Beberapa Kekhususan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam

Sebagai rasul yang terakhir, Rasulullah  Shallallahu ‘alaihi wasallam memiliki kekhususan dibandingkan dengan nabi yang lain. Beliau juga memiliki hak-hak atas umat manusia. Di antara yang wajib diimani sebagai kekhususan Rasulullah  Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah beliau menjadi penutup para nabi, tidak ada nabi setelah beliau. Beliau diutus untuk seluruh manusia sepanjang zaman hingga hari kiamat, sedangkan nabi dan rasul sebelumnya hanya diutus untuk umatnya masing-masing.

Selain itu, wajib diimani pula bahwa syariat beliau menghapus syariat-syariat sebelumnya. Beliau  Shallallahu ‘alaihi wasallam juga memiliki beberapa kekhususan lainnya. Dalam ruang yang terbatas ini, mari kita melihat beberapa kekhususan Rasulullah  Shallallahu ‘alaihi wasallam dan hak-hak beliau atas umatnya. Kita awali dengan pembahasan kekhususan beliau atas para nabi dan rasul.

 

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah Khatamun Nabiyyin (Penutup Para Nabi)

Di antara kekhususan Rasulullah  Shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau adalah penutup para nabi, tidak ada lagi nabi dan rasul sesudahnya. Keyakinan bahwasanya Nabi Muhammad  Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah penutup para nabi, merupakan keyakinan umat Islam seluruhnya, tanpa kecuali. Keyakinan ini adalah salah satu prinsip yang disepakati oleh seluruh ulama terdahulu dan yang belakangan. Banyak dalil, baik dalil-dalil naqli (nash al-Kitab dan as-Sunnah) maupun aqli (akal) yang menunjukkannya. Di antara dalil naqli adalah empat dalil berikut.

1. Dalam al-Qur’an secara tegas Allah Subhanahu wata’ala menyatakan bahwa Muhammad adalah khatamun nabiyyin (penutup para nabi). Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

مَّا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِّن رِّجَالِكُمْ وَلَٰكِن رَّسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ ۗ وَكَانَ اللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا

 Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kalian, melainkan rasulullah dan penutup para nabi. Adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (al-Ahzab: 40)

Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Ayat ini adalah nash bahwa tidak ada nabi setelahnya. Jika tidak ada nabi setelahnya, berarti tidak ada rasul setelahnya. Kerasulan lebih pantas dan lebih layak untuk tidak ada, karena risalah (kerasulan) lebih khusus daripada nubuwah (kenabian). Semua rasul adalah nabi, namun tidak sebaliknya.” (Tafsir al-Quranul Azhim)

2. Diriwayatkan dalam hadits mutawatir dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِنَّ الرِّسَالَةَ وَالنُّبُوَّةَ قَدِ انْقَضَتْ فَلاَ نَبِيَّ وَلاَ رَسُوْلَ بَعْدِي

Sesungguhnya risalah kenabian itu telah habis, maka tidak ada nabi dan rasul sesudahku. (HR. Ahmad)

3. Hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah  Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَثَلِي وَمَثَلُ الْأَنْبِيَاءِ مِنْ قَبْلِي كَمَثَلِ رَجُلٍ بَنَى دَارًا بِنَاءً فَأَحْسَنَهُ وَأَجْمَلَهُ إِلاَّ مَوْضِعَ لَبِنَةٍ مِنْ زَاوِيَةٍ مِنْ زَوَايَاهُ، فَجَعَلَ النَّاسُ يَطُوفُونَ بِهِ وَيَعْجَبُونَ لَهُ وَيَقُولُونَ: هَلَّا وُضِعَتْ هَذِهِ اللَّبِنَةُ؟ قَالَ: فَأَنَا اللَّبِنَةُ وَأَنَا خَاتِمُ الْأَنْبِيَاءِ

Sesungguhnya perumpamaan diriku dengan nabi-nabi sebelumku seperti seseorang yang membuat sebuah rumah. Diperindah dan diperbagusnya (serta disempurnakan pembangunannya) kecuali satu tempat untuk sebuah batu bata di salah satu sudutbya. Orang-orang pun mengelilingi rumah dan mengaguminya lantas bertanya, Mengapa batu bata ini belum dipasang? Nabi pun berkata, Sayalah batu bata (terakhir) itu, dan sayalah penutup para nabi. (HR. al- Bukhari, Ahmad, dan Ibnu Hibban)

4. Dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim, Rasulullah  Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

لاَ تَقُوْمُ السَّاعَةُ حَتَّى يَبْعَثَ دَجَّالُوْنَ كَذَّابُوْنَ قَرِيْبٌ مِنْ ثَلاَثِيْنَ كُلُّهُمْ يَزْعَمُ أَنَّهُ رَسُوْلُ اللهِ

Tidak akan terjadi kiamat kecuali akan keluar (muncul) tiga puluh pendusta (penipu). Semuanya mengaku sebagai rasul Allah Subhanahu wata’ala. (HR. al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)

Dalam riwayat lain, “… Dan sesungguhnya akan muncul pada umatku pendusta yang jumlahnya tiga puluh orang. Mereka semua mengaku sebagai nabi, padahal aku adalah penutup para nabi dan tidak ada nabi sepeninggalku. (HR. Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah, dengan sanad yang sahih menurut syarat Muslim)

Inilah empat dalil naqli yang menunjukkan bahwa Nabi Muhammad  Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah penutup para nabi. Adapun dalil-dalil aqli, yang menunjukkan keyakinan Ahlus Sunnah adalah dua dalil berikut.

1. Allah Subhanahu wata’ala mengabarkan bahwa agama Islam telah sempurna sehingga syariat tidak perlu lagi penambahan atau pengurangan hingga hari kiamat. Artinya, tidak perlu diutus nabi atau rasul lagi. Tentang kesempurnaan syariat Islam, Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا ۚ

Pada hari ini Ku-sempurnakan untuk kalian agama kalian, telah kucukupkan nikmat-Ku, dan telah Kuridhai Islam menjadi agama bagi kalian. (al-Maidah: 3)

2. Al-Qur’an dan as-Sunnah telah dijamin sebagai pembimbing hingga hari kiamat. Allah Subhanahu wata’ala juga menjamin akan menjaga keduanya sebagaimana dalam firman-Nya,

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan al-Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya. (al-Hijr: 9)

Jika al-Qur’an dan as-Sunnah telah dijaga hingga hari kiamat, tidak ada perubahan, cukuplah keberadaan Rasulullah  Shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai rasul yang terakhir dengan risalah yang dijamin kemurniannya hingga hari kiamat. Oleh karena itulah, Rasulullah  Shallallahu ‘alaihi wasallam menjamin kebaikan bagi mereka yang berpegang teguh dengan al-Kitab dan as-Sunnah dalam sabda beliau,

تَرَكْتُ فِيْكُمْ أَمْرَيْنِ مَا إِنْ تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا لَنْ تَضِلُّوْا أَبَدًا، كِتَابَ اللهِ وَسُنَّةَ رَسُوْلِهِ

Aku tinggalkan dua hal pada kalian, jika kalian berpegang teguh kepada keduanya, niscaya tidak akan tersesat selama-lamanya. Dua hal itu adalah al- Quran dan Sunnah Rasul-Nya. (HR. al-Imam Malik)

Hadits di atas menjelaskan bahwa cukup bagi umat Islam untuk menjadikan al-Qur’an dan sunnah Nabi sebagai pedoman hidupnya. Artinya, tidak perlu adanya nabi dan rasul sesudah Nabi Muhammad  Shallallahu ‘alaihi wasallam. Sebab, jika ada nabi lagi, pasti wahyu Allah Subhanahu wata’ala akan turun lagi. Akan ada lagi hadits-hadits dari nabi atau rasul yang baru tersebut,yang menambah atau mengurangi apa yang telah ada dalam al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah  Shallallahu ‘alaihi wasallam. Ini sangatlah mustahil dan sangat bertentangan dengan firman Allah Subhanahu wata’ala tentang kesempurnaan Islam. Jika ada yang meyakini diutusnya nabi setelah Nabi Muhammad  Shallallahu ‘alaihi wasallam, seperti Ahmadiyah yang menetapkan Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabi1, sungguh dia telah mencela Allah Subhanahu wata’ala dan Rasul- Nya. Ia telah keluar dari barisan kaum muslimin. Asy-Syaikh Jamaluddin Muhammad al-Anshari berkata, “Merujuk kepada al-Qur’an dan hadis mutawatir di atas, kalau ada orang yang mengatakan masih akan ada nabi setelah nabi Muhammad  Shallallahu ‘alaihi wasallam atau ada orang yang mengaku menjadi nabi atau rasul, maka mereka telah sesat dan kafir.” (Lisanul Arab)

