Nasihat dan Pengarahan Asy-Syaikh Muqbil

Di antara nasihat dan pengarahan beliau rahimahullah adalah sebagai berikut.

  1. Beliau sering menasihatkan agar betul-betul memerhatikan masalah akidah (iman, keyakinan).

Beliau rahimahullah pernah berkata, “Memerhatikan masalah akidah sangat penting. Tanpa akidah, seorang muslim tidak akan mampu berhadapan dengan musuhnya. Bahkan, tidak mungkin dia melakukan suatu tindakan atau aktivitas Islami. Oleh sebab itulah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memulai dakwahnya dari akidah. Hidup Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seluruhnya adalah dakwah kepada akidah dan hukum yang disertai dengan praktik pengalamannya.”

Lanjutkan membaca Nasihat dan Pengarahan Asy-Syaikh Muqbil

Jalan Menuju Kebahagian

Banyak jalan diciptakan manusia untuk meraih kebahagiaan. Sebagian mereka beranggapan bahwa kebahagiaan bisa diraih dengan banyaknya harta, kedudukan yang terpandang, dan popularitas yang pantang surut. Tak heran bila manusia berlomba-lomba mendapatkan itu semua, termasuk dengan menggunakan segala cara. Lantas apakah bila seseorang sudah menjadi kaya raya, terpandang, dan terkenal otomatis menjadi orang yang selalu bahagia? Ternyata tidak! Kalau begitu, bagaimana cara meraih kebahagiaan yang benar?

Lanjutkan membaca Jalan Menuju Kebahagian

Keteladanan Sang Ulama

السلام عليكم ورحمة الله و بركاته

Salah seorang ulama masa kini yang dikenal ahli dalam fikih adalah asy-Syaikh Muhammad bin Shalih bin Muhammad bin Utsaimin al-Wuhaibi at-Tamimi, atau yang lebih dikenal dengan nama asy-Syaikh Ibnu Utsaimin atau asy-Syaikh Utsaimin.  Darah ulama memang seakan sudah mengalir pada dirinya. Kakeknya, asy-Syaikh Abdurrahman bin Sulaiman Ali ad-Damigh t, adalah ulama. Kepada kakeknya, Utsaimin kecil belajar al-Qur’an. Kemudian dia banyak belajar pada ulama-ulama yang lain hingga kepada guru utama beliau yang terkenal sebagai ulama tafsir, yakni asy- Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah.

Menginjak remaja, Utsaimin belajar kepada asy-Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz. Kepada asy-Syaikh bin Baz, beliau banyak menimba ilmu hadits dan fikih. Kesabaran dan keuletan adalah salah satu sifat asy-Syaikh Utsaimin yang menonjol. Saat di Unaizah—tempat kelahiran beliau—, di awal dakwah, beliau hanya diikuti oleh beberapa murid. Namun dengan kesabaran, akhirnya dakwah beliau berkembang hingga memiliki ribuan murid. Kadang meskipun dalam keadaan kurang sehat, asy-Syaikh al-’Utsaimin tetap bersemangat untuk memberikan khutbah Jum’at di al-Jami’ al-Kabir, memimpin doa, dan menemui tamu-tamu untuk menjawab pertanyaan ataupun memberikan penjelasan. Semua ini memang kemauan dari beliau sendiri. Ketika diingatkan untuk istirahat, beliau menjawab, “Istirahat adalah dengan tetap memberikan pelayanan kepada umat.”

Suatu saat, ketika sedang melakukan rekaman untuk acara radio (Nur ‘ala Darb), asy-Syaikh al-Utsaimin tampak diserang rasa kantuk. Kesabaran, sifat toleran, dan semangat beliau untuk segala sesuatu yang di dalamnya terdapat manfaat untuk umat, demikian tampak. Beliau berusaha melawan rasa kantuknya dengan meminta berhenti sebentar dan meminta kabel mikrofon dipanjangkan sehingga beliau bisa menjawab pertanyaan sambil berdiri. Dengan mikrofon kecil yang bisa ditempelkan di baju dengan kabel yang lebih panjang, beliau melanjutkan menjawab pertanyaan sambil berjalan-jalan di sekitar ruangan untuk menghilangkan rasa kantuk. Ini dilakukan beliau sampai proses rekaman selesai.

