Memohon Kesucian Jiwa

اللَّهُمَّ آتِ نَفْسِي تَقْوَاهَا وَزَكِّهَا

أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا، أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا

 “Ya Allah, berilah ketakwaan kepada jiwaku, sucikanlah jiwaku. Engkaulah sebaik-baik Dzat yang dapat menyucikannya. Engkaulah yang menguasai dan yang menjaganya.”

(HR. Muslim no. 6844 dari sahabat Zaid bin Arqam radhiallahu ‘anhu)

 

An-Nawawi rahimahullah berkata,

“Makna ‘sucikanlah jiwaku’ adalah ‘bersihkanlah’. Adapun lafadz ‘Engkaulah sebaik-baik Dzat yang dapat menyucikannya’ maksudnya bukanlah untuk membandingkan (bahwa ada yang dapat menyucikan jiwa selain Allah). Akan tetapi, maknanya adalah ‘tidak ada yang dapat menyucikan jiwa kecuali Engkau’.”

(al-Minhaj Syarh Shahih Muslim bin al-Hajjaj, 17/44, cetakan Darul Ma’rifah Beirut)

Saat Ditimpa Kesulitan

لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ الْعَظِيمُ الْحَلِيمُ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمُ،

لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَرَبُّ الْأَرْضِ وَرَبُّ الْعَرْشِ الْكَرِيمُ

 “Tidak ada sembahan yang haq kecuali Allah yang Mahaagung lagi Maha Penyayang. Tidak sembahan yang haq kecuali Allah, Rabb ‘Arsy yang Mahaagung. Tidak sembahan yang haq kecuali Allah, Rabb langitlangit dan bumi, Rabb ‘Arsy yang Mahamulia.”

(HR. al-Bukhari no. 6345, “Bab ad-Du’a ‘Inda al-Karb” dan Muslim no. 6858, “Bab ad-Du’a ‘Inda al-Karb” dari sahabat Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma)

 

Memohon Keistiqamahan

رَبَّنَا لَا تُزِغۡ قُلُوبَنَا بَعۡدَ إِذۡ هَدَيۡتَنَا وَهَبۡ لَنَا مِن لَّدُنكَ رَحۡمَةًۚ إِنَّكَ أَنتَ ٱلۡوَهَّابُ ٨

“Wahai Rabb kami, janganlah Engkau jadikan kalbu kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu, karena sesungguhnya Engkaulah yang Maha Pemberi (karunia).” (Ali Imran: 8)

 

Asy-Syaikh as-Sa’di rahimahullah berkata,

“Janganlah Engkau simpangkan kalbu kami dari kebenaran karena kebodohan dan penentangan kami. Jadikanlah kami orang-orang yang istiqamah, selalu mendapatkan petunjuk. Kokohkanlah kami di atas hidayah-Mu, dan selamatkanlah kami dari apa yang dengannya Engkau uji orang-orang yang menyimpang.”

(Tafsir as-Sa’di hlm. 106)

Doa Untuk Musafir

زَوَّدَكَ اللهُ التَّقْوَى وَغَفَرَ ذَنْبَكَ وَيَسَّرَ لَكَ الْخَيْرَ حَيْثُمَا كُنْت

“Semoga Allah membekalimu dengan ketakwaan, mengampuni dosamu, dan memudahkan kebaikan untukmu di manapun engkau berada.”

(HR. at-Tirmidzi dari Anas radhiallahu ‘anhu no. 3444, dihukumi hasan oleh asy-Syaikh al-Albani dalam ash-Shahih al-Jami’no. 3579, lihat http://www.alalbany.net/mobile)

Zikir Setelah Shalat

لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ، حَوْلَ وَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ، إِلَهَ إِ اللهُ، وَلاَ نَعْبُدُ إِلاَّ إِيَّاهُ، لَهُ النِّعْمَةُ وَلَهُ الْفَضْلُ وَلَهُ الثَّنَاءُ الْحَسَنُ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ

 

“Tidak ada sesembahan yang haq kecuali Allah satu-satu-Nya, tidak ada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya segala kekuasaan dan segala pujian, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Tidak ada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah. Tidak ada sesembahan yang haq kecuali Allah dan kami tidak beribadah kecuali hanya kepada-Nya. Milik-Nya segala kenikmatan dan keutamaan serta sanjungan yang baik. Tidak ada sesembahan yang haq kecuali Allah, kami memurnikan seluruh peribadatan ini hanya untuk-Nya meskipun orang-orang kafir tidak menyukai.”

(HR. Muslim no. 1342 dari Ibnu Zubair radhiallahu ‘anhu)

Saat Melihat Manusia Menyimpan Emas & Perak

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Syaddad bin Aus radhiallahu ‘anhu,

“Wahai Syaddad bin Aus, apabila engkau melihat manusia telah menyimpan emas dan perak, simpanlah kalimat-kalimat ini.

