Berkaca Pada Ulama

Ulama adalah sosok manusia yang memiliki rasa takut kepada Allah Subhanahu wata’ala. Rasa takut yang lekat pada dirinya adalah rasa takut yang lahir dilatari oleh ilmu yang dimilikinya. Ulama adalah sosok manusia yang benar-benar mengetahui dan memahami siapa yang ditakuti. Allah Subhanahu wata’ala menyebutkan hal itu melalui firman-Nya,

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ

“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah ulama.” (Fathir: 28)

Karena itu, ulama adalah sosok hamba Allah Subhanahu wata’ala yang senantiasa menerapkan ilmunya di dalam kehidupan sehari-hari. Tindak-tanduk, perbuatan, tutur kata, dan amaliah hatinya senantiasa bersendi pada apa yang telah difirmankan oleh Allah Subhanahu wata’ala dan disabdakan oleh Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wasallam. Ilmu yang disandangnya tidak semata tecermin dari lisannya. Tak semata dari kefasihannya berbicara. Lebih dari itu, segenap amal perbuatan mencerminkan bahwa sosok hamba Allah Subhanahu wata’ala tersebut adalah seorang alim. Asy-Syaikh Abu Abdillah Muhammad bin Shalih bin Muhammad bin Sulaim bin Abdirrahman al-‘Utsaimin al-Wuhaibi at-Tamimi termasuk salah seorang ulama. Apa yang telah beliau rahimahullah perbuat, memberikan manfaat yang teramat banyak pada umat ini. Lebih dari 90 kitab, baik dalam bentuk risalah maupun yang berjilid, telah beliau rahimahullah wariskan kepada kaum muslimin. Kecintaan beliau rahimahullah terhadap ilmu telah tampak sejak usia pertumbuhan. Al-Qur’an telah dihafal pada usia dini.

Belum menginjak usia 15 tahun, beliau telah menyelesaikan hafalan kitab Zadul Mustaqni’ dan Alfiyah Ibn Malik. Beliau rahimahullah telah mendapat bimbingan dari para ulama sejak usia yang teramat muda. Meski hidup dalam kesederhanaan, beliau tetap bersemangat menuntut ilmu hingga menyelesaikan pendidikan di Universitas al-Imam Muhammad bin Su’ud, Saudi Arabia. Beliau adalah hamba Allah Subhanahu wata’ala yang hidup diselimuti kezuhudan. Meski demikian, sebagai seorang yang mencintai ilmu dan amal, beliau senantiasa menjaga kebersihan dan kesucian diri. Sikap zuhud beliau tergambar saat beliau menerima bantuan dari Raja Khalid bin Abdul Aziz. Setelah diterima, bantuan tersebut beliau wakafkan untuk kepentingan para penuntut ilmu syar’i.

Demikian pula saat diberi sesuatu dalam jumlah besar, beliau langsung mengumumkan bahwa pemberian itu digunakan untuk para penuntut ilmu syar’i. Pemberian itu tidak dijadikan sebagai milik pribadi, tetapi diserahkan kepada umat. Sikap zuhud yang sedemikian agung. Sikap zuhud demikian tertanam pada diri beliau rahimahullah. Sikap itu pula yang beliau ajarkan kepada umat. Kata asy- Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah, “Seseorang wajib menjadi manusia yang zuhud. Dia zuhud dalam urusan dunia dan lebih mencintai urusan akhirat. Apabila Allah Subhanahu wata’ala mengaruniai harta, jadikanlah harta itu sebagai pembantu ketaatan kepada Allah Subhanahu wata’ala. Hendaklah dia jadikan dunia sebatas di tangannya, tidak sampai merasuk ke dalam hati, sehingga dirinya meraup dua keberuntungan, yaitu keberuntungan dunia dan keberuntungan akhirat.” Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَالْعَصْرِ () إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ () إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, mengerjakan amal saleh, saling menasihati supaya menaati kebenaran, dan saling menasihati supaya menetapi kesabaran.” (al-‘Ashr: 1—3)

Zuhud, kata beliau rahimahullah adalah upaya meninggalkan sesuatu yang tidak membawa manfaat bagi kehidupan akhirat. (Syarhu Riyadhi ash-Shalihin I/790 dan 799, asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah) Suatu hari, asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin menyerahkan bantuan dalam jumlah yang besar. “Wahai Abdullah, aku dan engkau di sini hanya berdua. Tak ada yang melihat selain Allah Subhanahu wata’ala. Ambillah dana ini. Bantuan ini murni dari hartaku. Belikan mushaf al-Qur’an dan bagikan mushaf tersebut kepada orang-orang yang membutuhkan di penjara-penjara yang berada di Amerika,” ucap beliau kepada orang yang diamanati membagikan bantuan tersebut. Beliau berpesan, “Engkau yang bertanggung jawab membelikan dan membagikannya. Aku minta kepadamu, demi Allah, agar tidak menceritakan hal ini kepada siapa pun.” (Fath Dzi al-Jalal wa al-Ikram, hlm. 23)

Beliau zuhud, dermawan, suka membantu, dan rendah hati. Sedemikian kokoh ketawadhuan menyelimuti beliau hingga membentuk sikap tak suka memamerkan keadaan diri. Jauh dari publisitas, sebuah sikap terpuji nan luhur yang patut ditiru. Sebagai seorang ulama yang banyak dikenal masyarakat luas, beliau sangat dekat dengan umat. Kemasyhuran namanya tak lantas menjadikan dirinya tinggi hati. Kisah berikut menggambarkan sikap “hangat” beliau terhadap umat. Kejadian ini di kota Makkah sebelum asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah wafat. Setelah asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin menunaikan shalat di Masjidil Haram, Makkah, beliau hendak pergi ke satu tempat. Karena tempat yang dituju cukup jauh, beliau naik taksi. Di tengah perjalanan, sang pengemudi taksi menyapa dan ingin mengenal lebih dekat penumpangnya. Terjadilah obrolan di antara keduanya.

Pengemudi taksi itu bertanya, “Siapakah Anda, wahai syaikh (panggilan akrab untuk orang yang telah tua, red.)?” Jawab asy-Syaikh, “Muhammad bin ‘Utsaimin.” Mendengar nama tersebut, sang pengemudi taksi heran dan bertanya, “Syaikh (Ibnu Utsaimin yang itu)?” Pengemudi taksi menyangka bahwa penumpangnya membohonginya. “Ya, saya asy-Syaikh,” kata asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin menegaskan guna meyakinkannya. Namun, pengemudi taksi itu justru menggeleng-gelengkan kepalanya lantaran heran dan tidak percaya. Dalam keadaan seperti itu, asy-Syaikh berbalik tanya kepada pengemudi taksi, “Siapakah Saudara?” Pengemudi taksi menjawab, “Asy- Syaikh Abdul Aziz bin Baz!” Mendengar jawaban tersebut, asy- Syaikh ‘Utsaimin tertawa. “Engkau asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz?” tanya asy-Syaikh. Sang pengemudi berbalik tanya, “Apakah engkau juga asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin?” Kata asy-Syaikh, “Akan tetapi, asy- Syaikh bin Baz memiliki keterbatasan fisik (buta). Beliau tentu tidak mampu mengemudikan mobil.” (Fath Dzi al-Jalal wa al-Ikram, hlm. 39—40)

Dialog ringan di atas begitu cair mengalir bagaikan air, menggambarkan salah satu akhlak beliau. Kesabaran beliau teramat kental kala menghadapi orang awam. Dengan santun penuh rahmat dan ramah, ungkapan-ungkapan polos itu ditanggapi dengan bijak. Tidak ada ketersinggungan apalagi amarah. Semua dihadapi secara wajar. Saat menjelaskan firman Allah Subhanahu wata’ala,

قُلْ هَٰذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ ۚ عَلَىٰ بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي ۖ وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ

Katakanlah, “Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku “Wahai  mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujah yang nyata. Mahasuci Allah, dan aku tidak termasuk orang-orang yang musyrik.” (Yusuf: 108)

Beliau sebutkan bahwa ‘ala bashirah bermakna ‘ilmu’. Dakwah ini harus diliputi keikhlasan dan ilmu. Sungguh, kebanyakan dakwah ini hancur berderai lantaran hampa dari keikhlasan dan ilmu. Yang dimaksud ‘ala bashirah adalah ilmu, bukan semata ilmu syar’i. Namun, meliputi pula ilmu tentang mad’u (orang yang didakwahi). Ilmu yang mengantarkan pada keberhasilan meraih yang dituju, yaitu hikmah. Karena itulah, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda saat hendak mengutus Abu Musa al- Asy’ari dan Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhuma ke negeri Yaman,

إِنَّكَ تَأْتِي قَوْمًا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ

“Sesungguhnya engkau akan mendatangi satu kaum dari kalangan ahli kitab.” (HR. al-Bukhari, Kitab al-Maghazi dan HR. Muslim, Kitab al-Iman, dari Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma. Lihat kitab karya beliau al-Qaulul Mufid ‘ala Kitabi at-Tauhid, hlm. 85)

Keutamaan asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin terekam pula dari kebiasaannya dalam beribadah. Beliau rahimahullah senantiasa menegakkan ibadah yang bersifat fardhu, sunnah, dan ketaatan lainnya. Hal itu tergambar di antaranya dari amalan haji yang dilakukannya setiap tahun dalam jangka waktu yang panjang. Demikian pula umrah, beliau selalu berumrah saat Ramadhan atau waktu lainnya saat musim liburan. Bagaimana dengan shalat malam? Tentu, shalat malam selalu beliau tunaikan walau saat kelelahan mendera. Asy- Syaikh Hamd al-‘Utsman, salah seorang murid beliau bertutur, bahwa saat safar bersama asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin ke Riyadh, mereka menyempatkan singgah ke Jeddah untuk selanjutnya menunaikan umrah di Makkah (sekadar diketahui, jarak Riyadh-Jeddah sekitar 851 km, dan Jeddah-Makkah sekitar 66 km, -red.).

Setelah selesai menunaikan umrah, keadaan fisik diliputi kelelahan yang sangat sehingga mereka tertidur pulas. Namun, tengah malam asy-Syaikh Hamd al-‘Utsman terbangun karena ada keperluan ke kamar kecil. Saat itulah beliau melihat asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin tengah menegakkan shalat malam. Melihat peristiwa tersebut, asy- Syaikh Hamd al-Utsman berkata, “Subhanallah, saya masih muda, tetapi justru tidur nyenyak. Sementara itu, beliau adalah orang yang telah lanjut usia. Dalam keadaan fisik kepayahan, beliau tetap menegakkan shalat malam.” Apa yang dilakukan oleh asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin malam itu memberi dorongan kepada teman seperjalanannya untuk menunaikan shalat malam. Dia pun bersegera mengambil air wudhu, lantas berusaha untuk shalat malam walau kantuk hebat menerpanya. (Fath Dzi al-Jalal wa al-Ikram, hlm. 29—30)

Prinsip untuk senantiasa mengerjakan amal kebaikan secara berkesinambungan termasuk nasihat emas beliau rahimahullah. Kata asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, “Hendaklah seseorang senantiasa mengerjakan kebaikan.” (Syarhu Riyadhi as-Shalihin, hlm. 403) Dari Abdullah bin Amr bin al-‘Ash radhiyallahu ‘anhuma, dia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepadaku,

يَا عَبْدَ اللهِ، لاَ تَكُنْ مِثْلَ فُلَانٍ، كَانَ يَقُومُ اللَّيْلَ فَتَرَكَ قِيَامَ اللَّيْلِ

‘Wahai Abdullah, janganlah engkau seperti fulan. Dahulu ia senantiasa shalat malam, lantas ia tinggalkan kebiasaannya’.” (HR. al-Bukhari no. 1152 dan Muslim no. 185)

Yang diperbuat oleh asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin adalah dakwah berupa keteladanan. Beliau memberi contoh dengan landasan ikhlas hanya karena Allah Subhanahu wata’ala. Keteladanan beliau, dengan izin Allah Subhanahu wata’ala, telah mampu menyadarkan hamba Allah Subhanahu wata’ala yang terlelap. Membangunkan jiwa yang tertidur untuk kemudian bangkit menegakkan ketaatan. Betapa dalam dampak keteladanan pada umat. Tak bisa dibayangkan apa yang akan terjadi dalam dakwah ini manakala para pendakwah hanya mampu menyampaikan pada tataran lisan atau yang diserukan oleh lisan tidak diikuti oleh amalan. Tak ada kesesuaian antara kata dan amal nyata. Padahal Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ () كَبُرَ مَقْتًا عِندَ اللَّهِ أَن تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” (ash-Shaf: 2—3)

Dalam menyikapi ahlul bid’ah, asy- Syaikh bin ‘Utsaimin memiliki pandangan bahwa ahlul bid’ah wajib di-hajr. Makna hajr menurut beliau adalah menjauhi mereka, tidak mencintai, tidak berloyalitas, tidak memberi salam, mengunjungi, menengok mereka, dan lainnya. Menghajr ahlul bid’ah wajib berdasarkan firman Allah Subhanahu wata’ala,

لَّا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ

“Kamu tidak akan mendapati satu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhir, saling menyayangi dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya.” (al-Mujadilah: 22)

Kepada yang bukan ahli bid’ah pun, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah menerapkan hajr terhadap sahabat Ka’b bin Malik radhiyallahu ‘anhu dan dua orang temannya tatkala mereka enggan mengikuti Perang Tabuk. (HR. al-Bukhari no. 4418 dan HR. Muslim no. 2869 dan no. 53) Termasuk dalam kerangka hajr pula, asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin berpandangan bahwa seseorang dilarang menelaah bukubuku ahlul bid’ah. Sebab, dikhawatirkan akan terpengaruh dengan buku-buku tersebut. Terlarang pula menyebarkan dan mengedarkan buku ahlul bid’ah. Akan tetapi, manakala dibaca untuk dibantah dan diluruskan ke arah pemahaman yang benar, selama pelakunya mampu, tidak mengapa buku tersebut diteliti. Sebab, bagaimana pun, membantah kebid’ahan itu adalah kewajiban. (Lum’atul I’tiqad al-Hadi ila Sabili ar-Rasyad, disyarah oleh asy-Syaikh Ibn ‘Utsaimin, hlm. 157—158)

Sikap ini diajarkan kepada umat, tak lain demi menjaga umat dari berbagai penyimpangan dalam memahami Islam. Beliau menghendaki agar umat berada di atas pemahaman salafus shalih, pemahaman yang telah diajarkan dan diamalkan oleh para imam terdahulu. Inilah tugas ulama. Kini, beliau telah tiada di tengah umat. Namun, karya-karya beliau tetap menjadi rujukan. Karya-karya beliau memberi pencerahan terhadap umat, mengalir tiada henti. Sudah sepantasnya apabila kita berkaca pada ulama. Wallahu a’lam.

Ditulis oleh Al-Ustadz Abulfaruq Ayip Syafruddin

Asy Syaikh Ibnu Utsaimin Pelita Di Tengah Umat

Wafatnya Ulama,Musibah Bagi Umat

Diriwayatkan dari Salman radhiyallahu ‘anhu, “Manusia senantiasa dalam kebaikan selama generasi awal masih ada sehingga generasi berikutnya belajar darinya. Jika generasi pertama mati sebelum yang berikutnya belajar, manusia akan hancur.” (Riwayat ad-Darimi dalam Sunan-nya) Saat Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu meninggal, Ibnu Abbas c berkata, “Demikianlah hilangnya ilmu. Pada hari ini ilmu yang banyak telah dikubur.” (Riwayat al-Hakim dalam kitab al-Mustadrak) Abu ad-Darda’ radhiyallahu ‘anhu pernah berkata, “Pelajarilah ilmu oleh kalian sebelum ilmu itu dicabut. Dicabutnya itu dengan diwafatkannya para pemiliknya….” sampai beliau katakan, “Mengapa aku melihat kalian kenyang dengan makanan tetapi lapar dari ilmu?” (Jami Bayanil Ilmi wa Fadhlihi)

Al-Hasan rahimahullah mengatakan, “Wafatnya seorang ulama adalah celah dalam Islam yang tidak dapat ditutup oleh apa pun, selama malam dan siang silih berganti.” Ayyub as-Sikhtiani t mengatakan, “Sungguh, apabila sampai kepadaku berita kematian seorang Ahlus Sunnah, seolah-olah satu bagian tubuhku terlepas.” (Riwayat Abu Nu’aim dalam al-Hilyah) Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan, “Alam ini menjadi baik dengan adanya ulama. Apabila tidak ada mereka, tentu manusia ibarat hewan ternak, bahkan lebih jelek. Maka dari itu, kematian seorang ulama adalah musibah, tidak ada yang menambalnya melainkan ada penggantinya yang lain. Demikian pula para ulama, merekalah yang mengatur manusia, negeri-negeri, dan budakbudak. Jadi, kematian mereka berarti kerusakan tatanan alam.

Oleh karena itu, Allah Subhanahu wata’ala senantiasa menancapkan para ulama dalam agama ini, yang belakangan menggantikan yang terdahulu. Dengan mereka, Allah Subhanahu wata’ala menjaga agama-Nya, kitab-Nya, dan para hamba-Nya. Renungkanlah, jika di alam ini ada seseorang yang mengungguli yang lain di dunia ini dalam hal kecukupan (harta) dan kedermawanan. Sementara itu, orang-orang sangat membutuhkannya dan dia selalu memberikan apa yang dia mampu. Lantas dia mati dan bantuan kepada mereka berhenti. Musibah kematian seorang ulama jauh lebih besar daripada kematian orang semacam itu. Padahal kematian orang yang semacam ini saja akan menyebabkan kematian banyak orang.” (Miftah Daris Sa’adah, dikutip dari buku asy-Syaikh Ibnu Utsaimin minal Ulama ar-Rabbaniyyin)

 

 Nama dan Nasab Beliau

Beliau bernama Muhammad bin Shalih bin Sulaiman bin Abdurahman bin Utsman bin Abdullah bin Abdurrahman bin Ahmad bin Muqbil, dari keluarga besar al-Wahbah dari bani Tamim. Kakek beliau yang keempat, yaitu Utsman, biasa dipanggil dengan sebutan Utsaimin. Akhirnya, keluarga tersebut populer dengan sebutan al-Utsaimin. Jadi, Utsaimin terambil dari nama Utsman. Beliau sendiri lebih dikenal sebagai Ibnu Utsaimin, anak Utsaimin. Maksudnya, anak keturunan Utsaimin. Dalam adat Arab penasaban langsung kepada kakek dan melewati ayah adalah hal yang biasa. Kuniah beliau ialah Abu Abdillah.

 

Tumbuh Kembang & Masa Belajar

Beliau terlahir di kota Unaizah, sebuah kota setingkat kabupaten (muhafazhah) yang termasuk dalam wilayah manthiqah (setingkat provinsi) al-Qashim. Unaizah termasuk kota tertua di manthiqah al- Qashim, kota yang sangat bersejarah bagi Kerajaan Saudi Arabia. Letaknya juga memiliki posisi strategis, yakni di tengah-tengah wilayah Kerajaan Saudi Arabia, tepatnya di sebelah timur laut pegunungan Najed. Beliau lahir pada 27 Ramadhan 1247 H. Beliau tumbuh dalam keluarga yang sederhana. Ayahnya bekerja sebagai pedagang yang menjalankan bisnisnya antara Unaizah dan Riyadh, lalu pekerjaannya menetap di Unaizah. Sebelum wafatnya, ayah beliau bekerja di Darul Aitam di Unaizah. Pernah asy-Syaikh Ibnu Utsaimin ditanya, “Apakah Anda berdagang di samping kegiatan belajar Anda?” Beliau menjawab, “Tidak, karena ayah dalam keadaan ekonomi yang lancar di Riyadh.” Suatu saat, beliau menyebutkan kondisi ruang belajarnya, “Sebuah kamar yang terbangun dari tanah dan dapat melihat langsung ke kandang sapi.” Di samping itu, keluarga tersebut dikenal dengan keistiqamahan dan perhatian mereka terhadap urusan agama. Keluarga besar Utsaimin adalah bibi asy-Syaikh Abdurahman as-Sa’di rahimahullah. Kakek beliau dari pihak ibu, yaitu asy-Syaikh Abdurahman bin Sulaiman al-Damigh t, adalah seorang guru dan imam masjid al-Khazirah di kota Unaizah.

Oleh karena itu, ayah asy-Syaikh Ibnu Utsaimin memercayakan pendidikan anaknya kepada sang kakek. Jadi, beliau terhitung sebagai guru pertama asy- Syaikh Ibnu Utsaimin. Dari sang kakek ini, beliau belajar al-Qur’an sampai selesai menghafalnya dalam usia yang sangat muda, sebelum genap 14 tahun. Dari beliau pula, Ibnu Utsaimin kecil belajar beberapa bidang ilmu yang lain, seperti menulis, berhitung, dan dasar-dasar bahasa. Semua itu terjadi sebelum beliau melanjutkan thalabul ilmi (menuntut ilmu) di madrasah asy-Syaikh Ali bin Abdullah asy-Syuhaitan. Allah Subhanahu wata’ala mengaruniai beliau kecerdasan, kesucian fitrah, dan semangat yang tinggi untuk mendapatkan ilmu dari para ahlinya. Dengan itu, ayahnya pun mengarahkan beliau untuk konsentrasi belajar agama. Beliau pun belajar langsung dari seorang ulama besar di negeri itu, yakni asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di, penulis kitab Taisir al-Karimir-rahman fi Tafsiri Kalamil- Mannan dan berbagai karya lain yang agung lagi bermanfaat.

Kegiatan belajar mengajar asy-Syaikh Abdurahman as-Sa’di dilakukan di masjid al-Jami’ al-Kabir di kota Unaizah dan perpustakaan. Beliau memercayakan pengajaran anak-anak kepada dua orang muridnya: asy-Syaikh Ali ash-Shalihi dan asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Aziz al-Muthawwa’. Dari keduanya, asy-Syaikh Utsaimin belajar kitab Mukhtashar al-Aqidah al-Wasithiyyah dan Minhajus Salikin— keduanya karya as-Sa’di—, kitab al- Ajurrumiyah dan al-Alfiyah dalam bidang nahwu, serta ilmu sharaf. Setelah itu, beliau mulai duduk di majelis asy-Syaikh Abdurrahman as- Sa’di dan belajar dari beliau beberapa bidang ilmu, di antaranya: tafsir, hadits, tauhid, fikih, ushul fiqih, sirah nabawiah, faraidh (ilmu waris), dan nahwu.

Beliau pun menghafal matan-matan dalam bidang-bidang ilmu tersebut. As-Sa’di dianggap sebagai syaikh besar pertama yang berpengaruh pada manhaj (metode) beliau dalam hal mengikuti dalil dan tata cara mengajar. Beliau juga sempat belajar dari asy-Syaikh Abdurrahman bin Ali bin ‘Udan dalam bidang faraidh, yaitu saat asy-Syaikh Abdurrahman bin Ali bin ‘Udan menjabat sebagai qadhi (hakim) di Unaizah. Selain itu, beliau juga pernah menimba ilmu nahwu dan balaghah dari asy-Syaikh Abdurrazzaq Afifi—kelak menjadi wakil mufti di masa asy-Syaikh bin Bazyaitu saat asy-Syaikh Abdurrazzaq berada di kota Unaizah sebagai guru. Ketika dibuka al-ma’hadul ilmi— jenjang setara SMA—di kota Riyadh, beliau melanjutkan thalabul ilmi di sana pada 1372 H, tentu setelah mendapat izin dari sang guru, asy-Syaikh Abdurahman as-Sa’di. Beliau berkisah, “Aku masuk ke al-ma’had al-ilmi langsung di kelas dua. Aku melanjutkan belajar di sana setelah bermusyawarah dengan asy- Syaikh Ali ash-Shalihi dan setelah memohon izin dari guruku, asy-Syaikh Abdurahman as-Sa’di rahimahullah. Saat itu, al-ma’had al-ilmi dibagi menjadi dua, bagian umum dan bagian khusus. Aku saat itu berada di bagian khusus. Saat itu juga, bagi siapa yang ingin melompat (ke jenjang berikutnya), dipersilakan. Artinya, dia diperbolehkan mempelajari kurikulum tahun berikutnya pada saat liburan, lalu mengikuti ujian pada awal tahun berikutnya. Apabila lulus, dia bisa mengikuti kelas berikutnya lagi.

Dengan demikian, aku mempersingkat waktu. Setelah itu, aku melanjutkan di jurusan syariah di Riyadh dengan sistem intisab, sampai lulus.” Dengan demikian, beliau belajar di kelas dua, lalu pada liburan musim panas mempelajari kurikulum kelas tiga, kemudian diuji pada awal tahun, dan beliau lulus. Kemudian pada tahun ajaran baru, beliau sudah masuk ke kelas empat. Keberadaan beliau di al-ma’had al-ilmi memberikan kesempatan bagi beliau untuk menimba ilmu dari sebagian ulama terkemuka yang mengajar di sana, di antaranya asy-Syaikh Muhammad al-Amin asy-Syinqithi, penulis kitab tafsir Adhwa’ul Bayan. Beliau mengisahkan perjumpaan awalnya dengan asy – Syaikh Muhammad al-Amin asy-Syinqithi yang berpenampilan tidak meyakinkan. Ibnu Utsaimin bergumam, “Aku tinggalkan guruku, as-Sa’di, lalu aku duduk di depan Arab badui ini?” Akan tetapi, ketika beliau memulai pelajaran, bertaburanlah mutiara-mutiara faedah ilmiah dari lautan ilmunya yang dalam. Saat itulah kami tahu, kami sedang berada di hadapan salah seorang dari ulama besar dan jantan. Kami pun dapat mengambil manfaat dari ilmu, penampilan, akhlak, kezuhudan, dan sifat wara’ beliau.”