Kebesaran jiwa dan kesabaran beliau tak pelak mengantarkan beliau menjadi ulama besar yang disegani. Beliau pernah ditawari oleh asy-Syaikh Muhammad bin Ibrahim Alu asy-Syaikh (mufti pertama Kerajaan Arab Saudi) agar menduduki jabatan qadhi (hakim) tinggi, bahkan telah dikeluarkan surat pengangkatan sebagai ketua pengadilan agama di Ahsa, namun asy- Syaikh Utsaimin menolaknya secara halus. Tidak menjadi qadhi, beliau malah diberi amanah yang lebih besar, yakni anggota di Hai’ah Kibarul Ulama (semacam MUI) di Kerajaan Arab Saudi. Bukan semata-mata jabatan, setidaknya ini menjadi bukti akan kapasitas keilmuan beliau. Lebih-lebih, beliau mengiringi keilmuan itu dengan amaliah dan keteladanan.

Sebagai ulama yang teguh dalam memegang tauhid dan sunnah, membuat beliau sering menjadi “sasaran bidik” musuhmusuh dakwah tauhid dan sunnah. Berbagai celaan atau hujatan sering dialamatkan kepada beliau, terutama oleh mereka para pengusung kesyirikan dan pengusung dakwah fanatisme kelompok (partai). Fatwafatwa kontemporer beliau yang tidak sesuai dengan hawa nafsu mereka, dimentahkan. Namun, keteguhan di atas hujah, mampu mementahkan kembali semua tuduhan dan fitnah itu. Umat pun insya Allah akan selalu merindukan sosoknya yang tak hanya sarat ilmu, tetapi juga mampu menerjemahkannya dalam keteladanan.

والسلام عليكم ورحمة الله و بركاته

Akhlak Orang Berilmu

Para ulama adalah orang-orang yang dimuliakan oleh Allah Subhanahu wata’ala karena ilmu mereka, yaitu ilmu tentang kitabullah dan sunnah Rasulullah  Shallallahu ‘alaihi wasallam. Allah Subhanahu wata’ala memuliakan mereka di kehidupan dunia yang fana ini dan kelak di akhirat. Mereka adalah orang-orang yang paling beruntung karena menjadi pewaris para nabi. Hal ini sebagaimana yang diberitakan oleh Rasulullah  Shallallahu ‘alaihi wasallam,

إِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ وَإِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِيْنَارًا وَلاَ دِرْهَمًا وَإِنَّمَا وَرَّثُوا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ

“Sesungguhnya para ulama itu pewaris para nabi. Para nabi tidaklah mewariskan dinar dan dirham (harta), tetapi mewariskan ilmu. Barang siapa berhasil mengambilnya berarti dia telah berhasil mendapatkan keuntungan yang banyak.” (HR . Abu Dawud dan at- Tirmidzi dari Abu ad-Darda radhiyallahu ‘anhu)

Sebagaimana telah diketahui, Rasulullah  Shallallahu ‘alaihi wasallam tidaklah mewariskan selain apa yang telah beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam ajarkan kepada umatnya selama hidupnya, yaitu kitabullah al-Qur’an al-Karim dan sunnah-Nya yang suci. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الْأُمِّيِّينَ رَسُولًا مِّنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِن كَانُوا مِن قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُّبِينٍ

“Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang rasul di antara mereka, yang membacakan ayatayat- Nya kepada mereka, menyucikan mereka, serta mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah (as-Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” (al-Jumu’ah: 2)

Rasulullah  Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

تَرَكْتُ فِيكُمْ أَمْرَيْنِ مَا إِنْ تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا لَنْ تَضِلُّوا بَعْدِي: كِتَابَ اللهِ وَسُنَّتِي

“ Aku telah meninggalkan (mewariskan) dua hal bagi kalian. Apabila berpegang teguh dengan keduanya, niscaya kalian tidak akan tersesat selamalamanya sepeninggalku. (Dua hal itu) adalah kitabullah dan sunnahku.”

