Baghawi, an-Nawawi, Ibnu Daqiqil Ied, dan Ibnu Taimiyah.

Hadits ini palsu. Adz-Dzahabi menyatakan maudhu’ (palsu). Al-Albani menjelaskan kepalsuan hadits ini dalam adh-Dha’ifah (6/518, no. 2955) dan dalam Dha’iful Jami’ (no. 13220).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata, “Hadits ‘Aku adalah kota ilmu dan Ali adalah pintunya….’ Tergolong maudhu’ (palsu). (Hadits ini) disebutkan oleh Ibnul Jauzi (dalam kitabnya al-Maudhu’at –pen.). Beliau kemudian menerangkan bahwa seluruh sanadnya palsu. Selain itu, kedustaan juga tampak dari matan hadits itu sendiri. Sebab, apabila Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah kota ilmu dan tidak ada pintunya kecuali satu, dan tidak ada yang menyampaikan ilmu dari beliau (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam –pen.) kecuali satu orang (yakni Ali –pen), tentu urusan Islam akan rusak….” (Minhajus Sunnah, 4/138—139, dinukil dari adh-Dha’ifah)

Di samping itu, hadits ini juga bermakna bahwa semua riwayat sahabat diingkari, kecuali melalui jalan Ali bin Abi Thalib. Hal ini tentu merupakan makar lain di balik pemalsuan hadits ini, Allahul Musta’an.

 

Hadits Ketiga

السُّبَّقُ ثَلَاثَةٌ : فَالسَّابِقُ إِلَى مُوسَى يُوشَعُ بْنُ نُونٍ، وَالسَّابِقُ إِلَى عِيسَى صَاحِبُ يَاسِينَ، وَالسَّابِقُ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلِيٌّ

“Pendahulu ada tiga. Pendahulu yang memenuhi panggilan (seruan) Musa adalah Yusya’ bin Nun. Pendahulu yang memenuhi seruan Isa adalah orang yang disebutkan dalam surat Yasin. Pendahulu yang memenuhi seruan Muhammad adalah Ali bin Abi Thalib.”

Al-‘Uqaili meriwayatkan hadits ini dalam kitabnya, adh-Dhu’afa al-Kabir, demikian pula ath-Thabarani (2/111), melalui jalan al-Husain bin Abi as-Sirri al-Asqallani, dari Husain al-Asyqar, dari Sufyan bin Uyainah, dari Ibnu Abi Najih, dari Mujahid, dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma.

Sanad riwayat ini sangat dha’if, bahkan al-Uqaili menempatkan hadits di atas dalam deretan hadits maudhu’ (palsu).

Dalam sanadnya terdapat Husain al-Asyqar. Dia adalah Ibnu Hasan al-Kufi, pengikut Syiah yang sesat. Telah lalu beberapa ucapan ulama tentang Husain al-Asyqar.

Al-Imam al-Bukhari rahimahullah berkata dalam kitab Tarikh ash-Shaghir (hlm. 2300, “Ia telah meriwayatkan hadits-hadits mungkar.”

Ibnu Katsir rahimahullah dalam tafsirnya (3/570) berkata, “Ini adalah hadits mungkar yang tidak diketahui sanadnya kecuali dari jalan Husain al-Aysqar, yang telah dikenal oleh kalangan muhadditsin sebagai pengikut Syiah. Karena itu, ditinggalkan riwayatnya.”

 

Hadits Keempat

عَنْ أَبِي ذَرٍّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ مَرْفُوعاًخُلِقْتُ أَنَا وَعَلِيٌّ مِنْ نُورٍ، وَكُنَّا عَنْ يَمِينِ الْعَرْشِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ اللهُ آدَمَ بِأَلْفَيْ عَامٍ، ثُمَّ خَلَقَ اللهُ آدَمَ فَانْقَلَبْنَا فِي أَصْلَابِ الرِّجَالِ، ثُمَّ جَعَلْنَا فِي صُلْبِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ، ثُمَّ شَقَّ اسْمَيْنَا مِنَ اسْمِهِ؛ فَاللهُ الْمَحْمُودُ وَأَنَا مُحَمَّدٌ، وَاللهُ الْأَعْلَى وَعَلِيٌّ عَلِيًّا

Dari Abu Dzar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Aku dan Ali diciptakan dari cahaya. Dahulu kami berdua berada di sebelah kanan al-‘Arsy dua ribu tahun sebelum Allah subhanahu wa ta’ala ciptakan Adam. Lalu Allah subhanahu wa ta’ala ciptakan Adam kami pun berpindah pada sulbi manusia, diletakkanlah kami pada sulbi Abdul Muththalib. Kemudian Allah subhanahu wa ta’ala menjadikan nama kami dari nama-Nya. Allah subhanahu wa ta’ala adalah al-Mahmud dan aku bernama Muhammad, Allah bernama al-A’la maka ‘Ali bernama Ali.

Hadits ini di antara hadits palsu yang dibuat kaum Rafidhah. Dalam sanad hadits ini terdapat seorang Rafidhah, Ja’far bin Ahmad bin Ali bin Bayan al-Ghafiqi.

Ibnul Jauzi berkata dalam kitabnya al-Maudhu’at, “Hadits ini dipalsukan oleh Ja’far bin Ammad, dia seorang Rafidhah tukang pemalsu hadits.”

Hadits ini disebutkan juga oleh asy-Syaukani dalam al-Fawaid al-Majmu’ah (343 no. 40). Beliau berkata, “Hadits ini maudhu’, dipalsukan oleh Ja’far bin Ahmad bin Ali bin Bayan, seorang Rafidhah, pemalsu hadits.”

Ibnu ‘Adi berkata, “Huwa kadzdzab yadha’ul hadits (Dia tukang dusta dan pemalsu hadits).” (Su’alat Hamzah as-Sahmi, 190)

Ibnu Hajar berkata, “Ibnu Yunus menyebutkan rawi ini dan berkata, ‘Dia seorang Rafidhah tukang pemalsu hadits.” (Lisanul Mizan, 2/108)

 

Hadits Kelima

          وَعَنِ بْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ حُبُّ عَلِيٍّ يَأْكُلُ الذُّنُوبَ كَمَا تَأْكُلُ النَّارُ الْحَطَبَ

Dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Mencintai Ali akan memakan (menghapuskan) dosa-dosa sebagaimana api melahap kayu bakar.”

Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Asakir. (Tarikh Dimasyq, 52/13 no.131)

Hadits ini juga disebutkan dalam Kanzul ‘Ummal.

Asy-Syaukani mengatakan bahwa hadits ini diriwayatkan oleh al-Khatib dari Ibnu Abbas dengan marfu’, hadits ini batil. (al-Fawaid al-Majmu’ah, 367 no. 58)

Asy-Syaikh al-Albani juga mengatakan dalam Silsilah adh-Dhaifah no. 1206, “Hadits ini batil.”

 

Hadits Keenam

وَعَنْ أَبِي بُرَيْدَةَ عَنْ أَبِيهِ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ : إِنَّ اللهَ أَمَرَنِي بِحُبِّ أَرْبَعَةً :  وَأَخْبَرَنِي أَنَّهُ يُحِبُّهُمْ قِيلَ: يَا رَسُولَ اللهِ مَنْ هُمْ؟ قَالَ: عَلِيٌّ مِنْهُمْ يَقُولُ ذَلِكَ ثَلَاثاً وَأَبُو ذَرٍّ، وَسَلْمَانُ، وَالْمِقْدَادُ

Dari Abu Buraidah dari ayahnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan aku mencintai empat orang, dan mengabarkan kepadaku bahwa Dia mencintai mereka.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya, “Siapakah mereka, wahai

Rasulullah?” Beliau bersabda, “Ali termasuk mereka, Ali termasuk mereka, Ali termasuk mereka; juga Abu Dzar, Salman, dan al-Miqdad.” (Diriwayatkan Ibnu Majah no. 149, at-Tirmidzi no. 3718, dan al-Hakim 4649).

Di dalam sanadnya ada Sulaiman bin Isa bin Najih as-Sijzi.

Ibnul Jauzi rahimahullah menukil dari Abu Hatim ar-Razi yang berkata, “Dia kadzdzab (pendusta hadits Rasul).”

Ibnu ‘Adi berkata, “Yadha’ul Hadits (Dia biasa memalsukan hadits).”

 

Hadits Ketujuh

وَعَنْ حُجْرِ بْنِ عَنْبَسٍ قَالَوَقَدْ كَانَ أَكَلَ الدَّمَ فِي الْجَاهِلِيَّةِ وَشَهِدَ مَعَ عَلِيٍّ الْجَمَلَ وَصِفِّينَ، قَالَ: خَطَبَ أَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ فَاطِمَةَ إِلَى رَسُولِ اللهِ : فَقَالَ النَّبِيُّ هِيَ لَكَ يَا عَلِيُّ، لَسْتَ بِدَجَّالٍ

“Dari Hujr bin ‘Anbas—dahulu dia pemakan darah di masa jahiliah, dan ia menyertai Ali dalam Perang Jamal dan Shiffin, berkata, Abu Bakr dan Umarmeminang Fatimah kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam namun Rasulullah bersabda, Fathimah untukmu wahai Ali, karena engkau bukan dajjal (pendusta).”

Hadits ini maudhu’ (palsu), diriwayatkan oleh Muhammad bin Sa’d dalam ath-Thabaqat al-Kubra (8/19). Di dalam sanadnya ada Musa bin Qais Abu Muhammad al-Farra’ al-Kufi.

Ibnu Hajar berkata, “Dia memiliki laqab (julukan) ‘ushfur al-jannah, dia jujur namun tertuduh berpemahaman Syiah’.” (at-Taqrib)

Al-Uqaili berkata tentangnya, “Minal ghulat fi ar-rafdh (Dia termasuk yang sangat ekstrem dalam agama Rafidhah).” (adh-Dhu’afa, 4/164)

Ibnul Jauzi menyebutkan hadits ini dalam kitabnya al-Maudhu’at. Beliau berkata, “Hadits ini palsu, dipalsukan oleh Musa bin Qais, seorang Rafidhah ekstrem. Ia berjuluk ushfur al-jannah (burung pipit surga). Namun, ia—insya Allah—(lebih tepat dijuluki) himar annar (keledai neraka). Sungguh, dalam pujiannya kepada Ali dalam hadits ini, dia menyembunyikan celaan terhadap Abu Bakr dan Umar.”

Benar ucapan Ibnul Jauzi. Rafidhah terus mencela Abu Bakr, Umar, dan para sahabat, bahkan mengafirkan mereka. Karena itu, mereka bersembunyi di balik pengakuan dusta mencintai ahlul bait.

Dalam hadits ini mereka memuji Ali. Namun, terselip di dalamnya celaan kepada Abu Bakr dan Umar, dengan menuduh keduanya sebagai dajjal. Allahul Musta’an.


[1] Mizanul I’tidal (1/ 6)

[2] Di antara sahabat yang mereka hujat adalah Mu’awiyah bin Abi Sufyan radhiallahu ‘anhuma. Pembelaan terhadap beliau dari hujatan Rafidhah dapat dilihat kembali pada Majalah Asy-Syariah edisi 78.

Ayat-ayat Buatan Syiah Rafidhah

Al-Ustadz Abu Muawiyah Askari bin Jamal

 “Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan al-Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” (al-Hijr: 9)

 

Penjelasan Beberapa Mufradat Ayat

إٍنَّ نَحْنُ

Penyebutan “Kami” di sini tidak menunjukkan jamak, namun Allah ‘azza wa jalla menyebutkan dalam bentuk pengagungan terhadap diri-Nya sendiri.

الذِّكْرَ

Yang dimaksud adalah al-Qur’an al-Karim, sebagaimana yang diterangkan oleh al-Qurthubi rahimahullah.

Sebagian ahli tafsir menyebutkan bahwa dhamir pada لَهُ kembali kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana firman Allah ‘azza wa jalla,

“Dan Allah menjagamu dari manusia.” (al-Maidah: 67)

Makna yang pertama (kata ganti tersebut kembali kepada al-Qur’an) lebih sesuai, dan itu yang tampak dalam konteks ayat ini. (Tafsir Ibnu Katsir, jilid 8, hlm. 246)

 

Tafsir Ayat

Al-Allamah Abdur Rahman as-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini,

“Sesungguhnya Kami menurunkan adz-dzikr,” yaitu al-Qur’an yang mengandung peringatan bagi segala masalah dan dengan dalil yang jelas; dan menjadi peringatan bagi orang yang menjadikannya sebagai peringatan.

“Dan sesungguhnya Kami yang akan menjaganya”, yaitu menjaganya saat diturunkan dan setelah diturunkan.

Pada saat diturunkan, Kami menjaganya dari pencurian berita yang dilakukan oleh setiap setan yang terkutuk. Setelah diturunkan, Allah ‘azza wa jalla menyimpannya dalam hati Rasul-Nya. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menitipkannya ke dalam hati umatnya. Allah ‘azza wa jalla memelihara lafadznya dari perubahan, baik berupa penambahan, pengurangan, maupun pengubahan makna.

Tidaklah seseorang yang melakukan perubahan makna lafadz al-Qur’an kecuali Allah ‘azza wa jalla akan bangkitkan seseorang yang akan menjelaskan antara yang haq dari yang batil. Ini adalah tanda kekuasaan Allah ‘azza wa jalla yang paling agung dan nikmat-Nya yang terbesar kepada para hamba-Nya yang mukmin. (Taisir al-Karim ar-Rahman, as-Sa’di rahimahullah)

Qatadah rahimahullah dan Tsabit al-Bunani rahimahullah mengatakan, “Allah ‘azza wa jalla menjaganya dari para setan yang hendak menambah kebatilan di dalamnya dan menghilangkan sebuah kebenaran darinya. Allah ‘azza wa jalla yang akan menjaganya sehingga al-Qur’an al-Karim senantiasa terpelihara.” (Tafsir al-Qurthubi, jilid 12 hlm. 180)

Oleh karena itu, sudah menjadi kesepakatan Ahlus Sunnah bahwa al-Qur’an al-Karim yang ada di tangan kaum muslimin adalah kalamullah yang terjaga dan terpelihara. Tidak ada satu pun yang ditambah atau dikurangi.

Ibnu Qudamah rahimahullah berkata, “Para ulama sepakat bahwa barang siapa mengingkari satu surat, satu ayat, satu kata, atau satu huruf dalam al-Qur’an yang telah disepakati, sesungguhnya dia kafir.” (Fathu Rabbil Ibad Syarah Lum’atul I’tiqad, karya Fahd al-’Adani, hlm. 231)

Telah diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu, beliau berkata, “Barang siapa mengingkari satu huruf dari al-Qur’an, sungguh dia telah mengkufuri seluruhnya.” (Diriwayatkan Abdur Razzaq dalam Mushannaf-nya, no. 15946)

 palsu

Syi’ah Meyakini Adanya Perubahan Al-Qur’an

Berbeda halnya dengan keyakinan agama Syi’ah tentang al-Qur’an al-Karim. Mereka justru meyakini bahwa al-Qur’an al-Karim yang ada di tangan kaum muslimin adalah al-Qur’an yang telah berubah. Bahkan, mereka berkeyakinan bahwa terjadinya perubahan al-Qur’an al-Karim tersebut berdasarkan riwayat yang mutawatir menurut versi mereka. Mereka dengan lancangnya berani membuat ayat dengan menambah lafadz yang terdapat dalam firman-Nya, lalu menisbatkannya sebagai firman Allah ‘azza wa jalla.

