Meraih Kemuliaan dengan Al-Qur’an

Al-Ustadz Abdurrahman Mubarak

Al_Quran

Pembaca yang budiman, ketahuilah Allah ‘azza wa jalla telah menjamin jika seorang berpegang dengan al-Qur’an, dia tidak akan tersesat di dunia dan akhirat. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

“Apabila datang petunjuk dari-Ku, maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, maka dia tak akan tersesat dan tak akan celaka.” (Thaha: 123)

Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma berkata, “Allah ‘azza wa jalla menjamin bagi orang yang membaca al-Qur’an dan mengikuti apa yang ada padanya, tak akan tersesat di dunia dan tak akan celaka di akhirat.” (Tafsir at-Thabari)

Adapun orang yang berpaling darinya akan mendapatkan kehidupan yang sempit,

“Dan barang siapa yang berpaling dari peringatan-Ku (dari al-Qur’an), maka dia akan mendapatkan kehidupan yang sempit dan kami akan kumpulkan dia pada hari kiamat nanti dalam keadaan buta.” (Thaha:124)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla akan mengangkat derajat satu kaum dengan al-Qur’an dan merendahkan sebagian kaum dengannya.” (HR. Muslim)

Dengan ini kita tahu bahwasanya al-Qur’an adalah sumber kebahagiaan jika seorang muslim senantiasa berpegang teguh dengannya dan beramal dengannya. Namun, jika seorang berpaling dari al-Qur’an, dia terancam dengan kehinaan dan kecelakaan. Lebih-lebih lagi jika melakukan hal-hal yang justru bertentangan dengan al-Qur’anul Karim.

 

Sebelas Perkara yang Menyelisihi Tuntunan al-Qur’an

Pembaca yang budiman, dalam tulisan ini penulis ingin menyebutkan beberapa perbuatan sebagian muslimin yang jauh bahkan bertentangan dengan tuntunan al-Qur’an.

Perkara-perkara ini terjadi ketika seorang muslim tidak mempelajari al-Qur’an sebagaimana mestinya dan tidak mengamalkan al-Qur’an sebagaimana amalan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya yang mulia.

Hal ini kita paparkan untuk kita bisa menjauhi dan meninggalkannya, sebagaimana sahabat yang mulia Hudzaifah ibnul Yaman radhiallahu ‘anhu berkata, “Dahulu orang-orang bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang kebaikan. Adapun aku bertanya kepada beliau tentang kejelekan khawatir akan mengenai diriku.”

Di antara perkara yang harus kita jauhi adalah:

  1. Mengingkari keyakinan al-Qur’an kalamullah

 Telah kita singgung dalam edisi sebelumnya[1] bahwa akidah kita Ahlus Sunnah adalah meyakini al-Qur’an adalah kalamullah bukan makhluk. Kemudian muncullah bid’ah jahmiyah yang menyuarakan bahwa al-Qur’an adalah makhluk. Bahkan, pada masa al-Imam Ahmad hidup, penguasa ketika itu memaksakan kepada rakyatnya untuk menyatakan demikian.

Bid’ah Mu’tazilah ini terus bergulir di zaman kita ini seiring menyebarnya tokoh-tokoh mereka. Demikian juga di Indonesia, sebagai contoh tokoh-tokoh JIL terus menyerukan dan mempropagandakan pemikiran Mu’tazilah tersebut.[2]

 

  1. Istihza’ (memperolok) ayat-ayat Allah ‘azza wa jalla

Al-Qur’an adalah kalamullah yang harus diagungkan. Melecehkan dan memperolok al-Qur’an adalah satu bentuk kekufuran. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

Katakanlah (wahai Muhamad), “Apakah kepada Allah, kepada ayat-ayat dan rasul-Nya kalian mengolok-olok? Tidak ada uzur bagi kalian. Kalian telah kafir setelah keimanan kalian.” (at-Taubah: 66—65)

Asy-Syaikh Abdurahman as-Sa’di rahimahullah berkata, “Sesungguhnya mengolok-olok Allah ‘azza wa jalla, ayat, dan Rasul-Nya adalah kekufuran yang mengeluarkan dari Islam.…” (Tafsir as-Sa’di)

Di antara bentuk istihza’ kepada al-Qur’an,

  1. Menyebut satu ayat tertentu untuk bahan tertawaan atau membuat tertawa orang lain,
  2. Membawakan ayat Allah k dalam lagu-lagu dan semisalnya.
  3. Menggantungkan ayat-ayat Allah ‘azza wa jalla sebagai hiasan termasuk bentuk istihza’ (Liqa’ Bab al-Maftuh).

Di antara bentuk istihza adalah apa yang dilakukan Muhammad al-‘Arifi ketika dia mengucapkan beberapa kalimat kemudian dengan lancang dia sebut sebagai surat tuffah (apel). Alhamdulillah, ucapan kufurnya tersebut telah dibantah oleh asy-Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah.

 

  1. Tabarruk dengan al-Qur’an

Al-Qur’anul Karim diturunkan untuk dibaca, dipahami, dan diamalkan apa yang terkandung padanya; bukan untuk dicari berkah dengan lembaran kertas mushafnya.

Di antara kesalahan sebagian kaum muslimin adalah mencari berkah dengan lembaran-lembaran mushaf semata seperti:

  1. Mencelupkan beberapa lembaran mushaf ke dalam wadah air untuk mencari berkah dengan meminum airnya.
  2. Mencelupkan beberapa lembaran mushaf ke dalam wadah berisi air kemudian meminum airnya supaya bisa hafal al-Qur’an.

Di sebagian daerah Jawa Barat terdapat hari “Rebo wekasan” yang biasa dilakukan pada hari Rabu terakhir bulan Shafar. Mereka melakukan acara pada hari tersebut dengan mengaji meletakkan lembaran-lembaran ayat Kursi di wadah yang telah berisi air. Kemudian mereka membagikan air ini dengan keyakinan bisa menolak penyakit yang menyebar pada waktu tersebut.

Cara mencari berkah al-Qur’an yang benar dari Allah ialah dengan membacanya dan mengamalkannya.

  1. Menjadikan al-Qur’an sebagai tamimah

Tamimah adalah sesuatu yang digantungkan atau dipakaikan seseorang pada tubuhnya, anaknya, hewan tunggangannya, atau rumahnya dengan keyakinan untuk menolak bala. Rasulullah berkata, “Sesungguhnya ruqyah[3], tamimah[4], dan thiyarah[5] adalah perbuatan syirik.” (HR. Abu Dawud, sahih)

Apakah boleh membuat tamimah dari al-Qur’an?

Inilah pembahasan kita. Asy-Syaikh Abdurrahman bin Hasan Alu Syaikh telah menjawab bahwa tidak bolehnya membuat tamimah dari al-Qur’an dengan tiga alasan,

  1. Keumuman larangan menggantungkan tamimah dan tidak ada dalil khusus yang membolehkan.
  2. Dalam rangka menutup pintu kesyirikan.
  3. Jika dibolehkan tamimah dari al-Qur’an, tentu akan mengantarkan kepada perbuatan menghinakan al-Qur’an. (Fathul Majid Syarah Kitab Tauhid)

Asy-Syaikh Muhammad al-Wushabi rahimahullah menyampaikan bahwa tamimah yang terbuat dari al-Qur’an adalah bid’ah. (al-Qaulul Mufid fi Adilati at-Tauhid)

 

  1. Tathayur dengan al-Qur’an

Sebagaimana telah dibahas dalam edisi-edisi sebelumnya, tathayur adalah satu perbuatan syirik yang harus dijauhi oleh seorang muslim.

Sangat disayangkan, karena jauhnya sebagian muslimin hingga mereka mencari sebab kebaikan dengan cara apa pun. Salah satu yang mereka lakukan adalah bertatahyur dengan mushaf al-Qur’an. Di antara bentuk tathayur yang mereka lakukan adalah saat membuka lembaran mushaf dan terbuka ayat tentang surga, maka mereka menganggap ini tanda kebaikan. Namun, bila yang terbuka tentang neraka, maka ini adalah tanda kejelekan

 

  1. Mentahrif al-Qur’an

Di antara perkara yang dilakukan ahlul batil adalah men-tahrif kitabullah; yakni menyelewengkan makna ayat dari makna yang sebenarnya. Tahrif ada dua; tahrif lafdzi dan tahrif maknawi.

Tahrif lafdzi adalah mengubah makna ayat dari makna yang benar kepada makna yang batil disertai mengubah lafadznya. Sebagai contohnya adalah tahrif yang dilakukan pada ayat Allah ‘azza wa jalla,

“Ar-Rahman berada di atas arsy.” (Thaha: 5)

Inilah makna yang haq dari ayat ini. Muncullah ahlul ahwa memaknakan ayat ini dengan mengartikannya ‘menguasai Arsy’.

Ini adalah tahrif yang batil, menyelewengkan makna ayat dari makna sebenarnya. Kalau kita perhatikan, mereka mengartikan seperti ini setelah mengubah lafadz اسْتَوَى menjadi .اسْتَوْلَى

Adapun tahrif maknawi adalah mengubah makna ayat tanpa mengubah lafadznya. Misalnya, memaknai yad (tangan) sebagai kekuasaan.

 

  1. Membaca al-Qur’an di kuburan

Di antara perkara bid’ah yang banyak dilakukan kaum muslimin adalah membaca al-Qur’an di kuburan. Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata, “Membaca al-Qur’an di sisi kubur adalah bid’ah, baik yang dibaca itu al-Fatihah, al-Ikhlas, maupun Yasin. Seorang tidak sepatutnya membaca al-Qur’an di pekuburan. Dia cukup mengucapkan apa yang ada dalam sunnah,

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الدِّيَارِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُسْلِمِينَ، وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللهُ بِكُمْ لاَحِقُونَ، يَرْحَمُ اللهُ الْمُسْتَقْدِمِينَ مِنْكُمْ وَالْمُسْتَأْخِرِينَ، نَسْأَلُ اللهَ لَنَا وَلَكُمُ الْعَافِيَةَ، اللَّهُمَّ لاَ تَحْرِمْنَا أَجْرَهُمْ، وَ تَفْتِنَّا بَعْدَهُمْ، وَاغْفِرْ لَنَا وَلَهُمْ

“Semoga keselamatan atas kalian wahai para penghuni negeri (kubur) ini dari kalangan orang mukmin dan muslim. Kami insya Allah akan menyusul kalian. Semoga Allah merahmati yang terdahulu di antara kalian dan yang kemudian. Kami memohon kepada Allah keselamatan untuk diri kami dan kalian. Ya Allah, janganlah engkau haramkan pahala mereka bagi kami, janganlah engkau meimpakan musibah kepada kami sepeninggal mereka, ampunilah kami dan mereka.”

Kemudian pergi tanpa menambahnya dengan membaca surat tersebut ataupun yang lainnya. (Liqa’ Bab al-Maftuh)

 

  1. Menghinakan al-Qur’an

Di antara perkara yang harus dijauhi seorang muslim adalah menghinakan al-Qur’an. Kadang seorang muslim tidak tahu kalau perkara yang dilakukannya adalah bentuk menghinakan al-Qur’an.

Di bawah ini adalah perkara-perkara yang dihukumi oleh asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah sebagai bentuk menghinakan al-Qur’an,

  1. Memutar murotal di mobil, padahal speaker ada di bawah telapak kaki.
  2. Memutar murotal tetapi tersibukkan dengan yang lain.
  3. Menulis ayat kursi dan semisalnya di meja tempat bertelekan atau lembaran alas makanan. (Liqa’ Bab al-Maftuh)

 

  1. Menggantungkan mushaf atau lembaran mushaf di rumah

Ada pertanyaan kepada asy-Syaikh Muhamad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah, “Apa hukum menggantungkan al-Qur’an atau ayat al-Qur’an di rumah? Apakah termasuk tiwalah?”

Beliau rahimahullah menjawab, “Menggantungkan ayat al-Qur’an di rumah, kalau diniatkan mencari berkah, maka ini adalah bid’ah. Demikian pula kalau berniat ibadah dengannya, maka itu adalah bid’ah. Adapun kalau niatnya untuk mengingatkan, maka itu pun tak ada faedahnya, karena kadang ditulis di majelis dan orang yang duduk tahu ada tulisan di atas kepala mereka

“Janganlah sebagian kalian menggibahi yang lain.” (al-Hujurat: 12)

Namun, keadaan perbincangan mereka semuanya adalah ghibah. Ini adalah bentuk penghinaan kepada al-Qur’an, bahkan bisa masuk ke dalam memperolok ayat-ayat Allah ‘azza wa jalla.

Demikian salafus shalih adalah orang lebih semangat dari kita dalam memberikan peringatan dan mengingatkan. Namun mereka tidak melakukan hal yang demikian. (Liqa’ Bab al-Maftuh)

 

  1. Membakar al Qur’an

Membakar mushaf al-Qur’an kalau didasari kebencian kepadanya adalah satu bentuk kekufuran. Pernah dilontarkan satu pertanyaan kepada syaikh Ibnu Abdul Aziz bin Baz rahimahullah, “Apa balasan bagi seorang yang pernah membakar al-Qur’anul karim karena lupa dan tidak mengetahuinya kecuali setelah beberapa lama?”

