Bagaimana Beriman kepada Nabi dan Rasul?

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah dalam kitabnya, Syarh Tsalatsatul Ushul, menyebutkan bahwa keimanan kepada rasul mengandung empat unsur pokok.

1. Mengimani bahwa Allah Subhanahu wata’ala benar-benar telah mengutus para nabi dan rasul kepada setiap umat.

Tidak boleh seorang mukallaf mengkufuri walaupun seorang rasul saja. Sungguh, orang yang mengingkari walaupun hanya satu orang rasul, artinya dia telah mengingkari seluruh nabi dan rasul. Allah Subhanahu wata’ala berfirman tentang kaum Nabi Nuh ‘Alaihissalam,

كَذَّبَتْ قَوْمُ نُوحٍ الْمُرْسَلِينَ

Kaum Nuh telah mendustakan para rasul. (asy-Syuara: 105)

Perhatikan ayat di atas, walaupun kaum Nuh hanya mendustakan Nabi Nuh ‘Alaihissalam, namun Allah Subhanahu wata’ala menghukumi mereka sebagai kaum yang mendustakan seluruh rasul. Ayat-ayat yang semisal ini banyak dalam al-Qur’an.

2. Mengimani nama-nama nabi dan rasul yang disebutkan dalam nash.

Dalam al-Qur’an terdapat 25 nama nabi dan rasul yang disepakati, mereka adalah: Adam, Idris, Nuh, Hud, Shalih, Ibrahim, Luth, Isma’il, Ishaq, Ya’qub, Yusuf, Syu’aib, Ayyub, Dzulkifli, Musa, Harun, Dawud, Sulaiman, Ilyas, Ilyasa’, Yunus, Zakariya, Yahya, ‘Isa, dan Muhammad shalawatullah wa salamuhu alaihim. Adapun nabi dan rasul yang tidak diketahui nama-nama mereka, kewajiban kita adalah mengimaninya secara global.

3. Membenarkan semua berita baik dari al-Quran maupun hadits-hadits sahih tentang para nabi dan rasul.

4. Mengamalkan syariat nabi yang nabi tersebut diutus kepadanya.

Manusia yang hidup di zaman Nabi Nuh ‘Alaihissalam harus mengikuti semua syariat Nabi Nuh ‘Alaihissalam. Yang hidup di zaman Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam, harus mengikuti semua syariat Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam, demikian seterusnya. Penutup para nabi adalah Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau diutus untuk seluruh umat manusia. Jadi, ketika telah datang Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam, wajib bagi seluruh manusia hingga hari kiamat, termasuk ahli kitab (Yahudi dan Nasrani), untuk tunduk dan berserah diri pada Islam. Allah berfirman Subhanahu wata’ala,

فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنفُسِهِمْ حَرَجًا مِّمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

Maka demi Rabbmu, mereka tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka suatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya. (an-Nisa: 65)

 

Manusia Membutuhkan Nabi dan Rasul

Rasul-rasul Allah Subhanahu wata’ala  memiliki peran yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Mereka mendapatkan wahyu dari Allah Subhanahu wata’ala, yaitu syariat yang akan mengantarkan manusia kepada jalan- Nya Subhanahu wata’ala. Merekalah perantara antara Allah Subhanahu wata’ala dan hamba-Nya dalam hal penyampaian risalah. Perlu ditekankan bahwa perantara yang dimaksud adalah perantara dalam menyampaikan risalah, bukan perantara ala sufi-quburi, yang meyakini bahwa mereka adalah perantara dalam menyampaikan hajat kepada Allah Subhanahu wata’ala. Quburiyun (pengagung kuburan), baik dari kalangan sufi atau Syiah Rafidhah, berkeyakinan bahwa wali-wali Allah Subhanahu wata’ala, termasuk nabi dan rasul, mendengar dan mengetahui keadaan manusia yang masih hidup, meski mereka berada di dalam kubur.

Quburiyun meyakini bahwa mereka mampu menjadi perantara di sisi Allah Subhanahu wata’ala dalam hal permintaan. Jadi, para penyembah kubur pun mengerumuni kuburan guna menyampaikan hajat kepada nabi dan rasul sebagai perantara doa mereka dengan Allah Subhanahu wata’ala. Sungguh, tidak diragukan bahwasanya keyakinan ini adalah keyakinan kufur. Keyakinan ini sama persis dengan keyakinan musyrikin Arab yang disebutkan oleh Allah Subhanahu wata’ala dalam surat az-Zumar.

أَلَا لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ ۚ وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِن دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَىٰ

Ingatlah, hanya kepunyaan Allah Subhanahu wata’ala-lah agama yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata), Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah Subhanahu wata’ala dengan sedekat-dekatnya. (az-Zumar: 3)

 

Diutusnya Nabi dan Rasul, Nikmat Besar yang Wajib Disyukuri

Sebelum diutusnya Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam, manusia dalam masa jahiliah. Kesyirikan menguasai muka bumi; kebejatan akhlak dan moral menjadi simbol-simbol zaman itu; pembunuhan, kezaliman, dan segala macam kerusakan bukan hal yang asing; hukum rimba berlaku; serta tidak ada kasih sayang dan penghormatan pada hak-hak kemanusiaan.