Beliau pun bisa belajar kepada asy- Syaikh Abdul Aziz bin Nashir ar-Rasyid, penulis at-Tanbihat as-Saniyyah Syarah al-Aqidah al-Washitiyyah, yang juga seorang qadhi, dan seorang syaikh ahli hadits, Abdurrahman al-Ifriqi. Di saat itu pula beliau berkesempatan menjalin hubungan dengan asy-Syaikh bin Baz sehingga beliau berkesempatan besar menimba ilmu dari beliau di masjid. Beliau pun belajar dari asy-Syaikh bin Baz tentang kitab Shahih al-Bukhari, bukubuku karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, kitab-kitab hadits dan pendapat-pendapat para ahli fikih serta perbandingan mazhab. Karena begitu besarnya pengaruh asy-Syaikh bin Baz terhadap diri beliau, asy-Syaikh bin Baz dianggap sebagai syaikh besar kedua yang berpengaruh terhadap beliau dalam bidang ilmu agama dan manhaj. Beliau membenarkan hal itu, “Sungguh, aku sangat terpengaruh oleh asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz hafizhahullah dalam hal perhatian terhadap hadits, akhlak, dan kelapangan dadanya terhadap orang lain.” Setelah itu, beliau pulang ke Unaizah dan kembali berguru dengan syaikh beliau, asy-Syaikh Abdurahman as- Sa’di. Di saat yang sama dibuka al- Ma’hadul Ilmi di Unaizah pada 1373 H. Beliau ikut mengajar di ma’had tersebut. Di saat yang sama pula beliau melanjutkan belajar di jurusan syariah di Fakultas Syariah di Riyadh—kelak menjadi bagian dari Universitas Islam al-Imam Muhammad bin Suud—dengan sistem intisab, semacam sistem kejar paket, yakni hanya mengikuti ujian saat diadakannya ujian, sampai beliau lulus dan mendapatkan ijazah aliyah.

Terjun Berdakwah

Sang guru, asy-Syaikh Abdurrahman as-Sa’di rahimahullah, menangkap kecerdasan beliau dan perolehan yang besar dalam mencari ilmu, sehingga beliau memotivasi sang murid, Ibnu Utsaimin, untuk mulai mengajar. Beliau pun mulai mengajar di masjid al-Jami’ al-Kabir di Unaizah pada 1370 H, walaupun beliau masih berstatus sebagai murid as-Sa’di, di masjid yang sama. Setelah beliau lulus dari al-Ma’hadul Ilmi Riyadh, beliau ditunjuk menjadi pengajar di al-Ma’hadul Ilmi di Unaizah pada 1374 H. Pekerjaan ini terus berlangsung sampai 1398 H. Saat itulah beliau pindah mengajar di Fakultas Syariah dan Ushuluddin di kota al-Qashim, cabang Universitas Islam Muhammad bin Su’ud. Beliau menjadi dosen di universitas tersebut sampai wafat. Pada 1376 H, sang guru besar, asy-Syaikh Abdurrahman as-Sa’di rahimahullah, meninggal. Setelah itu, beberapa syaikh dicalonkan untuk menggantikan asy- Syaikh as-Sa’di mengimami masjid. Namun, hal itu berjalan sangat singkat. Akhirnya, ditunjuklah beliau sebagai pengganti asy-Syaikh di masjid tersebut, sebagai imam dan khatibnya. Selain itu, beliau juga menggantikan posisi as-Sa’di sebagai pengajar di perpustakaan al-Wathaniyah yang secara struktural masuk ke dalam kepengurusan masjid. Perpustakaan tersebut didirikan oleh asy-Syaikh as-Sa’di pada 1359 H. Ketika para penuntut ilmu semakin banyak, perpustakaan tidak lagi menampung mereka. Beliau memindahkan pelajarannya di masjid sehingga terkumpullah banyak penuntut ilmu. Jumlah mereka semakin banyak dengan datangnya para penuntut ilmu dari dalam Kerajaan Saudi Arabia dan mancanegara. Duduklah ratusan orang di majelis ilmu tersebut.

Pelajarannya berlangsung pada waktu pagi, setelah asar, dan setelah maghrib. Pelajaran setelah maghrib terus berlangsung dan tidak pernah berhenti sepanjang tahun, kecuali saat beliau safar. Keistimewaan dari pelajaran beliau adalah pembekalan ilmu yang serius, bukan sekadar mendengar uraian mauizhah. Asy-Syaikh al-Abbad mengatakan, “Total masa mengajar beliau di masjid al-Jami’ al-Kabir ialah 45 tahun. Adapun total masa mengajar beliau di al-ma’hadul ilmi dan universitas ialah 47 tahun.” Di sela-sela kegiatan beliau, ketika datang bulan Ramadhan, beliau menyempatkan diri untuk menghabiskan mayoritas waktu Ramadhan di Makkah, yaitu mengajar di Masjidil Haram. Asy-Syaikh Abdul Muhsin al-Abbad berkisah, “Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin sering pergi ke Makkah pada beberapa kesempatan yang berbeda dan mengajar di Masjidil Haram, lebih-lebih pada bulan Ramadhan. Di antara kebiasaan beliau setelah berlalu sebagian dari bulan Ramadhan, beliau pergi ke Makkah dan mengajar di sana. Beliau banyak dikerumuni oleh para penuntut ilmu yang bersemangat mengambil ilmu beliau secara langsung. Apabila datang ke Madinah untuk memberikan ceramah atau keperluan yang lain, beliau juga mengajar di Masjid Nabawi. Para penuntut ilmu pun senang dengan kehadiran beliau di Madinah. Mereka menghadiri pelajaran dan mengambil faedah dari ilmu beliau. Saya sendiri adalah salah seorang pengajar di Masjid Nabawi, maka para penuntut ilmu meminta saya untuk meliburkan pelajaran saya supaya mereka bisa mengikuti pelajaran beliau.

Saya pun meliburkan pelajaran saya agar para pelajar dapat mengambil faedah dari beliau. Saya sendiri terkadang ikut menghadiri pelajaran beliau bersama para penuntut ilmu tersebut.” Beliau mulai mengajar di al-Masjidil Haram dalam kesempatan-kesempatan tersebut sejak 1402 H sampai meninggal, yaitu bulan Ramadhan yang Syawwalnya beliau meninggal dunia. Saat itu kaum muslimin hanya mendengar suaranya karena beliau dalam keadaan sakit dan berceramah dalam ruangan tertutup. Penulis pun mengetahui hal itu hanya dari suaranya. Saat penulis mengikuti pelajaranpelajaran beliau—alhamdulillah—baik di Madinah maupun di Masjidil Haram, ada ciri khas yang jarang penulis dapati pada ulama yang lain:

1. Majelis yang sangat hidup

Pelajaran beliau tidak terlepas dari pertanyaan-pertanyaan beliau kepada pada pendengar di sela-sela pelajaran. Hal ini tentu menggugah konsentrasi para penunut ilmu terhadap pelajaran yang beliau sampaikan dan membuat mereka bersiap menjadi sasaran pertanyaan.

2. Membahas sebagian ayat yang dibaca oleh imam dalam shalat.

Sebagaimana diketahui, di Masjidil Haram beliau memberikan pelajaran usai shalat tarawih dan usai shalat subuh. Bacaan surat imam menjadi bahan pembahasan. Biasanya beliau memulai pelajaran setelah pembukaan dengan mengatakan, “Qara’a imamuna….” (Imam kita membaca…) lalu beliau membahasnya. Hal ini tentu menunjukkan beberapa hal. Paling tidak, konsentrasi dalam shalat terhadap bacaan imam dan keluasan ilmu beliau, karena beliau bisa menjabarkan ayat-ayat secara langsung tanpa persiapan. Hal ini karena ilmu sudah berada di dada beliau sehingga tinggal menyampaikan. Di samping kegiatan dakwah tersebut, beliau juga memberikan ceramahceramah di beberapa kota dan beberapa negara Eropa dan AS melalui telepon. Di antara lahan dakwah yang beliau terjuni—sebagaimana diungkapkan oleh asy-Syaikh Abdul Muhsin al-Abbad, “Ikut serta dalam muktamar-muktamar di Saudi Arabia dalam tau’iyatul (bimbingan) para jamaah haji.

Di Jami’ah Islamiyyah (Universitas Islam Madinah) sendiri telah dilangsungkan tiga muktamar: dua muktamar dengan tema bimbingan dakwah dan persiapan para dai; satu muktamar lagi dengan tema memerangi narkoba. Beliau menghadirinya dan memberi banyak faedah dengan pembahasanpembahasan dan diskusinya. Di antara lahan dakwahnya juga adalah keikutsertaan beliau dalam tau’iyatul haj di musim haji dengan berfatwa, memberikan kajian, dan ceramah-cermah. Terkadang beliau memimpin para dai dalam kegiatan tau’iyatul haj di beberapa tahun yang asy-Syaikh Ibnu Utsaimin termasuk di dalam kepanitiaannya. Aku sendiri saat itu juga masuk dalam kepanitiaan itu. Para anggota berkumpul untuk mempelajari permasalahan-permasalahan seputar urusan haji sehingga syaikh memberikan faedah dengan pandangan-pandangan beliau dan ilmunya. Di antara lahan dakwah beliau adalah memberikan faedah kepada kaum muslimin berupa fatwa terhadap pertanyaan-pertanyaan yang sampai kepada beliau, baik dari dalam maupun dari luar Saudi Arabia, baik dengan suratmenyurat, bertemu langsung, maupun melalui telepon. Beliau memberikan waktu khusus untuk berfatwa lewat telepon dan disiplin dengan jadwal tersebut untuk memberikan fatwa sedangkan beliau berada di kotanya, Unaizah.

Apabila beliau keluar kota, beliau meninggalkan pesan pada pesawat teleponnya untuk menyambungkan ke nomer telepon di kota tempat beliau berada. Di antara lahan dakwahnya juga adalah keikutsertaannya yang banyak dan bermanfaat dalam acara radio (Idza’atul Qur’an al-Karim), yaitu dalam acara “Nurun’Ala Darb” (yang berisi jawaban atas pertanyaan pendengar melalui surat), “Su’al ala Hatif” (Tanya Jawab Interaktif), dan “Min Ahkamil Qur’anil Karim” (Tafsir al-Qur’an). Beliau juga memiliki jadwal acara yang tidak tetap di radio dalam beragam tema. Acara “Min Ahkamil Qur’an” sendiri sangat penting dan berfaedah besar. Acara tersebut sangat menitikberatkan pada kandungankandungan al-Qur’an dan mengungkap berbagai hikmah dan hukumnya. Ini menunjukkan kekokohan pemahaman beliau pemahaman terhadap agama. (Untuk acara ini) beliau telah sampai pada akhir juz ke-3 dari al-Qur’anil Karim. (Lihat asy-Syaikh Ibnu Utsaimin minal Ulama ar-Rabbaniyyin)

Jasa dan Jabatan

Selama kiprahnya dalam berkhidmah kepada Islam dan muslimin, beliau sempat menduduki beberapa jabatan penting:

1. Anggota Hai’ah Kibar Ulama (badan ulama ulama besar) di Kerajaan Arab Saudi di Saudi Arabia sejak 1407 H sampai wafatnya.

2. Anggota al-Majlisul Ilmi di Universitas Islam al-Imam Muhammad bin Su’ud selama dua tahun akademik, 1398—1400 H.

3. Anggota Majlis Fakultas Syariah dan Ushuluddin, Universitas Islam Muhammad bin Su’ud cabang al-Qashim, sekaligus sebagai Dekan Fakultas Akidah.

3. Di akhir masa mengajar di alma’hadul ilmi, beliau ikut menjadi anggota panitia penyusunan kurikulum al-Ma’had al-Ilmi dan sempat menulis beberapa buku paket.

4. Anggota panitia tau’iyatul haj pada tahun 1392 H sampai wafatnya.

5. Pimpinan Jum’iyyah (organisasi) Tahfidzul Qur’an al-Khairiyyah di kota Unaizah sejak didirikannya pada 1405 H sampai wafatnya.

Kedudukan Ilmiah

Satu hal yang tidak diragukan adalah kedudukan ilmiah beliau. Para ulama abad ini, baik yang lebih tinggi dari beliau, sepadan, ataupun yang di bawah beliau, sangat mengakui keilmuan beliau. Asy-Syaikh al-Albani dalam salah satu majelisnya menyebut beliau sebagai salah seorang faqih yang langka pada abad ini. Beliau mengatakan, “Bumi kosong dari ulama sehingga aku tidak tahu dari ulama tersebut kecuali beberapa orang yang sedikit jumlahnya. Aku sebut secara khusus di antara mereka adalah al-Allamah Abdul Aziz bin Baz dan al-Allamah Muhammad bin Shalih al-Utsaimin.” (Fatawa Ulama al-Akabir hlm. 6) Bahkan Mufti Umum Kerajaan Arab Saudi, asy-Syaikh Muhammad bin Ibrahim t, berulang kali meminta beliau untuk menjabat sebagai qadhi (hakim), namun beliau menolaknya. Bahkan, sempat terbit surat keputusan yang menetapkan beliau sebagai pimpinan mahkamah di wilayah al-Ahsa’. Namun, beliau momohon agar surat keputusan tersebut dibatalkan. Setelah melalui beberapa proses, akhirnya permohonan beliau dikabulkan. Ini menujukkan sikap wara’ yang tinggi pada beliau. Di kemudian hari, beliau memperoleh kehormatan dengan diberikan kepada beliau Jaizah Malik Faishal al-Alamiyah (Penghargaan Internasional Raja Faishal) untuk khidmat terhadap Islam pada 1414 H. Disebutkan padanya prestasi-prestasi sebagai berikut.

1. Berhias dengan akhlak ulama yang mulia, yang paling menonjol adalah sifat wara’, kelapangan dada, menyuarakan kebenaran, bekerja demi maslahat kaum muslimin, dan keinginan baiknya terhadap orang-orang khususnya serta muslimin pada umumnya.

2. Banyakmya orang yang mengambil manfaat dari ilmunya, baik dari pelajaran yang disampaikan, fatwa atau buku yang ditulis.

3. Penyampaian ceramah-ceramah umum yang bermanfaat di berbagai wilayah Saudi Arabia.

4. Keikutsertaan beliau yang sangat bermanfaat dalam banyak muktamar Islami.

5. Memiliki ciri yang khas dalam metode berdakwah menuju jalan Allah l dengan hikmah dan mauizhah alhasanah, serta mempersembahkan teladan hidup bagi manhaj as-salafus shalih, dalam bentuk pemikiran dan perilaku. Asy-Syaikh Abdul Muhsin al-Abbad pernah menyampaikan sebuah ceramah di Universitas Islam Madinah yang kemudian dibukukan dengan judul asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin minal Ulama ar-Rabbaniyyin. Di antara yang beliau sampaikan, “Beliau adalah seorang ulama besar dan seorang ahli fikih yang mapan, seorang yang dihormati oleh para penguasa dan para ulama serta para penuntut ilmu. Di antara penghormatan para penguasa di negeri ini kepada beliau, ketika melakukan kunjungan ke kota al-Qashim, mereka mengunjungi beliau di rumahnya. Raja Khalid dahulu pernah mengunjunginya, demikian pula Raja Fahd, Putra Mahkota Pangeran Abdullah, dan Pangeran Sulthan. Beliau sendiri memang pantas untuk dihormati dan dihargai. Namun, beliau orang yang sangat tawadhu’, mencintai kebaikan dan manfaat untuk manusia, serta orang yang penuh kasih sayang kepada para penuntut ilmu, bersemangat memberi mereka faedah, ilmu, serta menggabungkan antara ilmu dan amal.”

Wafat Beliau

Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ

“Tiap-tiap jiwa pasti merasakan kematian.” (Ali Imran: 185)

Apabila saatnya ajal datang, Allah Subhanahu wata’alal pun menyiapkan sebab-sebabnya. “Sakit kronis menimpa beliau sehingga beliau pergi ke AS untuk berobat selama beberapa hari saja. Itulah satu-satunya safar beliau ke luar Saudi Arabia. Beliau pun memanfatkan keberadaannya di AS untuk berdakwah ke jalan Allah Subhanahu wata’ala. Beliau menyampaikan khutbah jumat di sana. Sesampainya di kerajaan Saudi Arabia, beliau langsung menjalani perawatan di Rumah Sakit Khusus di Riyadh. Namun, sakit beliau semakin parah. Setelah lewat beberapa hari di bulan Ramadhan, beliau ingin pergi ke Makkah untuk kembali mengajar di Masjidil Haram, sebagaimana kebiasaan beliau sebelumnya. Dipersiapkanlah ruang khusus di masjid untuk beliau. Beliau pun menyampaikan pelajaran dengan berbaring di atas kasurnya menggunakan pengeras suara. Orang-orang pun mendengar suaranya yang tampak berubah karena sakit tanpa melihat beliau. Usai Ramadhan, beliau dipindahkan ke sebuah rumah sakit di Jeddah dan meninggal di sana, saat senja hari Rabu, 25 Syawwal 1421 H. Beliau dishalatkan pada hari Kamis selepas shalat ashar, lalu dimakamkan di permakaman al-Adl, Makkah. Telah menyalatkan dan mengiringi jenazah beliau—semoga Allah Subhanahu wata’ala merahmatinya— sejumlah besar manusia. Saya termasuk orang yang berkesempatan ikut menyalati dan mengiringi jenazah beliau. Saya melihat banyak orang saat menyalatinya dan saat di permakaman. Sungguh, banyak orang merasa sedih dengan wafat beliau karena tingginya kedudukan dan besarnya manfaat ilmu beliau bagi muslimin,” demikian tutur asy-Syaikh Abdul Muhsin al-Abbad. Beliau meninggalkan seorang istri, 5 anak laki-laki, dan 3 anak perempuan. Kelima anak laki-lakinya adalah Abdullah, Abdurrahman, Ibrahim, Abdul Aziz, dan Abdurrahim.

Karya Ilmiah

Beliau meninggalkan karya ilmiah yang cukup banyak, baik dalam bentuk buku kecil maupun karya besar yang berjilid-jilid, baik dalam bidang akidah, hukum fikih, tafsir, musthalah hadits, akhlak, dakwah, maupun lainnya. Karyakarya beliau sangat bermanfaat karena beliau sampaikan dengan bahasa yang mudah dipahami dan sangat jelas, mudah dinalar, di samping bobot ilmiah yang sangat kuat dan menggabungkan antara manqul dan ma’qul. Secara garis besar, karya beliau ada dua macam: hasil tulisan beliau sendiri dan hasil transkrip dari pelajaran-pelajaran beliau yang terekam. Di antaranya adalah:

1. Fathu Rabbil Bariyyah ringkasan dari kitab al-Hamawiyyah, dan ini adalah karya pertama beliau.

2. Asy-Syarhul Mumti’ syarah Zadul Mustaqni’, terdiri dari beberapa jilid.

3. Al-Qaulul Mufid syarh Kitab at-Tauhid.

4. Syarh al-Aqidah al-Wasithiyah.

5. Al-Ushul min Ilmil Ushul. Masih banyak lagi karya beliau. Dalam kitab yang berjudul Ibnu Utsaimin, al-Imam az-Zahid disebutkan sampai 56 karya. Sementara itu, dalam situs Maktabah asy-Syamilah disebutkan mencapai angka 78.

Ditulis oleh Al-Ustadz Qomar Suaidi, Lc.

Akidah Salafiah Ahlus Sunnah wal Jamaah

Asy-Syaikh Utsaimin adalah seorang ulama yang punya perhatian besar terhadap akidah. Karya, ceramah, dan syarah (penjelasan) beliau terhadap matan-matan akidah sangatlah banyak, menyangkut akidah dalam bidang uluhiyah, rububiyah, dan asma wa shifat, atau akidah secara umum. Tentu, akidah yang beliau yakini dan dakwahkan adalah akidah salafiah Ahlus Sunnah wal Jamaah, mengikuti para sahabat nabi. Dalam salah satu karyanya yang berjudul Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah, beliau berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam meninggalkan umatnya di atas jalan lurus yang sangat terang malamnya bagaikan siangnya.

Tidaklah tergelincir darinya melainkan orang yang binasa. Umatnya yang menyambut seruan Allah dan Rasul-Nya berjalan di atas jalan tersebut. Mereka adalah makhluk pilihan Allah Subhanahu wata’ala dari kalangan para sahabat dan tabi’in, serta yang mengikuti mereka dengan baik. Mereka menegakkan syariatnya dan berpegang dengan ajarannya serta menggigitnya dengan gigi geraham, dalam hal akidah, ibadah, akhlak, dan adab, sehingga mereka menjadi kelompok yang selalu unggul di atas kebenaran. Tidak mencelakakan mereka orang yang mengacuhkan mereka atau menyelisihi mereka, sampai datang ketetapan Allah Subhanahu wata’ala dan mereka tetap di atasnya. Kami—segala puji bagi Allah— berjalan di atas jejak mereka. Kami mencontoh perilaku mereka yang didukung oleh al-Qur’an dan sunnah. Kami katakan hal itu sebagai bentuk menyebutkan nikmat Allah Subhanahu wata’ala dan menerangkan terhadap kewajiban yang semestinya di atasnya seorang mukmin.”

Demikian jelas jalan yang beliau tempuh. Karya-karya beliau menjadi bukti tentang akidah yang beliau anut. Karya yang lain dalam bab akidah sangat banyak, kecil maupun besar, dalam bentuk syarah (penjelasan) buku-buku akidah, Kitabut Tauhid, al-Aqidah al-Wasithiyah, dan Lum’atul I’tiqad; atau dalam bentuk ringkasan buku akidah, semacam Fathu Rabbil Bariyah ringkasan Hamawiyah, Taqrib Tadmuriyah ringkasan kitab Tadmuriyah; atau buku-buku yang khusus beliau tulis dalam bab akidah, seperti Syarh Ushulil Iman, al-Iman bil Qadar, dan al-Qawaid al-Mutsla. Ciri khas yang sangat tampak pada tulisan-tulisan beliau adalah sangat sistematis, sederhana, jelas, dan selalu didukung dengan dalil aqli dan naqli.

 

Fikih Ibadah dan Ittiba’

Sekilas, jika seseorang melihat beliau, mungkin akan menganggap beliau sebagai ulama Hanbali. Sebab, beliau tumbuh di lingkungan yang sarat dengan mazhab Hanbali dan perhatian besar terhadap buku-buku ulama Hanbali. Namun, apabila seseorang menyelami karya-karya beliau dan mendengar pelajaran-pelajaran fikih beliau, dia pasti mengetahui bahwa beliau adalah seorang yang sangat terikat dengan dalil dan selalu ittiba’ dengannya, serta sangat memerangi takllid buta dan fanatik golongan. Taklid hanya dibolehkan pada kondisi tertentu. Untuk melihat hal itu secara nyata, bisa kita baca kitab asy-Syarhul Mumti’. Betapa sering beliau menyatakan lemahnya pendapat penulis Zadul Mustaqni’. Beliau mengatakan, “Di antara hak Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam atas kita, yang hal itu di atas hak kedua orang tua kita, adalah kita memurnikan ittiba’ kepadanya. Artinya, kita tidak boleh mendahuluinya. Jadi, kita tidak boleh mensyariatkan dalam agamanya sesuatu yang tidak beliau syariatkan dan tidak melampaui apa yang beliau syariatkan, atau menyepelekan syariatnya. Firman Allah Subhanahu wata’ala,

قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

Katakanlah, Jika kalian (benarbenar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosa kalian.’ Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Ali Imran: 31).”

Tentang taklid, beliau katakan, “Dalam atsar ini terdapat peringatan dari taklid buta dan fanatik mazhab yang tidak terbangun di atas dasar yang selamat. Sebagian orang melakukan kesalahan yang parah, saat dikatakan kepadanya, “Rasulullah bersabda…,” ia menjawab, “Tetapi, dalam kitab fulan begini dan begini….” Hendaklah ia bertakwa kepada Allah l yang berfirman dalam kitab-Nya,

وَيَوْمَ يُنَادِيهِمْ فَيَقُولُ مَاذَا أَجَبْتُمُ الْمُرْسَلِينَ

Dan (ingatlah) hari (di waktu) Allah menyeru mereka, seraya berkata, “Apakah jawaban kalian kepada para rasul?” (al-Qashash: 65)

Allah Subhanahu wata’ala tidak mengatakan, apa jawaban kalian terhadap fulan dan fulan.” “Jika suatu hukum tidak tampak bagi seseorang, dia wajib bertawaqquf. Ketika itulah taklid baru diperbolehkan dalam kondisi darurat. Ini berdasarkan firman Allah Subhanahu wata’ala,

فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِن كُنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“Bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.” (an Nahl: 43 dan al-Anbiya: 7)

Salah satu contoh praktik beliau dalam mengikuti dalil adalah dalam hal batas berhentinya darah di masa haid jika kurang dari satu hari, apakah menjadi tanda suci atau tidak. Beliau mengatakan, “Yang masyhur dalam mazhab Hanbali bahwa ‘darah berarti haid dan bersih berarti suci,’ kecuali apabila penggabungan antara keduanya melebihi masa kebiasaan haid, berarti darah yang lewat dari masa tersebut adalah darah istihadhah. Tetapi, dalam kitab al-Mughni disebutkan, masa suci yang kurang dari satu hari tidak perlu dianggap. Pendapat itulah yang benar, insya Allah. Sebab, darah itu terkadang mengalir dan terkadang berhenti, dan mewajibkan mandi atas orang yang suci sesaat demi sesaat adalah hal yang memberatkan. Ini adalah sebuah keberatan yang mestinya ditiadakan berdasarkan firman Allah Subhanahu wata’ala,

وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ ۚ

“Dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kalian suatu kesempitan dalam agama.” (al-Hajj: 78)

Jadi, atas dasar ini terhentinya darah yang kurang dari satu hari bukan berarti suci, kecuali engkau melihat hal yang menunjukkan kesuciannya. Misalnya, apabila kesuciannya itu di akhir kebiasaan masa haidnya atau engkau melihat cairan lendir putih.” (Risalah Fi Dima ath-Thabi’iyyah)

Ditulis oleh Al-Ustadz Qomar Suaidi, Lc.