Asy-Syaikh rahimahullah menjawab, “Tidak ada kewajiban apa pun atas dia jika melakukan karena lupa, seperti dia membakarnya dalam keadaan tidak tahu itu adalah al-Qur’an. Dia juga tidak berdosa jika membakar potongan (lembaran) mushaf yang tidak dimanfaatkan lagi agar tidak dihinakan. Sebab, al-Qur’an yang tercecer, robek, dan tidak dimanfaaatkan lagi, dibakar atau ditimbun di tempat yang baik hingga tidak dihinakan. Adapun jika membakar al-Qur’an karena ketidaksenangan, mencerca, dan membencinya, ini kemungkaran yang besar dan kemurtadan dari Islam.

Demikian pula kalau dia menduduki mushaf al-Qur’an, menginjaknya dengan kaki dalam rangka menghinakannya, melumurinya dengan najis, atau mencercanya dan mencerca orang yang berbicara dengannya, ini semua adalah kufur akbar dan kemurtadan dari Islam—kita berlindung kepada Allah ‘azza wa jalla darinya.” (Fatawa Nur Ala Darb asy-Syaikh Ibn Baz)

 

  1. Meninggalkan al-Qur’an

Di antara masalah yang ingin penulis ingatkan adalah jauhnya sebagian muslimin dari al-Qur’an; dari membaca, menelaah makna, dan mengamalkannya. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

“Wahai Rabku, sesungguhnya kaumku menjadikan al-Qur’an sebagai sesuatu yang ditinggalkan.” (al-Furqan: 30)

Ibnul Qayyim rahimahullah menyebutkan beberapa perkara yang dimasukkan sebagai bentuk hajr al-Qur’an.

  1. Meninggalkan iman kepada-Nya, tidak mendengar, dan memerhatikannya
  2. Meninggalkan amal dengannya serta tidak mengikuti apa yang dihalalkan dan diharamkannya, walaupun membacadan mengimaninya.
  3. Tidak berhukum dengannya dalam perkara ushuluddin dan furu’-nya.
  4. Tidak mentadaburinya untuk mengetahui maksud yang mengucapkannya.
  5. Tidak berobat dengannya untuk mengobati seluruh penyakit hati. Dia justru mencari obat selain al-Qur’an dan tidak berobat dengannya.

Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan bahwa semua hal ini termasuk makna surat al-Furqan ayat 30 (yang telah kami sebutkan di atas, -ed) walaupun sebagiannya lebih ringan dibandingkan dengan yang lain. (al-Fawaid)

Mudah-mudahan Allah ‘azza wa jalla memberikan taufik kepada kita untuk membaca, memahami, dan mengamalkan al-Qur’anul Karim.

Wallahul Muwaffiq.


[1] Lihat rubrik “Akidah” Majalah Asy Syariah edisi 93.

[2] Tentang kelompok JIL dan faham sesat mereka silahkan lihat Majalah Asy Syariah edisi 09. Bisa dibaca pula di www.asysyariah.com.

[3] Ruqyah adalah doa dan bacaan-bacaan yang mengandung permintaan tolong dan perlindungan kepada Allahluntuk mencegah atau mengangkat bala/penyakit. (-red.)

[4] Tamimah adalah sesuatu yang digantungkan pada seorang anak untuk menolak ‘ain atau musibah. (-red.)

[5] Thiyarah atau tathayur ialah beranggapan sial dengan waktu tertentu, tempat tertentu, atau sesuatu yang dilihat, didengar, atau diketahui. (-red.)

Golongan yang Menyimpang dalam Iman Kepada Kitab

Al-Ustadz Abu Ismail Muhammad Rijal, Lc

jalan

Iblis tidak pernah menghentikan makarnya, menyesatkan manusia dari jalan Allah ‘azza wa jalla. Segala upaya dia lakukan agar manusia berpaling dari agama Allah ‘azza wa jalla, berpaling dari kitab-kitab Allah ‘azza wa jalla.

Terjatuhlah manusia dalam kesesatan. Sungguh, tidak sedikit manusia mendustakan firman Allah ‘azza wa jalla secara keseluruhan atau parsial, bukan hanya dari kalangan non-Islam, kelompok-kelompok yang menisbatkan dirinya kepada Islam pun banyak di antara mereka terjerumus pada penyimpangan-penyimpangan dalam masalah iman kepada kitab-kitab Allah ‘azza wa jalla.

 

Ahlul Kitab, Yahudi, dan Nasrani

Mereka adalah kaum yang mendustakan kitab-kitab Allah ‘azza wa jalla yang ada di tengah mereka. Taurat dan Injil mereka ubah, mereka tambahi, mereka kurangi dan mereka sembunyikan al-haq atau mereka campur antara yang haq dan yang batil.

Demikian perlakuan ahlul kitab terhadap Taurat dan Injil sebagaimana telah kita baca ayat-ayat al-Qur’an yang mengabarkan sifat mereka yang sangat tercela, menodai kehormatan Taurat dan Injil dengan mengubah keduanya.

Adapun terhadap al-Qur’an, mereka mendustakannya walaupun sesungguhnya mereka dalam keadaan yakin akan kebenaran a-Qur’an.

Dahulu, sebelum diutusnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ahlu kitab selalu menyebut-nyebut kedatangan rasul yang terakhir, bahkan mereka mengatakan itu di hadapan Aus dan Khazraj. Namun, setelah datang kepada mereka al-Qur’an, mereka kafir sebagaimana Allah ‘azza wa jalla kabarkan dalam firman-Nya,

“Dan setelah datang kepada mereka al-Qur’an dari Allah ‘azza wa jalla yang membenarkan apa yang ada pada mereka, padahal sebelumnya mereka biasa memohon (kedatangan Nabi) untuk mendapat kemenangan atas orang-orang kafir, maka setelah datang kepada mereka apa yang telah mereka ketahui, mereka lalu ingkar kepadanya. Maka laknat Allah-lah atas orang-orang yangingkar itu.” (al-Baqarah: 89)

 

Tarekat Tijaniyyah

Tijaniyyah adalah salah satu tarekat sufi yang dinisbatkan kepada pendirinya; Ahmad al-Tijani yang dilahirkan tahun 1150 H (1737 M) di salah satu perkampungan di Aljazair. Tarekat Tijaniyyah sebagai salah satu dari ratusan tarekat sufi sesungguhnya memiliki penyimpangan baik dalam masalah, akidah, ibadah, maupun muamalah. Di antaranya penyimpangan dalam keyakinan mereka terhadap al-Qur’an.

Tijaniyah meyakini bahwa di antara zikir-zikir atau wirid-wirid mereka lebih utama dari al-Qur’an. Tijaniyah memiliki shalawat khusus untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mereka sebut sebagai shalawat Fatih.

Shalawat Fatih cukup populer pula diamalkan di sebagian kalangan di tanah air. Lafadz shalawat ini adalah sbb:

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْفَاتِحِ لِمَا اُغْلِقَ وَالْخَاتِمِ لِمَا سَبَقَ نَاصِرِالْحَقِّ بِالْحَقِّ وَالْهَادِى اِلى صِرَاطِك الْمُسْتَقِيْم وَعَلى الِهِ حَقَّ قَدْرِهِ وَمِقْدَارِهِ الْعَظِيْمِ.

Ya Allah, limpahkanlah rahmat, keselamatan, dan keberkahan kepada junjungan kami, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang membuka segala sesuatu yang tertutup, yang menutup sesuatu yang terdahulu, yang menolong kebenaran dengan kebenaran, yang memberikan petunjuk pada jalan-Mu yang lurus. Semoga Allah ‘azza wa jalla memberikan rahmat kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarganya, dan para sahabatnya dengan kekuasaan dan ukuran Allah Yang Mahaagung

Sang pendiri, Ahmad at-Tijani berkata, “Barang siapa membaca shalawat Fatih sekali lebih afdal daripada mengkhatamkan al-Qur’an 6.000 kali.”

Dengan nama Allah, adakah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan shalawat ini? Dari mana kalian mengetahui shalawat bid’ah ini memiliki keutamaan seperti seorang khatam al-Qur’an 6.000 kali? Ucapan at-Tijani tidak lain adalah kedustaan, mensyariatkan apa yang tidak rasul syariatkan.

Coba bandingkan dengan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau pernah mengabarkan bahwa surat al-Ikhlas setara dengan sepertiga al-Qur’an. Beliau bersabda,

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، إِنَّهَا لَتَعْدِلُ ثُلُثَ الْقُرْآنِ

“Demi Dzat Yang Jiwaku di Tangan-Nya, sungguh surat al-Ikhlas sebanding dengan sepertiga al-Qur’an.” (HR. al-Bukhari dari Abu Sa’id al-Khudri radhiallahu ‘anhu no. 5014)

Surat al-Ikhlas adalah kalam Allah ‘azza wa jalla, dan dalam hadits di atas beliau bersumpah bahwa al-Ikhlas sebanding dengan sepertiga al-Qur’an.

Bandingkan sabda Rasulullah dengan ucapan mereka bahwa shalawat Fatih senilai dengan 6.000 khatam al-Qur’an. Luar biasa! Betapa “hebat” sang pendiri tarekat! Dengan mudah membuat kalimat-kalimat yang lebih besar pahalanya dibanding surat al-Ikhlas yang merupakan kalam Allah ‘azza wa jalla, yang nabi saja tidak mengucapkannya dan tidak diamalkan para sahabat nabi.

Betapa beraninya Ahmad at-Tijani berbicara perkara gaib, berbicara tentang pahala di sisi Allah ‘azza wa jalla tanpa ilmu dan sandaran.

Demikianlah ketika seorang sudah berkeyakinan adanya bid’ah hasanah, setiap orang bebas membuat dan berkreasi dalam syariat ini semaunya yang penting baik menurut akalnya, otaknya, kelompoknya, akibatnya: Islam akan berubah! Allahul musta’an.

 

Kaum Sufi Ekstrem

Orang-orang sufi ekstrem adalah model kesekian dari manusia-manusia yang mengingkari kitab-kitab Allah ‘azza wa jalla. Sisi penyimpangan mereka, mereka mengaku memiliki ilmu yang dikatakan dengan “ilmu Laduni”.

Ilmu Laduni di kalangan sufi adalah sumber syariat. Ilmu Laduni menurut mereka adalah wahyu yang mereka dapatkan langsung dari Allah ‘azza wa jalla. Dengan dalih ilmu laduni itulah kaum sufi dengan seenaknya membuat syariat, dan mereka sandarkan kepada Allah ‘azza wa jalla, yakni mereka menerima langsung dari Allah ‘azza wa jalla.

Sungguh para sahabat, bersepakat bahwa wahyu Allah ‘azza wa jalla telah terputus dengan wafatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, wahyu terputus dan Islam telah sempurna.

Kaum sufi ekstrem tidak menjadikan al-Qur’an dan as-Sunnah sebagai satu-satunya sumber pengambilan ilmu, sumber akidah. Mereka juga menjadikan ilmu Laduni sebagai sumber syariat, demikian pula mimpi-mimpi. Bahkan, menurut mereka seorang bisa bebas dari ikatan syariat, tidak lagi terikat dengan al-Kitab dan as-Sunnah.

 

Syiah Rafidhah

Penyimpangan Syiah Rafidhah dari jalan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam demikian banyak, sehingga siapa saja yang mau melihat penyimpangan Syiah Rafidhah dengan timbangan al-Qur’an dan as-Sunnah akan tampak dengan terang bahwa mereka bukanlah bagian dari kaum muslimin.

Ya, Syiah Rafidhah pada hakikatnya adalah agama tersendiri yang dibangun di atas kekufuran kepada Allah ‘azza wa jalla. Mereka telah menghancurkan segala sendi-sendi Islam termasuk dalam masalah iman kepada kitab, mereka telah menyimpang dari jalan kaum muslimin.

Di antara penyimpangan tersebut: Mereka meyakini bahwa al-Qur’an yang berada di tengah kaum muslimin, yang dibaca dan dihafalkan selama ini, bukan al-Qur’an yang Allah ‘azza wa jalla turunkan, tidak sesuai dengan aslinya dan telah diubah oleh para sahabat.

Al-Qur’an yang sesungguhnya akan dikeluarkan nanti di akhir zaman, dan saat ini dibawa Imam Mahdi mereka yang bersembunyi di dalam Sirdab Samura’.

Dengan lancangnya mereka meyakini bahwa para sahabat telah mengubah al-Qur’an. Al-Qur’an yang ada sekarang ini bukan lagi wahyu Allah ‘azza wa jalla yang diturunkan, namun ayat-ayat yang telah didustakan, ditambah dan dikurangi. Di sisi mereka al-Qur’an tidak bisa dijadikan sebagai hujah dan pegangan, al-Qur’an bukan lagi kitab hidayah, mereka pun dengan seenaknya mempermainkan al-Qur’an.