Di antara hal-hal termulia yang diwariskan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam kepada para ulama adalah akhlak dan kepribadian yang terpuji. Allah Subhanahu wata’ala memuji Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam karena sifat tersebut dalam firman-Nya,

ن ۚ وَالْقَلَمِ وَمَا يَسْطُرُونَ {} مَا أَنتَ بِنِعْمَةِ رَبِّكَ بِمَجْنُونٍ {} وَإِنَّ لَكَ لَأَجْرًا غَيْرَ مَمْنُونٍ {} وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ

“Dan sesungguhnya kamu benarbenar berbudi pekerti yang agung.” (al-Qalam: 1—4)

Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha menjelaskan bahwa akhlak Rasulullah adalah al-Qur’an, sebagaimana disebutkan oleh sebuah hadits sahih yang diriwayatkan oleh al-Imam Muslim rahimahullah di dalam Shahih-nya. Al-Imam al-‘Allamah asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah menjelaskan,

“Apa yang dikatakan oleh Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha ini adalah sebuah kalimat yang agung. Beliau membimbing kita untuk berakhlak seperti akhlak beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam, yaitu mengikuti al-Qur’an, istiqamah di atas (ajaran) al-Qur’an pada seluruh urusan yang diperintahkan dan yang dilarang. Di samping itu, menjauhi seluruh akhlak jelek yang dicela oleh al-Qur’an dan dicela pula pemiliknya. Ini adalah akhlak yang dipuji dan disanjung oleh al-Qur’an. Orang-orang berilmu, seperti para dai, pendidik, dan penuntut ilmu, seyogianya benar-benar memerhatikan kitabullah dan menerimanya dengan sepenuh hati. Dengan demikian, mereka akan berhasil mengambil akhlak-akhlak yang dicintai oleh Allah l dari al-Qur’an itu. Setelah itu, mereka beristiqamah di atasnya. Akhirnya, mereka menjadi orang-orang yang memiliki akhlak dan manhaj (metodologi) di atasnya (al- Qur’an) di mana pun berada.” (Akhlaqu Ahlil ‘Ilmi, hlm. 1)

Melalui rubrik “Akhlak” edisi kali ini, penulis ingin menukilkan sebagian persaksian seorang ulama besar, asy-Syaikh Abdul Muhsin al-‘Abbad hafizhahullah, tentang akhlak al-Mujaddid al-‘Allamah asy-Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz. Pemaparan beliau ini disampaikan dalam ceramah pada malam Jumat, 6 Safar 1420 H, di masjid Universitas Islam di Madinah. Diharapkan penjelasan ini bisa menjadi pelajaran dan teladan yang baik bagi kita semua. Inti pembahasan yang beliau sampaikan pada kesempatan tersebut adalah sebagai berikut.

Kesabaran dan Kesungguh-Sungguhan dalam Menuntut Ilmu

Asy-Syaikh Abdul Mushin al-‘Abbad berkata, “Beliau, asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah, dilahirkan di kota Riyadh pada 12 Dzulhijjah1330 H. Beliau dibesarkan di dalam lingkungan keluarga yang mulia. Di dalamnya ada orang-orang yang berilmu dan mulia. Sejak kecil beliau memiliki cita-cita yang tinggi, rajin, dan bersemangat mendapatkan ilmu. Bahkan, beliau telah hafal al-Qur’an sebelum baligh. Beliau dahulu memiliki penglihatan yang sempurna. Sakit yang beliau derita pada umur 16 tahun mengakibatkan penglihatan beliau melemah. Indra penglihatan beliau bertambah lemah sampai tidak mampu melihat sama sekali pada umur 20 tahun. Akan tetapi, Allah Subhanahu wata’ala mengaruniai beliau pandangan, cahaya, dan iman di dalam hatinya sehingga beliau tumbuh di atas ilmu, keutamaan, semangat, dan kesungguhsungguhan untuk mencari ilmu.

Mengamalkan Ilmu

Asy-Syaikh Abdul Muhsin al-‘Abbad melanjutkan, “Beliau adalah alim yang besar. Hal ini diketahui oleh orang-orang khusus dan orang-orang umum. Beliau adalah seorang yang alim lagi pendidik. Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah menulis di dalam kitabnya, Fathul Bari, dari Ibnu A’rabi rahimahullah bahwa dia berkata, ‘Seorang alim tidak disebut sebagai rabbani (pendidik) hingga dia mengamalkan ilmunya dan mengajarkannya.’ Sungguh, asy-Syaikh Abdul Aziz adalah orang yang seperti itu. Beliau berilmu, beramal, dan mengajarkan ilmunya sekaligus mengajak kepada mentauhidkan Allah Subhanahu wata’ala dengan bashirah (ilmu dan keyakinan).

