Hukum Jual Beli Saham & Obligasi

Tidak diragukan bahwa banyak transaksi yang berlangsung di masa ini dalam bentuk jual beli saham dan obligasi. Ini merupakan salah satu aktivitas yang dijalankan oleh bank-bank komersial.

Oleh karena itu, kami akan menyebutkan definisi masing-masing dan perbedaan antara keduanya kemudian hukum memperjualbelikannya.

 Definisi Saham & Obligasi

Saham merupakan satuan nilai dari modal sebuah perusahaan dagang atau real estate, atau perusahaan industri perusahaan milik atau kontrak. Obligasi adalah surat berharga atau instrumen yang mengandung perjanjian dari sebuah perusahaan atau bank (penerbit obligasi), yang diberikan kepada pemegang obligasi untuk memberikan nominal tertentu pada waktu tertentu, dengan imbalan suku bunga yang ditentukan disebabkan transaksi pinjaman yang dilangsungkan oleh pihak perusahaan atau instansi pemerintah atau perseorangan.

Sebuah perusahaan terkadang membutuhkan modal dalam jumlah besar untuk memperluas usahanya. Perusahaan tersebut membutuhkan pihak yang meminjami modal dengan pelunasan dalam jangka panjang.

Maka dari itu, perusahaan terpaksa menawarkannya kepada publik dengan menerbitkan surat berharga dalam bentuk obligasi dan menjualnya kepada publik dengan perjanjian bahwa tiap obligasi akan mendapatkan suku bunga tertentu setiap tahun, sampai waktu yang disepakati, lalu pinjaman tersebut dikembalikan sepenuhnya.

Transaksi jual beli obligasi telah biasa terjadi antara perorangan, sehingga menjadi hal yang wajar ketika seorang pemilik obligasi menjualnya kepada pihak lain, dan begitu seterusnya.

 Perbedaan Saham & Obligasi

  1. Saham merupakan satu bagian dari modal perusahaan sehingga pemiliknya merupakan pemilik sebagian modal perusahaan seukuran dengan kadar sahamnya.

Adapun obligasi merupakan sebuah piutang atas perusahaan sehingga perusahaan berutang pada pembawa surat obligasi tersebut.

  1. Obligasi memiliki jangka waktu tertentu untuk dilunasi.

Adapun saham tidak diberikan kepada pemiliknya melainkan saat pembubaran atau likuidasi perusahaan tersebut.

 

  1. Pemegang saham merupakan seorang yang berserikat dalam perusahaan tersebut.

Dia berisiko rugi dan berkemungkinan untung, seiring dengan keberhasilan perusahaan atau kegagalannya. Nilai keberuntungannya tidak terbatas, bisa jadi untungnya besar, bisa jadi pula kerugiannya yang besar.

Para pemegang saham saling berbagi keuntungan perusahaan dan berbagi kerugiannya.

Adapun pemegang surat obligasi, dia memiliki keuntungan tetap yang terjamin saat memberi pinjaman sesuai dengan perjanjian dalam penerbitan obligasi tersebut, tidak bertambah atau berkurang. Selain itu, dia tidak menanggung risiko kerugian.

 

  1. Ketika terjadi likuidasi atau pembubaran, prioritas pertama adalah para pemegang surat obligasi, karena hal itu merupakan utang perusahaan.

Pemilik saham mendapat sisa setelah dilunasinya utang.

 

Hukum Jual Beli Saham

Dilihat dari sisi usaha perusahaan tersebut, saham dapat dibagi menjadi dua:

  1. Saham sebuah perusahaan yang haram, atau saham perusahaan yang berpenghasilan haram.

Contohnya, badan perbankan yang mengelola usaha-usaha ribawi, perusahaan judi, produsen visual pornografi atau pornoaksi, perusahaan miras, dan hal yang haram semisalnya. Jual beli saham perusahaan yang seperti ini hukumnya haram. Sebab, ketika Allah subhanahu wa ta’ala mengharamkan sesuatu, Dia subhanahu wa ta’ala mengharamkan pula hasil penjualannya.

Selain itu, membeli saham perusahaan seperti ini termasuk ikut serta dalam dosa dan bantu-membantu padanya. Padahal Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَلَا تَعَاوَنُواْ عَلَى ٱلۡإِثۡمِ وَٱلۡعُدۡوَٰنِۚ

“Dan janganlah kalian tolong-menolong dalam hal dosa dan permusuhan.” (al-Maidah: 2)

 

  1. Saham sebuah perusahaan yang mubah.

Misalnya, sebuah perusahaan perdagangan yang mubah atau industri yang mubah. Pada perusahaan semacam ini, boleh kita menanam saham dengan syarat perusahaannya jelas dan tidak terdapat unsur penipuan atau kemajhulan yang parah. Sebab, saham merupakan bagian dari modal usaha yang memberi keuntungan pada pemilik modal dari usahanya tersebut, baik dalam bentuk industri maupun perdagangan. Hal ini jelas halal, tanpa keraguan.

 

Sanggahan

Pada jual beli saham, umumnya pembeli dan penjual tidak mengetahui semua milik perusahaan, sehingga jual beli ini ada unsur gharar atau jahalah, yakni ketidaktahuan terhadap barang yang diperjualbelikan.

 

Jawaban

Walaupun terdapat unsur jahalah dalam jual beli saham, tetapi jahalah pada kadar semacam itu dimaafkan karena jahalah pada kadar tersebut tidak mengakibatkan perselisihan. Jahalah yang menghalangi sahnya akad adalah yang berakibat tidak memungkinnya akad dilangsungkan atau menimbulkan perselisihan.

Contohnya, penjualan seekor kambing dari sekumpulan kambing yang berbeda-beda tanpa ditentukan kambing yang mana. Dalam kasus ini, penjual biasanya menginginkan untuk memberikan kambing yang terkecil, sementara pembeli umumnya menginginkan kambing yang paling bagus dan mahal. Akibatnya, keduanya akan bertikai dan menghambat terlaksananya transaksi jual beli.

Adapun jahalah dalam masalah ini tidak berakibat pertikaian, karena jual beli tersebut terjadi pada sebagian tertentu. Alasan lainnya adalah orang-orang membutuhkan transaksi jual beli ini. Apabila jual beli ini dilarang, akan terjadi mudharat yang cukup besar. Sementara itu, Penetap syariat tidak mengharamkan apa yang diperlukan manusia hanya karena ketidakjelasan yang kadarnya tidak banyak.

Oleh karena itu, dibolehkan menjual buah di pohon setelah tampak matangnya dan terus dibiarkan sampai dipetik, walaupun sebagian yang terjual belum ada. Sebagian ulama juga membolehkan jual beli yang masih ada dalam tanah, seperti wortel dan sejenisnya. Demikian pula jual beli buah yang kulitnya menjadi pelindungnya, seperti anggur, delima, pisang, semuanya masih dengan kulitnya. Ini adalah kesepakatan ulama.

Apalagi jika pada barang yang dijual ada sesuatu yang menunjukkan hal yang tidak terlihat, jual belinya diperbolehkan menurut kesepakatan ulama. Demikian pula tentang sebuah perusahaan yang keberhasilan atau kegagalannya bisa ditunjukkan oleh apa yang tampak.

Di samping itu, jual beli gharar dilarang karena mengakibatkan tindakan memakan harta manusia dengan cara yang batil. Apabila hal ini tidak dilakukan dan mengakibatkan mudarat yang lebih besar, hal tersebut boleh dilakukan demi menanggulangi mudarat yang lebih besar dengan melakukan mudarat yang lebih kecil. Ini merupakan kaidah yang telah tetap dalam syariat.

 

Hukum Jual Beli Obligasi

Telah dijelaskan di atas bahwa obligasi merupakan utang yang berbunga karena obligasi merupakan utang atas perusahaan. Pemegang obligasi berhak mendapatkan suku bunga tertentu setiap tahun, sama saja apakah perusahaan beruntung atau merugi.

Berdasarkan hal ini, obligasi merupakan transaksi ribawi sehingga sejak awal penerbitannya sudah tidak syar’i. Dengan demikian, jual belinya pun tidak syar’i, dan pemegangnya tidak boleh menjualnya.

(Diterjemahkan dan diringkas dari kitab ar-Riba wal Mu’amalat al-Mashrafiyyah, karya Dr. Umar bin Abdul Aziz al-Mutrik, wafat 1405 H)

Ditulis oleh al-Ustadz Qomar Suaidi

Investasi Emas Sistem Online

Investasi emas sistem online merupakan salah satu praktik riba yang ditawarkan kepada publik melalui dunia maya. Seperti keumuman praktik riba, investasi emas sistem online ini cukup menggiurkan para investor. Katanya, dengan media ini, pemodal tidak perlu repot menyimpan fisik emas di brankas, tidak perlu khawatir kehilangan atau kecurian, dan bisa dikelola di mana saja secara instan, praktis, efisien, dan menguntungkan.

Sungguh, amatlah benar apa yang telah disabdakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

حُجِبَتِ الْجَنَّهُ بِالْمَكَارِهِ وَحُجِبَتِ النَّارُ بِالشَّهَوَاتِ

“Surga ditutupi dengan hal-hal yang tidak disukai, sedangkan neraka ditutupi dengan hal-hal yang sesuai dengan syahwat.” ( HR. al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)

Riba investasi emas lewat sistem online sama halnya dengan investasi trading forex, karena transaksinya cacat, tidak terjalin serah terima tunai dari tangan ke tangan dalam satu majelis akad antara dua pihak yang bertransaksi.

Produk yang diperjualbelikan adalah logam mulia emas yang merupakan induk dari benda-benda ribawi yang syarat transaksinya harus dengan taqabudh yadan bi yadin (serah terima tunai dari tangan ke tangan dalam satu majelis)

Dijelaskan oleh al-Imam Ibnu Qudamah rahimahullah bahwa serah terima tunai dalam satu majelis merupakan syarat sah (jual beli emas/perak) tanpa ada khilaf (antara para ulama).

Ibnu Mundzir rahimahullah berkata, “Semua ahli ilmu yang kami kenal telah bersepakat (ijma’) bahwa ketika ada dua pihak yang bertransaksi lantas berpisah dari majelis transaksi dalam keadaan belum melakukan serah terima tunai, berarti transaksinya batal.”