Menurut mereka, al-Qur’an yang benar adalah al-Qur’an Fathimah yang disimpan oleh Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu, padahal sahabat Ali sendiri tidak pernah mengatakan beliau menyimpannya. Keyakinan ini bukan sekadar tuduhan kepada Syiah Rafidhah. Namun keyakinan ini tertulis jelas dalam kitab-kitab induk syiah Rafidhah.

Dalam kitab al-Kafi, Abu Ja’far Muhammad bin Ya’qub al-Kulaini meriwayatkan bahwasanya Abu Abdullah Ja’far ash-Shadiq berkata, “Sesungguhnya al-Qur’an yang dibawa Jibril kepada Muhammad (ada) 17.000 ayat.” (al-Kafi [2/634])

Dari Abu Abdillah ia berkata, “… Sesungguhnya di sisi kami ada mushaf Fathimah ‘alaihassalam. Mereka tidak tahu apa mushaf Fathimah itu. Abu Bashir berkata, ‘Apa mushaf Fathimah itu?’ Ia (Abu Abdillah) berkata, ‘Mushaf tiga kali lipat dari apa yang terdapat di dalam mushaf kalian. Demi Allah, tidak ada padanya satu huruf pun dari al-Qur’an kalian…’.” ( al-Kafi [1/239—240] dinukil dari kitab asy-Syi’ah wal-Qur’an, hlm. 31—32, karya Ihsan Ilahi Zhahir)

Bahkan orang yang mereka anggap sebagai ahli hadits, Husain bin Muhammad at-Taqi an-Nuri ath-Thabrisi menyempurnakan kekafiran kaum syiah Rafidhah dengan menulis sebuah kitab berjudul Fashlul Khithab fii Itsbati Tahrifi Kitabi Rabbil Arbab. Kitab yang dikarangnya pada tahun 1292 H mengumpulkan sekian banyak riwayat dari para imam mereka yang maksum (menurut mereka), yang menetapkan bahwa al-Qur’an yang ada ini telah mengalami perubahan dan penyimpangan.

Betapa kafir dan dungunya mereka, sungguh seorang yang masih memiliki sedikit akal, akan menyimpulkan bahwa apa yang mereka ucapkan ini sesungguhnya justru celaan dan tikaman kepada Ali bin Abi Thalib, ahlul bait, dan bahkan celaan kepada Allah ‘azza wa jalla.

Celaan kepada Ali karena secara langsung atau tidak langsung mereka telah menuduh Ali telah berkhianat kepada umat dengan menyembunyikan al-Qur’an yang benar.

Wahai Syiah Rafidhah, bukankah Ali bin Abi Thalib ketika itu menjadi khalifah? Kenapa Ali takut kepada manusia untuk menampakkan al-haq? Demikian pula al-Hasan, al-Husain tidak menampakkan al-Qur’an yang benar menurut versi kalian?

Kalian juga telah mencela Allah ‘azza wa jalla karena makna ucapan kalian bahwa al- Qur’an yang ada sekarang bukan wahyu yang Allah ‘azza wa jalla turunkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Seakan-akan kalian berkata bahwa Allah berdusta, tidak memenuhi janjinya untuk menjaga al- Qur’an, lemah tidak bisa menghadapi manusia yang mengubah-ubah al-Qur’an, dan membiarkan manusia selama 1.435 tahun dalam kesesatan tidak mengerti kitab mereka. Wahai Syiah Rafidhah, tidakkah kalian berakal?

Wahai Rafidhah, di mana al-Qur’an Fathimah yang kalian sangkakan itu? Empat belas abad berlalu disembunyikan oleh ahlul bait? Bukankah mereka maksum (terbebas dari dosa) menurut kalian? Apakah menyembunyikan al-Qur’an bukan kesalahan mereka yang sangat besar? Menyembunyikan al-Qur’an artinya membiarkan manusia dalam kesesatan, tidak punya pegangan hidup.

Mana Imam Mahdi kalian yang bersembunyi di Sirdab, apakah ia tidak berani keluar untuk segera menyampaikan al-Qur’an Fathimah itu setelah berabadabad manusia dalam ketidaktahuan terhadap kitab Rabb mereka? Bukankah sekarang kalian sudah punya Negara Iran dengan nuklirnya yang bisa melindungi al-Mahdi kalian? Sungguh, ini celaan kalian kepada sahabat Ali bin Abi Thalib, al-Hasan, al-Husain, serta ahlul bait! Bahkan celaan kepada Allah ‘azza wa jalla.

Mereka, orang-orang Syiah juga tersesat dalam metode penafsiran al-Qur’an Mereka tafsirkan seenak mereka dengan penafsiran Bathiniyyah.

Demikian beberapa kelompok yang tersesat dalam masalah iman kepada kitab. Semoga Allah ‘azza wa jalla tampakkan kepada kita yang benar sebagai perkara yang benar dan Allah ‘azza wa jalla beri kita kemampuan untuk mengikutinya, dan semoga Allah ‘azza wa jalla tampakkan kepada kita yang batil sebagai perkara yang batil dan Allah ‘azza wa jalla mudahkan kita meninggalkannya. Amin.

وَصَلَّى اللهُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ وَالْحَمْدُ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Pokok-pokok Keimanan Kepada Kitab

Al-Ustadz Abu Ismail Muhammad Rijal, Lc

lili

Iman kepada kitab-kitab Allah ‘azza wa jalla tentu bukan sekadar mengatakan, “Saya telah mengimani kitab-kitab-Nya.”

Sebuah hadits sangat penting kita ingatkan di awal kajian ini, yaitu sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada sahabat Abu Ruqayyah Tamim ad-Dari radhiallahu ‘anhu, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الدِّينُ النَّصِيحَةُ (ثَلَاثًا). قُلنَا: لِمَنْ يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُولِهِ وَلِأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ وَعَامَّتِهِمْ

“Agama itu adalah nasihat, agama itu adalah nasihat, agama itu adalah nasihat.” Kami (sahabat) bertanya, “Untuk siapa?” Beliau bersabda, “Untuk Allah, kitab-Nya, rasul-Nya, pemimpinpemimpin umat Islam, dan untuk seluruh muslimin.” (HR . Muslim)

Hadits ini menunjukkan bahwa manusia memiliki kewajiban yang sangat besar terhadap kitab Allah ‘azza wa jalla. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan bahwasanya agama adalah nasihat (ketulusan dan kemurnian dalam menunaikan hak), di antaranya ketulusan dan kemurnian dalam menunaikan hak-hak kitab Allah ‘azza wa jalla.

Pembaca rahimakumullah, iman kepada kitab-kitab Allah ‘azza wa jalla mengandung beberapa perkara yang wajib diyakini dan diamalkan sebagaimana ditunjukkan dalam nash-nash al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Di antara perkara yang harus kita imani dan kita amalkan sebagai bukti keimanan kepada kitab-kitab Allah ‘azza wa jalla adalah sebagai berikut.

 

Pertama: Meyakini dengan pasti tanpa sedikit pun keraguan bahwa kitab-kitab Allah ‘azza wa jalla semuanya turun dari sisi Allah ‘azza wa jalla.

“Wahai orang-orang yang beriman, berimanlah kalian kepada Allah, Rasul-Nya, kitab yang telah diturunkan kepada Rasul-Nya dan kitab yang telah diturunkan sebelumnya. Barang siapa ingkar terhadap Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya, dan hari akhir maka dia telah tersesat dalam kesesatan yang jauh.” (an-Nisa’: 136)

Allah ‘azza wa jalla juga berfirman, “Dia menurunkan al-Kitab (al-Qur’an) kepadamu dengan sebenarnya; membenarkan kitab yang telah diturunkan sebelumnya, serta menurunkan Taurat dan Injil.” (Ali ‘Imran: 3)

 

Kedua: Meyakini nama-nama kitab yang Allah ‘azza wa jalla telah kabarkan kepada kita, seperti al-Qur’an yang Allah ‘azza wa jalla turunkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, at-Taurat kepada Nabi Musa ‘alaihissalam,  al-Injil kepada Nabi Isa bin Maryam ‘alaihissalam, az-Zabur kepada Nabi Dawud ‘alaihissalam, demikian pula shuhuf Ibrahim dan shuhuf Musa.

Adapun kitab-kitab yang tidak Allah ‘azza wa jalla sebutkan, kita mengimaninya secara global bahwa Allah ‘azza wa jalla telah menurunkan kitab-kitab-Nya kepada para nabi dan rasul sebagaimana Allah ‘azza wa jalla kabarkan,

“Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka al-Kitab dan neraca (keadilan).” (al-Hadid: 25)

Allah ‘azza wa jalla juga berfirman, “Manusia itu adalah umat yang satu.[1] (Setelah timbul perselisihan), maka Allah ‘azza wa jalla mengutus para nabi sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan, dan Allah ‘azza wa jalla menurunkan bersama mereka kitab dengan benar, untuk memberi keputusan di antara manusia dalam perkara yang mereka perselisihkan.” (al-Baqarah: 213)

 

Ketiga: Meyakini bahwa kitab-kitab tersebut, adalah kalam (firman) Allah ‘azza wa jalla, bukan mahluk.[2]

Artinya, kita meyakini bahwa Allah ‘azza wa jalla berbicara (berfirman) secara hakiki sesuai dengan kehendak-Nya. Ya, Allah ‘azza wa jalla berfirman sesuai dengan kehendak-Nya, kapan Allah ‘azza wa jalla berbicara (berfirman), kepada siapa Allah ‘azza wa jalla berfirman, dan dengan bahasa apa Allah ‘azza wa jalla berfirman, dengan perantara atau tidak dengan perantara, semua itu kembali kepada masyi’ah (kehendak Allah ‘azza wa jalla).

Allah ‘azza wa jalla berfirman, “Dan tidak ada bagi seorang manusia pun bahwa Allah ‘azza wa jalla berkata-kata dengan dia kecuali dengan perantaraan wahyu, di belakang tabir, atau dengan mengutus seorang utusan (malaikat) lalu diwahyukan kepadanya dengan seizin-Nya apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Mahatinggi lagi Mahabijaksana.” (asy-Syura: 51)

Allah ‘azza wa jalla telah berkehendak menurunkan kalam-Nya berupa at-Taurat kepada Musa ‘alaihissalam tidak kepada yang lainnya, demikian pula Allah ‘azza wa jalla telah berkehendak menurunkan Kalam-Nya kepada Isa berupa Injil, tidak kepada yang lainnya dengan bahasa yang Allah ‘azza wa jalla kehendaki.

Sebagaimana Allah ‘azza wa jalla telah menghendaki menurunkan al-Qur’an kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan bahasa Arab dalam kurun 23 tahun.

“Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa al-Qur’an dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya.” (Yusuf: 2)

“Dan demikianlah Kami menurunkan al-Qur’an dalam bahasa Arab, dan Kami telah menerangkan dengan berulang kali di dalamnya sebagian dari ancaman, agar mereka bertakwa atau (agar) al-Qur’an itu menimbulkan pengajaran bagi mereka.” (Thaha: 113)

Allah ‘azza wa jalla berfirman, yang firman-Nya didengar oleh Jibril ‘alaihissalam, kemudian Jibril sampaikan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam seperti apa yang dia dengar dari Allah ‘azza wa jalla kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sampaikan kepada umatnya seperti apa yang beliau dengar dari Jibril, demikianlah wahyu dan itulah kalam Allah ‘azza wa jalla.

Al-Qur’an adalah kalam Allah ‘azza wa jalla, baik yang tertulis dalam mushaf, dihafalkan dalam dada, dilafadzkan dengan lisan, direkam dalam kaset-kaset, maupun diperdengarkan dalam siaran-siaran radio, semua itu kalam Allah ‘azza wa jalla bukan perkataan Jibril bukan pula perkataan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam seperti dalam firman-Nya,

“Dan jika seorang di antara orang-orang musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar kalam (firman) Allah, kemudian antarkanlah ia ke tempat yang aman baginya. Demikian itu disebabkan mereka kaum yang tidak mengetahui.” (at-Taubah: 6)

Bahkan, Allah ‘azza wa jalla mengancam neraka Saqar bagi mereka yang mengatakan bahwa al-Qur’an bukan ucapan Allah ‘azza wa jalla, Allah ‘azza wa jalla akan siksa mereka yang mengatakan al-Qur’an hanyalah ucapan manusia, Allah ‘azza wa jalla berfirman,

Lalu dia berkata, “(Al-Qur’an) ini tidak lain hanyalah sihir yang dipelajari (dari orang-orang dahulu), ini tidak lain hanyalah perkataan manusia.” Aku akan memasukkannya ke dalam (neraka) Saqar. (al-Muddatstsir: 24—26)

 

Keempat: Beriman bahwa seluruh kitab Allah ‘azza wa jalla inti kandungannya adalah menyeru kepada tauhid, mengajak manusia agar beribadah hanya kepada Allah ‘azza wa jalla semata, serta mengingkari segala bentuk kesyirikan dan segala bentuk peribadatan kepada selain Allah ‘azza wa jalla.