Fatwa-Fatwa Syaikh Ibnu Utsaimin tentang Prinsip Al-Wala wal Bara

Di antara prinsip pokok dalam akidah Islam adalah mencintai orang yang seakidah dan memusuhi orang yang memusuhi akidah Islam; mencintai dan berloyalitas kepada orang yang ikhlas dan bertauhid; serta membenci orang-orang kafir musyrik. Semua hal di atas termasuk millah Ibrahim dan yang bersamanya, sebagaimana firman Allah Subhanahu wata’ala,

قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَآءُ مِنكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِن دُونِ اللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاءُ أَبَدًا حَتَّىٰ تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَحْدَهُ

Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengannya; ketika mereka berkata kepada kaum mereka, “Sesungguhnya kami berlepas diri dari kalian dan yang kalian sembah selain Allah. Kami ingkari (kekafiran) kalian serta telah nyata antara kami dan kalian permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kalian beriman kepada Allah saja.” (al-Mumtahanah: 4)

Prinsip ini pun menjadi agama Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَىٰ أَوْلِيَاءَ ۘ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ ۚ وَمَن يَتَوَلَّهُم مِّنكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengambil orangorang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin (kalian). Sebagian mereka adalah pemimpin bagi sebagian yang lain. Barang siapa di antara kalian mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orangorang yang zalim.” (al-Maidah: 51)

Allah Subhanahu wata’ala berfirman mengharamkan wala’ (loyalitas) kepada semua orang kafir secara umum,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا عَدُوِّي وَعَدُوَّكُمْ أَوْلِيَاءَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia.” (al-Mumtahanah: 1)

Bahkan , Allah Subhanahu wata’ala telah mengharamkan atas mukminin berwala’ kepada orang kafir1 walaupun mereka itu orang yang paling dekat nasabnya. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا آبَاءَكُمْ وَإِخْوَانَكُمْ أَوْلِيَاءَ إِنِ اسْتَحَبُّوا الْكُفْرَ عَلَى الْإِيمَانِ ۚ وَمَن يَتَوَلَّهُم مِّنكُمْ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

“Hai orang-orang beriman, janganlah kalian jadikan bapak-bapak dan saudarasaudaramu menjadi wali(mu). Jika mereka lebih mengutamakan kekafiran atas keimanan dan siapa di antara kalian yang menjadikan mereka wali, mereka itulah orang-orang yang zalim.” (at- Taubah: 23)

Allah Subhanahu wata’ala juga berfirman,

لَّا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ ۚ

“Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, anak-anak, saudarasaudara, ataupun keluarga mereka.” (al-Mujadalah: 22)

Namun, sangat disayangkan, banyak sekali kaum muslimin yang tidak mengetahui pokok agama yang agung ini. Sampai-sampai ada orang yang dianggap ulama dan dai berkata bahwasanya Nasrani adalah saudarasaudara kita. Alangkah bahayanya ucapan mereka ini. Oleh karena itu, berikut adalah beberapa penjelasan asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah tentang hal ini dalam fatwa-fatwa yang pernah beliau sampaikan. Mudahmudahan bisa menjadi bekal bagi kita dalam beramal.

Hukum Orang yang Menyatakan Tidak Boleh Mengafirkan Yahudi dan Nasrani

Asy-Syaikh ditanya tentang seorang pemberi nasihat di salah satu masjid di Eropa. Dia menyatakan bahwasanya Yahudi dan Nasrani tidak boleh tidak boleh dikafirkan.

Jawaban asy-Syaikh Ibnu Utsaimin: Ucapan seperti ini telontar dari seorang yang sesat atau kafir, karena Yahudi dan Nasrani telah dikafirkan oleh Allah Subhanahu wata’ala di dalam kitab-Nya. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَقَالَتِ الْيَهُودُ عُزَيْرٌ ابْنُ اللَّهِ وَقَالَتِ النَّصَارَى الْمَسِيحُ ابْنُ اللَّهِ ۖ ذَٰلِكَ قَوْلُهُم بِأَفْوَاهِهِمْ ۖ يُضَاهِئُونَ قَوْلَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِن قَبْلُ ۚ قَاتَلَهُمُ اللَّهُ ۚ أَنَّىٰ يُؤْفَكُونَ () اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِّن دُونِ اللَّهِ وَالْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا إِلَٰهًا وَاحِدًا ۖ لَّا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۚ سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ

Orang-orang Yahudi berkata, “Uzair itu putra Allah.” Dan orang-orang Nasrani berkata, “Al-Masih itu putra Allah.” Demikianlah itu ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Dilaknati Allah mereka, bagaimana mereka sampai berpaling? Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah dan (juga mereka mempertuhankan) al-Masih putra Maryam, padahal mereka hanya disuruh menyembah sesembahan yang satu, tidak ada yang berhak disembah selain Dia. Mahasuci Allah dari apa yang mereka persekutukan.” (at-Taubah: 30—31)

Ayat ini menunjukkan bahwa mereka adalah orang-orang yang musyrik. Dalam ayat lain, dengan tegas Allah Subhanahu wata’ala menerangkan kekafiran mereka,

لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ

Sesungguhnya telah kafirlah orangorang yang berkata, “Sesungguhnya Allah ialah al-Masih putra Maryam.” (al-Maidah: 72)

لَّقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ ثَالِثُ ثَلَاثَةٍ

Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan, “Allah salah seorang dari yang tiga.” (al-Maidah: 73)

لُعِنَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِن بَنِي إِسْرَائِيلَ عَلَىٰ لِسَانِ دَاوُودَ وَعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ ۚ ذَٰلِكَ بِمَا عَصَوا وَّكَانُوا يَعْتَدُونَ

“Telah dilaknati orang-orang kafir dari bani Israil melalui lisan Dawud dan Isa putra Maryam. Hal itu disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas.” (al-Maidah: 78)

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا ۚ أُولَٰئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir yakni Ahli Kitab dan orang-orang yang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam. Mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk.” (al-Bayinah: 6)

Ayat-ayat dalam masalah ini sangatlah banyak. Demikian juga dengan hadits. Barang siapa mengingkari kekafiran Yahudi dan Nasrani, berarti tidak beriman kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam dan mendustakan beliau, di samping mendustakan Allah Subhanahu wata’ala. Mendustakan Allah Subhanahu wata’ala adalah kekufuran. Jadi, barang siapa ragu tentang kekafiran Yahudi dan Nasrani, tidak diragukan lagi kekafirannya…. (Fatawa Aqidah)

Hukum Mencintai Orang Kafir dan Lebih Mengutamakan Mereka daripada Kaum Muslimin

Asy-Syaikh ditanya tentang hukum menyayangi orang kafir dan lebih mengutamakannya daripada muslimin.

Jawaban: Tidak diragukan lagi, orang yang lebih mencintai orang kafir daripada kaum muslimin berarti telah melakukan keharaman yang besar. Sebab, mencintai kaum muslimin dan mencintai kebaikan untuk mereka, hukumnya wajib. Oleh karena itu, mencintai musuhmusuh Allah Subhanahu wata’ala melebihi kecintaan kepada muslimin adalah bahaya besar dan haram hukumnya. Bahkan, tidak diperbolehkan mencintai orang kafir walau lebih kecil dari cintanya kepada muslimin. Hal ini berdasarkan firman Allah Subhanahu wata’ala,

لَّا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ ۚ أُولَٰئِكَ كَتَبَ فِي قُلُوبِهِمُ الْإِيمَانَ وَأَيَّدَهُم بِرُوحٍ مِّنْهُ ۖ وَيُدْخِلُهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا ۚ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ ۚ أُولَٰئِكَ حِزْبُ اللَّهِ ۚ أَلَا إِنَّ حِزْبَ اللَّهِ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhir, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, anak-anak, saudarasaudara, ataupun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang dari-Nya. Dan dimasukkan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungaisungai. Mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka, dan mereka pun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya hizbullah itu adalah golongan yang beruntung.” (al-Mujadilah: 22)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا عَدُوِّي وَعَدُوَّكُمْ أَوْلِيَاءَ تُلْقُونَ إِلَيْهِم بِالْمَوَدَّةِ وَقَدْ كَفَرُوا بِمَا جَاءَكُم مِّنَ الْحَقِّ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengambil musuh-Ku dan musuh kalian menjadi teman-teman setia yang kalian sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad), karena rasa kasih sayang; padahal sesungguhnya mereka telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepada kalian.” (al-Mumtahanah: 1)

Demikian juga orang yang memuji orang kafir, menyanjung, dan mengutamakan mereka daripada kaum muslimin dalam hal amalan dan lainnya. Dia telah melakukan dosa dengan berburuk sangka kepada saudaranya yang muslim dan berbaik sangka kepada orang yang tidak berhak mendapatkannya. Seorang mukmin wajib mengutamakan kaum muslimin atas selain mereka dalam segala urusan, baik amalan maupun lainnya. Jika ada kekurangan pada kaum muslimin, hendaknya mereka dinasihati dan diingatkan tentang akibat jelek dari perbuatan zalim. Mudah-mudahan Allah Subhanahu wata’ala memberikan hidayah kepada mereka melalui perantaraannya.

Turut Serta dengan Orang Kafir dalam Perayaan Hari Besar Mereka

Apa hukum kaum muslimin turut serta/berbaur dengan orang kafir dalam perayaan hari besar orang-orang kafir?

Jawaban: Haram hukumnya bagi kaum muslimin berbaur (turut serta) dalam perayaan hari-hari besar orang kafir. Sebab, ini termasuk membantu orang lain dalam berbuat dosa dan permusuhan. Allah Subhanahu wata’ala telah berfirman,

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۚ

“Tolong-menolonglah kalian dalam perbuatan kebajikan dan takwa serta jangan tolong-menolong dalam perbuatan dosa dan permusuhan.” (al-Maidah: 2)

Jika hari-hari besar tersebut bersifat keagamaan, turut serta bersama mereka adalah bentuk setuju dan ridha dengan kekafiran mereka. Kalau tidak bersifat keagamaan, seandainya saja hari raya itu ada pada kaum muslimin, tentu tidak akan dirayakan, lebih-lebih lagi jika ada pada orang-orang kafir. Oleh karena itu, para ulama menyatakan, kaum muslimin tidak boleh turut serta dengan orang kafir dalam perayaan hari besar mereka. Sebab, hal itu adalah bentuk persetujuan dan ridha dengan kekufuran dan kebatilan mereka. Selain itu, hal itu termasuk bentuk membantu mereka dalam berbuat dosa dan permusuhan. Para ulama berselisih pendapat terkait dengan masalah menerima hadiah dari orang kafir ketika mereka merayakan hari besar mereka, apakah boleh menerimanya atau tidak? Sebagian ulama menyatakan tidak boleh menerima hadiah yang terkait dengan perayaan hari besar mereka karena hal itu adalah pertanda ridhanya. Sebagian ulama membolehkan menerimanya. Dengan syarat, apabila hadiah itu diterima tanpa menimbulkan bahaya syar’i—yakni orang kafir tersebut berkeyakinan bahwa seorang muslim yang menerima hadiah berarti ridha dengan kekafiran mereka—tidak mengapa menerimanya.

Namun, apabila akan menimbulkan bahaya syar’i, tidak menerimanya lebih utama. Alangkah baiknya apabila saya sebutkan apa yang telah diterangkan oleh Ibnul Qayyim rahimahullah dalam kitabnya Ahkam Ahli Dzimmah, “Adapun mengucapkan selamat kepada syiar-syiar orang kafir yang menjadi kekhususan mereka, hal itu disepakati keharamannya, seperti memberikan ucapan selamat di hari besar dan puasa mereka dengan mengucapkan: hari raya penuh berkah, selamat hari raya, dan ucapan semisalnya.” Orang yang mengucapkan ucapan selamat seperti ini, kalaupun selamat dari kekufuran, maka itu adalah perbuatan haram. Keadaannya seperti orang yang memberi ucapan selamat kepada seorang yang sujud kepada salib…. Banyak orang yang tidak memiliki kekokohan agama terjatuh pada perbuatan seperti ini.

Bepergian ke Negeri Kafir

Apa hukum bepergian ke negeri kafir dan hukum bepergian untuk tamasya?

Jawaban: Bepergian ke negeri kafir tidak diperbolehkan kecuali dengan tiga syarat:

1. Memiliki ilmu sehingga ia bisa menolak syubhat.

2. Memiliki agama yang baik sehingga ia bisa menjaga diri dari syahwat.

3. Memiliki keperluan untuk bepergian ke sana.

Jika tiga syarat ini tidak terpenuhi, tidak boleh bepergian ke negeri kafir. Sebab, hal itu akan menjadi kejelekan bagi dirinya atau dikhawatirkan ada keburukan yang menimpanya. Selain itu, hal ini hanya akan menghamburkan harta karena butuh biaya besar untuk bepergian ke negara-negara tersebut. Namun, jika seseorang terdesak kebutuhan yang mengharuskannya bepergian ke negeri kafir, untuk berobat atau belajar ilmu yang tidak ada di negerinya—dalam keadaan dia memiliki ilmu dan agama yang kokoh sebagaimana kita sebutkan—ia boleh berangkat ke negeri kafir.

Mengucapkan “Wahai Saudaraku” kepada Seorang Kafir

Apa hukum ucapan, “Wahai saudaraku” kepada orang kafir? Demikian juga ucapan, “Wahai teman, wahai sobat” dan hukum tertawa kepada orang kafir demi mendapatkan kecintaannya?

Jawaban: Ucapan “Wahai saudaraku” kepada seorang kafir hukumnya adalah haram. Tidak boleh dia dipanggil demikian kecuali ada hubungan saudara karena nasab atau susuan. Sebab, kalau tidak ada hubungan nasab dan susuan, tersisa hubungan saudara karena agama. Padahal seorang kafir bukanlah saudara seorang mukmin dalam agamanya. Ingatlah ucapan Nabi Nuh ‘Alahissalam,

وَنَادَىٰ نُوحٌ رَّبَّهُ فَقَالَ رَبِّ إِنَّ ابْنِي مِنْ أَهْلِي وَإِنَّ وَعْدَكَ الْحَقُّ وَأَنتَ أَحْكَمُ الْحَاكِمِينَ () قَالَ يَا نُوحُ إِنَّهُ لَيْسَ مِنْ أَهْلِكَ ۖ

Nuh berseru kepada Rabbnya sambil berkata, “Ya Rabbku, sesungguhnya anakku termasuk keluargaku, dan sesungguhnya janji Engkau itulah yang benar. Dan Engkau adalah Hakim yang seadil-adilnya.” Allah berfirman, “Hai Nuh, sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu….” (Hud: 45—46)

Adapun memanggilnya, “Wahai sobat, wahai teman”, kalau hanya ucapan spontan untuk memanggil seseorang yang tidak diketahui namanya, tidaklah mengapa. Namun, apabila maksudnya mengharapkan kecintaan dan kedekatan orang kafir, hal ini diterangkan oleh Allah Subhanahu wata’ala,

لَّا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ ۚ

“Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, anak-anak, saudarasaudara, ataupun keluarga mereka.” (al-Mujadalah: 22)

Semua ucapan lemah lembut yang bertujuan mendatangkan kecintaan tidak boleh diucapkan seorang mukmin kepada orang kafir. Demikian pula tertawa kepada mereka untuk menciptakan rasa sayang/ suka antara si mukmin dan si kafir, tidak boleh dilakukan. Engkau telah mengetahuinya dalam ayat di atas.

Hukum Mengucapkan Salam kepada Muslim dengan: السَّلاَمُ عَلَى مَنِ اتَّبَعَ الْهُدَى

Apa hukum mengucapkan salam kepada seorang muslim dengan bentuk salam: السَّلَامُ عَلَى مَنِ اتَّبَعَ الْهُدَى Bagaimana cara mengucapkan salam kepada orang di sebuah tempat yang ada muslim dan kafirnya?

Jawaban: Tidak boleh seorang mengucapkan salam kepada seorang muslim dengan mengucapkan,

السَّلَامُ عَلَى مَنِ اتَّبَعَ الْهُدَى

“Semoga keselamatan bagi orang yang mengikuti petunjuk.”

Sebab, bentuk salam seperti ini hanyalah diucapkan oleh Rasulullah n ketika menulis surat kepada selain muslimin. Adapun kepada saudara Anda yang muslim ucapkan,

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ Adapun kalau Anda ucapkan,

السَّلاَم علَىَ مَنِ اتَّبَعَ الْهُدَى

“Semoga keselamatan bagi orang yang mengikuti petunjuk.”

Kandungan kalimat ini berarti teman Anda bukan seorang yang mengikuti petunjuk. Apabila sekelompok orang yang hendak Anda salami adalah sekumpulan orang yang ada muslim dan Nasrani, Anda ucapkan salam yang biasa diucapkan,

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ

Namun, Anda maksudkan dengan ucapan salam ini adalah salam kepada kaum muslimin.

Mudah-mudahan beberapa fatwa asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al- ‘Utsaimin rahimahullah yang kami bawakan menjadi bekal untuk mengamalkan salah satu prinsip dalam agama kita, yaitu al-wala’ wal bara’. Walhamdulillah.

Ditulis oleh Al-Ustadz Abdurrahman Mubarak

Biografi Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah” “

Ulama adalah pewaris para nabi. Keberadaannya di tengah umat bagai pelita dalam kegelapan. Titah dan bimbingannya laksana embun penyejuk dalam kehausan. Keharuman namanya pun selalu dikenang oleh umat sepanjang zaman. Maka dengan segala hikmah dan kasih sayang-Nya, Allah Subhanahu wata’ala yang Maharahman lagi Mahahakim tak membiarkan umat Islam—dalam setiap generasinya—lengang dari para ulama yang membimbing mereka kepada jalan kebenaran. Diawali oleh para pendahulu terbaik umat ini (as-salafush shalih) dari kalangan sahabat Nabi n, tabi’in (murid-murid para sahabat), dan tabi’ut tabi’in (muridmurid para tabi’in), kemudian secara estafet dilanjutkan oleh para ulama setelah mereka generasi demi generasi.

Orang orang mulia yang dipilih oleh Allah Subhanahu wata’ala sebagai pewaris para nabi yang selalu sigap membela agama Allah Subhanahu wata’ala dari pemutarbalikan pengertian agama yang dilakukan oleh para ekstremis, kedustaan orang-orang sesat dengan kedok agama, dan penakwilan menyimpang yang dilakukan oleh orang-orang jahil. Di antara para ulama yang mulia tersebut adalah asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah. Seorang ulama besar abad ini yang berilmu tinggi, berakidah lurus, berbudi pekerti luhur, dan berkedudukan mulia.

Nama dan Kelahiran Beliau

Pada tanggal 12 Dzulhijjah 1330 H (1912 M), di Riyadh, ibu kota Kerajaan Saudi Arabia, lahirlah bayi laki-laki dari Alu Baz (keluarga Baz). Tunas mulia yang menjalani tahapan demi tahapan hidupnya dengan titian ilmu, pupukan amal saleh, dan mutiara hikmah, hingga tercatat dalam sejarah sebagai al-Imam (seorang tokoh agama), al-‘Allamah (yang sangat luas ilmunya), al-Muhaddits (pakar hadits), al-Faqih (pakar fikih), Syaikhul Islam (syaikh yang kesohor dalam Islam), Mufti al- Anam (ahli fatwa untuk segenap umat manusia), al-Mujaddid (pembaru agama), dan asy-Syaikh (yang dituakan dalam hal ilmu agama). Beliau adalah Abdul Aziz bin Abdullah bin Abdurrahman bin Muhammad bin Abdullah Alu Baz (keluarga Baz).

Alu Baz (keluarga Baz) adalah sebuah keluarga yang berasal dari kota Madinah. Namun, seiring dengan berjalannya waktu, sebagian mereka pindah ke Dir’iyyah, Huthah Bani Tamim dan Riyadh. Asy- Syaikh Abdul Aziz bin Baz dan keluarga besar beliau termasuk dari mereka yang berdomisili di kota Riyadh. Di Kerajaan Saudi Arabia, Alu Baz (keluarga Baz) termasuk keluarga yang mempunyai andil besar di bidang ilmu agama, perdagangan, dan pertanian. Lebih dari itu, mereka kesohor akan kemuliaan dan budi pekerti yang luhur.

Masa Kecil dan Tumbuh-Kembang Beliau

Di Riyadh, asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz menjalani masa kecilnya. Sejak usia balita sang ayah telah meninggal dunia. Layaknya seorang anak yatim, beliau pun tumbuh dan berkembang di bawah asuhan ibu dan keluarga terdekat. Puji syukur hanya milik Allah Subhanahu wata’ala semata manakala para pengasuhnya itu adalah orangorang yang baik dan mulia.

Bahkan, di antara mereka adalah orang-orang yang berilmu. Berkat taufik dan inayah Allah Subhanahu wata’alakemudian para pengasuh yang baik lagi mulia tersebut, Abdul Aziz bin Baz kecil tumbuh di atas ketaatan, cinta kepada ilmu dan hormat kepada ulama. Hariharinya dipenuhi dengan kesungguhan dalam menuntut ilmu. Derap langkahnya laju menuju kebaikan. Sanubarinya kokoh di atas keimanan dan ketakwaan. Dengan itu turunlah berbagai kemudahan dan pertolongan dari Rabbul ‘Alamin, sehingga sebelum memasuki usia baligh beliau telah berhasil menghafalkan al-Qur’an 30 juz. Semakin lengkap keutamaan itu manakala beliau rajin membaca dan menulis, bahkan mencatat berbagai faedah ilmiah dari para guru (masyayikh) beliau. Pada tahun 1346 H, penyakit menyerang indra penglihatan beliau. Saat itu beliau berusia 16 tahun. Penyakit mata itu ternyata sangat berefek terhadap daya penglihatan beliau. Secara berangsur-angsur daya penglihatan beliau pun melemah hingga berakhir dengan kebutaan.

Peristiwa itu terjadi pada Bulan Muharram 1350 H, saat usia beliau menginjak 20 tahun. Semuanya beliau hadapi dengan penuh kesabaran, seraya memohon kepada Allah Subhanahu wata’ala agar mendapatkan ganti yang lebih baik darinya. Demikianlah asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz. Ketika indra penglihatan tak lagi beliau miliki, Allah Subhanahu wata’ala mengaruniakan kepada beliau penglihatan hati yang tajam dan pancaran iman yang terangbenderang sebagai penggantinya. Karena itu, ketiadaan indra penglihatan yang vital itu tidak begitu berpengaruh terhadap kehidupan yang beliau jalani. Termasuk dalam hal kesungguhan menuntut ilmu, beramal dengan ilmu yang telah dipelajari, dan berhias dengan akhlak yang mulia. Bahkan, ketika usia beliau semakin bertambah, semakin bertambah pula ketegaran beliau di atas ilmu dan ketaatan. Tak mengherankan apabila beliau selalu tampak menonjol di antara anak-anak yang sebaya dengan beliau.

Bentuk Fisik Beliau

Ketika tumbuh dewasa, asy-Abdul Aziz bin Baz rahimahullah berperawakan sedang, tidak gemuk dan tidak kurus, tidak tinggi sekali dan tidak pula pendek. Dada beliau tampak bidang, antara bahu satu dan bahu lainnya tampak lebar. Wajah tampak berwibawa, agak condong ke bulat. Kulit sawo matang, hidung mancung, dan mulut berukuran sedang. Berjambang tipis dan berjenggot. Ketika jenggot tersebut mulai beruban, beliau menyemirnya dengan inai (pacar). Ketika tersenyum, tampak menawan.

Guru-guru (Masyayikh) Beliau

Seorang yang mencintai ilmu, tumbuh kembangnya di atas ilmu, dan mempelajarinya dengan penuh kesungguhan tentu mempunyai banyak guru (masyayikh). Demikianlah dengan asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz. Lebihlebih tempat berdomisili beliau adalah kota Riyadh, ibu kota Kerajaan Saudi Arabia yang dipenuhi oleh para ulama besar (kibar). Peluang emas itu tak beliau sia-siakan. Beliau berhasil menimba berbagai disiplin ilmu agama dan bahasa Arab dari banyak ulama di kota tersebut. Di antara guru-guru (masyayikh) beliau yang paling kesohor adalah:

1. Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Lathif bin Abdurrahman bin Hasan bin asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah.

2. Asy-Syaikh Shalih bin Abdul Aziz bin Abdurrahman bin Hasan rahimahullah, Qadhi (Hakim Agama) kota Riyadh.

3. Asy-Syaikh Sa’ad bin Hamd bin Atiq rahimahullah, Qadhi (Hakim Agama) kota Riyadh.

4. Asy-Syaikh Hamd bin Faris rahimahullah, wakil baitul mal (badan keuangan) kota Riyadh.

5. Asy-Syaikh Sa’ad Waqqash al- Bukhari rahimahullah (seorang ulama Makkah), guru beliau di bidang ilmu tajwid.

6. Samahatusy Syaikh Muhammad bin Ibrahim bin Abdul Lathif bin Abdurrahman bin Hasan bin asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah.  Beliau adalah seorang ulama besar yang sangat luas ilmunya, lurus agamanya, dan mulia akhlaknya. Beliau adalah Mufti Kerajaan Saudi Arabia di masanya yang membimbing umat dengan ilmu dan takwa.