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الثَّبَاتَ فِي الْأَمْرِ وَالْعَزِيْمَةَ عَلَى الرُّشْدِ، وَأَسْأَلُكَ شُكْرَ نِعْمَتِكَ، وَأَسْأَلُكَ حُسْنَ عِبَادَتِك، وَأَسْأَلُكَ قَلْبًا سَلِيمًا، وَأَسْأَلُكَ لِسَانًا صَادِقًا، وَأَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِ مَا تَعْلَمُ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا تَعْلَمُ وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا تَعْلَمُ، إِنَّكَ أَنْتَ عَلَّامُ الْغُيُوبِ

“Ya Allah, sungguh aku memohon kepada-Mu kekokohan di atas agama, istiqamah di atas jalan yang haq, bersyukur atas nikmat-Mu, kebagusan dalam ibadah kepada-Mu, kalbu yang selamat, dan lisan yang jujur. Aku memohon kebaikan yang Engkau ketahui. Aku berlindung kepada-Mu dari kejelekan yang Engkau ketahui. Aku memohon ampun kepada-Mu dari yang Engkau ketahui. Sesungguhnya, Engkau Maha Mengetahui hal-hal yang gaib.”

(HR. Ahmad no. 17114, dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh al-Albani dalam ash-Shahihah no. 3228)

Untaian Doa yang Agung

Anda pernah mendengar atau bahkan mungkin telah menghapal dan mengamalkan doa berikut?

اللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَا يَحُوْلُ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعَاصِيْكَ، وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَا بِهِ جَنَّتَكَ، وَمِنَ الْيَقِيْنِ مَا تُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مُصِيبَاتِ الدُّنْيَا، وَمَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا وَقُوَّتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا، وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا، وَاجْعَلْ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ ظَلَمَنَا، وَانْصُرْنَا عَلَى مَنْ عَادَانَا، وَلاَ تَجْعَلْ مُصِيْبَتَنَا فِي دِيْنِنَا، وَلاَ تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا، وَلاَ مَبْلَغَ عِلْمِنَا، وَلاَ تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لاَ يَرْحَمُنَا

Ya Allah! Jadikanlah untuk kami rasa takut kepada-Mu yang dengannya dapat menghalangi dan mencegah kami untuk berbuat berbagai maksiat kepada-Mu.

Anugerahkanlah kepada kami ketaatan kepada-Mu yang dengannya dapat menyampaikan kami kepada surga-Mu.

Berikan pula keyakinan yang dengannya terasa ringan bagi kami segala musibah yang menimpa kami.

Berilah kenikmatan dan manfaat kepada kami dengan pendengaran, penglihatan, dan kekuatan kami selama Engkau menghidupkan kami.

Jadikanlah semua itu sebagai pewaris dari kami.

Jadikan pula balasan kami kepada orang yang menzalimi kami dengan balasan yang sesuai untuknya (tidak melampaui batas).

Tolonglah kami terhadap orang-orang yang memusuhi kami.

Jangan Engkau jadikan musibah kami menimpa agama kami.

Jangan pula Engkau jadikan dunia menjadi tujuan dan keinginan kami yang terbesar.

Jangan sampai dunia menjadi puncak dari ilmu kami.

Jangan jadikan orang yang tidak menyayangi kami dapat menguasai kami.”

Untaian doa yang bermakna luar biasa, bukan? Coba Anda cermati baik-baik artinya. Sebuah doa ma’tsur (ada atsarnya) yang pernah dilantunkan dan diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di antara sekian banyak doa yang lainnya.

Sahabat yang mulia, Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma, menyampaikan kepada kita tentang pengamalan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap doa di atas,

قَلَّمَا كَانَ رَسُوْلُ اللهِ يَقُوْمُ مِنْ مَجْلِسٍ، حَتَّى يَدْعُوَ بِهَؤُلآءِ الدَّعَوَاتِ لِأَصْحَابِهِ

“Jarang sekali Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bangkit dari majelis sampai beliau berdoa dengan doa-doa ini untuk para sahabat beliau.”

Hadits ini diriwayatkan oleh at-Tirmidzi (no. 3502) dan al-Hakim (1/258).

At-Tirmidzi berkata tentang hadits ini, “Hasan gharib”.

Al-Hakim menyatakan sahih dan disepakati oleh adz-Dzahabi.

Hadits ini derajatnya sahih menurut al-Albani rahimahullah sebagaimana dalam Shahih Sunan at-Tirmidzi, Shahih al-Jami’, dan al-Misykat.

Maksud ucapan Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma di atas adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kerap mengucapkan doa-doa di atas sebelum beliau berdiri meninggalkan majelis. Hanya sesekali beliau tidak membaca doa-doa tersebut.

Kandungan Doa

Coba kita tengok kalimat yang terkandung dalam doa di atas.

  1. Rasa takut yang menghalangi untuk berbuat maksiat

Dalam senandung doa yang agung di atas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memohon dianugerahi khasyah, rasa takut kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Sebab, kalbu yang berperan sebagai pimpinan bagi tubuh[1] itu bila dipenuhi dengan khasyah. Kalbu akan mengekang anggota tubuh yang lain dari berbuat maksiat. “Jadikanlah untuk kami rasa takut kepada-Mu yang dengannya dapat menghalangi dan mencegah kami untuk berbuat berbagai maksiat kepada-Mu.”