وَإِذَا بُشِّرَ أَحَدُهُم بِالْأُنثَىٰ ظَلَّ وَجْهُهُ مُسْوَدًّا وَهُوَ كَظِيمٌ () يَتَوَارَىٰ مِنَ الْقَوْمِ مِن سُوءِ مَا بُشِّرَ بِهِ ۚ أَيُمْسِكُهُ عَلَىٰ هُونٍ أَمْ يَدُسُّهُ فِي التُّرَابِ ۗ أَلَا سَاءَ مَا يَحْكُمُونَ

Apabila salah seorang dari mereka diberi kabar (kelahiran) anak perempuan, hitamlah (merah padamlah) mukanya, dan dia sangat marah. Ia menyembunyikan dirinya dari orang banyak karena buruknya berita yang disampaikan kepadanya. Apakah dia akan memeliharanya dengan menanggung kehinaan ataukah akan menguburkannya ke dalam tanah (hidup hidup)? Ketahuilah, alangkah buruknya apa yang mereka tetapkan itu. (an- Nahl: 5859)

Kemudian Allah Subhanahu wata’ala mengutus nabi dan rasul-Nya, Muhammad bin Abdillah, menyibak kegelapan-kegelapan itu. Beliau mengantarkan manusia kepada cahaya iman. Sungguh, kebutuhan manusia kepada rasul sangatlah besar. Melalui rasul-rasul Allah Subhanahu wata’ala lah, jalan kebenaran terbentang lebar. Ya, nikmat diutusnya nabi dan rasul kepada umat manusia adalah nikmat besar yang wajib disyukuri. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

لَقَدْ مَنَّ اللَّهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولًا مِّنْ أَنفُسِهِمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِن كَانُوا مِن قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُّبِينٍ

Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus di antara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al-Kitab dan Al-Hikmah (Al- Hadits). Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata. (Ali Imran: 164)

Menjadi teranglah betapa kebutuhan manusia pada para nabi dan rasul-Nya sangatlah primer. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t mengatakan, “Risalah kenabian adalah hal yang pasti dibutuhkan oleh hamba. Kebutuhan mereka kepada risalah ini melebihi hajat mereka kepada segala sesuatu yang lain. Risalah adalah ruh, cahaya, dan kehidupan bagi alam dunia ini. Bagaimana mungkin alam semesta menjadi baik jika tidak ada ruhnya, tidak ada kehidupannya, dan tidak ada cahayanya?!” Sungguh, telah datang ribuan nabi dan rasul kepada umat manusia, hingga diutusnya nabi dan rasul terakhir sebagai bukti kasih sayang Allah Subhanahu wata’ala kepada hamba-Nya.

 

Berapa Jumlah Nabi dan Rasul?

Di antara nabi dan rasul ada yang Allah Subhanahu wata’ala sebutkan kisahnya dalam al- Qur’an. Namun, banyak para nabi dan rasul yang tidak disebutkan oleh Allah Subhanahu wata’ala kisahkan. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلًا مِّن قَبْلِكَ مِنْهُم مَّن قَصَصْنَا عَلَيْكَ وَمِنْهُم مَّن لَّمْ نَقْصُصْ عَلَيْكَ ۗ

Dan sesungguhnya telah Kami utus beberapa orang rasul sebelum kamu. Di antara mereka ada yang Kami ceritakan kepadamu dan di antara mereka ada (pula) yang tidak Kami ceritakan kepadamu…. (al-Mumin: 78)

Jumlah nabi dan rasul sangat banyak, karena pada Allah Subhanahu wata’ala telah mengutus rasul kepada tiap-tiap umat.

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ ۖ

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan), Sembahlah Allah l (saja) dan jauhilah thaghut itu! (an-Nahl: 36)

Bahkan, dalam satu negeri bisa jadi Allah Subhanahu wata’ala mengutus lebih dari seorang rasul, sebagaimana Allah Subhanahu wata’ala mengisahkan dalam surat Yasin tentang penduduk sebuah negeri yang diutus di tengahtengah mereka tiga orang rasul-Nya.

وَاضْرِبْ لَهُم مَّثَلًا أَصْحَابَ الْقَرْيَةِ إِذْ جَاءَهَا الْمُرْسَلُونَ () إِذْ أَرْسَلْنَا إِلَيْهِمُ اثْنَيْنِ فَكَذَّبُوهُمَا فَعَزَّزْنَا بِثَالِثٍ فَقَالُوا إِنَّا إِلَيْكُم مُّرْسَلُونَ

Dan buatlah bagi mereka suatu perumpamaan, yaitu penduduk suatu negeri ketika utusan-utusan datang kepada mereka; (yaitu) ketika Kami mengutus kepada mereka dua orang utusan, lalu mereka mendustakan keduanya; kemudian Kami kuatkan dengan (utusan) yang ketiga, maka ketiga utusan itu berkata, Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang diutus kepadamu. (Yasin: 1314)

Tentang jumlah nabi dan rasul, Abu Dzar al-Ghifari radhiyallahu ‘anhu pernah bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam,

يَا رَسُوْلَ اللهِ كَمْ عِدَّةُ اْلاَنْبِيَاءِ؟ قَالَ: مِائَةُ اَلْفٍ وَاَرْبَعَةٌ وَعِشْرُوْنَ اَلْفًا اَلرُّسُلُ مِنْ ذَالِكَ ثَلاَثَةُ مِائَةٍ وَخَمْسَةَ عَشَرَ جَمًّا غَفِيْرًا

Wahai Rasulullah, berapa jumlah para nabi seluruhnya? Rasul bersabda, Jumlah seluruhnya 124.000 nabi. Yang termasuk rasul di antara mereka adalah 315 orang, suatu jumlah yang banyak. (HR. al-Imam Ahmad dalam al-Musnad, dinyatakan sahih oleh al- Albani dalam al-Misykah [3/1599 no. 5732] dan ash-Shahihah no. 2668)

Riwayat yang menyebutkan jumlah nabi dan rasul juga kita dapatkan dari hadits Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu. Diriwayatkan dalam hadits tersebut, seseorang bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, Wahai Rasulullah, apakah Adam seorang Nabi? Beliau menjawab, Ya, beliau seorang nabi yang diajak bicara oleh Allah Subhanahu wata’ala. Dia bertanya, Berapa generasikah antara Adam dan Nuh? Beliau menjawab, Sepuluh generasi. Wahai Rasulullah, berapakah jumlah rasul? Beliau bersabda, Tiga ratus lima belas. (HR. Ibnu Hibban dalam Shahih-nya, Ibnu Mandah dalam Kitabu at-Tauhid, Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyq, ath-Thabarani dalam al-Ausath, dan al-Hakim dalam al- Mustadrak. Al-Hakim berkata, “Hadits ini sahih menurut syarat Muslim.” Ucapan beliau ini disepakati oleh adz-Dzahabi rahimahullah)

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Ismail Muhammad Rijal, Lc.

