Sekilas Tentang Iran

Iran mempunyai nama resmi Islamic Republic of Iran (Jomhori-e Islami-e Iran). Republik Iran berdiri secara resmi pada 1 April 1979. Teheran menjadi ibukota untuk Iran, negara yang berpenduduk 70,4 juta jiwa menurut sensus tahun 2007. Agama resmi yang dianut adalah ajaran Syiah Itsna Asyariah. (Website Kemenlu RI)

Pada zaman dahulu, seluruh wilayah Iran berada di bawah kekuasaan Kekaisaran Persia. Persia sendiri adalah imperium adikuasa yang telah berdiri 1.000 tahun lebih. Hanya dalam 10 tahun setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat, imperium Persia runtuh dan lenyap. Kekaisaran Persia berhasil ditaklukkan oleh para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Di dalam referensi sejarah, surat yang dikirim oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Kaisar Persia, malah dirobek-robek. Surat tersebut berisikan ajakan untuk masuk Islam. Kaisar Persia merasa terhina dengan hal itu. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian mendoakan supaya Kekaisaran Persia menjadi hancur lebur, sebagaimana surat beliau dirobek-robek. Akhirnya Kekaisaran Persia memang benar-benar hancur.

Sejak itu, agama Islam yang murni masuk dan diterima oleh penduduk Persia. Selama hampir 9 abad, Islam yang dianut oleh penduduk Iran adalah Islam dengan akidah Ahlus Sunnah wal Jamaah. Bahkan tidak sedikit ulama-ulama Islam berasal dari wilayah Iran.

Masa berganti masa, sebagaimana wilayah lain, Iran pun mengalami berbagai peristiwa besar. Peristiwa yang kemudian cukup memengaruhi masa depan Iran adalah kekuasaan Raja Ismail ash-Shafawi atas Iran. Pada 906 H (1500 M), Ismail ash-Shafawi menguasai Iran dan memaksakan keyakinan Syiah Itsna Asyariyah (Imam 12) sebagai ideologi negara.

Setiap orang yang tidak meyakini ideologi tersebut akan dibunuh. Akhirnya, terjadilah pembantaian kaum muslimin secara besar-besaran. Ismail ash-Shafawi mengaku bahwa tindakan tersebut dilakukan atas perintah dari 12 Imam. Penduduk Iran dipaksa untuk mendengar cercaan dan cacian terhadap tiga khalifah, yaitu Abu Bakr, Umar, dan Utsman.

Pada masa Ismail ash-Shafawi, sekolah-sekolah berpemahaman Syiah didirikan secara masif. Masjid-masjid Sunni dihancurkan dan diubah fungsinya. Setiap khatib dan penceramah diharuskan untuk mencaci-maki para sahabat; Abu Bakr, Umar, dan Utsman karena dianggap telah merampas hak kekhalifahan Ali bin Abi Thalib.

Sejak saat itulah, Syiah menjadi agama resmi di Iran dan mayoritas penduduknya beragama Syiah.

 

Dendam Persia Terhadap Islam

Cobalah bayangkan! Persia adalah sebuah imperium yang berdiri dan berkuasa secara turun-temurun selama lebih dari 1.000 tahun. Persia dengan agama Majusinya dan kitab Zoroaster-nya, tentu telah melekat kuat pada jutaan penduduknya. Hal itu tentu akan menyisakan pengikut fanatik yang memendam dendam terhadap Islam, Arab, dan para pemimpinnya.

Ambil contoh adalah panglima Islam bernama Khalid bin Walid. Beliau adalah panglima terdepan yang ditunjuk oleh Khalifah Abu Bakar untuk menaklukan Persia. Pasukan Persia yang lebih banyak dalam jumlah selalu dapat dikalahkan oleh pasukan Islam di bawah komando Khalid bin Walid. Lebih dari 100.000 tentara Persia tewas disebabkan peperangan melawan pasukan Khalid. Artinya, berapa banyak anak, istri, dan keluarga yang mendendam?

Persia dalam menjalankan dendam, berpikir dengan keras. Jika melalui pertempuran secara langsung, sejarah tentu tidak dapat mereka lupakan, yakni pasti kalah. Karena itu, cara yang ditempuh adalah dengan merusak Islam dari dalam. Mereka menggunakan isu cinta kepada Ahlul Bait untuk menciptakan kekacauan di dalam Islam. Mengenai hal ini, Pembaca dapat menelaah kembali kajian-kajian tentang Syiah pada Majalah Asy Syariah yang telah terbit sebelumnya.

Setelah Raja Ismail ash-Shafawi berkuasa, ajaran Syiah yang diciptakan oleh bangsa Persia sebagai alat untuk melampiaskan dendam, menjadi ideologi resmi negara.

Namun, pengaruh Ismail ash-Shafawi juga tidak bertahan selamanya. Gerakan-gerakan kekacauan tidak bisa dikatakan padam. Berturut-turut yang menguasai Iran setelah Dinasti Shafawi adalah Dinasti Ashfar, Dinasti Zand, dan Dinasti Qajar. Pada 1921, terjadi kudeta militer yang dipimpin oleh Reza Shah Pahlevi.

Revolusi Iran pada 1979 adalah Revolusi Syiah, walaupun dinamakan Revolusi Islam. Khomeini menjadi pelopor revolusi Syiah. Keberhasilan Revolusi Syiah pada 1979 adalah upaya untuk mengokohkan kembali ajaran-ajaran Syiah yang sempat menjadi besar dan ideologi resmi pada masa dinasti Shafawiyah.

Kita bisa menemukan banyak kesamaan antara ajaran Syiah—yang ditetapkan sebagai ideologi resmi negara Iran—dan keyakinan kaum Majusi Persia. Berikut ini adalah beberapa contohnya.

  1. Kultur agama Majusi Persia adalah memosisikan kaisar dan keturunannya sebagai dewa atau tuhan.
  • Ajaran Syiah Itsna Asyariah (12 Imam) pun demikian. Kaum Syiah memosisikan para imam mereka layaknya Rabb. Mereka meyakini para imam mempunyai dan mampu melakukan hal-hal yang hanya mampu dilakukan oleh Allah subhanahu wa ta’ala. (Lihat Majalah Asy Syariah edisi 092)

 

  1. Kaum Majusi Persia sangat membenci Abu Bakr, Umar, dan Utsman. Sebab, pada masa beliau bertiga, Kekaisaran Persia runtuh dan tumbang. Kebencian itu lebih kuat lagi terhadap sahabat Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu. Sebab, di masa kekhalifahan Umar, Kekaisaran Persia benar-benar hilang dari percaturan dunia.
  • Kaum Syiah juga membenci Abu Bakr, Umar, dan Utsman. Walaupun mereka beralasan karena beliau bertiga telah merampas hak kekhalifahan dari Ali bin Abi Thalib, namun alasan tersebut hanya dibuat-buat saja.

 

  1. Kaum Majusi Persia sangat mengagungkan Abu Lu’luah al-Majusi, orang yang telah membunuh Khalifah Umar dengan menggunakan pisau beracun.
  • Kaum Syiah juga menghormati dan memuliakan Abu Lu’luah tersebut. Kaum Syiah membangun sebuah kuburan untuk Abu Lu’luah di kota Kasyan, Iran. Kuburan tersebut dibangun, direnovasi menjadi megah, dan diagung-agungkan oleh kaum Syiah. Bahkan, sebagian kaum Syiah menetapkan hari kematiannya sebagai salah satu hari besar yang patut dirayakan.