Beliaulah guru besar asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz dalam berbagai disiplin ilmu agama. Kurang lebih 10 tahun lamanya dari tahun 1347 H s.d 1357 H, beliau selalu menghadiri majelis-majelis ilmu sang guru yang mulia ini. Dari para ulama yang mulia itulah asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz menguasai al-Qur’anul Karim dan Sunnah Rasulullah n dengan pemahaman generasi terbaik umat ini (salaful ummah). Dari mereka pula, beliau mendapatkan bimbingan untuk selalu mengikuti jejak Rasulullah n dan meninggalkan semua yang diada-adakan dalam agama ini (bid’ah). Beliau juga dididik untuk selalu bersikap ilmiah dalam beragama dengan memilih pendapat yang kuat (rajih) dan tegak di atas dalil dari al-Qur’anul Karim ataupun Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, walaupun bertentangan dengan mazhab yang dianut. Dengan demikian, sikap fanatik terhadap mazhab tertentu tidak didapati dalam kehidupan beragama beliau.

Terjun Ke Masyarakat

Perjalanan asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah yang panjang dalam menuntut ilmu dan penguasaan beliau yang bagus atas berbagai disiplin ilmu agama mendapatkan nilai penghormatan dari guru beliau, Samahatusy Syaikh Muhammad bin Ibrahim rahimahullah yang saat itu menjabat sebagai Mufti Kerajaan Saudi Arabia. Beliau diproyeksikan menjadi qadhi (hakim agama) yang menangani berbagai problem sosial kemasyarakatan dan dakwah. Saat itu beliau baru berusia 27 tahun. Pada Jumadal Akhir 1357 H, keluarlah surat penunjukan beliau sebagai qadhi (hakim agama) untuk kota Kharj dan seluruh wilayah cakupannya.

Tugas baru sebagai qadhi (hakim agama) diterima oleh beliau dengan penuh tawadhu’ (rendah hati). Beliau menyakini bahwa jabatan itu adalah amanat yang harus dijalankan dengan sebaik-baiknya dan kelak akan dipertanggungjawabkan di sisi Allah l. Tidak lama kemudian beliau meninggalkan kota Riyadh dan pindah ke kota Kharj, tepatnya di daerah Dalm yang merupakan pusat pemerintahan kota Kharj. Satu hal yang menarik bahwa tugas sebagai qadhi (hakim agama) yang diemban oleh beliau tidak menghalangi beliau dari kegiatan dakwah dan penyebaran ilmu agama. Bahkan, beliau sangat antusias memberikan yang terbaik untuk masyarakat kota Kharj dengan mencurahkan segenap kemampuan yang dimiliki.

Setelah tiba di tempat penugasan, gayung pun bersambut. Tugas beliau di kota Kharj ternyata tak sebatas sebagai qadhi (hakim agama). Beliau juga diberi amanat sebagai imam Masjid Jami’, khatib jum’at, nazhir wakaf, penanggung jawab anak-anak yatim, da’i (pegiat dakwah), penanggung jawab di bidang pertanian dan pelayanan umum. Karena itu, semangat beliau untuk memberikan yang terbaik untuk masyarakat kota Kharj dapat terealisasi melalui berbagai media tersebut. Pada saat jam kerja, beliau aktif di Kantor Pengadilan Agama (Mahkamah Syar’iyah) menangani beragam kasus yang terjadi di tengah-tengah masyarakat.

Dalam hal ini, beliau dikenal sebagai seorang hakim yang adil dan bijak. Di luar jam kerja, sejak usai shalat subuh hingga waktu isya. beliau sibuk membina umat dengan mengajarkan berbagai disiplin ilmu agama di Masjid Jami’. Bahkan, di hari-hari berpasarnya masyarakat, yaitu Senin dan Kamis tepatnya pukul 08.00 pagi, beliau melakukan ceramah agama di pasar yang dihadiri oleh khalayak ramai terkhusus kalangan pedagang. Dengan khidmat mereka mengikuti acara pengajian tersebut. Kota Kharj bercahayakan ilmu, sehingga ramai dikunjungi oleh para penuntut ilmu (thullabul ilmi) dari berbagai kota. Dalam hal ini pun, beliau dikenal sebagai da’i (pegiat dakwah), guru agama, dan pendidik yang sukses dalam membina masyarakatnya. Di bidang pelayanan umum, kinerja beliau diakui oleh masyarakat Kharj. Ketika kendaraan roda empat alias mobil semakin banyak, sedangkan jalanan umum masih tergolong sempit maka beliau mencanangkan proyek pelebaran jalan. Ketika datang musim penghujan dan jalan-jalan tergenang oleh air hujan, beliau mencanangkan pembuatan sanitasi air yang sekiranya bisa mengatasi problem tersebut. Ketika banjir mengancam daerah Dalm yang letak geografisnya di dataran rendah, beliau menggalakkan kerja bakti massal untuk pembuatan tanggul, sebagai langkah antisipasi.

Di bidang pertanian, beliau pun berupaya untuk menyatu dengan para petani. Berbagai program beliau canangkan untuk kemajuan pertanian di kota Kharj. Termasuk program pemberantasan hama, beliau langsung terjun di lapangan bersama para petani. Selain itu, asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz adalah seorang yang mempunyai kepedulian tinggi terhadap masyarakat. Rumah beliau selalu terbuka bagi para tamu dan siapa saja yang membutuhkan bantuan. Selama 14 tahun (1357 H—1371 H) berkiprah di kota Kharj, beliau telah memberikan yang terbaik untuk masyarakatnya. Tak mengherankan apabila masyarakat kota Kharj dari berbagai strata sosial sangat menghormati dan mencintai beliau.

Perjalanan Hidup Penuh Ilmu dan Takwa

Setelah 14 tahun berkiprah di kota Kharj (1357—1371 H), asy- Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah ditarik ke kota Riyadh untuk memperkuat lini pendidikan di sana. Pada 1372 H, beliau ditetapkan sebagai pengajar di Ma’had Ilmi. Setahun setelahnya, 1373 H, beliau ditunjuk sebagai dosen di Fakultas Syari’ah untuk mata kuliah fikih, tauhid, dan hadits. Tugas mulia ini beliau jalani hingga tahun 1380 H. Sekitar sembilan tahun beliau berkecimpung dalam dunia pendidikan dan dakwah di kota Riyadh. Tidak sedikit dari alumnus Fakultas Syari’ah didikan beliau itu yang menjadi ulama besar (kibar) di kemudian hari. Pada 10 Rabi’ul Awal 1381 H, tugas baru menghampiri beliau. Beliau ditunjuk sebagai Wakil Rektor al-Jami’ah al-Islamiyyah (Universitas Islam Madinah). Setelah berlalu 9 tahun, tepatnya tahun 1390 H, beliau diangkat menjadi rektor universitas tersebut. Jabatan rektorat beliau emban selama 5 tahun, yaitu hingga tahun 1395 H.

Dalam menjalankan roda pendidikan di kota Madinah itu, beliau dibantu oleh para ulama terkemuka di masa itu, di antaranya asy-Syaikh Muhammad Nashirudin al-Albani, asy-Syaikh Muhammad al-Amin asy-Syinqithi, asy-Syaikh Hammad bin Muhammad al-Anshari, asy-Syaikh Muhammad Aman al-Jami, asy-Syaikh Abdul Muhsin bin Hamd al-Abbad, dll. Di luar kegiatan kampus, beliau aktif mengajar di Masjid Nabawi dan berdakwah di tengah masyarakat. Pada tanggal 14 Syawwal 1395 H, beliau ditunjuk sebagai ketua umum al-Lajnah ad-Daimah lil Buhutsil Ilmiyyah wal Ifta’ wad Da’wah wal Irsyad (Komite Riset Ilmiah, Fatwa, Dakwah, dan Bimbingan) Kerajaan Saudi Arabia yang bermarkas di Kota Riyadh. Setelah berlalu 19 tahun, tepatnya tahun 1414 H, beliau dikukuhkan sebagai Mufti Agung Kerajaan Saudi Arabia, sekaligus sebagai Ketua Hai’ah Kibar Ulama (Komite Ulama Besar) Kerajaan Saudi Arabia. Jabatan di atas dan berbagai jabatan penting lainnya beliau sandang hingga wafat.

Murid-Murid Beliau

Perjalanan panjang di dunia dakwah dan pendidikan yang beliau jalani dengan penuh kesungguhan dan kesabaran, di samping mengantarkan beliau pada posisi imamah (kepemimpinan umat) juga melahirkan murid-murid yang banyak jumlahnya. Baik dari dakwah dan pendidikan yang beliau lakukan di masjid-masjid, di ma’had, maupun di aljami’ah (universitas). Tidak sedikit dari murid-murid tersebut yang berpotensi dan berguna bagi umat, bahkan menjadi referensi utama bagi kehidupan beragama mereka dalam skala internasional. Di antara murid-murid tersebut adalah para ulama yang tergabung dalam lembaga Hai’ah Kibar Ulama (Komite Ulama Besar) Kerajaan Saudi Arabia, seperti asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, asy-Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan, asy-Syaikh al- Luhaidan, asy-Syaikh al-Ghudayyan, dll. Murid-murid beliau yang lain adalah para alumni Universitas Islam Madinah baik yang diajar oleh beliau di bangku kuliah maupun yang mengikuti kajian beliau di Masjid Nabawi, seperti asy- Syaikh Rabi’ bin Hadi al-Madkhali, asy-Syaikh Zaid bin Muhammad al- Madkhali, asy-Syaikh Ali bin Nashir Faqihi, asy-Syaikh Muqbil bin Hadi al- Wadi’i, asy-Syaikh Ubaid bin Abdullah al-Jabiri, dll.

Karya Ilmiah Beliau

Karya ilmiah beliau sangat banyak, baik dalam bentuk tulisan murni maupun hasil transkrip dari rekaman suara. Sebagian karya ilmiah beliau itu telah disusun dan didokumentasikan dalam beberapa bentuk media cetak ataupun elektronik. Di antaranya terdapat dalam program komputer al-Maktabah asy- Syamilah. Adapula yang terkoleksi dalam bentuk kumpulan fatwa, seperti Majmu’ Fatawa asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz (30 juz), dan Fatawa Nur Alad Darb (14 juz). Ada juga yang terkoleksi dalam bentuk transkrip ceramah, wawancara, dan yang semisalnya, seperti Durus lisy Syaikh Abdil Aziz bin Baz. Adapula yang terkoleksi secara terpisah dalam bentuk satuan buku. Karya-karya ilmiah beliau mempunyai ciri khas tersendiri. Ilmiah, ringkas, padat, berbobot, dan mudah dipahami. Oleh karena itu, karya-karya ilmiah beliau itu selalu diminati oleh umat, bahkan menjadi rujukan utama terutama dalam menyibak hal-hal kekinian yang bersifat musykil. Hampir-hampir pada setiap sendi kehidupan beragama ada karya ilmiah beliau, di samping untaian-untaian fatwa berharga tentunya.

• Dalam masalah akidah; al-Aqidah ash-Shahihah wama Yudhadduha, Syarh al-Aqidah ath-Thahawiyyah, Syarh al- Aqidah al-Wasithiyyah, Iqamatul Barahin ala Hukmi Man Istaghatsa Bighairillah au Shaddaqal Kahanah wal Arrafin, dll.

• Dalam masalah rukun iman; Ushulul Iman.

• Dalam masalah rukun Islam; Tuhfatul Ikhwan bi Ajwibah Muhimmah Tata’allaqu bi Arkanil Islam, Nawaqidhul Islam, Kaifiyah Shalatin Nabi, Fatawa fiz Zakati wash Shiyam, at-Tahqiq wal Idhah li Katsirin min Masailil Hajji wal Umrah waz Ziyarah, Fatawa Tata’allqu bi Ahkamil Hajji wal Umrah waz Ziyarah, dll.

• Dalam masalah berpegang teguh dengan Sunnah Nabi n; Wujub Luzumis Sunnah wal Hadzar Minal Bid’ah, at- Tahdzir Minal Bida’, Wujubul Amal bi Sunnatir Rasul wa Kufru Man Ankaraha, dll.

• Dalam masalah ilmu waris; al- Fawaid al-Jaliyyah fil Mabahits al- Faradhiyyah.

• Dalam masalah keagungan al- Quran dan Rasulullah n; Hukmul Islam fi Man Tha’ana fil Quran au fi Rasulillah.

• Dalam masalah dakwah dan para da’inya; ad-Da’watu Ilallah wa Akhlaqud Da’iyah, dll.

• Dalam masalah realitas kekinian; Naqdul Qaumiyyah al-Arabiyyah ala Dhau’il Islam wal Waqi’, al-Ghazwul Fikri, al-Adillah an-Naqliyyah wal Hissiyyah ala Jarayanisy Syamsi wa Sukunil Ardhi wa Imkanish Shu’ud ilal Kawakib, dll.

• Dalam masalah bimbingan kemasyarakatan; ad-Durus al-Muhimmah li Ammatil Ummah, ‘Awamil Ishlahil Mujtama’, dll.

• Dalam masalah jihad; al-Jihad fi Sabilillah dan beberapa risalah yang mengimbau umat Islam untuk berpartisispasi dalam jihad Afghnistan melawan Uni Soviet, dll.

• Dalam bidang hadits; Hasyiyah Mufidah ala Fathil Bari sampai Kitabul Hajji.

• Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara; Wujubut Tahkim ala Syar’illah, Fi Zhilli asy-Syari’ah Yatahaqqaqul Amnu wal Hayah lil Muslimin, berbagai risalah dan nasihat tentang sikap yang syar’i terhadap pemerintah, dll. Masih banyak karya ilmiah beliau yang tak mungkin disebutkan semuanya dalam kajian ini. Untuk mengetahui lebih rinci silakan melihat situs resmi beliau.

Ketika Ajal Menjemput

Pada Kamis dini hari menjelang azan shubuh, 27 Muharram 1420 H (1999 M) beliau mengembuskan napas penghabisan. Pada usia yang ke-90 tahun itulah lembar kehidupan beliau dilipat dengan datangnya ajal yang menjemput. Beliau pergi meninggalkan dunia yang fana ini dengan mewariskan ilmu, nasihat, bimbingan, dan kenangan yang indah untuk umat. Para pembesar Kerajaan Saudi Arabia kehilangan seorang pembimbing yang sangat mereka segani. Para ulama dan penuntut ilmu (thullabul ilmi) kehilangan salah seorang rujukan utama dalam kehidupan beragama.

Para janda dan anak-anak yatim kehilangan seorang yang selalu memerhatikan dan menyantuni mereka. Golongan lemah dan fakir miskin kehilangan seorang penderma yang selalu membantu dan memperjuangan nasib mereka. Umat Islam di dunia kehilangan seorang ulama, da’i, mufti, dan teladan mulia yang menghabiskan umurnya di jalan Allah l. Jenazah beliau dibawa ke Kota Suci Makkah guna dishalatkan di Masjidil Haram. Jenazah dishalatkan ba’da shalat jum’at. Sekitar sejuta orang menyalatkan jenazah beliau dengan penuh khidmat. Tidak sedikit dari mereka yang berasal dari luar Kota Makkah, bahkan luar negeri. Mereka ingin turut menyalati jenazah orang yang mulia itu, termasuk Raja Fahd bin Abdul Aziz, putra mahkota Abdullah bin Abdul Aziz, dan jajaran pejabat penting Kerajaan Saudi Arabia. Demikian pula para pejabat dan tokoh muslim dari negara-negara Teluk dan dunia Islam. Usai dishalatkan, jenazah langsung dibawa ke permakaman al-Adl di timur Makkah.

Iring-iringan pelayat yang menyertai jenazah beliau sangat banyak jumlahnya. Kota Makkah diselimuti suasana duka. Demikian pula Kerajaan Saudi Arabia, bahkan dunia Islam secara keseluruhan. Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz telah pergi untuk selamanya. Tunai sudah amanat suci yang beliau emban. Pahlawan Islam yang sangat berjasa dalam memperbarui Islam yang pelitanya mulai redup dalam kehidupan. Seorang imam yang selalu sigap membela agama Allah Subhanahu wata’ala dari pemutarbalikan pengertian agama yang dilakukan oleh para ekstremis, kedustaan orang-orang sesat dengan kedok agama, dan penakwilan menyimpang yang dilakukan oleh orangorang jahil. Seorang penderma yang selalu berderma dengan ilmu, amal, nasihat, kedudukan, harta, dan segala yang dimilikinya.

Rahimahullahu rahmatan wasi’ah wa askanahu fi fasihi jannatih…

Ditulis oleh Al-Ustadz Ruwaifi bin Sulaimi

Sumber Bacaan:

Majmu’ Fatawa Ibn Baz, program al-Maktabah asy-Syamilah.

Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz Namudzaj Minar Ra’ilil Awwal, karya asy-Syaikh Abdul Muhsin al-Abbad, program al-Maktabah asy-Syamilah.

Al-Mauqi’ ar-Rasmi lisy Syaikh Abdil Aziz bin Baz (Situs Resmi asy- Syaikh Abdul Aziz bin Baz)

Durus lisy Syaikh Abdil Aziz bin Baz, program al-Maktabah asy-Syamilah.

Al-Kitab al-Watsaiqi ‘Anil Jami’ah al-Islamiyyah bil Madinah al- Munawwarah.

Majmu’ Kutub wa Rasail wa Fatawa asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi bin Umair al-Madkhali jilid 3.

Mengenal Lebih Dekat Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah “

Akidah (Prinsip Keyakinan) Beliau

 Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah adalah seorang yang berakidah lurus. Akidah beliau tegak di atas al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam serta bimbingan generasi terbaik umat ini (as-salafush shalih). Di antara akidah yang mulia itu adalah sebagai berikut:

1. Meyakini bahwa Allah Subhanahu wata’ala Rabb semesta alam, Maha Esa (tunggal) dan Mahakuasa. Tiada yang berhak diibadahi selain Dia semata. Dialah satu-satunya tempat bergantung. Allah tidak beranak dan tidak pula diperanakkan, tidak ada sesuatu pun yang sebanding dengan- Nya. Barang siapa mempersembahkan sebuah ibadah kepada selain-Nya, ia telah musyrik dan kafir.

2. Menetapkan nama-nama dan sifat-sifat yang mulia bagi Allah Subhanahu wata’ala sebagaimana yang terdapat dalam al- Qur’an dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Semua nama Allah Subhanahu wata’ala mengandung sifat yang dikandung oleh nama itu. Demikian pula semua sifat Allah Subhanahu wata’ala menunjukkan makna zahir (yang tampak) yang dikandungnya tanpa dipalingkan dari makna zahirnya (takwil), atau dianalogikan dengan sesuatu (takyif). Semua itu dinilai sesuai dengan kemuliaan dan keagungan Allah Subhanahu wata’ala, tanpa menyerupakannya sedikit pun dengan makhluk-Nya.

3. Meyakini bahwa Allah Subhanahu wata’ala berada di atas Arsy-Nya, dan terpisah dengan makhluk sesuai dengan kemuliaan dan keagungan-Nya. Dia berbicara dengan sifat bicara yang azali (tidak berawal) dan berbicara kapan saja sesuai dengan kehendak-Nya, sebagaimana akidah salaf.

4. Meyakini bahwa al-Qur’an adalah kalamullah (firman Allah Subhanahu wata’ala) bukan makhluk. Dari Allah-lah Subhanahu wata’ala al-Qur’an itu berasal dan kepada-Nya ia kembali. Barang siapa meyakini bahwa al-Qur’an itu makhluk, ia telah kafir dan keluar dari Islam.

5. Meyakini bahwa Allah Subhanahu wata’ala mempunyai sifat cinta dan ridha, suka dan tidak suka, menghidupkan dan mematikan, marah dan senang, turun setiap malam ke langit dunia dengan sifat turun yang sesuai dengan kemuliaan dan keagungan-Nya, tidak serupa dengan makhluk-Nya.

6. Meyakini bahwa Allah Subhanahu wata’ala dapat dilihat oleh orang-orang yang beriman pada hari kiamat dengan pandangan mata mereka, sebagaimana yang terdapat dalam hadits-hadits sahih.

7. Meyakini bahwa Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah hamba Allah Subhanahu wata’ala dan rasul-Nya yang diutus kepada seluruh manusia dan jin (tsaqalain). Risalah Islam telah beliau sampaikan seutuhnya, amanat pun telah beliau tunaikan dengan sebaik-baiknya.

8. Meyakini bahwa para malaikat benar adanya, kitab-kitab suci yang diturunkan kepada para rasul pilihan benar adanya, para nabi dan rasul benar adanya, hari kebangkitan setelah kematian benar adanya, surga dan neraka benar adanya, timbangan amal di hari kiamat benar adanya, dan telaga Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam di hari kiamat benar adanya.

9. Meyakini bahwa syafaat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, para nabi, dan orang-orang saleh di hari kiamat benar adanya. Namun, semua itu bergantung pada izin Allah Subhanahu wata’ala terhadap yang memberi syafaat dan keridhaan-Nya kepada yang diberi syafaat.

10. Meyakini bahwa sebaik-baik perkataan adalah perkataan Allah Subhanahu wata’ala dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam.

11. Meyakini bahwa sejelek-jelek perkara dalam agama ini adalah yang diada-adakan (tidak ada contohnya dari Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam). Setiap perkara dalam agama ini yang diada-adakan (tidak ada contohnya dari Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam) adalah bid’ah, setiap bid’ah itu sesat, dan setiap yang sesat itu di neraka.

12. Meyakini bahwa iman adalah keyakinan di dalam hati, ucapan dengan lisan, dan amalan dengan anggota badan. Iman bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan.

13. Meyakini bahwa takdir Allah Subhanahu wata’ala yang baik ataupun yang buruk benar adanya.

14. Meyakini bahwa shalat, zakat, puasa di bulan Ramadhan, dan haji bagi yang mampu ialah bagian dari rukun Islam yang melengkapi dua kalimat syahadat. Semua itu harus diimani dan diamalkan sesuai dengan bimbingan Allah Subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wasallam.

15.Tidak boleh mengafirkan seorang pun dari kaum muslimin kecuali jika melakukan salah satu dari pembatal keislaman. Adapun pelaku dosa besar di bawah dosa syirik, seperti zina, mencuri, memakan harta riba, meminum minuman keras, durhaka kepada kedua orang tua, dll, tidaklah dikafirkan selama tidak menghalalkan kemaksiatan tersebut. Jika meninggal dunia dan belum bertobat dari dosanya, dia di bawah kehendak (masyi’ah) Allah Subhanahu wata’ala. Jika Allah Subhanahu wata’ala berkehendak untuk mengampuninya— secara langsung—, ia akan mendapatkan ampunan dan masuk ke dalam surga tanpa disiksa; dan jika Allah Subhanahu wata’ala berkehendak untuk menyiksanya, dia akan disiksa terlebih dahulu, namun tempat kembalinya adalah surga. Tidak seperti Khawarij yang mengkafirkannya, dan tidak pula seperti Murji’ah yang meyakini bahwa pelaku dosa besar—di bawah dosa syirik itu—adalah mukmin yang sempurna keimanannya.

16. Wajib menaati pemerintah kaum muslimin yang adil atau yang jahat sekalipun, selama tidak memerintahkan kepada kemaksiatan. Jika memerintahkan kepada kemaksiatan, pemerintah tidak boleh ditaati (dalam urusan tersebut) namun masih wajib ditaati dalam hal lain yang bukan kemaksiatan. Disyariatkan jihad bersamanya, walaupun dia seorang yang jahat. Boleh menyalurkan harta sedekah kepadanya (untuk dibagikan kepada yang berhak). Demikian pula, boleh shalat Jum’at dan shalat berjamaah di belakangnya, tanpa harus mengulanginya. Barang siapa mengulanginya, dia tergolong mubtadi’ (pelaku bid’ah).

17. Tidak boleh memberontak kepada penguasa kaum muslimin walaupun dia seorang yang jahat. Berbeda halnya dengan prinsip sesat Khawarij yang mengafirkannya dan mewajibkan memberontak kepadanya. Berbeda pula halnya dengan prinsip sesat Mu’tazilah yang mewajibkan memberontak, walaupun tidak mengafirkannya. Barang siapa memberontak, dia telah menghancurkan tongkat kesatuan kaum muslimin.

18. Seseorang yang berhukum dengan selain hukum Allah Subhanahu wata’ala maka tidak keluar dari empat keadaan:

a. Seseorang yang mengatakan, “Aku berhukum dengan hukum ini, karena ia lebih utama dari syariat Islam,” maka dia kafir dengan kekafiran yang besar.

b. Seseorang yang mengatakan, “Aku berhukum dengan hukum ini, karena ia sama (sederajat) dengan syariat Islam, sehingga boleh berhukum dengannya dan boleh juga berhukum dengan syariat Islam,” maka dia kafir dengan kekafiran yang besar.

c. Seseorang yang mengatakan, “Aku berhukum dengan hukum ini, namun berhukum dengan syariat Islam lebih utama, tetapi boleh-boleh saja untuk berhukum dengan selain hukum Allah,” maka ia kafir dengan kekafiran yang besar.

d. Seseorang yang mengatakan, “Aku berhukum dengan hukum ini,” namun dia dalam keadaan yakin bahwa berhukum dengan selain hukum Allah l tidak diperbolehkan. Dia juga mengatakan bahwa berhukum dengan syariat Islam lebih utama dan tidak boleh berhukum dengan selainnya. Tetapi, dia seorang yang bermudah-mudahan (dalam masalah ini) atau dia mengerjakannya karena perintah dari atasan, maka dia kafir dengan kekafiran kecil yang tidak mengeluarkannya dari keislaman dan teranggap sebagai dosa besar.