Di antara sumber pendalilan hal ini adalah sabda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam,

الذَّهَبُ بِالْوَرِقِ رِبًا إِلاَّ هَاءَ وَهَاءَ

“Membeli emas dengan perak adalah riba kecuali dengan serah terima secara tunai.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

بِيْعُوا الذَّهَبَ بِالْفِضَّةِ كَيْفَ شِئْتُمْ يَدًا بِيَدٍ

“Silakan kalian ingin membeli emas dengan perak asalkan dengan serah terima dari tangan ke tangan.” ( HR. al-Bukhari dan Muslim, dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)

وَنَهَى النَّبِيُّ عَنْ بَيْعِ الذَّهَبِ بِالْوَرِقِ دِينًا

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang membeli emas dengan perak dengan cara utang.”

وَنَهَى أَنْ يُبَاعَ غَائِبٌ بِالنَّاجِزِ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang jual beli emas dan perak yang dibawa dengan yang tidak dibawa.” (HR. al-Bukhari dan Muslim dari Abu Sa’id al-Khudri radhiallahu ‘anhu) (al-Mughni 6/112, Ibnu Qudamah rahimahullah)

Para ulama mengatakan bahwa hukum di atas berlaku juga untuk pembelian emas/perak dengan menggunakan mata uang. Dalam sistem online, taqabudh yang bersifat yadan bi yadin (serah terima tunai dari tangan ke tangan) terhitung mustahil.

Sisi lain, serupa dengan trading forex, terkadang uang yang ditransfer oleh investor tidak langsung diproses, tetapi tertunda beberapa saat kemudian. Jual-beli emas seperti ini transaksinya juga cacat, karena salah satu dari kedua belah pihak yang bertransaksi tertunda serah terimanya, sedangkan kedua pihak berada di tempat yang berbeda. Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الذَّهَبُ بِالْوَرِقِ رِبًا إِلاَّ هَاءَ وَهَاءَ

“Emas dibeli dengan perak adalah riba, kecuali jika langsung diserahkan dan langsung diterima.” (HR. al-Bukhari dan Muslim dari Umar radhiallahu ‘anhu)

Artinya, serah terima antara kedua pihak tidak boleh tertunda kecuali jika masih dalam satu majelis dan belum berpisah.

Sebagaimana yang telah diketahui, tujuan investasi emas adalah memburu keuntungan dari naik turunnya harga emas di pasaran, tanpa bermaksud memiliki fisik/emas batangan. Jadi, emas yang diinvestasikan di pasar emas online bersifat fiktif (semu). Yang ada hanyalah nilai harga emas.

Hal ini jelas bertentangan dengan sabda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam,

وَ تَبِيعُوا مِنْهَا غَائِبًا بِنَاجِزٍ

“Janganlah kalian berjual beli emas atau perak yang tidak dibawa dengan yang dibawa.” (HR. al-Bukhari dan Muslim dari Abu Sa’id al-Khudri radhiallahu ‘anhu)

Dalam prosedur investasi emas sistem online, seseorang tidak bisa bertransaksi dengan pasar emas. Akan tetapi, dia harus bertransaksi melalui perantaraan sebuah perusahaan yang sering disebut dengan broker.

Seperti halnya trading forex, modal yang dipakai oleh investor untuk membeli emas adalah modal milik broker. Modal trader hanya sebagai jaminan. Hak pakai modal broker ini diperoleh dengan cara membagi prosentase keuntungan dalam jumlah tertentu dengan broker. Jadi, transaksi tersebut mengandung unsur pinjaman yang ada imbalannya.

Sebuah kaidah yang telah disepakati para ulama,

كُلُّ قَرْضٍ جَرَّ نَفْعًا فَهُوَ حَرَامٌ أَوْ رِبًا

“Setiap jasa pinjaman yang memiliki syarat berimbalan adalah haram atau riba.”

Wallahu a’lam.

Ditulis oleh al-Ustadz Abu Ishaq Abdullah Nahar

Jual Beli Mata Uang Sistem Online

Sebagaimana yang telah dipaparkan pada pembahasan sebelumnya, syarat sah transaksi jual beli mata uang adalah taqabudh yadan bi yadin.

Mungkinkah hal tersebut dilakukan melalui media internet secara online? Yang jelas, transaksi serah terimanya tidak dilakukan langsung dari tangan ke tangan dalam satu majelis.

Mungkinkah untuk dikatakan syarat ini bisa terwakili dengan perpindahan uang dari rekening pembeli ke rekening penjual dan uang dari rekening penjual ke rekening pembeli dalam sebuah majelis online?

Permasalahan ini dikaji dalam pembahasan berikut.

 Apakah Semata-mata Perpindahan Uang dari Rekening Penjual ke Rekening Pembeli Terhitung Taqabudh?

Sebagian orang menganggap, masuknya uang ke rekening penjual yang disusul dengan masuknya uang penjual ke rekening pembeli telah dikategorikan transaksi tunai taqabudh, meskipun tidak terjadi tatap muka dan serah terima dari tangan ke tangan. Transaksi seperti ini, jika yang diperjualbelikan bukan berbentuk mata uang, emas, dan perak, transfer uang hanya terjadi dari pihak pembeli ke si penjual, tentu saja sudah dinyatakan taqabudh.

Adapun pembahasan kita adalah transaksi jual beli mata uang yang hukumnya sama dengan jual beli emas dan perak. Di dalam beberapa hadits, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mensyaratkan dengan taqabudh yadan bi yadin.

فَإِذَا اخْتَلَفَ هَذِهِ الْأَصْنَافُ فَبِيعُوا كَيْفَ شِئْتُمْ إِذَا كَانَ يَدًا بِيَدٍ

“Jika berbeda jenisnya, perjualbelikanlah sesuai kehendak kalian asalkan dari tangan ke tangan.” (HR. Muslim, dari Ubadah bin ash-Shamit radhiallahu ‘anhu)

Makna literal (makna asli) lafadz hadits menunjukkan bahwa transaksinya harus dilakukan dengan bertemu langsung dan pembayaran serta serah terimanya harus dari tangan ke tangan. Tidak cukup hanya dengan transfer dari rekening ke rekening, kecuali jika transfernya dilakukan dengan cara bertemu dalam satu majelis atau ruangan.

Ibnu Qudamah rahimahullah berkata, “Serah terima dalam satu majelis merupakan syarat sah transaksi ini (tukar-menukar emas, perak, dan mata uang -pen.).”

Dari beberapa informasi yang pernah kita dapati, terkadang uang yang telah ditransfer oleh si pembeli ke rekening jasa penjual mata uang (broker) tidak langsung diproses kecuali selang beberapa waktu. Jual beli mata uang seperti ini cacat transaksinya, karena taqabudh (serah terima) yang tertunda, sedangkan masing-masing pihak berada di tempat yang berbeda. Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الذَّهَبُ بِالْوَرِقِ رِبًا إِلاَّ هَاءَ وَهَاءَ

“Perak ditukar dengan emas adalah riba kecuali secara langsung diserahkan dan langsung diterima.” (HR. al-Bukhari dan Muslim, dari Umar radhiallahu ‘anhu)

Artinya, serah-terima antara kedua pihak tidak boleh tertunda kecuali jika masih dalam satu majelis dan belum berpisah.

Kesimpulan dari uraian singkat ini adalah:

  1. Jual beli uang sistem online adalah transaksi yang cacat.
  2. Transfer uang dari kedua belah pihak yang melakukan jual beli uang ke rekening masing-masing tidak termasuk taqabudh yadan bi yadin, kecuali jika kedua pihak sama-sama hadir dalam satu majelis dan uang telah masuk ke rekening masing-masing sebelum mereka berdua berpisah dari majelis.

Wallahu a’lam.

 Trading Forex Dibangun di Atas Akad Transaksi yang Cacat

Secara sekilas, kita bisa menilai cacatnya transaksi yang dilakukan dalam proses jual beli mata uang dengan sistem ini. Sebab, forex adalah usaha seseorang untuk mendapatkan keuntungan dengan cara jual beli mata uang secara online, yang transaksinya tidak bisa ditempuh dengan cara taqabudh yadan bi yadin dalam satu majelis.

Dari sisi lain, dalam praktik trading forex terdapat unsur الْقَرْضُ جَرَّ مَنْفَعَةً (jasa pinjaman yang ada imbalannya). Sebuah kaidah yang telah disepakati oleh para ulama,

كُلُّ قَرْضٍ جَرَّ مَنْفَعَةً فَهُوَ حَرَامٌ أَوْ رِبًا

“Setiap jasa pinjaman yang memiliki syarat imbalan adalah haram atau riba.”

Disadari atau tidak, modal yang dipakai oleh pemain forex untuk membeli mata uang asing adalah modal broker. Adapun modal si pemain hanya sebagai jaminan saja. Hak pakai modal broker ini diperoleh dengan cara membagi prosentase keuntungan dalam jumlah tertentu dengan pemilik modal (broker).

Perlu diketahui, saat melakukan trading forex, seseorang tidak bisa hanya membeli 1 USD saja, tetapi sistem pembeliannya dalam bentuk satuan lot (1 lot = 100.000 unit). Ketika seseorang membeli dollar Amerika sebesar 1 lot, itu artinya dia membeli 100.000 USD. Normalnya, jika harga dollar Amerika saat ini Rp14.000,00, dibutuhkan uang sejumlah 1,4 miliar rupiah untuk membeli 1 lot dollar Amerika.

Sudah barang tentu, sedikit orang yang mempunyai modal sebanyak itu untuk menjadi pemain forex. Dari sisi inilah para broker forex menawarkan jasanya. Broker inilah yang memfasilitasi para pemodal kecil untuk melakukan transaksi forex. Seseorang bisa mengikuti trading forex walaupun hanya bermodal Rp100.000,00; yang sebenarnya modal itu hanyalah sebagai jaminan. Adapun yang dia pakai untuk transaksi adalah modal milik broker. Pada kondisi seperti inilah terjadinya jasa pinjaman yang ada imbalannya.

Di antara faktor yang menunjukkan bahwa forex ditempuh dengan transaksi yang tidak syar’i adalah pada proses pendaftaran awalnya. Untuk bisa memulai trading forex, calon pemain forex menyetorkan modalnya dengan cara mentransfer rupiah ke rekening broker. Kemudian dia mengkonfirmasikan ke broker. Selanjutnya, broker memprosesnya dengan memasukkan sejumlah dollar (USD) sesuai dengan jumlah setoran ke akun trading calon pemain. Jadi, dana yang ada di dalam akun trading itu berbentuk dollar Amerika. Setelah itu, dia baru bisa melakukan transaksi forex.

Pada proses pendaftaran ini, tampak adanya transaksi tukar menukar uang dari rupiah ke dollar tanpa serah terima tunai dari tangan ke tangan dalam satu majelis. Terdapat pula riba nasi’ah dalam proses tersebut, karena masuknya dollar ke akun tertunda setelah adanya konfirmasi dan proses.