Sebagai penutup pembahasan, ada sebuah hal yang mungkin menjadi pertanyaan, “Bukankah di akhir zaman nanti Nabi Isa ‘Alaihisslam akan turun ke muka bumi? Apakah artinya ada nabi sesudah beliau  Shallallahu ‘alaihi wasallam?” Jawabannya, benar bahwa Nabi Isa ‘Alaihissalam akan turun ke muka bumi di akhir zaman sebagaimana dikabarkan oleh Rasulullah  Shallallahu ‘alaihi wasallam. Saat ini Nabi Isa q berada di langit. Akan tetapi, beliau turun tidak membawa syariat baru. Beliau turun untuk menegakkan syariat Nabi Muhammad  Shallallahu ‘alaihi wasallam. (Lihat Fatawa al-Haram al-Makki, asy-Syaikh Ibnu Utsaimin)

 

Rasulullah  Shallallahu ‘alaihi wasallam Diutus untuk Seluruh Manusia

Rasulullah  Shallallahu ‘alaihi wasallam bukan hanya diutus untuk orang-orang Arab, bukan pula kepada manusia di masa beliau saja. Yang wajib kita yakini, beliau diutus untuk seluruh manusia sepanjang masa hingga hari kiamat. Bahkan, Allah Subhanahu wata’ala juga mengutus beliau untuk kalangan jin. Berbeda halnya dengan nabi dan rasul yang lain, mereka diutus khusus untuk kaumnya. Rasulullah  Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

… وَكَانَ  :  أُعْطِيتُ خَمْسًا لَمْ يُعْطَهُنَّ أَحَدٌ النَّبِيُّ يُبْعَثُ إِلَى قَوْمِهِ خَاصَّةً ، وَبُعِثْتُ إِلَى النَّاسِ عَامَّةً

Aku diberi lima kekhususan yang tidak diberikan oleh Allah l kepada nabi sebelumku… di antaranya: setiap nabi hanya diutus kepada umatnya, sedangkan aku diutus kepada seluruh umat manusia.” (HR. al-Bukhari)

Ayat – ayat al – Qur ’ an p n menunjukkan bahwa syariat beliau bersifat universal, berlaku untuk seluruh alam hingga hari kiamat. Di antara ayat-ayat tersebut adalah firman Allah Subhanahu wata’ala,

تَبَارَكَ الَّذِي نَزَّلَ الْفُرْقَانَ عَلَىٰ عَبْدِهِ لِيَكُونَ لِلْعَالَمِينَ نَذِيرًا

Mahasuci Allah yang telah menurunkan al-Furqan (al-Quran) kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam. (al Furqan : 1)

Dalam ayat lain Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ

Dan tiadalah Kami mengutusmu melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam. (al-Anbiya107 )

Allah Subhanahu wata’ala juga berfirman,

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا كَافَّةً لِّلنَّاسِ بَشِيرًا وَنَذِيرًا وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

Dan Kami tidak mengutusmu kecuali kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui. (Saba: 28)

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعًا

Hai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua. (al-Araf : 158)

Syariat Beliau Menghapus Syariat- Syariat Sebelumnya

Dengan diutusnya Rasulullah  Shallallahu ‘alaihi wasallam, terhapuslah semua syariat nabi sebelum beliau, dan tidak ada syariat lain yang diterima selain syariat yang beliau bawa. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

ڦ

وَمَن يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَن يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Barang siapa mencari agama selain Islam, sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) darinya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi. (Ali Imran: 85)

Rasulullah  Shallallahu ‘alaihi wasallam menguatkan makna ini dalam sabda beliau,

وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ، لَا يَسْمَعُ بِي أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الْأُمَّةِ يَهُودِيٌّ وَلَا نَصْرَانِيٌّ ثُمَّ يَمُوتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ إِلَّا كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ

Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, tak seorang pun dari umat ini yang beragama Yahudi dan tidak pula Nasrani, yang pernah mendengar tentangku lantas dia mati dalam keadaan tidak beriman kepada risalah yang aku bawa, kecuali dia menjadi penghuni neraka. (HR. Muslim)

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Ismail Muhammad Rijal, Lc

Rasul Allah, Sang Penegak Hujah

رُّسُلًا مُّبَشِّرِينَ وَمُنذِرِينَ لِئَلَّا يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَى اللَّهِ حُجَّةٌ بَعْدَ الرُّسُلِ ۚ وَكَانَ اللَّهُ عَزِيزًا حَكِيمًا

(Mereka kami utus) selaku rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya rasul-rasul itu. Dan adalah Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. (an-Nisa: 165)

Tafsir Ayat

رُّسُلًا مُّبَشِّرِينَ وَمُنذِرِينَ

Rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan.