Khasyah (Rasa Takut) dan Ibadah

Asy-Syaikh Abdul Muhsin berkata, “Asy-Syaikh Ibnu Baz adalah seorang yang senantiasa mengamalkan ilmunya karena buah ilmu adalah amal. Beliau sering berzikir, berdoa, dan senantiasa berusaha untuk menunaikan ibadah haji hingga 47 kali. Saya (asy-Syaikh Abdul Muhsin al-‘Abbad) mengetahui hal itu tatkala beliau berkunjung ke daerah al-Bahah pada Sya’ban 1400 H. Ketika itu beliau ditanya tentang hal tersebut. Di antara jawabannya, beliau menyebutkan bahwa umurnya saat itu 70 tahun dan telah menunaikan haji 28 kali. Salah seorang hadirin mengabarkan hal itu kepada saya.

Setelah itu beliau setiap tahun menunaikan ibadah haji hingga terhenti pada 1418 H. Jadi, beliau berhaji 28 kali ditambah 19 kali, jumlahnya 47 kali. Termasuk bukti perhatian beliau yang sangat besar terhadap ibadah dan menyibukkan diri dengannya adalah sebuah peristiwa pada 1397 H akhir bulan Dzul Qa’dah. Ketika itu, saya pergi dari Madinah ke Makkah karena sebuah urusan yang terkait dengan pekerjaan saya. Saat itu saya menjadi wakil beliau (beliau menjabat rektor, -red.) di Universitas Islam Madinah. Saya bermalam di rumah beliau. Di rumah beliau ada sebuah tempat yang luas. Di tempat itu beliau berjamjam mondar-mandir sambil membaca al-Qur’an. Beliau ingin menggerakkan badan (sambil membaca al-Qur’an).

Saya juga mengingat sebuah kejadian pada saat beliau masih memimpin Universitas Islam Madinah. Saya bersama beliau masuk ke Masjid Nabawi setelah azan zuhur. Saya berada di samping beliau. Beliau lantas shalat empat rakaat, sedangkan saya shalat dua rakaat. Sudah dimaklumi jumlah shalat rawatib ada 10 rakaat menurut sebuah riwayat, dan menurut riwayat lainnya 12 rakaat. Namun, yang lebih utama dan sempurna adalah 12 rakaat. Tatkala selesai shalat, beliau menoleh kepada saya sambil berkata, ‘Engkau tidak shalat selain dua rakaat saja.’ Saya menjawab, ‘Ya.’ Beliau berkata, ‘Sesungguhnya yang dua belas rakaat itu lebih utama dan lebih sempurna.’ Beliau senantiasa memilih yang lebih utama dan lebih sempurna. Beliau senantiasa memberi peringatan, bimbingan, dan arahan untuk meraih yang paling mulia dan paling sempurna.”

Ketegaran dan Keberanian Berdakwah

Beliau senantiasa berusaha memberi manfaat kepada umat baik dengan ilmu maupun nasihatnya, baik dengan amar ma’ruf maupun nahi munkar, dengan ajakan maupun dakwah ke jalan yang baik, serta membantu mereka dengan harta dan kedudukan beliau. Beliau berdakwah dengan hikmah dan nasihat yang baik, melalui ceramah, nasihat, dan tulisan. Ketika beliau mendapatkan kesalahan-kesalahan yang terdapat di koran atau majalah, beliau akan memperingatkannya. Peringatan beliau itu disebarkan melalui koran-koran ataupun risalah-risalah yang ditulis dan dicetak oleh beliau sendiri.

Ketawadhuan dan Kepedulian

Rumah beliau senantiasa didatangi oleh orang-orang fakir dan orang-orang yang punya berbagai keperluan. Ada yang datang meminta fatwa, ada pula yang meminta bantuan. Mereka semua makan siang atau makan malam bersama beliau. Beliau telah menyiapkan makanan setiap hari dengan jumlah yang cukup bagi tamunya. Musim haji tahun 1419 H. Beliau berhalangan menunaikan ibadah haji karena sakit yang menyebabkan beliau meninggal. Para dokter menyarankan beliau untuk tidak pergi haji. Karena itu, beliau menugaskan beberapa orang untuk membuka pintu rumahnya di Makkah dan tempat kemahnya di Mina. Beliau perintahkan pula untuk membuatkan jamuan guna diberikan kepada orang-orang yang biasa datang untuk mendapatkan faedah dari ilmu beliau dan makan bersama beliau. Beliau pun senantiasa menelepon orang-orang yang diberi tugas tersebut supaya tenang.