Dari sisi lain, spekulasi dan transaksi berisiko tinggi pada trading forex lebih besar dibandingkan dengan spekulasi yang terjadi pada jual beli mata uang sistem manual. Tidak sepantasnya seorang muslim berkecimpung dalam urusan seperti ini, sebagaimana nasihat asy-Syaikh al-Albani rahimahullah.

Wallahu a’lam.

Ditulis oleh al-Ustadz Abu Ishaq Abdullah Nahar

Hukum Jual Beli Mata Uang Dan Nasihat Para Ulama

Asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah pernah ditanya tentang hukum seseorang yang membeli euro (mata uang Uni Eropa) untuk dijual lagi setelah harga jualnya naik.

Beliau rahimahullah menjawab, “Saya berpandangan bahwa tidak sepantasnya seseorang berniaga dan bertransaksi (jual beli) uang kecuali sebatas keperluan darurat saja, karena transaksi yang demikian spekulatif dan berisiko tinggi.” (Diterjemahkan secara bebas dari transkrip rekaman yang berjudul “ar-Rihlah”, no. 33)

Di antara nasihat beliau rahimahullah ketika menjawab pertanyaan semisal, “Saya tidak menyarankan seorang muslim berprofesi sebagai pelayan jasa jual beli uang dengan dua alasan.

Orang yang berkeinginan membuka jasa ini wajib mengetahui hal-hal yang diperbolehkan dan yang dilarang dalam hal tukar-menukar uang.

Saat ini, orang yang menggeluti profesi ini jauh dari ilmu fikih, khususnya yang berkaitan dengan profesi mereka. Sangat sulit untuk menerapkan hukum syariat pada jasa tukar-menukar mata uang ini.

Kenyataan yang kita saksikan sekarang ini, naik turunnya kurs mata uang secepat naik turunnya speedometer kendaraan. Dalam kondisi seperti ini, muncul persaingan yang tidak sehat antara pelaku bisnis ini, bahkan timbul tindakan spekulasi dan berisiko tinggi. Tidak sedikit orang yang kaya mendadak dalam selang waktu pagi-sore; sebaliknya, tidak sedikit orang yang mengalami bangkrut total dalam kurun waktu yang sama.” (Diterjemahkan secara bebas dan diringkas dari transkrip rekaman yang berjudul “al-Huda wa an-Nur”, 716)

Terlepas dari rajih atau tidaknya pendapat asy-Syaikh al-Albani rahimahullah di atas tentang tidak bolehnya jual beli mata uang, tetapi nasihat beliau sangat berharga. Paling tidak, membuat kita berhati-hati dan tidak bermudah-mudahan dalam jual beli mata uang.

Asy-Syaikh al-Albani rahimahullah menasihati masyarakat agar tidak menukar uang mereka kecuali dalam keadaan kondisi darurat, seperti ketika pergi ke negara lain dan membutuhkan mata uang negara tujuan. (Diterjemahkan secara bebas dan diringkas dari transkrip rekaman yang berjudul “al-Huda wa an-Nur”, 716)

Namun, ada pendapat lain dalam masalah ini. Jumhur ulama masa kini, seperti asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz, asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin, asy-Syaikh Abdul Aziz Alu Syaikh, asy-Syaikh Shalih bin Fauzan, dan lainnya, memperbolehkan seseorang mengembangkan modal dengan usaha jual beli mata uang, dengan syarat adanya taqabudh yadan bi yadin (transaksi tunai dari tangan ke tangan dalam satu majelis).[1]

Jika syarat ini dipenuhi, tidak mengapa seseorang memperjualbelikan mata uang untuk mendapatkan keuntungan atau sengaja membeli mata uang tertentu untuk dijual kembali ketika nilainya naik.

Alasan jumhur sehingga memperbolehkan jual beli mata uang adalah:

  1. Hukum asal jual beli adalah halal.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَأَحَلَّ ٱللَّهُ ٱلۡبَيۡعَ وَحَرَّمَ ٱلرِّبَوٰاْۚ

“Dan Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.” (al-Baqarah: 275)

  1. Perbedaan kurs mata uang antara satu negara dan negara lain dianggap oleh para ulama sebagai perbedaan jenis, layaknya perbedaan jenis emas dan perak.

Ketika terjadi tukar-menukar mata uang yang berbeda jenis, terjadi perbedaan nilai mata uang (kurs). Akan tetapi, transaksi tersebut wajib taqabudh yadan bi yadin, karena jenis mata uang yang ditukar adalah sesama benda riba yang transaksi tukar-menukarnya harus secara taqabudh; sebagaimana disebutkan dalam hadits,

فَإِذَا اخْتَلَفَ هَذِهِ الْأَصْنَافُ فَبِيعُوا كَيْفَ شِئْتُمْ إِذَا كَانَ يَدًا بِيَدٍ

“Jika jenisnya berbeda, berjual-belilah antara jenis tersebut sesuai kehendak kalian selama dilakukan tunai dari tangan ke tangan.” (HR. Muslim, dari Ubadah bin ash-Shamit radhiallahu ‘anhu)

Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah ditanya, “Bolehkah seorang muslim membeli mata uang dollar atau mata uang lain dengan harga rendah, kemudian saat kursnya naik, dia jual kembali?”

Beliau menjawab, “Tidak mengapa seseorang membeli uang dollar atau mata uang lain untuk disimpan lalu dia jual ketika kursnya naik di kemudian hari. Akan tetapi, hendaknya dia membelinya dengan transaksi tunai, yadan bi yadin, dari tangan ke tangan, dan tidak secara kredit atau utang.

Misalnya, mata uang USD (United States Dollar) dibeli dengan mata uang SAR (Saudi Arabian Riyal), dinar Saudi, atau dinar Irak secara tunai. Transaksi mata uang harus dilakukan secara tunai dari tangan ke tangan (dalam satu majelis, pen.). Sama halnya seperti menukarkan emas dengan perak, harus tunai dari tangan ke tangan. Allahul musta’an.” (Majmu’ Fatwa Ibnu Baz, 19/60)

Dari uraian singkat ini, penulis cenderung memilih pendapat yang kedua dengan tetap mempertimbangkan pendapat pertama dan tidak mengenyampingkannya.

Kita katakan bahwa diperbolehkan jual beli mata uang dengan beberapa ketentuan.

  1. Jika mata uang yang akan ditukar sama jenisnya (misal, mata uang yang ditukar adalah sesama rupiah; satu lembar Rp100.000,00 akan ditukar dengan uang sepuluh lembar Rp10.000,00), tidak boleh diambil keuntungan dari transaksi tersebut; harus sama nilainya, dan dilakukan secara tunai, tidak boleh diakhirkan penyerahannya, dan tidak boleh diangsur.

Hal ini berdasarkan hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

تَبِيعُوا الذَّهَبَ بِالذَّهَبِ إِ مِثْلًا بِمِثْلٍ وَ تُشِفُّوا بَعْضَهَا عَلَى بَعْضٍ وَل تَبِيعُوا الْوَرِقَ بِالْوَرِقِ إِ مِثْلًا بِمِثْلٍ وَ تُشِفُّوا بَعْضَهَا عَلَى بَعْضٍ وَل تَبِيعُوا مِنْهَا غَائِبًا بِنَاجِزٍ

“Jangan kalian jual beli emas dengan emas kecuali harus sama. Jangan kalian jual beli perak dengan perak kecuali harus sama. Jangan menukar (emas/perak) yang tidak dibawa dengan yang ada.” (HR. al-Bukhari dan Muslim, dari Abu Sa’id al-Khudri radhiallahu ‘anhu)

  1. Jika jenis mata uangnya berbeda (misal, dollar dengan rupiah), transaksi yang dilakukan harus secara taqabudh yadan bi yadin (serah terima tunai di majelis), baik nilainya sama maupun berbeda, boleh melebihkan nominal mata uang satu dari yang lain.
  2. Menghindari praktik yang bersifat spekulatif, berisiko tinggi, dan persaingan yang tidak sehat.
  3. Tidak memudaratkan kaum muslimin dengan cara menimbun atau memonopoli mata uang tertentu saat kaum muslimin membutuhkan, sebagaimana yang diingatkan oleh asy-Syaikh Ibnu Baz rahimahullah dalam Majmu’ Fatawa Ibnu Baz (19/172).

Meskipun demikian, kami sarankan kepada kaum muslimin untuk tidak terjun ke dalam dunia bisnis ini sebagai bentuk pengamalan hadits yang kami sebutkan di awal,

دَعْ مَا يَرِيبُكَ إِلَى مَا ل يَرِيبُكَ

“Tinggalkanlah yang meragukanmu dan pilihlah yang tidak meragukanmu.”

فَمَنِ اتَّقَى الشُّبُهَاتِ فَقَدِ اسْتَبْرَأَ لِدِينِهِ وَعِرْضِهِ وَمَنْ وَقَعَ فِي الشُّبُهَاتِ وَقَعَ فِي الْحَرَامِ

“Barang siapa menjauhi perkara-perkara yang syubhat (samar), berarti dia telah menjaga agama dan kehormatannya. Barang siapa terjerumus dalam perkara syubhat, dia akan terjerumus dalam perkara yang haram.”

Wallahu a’lam.

Ditulis oleh al-Ustadz Abu Ishaq Abdullah Nahar

[1] Fatwa para ulama yang menyatakan bolehnya berniaga (jual beli) mata uang jika terpenuhi syarat-syaratnya dapat dirujuk di kumpulan fatwa Ibnu Baz (19/60), al-Muntaqa min Fatawa asy-Syaikh Shalih Fauzan, Fatawa al-Lajnah ad-Daimah no. 3037, rekaman asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin dalam Silsilah Nur ‘ala ad-Darb, dan lainnya.