Perbedaan Nabi dan Rasul

Nabi dan rasul adalah dua kata yang sering kita dapatkan dalam nash-nash syariat. Tentu sebuah kewajaran ketika muncul pertanyaan, “Adakah perbedaan antara nabi dan rasul? Apakah keduanya memiliki makna yang sama atau berbeda?” Sebagian ulama berpendapat bahwa nabi dan rasul sama, tidak ada perbedaan di antara keduanya dari sisi makna. Namun, pendapat ini tidak diperkuat oleh dalil. Bahkan, tampak bahwa dalil-dalil dari al-Qur’an dan as-Sunnah tidak sejalan dengan pendapat ini. Pendapat yang benar adalah pendapat jumhur (mayoritas) ulama. Mereka menyatakan adanya perbedaan antara nabi dan rasul.

Pendapat ini diperkuat oleh dalil-dalil yang sahih dari al-Kitab dan as-Sunnah, termasuk hadits Abu Dzar dan Abu Umamah radhiyallahu ‘anhuma tentang jumlah nabi dan jumlah rasul. Asy-Syaikh al-Albani rahimahullah setelah menyebut hadits Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu tentang jumlah nabi dan rasul—yang telah kita bahas bersama—berkata, “Ketahuilah, hadits Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu yang baru saja kita sebut, demikian pula hadits-hadits lain yang telah kita ketengahkan sebelumnya, semua menunjukkan adanya perbedaan antara rasul dan nabi. Perbedaan ini ditunjukkan pula oleh al-Qur’an, seperti firman Allah Subhanahu wata’ala,

وَمَا أَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ مِن رَّسُولٍ وَلَا نَبِيٍّ إِلَّا إِذَا تَمَنَّىٰ أَلْقَى الشَّيْطَانُ فِي أُمْنِيَّتِهِ فَيَنسَخُ اللَّهُ مَا يُلْقِي الشَّيْطَانُ ثُمَّ يُحْكِمُ اللَّهُ آيَاتِهِ ۗ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang rasul pun dan tidak (pula) seorang nabi, kecuali apabila ia mempunyai sebuah keinginan, setan pun memasukkan godaan-godaan terhadap keinginan itu. Allah menghilangkan apa yang dimasukkan oleh setan itu dan Allah menguatkan ayat-ayat-Nya. Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana. (al-Hajj : 52)

Demikian pendapat yang diikuti seluruh ahli tafsir, seperti al-Imam Ibnu Jarir ath-Thabari, Ibnu Katsir, hingga yang terakhir dari ahli tafsir, al-Imam al-Alusi rahimahumullah. Pendapat ini pula yang dikuatkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah dalam banyak fatwa beliau. Beliau berkata,

“Semua rasul adalah nabi, namun tidak semua nabi adalah rasul.” (lihat Majmu Fatawa [10/ 209] dan [18/7]) Al-Imam al-Qurthubi rahimahullah dalam tafsirnya berkata bahwa al-Mahdawi menyatakan, “Inilah yang benar, seluruh rasul adalah nabi, namun tidak setiap nabi itu rasul.” (Tafsir al-Qurthubi [12/80])

Perbedaan antara Nabi dan Rasul

Mayoritas ulama menyatakan adanya perbedaan antara nabi dan rasul, sebagaimana pembahasan di atas. Tetapi, mengenai letak perbedaan antara nabi dan rasul, ada beberapa pendapat sebagai berikut.

1. Rasul adalah orang yang diturunkan kepadanya wahyu berupa syariat dan diperintahkan untuk menyampaikan kepada umat manusia. Adapun nabi, mereka adalah orang yang mendapatkan wahyu berupa syariat, namun tidak diperintah untuk menyampaikannya.

2. Rasul adalah orang yang mendapatkan wahyu berupa syariat baru. Adapun nabi diutus dengan membawa syariat rasul sebelumnya. Pendapat kedua ini menyatakan bahwa nabi dan rasul diperintahkan menyampaikan syariat kepada umatnya.

3. Rasul adalah orang yang mendapatkan kitab dan syariat tersendiri (baru). Adapun nabi tidak diturunkan padanya kitab, tetapi menyeru kepada syariat rasul sebelumnya.

Masih ada pendapat lain di kalangan ulama, kita cukupkan tiga pendapat di atas. Dari sekian pendapat para ulama, guru kami, asy-Syaikh Abdul Muhsin al-Abbad hafizhahullah mengatakan, “Mengenai perbedaan antara nabi dan rasul, yang masyhur (selama ini) bahwa nabi adalah orang yang mendapatkan wahyu berupa syariat dan tidak diperintahkan untuk menyampaikan kepada manusia. Adapun rasul adalah orang yang mendapatkan wahyu berupa syariat dan diperintahkan untuk menyampaikan. Namun, terdapat dalil yang menunjukkan tidak benarnya pendapat ini… Di antaranya firman Allah Subhanahu wata’ala,

إِنَّا أَنزَلْنَا التَّوْرَاةَ فِيهَا هُدًى وَنُورٌ ۚ يَحْكُمُ بِهَا النَّبِيُّونَ الَّذِينَ أَسْلَمُوا

Sesungguhnya Kami telah menurunkan kitab Taurat. Di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), yang dengan kitab itu diputuskan perkara orang-orang Yahudi oleh nabi-nabi yang berserah diri kepada Allah. (al-Maidah: 44)