Beliau sangat bersemangat membantu orang-orang yang membutuhkan dan membangun masjid-masjid, baik di dalam maupun di luar negeri. Di atas meja khusus beliau di rumahnya, tertumpuk daftar orang-orang dan proposalproposal yang mengharapkan bantuan, baik orang-orang yang fakir maupun para dai, baik dari dalam maupun dari luar negeri. Bukan hanya ini usaha beliau untuk memberi manfaat kepada umat dan semangat beliau membantu mereka. Beliau menulis surat kepada seorang syaikh besar pada tanggal 8-3-1418 H. Beliau tuliskan di dalam surat itu, “Saya senang memberi kabar kepadamu yang sudah sekian tahun saya berusaha banyak membantu orang-orang berhajat, baik di dalam maupun di luar Kerajaan Saudi, membangun masjid-masjid baik di dalam maupun di luar Kerajaan Saudi, menunjuk para dai di luar Kerajaan Saudi, yang itu semua dengan biaya Raja Saudi, para pembantunya, beberapa pejabat, orang-orang yang dermawan, dan pengusaha.” Beliau lalu berkata, “Kekekalan itu hanya milik Allah Subhanahu wata’ala…. Jika saya meninggal, saya berharap engkaulah yang akan menggantikan saya mengurusi tugas-tugas ini dan hendaknya engkau mengharap pahalanya di sisi Allah Subhanahu wata’ala.”

Kasih Sayang terhadap Umat

Beliau sangat penyayang, dermawan, dan menghormati tamu. Tatkala datang kepada beliau tamu yang berasal dari berbagai daerah atau negara, beliau segera mengundangnya untuk makan siang atau makan malam. Beliau juga akan bertanya tentang kabarnya dan kabar ayah ibunya, bertanya tentang sebagian kerabatnya, serta tentang orang-orang yang dikenal sebagai ulama di negeri asal sang tamu. Asy-Syaikh Abdul Muhsin al-‘Abbad hafizhahullah mengisahkan kunjungannya kepada gurunya, asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baaz rahimahullah, “Pada tahun terakhir sebelum beliau meninggal, saya pergi ke Makkah, dua hari sebelum pergi ke Thaif bertepatan dengan hari Kamis, 29 Dzulhijah. Saya dan beberapa anak saya pergi untuk mengunjungi beliau secara khusus. Tatkala kami sampai dan mengucapkan salam, sebagaimana biasanya beliau rahimahullah segera bertanya kepada kami tentang kabar kami dan kabar kedua orang tua kami, sekaligus mengundang makan siang. Saya katakan kepada beliau, ‘Sesungguhnya kami datang dari Madinah dengan tujuan khusus untuk mengunjungi Anda dan makan siang bersama Anda. Setelah itu, kami kembali ke Madinah.” Beliau menjawab, ‘Allah Subhanahu wata’ala berfirman dalam hadits qudsi,

وَجَبَتْ مَحَبَّتِي لِلْمُتَحَابِيْنَ وَالْمُتَزَاوِرِينَ فِيَّ

‘Kecintaan-Ku wajib didapatkan oleh orang-orang yang saling mencintai dan mengunjungi karena Aku’.

Adab Terhadap Para Ulama

“Beliau rahimahullah sangat memerhatikan permasalahan fikih. Beliau sendiri adalah rujukan dalam hal fatwa, baik di dalam maupun di luar Kerajaan Saudi. Beliau adalah seorang mufti (ahli fatwa) dunia. Sebagaimana yang telah saya sebutkan, umat manusia atau kaum muslimin bahkan merujuk kepada beliau dalam berbagai masalah yang diperselisihkan. Beliau rahimahullah sangat teliti menyebutkan sebuah pendapat atau hukum dengan disertai dalilnya dan menjelaskan sisi pendalilannya, baik dalil-dalil wahyu maupun dalil secara logika. Ketika mengkritisi sebuah pendapat yang menurut keyakinan beliau menyelisihi kebenaran, beliau sangat beradab terhadap para ulama rahimahumullah. Beliau berkata, ‘Pendapat ini perlu diteliti, dan yang benar adalah demikian dan demikian.’ Barang siapa menelaah catatan kaki beliau dalam kitab Fathul Bari jilid ketiga, niscaya dia akan mendapatkan hal itu dengan jelas dan terang.