Investasi Forex

دَعْ مَا يَرِيبُكَ إِلَى مَا ل يَرِيبُكَ

“Tinggalkan yang meragukanmu, dan pilihlah yang tidak meragukanmu.” (HR. an-Nasa’i dan at-Tirmidzi, dari Hasan bin Ali radhiallahu ‘anhuma)

Hadits di atas hendaknya dijadikan sebagai bekal untuk menilai berbagai bentuk usaha yang ditawarkan kepada seorang muslim. Alhamdulillah, peluang usaha yang baik dan halal masih banyak. Seseorang seharusnya tidak merasa kesulitan untuk meninggalkan perkara yang samar dan meragukan. Di antara wasiat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada umatnya,

فَمَنِ اتَّقَى الشُّبُهَاتِ فَقَدِ اسْتَبْرَأَ لِدِينِهِ وَعِرْضِهِ وَمَنْ وَقَعَ فِي الشُّبُهَاتِ وَقَعَ فِي الْحَرَامِ

“Barang siapa menjauhi perkara-perkara yang syubhat (samar), berarti dia telah menjaga agama dan kehormatannya. Barang siapa terjerumus dalam perkara syubhat, dia akan terjerumus dalam perkara yang haram.” (HR. al-Bukhari dan Muslim, dari Nu’man bin Basyir radhiallahu ‘anhuma)

Beriringan dengan pesatnya perkembangan teknologi, bermunculan pula berbagai usaha untuk mengembangkan modal yang ditawarkan kepada masyarakat. Salah satu model bisnis yang mulai banyak digemari masyarakat internet (netizen) adalah trading forex.

 

Pengertian Trading Forex

Trading forex, biasa disebut forex, adalah transaksi jual beli mata uang secara online di pasar forex melalui mediator (disebut broker) untuk mendapatkan keuntungan yang berwujud uang. Keuntungan diperoleh dari selisih harga jual dengan harga beli.

Artinya, keuntungan trading forex diperoleh dari selisih harga transaksi. Misal, saat ini harga 1 USD = Rp14.000,00. Kemudian si pemain forex membeli uang dollar sebanyak 10 USD. Ini berarti modal yang dia keluarkan sejumlah Rp140.000,00. Kini, dia memiliki uang dollar di rekeningnya sebesar 10 USD. Selang waktu satu hari, harga dollar naik menjadi Rp14.100,00/1 USD.

Melihat harga dollar naik, dia menjual 10 USD yang ada di rekeningnya. Dengan perolehan uang sebesar Rp141.000,00, dia mendapat keuntungan sebesar Rp1.000,00 dari selisih harga selang waktu satu hari.

Sistem bisnis ini tidak bisa dilakukan kecuali dengan cara online via internet. Dengan kata lain, “tukar-menukar mata uang sistem online” yang kemudian dijadikan sebagai ajang mengelola modal.

Kesimpulannya, trading forex itu:

  1. Ada modal yang dikelola
  2. Kegiatan trading forex adalah jual beli mata uang yang disebut “forex
  3. Dilakukan melalui perangkat yang mendukung internet (komputer atau smartphone)
  4. Transaksi yang dilakukan harus melalui broker (mediator bisnis forex)
  5. Bertujuan mendapat keuntungan atau usaha untuk mengembangkan modal.

Untuk menilai syar’i atau tidaknya trading forex, kita harus membahas beberapa masalah.

  1. Hukum tukar-menukar mata uang, karena forex adalah transaksi tukar-menukar mata uang.
  2. Hukum jual beli mata uang, karena trading forex adalah salah satu bentuk jual beli mata uang.
  3. Hukum jual beli mata uang sistem online, karena trading forex hanya bisa dilakukan secara online.
  4. Apakah semata-mata perpindahan uang antarrekening sudah dianggap taqabudh yadan bi yadin (tunai dari tangan ke tangan)? Sebab, serah terima uang dalam transaksi forex dilakukan dengan perpindahan dari satu rekening ke rekening lain.
  5. Kesimpulan hukum syar’i tentang trading forex.

 

Ditulis oleh al-Ustadz Abu Ishaq Abdullah Nahar

Jual Beli Online

Pertumbuhan toko online atau online shop atau lebih jamak disebut olshop seakan sulit terbendung lagi. Kalau dahulu ada yang beranggapan bahwa toko online harus mempunyai website, kini anggapan itu tidak berlaku lagi. Hanya bermodalkan media sosial, bahkan kadang hanya dengan cara memasang display picture (DP) dan status di BBM/WA, seseorang sudah bisa menobatkan dirinya punya olshop. Bahkan, ada yang nyaris tanpa modal, karena adanya sistem dropship.

Apa dan bagaimana syariat memandang toko online itu, simak penjelasan berikut ini.

 Syarat-Syarat Jual Beli

Pasa dasarnya, setiap jual beli yang memenuhi syarat-syaratnya maka hukumnya sah.

Adapun syarat syarat jual beli adalah:

  1. Saling ridha antara penjual dan pembeli.
  2. Penjual dan pembeli adalah orang yang secara syar’i sah akadnya, yaitu merdeka, mukallaf, dan rasyid, yakni mampu membelanjakan (mengelola) harta dengan baik.
  3. Keduanya adalah pemilik objek transaksi atau mewakili pemiliknya.
  4. Barang yang diperjualbelikan adalah barang yang manfaatnya halal.
  5. Yang ditransaksikan adalah sesuatu yang mampu dikuasai.
  6. Yang ditransaksikan adalah sesuatu yang diketahui bersama oleh kedua belah pihak yang bertransaksi. (al-Mulakhkhash al-Fiqhi)

 

Syarat yang pertama insya Allah bisa terpenuhi dengan mudah.

Syarat yang kedua dapat diketahui melalui komunikasi. Melalui komunikasi tersebut, dapat dicari kepastian bahwa penjual dan pembeli adalah pihak yang secara syar’i memenuhi syarat untuk bertransaksi, identitas pun jelas.

Syarat yang ketiga, hendaknya status penjual jelas sebagai pemilik barang yang dijual atau berstatus sebagai wakilnya dalam penjualan. Pihak yang menjadi wakil tidak boleh menampakkan diri sebagai pemilik barang, padahal barang tersebut bukan miliknya. Sebab, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang berjualan sesuatu yang tidak dimiliki.

Syarat yang kelima bermakna bahwa barang yang dijual benar-benar dalam kekuasaan penjual, tidak semacam burung yang lepas atau barang yang masih dalam kekuasaan orang lain.

Syarat yang keenam, tentang sifat atau spesifikasi barang yang dijual, ini dapat diketahui dengan dilihat langsung, disebutkan spesifikasinya secara yang lengkap, atau dilengkapi dengan contoh dalam gambar atau video.

Selama syarat-syarat di atas terpenuhi dan barang sesuai dengan spesifikasi, transaksi boleh dilakukan dengan alat komunikasi masa kini, baik melalui telepon, SMS, dan sejenisnya.

Apabila terjadi ketidaksesuaian antara spesifikasi barang dan kenyataannya, pembeli berhak mengembalikan barang tersebut kepada penjual.

 

Fatwa asy-Syaikh Shalih al-Fauzan

Seseorang bertanya kepada asy-Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah terkait dengan barang dagangan yang dijual di internet. Dia menerima pembayaran melalui internet. Dia juga bekerja sama dengan bank. Apakah jual beli tersebut sah?

Beliau menjawab, “Pada asalnya jual beli itu terjadi dalam satu majelis yang terdiri dari penjual dan pembeli. Akan tetapi, apabila Anda mengetahui penjual dan mendengar suaranya, lalu terjadi ijab dan qabul (transaksi syar’i), dan Anda yakin bahwa orang tersebut Anda kenal, jual belinya sah. Ini disebut majelis hukmi (secara hukum syar’i termasuk kategori ‘majelis’). Adapun meng-qabdh (menerima) uang, bisa Anda lakukan dengan cara apa saja.” (Fatwa asy-Syaikh Shalih al-Fauzan)

 

Ditulis oleh al-Ustadz Qomar Suaidi

Teknologi Dalam Jual Beli

السلام عليكم ورحمة الله و بركاته

Berkembangnya teknologi informasi juga berimbas pada sistem atau model jual beli. Jika dengan cara konvensional, penjual dan pembeli harus bertatap muka, kini semua itu tak harus dilakukan. Pasar tidak lagi sekadar tempat untuk melakukan kontak langsung antara dua pihak, tapi maknanya sudah meluas.

Melalui website, blog, media sosial, atau forum jual beli, produk yang tengah ditawarkan, bisa menembus pasar yang tak lagi punya sekat wilayah. Siapa pun yang tengah mengakses internet, di belahan dunia mana pun, bisa melihat atau bahkan membelinya.

Itulah salah satu kemudahan yang ditawarkan teknologi. Alasan kepraktisan memang yang paling menonjol. Tanpa harus keluar rumah, kita tidak perlu repot untuk mendapatkan sesuatu yang kita butuhkan. Bahkan pembeli yang berada di daerah terpencil bisa mendapatkan barang yang diinginkan dengan mudah. Barang yang bisa jadi masuk dalam kategori “mustahil” untuk didapatkan di toko offline di mana pembeli berasal.

“Toko” online ini lantas berkembang. Tidak hanya sebatas barang dalam artian umum, kini juga memperdagangkan mata uang asing dan emas. Model online juga memicu jual beli dengan sistem dropship yang penjual hanya memasang gambar atau spesifikasi produk di media sosial atau display picture (DP) tanpa pernah memiliki produk tersebut, karena barang dikirim langsung dari supplier.

Trading forex, investasi emas online, dan dropship, hanyalah sekelumit contoh berkembangnya sistem sebagai efek berantai dari sistem-sistem baru yang tidak dijumpai di masa lalu. Maka perlu telaah atau kajian panjang untuk menyikapi ini semua.

Sebagai agama yang sempurna, Islam punya pijakan atau kaidah yang jelas. Segala sistem itu pada dasarnya tetap punya substansi yang bisa dicerminkan dengan syariat. Hanya nama dan bentuknya saja yang berbeda. Jadi jangan asal berdalil dengan kemudahan yang dihasilkan teknologi, kemudian kita bermudah-mudah untuk melakukan transaksi jual beli.

Pasa dasarnya, setiap jual beli hukumnya sah, selama memenuhi syarat-syarat jual beli. Selama syarat-syaratnya terpenuhi dan barang sesuai dengan spesifikasinya, maka transaksi boleh dilakukan dengan alat komunikasi masa kini, baik melalui telepon, SMS, WA, BBM, chatting, dan sejenisnya. Jika terjadi ketidaksesuaian antara spesifikasi barang dan kenyataannya, pembeli berhak mengembalikan barang tersebut kepada penjual.

Inilah wajah Islam, memberikan kemudahan tapi tetap memiliki rambu-rambu. Sebelum ada lembaga konsumen seperti YLKI, Islam telah bersikap preventif pada segala model jual beli agar tidak ada salah satu pihak, terutama konsumen, yang dirugikan.

Peluang usaha demikian luas, banyak celah rezeki yang bisa kita dapatkan. Tak perlu alergi dengan teknologi, asal kita memanfaatkannya dengan benar dengan berpijak pada kaidah yang sudah ada.

Namun di sisi lain, jangan sampai kita bermudah-mudah berinvestasi dengan berdalih teknologi.