19. Wajibnya menjaga hati dan lisan dari membenci, mencela, atau melecehkan para sahabat Rasulullah n. Sebab, mereka adalah generasi terbaik umat ini, bahkan manusia terbaik setelah para nabi dan rasul. Barang siapa membenci, mencela, atau melecehkan salah seorang dari mereka, dia adalah mubtadi’, hingga benar-benar bertobat dan mendoakan kebaikan untuk sahabat tersebut.

20. Sahabat terbaik adalah Abu Bakr ash-Shiddiq, kemudian ‘Umar bin al-Khaththab, kemudian ‘Utsman bin ‘Affan, kemudian ‘Ali bin Abi Thalib, kemudian yang tersisa dari sepuluh orang yang diberitakan oleh Rasulullah n sebagai penduduk jannah (yaitu Sa’d bin Abi Waqqash, Thalhah bin ‘Ubaidillah, ‘Abdurrahman bin ‘Auf, Abu ‘Ubaidah bin al-Jarrah, Zubair bin al-Awwam, dan Sa’id bin Zaid bin ‘Amr bin Nufail), kemudian para sahabat lainnya.

21. Menahan hati dan lisan terhadap perselisihan yang terjadi di antara para sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, dan meyakini bahwa pihak yang benar mendapatkan dua pahala dan pihak yang salah mendapatkan satu pahala. Sebab, mereka semua adalah ahli ijtihad (orang-orang yang berhak berijtihad dalam urusan agama dan umat).

22. Mencintai semua ahlul bait (keluarga Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam) yang beriman, baik dari generasi sahabat maupun yang setelah mereka. Selain itu juga memuliakan para istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, karena mereka adalah para ibu kaum mukminin (ummahatul mukminin) dan termasuk ahlul bait (keluarga Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam). Berbeda halnya dengan kelompok Syi’ah yang membenci, bahkan mengafirkan para sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam termasuk ummahatul mukminin, di sisi lain memuliakan ahlul bait (orangorang tertentu yang mereka kehendaki) dan berlebihan memuliakan mereka. Tidak pula seperti kelompok Nawashib yang beragama dengan menyakiti ahlul bait (keluarga Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam) baik dengan perkataan maupun perbuatan. (Lihat Situs Resmi asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz seputar akidah beliau dan berbagai kitab, risalah, ta’liq, atau fatwa tentang akidah yang terdapat dalam Majmu’ Fatawa asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz)

Akhlak dan Perangai Beliau

Asy-Abdul Aziz bin Baz rahimahullah kesohor akan akhlak dan perangainya yang mulia. Pertemuan dengan beliau selalu menghadirkan pesan dan meninggalkan kesan. Hal itu karena banyaknya akhlak dan perangai mulia yang terkumpul pada diri beliau. Suatu keistimewaan yang sulit didapati pada diri seorang ulama di zaman ini. Di antara akhlak dan perangai beliau yang mulia itu adalah:

1. Ikhlas dalam beramal karena Allah Subhanahu wata’ala.

2. Sangat tawadhu’ (rendah hati), walaupun berkedudukan mulia dan berilmu tinggi.

3. Berpikiran jernih.

4. Tegar, tabah, dan mempunyai etos kerja yang tinggi hingga di usianya yang lanjut.

5. Berbudi pekerti luhur dan penuh pengertian.

6. Dermawan dalam segala hal yang dimiliki; harta, waktu, kesempatan, ilmu, kebaikan, mediator untuk kebaikan, kemurahan, dll.

7. Berkepribadian tenang dan mempunyai daya ingat yang kuat.

8. Stabil dalam hal semangat dan kemauan, tidak goyah dengan berbagai perubahan situasi dan kondisi.

9. Adil dalam memberikan keputusan.

10. Teguh di atas kebenaran dan tidak takut terhadap celaan orang yang mencela.

11. Berwawasan luas, berpandangan jauh, dan selalu mengikuti berbagai perkembangan peristiwa di dunia internasional.

12. Keyakinan yang kuat kepada Allah Subhanahu wata’ala.

13. Zuhud terhadap dunia; harta, pangkat, kedudukan, pujian, dll.

14. Semangat yang tinggi dalam merealisasikan Sunnah (bimbingan) Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam.

15. Berjiwa sabar.

16. Murah senyum dan selalu tampak ceria.

17. Sangat menjaga adab dalam berbicara, bermajelis, dll.

18. Setia terhadap guru, kawan, dan orang yang beliau kenal.

19. Menjalin hubungan silaturahmi dengan segenap keluarga.

20. Memerhatikan hak-hak tetangga.

21. Bertutur kata mulia.

22. Jauh dari sikap bangga diri, merendahkan orang lain, atau mencela makanan.

23. Tidak menerima berita kecuali dari orang yang dapat dipercaya.

24. Selalu berbaik sangka terhadap orang lain.

25. Sedikit bicara dan banyak diam.

26. Banyak berzikir dan berdoa.

27. Tidak mengangkat suara ketika tertawa.

28. Sering menangis ketika mendengar bacaan al-Qur’an, dibacakan kepada beliau sejarah para ulama, atau hal-hal yang berkaitan dengan keagungan al-Qur’an dan as-Sunnah.

29. Menerima hadiah dari orang lain dan berusaha untuk membalasnya.

30. Mencintai orang-orang miskin, dekat dengan mereka, dan kerap kali makan bersama-sama mereka.

31. Sangat menjaga efesiensi waktu.

32. Selalu bersemangat mengajak orang lain kepada kebaikan.

33. Jauh dari sifat iri/dengki kepada orang yang mendapatkan nikmat dari Allah Subhanahu wata’ala.

34. Membalas kejelekan dengan kebaikan.

35. Tidak berlebihan dalam hal menu makanan dan minuman.

36. Memerhatikan janji dan selalu menjaganya.

37. Penuh harap, jauh dari sifat putus asa.

Sepenggal Kisah Cerminan Akhlak Beliau

• Kira-kira 30 tahun sebelum wafat, beliau pernah mendatangi sebuah masjid untuk menyampaikan ceramah. Alas masjid tersebut menggunakan tikar, sedangkan khusus untuk beliau disediakan alas berupa sajadah (permadani). Ketika beliau merasa bahwa alas beliau berbeda dengan keumuman alas di masjid tersebut, digulunglah sajadah itu oleh beliau. Hal itu karena karakter beliau yang tidak suka diistimewakan atas orang lain.

• Pada suatu hari ada seorang pemuda yang menghubungi beliau via telepon seraya berkata, “Wahai Samahatusy Syaikh, umat Islam sangat membutuhkan para ulama yang mempunyai kemampuan berfatwa (mufti). Untuk itu saya mengusulkan kepada Anda agar menempatkan seorang mufti di setiap kota.” Beliau berkata, “Masya Allah, semoga Allah Subhanahu wata’ala memperbaikimu. Berapa umurmu?” Pemuda itu menjawab, “13 tahun.” Beliau pun berkata, “Ini usulan yang bagus, berhak untuk mendapat perhatian.” Kemudian beliau menyuruh sang sekretaris pribadi untuk menulis surat kepada penanggung jawab di Hai’ah Kibar Ulama yang isinya, “Amma ba’du, ada masukan dari seorang penasihat bahwa sudah saatnya ada seorang mufti di setiap kota. Kami memandang, usulan ini perlu diteruskan ke al-Lajnah ad- Daimah (Komite Tetap Fatwa) agar bisa kita diskusikan.”

• Ketika asy-Syaikh Dr. Muhammad Taqiyuddin al-Hilali rahimahullah menulis bait-bait syair yang secara berlebihan memuji beliau dan dimuat di Majalah al-Jami’ah as-Salafiyyah India edisi

09/Sya’ban 1397 H, beliau mengirim surat kepada redaksi majalah tersebut, menyampaikan ketidakrelaan beliau terhadap pujian itu dan meminta redaksi memuat ketidakrelaan beliau itu pada edisi berikutnya.

• Pada musim haji tahun 1418 H, saat beliau duduk di sebuah mushalla di Padang Arafah dan dikitari oleh ratusan orang, dihidangkanlah di hadapan beliau buah-buahan yang sudah dipotongpotong. Mengingat, kebiasaan beliau di hari-hari itu (mayoritasnya) tidak makan

selain buah-buahan, kurma, dan yoghurt. Ketika buah-buahan telah terhidang di hadapan beliau, beliau pun bertanya, “Apakah semua yang hadir di sini juga mendapatkan hidangan seperti ini?” Mereka menjawab, “Tidak.” Beliau marah seraya berkata, “Jauhkanlah hidangan ini!”

• Suatu hari (30 tahun sebelum wafat) beliau hendak menjual rumah karena utang yang menumpuk. Hal ini tercium oleh salah seorang pejabat kerajaan dan dia pun segera mengirimkan uang kepada beliau. Sang pejabat berkata, “Telah sampai kepada saya berita bahwa Anda hendak menjual rumah karena kesempitan yang sedang mengimpit. Sungguh, berita itu membuat saya gelisah, kumohon Anda berkenan menerima hadiah dari saya ini3 dan izinkan saya untuk menyampaikan hal ini kepada Raja.” Beliau balas ucapan pejabat itu

dengan banyak-banyak terima kasih dan doa kebaikan untuknya lalu berkata, “Berita yang sampai kepada Anda itu benar, karena banyaknya tamu yang berdatangan dan orang-orang yang membutuhkan bantuan baik di kota Riyadh maupun di kota Madinah, namun saya

tidak ingin hal ini sampai kepada Raja.”

• Asy-Syaikh Ahmad bin Abdul Aziz bin Baz berkata, “Aku adalah salah seorang putra Samahatusy Syaikh Abdul Aziz bin Baz. Aku dilahirkan saat ayahku telah berusia di atas 60 tahun. Usia beliau yang sudah lanjut itu, ditambah dengan aktivitas kantor, dakwah, dan fatwa yang sangat padat tidaklah menjadi penghalang bagi beliau untuk menjadi seorang ayah bagiku dan saudara-saudaraku, bahkan untuk umat Islam. Beliau sangat memerhatikan kami selaku anak. Layaknya seorang ayah terhadap anaknya, beliau mencurahkan segenap kasih sayang, pengawasan, nasihat, bimbingan, arahan, bahkan dakwah. Dengan segala cara beliau berupaya untuk menjadi seorang ayah yang dekat dengan anak-anaknya di tengah kesibukan beliau yang sangat padat.” Untuk melengkapi berbagai kisah cerminan akhlak beliau yang mulia, silakan membaca rubrik “Akhlak” dan “Manhaji” pada edisi ini.

Agenda Harian Beliau

Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz mempunyai agenda harian yang sangat ketat dan bagus. Dengan taufik dari Allah Subhanahu wata’ala, kemudian berkat agenda harian yang tertata itulah berbagai amanat yang berada di pundak beliau dapat ditunaikan dengan sebaik-baiknya. Berikut ini agenda harian beliau, semoga menjadi teladan bagi kita semua.

1. Beliau bangun pagi kurang lebih 1 jam sebelum shubuh. Kemudian shalat tahajjud 11 rakaat dengan khusyu’ dan rendah diri kepada Allah Subhanahu wata’ala. Beliau pun banyak berdoa, di antaranya mendoakan umat Islam dan kebaikan para penguasa mereka, berzikir, membaca al-Qur’an, dan beristighfar.

2. Setelah azan subuh (terkadang sebelumnya), beliau pergi ke masjid dengan tenang dan penuh penghambaan kepada Allah Subhanahu wata’ala dengan membaca doa keluar rumah (dan doa menuju masjid, pen.) sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah n. Sesampainya di masjid, beliau masuk dengan mendahulukan kaki kanan seraya membaca doa masuk masjid dan shalat sunnah qabliyah. Beliau kemudian memperbanyak doa hingga iqamat. Setelah itu, beliau menunaikan shalat shubuh berjamaah. Selepas shalat, beliau membaca zikir-zikir yang khusus dibaca setelah shalat, kemudian membaca wirid-wirid doa dan zikir yang dituntunkan untuk dibaca di setiap pagi.

3. Setelah dirasa cukup membaca wirid-wirid pagi, beliau memulai taklim (kajian) rutin di masjid tersebut dari beberapa kitab yang dibacakan kepada beliau. Taklim (kajian) rutin itu menghabiskan waktu sekitar 3 jam, bahkan terkadang lebih. Setelah itu, beliau menjawab berbagai pertanyaan agama yang diajukan kepada beliau dengan penuh perhatian dan ketelitian, kemudian pulang ke rumah. Jika berhalangan

3 Permohonan tersebut disampaikan oleh sang pejabat karena asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz dikenal tidak mudah menerima bantuan. Dia khawatir jika bantuannya itu ditolak. mengajar, beliau langsung pulang ke rumah seusai membaca wirid doa dan zikir pagi.

4. Beliau duduk di rumah sekitar dua jam. Beliau manfaatkan kesempatan itu untuk menjawab berbagai persoalan yang membutuhkan jawaban dari beliau, atau dibacakan kepada beliau beberapa kitab dan karya ilmiah. Setelah itu beliau masuk ke bagian dalam rumah guna beristirahat. Tepat pukul 08.00 pagi, beliau keluar dari tempat peristirahatan dan bersiap-siap untuk makan pagi. Setelah makan pagi, beliau berwudhu lalu shalat dua rakaat, kemudian berangkat ke kantor dengan tenang dan kemauan yang kuat. Begitu naik mobil, diajukan kepada beliau beberapa persoalan yang membutuhkan jawaban dari beliau, atau dibacakan kepada beliau beberapa kitab. Setibanya di kantor, beliau turun dari mobil dan berjalan kaki menuju ruangan pribadi beliau. Berbagai tulisan dan persoalan pun diajukan kepada beliau hingga memasuki ruangan tersebut.

5. Di ruangan pribadi tersebut, beliau mengerjakan berbagai tugas harian yang berat dengan penuh semangat, seperti menyelesaikan berbagai kasus dan persoalan yang diajukan kepada beliau, menyambut para delegasi/tamu, mengeluarkan fatwa terkait pertanyaanpertanyaan yang berdatangan dari para penanya, melayani para pengunjung yang sedang mengalami kasus talak, dan sebagainya. Hal ini berlangsung hingga pukul 14.30 siang atau lebih sedikit. Dengan demikian, seringkali beliau menjadi orang yang terakhir keluar dari kantor. Setelah itu beliau pulang ke rumah.

6. Dalam perjalanan menuju rumah (di atas mobil), diajukan kembali kepada beliau berbagai persoalan, atau dibacakan kitab. Jika tidak ada yang membacakan, beliau manfaatkan untuk berzikir dan membaca al-Qur’an. Dalam kesempatan itu pula terkadang beliau manfaatkan untuk mendengarkan siaran berita radio pukul 14.30.

7. Setiba di rumah, beliau langsung disambut oleh banyak orang. Mereka adalah orang-orang yang mempunyai keperluan dengan beliau. Ada yang meminta fatwa, ada yang sekadar mengucapkan salam, ada yang mempunyai kasus talak, ada yang meminta bantuan, orang fakir, pejabat, dan pengunjung dari daerah yang dekat ataupun jauh. Beliau ucapkan salam kepada mereka, kemudian mempersilakan para tamu tersebut untuk menyantap hidangan makan siang yang telah disediakan di rumah beliau. Beliau makan siang sembari berbincang dengan mereka, menanyakan keadaan mereka, dan menjawab berbagai pertanyaan mereka.

Setelah dirasa cukup, beliau berhenti dan masih menemani mereka beberapa saat agar mereka tidak terburu-buru menyelesaikan makan. Kemudian beliau berdiri untuk mencuci tangan seraya mengatakan, “Tidak usah terburu-buru, masing-masing hendaknya melanjutkan makannya.” Ketika beliau berdiri menuju tempat cuci tangan, mulailah diajukan berbagai pertanyaan kepada beliau. Setelah mencuci tangan, beliau kembali ke tempat yang semula. Jika waktu agak sempit dan masuk waktu ashar, maka beliau mengambil air wudhu, menjawab azan lalu berangkat ke masjid. Namun, jika masih tersisa banyak waktu, beliau

meluangkan waktu untuk duduk-duduk bersama para tamu sambil minum teh dan memakai minyak wangi, kemudian masuk ke dalam rumah sejenak. Beliau keluar saat dikumandangkan azan ashar guna berangkat ke masjid untuk menunaikan shalat ashar.

8. Seusai shalat ashar, imam masjid membacakan beberapa poin dari kitab Riyadhush Shalihin, al-Wabilush Shayyib, atau Kitabut Tauhid, atau yang lainnya, lalu beliau menerangkannya kepada para jamaah. Berikutnya, beliau menjawab beberapa pertanyaan yang diajukan di majelis tersebut. Kemudian beliau pulang ke rumah untuk beristirahat. Dalam perjalanan menuju rumah pun, beliau masih menjawab banyak pertanyaan yang diajukan oleh orang-orang yang berjalan mengiringi beliau.

9. Menjelang maghrib, beliau mengambil air wudhu lalu pergi ke masjid untuk menunaikan shalat maghrib. Seusai shalat, beliau pulang ke rumah dan melakukan shalat ba’diyah maghrib. Kemudian beliau duduk bersama orangorang yang mengunjungi beliau dengan problemnya masing-masing. Hal itu jika tidak ada jadwal mengajar atau memberikan catatan penting dalam acara seminar.

10. Saat azan isya dikumandangkan, beliau menjawabnya, lalu beranjak menuju masjid untuk menunaikan shalat isya. Ketika tiba di masjid, beliau menunaikan shalat tahiyatul masjid. Seusai shalat sunnah tersebut, imam masjid segera membacakan beberapa hadits untuk diterangkan kepada para jamaah oleh beliau. Setelah itu beliau menjawab beberapa pertanyaan yang diajukan. Kemudian ditnuaikanlah shalat isya.

11. Seusai shalat isya, jika tidak ada janji di luar rumah, ceramah, undangan khusus, undangan walimah nikah, mengunjungi orang sakit, atau agenda yang semisalnya, beliau langsung pulang ke rumah. Beliau manfaatkan waktu tersebut untuk membaca beberapa persoalan yang membutuhkan solusi, atau memuraja’ah beberapa kitab. Terkadang ada acara rapat di rumah beliau, terkadang pula kedatangan para tamu, atau ada rekaman untuk siaran radio, atau ceramah via telepon untuk kaum muslimin di luar negeri.

12. Setelah itu, beliau makan malam bersama para tamu, para pegawai di kantor pribadi (di rumah) beliau, dan siapa saja yang hadir saat itu. Selepas makan malam, beliau melanjutkan pekerjaan yang dilakukan sebelum makan malam, atau melanjutkan perbincangan dengan para tamu beliau, atau duduk untuk membaca beberapa kitab, atau menyelesaikan beberapa persoalan yang membutuhkan solusi dari beliau hingga larut malam. Terkadang hingga pukul 23.00 atau pukul 24.00 malam. Kemudian beliau masuk ke bagian dalam rumah, lalu berjalan-jalan sekitar 30 menit, setelah itu beranjak tidur. Demikianlah agenda harian asy- Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah yang penuh ilmu, hikmah, derma, dan berbagai kegiatan bermanfaat lainnya. Semoga menjadi teladan dan pelajaran berharga bagi kita semua. Amin.

Sumber Bacaan:

Majmu’ Fatawa Ibn Baz, program al-Maktabah asy-Syamilah.

Asy-Abdul Aziz bin Baz Namudzaj Minar Ra’ilil Awwal, karya Asy-Syaikh Abdul Muhsin al-Abbad, program al- Maktabah asy-Syamilah.

Al-Mauqi’ ar-Rasmi lisy Syaikh Abdil Aziz bin Baz (Situs Resmi asy- Syaikh Abdul Aziz bin Baz)

Durus lisy Syaikh Abdil Aziz bin Baz, program al-Maktabah asy-Syamilah.

Ditulis oleh Al-Ustadz Ruwaifi bin Sulaimi

Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah Tonggak Perjuangan Umat Islam

Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah adalah seorang tokoh umat Islam yang berilmu tinggi, berakhlak mulia, dan berakidah lurus. Pengalaman beliau sebagai qadhi (hakim agama) dan da’i (pegiat dakwah) selama 14 tahun di kota Kharj membuahkan wawasan yang luas tentang kehidupan sosial kemasyarakatan dan seluk-beluknya. Pengalaman beliau yang cukup lama di dunia pendidikan, diawali sebagai dosen di Fakultas Syari’ah Riyadh selama 9 tahun, kemudian sebagai wakil rektor Universitas Islam Madinah selama 9 tahun pula, hingga menjabat sebagai rektor Universitas Islam Madinah selama 5 tahun, memosisikan beliau sebagai seorang pakar di dunia ilmu pendidikan, baik tentang keilmuannya, teknis pembelajarannya, sekaligus manajemen pengelolaan institusinya dengan taraf internasional.

Pengalaman beliau sebagai ketua umum al-Lajnah ad-Daimah lil Buhutsil Ilmiyyah wal Ifta’ wad Da’wah wal Irsyad (Komite Riset Ilmiah, Fatwa, Dakwah, dan Bimbingan) Kerajaan Saudi Arabia yang setingkat menteri selama 19 tahun, kemudian dilengkapi dengan jabatan Mufti Agung Kerajaan Saudi Arabia dan sekaligus Ketua Hai’ah Kibar Ulama (Komite Ulama Besar) Kerajaan Saudi Arabia, semakin memperkaya wawasan global beliau tentang dunia Islam dengan berbagai problematikanya. Karena keluasan ilmu agama dan segudang pengalaman yang dikaruniakan oleh Allah Subhanahu wata’ala itulah, beliau terposisikan sebagai imam (tokoh terkemuka) di tengah-tengah umat Islam. Tak heran, bila nasihat dan bimbingan beliau selalu ditunggu kehadirannya oleh umat. Lebih dari itu, beliau terposisikan sebagai tonggak perjuangan umat dalam menghadapi berbagai pergolakan yang terjadi di dunia internasional. Semua itu karena besarnya perhatian beliau terhadap eksistensi umat.

Upaya beliau dalam menjaga persatuan umat sangat luar biasa. Pembelaan beliau terhadap umat dan kehormatan mereka tak pernah pupus. Demikian pula pembentengan beliau terhadap hal-hal yang membahayakan umat, senantiasa lekat dengan derap langkah kehidupan beliau. Itulah asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah, tonggak perjuangan umat Islam yang menerangi mereka dengan lentera hikmah. Semoga Allah Subhanahu wata’ala membalas jasa dan perjuangan beliau dengan surga-Nya yang bertaburkan kenikmatan abadi. Amiin.…

Perhatian Beliau Terhadap Eksistensi Umat

Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah adalah seorang ulama yang sangat memerhatikan eksistensi umat. Kejayaan Islam dan umat Islam seringkali menjadi topik bahasan beliau pada acara-acara sentral berskala internasional. Berbagai nasihat dan bimbingan berharga selalu beliau sampaikan demi kejayaan Islam dan umat Islam. Di antara nasihat dan bimbingan berharga itu adalah apa yang pernah beliau sampaikan pada Muktamar Islam Tingkat Tinggi bahwa kejayaan Islam dan umat Islam tidak akan bisa diraih kecuali dengan dua hal penting:

Pertama: Keimanan yang kokoh kepada Allah Subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wasallam, yang meliputi:

a. Mengikhlaskan setiap amalan hanya untuk Allah Subhanahu wata’ala semata.

b. Menjalankan segala perintah Allah Subhanahu wata’ala dan menjauhi segala larangan-Nya.

c. Berhukum dengan syari’at Allah Subhanahu wata’ala dalam segenap sendi kehidupan.

d. Menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar.1

e . Mengembalikan semua permasalahan yang diperselisihkan di tengah umat kepada Kitabullah (al- Qur’an) dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.

f. Menyiapkan kekuatan yang maksimal untuk membela agama Allah Subhanahu wata’ala dan kehormatannya, serta menegur pihak yang menyimpang agar kembali kepada kebenaran.

Kedua: Jihad di jalan Allah Subhanahu wata’ala dengan penuh kesungguhan, yang hakikatnya termasuk dari konsekuensi keimanan. Beliau menegaskan, apabila dua hal penting itu ada pada suatu umat atau negara, pasti kemenangan akan mengiringinya dan kejayaan di muka bumi akan diraihnya. Demikianlah janji Allah Subhanahu wata’ala yang tak akan terselisihi dan ketetapan-Nya (sunnatullah) yang tak akan berubah. (Disarikan dari Majmu’ Fatawa asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz 2/167) Dalam kesempatan lain, beliau memperingatkan bahwa sebab utama kehancuran umat adalah menjamurnya kesyirikan, kebid’ahan (perkara baru yang diada-adakan dalam agama), dan kemaksiatan di tengah masyarakat. Semua itu harus diatasi bersama dengan cara:

a. Saling menolong dalam kebajikan dan ketakwaan.

b. Menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar di tengah-tengah masyarakat. (Lihat Majmu’ Fatawa asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz 3/243)

Upaya Beliau dalam Menjaga Persatuan Umat

Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah adalah seorang ulama yang sangat peduli terhadap persatuan umat Islam. Berbagai upaya untuk mempersatukan umat Islam dan menjauhkan mereka dari perpecahan telah dicurahkan oleh beliau. Bahkan, beliau termasuk ulama yang paling getol menyerukan proyek at-Tadhamun al-Islami di dunia Islam, yaitu sikap saling membantu, bekerja sama, bahu-membahu, tolong-menolong, serta berwasiat dengan kebenaran dan kesabaran dengan sesama umat Islam di seluruh dunia. Di antara cakupan at-Tadhamun al-Islami itu adalah:

• Amar ma’ruf nahi mungkar.