Berikut beberapa riwayat mereka yang menunjukkan keyakinan adanya perubahan dalam al-Qur’an al-Karim.

  • Al-Kulaini meriwayatkan dari jalur Hisyam bin Salim, dari Abu Abdillah Ja’far ash-Shadiq, berkata, “Sesungguhnya al-Qur’an al-Karim yang dibawa oleh Jibril ‘alaihissalam kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam berjumlah 17.000 ayat.” (Ushul al-Kafi, Kitab Fadhlul Qur’an, Bab “an-Nawadir”, 2/134)
  • Diriwayatkan pula oleh al-Kulaini dalam al-Kafi dari Abu Bashir, dari Abu Abdillah Ja’far ash-Shadiq, ia berkata, “Sesungguhnya kami memiliki mushaf Fatimah. Tahukah mereka, apa itu mushaf Fatimah?”

Aku bertanya, “Apa itu mushaf Fatimah?”

Ia menjawab, “Mushaf Fatimah lebih banyak tiga kali lipat dibandingkan al-Qur’an kalian ini. Demi Allah, tidak ada satu huruf pun seperti yang terdapat dalam al-Qur’an kalian.” (al-Kafi, 1/457)

  • Bahkan, mereka menganggap bahwa riwayat-riwayat yang menunjukkan terjadinya perubahan al-Qur’an al-Karim adalah riwayat mutawatir yang tidak dapat ditolak.

Abul Hasan al-Amili mengatakan, “Ketahuilah, kebenaran yang tidak dapat dimungkiri berdasarkan berita mutawatir yang akan disebutkan dan berita lainnya, yaitu telah terjadi perubahan pada al-Qur’an yang ada di tangan-tangan kita sepeninggal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Orang-orang yang mengumpulkannya setelah beliau wafat menghilangkan banyak kata dan ayatnya.” (Muqaddimah kedua dalam Tafsir Mir’atul Anwar Wa Misykatul Atsar, hlm. 36)

  • Ni’matullah al-Jazairi juga berkata, “Sesungguhnya menerima pernyataan mutawatir-nya wahyu ilahi dan menetapkan bahwa seluruhnya telah turun dibawa oleh Ruh al-Amin (Jibril -pen.) akan menyebabkan ditolaknya berbagai riwayat yang masyhur, bahkan mutawatir; yang menunjukkan dengan jelas terjadinya perubahan dalam al-Qur’an baik ucapan, kata, maupun i’rab-nya. Sementara itu, para sahabat kami telah sepakat akan keabsahan dan kebenaran riwayat tersebut.” (al-Anwar an-Nu’maniyah, 2/357)
  • Bahkan, Hasyim al-Husaini al-Bahrani menegaskan adanya perubahan dalam al-Qur’an dalam mukadimah tafsirnya. Ia berkata, “Ketahuilah, kebenaran yang tidak dapat dimungkiri berdasarkan berita mutawatir berikut ini dan yang lainnya bahwa al-Qur’an yang ada di tangan kita telah berubah sepeninggal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Orang-orang yang mengumpulkannya telah menghilangkan banyak kata dan ayatnya. Al-Qur’an yang terpelihara dari perubahan yang sesuai dengan apa yang diturunkan Allah ‘azza wa jalla adalah yang dikumpulkan oleh Ali ‘alaihissalam. Ia ‘alaihissalam menjaganya hingga sampai kepada anaknya, Hasan ‘alaihissalam, dan begitu seterusnya hingga sampai ke tangan al-Qaim (Imam Mahdi mereka, pent.); dan hari ini ada di tangannya—semoga Allah memberi shalawat kepadanya.” (Mukadimah al-Burhan, hlm. 36)
  • Lebih dari itu, dia mengatakan, “Menurut saya, kejelasan pendapat ini (yaitu pendapat adanya perubahan al-Qur’an al-Karim, pent.), setelah meneliti riwayat dan memeriksa atsar, memungkinkan untuk dihukumi bahwa keyakinan ini ialah bagian yang pasti dalam mazhab Syi’ah dan kerusakan terbesar yang ditimbulkan akibat dirampasnya kekhilafahan. Maka dari itu, perhatikanlah.” (al-Burhan, Muqaddimah Pasal ke-4, hlm. 49)
  • Bahkan, seorang yang dikenal sebagai muhaddits kaum Syi’ah, yang bernama Husain bin Muhammad an-Nuri ath-Thabarsi, menulis sebuah kitab khusus yang berjudul Fashlul Khithab fi Itsbati Tahrifi Kitab Rabbil Arbab”, artinya pencetus pernyataan yang menetapkan adanya perubahan dalam kitab Rabb seluruh rabb. Maksudnya adalah kitabullah, al-Qur’an al-Karim. Di dalamnya ia menetapkan adanya perubahan di dalam al-Qur’an al-Karim.

 

Contoh Perubahan Ayat Al-Qur’an Yang Dilakukan Oleh Syiah Rafidhah

Berikut ini beberapa contoh ayat yang diubah oleh kaum Syiah Rafidhah.

  • Diriwayatkan dari Abu Bashir dari Abu Abdillah tentang firman Allah ‘azza wa jalla,

وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُولَهُ فِي وِلَايَةِ عَلِيٍّ وَوِلَايَةِ الْأَئِمَّةِ مِنْ بَعْدِهِ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيما

“Barang siapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya dalam hal kepemimpinan Ali dan kepemimpinan para imam setelahnya, sungguh dia telah menang dengan kemenangan yang besar.”

“Demikianlah diturunkan.” (al-Kafi, Jilid 2, hlm. 372)

Ayat yang benar, tidak ada tambahan “terhadap kepemimpinan Ali dan kepemimpinan para imam setelahnya”, sebagaimana yang disebutkan dalam surah al-Ahzab: 71.

  • Diriwayatkan dari Abdullah bin Sinan dari Abu Abdillah tentang firman Allah ‘azza wa jalla,

وَلَقَدْ عَهِدْنَا إِلَى آدَمَ مِنْ قَبْلُ كَلِمَاتٍ فِي مُحَمَّدٍ وَعَلِيٍّ وَفَاطِمَةَ وَالْحَسَنِ وَالْحُسَيْنِ وَالْأَئِمَّةِ مِنْ ذُرِّيَّتِهِمْ فَنَسِيِ

“Sungguh Kami telah menjanjikan kepada Adam dari sebelumnya beberapa kalimat tentang Muhammad, Ali, Fatimah, Hasan dan Husain, dan para imam setelahnya dari keturunan mereka lalu dia melupakannya.”

“Demikianlah ayat ini diturunkan kepada Muhammad.” (al-Kafi, jilid 2, hlm. 379)

Yang diberi tanda adalah tambahan dari Syiah. Lihat al-Qur’an al-Karim surat Thaha ayat 115.

  • Diriwayatkan dari Jabir, Jibril ‘alaihissalam turun kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam membawa ayat berikut,

وَإِن كُنتُمْ فِى رَيْبٍ مّمَّا نَزَّلْنَا عَلَى عَبْدِنَا فِي عَلِيٍّ فَأْتُواْ بِسُورَةٍ مّن مِّثْلِهِ

“Jika kalian masih ragu terhadap apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami tentang Ali, datangkanlah satu surah yang semisalnya.” ( al-Kafi, jilid 2, hlm. 381)

Yang diberi tanda ialah tambahan dari Syiah. Lihat al-Qur’an al-Karim surat al-Baqarah ayat 23.

  • Diriwayatkan dari Abu Bashir, dari Abu Abdillah q, tentang firman Allah ‘azza wa jalla,

فَلَنُذِيقَنَّ الَّذِينَ كَفَرُواْ بِتَرْكِهِمْ وِلاَيَةَ أمِيْرِ المُؤْمِنِيْنَ عَذَاباً شَدِيداً فِيْ الدُنْيا وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَسْوَأَ الَّذِى كَانُواْ يَعْمَلُونَ

“Kami akan menjadikan orang-orang kafir karena meninggalkan kepemimpinan Amirul mukminin merasakan siksaan yang pedih di dunia dan Kami akan membalas mereka dengan yang paling buruk disebabkan apa yang telah mereka amalkan.” (al-Kafi, jilid 2, hlm. 390)

Yang diberi tanda adalah tambahan pemalsuan ayat kaum Syiah. Lihat al- Qur’an al-Karim surat Fushshilat ayat 27.

  • Diriwayatkan oleh as-Sari, dari Muhammad bin Sinan, dari Abu Khalid al-Qimath, dari Humran bin A’yan; Aku mendengar Abu Abdillah ‘alaihissalam membaca,

إِنَّ للهَ اصْطَفَى آدَمَ وَنُوحًا وَءالَ إِبْرَاهِيمَ وَءَالَ عِمْرَانَ وآلَ مُحَّمَدٍ عَلَى الْعَلَمِينَ.

“Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim, keluarga Imran, dan keluarga Muhammad dari seluruh alam.”

Lalu ia berkata, “Demikian, demi Allah, diturunkan.” (Fashlul Khithab, hlm. 212)

  • Diriwayatkan pula dari Abu Hamzah dari Abu Ja’far, Jibril turun membawa ayat demikian,

فَأَبَى أَكْثَرُ النَّاسِ بِوِلاَيَةِ عَلِيٍّ إِلاَّ كُفُورًا.

“Mayoritas manusia enggan terhadap kepemimpinan Ali melainkan mengingkari.”

Ia berkata pula, Jibril turun membawa ayat ini demikian,

وَقُلِ الْحَقُّ مِن رَّبِّكُمْ فِيْ وِلاَيَةِ عَلِيٍّ فَمَن شَآء فَلْيُؤْمِنْ وَمَن شَآء فَلْيَكْفُرْ إِنَّآ أَعْتَدْنَا لِلظَّالِمِينَ آلَ مُحَمَّدٍ نَارًا

Dan katakanlah, “Kebenaran itu datangnya dari Rabb-mu tentang kepemimpinan Ali, barang siapa ingin (beriman), hendaklah ia beriman; dan barang siapa ingin (kafir) biarlah ia kafir. Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang-orang menganiaya keluarga Muhammad itu neraka.”

Abu Abdillah berkata, “Demikianlah ayat ini turun.” (al-Kafi, 2/396)

Masih banyak lagi tuduhan yang disebutkan dalam kitab mereka bahwa telah terjadi banyak perubahan ayat al-Qur’an al-Karim.

Bahkan, mereka mengklaim adanya sebuah surat yang disebut surat al-Wilayah, yang menerangkan tentang kepemimpinan Ali radhiallahu ‘anhu. Bunyinya sebagai berikut.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا آمِنُوا بِالنَّبِيِّ وَالوَلِيِّ اللَّذَيْنِ بَعَثْنَاهُمَا يَهْدِيَانِكُمْ إِلَى الصِّرَاطِ الْمُسْتَقِيم.ِ نَبِيٌّ وَوَلِيٌّ بَعْضُهُمَا مِنْ بَعْضٍ وَأَنَا الْعَلِيمُ الْخَبِيرُ. إِنَّ الَّذِينَ يُوفُونَ بِعَهْدِ اللهِ لَهُمْ جَنَّاتُ النَّعِيم.ِ وَالَّذِينَ إِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُنَا كَانُو بِآيَاتِنَا مُكَذِّبُونَ. إِنَّ لَهُمْ فِي جَهَنَّمَ مَقَاماً عَظِيماً إِذَا نُودِيَ لَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَيْنَ الظَّالِمُونَ الْمُكَذِّبُونَ لِلْمُرْسَلِينَ. مَا خَلَفْتُهُمُ الْمُرْسَلِينَ إِلاَّ بِالْحَقِّ وَمَا كَانَ اللهُ لِيُظْهِرَهُمْ إِلَى أَجَلٍ قَرِيبٍ وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَعَلِيٌّ مِنَ الشَّاهِدِينَ.

“Wahai orang-orang yang beriman kepada Nabi dan wali yang Kami mengutus keduanya. Keduanya membimbing kalian menuju jalan yang lurus. Nabi dan Wali sebagian mereka terhadap sebagian yang lain, dan Aku adalah yang Maha berilmu dan Maha Mengabarkan.

Sesungguhnya orang-orang yang menunaikan janji Allah, bagi mereka surga yang penuh kenikmatan. Dan orang-orang yang apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami, maka mereka terhadap ayat-ayat Kami mendustakannya. Sesungguhnya bagi mereka di dalam jahannam mendapatkan tempat yang besar.

 Jika diseru kepada mereka pada hari kiamat, ‘Di manakah orang-orang zalim yang mendustakan para rasul,’ tidaklah Aku menggantikan mereka para rasul melainkan dengan kebenaran dan tidaklah Allah menampakkan mereka hingga waktu yang dekat, dan bertasbihlah memuji Rabb-mu dan Ali termasuk yang menjadi saksi.” (Fashlul Khithab, hlm.180)

 

Begitulah, mereka mengarang dan membuat ayat dan surat yang datang dari kantong mereka sendiri, tanpa ada kejelasan sanadnya yang bersambung hingga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Sungguh mirip ayat dan surat palsu buatan Syiah dengan ayat dan surat yang dibuat oleh Musailamah al-Kadzdzab yang mengaku sebagai utusan Allah.

Disebutkan oleh para ahli sejarah bahwa Amr bin Ash pernah mendatangi Musailamah pada masa jahiliah. Musailamah adalah sahabat Amr pada masa jahiliah, dan ketika itu Amr belum masuk Islam.

Musailamah berkata kepada Amr, “Celaka engkau, wahai Amr! Apa yang telah diturunkan kepada sahabat kalian -maksudnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam-pada masa ini?”

Amr menjawab, “Sungguh, aku mendengar para sahabatnya membaca surat yang agung dan pendek.”

Ia bertanya, “Apa itu?”

Amr kemudian membaca,

Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran.” (al-‘Ashr: 1-3)

Musailamah berpikir sesaat lalu berkata, “Telah diturunkan kepadaku yang semisalnya.

Amr radhiallahu ‘anhu bertanya, “Apa itu?

Musailamah membaca,

يَا وَبْرُ، يَا وَبْرُ، إِنَّمَا أَنْتَ أُذُنَانِ وَصَدْرٌ وَسَائِرُكَ حَقْرٌ وَنَقْرٌ

“Hai marmut, hai marmut, sesungguhnya engkau hanyalah dua telinga dan dada, selainnya hanyalah kehinaan dan paruh.”

“Bagaimana menurutmu, hai Amr?”

