Yang Tercecer dari IAIN (7) – Mengusung Tokoh Kafir dan Bid’ah

Di antara bukti kecintaan seorang muslim kepada Allah subhanahu wa ta’ala adalah ia selalu berusaha mencintai orang yang Allah subhanahu wa ta’ala cintai dan membenci siapa yang Allah subhanahu wa ta’ala benci. Sungguh aneh bila ia mengaku mencintai-Nya akan tetapi dia membenci siapa yang Allah subhanahu wa ta’ala cintai dan mencintai siapa yang Allah subhanahu wa ta’ala benci. Penyair Arab mengatakan:

   تَعْصِي اْلِإلَهَ وَأَنْتَ تَزْعُمُ حُبَّهُ

 هَذَا لَعَمْرِي في اْلقِيَاس بَدِيْعُ

لَوْ كَانَ حُبُّكَ صَادِقًا لَأَطَعْتَهُ

إِنَّ اْلمُحِبَّ لِمَنْ يُحِبُّ مُطِيْعُ

Kamu bermaksiat kepada Ilah sementara kamu mengaku cinta kepada-Nya

Aku bersumpah, ini sungguh kias yang aneh

Seandainya pengakuan cintamu jujur, tentu kamu akan menaatinya

karena seorang yang mencintai itu akan menaati yang dicintainya. (al-Qaulul Mufid, 3/55) Lanjutkan membaca Yang Tercecer dari IAIN (7) – Mengusung Tokoh Kafir dan Bid’ah

Yang Tercecer dari IAIN (5) – Poligami

Tema poligami sangat hangat untuk dibicarakan, sehingga kelompok ini tidak melewatkan pembicaraan tentangnya. Di antara wujudnya adalah sebuah buku yang ditulis oleh Siti Musdah Mulia dengan judul Islam Menggugat Poligami. Mereka mengecam habis-habisan apa yang disebut poligami, tanpa rasa takut kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan tanpa rasa malu kepada-Nya. Seolah-olah mereka tidak tahu bahwa Allah subhanahu wa ta’ala membolehkan poligami. Seakan-akan mereka juga tidak mau tahu akan hikmah dan aturan Islam yang membolehkannya, tidak mengharuskannya. Bagi mereka, pokoknya tidak setuju, dan bagi mereka, poligami adalah diskriminasi bagi kaum hawa. Satu sikap yang angkuh dan tidak mau tahu. Lanjutkan membaca Yang Tercecer dari IAIN (5) – Poligami

Yang Tercecer dari IAIN (4) – Kesetaraan Gender

Kesetaraan gender merupakan salah satu gagasan yang banyak disuarakan oleh kaum SIPILIS—sebagaimana diistilahkan oleh sebagian penulis, sebagai singkatan dari sekularisme, pluralisme dan liberalisme—yang tak sedikit dari mereka bercokol di kampus-kampus PTAI. Hal ini, sebagaimana disuarakan kaum lelaki, juga banyak kaum wanita yang menyuarakannya demi menuntut apa yang mereka anggap sebagai hak-hak mereka. Lanjutkan membaca Yang Tercecer dari IAIN (4) – Kesetaraan Gender

Yang Tercecer dari IAIN (3) – Kawin Beda Agama

Di antara hal yang sering terlontar di tengah-tengah kampus PTAI, terutama UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, adalah gagasan kawin beda agama. Seiring dengan itu, muncullah istilah “Penghulu Swasta” atau bisa kita bilang “Penghulu Kawin Beda Agama”. Dialah Zainun Kamal, dosen tetap pada Fakultas Ushuludin sekaligus dosen pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Dengan jabatan nonformalnya sebagai penghulu swasta, ia telah berhasil menikahkan beberapa pasangan beda agama yang wanitanya muslimah. Lanjutkan membaca Yang Tercecer dari IAIN (3) – Kawin Beda Agama

Yang Tercecer dari IAIN (1) – Menggugat Al-Qur’an

Bercak-bercak hitam mengotori kampus akibat peristiwa yang menodai akidah dan tarbiyah Islamiyah, sehingga di sejumlah—bukan semua—kampus PTAI tercecer hal-hal besar dan berbahaya yang tidak bisa dianggap sepele. Berikut ini rincian dan penjelasan dari peristiwa tersebut, agar menjadi perhatian kita sehingga kita waspada dan berhati-hati darinya. Lanjutkan membaca Yang Tercecer dari IAIN (1) – Menggugat Al-Qur’an

Merenungi Rentetan Peristiwa di IAIN

Sungguh memilukan, hati terasa tersayat-sayat, kalbu serasa berontak, dan emosi meluap, saat mendengar, membaca, bahkan melihat berbagai kejadian yang amat memukul, terjadi di berbagai instansi berlabel Islam, entah itu institut, sekolah tinggi, atau universitas Islam.Tercatat sebuah perubahan besar dalam sejarah IAIN[1], dengan munculnya Harun Nasution[2] yang menawarkan berbagai perubahan dengan mengusung slogan “Islam Rasional”. Bukunya yang kontroversial, Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya, dikukuhkan oleh Departemen Agama RI—berdasarkan rapat rektor IAIN se-Indonesia pada bulan Agustus 1973 di Ciumbuleuit Bandung—sebagai buku wajib bagi setiap mahasiswa IAIN, apa pun fakultas dan jurusannya. Kala itu, buku ini mendapat tantangan dan reaksi yang sangat keras dan tajam dari Prof. Dr. H.M. Rasjidi—Menteri Agama RI pertama—. Beliau khawatir akan pengaruh buku tersebut bagi angkatan muda Islam, karena menurutnya: Lanjutkan membaca Merenungi Rentetan Peristiwa di IAIN