Ayat ini menunjukkan bahwa para nabi bani Israil setelah Musa ‘Alaihissalam berhukum dengan Taurat dan menyeru manusia (berpegang dengan) Taurat. Atas dasar (ayat) ini, bisa kita katakan tentang perbedaan antara nabi dan rasul, bahwasanya rasul adalah orang yang mendapatkan wahyu berupa syariat dan diturunkan kepadanya al-Kitab. Adapun nabi, ia adalah orang yang mendapatkan wahyu untuk menyampaikan risalah rasul sebelumnya. Pendapat inilah yang sesuai dengan dalil-dalil…. (diringkas dari Qathfu Jana ad-Dani hlm. 110)

Nabi dan Rasul adalah Laki-Laki Merdeka

Nabi dan rasul semua adalah laki laki merdeka dan bukan budak. Tidak ada seorang nabi pun dari kalangan wanita. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَمَا أَرْسَلْنَا قَبْلَكَ إِلَّا رِجَالًا نُّوحِي إِلَيْهِمْ ۖ فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِن كُنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

Kami tiada mengutus rasul-rasul sebelum kamu (Muhammad) melainkan orang laki-laki yang Kami beri wahyu kepada mereka, maka tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu jika kamu tiada mengetahui. (al-Anbiya: 7)

Dalam ayat yang lain, Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَمَا أَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ إِلَّا رِجَالًا نُّوحِي إِلَيْهِم مِّنْ أَهْلِ الْقُرَىٰ ۗ

Kami tidak mengutus sebelum kamu, kecuali orang laki-laki yang Kami berikan wahyu kepadanya di antara penduduk negeri. (Yusuf: 109)

Asy-Syaikh Abdul Muhsin al-Abbad berkata, “Dalam ayat yang mulia ini ada keterangan bahwasanya rasul-rasul yang diutus oleh Allah l itu berasal dari kalangan laki-laki, bukan perempuan. Sebab, lelaki lebih sempurna daripada kaum perempuan.” (Majmu Rasail asy- Syaikh Abdul Muhsin al-Abbad [1/250])

Sebagian manusia beranggapan bahwa Sarah istri Ibrahim, ibu Nabi Musa, dan Maryam binti Imran adalah para nabi. Mereka berdalil bahwasanya malaikat Allah Subhanahu wata’ala memberikan kabar gembira kepada Sarah akan kelahiran Ishaq. Demikian pula malaikat memberikan kabar gembira kepada Maryam akan kelahiran Isa. Mereka berdalil pula dengan firman Allah Subhanahu wata’ala tentang ibu Nabi Musa ‘Alaihissalam,

وَأَوْحَيْنَا إِلَىٰ أُمِّ مُوسَىٰ أَنْ أَرْضِعِيهِ ۖ فَإِذَا خِفْتِ عَلَيْهِ فَأَلْقِيهِ فِي الْيَمِّ وَلَا تَخَافِي وَلَا تَحْزَنِي ۖ إِنَّا رَادُّوهُ إِلَيْكِ وَجَاعِلُوهُ مِنَ الْمُرْسَلِينَ

Kami ilhamkan kepada ibu Musa, Susuilah dia, dan apabila kamu khawatir terhadapnya, hanyutkanlah dia ke sungai (Nil). Janganlah kamu khawatir dan janganlah (pula) bersedih hati, karena sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu, dan menjadikannya (salah seorang) dari para rasul. (al-Qashash: 7)

Namun, semua dalil tersebut tidak menunjukkan bahwa mereka adalah nabi. Wahyu yang dikatakan dalam kisah ibu Musa adalah ilham, sebagaimana Allah Subhanahu wata’ala memberikan wahyu kepada lebah, yakni ilham. Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Yang diyakini Ahlus Sunnah wal Jamaah, dan ini pula yang dinukilkan oleh asy-Syaikh Abul Hasan ‘Ali bin Isma’il al-Asy’ari, tidak ada seorang nabi pun dari kaum wanita. Yang ada adalah shiddiqah (derajat tertinggi di bawah nabi dan rasul, -pen.). Allah Subhanahu wata’ala mengabarkan tentang Maryam binti Imran dalam firman-Nya,

مَّا الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِن قَبْلِهِ الرُّسُلُ وَأُمُّهُ صِدِّيقَةٌ ۖ كَانَا يَأْكُلَانِ الطَّعَامَ ۗ

Al-Masih putra Maryam hanyalah seorang rasul yang sesungguhnya telah berlalu sebelumnya beberapa rasul, dan ibunya seorang shiddiqah (yang sangat benar), keduanya biasa memakan makanan. (al-Maidah: 75) (Tafsir Ibnu Katsir)

Nuh ‘Alaihissalam, Rasul yang Pertama

Di antara dalilnya adalah firman Allah Subhanahu wata’ala,

إِنَّا أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ كَمَا أَوْحَيْنَا إِلَىٰ نُوحٍ وَالنَّبِيِّينَ مِن بَعْدِهِ

Sesungguhnya Kami telah memberikan wahyu kepadamu sebagaimana Kami telah memberikan wahyu kepada Nuh dan nabi-nabi yang setelahnya. (an-Nisa: 163)

Lebih tegas dari ayat di atas adalah hadits syafaat yang panjang dalam Shahih Muslim, ketika manusia dikumpulkan di Mahsyar. Mereka berkata kepada Nuh ‘Alaihissalam, “Wahai Nuh, engkau adalah rasul pertama.”

Adakah Nabi dan Rasul dari Kalangan Jin?