Amr berkata kepadanya, “Demi Allah, sungguh engkau mengetahui bahwa aku benar-benar tahu bahwa sesungguhnya engkau berdusta.” (Tafsir Ibnu Katsir, 7/345)

Sungguh benar firman Allah ‘azza wa jalla,

Dan siapakah yang lebih lalim daripada orang yang membuat kedustaan terhadap Allah atau yang berkata, “Telah diwahyukan kepadaku.” Padahal tidak ada diwahyukan sesuatu pun kepadanya, dan orang yang berkata, “Saya akan menurunkan seperti apa yang diturunkan Allah.”

Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zalim (berada) dalam tekanan-tekanan sakratul maut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya, (sambil berkata), “Keluarkanlah nyawamu.”

Pada hari ini kamu dibalas dengan siksaan yang sangat menghinakan, karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar dan (karena) kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayat-Nya. (al-An’am: 93)

Firman-Nya, “Dan siapakah yang lebih aniaya daripada orang yang membuat-buat suatu kedustaan terhadap Allah atau mendustakan ayat-ayat-Nya? Sesungguhnya orang-orang yang aniaya itu tidak mendapat keberuntungan.” (al-An’am: 21)

Sesungguhnya Syiah termasuk dalam apa yang disebutkan oleh Allah ‘azza wa jalla ini.

Wallahul Muwaffiq

Cara Menghadapi Syiah

Al-Ustadz Abu Hamzah Yusuf

Dart

Syiah menjadi bahaya laten yang mengancam cukup serius di negara kita. Maka dari itu, bekal yang paling penting untuk menghadapi mereka adalah bertafaqquh fiddin, mempelajari ilmu agama Islam dengan benar yang bersumber dari al-Qur’an dan as-Sunnah dengan pemahaman para ulama salaf, generasi terbaik umat ini.

Ilmu akidah adalah ilmu yang paling penting bagi setiap muslim. Sebab, akidah adalah fondasi dan pilar-pilar yang dibangun di atasnya bangunan-bangunan Islam lainnya. Akidah yang bersumber dari al-Qur’an dan as-Sunnah merupakan tameng untuk menjaga seorang muslim dari penyimpangan, kesesatan, dan kesyirikan.

Seluruh kaum muslimin hendaknya tidak mencoba untuk menelaah pemikiran-pemikiran mereka atau mendengar syubhat-syubhatnya. Sungguh, akan menjadi musibah yang besar manakala seseorang membaca dan meneliti serta mendengar syubhat-syubhat kelompok Syiah sedangkan pemikirannya kosong dari akidah yang benar. Hal itu akan menyeretnya kepada penyimpangan.

Begitulah akidah dan paham-paham yang menyimpang. Ia tidak akan datang kecuali kepada orang-orang yang bodoh. Allah subhanahu wa ta’ala telah berfirman,

“Dan sungguh, Allah telah menurunkan (ketentuan) bagimu di dalam Kitab (al-Qur’an) bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan (oleh orang-orang kafir), janganlah kamu duduk bersama mereka, sebelum mereka memasuki pembicaraan yang lain….” (an-Nisa: 140)

Para ulama telah menetapkan melalui tafsiran dari ayat ini bahwa tidak diperbolehkan mendengarkan perkataan orang yang menyimpang, sesat, dan ahli bid’ah, serta tidak boleh duduk bersama mereka. Sebab, apabila mendengarkannya, seseorang akan terlibat bersama mereka dalam dosanya. Selain itu, bisa jadi mereka akan meniupkan racun (syubhat) kepada dirinya. Inilah musibah yang menimpa agama seseorang.

Generasi muda kaum muslimin hendaknya tidak menyepelekan bahaya laten Syiah yang terus menggerogoti umat. Sebab, tidaklah mereka tinggal di suatu negara melainkan akan meniupkan api, membakar setiap yang basah dan kering, serta mengembuskan racunnya. Kelompok Syiah siap menggelontorkan materi dan dana kepada kaum muslimin asalkan mereka mau mengambil akidahnya, mengambil akhlaknya, bahkan agamanya. Inilah yang perlu diwaspadai.

Asy-Syaikh al-Allamah Abdul Aziz bin Baz rahimahullah, dalam nasihatnya menghadapi kelompok Syiah Rafidhah, menegaskan, “Kami menasihati seluruh kaum muslimin agar tidak tertipu olh seruan-seruan kelompok Syiah. Sebab, segala seruan mereka yang mengatasnamakan Islam, tidak berdasar dan tidak benar. Semuanya masuk dalam kerangka perbuatan munafik. Mereka adalah para munafik dan tukang taqiyyah. Siapa yang melihat kitab-kitabnya, pasti mengetahuinya. Kaum mukminin dan muslimin semestinya mengetahui bahwa seruan (Republik Islam Iran), semua itu tidak ada hakikatnya. Tampak dari luar saja seperti Islam, namun batinnya menyelisihi Islam. Batinnya adalah watsaniyyah (penyembahan terhadap berhala) dan permusuhan terhadap Islam serta seluruh para sahabat, serta tidak menampakkan keridhaan kepada mereka. Yang ada, mereka malah mengafirkan dan memvonis fasik para sahabat, kecuali sebagian kecil saja.

Intinya, Khomeini dan para pengikutnya adalah tokoh-tokoh (Syiah) Rafidhah, pengagum akidah Rafidhah dan berpegang teguh dengannya. Mereka mengagungkan imam yang dua belas serta mengklaim bahwa imam-imam itulah yang paling berhak atas predikat imam dan mendapatkan kepemimpinan, dan yang paling tingginya adalah Ali shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka tidak mengakui kepemimpinan yang lain dan menganggapnya batil. Benar bahwa Ali shallallahu ‘alaihi wa sallam, ialah seorang imam yang saleh, khalifah keempat setelah tiga khalifah sebelumnya, sahabat yang paling utama setelah tiga sahabat sebelumnya. Demikian juga al-Hasan dan al-Husein, merupakan sahabat, semoga Allah subhanahu wa ta’ala meridhainya. Akan tetapi, mereka tidak menjadi pemimpin, kecuali al-Hasan menjadi pemimpin sebentar kemudian mengundurkan diri dan menyerahkan kepemimpinan kepada Mu’awiyah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sementara itu, al-Husein sama sekali tidak menjadi pemimpin. Orang-orang Rafidhah (Syiah) tidak memiliki ilmu pengetahuan, tidak ada pada diri mereka kecuali klaim-klaim yang tidak berdasar.” (www.binbaz.org)

Salah satu pintu menyesatkan umat yang dilakukan oleh kelompok Syiah adalah slogan “cinta Ahlul Bait”. Maka dari itu, seorang muslim tidak boleh tertipu ketika kaum Syiah mengawali pembicaraannya dengan hal itu. Mereka adalah orang-orang yang sudah ada penyimpangan dalam hatinya. Allah subhanahu wa ta’ala menyebutkan dalam firman-Nya,

Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong pada kesesatan, mereka mengikuti yang mutasyabihat untuk mencari-cari fitnah dan untuk mencaricari takwilnya....” (Ali Imran: 7)

Yang dapat membentengi kita dari kesesatan Syiah adalah dengan mengetahui akidah Ahlus Sunnah wal Jamaah, dan senantiasa merujuk kepada tafsiran-tafsiran para salaf, serta kembali kepada para ulama rabbani.

Menurut akidah Ahlus Sunnah, tidak ada seorang imam yang diagungkan, yang diambil semua perkataannya dan ditinggalkan semua yang menyelisihannya, selain Rasulullah n. Keistimewaan ini tidaklah ada pada imam-imam yang lain. Setiap orang dapat diambil perkataannya dan ditinggalkan, tidak ada yang maksum selain beliau n.

Ahlus Sunnah mengikuti jalan para pendahulu dari kalangan sahabat. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

Dan orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar, serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik. Allah ridha kepada mereka dan mereka pun rida kepada Allah. Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang agung.” (at-Taubah: 100)

Ahlus Sunnah selalu menjaga lisan dan hatinya terkait dengan para sahabat Rasulullah n, sebagaimana yang Allah subhanahu wa ta’ala sebutkan sifat mereka dalam firman-Nya,

Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Ansar), mereka berdoa, “Ya Rabb kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau tanamkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Rabb kami, sungguh, Engkau Maha Penyantun, Maha Penyayang.” (al-Hasyr: 10)

Sebagai bentuk ketaatan kepada Nabi n, sebagaimana disebutkan dalam sabdanya,

لَا تَسُبُّوا أَصْحَابِي، فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا بَلَغَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلاَ نَصِيفَهُ

Janganlah kalian mencela sahabat-sahabatku. Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, andai salah seorang dari kalian berinfak dengan emas seperti Gunung Uhud, niscaya hal itu tidak akan dapat menyamai infak salah seorang dari mereka walau satu mud, tidak pula setengahnya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Ahlus Sunnah menerima apa yang datang dari Kitabullah dan Sunnah Rasulullah n serta apa yang telah menjadi konsensus (ijma’) yang terkait dengan keutamaan dan kedudukan para sahabat.

Kelompok Syiah tidak jujur dalam klaimnya sebagai pecinta Ahlul Bait, karena pada kenyataannya mereka tidak mencintai Ahlul Bait Nabi n, tidak pula Ahlu Bait Ali shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka tidak mengambil petunjuknya, tidak mengikuti jalannya, tidak menaati perintahnya. Mereka justru menentang dan menyelisihinya, bahkan dengan terang-terangan hal itu mereka lakukan terutama kepada al-Khulafa ar-Rasyidin, Ummahatul Mukminin (istri-istri Nabi n), dan seluruh sahabat beliau g.

Al-Qur’an telah menyebutkan bahwa Allah subhanahu wa ta’ala ridha kepada para sahabat. Al-Qur’an pun memberi rekomendasi tentang keimanan yang sesungguhnya pada diri mereka. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

“Muhammad adalah utusan Allah, dan orang-orang yang bersama dengan dia bersikap keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu melihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya. Pada wajah mereka tampak tanda-tanda bekas sujud.

Demikianlah sifat-sifat mereka (yang diungkapkan) dalam Taurat dan sifat-sifat mereka (yang diungkapkan) dalam Injil, yaitu seperti benih yang mengeluarkan tunasnya, kemudian tunas itu semakin kuat, lalu menjadi besar dan tegak lurus di atas batangnya; tanaman itu menyenangkan hati penanampenanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan di antara mereka, ampunan dan pahala yang besar.” (al-Fath: 29)

“Sungguh, Allah telah menerima tobat Nabi, orang-orang Muhajirin dan orang-orang Anshar, yang mengikuti Nabi pada masa-masa sulit, setelah hati segolongan dari mereka hampir berpaling, kemudian Allah menerima tobat mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih, Maha Penyayang kepada mereka.” (at-Taubah: 117)

“Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah, dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada orang Muhajirin), mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman. Mereka memperoleh ampunan dan rezeki (nikmat) yang mulia.” (al-Anfal: 74)

Wallahu a’lam.

Trik dan Tipu Daya Syiah di Indonesia

Al-Ustadz Abu Hamzah Yusuf

syiah-berdarah

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Rafidhah (Syiah) adalah kelompok yang tidak memiliki andil apa pun selain menghancurkan Islam, memutuskan ikatannya, dan merusak kaidah-kaidahnya.” (Minhajus Sunnah an-Nabawiyyah)

Sejarah telah mencatat bahwa kelompok Syiah begitu fanatik kepada Persia yang memusuhi bangsa Arab. Oleh karena itu, sangat besar kebencian mereka kepada sahabat Umar Ibnu Khaththab radhiallahu ‘anhu. Sebab, di masa kekhalifahannya negara Persia itu ditaklukkan. Bahkan, hingga hari ini Syiah selalu merayakan hari-hari besar yang merupakan budaya Persia, seperti Norouz atau Nowruz.

Kelompok Syiah telah banyak merugikan Islam. Mereka benci luar biasa kepada Ahlus Sunnah. Cukuplah menjadi bukti dan diketahui bahwa tiga ratus ribu jiwa dari kalangan Ahlus Sunnah yang ada di Teheran, ibukota Iran, tidak memiliki satu pun masjid.

Syaikh Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, “Sesungguhnya penyebab utama fitnah (kejelekan) dan bencana itu adalah Syiah dan yang bergabung bersamanya. Mayoritas pedang yang terhunus di dalam (sejarah) Islam adalah dari arah mereka. Kezindiqan (kemunafikan) telah menyelimuti mereka. Kelompok Syiah memberikan loyalitas kepada musuh agama ini—musuh agama yang diketahui oleh setiap orang—yaitu Yahudi, Nasrani, dan musyrikin. Mereka malah memusuhi wali-wali Allah subhanahu wa ta’ala, orang-orang pilihan yang menganut agama ini dan orang-orang yang bertakwa….

Selain itu, kelompok Syiah mempunyai andil besar ketika dahulu orang-orang Nasrani menguasai Baitul Maqdis, hingga akhirnya kaum muslimin dapat meraihnya kembali.” (Minhajus Sunnah)

Demi menguatkan eksistensinya di tengah-tengah kaum muslimin, dan agar dianggap sebagai salah satu mazhab yang diterima di dalam Islam, Syiah melakukan berbagai makar dan tipu daya. Salah satunya adalah dengan membuka kesempatan bagi para pemuda untuk melanjutkan studinya ke Qum, Iran. Bahkan, Pemerintah Iran menyediakan beasiswa untuk pelajar Indonesia.

Pada 15 April 2005, website nuonline.com memberitakan bahwa Pemerintah Iran menawarkan beasiswa kepada NU. Bahkan, telah ada MoU ilegal yang ditandatangani oleh oknum petinggi NU. Namun, alhamdulillah, pada 2011 Dewan Syuriah PBNU membatalkan MoU itu dengan alasan tidak ada izin dari Dewan Syuriah terlebih dahulu.

Selain pemberian beasiswa, ada beberapa trik dan strategi yang dijalankan dalam dakwah Syiah di Indonesia, antara lain:

 

  1. Mengedepankan tema persatuan atau ukhuwah Islamiah.

Dalam kajian-kajian, taklim, buku-buku, dan orasi, Syiah selalu tidak meninggalkan tema ini. Haidar Bagir misalnya, salah seorang pentolan Syiah, pendiri penerbitan buku Syiah (Mizan), menulis tanggapan terhadap orang-orang yang mengkritik Syiah di Indonesia, “Orang-orang yang pandangannya didengar oleh para pengikut Syiah di negeri ini, hendaknya mereka meyakinkan para pengikutnya untuk dapat membawa diri dengan sebaik-baiknya serta mengutamakan persaudaraan dan toleransi terhadap saudara-saudaranya yang merupakan mayoritas di negeri ini.” (http://insistnet.com/menagih-janji-kaum-Syiah/, diakses pada tanggal 03 Maret 2014)

Agar perkembangan Syiah berjalan mulus, Husein al-Habsyi juga ikut mengampanyekan kerukunan umat. Ketika ditanya oleh seorang mahasiswa di Yogyakarta, Husein pernah mengatakan, “Menjawab pertanyaan saudara ini, saya kira mengafirkan sesama muslim, bukan saja tidak dibenarkan oleh syariat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam tetapi juga tidak pantas dan tidak menguntungkan, baik di pihak Syi’ah maupun Ahlus Sunnah, bahkan bisa melemahkan keduanya. Siapa di antara kita kaum muslimin—apalagi saudara mahasiswa ini—yang belum mendengar tentang kristenisasi yang galak dan dahsyat seperti sekarang ini. Mereka sebelum ini sudah bersatu dan segala aliran; Katolik, Protestan, Advent, ditambah dengan kaum musyrikin, Zionis dan Yahudi, mereka semua sudah bersatu, sedangkan kaum Nasrani bergabung dan satu dewan gereja….”