Sebaliknya, kalbu yang kosong dari khasyah akan berselancar dalam maksiat. Tiada rasa takut yang mengekang dan tidak pula khawatir akan akibat yang akan diperoleh. Yang ada di benak hanyalah bagaimana memuaskan jiwa dengan hawa nafsu syahwatnya.

 

  1. Ketaatan yang bisa menyampaikan ke surga

Berikutnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memohon dalam untaian doa indahnya, “Anugerahkanlah kepada kami ketaatan kepada-Mu yang dengannya dapat menyampaikan kami kepada surga-Mu.”

Surga adalah cita-cita tertinggi dan teragung setiap insan yang mengaku beriman kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Dialah negeri asal yang dirindukan, tempat tinggal awal bapak manusia, Adam ‘alaihissalam.

Surga dengan segala kenikmatannya tidaklah bisa dicapai dengan amalan ketaatan semata, karena amalan kita tidak sebanding dengan nikmatnya surga. Amal kita terlalu sedikit nilainya untuk membeli surga. Bayangkan, kita beramal sedikit lagi ringan, sementara ganjaran yang disiapkan di surga demikian besar.

Satu contohnya adalah hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut ini,

رَكْعَتَا الْفَجْرِ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيْهَا

“Shalat dua rakaat fajar lebih baik daripada dunia seisinya.” (HR Muslim no. 1685)

Karena pahalanya yang sangat besar bersamaan dengan ringannya shalat ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai menyatakan,

لَهُمَا أَحَبُّ إِلَيَّ مِنَ الدُّنْيَا جَمِيْعًا

“Dua rakaat tersebut lebih aku cintai daripada (perhiasan) dunia seluruhnya.” (HR. Muslim no. 1686)

Contoh lain adalah hadits tentang dilipatgandakannya amalan kebaikan sebagaimana disampaikan lewat sahabat yang mulia, Abdullah ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di antaranya beliau menyatakan,

فَمَنْ هَمَّ بِحَسَنَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كَتَبَهَا اللهُ عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً، وَإِنْ هَمَّ فَعَمِلَهَا كَتَبَهَا اللهُ عِنْدَهُ عَشْرَ حَسَنَاتٍ إِلَى سَبْعِمَائَةِ ضِعْفٍ إِلَى أَضْعَافٍ كَثِيْرَةٍ

“Barang siapa berkeinginan untuk berbuat satu kebaikan namun dia tidak melakukannya, niscaya Allah akan mencatat keinginan baik tersebut sebagai satu kebaikan yang sempurna di sisi-Nya. Jika dia berkeinginan berbuat satu kebaikan lalu dia melakukannya, niscaya Allah akan mencatatnya sebagai sepuluh kebaikan di sisi-Nya, (dan Allah akan melipatgandakannya) sampai tujuh ratus kali lipat, bahkan sampai berlipat-lipat yang sangat banyak… (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Amal ketaatan hanyalah sebab, adapun masuk surga bisa tercapai berkat rahmat Allah subhanahu wa ta’ala kepada si hamba. Allah subhanahu wa ta’ala merahmati si hamba karena dia telah menempuh sebab untuk masuk ke surga-Nya. Allah subhanahu wa ta’ala pun memasukkannya ke dalam surga.

Karena surga itu hanya dicapai dengan rahmat Allah subhanahu wa ta’ala , seorang hamba tentu tidak layak merasa telah berbuat sesuatu yang besar dengan amalannya dan merasa pantas masuk surga karena telah beramal ini dan itu.

Sungguh, apa pun yang kita lakukan dan bagaimana pun besarnya amalan ketaatan kita, tetap saja tidak sebanding dengan ganjaran yang diperoleh di surga. Allah subhanahu wa ta’ala memberi lebih banyak dan sangat banyak daripada apa yang kita lakukan.

 

  1. Keyakinan yang menjadikan semua musibah terasa ringan

Yang diminta selanjutnya adalah ‘keyakinan’. Yakinlah bahwa tidak ada yang dapat menolak ketetapan Allah subhanahu wa ta’ala. Yakinlah bahwa tidaklah menimpa kita suatu musibah kecuali telah ditetapkan-Nya dalam takdir-Nya.

Apa yang ditakdirkan-Nya tidak lepas dari hikmah dan maslahat bersamaan dengan adanya tambahan pahala untuk si hamba yang terkena musibah.

Dengan keyakinan seperti ini terasa mudahlah semua musibah dunia, dikarenakan yakin adanya balasan pahala. Si hamba yang yakin tidak menjadi gundah-gulana dengan apa yang menimpanya dan tidak pula terlalu bersedih.

Yang terucap dari lisannya saat menimpanya sesuatu yang tidak mengenakkan adalah kalimat yang syar’i ,

قَدَّرَ اللهُ وَمَا شَاءَ فَعَلَ

“Allah telah menakdirkan dan apa saja yang Dia kehendaki Dia lakukan.”