 

  1. Kaum Majusi sangat menghormati dan mengagungkan api, bahkan mereka menuhankan api.
  • Kaum Syiah dalam beberapa kegiatan mereka, seperti hari raya Ghadir, juga menggunakan api sebagai rangkaian perayaan tersebut.

 

Selain hal di atas, warisan kultur budaya kaum Majusi Persia juga terus dipertahankan. Misalnya, bahasa resmi Iran adalah bahasa Persia; penanggalan yang digunakan juga penanggalan Persia; Iran juga menjadi pihak yang paling ngotot untuk menamakan teluk yang memisahkan antara Persia dan Arab dengan Teluk Persia.

Bahkan, Hari Nairuz yang merupakan hari raya kaum Majusi masih dipertahankan sebagai hari besar di Iran.

Oleh sebab itu, tidak salah jika kita menyimpulkan bahwa banyak kesamaan antara negara Iran dan Kekaisaran Persia di masa lalu.

Wallahul musta’an.

 Ditulis oleh al-Ustadz Abu Nasim Mukhtar bin Rifa’i

Jejak Iran di Balik Tragedi Haji

Tanggal 10 Dzulhijah 1436 H bertepatan dengan 24 September 2015, kurang lebih setahun yang lalu adalah sejarah pahit bagi umat Islam dunia. Hari itu, sebuah peristiwa duka terjadi di tengah-tengah pelaksanaan ibadah haji. Peristiwa ini kemudian dikenal sebagai Tragedi Mina 1436 H.

Tragedi itu bermula ketika serombongan jamaah haji dari Iran melakukan pelanggaran dengan menerobos dan melewati rute jamaah dari negara lain. Jamaah haji Iran juga meneriakkan yel-yel mengenai Revolusi Iran. Petugas haji yang mencoba untuk mengatur, justru ditolak dan ditentang. Padahal petugas haji telah berusahameminta mereka untuk kembali ke rute yang seharusnya.

Sekian banyak saksi mata melaporkan bahwa jamaah haji Iran berjalan pulang dari lokasi jamarat dengan mengambil rute berangkat jamaah dari negara lain. Hal ini mengakibatkan tabrakan disebabkan bertemunya dua gelombang jamaah dari arah yang berlawanan. Apalagi jamaah haji Iran memang terbukti telah bermaksud untuk melakukan provokasi dan kekacauan. Terjadilah Tragedi Mina 1436 H.

Dalam grand scenario Iran, cara paling mudah untuk membuat malu Arab Saudi adalah dengan merusak dan mengacaukan kegiatan haji. Saat seluruh mata kaum muslimin sedang tertuju ke Arab Saudi, kekacauan dan kerusuhan dilakukan oleh Iran untuk kemudian menyalahkan Arab Saudi serta menjatuhkan nama baik Arab Saudi sebagai pihak yang melayani ibadah haji.

 

Sikap Iran

Terkait dengan Tragedi Mina 1436 H, Iran adalah satu-satunya pihak yang mengecam dan menuduh Arab Saudi sebagai pihak yang paling bertanggung jawab. Berbagai fitnah keji ditujukan Iran kepada Arab Saudi. Berikut ini beberapa contoh dari pernyataan yang dilontarkan Iran.

 

  1. Ali Khamenei, Pemimpin Tertinggi Syiah Iran
  • Dia menyatakan bahwa Kerajaan Saudi melakukan politisasi dalam ibadah haji. Ali menuduh bahwa Kerajaan Saudi menjadi setan kecil yang lemah dan takut terhadap kepentingan setan besar, yaitu Amerika Serikat.
  • Ali Khamenei menuduh Arab Saudi sebagai pihak yang paling bertanggung jawab atas kematian ratusan jamaah haji Iran. Petugas haji, menurut Ali, sengaja mengunci korban yang masih hidup di dalam ruang tertutup dan menganiaya mereka.
  • Ali Khamenei menyerukan revolusi dan kudeta haji yang selama ini dipegang oleh Arab Saudi.

 

  1. Presiden Iran, Ayatullah Rauhani

Dia menuntut Arab Saudi untuk bertanggung jawab atas Tragedi Mina.

 

  1. Muhammad Imam Kasani, seorang ulama sentral Iran

Dia menyatakan bahwa dunia tidak menerima alasan-alasan semacam cuaca panas atau jamaan haji yang sulit diatur.

 

  1. Jaksa Agung Iran, Ibrahim Raisi

Dia meminta pengadilan internasional untuk mengadili Arab Saudi dengan tuduhan telah melakukan tindak kejahatan terhadap jamaah haji.

Media-media Iran dan yang pro-Iran secara gencar memosisikan Arab Saudi sebagai pihak yang bersalah. Hal itu merupakan kelanjutan dari usaha Iran di dekade 80-an yang ingin mengangkat isu internasionalisasi Makkah dan Madinah. Iran mendesak agar pelaksanaan haji dibawah kendali Komite Islam Internasional, dan tidak dipegang oleh Arab Saudi. Dari sana, Iran ingin melakukan intervensi di dalam pengaturan haji. Dengan tujuan akhir, hendak menguasai dua kota suci, yakni Makkah dan Madinah.

 

Jejak Iran Sejak Dahulu

Mufti Kerajaan Saudi Arabia, asy-Syaikh ‘Abdul ‘Aziz Alu asy-Syaikh menegaskan bahwa sejak 30 tahun sebelumnya, pemerintah Iran selalu bersikap buruk dan negatif terhadap pelaksanaan ibadah haji.

Mufti menjelaskan bahwa pemerintah Iran terlibat dalam banyak peristiwa kekacauan di musim haji. Beliau mengatakan, “Mereka sering terlibat dalam berbagai peristiwa dan kejadian, berbagai kesalahan dan tindakan melampaui batas di Baitullah al-Haram. Yang terbesar adalah peristiwa pada 1407 H, demonstrasi dan kekacauan yang mereka lakukan mengancam para jamaah yang telah dijamin keamanannya. Akhirnya rencana jahat mereka berhasil digagalkan.”

Yang dimaksud oleh Mufti adalah tragedi haji pada 1987 M. Ketika itu Garda Revolusi Iran melakukan kerja sama dengan milisi Hizbullah dan didukung oleh jamaah haji asal Iran mengadakan demonstrasi besar-besaran di kota Makkah.

Para demonstran membawa poster dan gambar Khomeini sambil meneriakkan yel-yel yang berisikan cacian dan ancaman terhadap Arab Saudi. Selain itu, mereka juga terang-terangan mengafirkan pemerintah Arab Saudi.

Demonstrasi tersebut berujung dengan kerusuhan dan kekacauan besar. Tercatat 402 orang meninggal dunia dengan 85 orang dari jumlah tersebut adalah petugas keamanan Arab Saudi. Selain itu, puluhan bangunan hancur, ratusan anak, lanjut usia, dan kaum wanita terluka, serta ratusan ribu jamaah haji terhambat untuk melaksanakan ibadah haji.

 

Tanpa Iran

Tahun ini, 1437 H/2016 M, adalah tahun pelaksanaan haji tanpa keberadaan jamaah haji Iran. Apa yang dirasakan oleh jamaah haji?

Pelaksanaan haji tahun ini berjalan lancar dan tertib. Tidak ada kendala dan problem yang berarti. Dalam banyak kesempatan, jamaah haji memberikan pujian dan ucapan terima kasih kepada para petugas haji. Pemerintah Arab Saudi semakin menambah dan meningkatkan kualitas pelayanan haji. Jamaah haji merasakan kenyamanan dan ketenangan di dalam pelaksanaan ibadah haji.