Tatkala beliau mengkritisi al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah atau para ulama yang beliau nukil pendapatnya, beliau mengawali kritikannya dengan ucapan, ‘Pendapat ini butuh diteliti, dan yang benar adalah demikian dan demikian,’ sambil menyebutkan dalilnya. Adapun pendapat yang jelas-jelas salah atau batil yang menyelisihi alhaq dan dalil, beliau akan berkata, ‘Pendapat ini sangat jelas kebatilannya’, ‘Pendapat ini tidak benar’, atau ‘Ini adalah pendapat yang batil’, atau ungkapan yang semisalnya.” Demikianlah sedikit gambaran yang menakjubkan tentang akhlak dan kepribadian sebuah pribadi yang menjadi suri teladan. Mudah-mudahan Allah Subhanahu wata’ala senantiasa melimpahkan hidayah dan taufik kepada kita semua untuk terus-menerus berusaha memperbaiki akhlak dan kepribadian kita sehingga termasuk golongan para hamba-Nya yang beruntung dengan mendapatkan bagian warisan dari Rasulullah  Shallallahu ‘alaihi wasallam. Amin ya Rabbal-alamin.

Ditulis oleh Al-Ustadz Abul Abbas Muhammad Ihsan

Menjaga Kesucian Fitrah Manusia

Akhir perjalanan hidup manusia tidak ada yang bisa mengetahuinya meski saat dilahirkan diciptakan dalam keadaan memiliki fitrah yang sama. Berbagai faktor bisa menjadi penyebab seseorang keluar dari fitrahnya yang suci. Perubahan itu bisa terjadi secara perlahan-lahan bisa pula secara cepat. Salah satu faktor yang kini makin banyak membawa manusia tergelincir ke lembah kehancuran adalah harta. Untuk urusan satu ini, mayoritas manusia kini telah “menunjukkan” watak asli mereka: tidak akan pernah puas, berapa pun harta yang telah dimiliki. Sehingga untuk menghentikan nafsu mereka ini, hanya kematian yang bisa melakukannya.

Lanjutkan membaca Menjaga Kesucian Fitrah Manusia

‘Ulama Al-Jarh Wa At Ta’dil, Sosok Penjaga dan Pembela Agama Allah

Abu Ghalib berkata, “Ketika didatangkan kepala orang-orang Azariqah[1] dan dipancangkan di atas tangga Damaskus, datanglah Abu Umamah al-Bahili radhiallahu ‘anhu. Ketika melihat mereka, air matanya pun mengalir dari kedua pelupuknya.

كِلاَبُ النَّارِ، كِلاَبُ النَّارِ، كِلاَبُ النَّارِ. هَؤُلاَءِ شَرَّ قَتْلَى قُتِلُوْا تَحْتَ أَدِيْم السَّمَاءِ وَخَ قَتْلَى قُتِلُوا تَحْتَ أَدِيْم السَّمَاءِ الَّذِيْنَ قَتَلَهُمْ هَؤُلاَءِ.

“Anjing-anjing neraka, anjing-anjing neraka, anjing-anjing neraka!” kata Abu Umamah. “Mereka ini sejelek-jelek orang yang dibunuh di bawah naungan langit ini. Dan sebaik-baik orang yang terbunuh di bawah naungan langit ini adalah orang-orang yang mereka bunuh,” lanjutnya.

Lanjutkan membaca ‘Ulama Al-Jarh Wa At Ta’dil, Sosok Penjaga dan Pembela Agama Allah

Ilmu Syar’i Hakekat Kebaikannya dan Pemiliknya

Mu’awiyah bin Abi Sufyan radhiallahu ‘anha suatu ketika berkhutbah di atas mimbar seraya berkata, “Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّيْنِ

‘Siapa yang Allah subhanahu wa ta’ala kehendaki kebaikan baginya, Allah subhanahu wa ta’ala akan memfaqihkannya (memahamkan) dalam agama’.”

Lanjutkan membaca Ilmu Syar’i Hakekat Kebaikannya dan Pemiliknya

Siapa Para Ulama

Terlalu banyak dan mudah orang digelari ulama. Di negeri ini saja, mungkin ada jutaan orang bergelar “ulama”. Namun siapakah sesungguhnya ulama itu?