والسلام عليكم ورحمة الله و بركاته

Tanya Jawab Ringkas Edisi 102

Pada rubrik Tanya Jawab Ringkas edisi ini, kami muat beberapa jawaban dari al-Ustadz Abu Abdillah Muhammad as-Sarbini.

Salah Baca Surat, Sujud Sahwi?

Apakah ada sujud sahwi setelah salam bagi imam yang lupa/salah dalam membaca surat setelah al-Fatihah?

0811XXXXXX

 

Jawaban:

Tidak ada.

 

Waktu Akikah

Jika bayi lahir tanggal 30 Agustus jam dua malam, kapan tanggal akikahnya?

085786XXXXXX

 

Jawaban:

Dasar pertanyaan Anda salah. Hukum-hukum dalam syariat Islam semuanya berdasarkan perhitungan bulan Qamariah (tahun Hijriah) bukan Masehi. Pergantian tanggal dalam bulan Qamariah dimulai sejak terbenamnya matahari, dan siangnya mengikutinya.

Akikah disunnahkan pada hari ketujuh. Rumusnya, hari lahir dikurangi satu. Jika lahir malam Kamis, terhitung hari Kamis; dikurangi satu, berarti akikahnya hari Rabu.

 

Tidak Sempat Qadha Puasa Karena Praktikum Kuliah

Sewaktu saya (perempuan) kuliah, saya pernah tidak menjalankan puasa Ramadhan 3—5 hari. Karena sibuk praktikum, saya tidak dapat mengganti puasa tersebut pada bulan lain sampai beberapa tahun kemudian. Apakah saya masih wajib membayar fidyah dan ganti puasa tersebut?

082271XXXXXX

 

Jawaban:

Jika praktikum itu tidak menyebabkan Anda pada kondisi sangat tersiksa oleh puasa, khawatir binasa, atau termudaratkan karenanya, Anda tidak punya uzur untuk berbuka. Bahkan, kuliah dan praktikum itu bukan hal yang wajib bagi Anda untuk dijadikan alasan berbuka karena sampai pada kondisi tersebut. Jika demikian, yang rajih, orang yang berbuka tanpa uzur tidak disyariatkan mengqadha apalagi membayar fidyah. Hal itu adalah dosa besar, wajib bagi pelakunya bertobat dan memperbanyak puasa sunnah serta amalan sunnah lainnya untuk mengimbanginya.

 

Cara Pemberian Kafarat Puasa

Apakah boleh pembayaran kafarat memberi makan 60 orang miskin diberikan kepada satu orang karena dia benar-benar membutuhkan? Bolehkah kita berikan dalam bentuk uang?

085728XXXXXX

 

Jawaban:

Tidak boleh dan tidak sah memberikan kafarat kepada satu orang miskin saja, walaupun ia sangat butuh; kafarat harus diberikan kepada 60 fakir miskin. Selain itu, kafarat tidak boleh dan tidak sah dibayarkan dalam bentuk uang; harus dalam bentuk makanan pokok (beras atau nasi) sebagaimana perintah Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam.

 

Antara Puasa Syawal dan Puasa Qadha Ramadhan

Manakah yang afdal dikerjakan puasa enam hari pada bulan Syawal atau puasa qadha puasa Ramadhan?

085869XXXXXX

 

Jawaban:

Yang benar, dahulukan puasa qadha, karena hukumnya wajib, sedangkan puasa Syawal hukumnya sunnah. Bahkan, fadhilah puasa enam hari Syawal tidak berlaku bagi orang yang belum menyelesaikan puasa Ramadhan karena belum mengqadhanya.

Bagaimana jika sudah telanjur puasa Syawal terlebih dahulu, dalam keadaan baru mengetahui bahwa yang lebih rajih demikian. Bagaimana halnya dengan hadits Aisyah yang mengqadha puasa sampai bulan Sya’ban?

08586XXXXXX

 

Jawaban:

Tetap dapat pahala, insya Allah. Tidak ada dalil pada hadits qadha Aisyah tersebut. Sebab, jika puasa qadha yang bersifat wajib saja ditunda oleh beliau karena kepentingan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, terlebih lagi puasa sunnah 6 hari bulan Syawal, besar kemungkinan Aisyah tidak melakukannya. Wallahu a’lam.

 

Belum Hapal Bacaan Shalat

Saya seorang muslim yang melakukan shalat tetapi belum hapal bacaannya. Apakah shalat saya itu sah?

085768XXXXXX

 

Jawaban:

Anda wajib mempelajarinya semampu Anda, terutama bacaan al-Fatihah yang merupakan rukun shalat sendiri dan wajib bagi makmum. Jika Anda telah berusaha semampunya dan shalat dengan kemampuan yang ada, insya Allah sah. Teruslah belajar untuk menyempurnakannya, Allah tidak membebani hamba-Nya lebih dari kemampuannya.

 

Nazar Puasa Seumur Hidup

Sewaktu saya masih menderita penyakit kulit, saya bernazar untuk berpuasa seumur hidup (jika sembuh). Apakah saya wajib memenuhi nazar tersebut?

089682XXXXXX

 

Jawaban:

Puasa seumur hidup hukumnya haram. Dengan demikian, nazar Anda tergolong nazar maksiat yang tidak boleh ditunaikan dan wajib ditebus dengan kafarat menurut pendapat yang rajih. Kafaratnya adalah kafarat sumpah, yaitu:

  • Memberi makan sepuluh fakir miskin dengan makanan yang layak (pertengahan) dari yang Anda nafkahkan kepada keluarga, atau memberi pakaian.
  • Jika tidak mampu melaksanakan pilihan pertama, berpuasa tiga hari berturut-turut.

Lain kali jangan bernazar, karena bernazar hukumnya makruh dan tidak pernah menjadi faktor tercapainya suatu maksud. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang dan tidak pernah melakukannya. Begitu pula para sahabat tidak berlomba-lomba melakukannya.

 

Konsultasi Nama Anak

Insya Allah sebentar lagi saya punya momongan. Saya masih awam bahasa Arab. Seandainya diberi nama Abdan Syakur Wafi, mohon dijelaskan artinya.

08572XXXXXX

 

Jawaban:

Abdan Syakur Wafi artinya hamba yang banyak bersyukur lagi menunaikan. Sebaiknya, nama itu satu kata saja, meniru nama salah satu nabi atau sahabat, atau nama Abdu digandengkan setelahnya dengan salah satu asma Allah, seperti Abdusy Syakur atau semisalnya. Tidak mengapa nama selain itu yang bermakna baik, selama tidak mengandung rekomendasi terhadapnya.

34

Hukum Makan Burung Berparuh Panjang

Apa hukum memakan burung bangau dan sejenisnya yang berparuh panjang?

085758XXXXXX

 

Jawaban:

Burung bangau dan semacamnya yang berparuh panjang dan makan ikan hukumnya halal, karena bukan predator yang memburu mangsa dengan cakarnya.

 

Shalat di Dalam Penjara

Seseorang berada di lapas (lembaga pemasyarakatan/penjara). Jika hendak melaksanakan shalat di dalam kamar, apakah dia perlu azan dan iqamat?

085397XXXXXX

 

Jawaban:

Jika di sekitar penjara ada masjid yang azannya menjangkau penjara—yaitu seandainya azan itu tanpa mikrofon, di keheningan, tanpa ada gedung penghalang—dia tidak wajib azan lagi, cukup iqamat. Akan tetapi, tetap disunnahkan untuk azan. Jika tidak demikian keadaannya, ia wajib azan dan iqamat setiap kali hendak shalat.

 

Jual Beli Emas

Jika kita ingin menjual emas pada saat harga emas sedang naik, kemudian kita menerima selisih kelebihan dari harga penjualan saat membelinya; apakah tergolong riba?

085758XXXXXX

 

Jawaban:

Jual beli emas dengan uang rupiah boleh ada selisih harga (mengambil keuntungan, ed.) dengan syarat serah terima langsung (taqabudh), tidak ada yang ditunda serah terimanya.

 

Utang Ditanggung Ahli Waris?

Apabila suami meninggal dunia dalam keadaan mempunyai utang dan meninggalkan seorang istri dan beberapa orang anak, apakah yang menanggung utang suami adalah para ahli warisnya (anak dan istri)? Apakah seseorang yang mempunyai utang boleh dishalatkan waktu meninggal?

087737XXXXXX

 

Jawaban:

Jika ia meninggalkan harta waris, wajib dibayarkan dari harta waris itu sebelum dibagi oleh ahli warisnya, meski habis untuk membayar utang. Jika tidak mempunyai harta peninggalan, ahli warisnya tidak berkewajiban membayarnya, tetapi sebaiknya mereka membayarkannya jika mampu.

Seseorang yang meninggal dan mempunyai utang tetap dishalati.

 

Musafir Shalat Maghrib Berjamaah dengan Jamaah Isya’

Ketika saya safar, dalam perjalanan masuk waktu isya. Shalat maghrib dijamak dengan shalat isya. Berhubung shalat berjamaah dengan jamaah setempat, saat saya duduk tasyahud akhir rakaat ketiga dari shalat maghrib, imam bangkit. Setelah itu, bagaimana cara pelaksanaan shalat isya?

081263XXXXXX

 

Jawaban:

Anda wajib duduk tasyahud di akhir rakaat ketiga. Setelah itu, Anda punya dua pilihan:

  1. Memperlama doa untuk menunggu sampai imam duduk tasyahud juga, lalu salam bersamanya.
  2. Berniat keluar dari jamaah dan menyelesaikan shalat sendiri dengan cepat agar dapat melanjutkan shalat isya secara berjamaah dengan imam, jika diduga kuat bisa bergabung dengannya sebelum i’tidal.

 

Mantan Mertua Masih Mahram?

Apakah mantan istri/suami dan mertua masih mahram?

08123XXXXXX

 

Jawaban:

Mantan istri/suami masih mahram dengan mertuanya.

 

Contoh Kasus Waris

Ayah kami menikah dengan seorang wanita dan tidak mempunyai anak dari pernikahan itu. Kemudian ayah kami meninggal dengan meninggalkan harta bersama istrinya tersebut berupa tanah, rumah, dan kendaraan. Apakah kami (dua bersaudara, laki-laki dan perempuan) berhak atas harta tersebut? Bagaimana pembagiannya?

085646XXXXXX

 

Jawaban:

Kalian sebagai anak-anaknya berhak, istri yang ditinggalkannya juga berhak. Pastikan dari harta itu yang merupakan milik ayah kalian untuk dibagi dengan rincian:

  • istri mendapat 1/8;
  • 2 anak (laki-laki dan perempuan) mendapat sisanya dengan perbandingan untuk laki-laki 2 bagian, perempuan 1 bagian. Wallahu a’lam.