Allah ‘azza wa jalla berfirman, Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan), “Sembahlah Allah ‘azza wa jalla (saja), dan jauhilah Thaghut itu!” (an-Nahl: 36)

Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu, “Jika kamu mempersekutukan (Rabb), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.” (az-Zumar: 65)

Katakanlah (hai Muhammad), “Telah diwahyukan kepadaku bahwasanya: sekumpulan jin telah mendengarkan (al-Qur’an), lalu mereka berkata, ‘Sesungguhnya kami telah mendengarkan al-Qur’an yang menakjubkan, (yang) memberi petunjuk kepada jalan yang benar, lalu kami beriman kepadanya. Dan kami sekali-kali tidak akan mempersekutukan seorang pun dengan Rabb kami’.” (Jin: 1—2)

 

Kelima: Beriman bahwasanya seluruh kitab Allah ‘azza wa jalla, di samping mengajarkan pokok yang sama yaitu tauhid, juga berisi hukum-hukum ibadah seperti shalat, zakat, puasa, dan jenis ibadah lainnya. Meskipun tentunya ada perbedaan dari sisi tata caranya sesuai dengan zaman dan keadaan kaum yang diturunkan kepada mereka kitab-kitab tersebut.

Allah ‘azza wa jalla berfirman, “Dan Kami telah memberikan kepadanya (Ibrahim) Ishaq dan Ya’kub, sebagai suatu anugerah (dari Kami). Dan masing-masing Kami jadikan orangorang yang saleh. Kami telah menjadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami dan telah Kami wahyukan kepada mereka mengerjakan kebajikan, menegakkan shalat, menunaikan zakat, dan hanya kepada Kami lah mereka selalu menyembah.” (al-Anbiya: 72—73)

Berkata Isa, “Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku al-Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi. Dan Dia menjadikan aku memiliki berkah di manapun aku berada dan memerintahku (mendirikan) shalat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup.” (Maryam: 30-31)

Dua ayat di atas menunjukkan bahwa shalat dan zakat termasuk ajaran nabi-nabi terdahulu. Demikian pula puasa sebagaimana ditunjukkan dalam firman Allah ‘azza wa jalla,

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orangorang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (al-Baqarah: 183)

 

Keenam: Beriman bahwa seluruh kitab Allah ‘azza wa jalla menyeru kepada keadilan, kebaikan, dan akhlak-akhlak mulia, serta mengajak manusia untuk mengikuti kebaikan, petunjuk, dan cahaya.

“Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka al-Kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan.(al-Hadid: 25)

 

Ketujuh: Mengamalkan semua hukum yang belum dihapuskan dalam kitab-kitab Allah ‘azza wa jalla, dengan penuh keridhaan dan penuh ketundukan, sama saja apakah kita mengetahui hikmahnya atau tidak mengetahui hikmahnya. Wajib bagi seluruh manusia hingga akhir zaman mengamalkan semua yang diwahyukan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam al-Qur’an berupa hukum-hukum, jika hukum tersebut selama belum dihapus.

Tentang ayat-ayat yang telah Allah ‘azza wa jalla hapus hukumnya, Allah ‘azza wa jalla mendatangkan yang serupa atau yang lebih baik dari sebelumnya.

 “Ayat mana saja yang Kami nasakhkan, atau Kami jadikan lupa kepadanya, Kami datangkan yang lebih baik daripadanya atau yang sebanding dengannya. Tiadakah kamu mengetahui bahwa sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu?” (al-Baqarah: 106)

Terkait dengan kitab-kitab terdahulu seperti at-Taurat dan Injil, hukum-hukum Allah ‘azza wa jalla pada kitab-kitab tersebut telah dihapus dengan turunnya al-Qur’an, di samping kitab Taurat dan Injil yang ada bercampur dengan buatan manusia, maka tidak seorang pun diperkenankan untuk beribadah kepada Allah ‘azza wa jalla setelah diturunkannya al-Qur’an melainkan dengan petunjuk al-Qur’an.

Allah ‘azza wa jalla berfirman menyeru Ahlul Kitab untuk beriman kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengikuti al-Qur’an yang beliau bawa. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

“Wahai ahli kitab, telah datang kepada kalian rasul Kami yang menjelaskan kepada kalian kebanyakan dari apa yang kalian sembunyikan dari isi kitab dan Dia mengampuni kebanyakannya,  telah datang kepada kalian dari Allah ‘azza wa jalla sebuah cahaya dan kitab yang jelas, dengannya Allah ‘azza wa jalla menunjuki siapa pun yang mengikuti keridhaan-Nya kepada jalan-jalan keselamatan dan mengeluarkan mereka dari kegelapan (kesesatan) kepada cahaya (petunjuk) dengan izin dari-Nya, juga menunjuki kepada jalan yang lurus.” (al-Maidah: 15—16)

Suatu saat, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu membawa beberapa lembar dari kitab-kitab terdahulu maka beliau pun bersabda,

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَوْ أَنَّ مُوسَى صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ حَيًّا مَا وَسِعَهُ إِلَّا أَنْ يَتَّبِعَنِي

“Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, seandainya Musa ‘alaihissalam masih hidup niscaya tidak diperkenankan baginya melainkan dia harus mengikutiku.” (HR . Ahmad, dinyatakan sahih oleh al-Albani dalam al-Irwa no. 1589)

Hadits ini diriwayatkan dari sahabat Jabir bin Abdillah radhiallahu ‘anhu, dan akan datang pembahasan khusus tentang hadits ini dalam pembahasan hukum menelaah kitab-kitab terdahulu pada rubrik “Hadits”, insya Allah.

Walhasil, kewajiban manusia terkait dengan mengamalkan hukum-hukum yang ada dalam kitab-kitab Allah ‘azza wa jalla adalah wajib beramal dengan hukum-hukum yang ditetapkan oleh al-Qur’an.

 

Kedelapan: Membenarkan setiap berita yang terdapat pada kitab-kitab Allah ‘azza wa jalla.

Semua berita dalam al-Qur’an wajib bagi manusia membenarkannya baik terkait dengan perkara gaib yang telah lalu maupun yang akan datang.

Adapun berita-berita yang berada dalam kitab-kitab sebelum al-Qur’an seperti Taurat dan Injil, karena kedua kitab ini telah diubah oleh tangan manusia sehingga bercampur antara yang haq dan batil, maka di hadapan kita ada tiga jenis berita:

  1. Jika berita tersebut dibenarkan oleh al-Qur’an, kita pun membenarkan.
  2. Apabila berita tersebut didustakan al-Qur’an maka kita dustakan, seperti berita bahwa Nabi Isa ‘alaihissalam telah meninggal disalib dalam keadaan berbaju sangat minim, terhinakan di hadapan manusia. Berita ini kita pastikan kedustaannya, karena Allah ‘azza wa jalla telah mendustakan keyakinan kaum Nasrani dalam masalah ini.

Dan karena ucapan mereka, “Sesungguhnya Kami telah membunuh al-Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah,” padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka. Mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa. Tetapi (yang sebenarnya), Allah ‘azza wa jalla telah mengangkat Isa kepada-Nya. Dan adalah Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. (an-Nisa: 157—158)

  1. Berita-berita yang tidak ada pembenaran atau pendustaan dari al-Qur’an dan as-Sunnah kita tidak memberikan komentar terhadapnya, karena bisa jadi berita itu benar atau termasuk dari berita yang telah dimanipulasi oleh ahlul kitab.

Wallahu a’lam.


[1] Awalnya, manusia seluruhnya berada di atas Islam, di atas agama tauhid seperti bapak mereka, Adam. Namun kemudian muncullah kesyirikan kerusakan terbesar di muka bumi. Maka Allah ‘azza wa jalla utus para nabi dan rasul dengan seruan yang sama menegakkan tauhid dan memerangi kesyirikan.

[2] Berbeda dengan jalan orang-orang Mu’tazilah dan yang sependapat dengan mereka bahwa al-Qur’an adalahmakhluk.

Urgensi Iman Kepada Kitab-kitab Allah

Al-Ustadz Abu Ismail Muhammad Rijal, Lc.

Al_Quran_by_durooob

Mengimani kitab-kitab Allah ‘azza wa jalla adalah perkara yang sangat pokok dalam kehidupan. Betapa celakanya seorang hamba ketika tidak beriman dan tidak berpegang teguh dengan kitab-kitab Allah ‘azza wa jalla, lebih-lebih al-Qur’an sebagai kitab terakhir yang menasakh (menghapus) kitab-kitab sebelumnya.

Saudaraku fillah, iman kepada kitab demikian penting. Sangat banyak sisi yang menunjukkan betapa urgennya iman kepada kitab-kitab Allah ‘azza wa jalla sebagaimana ditunjukkan dalam banyak ayat al-Qur’an dan hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, di antaranya sebagai berikut.

 

Pertama: Iman kepada kitab-kitab Allah ‘azza wa jalla merupakan salah satu rukun iman.

Dalilnya adalah hadits Jibril ‘alaihissalam yang masyhur. Beliau datang kepada Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dan bertanya tentang iman, kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَنْ تُؤْمِنَ بِالَّهلِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ

“Hendaklah engkau beriman kepada Allah, beriman kepada para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para utusan-Nya, hari akhir, dan hendaklah engkau beriman kepada takdir yang baik dan yang buruk.”

Dalam surat an-Nisa, Allah ‘azza wa jalla berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya, dan kepada kitab yang Allah ‘azza wa jalla turunkan kepada Rasul-Nya, serta kitab yang Allah ‘azza wa jalla turunkan sebelumnya. Barang siapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya.” (an-Nisa’: 136)

Iman adalah pokok kebajikan, tanpa iman tidak ada kebajikan pada seseorang, Allah ‘azza wa jalla berfirman, “Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitabkitab, nabi-nabi, dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan salat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.” (al-Baqarah: 177)

 

Kedua: Iman kepada kitab-kitab Allah ‘azza wa jalla adalah sifat para nabi dan rasul serta pengikut mereka, kaum mukminin.

Ini di antara sisi yang menunjukkan betapa pentingnya iman kepada kitab. Perhatikan firman Allah ‘azza wa jalla berikut.

Rasul telah beriman kepada al-Qur’an yang diturunkan kepadanya dari Rabbnya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan), “Kami tidak membeda-bedakan antara seorang pun (dengan yang lain) dari rasul rasul-Nya”, dan mereka mengatakan, “Kami dengar dan kami taat.” (Mereka berdoa), “Ampunilah kami, wahai Rabb kami, dan kepada Engkaulah tempat kembali.” (al-Baqarah: 285)

Sifat ini tampak dalam kehidupan ar-Rasul dan kaum mukminin. Semangat mereka membaca, mentadabburi dan mengamalkan al-Qur’an. Bahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu mengingatkan umat akan pokok ini dalam zikir-zikir beliau, seperti doa sebelum tidur berikut ini.

اللَّهُمَّ أَسْلَمْتُ وَجْهِي إِلَيْكَ وَفَوَّضْتُ أَمْرِي إِلَيْكَ وَأَلْجَأْتُ ظَهْرِي إِلَيْكَ رَغْبَةً وَرَهْبَةً إِلَيْكَ، لَا مَلْجَأَ وَلَا مَنْجَا مِنْكَ إِلَّا إِلَيْكَ اللَّهُمَّ آمَنْتُ بِكِتَابِكَ الَّذِي أَنْزَلْتَ وَبِنَبِيِّكَ الَّذِي أَرْسَلْتَ

“Ya Allah, aku tundukkan wajahku kepada-Mu, dan aku serahkan segala urusanku kepada-Mu, aku sandarkan punggungku kepada-Mu, dengan penuh harap dan rasa takut kepada-Mu, Tidak ada tempat kembali dan tempat keselamatan dari kemurkaan-Mu kecuali dengan mendekat kepada-Mu. Aku beriman dengan kitab-Mu yang Engkau turunkan dan aku beriman dengan Nabi-Mu yang Engkau utus.”(HR . al-Bukhari)[1]

 

Ketiga: Allah ‘azza wa jalla memuji para rasul yang telah menyampaikan risalah-risalah (kitab) Allah ‘azza wa jalla, dan tidak menyembunyikan satu huruf pun.

Pujian tersebut menunjukkan betapa pentingnya iman kepada kitab-kitab Allah ‘azza wa jalla dan kemuliaan menyampaikan risalah Allah ‘azza wa jalla kepada manusia. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

“Tidak ada suatu keberatan pun atas Nabi tentang apa yang telah ditetapkan Allah ‘azza wa jalla baginya. (Allah ‘azza wa jalla telah menetapkan yang demikian) sebagai sunnah-Nya pada nabi-nabi yang telah berlalu dahulu. Dan adalah ketetapan Allah ‘azza wa jalla itu suatu ketetapan yang pasti berlaku, (yaitu) orang-orang yang menyampaikan risalah-risalah Allah, mereka takut kepada-Nya dan mereka tiada merasa takut kepada seorang (pun) selain kepada Allah. Dan cukuplah Allah Pembuat Perhitungan.” (al-Ahzab: 38—39)

Pujian kepada para rasul juga mengandung pujian bagi para ulama yang menyampaikan al-Qur’an dan hadits kepada umat manusia, sebagaimana tampak dalam sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang mereka yang mempelajari al-Qur’an dan mengajarkannya kepada manusia. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ

“Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari al-Qur’an dan mengajarkannya.” (Hadits sahih dari Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu)

Pujian Allah ‘azza wa jalla ini tentulah menunjukkan urgensi keimanan kepada kitab Allah ‘azza wa jalla.