Husein juga mengatakan, “Sedangkan kita—maaf—secara tidak sadar membantu mereka mengeluarkan saudara-saudara dan generasi kita yang sekarang ini dari umat dan agama Islam. Jadi, mereka akan mudah mengkristenkan kita, sedangkan kita mengkafirkan saudara kita sendiri. Adakah fanatisme yang lebih berat daripada ini? Kita sekarang ini tidak perlu Syiah atau Sunnah menjadi bahan gaduh di antara kita, kaum muslimin. Kita perlu Islam yang bersumberkan al-Qur’an dan al-Hadits diterapkan pada diri kita. Kita memerlukan ukhuwah, memerlukan pengumpulan dana, serta seluruh masyarakat dan organinasi Islam untuk menebus jutaan pemuda muslim yang sekarang di ambang pintu Nasrani untuk dikristenkan.”

 

  1. Menampilkan pustaka atau tokoh Syiah dengan wajah Sunni.

Prof. Dr. Muhammad Baharun menulis, kitab-kitab seperti Muruj al-Dzahabi oleh Ali bin Husein al-Masoudi, Kifayat al-Thalib fi Manaqib Ali bin Abi Thalib, dan al-Bayan fi al-Akhbar Shaib al-Zaman oleh Abu Abdillah Fakhruddin Muhammad bin Yusuf al-Kanji, Syarh Nahj al-Balaghah oleh Ibnu Abi al-Hadid, Syawahid al-Tanzil oleh al-Hakim al-Kaskani, dan Yanabi’ al-Mawaddah oleh Sulaiman bin Ibrahim al-Qanduzi, adalah buku-buku Syiah. Pengarangnya mengaku Sunni agar bukunya dapat diakses oleh pengikut Ahlus Sunnah wal Jamaah.

Kerap kali dijumpai, pengikut Syiah menolak mengaku sebagai Syi’i. Akan tetapi, terkadang mereka lebih suka disebut pengikut mazhab Ahlu Bait daripada pengikut Syiah. Beberapa acara publik terkadang menampilkan tokoh yang tidak memiliki kapasitas, namun diminta untuk berbicara tentang ukhuwah Sunnah-Syiah. Hal ini adalah taktik pengelabuan untuk menutupi wajah Syiah yang sesungguhnya.

 

  1. Memberikan imej netral dan melakukan pendekatan.

Hal ini dilakukan di antaranya melalui pendekatan akhlak, memberi jasa bantuan dana, serta janji-janji kerjasama apabila umat bersedia bergabung ke dalam institusi tertentu. Kini Syiah menggerakkan dunia pendidikan, menyediakan dan menyelenggarakan training-training metode pendidikan. Dengan dukungan aktivis liberal, digulirkan wacana Syiah dan Ahlus Sunnah sama-sama, tidak boleh menyalahkan Syiah. Wacana yang dikedepankan adalah Syiah itu sama-sama muslim. Perbedaan antara Syiah dan Ahlus Sunnah sebatas perbedaan ijtihad politik.

Ketika muncul pro-kontra terkait berdirinya Majelis Ukhuwah Sunni-Syiah Indonesia pada 17 Juli 2011, Jalaluddin Rakhmat mengatakan, “Masalah ajaran itu masing-masing. Lakum dinukum wa liya din, bagimu agamamu bagiku agamaku. Ingat menjalin ukhuwah Islamiah adalah perintah Allah subhanahu wa ta’ala dalam al-Qur’an.”

Dalam kesempatan lain, ia mengatakan, “Bila ada yang pro, syukurilah. Kalau ada yang kontra, jangan jawab dengan permusuhan, namun dengan amal shalih.” (http://news.detik.com/read/2011/07/17/172951/1682998/486/1/majelis-sunni-Syiah-dideklarasikan-di-jawa-barat)

 

  1. Mengampanyekan keterbukaan pemikiran.

Suatu hari, Jalaluddin Rakhmat pernah ditanya tentang filosofi di balik berdirinya Yayasan Muthahhari, yayasan yang menaungi SMU Plus Muthahhari, Bandung.

Waktu itu ia menjawab, “Yayasan Muthahhari tidak didirikan untuk menyebarkan Syiah dan sampai sekarang lembaga ini tidak menyebarkan Syiah. Di situ ada SMU. Mereka belajar fikih empat mazhab (Syafi’i, Hambali, Maliki, Hanafi). Mereka tidak mempelajari fikih Syiah secara khusus. Dari Muthahhari juga keluar jurnal al-Hikmah, yang banyak menerjemahkan pikiran-pikiran Syi’ah. Tetapi, sekali lagi hanya bersifat pemikiran saja, fikihnya tidak ada. Belakangan al-Hikmah sedikit menampilkan pemikiran Syiah. Malah lebih banyak menampilkan pemikiran-pemikiran kalangan orientalis. Sehingga Yayasan Muthahhari, dengan melihat isi al-Hikmah seperti itu, layaklah disebut sebagai ‘agen zionisme Barat’.

Jadi, mungkin lebih layak Muthahhari ketimbang Paramadina atau Ulumul Qur’an. Jadi, itu yang pertama: Muthahhari tidak didirikan untuk menjadi markas Syi’ah. Lalu, kalau begitu, mengapa diambil nama Muthahhari? Itu karena tiga pertimbangan.

Pertama, Muthahhari itu seorang pemikir Syiah yang sangat non-sectarian, yang sangat terbuka. Ia sangat apresiatif terhadap pemikiran Sunni. Ia tidak pernah menyerang Sunni. Ia lebih banyak belajar dari Sunni. Karena itu, kita ambil tokoh Muthahhari sebagai tokoh yang bersikap non-sectarian, terbuka terhadap berbagai pemikiran, bukan karena Syi’ahnya.

Kedua, Muthahhari itu orang yang dibesarkan dalam sistem pendidikan Islam tradisional, tetapi setidak-tidaknya cukup well informed tentang khazanah pemikiran Barat. Ia menjembatani dikotomi antara intelektual dan ulama. Kita pilih ia, antara lain karena pertimbangan itu, bukan karena Syi’ah. Karena misi Yayasan Muthahhari yang kedua adalah menjembatani antara intelektual dan ulama. Di Indonesia ini banyak cendekiawan yang menulis tentang Islam, tetapi tidak punya dasar dan tradisi Islam tradisional, sebagaimana juga banyak ulama Islam tradisional yang tidak mempunyai wawasan kemodernan. Muthahhari mencerminkan keduanya.”

 

5 . Mendekati NU dan Muhammadiyah sebagai backing.

Di Bandung, dua organisasi massa Islam terbesar di Indonesia itu menolak MUI mengeluarkan fatwa sesat Syiah. Sebuah website Syiah pernah memuat berita berikut, “Sekretaris Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Abdul Muthi, menolak adanya fatwa sesat terhadap Syiah dari lembaga keagamaan mana pun di Indonesia, termasuk Majelis Ulama Indonesia. Menurut dia, fatwa sesat dari MUI di sejumlah daerah, seperti Jawa Timur dan Sulawesi Selatan, terbukti menjadi alat melegitimasikan kekerasan terhadap pengikut Syiah dan memicu konflik horizontal antar umat Islam. ‘Fatwa dari mana pun harus tidak untuk mengkafirkan dan menyesatkan,’ ujar Muthi kepada Tempo, Kamis, 19 Desember 2013.

Muthi menanggapi desakan sebagian pihak yang mendesak MUI DIY mengeluarkan fatwa sesat terhadap aliran Syiah di Yogyakarta. Pihak tersebut mengklaim telah mencatat 10 organisasi berhaluan Syiah di DIY.

Menurut Muthi, fatwa sesat itu berpotensi besar menimbulkan persoalan kebangsaan serius di Indonesia. Lembaga seperti MUI di daerah mana pun sebaiknya tidak lagi mengeluarkan fatwa penyesatan, khususnya untuk Syiah. Alasannya, hal itu memperbesar konflik antar umat Islam. ‘Umat Islam sudah mengalami banyak situasi sulit dan persoalan, jangan ditambah dengan masalah-masalah seperti ini,’ ujar dia. Dia menyarankan MUI Pusat maupun daerah menghindari fatwa semacam pengadil kebenaran atau kesesatan akidah dan keyakinan setiap kelompok umat Islam mana pun.

Sebaliknya, dia menambahkan, MUI mengambil posisi tegas untuk memediasi perbedaan dan pertentangan pendapat antarorganisasi Islam di Indonesia. ‘MUI harus berperan sebagai pemersatu umat Islam,’ kata Muthi. Muthi tidak sepakat dengan pendapat pihak tersebut mengenai salah satu alasan desakannya, yakni buku terbitan MUI Pusat yang berjudul Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Syiah di Indonesia. Menurut dia, buku itu keluar justru sebagai pernyataan sikap MUI Pusat untuk menolak memberikan fatwa penyesatan ke Syiah Indonesia. ‘Umat Islam harus bisa memberikan sumbangan konstruktif untuk Indonesia,’ kata dia.

Sikap serupa muncul dari Pengurus Wilayah NU Daerah Istimewa Yogyakarta. Rois Syuriah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (NU) Daerah Istimewa Yogyakarta, KH. Asyhari Abta, menyatakan MUI DIY tidak perlu menggubris permintaan pihak tersebut.

Kiai dari Pesantren Yayasan Ali Maksum, Krapyak, Yogyakarta ini menganggap fatwa sesat malah bisa memicu konflik antarkelompok berbeda paham agama. “Bisa memperuncing perbedaan dan memicu tabrakan antarkelompok,” ujar dia.

Asyhari mengatakan, sekalipun MUI DIY menemukan ada indikasi penyimpangan upaya maksimal hanya perlu dilakukan dengan dialog dan nasihat. Penyesatan pada ajaran malah bisa mendorong tudingan sesat ke kelompok-kelompok lain. “Sesat atau tidak sesat itu keputusannya di Allah Subhanahu Wataala,” ujar dia.

Segala trik, makar, dan tipudaya Syiah ini tentu tidak lepas dari keyakinan para penganut Syiah tentang taqiyyah. Mereka meyakini bahwa sembilan puluh persen persoalan agama ini ada dalam taqiyyah. Tidak ada agama bagi siapa yang tidak ber-taqiyyah. Taqiyyah itu dalam segala sesuatu kecuali yang berhubungan dengan minuman anggur dan mengusap dua khuf.

Al-Kulaini dalam Ushulul Kafi—sebuah kitab hadits milik Syiah—mengutip riwayat dari Abu Abdillah, ia berkata, “Jagalah agama kalian dan halangi diri kalian dengan taqiyyah, karena tidak ada keimanan bagi yang tidak bertaqiyyah.” (Ushul al-Kafi, hlm. 482—483)

Taqiyyah sendiri bermakna mengatakan atau mengerjakan sesuatu yang berbeda dengan apa yang diyakini dengan tujuan menjaga bahaya yang mengancam diri dan harta atau demi menjaga kemuliaan. (asy-Syi’ah fi al-Mizan, hlm. 47)

Bahkan, Syiah mengaku bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan taqiyyah ketika meninggalnya Abdullah bin Ubay bin Salul, seorang tokoh munafikin. Syiah mengklaim bahwa Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam datang menyalati jenazahnya, lalu Umar berkata, “Bukankah Allah subhanahu wa ta’ala telah melarangmu untuk berdiri di kuburan orang munafik ini?”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Celaka kau, Umar, apa kamu tahu apa yang aku ucapkan? Sesungguhnya aku katakan, ‘Ya Allah, nyalakanlah api di bagian perutnya, penuhilah kuburannya dengan api dan bagian dinding-dindingnya dengan api’.” (Furu’ al-Kafi, Kitabul Jana’iz, hlm. 188)

Lihatlah, bagaimana lancangnya dan beraninya Syiah melakukan kedustaan atas nama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Intinya, Syiah menganggap bahwa taqiyyah adalah kewajiban, ajaran Syiah tidak akan tegak kecuali dengannya. Mereka menjadikan taqiyyah sebagai fondasinya, baik secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan. Mereka mengamalkan taqiyyah terkhusus ketika melalui situasi-situasi yang sulit. Maka dari itu, waspadalah selalu dari kelompok Syiah, wahai kaum muslimin!

Bagaimana pun besarnya makar dan tipu daya Syiah terhadap Islam, Allah subhanahu wa ta’ala akan tetap menjaganya. Oleh karena itu, hal ini jangan menjadikan kaum muslimin ragu terhadap agamanya. Yakinlah bahwa Allah subhanahu wa ta’ala akan menghancurkan, membongkar, dan membalas makar mereka. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

“Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan tipu daya terhadapmu (Muhammad) untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu, atau mengusirmu. Mereka membuat tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Allah adalah sebaik-baik pembalas tipu daya itu.” (al-Anfal: 30)

Dan di kota itu ada sembilan orang laki-laki yang berbuat kerusakan di bumi, mereka tidak melakukan perbaikan. Mereka berkata, “Bersumpahlah kamu dengan (nama) Allah, bahwa kita pasti akan menyerang dia bersama keluarganya pada malam hari, kemudian kita akan mengatakan kepada ahli warisnya (bahwa) kita tidak menyaksikan kebinasaan keluarganya itu, dan sungguh, kita orang yang benar.” Dan mereka membuat tipu daya, dan Kami pun menyusun tipu daya, sedang mereka tidak menyadari. Maka perhatikanlah bagaimana akibat dari tipu daya mereka, bahwa Kami membinasakan mereka dan kaum mereka semuanya. Maka itulah rumah-rumah mereka yang runtuh karena kezaliman mereka. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang mengetahui.” (an-Naml: 48—52)

Mereka Membela Syiah

Al-Ustadz Abu Hamzah Yusuf

syiah-sesat

Salah satu bentuk gencarnya Syiah mengampanyekan pahamnya sekaligus usaha mereka melegalisasi keyakinannya adalah melalui seruan Taqrib Baina Sunni wa Syi’i (Pendekatan Antara Sunni dan Syi’ah). Sebenarnya gagasan ini adalah misi lama dari Khomeini, dan setelah dua puluh tahun meninggalnya, pendekatan antara Sunni-Syiah terus berjalan.