Jumhur ( mayoritas ) ulama berpendapat tidak ada nabi dan rasul dari kalangan jin, semua dari kalangan manusia. Demikian pendapat sahabat Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma. Di antara dalil jumhur adalah firman Allah Subhanahu wata’ala

اللَّهُ يَصْطَفِي مِنَ الْمَلَائِكَةِ رُسُلًا وَمِنَ النَّاسِ

Allah memilih utusan-utusan (Nya) dari malaikat dan dari manusia…. (al-Hajj: 75)

Demikian pula firman Allah Subhanahu wata’alal tentang Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam,

وَوَهَبْنَا لَهُ إِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَجَعَلْنَا فِي ذُرِّيَّتِهِ النُّبُوَّةَ وَالْكِتَابَ

Dan Kami anugerahkan kepada Ibrahim, Ishaq, dan Yaqub, serta Kami jadikan kenabian dan al-Kitab pada keturunannya. (al-Ankabut: 27)

Ulama mengatakan, berdasarkan ayat ini, semua nabi yang diutus setelah Ibrahim adalah dari keturunan beliau. Telah dimaklumi bahwa jin bukan dari keturunan Ibrahim ‘Alaihissalam. Demikianlah pendapat jumhur dan beberapa dalil yang mereka bawakan. Sebagian ulama berpendapat bahwa bisa jadi ada nabi dan rasul dari kalangan jin. Ada pula sekelompok ulama yang tawaqquf (tidak memberikan pendapat) dalam masalah ini, tidak menetapkan tidak pula meniadakan. Wallahu taala alam.

Buah Mengimani Nabi dan Rasul

Iman kepada rasul-rasul Allah Subhanahu wata’ala membuahkan berbagai faedah yang agung, di antaranya:

1. Bertambahnya keimanan kepada Allah Subhanahu wata’ala dan cinta kepada-Nya ketika menyaksikan betapa besar kasih sayang Allah Subhanahu wata’ala kepada para hamba-Nya.

Allah Subhanahu wata’alamengutus para nabi dan rasul untuk membimbing manusia menuju kebahagiaan dua negeri: dunia dan akhirat. Allah Subhanahu wata’ala tidak membiarkan manusia hidup sia-sia dan terbengkalai.

2. Dengan beriman kepada rasul, seseorang akan menyaksikan betapa agungnya hikmah Allah Subhanahu wata’ala.

Allah Subhanahu wata’ala telah menetapkan syariat berupa perintah, larangan, atau hukum yang sesuai dengan keadaan setiap umat.

وَمَا أَرْسَلْنَا مِن رَّسُولٍ إِلَّا بِلِسَانِ قَوْمِهِ لِيُبَيِّنَ لَهُمْ

Kami tidak mengutus seorang rasul pun, kecuali dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka. (Ibrahim: 4)

3. Iman kepada para rasul mendorong setiap insan untuk sering memuji Allah Subhanahu wata’ala dan bersyukur kepada-Nya atas nikmat-Nya yang sangat agung.

4. Iman kepada rasul-rasul Allah Subhanahu wata’ala adalah sebab yang mengantarkan seseorang ke dalam jannah, karena Allah Subhanahu wata’ala akan mengumpulkan seseorang bersama yang dicintainya.

Seandainya seseorang jujur dalam mencintai para nabi dan rasul, sungguh Allah Subhanahu wata’ala akan kumpulkan bersama mereka. Dalam hadits, Rasul Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

الْمَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ

Seseorang akan bersama dengan yang dicintainya.

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Ismail Muhammad Rijal, Lc.

Hak-hak Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam atas Umat Manusia

Sebagai penutup para nabi, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam memiliki hak-hak yang besar atas umat manusia. Di antara hak-hak tersebut adalah sebagai berikut.

Wajib atas umat manusia mencintai beliau melebihi kecintaan kepada segala sesuatu, termasuk kepada dirinya.

Wajib atas umat mencintai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dengan kecintaan yang lebih dari kecintaan kepada yang lain. Allah Subhanahu wata’ala memberitakan bahwa lebih mencintai selain Allah Subhanahu wata’ala, Rasulullah, dan jihad fi sabililah menyebabkan kemurkaan-Nya. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

قُلْ إِن كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُم مِّنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّىٰ يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ ۗ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ

Katakanlah, Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik. (at-Taubah: 24)

Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda,

لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ

Tidak beriman salah seorang di antara kalian sehingga aku lebih dia cintai daripada bapaknya, anaknya, dan seluruh manusia. (HR. al-Bukhari)

Tatkala mendengar hadits ini, Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu berkata kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, “Sungguh, engkau lebih aku cintai dibanding segala sesuatu kecuali diriku.” Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tidak demikian. Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan- Nya, hingga aku lebih engkau cintai melebihi dirimu sendiri.” Umar radhiyallahu ‘anhu berkata, “Demi Allah Subhanahu wata’ala, sesungguhnya engkau sekarang lebih aku cintai melebihi diriku sendiri.” Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Sekarang hai Umar, (telah sempurna imanmu).”

Mengimani Beliau Secara Rinci

Konsekuensi iman kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah mengimani beliau secara rinci. Inilah bukti kecintaan yang tulus kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Al-Qadhi ‘Iyadh rahimahullah berkata, “Ketahuilah, barang siapa mencintai sesuatu, pasti dia akan mengutamakannya dan berusaha meneladaninya. Kalau tidak demikian, berarti kecintaannya tidak dianggap benar, hanya pengakuan belaka. Orang yang benar pengakuan cintanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah orang yang menampakkan tanda (bukti) kecintaan tersebut pada dirinya. Tanda cinta kepada Rasulullah adalah meneladani beliau, mengamalkan sunnahnya, mengikuti semua ucapan dan perbuatannya, melaksanakan segala perintah dan menjauhi larangannya, serta menghiasi diri dengan adab-adab yang beliau (contohkan), baik dalam keadaan susah maupun senang, dalam keadaan lapang maupun sempit.” (asy-Syifa bi Tarifi Huquqil Mushthafa, 2/24)

Allah Subhanahu wata’ala berfirman dalam al-Qur’an,

قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

Katakanlah, Jika kamu (benarbenar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Ali Imran: 31)

Keimanan secara rinci terhadap ar-Rasul Shallallahu ‘alaihi wasallam meliputi empat hal.