Ayat Allah Subhanahu wata’ala ini menerangkan tentang tugas yang Allah Subhanahu wata’ala berikan kepada para rasul-Nya. Mereka adalah pembawa risalah yang haq dari Allah Subhanahu wata’ala untuk disampaikan kepada umatnya, sekaligus sebagai penegak hujah atas mereka, sehingga manusia kembali kepada jalan Allah Subhanahu wata’ala dan bimbingan-Nya. Agar mereka merasakan kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat, yang itu merupakan suatu kegembiraan yang tiada akhir. Sebaliknya, mereka yang menyelisihi dan menentang para rasul-Nya, berhak mendapatkan peringatan dan ancaman berupa siksaan yang dahsyat. Mereka adalah yang telah sampai kepadanya hujah/risalah, namun enggan mengikuti petunjuk dan bimbingan rasul-Nya. Al- Allamah as-Sa’di rahimahullah berkata dalam tafsirnya Taisir al-Karim ar-Rahman ketika menjelaskan ayat ini, “Allah Subhanahu wata’ala mengutus mereka sebagai pembawa berita gembira bagi yang taat kepada Allah Subhanahu wata’ala dan mengikuti para rasul-Nya, berupa kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. Sekaligus memberi peringatan kepada yang bermaksiat kepada Allah Subhanahu wata’ala dan menyelisihi para rasul-Nya, berupa kesengsaraan hidup di dunia dan akhirat, agar manusia tidak lagi memiliki alasan di hadapan Allah Subhanahu wata’ala setelah diutusnya para rasul. Agar mereka tidak lagi beralasan,

مَا جَاءَنَا مِن بَشِيرٍ وَلَا نَذِيرٍ ۖ فَقَدْ جَاءَكُم بَشِيرٌ وَنَذِيرٌ ۗ

Tidak datang kepada kami pembawa berita gembira dan pemberi peringatan. Maka sungguh telah datang kepada kalian pembawa berita gembira dan pemberi peringatan. (al-Maidah: 19)

Jadi, makhluk tidak lagi memiliki hujah dan alasan di hadapan Allah Subhanahu wata’ala dengan diutusnya para rasul secara berturut-turut, yang menjelaskan kepada mereka tentang perkara agamanya, apa saja yang diridhai dan yang dimurkai-Nya, serta menjelaskan jalan-jalan surga dan juga jalan-jalan neraka. Maka barang siapa yang kafir setelah itu, maka jangan dia mencela kecuali dirinya sendiri.” (Taisir al-Karim ar-Rahman)

Jalan Kebenaran Hanya Melalui Rasul Allah Subhanahu wata’ala

Ayat yang mulia ini menerangkan bahwa para rasul merupakan perantara antara Allah Subhanahu wata’ala  dengan hamba-hamba- Nya dalam menyampaikan hukumhukum- Nya, sehingga bagi yang taat akan mendapatkan kabar gembira berupa kenikmatan dan kebahagiaan yang kekal abadi di dalam surga-Nya, yang hanya ditinggali oleh hamba-hamba Allah Subhanahu wata’ala yang senantiasa taat kepada Allah Subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَمَن يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَٰئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِم مِّنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ ۚ وَحَسُنَ أُولَٰئِكَ رَفِيقًا

Dan barang siapa menaati Allah dan Rasul (Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: para nabi, para shiddiqin, orangorang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. (an-Nisa: 69)

Firman-Nya,

تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ ۚ وَمَن يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ يُدْخِلْهُ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا ۚ وَذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

(Hukum-hukum tersebut) itu adalah ketentuan-ketentuan dari Allah. Barang siapa taat kepada Allah dan Rasul- Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam surga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai, sedangkan mereka kekal di dalamnya; dan itulah kemenangan yang besar. (an-Nisa:13)