 

Shalat Bagi Penderita Alzheimer

Apakah lansia yang menderita penyakit alzheimer boleh meninggalkan kewajiban shalat? Karena beliau benar-benar sudah banyak lupa dengan rukun shalat.

082182XXXXXX

 

Jawaban:

Orang yang kehilangan akal karena gila atau pikun tidak terkena kewajiban shalat, puasa, dan lainnya.

 

Larangan Mengucapkan Hari Raya Agama Lain

Tolong jelaskan dalil larangan mengucapkan selamat hari raya agama lain seperti galungan, kuningan, nyepi, dll.

081337XXXXXX

 

Jawaban:

Hari raya Islam hanya ada dua, Idul Fithri dan Idul Adha. Adapun hari raya selain Islam tidak boleh diikuti. Kita tidak boleh berpartisipasi dan memberi ucapan selamat. Ini termasuk dalam prinsip alwala’ al-bara’ (mencintai dan memusuhi) karena Allah dan di jalan Allah.

 

18 Tahun Belum Bayar Fidyah

Saya belum membayar fidyah sewaktu menyusui anak pada bulan Ramadhan 18 tahun yang lalu. Bolehkah kita membayarkannya kepada keluarga kita yang tidak mampu?

085381XXXXXX

 

Jawaban:

Jika Anda berkeyakinan ibu menyusui membayar fidyah, boleh memberikan kepada keluarga yang tidak mampu. Namun, yang benar wanita menyusui tidak boleh berbuka kecuali jika khawatir terhadap bayinya atau dirinya berdasarkan indikasi yang ada; kewajibannya adalah qadha, bukan fidyah.

 

Jejaring Sosial

Mohon nasihatnya bagi ikhwan dan akhwat yang sering menggunakan jejaring sosial seperti Facebook, Twitter, dan lainnya, dengan dalih untuk berdakwah atau menambah ilmu. Akan tetapi, mereka malah terjerumus dalam ikhtilath dan perkataan sia-sia dengan saling memberi komentar terhadap lawan jenis dan menceritakan masalah masing-masing. Hal ini juga sering menimpa orang yang sudah berkeluarga sehingga tidak jarang menimbulkan perselisihan suami-istri.

0896XXXXXXX

 

Jawaban:

Kami nasihatkan bagi mereka yang terjerumus dalam keburukan facebook dan semacamnya agar bertakwa kepada Allah. Barang siapa terfitnah dengan ‘pergaulan’ facebook dan semacamnya, hendaklah dia bertakwa dan malu akan hal itu. Ketahuilah, malu itu merupakan keimanan.

Masih banyak media lain yang aman untuk menuntut ilmu dan berdakwah. Berkah itu dari Allah semata.

 

Suami Marah, Menawarkan Cerai

Apabila suami saya sedang marah sering berkata, “Bagaimana kalau kita cerai saja,” apakah dengan kalimat tersebut sudah jatuh talak?

082326XXXXXX

 

Jawaban:

Tampaknya kalimat itu masih sebatas tawaran atau ancaman kepada istri, dia belum mantap untuk menjatuhkan talak. Dengan demikian, talak belum jatuh dengan ucapan itu belaka.

 

Cukur Rambut dan Potong Kuku Sebelum Niat Kurban

Seseorang memasuki bulan Dzulhijjah dan belum memiliki niat untuk berkurban sebab belum ada dana. Dia sudah mencukur rambut atau potong kuku. Kemudian dia mendapatkan rejeki sehingga bisa berkurban. Bolehkah?

085292XXXXXX

 

Jawaban:

Tidak mengapa, karena dia melakukannya sebelum berniat. Larangan berlaku sejak berniat berkurban.

 

Rasul Tidak Puasa Arafah

Apakah Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah/sempat melakukan puasa Arafah? Sebab, sebagian orang tidak mau puasa dengan alasan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak melakukannya.

08233XXXXXXX

 

Jawaban:

Rasul tidak melakukan puasa Arafah ketika berhaji (hajjatul wada’) dan hal itu menunjukkan tidak disunnahkan bagi jamaah haji di Arafah. Adapun bagi orang lainnya yang tidak berhaji, terdapat hadits sahih yang menganjurkannya dengan keutamaan menghapus dosa-dosa setahun sebelumnya dan setelahnya. Lihat buku kami, Fikih Puasa Lengkap.

 

Gabung Niat Puasa Arafah dengan Senin-Kamis

Bolehkah menggabungkan niat puasa Senin-Kamis dengan puasa Arafah yang bertepatan dengan hari Kamis?

082134XXXXXX

 

Jawaban:

Puasa Senin-Kamis dan puasa Arafah adalah puasa sunnah khusus yang diperintahkan. Jadi, tidak boleh digabung niatnya. Jika hari Arafah jatuh pada hari Kamis, berpuasalah dengan niat puasa Arafah.

 

Larangan Memotong Kuku dan Rambut Bagi yang Akan Berkurban

Jika suami akan berkurban, apakah anak dan istri terkena hukum larangan memotong kuku, rambut, dll.?

085275XXXXXX

37

Jawaban:

Pemahaman tersebut salah. Yang benar adalah hadits Ummu Salamah dalam Shahih Muslim yang melarang hal itu bagi yang berniat berkurban. Adapun keluarganya tidak terkena hukum tersebut.

 

Zakat Usaha

Saya mendirikan usaha menjual kayu kelapa, bambu, tepas, dan kayu. Apakah usaha saya terkena zakat jika sudah cukup satu tahun?

081263XXXXXX

 

Jawaban:

Zakat usaha/dagang tidak ada menurut pendapat yang rajih. Namun, uang hasil usaha tersebut jika mencapai nishab perak (harga 595 gr perak) lantas nishab itu bertahan setahun, wajib dikeluarkan zakatnya sebesar 1/40 (2,5%).

Dinasihatkan bagi para pengusaha yang sukses agar banyak bersedekah dan berinfak.

 

Zakat Fitrah

Nenek saya janda dan mempunyai sawah yang dikerjakan oleh orang lain. Hasilnya bisa digunakan untuk keperluan harian. Apakah nenek saya berhak mendapat zakat fitrah?

081329XXXXXX

 

Jawaban:

Jika nenek Anda miskin, hasil sawah itu belum mencukupinya, ia berhak mendapat zakat. Namun, seseorang tidak tidak boleh menyalurkan zakat kepada kerabat yang dia tanggung nafkahnya.

 

Haji dengan Uang Riba

Bagaimana hukumnya jika naik haji dengan uang riba yang sudah dibayarkan dan akan berangkat tiga tahun lagi? Bagaimana cara bertobat dari perbuatan tersebut?

085279XXXXXX

 

Jawaban:

Bertobatlah kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan menyesal, berhenti dari hal itu dan bertekad tidak akan mengulanginya. Ambil uang riba itu dan bersihkan diri Anda darinya dengan cara menghabiskannya untuk pembangunan fasilitas umum, seperti jalan umum, selokan, WC umum, dan yang semisalnya.

 

Mimisan Sewaktu Shalat

Bagaimana jika ketika kita shalat, hidung kita mimisan? Apakah shalat kita batal?

085710XXXXXX

 

Jawaban:

Tetap lanjutkan shalat Anda. Darah mimisan tidak membatalkan wudhu dan shalat, bukan pula najis menurut pendapat yang rajih.

 

Anak Menjadi Wali Nikah Ibu

Apakah anak kandung laki-laki dewasa bisa menjadi wali nikah ibunya?

085866XXXXXX

 

Jawaban:

Ya. Jika ayah wanita itu sudah tidak ada atau ada halangan syar’i untuk menjadi wali, tugas wali beralih kepada anak tersebut.

 

Shalat dalam Keadaan Junub karena Lupa

Seseorang dalam keadaan junub kemudian shalat fardhu. Kondisi dia pada saat itu dalam keadaan sakit (demam). Ia ingat setelah masuk dua kali shalat fardhu. Apakah shalat yang dilakukannya sah? Jika harus mengqadha, bagaimana caranya?

38

Jawaban:

Shalat fardhu yang dilaksanakan tanpa mandi karena lupa, wajib diqadha. Jika demam dan akan termudaratkan oleh air (tambah sakit atau memperlama kesembuhan), boleh tayammum.

Cara mengqadhanya digabung keduanya pada waktu zhuhur. Jadi,  setelah shalat zhuhur, langsung qadha zhuhur lalu qadha ashar.

 

Shaf Anak dalam Shalat Jamaah

Bolehkah anak usia lima tahun berada di shaf orang dewasa saat shalat berjamaah? Ia sudah bisa berwudhu tetapi belum paham bacaan shalat. Apakah syarat seorang anak sudah boleh bershaf bersama orang dewasa saat shalat berjamaah?

 

Jawaban:

Syaratnya adalah usia tamyiz, biasanya tujuh tahun dan dia telah bersuci dari hadats. Wallahu a’lam.

 

Shalat Setelah Keguguran

Jika seorang wanita keguguran pada usia kehamilan empat bulan dan dikuret, apakah dia boleh shalat lima waktu?

 

Jawaban:

Janin yang berusia empat bulan sepertinya belum berbentuk fisik manusia yang terdiri dari kepala, jari, dst. Jika benar demikian, bukan termasuk nifas menurut pendapat yang terkuat. Hukumnya adalah darah fasad seperti istihadhah, tetap wajib shalat.

 

Hukum Sembelihan

Hukum sembelihan bila terputus salah satu dari al-wadjan saja, maka tidak sah. (Syarh Bulugh, 6/52-53) Apakah maksud tidak sah pada kalimat di atas bermakna haram dimakan walau telah membaca takbir waktu menyembelih?

 

Jawaban:

Terpotongnya kedua wadjan (urat/pembuluh darah besar) yang berada di leher adalah syarat sahnya sembelihan, tetapi tidak harus putus. Jika yang terpotong hanya salah satunya, sembelihan tidak sah dan haram dimakan. Ini menurut pendapat yang rajih dan lebih hati-hati. Wallahu a’lam.

 

Bekerja di Koperasi Simpan-Pinjam

Jika kita bekerja di koperasi simpan-pinjam (riba) yang mempunyai usaha lain berupa wisma/hotel, dengan laba mayoritas berasal dari koperasi riba, apakah hal ini diperbolehkan? Apa boleh pula bekerja sebagai karyawan wisma?