Sebelumnya, di Mesir upaya taqrib ini telah digagas. Sebuah lembaga yang bernama “Dar al-Taqrib bayna al-Madzahib al-Islamiyah”, didirikan oleh Mahmud Syaltut, Wakil Rektor Universitas al-Azhar pada 1957 M. Lembaga ini adalah sebuah institusi yang berusaha mewujudkan pendekatan dan persaudaraan serta menghilangkan perselisihan dan perpecahan yang ada antara Ahlus Sunnah dan Syiah. Lembaga ini juga memiliki misi memperkuat hubungan antara mazhab-mazhab Islam; sebuah pusat pergerakan yang pada akhirnya menjadi dasar pikiran berdirinya “Majma-e Jahoni-e Taghrib-e Mazaheb-e Islami” (Forum Internal Pendekatan Mazhab-Mazhab Islam) di Iran. Selain Mahmud Syaltut, Muhammad Mustafa Maraghi, Ayatullah Burujerdi, Hasan al-Banna juga menjadi penggagas ide pendekatan antara Sunni-Syiah.

Senin, 5 Nopember 2012, Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar bekerjasama dengan Kedutaan Besar Republik Iran, mengadakan seminar internasional dengan tema “Persatuan Umat Islam Dunia (International Seminar of Islamic World Unity)” di Auditorium Al-Jibra Kampus II UMI.

Yang menjadi narasumber pada seminar tersebut adalah pihak pemerintah diwakili oleh Wakil Menteri Agama Republik Indonesia, Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, MA; Nahdatul Ulama (NU) diwakili oleh mantan ketuanya selama dua periode, Dr. K.H. Hasyim Muzadi; Muhammadiyyah diwakili oleh Ketua Umum Muhammadiyyah saat ini, Dr. Din Syamsuddin; Majelis Ulama Pusat, diwakili oleh sang motor penggerak persaudaraan Sunni-Syiah, Prof. Dr. Umar Shihab, MA; pihak Syiah sendiri diwakili oleh Sekjen Majma’ Taqrib Bayna Madzahib, Muhammad Ali Taskhiri, Maulawi Ishak Madani, dan Dr. Mazaheri. Seminar tersebut juga dihadiri oleh Dubes Iran untuk Indonesia, Mahmoud Farazandeh. Tampil pula Prof. Dr. Ghalib MA, Wakil Koordinator Kopertis Wilayah VIII.

Nama-nama yang tercantum di atas secara umum menyerukan persatuan sebagaimana tema seminar itu sendiri. Dubes Iran dalam sambutannya mengajak para peserta untuk bercermin pada ritual haji. Para hujjaj mengenakan baju dengan warna yang sama, shalat di mesjid yang sama, menghadap pada kiblat yang sama, serta bersama-sama berthawaf di sekeliling Ka’bah. Inilah contoh konkret bahwa pada dasarnya umat Islam itu memiliki kesamaan yang sangat esensial.[1]

Adapun Wamenag RI, Nasaruddin Umar, mengutip sebuah perkataan, “Orang yang sering menyalahkan orang lain adalah orang yang sedang belajar, tetapi orang yang tidak mau menyalahkan orang lain adalah orang yang telah khatam belajar.”

Adapun Prof. Din Syamsuddin, memandang pentingnya persatuan Sunni-Syiah, karena umat Islam saat ini berada dalam kubang keterbelakangan, hanya sibuk menyalahkan antara satu dan yang lain, serta mengklaim hanya dirinyalah yang benar lalu tidak mau menerima kebenaran orang lain. Orang-orang seperti ini, menurut Ketua Muhammadiyyah ini, nanti akan menjadi orang kecele di surga.[2]

Pada Konferensi Islam Sedunia yang berlangsung pada 4—6 Mei 2008 lalu di Teheran, yang dihadiri sekitar 400 orang dari berbagai belahan dunia, Din Syamsuddin yang berbicara pada sesi pertama bersama enam tokoh lainnya, menegaskan bahwa antara Sunni dan Syiah ada perbedaan tetapi hanya pada wilayah cabang (furu’iyat), tidak pada wilayah dasar agama (akidah). Keduanya berpegang pada akidah Islamiah yang sama, walau ada perbedaan derajat penghormatan terhadap Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu. Oleh karena itu, lanjutnya, kedua kelompok harus terus melakukan dialog dan pendekatan. Seandainya tidak dicapai titik temu, perlu dikembangkan sikap tasamuh atau toleransi.

Tokoh lain yang tidak boleh dilupakan, yang begitu semangat menyuarakan pendekatan Sunni-Syiah, adalah Quraish Shihab. Dalam bukunya yang berjudul Sunni-Syiah Bergandengan Tangan, Mungkinkah?, ia mengatakan, “Kesamaan-kesamaan yang terdapat pada dua mazhab ini berlipat ganda dibandingkan dengan perbedaan-perbedaan dan sebab-sebabnya. Perbedaan antara kedua mazhab, di mana pun ditemukan adalah perbedaan cara pandang dan penafsiran, bukan perbedaan dalam hal ushul (prinsip-prinsip dasar keimanan), tidak juga dalam rukun-rukun Islam[3].” (cet. 1 hlm. 265)

Sesuatu yang tidak diragukan lagi bahwa Islam telah merumuskan jalan kepada umatnya untuk membangun persatuan dan kesatuannya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

“Dan berpegangteguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai.” (Ali Imran: 103)

Ayat ini adalah perintah untuk berpegang teguh kepada tali Allah subhanahu wa ta’ala, yaitu al-Qur’an dan as-Sunnah, serta bersatu di atas petunjuk Allah subhanahu wa ta’ala. Tidaklah terjadi perpecahan dan perbedaan melainkan karena jauh dari pemahaman atau keyakinan ini.

Bahkan, Allah subhanahu wa ta’ala telah menjelaskan bahwa al-Qur’an dan as-Sunnah harus dijadikan sandaran oleh umat Islam ketika terjadi perselisihan dan perbedaan cara pandang atau penafsiran. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

“Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah, taatilah Rasul (Muhammad), dan Ulil Amri (pemegang kekuasaan/ulama) di antara kamu. Kemudian, jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, kembalikanlah kepada Allah (al-Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian. Hal itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (an-Nisa: 59)

Akan tetapi, metode ini tentu hanya akan berlaku bagi penganut Islam yang sesungguhnya, yang berjalan di atas petunjuk Allah subhanahu wa ta’ala.

Adapun orang yang mengaku beragama Islam padahal sejatinya musuh Islam, maka wajib dibongkar keadaannya, agar umat Islam tahu tentang permusuhannya terhadap Islam, dan tidak ada celah baginya untuk menempuh metode ini.

Sunni atau Sunnah dan Syiah atau tepatnya Rafidhah, adalah dua kutub yang berlawanan, dua kelompok yang berbeda dan dua ideologi yang bertentangan. Antara keduanya tidak akan ada titik temu.

Mazhab Ahlus Sunnah berdiri di atas keyakinan mengutamakan para sahabat secara umum, dan mengutamakan sahabat Abu Bakr dan Umar atas seluruh umat, serta meyakini bahwa khalifah setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah Abu Bakr.

Begitupun dalam soal tauhid, mazhab mereka adalah beribadah hanya kepada Allah subhanahu wa ta’ala saja tidak ada sekutu bagi-Nya, dan tidak ada yang maksum (terjaga dari kesalahan) selain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tidak ada yang maksum dari umat ini selain beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Adapun Rafidhah, mazhabnya berdiri di atas kebencian kepada para sahabat, bahkan memvonis mereka semua sebagai orang fasik dan kafir, kecuali beberapa orang saja.

Maka dari itu, seruan pendekatan antara Sunni-Syiah, atau Sunnah dan Rafidhah, menyerupai seruan pendekatan antara Nasrani dan Islam. Sudah pasti, kekafiran dan keislaman adalah dua hal yang berlawanan, tidak akan bersama. Demikian pula halnya antara sunnah dan bid’ah.

Kelompok Rafidhah adalah kelompok yang paling jelek di tengah-tengah umat ini. Di samping prinsip-prinsip dasarnya adalah kekufuran, kelompok ini juga diwarnai oleh prinsip-prinsip dasar Mu’tazilah dan Tasawuf, yaitu praktik syirik di kuburan. Kelompok Rafidhah dibangun di atas dasar keyakinan ekstrem kepada ulama dan imam-imamnya. Mereka membangun kubah di atas kuburan-kuburannya dan melakukan ritual haji ke kuburan-kuburannya, persis seperti ritual haji ke Baitullah al-Haram.

Maka dari itu, yang menyuarakan pendekatan antara Sunnah dan Syiah, boleh jadi tidak mengetahui hakikat kedua mazhab itu, atau berpura-pura tidak tahu dan bodoh. Umumnya, orang yang menyuarakan pendekatan Sunni-Syiah itu membuat pengaburan, penipuan, dan pembodohan. Apabila ada dari kalangan Sunni yang melakukannya, mereka adalah orang-orang yang tertipu. Ia mengira bahwa perselisihan dan perbedaan antara Sunnah dan Syiah layaknya perbedaan antara mazhab-mazhab fikih, seperti Hambali, Syafi’i, Maliki, dan Hanafi.

Asy-Syaikh al-Allamah Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahullah berkata, “Pendekatan antara Rafidhah dan Ahlus Sunnah adalah hal yang tidak mungkin karena akidah yang berbeda. Akidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah mentauhidkan Allah subhanahu wa ta’ala dan mengikhlaskan ibadah hanya untuk Allah subhanahu wa ta’ala, tidak ada sesuatu pun yang diibadahi bersama Allah subhanahu wa ta’ala, baik malaikat yang terdekat maupun nabi yang diutus, dan meyakini bahwa hanya Allah subhanahu wa ta’ala yang mengetahui perkara gaib.

Termasuk akidah Ahlus Sunnah adalah mencintai para sahabat g, dan meyakini bahwa mereka makhluk yang paling baik setelah para nabi, dan yang paling baik di antara mereka adalah Abu Bakr ash-Shiddiq, kemudian Umar, kemudian Utsman, kemudian Ali g.  Adapun Rafidhah, menyelisihi semua itu. Jadi, tidak mungkin menyatukan keduanya. Sebagaimana tidak mungkin menyatukan antara Yahudi dan Nasrani, musyrikin dan Ahlus Sunnah, maka demikian pula tidak mungkin adanya pendekatan antara Rafidhah dan Ahlus Sunnah, karena perbedaan akidah seperti yang telah dijelaskan di atas.” (Majmu’ul Fatawa Ibnu Baz)


[1] Sesungguhnya, prinsip yang benar dalam menilai antara sesuatu dan yang lain bukan melihat dari sisi kesamaannya. Jika demikian, antara Islam dan Yahudi pun ada kesamaan. Akan tetapi, kita justru melihat kepada perbedaan-perbedaan yang mendasar. Dan antara Sunnah dan Syiah terdapat perbedaan mendasar yang sangat banyak,. Rukun Islam dan dan rukun iman pun sudah berbeda. (-ed.)

[2] Prinsip mengkritik sesuatu yang keliru adalah prinsip yang benar menurut agama dan akal sehat, dan ini disepakati oleh semua orang yang berakal. Sebab, tanpa kritik ini, semua yang salah bisa dianggap benar.

Pernyataan di atas sangat berbahaya dalam bidang apapun, terlebih lagi dalam hal agama. (-ed.)

[3] Ucapan ini jelas keliru. Sebab, rukun-rukun Islam menurut Syiah berbeda dengan rukun-rukun Islam menurut kaum muslimin yang lain. LIhat Rubrik Kajian Utama, Asy Syariah edisi 092, “Syiah dan Imamah”. (-ed.)

Pendekatan Sunni Syiah di Indonesia

Al-Ustadz Abu Hamzah Yusuf

Bright-mixed-colors-bright-colors

Salah satu bentuk gencarnya Syiah mengampanyekan pahamnya sekaligus usaha mereka melegalisasi keyakinannya adalah melalui seruan Taqrib Baina Sunni wa Syi’i (Pendekatan Antara Sunni dan Syi’ah). Sebenarnya gagasan ini adalah misi lama dari Khomeini, dan setelah dua puluh tahun meninggalnya, pendekatan antara Sunni-Syiah terus berjalan.

Sebelumnya, di Mesir upaya taqrib ini telah digagas. Sebuah lembaga yang bernama “Dar al-Taqrib bayna al-Madzahib al-Islamiyah”, didirikan oleh Mahmud Syaltut, Wakil Rektor Universitas al-Azhar pada 1957 M. Lembaga ini adalah sebuah institusi yang berusaha mewujudkan pendekatan dan persaudaraan serta menghilangkan perselisihan dan perpecahan yang ada antara Ahlus Sunnah dan Syiah. Lembaga ini juga memiliki misi memperkuat hubungan antara mazhab-mazhab Islam; sebuah pusat pergerakan yang pada akhirnya menjadi dasar pikiran berdirinya “Majma-e Jahoni-e Taghrib-e Mazaheb-e Islami” (Forum Internal Pendekatan Mazhab-Mazhab Islam) di Iran. Selain Mahmud Syaltut, Muhammad Mustafa Maraghi, Ayatullah Burujerdi, Hasan al-Banna juga menjadi penggagas ide pendekatan antara Sunni-Syiah.

Senin, 5 Nopember 2012, Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar bekerjasama dengan Kedutaan Besar Republik Iran, mengadakan seminar internasional dengan tema “Persatuan Umat Islam Dunia (International Seminar of Islamic World Unity)” di Auditorium Al-Jibra Kampus II UMI.

Yang menjadi narasumber pada seminar tersebut adalah pihak pemerintah diwakili oleh Wakil Menteri Agama Republik Indonesia, Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, MA; Nahdatul Ulama (NU) diwakili oleh mantan ketuanya selama dua periode, Dr. K.H. Hasyim Muzadi; Muhammadiyyah diwakili oleh Ketua Umum Muhammadiyyah saat ini, Dr. Din Syamsuddin; Majelis Ulama Pusat, diwakili oleh sang motor penggerak persaudaraan Sunni-Syiah, Prof. Dr. Umar Shihab, MA; pihak Syiah sendiri diwakili oleh Sekjen Majma’ Taqrib Bayna Madzahib, Muhammad Ali Taskhiri, Maulawi Ishak Madani, dan Dr. Mazaheri. Seminar tersebut juga dihadiri oleh Dubes Iran untuk Indonesia, Mahmoud Farazandeh. Tampil pula Prof. Dr. Ghalib MA, Wakil Koordinator Kopertis Wilayah VIII.

Nama-nama yang tercantum di atas secara umum menyerukan persatuan sebagaimana tema seminar itu sendiri. Dubes Iran dalam sambutannya mengajak para peserta untuk bercermin pada ritual haji. Para hujjaj mengenakan baju dengan warna yang sama, shalat di mesjid yang sama, menghadap pada kiblat yang sama, serta bersama-sama berthawaf di sekeliling Ka’bah. Inilah contoh konkret bahwa pada dasarnya umat Islam itu memiliki kesamaan yang sangat esensial.[1]

Adapun Wamenag RI, Nasaruddin Umar, mengutip sebuah perkataan, “Orang yang sering menyalahkan orang lain adalah orang yang sedang belajar, tetapi orang yang tidak mau menyalahkan orang lain adalah orang yang telah khatam belajar.”