Firman-Nya pula,

وَلَقَدْ أَخَذَ اللَّهُ مِيثَاقَ بَنِي إِسْرَائِيلَ وَبَعَثْنَا مِنْهُمُ اثْنَيْ عَشَرَ نَقِيبًا ۖ وَقَالَ اللَّهُ إِنِّي مَعَكُمْ ۖ لَئِنْ أَقَمْتُمُ الصَّلَاةَ وَآتَيْتُمُ الزَّكَاةَ وَآمَنتُم بِرُسُلِي وَعَزَّرْتُمُوهُمْ وَأَقْرَضْتُمُ اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا لَّأُكَفِّرَنَّ عَنكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَلَأُدْخِلَنَّكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ ۚ فَمَن كَفَرَ بَعْدَ ذَٰلِكَ مِنكُمْ فَقَدْ ضَلَّ سَوَاءَ السَّبِيلِ

Dan sesungguhnya Allah telah mengambil perjanjian (dari) bani Israil dan telah Kami angkat di antara mereka dua belas orang pemimpin dan Allah berfirman, Sesungguhnya Aku beserta kamu, sesungguhnya jika kamu mendirikan shalat dan menunaikan zakat  serta beriman kepada rasul-rasul-Ku dan kamu bantu mereka dan kamu pinjamkan kepada Allah pinjaman yang baik sesungguhnya Aku akan menghapus dosa-dosamu. Sesungguhnya kamu akan Kumasukkan ke dalam surga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai. Barang siapa kafir di antaramu sesudah itu, sungguh ia telah tersesat dari jalan yang lurus. (al-Maidah: 12)

Masih banyak ayat yang semakna dengan ayat-ayat ini. Diriwayatkan dari Mughirah bin Syu’bah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Sa’d bin Ubadah radhiyallahu ‘anhu pernah berkata, “Demi Allah, kalau seandainya aku melihat seorang laki-laki bersama istriku, niscaya aku akan memenggalnya dengan ketajaman pedang ini.”

Ucapan ini sampai kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam lalu beliau bersabda,

تَعْجَبُونَ مِنْ غَيْرَةِ سَعْدٍ؟ وَاللهِ لَأَنَا أَغْيَرُ مِنْهُ، وَاللهُ أَغْيَرُ مِنِّي، وَمِنْ أَجْلِ غَيْرَةِ اللهِ حَرَّمَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَلاَ أَحَدَ أَحَبُّ إِلَيْهِ الْعُذْرُ مِنَ اللهِ، وَمِنْ أَجْلِ ذَلِكَ بَعَثَ الْمُبَشِّرِينَ وَالْمُنْذِرِينَ وَ أَحَدَ أَحَبُّ إِلَيْهِ الْمِدْحَةُ مِنَ اللهِ وَمِنْ أَجْلِ ذَلِكَ وَعَدَ اللهُ الْجَنَّةَ

Kalian merasa heran dengan kecemburuan Sad? Demi Allah, aku lebih cemburu darinya, dan Allah Subhanahu wata’ala lebih cemburu dariku. Karena kecemburuan Allah Subhanahu wata’ala, Dia mengharamkan segala perbuatan keji yang tampak dan yang tersembunyi. Tiada satu pun yang lebih senang menerima uzur dari Allah Subhanahu wata’ala. Oleh karena itu, Dia mengutus para pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, dan tidak satu pun yang paling menyenangi pujian dari Allah Subhanahu wata’ala, karena itulah Allah Subhanahu wata’ala menjanjikan bagi mereka surga. (Muttafaq Alaihi dari Mughirah radhiyallahu ‘anhu)

Dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

كُلُّ أُمَّتِي يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ إِلاَّ مَنْ أَبَى. قَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ، وَمَنْ يَأْبَى؟ قَالَ: مَنْ أَطَاعَنِي دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ أَبَى

Setiap umatku pasti masuk surga kecuali yang enggan. Mereka bertanya, Siapa yang enggan, wahai Rasulullah? Beliau menjawab, Barang siapa taat kepadaku maka dia pasti masuk surga, dan barang siapa yang bermaksiat kepadaku maka dialah yang enggan. (HR. al- Bukhari no. 6851)

Diriwayatkan pula dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ، يَسْمَعُ بِي أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الْأُمَّةِ يَهُودِيٌّ وَلاَ نَصْرَانِيٌّ ثُمَّ يَمُوتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ إِلاَّ كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ

Demi Allah yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, tidak seorang pun dari kalangan umat ini, apakah dia Yahudi atau Nasrani, yang telah mendengar tentangku, lalu dia mati dalam keadaan tidak beriman dengan apa yang aku diutus dengannya, melainkan dia termasuk penghuni neraka. (HR. Muslim, no. 153)

Masih banyak lagi dalil yang menjelaskan tentang masalah ini. Jadi, jelas bagi kita, hidayah dan jalan yang benar hanyalah dapat ditempuh melalui jalan para rasul yang diutus Allah Subhanahu wata’ala kepada umatnya. Barang siapa menyangka bahwa ada jalan lain yang dapat mengantarkan kepada surga selain Rasul Allah Subhanahu wata’ala, sungguh dia telah sesat dan keluar dari Islam, berdasarkan dalildalil yang telah kita sebutkan.