Pangeran Khalid bin Faishal, yang juga menjabat Ketua Panitia Pengurusan Haji, dalam keterangan pers menyatakan bahwa aman dan tertibnya pelaksanaan ibadah haji tahun ini adalah jawaban untuk segala kebohongan dan fitnah yang dituduhkan oleh Iran kepada Arab Saudi.

Dengan demikian, setelah melihat perbandingan pelaksanaan haji saat ada jamaah haji Iran dengan pelaksanaan ibadah haji tanpa mereka, kita pasti mampu menyimpulkan bahwa selama ini jamaah haji Iran menjadi pihak yang menimbulkan ketidaktenangan dan kekurangnyamanan dalam beribadah haji.

Ditulis oleh al-Ustadz Abu Nasim Mukhtar bin Rifa’i

Iran dalam Pandangan Negara-Negara Islam

OKI (Organisasi Kerja Sama Islam) atau dalam bahasa Arabnya Munazhamah at-Ta’awun al-Islami adalah perkumpulan negara-negara muslim di dunia. Kantor pusat OKI terletak di Jeddah, Arab Saudi. Indonesia adalah anggota aktif OKI, bahkan termasuk yang terlibat di dalam pendiriannya.

Menurut website resmi Kementerian Luar Negeri Indonesia, Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) dibentuk setelah para pemimpin sejumlah negara Islam mengadakan konferensi di Rabat, Maroko, pada 22—25 September 1969, dan menyepakati Deklarasi Rabat yang menegaskan keyakinan atas agama Islam, penghormatan pada Piagam PBB, dan hak asasi manusia.

Pembentukan OKI semula didorong oleh keprihatinan negara-negara Islam atas berbagai masalah yang dihadapi oleh umat Islam, khususnya setelah unsur Zionis Yahudi membakar bagian dari Masjid Suci al-Aqsha pada 21 Agustus 1969.

Pembentukan OKI antara lain ditujukan untuk meningkatkan solidaritas Islam di antara negara anggota, mengoordinasikan kerja sama antarnegara anggota, mendukung perdamaian dan keamanan internasional, serta melindungi tempat-tempat suci Islam, dan membantu perjuangan pembentukan negara Palestina yang merdeka dan berdaulat.

OKI saat ini beranggotakan 57 negara Islam atau berpenduduk mayoritas muslim di kawasan Asia dan Afrika.

Awalnya, OKI menjadi organisasi internasional yang lebih banyak menekankan pada masalah politik, terutama masalah Palestina. Dalam perkembangannya OKI berubah menjadi wadah kerja sama di bidang politik, ekonomi, sosial, budaya, dan ilmu pengetahuan antarnegara muslim di seluruh dunia.

 

Sikap OKI Terhadap Iran

Pada KTT OKI ke-13 di Turki tahun 2016, sebuah keputusan resmi ditetapkan dan ditandatangani oleh para pemimpin lebih dari 50 negara Islam. Dari beberapa poin yang disepakati, negara-negara Islam juga mengambil sikap terhadap Iran. Sebelum ditetapkan, Presiden Iran Hasan Rauhani melakukan aksi walk out dari pertemuan tersebut.

Berikut ini beberapa poin yang telah disepakati oleh negara-negara Islam dalam KTT OKI ke-13 di Turki 2016.

  1. Mengecam campur tangan dan intervensi negara Iran dalam urusan intern negara-negara Islam, seperti Bahrain, Yaman, Suriah, dan Somalia.

Mengutuk kelanjutan dukungan Iran atas aksi terorisme di negara-negara tersebut.

 

  1. Mengecam tindakan anarkis dan perusakan yang menimpa Kantor Kedutaan Arab Saudi di dua lokasi, yaitu Teheran dan sebuah gedung pertemuan di Iran.

 

  1. Mencabut izin visa bagi warga negara Iran sesuai keputusan Majlis Tanfidziyah atas beberapa orang berkebangsaan Iran karena keterlibatan aksi-aksi anarkis dan terorisme di dalam negeri Arab Saudi.

 

  1. Mengecam organisasi Hizbullah di Lebanon (binaan Iran) atas turut campurnya mereka dalam aksi terorisme di Suriah, Bahrain, Kuwait, dan Yaman.

Menteri Luar Negeri Arab Saudi, Adil al-Jubair menegaskan bahwa sikap dunia Islam adalah menolak kebijakankebijakan Iran dan intervensinya dalam urusan negara-negara lain, serta menolak dukungan Iran terhadap terorisme, upayanya mendirikan milisi-milisi di berbagai negara, dan tindakannya menggoncang stabilitas keamanan dan ketenangan di negara-negara tersebut.

Adil al-Jubair juga menyatakan di sela-sela KTT OKI saat diwawancarai, “Pernyataan yang dikeluarkan oleh pertemuan tingkat tinggi negara-negara Islam sangat jelas mengutuk tindakan-tindakan tersebut dan mengutuk dukungan apa pun untuk terorisme dan ekstremisme, sekaligus pesan kepada Iran sangat jelas; dan dunia Islam tidak menerima semua itu dan menolaknya.

Iran harus mengubah kebijakan-kebijakannya dan menerapkan prinsip bertetangga yang baik dan tidak ikut campur tangan dalam urusan negara lain, serta mematuhi norma-norma dan hukum internasional.”

Ditulis oleh al-Ustadz Abu Nasim Mukhtar bin Rifa’i

Iran Dalang Kekacauan Global

Ideologi Syiah sebagai dasar negara telah menempatkan Iran sebagai pihak yang mempunyai kepentingan di berbagai belahan dunia.

Konsep Wilayatul Faqih yang ditetapkan sebagai salah satu prinsip penting kaum Syiah, mendorong Iran mewujudkan cita-cita untuk membentuk sebuah sistem pemerintahan dengan kepemimpinan di bawah kekuasaan seorang faqih (baca: ulama Syiah) yang memenuhi syarat sebagai wakil Imam Mahdi yang masih dalam masa kegaiban yang panjang, yang selalu dinanti kedatangannya.

Wilayatul Faqih adalah keyakinan dan ideologi kaum Syiah bahwa mereka adalah satu-satunya pihak yang mempunyai hak dan wewenang untuk menguasai dan mengatur dunia.

Menurut mereka, seluruh bumi—tanpa terkecuali walau hanya sejengkal—harus berada di bawah kekuasaan ulama Syiah. Oleh sebab itu, melalui dan atas nama negara Iran, kaum Syiah selalu berperan dan campur tangan dalam banyak konflik global.

 

Konflik Suriah

Walaupun telah berlangsung bertahun-tahun, konflik Suriah belum menunjukkan tanda akan berakhir. Bahkan, sebagian kalangan mengkhawatirkan jika konflik Suriah tidak segera berakhir, akan mengakibatkan pecahnya perang dunia ke-3. Kekhawatiran semacam ini wajar dimunculkan, sebab sekian banyak negara plus kepentingan masing-masing, terlibat di dalam konflik Suriah.

Konflik Suriah tidak serta-merta pecah begitu saja. Perang berkepanjangan di sana merupakan akibat dan akumulasi dari sekian puluh tahun sebelumnya. Kaum Syiah menjadi pihak yang paling bertanggung jawab, baik sebagai sebab, pelaku, maupun penerus kekacauan.