Sebagaimana bimbingan Sang Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits yang sahih riwayat al-Imam Muslim dari sahabat yang mulia, Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu,

وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ فلَاَ تَقُلْ: لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَذَا لَكَانَ كَذَا وَكَذَا، وَلَكِنْ قُلْ : قَدَّرَ اللهُ وَمَا شَاءَ فَعَلَ

Jika sesuatu menimpamu (yang tidak kamu sukai atau tidak sesuai dengan keinginanmu), janganlah kamu katakan, “Seandainya aku melakukan itu, niscaya hasilnya akan begitu dan begitu.” Akan tetapi, katakanlah, “Qaddarullah wa masya’a fa’ala…”

 

  1. Indra dan kekuatan digunakan untuk taat kepada Allah subhanahu wa ta’ala

Pendengaran dan penglihatan dengan alatnya masing-masing merupakan nikmat yang besar yang dianugerahkan Allah subhanahu wa ta’ala untuk para hamba. Demikian pula kekuatan tubuh, apalagi bila digunakan untuk menaati Allah subhanahu wa ta’ala.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa untuk pendengaran, penglihatan, dan kekuatan tersebut,

وَمَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا وَقُوَّتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا

“Berikanlah kenikmatan dan manfaat kepada kami dengan pendengaran, penglihatan, dan kekuatan kami selama Engkau menghidupkan kami.”

Indra yang Allah subhanahu wa ta’ala berikan tidak hanya telinga dan mata, tetapi dalam permohonan di atas keduanya disebutkan secara khusus tanpa menyebut indera yang lain, karena memang petunjuk-petunjuk yang menyampaikan kepada ma’rifatullah (mengenal Allah subhanahu wa ta’ala) dan mentauhidkan-Nya hanyalah dicapai lewat jalan keduanya (mata dan telinga).

Burhan/bukti yang nyata diperoleh dari ayat-ayat sam’iyah (wahyu berupa al-Qur’an dan as-Sunnah) dan dilakukan lewat jalan mendengar. Ayat-ayat yang dipancangkan di ufuk dan di jiwa-jiwa (ayat-ayat kauniyah berupa makhluk-makhluk ciptaan Allah subhanahu wa ta’ala) diperoleh lewat penglihatan.

Menurut Ibnul Malik, permohonan tamattu’ (beroleh kenikmatan) dengan pendengaran dan penglihatan juga bermakna meminta agar keduanya tetap sehat (tidak rusak/mengalami cacat) sampai meninggal dunia.

Seorang hamba memohon tamattu’ dengan keduanya karena khawatir dirinya terjatuh pada jalan orang-orang yang Allah subhanahu wa ta’ala tutup kalbu mereka dan Allah subhanahu wa ta’ala jadikan di atas pendengaran dan penglihatan mereka terdapat ghisyawah/penutup sebagaimana dalam ayat,

وَلَقَدۡ ذَرَأۡنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرٗا مِّنَ ٱلۡجِنِّ وَٱلۡإِنسِۖ لَهُمۡ قُلُوبٞ لَّا يَفۡقَهُونَ بِهَا وَلَهُمۡ أَعۡيُنٞ لَّا يُبۡصِرُونَ بِهَا وَلَهُمۡ ءَاذَانٞ لَّا يَسۡمَعُونَ بِهَآۚ أُوْلَٰٓئِكَ كَٱلۡأَنۡعَٰمِ بَلۡ هُمۡ أَضَلُّۚ أُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡغَٰفِلُونَ ١٧٩

“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai kalbu tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah), dan mereka mempunyai mata tetapi tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah) dan mereka pun punya telinga tetapi tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.” (al-Araf : 179)

Ketika dicapai ma’rifatullah lewat mata yang melihat dan telinga yang mendengar, tentu berkonsekuensi si hamba harus menegakkan ibadah kepada sang Rabb. Dia pun harus memohon kekuatan kepada sang Rabb agar memungkinkan baginya melaksanakan ibadah kepada-Nya, karena ‘tiada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah’.

Ath-Thibi berkata, “Yang dimaukan dengan kekuatan adalah kekuatan seluruh anggota tubuh dan indra, atau seluruhnya.”

Selanjutnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memohon,

وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا

“Jadikan (semua itu) pewaris bagi kami,yakni tetap ada pada kami sampai meninggal.

Kisah Al-Imam Al-Albani rahimahullah

Al-Imam al-Albani rahimahullah setelah membawakan hadits,

أَعْمَارُ أُمَّتِي مَا بَيْنَ السِّتِّيْنَ إِلَى السَّبْعِيْنَ وَأَقَلُّهُمْ مَنْ يَجُوزُ ذَلِكَ

“Umur umatku antara 60 tahun sampai 70 tahun, sedikit di antara mereka yang melampaui umur tersebut.”[2]

Ibnu Arafah berkata, “Aku termasuk yang sedikit tersebut.”