Al-Allamah Muhammad al-Amin asy-Syinqithi rahimahullah menegaskan, “Tidaklah diragukan bagi orang yang memiliki pengetahuan dalam Islam bahwa tidak ada jalan yang dengannya dapat diketahui perintah-perintah Allah Subhanahu wata’ala dan larangan- Nya, segala hal yang mendekatkan diri kepada-Nya, baik dalam melakukan sesuatu ataupun meninggalkannya, melainkan harus melalui jalan wahyu. Barang siapa menyangka bahwa untuk sampai kepada amalan yang diridhai oleh Allah Subhanahu wata’ala tidak perlu melalui jalan para rasul dan risalah yang mereka bawa, meskipun dalam satu masalah, tidak diragukan lagi bahwa dia seorang zindiq. Ayat-ayat dan hadits sangat banyak menjelaskan hal ini. Di antaranya,

وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّىٰ نَبْعَثَ رَسُولًا

Kami tidak akan mengazab sebelum Kami mengutus seorang rasul. (al- Isra: 15)

رُّسُلًا مُّبَشِّرِينَ وَمُنذِرِينَ لِئَلَّا يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَى اللَّهِ حُجَّةٌ بَعْدَ الرُّسُلِ ۚ

(Mereka kami utus) selaku rasulrasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar supaya tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya rasul-rasul itu. (an-Nisa: 165)

وَلَوْ أَنَّا أَهْلَكْنَاهُم بِعَذَابٍ مِّن قَبْلِهِ لَقَالُوا رَبَّنَا لَوْلَا أَرْسَلْتَ إِلَيْنَا رَسُولًا فَنَتَّبِعَ آيَاتِكَ مِن قَبْلِ أَن نَّذِلَّ وَنَخْزَىٰ

Dan sekiranya Kami binasakan mereka dengan suatu azab sebelum al- Quran itu (diturunkan), tentulah mereka berkata, Ya Rabb kami, mengapa tidak Engkau utus seorang rasul kepada kami, lalu kami mengikuti ayat-ayat Engkau sebelum kami menjadi hina dan rendah? (Thaha: 134)

Beliau melanjutkan, “Dengan ini engkau mengetahui bahwa apa yang disangka oleh kebanyakan orang jahil yang mengikuti tasawuf bahwa mereka dan syaikh-syaikh mereka memiliki “jalan batin” yang sejalan dengan kebenaran di sisi Allah Subhanahu wata’ala, meskipun menyelisihi yang zahir dari syariat. Seperti berbedanya apa yang dilakukan oleh Khadir ‘Alaihissalam terhadap ilmu zahir yang dimiliki Musa ‘Alaihissalam. Ini adalah perbuatan zindiq yang dapat menjerumuskan kepada kemurtadan secara menyeluruh dari agama Islam dengan alasan bahwa kebenarannya ada dalam ilmu batin yang menyelisihi ilmu zahir. (Adhwaul Bayan, asy-Syinqithi, 3/ 324)

Al-Qurthubi rahimahullah menjelaskan, “Berkata syaikh kami, Abul Abbas, ada satu kaum dari kalangan zindiq batiniyah yang menempuh cara tertentu dalam menetapkan hukum syar’i. Mereka berkata, ‘Hukum-hukum syar’i ini hanya diterapkan kepada para nabi dan masyarakat umum. Adapun para wali dan orang-orang khusus, mereka tidak butuh kepada nash-nash tersebut, namun cukup bagi mereka sesuatu yang terbetik di dalam hati mereka yang berupa persangkaan kuat yang ada di dalam benak mereka.’ Mereka juga berkata, ‘Hal itu disebabkan karena bersihnya hati mereka dari berbagai kotoran dan perubahan (fitrah) sehingga menyebabkan ilmuilmu ilahiyah hakikat Rabbaniyah tersingkap oleh mereka, sehingga mereka mengetahui rahasia-rahasia alam dan mengerti hukum-hukum secara terperinci, sehingga mereka tidak membutuhkan hukum-hukum syariat secara menyeluruh. Sebagaimana halnya Khadir, yang dia merasa tidak memerlukan yang zahir dari ilmu yang dimiliki oleh Musa berupa pemahaman-pemahaman, dan telah datang riwayat yang mereka nukilkan:

اسْتَفْتِ قَلْبَكَ وَإِنْ أَفْتَاكَ الْمُفْتُونَ

Mintalah fatwa kepada hatimu meskipun para mufti memberi fatwa kepadamu.