Hingga kini banyak perbedaan dalam mendefinisikan ulama. Sehingga perlu dijelaskan siapa hakekat para ulama itu.

Untuk itu kita akan merujuk kepada penjelasan para ulama Salafus Shalih dan orang-orang yang menelusuri jalan mereka. Kata ulama itu sendiri merupakan bentuk jamak dari kata ‘alim, yang artinya orang berilmu. Untuk mengetahui siapa ulama, kita perlu mengetahui apa yang dimaksud dengan ilmu dalam istilah syariat, karena kata ilmu dalam bahasa yang berlaku sudah sangat meluas. Adapun makna ilmu dalam syariat lebih khusus yaitu mengetahui kandungan Al-Qur’anul Karim, Sunnah Nabawiyah dan ucapan para shahabat dalam menafsiri keduanya dengan mengamalkannya dan menimbulkan khasyah (takut) kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Al-Imam Asy-Syafi’i berkata, “Seluruh ilmu selain Al-Qur’an adalah hal yang menyibukkan kecuali hadits dan fiqh, serta memahami agama. Ilmu adalah yang padanya terdapat haddatsana (telah mengkabarkan kepada kami – yakni ilmu hadits) dan selainnya adalah bisikan-bisikan setan.”

Ibnul Qayyim menyatakan, “Ilmu adalah berkata Allah subhanahu wa ta’ala, berkata Rasul-Nya, berkata para shahabat yang akal sehat tiada menyelisihinya.” (Al-Haqiqatusy-Syar’iyah: 119-120)

Dari penjelasan makna ilmu dalam syariat, maka orang alim atau ulama adalah orang yang menguasai ilmu tersebut, mengamalkannya, dan menumbuhkan rasa takut kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Oleh karenanya dahulu sebagian ulama menyatakan ulama adalah orang yang mengetahui Allah subhanahu wa ta’ala dan mengetahui perintah-Nya. Ia adalah orang yang takut kepada Allah subhanahu wa ta’ala, mengetahui batasan-batasan syariat-Nya dan kewajiban-kewajiban-Nya. Rabi’ bin Anas menyatakan, “Barangsiapa tidak takut kepada Allah bukanlah seorang ulama.”

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

إِنَّمَا يَخۡشَى ٱللَّهَ مِنۡ عِبَادِهِ ٱلۡعُلَمَٰٓؤُاْ

“Sesungguhnya yang takut kepada Allah hanyalah ulama .” (Fathir: 28)

Kesimpulannya, orang-orang yang pantas menjadi rujukan dalam masalah ini adalah yang berilmu tentang kitab Allah subhanahu wa ta’ala dan Sunnah Rasul-Nya serta ucapan para shahabat. Dialah yang berhak berijtihad dalam hal-hal yang baru. (Ibnu Qoyyim, subhanahu wa ta’ala’lam Muwaqqi’in 4/21)

Ibnu Majisyun, salah seorang murid Al-Imam Malik mengatakan, “Dahulu (para ulama) menyatakan, ‘Tidaklah seorang itu menjadi imam dalam hal fiqh sehingga menjadi imam dalam hal Al Qur’an dan Hadits. Dan tidak menjadi imam dalam hal hadits sehingga menjadi imam dalam hal fiqh.” (Jami’ Bayanil ‘Ilm: 2/818)

Al-Imam Asy-Syafi’i menyatakan, “Jika ada sebuah perkara yang musykil (rumit) jangan mengajak musyawarah kecuali kepada orang yang terpercaya dan berilmu tentang Al Kitab dan As Sunnah, ucapan para shahabat, pendapat para ulama’, qiyas dan bahasa Arab.” (Jami’ Bayanil ‘Ilm: 2/818)

Merekalah ulama yang hakiki, bukan sekedar pemikir harakah, orator, mubaligh penceramah, aktivis gerakan dakwah, ahli membaca kitabullah, ahli taqlid dalam madzhab fiqh, dan ulama suu’ (jahat), atau ahlu bid’ah. Tapi ulama hakiki yang istiqamah di atas As-Sunnah. Wallahu a’lam.

Ditulis oleh  Al-Ustadz Qomar Suaidi, Lc.