Beliau rahimahullah memberikan komentar terhadap ucapan Ibnu Arafah di atas, “Aku juga termasuk yang sedikit tersebut. Umurku telah melebih 84 tahun. Aku memohon kepada al-Maula (yakni Allah subhanahu wa ta’ala) agar termasuk orang yang panjang umurnya dan baik amalannya.

Namun, sungguh. bersamaan dengan itu hampir-hampir aku mengangankan kematian, tatkala melihat kaum muslimin ditimpa musibah berupa penyimpangan dalam hal agama dan kehinaan yang turun kepada mereka sehingga mereka termasuk orang-orang yang rendah.

Akan tetapi, tentu amat jauh bagiku untuk mengangankan hal tersebut, sementara hadits Anas radhiallahu ‘anhu ada di hadapanku sejak aku masih muda remaja. Tidak pantas bagiku untuk mengatakan kecuali sebagaimana yang diperintah oleh Nabiku shallallahu ‘alaihi wa sallam,

اللَّهُمَّ أَحْيِنِي مَا كاَنَتِ الْحَيَاةُ خَيْرًا لِي وَتَوَفَّنِي إِذَا كَانَتِ الْوَفَاةُ خَيْرًا لِي

‘Ya Allah, hidupkanlah aku selama kehidupan ini baik bagiku dan wafatkanlah aku bila kematian lebih baik bagiku.’[3]

Seraya berdoa dengan doa yang beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam ajarkan kepadaku,

اللَّهُمَّ مَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا وَقُوَّتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا

Sungguh, Allah subhanahu wa ta’ala memberikan keutamaan dengan mengabulkan permohonanku dan memberiku kenikmatan serta manfaat dengan seluruhnya (pendengaran, penglihatan dan kekuatan).

Sampai saat ini (sebelum beliau meninggal dunia –pent.) aku terus menerus diberi kemampuan untuk meneliti, mentahqiq, dan menulis dengan penuh semangat yang jarang ada yang menandinginya.

Aku tetap bisa mengerjakan shalat nafilah dengan berdiri. Aku menyetir mobil sendiri dengan jarak tempuh yang jauh, dengan laju kecepatan yang membuat sebagian orang-orang tercinta[4] menasihatiku untuk menguranginya.

Aku sampaikan hal ini sebagai bentuk pengamalan ayat,

وَأَمَّا بِنِعۡمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثۡ ١١

(bukan untuk menyombongkan diri–pent.).

Aku berharap kepada al-Maula subhanahu wa ta’ala agar menambahkan kepadaku keutamaan-Nya; dan menjadikan semua itu sebagai pewaris dariku; mewafatkan aku dalam keadaan muslim, di atas sunnah yang aku telah menazarkan hidupku untuk sunnah dalam bentuk berdakwah dan menulis; agar menggabungkan aku bersama para syuhada dan shalihin. Mereka itulah adalah sebaik-baik teman. Sungguh, Allah Maha Mendengar lagi Mengabulkan doa.” (Dinukil dari Fawaid wa ‘Ibar min Hayah al-Imam al-Albani, hlm. 287)

  1.  Tidak berbuat melampaui batas walau kepada orang yang menzalimi

Sebab, apabila melampaui batas berarti dia berpindah dari keadaan terzalimi menjadi orang yang zalim. Sementara itu, ada peringatan dalam hadits,

اتَّقُوْا الظًّلْمَ فَإِنَّ الظُّلْمَ ظُلُمَاتٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Berhati-hatilah kalian dari kezaliman, karena kezaliman itu adalah kegelapan demi kegelapan pada hari kiamat.” (HR. Muslim)

 

  1. Ditolong dari musuh

Apa jadinya apabila Allah subhanahu wa ta’ala membiarkan kita dengan musuh kita, tidak menolong kita?

Jika Allah subhanahu wa ta’ala menolong kita, tidak akan ada yang dapat mengalahkan, sebagaimana firman-Nya,

إِن يَنصُرۡكُمُ ٱللَّهُ فَلَا غَالِبَ لَكُمۡۖ وَإِن يَخۡذُلۡكُمۡ فَمَن ذَا ٱلَّذِي يَنصُرُكُم مِّنۢ بَعۡدِهِۦۗ وَعَلَى ٱللَّهِ فَلۡيَتَوَكَّلِ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ ١٦٠

“Jika Allah menolong kalian, tidak ada yang dapat mengalahkan kalian. Namun, apabila Allah menghinakan kalian (tidak menolong bahkan membiarkan kalian), siapa lagi yang dapat menolong kalian setelah-Nya? Karena itu, hendaknya hanya kepada Allah-lah orang-orang beriman itu bertawakal.” (Ali ‘Imran: 160)

 

  1. Musibah tidak menimpa agama

Kebaikan agama adalah modal keselamatan di akhirat. Apa jadinya apabila modal tersebut rusak karena musibah yang menimpanya?

Karena itu, kita diajari untuk memohon kepada Rabb agar yang menimpa kita bukan musibah yang mengenai agama sehingga mengurangi, melunturkan, atau merusaknya. Di antara musibah dalam hal agama ialah penyimpangan dari al-haq, keyakinan yang buruk, memakan makanan yang haram, malas beribadah, dan semisalnya.