• Dakwah di jalan Allah Subhanahu wata’ala dan memberikan pembelajaran kepada orangorang yang tidak berilmu.

• Mengarahkan umat kepada sebabsebab kebahagiaan, keselamatan, dan kebaikan baik di dunia maupun di akhirat.

• Membantu orang yang lemah, menolong orang yang teraniaya, dan mencegah perbuatan aniaya dari pelakunya.

• Menegakkan hukum had (pidana Islam), menjaga stabilitas keamanan, menindak para perusak, mengontrol keamanan jalur-jalur lalu lintas baik dalam lingkup nasional maupun internasional.

• Memperbanyak sarana transportasi yang memudahkan umat Islam di seluruh dunia untuk saling berhubungan baik via darat, laut, maupun udara. Demikian pula memperbanyak sarana komunikasi dengan membuka seluruh jaringan komunikasi yang memungkinkan. Semua itu demi lebih memudahkan koordinasi antarumat Islam di seluruh dunia dan diraihnya kebaikan bersama secara lebih maksimal, baik dalam urusan agama maupun dunia.

• Menegakkan keadilan, menebarkan ketenteraman, dan memelopori perdamaian dunia.

• Menjalin kebersamaan yang solid antarumat Islam, menyelesaikan pertikaian bersenjata di antara mereka, dan memerangi kelompok yang membangkang di tengah-tengah mereka hingga kembali kepada kebenaran. Menurut beliau, dengan at-Tadhamun al-Islami inilah kebersamaan umat Islam di seluruh dunia akan semakin kokoh, kemaslahatan di tengah-tengah mereka akan semakin tertata, persatuan mereka akan semakin kuat, sehingga semakin berwibawa di hadapan musuh-musuhnya. (Disarikan dari at-Tadhamun al-Islami. Lihat Majmu’ Fatawa asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz 2/192—193)

Ketika ditanya tentang persatuan, beliau menjawab, “Konsep yang saya tawarkan dalam permasalahan ini adalah mengajak umat secara keseluruhan kepada tauhid, mengikhlaskan ibadah hanya kepada Allah Subhanahu wata’ala semata, berpegang teguh dengan syariat-Nya, dan berupaya untuk tidak menyelisihinya. Inilah yang dapat menyatukan umat di atas kebenaran, memangkas perpecahan, dan menghilangkan sikap fanatik terhadap mazhab tertentu. Dengan kata lain, mengajak umat Islam untuk istiqamah di atas agama Allah Subhanahu wata’ala, menjaga syariat-Nya, serta tolong-menolong dalam kebajikan dan ketakwaan.

Dengan inilah barisan umat Islam dan kekuatan mereka akan bersatu, dan menjadi satu kesatuan laksana satu tubuh, satu bangunan, dan satu pasukan dalam menghadapi musuh-musuhnya. Adapun jika setiap pribadi muslim berfanatik terhadap mazhabnya, gurunya, atau ideologi yang menyelisihi salaful ummah (pendahulu terbaik umat ini), sungguh akan terjadi perpecahan di tubuh umat. Oleh karena itu, wajib bagi para ulama, para da’i, dan para penguasa umat Islam untuk bahu-membahu mengajak umat kepada kebenaran, berpegang teguh dengannya, dan istiqamah di atasnya. Hendaknya target utama semua pihak adalah menjalankan ketaatan kepada Allah Subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya n, berjalan di atas al-Qur’an dan Sunnah Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wasallam, serta berupaya tidak menyelisihinya. Inilah satu-satunya jalan untuk mempersatukan kesatuan umat Islam, merapatkan barisan mereka, dan meraih kemenangan atas musuh mereka. Wallahu waliyyut taufiq (Majalah al-Buhuts al- Islamiyah edisi 18, tahun 1407 H. Lihat Majmu’ Fatawa asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz 2/448—449)

Pembelaan Beliau Terhadap Umat Islam dan Kehormatan Mereka

Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah adalah sosok ulama yang menyatu jiwanya dengan umat Islam di seluruh dunia. Bagi beliau, problem umat Islam di suatu negeri adalah problem bersama umat Islam di seluruh dunia. Tidak dibatasi oleh bangsa, warna kulit, ataupun bahasa. Tak jarang, ketika umat Islam di suatu negeri dihinakan, diperangi, disiksa, atau dianiaya beliau tergolong orang yang terdepan dalam membangkitkan semangat kebersamaan umat, agar segera terwujud sebuah pembelaan terhadap mereka. Di antara yang terkoleksi dari kiprah beliau dalam hal yang mulia ini adalah surat terbuka yang beliau tujukan kepada para penguasa muslim dan segenap umat Islam di seluruh dunia sebagaimana berikut ini,

“Wahai para penguasa muslim dan segenap umat Islam di seluruh dunia, saya mengajak kalian semua untuk merealisasikan kandungan firman Allah Subhanahu wata’ala, {Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu bersaudara}, merajut persaudaraan yang hakiki antarpribadi muslim walaupun berbeda bangsa, warna kulit, dan bahasa. Sudah seharusnya umat Islam satu kata dalam menghadapi umat-umat selain mereka… Sungguh pada hari ini umat Islam telah mendengar atau menyaksikan musibah yang menimpa saudara-saudara mereka di Filipina, Afghanistan, Eriteria, Ethopia, Palestina, dan di banyak negeri lainnya termasuk minoritas muslim yang hidup di bawah cengkeraman kekuatan negara-negara komunis yang kafir. Namun sayang, umat Islam tidak memerhatikan hak-hak mereka. Tidak pula berupaya memberikan pertolongan, pembelaan, dan bantuan….

Padahal para ulama telah menetapkan, jika ada seorang wanita muslimah yang dizalimi atau dihinakan di belahan bumi bagian barat, wajib bagi umat Islam yang berada di belahan bumi bagian timur untuk membelanya. Lalu bagaimanakah jika yang terjadi adalah pembunuhan, pengusiran, penganiayaan, permusuhan, dan penangkapan-penangkapan tanpa bukti?! Semua itu sungguh telah menimpa ratusan umat Islam, sementara saudarasaudara mereka seislam hanya berpangkutangan, tak ada yang mau peduli dan membela mereka kecuali hanya segelintir orang saja. Maka dari itu, wajib bagi negara-negara muslim dan semua pihak yang mempunyai kemampuan untuk memberikan perhatian kepada mereka yang lemah….

Jika umat Nasrani, Yahudi, komunis, dan yang lainnya dari kalangan orang kafir sangat memerhatikan hak-hak anggotanya walaupun berada di luar negeri yang jauh dari mereka, mengirimkan segala bantuan yang dibutuhkan, bahkan mengancam pihak-pihak yang menyakitinya walaupun anggota tersebut adalah seorang penjahat di negerinya; mengapa umat Islam hanya berpangku tangan terhadap pembantaian,

penyiksaan, dan gangguan yang menimpa saudara-saudara mereka di banyak negeri?!

Ketahuilah, barang siapa dari umat ini yang tidak mau peduli terhadap penderitaan saudaranya seislam dan tidak tergerak hatinya untuk membela mereka maka sangat dikhawatirkan musibah itu berbalik kepadanya. Yaitu ketika ia ditimpa musibah yang sama maka tidak ada seorang pun yang membelanya, atau menghentikan penganiayaan dan penyiksaan tersebut….” (Diringkas dari Majmu’ Fatawa asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz 2/162—163)

Ketika Masjid Babri di kota Ayodhya India diserang dan dihancurkan oleh kelompok militan Hindu, beliau mengeluarkan pernyataan keras terhadap para pelaku dan terhadap Pemerintah India sebagai berikut, “Kami meyakini bahwa penyerangan dan penghancuran Masjid Babri adalah kejahatan besar yang tak termaafkan, karena termasuk penghinaan terhadap Islam, umat Islam, dan tempat-tempat suci mereka. Pemerintah India harus bertanggung jawab atas kejadian itu, dengan cara menghukum para pelaku kejahatan yang menyakitkan itu, membangun kembali masjid tersebut, dan menghentikan segala kejahatan dari pihak Hindu yang ditujukan kepada Islam, umat Islam, dan tempat-tempat suci mereka….

Pemerintah India juga harus menghormati Islam dan umat Islam di India, memilihkan tempat yang tepat untuk mereka, menghormati tempat-tempat suci mereka, serta mengayomi mereka dari gangguan orang-orang jahat dengan penuh kekuatan dan kesungguhan….” (Diringkas dari Majmu’ Fatawa asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz 7/349—351)

Upaya Beliau dalam Pembentengan Umat

Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah adalah seorang ulama yang sangat menyayangi umat Islam. Dengan gigih beliau berjuang membentengi mereka dari hal-hal yang membahayakan, baik yang bersifat fisik sebagaimana keterangan di atas maupun yang bersifat nonfisik sebagaimana yang akan disebutkan. Adapun pembentengan yang bersifat nonfisik adalah dalam bentuk pembentengan umat dari ghazwul fikri (perang pemikiran) yang dilancarkan

oleh musuh-musuh Islam dan para kaki tangannya. Pembentengan tersebut meliputi:

1. Pembentengan akidah umat dari pemurtadan yang dewasa ini gencar dilakukan oleh kaum Nasrani, Yahudi, dan komunis.

2. Pembentengan manhaj (metode mengamalkan agama) umat dari bid’ah dan kesesatan, termasuk ideologi teroris.

3. Pembentengan akhlak umat dari dekadensi moral dan kemaksiatan. Rincian konsep dan bimbingan beliau seputar pembentengan umat tersebut dapat dilihat pada beberapa jilid dari kitab Majmu’ Fatawa asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz terkhusus 3/338.

Meraih Penghargaan Internasional Raja Faisal (King Faisal International Prize) atas Pengabdian untuk Islam

Pengabdian yang dilakukan oleh asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah sangat dirasakan oleh umat Islam di berbagai penjuru dunia, kecuali orangorang yang menutup mata karena kesumat benci yang menyelimuti hatinya. Demikianlah perjuangan beliau yang tiada henti. Tak mengherankan apabila Penghargaan Internasional Raja Faisal menganugerahkan penghargaan kepada beliau atas segala pengabdian yang beliau lakukan untuk Islam dan umat Islam.

Penghargaan yang tidak diberikan kepada sembarang orang itu dikeluarkan di Riyadh pada 6 Jumadal Ula 1402 H, bertepatan dengan 1 Maret 1982 M. Disebutkan padanya beberapa contoh dari pengabdian yang telah beliau lakukan sebagaimana berikut ini,

• Ragam aktivitas beliau yang banyak di medan dakwah ilallah dan ketegaran beliau di atas jihad, perjuangan, dan amal saleh di zaman ini.

• Militansi beliau dalam merealisasikan Islam yang tercermin pada pemikiran, perilaku, pedoman hidup, dan dakwah beliau.

• Peran aktif beliau yang bagus di bidang riset dan studi keilmuan Islam, di bidang pendidikan Islam, penyebaran ragam buku Islam dan pembagiannya secara gratis di berbagai penjuru dunia, hingga tercatat sebagai salah satu tokoh kebudayaan Islam yang terkemuka.

• Semangat beliau yang besar dalam memberikan berbagai solusi yang tepat untuk problematika Islam dan umat Islam di seluruh penjuru dunia.

• Bantuan beliau terhadap berbagai gerakan jihad (syar’i, bukan terorisme, pen.) di berbagai belahan bumi ini.

• Dukungan beliau terhadap proyekproyek Islami dan dorongan beliau terhadap para ulama, pribadi-pribadi, dan lembaga-lembaga agar membantu proyek-proyek tersebut. (Lihat al-Kitab al-Watsaiqi ‘Anil Jami’ah al-Islamiyyah bil Madinah al-Munawwarah hlm. 221)

Ditulis oleh Al-Ustadz Ruwaifi bin Sulaimi

Pembelaa Terhadap Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah

Para pembaca yang mulia, predikat sebagai ulama yang menguasai urusan agama merupakan anugerah agung dari Allah Subhanahu wata’ala, Dzat Yang Mahaalim. Titian jalan yang ditempuhnya senantiasa diiringi barakah Ilahi. Kedudukannya di sisi Allah Subhanahu wata’ala pun berada pada tingkatan yang tinggi lagi mulia. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ

“Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang berilmu beberapa derajat.” (al-Mujadilah: 11)

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah berkata, “Oleh karena itu, kita mendapati orang-orang yang berilmu selalu menyandang pujian. Setiap disebut (nama mereka), pujian pun tertuju untuk mereka. Ini merupakan bentuk diangkatnya derajat mereka di dunia. Adapun di akhirat akan meraih derajat yang tinggi lagi mulia sesuai dengan dakwah yang mereka lakukan di jalan Allah Subhanahu wata’ala dan realisasi ilmu yang mereka miliki.” (Kitabul Ilmi, hlm.14) Ulama adalah referensi utama dalam menyibak berbagai problem musykil yang terjadi di tengah umat. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِن كُنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“Maka bertanyalah kepada orangorang yang berilmu jika kalian tidak mengetahui.” (an-Nahl: 43)

Oleh karena itu, keberadaan mereka di tengah umat sangatlah berarti, sedangkan ketiadaan mereka adalah musibah tersendiri. Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah berkata, “Selama para ulama masih ada, umat pun masih berada dalam kebaikan. Para setan dari kalangan jin dan manusia tidak akan leluasa untuk menyesatkan mereka. Karena para ulama tidak akan tinggal diam untuk menerangkan jalan kebaikan dan kebenaran sebagaimana mereka selalu memperingatkan umat dari jalan kebinasaan.” (Ma Yajibu Fit Ta’amuli Ma’al Ulama, hlm. 7)

Namun, menjadi ketetapan Allah Subhanahu wata’ala (sunnatullah) bahwa setiap orang yang baik, taat, dan istiqamah di atas kebenaran pasti mendapatkan ujian dan cobaan. Di antara bentuk ujian dan cobaan itu adalah adanya orang-orang jahat yang memusuhinya. Demikianlah yang telah dialami oleh para nabi dan rasul yang mulia, sebagaimana pula yang dialami oleh orang-orang yang mengikuti jejak mereka dengan sebaikbaiknya (terkhusus para ulama) hingga hari kiamat kelak. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا مِّنَ الْمُجْرِمِينَ ۗ وَكَفَىٰ بِرَبِّكَ هَادِيًا وَنَصِيرًا

“Dan demikianlah Kami jadikan untuk setiap nabi para musuh dari kalangan orang-orang yang jahat. Dan cukuplah Rabb-mu sebagai pemberi petunjuk dan pembela.” (al-Furqan: 31)

Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah di Mata Orang-Orang yang Memusuhinya

Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah, seorang ulama besar yang kesohor akan kealiman dan ketokohannya di kalangan umat tak luput pula dari orang-orang jahat yang memusuhinya. Padahal memusuhi beliau itu tiada berguna. Berbagai permusuhan yang ditujukan kepada beliau itu justru semakin mengangkat derajat beliau dan membuat harum nama beliau. Laksana kayu gaharu yang sudah harum, akan semakin semerbak aroma harumnya ketika terkena panasnya api. Para pembaca yang mulia, bila mencermati ragam orang yang memusuhi asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah dapatlah disimpulkan bahwa mereka tidak keluar dari dua jenis manusia; orang bodoh yang tidak berilmu dan pengikut hawa nafsu. Jenis manusia yang pertama seringkali terjebak pada kasus menuduh tanpa bukti atau menyalahkan tanpa dasar. Sedangkan jenis manusia yang kedua seringkali terjatuh pada kasus memutarbalikkan fakta atau memotong perkataan sesuai yang dimaukan untuk memaksakan kesan buruk atau sesat tentang diri beliau. Di antara contoh kasus-kasus itu adalah pernyataan yang dimuat dalam blog Abu Syafiq al-Asy’ari (Malaysia), sebagai berikut:

– Menghina Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam.

– Mengharamkan shalawat kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam.

– Menghina Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai autsan yaitu patung berhala.

Tanggapan

1. Pernyataan Abu Syafiq al-Asy’ari di atas adalah tuduhan tanpa bukti bahkan kedustaan yang keji terhadap asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah. Sebab, berbagai karya tulis dan ceramah beliau sangat bertolak belakang dengan pernyataan tersebut.

2. Dengan demikian bisa jadi Abu Syafiq al-Asy’ari itu termasuk dari jenis manusia yang pertama yaitu orang bodoh yang tidak berilmu yang seringkali terjebak pada kasus menuduh tanpa bukti atau menyalahkan tanpa dasar. Bisa jadi juga termasuk jenis manusia yang kedua yaitu pengikut hawa nafsu yang seringkali terjatuh pada perbuatan memutarbalikkan fakta atau memotong perkataan sesuai yang dimaukan untuk memaksakan kesan buruk atau sesat tentang diri beliau rahimahullah.

3. Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah termasuk ulama yang getol mengajak umat untuk memuliakan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam, dan menjadikan beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai teladan tertinggi dalam segenap sendi kehidupan ini. Menurut asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah, dengan mengikuti beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam akan diraih petunjuk Allah Subhanahu wata’ala dan rahmat-Nya, kebahagiaan, serta kesudahan yang baik di dunia dan di akhirat. Simaklah perkataan beliau berikut ini,

“Beberapa ayat ini dan ayat-ayat lain yang semakna semuanya menunjukkan tentang kewajiban mengikuti Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam dan menaatinya. Demikian pula petunjuk Allah Subhanahu wata’ala dan rahmat-Nya, kebahagiaan, serta kesudahan yang baik, akan diraih dengan mengikuti dan menaati beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam. Barang siapa mengingkari hal ini berarti telah mengingkari Kitabullah. Barang siapa mengklaim bahwa dirinya hanya mengikuti al-Qur’an tanpa mengikuti Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam maka telah berdusta, keliru, dan kafir, karena al-Qur’an memerintahkan untuk mengikuti beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam. Barang siapa tidak mengikuti beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam berarti tidak beramal dengan al- Qur’an, tidak beriman dengannya, dan tidak patuh terhadap bimbingannya, karena di dalam al-Qur’an itu terdapat perintah untuk mengikuti beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam dan terdapat pula ancaman bagi siapa saja yang menyelisihi beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam.” (Majmu’ Fatawa asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz 25/14)

Lebih dari itu, beliau memperingatkan umat dari semua perbuatan yang menyelisihi Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam, bahkan menegaskan bahwa perbuatan tersebut merupakan sebab kebinasaan di dunia dan di akhirat. Simaklah perkataan beliau berikut ini, “Allah Subhanahu wata’ala menyebutkan bahwa orang yang menyelisihi perintah Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam berada dalam bahaya yang sangat besar, yaitu akan ditimpa fitnah berupa penyimpangan, kesyirikan, kesesatan, atau azab yang pedih. Na’udzu billah min dzalik.” (Majmu’ Fatawa asy- Syaikh Abdul Aziz bin Baz 25/13—14)

4. Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah adalah seorang ulama yang sangat besar pembelaannya terhadap Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam. Lisan beliau selalu basah dengan sanjungan shalawat. Hampirhampir semua karya ilmiah atau ceramah beliau selalu didahului dengan memuji Allah Subhanahu wata’ala dan shalawat kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Sikap beliau pun sangat tegas terhadap orang yang menghina Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam. Simaklah perkataan beliau berikut ini:

“Saya telah melihat apa yang dimuat oleh surat kabar Shautul Islam Mesir yang menukil dari surat kabar al-Masa’ al-Mishriyah yang terbit pada tanggal 29 Januari lalu. Isinya adalah sikap lancang terhadap sosok yang mulia nan berkedudukan agung, yaitu sayyiduna wa imamuna Muhammad bin Abdillah semoga shalawat dan salam yang tak terhingga tercurahkan kepada beliau, keluarga, dan para sahabat beliau. Sikap lancang itu adalah menyerupakan beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam dengan seekor binatang yaitu ayam jantan. Seorang muslim tidak akan ragu bahwa perbuatan itu jelas-jelas kekafiran, penyimpangan yang nyata, dan penghinaan secara terang-terangan terhadap sosok pemimpin seluruh umat manusia, utusan Rabb alam semesta, dan pemuka orang-orang yang bercahaya di hari kiamat. Sungguh, ini merupakan sikap lancang yang meresahkan setiap muslim, melukai hati setiap mukmin.

Sikap lancang yang mengharuskan laknat, kehinaan, kekal di neraka, mendapatkan kemarahan dari Allah Subhanahu wata’ala Dzat yang Mahaperkasa lagi Mahakuasa, keluar dari lingkaran Islam dan iman menuju kesyirikan, kemunafikan, dan kekafiran bagi orang yang melakukannya atau yang menyetujuinya. Di dalam al-Qur’anul Karim telah ditegaskan kafirnya orang yang menghina Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, sesuatu dari al-Qur’an, atau syariat-Nya yang bijak. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ {} لَا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُم بَعْدَ إِيمَانِكُمْ

“Mengapa kepada Allah, ayatayat- Nya, dan Rasul-Nya kalian (selalu) berolok-olok? Tidak perlu kalian meminta maaf, karena kalian telah kafir setelah beriman.” (at-Taubah: 66—65)

Maka ayat ini sebagai pernyataan yang jelas dan bukti yang kuat atas kafirnya orang yang menghina Allah Subhanahu wata’ala Dzat yang Mahaagung, Rasul-Nya yang mulia, atau kitab-Nya yang gamblang. Sungguh para ulama telah sepakat (ijma’) di setiap masa dan tempat tentang

kafirnya orang yang menghina Allah Subhanahu wata’ala, Rasul-Nya, kitab-Nya, atau sesuatu dari agama ini. Mereka juga sepakat bahwa seseorang yang asalnya muslim lalu melakukan perbuatan tersebut maka dengan itu dia menjadi kafir keluar dari Islam dan wajib dibunuh…—kemudian

beliau menukilkan perkataan para ulama seputar permasalahan ini.” (Majmu’ Fatawa asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz 6/253)

5. Bagi orang yang berakal, perkataan asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah di atas cukuplah sebagai bukti bahwa pernyataan Abu Syafiq al-Asy’ari tersebut adalah tuduhan tanpa bukti dan kedustaan yang keji. Bagaimana tidak?! Ketika beliau dinyatakan sebagai orang yang menghina Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam, justru beliaulah orang yang sangat tegas terhadap siapa saja yang menghina Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam. Ketika beliau dinyatakan sebagai orang yang mengharamkan shalawat kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam, justru beliaulah orang yang sangat memperhatikan shalawat dalam setiap karya tulis dan ceramahnya, termasuk pada perkataan beliau di atas “semoga shalawat dan salam yang tak terhingga tercurahkan kepada beliau, keluarga, dan para sahabat beliau”. Ketika dinyatakan bahwa beliau menghina Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai autsan yaitu patung berhala, justru sikap tegas beliau di atas terkait dengan penyerupaan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam dengan sesuatu yang hina. Wallahul musta’an

Para pembaca yang mulia, masih di blog Abu Syafiq al-Asy’ari, dia menyatakan bahwa asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah mengharuskan pakai lambang salib kristen.

Tanggapan

1. Dalam pandangan asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah, Kristen dan semua agama selain Islam adalah batil. Hanya Islamlah satu-satunya agama yang diridhai oleh Allah Subhanahu wata’ala. Hal ini banyak didapati pada berbagai karya tulis dan ceramah beliau. Simaklah perkataan beliau berikut ini, “Sesungguhnya agama selain Islam: Yahudi atau Nasrani (Kristen) semuanya batil, tidak ada agama yang benar kecuali hanya agama Islam.” (Fatawa Nur alad Darb 1/295)

2. Pernyataan Abu Syafiq al-Asy’ari bahwa asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah mengharuskan memakai lambang salib Kristen hanyalah tuduhan tanpa bukti dan kedustaan yang keji. Sebab, sikap beliau tentang salib sangat jelas dan gamblang. Dengan tegas beliau melarang sesuatu yang ada lambang salibnya, apalagi memakainya. Simaklah perkataan beliau berikut ini, “Demikian pula salib, tidak boleh memakai jam tangan yang ada lambang salibnya kecuali setelah dihapus atau dihilangkan lambang salib tersebut darinya, karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam tidaklah melihat lambang salib kecuali menghapusnya.” (Majmu’ Fatawa asy- Syaikh Abdul Aziz bin Baz 10/417) “Demikian pula tidak boleh baginya memakai salib. Rasul Shallallahu ‘alaihi wasallam tidaklah melihat lambang salib kecuali menghapusnya, karena hal itu menyerupai orang Kristen.” (Fatawa Nur alad Darb 7/288)

3. Jika demikian, dari manakah klaim Abu Syafiq al-Asy’ari bahwa beliau mengharuskan (tidak sekadar membolehkan, pen.) pakai lambang salib Kristen?! Usut punya usut ternyata sumbernya adalah berita dusta yang disandarkan kepada beliau rahimahullah. Bagaimana kisahnya? Kisahnya adalah sebagai berikut. Pada pertengahan tahun 1417 H beredar sebuah kaset di Yordania yang menyebutkan bahwa asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz membolehkan (bukan mengharuskan, pen.) memakai lambang salib. Ternyata hal ini mengganjal di hati salah seorang warga negara Yordania yang berinisial J.A.A, sehingga mendorongnya untuk menulis surat mengklarifikasi tentang kebenaran isi kaset tersebut. Ketika disampaikan isi surat tersebut kepada beliau, dengan serta-merta terucap dari lisan beliau inna lillahi wainna ilaihi raji’un, la haula wala quwwata illa billah, hasbunallah wa ni’mal wakil. Kemudian beliau membalas surat tersebut dengan berikut ini, “Dari Abdul Aziz bin Baz, untuk saudara yang mulia J.A.A semoga Allah Subhanahu wata’ala mencurahkan taufik kepadanya dalam semua hal yang diridhai-Nya dan mengokohkannya di atas agama-Nya. Amiin….