Lalu berkata Syaikh kami, ‘Ini adalah ucapan zindiq dan kekufuran, dibunuh orang yang mengucapkannya dan tidak diminta bertobat, sebab dia mengingkari syariat yang diketahui secara pasti. Sebab, Allah Subhanahu wata’ala telah menetapkan sunnah- Nya dan menjalankan kebijakan-Nya, bahwa hukum-hukum-Nya tidak dapat diketahui melainkan melalui para rasul- Nya yang menjadi perantara antara Dia dan makhluk-Nya. Merekalah yang menyampaikan dari Allah Subhanahu wata’ala risalah dan wahyu-Nya yang menerangkan tentang syariat dan hukum-Nya. Allah Subhanahu wata’ala telah memilih dan memberi keistimewaan kepada mereka, sebagaimana Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

اللَّهُ يَصْطَفِي مِنَ الْمَلَائِكَةِ رُسُلًا وَمِنَ النَّاسِ

Allah memilih utusan-utusan (Nya) dari malaikat dan dari manusia. (al- Hajj: 75)

Allah Subhanahu wata’ala juga berfirman,

اللَّهُ أَعْلَمُ حَيْثُ يَجْعَلُ رِسَالَتَهُ

Allah lebih mengetahui di mana Dia menempatkan tugas kerasulan. (al-Anam: 124)

Firman-Nya,

كَانَ النَّاسُ أُمَّةً وَاحِدَةً فَبَعَثَ اللَّهُ النَّبِيِّينَ مُبَشِّرِينَ وَمُنذِرِينَ وَأَنزَلَ مَعَهُمُ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ لِيَحْكُمَ بَيْنَ النَّاسِ فِيمَا اخْتَلَفُوا فِيهِ ۚ

Manusia itu adalah umat yang satu. (Setelah timbul perselisihan), maka Allah mengutus para nabi sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka Kitab dengan benar, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan. (al-Baqarah: 213)

Dan ayat-ayat yang lainnya. Kesimpulannya, menjadi sebuah ilmu yang pasti dan keyakinan yang jelas, demikian pula kesepakatan para ulama salaf dan khalaf, tidak ada jalan untuk memahami hukum-hukum Allah Subhanahu wata’ala yang seluruhnya kembali kepada perintah dan larangan-Nya, tiada satu pun dapat diketahui darinya, kecuali melalui jalan para rasul. Jadi, barang siapa menyatakan bahwa ada sebuah metode alternatif yang dengannya dapat mengetahui perintah dan larangan-Nya selain dari para rasul, sehingga dia tidak merasa membutuhkan para rasul, sungguh dia telah kafir dan boleh dibunuh—oleh pemerintah muslim. Tidak perlu pula dimintai bertobat dan diskusi. Ditambah lagi, ucapan ini sama dengan menetapkan adanya nabi setelah Nabi kita Shallallahu ‘alaihi wasallam yang telah Allah Subhanahu wata’ala jadikan beliau sebagai penutup para nabi dan rasul, tidak ada nabi dan rasul setelahnya. Penjelasan tentang hal ini, bahwa orang yang berkata bahwa dia mengambil wahyu melalui hatinya, dan apa yang terbetik di dalam hatinya; itulah hukum Allah Subhanahu wata’ala sehingga dia beramal sesuai sesuai petunjuk hatinya, tidak butuh kepada kitab Allah Subhanahu wata’ala dan juga sunnah; maka sungguh dia telah menetapkan dirinya memiliki sifat kenabian, ini seperti halnya yang disabdakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam,

إِنَّ رُوحَ الْقُدُسِ نَفَثَ فِي رَوْعِي

Sesungguhnya ruhul qudus (Jibril ‘Alaihissalam) telah meniupkan ke dalam sanubariku. (HR. Ibnu Abi Syaibah, 7/79, dari Abdullah bin Mas’ud z) (Tafsir Al-Qurthubi, 11/40—41)

Tiada Siksaan Tanpa Ditegakkan Hujah Risalah

Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

لِئَلَّا يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَى اللَّهِ حُجَّةٌ بَعْدَ الرُّسُلِ

 Agar tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya rasul-rasul itu.