 

Keempat: Seorang dinilai kafir dan sesat di sisi Allah ‘azza wa jalla jika tidak mengimani kitab-kitab Allah ‘azza wa jalla, sehingga Allah ‘azza wa jalla haramkan Jannah atas mereka.

Allah ‘azza wa jalla berfirman, “Barang siapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya.” (an-Nisa’: 136)

Karena kekafiran itulah Allah ‘azza wa jalla haramkan Jannah atas mereka yang mendustakan ayat-ayat Allah ‘azza wa jalla“Sesungguhnya orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, sekali-kali tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit dan tidak(pula) mereka masuk surga, hingga unta masuk ke lubang jarum. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat kejahatan.” (al-A’raf: 40)

 

Kelima: Beriman kepada kitab-kitab Allah ‘azza wa jalla adalah sebab keselamatan di dunia dan di akhirat. Sebaliknya, kufur kepada kitab-kitab Allah ‘azza wa jalla adalah sebab azab dan kebinasaan.

Allah ‘azza wa jalla menyebutkan dalam banyak ayat al-Qur’an azab dan kebinasaan yang menimpa umat terdahulu sebagai akibat pendustaan mereka terhadap kitab-kitab Allah ‘azza wa jalla.

Maka Saleh meninggalkan mereka seraya berkata, “Hai kaumku, sesungguhnya aku telah menyampaikan kepadamu risalah Rabbku, dan aku telah memberi nasihat kepadamu, tetapi kamu tidak menyukai orang-orang yang memberi nasihat.” (al-A’raf: 79)

Demikian pula azab akhirat, sebabnya tidak lain adalah mendustakan kitab-kitab Allah ‘azza wa jalla. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

Lalu dia berkata, “(Al-Qur’an) ini tidak lain hanyalah sihir yang dipelajari (dari orang-orang dahulu), ini tidak lain hanyalah perkataan manusia.” Aku akan memasukkannya ke dalam (neraka) Saqar. (al-Muddatstsir: 24—26)

Dalam ayat di atas, Allah ‘azza wa jalla kabarkan bahwa orang-orang yang kufur terhadap al-Qur’an dan merendahkannya dengan perkataan, “Al-Qur’an hanyalah ucapan manusia” akan Allah ‘azza wa jalla campakkan ia ke dalam neraka Saqar setelah kehinaan yang dia sandang dalam kehidupan dunia.

Allah ‘azza wa jalla benar-benar mengazab mereka dalam neraka dengan azab yang pedih. Allah ‘azza wa jalla berfirman, “Apakah kamu tidak melihat kepada orang-orang yang membantah ayat-ayat Allah? Bagaimanakah mereka dapat dipalingkan? (Yaitu) orang-orang yang mendustakan al-Kitab (al-Qur’an) dan wahyu yang dibawa oleh rasul-rasul Kami yang telah Kami utus. Kelak mereka akan mengetahui, ketika belenggu dan rantai dipasang di leher mereka, seraya mereka diseret, ke dalam air yang sangat panas, kemudian mereka dibakar dalam api.” (Ghafir: 69—72)

Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.

Berkatalah ia, “Ya Tuhanku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya adalah seorang yang melihat?”

Allah ‘azza wa jalla berfirman, “Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini kamu pun dilupakan.” (Thaha: 124—126)

 

Keenam: Keimanan kepada kitab-kitab Allah ‘azza wa jalla memiliki buah yang sangat banyak yang akan dipetik bagi mereka yang mengimaninya di samping keutamaan-keutamaan yang telah disebut di atas.

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin menyebutkan beberapa buah yang akan dipetik dari keimanan seseorang kepada kitab-kitab Allah ‘azza wa jalla, tentunya hal ini menunjukkan betapa pentingnya iman kepada kitab-kitab Allah ‘azza wa jalla. Di antara buah keimanan kepada kitab-kitab Allah ‘azza wa jalla adalah:

  • Seorang yang beriman kepada kitab Allah ‘azza wa jalla akan melihat betapa besar perhatian dan kasih sayang Allah ‘azza wa jalla kepada para hamba-Nya yang lemah, dengan menurunkan untuk setiap kaum kitab yang membimbing mereka, hingga Allah ‘azza wa jalla turunkan al-Qur’an sebagai kitab yang terakhir.
  • Dengan mengimani kitab-kitab Allah ‘azza wa jalla, seorang akan mengetahui betapa sempurnanya hikmah Allah ‘azza wa jalla, yang Allah ‘azza wa jalla menetapkan hukum syariat yang sesuai dengan masing-masing kaum dan keadaan mereka. Hingga diturunkannya al-Qur’an yang berisi hukum yang terus relevan hingga akhir zaman, dan menghapus hukum-hukum yang telah lalu.
  • Dengan beriman kepada al-Kitab seseorang akan selamat dari penyimpangan-penyimpangan akal pemikiran, karena dia terus terbimbing dan selalu berpegang dengan petunjuk dari langit.

Kemudahan untuk berjalan di atas jalan yang lurus, jelas tanpa kegoncangan dan kebengkokan, sejenak kita bayangkan seandainya masing-masing manusia diberi kebebasan untuk menentukan jalan kepada Allah ‘azza wa jalla, niscaya hidupnya akan penuh dengan kebingungan, tetapi Allah ‘azza wa jalla pancangkan jalan yang lurus dan lebar di hadapan manusia berupa al-Kitab.

  • Dengan iman kepada kitab, akan muncul kebahagiaan dalam jiwa dan kelapangan dada atas karunia yang demikian besar dan nikmat yang demikian agung sebagaimana Allah ‘azza wa jalla perintahkan dalam firman-Nya,

Katakanlah, “Dengan karunia Allah ‘azza wa jalla dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Karunia Allah ‘azza wa jalla dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.” (Yunus: 58)

  • Dengan iman kepada kitab, seseorang akan terus bertambah imannya, bertambah rasa syukur atas nikmat yang sangat besar ini, dan semakin besar kecintaan kepada Allah ‘azza wa jalla.

Selamatnya seseorang dari kerancuan dan kerusakan pemikiran dan kerusakan akidah, dengan keimanannya kepada kitab-kitab Allah ‘azza wa jalla.[2]


[1] Diriwayatkan dari al-Bara bin ‘Azib radhiallahu ‘anhu. Di awal hadits, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika engkau hendak tidur, berwudhulah sebagaimana wudhumu untuk shalat kemudian tidurlah dengan sisi tubuhmu yang kanan kemudian berdoalah dengan doa ini.”

Di akhir hadits Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

فَإِنْ مُتَّ مِنْ لَيْلَتِكَ فَأَنْتَ عَلَى الْفِطْرَةِ وَاجْعَلْهُنَّ آخِرَ مَا تَتَكَلَّمُ بِهِ

“Jika engkau mati di malam itu, engkau mati di atas fitrah (yakni Islam), dan jadikanlah kalimat ini akhir perkataanmu.”

[2] Rasail fil ‘Aqidah Al-Islamiyah, hlm. 23 karya asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah.

Pengantar Redaksi Edisi 99

 السلام عليكم ورحمة الله و بركاته

Di antara rahmat Allah ‘azza wa jalla, Dia mengutus para nabi dan rasul agar memberi peringatan dan kabar gembira kepada manusia. Allah ‘azza wa jalla juga menurunkan kitab-kitab-Nya bersama mereka sebagai petunjuk jalan bagi manusia di tengah kegelapan. Ini tentu menjadi nikmat yang sangat besar. Namun, sadarkah kita akan nikmat ini? Sadarkah manusia bahwasanya sebelum diutusnya nabi dan diturunkannya kitab, mereka dalam kesesatan yang nyata?

Oleh karena itu, menjadi kewajiban kita untuk mengimani semua kitab yang Allah

‘azza wa jalla turunkan, baik yang Allah ‘azza wa jalla sebutkan namanya maupun tidak, sebagai kalam Allah ‘azza wa jalla yang wajib dipegang teguh oleh setiap nabi dan kaumnya. Hingga datang syariat al-Qur’an yang wajib dipegang oleh seluruh manusia di sepanjang masa dan tempat, membenarkan apa yang sudah dijelaskan pada kitab-kitab sebelumnya, memperbarui serta mengoreksi ajaran-ajaran sebelumnya yang telah diubah dan dirusak oleh kaumnya.

Maka, mengimani kitab-kitab Allah ‘azza wa jalla adalah perkara yang sangat pokok dalam kehidupan. Dalam banyak ayat al-Qur’an Allah ‘azza wa jalla menyebutkan azab dan kebinasaan yang menimpa umat terdahulu sebagai akibat pendustaan mereka terhadap kitab-kitab Allah ‘azza wa jalla. Demikian pula azab akhirat. Allah ‘azza wa jalla kabarkan bahwa orangorang yang kufur terhadap al-Qur’an dan merendahkannya dengan perkataan, “Al- Qur’an hanyalah ucapan manusia” akan Allah ‘azza wa jalla campakkan ia ke dalam neraka Saqar, setelah kehinaan yang dia sandang di kehidupan dunia.

Namun, keimanan terhadap kitab-kitab Allah ‘azza wa jalla tentu bukan sekadar mengatakan, “Saya telah mengimani kitab-kitab-Nya.” Ada beberapa perkara yang harus kita imani dan amalkan sebagai bukti keimanan kepada kitab-kitab Allah ‘azza wa jalla, di antaranya: meyakini dengan pasti tanpa sedikit pun keraguan bahwa kitab-kitab Allah ‘azza wa jalla semuanya turun dari sisi Allah ‘azza wa jalla. Juga meyakini bahwa kitab-kitab tersebut, adalah kalam (firman) Allah ‘azza wa jalla, bukan makhluk. Allah ‘azza wa jalla berbicara (berfirman) secara hakiki sesuai dengan kehendak-Nya. Jadi, apa yang tertulis dalam mushaf, dihafalkan dalam dada, dilafadzkan dengan lisan, direkam dalam kaset-kaset, ataupun diperdengarkan dalam siaran-siaran radio, semua itu kalam Allah ‘azza wa jalla bukan perkataan Jibril bukan pula perkataan Nabi Muhammad n. Masih banyak lagi konsekuensi dari keimanan kita terhadap al-Qur’an.

Al-Qur’an juga bersifat universal, berlaku untuk jin dan manusia, dari segala ras dan suku bangsa. Al-Qur’an juga Allah ‘azza wa jalla tetapkan sebagai kitab yang berlaku dan menjadi pedoman hingga akhir zaman. Oleh karena itu, Allah ‘azza wa jalla menjamin penjagaannya dari segala macam perubahan hingga akhir zaman, baik perubahan lafadz maupun makna.

Kini, dari masa ke masa al-Qur’an terus dihafal jutaan umat Islam, al-Qur’an masih diambil dengan cara talaqqi dan ‘ardh sehingga sanadnya masih bersambung hingga kepada Rasulullah n. Tidak ada satu pun kesalahan pasti diluruskan, dan tidak ada satu pun upaya mengubah al-Qur’an pasti terbongkar makarnya.

Inilah yang menjadikan teolog kristiani dan Yahudi merasa geram dan hasad menyaksikan penjagaan al-Qur’an yang luar biasa, yang tidak mereka dapatkan pada Taurat dan Injil. Kedua “kitab” yang bertabur kontradiksi itu menjadi salah satu bukti nyata bahwa di dalamnya terdapat banyak perubahan. Mungkin ini adalah salah satu alasan mengapa kalangan awam Nasrani dilarang mempelajari kitab mereka dengan serius. Pembacaan al-Kitab dibatasi pada para penginjil.

Demikianlah al-Qur’an yang begitu istimewa, yang akan terus dijaga Allah lhingga hari akhir. Maka dari itu, di tengah maraknya kitab-kitab palsu, masihkah kita ragu akan kebenaran al-Qur’an?

والسلام عليكم ورحمة الله و بركاته

Petunjuk Bagi Orang-orang yang Bingung (Terhadap Buku Ahlul Kitab dan Orang2 yang sesat)

Sahabat yang mulia bernama Jabir bin Abdillah radhiyallahu anhu menuturkan,

       أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِكِتَابٍ أَصَابَهُ مِنْ بَعْضِ أَهْلِ الْكُتُبِ .فَقَرَأَهُ النَّبِيُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَغَضِبَ فَقَالَ: أَمُتَهَوِّكُوْنَ[1] فِيْهَا يَا ابْنَ الْخَطَّابِ؟ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لَقَدْ جِئْتُكُمِ بِهَا بَيْضَاءَ نَقِيَّةً، لاَ تَسْأَلُوْهُمْ عَنْ شَيْءٍ فَيُخْبِرُوكُمْ بِحَقٍّ فَتُكَذِّبُوْا بِهِ أَوْ بِبَاطِلٍ فَتُصَدِّقُوْا بِهِ، وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَوْ أَنَّ مُوْسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ كَانَ حَيًّا مَا وَسِعَهُ إِلاَّ أَنْ يَتَّبِعَنِي

        Umar ibnul Khaththab radhiyallahu anhu datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membawa sebuah kitab yang diperolehnya dari sebagian ahli kitab.

        Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membacanya lalu beliau marah seraya bersabda, “Apakah engkau termasuk orang yang bingung, wahai Ibnul Khaththab? Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh aku telah datang kepada kalian membawa agama yang putih bersih.

        Janganlah kalian menanyakan sesuatu kepada mereka (ahli kitab), sehingga mereka mengabarkan al-haq (kebenaran) kepada kalian lantas kalian mendustakannya. Atau mereka mengabarkan satu kebatilan lantas kalian membenarkannya.

        Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, seandainya Musa alaihis salam masih hidup, niscaya tidaklah boleh baginya kecuali mengikuti aku.”

 

        Hadits ini diriwayatkan al-Imam Ahmad dalam Musnad-nya 3/387 dan ad-Darimi dalam “Mukadimah” kitab Sunan-nya no. 436. Demikian pula Ibnu Abi ‘Ashim asy-Syaibani dalam as-Sunnah no. 50.

        Hadits ini dihukumi hasan oleh imam ahlul hadits pada zaman ini, asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah, dalam Zhilalul Jannah fi Takhrij as-Sunnah dan Irwa’ul Ghalil no. 1589.

Dalam riwayat ad-Darimi hadits di atas disebutkan dengan lafadz,

       أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ رضي الله عنه أَتَى رَسُوْلَ اللهَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِنُسْخَةٍ مِنَ التَّوْرَاةِ، فَقَالَ: يَا رَسُوْلَ الله،ِ هَذِهِ نُسْخَةٌ مِنَ التَّوْرَاةِ. فَسَكَتَ فَجَعَلَ يَقْرَأُ وَوَجْهُ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَغَيَّرُ. فَقَالَ أَبُوْ بَكْرٍ: ثَكِلَتْكَ الثَّوَاكِلُ[2]، مَا تَرَى مَا بِوَجْهِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؟ فَنَظَرَ عُمَرُ إِلَى وَجْهِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ : أَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ غَضَبِ اللهِ وَغَضَبِ رَسُوْلِهِ، رَضِيْنَا بِاللهِ رَبًّا وَبِالْإِسْلاَمِ دِيْنًا وَبِمُحَمَّدٍ نَبِيًّا. فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ، لَوْ بَدَا لَكُم مُوْسَى فَاتَّبَعْتُمُوْهُ وَتَرَكْتُمُوْنِي لَضَلَلْتُمْ عَنْ سَوَاءِ السَّبِيْلِ، وَلَو كَانَ حَيًّا وَأَدْرَكَ نُبُوَّتِي لاَتَّبَعَنِيْ

      Umar ibnul Khaththab radhiyallahu anhu datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membawa salinan dari kitab Taurat. Ia berkata, “Wahai Rasulullah, ini salinan dari kitab Taurat.”

        Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam diam. Umar mulai membacanya dalam keadaan wajah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berubah. Melihat hal itu, Abu Bakr berkata kepada Umar, “Betapa ibumu kehilanganmu, tidakkah engkau melihat perubahan pada wajah Rasulullah?”

        Umar melihat wajah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu berkata, “Aku berlindung kepada Allah dari kemurkaan Allah dan Rasul-Nya. Kami ridha Allah sebagai Rabb kami, Islam sebagai agama kami, dan Muhammad sebagai Nabi kami.”

        Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, seandainya Musa alaihis salam muncul kepada kalian kemudian kalian mengikutinya dan meninggalkan aku, sungguh kalian telah sesat dari jalan yang lurus. Seandainya Musa masih hidup dan menemui masa kenabianku, niscaya ia akan mengikutiku.”

Sikap Seorang Muslim terhadap Berita-Berita Ahli Kitabs

        Berita-berita yang datang dari ahli kitab—Yahudi atau Nasrani—dan tidak ada keterangannya dalam syariat, tidak boleh kita pastikan kebenaran atau kedustaannya. Berita itu bisa jadi benar atau haq, bisa jadi pula dusta atau batil. Jika kita benarkan, dikhawatirkan itu adalah batil. Apabila kita dustakan, dikhawatirkan itu adalah haq. Jadi, dua keadaan ini bisa menjatuhkan kita ke dalam dosa.

        Sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia Abu Hurairah radhiyallahu anhu mengabarkan,

        كَانَ أَهْلُ الْكِتَابِ يَقْرَؤُوْنَ التَّوْرَاةَ بِالْعِبْرَانِيَّةِ وَيُفَسِّرُوْنَهَا بِالْعَرَبِيَّةِ لِأَهْلِ الْإِسْلاَمِ، فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لاَ تُصَدِّقُوْا أَهْلَ الْكِتَابِ وَلاَ تُكَذِّبُوْهُمْ، وَقُوْلُوْا : {آمَنَّا بِاللهِ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْنَا …} الآية

        Ahli kitab membaca Taurat dalam bahasa Ibrani dan menafsirkannya dengan bahasa Arab uorang-orang Islam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah kalian membenarkan ahli kitab, jangan pula mendustakannya. Katakanlah, ‘Kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan pada kami…’. (al-Baqarah: 136) (HR. al-Bukhari dalam Shahih-nya no. 4485)

        Tentang sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Janganlah kalian membenarkan ahli kitab, jangan pula mendustakannya,”

        Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah menjelaskan, “Berita yang mereka kabarkan itu mengandung kemungkinan benar dan kemungkinan salah. Karena itu, jangan sampai beritanya benar lantas kalian mendustakannya, atau beritanya dusta lalu kalian membenarkannya. Kalian pun terjatuh dalam dosa. Tidak ada larangan mendustakan mereka dalam urusan yang diselisihi oleh syariat kita. Tidak pula ada larangan membenarkan mereka dalam urusan yang disepakati oleh syariat kita. Demikian penjelasan al-Imam asy-Syafi’i.” (Fathul Bari 8/214)

        Kita dilarang bertanya tentang urusan agama kepada ahli kitab. Karena itulah, Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata,

        كَيْفَ تَسْأَلُوْنَ أَهْلَ الْكِتَابِ عَنْ شَيْءٍ وَ كِتَابُكُمُ الَّذِي أُنْزِلَ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ أَحْدَثُ. تَقْرَؤُوْنَهُ مَحْضًا لَمْ يُشَبْ، وَقَدْ حَدَّثَكُمْ أَنَّ أَهْلَ الْكِتَابِ بَدَّلُوْا كِتَابَ اللهِ وَغَيَّرُوْهُ وَكَتَبُوْا بِأَيْدِيْهِم الْكِتَابَ وَقَالُوْا: هُوَ مِنْ عِنْدِ اللهِ لِيَشْتَرُوْا بِهِ ثَمَنًا قَلِيْلاً؛ لاَ يَنْهَاكُمْ مَا جَاءَكُمْ مِنَ الْعِلْمِ عَنْ مَسْأَلَتِهِمْ، لاَ وَاللهِ، مَا رَأَيْنَا مِنْهُمْ رَجُلاً يَسْأَلُكُمْ عَنِ الَّذِي أُنْزِلَ عَلَيْكُمْ

        “Bagaimana kalian bertanya kepada ahli kitab tentang sesuatu, sementara kitab kalian yang diturunkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah kitab yang paling akhir (turun dari sisi Allah)? Kalian membacanya dalam keadaan murni, tidak bercampur (dengan kepalsuan). Allah telah menyampaikan (keterangan) kepada kalian bahwa ahli kitab telah mengganti dan mengubah-ubah Kitabullah.

       “Mereka menulis kitab itu dengan tangan mereka (mereka mengarang sendiri) kemudian mereka mengatakan, ‘Ini (yang mereka tulis) diturunkan dari sisi Allah.’ Mereka melakukannya untuk memperoleh keuntungan yang sedikit.

       “Tidakkah ilmu yang datang kepada kalian melarang kalian bertanya kepada mereka? Tidak, demi Allah! Kami tidak melihat seorang pun dari mereka yang bertanya kepada kalian tentang apa yang diturunkan kepada kalian.” (HR. al-Bukhari no. 7363, “Kitab al-subhanahu wa ta’ala’tisham bil Kitab was Sunnah”, “Bab Qaulin Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: La Tas’alu Ahlal Kitab ‘an Syai’in”)

        Dengan kalimat, “Tidak, demi Allah! Kami tidak melihat seorang pun dari mereka yang bertanya kepada kalian tentang apa yang diturunkan kepada kalian,” seakan-akan Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma hendak menyatakan, “Mereka ahli kitab tidak pernah menanyakan tentang sesuatu pun kepada kalian, sementara mereka tahu bahwa kitab kalian tidak ada penyimpangan/perubahan. Mengapa kalian justru bertanya kepada mereka sedangkan kalian benar-benar mengetahui bahwa kitab mereka telah diubah dari aslinya?” (Fathul Bari 13/621)

        Abdur Razzaq ash-Shan’ani rahimahullah meriwayatkan dalam Mushannaf-nya[3] (no. 19212) dari jalan Huraits bin Zhuhair, ia berkata, “Abdullah (yakni Ibnu Mas‘ud) berkata,

        لاَ تَسْأَلُوْا أَهْلَ الْكِتَابِ عَنْ شَيْءٍ فَإِنَّهُمْ لَنْ يَهْدُوْكُمْ وَقَدْ أَضَلُّوا أَنْفُسَهُمْ، فَتُكَذِّبُوْنَ بِحَقٍّ أَوْ تُصَدِّقُوْنَ بِبَاطِلٍ

     “Janganlah kalian bertanya tentang sesuatu kepada ahli kitab karena sesungguhnya mereka tidak akan memberikan petunjuk kepada kalian. Mereka sendiri telah menyesatkan diri mereka. (Apabila kalian bertanya kepada mereka kemudian mereka menjawab pertanyaan kalian, dikhawatirkan) kalian akan mendustakan yang haq atau membenarkan yang batil.”

        Apabila ada yang menyatakan bahwa larangan bertanya kepada ahli kitab ini seakan-akan bertentangan dengan perintah Allah subhanahu wa ta’ala dalam firman-Nya,

          فَسۡ‍َٔلِ ٱلَّذِينَ يَقۡرَءُونَ ٱلۡكِتَٰبَ مِن قَبۡلِكَ

    “Maka tanyakanlah kepada orang-orang yang membaca al-Kitab sebelummu.” (Yunus: 94)

        Jawabannya, ayat ini tidak bertentangan dengan larangan yang tersebut dalam hadits. Sebab, yang dimaksud oleh ayat ini adalah bertanya kepada ahli kitab yang telah beriman. Adapun larangan yang tersebut dalam hadits adalah larangan bertanya kepada ahli kitab yang belum beriman. (Fathul Bari 13/408)

Peringatan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam Agar Tidak Membaca Buku Ahli Kitab

        Dalam al-Qur’an Allah subhanahu wa ta’ala mengabarkan bahwa ahli kitab telah mengubah-ubah kitab mereka. Semula kitab mereka adalah kalamullah yang diturunkan dari atas langit, namun karena ulah para pendeta Yahudi dan Nasrani bercampurlah kalamullah tersebut dengan ucapan manusia. Bahkan, kalamullah itu sendiri mereka ubah dan pindahkan dari tempatnya. Karena itu, kitab mereka tidak lagi murni sebagaimana keadaan saat awal diturunkan. Kitab mereka telah tercampur dengan kepalsuan dan kedustaan, susah untuk dipisahkan mana yang haq dan mana yang batil.

        Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

        فَوَيْلٌ لِلَّذِينَ يَكْتُبُونَ الْكِتَابَ بِأَيْدِيهِمْ ثُمَّ يَقُولُونَ هَذَا مِنْ عِنْدِ اللهِ لِيَشْتَرُوا بِهِ ثَمَنًا قَلِيلًا فَوَيْلٌ لَهُمْ مِمَّا كَتَبَتْ أَيْدِيهِمْ وَوَيْلٌ لَهُمْ مِمَّا يَكْسِبُونَ

        Maka kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang menulis al-Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya, “Ini dari Allah,” untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan besarlah bagi mereka, karena apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan yang besarlah bagi mereka, karena apa yang mereka kerjakan[4]. (al-Baqarah: 79)

        Al-Imam ath-Thabari rahimahullah berkata, “Yang Allah maksudkan dengan firman-Nya ini adalah orang-orang Yahudi Bani Israil yang telah melakukan tahrif terhadap Kitabullah. Mereka menulis sebuah kitab berdasarkan penakwilan/penafsiran menyimpang yang mereka buat, menyelisihi apa yang Allah subhanahu wa ta’ala turunkan kepada Nabi Musa ‘alaihis salam.