Pertama: Membenarkan seluruh berita Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Apa pun yang diberitakan oleh Rasul Shallallahu ‘alaihi wasallam, masuk akal atau tidak, bisa disaksikan indra atau tidak, wajib diyakini kebenarannya. Sebab, ucapan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah wahyu dari Allah Subhanahu wata’ala. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَمَا يَنطِقُ عَنِ الْهَوَىٰ () إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَىٰ

Dan tiadalah yang diucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya). (an- Najm: 34)

Kedua dan Ketiga: Menaati Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dengan mengamalkan perintah-perintahnya dan meninggalkan larangannya.

Wajib bagi umat manusia menaati Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Banyak ayat al-Qur’an yang menegaskan kewajiban ini. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَلَا تُبْطِلُوا أَعْمَالَكُمْ

Hai orang-orang yang beriman, taatlah kepada Allah dan taatlah kepada rasul, dan janganlah kamu merusakkan (pahala) amal-amalmu. (Muhammad: 33)

Dalam ayat lain, Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَا تَوَلَّوْا عَنْهُ وَأَنتُمْ تَسْمَعُونَ

Hai orang-orang yang beriman, taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya, dan janganlah kamu berpaling dari- Nya dalam keadaan kamu mendengar (perintah-perintahnya). (al-Anfal: 20)

Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانتَهُوا ۚ

Apa saja yang dibawa oleh rasul maka ambillah (laksanakan) dan apa saja yang dilarangnya kepada kalian maka tinggalkanlah! (al-Hasyr: 7)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda bahwa taat kepada beliau menyebabkan seseorang masuk jannah Allah Subhanahu wata’ala.

كُلُّ أُمَّتِي يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ إِلَّا مَنْ أَبَى، قَالُوا:يَا رَسُولَ اللَّهِ وَ مَنْ يَأْبَى؟ قَالَ :مَنْ أَطَاعَنِي دَخَلَ الْجَنَّةَ، وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ أَبَى

Setiap umatku akan masuk surga, kecuali yang enggan. Mereka bertanya, Siapa yang enggan, wahai Rasulullah? Beliau berkata, Siapa yang taat kepadaku, akan masuk surga, dan siapa yang tidak taat kepadaku, dialah yang enggan. (HR. al-Bukhari no. 7280 dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)

Keempat: Tidak beribadah kepada Allah Subhanahu wata’ala selain dengan syariatnya, bukan dengan kebidahan.

Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata, “Ikutilah (apa yang diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam), jangan mengamalkan amalan-amalan baru (yang tidak ada contohnya dari Rasulullah). Sungguh (petunjuk/sunnah beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam) telah cukup bagi kalian.”

Mencintai Ahlul Bait dan Para Sahabat Beliau

Mencintai ahli bait dan sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah bagian dari cinta kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, dan merupakan cinta yang wajib. Barang siapa membenci ahli bait atau sahabat beliau yang telah diridhai oleh Allah Subhanahu wata’ala, ia telah membenci Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, baik secara langsung meupun tidak. Sebab, cinta kepada beliau berkaitan erat dengan cinta kepada mereka. Di antara ahlul bait1 adalah putra putri dan istri-istri beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallampernah bersabda tentang Aisyah Ummul Mukminin radhiyallahu ‘anha,

لاَ تُؤْذِينِي فِي عَائِشَةَ، فَإِنَّ الْوَحْيَ لَمْ يَأْتِنِي وَأَنَا فِي ثَوْبِ امْرَأَةٍ إِلاَّ عَائِشَةَ

Janganlah kalian men akitiku dalam perkara Aisyah. Sesungguhnya wahyu tidaklah turun kepadaku dalam keadaan aku berada di baju istri-istriku selain Aisyah.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Orang-orang paling celaka dalam masalah ini adalah Syiah Rafidhah. Mereka mengaku mencintai ahlul bait, namun justru menjadi yang terdepan mencela ahlul bait. Semua istri Rasul Shallallahu ‘alaihi wasallam mereka kafirkan, semua istri-istri Rasul Shallallahu ‘alaihi wasallam mereka yakini sebagai pezina, wal iyadzubillah.

Demi Allah Subhanahu wata’ala, seandainya istri-istri kita dituduh berzina, darah kita pasti mendidih. Namun, mereka sebaliknya, menginjak-injak nama baik Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan keluarga beliau yang disucikan oleh Allah Subhanahu wata’ala. Saudaraku yang kucintai fillah. Aisyah radhiyallahu ‘anha adalah wanita yang paling dicintai oleh Rasul Shallallahu ‘alaihi wasallam sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits dari Amr bin al- Ash radhiyallahu ‘anhu,

أَنَّ رَسُولَ اللهِ اسْتَعْمَلَهُ عَلَى جَيْشِ ذَاتِ السَّلَاسِلِ قَالَ: فَأَتَيْتُهُ فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِأَيُّ النَّاسِ أَحَبُّ إِلَيْكَ؟ : : قَالَ عَائِشَةُ. قُلْتُ مِنَ الرِّجَالِ؟ قَالَ: أَبُوهَا

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menunjuknya dalam Perang Dzat as-Salasil. Suatu kesempatan, aku datangi Rasulullah, aku bertanya, Wahai Rasulullah, siapakah manusia yang paling engkau cintai? Beliau berkata, Aisyah. Dari kalangan lelaki siapa? Jawab beliau, Ayahnya (yakni Abu Bakr, -pen.). (HR. Al Bukhari dan Muslim)

Demikian pula semua istri Rasul Shallallahu ‘alaihi wasallam, mereka adalah pendamping Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam di dunia dan di jannah Allah Subhanahu wata’ala. Di antara hak Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah kita mencintai para sahabat beliau dan menjaga lisan dari mencela mereka. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

لاَ تَسُبُّوا أَصْحَابِي، لَا تَسُبُّوا أَصْحَابِي، فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا أَدْرَكَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلَا نَصِيفَهُ

Janganlah kalian mencaci maki sahabatku. Janganlah kalian mencaci maki sahabatku. Seandainya salah seorang dari kalian menginfakkan emas sebesar Gunung Uhud, itu tidak akan mengalahkan satu mud (dua telapak tangan ditangkupkan, -pen.) sedekah mereka, bahkan setengahnya. ( HR. al-Bukhari dan Muslim)

Demikian sekelumit hak Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam terkait dengan sahabat-sahabat beliau.