 

  1. Dunia tidak menjadi tujuan utama, prioritas tertinggi, dan puncak ilmu

Dunia dinamakan dunia karena dua sebab.

  • Karena keberadaan dunia mendahului akhirat

Firman Allah subhanahu wa ta’ala,

وَلَلۡأٓخِرَةُ خَيۡرٞ لَّكَ مِنَ ٱلۡأُولَىٰ ٤

“Akhirat itu lebih baik bagimu daripada yang awal (dunia).” (adh-Dhuha: 4)

  • Karena dunia itu rendah, bukan apa-apa apabila dibandingkan dengan akhirat

Hal ini digambarkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh al-Imam Ahmad rahimahullah dari al-Mustaurid ibnu Syaddad radhiallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَمَوْضِعُ سَوْطِ أَحدِكُمْ فِي الْجَنَّةِ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيْهَا

“Tempat cambuk salah seorang dari kalian di surga lebih baik daripada dunia berikut isinya.”

Tempat cambuk, tempat tongkat yang pendek lagi kecil, di surga nanti lebih baik daripada dunia berikut isinya dari awal sampai akhirnya. Itulah nilai dunia (tidak ada apa-apanya). (Syarhu Riyadhish Shalihin, Ibnu Utsaimin, 2/249)

Demikian rendahnya nilai dunia. Tidak sepantasnya dunia menjadi tujuan hidup, target utama, prioritas tertinggi, dan yang dipikirkan siang malam.

Karena itu, Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam memohon pertolongan Sang Khaliq agar mencari harta dan kedudukan tidak menjadi tujuan yang terbesar dalam kehidupan. Yang diminta ialah agar amalan akhirat dan mengejar keutamaannya menjadi tujuan yang utama dan terbesar.

Jangan pula, ya Allah, Engkau jadikan puncak ilmu kami adalah urusan dunia sehingga tidak ada yang kami tahu dan kami pikirkan kecuali urusan dunia. Justru yang kami mohon adalah Engkau jadikan kami memikirkan keadaan akhirat, mempelajari ilmu yang terkait dengan-Mu dan negeri akhirat.

 

  1. Tidak dikuasai oleh orang-orang kafir dan zalim

Jangan sampai kami dikuasai oleh orang-orang kafir dan zalim; atau jangan jadikan orang zalim sebagai pemimpin kami, karena seorang yang zalim tidak akan menyayangi rakyatnya.

Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

(Nukilan dari Tuhfah al-Ahwazi, kitab ad-Da’wah, bab 80 disertai tambahan yang banyak dari beberapa rujukan)

Ditulis oleh al-Ustadzah Ummu Ishaq al-Atsariyah


[1] Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang kalbu (jantung),

ألآ إِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً، إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، أَلآ وَ هِيَ الْقَلْبُ

“Sesungguhnya di dalam tubuh itu adalah segumpal daging. Jika baik daging tersebut, baik pula seluruh tubuh. Sebaliknya jika rusak, rusak pula seluruh tubuh. Ketahuilah, segumpal daging tersebut adalah kalbu. (HR. al-Bukhari dan Muslim, dari sahabat yang mulia an-Nu’man ibnu Basyir radhiallahu ‘anhu)

[2] HR. at-Tirmidzi dalam Sunannya, al-Bazzar dalam Musnadnya, Ibnu Hibban dalam Shahihnya, dari sahabat yang mulia, Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu.

[3] Muttafaqun ‘alaih.

[4] Di antaranya ialah asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah (-ed.)

Berdoalah Pasti Allah Akan Mengabulkan Doamu

Saudariku muslimah… semoga Allah subhanahu wa ta’ala merahmatimu.

Menempuh hari demi hari dalam perjalanan hidup kita, tentunya tak dapat bertumpu pada kemampuan dan kekuatan kita sendiri, karena manusia merupakan makhluk yang lemah.

وَخُلِقَ ٱلۡإِنسَٰنُ ضَعِيفٗا

“Dan manusia diciptakan dalam keadaan lemah.” (an-Nisa`: 28)

Kita membutuhkan kekuatan dan pertolongan Allah subhanahu wa ta’ala, kita butuh rahmat-Nya, kita butuh segalanya dari Allah subhanahu wa ta’ala. Untuk itu semua, tentunya kita butuh berdoa kepada-Nya dalam rangka menyampaikan hajat-hajat kita, dalam keadaan kita yakin Dia Dzat Yang Maha Mengetahui.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌۖ أُجِيبُ دَعۡوَةَ ٱلدَّاعِ إِذَا دَعَانِۖ فَلۡيَسۡتَجِيبُواْ لِي وَلۡيُؤۡمِنُواْ بِي لَعَلَّهُمۡ يَرۡشُدُونَ ١٨٦

“Apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah) sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi segala perintah-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku agar mereka selalu berada dalam kelurusan.” (al-Baqarah: 186)