Adapun Prof. Din Syamsuddin, memandang pentingnya persatuan Sunni-Syiah, karena umat Islam saat ini berada dalam kubang keterbelakangan, hanya sibuk menyalahkan antara satu dan yang lain, serta mengklaim hanya dirinyalah yang benar lalu tidak mau menerima kebenaran orang lain. Orang-orang seperti ini, menurut Ketua Muhammadiyyah ini, nanti akan menjadi orang kecele di surga.[2]

Pada Konferensi Islam Sedunia yang berlangsung pada 4—6 Mei 2008 lalu di Teheran, yang dihadiri sekitar 400 orang dari berbagai belahan dunia, Din Syamsuddin yang berbicara pada sesi pertama bersama enam tokoh lainnya, menegaskan bahwa antara Sunni dan Syiah ada perbedaan tetapi hanya pada wilayah cabang (furu’iyat), tidak pada wilayah dasar agama (akidah). Keduanya berpegang pada akidah Islamiah yang sama, walau ada perbedaan derajat penghormatan terhadap Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu. Oleh karena itu, lanjutnya, kedua kelompok harus terus melakukan dialog dan pendekatan. Seandainya tidak dicapai titik temu, perlu dikembangkan sikap tasamuh atau toleransi.

Tokoh lain yang tidak boleh dilupakan, yang begitu semangat menyuarakan pendekatan Sunni-Syiah, adalah Quraish Shihab. Dalam bukunya yang berjudul Sunni-Syiah Bergandengan Tangan, Mungkinkah?, ia mengatakan, “Kesamaan-kesamaan yang terdapat pada dua mazhab ini berlipat ganda dibandingkan dengan perbedaan-perbedaan dan sebab-sebabnya. Perbedaan antara kedua mazhab, di mana pun ditemukan adalah perbedaan cara pandang dan penafsiran, bukan perbedaan dalam hal ushul (prinsip-prinsip dasar keimanan), tidak juga dalam rukun-rukun Islam[3].” (cet. 1 hlm. 265)

Sesuatu yang tidak diragukan lagi bahwa Islam telah merumuskan jalan kepada umatnya untuk membangun persatuan dan kesatuannya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

“Dan berpegangteguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai.” (Ali Imran: 103)

Ayat ini adalah perintah untuk berpegang teguh kepada tali Allah subhanahu wa ta’ala, yaitu al-Qur’an dan as-Sunnah, serta bersatu di atas petunjuk Allah subhanahu wa ta’ala. Tidaklah terjadi perpecahan dan perbedaan melainkan karena jauh dari pemahaman atau keyakinan ini.

Bahkan, Allah subhanahu wa ta’ala telah menjelaskan bahwa al-Qur’an dan as-Sunnah harus dijadikan sandaran oleh umat Islam ketika terjadi perselisihan dan perbedaan cara pandang atau penafsiran. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

“Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah, taatilah Rasul (Muhammad), dan Ulil Amri (pemegang kekuasaan/ulama) di antara kamu. Kemudian, jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, kembalikanlah kepada Allah (al-Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian. Hal itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (an-Nisa: 59)

Akan tetapi, metode ini tentu hanya akan berlaku bagi penganut Islam yang sesungguhnya, yang berjalan di atas petunjuk Allah subhanahu wa ta’ala.

Adapun orang yang mengaku beragama Islam padahal sejatinya musuh Islam, maka wajib dibongkar keadaannya, agar umat Islam tahu tentang permusuhannya terhadap Islam, dan tidak ada celah baginya untuk menempuh metode ini.

Sunni atau Sunnah dan Syiah atau tepatnya Rafidhah, adalah dua kutub yang berlawanan, dua kelompok yang berbeda dan dua ideologi yang bertentangan. Antara keduanya tidak akan ada titik temu.

Mazhab Ahlus Sunnah berdiri di atas keyakinan mengutamakan para sahabat secara umum, dan mengutamakan sahabat Abu Bakr dan Umar atas seluruh umat, serta meyakini bahwa khalifah setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah Abu Bakr.

Begitupun dalam soal tauhid, mazhab mereka adalah beribadah hanya kepada Allah subhanahu wa ta’ala saja tidak ada sekutu bagi-Nya, dan tidak ada yang maksum (terjaga dari kesalahan) selain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tidak ada yang maksum dari umat ini selain beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Adapun Rafidhah, mazhabnya berdiri di atas kebencian kepada para sahabat, bahkan memvonis mereka semua sebagai orang fasik dan kafir, kecuali beberapa orang saja.

Maka dari itu, seruan pendekatan antara Sunni-Syiah, atau Sunnah dan Rafidhah, menyerupai seruan pendekatan antara Nasrani dan Islam. Sudah pasti, kekafiran dan keislaman adalah dua hal yang berlawanan, tidak akan bersama. Demikian pula halnya antara sunnah dan bid’ah.

Kelompok Rafidhah adalah kelompok yang paling jelek di tengah-tengah umat ini. Di samping prinsip-prinsip dasarnya adalah kekufuran, kelompok ini juga diwarnai oleh prinsip-prinsip dasar Mu’tazilah dan Tasawuf, yaitu praktik syirik di kuburan. Kelompok Rafidhah dibangun di atas dasar keyakinan ekstrem kepada ulama dan imam-imamnya. Mereka membangun kubah di atas kuburan-kuburannya dan melakukan ritual haji ke kuburan-kuburannya, persis seperti ritual haji ke Baitullah al-Haram.

Maka dari itu, yang menyuarakan pendekatan antara Sunnah dan Syiah, boleh jadi tidak mengetahui hakikat kedua mazhab itu, atau berpura-pura tidak tahu dan bodoh. Umumnya, orang yang menyuarakan pendekatan Sunni-Syiah itu membuat pengaburan, penipuan, dan pembodohan. Apabila ada dari kalangan Sunni yang melakukannya, mereka adalah orang-orang yang tertipu. Ia mengira bahwa perselisihan dan perbedaan antara Sunnah dan Syiah layaknya perbedaan antara mazhab-mazhab fikih, seperti Hambali, Syafi’i, Maliki, dan Hanafi.

Asy-Syaikh al-Allamah Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahullah berkata, “Pendekatan antara Rafidhah dan Ahlus Sunnah adalah hal yang tidak mungkin karena akidah yang berbeda. Akidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah mentauhidkan Allah subhanahu wa ta’ala dan mengikhlaskan ibadah hanya untuk Allah subhanahu wa ta’ala, tidak ada sesuatu pun yang diibadahi bersama Allah subhanahu wa ta’ala, baik malaikat yang terdekat maupun nabi yang diutus, dan meyakini bahwa hanya Allah subhanahu wa ta’ala yang mengetahui perkara gaib.

Termasuk akidah Ahlus Sunnah adalah mencintai para sahabat g, dan meyakini bahwa mereka makhluk yang paling baik setelah para nabi, dan yang paling baik di antara mereka adalah Abu Bakr ash-Shiddiq, kemudian Umar, kemudian Utsman, kemudian Ali g.  Adapun Rafidhah, menyelisihi semua itu. Jadi, tidak mungkin menyatukan keduanya. Sebagaimana tidak mungkin menyatukan antara Yahudi dan Nasrani, musyrikin dan Ahlus Sunnah, maka demikian pula tidak mungkin adanya pendekatan antara Rafidhah dan Ahlus Sunnah, karena perbedaan akidah seperti yang telah dijelaskan di atas.” (Majmu’ul Fatawa Ibnu Baz)


[1] Sesungguhnya, prinsip yang benar dalam menilai antara sesuatu dan yang lain bukan melihat dari sisi kesamaannya. Jika demikian, antara Islam dan Yahudi pun ada kesamaan. Akan tetapi, kita justru melihat kepada perbedaan-perbedaan yang mendasar. Dan antara Sunnah dan Syiah terdapat perbedaan mendasar yang sangat banyak,. Rukun Islam dan dan rukun iman pun sudah berbeda. (-ed.)

[2] Prinsip mengkritik sesuatu yang keliru adalah prinsip yang benar menurut agama dan akal sehat, dan ini disepakati oleh semua orang yang berakal. Sebab, tanpa kritik ini, semua yang salah bisa dianggap benar.

Pernyataan di atas sangat berbahaya dalam bidang apapun, terlebih lagi dalam hal agama. (-ed.)

[3] Ucapan ini jelas keliru. Sebab, rukun-rukun Islam menurut Syiah berbeda dengan rukun-rukun Islam menurut kaum muslimin yang lain. LIhat Rubrik Kajian Utama, Asy Syariah edisi 092, “Syiah dan Imamah”. (-ed.)

Syiah di Indonesia

Al-Ustadz Abu Hamzah Yusuf

bahaya-syiah

Bermula dari kepulangan Khomeini ke Iran pada 1 Februari 1978 dari pengasingannya di Paris, Khomeini langsung menyerukan penggulingan Perdana Menteri Shapour Bachtiar, yang menjadi kepanjangan tangan Shah Iran. Khomeini seakan-akan menjadi antitesa dari rezim Shah Iran yang disokong oleh Amerika Serikat. Ia seolah menjadi tokoh anti-Amerika dan Barat.

Karena itu, banyak kalangan muda di dunia Islam yang tertindas oleh rezim-rezim yang menjadi kaki tangan Amerika Serikat dan Barat, menemukan bentuknya yang baru, dan sosok Khomeini sepertinya menjadi pahlawan mereka. Kemudian dengan penuh semangat mereka mengidentikkan diri mereka ke dalam revolusi “Islam” Iran ala Khomeini. Inilah awal masuknya pengaruh Iran ke dunia Islam.

Sejatinya, revolusi “Islam” Iran itu tidak lain hanyalah revolusi kaum Syiah yang ingin meluaskan pengaruhnya ke dunia Islam sehingga banyak muncul kekuatan politik baru yang bercorak ideologi Syiah.

Sejarah Syiah di Indonesia memiliki alur yang sangat abu-abu. Banyak sekali klaim-klaim sejarah yang dimotori oleh kaum Syiah sendiri. Sampai hari ini, ada beberapa pihak yang menyimpulkan bahwa Syiah masuk ke Indonesia pada abad ke-12 Masehi, dibawa oleh bangsa Persia. Akan tetapi, hal ini kemudian dianulir oleh Syiah.

Salah seorang tokoh Syiah, Jalaluddin Rakhmat, ketika ditanya tentang kapan kali pertama Syiah masuk Indonesia, menjawab, “Tidak ada yang tahu pasti karena tidak pernah ada sejarah yang mencatatnya. Tapi saya duga, Islam yang pertama kali masuk ke Aceh sekitar abad ke-8 atau waktu Dinasti Abbasiyah. Ketika itu orang Hadramaut dari Arab masuk ke Aceh untuk berdakwah. Tapi mereka tidak menunjukkan dirinya Syiah, melainkan bertaqiyyah (berpura-pura) menjadi pengikut mazhab Syafi’i.” (www.tempo.co)

Demikianlah klaim Jalaluddin Rakhmat. Tentu, ini hanyalah sebuah klaim yang tidak bisa kita terima begitu saja. Sebab, orang-orang Hadramaut lebih dikenal sebagai penganut mazhab Syafi’i dalam hal fikih dan berpemahaman sufi.

Sebenarnya, pada 1976 di Indonesia telah berdiri sebuah yayasan yang menjadi corong Syiah, yaitu Yayasan YAPI (Yayasan Pesantren Islam di Bangil) yang didirikan oleh Husein al-Habsyi. Santri pada pesantren ini kemudian dituntut untuk mengkaji akidah Syiah secara mendalam. Lulusan pesantren ini pun banyak memotori dakwah Syiah di beberapa tempat di Indonesia dengan “visi” terselubung.

Sementara itu, 1979 adalah tahun terjadinya revolusi Iran. Perlu dicatat bahwa sebelum itu, beberapa orang Indonesia sudah ada yang belajar di Qum, Iran. Tempat ini merupakan wadah atau sebagai madrasah Syiah terbesar ke-4 di dunia, setelah Najaf dan Karbala di Irak, dan Mashad di Iran sendiri.

Ditinjau dari perjalanan sejarah, komunitas Syiah di Indonesia dapat dikategorikan dalam tiga generasi, yaitu:

  1. Generasi utama.

Sebelum meletus revolusi Iran pada 1979, Syiah sudah di Indonesia, baik Imamiyah, Zaidiyah, maupun Ismailiyah. Mereka menyimpan keyakinan itu hanya untuk diri mereka sendiri dan untuk keluarga yang sangat terbatas. Karena itu, mereka bersikap sangat ekslusif, tidak atau belum punya semangat menyebarkan ajarannya kepada orang lain.

  1. Generasi kedua.

Generasi ini didominasi oleh kalangan intelektual, kebanyakan berasal dari perguruan tinggi. Dari segi struktur sosial, generasi ini berasal dari kelompok menengah ke atas, mayoritasnya adalah mahasiswa dan akademis perguruan tinggi.

Sebagian referensi menyebutkan bahwa dakwah yang berporos di lingkungan mahasiswa terjadi pada rentang tahun 1970—1980-an. Mereka tertarik dengan pemikiran-pemikiran Syiah. Bersamaan dengan itu mahasiswa pun tertarik pada pemikiran Hasan al-Banna, Abul A’la al-Maududi, Sayyid Quthub, dan Ikhwanul Muslimin.

  1. Generasi ketiga.

Kelompok ini—terutama lulusan Qum di Iran—mulai mempelajari fikih Syiah, bukan lagi sebagai pemikiran. Mereka cenderung berkonflik dengan kelompok lain, bersemangat misionaris yang tinggi dalam menyebarkan ajarannya. dan cenderung memosisikan diri sebagai representasi orisinal tentang paham Syiah dan atau sebagai pemimpin Syiah di Indonesia.

 

Perkembangan Syiah di Indonesia

Setelah berhasilnya Revolusi Iran, berbagai varian tulisan yang berbau Iran mulai didistribusikan. Akibatnya, secara independen akidah Syiah tersiar di belantara nusantara. Tulisan-tulisan tokoh Syiah membanjiri toko-toko buku di Indonesia. Dikupaslah seputar revolusi Iran, Khomeini, dan filsafat Syiah yang miring, oleh penerjemah-penerjemah Indonesia.

  1. Penerbitan Buku

Salah satu penerbit yang kemudian memfasilitasi buku-buku terjemahan Syiah adalah Mizan, yang dipelopori oleh Haidar Bagir, Ali Abdullah, dan Zainal Abidin. Mereka semua merupakan lulusan dari ITB. Mizan sendiri dibentuk pada 7 Maret 1983. Buku yang pertama kali diterbitkan sebanyak 2.000—3.000 eksemplar, berjudul Dialog Sunni-Syiah, Surat Menyurat antara asy-Syaikh al-Misyri al-Maliki, Rektor al-Azhar di Kairo Mesir dan as-Sayyid Syarafuddin al-Musawi al-Amili, Seorang Ulama Besar Syiah. Buku ini kemudian banyak menjadi perhatian saat itu.