Bershalawat kepada Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam

Allah Subhanahu wata’ala memerintahkan orangorang yang beriman untuk bershalawat dan salam kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

Sesungguhnya Allah dan malaikatmalaikat- Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya. (al-Ahzab: 56)

Hak Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam ini ditegaskan oleh sabda beliau,

الْبَخِيلُ مَنْ ذُكِرْتُ عِنْدَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَيَّ

Orang yang bakhil adalah orang yang ketika aku (namaku) disebut, ia tidak bershalawat kepadaku. (HR. at- Tirmidzi no. 3546, Ahmad no. 1736, dan lainnya dengan sanad yang sahih)

Ada sebuah buku yang patut kita telaah bersama terkait dengan hak Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam ini. Risalah tersebut ditulis oleh al-Imam Ibnul Qayim rahimahullah dengan judul Jalaul Afham fi ash-Shalati was Salam ala Khairil Anam. Sesungguhnya, hak Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam atas umat manusia sangat besar. Tulisan yang memuat hanya sebagian kecil dari hak-hak beliau ini semoga bisa mengingatkan kita untuk menunaikan hak-hak tersebut. Amin.

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Ismail Muhammad Rijal, Lc

Akhir Kehidupan Pendusta Para Rasul

Rasul-rasul Allah Subhanahu wata’ala diutus membawa risalah ilahi. Manusia diuji, apakah mereka menerima seruan Allah Subhanahu wata’ala atau menolaknya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah membuat sebuah perumpamaan tentang diri beliau dan umat manusia dalam sebuah hadits,

مَثَلِي كَمَثَلِ رَجُلٍ اسْتَوْقَدَ نَارًا فَلَمَّا أَضَاءَتْ مَا حَوْلَهَا جَعَلَ الْفَرَاشُ وَهَذِهِ الدَّوَابُّ الَّتِي فِي النَّارِ يَقَعْنَ فِيهَا وَجَعَلَ يَحْجُزُهُنَّ وَيَغْلِبْنَهُ فَيَتَقَحَّمْنَ فِيهَا قَالَ فَذَلِكُمْ مَثَلِي وَمَثَلُكُمْ أَنَا آخِذٌ بِحُجَزِكُمْ عَنْ النَّارِ؛ هَلُمَّ عَنْ النَّارِ، هَلُمَّ عَنْ النَّارِ؛ فَتَغْلِبُونِي تَقَحَّمُونَ فِيهَا

Permisalan diriku seperti orang yang menyalakan api. Ketika api telah menyinari apa yang ada di sekelilingnya, berdatanganlah serangga-serangga beterbangan mendekati api. Sementara itu, orang ini berusaha menghalangi dari api namun hewan-hewan itu tidak menghiraukan, hingga mereka berjatuhan ke dalamnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Itulah permisalan diriku dan diri kalian. Aku memegangi ikat-ikat pinggang kalian agar kalian selamat dari neraka. Jauhilah neraka! Jauhilah dari neraka! Tetapi, kalian (kebanyakan umatku) tidak menghiraukanku, dan kalian berjatuhan ke dalam neraka.

Al-Qur’an menyebutkan kisah perjalanan hidup para nabi dan rasul dengan kaumnya. Kisah-kisah itu menjadi ibrah bagi mereka yang mau menggunakan mata dan pendengarannya. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

إِنَّا أَرْسَلْنَا إِلَيْكُمْ رَسُولًا شَاهِدًا عَلَيْكُمْ كَمَا أَرْسَلْنَا إِلَىٰ فِرْعَوْنَ رَسُولًا () فَعَصَىٰ فِرْعَوْنُ الرَّسُولَ فَأَخَذْنَاهُ أَخْذًا وَبِيلًا

Sesungguhnya Kami telah mengutus kepada kamu (hai orang kafir Makkah) seorang rasul, yang menjadi saksi terhadapmu, sebagaimana Kami telah mengutus (dahulu) seorang rasul kepada Firaun. Firaun mendurhakai rasul itu, lalu Kami siksa dia dengan siksaan yang berat.(al-Muzzammil: 1516)

Dalam ayat lain, Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

أَلَمْ تَرَ كَيْفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِعَادٍ () إِرَمَ ذَاتِ الْعِمَادِ () الَّتِي لَمْ يُخْلَقْ مِثْلُهَا فِي الْبِلَادِ () وَثَمُودَ الَّذِينَ جَابُوا الصَّخْرَ بِالْوَادِ () وَفِرْعَوْنَ ذِي الْأَوْتَادِ () الَّذِينَ طَغَوْا فِي الْبِلَادِ () فَأَكْثَرُوا فِيهَا الْفَسَادَ () فَصَبَّ عَلَيْهِمْ رَبُّكَ سَوْطَ عَذَابٍ () إِنَّ رَبَّكَ لَبِالْمِرْصَادِ