ٱدۡعُونِيٓ أَسۡتَجِبۡ لَكُمۡۚ

“Berdoalah kalian kepada-Ku niscaya Aku akan mengabulkan permohonan kalian.” (Ghafir: 60)

Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah menyatakan dalam tafsirnya, Allah subhanahu wa ta’ala tidak akan menolak permintaan orang yang berdoa, dan tidak ada sesuatu pun yang menyibukkan Dia dari memperhatikan doa hamba-Nya, bahkan Dia Maha Mendengar doa. Di sini ada penekanan, dorongan dan anjuran untuk berdoa, karena doa itu tidaklah disia-siakan di sisi Allah subhanahu wa ta’ala. (Tafsir Al-Qur`anil ‘Azhim, 1/284)

Allah subhanahu wa ta’ala pasti mendengarkan dan mengabulkan doa kita. Ini adalah satu keyakinan yang harus kita tumbuhkan di dalam jiwa sehingga kita selalu husnuzhan (berbaik sangka) kepada-Nya. Kepastian ini dipertegas lagi dengan hadits-hadits Rasulullah n berikut ini:

“Sesungguhnya Allah ta’ala malu bila seorang hamba membentangkan kedua tangannya untuk memohon kebaikan kepada-Nya, lalu Ia mengembalikan kedua tangan hamba itu dalam keadaan hampa/gagal.” (HR. Ahmad (5/438), dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahihul Jami’ no. 1757)

“Tidak ada seorang muslim pun yang berdoa kepada Allah U dengan satu doa yang tidak ada di dalamnya dosa dan pemutusan silaturahmi, kecuali Allah memberikan kepadanya dengan doa tersebut salah satu dari tiga perkara: Bisa jadi permintaannya disegerakan, bisa jadi permintaannya itu disimpan untuknya di akhirat nanti, dan bisa jadi dipalingkan/dihindarkan kejelekan darinya yang sebanding dengan permintaannya.”

Ketika mendengar penjelasan seperti itu, para shahabat berkata: “Kalau begitu kita akan memperbanyak doa.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Allah lebih banyak lagi yang ada di sisi-Nya (atau pemberian-Nya).” (HR. Ahmad 3/18, dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahihul Jami’ no. 5714)

Dalam hadits di atas jelas sekali apa yang dinyatakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa Allah subhanahu wa ta’ala pasti akan mengabulkan permintaan hamba-Nya selama doa yang dipanjatkan tidak mengandung dosa atau pemutusan silaturahim. Kalaupun permintaan yang dipinta tidak dikabulkan Allah subhanahu wa ta’ala, hal ini karena Dia Maha Tahu apa yang terbaik bagi si hamba. Bisa jadi permintaan itu disimpan untuk diberikan kelak di akhirat sehingga si hamba bisa memetik buah dari doanya ketika di dunia, ataupun dengan doa tersebut si hamba dihindarkan dari kejelekan.

Dengan demikian tidak ada ruginya seorang hamba meminta kepada Rabbnya Yang Maha Pemurah. Bahkan semestinya seorang hamba selalu menghadapkan permintaannya kepada Rabbnya di setiap waktu dan keadaan. Jangan ia biarkan ada sesuatu yang menghalanginya untuk menyampaikan hajat kepada Rabbnya. Orang yang selalu berdoa kepada Allah subhanahu wa ta’ala berarti dia akan selalu mengingat-Nya. Siapa yang selalu ingat kepada Allah subhanahu wa ta’ala maka Allah subhanahu wa ta’ala pun akan mengingatnya, sebagaimana disebutkan dalam hadits qudsi berikut ini:

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman: “Aku menurut persangkaan hamba-Ku terhadap-Ku, dan Aku bersamanya ketika ia mengingat (berdzikir) kepada-Ku. Jika ia mengingat-Ku dalam dirinya, Aku pun mengingatnya dalam Diriku. Jika ia mengingat-Ku di tengah orang banyak, Aku pun mengingatnya di tengah kelompok yang lebih baik dari mereka (yakni para malaikat,-pent.)” (HR. Al-Bukhari no. 7405, kitab At-Tauhid, bab Qaulullahi Ta’ala: Wa Yuhadzdzirukumullahu Nafsahahu, dan Muslim no. 6746, kitab Adz-Dzikr wad Du’a wat Taubah wal Istighfar, bab Al-Hatstsu ‘ala Dzikrillah Ta’ala)

Allah subhanahu wa ta’ala pun telah memerintahkan dalam firman-Nya :

فَٱذۡكُرُونِيٓ أَذۡكُرۡكُمۡ

“Ingatlah kalian (berdzikirlah) kepada-Ku maka Aku pun akan mengingat kalian.” (al-Baqarah: 152)

Cukuplah penjelasan di atas untuk membuat kita rindu untuk selalu berdoa kepada-Nya, untuk selalu mengingat-Nya.

Namun mungkin masih terlintas “sebuah tanya” di benak kita akan adanya doa yang selalu kita pinta tetapi sampai saat ini belum ada tanda-tanda dikabulkan. Padahal kita merasa kebaikan semata yang dipinta. Kenapa bisa demikian?