        Kemudian orang-orang Yahudi tersebut menjual kitab karangan mereka itu kepada suatu kaum yang tidak memiliki ilmu tentang penakwilan tersebut. Kaum tersebut tidak memiliki pengetahuan tentang apa yang terdapat dalam Taurat. Orang-orang Yahudi itu menjualnya kepada orang-orang bodoh yang tidak mengetahui apa yang terdapat dalam kitabullah. Mereka melakukan hal ini karena ingin mendapatkan dunia yang rendah.” (Jami’ul Bayan fi Ta`wil Ayil Qur’an 1/422)

        Al-Imam al-Baghawi rahimahullah menyebutkan bahwa pendeta-pendeta Yahudi itu khawatir kehilangan sumber penghidupan dan kepemimpinan mereka ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam datang ke Madinah. Mereka lalu melakukan tipu daya untuk menyimpangkan orang-orang Yahudi agar tidak beriman kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

        Mereka telah memahami ciri-ciri beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam yang disebutkan dalam Taurat bahwa beliau memiliki wajah dan rambut yang bagus, kedua matanya seperti bercelak, perawakannya sedang, tidak terlalu tinggi, tidak pula pendek. Mereka lalu mengubah sifat-sifat tersebut dan menggantinya dengan “tinggi, miring matanya, dan keriting rambutnya”. Saat orang-orang bodoh yang tidak mengerti Taurat bertanya tentang ciri-ciri nabi yang terakhir kepada para pendeta ini, mereka akan membacakan apa yang telah mereka tulis.

        Akhirnya, orang-orang bodoh tersebut menemukan bahwa ciri-ciri nabi yang akhir itu berbeda dengan ciri-ciri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Akibatnya, mereka mendustakan beliau.” (Ma’alimut Tanzil, 1/54—55)

        Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

        مِنَ الَّذِينَ هَادُوا يُحَرِّفُونَ الْكَلِمَ عَنْ مَوَاضِعِهِ

    “Mereka (orang-orang Yahudi) mengubah perkataan dari tempat-tempatnya.” (an-Nisa: 46)

        Ayat di atas menunjukkan bahwa sifat orang-orang Yahudi suka mengganti dan mengubah-ubah makna Taurat dari tafsir yang sebenarnya. (Jami‘ul Bayan fi Ta`wil Ayil Qur’an 4/121)

        Perubahan yang mereka lakukan bisa berupa lafadz atau makna, bisa jadi pula pada kedua hal tersebut sekaligus. Mereka mengubah hakikat yang ada, menempatkan al-haq di atas al-batil, dan menentang al-haq itu. (Taisir al-Karimir Rahman, hlm. 181)

        Diriwayatkan bahwa sambil membawa sebuah mushaf, Ka‘b al-Ahbar pernah menemui Umar ibnul Khaththab radhiyallahu anhu yang ketika itu menjabat Amirul Mukminin. Ia berkata, “Wahai Amirul Mukminin, dalam mushaf ini tertulis Taurat. Apakah aku boleh membacanya?”

        Umar menjawab, “Jika memang engkau yakin itu adalah Taurat yang diturunkan kepada Nabi Musa ‘alaihis salam pada hari Thursina, silakan membacanya. Jika tidak, jangan membacanya.” (Syarhus Sunnah 1/271)

        Karena bercampurnya al-haq dengan al-batil inilah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingkari perbuatan Umar rahimahullah yang memegang Taurat sebagaimana tersebut dalam hadits yang menjadi pembahasan kita. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan kepada Umar,

        أَمُتَهَوِّكُوْنَ فِيْهَا يَا ابْنَ الْخَطَّابِ؟ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لَقَدْ جِئْتُكُمِ بِهَا بَيْضَاءَ نَقِيَّةً

        “Apakah engkau termasuk orang yang bingung, wahai Ibnul Khaththab? Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh aku telah datang kepada kalian membawa agama yang putih bersih.”

        Di samping itu, syariat yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah sangat memadai sehingga umat beliau tidak lagi membutuhkan syariat lain atau syariat umat terdahulu. Umat ini tidak lagi membutuhkan nabi dan rasul lain setelah diutusnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di tengah-tengah mereka. Kalaupun para nabi dan rasul terdahulu masih hidup dan menemui masa kenabian beliau, niscaya para nabi dan rasul tersebut akan mengikuti beliau dan tunduk pada syariat yang beliau bawa.

        Karena itulah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Umar radhiyallahu anhu,

        وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لَوْ أَنَّ مُوْسَى كَانَ حَيًّا مَا وَسِعَهُ إِلاَّ أَنْ يَتَّبِعَنِي

        “Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, seandainya Musa ‘alaihis salam masih hidup, niscaya tidak boleh kecuali mengikutiku.”

Kitab Suci Yahudi dan Nasrani Tidak Lagi Asli

        Allah subhanahu wa ta’ala tidak memberikan jaminan penjagaan atas kalam-Nya yang termaktub dalam kitab Taurat dan Injil, sebagaimana jaminan penjagaan yang diberikan-Nya kepada al-Qur’an,

        إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُوْنَ

        “Sesungguhnya, Kami-lah yang menurunkan adz-Dzikra (al-Qur’an) dan sungguh Kami-lah yang akan menjaganya.” (al-Hijr: 9)

        Karena penjagaan Allah ini, al-Qur’an tidak akan dapat dipalsukan selama-lamanya sampai kelak diangkat kembali dari lembaran dan dada manusia (dari hafalan mereka) menjelang hari kiamat. Adapun kitab samawi lainnya, seperti Taurat dan Injil, tidak selamat dari pemalsuan.

        Karena itu, wajar apabila kita katakan bahwa kitab-kitab yang dipegang ahli kitab telah dipalsukan oleh para rahib dan pendeta mereka. Hal ini ini berdasarkan kabar dari Allah subhanahu wa ta’ala sendiri melalui al-Qur’an, dari hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dari atsar, dan dari bukti-bukti sejarah, serta pertentangan dan keganjilan-keganjilan yang ada di dalam Taurat dan Injil sendiri.

        Dalam kitabnya, al-Fishal fil Milal wal Ahwa’ wan Nihal, Ibnu Hazm rahimahullah menyebutkan secara panjang lebar sejarah Bani Israil sejak wafatnya Nabi Musa ‘alaihis salam untuk membuktikan bahwa kitab Taurat tidak lagi asli, tetapi telah diubah-ubah.

        Disebutkan bahwa sepeninggal Nabi Musa ‘alaihis salam, Bani Israil dipimpin oleh Yusya’ bin Nun selama 31 tahun dan tetap istiqamah berpegang dengan agama. Selanjutnya, mereka dipimpin Fainuhas ibnul ‘Azar bin Harun selama 25 tahun, juga masih istiqamah di atas agama. Setelah Fainuhas wafat, seluruh Bani Israil murtad dari agama mereka dan menyembah berhala secara terang-terangan. Sejak itulah mereka dipimpin oleh penguasa-penguasa kafir. Meski diselingi oleh kepemimpinan penguasa yang beriman, mereka lebih dominan dikuasai oleh penguasa kafir yang berkubang dalam kekafiran dan penyembahan terhadap berhala[5].

        Ibnu Hazm rahimahullah berkata, “Sejak Bani Israil memasuki tanah yang disucikan (Palestina) sepeninggal Musa ‘alaihis salam sampai masa pemerintahan raja mereka, Syawul, mereka meninggalkan keimanan dan terang-terangan menyembah berhala sebanyak tujuh kali.”

        Beliau rahimahullah juga berkata, “Perhatikanlah, kitab apa yang masih tertinggal bersama dengan kekufuran yang terus-menerus dan menolak keimanan selama masa yang panjang[6] di sebuah negeri yang kecil. Sementara itu, ketika itu tidak ada seorang pun di muka bumi yang berada di atas agama mereka dan mengikuti kitab mereka selain mereka sendiri.” (al-Fishal 1/215)

        Berikut ini beberapa contoh kedustaan yang terdapat dalam Taurat.

        Di dalam Taurat dihikayatkan bahwa Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, “Ini Adam, ia telah menjadi seperti salah satu dari Kami dalam mengetahui kebaikan dan kejelekan….”

        Ibnu Hazm menyatakan, ucapan ini menunjukkan mereka meyakini bahwa ilah atau sesembahan itu lebih dari satu, dan Adam termasuk ilah tersebut[7].

        Disebutkan pula dalam Taurat, “Ketika manusia telah banyak memenuhi muka bumi dan lahir putri-putri Adam, maka saat putra-putra Allah melihat putri-putri Adam yang cantik, putra-putra Allah pun memperistri sebagian mereka.”

        Ibnu Hazm membantah kedustaan mereka ini dengan menyatakan bahwa ucapan tersebut adalah kedunguan dan kedustaan yang besar. Mereka menjadikan Allah memiliki anak laki-laki yang menikahi putri-putri Adam, yang berarti Allah dan Adam berbesanan. Mahasuci Allah dari kedustaan ini[8].

        Selain itu, di dalam Taurat yang mereka pegangi disebutkan bahwa Nabi Luth ‘alaihis salam digauli oleh dua putrinya secara bergantian saat beliau telah renta, setelah dibuat mabuk dengan diberi minum khamr. Akibatnya, kedua putrinya hamil dari hasil hubungan dengan ayahnya.

        Kita berlindung kepada Allah dari tuduhan keji mereka yang membuat gemetar kulit orang-orang beriman yang mengetahui hak-hak para nabi[9].

        Ibnul Qayyim rahimahullah mendustakan ucapan orang-orang Yahudi bahwa lembaran-lembaran yang bertuliskan Taurat yang ada di belahan bumi timur dan barat saling bersesuaian. Ibnul Qayyim berkata, “Ini adalah kedustaan yang nyata. Sebab, Taurat yang berada di tangan orang-orang Nasrani berbeda dengan Taurat yang berada di tangan orang-orang Yahudi. Taurat yang ada di tangan Samiri berbeda pula dengan keduanya. Demikian pula Injil, sebagiannya berbeda dengan yang lain dan saling bertentangan.”

        Ibnul Qayyim melanjutkan, “Taurat yang berada di tangan orang-orang Yahudi memuat tambahan, perubahan, dan pengurangan yang kentara bagi orang-orang yang mendalam ilmunya. Mereka (orang yang berilmu) yakin secara pasti bahwa hal itu tidak terdapat dalam Taurat yang diturunkan oleh Allah kepada Musa ‘alaihis salam. Demikian pula Injil yang berada di tangan orang-orang Nasrani. Di dalamnya terdapat tambahan, perubahan, dan pengurangan yang tidak bisa disembunyikan dari orang-orang yang ilmunya mendalam. Mereka yakin secara pasti bahwa hal itu tidak terdapat dalam Injil yang diturunkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala kepada al-Masih Isa ‘alaihis salam.” (Hidayatul Hayara fi Ajwibatil Yahudi wan Nashara, hlm. 101)

        Al-‘Allamah asy-Syaikh Rahmatullah bin Khalilur Rahman al-Kairanawi al-Hindi rahimahullah menyebutkan beberapa bukti bahwa kitab Taurat dan Injil yang ada sekarang bukanlah Taurat dan Injil yang pernah diturunkan kepada Nabi Musa ‘alaihis salam dan Nabi Isa ‘alaihis salam.

        Di antaranya, beliau menyebutkan fakta sejarah berkenaan dengan Taurat bahwa Taurat yang ada sekarang terputus sanadnya sebelum zaman Raja Yusya’ bin Amun yang berkuasa pada 638 SM. Naskah (manuskrip) bertuliskan Taurat yang didapatkan setelah 18 tahun ia berkuasa tidak bisa dijadikan sandaran karena naskah itu dibuat-buat oleh al-Kahin Hilqiyya. Selain tidak bisa dijadikan sandaran, secara umum naskah itu hilang sebelum Bukhtanashar menaklukkan negeri Palestina pada 587 SM.

        Seandainya kita anggap naskah itu tidak hilang, ketika Bukhtanashar menguasai Palestina tentu ia akan memusnahkan Taurat dan seluruh Kitab Perjanjian Lama hingga tidak tersisa. Orang-orang Yahudi berdalih bahwa Uzara telah menulis sebagian lembaran Taurat di Babil, namun yang ditulisnya ini pun hilang ketika Anthaikhus IV menaklukkan Palestina.