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, wa ba’du. Telah sampai kepada saya surat Anda tertanggal 14 Rabi’ul Awal 1417 H yang ditujukan kepada Dr. Muhammad bin Sa’ad asy- Syuwai’ir seputar kaset yang disandarkan kepada saya, yang memuat keterangan bahwa saya membolehkan memakai lambang salib. Perlu Anda ketahui bahwa fatwa tersebut belum pernah keluar dari saya. Sungguh ini adalah sebuah kedustaan terhadap saya yang tak berdasar sama sekali. Semoga Allah Subhanahu wata’ala membalas pelakunya dengan balasan yang setimpal. Kejadian semacam ini bukanlah hal baru bagi saya dan para ulama selain saya. Sudah berlalu sekian kedustaan yang diluncurkan oleh orang-orang yang tak suka dengan mengatasnamakan kami.” (Majmu’ Fatawa asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz 28/242—243)

Demikianlah model Abu Syafiq al- Asy’ari yang asal comot dalam menukil berita. Wallahul musta’an.

Para pembaca yang mulia, kelompok teroris Khawarij tak ketinggalan pula dalam memusuhi asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz. Mereka memusuhi karena merasa gerah dengan berbagai fatwa beliau yang memorak-porandakan eksistensi terorisme yang mereka lakukan. Simaklah pernyataan mereka berikut ini. Usamah bin Laden saat memperingatkan umat dari fatwa-fatwa beliau rahimahullah berkata, “Oleh karena itu kami mengingatkan umat dari fatwa-fatwa batil seperti ini yang tidak memenuhi syarat.” (Surat Usamah bin Laden, tanggal 28-8-1415, MAT hlm. 264) Imam Samudra berkata, “Ia (yakni Raja Fahd) dan gerombolan pembisiknya

mengelabui Dewan Fatwa Saudi Arabia yang—dengan segala hormat—kurang mengerti trik-trik politik….” (Aku Melawan Teroris, hlm. 92)

Tanggapan

1. Terkait penyimpangan Usamah bin Laden dan Imam Samudra, silakan membaca Majalah Asy-Syari’ah edisi 13 Terorisme Berkedok Jihad dan edisi 86 Mengapa Teroris Tak Pernah Habis.

2. Pernyataan Imam Samudra bahwa Dewan Fatwa Saudi Arabia (yang ketika itu diketuai oleh asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah) kurang mengerti trik-trik politik sangat tidak mendasar. Karena siapa pun yang mengkaji perjalanan hidup asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah terkhusus kiprah beliau dalam perjuangan Islam dan berbagai pergolakan yang terjadi di banyak negeri pasti mengakui keandalan beliau di bidang politik, tentunya politik syar’i bukan politik ala teroris khawarij. Sepenggal darinya dapat dibaca pada sub kajian utama pada edisi ini yang berjudul asy- Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah, Tonggak Perjuangan Umat Islam.

3. Tampaknya arah pembicaraan Imam Samudra tersebut berkaitan dengan kasus meminta bantuan kepada pasukan multinasional asing yang dipimpin oleh Amerika Serikat (AS) untuk membendung agresi pasukan Saddam Husain yang berpaham sosialis komunis terhadap Kuwait dan Saudi Arabia. Hal itu diketahui dari pernyataan Imam Samudra berikut ini,

“Pada saat mana ulama-ulama kian asyik tenggelam dalam tumpukan kitabkitab dan gema pengeras suara. Mereka tidak lagi peduli dengan penodaan, penistaan, dan penjajahan terhadap kiblat dan tanah suci mereka….” (Aku Melawan Teroris, hlm. 93)

4. Permasalahan meminta bantuan kepada orang kafir dalam hal ini adalah pasukan multinasional asing (walaupun hakikatnya ada yang dari negara-negara muslim) yang dipimpin oleh AS untuk membendung pendudukan pasukan Saddam Husain yang berpaham sosialis komunis merupakan masalah yang mempunyai porsi untuk didudukkan secara cermat dan ilmiah. Oleh karena itu, para ulama yang tergabung dalam Hai’ah Kibar Ulama dan diketuai oleh asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah mendudukkannya dalam konteks pembahasan ilmiah yang kesimpulannya boleh. Terkhusus asy- Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah, beliau membahas permasalahan ini secara ilmiah beserta dalil-dalilnya sebagaimana dalam Majmu’ Fatawa asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz,

– (6/76—80) dengan judul Mauqif asy-Syari’ah minal Ghazwil Iraqi lil Kuwait.

– (6/183—186) dengan judul al-Isti’anah bil Kuffar fi Qitalil Kuffar.

– (6/142) dengan judul al-Ghazwul Iraqi Jarimah ‘Azhimah.

– (18/343) dengan judul Liqa’ ajrahu Mandub Majallah al-Mujtama’ Haula al-Ghazwil Iraqi lil Kuwait.

5. Tentunya fatwa beliau ini tidak hanya didukung oleh 16 ulama dari Hai’ah Kibar Ulama (Komite Ulama besar) dan para ulama Saudi Arabia yang tidak tergabung dalam Komite tersebut. Tokoh-tokoh muslim dunia pun banyak yang mendukungnya. Untuk lebih rincinya, silakan membaca kitab Fatawa wa Ara’ Ulama al-Alam al- Islami fi al-Ghazwil Iraqi lil Kuwait wa Atsaruhu al-Mudmirah. Berikutnya, dengan dikeluarkannya fatwa tersebut alhamdulillah kiblat dan tanah suci umat Islam hingga hari ini terlindungi dari penodaan, penistaan, dan penjajahan pasukan sosial komunis Saddam Husain atau pasukan kafir asing, tidak sebagaimana prediksi Imam Samudra.

Para pembaca yang mulia, di antara celaan yang ditujukan kepada asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah adalah bahwa beliau seorang ulama yang tidak mengerti waqi’ (realita kekinian) dan antijihad. Padahal beliau adalah seorang ulama yang sangat mengerti waqi’ (realita kekinian) dan sangat mendukung jihad di berbagai penjuru dunia. Berbagi karya tulis dan ceramah beliau sebagai saksi atas itu semua. Di antaranya perkataan beliau berikut ini, “Jihad Afghanistan adalah jihad yang syar’i untuk melawan negara kafir (Uni Soviet, pen.), maka wajib untuk dibantu dengan berbagai bantuan yang ada. Bagi saudara kita penduduk Afghanistan hukumnya fardhu ain membela agama, tanah air, dan saudara muslim setanah air. Sedangkan bagi selain mereka, hukumnya fardhu kifayah.” (Majmu’ Fatawa asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz 5/151)

Tentu masih banyak perkataan dan perbuatan beliau yang menunjukkan bahwa sangat mengerti waqi’ (realita kekinian) dan sangat mendukung jihad di berbagai penjuru dunia. Tak heran, bila di antara poin yang dimuat dalam piagam Penghargaan Internasional Raja Faisal atas pengabdian Islam adalah Semangat beliau yang besar dalam memberikan berbagai solusi yang tepat untuk problematika Islam dan umat Islam di seluruh penjuru dunia. Bantuan beliau terhadap berbagai gerakan jihad (syar’i, bukan terorisme, -pen.) di berbagai belahan bumi ini. Para pembaca yang mulia, tentu masih ada (bahkan banyak) celaan, tuduhan, dan kedustaan yang disandarkan kepada sosok mulia asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah oleh ahlul batil yang memusuhi beliau.

Nama beliau tetap harum, sedangkan nama baik orangorang yang memusuhi beliau menjadi hancur. Laksana kambing bertanduk yang menghantamkan tanduknya ke batu besar dengan keyakinan dapat menghancurkannya. Bukannya batu besar itu yang hancur, justru tanduk kambing itulah yang menjadi hancur. Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah berkata, “Menggunjing ulama, melecehkan dan menjelek-jelekkan mereka merupakan jenis ghibah dan namimah yang paling berat, karena dapat memisahkan umat dari ulamanya dan terkikisnya kepercayaan umat terhadap mereka. Jika ini terjadi, maka akan terjadi kejelekan yang besar.” (Ma Yajibu Fit Ta’amuli Ma’al Ulama, hlm. 17)

Teladan as-Salafush Shalih dalam Memuliakan Ulama

Berikut ini beberapa contoh tentang keteladanan as-salafush shalih dalam memuliakan ulama. Kami meletakkannya sebagai khatimah yang mengakhiri kajian ini. Semoga bermanfaat bagi kita semua. Amin.

• Sahabat Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhu, suatu hari menuntun hewan tunggangan yang dinaiki oleh sahabat Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu, seraya beliau berkata, “Seperti inilah kita diperintah untuk memuliakan ulama.”

• Ketika al-Imam al-Auza’i rahimahullah menunaikan ibadah haji dan masuk ke kota Makkah, maka al-Imam Sufyan ats-Tsauri rahimahullah yang menuntun tali kekang untanya seraya mengatakan, “Berilah jalan untuk Syaikh!”. Sedangkan al-Imam Malik bin Anas rahimahullah yang menggiring unta tersebut (dari belakang) hingga mereka mempersilakan al-Imam al-Auza’i rahimahullah untuk duduk di sekitaran Ka’bah. Kemudian mereka berdua duduk di hadapan al-Imam al-Auza’i rahimahullah untuk menimba ilmu darinya.

• Al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah berkata, “Dahulu aku membuka lembaranlembaran kitab di hadapan al-Imam Malik rahimahullah dengan perlahan-lahan agar tidak terdengar oleh beliau, karena rasa hormatku yang sangat tinggi kepada beliau.” (Dinukil dari Kitab Ad-Diin Wal ‘Ilm, hlm. 27)

Demikianlah seharusnya yang terpatri dalam hati sanubari setiap insan muslim. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata, “Wajib bagi seluruh kaum muslimin—setelah mencintai Allah Subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya—untuk mencintai orangorang yang beriman sebagaimana yang telah disebutkan di dalam al-Qur’an, terkhusus para ulama pewaris para nabi yang diposisikan oleh Allah Subhanahu wata’ala seperti bintang-bintang di angkasa yang menjadi penunjuk arah di tengah gelapnya daratan maupun lautan. Kaum muslimin pun sepakat bahwa para ulama merupakan orang-orang yang berilmu dan dapat menunjuki mereka kepada jalan yang lurus.” (Raf’ul Malam ‘Anil Aimmatil A’lam, hlm.3)

Ditulis oleh Al-Ustadz Ruwaifi bin Sulaimi

Pembelaan Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz Terhadap Hadits-Hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam

Pada tahun 1420 H, umat kehilangan dua alim rabbani: asy- Syaikh al-Muhaddits Muhammad Nashiruddin al-Albani dan asy-Syaikh al-Walid Abdul Aziz bin Baz. Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz, nama yang tidak asing di tengah kaum muslimin. Harum nama beliau. Dunia Islam menyaksikan perjuangan beliau dalam membela Islam dan kaum muslimin. Adapun celaan yang tertuju kepada beliau hanyalah riak-riak di tengah luasnya samudra. Cukuplah biografi beliau dan sanjungan alam Islam sebagai bantahan bagi mereka yang dengan lancang mencela orang yang telah menghabiskan waktunya untuk membela Islam.

Meninggal pada usia 90 tahun, pada hari Kamis, Muharram 1420 H. Seusai shalat Jum’at, jenazah dishalati di Masjidil Haram bersama duka yang mendalam dan awan kelabu yang menyelimuti kalbu kaum muslimin. Shalat gaib juga ditegakkan di Masjid Nabawi dan masjid-masjid jami’ di Kerajaan Arab Saudi, hari itu. Umat kehilangan lagi sosok ulama mujaddid. Demikianlah zaman berlalu. Satu demi satu ulama meninggalkan dunia hingga kejahilan semakin merebak. Manusia pun akan menjadikan pemimpinpemimpin dan tokoh-tokoh mereka dari kalangan orang-orang yang jahil sebagaimana disabdakan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dalam sebuah hadits,

إِنَّ اللهَ لاَ يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنْ صُدُورِ الرِّجَالِ، وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِمَوْتِ الْعُلَمَاءِ حَتَّى إِذَا لَمْ يَبْقَ عَالِمٌ، اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالاً، فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا

“Sesungguhnya Allah Subhanahu wata’ala tidak mencabut ilmu dengan serta-merta dari dada-dada manusia, namun Allah Subhanahu wata’ala mencabut ilmu dengan wafatnya ulama. Karena itu, ketika tidak ada lagi seorang yang ‘alim, manusia lantas mengangkat pemimpin mereka dari kalangan orang-orang jahil, mereka ditanya dan memberikan fatwa (di atas kejahilan), mereka pun sesat dan menyesatkan.”

Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah termasuk pemuka ulama yang sangat gigih menyebarkan akidah Islam dan membela dakwah Ahlus Sunnah wal Jamaah. Hal ini tampak dalam amaliah beliau, ceramah-ceramah dan fatwa fatwa beliau, serta kitab-kitab yang beliau tinggalkan. Beliau gigih membela tauhid dan memerangi syirik. Hidup beliau penuh dengan pembelaan kepada Allah l dan Rasul-Nya, Islam, sahabat, dan pembelaan terhadap akidah Ahlus Sunnah wal Jamaah.

Asy-Syaikh Ibnu Baz dan Ilmu Hadits

Keilmuan beliau sangat mendalam. Hafal al-Qur’an sebelum baligh, kemudian beliau tekun duduk di hadapan para pembesar ulama di zaman itu. Kebutaan total yang menimpa di usia 20 tahun tidak membuatnya surut dalam menimba ilmu, bahkan mendorong beliau untuk menambah semangat. Allah Subhanahu wata’ala membukakan pintu-pintu ilmu untuknya. Jadilah beliau—dengan izin Allah Subhanahu wata’ala—seorang ulama. Semua menyaksikan keluasan ilmu asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz. Di samping ilmu akidah, tafsir, fikih, dan cabang-cabang lain, perhatian beliau kepada hadits-hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam demikian kuat. Disebutkan dalam biografinya, beliau menghafal haditshadits Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim. Semangat beliau dalam menyebarkan hadits Nabi n dan bertafaqquh dalam cabang ilmu ini juga tampak kental dalam banyak pelajaran yang beliau sampaikan kepada para penuntut ilmu. Beliau mengajarkan Kutubus Sittah (Shahih al-Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Abi Dawud, Sunan at-Tirmidzi, Sunan an-Nasai, dan Sunan Ibnu Majah).

Beliau juga mengajarkan Musnad al- Imam Ahmad, Muwaththa’ al-Imam Malik, Sunan ad-Darimi, Shahih Ibnu Hibban, as-Sunan al-Kubra lin Nasai, Bulughul Maram, Muntaqal Akhbar, bersama dengan pelajaran-pelajaran lain yang tekun beliau ajarkan kepada para penuntut ilmu dalam akidah, tafsir, faraidh (ilmu waris), fikih, dan cabang ilmu lainnya. Semua orang yang adil dalam menilai akan berdecak kagum mengucapkan masya Allah la quwwata illa billah, ketika melihat bagaimana ketajaman beliau menjelaskan makna hadits-hadits sahih sesuai dengan pemahaman salafush saleh, dengan ungkapan yang mudah, ringkas, dan padat.

At-Tuhfatul Karimah fi Bayani Ba’dhil Ahadits al-Maudhu’ah was Saqimah

Di samping bersemangat menyebarkan hadits Rasul Shallallahu ‘alaihi wasallam yang sahih dengan pemahaman salaful ummah, perhatian beliau juga tertuju kepada hadits-hadits dha’if dan maudhu’ (palsu) yang banyak tersebar di tengah muslimin. Beliau tidak tinggal diam. Lengan baju beliau singsingkan untuk menjelaskan kepada umat apa yang tidak sahih dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam atau bahkan dipalsukan atas nama beliau. Di antara karya beliau yang menunjukkan semangat mengikuti jejak salaful ummah dan imam-imam Ahlus Sunnah dalam membersihkan haditshadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dari kedustaan kaum pendusta dan tercampurnya sabda-sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dengan riwayat-riwayat yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya, adalah risalah berjudul at-Tuhfatul Karimah fi Bayan Ba’dhil Ahadits al-Maudhu’ah was Saqimah2 berisi kumpulan hadits maudhu’ (palsu) dan lemah. Di awal risalah, beliau berkata, “Segala puji bagi Allah, Dzat yang telah memuliakan kita dengan agama Islam, Dzat yang telah menjadikan Islam sebagai agama yang paling sempurna, Dzat yang telah menjaga kitab-Nya yang mulia,

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

“Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan al-Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” (Hijr: 9)

Allah Subhanahu wata’ala memudahkan untuk agama ini keberadaan ulama yang kokoh dalam ilmu, para pembela yang membersihkan agama ini dari penyimpangan orang yang melampaui batas, takwil orang-orang jahil, dan makar orang-orang yang berpenyakit lagi memiliki permusuhan. Allah Subhanahu wata’ala menjaga pula sunnah Nabi kita Shallallahu ‘alaihi wasallam dengan kegigihan ahlul ilmi dan iman, orang-orang yang jujur lagi tepercaya. Mereka jelaskan kepada umat mana hadits-hadits yang sahih dan cacat, mana pula hadits-hadits yang hasan dan lemah.

Mereka terjun dalam medan (jihad ini), meneliti keadaan para perawi yang menukil hadits. Tampaklah mana perawi yang tsiqah (tepercaya), jujur, memiliki hafalan, amanah, dan bagus dalam periwayatan serta kuat dalam pemahaman. Tampak pula siapakah perawi yang muttaham (tertuduh berdusta) atau memang pendusta, yang jelek hafalannya, atau sangat banyak salahnya karena hafalannya yang menjadi kacau, atau sebab lainnya. Itu semua mereka jelaskan sebagai bentuk nasihat kepada umat….

Inilah sebuah risalah sederhana, berisi keterangan sebagian haditshadits maudhu’ dan dha’if, sengaja saya kumpulkan agar saya benar-benar berada di atas ilmu tentang hadits-hadits tersebut. Saya bisa mengambil manfaatnya pertama kali, dan semoga saudara saya juga dapat mengambil manfaatnya.” (Majmu’ Fatawa) Asy-Syaikh kemudian mulai menyebutkan hadits-hadits lemah dan palsu yang beliau urutkan sesuai huruf hijaiyah untuk memudahkan para pencari hadits mengambil manfaatnya.

Beberapa Hadits Dha’if & Maudhu’ yang Diterangkan asy-Syaikh Abdul Aziz Bin Baz

Untuk menyempurnakan faedah, berikut ini dua buah hadits, maudhu’ dan dha’if beserta keterangan asy- Syaikh Ibnu Baz dari risalah at-Tuhfatul Karimah dan fatwa beliau.

1. Hadits maudhu’ tentang anjuran berdoa kepada penghuni kubur.

Diriwayatkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِذَا تَحَيَّرْتُمْ فِي الْأُمُورِ فَاسْتَعِينُوا بِأَهْلِ الْقُبُورِ

“Jika kalian mendapat kesusahan dalam urusan-urusan kalian, mintalah pertolongan kepada penghuni-penghuni kubur.”

Riwayat ini adalah salah satu syubhat kaum sufi quburi (pengagung kuburan). Mereka gembar-gemborkan hadits ini untuk melegalisasi praktik-praktik kesyirikan yang sering mereka lakukan di kuburan-kuburan yang mereka anggap mulia.3 Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz  pernah ditanya, “(Wahai Syaikh) sebagian manusia berkata, memohon kepada mayit di kubur mereka adalah perkara yang boleh dengan dalil hadits, ‘Jika kalian mendapat kesusahan dalam perkaraperkara kalian, mintalah pertolongan kepada penghuni-penghuni kubur.’ Sahihkah hadits ini atau tidak?” Beliau menjawab bahwa hadits ini termasuk hadits-hadits yang dipalsukan atas nama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam sebagaimana diperingatkan oleh banyak ulama, di antaranya adalah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah.

Beliau berkata dalam Majmu’ Fatawa (1/356), setelah menyebutkan hadits ini, “Hadits ini dusta, dibuat-buat atas nama Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Ini adalah kesepakatan ulama yang mengerti hadits-hadits beliau. Tidak ada seorang ulama pun meriwayatkan hadits ini, bahkan hadits ini tidak ada dalam kitab-kitab hadits yang dijadikan sandaran.”

Hadits yang dipalsukan atas nama Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam ini bertentangan dengan kandungan al-Kitab dan as-Sunnah tentang kewajiban memurnikan ibadah hanya untuk Allah Subhanahu wata’ala dan diharamkannya mempersekutukan Allah Subhanahu wata’ala. Tidaklah diragukan bahwasanya berdoa (memohon) kepada orang-orang yang telah mati, beristighatsah (memohon pertolongan di kala kesempitan) kepada mereka, serta berbondong mengharap kepada mereka dalam kesempitan dan kesusahan termasuk kesyirikan terbesar, sebagaimana berdoa kepada mereka di masa lapang juga termasuk kesyirikan.4

Di saat tertimpa kesempitan, kaum musyrikin terdahulu mengikhlaskan doa untuk Allah Subhanahu wata’ala (mereka lupa ilah-ilah yang lain, seperti al-Latt, al-‘Uzza, dst, mereka hanya ingat kepada Allah Subhanahu wata’ala, -pen.). Namun, ketika kesempitan itu telah tersingkap, mereka kembali lagi melakukan kesyirikan, sebagaimana dalam firman-Nya,

فَإِذَا رَكِبُوا فِي الْفُلْكِ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ إِذَا هُمْ يُشْرِكُونَ

“Apabila mereka naik kapal, mereka mendoa kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya; tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka (kembali) mempersekutukan (Allah).” (al-Ankabut: 65)

Ayat-ayat al-Qur’an yang semisal dengan ini sangatlah banyak. (Semuanya menunjukkan bahwa kaum musyrikin terdahulu memurnikan doa kepada Allah Subhanahu wata’ala di saat kesempitan, setelah mendapatkan kelapangan mereka kembali kepada ilah selain Allah Subhanahu wata’ala, -pen.) Adapun kaum musyrikin saat ini (seperti mereka yang mendatangi makam-makam para wali, memohon kepadanya, atau menjadikannya sebagai perantara -pen.), kesyirikan mereka tidak kenal waktu, baik di masa lapang maupun di masa sempit. Bahkan, di masa sempit, kesyirikan itu semakin bertambah (yakni ketergantungan mereka kepada para penghuni kubur menjadi berlipat, -pen.). Kita berlindung kepada Allah Subhanahu wata’ala. …

(Mereka berdoa kepada selain Allah Subhanahu wata’ala, padahal doa hanyalah hak Allah Subhanahu wata’ala, -pen.) Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus….” (al-Bayyinah: 5)

Allah Subhanahu wata’ala juga berfirman,

فَادْعُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ

“Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ibadah kepada-Nya, meskipun orang-orang kafir tidak menyukai(nya).” (al-Mukmin: 14)

Dalam ayat lain, Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَالَّذِينَ تَدْعُونَ مِن دُونِهِ مَا يَمْلِكُونَ مِن قِطْمِيرٍ {} إِن تَدْعُوهُمْ لَا يَسْمَعُوا دُعَاءَكُمْ وَلَوْ سَمِعُوا مَا اسْتَجَابُوا لَكُمْ ۖ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يَكْفُرُونَ بِشِرْكِكُمْ ۚ وَلَا يُنَبِّئُكَ مِثْلُ خَبِيرٍ

“… Dan orang-orang yang kamu seru (sembah) selain Allah tiada mempunyai apa-apa walaupun setipis kulit ari. Jika kamu menyeru mereka, mereka tiada mendengar seruanmu; dan kalau mereka mendengar, mereka tidak dapat memperkenankan permintaanmu. Dan di hari kiamat mereka akan mengingkari kemusyrikanmu dan tidak ada yang dapat memberikan keterangan kepadamu sebagaimana yang diberikan oleh Yang Maha Mengetahui.” (Fathir: 13—14)

Ayat ini sifatnya umum, mencakup semua yang diibadahi selain Allah Subhanahu wata’ala, baik para nabi, orang-orang saleh, maupun yang lainnya. Allah l telah menjelaskan bahwa doa kaum musyrikin yang ditujukan kepada mereka (orang-orang yang telah mati) adalah kesyirikan. Allah l juga menjelaskan bahwa perbuatan tersebut adalah kekufuran. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَمَن يَدْعُ مَعَ اللَّهِ إِلَٰهًا آخَرَ لَا بُرْهَانَ لَهُ بِهِ فَإِنَّمَا حِسَابُهُ عِندَ رَبِّهِ ۚ إِنَّهُ لَا يُفْلِحُ الْكَافِرُونَ

“Dan barang siapa berdoa (menyembah ilah yang lain) di samping Allah, padahal tidak ada suatu dalil pun baginya tentang itu, maka sesungguhnya perhitungannya di sisi Rabbnya. Sesungguhnya orang-orang yang kafir itu tiada beruntung.” (al-Mukminun: 117)

Ayat-ayat yang menunjukkan wajibnya mengikhlaskan ibadah hanya untuk Allah Subhanahu wata’ala semata, kewajiban mengarahkan doa hanya kepada-Nya dan bukan pada yang lainnya, sangatlah banyak dan pasti diketahui oleh orangorang yang mentadabburi al-Qur’an dan membacanya untuk mencari petunjuk. Demikian pula ayat yang menunjukkan diharamkannya beribadah kepada selain Allah Subhanahu wata’ala berupa orang yang sudah mati, patung-patung, berhala, pepohonan, bebatuan, dan lainnya. Hanya kepada Allah Subhanahu wata’ala lah tempat memohon pertolongan, la haula wa la quwwata illa billah. (Majmu’ Fatawa asy-Syaikh bin Baz dan Fatawa Nurun ‘Ala ad-Darb)

2. Hadits dhaif tentang tidak diterimanya shalat orang yang pakaiannya musbil.

وَإِنَّ اللهَ تَعَالَى لاَ يَقْبَلُ صَلَاةَ رَجُلِ مُسْبِلٍ إِزَارَهُ

“Dan Allah tidak akan menerima shalat seseorang yang musbil (menjulurkan kainnya di bawah mata kaki).” Menjulurkan kain di bawah mata kaki bagi kaum lelaki adalah hal yang dilarang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Hadits-hadits dengan tegas melarangnya secara umum, baik menjulurkan karena sombong maupun tidak. Bahkan, al-Imam adz-Dzahabi asy- Syafi’i rahimahullah memasukkannya dalam kitab al-Kabair (dosa-dosa besar). Di kalangan ulama terja i perbincangan tentang hukum shalat orang yang memakai kain di bawah mata kaki, apakah sah shalatnya? Asy-Syaikh Ibnu Baz t berkata, “Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Dawud no. 638 (1/172) dan no. 4086 (4/ 57) dari Musa bin Ismail, dari Aban, dari Yahya, dari Abu Ja’far, dari ‘Atha’, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,

“Suatu saat ada orang shalat dalam keadaan musbil (menjulurkan sirwalnya di bawah mata kaki). Ketika itu Rasul n berkata, ‘Pergilah engkau, ulangi wudhumu!’ Ia pergi lalu datang kembali. Rasul mengulangi lagi sabdanya, ‘Pergilah engkau, ulangi wudhumu!’ Bertanyalah seseorang, ‘Wahai Rasulullah mengapa engkau perintahkan dia berwudhu kemudian engkau diam?’ Rasul n pun bersabda,

إِنَّهُ كَانَ يُصَلِّي وَهُوَ مُسْبِلٌ إِزَارَهُ ، وَإِنَّ اللهَ تَعَالَى لاَ يَقْبَلُ صَلَاةَ رَجُلٍ مُسْبِلٍ إِزَارَهُ

‘Sungguh, ia tadi shalat dalam keadaan musbil, dan Allah Subhanahu wata’alatidak akan menerima shalat seseorang yang menjulurkan kainnya di bawah mata kaki.’ Tentang hadits ini, al-Imam an- Nawawi rahimahullah dalam Riyadhus Shalihin berkata, ‘Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Dawud sesuai dengan syarat al- Imam Muslim’.” Saya (asy-Syaikh Ibnu Baz) katakan, “Ini adalah wahm (kekeliruan) al-Imam an-Nawawi rahimahullah. Sanad ini sebenarnya tidak sesuai dengan syarat al-Imam Muslim. Sanad ini justru dha’if (lemah) karena ada dua illat (cacat) di dalamnya.