Hafidz al-Asad menjadi presiden Suriah pertama yang berideologi Syiah. Setelah melakukan serangkaian gerakan untuk kudeta, Hafidz—seorang perwira tinggi militer, dibantu sejumlah perwira tinggi lainnya—akhirnya ditetapkan sebagai Presiden Suriah pada 22 Februari 1971.

Sebagai seorang penganut ideologi Syiah, Hafidz al-Asad melakukan pembersihan di seluruh lini pemerintahan dan militer Suriah. Hampir semuanya diserahkan dan dikuasai oleh kaum Syiah. Presiden Hafidz memerintah Suriah dengan gaya diktator yang penuh kezaliman dan kekerasan.

Salah satu peristiwa besar di dalam sejarah Suriah adalah pengepungan kota Hama selama 27 hari. Dengan alasan melakukan aksi balas atas penyerangan terhadap pihak pemerintah di kota Hama yang berlatar belakang Syiah, pasukan Presiden Hafidz mengerahkan pesawat tempur dan tank untuk menghancurkan kota Hama.

Februari 1982 menjadi bagian sejarah yang sulit terlupakan. Sepertiga kota Hama hancur. Lebih dari 30.000 orang Sunni tewas menjadi korban. Belasan ribu lainnya tidak diketahui keberadaannya, dan kurang lebih 100.000 orang terusir dari Hama. Selain menggunakan alat-alat perang yang berat, pasukan Hafidz juga menggunakan senjata kimia untuk melakukan pembantaian, yaitu hidrogen sianida.

Bashar al-Asad, putra Hafidz yang menjadi Presiden Suriah sepeninggalnya, melanjutkan gaya kepemimpinan ayahnya. Posisi kaum Syiah semakin kuat dan memegang posisi-posisi strategis di bidang politik, pemerintahan, dan ekonomi. Presiden Bashar melakukan tindakan represif terhadap rakyat. Seluruh media massa diatur negara, yang tidak tunduk akan ditangkap lalu dipenjarakan.

Tahun 2011 adalah tahun pertama konflik Suriah yang berkepanjangan sampai saat ini. Presiden Bashar yang berideologi Syiah melakukan pembantaian massal terhadap warga Sunni. Sejumlah penelitian menyebutkan bahwa selama kurun lima tahun, korban tewas akibat konflik Suriah mencapai angka 400.000 orang. Jumlah yang menyedihkan.

Konflik Suriah yang berkepanjangan ini rupanya tidak lepas dari peran Iran. Secara tegas, Wakil Komandan Garda Revolusi Iran, Jenderal Husein, menyatakan bahwa kehadiran dan keterlibatan tentara Iran di dalam konflik Suriah adalah demi kepentingan Revolusi Iran.

Sejak awal konflik, Iran berada di samping Presiden Bashar guna mendukung penuh rezimnya. Iran adalah sekutu regional Presiden Bashar. Dukungan secara militer dan ekonomi diberikan Iran untuk pemerintahan Bashar. Satu hal yang mempertemukan mereka adalah sama-sama berideologi Syiah.

Garda Revolusi Iran dinilai sebagai pihak yang sangat menentukan kebijakan-kebijakan militer di Suriah. Oleh sebab itu, tidak mengherankan jika pernah ada seorang jenderal Garda Revolusi Iran yang dinyatakan tewas di dekat Aleppo, Suriah, dalam sebuah pertempuran pada awal Oktober 2015. Husein Hamdani, jenderal yang tewas tersebut, adalah seorang penasihat militer Presiden Bashar yang berasal dari Garda Revolusi Iran.

Walhasil, Iran menjadi pihak yang paling banyak berperan di dalam konflik Suriah yang berkepanjangan.

 

Konflik Irak

Kaum Syiah di Irak terhitung mayoritas. Mereka adalah 60% dari total jumlah penduduk. Bagi kaum Syiah dunia, Irak memiliki keistimewaan dan kelebihan tersendiri. Di Irak terdapat dua kota suci menurut kaum Syiah, yaitu Najaf dan Karbala. Dalam keyakinan sebagian sekte Syiah, Najaf adalah lokasi Ali bin Abi Thalib dimakamkan. Adapun Karbala merupakan tempat wafat dan dikuburkannya Husein bin Ali.

Konflik Irak tidak lepas dari keberadaan milisi-milisi bersenjata yang didirikan oleh kaum Syiah. Milisi-milisi tersebut menjadi faktor utama yang menyebabkan berbagai konflik fisik di Irak. Sasaran dan target mereka adalah masyarakat Sunni, yakni masyarakat yang tidak sejalan dengan ideologi Syiah.

Hanya dalam tempo enam tahun, milisi-milisi Syiah telah membunuh lebih dari 650.000 orang Sunni. Sebuah angka yang cukup menggambarkan posisi dan peran kaum Syiah dalam peta konflik di Irak. Keberadaan milisi-milisi tersebut, ternyata tidak lepas dari sokongan dan dukungan Iran sebagai induk semang kekacauan di Timur Tengah.

Pada 2008, keterlibatan Iran dalam konflik Irak telah tersingkap. Senjata-senjata modern dikirim oleh Iran untuk milisi-milisi Syiah di Irak. Hal ini diperkuat oleh tertangkapnya sejumlah anggota milisi Syiah dan anggota Kesatuan Quds (Qods Force) yang melakukan misi di Irak. Qods Force adalah pasukan elite dari Garda Revolusi Iran (Iran’s Islamic Revolutionary Guard Corps).

Di Irak, dikenal sebuah sebutan “Special Groups/SGs”. Sebutan ini diberikan kepada milisi-milisi Syiah di Irak yang didukung oleh Iran. Mereka dilatih, dibantu, dan dibiayai oleh Iran. Beberapa milisi yang didukung oleh Iran adalah Korps Badar (Failaq Badr), Jaisy al-Mahdi, Asha-ib Ahlil Haqq, Jaisy al-Mukhtar, Liwa Abil Fadhl al-Abbas, dan Korps Ramazan dari Pasukan Garda Revolusi Iran.

Jadi, jika dicermati secara lebih mendalam, Iran mengambil peran yang cukup besar dalam konflik Irak. Bagaimanapun juga, dua kota suci kaum Syiah ada di wilayah Irak. Oleh sebab itu, kaum Syiah Iran akan terus berupaya untuk menciptakan konflik guna menguasai kedua kota tersebut.

 

Konflik Bahrain

Bahrain adalah sebuah negara di Teluk Persia dengan wilayah yang tidak begitu luas. Ternyata, Iran turut berperan di dalam berbagai bentuk konflik di Bahrain.

Setelah Revolusi Iran dicetuskan, beberapa kelompok politik yang berdasarkan ideologi Syiah didirikan, seperti The Islamic National Liberation, al-Jamaah al-Islamiyah, Harakat Syabab Muslim Bahrain, dan al-Jabhah al- Wathaniyyah li Tahriril Bahrain.

Kelompok yang disebutkan terakhir, diumumkan pembentukannya pada 2 September 1979 oleh Hujjatul Islam Hadi al-Mudarrisi. Al-Mudarrisi adalah seorang tokoh Syiah yang berasal dari Iran. Kelompok ini dikenal dengan sebutan IFLB atau Islamic Front For The Liberation of Bahrain.

Sebagian besar anggota IFLB adalah kaum Syiah yang mempunyai garis keturunan Iran. IFLB dibentuk di Iran, dilatih dan dibiayai oleh intelijen Iran dan Garda Revolusi Iran. Adapun salah satu tujuan yang hendak dicapai adalah melepaskan negara Bahrain dari persatuan negara-negara Teluk untuk kemudian digabungkan dengan negara Iran.