Apakah kamu tidak memerhatikan bagaimana Rabbmu berbuat terhadap kaum Ad? (Yaitu) penduduk Iram yang mempunyai bangunan-bangunan yang tinggi, yang belum pernah dibangun (suatu kota) seperti itu di negeri-negeri lain; dan kaum Tsamud yang memotong batu-batu besar di lembah; dan kaum Firaun yang mempunyai pasak-pasak (tentara yang banyak), yang berbuat sewenang-wenang dalam negeri, lalu mereka berbuat banyak kerusakan dalam negeri itu, karena itu Rabbmu menimpakan kepada mereka cemeti azab, sesungguhnya Rabbmu benarbenar mengawasi. (al-Fajr: 614)

Demikian sunnatullah, tidaklah suatu kaum mendurhakai Rasul-Nya melainkan Allah Subhanahu wata’ala menimpakan azab atas mereka. Sejarah hidup Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam hendaknya selalu kita baca dan renungkan. Semua penentang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam memetik buah kekufurannya di dunia, seperti yang dijanjikan oleh Allah Subhanahu wata’ala dalam firman-Nya,

إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ

Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus. (al-Kautsar: 3)

Pertempuran hizbullah dan hizbusysyaithan di Padang Badar misalnya. Itu di antara bukti janji Allah Subhanahu wata’ala. Hari Perang Badar dikatakan sebagai Yaumul Furqan, Allah Subhanahu wata’ala memisahkan dua golongan. Allah Subhanahu wata’ala memenangkan kaum mukminin dan membinasakan musuh-musuh Rasul dan Khalil-Nya, Muhammad bin Abdillah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Mayat-mayat bergelimpangan dari barisan orang kafir Quraisy. Dedengkotdedengkot Quraisy diseret ke Sumur Badar.

Adapun mukminin, tentara-tentara Allah Subhanahu wata’ala, kesatria-kesatria Islam dengan teguh menyongsong kemenangan demi kemenangan. Dalam setiap kesempatan pertolongan Allah Subhanahu wata’ala selalu menyertai Khalil-Nya, Muhammad bin Abdillah Shallallahu ‘alaihi wasallam, beserta para sahabat yang mulia. Hingga kota Makkah dibuka dan manusia masuk ke dalam Islam dengan berbondong-bondong.

إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ () وَرَأَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُونَ فِي دِينِ اللَّهِ أَفْوَاجًا () فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ ۚ إِنَّهُ كَانَ تَوَّابًا

Apabila telah datang pertolongan Allah Subhanahu wata’ala dan kemenangan. Dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, maka bertasbihlah dengan memuji Rabbmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima tobat. (an- Nashr: 13)

Sepeninggal Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, janji Allah Subhanahu wata’ala tetap berlaku hingga hari kiamat. Allah Subhanahu wata’ala memenangkan kaum mukminin dan membinasakan para pendurhaka Rasul. Persia, para penyembah api, dan Romawi, pemeluk agama Nasrani, dua kekuatan adidaya saat itu tumbang. Allah Subhanahu wata’ala membinasakan mereka karena tidak beriman kepada nabi dan rasul-Nya. Allah Subhanahu wata’ala pernah menjanjikan kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam dalam sabdanya,

وَأُعْطِيتُ كَنْزَيْنِ الْأَحْمَرَ وَالْأَبْيَضَ

Dan aku diberi Allah Subhanahu wata’ala dua perbendaharaan: Romawi dan Persia.”

Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam terbukti setelah wafat beliau. Negara adidaya yang kufur kepada Allah Subhanahu wata’ala, Allah Subhanahu wata’ala timpakan kehinaan kepada mereka. Ayat-ayat dan hadits-hadits di atas cukup menjadi peringatan bagi mereka yang masih memiliki kalbu untuk segera menaati Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan mendorongnya untuk mengagungkan sunnah beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam serta tidak meremehkannya. Sahabat Salamah bin al-Akwa radhiyallahu ‘anhu mengisahkan, suatu saat ada seorang lelaki makan di dekat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dengan tangan kirinya. Beliau bersabda, “Makanlah dengan tangan kananmu!” “Aku tidak bisa.” Demikian sang lelaki menimpali. Rasul pun bersabda,

لاَ اسْتَطَعْتَ، مَا مَنَعَهُ إِلاَّ الْكِبْرُ

Engkau benar-benar tidak bisa! Tidak ada yang menghalanginya selain kesombongan.

Subhanallah, seketika itu sang pemuda tidak bisa mengangkat tangan kanannya! Lumpuh! Kisah ini diriwayatkan al- Imam Muslim rahimahullah dalam Shahih-nya no. 2021. Tidakkah kalian berhenti wahai pendurhaka Nabi, wahai musuh-musuh Allah Subhanahu wata’ala? Wahai orang-orang kafir, wahai para penghina nabi dan rasul, ingatlah apa yang menimpa teman dan saudara kalian yang menentang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Sungguh, kehancuran kalian telah dekat, jika kalian tidak segera bertobat dan memeluk Islam. Pedihnya azab pasti melingkupi jika mulut-mulut kotor dan hati yang dipenuhi hasad kepada nabi dan rasul tidak segera dibersihkan. Demikian pula kalian, wahai Syiah Rafidhah, saudara Yahudi dan Nasrani, tidakkah kalian berhenti mencela Allah Subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya?! Nantikan azab Allah Subhanahu wata’ala atas kalian,

وَلَقَدِ اسْتُهْزِئَ بِرُسُلٍ مِّن قَبْلِكَ فَأَمْلَيْتُ لِلَّذِينَ كَفَرُوا ثُمَّ أَخَذْتُهُمْ ۖ فَكَيْفَ كَانَ عِقَابِ

Dan sesungguhnya telah diperolokolokkan beberapa rasul sebelum kamu, maka Aku beri tangguh kepada orangorang kafir itu kemudian Aku binasakan mereka. Alangkah hebatnya siksaan-Ku itu! (ar-Rad: 32)

Shalawat dan salam semoga selalu terlimpah kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam, keluarga, dan para sahabat beliau. Walhamdulillah Rabbil alamin

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Ismail Muhammad Rijal, Lc