 

Jawaban:

Jika perputaran usaha wisma/hotel itu juga bermodal dari dana hasil riba itu, haram bekerja di situ. Apalagi jika pada usaha wisma itu terjadi ikhtilat/perbauran karyawan wanita dan pria, hal itu haram dari sisi lainnya.

 

Gadai Motor Riba

Saat ini saya sedang terjerat riba. BPKB motor saya gadaikan 4 juta. Untuk melunasinya, saya harus membayar 4 juta (pokok) dan 150 ribu (bunga). Uang tersebut saya gunakan untuk modal dagang. Apakah modal dan keuntungan dagangan saya halal? Saya ingin segera melunasinya sebisa mungkin karena takut sekali terjatuh dalam dosa.

 

Jawaban:

Jika Anda melakukan itu dalam keadaan tidak tahu hukumnya, ada uzur bagi Anda. Jika sudah tahu hukumnya haram, wajib bertobat. Baik yang pertama maupun yang kedua, upayakan menasihati/melobi pihak yang mengutangi agar menggugurkan tuntutan bunga (riba) itu. Jika berhasil, itulah yang diinginkan. Jika tidak berhasil, tetap lunasi dengan terpaksa dan dia yang menanggung dosanya. Wallahu a’lam.

 

Mahar Kitab, Harus Diajarkan?

Apakah seseorang yang menikah dengan mahar sebuah kitab harus memberikan faidah/mengajarkan kitab tersebut?

 

Jawaban:

Tidak harus, karena kitab itu sendiri sudah berharga.

 

Hak Tinggal Pascacerai

Jika istri minta cerai dari suaminya, siapakah yang berhak untuk tinggal di rumah, istri atau suami?

 

Jawaban:

Yang berhak tinggal di rumah itu adalah yang mempunyai rumah. Jika yang mempunyai adalah suami, berarti istri yang keluar; begitu pula sebaliknya.

 

Hukum Wudhu setelah Mandi Wajib

Bagaimana hukum wudhu sebelum mandi wajib? Apakah kita harus wudhu lagi setelah itu karena akan melaksanakan shalat?

 

Jawaban:

Wudhu atau mendahulukan anggota wudhu sebelum mandi wajib, hanya sunnah. Jika hal itu diamalkan dan tidak berhadats setelahnya, itu sudah cukup tanpa perlu berwudhu lagi.

 

Mengubur Janin

Bagaimana cara menanam/mengubur janin keguguran yang baru berusia dua bulan?

 

Jawaban:

Tidak disyariatkan dikuburkan, cukup dipendam di mana saja.

 

Utang Puasa karena Sakit

Ibu kami utang puasa 25 hari karena sakit. Sekarang beliau masih dalam pengobatan pasca operasi (tumor ganas) hingga dua bulan ke depan, sedangkan beliau belum mampu mengqadhanya. Padahal bulan Ramadhan akan segera. Bagaimana solusinya?

 

Jawaban:

Jika dokter spesialis mengatakan masih ada harapan sembuh dan tidak ada keharusan untuk selalu minum obat pada siang hari, tunggu saja sampai sembuh. Setelah itu ibu Anda mengqadha seluruh utang puasa di luar Ramdhan walaupun melewati sekian kali Ramadhan. Hal ini disebabkan adanya uzur.

 

Kembalian Pembeli yang Tertunda

Bagaimana hukumnya jika dalam transaksi jual-beli ada uang kembalian pembeli yang ditunda kembaliannya oleh penjual?

 

Jawaban:

Boleh. Yang tidak boleh apabila menukar uang dengan uang, karena diharuskan serah-terima dengan tuntas di majelis itu sebelum berpisah, tanpa ada yang tersisa/tertunda, di samping nilainya harus sama.

Kirim SMS/WA Pertanyaan ke Redaksi 081328078414 atau via email ke tanyajawabringkas@gmail.com

Jika pertanyaan Anda cukup dijawab secara ringkas, akan kami muat di rubrik ini. Namun, jika membutuhkan jawaban yang panjang lebar, akan kami muat di rubrik Problema Anda, insya Allah.

Seluruh materi rubrik Tanya Jawab Ringkas (Asy-Syariah) dapat di akses di www.tanyajawab.asysyariah.com

Makelar dalam Jual Beli

Bismilah. Saya mau bertanya tentang permasalahan seputar jual beli.

  1. Jual beli yang dikenal dengan istilah “belantik”, caranya menjualkan barang dari pemilik barang kepada pembeli.

Contohnya, A berniat menjual sepeda seharga Rp50.000, lalu saya menjualkan sepeda A kepada B sebagai pembeli dengan penawaran harga Rp100.000. Si B membayar sepeda tersebut Rp100.000 kepada saya. Lalu saya bayarkan Rp50.000 kepada A dan saya mendapat keuntungan Rp50.000 dari hasil menjualkan sepeda A tersebut. Pertanyaannya, apakah jual beli yang saya lakukan tersebut sesuai dengan syariat?

  1. Saya menitipkan dagangan kepada pemilik toko untuk dijualkan.

Caranya, saya titip barang ke toko dengan harga Rp.1.000, lalu terserah toko, barang tersebut akan dijual dengan harga berapa. Yang penting, jika barang terjual, toko membayar Rp.1.000 kepada saya, sesuai dengan harga yang saya tetapkan.

Bolehkah jual beli seperti ini? Saya mohon penjelasannya, karena saya berdagang dengan cara seperti ini. Saya khawatir terjatuh ke dalam jual beli yang diharamkan.

Abu Abdul Aziz—Lampung

 

handshake

Dijawab oleh al-Ustadz Qomar Suaidi, Lc.

Sistem jual beli yang ditanyakan hukumnya boleh. Hal ini dikenal dalam syariat dengan istilah samsarah atau makelaran. Akan tetapi, pada contoh yang pertama, makelar harus mendapat izin dari pemilik barang untuk mengambil keuntungan sekehendaknya (tentunya dalam batas kewajaran).

Makelaran disebut dalam bahasa Arab samsarah atau dallalah. Pelakunya atau makelar disebut simsar atau dallal. Upahnya dinamai ujratu samsarah atau as-sa’yu, atau al-ju’’azza wa jalla atau ad-dallalah.

Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), yang dimaksud makelar adalah perantara antara penjual dan pembeli. Disebut pula broker, makelar, cengkau, dan pialang.

 

Kriteria Seorang Makelar

Seorang makelar harus memiliki kriteria sebagai berikut.

  1. Berpengalaman menjual barang dagangan tersebut dan tentang barangnya.

Hal ini supaya dia tidak membuat kecewa atau merugikan penjual atau pembeli.

  1. Jujur dan amanah.
  2. Tidak berbasa-basi dengan salah satu pihak, sehingga dia menerangkan kelebihan dan kekurangan barang tersebut apa adanya.
  3. Tidak menipu pihak manapun.

 

Upah Makelar

Para ulama membolehkan upah makelar. Al-Imam Malik pernah ditanya tentang upah makelar, beliau menjawab tidak mengapa.

Al-Imam al-Bukhari menyebutkan sebuah bab dalam kitab Shahih al-Bukhari, “Bab Upah Makelar”.

Ibnu Sirin, Atha’, Ibrahim (an-Nakha’i), dan al-Hasan (al-Bashri) memandang bolehnya upah bagi makelar.

Ibnu Abbas mengatakan, “Seseorang boleh mengatakan, ‘Juallah pakaian ini. Apa yang lebih dari (harga) sekian dan sekian, itu untukmu’.”

Ibnu Sirin mengatakan, “Jika seseorang mengatakan, ‘Juallah barang ini dengan harga sekian, dan keuntungan selebihnya untukmu—atau kita bagi dua,’ hal ini boleh saja. Sebab, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْمُسْلِمُونَ عِنْدَ شُرُوطِهِمْ

”Kaum muslimin itu sesuai dengan syarat-syarat mereka.”

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ نَهَى رَسُولُ اللهِ ، أَنْ يُتَلَقَّى الرُّكْبَانُ، وَلاَ يَبِيعَ حَاضِرٌ لِبَادٍ. قُلْتُ: يَا ابْنَ عَبَّاسٍ، مَا قَوْلُهُ لاَ يَبِيعُ حَاضِرٌ لِبَادٍ. قَالَ: لاَ يَكُونُ لَهُ سِمْسَارًا

Dari Ibnu Abbas, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang untuk menghadang rombongan pedagang (yakni sebelum sampai pasar) dan melarang orang yang di kota menjualkan barang milik orang yang datang dari pedesaan.”

Aku (perawi) mengatakan, “Wahai Ibnu Abbas, apa maksudnya ‘orang yang di kota tidak boleh menjualkan barang orang yang datang dari pedesaan’?”

Beliau menjawab, “Tidak menjadi makelar bagi mereka.”

Sisi pendalilan dari hadits di atas adalah ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang orang kota menjualkan (barang) orang desa yang datang ke kota, berarti selain itu adalah boleh. Orang kota menjualkan (barang) orang kota, orang desa menjualkan (barang) orang desa, atau orang desa menjualkan (barang) orang kota. Lihat keterangan yang semakna dengan ini pada Fathul Bari karya Ibnu Hajar.

Ibnu Qudamah mengatakan, “Seseorang boleh menyewa makelar untuk membeli pakaian. Ibnu Sirin, Atha’, dan an-Nakha’i membolehkan hal itu…

(Makelar) boleh diberi waktu tertentu, seperti sepuluh hari, selama itu dia membelikan barang, karena waktu dan pekerjaannya diketahui…

Apabila pekerjaannya saja yang ditentukan, tetapi waktunya tidak, dan ditetapkan bahwa dari setiap 1.000 dirham dia mendapat nominal tertentu, ini juga sah saja. Apabila seseorang menyewa (makelar) untuk menjualkan pakaian, itu juga sah.

Pendapat ini yang dipegang oleh al-Imam asy-Syafi’i, karena itu adalah pekerjaan mubah yang boleh diwakilkan dan sesuatu yang telah diketahui. Maka dari itu, diperbolehkan pula akad sewamenyewa padanya, seperti pembelian baju.”

  • Al-Lajnah ad-Daimah ditanya tentang masalah berikut. Seorang pemilik kantor perdagangan bertindak sebagai perantara bagi perusahaan tertentu untuk memasarkan produknya. Perusahaan tersebut mengirimkan sampel kepadanya untuk dia tawarkan kepada para pedagang di pasar. Dia kemudian menjual produk tersebut kepada konsumen dengan harga yang ditetapkan perusahaan tersebut. Dia mendapatkan upah yang telah dia sepakati dengan perusahaan tersebut. Apakah dia berdosa dengan pekerjaan ini?