Pada 1981, tidak berselang lama dari Revolusi Iran, IFLB mencoba melakukan kudeta di Bahrain. Namun, usaha mereka dapat digagalkan oleh pemerintah Bahrain. Setelah itu, beberapa pemimpin IFLB melakukan kesepakatan dengan para pejabat intelijen Iran untuk membentuk sayap militer di Bahrain. Dari sana, lahirlah sayap militer bernama Hizbullah Bahrain.

Sejak awal pergerakan, mereka melakukan pelatihan militer dengan melibatkan ribuan kaum Syiah Bahrain. Salah seorang tokoh yang pernah memimpin Hizbullah Bahrain adalah Ali Salman, seorang tokoh Syiah yang dididik di kota Qumm, Iran. Ali Salman sering melakukan kritik, bahkan hasutan untuk membenci dan memusuhi pemerintah Bahrain.

Akhirnya Ali Salman ditangkap dan diasingkan. Ali Salman lalu mencari suaka di Inggris. Sekembalinya dari Inggris, Ali Salman kembali ke Bahrain dan masih terus melakukan upaya-upaya penghasutan.

Hizbullah Bahrain mempunyai tujuan utama untuk melakukan kudeta guna mengubah sistem pemerintahan menjadi pro-Iran. Setelah gagal melakukan kudeta pada 1981, Hizbullah Bahrain mencoba lagi untuk melakukan kudeta pada 1996. Radio dan siaran berita dari Teheran Iran terus meningkatkan hasutan dan kebencian terhadap pemerintah Bahrain.

Bahkan, pemerintah Bahrain sempat memanggil pulang duta besarnya dari Iran setelah terkuak skenario kudeta ternyata dibuat oleh Iran melalui sayap militer mereka, Hizbullah Bahrain.

 

Bagaimana dengan kondisi saat ini?

Ayatullah Rauhani pernah mengatakan, “Bahrain adalah pengikut Iran. Bahrain merupakan bagian dari Republik Islam Iran.”

Kaum Syiah dan Iran tidak akan berhenti untuk mengupayakan agar Bahrain menjadi negara Syiah. Melihat kegagalan-kegagalan dalam aksi fisik, saat ini Iran menjalankan politik halus dengan mendorong Syiah Bahrain masuk dan aktif di parlemen.

Meskipun demikian, gerakan Syiah masih saja menggunakan langkah-langkah kekerasan. Terbaru, pada Oktober 2015, aparat keamanan Bahrain menemukan 1,5 ton bahan peledak, beberapa senjata api, granat, dan perlengkapan perang lainnya di beberapa tempat berbeda. Menteri Dalam Negeri Bahrain mengungkapkan bahwa orang-orang yang tertangkap memiliki hubungan dekat dengan terorisme di Iran.

 

Iran dan Konflik-Konflik Lain

Keterangan di atas hanyalah sekelumit informasi tentang peran dan posisi Iran di dalam konflik yang terjadi di Timur Tengah dan daerah lainnya. Selain di ketiga negara di atas, Iran pun sangat berperan dalam konflik di Pakistan, Lebanon, Turki, dan yang cukup besar adalah di negeri Yaman.

Tokoh utama milisi Houthi, yaitu Badruddin al-Houthi, tercatat pernah tinggal di Iran antara tahun 1994—1997. Milisi Houthi adalah milisi Syiah yang menjadi dalang kekacauan dan konflik di Yaman. Hingga saat ini, kekacauan di Yaman belum juga berakhir.

Milisi Houthi seakan tidak mengenal menyerah untuk mewujudkan cita-cita mereka, mendirikan negara Syiah Yaman. Di dalam konflik Yaman, Iran terbukti telah menyuplai senjata dan alat-alat perang untuk milisi Houthi. Beberapa kali, kiriman senjata, bom, bahkan rudal dari Iran untuk milisi Houthi melalui jalur laut dapat digagalkan oleh pemerintah Yaman.

Bahkan, pada salah satu upaya penggagalan penyelundupan, Menteri Dalam Negeri Yaman sempat menyatakan bahwa senjata dan alat-alat perang itu sudah cukup untuk menghancurkan Yaman.

 

Kesimpulan

Intinya, di dalam konflik global dan peta dunia, Iran selalu ikut campur tangan untuk mewujudkan prinsip Wilayatul Faqih, yakni mensyiahkan dunia.

Semoga Allah subhanahu wa ta’ala senantiasa membimbing dan memberikan hidayah untuk kaum muslimin di Indonesia agar selalu waspada dari bahaya Syiah dan Iran. Terutama para pemimpin bangsa ini, semoga Allah subhanahu wa ta’ala memberikan petunjuk kepada mereka.

Amin.

anDitulis oleh al-Ustadz Abu Nasim Mukhtar bin Rifa’i

Iran, Syiah, dan Stabilitas Negara

Maret 2016 lalu, negara-negara kawasan Teluk berkumpul di Ibukota Mesir, Kairo. Negara-negara Teluk, yang tergabung dalam kelompok Liga Arab, menyepakati keputusan yang menetapkan bahwa kelompok Syiah yang berbasis di Lebanon, Hizbullah merupakan organisasi teroris.

Negara-negara Arab sepakat pula untuk mengutuk intervensi Iran terhadap negara-negara Arab. Keputusan Liga Arab ini didasari fakta di lapangan adanya persekongkolan jahat antara Pasukan Pengawal Revolusi Iran dengan Hizbullah. Kedua kelompok tersebut membiayai dan melatih kaum teroris di negara Bahrain.

Pada 10—15 April 2016, negara-negara Islam yang tergabung dalam Organisasi Kerjasama Islam (OKI) bersidang di Istanbul, Turki. Hasil sidang organisasi yang beranggotakan 57 negara ini menyebutkan bahwa kelompok Hizbullah adalah kelompok teroris.

Selain itu, negara-negara yang tergabung OKI itu pun mengutuk aksi teroris Hizbullah di negara Bahrain, Yaman, Suriah, dan Kuwait. Keputusan lainnya dari sidang OKI, menolak campur tangan negara Syiah Iran dalam urusan dalam negeri negara-negara Timur Tengah. OKI juga menyesalkan serangan terhadap kedutaan dan Konsulat Arab Saudi di Teheran dan Mashad oleh pengunjuk rasa Syiah Iran pada Januari 2016.

Para pemimpin negara yang tergabung dalam Liga Arab maupun OKI tentu bukan sekadar mengeluarkan pernyataan. Para pemimpin negara tersebut telah mempertimbangkan segala sesuatunya terkait keputusan yang ditetapkan. Termasuk mempertimbangkan sikap Iran dan Irak yang menganut pemahaman Syiah.

Pernyataan para pemimpin negara tersebut, baik OKI maupun Liga Arab, mengungkapkan bukti kejahatan negara Iran serta bahaya dasar ideologi negaranya yang menganut Syiah. Pernyataan yang disepakati para pemimpin negara tersebut menunjukkan keresahan masyarakat Islam atas aksi-aksi Iran yang menggalang gerakan terorisme. Negara-negara Timur Tengah, seperti Bahrain, Kuwait, Arab Saudi, dan Yaman, merupakan negara-negara yang langsung merasakan aksi terorisme kaum Syiah Iran.