Penjelasan Al-Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah rahimahullah berikut ini mungkin bisa kita jadikan renungan. Beliau berkata: “Demikian pula doa. Doa merupakan sebab terkuat untuk menolak kejelekan dan (sebab untuk) mendapatkan apa yang diinginkan. Akan tetapi terkadang pengaruhnya luput untuk diperoleh. Bisa jadi karena lemahnya doa tersebut di mana keberadaan doa itu tidak dicintai oleh Allah subhanahu wa ta’ala disebabkan di dalamnya mengandung permusuhan. Bisa jadi karena lemahnya hati orang yang berdoa dan ia tidak menghadapkan diri sepenuhnya kepada Allah subhanahu wa ta’ala, juga tidak memperhatikan waktu berdoa. Jadilah doa tersebut seperti busur yang sangat lemah, karena anak panah yang keluar darinya melesat dengan lemah. Bisa jadi pula doa tersebut tidak dikabulkan karena ada perkara-perkara yang menghalanginya seperti makan dari yang haram, adanya kedzaliman, hati yang penuh titik hitam karena dosa, kelalaian dan syahwat yang mendominasi.” (Ad-Da`u wad Dawa`, hal. 9)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda :

“Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Allah itu Maha Baik, Dia tidak menerima kecuali yang baik (halal). Sungguh Allah telah memerintahkan kepada kaum mukminin dengan apa yang diperintahkan-Nya kepada para rasul. Dia berfirman: “Wahai para rasul, makanlah kalian dari yang baik-baik (halal) dan beramal shalihlah, sesungguhnya Aku Maha Mengetahui terhadap apa yang kalian amalkan.” Dia pun berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, makanlah kalian dari yang baik-baik (halal) dari apa yang telah Kami rizkikan kepada kalian dan bersyukurlah kalian kepada Allah jika memang hanya kepada-Nya kalian beribadah.” Kemudian Rasulullah menyebutkan seorang lelaki yang telah menempuh perjalanan yang panjang, dalam keadaan kusut masai lagi berdebu. Ia memben-tangkan kedua tangannya ke langit seraya berdoa: “Wahai Rabbku, wahai Rabbku!” Sementara makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram dan ia diberi makan dari yang haram, lalu dari mana doanya akan dikabulkan?” (HR. Muslim no. 2343 kitab Az-Zakah, bab Qabulush Shadaqah minal Kasbith Thayyib)

Al-Imam An-Nawawi rahimahullah berkata: “Hadits ini menunjukkan bahwa minuman, makanan, pakaian dan semisalnya, sepantasnya berasal dari yang halal murni tanpa ada syubhat. Siapa yang ingin berdoa maka dia sepantasnya lebih memperhatikan hal ini daripada hal lainnya.” (Al-Minhaj Syarhu Shahih Muslim, 7/102)

Dengan demikian, bila kita mendapatkan ada doa kebaikan yang kita panjatkan belum juga dikabulkan sepantasnya kita introspeksi diri dan menelaah. Adakah hal-hal yang menghalangi terijabahnya doa? Sudahkah kita memperhatikan adab-adab dalam berdoa dan waktu-waktu mustajabah?

Edisi depan, Insya Allah, kita coba membahasnya. Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

Ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu Ishaq Zulfa Husein Al-Atsariyyah

 

Penghalang Terkabulnya Doa

Seseorang berkata kepada Ibrahim bin Adham rahimahullah, “Allah ‘azza wa jalla telah berfirman dalam kitab-Nya,

وَقَالَ رَبُّكُمُ ٱدۡعُونِيٓ أَسۡتَجِبۡ لَكُمۡۚ

‘Berdoalah kalian kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan doa kalian.’ (al-Mu’min: 60)

Kami telah berdoa kepada Allah ‘azza wa jalla sekian lama, namun tidak juga Allah ‘azza wa jalla mengabulkan doa kami.”

Beliau pun menjawab, “Hati kalian telah mati karena sepuluh perkara:

  1. Kalian mengenal Allah ‘azza wa jalla, namun tidak menunaikan hak-Nya.
  2. Kalian membaca Kitabullah, namun tidak mengamalkannya.
  3. Kalian mengaku mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, namun meninggalkan Sunnahnya.
  4. Kalian mengaku memusuhi setan, namun sepakat dengannya.
  5. Kalian mengatakan bahwa kalian cinta jannah (surga), namun tidak beramal untuk itu.
  6. Kalian katakan bahwa kalian takut an-naar (neraka), namun menggadaikan diri-diri kalian kepadanya (an-naar).
  7. Kalian katakan bahwa sesungguhnya kematian itu pasti (terjadi), namun kalian tidak bersiap-siap untuknya.
  8. Kalian sibuk dengan aib saudara-saudara kalian dan mencampakkan aib-aib diri sendiri.
  9. Kalian memakan nikmat Rabb kalian, namun tidak mensyukurinya.
  10. Kalian mengubur mayit-mayit kalian dan tidak mengambil pelajaran darinya.

 

(al-Hilyah, 8/1516)