        Ketika Suraya berkuasa antara 175—163 SM, ia berencana memusnahkan agama Yahudi dan mewarnai Palestina dengan ajaran helenisme Yunani. Ia pun menjual jabatan-jabatan pendeta Yahudi, membunuh sejumlah 40—80 juta pendeta Yahudi, merampas barang-barang yang ada di seluruh tempat ibadah Yahudi, beribadah kepada sesembahannya dengan menyembelih babi dan menyalakan api di atas tempat penyembelihan orang Yahudi, serta memerintahkan 20 ribu tentara untuk mengepung dan akhirnya menyerbu al-Quds pada hari Sabtu ketika orang-orang Yahudi berkumpul untuk mengerjakan shalat. Mereka merampas al-Quds, meruntuhkan rumah dan pagar-pagar, menyalakan api di dalamnya serta membunuh semua orang yang ada di dalamnya sampai pun para wanita dan anak-anak. Tidak ada yang selamat pada hari itu kecuali orang yang lari ke gunung-gunung atau bersembunyi dalam gua.” (Mukhtashar Kitab Izh-harul Haq, hlm. 20—21)

        Demikian pula keberadaan Injil yang dipegangi orang-orang Nasrani. Injil ditulis jauh setelah diangkatnya Nabi ‘Isa ‘alaihis salam, baik Injil yang konon katanya ditulis oleh Yohanes yang kemudian disebut Injil Yohanes, Injil Markus, Injil Lukas, maupun Injil Matius. Cukuplah sebagai bukti ketidakotentikan Injil tersebut bahwa ada empat Injil ini yang isinya terdapat pertentangan satu sama lain. Injil-Injil itu bukanlah Injil yang pernah diturunkan kepada Nabi Isa ‘alaihis salam.

        Asy-Syaikh Rahmatullah al-Hindi berkata, “Kitab samawi (yang diturunkan dari langit) yang wajib kita terima adalah kitab yang ditulis dengan perantara salah seorang nabi, dan sampai kepada kita dengan sanad yang bersambung tanpa ada perubahan dan penggantian. Adapun kitab yang disandarkan kepada seseorang yang memiliki ilham dengan semata-mata persangkaan dan dugaan, tidaklah cukup untuk menetapkan bahwa kitab tersebut adalah karya orang itu, sekalipun ada satu atau beberapa kelompok yang mengaku-aku penyandaran tersebut.

        Tidakkah engkau lihat bahwa kitab-kitab Perjanjian Lama yang disandarkan kepada Musa, Uzra, Isy’aya`, Irmiya, dan Sulaiman ‘alaihis salam?! Tidaklah ada satu dalil pun yang tsabit (pasti benar) menunjukkan kesahihan penyandarannya kepada mereka karena hilangnya sanad yang bersambung atas kitab-kitab tersebut.

        Tidakkah engkau lihat juga bahwa kitab-kitab Perjanjian Baru yang lebih dari 70 (buah) disandarkan kepada Isa, Maryam, Hawariyun dan pengikut mereka?! Kelompok-kelompok Nasrani yang ada sekarang telah sepakat tentang ketidaksahihan penyandaran kitab-kitab tersebut kepada Isa dan lainnya. Kitab-kitab itu justru termasuk kedustaan yang dibuat-buat. Berikutnya, ada kitab yang wajib diterima oleh menurut penganut Katolik, namun wajib ditolak menurut orang-orang Yahudi dan penganut Protestan….” (Mukhtashar Kitab Izh-harul Haq, hlm.19)

        Dengan demikian, dari fakta-fakta yang ada semakin pasti bahwa kitab-kitab yang dipegangi oleh Yahudi dan Nasrani bukanlah Taurat dan Injil yang disebutkan dalam al-Qur’anul Karim sehingga kita tidak wajib menerimanya. Kitab-kitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru tersebut ditempatkan sebagai berikut:

  • Setiap riwayat yang terdapat di dalamnya, apabila dibenarkan oleh al-Qur’anul Karim, riwayat tersebut diterima dengan yakin. Kita membenarkannya tanpa rasa berat.\
  • Namun, apabila riwayatnya didustakan al-Qur’an, kita menolaknya dengan yakin pula. Kita mesdustakannya tanpa keberatan.
  • Apabila al-Qur’an mendiamkannya—tidak membenarkan dan tidak mendustakan—, kita pun mendiamkannya. Kita tidak membenarkannya, tidak pula mendustakannya.

        Al-Qur’anul Karim adalah penjaga bagi kitab-kitab sebelumnya. Maksudnya, al-Qur’an menampakkan al-haq yang terdapat dalam kitab-kitab sebelumnya dan mendukungnya, serta menampakkan kebatilan yang ada di dalam kitab-kitab tersebut dan menolaknya.

        Ulama Islam yang membantah isi Taurat dan Injil serta menampakkan kedustaan serta perubahan yang ada di dalamnya, tidaklah menujukan bantahannya kepada Taurat dan Injil yang diturunkan oleh Allah kepada Musa ‘alaihis salam dan Isa ‘alaihis salam. Yang dibantah adalah kisah dan riwayat-riwayat yang dikumpulkan dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru sepanjang beberapa kurun, yang dikatakan oleh orang-orang Yahudi dan Nasrani sebagai wahyu dan ilham. Sungguh, Taurat yang diturunkan oleh Allah kepada Musa hanya satu, Injil yang diturunkan kepada ‘Isa hanya satu pula. Bagaimana bisa sekarang didapatkan ada tiga Taurat yang berbeda dan ada empat Injil yang juga berbeda?[10]” (Mukhtashar Kitab Izh-harul Haq, hlm. 35—37)

        Wallahul musta’an.

Sikap yang Benar Terhadap Buku Ahlul Bid’ah

        Melihat Umar radhiyallahu anhu memegang lembaran yang bertuliskan Taurat sudah membuat wajah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berubah karena marah. Padahal kitab Taurat merupakan salah satu kitab samawi, Kalamullah yang diturunkan Allah subhanahu wa ta’ala dari langit, meski kemudian diubah-ubah dan diganti oleh Yahudi. Bagaimana kiranya jika beliau shallallahu ‘alaihi wasallam melihat buku-buku yang jelas tidak diturunkan dari langit, dan isinya justru bertentangan dengan al-Qur’an dan as-Sunnah? Bagaimana kira-kira kemarahan beliau bila melihat kita membolak-balik buku tersebut dan membacanya? Apalagi ingin menyelami kebenaran yang—katanya—ada atau mungkin ada di dalamnya? Tentu saja kemurkaan beliau jauh lebih besar lagi. Wallahul musta’an.

        Bisa jadi, buku-buku yang ditulis ahlul bid’ah dan pengekor hawa nafsu itu memiliki satu atau beberapa titik nilai kebenaran. Akan tetapi, kebenaran apa yang bisa diharapkan apabila ia dibalut dan diselimuti oleh sekian banyak kebatilan? Bukankah buku-buku yang selamat dari kebatilan masih banyak? Buku-buku yang ditulis oleh ulama Ahlus Sunnah juga masih menggunung? Mengapa harus mempersulit diri dengan menyelami samudra kebatilan nan pekat karena ingin mendapatkan sebutir kecil mutiara kebenaran?

        Abu Zur’ah ar-Razi rahimahullah pernah memperingatkan seseorang untuk tidak membaca buku tulisan al-Harits al-Muhasibi dengan menyatakan, “Hati-hati engkau dari buku-buku ini, karena ini adalah buku-buku bid’ah dan kesesatan. Engkau wajib berpegang dengan atsar (hadits atau Sunnah Nabi) karena di dalamnya engkau akan mendapatkan kecukupan.”

        Ternyata orang itu berkelit dengan mengatakan, “Dalam buku-buku ini ada ibrah/pelajaran.”

        Apa jawaban Abu Zur’ah rahimahullah? Beliau menegaskan, “Siapa yang tidak mendapatkan ibrah dalam Kitabullah, niscaya tidak ada baginya ibrah dalam buku-buku ini.” (al-Mizan 2/165)

        Memberi peringatan (tahdzir) terhadap kitab-kitab yang memuat kebid’ahan dan kesesatan merupakan manhaj as-Salafus Shalih dengan mencontoh Rasul yang mulia shallallahu ‘alaihi wasallam ketika mengingkari perbuatan Umar ibnul Khaththab rahimahullah. Tahdzir ini bertujuan menjaga manhaj kaum muslimin dari mudarat dan bahaya yang terkandung dalam buku-buku tersebut. Tidak termasuk perbuatan zalim saat seorang muslim menasihati saudaranya untuk menjauhi buku-buku yang demikian karena ingin agar saudaranya terhindar dari mudarat, dengan semata menyebutkan kejelekan buku tersebut tanpa menyinggung kebaikannya. (Manhaj Ahlis Sunnah wal Jama’ah fi Naqdir Rijal wal Kutub wath Thawaif, hlm. 128, karya asy-Syaikh Prof. Dr. Rabi‘ bin Hadi al-Madkhali)

        Al-Imam Ibnu Muflih rahimahullah berkata, “Asy-Syaikh Muwaffaquddin rahimahullah menyebutkan larangan melihat buku-buku ahlul bid’ah. Beliau mengatakan, ‘Generasi salaf melarang bermajelis dengan ahlul bid’ah, melarang melihat buku-buku mereka, dan mendengar ucapan mereka’.” (al-Adabus Syar’iyah, 1/251)

        Asy-Syaikh Prof. Dr. Rabi’ bin Hadi al-Madkhali berkata menukilkan ucapan al-Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyah, “Setiap buku yang menyelisihi as-Sunnah tidak boleh dilihat dan dibaca. Justru yang diizinkan oleh syariat adalah menghapus dan memusnahkannya.”

        Kemudian Ibnul Qayyim rahimahullah menyebutkan, “Para sahabat telah membakar seluruh mushaf yang menyelisihi mushaf Utsman karena kekhawatiran akan timbulnya perselisihan di tengah-tengah umat. Bagaimana kiranya apabila mereka melihat buku-buku ini, yang menciptakan perselisihan dan perpecahan di kalangan umat….”

        Ibnul Qayyim berkata lagi, “Maksud dari semua ini, buku-buku yang mengandung kedustaan dan bid’ah wajib dimusnahkan dan dipunahkan. Memusnahkannya lebih utama daripada menghancurkan alat-alat lagu dan musik serta bejana-bejana yang berisi khamr. Sebab, bahaya buku-buku ini lebih besar daripada bahaya alat-alat musik. Karena itu, tidak ada ganti rugi terhadap buku-buku tersebut sebagaimana tidak ada ganti rugi dalam penghancuran bejana-bejana khamr.” (Manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah fi Naqdir Rijal wal Kutub wath Thawa’if, hlm. 134)

        Wallahu a’lam bish-shawab.

Ditulis oleh al-Ustadz Muslim Abu Ishaq al-Atsari

 

 


          [1] Ibnu ‘Aun mengatakan bahwa dia bertanya kepada al-Hasan, “Apa yang dimaksud dengan مُتَهَوِّكُوْنَ ?”

          Al-Hasan menjawab, “Orang-orang yang bingung.”

          Demikian disebutkan al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman (1/132), sebagaimana dinukilkan dalam al-Irwa’ (6/38). Al-Imam al-Baghawi rahimahullah menyebutkan bahwa makna sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tersebut adalah apakah kalian bingung dalam ber-Islam? Kalian tidak mengetahui agama kalian hingga harus mengambil agama tersebut dari Yahudi dan Nasrani? (Syarhus Sunnah 1/271)

          [2] Artinya, betapa ibumu kehilanganmu. Orang yang mengucapkan hal ini seakan-akan mendoakan kematian lawan bicaranya karena jeleknya perbuatan atau ucapannya.

Bisa jadi, ia mengucapkannya untuk menyatakan, “Apabila engkau berbuat/berucap demikian, kematian lebih baik bagimu agar engkau tidak menambah kejelekan lagi.”

Bisa jadi pula, ucapan ini termasuk lafadz-lafadz yang biasa diucapkan orang Arab tanpa dimaksudkan sebagai doa, seperti ucapan mereka تربت يداك dan قاتلك الله. (an-Nihayah, hlm. 123)

          [3] Al-Hafizh Ibnu Hajar menilai sanadnya hasan (Fathul Bari 13/408).

        [4] Al-Imam Al-Qurthubi rahimahullah menyatakan bahwa dalam ayat ini dan yang sebelumnya ada peringatan agar tidak mengganti, mengubah, dan menambahi syariat. Maka dari itu, semua orang yang mengganti, mengubah, atau mengadakan hal baru (bid’ah) dalam agama Allah yang bukan bagian dari agama dan terlarang dalam agama, ia masuk dalam ancaman yang keras dan azab yang pedih tersebut.” (al-Jami’ li Ahkamil Qur’an 1/9)

          [5] al-Fishal fil Milal wal Ahwa’ wan Nihal, 1/ 213—215

          [6] Lebih dari 114 tahun.

[7] al-Fishal 1/146.

[8] al-Fishal 1/147

          [9] al-Fishal 1/161

[10] Karena terbatasnya lembaran rubrik ini, kami tidak dapat memaparkan semuanya. Pembaca yang ingin mendapatkan penjelasan lebih jauh dipersilakan membaca kitab-kitab seperti al-Fishal fil Milal wal Ahwa’ wan Nihal karya Ibnu Hazm, al-Jawab ash-Shahih liman Baddala Dinal Masih karya al-Imam Ibnu Taimiyah, Hidayatul Hayara fi Ajwibatil Yahudi wan Nashara karya al-Imam Ibnul Qayyim, Izharul Haq karya asy-Syaikh Rahmatullah al-Hindi atau Mukhtasarnya.