Dalam skala yang lebih kecil, stabilitas negara Republik Indonesia pun sempat diganggu oleh kaki tangan Syiah Iran di Indonesia. Sebut saja kasus di Madura. Juga kasus di Bukit adz-Dzikra, Sentul, Bogor. Gerakan untuk mengganggu keamanan dan stabilitas negara ini patut diwaspadai. Walau masih dalam skala kecil, mengingat secara kuantitas pengikut ideologi Syiah masih sedikit, tentu tidak bisa diabaikan begitu saja.

Pernyataan para pemimpin negara-negara Islam di atas hendaknya menjadi peringatan bagi pemerintah dan rakyat Indonesia bahwa ideologi Syiah akan terus dipompakan ke dalam benak masyarakat Indonesia melalui berbagai media masa, pengajian, dan aksi sosial yang dikemas penuh tipu daya. Kaum Syiah di Indonesia memanfaatkan isu kebebasan, demokrasi, dan hak asasi manusia untuk menjadi tameng dalam menebarkan ideologinya.

Dalam kondisi minoritas dan belum memiliki kekuatan, kaum Syiah di Indonesia menggalang kerjasama dengan berbagai elemen bangsa. Kerjasama ini selain menguntungkan dari sisi memperoleh dukungan, juga bisa menguntungkan dari sisi penyebaran ideologi Syiah dan gerakan infiltrasi.

Karena itu, sungguh bukan satu hal yang berlebihan bila sejak dini pemerintah dan masyarakat Indonesia diingatkan tentang bahaya Syiah. Negara Iran, sebagai pengekspor ideologi berbahaya ini, telah melakukan tindakan yang mengganggu stabilitas negara-negara tetangganya di kawasan Teluk.

Sungguh, tidak berlebihan pula bila tindakan yang dilakukan negara Malaysia yang melarang ideologi Syiah bisa ditiru oleh pemerintah Indonesia. Atau, apabila itu belum memungkinkan, setidaknya negara memperketat ruang gerak kaum Syiah dan melakukan penyuluhan secara sistematis agar rakyat tidak terpengaruh ajaran Syiah. Penjelasan tentang bahaya ideologi Syiah hendaklah dilakukan secara lintas lembaga negara, tak hanya bertumpu di Kementerian Agama (yang sudah mulai disusupi paham Syiah).

 

Syiah dalam Lintasan Sejarah

Abdullah bin Saba adalah keturunan Yahudi yang lahir di Shan’a, Yaman. Peran Abdullah bin Saba tidak bisa lepas dari kemunculan paham Syiah. Sosok keturunan Yahudi ini berpura-pura memeluk Islam, namun senyatanya hendak merusak dari dalam.

Abdullah bin Saba adalah orang yang memprovokasi kaum muslimin untuk menentang Khalifah Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu. Ia menebarkan pemahaman tentang masalah al-washiyyah (wasiat). Kepada kaum muslimin di Mesir, ia memprovokasi untuk memberontak kepada penguasa yang sah.

Kaum muslimin di Mesir dijejali keyakinan bahwa Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu adalah al-washi (orang yang diserahi wasiat) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia katakan, bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah penutup para nabi. Adapun Ali radhiallahu ‘anhu adalah penutup para penerima wasiat.

Setelah itu, ia menuduh sahabat mulia, menantu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu sebagai orang yang merampas wasiat. Utsman dituduh telah merampas tanpa haq. Lalu Abdullah bin Saba memprovokasi kaum muslimin dengan mengajak berdemonstrasi dengan mengepung kediaman Khalifah Utsman radhiallahu ‘anhu di Madinah.

Akibat ulah Abdullah bin Saba, terjadilah tindak anarkis. Pengepungan rumah khalifah menggapai puncak anarkis dengan terbunuhnya sahabat mulia, menantu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Dzun Nurain, Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu. Tikaman senjata tajam merobek tubuhnya. Darah mengalir. Menetesi mushaf al-Qur’an yang tengah dibaca.

Ulah orang munafik, zindiq, Abdullah bin Saba menjadi catatan kelam dalam lintasan sejarah kaum muslimin. Abdullah bin Saba, dengan lisan berbisanya, telah melakukan tipu daya seakan dirinya orang yang paling mencintai Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu. Seakan dirinya orang yang paling mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Senyatanya, ia orang yang paling membenci Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia pula sosok yang paling tak suka kepada Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu.

Kebencian dan dendam terhadap orang-orang berpegang teguh kepada perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah diwariskan oleh Abdullah bin Saba. Kini, lihatlah kaum Syiah Rafidhah, begitu besar kebencian dan permusuhannya kepada orang-orang yang dicintai oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Sebagaimana Abdullah bin Saba membenci sahabat Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu seraya menyanjung Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu, maka para pewaris kebusukannya pun kini melakukan hal yang sama. Kaum Syiah Rafidhah, sebagai pewaris kebusukan Abdullah bin Saba, pun mencerca dan menampakkan kebencian yang akut terhadap sahabat mulia Abu Bakr ash-Shiddiq dan Umar bin Khaththab radhiallahu ‘anhuma. Kedua sahabat mulia tersebut benar-benar dihinakan oleh Syiah Rafidhah. Keduanya dijuluki shanamay Quraisy (dua berhala Quraisy).

Tak sampai di situ, para sahabat lain pun dicaci maki. Bahkan, Ummul Mukminin, istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Aisyah, putri sahabat mulia Abu Bakr ash-Shiddiq radhiallahu ‘anhu, tak selamat dari kebejatan lisan kaum Syiah Rafidhah. Ibunda orang-orang beriman itu dituduh sebagai pelacur. Sebuah tuduhan penuh dusta.

Tidaklah semua itu keluar dari kaum Syiah, kecuali menjadi bukti bahwa keyakinan yang melekat di hati kaum Syiah Rafidhah adalah keyakinan batil. Keyakinan yang dihembuskan Iblis. Sebab, tidak mungkin Islam sebagai agama yang mulia mengajarkan caci maki, kebencian, permusuhan terhadap orang-orang memiliki kemuliaan seperti para sahabat.

Adakah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk mencela sahabat Abu Bakr ash- Shiddiq, Umar bin al-Khaththab, dan Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhum? Tentu tidak! Justru mereka telah menduduki derajat yang mulia, derajat diridhai Allah subhanahu wa ta’ala. Perhatikan firman-Nya yang secara jelas tegas bernas memuliakan para sahabat,

وَٱلسَّٰبِقُونَ ٱلۡأَوَّلُونَ مِنَ ٱلۡمُهَٰجِرِينَ وَٱلۡأَنصَارِ وَٱلَّذِينَ ٱتَّبَعُوهُم بِإِحۡسَٰنٖ رَّضِيَ ٱللَّهُ عَنۡهُمۡ وَرَضُواْ عَنۡهُ وَأَعَدَّ لَهُمۡ جَنَّٰتٖ تَجۡرِي تَحۡتَهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُ خَٰلِدِينَ فِيهَآ أَبَدٗاۚ ذَٰلِكَ ٱلۡفَوۡزُ ٱلۡعَظِيمُ ١٠٠

“Dan orang-orang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) diantara orang-orang Muhajirin dan Anshar serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah. Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.” (at-Taubah: 100)

Perhatikan pula firman-Nya yang memuliakan Ummul Mukminin Aisyah radhiallahu ‘anha dan menghinakan orang-orang yang menuduhnya dengan kedustaan,

إِنَّ ٱلَّذِينَ يُحِبُّونَ أَن تَشِيعَ ٱلۡفَٰحِشَةُ فِي ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَهُمۡ عَذَابٌ أَلِيمٞ فِي ٱلدُّنۡيَا وَٱلۡأٓخِرَةِۚ وَٱللَّهُ يَعۡلَمُ وَأَنتُمۡ لَا تَعۡلَمُونَ ١٩

“Sesungguhnya orang-orang yang menginginkan agar perbuatan sangat keji itu (berita bohong) tersiar di kalangan orang-orang beriman, mereka mendapat azab yang pedih di dunia dan di akhirat. Dan Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui.” (an-Nur:19)

Kemudian dalam ayat lain disebutkan,

          أُوْلَٰٓئِكَ مُبَرَّءُونَ مِمَّا يَقُولُونَۖ لَهُم مَّغۡفِرَةٞ وَرِزۡقٞ كَرِيمٞ ٢٦

“… Mereka itu bersih dari apa yang dituduhkan orang. Mereka memperoleh ampunan dan rezeki yang mulia (surga).” (an-Nur: 26)

Apa kata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkenaan dengan tiga sahabat beliau (Abu Bakr, Umar, dan Utsman)?