Al-Lajnah ad-Daimah menjawab bahwa apabila kenyataannya seperti yang disebutkan, ia boleh mengambil upah tersebut dan tidak ada dosa padanya.

  • Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz pernah ditanya tentang hukum seseorang mencarikan toko atau apartemen (untuk orang lain) dan mendapatkan imbalan untuk itu.

Beliau menjawab bahwa hal itu tidak mengapa. Ini adalah imbalan yang disebut as-sa’yu. Hendaknya orang itu bersungguh-sungguh mencarikan tempat yang sesuai dengan permintaan orang yang hendak menyewanya. Apabila dia membantunya dan mencarikan tempat yang sesuai dengan permintaannya, lalu dia membantu mewujudkan kesepakatan antara penyewa dan pemiliknya, dan disepakati pula upahnya, semua ini tidak mengapa, insya Allah.

Akan tetapi, hal ini dengan syarat tidak ada pengkhianatan dan penipuan, tetapi yang ada adalah amanah dan kejujuran. Apabila dia jujur dan amanah ketika mencarikan apa yang diminta (calon penyewa), tanpa menipu dan menzalimi (calon penyewa) atau pemilik toko/apartemen, dia berada dalam kebaikan, insya Allah.

  • Ibnu Qudamah mengatakan, “Perwakilan diperbolehkan, baik dengan upah maupun tidak. Sebab, Nabi mewakilkan kepada sahabat Unais untuk melaksanakan hukuman had, dan mewakilkan kepada sahabat Urwah dalam hal pembelian kambing, tanpa upah. Beliau juga pernah mengutus para pegawai untuk mengambil zakat lalu memberi upah kepada mereka. Oleh karena itu, kedua anak paman beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan kepada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Seandainya saja Anda mengutus kami untuk mengambil zakat sehingga kami tunaikan kepada Anda sebagaimana manusia menunaikannya kepada Anda, dan kami mendapatkan sesuatu sebagaimana orang juga mendapatkannya—yakni mendapat upah’.” (HR . Muslim)

Maka dari itu, jika seseorang dijadikan wakil dalam penjualan dan pembelian, dia berhak mendapatkan upah jika melakukannya.

  • Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz mengatakan, “Tidak mengapa menjadi makelar untuk penjual atau pedagang. Persyaratan upah tersebut boleh.” (Fatawa Ibni Baz)
  • Al-Lajnah ad-Daimah pernah ditanya, “Banyak perdebatan tentang rasio upah yang diperoleh oleh makelar. Ada yang mengatakan 2,5%, ada yang mengatakan 5%. Berapakah sebenarnya upah yang syar’i bagi makelar? Ataukah hal itu tergantung kesepakatan antara penjual dan pembeli?”

Berikut ini jawaban al-Lajnah ad- Daimah.

Apabila terjadi kesepakatan antara makelar, penjual, dan pembeli, apakah makelar mengambil upah dari pembeli, atau dari penjual, atau dari keduanya, upah yang diketahui ukurannya maka hal itu boleh saja. Tidak ada batasan atau prosentase upah tertentu.

Kesepakatan yang terjadi dan saling ridha tentang siapakah yang akan memberikan upah, hal itu boleh. Akan tetapi, semestinya itu semua sesuai dengan batasan kebiasaan yang berjalan di tengah masyarakat tentang upah yang didapatkan oleh makelar dapat imbalan pekerjaannya yang menjadi perantara antara penjual dan pembeli. Selain itu, tidak boleh ada mudarat atas penjual maupun pembeli dengan upah yang melebihi kebiasaan. (Fatawa al-Lajnah)

Apabila prosentase upah itu dari laba, bukan dari harga penjualan, para fuqaha mazhab Hanbali membolehkannya, dan itu menyerupai mudharabah. (Kasysyaful Qana’ [3/615], Mathalib Ulin Nuha [3/542], sebagian kutipan diambil dari Fatawa Islam Sual wa Jawab)

Batasn Laba Maksimum dalam Penjualan

Apakah termasuk riba apabila kita membelis ebuah barang dan kita menjualnya dengan harga dua kali lipat dari harga belinya?

085340XXXXXX

Dijawab oleh al-Ustadz Muhammad as-Sarbini

Dalam syariat yang agung ini tidak ada penentuan batas laba maksimum dalam penjualan suatu barang. Maka dari itu, hal itu kembali kepada kebiasaan yang berlaku di pasar-pasar kaum muslimin. Menurut al-Lajnah ad-Da’imah (diketuai Ibnu Baz), “Laba penjualan seorang pedagang tidak dibatasi secara syariat dengan persentase tertentu. Akan tetapi, tidak boleh menipu pembeli dengan cara menjual dengan harga yang melebihi harga standar di pasaran.

Disyariatkan bagi seorang muslim untuk tidak mengambil laba terlalu besar, tetapi menjadi orang yang bersifat toleran (berlapang dada) dalam menjual dan membeli berdasarkan anjuran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk bersifat toleran (berlapang dada) dalam muamalah.”

Ibnu ‘Utsaimin rahimahumullah berkata dalam FathDzilJalal walIkram—memetik faedah dari hadits ‘Urwah al-Bariqi radhiyallahu anhu yang diberi uang satu dinar oleh Nabi  shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk membeli seekor kambing, lalu ia berhasil membeli dua ekor dengan uang itu, kemudian menjual salah satunya dengan harga satu dinar, sehingga dia membawakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seekor kambing dan uang satu dinar—, “

Di antara faedah hadits ini adalah bahwasanya pengambilan laba dalam jual beli tidak punya batas maksimum. Oleh karena itu, boleh bagi seorang penjual mengambil laba senilai 1/10 dari harga barangnya, 1/5, 1/4, atau lebih besar dari itu.

Namun, hal itu dengan syarat tidak melakukan penipuan harga. Adapun jika hal itu dengan cara penipuan harga, haram mengambil laba melebihi kewajaran di pasaran. Lain halnya jika hal itu dihasilkan dengan cara usaha (tanpa unsur penipuan harga), yaitu dikarenakan harga pasaran barang itu naik; penjual pertama menjual kepadanya dengan harga murah karena bersikap toleran kepadanya, atau seseorang membeli darinya dengan harga mahal karena bersikap toleran kepadanya.

Jika demikian, hal itu tidak mengapa. Boleh jadi, penjual pertama mengetahui bahwa barang dagangan itu harga pasarannya dua puluh, lalu ia menjualnya kepada Anda seharga sepuluh. Jika Anda menjualnya dengan harga standar di pasaran, berapa harganya? Harganya dua puluh atau lebih.

Hal itu tidak mengapa, karena penjual pertama menjualnya dengan harga murah kepada Anda lantaran sikap tolerannya. Boleh jadi pula, pembeli tahu bahwa harganya sepuluh (misalnya), tetapi ia ingin memberi manfaat kepada Anda dengan membelinya seharga dua puluh, hal itu pun tidak mengapa. Walaupun pada kedua contoh tersebut harga pasarannya tidak mengalami lonjakan di pasaran.”

Jadi, yang tidak boleh adalah menipu pembeli yang tidak tahu harga pasaran dan tidak pandai menawar sehingga mengeruk darinya laba sebesar-besarnya melebihi kebiasaan yang berlaku di pasar-pasar kaum muslimin. Ini yang dikenal dalam ilmu fikih sebagai penjualan kepada al-mustarsil.

Terdapat dua tafsir mengenai makna al-mustarsil:

1. Orang yang tidak tahu harga barang di pasaran.

2. Orang yang tidak bisa menawar barang, tetapi menuruti ucapan penjual. Ini yang datang dari al-Imam Ahmad rahimahumullah. Alhasil, al-mustarsil adalah orang yang tidak tahu harga pasaran dan tidak pandai menawar harga.

Ibnu Taimiyah rahimahumullah menerangkan setelah menyebutkan kedua tafsir tersebut, “Maka dari itu, ia tidak boleh ditipu dengan pengambilan laba yang sangat merugikannya, baik yang ini (makna pertama) maupun yang itu (makna kedua).”

Ibnu Taimiyah rahimahumullah berkata, “Tidak boleh menjual kepada al-mustarsil kecuali dengan harga wajar, sebagaimana penjualan kepada yang lainnya (yang tahu harga). Tidak boleh bagi seorang penjual menipu orang yang menurutinya dengan mengeruk laba yang sangat besar melebihi kewajaran. Ada sebagian ulama membatasinya sebesar 1/3 dari harga barang. Ada yang membatasinya dengan 1/6 dari harga barang. Ada pula yang mengatakan bahwa hal itu kembali kepada kebiasaan yang berlaku.

Apa yang sudah menjadi kebiasaan masyarakat dalam pengambilan laba jual beli mereka kepada orang yang pandai menawar, senilai itu pulalah laba yang diambil dari al-mustarsil.” Pendapat yang terakhir inilah yang benar, bahwa hal itu kembali kepada kebiasaan yang adadi pasar-pasar kaum muslimin.

Ibnu Qudamah, Ibnu Taimiyah, Ibnul Qayyim, dan Ibnu ‘Utsaimin rahimahumullah menegaskan bahwa almustarsil yang dirugikan melebihi harga wajar, memiliki hak khiyar al-ghabn, yaitu hak orang yang rugi karena tertipu dalam transaksi jual beli untuk memilih antara meneruskan akad tersebut atau melakukan fasakh (pembatalan akad).

Ini adalah mazhab Ahmad dan Malik. Dalilnya adalah penetapan khiyar al-ghabn oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada kasus talaqqi ar-rukban, yaitu menghadang kafilah yang datang ke suatu negeri sebelum masuk pasar agar dibeli murah jauh di bawah harga standar. Jika ia telah masuk pasar lantas mengetahui bahwa dirinya tertipu, ia berhak memilih antara meneruskan akad atau membatalkannya. Adapun hadits Abu Umamah radhiyallahu anhu:

غَبْنُ الْمُسْتَرْسِلِ حَرَامٌ.

“Menipual-mustarsiladalah perbuatan haram.” (HR. ath-Thabarani dalam al-Mu’jam al-Kabir)

dan hadits Jabir, Anas, dan ‘Ali radhiyallahu anhu  :

غَبْنُ الْمُسْتَرْسِلِ رِبًا.

“Menipua l-mustarsila dalahr iba.” (HR. al-Baihaqi)

Keduanya hadits yang dha’if (lemah), bukan hujah.3 Adapun pendapat asy-Syafi’i dan Malik yang menyatakan transaksi itu telah terjadi dan sah tanpa adanya hak khiyar baginya, adalah pendapat yang lemah. Wallahu a’lam.4