Penerbit Syiah ini banyak dibantu oleh ayah Haidar Bagir, yaitu Muhammad al-Bagir al-Habsyi, yang dikenal sebagai tokoh yang mengidolakan Syiah. Pada akhirnya, penerbit Mizan banyak berperan dalam menerbitkan buku-buku pemikiran Syiah pada dekade 1980—1990, sehingga masyarakat pun mencap Mizan sebagai corong Syiah.

Kemudian Syiah menerbitkan sejumlah majalah dan buletin, hingga kini yang tersebar di antaranya; Majalah al-Quds, diterbitkan oleh Kedutaan Besar Iran di Jakarta dalam bahasa Indonesia; Majalah al-Mawaddah, diterbitkan oleh IJABI Cabang Bandung, Jabar; Majalah al-Hikmah, diterbitkan Yayasan al-Muthahhari Bandung; Bulletin al-Jawad dan al-Ghadir, diterbitkan oleh Yayasan al-Jawad Jakarta; Bulletin at-Tanwir, diterbitkan oleh Yayasan al-Muthahhari, dan majalah serta buletin lainnya yang tersebar di Nusantara.

 

  1. Pendirian Yayasan

Pada 3 Oktober 1988, Haidar Bagir, Agus Effendi, Ahmad Tafsir, dan Ahmad Muhajir, serta Jalaludin Rakhmat, mendirikan Yayasan Muthahhari. Jalaludin Rakhmat pada awalnya aktif berbicara seputar pemikiran Hasan al-Banna, Sayyid Quthub, dan Said Hawwa. Akan tetapi, pertemuannya dengan Husein al-Habsyi membuatnya berafiliasi kepada Syiah dan mulai aktif berbicara seputar akidah Syiah.

Orientasi dari Yayasan Muthahhari adalah SMA Muthahhari. Maka dari itu, SMA ini kemudian dikenal sebagai sekolah modern milik Syiah yang pertama di Kota Kembang Bandung.

Hingga 2001, Syiah telah mendirikan 36 yayasan di Indonesia dan terus bertambah sampai sekarang. Di antara yayasan yang telah mereka dirikan ialah Yayasan Fatimah, Condet Jakarta; Yayasan Al-Muntazhar, Jakarta; Yayasan Mulla Shadra, Bogor; YAPI, Bangil; Yayasan Al-Itrah dan Yayasan Al-Hujjah, Jember; Yayasan Madina Ilmu, Bogor; Yayasan Al-Baro’ah Tasikmalaya; Yayasan As-Salam, Majalengka; Yayasan Al-Mujtaba, Purwakarta; Yayasan Rausyan Fikr, Jogya; Yayasan Al-Ishlah, Cirebon; Yayasan Al-Wahdah, Solo; Yayasan Al-Amin, Semarang; Yayasan Safinatunnajah, Wonosobo; Yayasan Pintu Ilmu, Palembang; Yayasan Al-Hakim, Lampung; Yayasan Ulul Albab, Aceh; Yayasan Arridho, Banjarmasin; dan lainnya.

 

  1. Pendirian Pesantren

Selanjutnya, pada 1989, berdiri pesantren Al-Hadi di Pekalongan, Jawa Tengah, yang didirikan oleh Ahmad Baragbah dan Hasan Musawa. Pendirian ini didesak guna menjembatani para pelajar Syiah untuk bisa melanjutkan studi ke Qum, Iran.

Kini diperkirakan ada 7.000-an mahasiswa Indonesia yang dikirim ke Iran untuk belajar, di samping ribuan lainnya yang sudah pulang ke Indonesia dengan mengadakan pengajian ataupun mendirikan yayasan, dan kegiatan lainnya. Di antara tempat pengajian, sekolah, dan pesantren milik Syiah adalah MT. Ar-Riyahi; Pengajian Ummu Abiha, Pondok Indah Jakarta; Pengajian Al-Bathul, Cililitan Jakarta; Majlis Ta’lim Al-Idrus, Purwakarta; Majlis Ta’lim An-Nur, Tangerang; MT Al-Jawad, Tasikmalaya; dan Majlis Ta’lim Al-Alawi, Probolinggo. Dalam kategori pesantren, tercatat Pesantren YAPI, Bangil; Pesantren Al-Hadi, Pekalongan; SMA PLUS MUTHAHHARI, di Bandung dan Jakarta; ICAS (Islamic College for Advanced Studies), Jakarta cabang London; Sekolah Lazuardi dari Pra-TK sampai SMP, Jakarta; Sekolah Tinggi Madina Ilmu, Depok; dan Madrasah Nurul Iman, Sorong.

 

  1. Pendirian Ormas

Pada 1998, turunnya Presiden Soeharto dari tampuk kekuasaan atau era reformasi membawa dampak yang cukup signifikan bagi pemekaran Syiah di Indonesia. Hal itu menjadi jalan mulus untuk menanam bibit Syiah di Indonesia. Bahkan, pada orde Gus Dur, berdirilah untuk pertama kalinya ormas Syiah secara resmi yang bernama IJABI (Ikatan Jama’ah Ahlul Bait Indonesia).

Ormas IJABI tepatnya berdiri pada tahun 2000 di Bandung dengan Jalaludin Rakhmat menjabat Ketua Dewan Syura IJABI dan Dimitri Mahayana sebagai Ketua Dewan Tanfidziyyah. Posisi IJABI kemudian semakin kokoh setelah organisasi tersebut mendapatkan pengakuan legal formal dari Pemerintah Indonesia pada 11 Agustus 2000.

Sampai tahun 2008, anggota yang terdaftar mencapai jumlah 2,5 juta orang di 84 cabang dan 145 subcabang IJABI yang tersebar di 33 provinsi di Indonesia. Pada kongres pertamanya di Bandung, Jalaludin Rakhmat memberikan klaim bahwa organisasi tersebut memiliki tiga setengah juta pengikut di seluruh Indonesia.

Organisasi lainnya yang didirikan Syiah antara lain Ikatan Pemuda Ahlulbait Indonesia (IPABI), Bogor; HPI—Himpunan Pelajar Indonesia—Iran; Shaf Muslimin Indonesia, Cawang; MMPII, Condet; FAHMI (Forum Alumni HMI), Depok; Himpunan Pelajar Indonesia di Republik Iran (ISLAT); Badan Kerja Sama Persatuan Pelajar Indonesia Se-Timur Tengah dan sekitarnya (BKPPI); dan Komunitas Ahlul Bait Indonesia (TAUBAT).

Kemudian pada 2011, di Bandung, kembali jamaah Syiah memprakarsai berdirinya Majelis Sunni Syiah Indonesia (MUHSIN) yang kemudian menjadi wadah sosial antara Sunni dan Syiah dalam versi yang ‘abu-abu’.

Gerakan Menyusup Kaum Pendusta

Al-Ustadz Abulfaruq Ayip Syafruddin

Apel-beda-warna

Berdusta (taqiyah) merupakan keyakinan yang dibenarkan dalam agama Syiah. Keyakinan ini ditanamkan sedemikian rupa kepada para penganut Syiah hingga mereka mengamalkan akidah taqiyah ini. Bagi mereka, taqiyah bukan sebuah dosa. Ia justru dinilai sebagai ibadah. Terlebih dalam situasi yang tepat untuk bertaqiyah.

Sebagai penyeru agama syiah, Jalaluddin Rakhmat, dalam “Ideologi Syi’ah Melacak Latar Belakang Revolusi Islam Di Iran” membenarkan akidah taqiyah ini. Katanya, “Keyakinan ini menyebabkan sepanjang sejarah, kaum Syi’ah menentang setiap kekuatan politik yang tidak sepenuhnya melaksanakan syariat Islam. Sesuai dengan kondisi, penentangan ini boleh bersifat pasif (taqiyah) atau aktif (dengan revolusi seperti yang telah terjadi).”

Pernyataan Jalaluddin Rakhmat ini terkait sikapnya memperjuangkan kekuasaan yang sesuai garis imamah kaum Syiah. Jalaluddin Rakhmat termasuk pengagum revolusi kaum Syiah di Iran yang berhasil menggulingkan kekuasaan Syah Iran, Reza Pahlevi. (Islam Alternatif Ceramah-Ceramah Di Kampus, hlm. 245)

Sejak revolusi kaum Syiah berlangsung di negeri Iran, penyebaran paham agama Syiah mendapat suntikan kekuatan. Poster-poster Khomeini dengan berbagai ukuran merebak di kalangan aktivis pergerakan, tak terkecuali di Indonesia. Demam revolusi mewabah para aktivis pergerakan. Revolusi kaum Syiah di Iran seakan-akan menginspirasi semangat para pemuda Islam di Indonesia untuk menggulingkan kekuasaan yang kala itu masih di tampuk pemerintahan Orde Baru. Kantor Kedutaan Besar Iran di Indonesia menjadi markas penyebaran paham Syiah kala itu. Banyak umat Islam yang berdecak kagum terhadap revolusi ala kaum Syiah Iran tersebut.

Namun, seiring perjalanan waktu, sebagian kaum muslimin di Indonesia mulai tersadar. Revolusi yang mengusung nama Islam yang digembar-gemborkan kaum Syiah ternyata dusta. Bukan Islam yang mereka usung, melainkan akidah Syiah dengan segala kesesatannya yang mereka taburkan ke dalam benak para aktivis pergerakan Islam.

 

Upaya Menyusupkan Paham

Hangatnya revolusi kaum Syiah di Iran benar-benar dimanfaatkan sebaik mungkin untuk menularkan virus sesat kaum Syiah. Beberapa pemuda, di antaranya dari Solo, Pekalongan, dan kota lainnya di Indonesia diberangkatkan ke Iran.

Sejak saat itu, gelombang pengiriman anak muda yang dibius ajaran sesat Syiah terus berlangsung. Dari merekalah kemudian bercokol satu demi satu markas penyebaran Syiah di Indonesia. Lampung, Bandung, Pekalongan, Jepara, Yogyakarta, Bangil, dan beberapa kota lainnya mulai unjuk taring. Mereka suarakan paham Syiah. Walau di antara mereka, kala itu, ada yang masih menyembunyikan kesyiahannya alias bertaqiyah. Ada juga yang lantaran semangat langsung mendendangkan paham Syiah ke tengah-tengah masyarakat.

Generasi awal ini terolong militan. Untuk kalangan intelektual, terkhusus di kampus, sosok Jalaluddin Rakhmat tak bisa diabaikan peranannya. Melalui sekolah menengah yang dirintisnya, Jalaluddin Rakhmat giat melakukan kaderisasi kesyiahan. Berbagai beasiswa ditawarkan kepada tunas muda tersebut untuk melanjutkan studi ke Qum atau perguruan tinggi di kota lainnya di Iran. Seiring dengan itu, di barisan media masa, Surat Kabar Republika pun kerap menjadi corong menyusupkan paham Syiah. Tak jarang, Republika menuai protes lantaran dimanfaatkan oleh segelintir orang yang mengemudikan kebijakannya ke arah pemahaman Syiah.

Melalui media buku, surat kabar, dan lainnya kerap diusung tema-tema mendekatkan antara Sunni-Syiah. Mereka berupaya menghembuskan titik kesamaan antara Sunni-Syiah. Di antaranya, disebutkan bahwa “baik Sunni maupun Syiah sama-sama menyembah Allah,” “Allah dan Rasul Syiah sama dengan Sunni,” dan ungkapan-ungkapan lainnya yang menjadikan umat tertipu. Syubhat (kesamaran) inilah yang bisa menggelincirkan akidah seorang muslim sehingga berubah menjadi seorang Syi’i (penganut agama Syiah).

Padahal, apa yang ada di dalam ajaran Islam sangat jauh berbeda dengan apa yang ada dalam agama Syiah. Perbedaan tersebut justru terkait masalah yang bersifat prinsip. Misal, dalam ajaran Islam, seorang muslim diajarkan untuk tidak mencela seorang pun dari sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

لاَ تَسُبُّوا أَحَدًا مِنْ أَصْحَابِي فَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَوْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا أَدْرَكَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلاَ نَصِيفَهُ

“Janganlah kalian mencela seorang pun dari sahabatku. Sungguh, andai ada seorang dari kalian yang menginfakkan emas semisal Gunung Uhud, yang demikian itu belum bisa menyamai sesuatu yang telah mereka infakkan (walau) satu mud (segenggam) atau seperduanya.” ( HR. al-Bukhari dan Muslim)

Bagaimana bisa dikatakan ada titik dekat antara Islam dan Syiah? Seorang muslim menghormati sahabat yang mulia, Muawiyah radhiallahu ‘anhuma, sedangkan orang Syiah mencelanya, bahkan mengafirkannya.

Bagaimana pula bisa disamakan antara Islam dengan Syiah? Padahal Islam mengajarkan penghormatan terhadap sahabat yang mulia, Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, sedangkan Syiah mencercanya dengan segala penghinaan yang mendalam. Bahkan, mereka menyebut beliau munafik dan murtad.

Islam mengajari umatnya untuk memuliakan Ummul Mukminin Aisyah radhiallahu ‘anha, sedangkan Syiah menuduhnya sebagai pelacur.

Islam mengajari kita untuk memuliakan Abu Bakr ash-Shiddiq dan Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhuma, sementara Syiah mencaci maki dan mengafirkan keduanya, serta menggelari keduanya dengan gelar buruk, “dua berhala Quraisy”.

Padahal para sahabat yang dicerca oleh orang Syiah adalah orang-orang yang meriwayatkan hadits dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lantas, jika mereka bukan orang-orang terpercaya, bagaimana halnya dengan hadits-hadits yang diriwayatkan oleh mereka?

Ini sebuah tipu daya musuh Islam. Sungguh, orang-orang Syiah adalah musuh Islam dan kaum muslimin. Mereka menebarkan berbagai kerusakan ke dalam tubuh umat. Berbagai kerusakan itu mereka susupkan melalui beragam cara.

 

Menyusup ke Kalangan Intelektual dan Masyarakat

Dalam rangka mendekatkan pemahaman Syiah kepada masyarakat, pemerintah Syiah Iran melakukan langkah-langkah pendekatan ke berbagai ormas Islam. Salah satu ormas Islam terbesar di Indonesia berhasil dirangkul.

Untuk hal ini, pemerintah Syiah Iran mengutus pejabat setingkat menteri guna mengunjungi pimpinan tertinggi ormas Islam. Langkah ini pun diikuti para pengurus organisasi Syiah di daerah untuk berdialog dengan pimpinan daerah ormas Islam.

Penyebaran ajaran Syiah makin meruyak ke kalangan intelektual melalui pendirian Iran Corner. Di beberapa perguruan tinggi berlabel Islam, Iran Corner dijadikan semacam syiahisasi berbaju pertukaran budaya. Paham Syiah langsung ditebarkan di jantung kalangan akademisi yang memang rentan disusupi pemahaman agama warna-warni.

Tak kurang dari 12 Iran Corner berhasil didirikan di perguruan-perguruan tinggi berlabel Islam. Universitas Muhammadiyah Malang, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta, UIN Ciputat adalah beberapa perguruan tinggi yang telah berhasil dirangkul oleh negara Syiah Iran. Program ini akan terus bergulir sebagai manifestasi dari tekad kaum Syiah untuk menebar pemahaman Syiah Rafidhahnya di Indonesia.