Cermati hadits Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu berikut ini.

إِنَّ النَّبِيَّ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَعِدَ أُحُدًا وَأَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ وَعُثْمَانُ فَرَجَفَ بِهِمْ فَقَالَ: اثْبُتْ أُحُدٌ فَإِنَّمَا عَلَيْكَ نَبِيٌّ وَصِدِّيقٌ وَشَهِيدَانِ

Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama Abu Bakr, Umar, dan Utsman telah mendaki Gunung Uhud. Lantas Gunung Uhud pun berguncang. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Tenanglah Uhud, sungguh yang ada di atasmu adalah Nabi, ash-Shiddiq, dan dua orang syahid.” (HR. al-Bukhari)

Kini, nyata sudah bahwa sejak dahulu kala kaum Syiah Rafidhah hanya selalu membuat onar. Dari dahulu hingga kini selalu membuat ricuh, anarkis, dan teror. Syiah Rafidhah pada zaman kiwari mewarisi kebusukan penghulunya dahulu kala, Abdullah bin Saba.

Coba telisik, adakah kaum Syiah Rafidhah sekarang menciptakan kedamaian, keharmonisan, dan kerukunan? Tidak. Sekali-kali tidak! Lihatlah ulah Syiah Rafidhah Iran, Hizbullah di Lebanon, Syiah di Irak, atau kaum Syiah Hutsi di Yaman.

Semuanya menjadi biang pertumpahan darah. Semuanya menjadi para pelaku dan penyokong terorisme. Para pemimpin negara-negara OKI dan Liga Arab akhirnya harus bersikap tegas terhadap ulah kaum Syiah yang bisa menggoyahkan stabilitas negara.

Sebagai negara yang tergabung dalam OKI, sudah seharusnya Indonesia turut melaksanakan kesepakatan yang telah dicapai di Istanbul, Turki, April 2016. Indonesia harus mengambil sikap tegas terhadap Iran yang telah mencampuri urusan dalam negeri negara-negara Islam. Pemerintah dan masyarakat Indonesia jangan sampai terlambat melakukan langkah pencegahan terhadap bahaya pemahaman Syiah Rafidhah.

Sekian banyak kader-kader muda Indonesia yang telah dikirim ke Iran. Kepulangan mereka ke Indonesia tentu akan membawa pemahaman Syiah Rafidhah yang militan. Bila itu yang ada, Indonesia menghadapi ancaman khusus.

Ambillah pelajaran dari negara Yaman, Bahrain, Syiria, dan negara-negara Teluk lainnya. Sungguh, Iran—yang menganut pemahaman Syiah—telah mengguncangkan stabilitas dalam negeri negara-negara tersebut. Iran sangat ambisius menjejalkan pemahaman Syiah Rafidhah yang sangat memusuhi Ahlu Sunnah wal Jamaah. Padahal pemahaman Ahlus Sunnah wal Jamaah adalah pemahaman mayoritas di Indonesia.

Dalam lintasan sejarah, ditemukan pula pengkhiatan Syiah terhadap kehidupan bernegara. Pada 656 H terjadi tragedi kemanusiaan yang sangat kelam di Kota Baghdad, yang kala itu menjadi pusat pemerintahan Daulah Abbasiyah. Muhammad bin al-Alqami dan Nashiruddin ath-Thusi, keduanya adalah penganut Syiah Rafidhah.

Saat pemerintahan dipimpin al-Mu’tashim Billah, sebagai seorang yang menyusup ke pemerintahan pusat, Ibnu al-Alqami melakukan gerakan pembusukan di dalam sistem militer Daulah Abbasiyah.

Dengan kekuasaan yang ada padanya, Ibnu al-Alqami melakukan reduksi besar-besaran terhadap kekuatan angkatan bersenjata Daulah Abbasiyah. Kekuatan pasukan yang awalnya berjumlah seratus ribu personil, dikurangi hingga berjumlah kurang dari sepuluh ribu personil. Pengurangan besar-besaran personil angkatan perang menyebabkan lemahnya pertahanan pemerintah Daulah Abbasiyah.

Seiring dengan melemahnya kekuatan pemerintahan Baghdad, kedua orang Syiah Rafidhah ini bermain mata dengan tentara Tatar. Keduanya mengharap bala tentara Tatar segera menyerbu Baghdad sehingga Ahlus Sunnah musnah. Keduanya tengah memperjuangkan agar Syiah Rafidhah menguasai pemerintahan melalui tangan tentara Hulagu Khan.

Terjadilah apa yang terjadi. Hulagu Khan beserta bala tentaranya menyerbu secara tanpa perikemanusiaan. Kaum muslimin di Baghdad dibantai. Karya-karya para ulama di perpustakaan paling besar dan maju pada waktu itu, diluluhlantakkan. Kitab-kitab karya para ulama dibuang ke sungai yang melintasi Baghdad. Air sungai pun berubah warna menjadi berwarna tinta. Tak cuma itu, korban-korban pembantaian pun dilempar ke sungai hingga air sungai berubah warna menjadi warna merah darah. (Lihat kisah selengkapnya pada Asy Syariah No. 101/1435 H/2014)

Sekian banyak kisah pengkhiatan kaum Syiah Rafidhah tertulis dalam sejarah. Untuk menggambarkan jiwa khianat dan suka mengganggu stabilitas kehidupan bangsa, maka cukup dua lintasan sejarah yang diketengahkan.

Semoga dengan itu masyarakat tergugah untuk bersikap hati-hati terhadap Syiah Rafidhah. Kini, kaum Syiah yang berkiblat ke negara Iran, telah banyak yang menyusup ke dalam partai politik, legislatif, pemerintahan dan lainnya.

 

Taqiyah adalah Ibadah

Taqiyah atau berbohong sebagai keyakinan sesat kaum Syiah merupakan strategi licik untuk menguasai dan melumpuhkan lawan. Taqiyah bagi kaum Syiah adalah bentuk ibadah. Seorang penganut Syiah dibolehkan berbohong terutama saat dirinya terancam.

Teknik mengelabui lawan dengan cara pengecut ini bisa memperdayai masyarakat. Orang-orang yang tak mengenal keyakinan Syiah akan mudah digiring sehingga bisa menerima kehadiran Syiah. Itulah Syiah.

Para pengikut Hutsi di Yaman, yang menganut agama Syiah Rafidhah menjalin hubungan kuat dengan Iran. Mereka kerap membohongi masyarakat Yaman dengan yel-yel yang terkesan anti-Amerika dan Israel.

