Dakwah harus Memiliki Keistimewaan

Asy-Syaikh Muqbil Merintis Dakwah

Seperti yang dikatakan, asy-Syaikh Muqbil adalah mujaddid di negeri Yaman. Belum pernah ada sejak zaman Abdur Razzaq ash-Shan’ani sampai hari ini, seseorang yang menjalankan dakwah dan memperbaruinya seperti yang dilakukan oleh beliau.

Yaman adalah negeri yang keumuman penduduknya berpemahaman Syiah, Sufi, dan komunis. Membaca dan mempelajari kitab-kitab Sunnah (karya para ulama Ahlus Sunnah) terhitung sebagai dosa dan kesalahan yang tidak diampuni dan tidak dimaafkan. Bahkan, kalau ada yang berani menampakkan sunnah, mereka akan menghalalkan darahnya. Lanjutkan membaca Dakwah harus Memiliki Keistimewaan

Kepribadian asy-Syaikh Muqbil, Akhlak dan Perangai Beliau yang Mulia

Tawakal dan Kedermawanan

Kuatnya rasa tsiqah (percaya penuh) kepada Allah subhanahu wa ta’ala yang ada pada diri asy-Syaikh Muqbil menyebabkan beliau selalu menyandarkan segala urusan hanya kepada-Nya. Suatu kalimat yang sering beliau ucapkan adalah, “Kemudahan itu di tangan Allah.” Lanjutkan membaca Kepribadian asy-Syaikh Muqbil, Akhlak dan Perangai Beliau yang Mulia

Kecintaan dan Perhatian asy-Syaikh Muqbil terhadap Ilmu yang Bermanfaat

”Alangkah indahnya ilmu. Jauh lebih indah daripada emas dan perak, lebih indah daripada wanita cantik, serta lebih indah daripada kekuasaan.”

Kecintaan terhadap ulama dan ilmu yang bermanfaat telah muncul pada diri Asy-Syaikh Muqbil sejak beliau masih kanak-kanak. Kecintaan tersebut menyatu dengan darah daging dan merasuk sampai ke tulang sumsum, sebagaimana beliau ceritakan sendiri kepada keluarganya.

Senin, akhir Shafar1420 H, saat mengajar, beliau pernah mengungkapkan kecintaannya terhadap ilmu seraya berkata, ”Alangkah indahnya ilmu. Jauh lebih indah daripada emas dan perak, lebih indah daripada wanita cantik, serta lebih indah daripada kekuasaan.”

Beliau juga berkata, “Insya Allah kami akan menuntut ilmu sampai mati.”

Segala puji bagi Allah, beliau meninggal dan tergolong sebagai ulama besar yang mulia.

  Lanjutkan membaca Kecintaan dan Perhatian asy-Syaikh Muqbil terhadap Ilmu yang Bermanfaat

Mujaddid Dakwah Salafiyah Negeri Yaman

Sesungguhnya kematian para ulama adalah salah satu tanda nubuwwah Nabi kita, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa salam. Beliau pernah bersabda,

إِنَّ اللهَ لَا يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنْ الْعِبَادِ وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالًا فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا

Sesungguhnya Allah tidaklah mencabut ilmu dengan sekaligus dari hamba-hamba-Nya. Akan tetapi, Dia mencabut ilmu ini dengan mematikan para ulama, hingga setelah tidak menyisakan lagi seorang ulama pun, manusia mengangkat orang-orang jahil sebagai pemimpin. Lalu mereka ditanya kemudian berfatwa tanpa ilmu. Akhirnya mereka sesat dan menyesatkan.” (HR. al-Bukhari dan Muslim, dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash radhiallahu ‘anhuma) Lanjutkan membaca Mujaddid Dakwah Salafiyah Negeri Yaman

Asy-Syaikh Muqbil Dakwah Di Tengah Basis Syiah

Pengantar

Satu hari pada pengujung tahun 2006, di Shan’a, ibukota Republik Yaman. Seorang pemuda Indonesia duduk di sebuah rumah makan menunggu jamuan makan siang dihidangkan. Saat itu, tiba-tiba seorang warga Yaman duduk  di hadapan pemuda tadi dan mengajak berbincang.

Kala warga Yaman itu mengetahui bahwa pemuda yang diajak berbincang adalah penuntut ilmu di Dammaj, Sha’dah, ia langsung menyebut nama Asy-Syaikh Muqbil. “Asy-Syaikh Muqbil pencela ulama,” katanya seraya menampakkan ketidaksukaan.

Melihat sikap tidak terpuji dari lawan bicaranya, pemuda Indonesia itu menjawab tegas, “Ya, benar. Asy-Syaikh Muqbil seorang pencela ulama. Ulama su’ (buruk).” Lanjutkan membaca Asy-Syaikh Muqbil Dakwah Di Tengah Basis Syiah