1. Hadits ini datang dari riwayat Abu Ja’far—tanpa menyebut nasabnya—dan ia majhul (tidak dikenal).

2. Hadits ini adalah riwayat Yahya bin Abi Katsir dari Abu Ja’far dengan ‘an’anah, padahal Yahya adalah seorang yang mudallis, dan jika seorang mudallis tidak terang-terangan mendengar haditsnya (dari sang guru), haditsnya tidak bisa dijadikan hujah, kecuali jika

berada dalam Shahihain. Seandainya hadits ini sahih, makna yang terkandung adalah ancaman keras agar seorang tidak lagi melakukan isbal. Adapun shalatnya tetaplah sah karena Rasul n tidak memerintahkannya mengulangi shalat. Yang beliau perintahkan adalah mengulangi wudhunya. Tidak diterimanya shalat dalam hadits, tidak mesti berkonsekuensi batalnya shalat. Contohnya adalah sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam,

مَنْ أَتَى عَرَّافًا فَسَأَلَهُ عَنْ شَيْءٍ لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلَاةٌ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً

“Barang siapa mendatangi dukun lalu ia bertanya kepadanya tentang sesuatu, sungguh tidak akan diterima shalatnya selama empat puluh hari.” (HR . Muslim dalam Shahih-nya)

(Dalam hadits ini, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menafikan diterimanya shalat orang yang datang kepada dukun dan bertanya walaupun tidak memercayainya). Tentang hadits ini, al-Imam an-Nawawi rahimahullah menukilkan adanya ijma’ (kesepakatan ulama) bahwa dia tidak diperintahkan mengulangi shalatnya, namun pahalanya hilang (yakni shalat yang dilakukan tidak berpahala selama 40 hari). Ini sebagai hukuman sekaligus peringatan. Yang serupa dengan ini ada dalam banyak hadits. Ini semua menunjukkan bahwa tidak diterimanya shalat orang yang musbil maksudnya adalah (hilang pahalanya) dan tidak mengharuskan batalnya shalat, karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam tidak memerintahnya untuk mengulangi shalat. Demikian pula dalam hadits Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Rasul Shallallahu ‘alaihi wasallam tidak memerintahnya mengulangi (shalat). Yang beliau perintahkan untuk diulangi adalah wudhunya…

Bisa jadi, wudhu itu akan meringankan dosa. Semua makna ini tentu saja jika hadits di atas sahih. Bisa jadi, hadits di atas dijadikan dalil tidak sahnya shalat (orang yang musbil) karena tidak adanya perkara yang memalingkan makna ini, seperti sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam,

يَقْبَلُ اللهُ صَلَاهَ أَحَدِكُمْ إِذَا أَحْدَثَ حَتَّى يَتَوَضَّأَ

“Allah tidak menerima shalat di antara kalian jika berhadats hingga dia berwudhu.” (Muttafaq ‘alaihi)

Hadits Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu yang kita isyaratkan sebelum ini dikeluarkan oleh Abu Dawud dengan no. 637 (1/172) dengan sanad yang sahih. Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata, “Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ أَسْبَلَ إِزَارَهُ فِي صَلَاتِهِ خُيَلَاءَ فَلَيْسَ مِنَ اللهِ فِي حِلٍّ وَلاَ حَرَامٍ

‘Barang siapa menjulurkan kainnya (di bawah mata kaki) karena sombong, Allah Subhanahu wata’ala tidak mengurusinya baik di tanah halal atau haram.

Setelah meriwayatkan hadits ini, Abu Dawud rahimahullah mengatakan bahwa hadits ini diriwayatkan oleh al-Jama’ah secara mauquf dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu. Asy-Syaikh Ibnu Baz mengatakan,

Mauquf yang seperti ini memiliki hukum marfu’ karena kandungannya adalah perkara yang tidak mungkin berasal dari ra’yu (pendapat seseorang), sebagaimana diketahui dari perkataan ulama ushul fiqih dan musthalah hadits. Wa billahit taufiq.” (Majmu’ Fatawa Syaikh Bin Baz)

Khatimah

Pembaca rahimakumullah, demikian sepenggal penjelasan asy-Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baz di antara peninggalanpeninggalan beliau yang sangat banyak. Selebihnya, pembaca dipersilakan merujuk kepada risalah at-Tuhfatul Karimah fi Baya ba’dhil Ahadits al-Maudhu’ah was Saqimah, dan karya beliau lainnya. Apa yang sedikit ini semoga memberikan manfaat kepada kita, dan mengingatkan kepada para pencela asy- Syaikh Abdul Aziz yang telah beruban dalam membela Islam dan akidah Ahlus Sunnah wal Jamaah. Semoga Allah Subhanahu wata’ala merahmati dan mengampuni kita semua dan beliau, kemudian mengumpulkan kita semua di dalam jannah-Nya.

Amin.

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Nasim Mukhtar Ibnu Rifai

Fatawa Akidah Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah

Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah adalah seorang alim Ahlus Sunnah yang tidak asing bagi kaum muslimin. Beliau adalah seorang alim yang sangat menginginkan kebaikan bagi kaum muslimin. Di antara buktinya adalah surat-surat yang beliau kirim kepada tokoh-tokoh penguasa di pelbagai negeri, sebagaimana bisa kita lihat di dalam MajmuFatawa beliau. Di antara yang menunjukkan semangat beliau untuk kebaikan muslimin adalah nasihat, arahan, dan fatwa-fatwa beliau dalam menjawab pertanyaan kaum muslimin dari berbagai penjuru dunia.

Dalam tulisan ini, kami ingin membawakan beberapa fatwa beliau yang terkait dengan akidah. Semoga bisa menjadi jawaban pertanyaan kita selama ini dan membimbing kita beramal.

Syarat Islam

Pertanyaan: Apakah syarat Islam?

Jawaban: Syarat Islam ada dua. Syarat yang pertama: Ikhlas. Anda meniatkan keislaman Anda dan semua amal Anda untuk mengharapkan wajah Allah Subhanahu wata’ala semata. Ini syarat yang harus ada. Sebab, semua amalan yang Anda lakukan bukan demi wajah Allah Subhanahu wata’ala, baik shalat, sedekah, puasa, maupun yang lainnya, tidak akan bermanfaat dan tidak diterima. Sampaipun dua kalimat syahadat, jika Anda melakukannya karena riya (ingin dilihat) dan kemunafikan, tidak akan bermanfaat dan tidak diterima, bahkan Anda termasuk kaum munafik. Ucapan dua kalimat syahadat yang Anda lafalkan, haruslah jujur dari kalbu Anda. Anda beriman kepada Allah Subhanahu wata’ala saja, Dia adalah sesembahan yang haq, bahwa Rasulullah  Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah benar serta diutus kepada seluruh jin dan manusia, sebagai penutup para nabi. Jika syahadat Anda dilakukan dengan jujur dan ikhlas, niscaya bermanfaat bagi Anda.

Demikian juga shalat Anda. Anda hanya beribadah kepada Allah Subhanahu wata’ala dalam shalat Anda. Pun sedekah, bacaan al- Qur’an, ucapan tahlil (La ilaha illallah), puasa, dan ibadah haji Anda, semuanya untuk Allah Subhanahu wata’ala semata. Syarat kedua: Sesuai dengan syariat. Amalan-amalan haruslah sesuai dengan syariat, bukan dari hasil pikiran dan ijtihad Anda. Anda harus berusaha mencocoki syariat dalam beramal. Anda melakukan shalat sebagaimana yang Allah Subhanahu wata’ala  syariatkan, Anda puasa sebagaimana yang Allah Subhanahu wata’ala syariatkan, Anda berzakat juga harus sebagaimana tuntunan syariat Allah Subhanahu wata’ala. (Nurun ‘ala Darb)

 

Banyaknya Kelompok yang Mengaku sebagai Thaifah Manshurah

Pertanyaan: Banyak golongan dan kelompok yang mengaku sebagai aththaifah al-manshurah sehingga masalah ini menjadi samar bagi manusia. Apa yang mesti kami lakukan, terkhusus di sana ada banyak kelompok Islam, seperti Sufi, salafiyah, dan kelompok lainnya, bagaimana kami membedakannya?

Jawaban: Telah ada hadits dari Rasulullah  Shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau berkata, “Yahudi terpecah menjadi 71 golongan, semuanya masuk neraka kecuali kelompok yang mengikuti Nabi Musa ‘Alahissalam. Nasrani juga terpecah menjadi 72 golongan, semuanya masuk neraka kecuali satu, yaitu mereka yang mengikuti Nabi Isa ‘Alaihissalam. Umat ini akan terpecah menjadi 73 golongan, semuanya di neraka kecuali satu.” Ditanyakan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, “Siapakah firqatun najiyah (golongan yang selamat)?” Beliau menjawab, “Al-Jamaah.” Dalam lafadz lain, “Orang-orang yang menempuh jalanku dan jalan para sahabatku.” Inilah al-firqah an-najiyah, golongan yang selamat. Mereka adalah orang orang yang bersatu di atas kebenaran yang dibawa oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Mereka istiqamah di atasnya, berjalan mengikuti manhaj Rasulullah  Shallallahu ‘alaihi wasallam dan sahabatnya. Mereka adalah Ahlus Sunnah wal Jamaah, ahlul hadits yang mulia, salafiyun yang mengikuti salafus shalih serta berjalan dengan beramal berdasarkan al-Qur’an dan as-Sunnah. Semua kelompok yang menyelisihi mereka diancam dengan neraka.

Maka dari itu, wajib atas Anda—wahai penanya— untuk meneliti setiap kelompok yang mengaku sebagai al-firqah an-najiyah. Anda lihat amalannya, kalau sesuai dengan syariat, merekalah kelompok yang selamat. Maksudnya, yang dijadikan mizan (timbangan/tolok ukur) untuk menilai setiap kelompok adalah al-Qur’anul ‘Azhim dan as-Sunnah yang suci. Barang siapa amalannya di atas kitabullah dan sunnah Rasulullah  Shallallahu ‘alaihi wasallam, dia termasuk alfirqah an-najiyah. Barang siapa tidak demikian, seperti Jahmiyah, Mu’tazilah, Rafidhah, Murjiah, dan selainnya, juga mayoritas kelompok sufi—yang mengadaadakan dalam agama sesuatu yang tidak diizinkan Allah Subhanahu wata’ala—semua termasuk dalam kelompok yang diancam oleh Rasulullah  Shallallahu ‘alaihi wasallam dengan neraka, sampai mereka bertobat dari penyelisihan terhadap syariat. Semua kelompok yang terjatuh pada penyelisihan syariat yang suci wajib bertobat dari penyelisihannya dan kembali kepada kebenaran yang dibawa oleh Nabi kita Muhammad  Shallallahu ‘alaihi wasallam. Dengan demikian, dia selamat dari ancaman.

Adapun jika mereka terus berada dalam kebid’ahan dalam agama yang mereka ada-adakan dan tidak istiqamah di atas jalan Rasulullah  Shallallahu ‘alaihi wasallam, dia termasuk dalam kelompok yang diancam dengan neraka. Tidak semuanya kafir, namun semua terancam dengan neraka. Ada yang kafir karena melakukan satu kekufuran. Ada juga yang tidak kafir, namun terancam neraka karena perbuatan bid’ahnya dalam agama dan menetapkan sesuatu yang tidak diizinkan Allah Subhanahu wata’ala dalam syariat. (Nurun ‘ala Darb)

Penjelasan tentang Kesesatan Syiah

Dari Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz, kepada saudara yang mulia…. Mudah – mudahan Allah Subhanahu wata’ala memberikan taufik kepada semua kebaikan. Saya telah menerima surat Anda dan memahami kandungan surat tersebut. Saya akan memberikan faedah untuk Anda bahwa Syiah itu banyak sektenya. Setiap sekte ada kebid’ahannya. Sekte Syiah yang paling berbahaya adalah Syiah Rafidhah Khumainiyah Itsna Atsariyah, karena mereka melakukan kesyirikan berupa syirik besar; seperti istighatsah kepada ahlul bait, meyakini bahwa ahlul bait mengetahui ilmu gaib, terkhusus dua belas imam yang mereka yakini. Mereka juga mengafirkan dan mencela mayoritas sahabat, seperti Abu Bakr dan Umar radhiyallahu ‘anhu.

Mudah mudahan Allah Subhanahu wata’ala menyelamatkan kita dari kesesatan yang ada pada mereka. Namun, hal ini tidak menghalangi kita untuk mendakwahi dan membimbing mereka ke jalan yang benar serta memperingatkan mereka dari kesesatan mereka. Tentu saja semua itu dilakukan sesuai dengan tuntunan al-Qur’an dan as-Sunnah. Saya memohon kepada Allah Subhanahu wata’ala untuk Anda dan teman Anda tambahan taufik kepada yang diridhai-Nya dan dorongan kepada semua kebaikan. Saya wasiatkan kepada Anda untuk ikhlas, jujur, sabar, dan tatsabut dalam seluruh urusan, serta memerhatikan hikmah dan metode yang baik di medan dakwah, memperbanyak membaca al- Qur’an dan mentadaburi maknanya, mempelajari serta merujuk kepada kitab tafsir para ulama dalam ayat-ayat yang sulit Anda pahami, seperti kitab Tafsir Ibnu Jarir, Ibnu Katsir, dan al-Baghawi.

Saya juga mewasiatkan untuk menghafal yang mudah dari hadits Rasulullah n, seperti kitab Bulughul Maram karya Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah dan Umdatul Ahkam karya asy- Syaikh Abdul Ghani rahimahullah. Seseorang wajib bertanya masalah agama yang sulit baginya, sebagaimana firman Allah Subhanahu wata’ala,

فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِن كُنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“Tanyalah oleh kalian ahlu dzikr apabila kalian tidak mengetahui.” (an- Nahl: 43)

Bersama surat ini, saya kirimkan pula beberapa kitab. Mudah-mudahan Allah Subhanahu wata’ala memberi manfaat dengan kitab tersebut dan memberi manfaat kepada temanteman kalian. Saya juga meminta kepada Allah Subhanahu wata’ala untuk saya dan kalian kekokohan di atas al-haq, serta menjadikan kita sebagai pembela agama-Nya, penjaga syariat-Nya, yang berdakwah kepada- Nya di atas bashirah. Allah Mahakuasa atas itu semua. Wassalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh. Jawaban dikeluarkan dari ruang kerja beliau pada 22/1/1409 dengan no. 1/136.

Hukum Zikir dengan Membaca هو هو atau الله الله

Pertanyaan: Di tempat kami ada orang-orang tarekat Tijaniyah. Mereka berkumpul setiap Jumat dan Senin dengan berzikir. Mereka berkata di akhir zikir, الله الله dengan suara yang keras. Apa hukum syariat terhadap amalan mereka?

Jawaban: Tarekat tijaniyah adalah tarekat yang bid’ah dan tarekat yang batil. Pada tarekat tersebut banyak kekufuran yang tidak boleh diikuti, bahkan wajib ditinggalkan. Kami wasiatkan kepada para pengikut tarekat ini untuk meninggalkannya dan mengikuti jalan Rasulullah  Shallallahu ‘alaihi wasallam, yaitu jalan yang telah dilalui oleh para sahabat Rasulullah  Shallallahu ‘alaihi wasallam dan yang mereka terima dari Nabi Muhammad  Shallallahu ‘alaihi wasallam; kemudian diterima dari para sahabat oleh imam imam agama ini, seperti al-Imam Malik, al-Imam Syafi’i, Abu Hanifah, Ahmad, Auza’i, Ishaq bin Rahawaih, ats-Tsauri, dan ulama selain mereka rahimahumullah. Mereka menerimanya dan berjalan di atasnya, dan Ahlus Sunnah berjalan di atasnya pula; yaitu mentauhidkan Allah Subhanahu wata’ala dalam ibadah kepada-Nya, menegakkan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan, haji ke baitullah, serta menaati perintah-perintah Nabi  Shallallahu ‘alaihi wasallam dan meninggalkan larangannya. Inilah jalan yang dibawa oleh Rasulullah  Shallallahu ‘alaihi wasallam. Adapun tarekat sufi, wajib untuk ditinggalkan…. (Nurun ‘Ala Darb)

Apakah Nabi n Diciptakan dari Cahaya?

Pertanyaan: Kami mendengar pada sebuah khutbah di tempat kami bahwa Rasulullah n diciptakan dari nur, bukan dari tanah seperti manusia yang lain. Kami bertanya tentang kebenaran ucapan ini.

Jawaban: Ini adalah ucapan yang batil, tidak ada asalnya. Allah Subhanahu wata’ala menciptakan Nabi-Nya  Shallallahu ‘alaihi wasallam sebagaimana halnya seperti menciptakan manusia yang lain, dari air yang hina, dari air bapaknya, Abdullah, dan ibundanya, Aminah. Hal ini sebagaimana firman Allah Subhanahu wata’ala,

ثُمَّ جَعَلَ نَسْلَهُ مِن سُلَالَةٍ مِّن مَّاءٍ مَّهِينٍ

“Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina.” (as-Sajdah: 8)

Nabi Muhammad  Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah keturunan Nabi Adam’Alaihisslam, dan seluruh keturunan Adam diciptakan dari air yang hina. Adapun hadits yang diriwayatkan bahwa beliau diciptakan dari nur, tidak ada asalnya. Itu adalah hadits maudhu’ (palsu), dusta, batil, dan tidak ada asalnya. Sebagian orang menyatakan bahwa hadits ini diriwayatkan dalam Musnad Ahmad, padahal tidak ada. Sebagian lagi menyatakan ada dalam Mushanaf Abdurrazaq, padahal juga tidak ada. Maksudnya, itu adalah hadits batil, tidak ada asalnya dari Nabi  Shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau diciptakan seperti halnya anak keturunan Adam lainnya. Seluruh nabi pun diciptakan darinya, yaitu air pria dan wanita. Ini adalah hal yang diketahui. Apa yang disangka oleh sebagian sufi ekstrem dan sebagian orang bodoh bahwa beliau diciptakan dari cahaya adalah sangkaan yang batil, tidak ada asalnya dalam syariat. Memang, beliau adalah cahaya. Allah Subhanahu wata’ala menjadikannya sebagai cahaya bagi manusia dengan petunjuk yang Allah Subhanahu wata’ala wahyukan kepadanya berupa al- Qur’an dan as-Sunnah, sebagaimana firman Allah Subhanahu wata’ala,

قَدْ جَاءَكُم مِّنَ اللَّهِ نُورٌ وَكِتَابٌ مُّبِينٌ

“Telah datang kepada kalian cahaya dan kitab yang jelas.”(al-Maidah:15)

Nur (cahaya) yang dimaksud dalam ayat ini adalah Nabi Muhammad  Shallallahu ‘alaihi wasallam, karena nur yang Allah Subhanahu wata’ala wahyukan kepadanya. Allah Subhanahu wata’ala menamakannya nur karena beliau menjadi cahaya dengan sebab cahaya yang Allah Subhanahu wata’ala wahyukan kepadanya, sebagaimana dalam ayat lain,

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ شَاهِدًا وَمُبَشِّرًا وَنَذِيرًا {} وَدَاعِيًا إِلَى اللَّهِ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُّنِيرًا

“Hai Nabi, sesungguhnya Kami mengutusmu untuk jadi saksi, pembawa kabar gembira, dan pemberi peringatan. Dan untuk jadi penyeru kepada agama Allah dengan izin-Nya dan untuk jadi cahaya yang menerangi.” (al-Ahzab: 45—46)

Beliau adalah cahaya yang menerangi. Beliau menjadi nur karena wahyu agung yang Allah Subhanahu wata’ala berikan kepadanya, yaitu al-Qur’an dan as-Sunnah. Allah Subhanahu wata’ala menerangi jalan dengan keduanya, menjelaskan ash-shirath al-mustaqim dengan keduanya, memberikan hidayah kepada umat manusia dengan keduanya. Oleh karena itu, Rasulullah  Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah nur, namun bukan maknanya beliau diciptakan dari cahaya, melainkan beliau adalah nur karena hidayah yang Allah Subhanahu wata’ala berikan kepadanya dan ilmu yang Allah Subhanahu wata’ala berikan yang kemudian beliau ajarkan kepada manusia. Dengan demikian, para rasul adalah nur, para ulama juga adalah nur, yakni ulama al-haq yang Allah l beri hidayah. Mereka adalah cahaya bagi alam semesta dengan sebab apa yang mereka ambil dari wahyu yang dibawa oleh para rasul alaihum ash-shalatu was salam. (Nur ‘ala Darb)

Peringatan untuk Menjauhi Buku- Buku Sihir dan Perdukunan

Pertanyaan: Saya berharap Anda menjelaskan tentang haramnya menggunakan dan membaca buku-buku sihir dan ilmu nujum, karena buku-buku seperti ini banyak. Sebagian teman saya ingin membelinya. Mereka berkata, “Jika tidak digunakan untuk yang bermudarat, tidaklah diharamkan.” Kami berharap faedah dari Anda.

Jawaban:

Bismillahirrahmanirrahim. Alhamdulillah washalatu wasalamu ala rasulillah waala alihi waashabihi waman walah; amma ba’du: Apa yang disampaikan penanya adalah kebenaran. Kaum muslimin wajib menjauhi buku-buku sihir dan ilmu nujum. Orang yang menemukannya wajib memusnahkannya. Sebab, bukubuku seperti itu bermudarat bagi seorang muslim dan menjatuhkannya kepada kesyirikan. Rasulullah  Shallallahu ‘alaihi wasallam berkata,

مَنْ اقْتَبَسَ عِلْمًا مِنَ النُّجُومِ اقْتَبَسَ شُعْبَةً مِنَ السِّحْرِ زَادَ مَا زَادَ

“Barang siapa mengambil satu cabang ilmu nujum berarti telah mengambil satu cabang ilmu sihir. Semakin dia menambah ilmu nujum berarti semakin menambah ilmu sihir.” (HR . Abu Dawud)

Allah Subhanahu wata’ala berfirman tentang dua malaikat,

وَمَا يُعَلِّمَانِ مِنْ أَحَدٍ حَتَّىٰ يَقُولَا إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلَا تَكْفُرْ

“Tidaklah keduanya mengajari sihir kepada seseorang kecuali keduanya berkata, ‘Kami adalah ujian, janganlah Anda kafir!’.” (al-Baqarah: 102)

Ini menunjukkan bahwa belajar dan melakukan sihir adalah kekafiran. Kaum muslimin wajib memerangi buku-buku yang mengajarkan sihir dan ilmu nujum serta memusnahkannya, di mana pun ditemukan; dan ini hukumnya wajib. Seorang penuntut ilmu atau bukan, tidak boleh membaca atau mempelajari buku-buku seperti itu, karena buku-buku tersebut menggiring kepada kekufuran. Ia wajib memusnahkannya. Demikian juga halnya dengan buku-buku yang mengagung-agungkan sihir dan ilmu nujum, wajib dimusnahkan. (Nurun ‘ala Darb)

Ditulis oleh Al-Ustadz Abdurrahman Mubarak