Ayat ini menerangkan bahwa Allah Subhanahu wata’ala mengutus rasul-Nya untuk membawa hujah yang akan ditegakkan kepada setiap hamba-Nya, agar siapa di antara mereka yang taat mendapatkan kebahagian hidup di dunia dan akhirat, serta siapa di antara mereka yang bermaksiat maka Allah Subhanahu wata’ala berhak menyiksa mereka untuk menegakkan keadilan-Nya. Di dalam ayat yang lain, Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّىٰ نَبْعَثَ رَسُولًا

Kami tidak akan mengazab sebelum Kami mengutus seorang rasul. (al- Isra: 15)

Demikian pula firman-Nya,

ذَٰلِكَ أَن لَّمْ يَكُن رَّبُّكَ مُهْلِكَ الْقُرَىٰ بِظُلْمٍ وَأَهْلُهَا غَافِلُونَ

Hal itu adalah karena Rabbmu tidaklah membinasakan kota-kota secara aniaya, sedangkan penduduknya dalam keadaan lengah. (al-Anam: 131)

Asy-Syinqithi rahimahullah berkata ketika menjelaskan ayat ini, “Makna ayat ini bahwa Allah Subhanahu wata’ala tidak membinasakan satu kaum dalam keadaan mereka lalai tanpa memberi peringatan kepada mereka, bahkan Allah Subhanahu wata’ala tidak membinasakan seorang pun melainkan setelah menghilangkan uzur bagi mereka dan setelah mendapatkan peringatan melalui lisan para rasul Shallallahu ‘alaihi wasallam.” (Adhwaul Bayan, 1/493) Di dalam ayat ini, tidak disebutkan hujah apa yang disampaikan oleh para rasul kepada mereka, namun dijelaskan di dalam ayat yang lain bahwa hujah yang dimaksud adalah ayat-ayat Allah Subhanahu wata’ala. Firman-Nya,

وَلَوْ أَنَّا أَهْلَكْنَاهُم بِعَذَابٍ مِّن قَبْلِهِ لَقَالُوا رَبَّنَا لَوْلَا أَرْسَلْتَ إِلَيْنَا رَسُولًا فَنَتَّبِعَ آيَاتِكَ مِن قَبْلِ أَن نَّذِلَّ وَنَخْزَىٰ

Dan sekiranya Kami binasakan mereka dengan suatu azab sebelum al- Quran itu (diturunkan), tentulah mereka berkata, Ya Rabb kami, mengapa tidak Engkau utus seorang rasul kepada kami, lalu kami mengikuti ayat-ayat Engkau sebelum kami menjadi hina dan rendah? (Thaha: 134)

Juga firman-Nya,

وَلَوْلَا أَن تُصِيبَهُم مُّصِيبَةٌ بِمَا قَدَّمَتْ أَيْدِيهِمْ فَيَقُولُوا رَبَّنَا لَوْلَا أَرْسَلْتَ إِلَيْنَا رَسُولًا فَنَتَّبِعَ آيَاتِكَ وَنَكُونَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ

Agar mereka tidak mengatakan ketika azab menimpa mereka disebabkan apa yang mereka kerjakan, Ya Rabb kami, mengapa Engkau tidak mengutus seorang rasul kepada kami, lalu kami mengikuti ayat-ayat Engkau dan jadilah kami termasuk orang-orang mukmin. (al-Qashash: 47)

Adapun firman-Nya,

وَكَانَ اللَّهُ عَزِيزًا حَكِيمًا

Dan adalah Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.

Diutusnya para rasul ini menunjukkan kemuliaan Allah Subhanahu wata’ala dan kebijaksanaan- Nya. Hal ini juga menunjukkan keutamaan dan kebaikan-Nya, di saat manusia sangat membutuhkan para nabi, lalu Allah Subhanahu wata’ala memberikan anugerah kepada mereka (yaitu dengan diutusnya para rasul). Bagi-Nya segala puji dan syukur.” (Taisir al-Karim ar-Rahman) Wallahu alam.

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Muawiyah Askari bin Jamal