Sisi lain, berbagai yayasan dan pondok pesantren Syiah pun tak tinggal diam. Mereka menggarap kalangan kaum muslimin menengah ke bawah. Melalui pendekatan kemasyarakatan, mereka mengajak kaum muslimin untuk bersatu. Awal dakwah mereka mengesampingkan perbedaan paham yang ada. Mereka mengusung jargon bahwa tuhan mereka sama, nabi mereka sama, kiblatnya pun sama, serta unsur-unsur yang sama lainnya. Apabila diungkit tentang nikah mut’ah dan kesesatan lainnya, mereka pun akan bertaqiyah. Dusta dalam hal ini adalah ibadah menurut keyakinan mereka.

Beberapa waktu lalu sebagian kaum muslimin sempat dihebohkan dengan munculnya nama Jalaluddin Rakhmat di jajaran caleg salah satu partai politik. Bahkan, rumor dirinya akan menduduki jabatan menteri agama sempat pula merebak. Kemunculan Jalaluddin Rakhmat di barisan partai politik tanpa embel-embel agama ini tentu memiliki target dan tujuan tersendiri.

Seiring maraknya intimidasi terhadap kalangan Syiah di berbagai daerah, tentu Jalaluddin Rakhmat telah berkalkulasi menetapkan pilihannya pada salah satu partai politik. Setidaknya, partai politik yang dijadikan pilihannya memiliki satgas yang tersebar di berbagai daerah. Lebih dari itu, partai politik ini memiliki masa fanatik yang lumayan solid. Dengan figur Jalaluddin Rakhmat, kaum Syiah di daerah bisa menyusup dan berlindung di balik kandang banteng.

Setelah melebur, ke depan akan teropini, bahwa mengganggu orang Syiah sama dengan mengganggu kader partai. Itu berarti akan berhadapan dengan kekuatan satgas dan masa fanatik partai politik satu ini. Implikasi semacam ini tentu yang diharap. Akhirnya, kaum Syiah yang masih minoritas di berbagai daerah bisa terlindungi.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,  “Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah adalah seperti laba-laba yang membuat rumah. Dan sesungguhnya rumah yang paling lemah ialah rumah laba-laba kalau mereka mengetahui.” (al-‘Ankabut: 41)

Lebih dari itu, hal ini diharap bisa memengaruhi para pengikut partai politik satu ini untuk menjadi penganut Syiah atau bersimpati pada kaum Syiah. Nas’alullaha as-salamah.

Menilik perjalanan sejarah, sungguh tidak mengherankan apabila kaum Syiah melakukan gerakan penyusupan. Infiltrasi model Syiah telah ada pendahulunya.

Runtuhnya Daulah Abbasiyah, ratusan ribu kaum muslimin tertumpah darah hingga memerahkan air sungai Dajlah di Baghdad, Irak, serta berikutnya air sungai itu berganti warna biru lantaran kitab-kitab karya ulama dibuang ke sana, merupakan akibat ulah penyusup Syiah. Muhammad bin al-Alqami dan Nashiruddin ath-Thusi, keduanya penganut Syiah Rafidhah yang mendendam kepada Ahlus Sunnah, berhasil menyusup ke pemerintahan Bani Abbasiyah dan menjadi menteri kepercayaan. Dari sanalah keduanya menyusun makar hingga pasukan Tartar pimpinan Hulagu Khan berhasil masuk Baghdad dan melakukan perbuatan keji. (Lihat Asy-Syariah, edisi 101)

Gerakan penetrasi ke berbagai perguruan tinggi, pemerintahan, ormas-ormas Islam merupakan salah satu strategi dakwah kaum Syiah di Indonesia. Melalui strategi dakwah semacam itu, kaum Syiah berupaya mendekatkan ajarannya kepada umat. Dengan demikian, umat tidak merasa asing dengan paham Syiah, dan akan menganggap bahwa Syiah adalah salah satu mazhab sebagaimana mazhab lainnya yang diakui oleh Ahlus Sunnah. Akhirnya, paham Syiah tidak lagi dianggap sebagai paham sempalan yang sesat dan menyesatkan.

 

Syiah Itu Radikal

Radikalisme melekat kuat dalam ajaran Syiah. Para ulama mereka mengajarkan kepada penganutnya bahwa seluruh sahabat telah murtad kecuali tiga orang saja, yaitu Miqdad bin al-Aswad, Abu Dzar al-Ghifari, dan Salman al-Farisi. (al-Kulaini dalam al-Kafi 8/245, lihat Taudhihu an-Naba’ ‘an Mu’assisi asy-Syi’ah Abdullah bin Saba’, hlm. 121)

Sikap radikal ini ditanamkan sedemikian rupa sehingga bagi penganut syiah hanya ada ahlu bait dan sahabat yang disebutkan saja yang patut mereka cintai. Selain yang disebutkan di atas, para sahabat lainnya dianggap manusia tercela.

Radikalisme dalam ajaran Syiah tergambar dari ungkapan yang ditulis Jalaluddin Rakhmat saat mengungkap makna syahadah. Kata Jalaluddin Rakhmat, “Syahadah, atau mencari kematian di dalam jihad fi sabilillah, sebenarnya merupakan salah satu nilai penting dalam perjuangan hidup seorang muslim. Akan tetapi, nilai syahadah di kalangan kaum Syiah merupakan nilai yang relatif lebih meresap daripada yang diresapi oleh kaum Sunni. Ini tercermin dalam slogan-slogan saat terjadinya revolusi Iran, ‘Mihrab Syi’ah adalah mihrab darah,’ ‘Dalam hidup Syiah, tiap hari merupakan Asyura; setiap tempat adalah Karbala,’ atau seperti diucapkan Husein, Imam Syiah yang ketiga, ‘Kematian bagiku hanyalah kebahagiaan (Inni laa aral mauta illas sa’adah)’.” (Islam Alternatif, hlm. 245—246)

Bau amis darah menyengat kuat dalam paham Syiah. Sejarah telah membuktikan betapa kaum Syiah telah menulis perjalanan sejarah umat inidengan darah. Sebuah radikalisme telah dipertontonkan secara vulgar di hadapan umat. Karena itu, kewaspadaan terhadap bahaya laten kaum Syiah juga perlu ditingkatkan.

Sejarah berdarah yang telah ditoreh oleh Syiah jangan sekali-kali dilupakan. Sedikit saja kaum Syiah memiliki kekuatan, niscaya kaum muslimin bisa mendapat perlakuan tidak patut. Dalam keadaan lemah saja kaum Syiah berani mencerca para sahabat yang dimuliakan oleh kaum muslimin. Apalagi ketika kekuatan itu ada pada mereka. Entah, apa yang akan diperbuat mereka terhadap kaum muslimin. Nas’alullaha as-salamah.

Kaum Syiah merasa lebih agung dan tinggi kedudukannya dibanding dengan umat lainnya. Bahkan, para imam Syiah memiliki derajat dan kedudukan yang lebih tinggi dibanding dengan para nabi dan rasul sekalipun. Dalam kitab al-Hukumah al-Islamiyyah (hlm. 47-48), Khomeini mengungkapkan, “Kedudukan para imam kami lebih tinggi daripada kedudukan para nabi dan rasul.”

Maka dari itu, dengan segala paham sesat dan menyesatkan, akankah paham Syiah dibiarkan? Kaum Syiah di Indonesia benar-benar memanfaatkan celah kebebasan beragama dan berkeyakinan yang ada di Indonesia, walau harus mencela para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, walau dengan cara merendahkan martabat para nabi dan rasul, sebagaimana diungkapkan oleh Khomeini. Masihkah mereka layak mendapat tempat di negeri ini?

Siapa pun kita, selama mencintai Islam sebagai agamanya, hendaknya mewaspadai gerakan kaum Syiah ini. Jangan sampai terulang lagi sejarah yang bersimbah darah. Wallahu a’lam.

 

Teror Ala Syiah

Pemerintah Malaysia menyikapi secara tegas pemahaman dan penganut syiah. Pihak pemerintah memberi label kepada komunitas Syiah di Malaysia sebagai gerakan yang mempunyai elemen militan. Bahkan, pernah beberapa orang ditahan unit anti terorisme, dan mereka mengaku sebagai pengikut Syiah.

Sebagai sebuah paham, Syiah memiliki doktrin yang menjadikan pengikutnya bersikap militan dan radikal. Revolusi di Iran yang dilakukan kaum Syiah memberi gambaran betapa radikalisme kaum Syiah sedemikian kuat.

Penyanderaan terhadap staf kedutaan Amerika Serikat di Teheran juga memberi sinyal kuat unsur radikalisme dalam komunitas Syiah. Drama penyanderaan yang berawal 4 Nopember 1979 tersebut berlangsung selama 444 hari. Penyanderaan ini didukung pihak pemerintah Iran, bahkan di bawah kendali langsung Khomeini.

Aksi-aksi teror biasanya didukung oleh pemahaman radikal yang membabi buta. Saat musim haji pun, sekelompok pengikut Syiah memanfaatkannya untuk melakukan demo. Khomeini pernah memerintah jamaah haji Iran untuk melakukan demo terhadap pemerintah Saudi. Tragedi 31 Juli 1987 menewaskan ratusan orang. Sebuah tindakan tak patut dilakukan oleh kaum Syiah di Tanah Haram. Kekhusyukan beribadah sirna akibat radikalisme membabi buta yang dilakukan para pengikut syiah. Sejarah tentu mencatat tragedi menyedihkan ini.

Dalam perjalanan sejarah, aksi kaum Syiah diwarnai merah darah. Tengoklah apa yang terjadi di Suriah. Pemerintahan Syiah membantai sekian banyak manusia. Darah tertumpah di bumi Syam. Sebuah tragedi yang memilukan.

Mewaspadai gerakan kaum Syiah tentu bukan sesuatu yang berlebihan. Sebab, fakta sejarah telah mengungkapkan tentang perbuatan licik kaum Syiah yang berakhir dengan aksi teror dan banjir darah. Katanya, mereka mencintai Husain, cucu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Nyatanya, sejarah mengungkap bahwa kaum Syiahlah yang membunuh Husain di Karbala. Mereka licik. Sejarah pun diputarbalikkan. (Lihat Asy Syariah edisi 101)

Lebih dari itu, mewaspadai gerakan kaum Syiah merupakan upaya membentengi umat dari pemahaman sesat yang dijejalkan ke tengah-tengah umat.

Apabila dusta menjadi inti ajarannya, lantas kebaikan apa yang bisa diperoleh darinya? Apabila mut’ah dilegalkan, lantas kehidupan bermasyarakat yang bagaimana yang hendak dibentuk? Apabila para imam mereka lebih tinggi kedudukannya dibandingkan dengan para nabi dan rasul, lantas agama model apakah yang akan ditanamkan pada umat?

Kerusakan demi kerusakanlah yang akan dituai manakala ajaran Syiah ini menjalar di tubuh umat. Islam justru berlepas diri dari model pemahaman yang diyakini oleh kaum Syiah. Ingatlah, tangan Abdullah bin Saba yang keturunan Yahudi, saat melahirkan agama Syiah ini dilumuri darah.

Maka dari itu, tidak berlebihan apabila umat Islam tetap harus mewaspadai ajaran sesat satu ini. Nas’alullaha as-salamah.

Wallahu a’lam.

Indonesia Waspada Syiah

السلام عليكم ورحمة الله و بركاته

Pascareformasi, aliran-aliran sesat kian menggeliat. Arus keterbukaan yang kebablasan membuat mereka kian berani menampakkan keyakinannya. Lebih-lebih, dengan kedok kebebasan beragama dan berkeyakinan, lembaga-lembaga pengecer “HAM” siap pasang badan membela mereka. Setidaknya adalah apa yang telah kita lihat, kelompok-kelompok ini telah membentuk organisasi resmi untuk mewadahi pengikutnya. Tidak ketinggalan, adalah agama Syiah.

Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia (IJABI) adalah organisasi penganut Syiah yang diklaim telah tersebar di 33 provinsi di Indonesia dengan keanggotaan lebih dari tiga juta orang. Jika klaim ini benar, maka tentunya ini menjadi catatan bagi umat Islam, bahwa Syiah telah demikian berkembang di negara kita.

Ada banyak kondisi mengapa Syiah bisa sedemikian pesat. Selain banyaknya anggapan bahwa Syiah dianggap mazhab kelima, ada ajaran Syiah yang selaras dengan syahwat. Yaitu nikah (baca: zina) mut’ah. Tak heran, jika “dakwah” Syiah getol menyasar ke mahasiswi atau orang-orang yang memiliki anak perempuan. Karena jika objek dakwahnya sudah menjadi Syiah, otomatis pintu untuk melakukan zina mut’ah terbuka lebar. Melalui ajaran ini, yang memberi kemudahan untuk menyalurkan syahwat, membuat para pendakwah Syiah kian mudah menjerat masyarakat.

Pernyataan tokoh-tokoh “Islam” yang mengamini Syiah, menutup mata atas kesesatan Syiah, menyamakannya dengan Islam, atau menyerukan persatuan Islam dan Syiah, juga memberi angin segar bagi tumbuh dan berkembangnya Syiah. Lebih ironi lagi, Jalaludin Rakhmat yang merupakan pentolan Syiah, karena dibesarkan media, telah dianggap sebagai cendekiawan “muslim” di negeri ini.

Melalui tulisan, dakwah Syiah juga sudah lama membanjiri media, lebih-lebih pasca-Revolusi Iran. Tak hanya majalah atau buletin, Mizan, corong Syiah yang kini telah menjadi penerbit terkemuka di negeri ini telah memenuhi toko-toko buku dengan buku-buku berbau Syiah.

Tak cukup di dunia nyata, di dunia maya, Syiah terus menabuh genderang perang. Website atau blog para penganut Syiah Indonesia menjamur dan demikian mudah diakses oleh siapa pun. Ini tentu sangat miris. Apalagi kaderisasi Syiah terus berjalan. Ratusan mahasiswa Indonesia yang belajar di Iran dengan beasiswa pemerintah setempat, tentu menjadi bahaya laten di kemudian hari. Lebih-lebih kader-kader lama sudah tersebar ke mana-mana karena di bidang pendidikan, Syiah sudah lama menancapkan kukunya di tanah air, yakni Pesantren YAPI (Yayasan Pesantren Islam) yang sudah berdiri di Bangil, Jawa Timur, sejak tahun 1970-an.

Perkembangan demi perkembangan Syiah Indonesia ini memang patut diwaspadai. Tidak menutup kemungkinan, na’udzubillah, kalau Syiah telah menjadi besar di negeri kita ini, muslim (Ahlus Sunnah) akan menjadi sasaran kekejaman Syiah, seperti muslim Yaman yang diserang pasukan al-Hutsi dan muslim Irak yang dibantai pasukan al-Mahdi.

Maka dari itu, tidak ada kata lain, terhadap Syiah kita harus terus memasang status waspada.

والسلام عليكم ورحمة الله و بركاته