Namun, kenyataan berbicara lain. Teriakannya memusuhi Amerika dan Israel, namun yang digempur habis adalah kaum muslimin. Inilah slogan yang selalu diteriakkan di hadapan umat,

اللهُ أَكْبَرُ

الْمَوْتُ لِأَمْرِيكَا

الْمَوْتُ لِإسْرَائِيلَ

النَّصْرُ لِلْإِسْلَامِ

“Allahu Akbar…

Kematian bagi Amerika…

Kematian bagi Israel…

Kemenangan bagi Islam.”

 

Sungguh, dusta apa yang keluar dari lisan mereka. Mereka tidak pernah memerangi Amerika. Mereka tidak pula memerangi Israel sebagaimana mereka memerangi dan mengusir Ahlu Sunnah di Provinsi Sha’dah, Republik Yaman. Mereka tidak memaksudkan kemenangan itu bagi Islam, sebab kaum muslimin yang tidak segaris dengan mereka nyatanya tetap dibantai.

Keyakinan boleh berbohong adalah keyakinan Yahudi dan orang-orang munafik. Keyakinan yang melekat kini pada kaum Syiah merupakan bentuk warisan dari pendahulunya. Bukankah Syiah itu lahir dari seorang Abdullah bin Saba yang keturunan Yahudi?

Maka dari itu, tidaklah mengherankan bila kaum Syiah sekarang gemar berdusta, bohong yang dikemas dengan istilah taqiyah.

Al-Qur’an mengungkap karakter Yahudi (orang munafik) yang suka berbohong. Firman-Nya,

وَإِذَا جَآءُوكُمۡ قَالُوٓاْ ءَامَنَّا وَقَد دَّخَلُواْ بِٱلۡكُفۡرِ وَهُمۡ قَدۡ خَرَجُواْ بِهِۦۚ وَٱللَّهُ أَعۡلَمُ بِمَا كَانُواْ يَكۡتُمُونَ ٦١

Dan apabila orang-orang (Yahudi atau munafik) datang kepadamu, mereka mengatakan, “Kami telah beriman.” Padahal mereka datang kepadamu dengan kekafirannya dan mereka pergi (darimu) dengan kekafiran (pula). Dan Allah lebih mengetahui dari apa yang mereka sembunyikan. (al-Maidah: 61)

Taqiyah dilakukan dengan menampakkan kepada orang lain sesuatu yang bertentangan dengan isi hatinya. Taqiyah ditujukan kepada orang yang tidak satu paham dengan mereka.

Karena itulah, taqiyah bisa diberlakukan kepada kaum muslimin. Manakala timbul kekhawatiran pada diri seorang penganut Syiah, maka dirinya boleh berbohong. Syiah agama penuh tipu. Syiah agama sarat dusta.

 

Nikah Mut’ah

Nikah mut’ah ala Syiah adalah keyakinan batil. Mereka membolehkan melakukan pernikahan hanya dalam kurun tertentu. Bisa cuma semalam, tiga hari, sebulan, atau tergantung kontraknya.

Apa yang akan terjadi pada satu bangsa bila pernikahan semacam ini menjadi mewabah di tengah masyarakat?

Bisa jadi, kehidupan masyarakat menjadi kacau. Tatanan masyarakat menjadi rusak. Sendi-sendi kehidupan rumah tangga yang telah dibina sekian tahun bisa hancur. Akan lahir anak-anak tanpa ayah, karena sang ayah sudah tak bersama ibunya lagi. Sekian banyak lagi permasalahan bisa timbul seiring nikah mut’ah ala Syiah. Semoga kita diselamatkan dari paham Syiah.

Kekacauan sosial bisa muncul dan setelah itu mengganggu stabilitas negara. Sebab, negara yang baik ditopang oleh unsur keluarga-keluarga yang baik, harmonis, beriman, dan taat kepada Allah subhanahu wa ta’ala serta bersahaja. Dari keluarga yang semacam itu akan lahir generasi yang baik, dengan izin Allah subhanahu wa ta’ala. Dari generasi yang baik akan melahirkan para pengelola negeri yang bertakwa, jujur, cerdas, dan penuh tanggung jawab. Biidznillah.

 

Radikalisme Syiah

Semangat untuk menjadikan seluruh negeri muslimin menjadi Syiah adalah fakta. Lihat Syiria. Cermati Yaman. Selisik Bahran. Teliti Kuwait. Perhatikan pula Indonesia. Negara-negara yang disebutkan merupakan contoh berapa kaum Syiah begitu keras mensyiahkan negeri-negeri kaum muslimin.

Di Yaman, diawali dari membentuk komunitas anak muda yang dinamai Syabab al-Mukmin, yang setelah berkembang berubah menjadi partai politik yang bernama Hizbul Haq. Setelah dirasa mampu menyusupkan kadernya di berbagai lini kekuasaan, mereka menyusun rencana mensyiahkan Yaman melalui penggulingan kekuasaan.

Sebelumnya, mereka terus bekerja sama dengan Iran dalam hal pelatihan militer, penyediaan logistik, bantuan persenjataan, penyediaan instruktur/pelatih, dan bantuan keuangan. Semua itu dalam rangka melakukan aksi radikalisme, terorisme, dan penggulingan kekuasaan yang sah. Kemudian terjadilah gerakan bersenjata terhadap penguasa yang sah.

Di Indonesia, hampir sama dengan upaya G30S/PKI. Sebagaimana diketahui, PKI juga berencana menjadikan Indonesia sebagai negara komunis melalui aksi bersenjata.

Di Yaman, mereka menginginkan mensyiahkan wilayah selatan Jazirah Arab yang berbatasan langsung dengan Arab Saudi. Dari arah selatan inilah upaya menghancurkan Arab Saudi dan merebut Kota Suci Makkah dan Madinah. Sebagaimana diketahui, permusuhan kaum Syiah terhadap Arab Saudi sedemikian besar. Terutama setelah pemimpin Syiah berkewarganegaraan Arab Saudi dihukum mati.

Gerakan radikalisme Syiah adalah gerakan berbahaya bagi stabilitas negara. Di Suriah, mereka bekerja sama dengan negara komunis, Rusia. Bagi Syiah bekerja sama dengan siapa pun dan negara mana pun bisa saja dilakukan. Bagi Syiah, yang terpenting tujuan tercapai walau dengan menghalalkan segala cara.

Berbeda halnya dengan keyakinan Ahlus Sunnah yang senantiasa menanamkan prinsip untuk taat kepada penguasa dalam hal yang makruf. Ini sebagaimana diwasiatkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ تَأَمَّرَ عَلَيْكُمْ عَبْدٌ حَبَشِيٌّ

“Saya wasiatkan kepada kalian, hendaklah kalian bertakwa kepada Allah, mendengar dan taat meski yang memerintah kalian adalah seorang budak Habasyi.” (HR. Abu Dawud dan at-Tirmidzi)

Itulah prinsip yang dipegang kaum salaf sejak dahulu hingga kini. Orang-orang yang memegang teguh prinsip salaf pasti tidak akan melakukan aksi mengangkat senjata kepada penguasa, memberontak. Tidak. Sebab, perintah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sungguh telah sangat tegas dan jelas.

Maka dari itu, waspadalah terhadap gerakan makar kaum Syiah di mana pun berada. Allahu a’lam.

 ditulis oleh al-Ustadz Abulfaruq Ayip Syafruddin